Anda di halaman 1dari 5

KASUS

Upin, seorang anak berusia 4,5 tahun datang ke sebuah Rumah Sakit di
ibukota provinsi. Anak tersebut dibawa ke rumah sakit oleh ibunya. Mereka tinggal di
daerah pegunungan terpencil dengan keadaan jalan darat yang rusak berat.
Dengan berbekal Surat Keterangan Tidak Mampu, pasien dibawa ke Rumah
Sakit dengan keluhan tidak bisa berbicara. Komunikasi anak ini hanya dengan bahasa
isyarat. Anak terlihat lebih banyak diam dan pasif.
Upin terlahir prematur pada usia kandungan ibunya yang baru berumur 7,5
bulan dan BB lahir 19 ons. Selama kehamilannya, ibu upin pernah mengalami
gondok. Upin minum ASI sampai berumur 3 tahun. Upin baru bisa berjalan setelah
berumur 3 tahun. Selama ini upin sering sakit-sakitan namun hanya diobati dengan
ramuan tradisional buatan ibunya.
Upin menyukai mie instan yang tidak dimasak, singkong, dan oseng kubis.
Ibunya memasak dengan memakai garam tanpa merk yang dibeli kiloan dipasar
tradisional setempat.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai keringat dingin diseluruh tubuh, kesadaran
compos mentis TB 87cm, BB 14,5kg suhu 36,7C. Pada leher dijumpai benjolan
dibagian kanan sebesar 0,5-1 cm, kenyal, tidak terfiksasi, dan tidak nyeri.
Pemeriksaan Laboratorium menunjukkan kadar TSH 7ml U/l , Kadar T bebas 0,1
ng/dl
Pertanyaan
1. Apakah hubungan pola makan upin dengan gangguan yang dialaminya? Jelaskan!
2. Bagaimana diagnosis kasus upin? Jelaskan dasar penetapan diagnosisnya!
3. Mengapa dijumpai benjolan dileher Upin?
4. Bagaimana penatalaksanaan kasus Upin?

PENYELESAIAN KASUS METODE SOAP
a) Subjective
Nama : Upin
Umur : 4,5 tahun
BB : 14,5 kg
TB : 87 cm
Keluhan : tidak bisa berbicara
Riwayat Pengobatan : diobati dengan ramuan tradisional buatan ibunya
b) Objective
Hasil Nilai normal Keterangan
Suhu (C) 36,7 36,5-37,2 Normal
TSH (ml U/l) 7 0,5-4,7 Lebih dari normal
T bebas (mg/dl) 0,1 0,8-2,7 Kurang dari Normal

c) Assasement
Upin didiagnosa mengalami hipotiroid primer karena defisiensi iodium dan
juga konsumsi makanan yang bersifat goitrogenik. Diagnosa kasus Upin berdasarkan
atas data laboratorium yaitu kadar T
4
pasien kurang dari normal, kadar TSH paien
lebih dari normal. Selain itu, pasien tidak bisa berbicara dan ditemukan benjolan pada
leher sebelah kanan. Keadaan hipotiroid pasien juga dapat dilihat dari tinggi
badannya secara normal tinggi badan anak laki-laki umur 4,5 tahun adalah lebih dari
93,5 cm sedangkan tinggi badan Upin hanya 87 cm.
Benjolan pada leher Upin merupakan manifestasi dari hipotiroid. Pada
keadaan hipotiroid produksi hormon tiroid berkurang sehingga tubuh akan
mengkompensasi dengan mengeluarkan TSH lebih banyak. TSH berperan untuk
menstimulasi pembentukan hormon tiroid sehingga pada saat hormon tiroid
berjumlah kecil produksi TSH akan menjadi tinggi. Manifestasi klinik dari produksi
TSH yang tinggi adalah dapat terjadi pembesaran kelenjar tiroid.
Hipotiroid primer dapat terjadi karena defisiensi iodium atau karena zat
goitrogenik. Data anamnesa menujukkan bahwa pasien suka mengkonsumsi singkong
dan oseng kubis. Kedua makanan tersebut merupakan contoh sayuran yang
mengandung tiosianat. Tiosianat merupakan salah satu substansi goitrogenik yang
dapat menghambat mekanisme transport aktif iodium ke dalam kelenjar tiroid.
Penelitian mengenai hubungan asupan tiosianat dengan fungsi tiroid menunjukkan
bahwa kombinasi defisiensi iodium dan asupan tiosianat yang tinggi dapat
mengakibatkan disfungsi kelenjar tiroid. Upin juga suka mengkonsumsi mie instan
mentah. Hal ini menunjukkan bahwa asupan nutrisi pasien sangat kurang. Ibu Upin
diketahui memasak menggunakan garam yang dibeli kiloan di pasar tradisional yang
diduga tidak mengandung iodium yang akan memperparah terjadinya pembesaran
kelenjar tiroid. Selain itu, dugaan terjadinya defisiensi iodium pada Upin juga
berdasarkan letak geografis rumah Upin yaitu tinggal di pegunungan. Terdapat
perbedaan yang bermakna antara prevalensi gondok di daerah dataran tinggi, dataran
rendah dan rawa. Iodium banyak ditemukan di permukaan air laut. Di dalam tanah
sebenarnya juga terdapat iodium tetapi karena sifat iodium yang mudah menguap
maka iodium yang berada dalam tanah menguap dan akan terbawa sampai ke laut
sehingga lama kelamaan iodium dalam tanah akan semakin sedikit.
Pada saat hamil juga diketahui bahwa ibu Upin mengalami gondok walaupun
tidak diketahui terjadi hipertiroid atau hipotiroid tetapi keadaan ini dapat
berhubungan dengan keadaan hipotiroid yang dialami oleh Upin. Perubahan pada
kehamilan seperti peningkatan bersihan iodida, yang pada daerah dengan asupan
iodin yang rendah, dapat menyebabkan suatu penurunan T4, suatu kenaikan TSH, dan
pembesaran tiroid. hCG, yang mencapai puncak mendekati akhir dari trimester
pertama, mempunyai aktivitas agonis TSH yang lemah dan dapat merupakan
penyebab dari pembesaran tiroid yang ringan yang terjadi pada saat tersebut. Iodium
ibu melintasi plasenta dan mensuplai kebutuhan janin; dalam jumlah yang besar,
iodium dapat menghambat fungsi tiroid janin. TSH-R Ab[stim] dan TSH-R Ab[blok]
ibu juga dapat melintasi plasenta dan dapat merupakan penyebab dari gangguan
fungsi tiroid pada janin. Sebagian besar T3 dan T4 ibu diiodinisasi oleh deiodinase-5
plasental tipe 3 dan tidak mencapai janin.
d) Plan
1. Tujuan Terapi
a. Menjaga konsentrasi hormon tiroid dalam jumlah normal
b. Menghilangkan gejala yang terjadi
c. Mencegah defisit neurologi pada anak
d. Mengembalikan keabnormalan biokimia
2. Sasaran Terapi
a. Menurunkan kadar TSH sampai kurang 1 m UI/L
b. Menormalkan kadar T
4
darah
3. Terapi Non Farmakologi
a. Menghentikan konsumsi makanan yang bersifat goitrogenik dalam hal ini
singkong dan kubis
b. Mengkonsumsi garam beriodium
c. Menghentikan mengkonsumsi mie instan terutama yang tidak di masak
4. Terapi Farmakologi
Levothyroxine dosis awal 72,5 mcg sekali sehari

e) Monitoring dan Evaluasi
1. Monitoring kadar TSH dan T
4
setiap 6 minggu sampai tercapai keadaan
eutiroid
2. Monitoring pertumbuhan dan perkembangan anak karena pada anak dengan
hipotiroid akan mengalami gangguan pada pertumbuhan dan
perkembengannya
3. Monitoring berat badan anak karena pada hipotiroid pasien biasanya
mengalami obesitas
f) Komunikasi, Informasi dan Edukasi
1. Edukasikan kepada ibu pasien untuk mengganti garam yang digunakan
dengan garam beriodium
2. Informasikan kepada ibu dan keluarga pasien untuk menghentikan konsumsi
makanan yang bersifat goitrogenik yaitu seperti umbi singkong, daun
singkong, kubis, dan kacang-kacangan.
3. Informasikan kepada ibu dan keluarga pasien untuk tidak memberikan mie
instan yang tidak di masak, dan edukasikan kepada ibu dan keluarga pasien
apabila mengkonsumsi mie instan harus dimasak terlebih dahulu dan
membuang air rebusan mi yang pertama
4. Informasikan kepada ibu dan keluarga pasien untuk memberikan obat kepada
pasien secara teratur

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Razak Thaha, Djunaidi M.D., dan Nurhaedar J. Analisis faktor resiko coastal
goiter. Jurnal GAKI Indonesia (Indonesian Journal of IDD) Vol I(1). Semarang.
April 2002.
Anwar R., 2005., Fungsi dan Kelainan Kelenjar Tiroid., Subbagian Fertilitas dan
Endrokrinologi Reproduksi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran : Bandung
Sukati Saidin. 2009. Hubungan Keadan Geografi dan Lingkungan dengan Gangguan
Akibat Kurang Yodium (GAKY). Media Litbang Kesehatan: 19(2):101-108.
Wells BG., Dipiro JT., Schwinghammer TL., Dipiro CV., 2008, Pharmacoterapy
Handbook., Hlm : 1276-1293., Mc Graw Hill Medical.