Anda di halaman 1dari 109

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status

Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


HUBUNGAN PERILAKU MURID SD KELAS V DAN VI PADA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP STATUS
KARIES GIGI DI WILAYAH KECAMATAN DELITUA
KABUPATEN DELI SERDANG
TAHUN 2009




TESIS




Oleh

LINDA WARNI
077030021 / IKM
















PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


HUBUNGAN PERILAKU MURID SD KELAS V DAN VI PADA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP STATUS
KARIES GIGI DI WILAYAH KECAMATAN DELITUA
KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2009




TESIS



Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes)
dalam Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara








Oleh

LINDA WARNI
077030021 / IKM






PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Judul Tesis : HUBUNGAN PERILAKU MURID KELAS V
DAN VI PADA KESEHATAN GIGI DAN
MULUT TERHADAP STATUS KARIES GIGI
DI WILAYAH KECAMATAN DELITUA
KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2009
Nama Mahasiswa : LINDA WARNI
Nomor Induk Mahasiswa : 077030021
Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku





Menyetujui
Komisi Pembimbing :






(Prof. Dr. drg. Monang Panjaitan, MS)
Ketua Anggota




(Drs. Eddy Syahrial, MKes)

Ketua Program Studi,




(Dr. Drs. Surya Utama, MS)







Tanggal Lulus : 10 September 2009
Dekan,




(dr. Ria Masniari Lubis, MSi)
Telah diuji
Pada tanggal :





















PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. drg. Monang Panjaitan, MS
Anggota : 1. Drs. Eddy Syahrial, MKes
2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM
3. drg. Iis Faizah Hanum, Mkes

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


PERNYATAAN

HUBUNGAN PERILAKU MURID SD KELAS V DAN VI PADA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP STATUS
KARIES GIGI DI WILAYAH KECAMATAN DELITUA
KABUPATEN DELI SERDANG 2009


TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk rnemperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.





Medan, September 2009


Linda Warni









Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



ABSTRAK

Karies gigi memiliki etiologi yang multi faktor dimana terjadi interaksi dari
tiga faktor utama yang ada di dalam mulut, yaitu Host (gigi dan saliva),
Mikroorganisme (plak) dan Substrat (diet karbohidrat), dan faktor ke empat : waktu
(Reich. E, Lusi. A dan Newbrun. E, 1999). Selain faktor yang ada di dalam mulut
yang langsung berhubungan dengan karies, terdapat faktor-faktor yang tidak langsung
disebut faktor resiko luar yang merupakan faktor predisiposisi dan faktor penghambat
terjadinya karies. Faktor luar antara lain adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan,
tingkat ekonomi, lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi.
Penelitian ini merupakan survei dengan menggunakan desain potong lintang
(cross-sectional). Populasi penelitian ini adalah seluruh murid SD kelas V dan VI di
kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang yang berjumlah sebanyak 2.238 murid
dari 14 sekolah. Sampel didapat dari rumus Taro Yamane berjumlah 96 orang.
Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan menggunakan kuesioner
dengan langsung menanyakan kepada responden.
Hasil penelitian, Status karies gigi murid SD kelas V dan VI Kecamatan
Delitua Kabupaten Deliserdang tahun 2008 sudah cukup baik. Dari analisis bivariat
dan multivariat didapat faktor Pengetahuan, sikap, pendidikan orang tua, dan
pekerjaan orang tua tidak ada hubungan yang bermakna dengan status karies gigi,
hanya variabel tindakan yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan status
karies gigi.
Mengingat pentingnya peranan kegiatan Usaha Kegiatan Gigi Sekolah
(UKGS) dalam upaya pembentukan perilaku kesehatan gigi murid SD, perlu
kebijakan untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kegiatan UKGS di
sekolah-sekolah dasar (khususnya pelayanan preventif dan promotif). Memfasilitasi
kebutuhan dalam kegiatan UKGS antara lain pelatihan bagi tenaga-tenaga pelaksana
UKGS di lapangan dan penyediaan alat bantu peraga yang diperlukan dalam kegiatan
promotif.


Kata Kunci : Perilaku, Status Karies Gigi
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


ABSTRACT

Dental carries have a multifactor etiology in which three main factors found in the
oral cavity such as host (teeth and saliva), microorganism (plaque) and substrate
(carbohydrate diet) and time (the fourth factor) interact (Reich. E, Lusi. A, and Newbrun. F,
1999). Beside the factors in the oral cavity which are directly in contact with carries, there
are indirect factors called external risk factors such as the predisposition actor and the
factor that inhibits the incident of carries. The external factors are, among other things, sex,
education level, economic status, environment, and behavior related to dental health.
The population of this survey study with cross-sectional design was all of the 2.238
grade V and grade VI elementary school students of 14 Elementary Schools in Deli Tua Sub-
district, Deli Serdang District and 96 students were selected to be the samples for this study
through the formula developed by Taro Yamane. The primary data for this study were
obtained through questionnaire-based interview.
The result of this study shows that the status of dental carries of the grade V and
grade VI elementary school students in Deli Tua Sub-district, Deli Serdang District in 2008
was good enough. The result of bivariate and multivariate analysis shows that there was no
significant relationship between the factors of education, attitude, parents education, and
parents occupation and the status of dental carries. Only the factor of action which has a
significant relationship with the status of dental carries.
Considering the importance of the role of School Dental Health Initiative (UKGS)
activity in the forming of dental health behavior of elementary school students, a policy to
increase and develop the activity of UKGS at the elementary schools (especially preventive
and promotive services) is needed. The need for UKGS activities can be facilitated through
the provision of training for the UKGS field implementers and the provision of visual aids
needed in the promotive activities.

Key words : Behavior, Dental Carries Status

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan karunia-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini, yang
merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan
pendidikan pada Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Pendidikan
Kesehatan dan Ilmu Perilaku Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
(USU) Medan.
Tesis ini berjudul Hubungan Perilaku Murid SD Kelas V dan VI pada
Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Status Karies Gigi di Wilayah Kecamatan Deli
Tua Kab. Deli Serdang 2009.
Sesungguhnya tesis ini tidak akan terwujud tanpa izin dan Tuhan Yang Maha
Kuasa, serta bantuan dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam mengatasi
segala kendala dan menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulusnya kepada
Ayahanda tersayang H.M.Ali,Ibunda tercinta Hj.Marniati dan seluruh keluarga atas
bantuan moral dan materi yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan tesis ini. Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada :
1. Prof. dr. Chairuddin P. Lubis, DTM&H., Sp.A(K), selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara (USU) Medan.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


2. dr. Ria Masniari Lubis, MSi, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
3. Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
4. Prof. Dr. drg. Monang Panjaitan, MS, selaku pembimbing satu dan Drs. Eddy
Syahrial, M.Kes, selaku pembimbing dua yang telah banyak meluangkan waktu
dan kesempatan dalam membimbing dan memberikan masukan demi
kesempurnaan tesis ini.
5. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM dan drg. Iis Faizah Hanum, MKes, selaku
penguji satu dan dua yang telah memberikan banyak saran dan masukan untuk
kesempurnaan tesis ini.
6. Dra. Hj. Ruzlah, M.Pd, selaku Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang yang telah memberikan izin untuk
melakukan penelitian di Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang.
7. Jul Asdar Putra Samura sebagai teman dekat yang telah memberi perhatian dan
dukungan kepada penulis untuk senantiasa berusaha dalam menyelesaikan studi
8. Seluruh staf pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
9. Seluruh staf akademik / Administrasi Program Studi Magister Ilmu Kesehatan
Masyarakat yang telah turut membantu penulis dalam hal surat menyurat.

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


10. Temanteman mahasiswa- mahasiswi minat studi promosi kesehatan dan ilmu
perilaku Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara angkatan 2007 yang telah memberi dukungan kepada penulis.

Akhirnya penulis menyadari tesis ini masih banyak kekurangannya, karena
penulis yakin bahwa tidak ada satupun karya dari tangan manusia yang lahir dalam
keadaan sempurna, maka segala kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari
berbagai pihak sangat penulis harapkan.

Kiranya Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang melindungi dan
memberkati kita sekalian disetiap perjalanan hidup kita. Amin.


Deli Serdang, 10 September 2009
Penulis



Linda Warni
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


RIWAYAT HIDUP

Nama penulis adalah Linda Warni, lahir di Simpang Tiga Aceh Selatan
tanggal 18 April 1983, jenis kelamin perempuan, agama Islam. Alamat rumah jln.
Blang Pidie Tapak Tuan Kecamatan Sawang. Tapak Tuan Aceh Selatan dan alamat
kantor jln. Teben Mahmud RSUD DR. H. Yuliddin Away.
Riwayat Pendidikan pada tahun 1989 s/d 1995 tamat SD dari SDN Simpang
Tiga Aceh Selatan. Tahun 1995 s/d 1997 tamat SMPN 2 Tapak Tuan Aceh Selatan.
Tahun 1999 s/d 2001 tamat SPRG Dep.Kes RI Banda Aceh. Tahun 2003 s/d 2005
tamat AKG Dep.Kes R.I Banda Aceh. Tahun 2005 s/d 2006 tamat DIV Program
Perawat Gigi Pendidik UGM Jogjakarta.
Riwayat pekerjaan, pada tahun 2001 s/d 2002 Staf RSUD dr.H.Yuliddin
Away Tapak Tuan Aceh Selatan. Tahun 2003 s/d 2005 Tugas belajar AKG Dep.Kes
RI Banda Aceh. Tahun 2005 s/d 2006 Tugas belajar DIV Program Perawat Gigi
Pendidik UGM Jogjakarta. Tahun 2007 s/d sekarang Tugas belajar pada Program
Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakt Universitas Sumatera Utara.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


DAFTAR ISI
Halaman

ABSTRAK ......................................................................................................... i
ABSTRACT........................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Permasalahan ............................................................................. 6
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 7
1.4 Hipotesis Penelitian ..................................................................... 7
1.5 Manfaat Penelitian ..................................................................... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 8
2.1 Perilaku ....................................................................................... 8
2.2. Pengetahuan ................................................................................ 13
2.3. Sikap ........................................................................................... 16
2.4. Tindakan ...................................................................................... 17
2.5 Hubungan Karaktersitik Individu dengan Perilaku ....................... 19
2.6 Status Gigi dan Mulut .................................................................. 21
2.7 Indikator Kesehatan Gigi dan Mulut ............................................ 22
2.8 Karies Gigi .................................................................................. 23
2.9 Pengukuran Karies Gigi ............................................................... 30
2.10 Pencegahan Karies Gigi ............................................................... 31
2.11 Usaha Kesehatan Gigi Sekolah .................................................... 33
2.12 Landasan Teori ............................................................................ 35
2.13 Kerangka Konsep ........................................................................ 36

BAB 3 METODE PENELITIAN ................................................................... 37
3.1 Jenis Penelitian .......................................................................... 37
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 37
3.3 Populasi dan Sampel .................................................................... 37
3.4 Metode Pengumpulan Data .......................................................... 39
3.5 Variabel dan Definisi Operasional................................................ 42
3.6 Metode Pengukuran .................................................................... 44
3.7 Metode Analisis Data ................................................................... 47
BAB 4 HASIL PENELITIAN ...................................................................... 48
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................... 48
4.2 Analisis Univariat......................................................................... 49
4.3 Pengetahuan Kesehatan Gigi........................................................ 49
4.4 Sikap Kesehatan Gigi................................................................... 55
4.5 Tindakan Kesehatan Gigi............................................................. 60
4.6 Kelas Responden.......................................................................... 65
4.7 Karakteristik Responden.............................................................. 65
4.8 Informasi...................................................................................... 67
4.9 Analisis Bivariat........................................................................... 68
4.10 Hubungan Perilaku Responden.................................................... 68
4.11 Hubungan Karakteristik Responden............................................. 70
4.12 Hubungan Informasi..................................................................... 72
4.13 Analisis Multivariat...................................................................... 73

BAB 5 PEMBAHASAN ............................................................................. 76
5.1 Status Karies Gigi Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah
Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang ............................. 76
5.2 Hubungan Pengetahuan dengan Status Karies Gigi Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang .................................................................................... 76
5.3 Hubungan Sikap dengan Status Karies Gigi Murid SD Kelas V
dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang..................................................................................... 78
5.4 Hubungan Tindakan dengan Status Karies Gigi Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang ..................... ............................................................... 79
5.5 Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan dengan Status
Karies Gigi Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan
Delitua Kabupaten Deli Serdang ............................................... 80
5.6 Hubungan Pendidikan Orang Tua dengan Status Karies Gigi
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang... ........................................................ 80
5.7 Hubungan Pekerjaan Orang Tua dengan Status Karies Gigi
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang ........................................................... 80
5.8 Hubungan Sumber Informasi kesehatan dengan Status Karies
Gigi murid SD Kelas V dan VI di wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang ........................................................... 81

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan............................................................................... 82
6.2 Saran ........................................................................................ 83
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL


Nomor Judul Halaman

2.1 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ...................................................... 12
2.2 Indikator dan Target Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut .......................... 22
2.3 Klasifikasi Angka Keparahan Karies Gigi Menurut WHO ...................... 31
3.1 Perhitungan Besar Sampel Penelitian ...................................................... 39
3.2 Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Alat Ukur ......................................... 41
4.1 Nama Nama Sekolah Dasar di Kecamatan Delitua ................................ 48
4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Status Karies Gigi pada
Murid SD Kelas V dan VI diwilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009 ................................................................. 49
4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Status Karies Gigi Sehat.................... 49
4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Kegunaan Gigi Sehat ........................ 50
4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang ................................. 50
4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Gigi Berlubang ................. 51
4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang
dapat Dicegah ......................................................................................... 51
4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Cara Mencegah
Gigi Berlubang ........................................................................................ 52
4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Terbaik
Menyikat Gigi ......................................................................................... 52
4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat
Gigi Baik dan Benar ................................................................................ 53
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Bahan Pasta Gigi............................... 53
4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan
Pada Gigi Berlubang ............................................................................... 54
4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan pada
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009 ................................................................. 54
4.14 Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan
Setiap Selesai Makan .............................................................................. 55
4.15 Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan
Sebelum Tidur Malam ............................................................................. 55
4.16 Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan
Sesudah Makan Makanan Yang Manis .................................................... 56
4.17 Distribusi Responden Berdasarkan Pemeriksaan Gigi
Secara Rutin ............................................................................................ 56
4.18 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang Karena
Malas Menyikat Gigi ............................................................................... 57
4.19 Distribusi Responden Berdasarkan Mencegah Gigi Berlubang
Dengan Menyikat Gigi Teratur Dan Benar .............................................. 57
4.20 Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi Yang Baik
Dan Benar Semua Permukaan Gigi Harus Disikat ................................... 58
4.21 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Sakit dan Berlubang
Harus Ditambal ....................................................................................... 58
4.22 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Sehat Lebih Baik
Dipertahankan Daripada Dicabut ............................................................. 59
4.23 Distribusi Responden Berdasarkan Berobat Gigi Lebih Baik
Ke Dokter Gigi/Puskesmas Daripada Ke Dukun ...................................... 59
4.24 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Pada Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deli Serdang 2009 ................................................................................... 60
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.25 Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi
Sebelum Tidur......................................................................................... 60
4.26 Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi
Setiap Pagi .............................................................................................. 61
4.27 Distribusi Responden Berdasarkan Yang Dilakukan
Selesai Makan ......................................................................................... 61
4.28 Distribusi Responden Berdasarkan Kunjungan ke Dokter Gigi
Atau Klinik ............................................................................................. 61
4.29 Distribusi Responden Berdasarkan Memeriksa Gigi
Secara Teratur ......................................................................................... 62
4.30 Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Kotor Atau
Gusi Berdarah ......................................................................................... 62
4.31 Distribusi Responden Berdasarkan Makanan Yang
Dikonsumsi Diantara Waktu Makan ........................................................ 63
4.32 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Makanan
Jajanan Dalam Sehari .............................................................................. 63
4.33 Distribusi Responden Berdasarkan Jajanan Manis dan Melekat ............... 63
4.34 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Yang Dilakukan
Dalam Memelihara Kesehatan Gigi dan Mulut ........................................ 64
4.35 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Pada Murid SD
Kelas Vdan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deli Serdang 2009 ................................................................................... 64
4.36 Distribusi Responden Berdasarkan Kelas Pada Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deli Serdang 2009 ................................................................................... 65
4.37 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Orang Tua
Pada Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009 ................................................................. 65
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.38 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Pada
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009 ................................................................. 66
4.39 Distribusi Responden Berdasarkan Penjelasan tentang Kesehatan
Gigi Pada Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan
Delitua Kabupaten Deli Serdang 2009 ..................................................... 67
4.40 Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Pada
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009 ................................................................. 67
4.41 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pengetahuan Responden .............. 68
4.42 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Sikap Responden ......................... 69
4.43 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Tindakan Responden ................... 69
4.44 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pendidikan Orang Tua ................. 70
4.45 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pekerjaan Orang Tua ................... 71
4.46 Distribusi Status Karies Gigi Menurut Sumber Informasi ........................ 72










Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



DAFTAR GAMBAR


Nomor Judul Halaman

2.1 Empat Lingkaran yang Menggambarkan Paduan
Faktor Penyebab Karies......................................................................... 24

2.2 Tiga Faktor Utama dan Satu Faktor Tambahan
Penyebab Karies ................................................................................... 25

2.3 Tahapan yang Terjadi Dalam Plak Gigi Pada Permukaan Gigi .............. 28

2.4 Landasan Teori Faktor-Faktor yang Berhubungan
Dengan Status Karies Gigi .................................................................... 36

2.5 Kerangka Konsep Penelitian.................................................................. 36






















Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan gigi dan mulut, menjadi perhatian yang sangat penting
dalam pembangunan kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh rentannya
kelompok anak usia sekolah dari gangguan kesehatan gigi. Usia sekolah merupakan
masa untuk meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia yang berkualitas
dan kesehatan merupakan faktor penting yang menentukan kualitas sumber daya
manusia.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan secara
keseluruhan (Ilyas, 2000). Hasil laporan Studi Morbiditas (2001), menunjukkan
bahwa kesehatan gigi dan mulut di Indonesia merupakan hal yang perlu diperhatikan,
karena penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit tertinggi yang dikeluhkan oleh
masyarakat yaitu sebesar 60%. Penyakit gigi dan mulut yang terbanyak diderita
masyarakat adalah penyakit karies gigi kemudian diikuti oleh penyakit periodontal di
urutan ke dua (Surkesnas Balitbangkes Depkes RI, 2002).
Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan
jaringan, dimulai dari permukaan gigi meluas kearah pulpa. Karies gigi dapat terjadi
pada setiap orang yang dapat timbul pada suatu permukaan gigi dan dapat meluas
kebagian yang lebih dalam dari gigi (Tarigan, 1990).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Berdasarkan The World Oral Health, World Health Organization (WHO)
Tahun 2003 telah menetapkan indikator dan standar oral secara global pada tahun
2000, dimana 50 % anak berumur 5-6 tahun bebas dari karies gigi.
Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1998,
menunjukkan bahwa keluhan sakit gigi menduduki urutan ke 6 dari 16 jenis penyakit
lainnya dan 62,4% penduduk merasa terganggu pekerjaan/sekolah karena sakit gigi,
rata-rata 3,86 hari per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyakit gigi walau
tidak menimbulkan kematian tetapi dapat menurunkan produktifitas kerja.
Di Indonesia laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes RI
tahun 2001 menyatakan, diantara penyakit yang dikeluhkan prevalensi penyakit gigi
dan mulut adalah tertinggi meliputi 60% penduduk.
Penyakit gigi dan mulut yang umumnya banyak ditemukan pada masyarakat
adalah karies gigi dan penyakit periodontal. SKRT 1995 menginformasikan bahwa
63% penduduk Indonesia menderita karies aktif. Namun di beberapa provinsi angka
tersebut lebih tinggi dari angka nasional, seperti Kalimantan 80,2%, Sulawesi 74%,
Sumatera 65,4%. Dilihat dari kelompok umur, golongan umur muda lebih banyak
menderita karies gigi aktif dibandingkan umur 45 tahun ke atas, dimana umur 10-24
tahun karies gigi aktifnya adalah 66,8 69,5%, umur 45 tahun keatas 53,3% dan pada
umur 65 tahun keatas sebesar 43,8%. Keadaan ini menunjukkan karies gigi aktif
banyak terjadi pada golongan usia produktif (Depkes, 2000).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Menurut Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2007,
penyakit gigi dan mulut merupakan urutan ke sembilan dari sepuluh penyakit terbesar
dengan jumlah kunjungan sebanyak 1.482 kunjungan yang terdiri dari 62,8 % berusia
lebih dari 15 tahun, dan 37,2 % kunjungan usia <15 tahun, kunjungan pasien ke poli
gigi umumnya menderita ganguan gigi dan mulut, dan 43,9 % diantaranya menderita
karies gigi, dan 56,1 % lainnya menderita ganguan periodontal. Berdasarkan Profil
Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang tahun 2006, jumlah murid SD di
kecamatan Deli Tua sebanyak 6.889 orang dan yang diperiksa sebanyak 415 orang.
Dari 415 siswa yang diperiksa yang perlu mendapat perawatan sebanyak 120 orang
(28,9%) dan dari 120 orang yang perlu mendapatkan perawatan tersebut hanya 7
orang murid yang mendapat perawatan (5,83%). Dari hasil pendataan 10 penyakit
terbesar di Puskesmas Deli Tua bulan Oktober tahun 2008, karies merupakan urutan
ke 3 dengan jumlah kasus sebanyak 100 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih
tingginya masalah kesehatan gigi pada murid SD.
Berdasarkan hasil wawancara (Mei 2008) dengan petugas kesehatan gigi
Puskesmas Deli Tua diperoleh informasi bahwa pada umumnya masalah gangguan
kesehatan gigi dan mulut pada anak SD adalah karies gigi. Tingginya prevalensi
karies gigi dan penyakit periodontal sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain faktor perilaku masyarakat. Pelaksanaan program UKGS dilaksanakan pada
semua SD Negeri/Swasta yang ada diwilayah kerja Puskesmas Deli Tua yaitu 14
sekolah. Usaha yang dilakukan selama ini adalah mengadakan penyuluhan tentang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


pertumbuhan gigi susu/permanent; makanan yang menyehatkan untuk kesehatan gigi;
dan cara-cara menggosok gigi. Sedangkan tindakan yang dilakukan adalah
pencabutan gigi susu/permanent, penambalan, dan semua tindakan dilakukan di
Puskesmas, 6 (enam) bulan sekali dilakukan kegiatan sikat gigi masal di masing-
masing SD oleh petugas Puskesmas di Kec. Deli Tua.
Sekolah adalah sebagai perpanjangan tangan keluarga dalam meletakkan
dasar perilaku untuk kehidupan anak selanjutnya, termasuk perilaku kesehatan.
Sementara itu populasi anak sekolah di dalam suatu komunitas cukup besar, antara
40% - 50%. Oleh sebab itu promosi atau pendidikan kesehatan di sekolah adalah
sangat penting. Di Indonesia, bentuk promosi kesehatan di sekolah adalah usaha
kesehatan sekolah (Notoadmodjo, 2005).
Undang undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyebutkan bahwa
penyelenggaraan kesehatan sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan
hidup sehat bagi peserta didik untuk memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan
yang harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Program upaya kesehatan gigi sekolah adalah merupakan salah satu kegiatan
pokok dari program puskesmas. Upaya kesehatan gigi sekolah yang ditunjukan bagi
anak usia sekolah di lingkungan sekolah dari tingkat pelayanan promotif, preventif
hingga pelayanan paripurna, telah membuktikan menurunnya kejadian karies,
terutama dengan usaha promotif dengan kampanye sikat gigi dengan pasta
mengandung fluor dan usaha pencegahan dengan aplikasi fluor pada gigi dan fissure
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


sealent, atau kumur kumur larutan fluor. Dari indikator diatas nampak jelas bahwa
status kesehatan gigi masyarakat yang optimal bisa dicapai dengan meningkatkan
upaya promotif atau preventif sejak usia dini sampai dengan usia lanjut (Depkes,
2004).
Karies gigi memiliki etiologi yang multi faktor dimana terjadi interaksi dari
tiga faktor utama yang ada di dalam mulut, yaitu Host (gigi dan saliva),
Mikroorganisme (plak) dan Substrat (diet karbohidrat), dan faktor ke empat : waktu
(Reich. E, Lusi. A dan Newbrun. E, 1999). Selain faktor yang ada di dalam mulut
yang langsung berhubungan dengan karies, terdapat faktor-faktor yang tidak langsung
disebut faktor resiko luar yang merupakan faktor predisiposisi dan faktor penghambat
terjadinya karies. Faktor luar antara lain adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan,
tingkat ekonomi, lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi
(Suwelo, 1997).
Status karies gigi untuk gigi permanen pada individu atau masyarakat dapat
diukur dengan menggunakan indeks DMFT (Decay, Missing, Filled Teeth). Indeks ini
digunakan untuk melihat keadan gigi seseorang yang pernah mengalami kerusakan
(Decayed), hilang karena karies atau sisa akar (Missing), dan tumpatan (Filled) pada
gigi tetap (Teeth). Indeks ini mencerminkan besarnya penyebaran karies yang
kumulatif pada suatu populasi (Kidd & Bechal, 1992).
Masalah kesehatan masyarakat termasuk penyakit ditentukan oleh dua faktor
utama, yaitu faktor perilaku dan non perilaku (Notoatmodjo, 2005). Menurut Bahar
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


(2000) salah satu faktor utama yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut
penduduk di Negara berkembang adalah perilaku. Perilaku merupakan hal penting
yang dapat mempengaruhi status kesehatan gigi individu atau masyarakat. Perilaku
yang dapat mempengaruhi perkembangan karies adalah kebiasaan makan dan
pemeliharaan kebersihan mulut, dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung
fluor (Reich dkk, 1999; Petersen, 2005). Data Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) Tahun 2001 menunjukan perilaku masyarakat tentang pemeliharaan
kesehatan gigi masih rendah, sebagian besar penduduk Indonesia (61,5%) menyikat
gigi kurang sesuai dengan anjuran program menyikat gigi yaitu setelah makan dan
sebelum tidur, bahkan 16,6% tidak menyikat gigi (surkesnas Balitbangkes Depkes RI,
2002).
Menurut WHO (1997), kelompok usia 12 adalah usia yang penting, karena
pada usia tersebut anak akan meninggalkan sekolah dasar dan banyak di negara, usia
tersebut merupakan kelompok yang mudah dijangkau melalui sistem UKGS, dan
pada usia tersebut anak dapat lebih mudah diajak komunikasi. Menurut SKRT (2001),
prevalensi karies gigi pada kelompok usia 12 tahun sebesar 44% dan indeks DMFT
pada usia ini sebesar 1,1. Target pencapaian gigi sehat Indonesia tahun 2010 pada
individu usia 12 tahun untuk indeks DMFT adalah sebesar 1 (Depkes RI, 2004).
Karies gigi banyak menyerang anak-anak maupun dewasa, baik gigi sulung maupun
gigi permanen. Anak usia sekolah dasar yaitu usia 6-12 tahun merupakan kelompok
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


usia rentan yang perlu mendapatkan perhatian karena pada periode tersebut terdapat
gigi sulung dan gigi permanen secara bersamaan dalam mulut (Agtini dkk, 2005).

1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan penelitian ini adalah
apakah ada hubungan perilaku murid SD kelas V dan VI pada kesehatan gigi dan
mulut terhadap status karies gigi di wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang.

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan perilaku murid SD
kelas V dan VI pada kesehatan gigi dan mulut terhadap status karies gigi (DMFT) di
wilayah Kecamatan Delitua tahun 2009.

1.4 Hipotesa
Ada hubungan perilaku murid SD kelas V dan VI pada kesehatan gigi dan
mulut terhadap status karies gigi di wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang.

1.5 Manfaat Penelitian
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


1. Menjadi masukan bagi Pemda melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang
dalam membuat kebijakan program kesehatan anak sekolah dalam peningkatan
pelayanan usaha kesehatan sekolah di Kecamatan Delitua.
2. Menjadi masukan bagi puskesmas Delitua dalam upaya mewujudkan kesehatan
anak usia sekolah khususnya dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
3. Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut
murid SD kelas V dan VI di wilayah kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang.
4. Menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku
2.1.1 Pengertian Perilaku
Perilaku menurut Sarwono (1993) diartikan sebagai tindakan yang merupakan
segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya
yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan serta tindakannya
(praktik) yang berhubungan dengan kesehatan.
Menururt Notoatmodjo (2007), perilaku dilihat dari segi biologis adalah
kegiatan atau aktivitas organisme (mahluk hidup yang bersangkutan). Perilaku
manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati
langsung maupun yang tidak dapat diamatai oleh pihak luar.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu perilaku tertutup (covert
behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku tertutup adalah respon
seseorang terhadap stimulus yang masih tertutup atau terselubung, yang masih
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran dan sikap, sehingga belum
dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Perilaku terbuka adalah respon seorang
terhadap stimulus sudah dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka, yaitu dengan
mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo, 2007).
Pembinaan dan peningkatan periaku kesehatan masyarakat perlu dilakukan
dengan pendekatan yang tepat yaitu dengan pendidikan kesehatan atau promosi
kesehatan, yang mengupayakan agar perilaku individu, kelompok atau masyarakat
mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Agar
upaya promosi kesehatan tersebut efektif, maka perlu dilakukan diagnosis atau
analisis terhadap masalah perilaku tersebut sebelum upaya promosi kesehatan
tersebut dilakukan.
Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku adalah konsep
dari Green (1980), dimana perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu :
1. Faktor predisposisi (Predisposing factors)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan,
sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi
dan sebagainya.
2. Faktor pemungkin (Enabling factors)
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan
bagi masyarakat seperti ketersediaan sikat gigi dan pasta gigi di rumah.
3. Faktor penguat (Reinforcing factors)
Faktor ini meliputi sikap dan perilaku tokoh masyarakat, petugas kesehatan, guru
dan sebagainya. Selain pengetahuan, sikap dan dukungan fasilitas diperlukan juga
perilaku contoh (acuan) dari para tokoh panutan tersebut agar masyarakat
berperilaku sehat.
Kegiatan pendidikan kesehatan/promosi kesehatan yang akan dilakukan
dalam upaya pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan masyarakat sebaiknya
juga ditujukan pada ketiga faktor tersebut di atas yaitu faktor predisposisi, faktor
pemungkin dan faktor penguat.
2.1.2 Perilaku Pemeliharaan Kesehatan
Perilaku pemeliharaan kesehatan merupakan bagian dari perilaku kesehatan,
yaitu usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha penyembuhan bilamana sakit. Perilaku
pemeliharaan kesehatan ini meliputi antara lain perilaku peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit (Notoatmodjo, 2007).
2.1.3 Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut
Menurut Blum (1981), status kesehatan baik idividu, kelompok maupun
masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu lingkungan (environment),
perilaku (behavior), pelayanan kesehatan (health services) dan keturunan (heredity).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Mengacu pada teori tersebut, maka status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu lingkungan (fisik maupun
sosial budaya), perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Perilaku memegang
peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut secara
langsung, perilaku dapat mempengaruhi faktor lingkungan maupun pelayanan
kesehatan.
Perilaku kesehatan gigi individu atau masyarakat merupakan salah satu faktor
yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi individu atau masyarakat. Perilaku
kesehatan gigi positif, misalnya kebiasaan menggosok gigi dan mulut, sebaliknya
perilaku kesehatan gigi negatif, misalnya tidak menggosok gigi secara teratur maka
kondisi kesehatan gigi dan mulut akan menurun dengan dampak antara lain gigi
mudah berlubang (Budiharto, 2000).
Perilaku kesehatan yang tercermin dalam kebiasaan makan dan pemeliharaan
kebersihan gigi secara teratur menggunakan pasta gigi mengandung fluor, telah
mengurangi insiden karies. Pembentukan perilaku, khususnya kebisaan makanan,
mempengaruhi kerentanan dan resiko terjadinya karies (Reich. E, 1999). Pencegahan
karies gigi dapat dilakukan dengan memutus tiga faktor utama penyebab karies yaitu
host, agent dan substrat untuk saling bertemu dan berinteraksi. Menurut Tarigan
(1995) dan Sutadi (2000), pencegahan karies yang dapat dilakukan oleh individu
antara lain : pengaturan diet karbohidrat, melakukan plak kontrol dengan menyikat
gigi secara berkesinambungan dan dengan cara yang benar (meliputi seluruh
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


permukaan gigi), kemudian penggunaan fluor, antara lain dengan pemakaian pasta
gigi yang mengandung fluor pada waktu menyikat gigi.
Pencegahan karies gigi pada anak meliputi : menghindari makanan yang
mengandung gula dan mudah melekat diantara waktu makan, menyikat gigi dengan
pasta gigi yang mengandung flour, dan menyikat gigi minimal 2 kali sehari sesudah
makan dan sebelum tidur (Depkes, 1997).
Usaha-usaha pencegahan penyakit gigi dan mulut berdasarkan levell dan
Clark dapat terlihat pada tabel 2.1 berikut (Monang, P, 1997 )



Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 2.1 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut




Penyakit

Pencegahan primer Pencegahan sekunder

Pencegahan
tertier
Peningkatan
Perlindungan
Kesehatan Khusus
Diagnosa dini Membatasi
Dan terapi Ketidak
Tepat Mampuan
Rahabi-litasi

Karies Gigi







- Penyuluhan - Aplikasi
Kes.gigi fluor
- Nutrisi yang - Pit dan fisur
Baik sealent
- Kebersihan - Pembersihan
Mulut dan Karang Gigi
Pemeriksaan
berkala


-Pemeriksaan - Penambalan
Detail Secara Gigi dan
Periodik perawatan
- Pengobatan saraf gigi
Sistematis - Ekstrasi
Gigi
Protesa
Cekat dan
sebagian


- Protesa
Penuh

Penyakit
Periodontal


-Nutrisi Yang - Prevensi
baik Karies
Dengan
-Kebersihan Tambalan
Mulut baik
- Pembersihan
-Penyuluhan Karang Gigi
Kesehatan - Masase Gusi
Gigi

- Pemeriksaan -Gingivectomi
Penyakit - Osteyotomi
Sistemik - Osteoplasi
- Oklusi Yang - Reposisi
Balans Gingival
Margin
- Splinting

Protesa

Maloklusi






- Standar - Pencegahan
Nutrisi Yang Ortodonti
Baik Dengan
- Kebersihan Perawatan
Mulut Teratur
- Kebiasaan - Menjaga
Yang Baik Ruangan
tetap
- Penyuluhan Terbuka
Kesehatan (Space
Gigi Maintainer)


- Serial - Perawatan
Ekstraksi Ortho pada
Waktu yang
Tepat

Protesa




Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


2.1.4 Penilaian Perilaku
Menurut Guilbert (2000), pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran secara langsung dilakukan
dengan metode observasi (direct observation) melalui uji praktek, sedangkan
pengukuran secara tidak langsung dapat dilakukan melalui wawancara dengan
menggunakan pertanyaan-pertanyaan (questionnaires).
Cara mengukur indikator perilaku untuk pengetahuan, sikap dan praktik
berbeda. Untuk memperoleh data tentang pengetahuan dan sikap cukup dilakukan
wawancara, baik wawancara terstruktur maupun wawancara mendalam. Sedangkan
untuk memperoleh data perilaku dan praktek yang paling akurat adalah melalui
observasi atau pengamatan (Notoadmojo, 2003).

2.2 Pengetahuan
Pengetahuan menurut Notoadmojo (2003), merupakan hasil dari tahu, dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran,
penciuman, raba dan rasa. Sebahagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (over behavior).
Pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu ingatan terhadap materi yang
dipelajari, yaitu meliputi ingatan terhadap jumlah meteri yang banyak dari fakta
fakta yang khusus, hingga teori-teori yang lengkap (Zaini dkk, 2002). Pengetahuan
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


tentang suatu objek dapat berubah dan berkembang sesuai dengan kemampuan,
kebutuhan, pengalaman dan tinggi rendahnya mobilitas informasi tentang objek
tersebut dilingkungannya (Tjirtasa, 1992).
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil belajar dari pengalaman yang
diperoleh secara sengaja maupun tidak sengaja, formal maupun informal. Untuk
memperoleh pengetahuan dibutuhkan proses kognitif yang sangat kompleks. Agar
pengetahuan dapat disampaikan dengan baik dan diterima dengan tepat perlu
melibatkan semua indera.
Pengetahuan berkaitan erat dengan empat faktor yaitu : ingatan, belajar,
berfikir dan intelegensi (Prawitasari, 1998). Menurut Simon et all (1995) pengetahuan
atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi pembentukan perilaku
seseorang. Pengetahuan akan merangsang terjadinya perubahan sikap bahkan
tindakan seorang individu.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam
tingkatan yaitu (Notoadmojo, 2003) :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4. Analisis (Analyze)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam
komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru,
dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini didasarkan pada suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. Dari
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


hasil penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoadmojo, 2003).
Meskipun perilaku merupakan bentuk respon atau reaksi terhadap rangsangan
dari luar maupun dari dalam namun memberikan respon sangat cepat tergantung pada
karakteristik atau faktor lain dari orang yang bersangkutan (Notoadmojo, 2003).
Determinan ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Faktor Internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat
bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan
sebagainya.
2. Faktor Eksternal, yakni lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, praktik dan sebagainya. Faktor lingkungan sering merupakan faktor
domain yang mewarnai perilaku seseorang.

2.3 Sikap
Sikap (attitude) menurut Sarwono (2003) adalah kesiapan atau kesediaan
seseorang untuk bertingkah laku atau merespon sesuatu baik terhadap rangsangan
negatif dari suatu objek rangsangan. Teori yang sering dipakai berupa teori rangsang
balas (stimulus respon theory) atau teori penguat (reinforcement-theory) ini dapat
digunakan untuk menerangkan berbagai gejala tingkah laku sosial. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan faktor predisposisi
bagi seseorang untuk berperilaku (Green, 1980).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Allen, Guy dan Edgley (1980, cit Anwar, 2005), mengatakan bahwa sikap
adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk
menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana. Sikap merupakan
respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.
Struktur sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang yaitu
komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (effective) dan komponen konatif
(conative). Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap mengenai apa yang berlaku atau yang benar bagi objek sikap.
Komponen efektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional subjektif
seseorang terhadap suatu objek sikap. Komponen konatif merupakan aspek
kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.
Interaksi antara ketiga komponen adalah selaras dan konsisten, dikarenakan apabila
dihadapkan dengan suatu objek sikap yang sama maka ketiga komponen itu harus
mempolakan arah sikap yang seragam. Apabila salah satu saja diantara ketiga
komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan
yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga
konsistensi itu tercapai kembali (Azwar, 2005).

2.4 Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas (Notoadmojo, 2003).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Setelah sesorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian
mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya
diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau yang
disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktik (Notoadmojo, 2003).
Terdapat banyak teori yang menerangkan tentang konsep perubahan perilaku,
antara lain adalah teori Green (1980) yang menyatakan bahwa derajat kesehatan akan
dipengaruhi oleh faktor perilaku dan faktor non perilaku. Faktor perilaku akan
ditentukan oleh tiga kelompok faktor yaitu : predisposisi (mempermudah), faktor
pendukung dan faktor pendorong. Faktor yang mempermudah (prediposing factors),
meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan persepsi yang
ada di masyarakat. Faktor pendukung (enabling factors) meliputi lingkungan fisik,
fasilitas dan sarana kesehatan yang mendukung. Faktor pendorong (reinforcing
factors) yang meliputi pengetahuan, sikap dan perilaku petugas, teman sebaya, orang
tua dan tokoh/pamong, juga berbagai faktor demografi seperti sosio ekonomi, umur,
jenis kelamin, masa kerja dan ukuran keluarga juga penting sebagai faktor pendorong
yang memberi kontribusi atas perilaku kesehatan (Green dkk, 1991).





Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



2.5 Hubungan Karakteristik Individu Terhadap Pengetahuan, Sikap dan
Tindakan
Penentuan atau penggolongan karakteristik individu dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang saling terkait antara satu sama lain, yang merupakan riwayat dan
identitas diri, yaitu:
1. Umur
Secara umum umur individu memiliki hubungan terhadap tinggi rendahnya
pengetahuan. Semakin bertambahnya umur seseorang semakin meningkatkan
kemampuan inderanya. Kemampuan indera individu yang optimal sangat
menunjang dalam proses penerimaan dan penyampaian pengetahuan. Dengan
demikian faktor umur berperan dalam tercapainya pengetahuan dalam individu.
Demikian juga dengan hubungan umur terhadap sikap seseorang. J ika
pertambahan umur berlangsung dapat menciptakan kemampuan pengetahuan
terutama kemampuan pengetahuan segi positif dari individu tersebut, sebab
pengetahuan terutama kemampuan terciptanya sikap. Sehingga dapat disimpulkan
faktor umur memiliki peran terhadap terciptanya suatu pengetahuan dan sikap
individu.
2. Jenis kelamin
Banyak survei menemukan bahwa anak perempuan memiliki prevalensi karies
yang lebih tinggi dari pada anak laki-laki pada umur kronologis yang sama.
Diketahui bahwa rata-rata gigi permanen pada anak perempuan lebih dulu erupsi
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


dibandingkan pada anak laki-laki, sehingga lebih lama terpapar dengan serangan
karies (Carlos,1981). Selama masa anak dewasa, perempuan memperlihatkan nilai
DMFT yang lebih tinggi daripada laki-laki, namun secara umum kebersihan
mulut pada perempuan lebih baik dan memiliki lebih sedikit gigi yang hilang
dibandingakan dengan laki-laki (Tarigan, 1995).
3. Pendidikan Orang Tua
Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial penting yang berhubungan dengan
prevelensi karies (Reich, 1999). Pendidikan yang rendah sangat berpengaruh
terhadap pengetahuan seseorang, karena tidak mendapat pendidikan yang layak
(Budiharto, 2000).
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (2001) menunjukkan kerusakan gigi
tertinggi terjadi pada orang dengan pendidikan lulus SD yaitu sebesar 8 gigi per
orang, dan pada orang dengan pendidikan lulus SMP ke atas rata-rata 3 gigi
mengalami kerusakan per orang.
4. Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan merupakan faktor sosial yang dapat mempengaruhi status karies gigi
(Reich, 1999). Pekerjaan menunjukkan kelas sosial tertentu. Penelitian
menunjukkan adanya penurunan dalam insidensi karies, khususnya pada anak-
anak dan dewasa muda, terutama pada anak-anak dari keluarga dengan
pendapatan rendah.

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


2.6 Status Kesehatan Gigi dan Mulut
Dalam menganalisis faktor yang mempengaruhi kualitas kesehatan gigi dan
mulut seseorang tidak terlepas dari tiga aspek diatas, yaitu (Julianti, 2001):
a. Aspek Fisik
Aspek fisik merupakan aspek yang mempengaruhi kualitas kesehatan gigi dan
mulut yang disebabkan oleh keadaan yang terdapat didalam mulutnya sendiri,
misalnya karena pemberian gizi yang salah pada saat kehamilan menyebabkan
struktur gigi rentan terhadap kerusakan gigi, misalnya keadaan gigi yang berjejal
mengakibatkan mudahnya penumpukan plak dan sisa makanan sehingga
mempermudah timbulnya kerusakan gigi.
b. Aspek Mental
Aspek mental dapat mempenggaruhi tingkah laku orang tersebut. Misalnya
apabila seseorang percaya bahwa penyakit gigi dan mulut disebabkan oleh
penggaruh guna-guna, tentunya untuk menggobati penyakit tersebut tidak akan pergi
ke dokter gigi melainkan pergi ke dukun. Dengan demikian penyakitnya akan
bertambah parah.
c. Aspek Sosial
Aspek sosial yang mempenggaruhi kualitas kesehatan gigi dan mulut
biasanya disebabkan oleh nilai budaya yang berkembang didaerahnya. Selain itu,
dapat pula disebabkan oleh pengaruh sosioekonomi yang kurang, keadaan inipun
akan mempenggaruhi tingkah orang tersebut.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Dengan kata lain status kesehatan gigi dan mulut adalah kondisi derajat
kesehatan gigi dan mulut hasil interaksi kondisi fisik, mental dan sosial yang dapat
dilihat dari tingkat keparahan penyakit gigi dan mulut melalui indikator-indikator.

2.7 Indikator Kesehatan Gigi dan Mulut
Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk menggevaluasi keadaan
atau status dan memungkinkan dilakukanya pengumpulan terhadap perubahan
perubahan yang terjadi dari waktu kewaktu (DepKes RI, 2003).
Indikator penyakit gigi dan mulut adalah spesifik, dalam arti status kesehatan
gigi untuk masing-masing kelompok umur, mempunyai indikator yang berbedabeda
WHO telah mendapatkan indikator dan standar Oral Global Goal For the Year
2000 yang masih berlaku sampai dengan saat ini, yaitu seperti pada tabel 2.2
dibawah ini:

Tabel 2.2. Indikator dan Target Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut
No. Indikator Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut Target Nasional
1. Anak 5 s/d 6 tahun
- bebas karies(mixed dentition) 50%
2. Anak 12 Tahun
- DMF-T Index 3
- PTI 50%
->3 Sextan Gusi Sehat 70%
3. Remaja 18 Tahun
-Lengkung/ Jumlah gigi lengkap(Minimal 28 gigi) 85%

>3 Sextan Gusi Sehat 70%
4. Dewasa 35 44 tahun

- Penduduk dengan Minimal 20 gigi Berfungsi 90%
- Penduduk tidak bergigi (ompong) 0,25%
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


5. Dewasa > 65 Tahun
- Penduduk dengan minimal 20 gigi Berfungsi 50%
Penduduk tidak bergigi (ompong) 18%

2.8 Karies Gigi
2.8.1 Pengertian Karies Gigi
Karies berasal dari kata Yunani yang berarti lubang, menurut Lundeen dan
Roberson (1995) yang dikutip Sumawinata (1997), adalah penyakit menular pada gigi
yang disebabkan oleh mikroba yang mengakibatkan terlarutnya dan hancurnya
jaringan keras gigi.
Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan
sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik, dalam suatu karbohidrat
yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi
yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya terjadi invasi
bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan perapeks yang
dapat menyebabkan nyeri (Kidd & Bechal, 1992; Wilkins, 2005).
WHO mendefenisikan karies gigi sebagai localized, post-eruptive, pathologic
process of external origin involving softening of hard tooth tissue and proceeding to
the formation of a caviti (Wilkins, 2005).
2.8.2 Etiologi Karies gigi
Karies gigi memiliki etiologi yang multifaktor dimana terjadi interaksi dari tiga
faktor utama: Mikroorganisme (plak), Substrat (diet karbohidrat), Host (gigi dan
saliva) dan faktor ke empat : waktu (Reich. E, Lusi. A dan Newbrun. E, 1999).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Karies gigi diklasifikasikan sebagai penyakit infeksi kronik, dimana menurut
teori epidemiologi modern merupakan hasil interaksi antara faktor Agen, Host dan
Lingkungan. Penelitian-penelitian telah menunjukkan dengan jelas bahwa karies
merupakan hasil interaksi dari : mikroorganisme spesifik, host yaitu gigi yang
resistensinya kurang dan lingkungan, khususnya lingkungan intra oral sebagai akibat
dari konsumsi karbohidrat (Carlos, 1981).
Beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa dapat
diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga PH plak akan menurun
sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan PH yang berulang-ulang
dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan
dan proses kariespun dimulai. Panduan keempat faktor penyebab tersebut kadang-
kadang digambarkan sebagai empat lingkaran yang saling tumpang tindih, seperti
terlihat pada gambar 2.1 (Kidd & Bechal, 1992).







Gambar 2.1 Empat Lingkaran Yang Menggambarkan Panduan Faktor
Penyebab Karies.
MI KROORGANI SME
SUBSTRAT
HOST
(gi gi dan sal i va)
WAKTU
KARI ES
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Sumber : Dasar-dasar Karies, Penyakit dan Penanggulangannya.
Kidd & Bechal, 1992
Untuk dapat menjelaskan interaksi dari ke empat faktor tersebut dapat juga
digambarkan dalam tiga dimensi (gambar 2.2.).









Gambar 2.2 Tiga Faktor Utama Dan Satu Faktor Tambahan Penyebab Karies.
Sumber : Peranan Pelayanan Kesehatan Gigi Anak Dalam
Menunjang Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia
Indonesia Di Masa Mendatang. Suwelo, 1997

Tiga faktor utama digambarkan sebagai tiga selinder, dengan ketebalan
(tinggi) silinder menunjukkan faktor waktu artinya ketiga faktor utama berada di
dalam mulut pada waktu tertentu. Apabila selinder tersebut saling memotong, maka
terjadilah karies. Hasil perpotongan (interaksi) tiga selinder berbentuk ruangan.
Besarnya ruangan tergantung pada besar peranan masing-masing silinder yaitu
besarnya jari-jari silinder (tiga faktor utama karies) dan tinggi selinder (faktor waktu).
waktu KARIES
Substrat
Gigi & saliva
Mikroorganisme
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Makin besar ruangan tersebut makin besar kemungkinan karies terjadi
(Suwelo,1997).
2.8.2.1 Mikroorganisme
Berbagai jenis mikroorganisme terdapat di dalam rongga mulut yang
merupakan komunitas kompleks yang terjadi dari macam-macam spesies. Struktur
dari komunitas tersebut terdiri dari suatu massa yang berupa matriks yang lengket dan
kental yang mengandung glikoprotein serta sel-sel mikroorganisme dan menempel
pada permukaan gigi yang dikenal sebagai pelikel. Glikoprotein tersebut merupakan
bahan nutrisi bagi mikroorganisme, sehingga mikroorganisme akan tumbuh dan
berkembang biak membentuk koloni-koloni mikroorganisme ini kemudia dikenal
sebagai plak gigi (Burnett, GW, 1980).
Kolonisiasi bakteri pada permukaan gigi diketahui sebagai faktor etiologi
kunci dalam penyakit mulut, termasuk juga karies gigi (Axelsson, 1999). Menurut
Tarigan (1995), plak terbentuk dari campuran antara bahan-bahan air ludah seperti
mucin, sisa sisa sel jaringan mulut, leukosit, limposit dengan sisa-sisa makanan
serta bakteri. Plak merupakan awal terjadinya karies gigi.
Plak gigi merupakan bahan yang melekat berisi bakteri beserta produk-
produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak
terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan. J ika email
yang bersih terpapar di rongga mulut maka akan ditutupi oleh lapisan organik yang
amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terutama terdiri atas glikoprotein yang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


diendapkan dari saliva dan terbentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat
lengket dan dapat membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi
dan yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh,
berkembang biak dan mengeluarkan gel ekstrasel yang lengket dan akan mengikat
berbagai bentuk bakteri yang lain (Kidd & Bechal, 1992)
2.8.2.2 Substrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi bakteri mulut dan secara
langsung terlibat dalam penurunan PH. Karbohidrat menyediakan substrat untuk
membuat asam bagi mikroorganisme dengan sintesa polisakarida ekstra sel.
Dibutuhkan waktu tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel gigi untuk
membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Tidak semua
karbohidrat sama derajat kariogeniknya. Karbohidrat yang kompleks misalnya pati
(polisakrida) relatif tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam
mulut, sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan
meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri, sehingga
makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan PH plak dengan
cepat sampai level yang menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap bersifat
asam selama beberapa waktu, untuk kembali ke PH normal sekitar 7, dibutuhkan
waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang
akan tetap menahan PH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email
(Kidd & Bechal, 1992).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.









Karbohidrat yang mudah difermentasi
Bergabung ke dalam plak


Penurunan PH plak secara cepat


Terbentuk dengan segera
Frekuensi terpapar permukaan gigi oleh asam



Proses karies dimulai
Bercak putih permulaan lesi


Gambar 2.3 Tahapan yang Terjadi Dalam Plak Gigi Pada Permukaan gigi
Makanan Kariogenik

Plak Gigi
Pembentukan Asam
Demineralisasi
Karies Gigi
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Sumber : Clinical Practice Of The Dental Hygienist. Ninth Edition.
Wilkins, 2005






2.8.2.3 Host (gigi dan saliva)
Struktur anatomi dari gigi terdiri dari lapisan email di bagian terluar gigi dan
lapisan dentin yang terdapat di bawah lapisan email. Struktur email sangat
menentukan dalam proses terjadinya karies, dimana permukaan email yang terluar
lebih rentan terhadap kemungkinan terjadinya karies, terutama bentuk permukaan
gigi yang sukar dibersihkan. Plak yang mengandung bakteri merupakan awal bagi
terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan perlekatan plak
sangat mungkin diserang karies (Kidd & Bechal, 1992).
Peran saliva juga sangat menentukan dalam kejadian karies gigi. Saliva
mampu meremineralisasi karies yang masih dini, karena banyak mengandung ion
kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam melakukan remineralisasi akan
meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi mikroorganisme di
dalam plak, saliva juga mempengaruhi PH dalam mulut. Karena itu jika aliran saliva
berkurang akibatnya karies akan tidak terkendali (Kidd & Bechal, 1992).
Keberadaan fluor dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan
lingkungannya merangsang efek anti karies. Kadar fluor yang bergabung dengan
email selama pertumbuhan gigi bergantung kepada ketersediaan fluor tersebut di
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


dalam air minum atau makanan lain yang mengandung fluor. Email yang mempunyai
kadar fluor lebih tinggi, tidak dengan sendirinya resisten terhadap serangan asam,
akan tetapi tersedianya fluor disekitar gigi selama proses pelarutan email akan
mempengaruhi proses remineralisasi dan demineralisasi, terutama proses
demineralisasi. Disamping itu, fluor mempengaruhi bakteri plak dalam bentuk asam
(Kidd & Bechal, 1992)
2.8.2.4 Waktu
Karies gigi adalah suatu penyakit yang kronis. Sebab lesi terjadi setelah
beberapa bulan/tahun. Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali
mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies
tersebut terdiri dari atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh
karena itu, bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka karies tidak
menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau
tahun. Dengan demikian sebenarnya terdapat kesempatan yang baik untuk
menghentikan penyakt ini (Kidd & Bechal, 1992).

2.9 Pengukuran Status Karies Gigi
Status karies gigi atau angka karies seseorang dapat dilihat dari hasil
pengukuran dengan menggunakan ukuran atau indeks DMF-T (Decayed, Missing,
Filled Teeth) (Depkes RI, 1995).
Indeks DMF-T merupakan indikator penting yang telah ditentukan oleh WHO
dan digunakan untuk melihat keadaan gigi seseorang yang mengalami kerusakan
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


(Decayed), hilang karena karies atau sisa akar yang akan dicabut (Missing) dan
tumpatan baik (Filled) yang disebabkan oleh penyakit karies dan merupakan
penjumlahan dari nilai D,M,F. Indeks ini digunakan untuk mengukur keadaan pada
gigi permanen/gigi tetap. Semakin kecil indeks DMF-T semakin baik, dengan rumus
DMFT-T =D +M +F
DMF-T rata-rata = DMF-T/N
D =Decayed (gigi berlubang)
M =Missing (gigi telah dicabut karena karies)
F =Filling (gigi dengan tumpatan baik)
T =Tooth (gigi tetap)
Dibawah ini tabel klasifikasi angka keparahan gigi menurut WHO :
Tabel 2.3 Klasifikasi Angka Keparahan Karies Gigi Menurut WHO
Tingkat Keparahan DMF T
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
0,8-1,1
1,2-2,6
2,7- 4,4
4,5-6,5
6,6 keatas

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (2001), prevalensi karies gigi pada
kelompok usia 12 tahun 44% dan indeks DMFT pada usia ini sebesar 1,1. Target
pencapaian gigi sehat Indonesia tahun 2010 pada individu usia 12 tahun untuk indeks
DMFT adalah sebesar 1 (Depkes RI, 2004).

2.10 Pencegahan Karies Gigi
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Penanggulangan karies masih merupakan problema tersendiri di negara-
negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu upaya pencegahan perlu
memperoleh perhatian yang lebih besar, karena pencegahan merupakan pemecahan
masalah yang paling ekonomis dan dapat menjangkau masyarakat luas (Sundoro,
1998).
Karies merupakan penyakit yang dapat dicegah. Dasar-dasar pencegahan
karies adalah modifikasi satu atau lebih dari tiga faktor utama penyebab karies yaitu :
plak, substrat karbohidrat yang sesuai dan kerentanan gigi. Secara teori ada tiga cara
dalam mencegah karies yaitu, pertama menghilangkan substrat karbohidrat dengan
mengurangi frekuensi konsumsi gula dan membatasinya pada saat makan saja, kedua
dengan meningkatkan ketahanan gigi dengan memaparkannya dengan fluor secara
tepat, dan ketiga dengan menghilangkan plak bakteri (Kidd & Bechal, 1992).
Resiko kerusakan gigi yang berkaitan dengan karbohidrat akan sangat
berkurang, bila permukaan gigi secara teratur dibersihkan dari plak dan bakteri.
Makin sering makan karbohidrat yang mudah difermentasikan/dipecah maka makin
cepat terjadi proses demineralisasi dari jaringan keras gigi. Frekuensi konsumsi
makanan yang mengandung gula harus sangat dikurangi dengan menghindari
makanan kecil diantara jam makan (Tarigan, 1995).
Pencegahan yang paling mudah dan relatif murah adalah dengan melakukan
sikat gigi secara berkesinambungan dan benar, dengan menggunakan pasta gigi yang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


mengandung fluor. Upaya ini dapat memutuskan tali ikatan perkembangan bakteri
penyebab karies.
Menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi mengandung fluor dapat
memperkuat gigi (Sutadi, 2000). Hasil uji coba klinik dari pasta gigi yang
mengandung fluor memperlihatkan adanya penurunan insidensi karies yang
bervariasi antara 17% pada penduduk yang tinggal di daerah mengandung kadar fluor
optimum sampai 34% pada penduduk dari daerah yang kandungan fluornya nol. Oleh
karena itu penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor harus dianjurkan pada
semua orang (Kidd & Bechal, 1992). Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah
dengan diet karbohidrat, terutama jenis sukrosa yang merupakan faktor utama
penyebab kerusakan gigi. Bakteri karies terutama streptokokus mutans dengan
fermentasinya akan mengubah sukrosa menjadi asam yang dapat melarutkan email
gigi dan merupakan awal terjadinya lesi karies. Oleh karena itu diet karbohidrat
terutama makanan manis dan lengket merupakan pilihan untuk mencegah terjadinya
karies gigi (Sutadi, 2000).

2.11 Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)
Tujuan pembangunan nasional adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia. Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 menyebutkan
penyelenggaraan kesehatan sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan
hidup sehat bagi peserta didik untuk memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan
harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Dalam
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


rangka meningkatkan kualitas kesehatan gigi anak sekolah telah dilaksanakan
kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)(Depkes RI, 1997).



2.11.1 Pengertian UKGS
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah bagian integara Usaha Kesehatan
Sekolah (UKS) yang melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara
terencana pada siswa terutama siswa Sekolah Tingkat Dasar dalam satu kurun waktu
tertentu, diselenggarakan secara berkesinambungan melalui paket UKS sebagai
berikut (Depkes RI, 1997)
1. Paket Minimal UKS yaitu UKGS Tahap I yang meliputi :
a. Pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi mulut.
b. Pencegahan penyakit gigi mulut.
2. Paket Standar UKS yaitu UKGS Tahap II yang meliputi :
a. Pelatihan guru dan tenaga kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.
b. Pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
c. Pencegahan penyakit gigi mulut.
d. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut siswa kelas I
e. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit.
f. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada kelas I s/d kelas VI
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


g. Rujukan bagi yang memerlukan
3. Paket Optimal UKS yaitu UKGS Tahap III yang meliputi :
a. Pelatihan guru dan tenaga kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut
b. Pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
c. Pencegahan penyakit gigi mulut.
d. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut siswa kelas I
e. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit.
f. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada kelas I sampai dengan
kelas VI
g. Pelayanan medik gigi dasar sesuai kebutuhan pada kelas terpilih.
2.11.2 Tujuan UKGS
Tujuan umum dari pelaksanaan UKGS adalah tercapainya derajat kesehatan
gigi dan mulut siswa yang optimal. Adapun tujuan khususnya antara lain adalah
memiliki sikap atau kebiasaan pelihara diri terhadap kesehatan gigi dan mulut
(Depkes RI, 1997).

2. 12 Landasan Teori
Berdasarkan uraian teori tentang terjadinya karies dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan karies menyebutkan bahwa karies gigi memiliki etiologi
multifaktor dimana terjadi interaksi dari tiga faktor utama : Host (gigi dan saliva),
mikroorganisme (plak) dan substrat (diet), dan faktor ke empat: waktu (Kidd &
Bechal, 1992; Reich. E, Lusi. A & Newbrun. E. 1999). Menurut Suwelo (1997),
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


selain faktor-faktor yang ada di dalam mulut yang langsung berhubungan dengan
karies, terdapat faktor-faktor yang tidak langsung yang disebut faktor risiko luar yang
merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadi karies. Faktor luar
tersebut antara lain adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidik, tingkat ekonomi,
lingkungan, sikap dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi, maka dapat
digambarkan landasan teori sebagai berikut :
Faktor Predisposisi Faktor Utama










Gambar 2.4 Landasan Teori Faktor faktor yang berhubungan dengan Status
Karies Gigi.
Sumber: Kidd & Bechal, 1992; Suwelo, 1997; Reich.E, Lusi.A &
Newbrun. E, 1999.



2.13 Kerangka Konsep


HOST
(gigi & Saliva)
PERILAKU
KARIES
Usia
Jenis Kelamin
Tingkat Pendidikan
Tingkat Ekonomi
Lingkungan
Pengetahuan
Sikap
SUBSTRAT
MIKRO
ORGANISME
WAKTU
Status
Karies Gigi
Karakteristik Anak SD
- Pendidikan Orang Tua
- Pekerjaan Orang Tua

Perilaku
- Pengetahuan
- Sikap
- Tindakan

Sumber Informasi
- Petugas Kesehatan
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.







Gambar 2.5 Kerangka Konsep

BAB 3
METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei dengan menggunakan desain
potong lintang (cross-sectional) untuk menganalisis hubungan perilaku murid SD
kelas V dan VI pada kesehatan gigi dan mulut terhadap status karies gigi (DMFT) di
wilayah kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang 2009.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitan
Penelitian dilaksanakan di SD Kecamatan Delitua, dengan pertimbangan
merupakan salah satu kecamatan yang masih ditemui kasus gangguan gigi dan mulut
yaitu sebesar 28,9% dari 415 murid SD yang diperiksa. Penelitian ini terhitung dari
bulan November 2008 sampai Agustus 2009.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Populasi penelitian ini adalah seluruh murid SD kelas V dan VI di kecamatan
Delitua Kabupaten Deli Serdang yang berjumlah sebanyak 2.238 murid dari 14
sekolah. Pemilihan murid SD kelas V dan VI sebagai populasi penelitian karena
pertimbangan bahwa rata-rata usia murid SD kelas V dan VI adalah 11-12 tahun,
dimana pada usia tersebut semua gigi permanen, kecuali molar tiga, sudah tumbuh
sempurna dan pada usia tersebut anak mudah untuk diajak komunikasi.
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari murid SD Kelas V dan VI di
kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang, yang besar sampel diambil dengan
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Taro Yamane yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2003), sebagai berikut:
N
n =
1 + N (d)
2

Keterangan :
n = besarnya sampel
N = jumlah populasi
d = presisi sebesar 99% (d=0,1)

2.238
n =
1 + 2.238 (0.1)
2

n=95,72= 96 Murid SD
Untuk mengambil 96 Murid SD dilakukan secara proporsional sampling
terhadap Murid SD yang tersebar di 14 SD di Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang dengan menggunakan tehnik sample fraction (SF) (Nazir, 2003), yaitu:
SF=n/Nx100%=96/2.238 x 100 =4,25%
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Untuk mengambil 96 murid SD tersebut dilakukan secara simple random
sampling yaitu mengambil sampel secara acak dengan metode undian. Maka besarnya
sampel tiap SD pada Murid SD Kelas V dan VI seperti pada Tabel 3.1



Tabel 3.1. Perhitungan Besar Sampel Penelitian
No Nama Sekolah Kelas V Kelas VI
J umlah
Murid SD
J umlah
Sampel
1 SD NEG NO. 101797 57 55 112
5
2 SD NEG NO. 101798 79 90 169
8
3 SD NEG NO. 101799 59 46 105
4
4 SD NEG NO. 101800 66 65 131
6
5 SD NEG NO. 101801 118 96 214
9
6 SD NEG NO. 104213 77 63 140
6
7 SD NEG NO. 104214 99 118 217
9
8 SD NEG NO. 105300 99 111 210
9
9 SD NEG NO. 108075 37 33 70
3
10 SD SWASTA R.K 47 45 92
4
11 SD SWASTA MASEHI 28 32 60
3
12 SD SWASTA Y.P.I 96 109 205
9
13 SD SWASTA SINGOSARI 133 135 268
11
14 SD SWASTA YASPENDAR 120 125 245
10
Total 2238 96

3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer baik untuk variabel independen
maupun variabel dependen. Pengumpulan data untuk variabel independen yang terdiri
dari tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, perilaku, dan sumber
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


informasi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan lembar kuesioner,
untuk data perilaku kesehatan gigi juga dikumpulkan melalui wawancara
menggunakan lembar kuesioner. Variabel dependen berupa status karies gigi (DMFT)
dikumpulkan dengan melakukan pemeriksaan gigi, menggunakan alat-alat
pemeriksaan gigi dan dicatat dalam lembar pemeriksaan status karies gigi (DMFT).
Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu
staf/perawat gigi puskesmas. Sebelum pengumpulan data, dilakukan pelatihan untuk
mendapatkan persamaan persepsi dari para pengumpul data, berupa pelatihan
pengisian formulir pemeriksaan status karies gigi serta kuesioner yang akan
digunakan untuk pengumpulan data.
Kuesioner yang telah disiapkan terlebih dahulu dilakukan uji coba terhadap 10
orang murid SD kelas V dan VI di Kecamatan Delitua untuk mengetahui validitas dan
reliabilitas alat ukur.

3.4.1 Uji Validitas
Validitas menunjukkan sejauh mana skor atau nilai ataupun ukuran yang
diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran atau pengamatan yang ingin
diukur. Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara variabel atau item
dengan skor total variabel. Cara mengukur validitas data yaitu dengan mencari
korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total pada corrected
correlation item total pada hasil reability dengan ketentuan:
1. J ika nilai r hitung >r tabel (0,05), maka dinyatakan valid.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


2. J ika nilai r hitung <r tabel (0,05), maka dinyatakan tidak valid.
Nilai r-Tabel untuk responden 10 orang murid SD adalah 0,05. Hasil uji
validitas dapat dilihat pada tabel 3.2.

3.4.2 Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas bertujuan untuk melihat bahwa sesuatu instrumen cukup dapat
dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut
sudah baik. Teknik yang dipakai untuk menguji kuesioner penelitian, adalah tehnik
Alpha Cronbach yaitu dengan menguji coba instrumen kepada kelompok responden
pada satu pengukuran (Syahyunan,2004). Taraf kepercayaan pengujian adalah 95%,
maka nilai r-Tabel untuk sampel pengujian 10 orang adalah sebesar 0,05, maka
ketentuan dikatakan valid, dan reliabel jika:
1. Nilai r hitung variabel 0, 05 dikatakan valid dan relialibel.
2. Nilai r hitung variabel <0, 05 dikatakan tidak valid dan relialibel.
Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
No Item Pertanyaan
Nilai Corrected
Item Total
Keterangan
01 Item Informasi
Informasi 1
Informasi 2
Nilai Alpha Croncbach

1,000
1,000
1,000

Valid
Valid
Reliabel
02 Item Pengetahuan
Pengetahuan 1
Pengetahuan 2
Pengetahuan 3
Pengetahuan 4

0,1804
0,1804
0,4854
0,5453

Valid
Valid
Valid
Valid
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Pengetahuan 5
Pengetahuan 6
Pengetahuan 7
Pengetahuan 8
Pengetahuan 9
Pengetahuan 10
Nilai Alpha Croncbach
0,2691
0,6652
0,8920
0,0799
0,6159
0,8226
0,7954
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Reliabel
03 Item Sikap
Sikap 1
Sikap 2
Sikap 3
Sikap 4
Sikap 5
Sikap 6
Sikap 7
Sikap 8
Sikap 9
Sikap 10
Nilai Alpha Croncbach

0,4676
0,5906
0,0737
0,2825
0,7500
0,7500
0,4065
0,4758
0,6926
0,3171
0,7995

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Reliabel
04 Item Tindakan
Tindakan 1
Tindakan 2
Tindakan 3
Tindakan 4
Tindakan 5
Tindakan 6
Tindakan 7
Tindakan 8
Tindakan 9
Tindakan 10
Nilai Alpha Croncbach

0,1547
0,1547
0,4551
0,7786
0,5573
0,3433
0,6634
0,2117
0,6080
0,2138
0,7626

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Reliabel

Bedasarkan tabel 3.2. diketahui bahwa pada sampel 10 responden dengan
nilai r-hitung >0,05, maka secara keseluruhan pertanyaan dalam kuesioner tersebut
layak untuk dijadikan sebagai instrumen penelitian ini.

3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


3.5.1 Variabel Dependen
Status Karies Gigi (DTMFT) adalah Indeks yang dipakai untuk mengukur gigi
tetap yang mengalami karies atau tumpatan yang tidak baik (D=Decayed), gigi yang
dicabut karena karies (M=Missing) dan gigi dengan tumpatan baik (F=Filling), dan
Indeks DMFT =D+M+F pada gigi tetap (T) yang didasarkan pada pemeriksaan gigi
oleh perawat gigi atau dokter gigi puskesmas.


3.5.2 Variabel Independen
1. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh Murid SD tentang
perawatan gigi dan gangguan gigi dan mulut
2. Sikap adalah respon atau tanggapan Murid SD terhadap perawatan gigi dan
gangguan gigi dan mulut.
3. Tindakan adalah bentuk nyata dari kegiatan yang dilakukan oleh Murid SD untuk
merawat giginya dan mencegah terjadi gangguan gigi dan mulut.
4. Karakteristik Murid SD, yaitu segala sesuatu cirri-ciri sosiodemografi yang
terdapat pada murid SD dan keluarganya.
5. Pendidikan orang tua adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh
oleh orang tua murid SD yang dinyatakan dengan ijazah yang sah.
6. Pekerjaan orang tua adalah jenis kegiatan rutin yang dilakukan oleh orang tua
Murid SD yang menghasilkan pendapatan keluarga.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


7. Sumber informasi adalah pesan atau informasi yang diperoleh oleh Murid SD
tentang perawatan gigi dan pencegahan gangguan gigi dan mulut, yaitu :
a. Petugas kesehatan adalah : petugas yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan usaha kesehatan sekolah khususnya dalam pencegahan penyakit
gigi dan mulut pada murid SD.
b. Orangtua adalah : bapak atau ibu dari murid SD kelas V dan VI.



3.6 Metode Pengukuran
3.6.1 Pengukuran Variabel Dependen
Pengukuran variabel status karies gigi didasarkan pada skala ordinal
berdasarkan hasil pemeriksaan dokter gigi atau perawat gigi dengan menggunakan
alat kaca mulut, sonde, pinset dan dicatat pada formulir pemeriksaan, kemudian
variabel status karies gigi dikategorikan menjadi:

Rendah
Sedang
Tinggi


< 2,7
2,7 4,4
>4,4


3.6.2 Pengukuran Variabel Independen
Pengetahuan
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Pengukuran variabel pengetahuan didasarkan pada skala ordinal dari 10
pertanyaan dengan alternatif jawaban ab dan c. masing-masing jawaban diberi
skor, yaitu untuk jawaban a dikatakan baik, dan diberi skor 2, jawaban b
dikatakan sedang, dan diberi skor 1, dan c dikatakan kurang diberi skor 0, maka
skor tertinggi adalah 2x10=20, kemudian diakumulasikan menjadi 2 kategori yaitu:
1. Baik, jika Murid SD menjawab benar median
( )
2
1 + N

2. Kurang, jika Murid SD menjawab benar <median
( )
2
1 + N



Sikap
Pengukuran variabel sikap didasarkan pada skala ordinal dari 10 pertanyaan
dengan alternatif jawaban Setuju diberi skor 2, Kurang Setuju diberi skor 1, dan
Tidak Setuju diberi skor 0, maka total skor adalah 2x10=20, kemudian
diakumulasikan menjadi 2 katagori yaitu :
1. Baik, jika Murid SD memperoleh nilai median
( )
2
1 + N

2. Kurang, jika Murid SD memperoleh nilai <median
( )
2
1 + N

Tindakan
Pengukuran variabel tindakan didasarkan pada skala ordinal dari 10
pertanyaan dengan alternatif jawaban a, b dan c. Masing-masing jawaban diberi
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


skor, yaitu untuk jawaban a dikatakan baik dan diberi skor 2, jawaban b
dikatakan sedang diberi skor 1, dan c dikatakan kurang diberi skor 0, maka skor
tertinggi adalah 2x10=20, kemudian diakumulasikan menjadi 2 kategori yaitu:
1. Baik, jika Murid SD menjawab benar median
( )
2
1 + N

2. Kurang, jika Murid SD menjawab benar <median
( )
2
1 + N

Keterangan :
J ika sesudah analisis data yang telah dikategorisasi ditemukan hasil dengan data
berdistribusi normal maka akan digunakan nilai mean pada metode pengukuran.

Pendidikan
Pengukuran variabel pendidikan orang tua didasarkan pada skala ordinal,
dengan 3 kategori yaitu:
1. Pendidikan Dasar, jika orang tua murid SD berpendidikan Sekolah Dasar dan
SLTP;
2. Pendidikan Menengah, jika orang tua murid SD berpendidikan SLTA
3. Pendidikan Lanjutan, jika orang tua murid SD berpendidikan Diploma/S1
Pekerjaan
Pengukuran variabel pekerjaan orang tua didasarkan pada skala nominal,
dengan kategori :
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


1. Bekerja, jika orang tua murid SD mempunyai pekerjaan tetap seperti
petani/buruh/PNS/Pegawai Swasta atau wiraswasta
2. Tidak Bekerja, jika orang tua murid SD tidak mempunyai pekerjaan tetap atau
sebagai ibu rumah tangga.
Sumber Informasi
Pengukuran sumber informasi didasarkan pada skala nominal, dan
dikategorikan menjadi:
1. Petugas Kesehatan
2. Orang Tua



3.7 Metode Analisa Data
Metode analisis data dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut :
1. Untuk melihat gambaran data perilaku Murid SD, karakteristik murid SD, sumber
informasi dan status karies gigi secara tunggal disajikan dalam bentuk tabulasi
dan dideskripsikan.
2. Untuk melihat hubungan perilaku Murid SD dengan status karies gigi secara
bivariat dilakukan dengan uji Chi Square pada taraf kepercayaan 95% (=0,05).
3. Untuk melihat hubungan beberapa variabel independen terhadap variabel
dependen dilakukan Uji Multivariat dengan uji regresi logistic ganda.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



























BAB 4
HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Delitua terletak pada 257 dan 316
0
LU. Luas kecamatan yaitu 9,36
km
2
dengan jumlah 3 desa, 3 kelurahan, dan 45 dusun. Jumah sekolah dasar di
Kecamatan Delitua sebanyak 14 SD yang terdiri dari 9 SD negeri dan 4 SD swasta.
Kecamatan Delitua berbatasan dengan :
- Sebelah Utara : Kecamatan Medan Johor
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


- Sebelah Selatan : Kecamatan Biru-Biru
- Sebelah Barat : Kecamatan Namorambe
- Sebelah Timur : Kecamatan Patumbak
Tabel 4.1. Nama Nama Sekolah Dasar di Kecamatan Delitua


No.

Sekolah
Jenis Kelamin
Kelas V dan VI

Frekuensi
Persentase
(%)
Laki-Laki Perempuan
1 SDN 101797 63 49 112 5,21
2 SDN 101798 92 77 169 7,86
3 SDN 101799 61 44 105 4,88
4 SDN 101800 59 72 131 6,09
5 SDN 101801 124 90 214 9,96
6 SDN 104213 73 67 140 6,51
7 SDN 104214 113 104 217 10,10
8 SDN 105300 96 114 210 9,77
9 SDN 108075 34 36 70 3,25
10 SD Swasta R.K 49 43 92 4,28
11 SD Swasta Masehi 44 26 70 3,25
12 SD Swasta Y.P.I 111 94 205 9,54
13 SD Swasta Singosari 133 135 268 12,47
14 SD Swasta Yaspendar 112 33 145 6,75
Total 2148 100

4.2. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan/mendeskripsikan
karakteristik masing-masing variabel yang diteliti yaitu variabel dependen dan
variabel independen. Gambaran karakteristik masing-masing variabel adalah sebagai
berikut :
4.2.1. Status Karies Gigi
Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Status Karies Gigi Pada Murid
SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deliserdang 2009.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



Status Karies Gigi Jumlah Persentase (%)
1.Rendah
2.Sedang
71
25
74,0
26,0
Total 96 100,0

Berdasarkan pengelompokan status karies gigi, didapat gambaran responden
yang mempunyai status karies gigi rendah sebanyak 71 orang (74,0%) dan status
karies gigi sedang sebanyak 25 orang (26%).

4.3. Pengetahuan Kesehatan Gigi
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Sehat

Pertanyaan 1 Jumlah Persentase (%)
1. Tdk Berlubang, Tdk Sakit, Bersih, Segar
2. Gigi yang tidak sakit
91
5
94,8
5,2
Total 96 100,0





Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat
dikatakan gigi sehat adalah tidak berlubang, tidak sakit, bersih, dan segar sebanyak 91
orang (94,8%), dan responden yang mengatakan gigi yang tidak sakit sebanyak 5
orang (5,2%).

Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Kegunaan Gigi

Pertanyaan 2 Jumlah Persentase (%)
1.Mengunyah makanan
2.Untuk Berbicara dan kecantikan
3.Tidak Tahu
90
4
2
93,8
4,2
2,1
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Total 96 100,0



Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat
kegunaan gigi adalah untuk mengunyah makanan sebanyak 90 orang (93,8%),
responden yang mengatakan untuk berbicara dan kecantikan sebanyak 4 orang
(4,2%), dan responden yang tidak tahu sebanyak 2 orang (2,1%).

Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang

Pertanyaan 3 Jumlah Persentase (%)
1.Gigi Sakit dan Bengkak
2.Gigi Tidak Bersih
3.Tidak Tahu
52
36
8
54,2
37,5
8,3
Total 96 100,0









Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat gigi
berlubang adalah gigi sakit dan bengkak sebanyak 52 orang (54,2%), responden yang
mengatakan gigi yang tidak bersih sebanyak 36 orang (37,5%), dan responden yang
tidak tahu sebanyak 8 orang (8,3%).

Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Gigi Berlubang

Pertanyaan 4 Jumlah Persentase (%)
1.Makanan manis dan melekat
2.Makanan yang panas, malas sikat gigi
87
6
90,6
6,3
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


3.Tidak Tahu 3 3,1
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat
penyebab gigi berlubang adalah makan makanan yang manis sebanyak 87 orang
(90,6%), responden yang mengatakan makan makanan yang panas sebanyak 6 orang
(6,3%), dan responden yang tidak tahu sebanyak 3 orang (3,1%).

Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang Dapat Dicegah

Pertanyaan 5 Jumlah Persentase (%)
1.Ya
2.Tidak
3.Tidak Tahu
86
8
2
89,6
8,3
2,1
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat gigi
berlubang dapat dicegah sebanyak 86 orang (89,6%), responden yang mengatakan
gigi berlubang tidak dapat dicegah sebanyak 8 orang (8,3%), dan responden yang
tidak tahu sebanyak 2 orang (2,1%).
Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Cara Mencegah Gigi Berlubang

Pertanyaan 6 Jumlah Persentase (%)
1. Menyikat gigi teratur dan benar
2. Mengurangi makanan manis dan lengket
3. Tidak Tahu
75
19
2
78,1
19,8
2,1
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat cara
mencegah gigi berlubang dengan menyikat gigi teratur dan benar sebanyak 75 orang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


(78,1%), responden yang mengatakan mengurangi makanan manis dan lengket
sebanyak 19 orang (19,8%), dan responden yang tidak tahu sebanyak 2 orang (2,1%).

Tabel 4.9. Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Terbaik Menyikat Gigi

Pertanyaan 7 Jumlah Persentase (%)
1. Sesudah makan pagi dan sebelum tdr mlm
2. Sewaktu mandi
3. Tidak Tahu
80
15
1
83,3
15,6
1,0
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat waktu
terbaik menyikat gigi adalah sesudah makan dan sebelum tidur sebanyak 80 orang
(83,3%), responden yang mengatakan sewaktu mandi sebanyak 15 orang (15,6%),
dan responden yang tidak tahu sebanyak 1 orang (1,0%).

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.10. Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi Baik dan Benar

Jumlah Persentase (%)
1. Semua permukaan gigi harus disikat
2. Gerakannya harus keras dan cepat
3. Tidak Tahu
91
2
3
94,8
2,1
3,1
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat cara
menyikat gigi yang baik dan benar adalah semua permukaan gigi harus disikat
sebanyak 91 orang (94,8%), responden yang mengatakan gerakannya harus keras dan
cepat sebanyak 2 orang (2,1%), dan responden yang tidak tahu sebanyak 3 orang
(3,1%).

Tabel 4.11. Distribusi Responden Berdasarkan Bahan Pasta Gigi

Pertanyaan 9 Jumlah Persentase (%)
1.Fluor
2.Vitamin Lain
3.Tidak Tahu
60
16
20
62,5
16,7
20,8
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat bahan
pasta gigi adalah fluor sebanyak 60 orang (62,5%), responden yang mengatakan
vitamin lain sebanyak 16 orang (16,7%), dan responden yang tidak tahu sebanyak 20
orang (20,8%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.12. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Pada Gigi Berlubang

Pertanyaan 10 Jumlah Persentase (%)
1. Dirawat dan ditambal
2. Dicabut
3. Tidak Tahu
37
55
4
38,5
57,3
4,2
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat
tindakan pada gigi berlubang adalah dirawat dan ditambal sebanyak 37 orang
(38,5%), responden yang mengatakan dicabut sebanyak 55 orang (57,3%), dan
responden yang tidak tahu sebanyak 4 orang (4,2%).

Tabel 4.13. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Pada Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deliserdang 2009.

Pengetahuan Jumlah Persentase (%)
1. Baik
2. Kurang
51
45
53,1
46,9
Total 96 100,0

Berdasarkan pengelompokan pengetahuan tentang kesehatan gigi, didapat
gambaran responden yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 51 orang (53,1%),
sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 45 orang (46,9%).

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.4. Sikap Kesehatan Gigi
Tabel 4.14. Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan Setiap
Selesai Makan

Pertanyaan 1 Jumlah Persentase (%)
1.Sangat Setuju
2.Kurang Setuju
3.Tidak Setuju
70
23
3
72,9
24,0
3,1
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju menyikat gigi dilakukan selesai makan sebanyak 70 orang (72,9%), responden
yang kurang setuju sebanyak 23 orang (24,0%), dan responden yang tidak setuju
sebanyak 3 orang (3,1%).

Tabel 4.15. Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan Sebelum
Tidur Malam

Pertanyaan 2 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
68
20
8
70,8
20,8
8,3
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju menyikat gigi dilakukan sebelum tidur malam sebanyak 68 orang (70,8%),
responden yang kurang setuju sebanyak 20 orang (20,8%), dan responden yang tidak
setuju sebanyak 8 orang (8,3%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.16. Distribusi Responden Berdasarkan Sikat Gigi Dilakukan Sesudah
Makan Makanan Yang Manis

Pertanyaan 3 Jumlah Persentase (%)
1.Sangat Setuju
2.Kurang Setuju
3.Tidak Setuju
45
33
18
46,9
34,4
18,8
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju menyikat gigi dilakukan sesudah makan makanan yang manis sebanyak 45
orang (46,9%), responden yang kurang setuju sebanyak 33 orang (34,4%), dan
responden yang tidak setuju sebanyak 18 orang (18,8%).

Tabel 4.17. Distribusi Responden Berdasarkan Pemeriksaan Gigi Secara Rutin

Pertanyaan 4 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
56
28
12
58,3
29,2
12,5
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju memeriksa gigi secara rutin sebanyak 56 orang (58,3%), responden yang
kurang setuju sebanyak 28 orang (29,2%), dan responden yang tidak setuju sebanyak
12 orang (12,5%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.18. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Berlubang Karena Malas
Menyikat Gigi

Pertanyaan 5 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
72
13
11
75,0
13,5
11,5
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju penyebab gigi berlubang karena malas menyikat gigi sebanyak 72 orang
(75,0%), responden yang kurang setuju sebanyak 13 orang (13,5%), dan responden
yang tidak setuju sebanyak 11 orang (11,5%).

Tabel 4.19. Distribusi Responden Berdasarkan Mencegah Gigi Berlubang
Dengan Menyikat Gigi Teratur Dan Benar

Pertanyaan 6 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
87
9
90,6
9,4
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju mencegah gigi berlubang dengan menyikat gigi teratur dan benar sebanyak 87
orang (90,6%), dan responden yang kurang setuju sebanyak 9 orang (9,4%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.20. Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi Yang Baik Dan
Benar Semua Permukaan Gigi Harus Disikat

Pertanyaan 7 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
86
10
89,6
10,4
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju menyikat gigi yang baik dan benar semua permukaan gigi harus disikat
sebanyak 86 orang (89,6%), dan responden yang kurang setuju sebanyak 10 orang
(10,4%).

Tabel 4.21. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Sakit dan Berlubang Harus
Ditambal

Pertanyaan 8 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
48
36
12
50,0
37,5
12,5
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju gigi sakit dan berlubang harus ditambal sebanyak 48 orang (50,0%), responden
yang kurang setuju sebanyak 36 orang (37,5%), dan responden yang tidak setuju
sebanyak 12 orang (12,5%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.22. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Sehat Lebih Baik
Dipertahankan Daripada Dicabut

Pertanyaan 9 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
76
14
6
79,2
14,6
6,3
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju gigi sehat lebih baik dipertahankan sebanyak 76 orang (79,2%), responden
yang kurang setuju sebanyak 14 orang (14,6%), dan responden yang tidak setuju
sebanyak 6 orang (6,3%).

Tabel 4.23. Distribusi Responden Berdasarkan Berobat Gigi Lebih Baik Ke
Dokter Gigi/Puskesmas Daripada Ke Dukun

Pertanyaan 10 Jumlah Persentase (%)
1. Sangat Setuju
2. Kurang Setuju
3. Tidak Setuju
78
12
6
81,3
12,5
6,3
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berpendapat sangat
setuju berobat gigi lebih baik ke dokter gigi/puskesmas dari pada ke dukun sebanyak
78 orang (81,3%), responden yang kurang setuju sebanyak 12 orang (12,5%), dan
responden yang tidak setuju sebanyak 6 orang (6,3%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.24. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Pada Murid SD Kelas V
dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deliserdang
2008.

Sikap Jumlah Persentase (%)
1. Baik
2. Kurang
49
47
51,0
49,0
Total 96 100,0

Berdasarkan pengelompokan sikap tentang kesehatan gigi, didapat gambaran
responden yang mempunyai sikap baik sebanyak 49 orang (51,0%), sedangkan sikap
kurang sebanyak 47 orang (49,0%).

4.5. Tindakan Kesehatan Gigi
Tabel 4.25. Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi Sebelum Tidur

Pertanyaan 1 Jumlah Persentase (%)
1. Ya, setiap hari
2. Ya, sekali-kali apabila tidak lupa
3. Tidak pernah karena tidak kotor
73
19
4
76,0
19,8
4,2
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang setiap hari menyikat
gigi sebelum tidur sebanyak 73 orang (76,0%), responden sekali-kali apabila tidak
lupa sebanyak 19 orang (19,8%), dan responden tidak pernah karena tidak kotor
sebanyak 4 orang (4,2%).

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.26. Distribusi Responden Berdasarkan Menyikat Gigi Setiap Pagi

Pertanyaan 2 Jumlah Persentase (%)
1. Ya, sambil mandi pagi
2. Sekali-kali
88
8
91,7
8,3
Total 96 100,0

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang menyikat gigi sambil
mandi pagi sebanyak 88 orang (91,7%), dan responden yang sekali-kali menyikat gigi
setiap pagi sebanyak 8 orang (8,3%).

Tabel 4.27. Distribusi Responden Berdasarkan Yang Dilakukan Selesai Makan

Pertanyaan 3 Jumlah Persentase (%)
1. Cukup kumur-kumur saja
2. Minum
2
94
2,1
97,9
Total 96 100,0

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang melakukan kumur-
kumur saja selesai makan sebanyak 2 orang (2,1%), dan responden yang minum
selesai makan sebanyak 94 orang (97,9%).

Tabel 4.28. Distribusi Responden Berdasarkan Kunjungan ke Dokter Gigi Atau
Klinik

Pertanyaan 4 Jumlah Persentase (%)
1. Pernah, karena sakit gigi
2. Tidak pernah karena tidak ada keluhan
2
94
2,1
97,9
Total 96 100,0

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang pernah mengunjungi
dokter gigi atau klinik gigi karena sakit gigi sebanyak 2 orang (2,1%), dan responden
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


yang tidak pernah mengunjungi dokter gigi atau klinik gigi karena tidak ada keluhan
sebanyak 94 orang (97,9%).

Tabel 4.29. Distribusi Responden Berdasarkan Memeriksa Gigi Secara Teratur

Pertanyaan 5 Jumlah Persentase (%)
1. Ya, setiap 6 bulan atau setahun sekali
2. Ya, tidak tentu
3. Tidak pernah
1
82
13
1,0
85,4
13,5
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang setiap 6 bulan atau
setahun sekali memeriksa gigi secara teratur sebanyak 1 orang (1,0%), responden
yang tidak tentu memeriksa gigi sebanyak 82 orang (85,4%), dan responden tidak
pernah memeriksa gigi sebanyak 13 orang (13,5%).

Tabel 4.30. Distribusi Responden Berdasarkan Gigi Kotor Atau Gusi Berdarah

Pertanyaan 6 Jumlah Persentase (%)
1. Memeriksa atau membersihkan karang gigi
2. Menyikat gigi
3. Dibiarkan
1
90
5
1,0
93,8
5,2
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang memeriksa atau
membersihkan karang gigi sebanyak 1 orang (1,0%), responden yang menyikat gigi
sebanyak 90 orang (93,8%), dan responden yang membiarkan saja sebanyak 5 orang
(5,2%).

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Tabel 4.31. Distribusi Responden Berdasarkan Makanan Yang Dikonsumsi
Diantara Waktu Makan
Pertanyaan 7 Jumlah Persentase (%)
1. Buah-buahan
2. Kue-kue
3. Jajanan (permen,coklat,biskuit,cake,dll,)
61
31
4
63,5
32,3
4,2
Total 96 100,0

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang memakan buah-
buahan diantara waktu makan sebanyak 61 orang (63,5%), responden yang memakan
kue-kue sebanyak 31 orang (32,3%), dan memakan jajanan sebanyak 4 orang (4,2%).
Tabel 4.32. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Makanan
Jajanan Dalam Sehari

Pertanyaan 8 Jumlah Persentase (%)
1. Kurang dari 2 kali
2. Lebih dari 2 kali
3. Tidak pernah
61
27
8
63,5
28,1
8,3
Total 96 100,0

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang kurang 2 kali dalam
sehari makan makanan jajanan sebanyak 61 orang (63,5%), responden yang
memakan lebih dari 2 kali sebanyak 27 orang (28,1%), dan responden yang tidak
pernah memakan jajanan sebanyak 8 orang (8,3%).

Tabel 4.33. Distribusi Responden Berdasarkan Jajanan Manis dan Melekat

Pertanyaan 9 Jumlah Persentase (%)
1. Tidak suka
2. Kadang-kadang
3. Ya, suka
1
90
5
1,0
93,8
5,2
Total 96 100,0


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang tidak suka makan
jajanan yang manis dan melekat sebanyak 1 orang (1,0%), responden yang kadang-
kadang memakan jajanan yang manis dan melekat sebanyak 90 orang (93,8%), dan
responden yang suka memakan jajanan tersebut sebanyak 5 orang (5,2%).

Tabel 4.34. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Yang Dilakukan
Dalam Memelihara Kesehatan Gigi dan Mulut

Pertanyaan 10 Jumlah Persentase (%)
1. Menyikat gigi secara teratur meski bersih
2. Menyikat gigi apabila gigi kotor
3. Tidak perlu menyikat gigi, ckp mkn vitamin
2
81
13
2,1
84,4
13,5
Total 96 100,0


Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa responden yang melakukan tindakan
dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut adalah menyikat gigi secara teratur
meski masih bersih sebanyak 2 orang (2,1%), responden yang menyikat gigi apabila
kotor sebanyak 81 orang (84,4%), dan responden yang tidak perlu menyikat gigi
hanya cukup minum vitamin sebanyak 13 orang (13,5%).

Tabel 4.35. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Pada Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten
Deli Serdang 2009.

Tindakan Jumlah Persentase (%)
1.Baik
2.Kurang
59
37
61,5
38,5
Total 96 100,0


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Berdasarkan pengelompokan tindakan tentang kesehatan gigi, didapat
gambaran responden yang mempunyai tindakan baik sebanyak 57 orang (61,5%),
sedangkan tindakan kurang sebanyak 37 orang (38,5%).

4.6. Kelas Responden
Tabel 4.36. Distribusi Responden Berdasarkan Kelas Pada Murid SD Kelas V
dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang
2009.

Kelas Jumlah Persentase (%)
1.Kelas V
2.Kelas VI
31
65
32,3
67,7
Total 96 100,0


Berdasarkan pengelompokan Kelas responden, didapat gambaran responden
yang berada di Kelas V sebanyak 31 orang (32,3%), sedangkan responden yang
berada di Kelas VI sebanyak 65 orang (67,7%).

4.7. Karakteristik Responden
4.7.1. Pendidikan Orang Tua
Tabel 4.37. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Orang Tua Pada
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009.

Pendidikan Orang Tua Jumlah Persentase (%)
1.Tamat SD
2.Tamat SLTP
3.Tamat SLTA
4.Tamat DIII/S1
27
28
30
11
28,1
29,2
31,3
11,5
Total 96 100,0

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Berdasarkan pengelompokan Pendidikan Orang Tua, didapat gambaran
responden yang pendidikan orang tuanya tamat SD sebanyak 27 orang (28,1%),
responden yang pendidikan orang tuanya tamat SLTP sebanyak 28 orang (29,2%),
responden yang pendidikan orang tuanya tamat SLTA sebanyak 30 orang (31,3%),
dan responden yang pendidikan orang tuanya tamat DIII/S1 sebanyak 11 orang
(11,5%).

4.7.2. Pekerjaan Orang Tua
Tabel 4.38. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Pada
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009.

Pekerjaan Orang Tua Jumlah Persentase (%)
1. Petani/Buruh
2. PNS/POLRI
3. Peg. Swasta/Wrsta
4. Tidak Bekerja
12
9
72
3
12,5
9,4
75,0
3,1
Total 96 100,0

Berdasarkan pengelompokan Pekerjaan Orang Tua, didapat gambaran
responden yang pekerjaan orang tuanya Petani/Buruh sebanyak 12 orang (12,5%),
responden yang pekerjaan orang tuanya PNS/POLRI sebanyak 9 orang (9,4%),
responden yang pekerjaan orang tuanya peg. Swasta/wiraswasta sebanyak 72 orang
(75,0%), dan responden yang pekerjaan orang tuanya tidak bekerja sebanyak 3 orang
(3,1%).
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.8. Informasi
4.8.1. Penjelasan Tentang Kesehatan Gigi
Tabel 4.39. Distribusi Responden Berdasarkan Penjelasan tentang Kesehatan
Gigi Pada Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009.

Penjelasan Kesehatan Gigi Jumlah Persentase (%)
1. Belum Pernah
2. Sudah Pernah
46
50
47,9
52,1
Total 96 100,0

Berdasarkan pengelompokan Penjelasan Tentang Kesehatan Gigi, didapat
gambaran responden yang belum pernah mendapatkan penjelasan tentang kesehatan
gigi sebanyak 46 orang (47,9%), sedangkan responden yang sudah pernah
mendapatkan penjelasan tentang kesehatan gigi sebanyak 50 orang (52,1%).

4.8.2. Sumber Informasi
Tabel 4.40. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Pada Murid
SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua
Kabupaten Deli Serdang 2009.

Sumber Informasi Jumlah Persentase (%)
1. Petugas Kesehatan
2. Orang Tua
47
3
94,0
6,0
Total 50 100,0

Berdasarkan pengelompokan Sumber Informasi, didapat gambaran responden
yang mendapatkan informasi dari petugas kesehatan sebanyak 47 orang (94,0%),
sedangkan responden yang mendapatkan informasi dari orang tua sebanyak 3 orang
(6,0%).

Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.9. Analisis Bivariat
Hubungan antara variabel independen dan variabel pendukung dengan
variabel dependen dilihat dengan melakukan analisis bivariat menggunakan uji chi-
square.

4.10. Hubungan Perilaku Responden
4.10.1. Hubungan Pengetahuan dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.41. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pengetahuan Responden

Pengetahuan
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Baik
Kurang
39
32
40,6
33,3
12
13
12,5
13,5
51
45
53,1
46,9
Jumlah 71 74,0 25 26,0 96 100,0
p = 0,716

Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang tingkat pengetahuannya baik sebanyak
39 orang (40,6%) sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 32 orang (33,3%). Untuk
murid SD yang status karies gigi sedang dan berpengetahuan kurang adalah paling
banyak ditemukan yaitu sebanyak 13 orang (13,5%) sedangkan berpengetahuan baik
sebanyak 12 orang (12,5%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,716 (P>0,05) dengan kata lain
Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan
status karies gigi.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.10.2. Hubungan Sikap dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.42. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Sikap Responden

Sikap
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Baik
Kurang
37
34
38,5
35,5
12
13
12,5
13,5
49
47
51,0
49,0
Jumlah 71 74,0 25 26,0 96 100,0
p = 0,904

Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang sikapnya baik sebanyak 37 orang
(38,5%) sedangkan sikapnya kurang sebanyak 34 orang (35,5%). Untuk murid SD
yang status karies gigi sedang dan sikapnya kurang adalah paling banyak ditemukan
yaitu sebanyak 13 orang (13,5%) sedangkan sikapnya baik sebanyak 12 orang
(12,5%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,904 (P>0,05) dengan kata lain
Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan status
karies gigi.

4.10.3. Hubungan Tindakan dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.43. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Tindakan Responden
Tindakan
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Baik
Kurang
39
32
40,6
33,4
20
5
20,8
5,2
59
37
61,5
38,5
Jumlah 71 74,0 25 26,0 96 100,0
p = 0,048
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang tindakannya baik sebanyak 39 orang
(40,6%) sedangkan tindakannya kurang sebanyak 32 orang (33,4%). Untuk murid SD
yang status karies gigi sedang dan tindakannya baik adalah paling banyak ditemukan
yaitu sebanyak 20 orang (20,8%) sedangkan tindakannya kurang sebanyak 5 orang
(5,2%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,048 (P<0,05) dengan kata lain
Ho ditolak, artinya ada hubungan yang bermakna antara tindakan dengan status karies
gigi.

4.11. Hubungan Karakteristik Responden
4.11.1. Hubungan Pendidikan Orang Tua dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.44. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pendidikan Orang Tua

Pendidikan
Orang Tua
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
Tamat DIII/S1
17
23
21
10
17,7
24,0
21,9
10,4
10
5
9
1
10,4
5,2
9,4
1,0
27
28
30
11
28,1
29,2
31,3
11,5
Jumlah 71 74,0 25 26,0 96 100,0
p = 0,208

Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang pendidikan orang tuanya tamat SLTP
sebanyak 23 orang (24,0%) sedangkan yang paling sedikit ditemukan adalah yang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


berstatus karies sedang yang pendidikan orang tuanya tamat DIII/S1 sebanyak 1
orang (1,0%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,208 (P>0,05) dengan kata lain
Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua
dengan status karies gigi.

4.11.2. Hubungan Pekerjaan Orang Tua dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.45. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan Orang
Tua
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Petani/Buruh
PNS/POLRI
Peg.Swasta/Wrsta
Tidak Bekerja
8
8
54
1
8,3
8,3
56,3
1,0
4
1
18
2
4,2
1,0
18,8
2,1
12
9
72
3
12,5
9,4
75,0
3,1
Jumlah 71 74,0 25 26,0 96 100,0
p = 0,263

Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang pekerjaan orang tuanya Pegawai
swasta/Wiraswasta sebanyak 54 orang (56,3%) sedangkan yang paling sedikit
ditemukan adalah yang berstatus karies rendah yang orang tuanya tidak bekerja
sebanyak 1 orang (1,0%) dan yang berstatus karies sedang sebanyak 1 orang (1,0%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,263 (P>0,05) dengan kata lain
Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan orang tua
dengan status karies gigi.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.12. Hubungan Informasi
4.12.1. Hubungan Sumber Informasi Kesehatan dengan Status Karies Gigi
Tabel 4.46. Distribusi Status Karies Gigi Menurut Sumber Informasi

Sumber Informasi
Status Karies Gigi
Total
Rendah Sedang
N % N % N %
Petugas Kesehatan
Orang Tua
33
3
66,0
6,0
14
0
28,0
0,0
47
3
94,0
6,0
Jumlah 36 72,0 14 28,0 50 100,0
p = 0,652

Dari tabel di atas terlihat bahwa murid SD yang paling banyak ditemukan
adalah yang berstatus karies gigi rendah yang mendapatkan informasi kesehatan gigi
dari petugas kesehatan sebanyak 33 orang (66,0%) dan mendapatkan informasi
kesehatan gigi dari orang tua sebanyak 3 orang (6,0%). Sedangkan yang berstatus
karies gigi sedang yang mendapatkan informasi kesehatan gigi dari petugas kesehatan
sebanyak 14 orang (28,0%) dan mendapatkan informasi kesehatan gigi dari orang tua
tidak ada (0,0%).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa P =0,652 (P>0,05) dengan kata lain
Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara sumber informasi
kesehatan dengan status karies gigi.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


4.13. Analisis Multivariat
Untuk memperoleh jawaban faktor mana memiliki hubungan yang paling kuat
terhadap status karies gigi maka perlu dilakukan analisis multivariat. Tahapan analisis
multivariat meliputi: pemilihan variabel kandidat multivariat, pembuatan model, dan
analisis interaksi.

4.13.1. Pemilihan Variabel Kandidat Multivariat
Dalam penelitian ini ada 3 variabel yang diduga berhubungan terhadap status
karies gigi, yaitu prilaku kesehatan gigi (pengetahuan, sikap, tindakan). Untuk
membuat model multivariat ketiga variabel tersebut terlebih dahulu dilakukan analisis
bivariat dengan dependen (status karies gigi). Menurut Mickey dan Greenland (1989),
variabel yang pada saat dilakukan uji G (Rasio log-likelihood) memiliki p<0,25 dan
mempunyai kemaknaan secara substansi dapat dijadikan kandidat yang akan
dimasukkan kedalam model multivariat. Hasil analissis bivariat antara independen
dengan dependen disajikan dalam tabel di bawah ini:
No. Variabel Log-Likelihood G P Value
1. Pengetahuan 109,754 00,356 0,551
2. Sikap 109,985 00,125 0,724
3. Tindakan 104,869 05,242 0,022
4. Pendidikan Orang Tua 108,416 01,695 0,193
5. Pekerjaan Orang Tua 110,042 00,069 0,793
6. Sumber Informasi 57,251 02,045 0,153

Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa terdapat 3 variabel yang p valuenya <
0,25 yaitu tindakan, pendidikan orang tua, dan sumber informasi kesehatan,
sedangkan variabel yang lainnya p valuenya >0,25. Dengan demikian variabel yang
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


terus masuk kedalam model multivariat adalah tindakan, pendidikan orang tua dan
sumber informasi.

4.13.2. Pembuatan Model Faktor Penentu Status Karies Gigi
Analisis multivariat bertujuan mendapatkan model yag terbaik dalam
menentukan determinan status karies gigi. Dalam permodelan ini semua variabel
kandidat dicobakan bersama-sama. Model terbaik akan mempertimbangkan dua
penilaian, yaitu nilai signifikansi ratio log-likelihood (p0,05) dan nilai signifikansi p
wald (p0,05). Pemilihan model dilakukan secara hirarki dengan cara semua variabel
independen (yang telah lulus sensor) dimasukkan ke dalam model, kemudian variabel
yang p-waldnya tidak signifikan dikeluarkan dari model secara berurutan dimulai dari
p-wald yang terbesar.
Hasil analisis model pertama hubungan ketiga variabel independen yang
meliputi tindakan, pendidikan orang tua, dan sumber informasi kesehatan dengan
dependen disajikan dalam tabel di bawah ini:
Variabel B P Wald
Tindakan -1,354 0,110
Pendidikan Orang
Tua
0,028 0,935
Sumber Informasi -10,360 0,999
-2 Log Likelihood =54,114 p value =0,159
Dari hasil di atas terlihat bahwa signifikasi log-likelihood <0,05 (p =0,159).
Namun secara signifikan P Wald semua variabel p value nya > 0,05. Dengan
demikian perlu dilakukan pengeluaran variabel dari model. Pengeluaran variabel
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


dilakukan bertahap satu persatu dimulai dari variabel yang p value nya tertinggi.
Untuk hasil di atas terlihat bahwa variabel sumber informasi mempunyai p-value
terbesar, sehingga proses model selanjutnya dengan tidak mengikuti variabel sumber
informasi. Hasil modelnya terlihat pada model kedua berikut ini:
Variabel B P Wald
Tindakan -1,358 0,018
Pendidikan Orang
Tua
-0,428 0,092
-2 Log Likelihood =101,897 p value =0,016
Dari hasil di atas terlihat bahwa signifikasi log-likelihood <0,05 (p =0,016).
Terdapat p value nya <0,05 yaitu variabel tindakan, yang artinya variabel tindakan
merupakan variabel yang berhubungan terhadap status karies gigi.






















Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


BAB 5
PEMBAHASAN

5.1. Status Karies Gigi Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan
Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan status karies gigi cukup baik
dilihat dari tidak adanya status karies gigi yang tinggi (0%). Dari hasil penelitian
yang paling banyak terdapat pada status karies gigi yang rendah sebanyak 71 orang
(74,0%), artinya dominan responden memiliki status karies gigi yang baik.
Sedangkan status karies gigi yang sedang sebanyak 25 orang (26%).
Tingginya prevalensi dan derajat keparahan karies gigi disebabkan berbagai
faktor. Menurut Newburn (1978), karies gigi dapat terjadi akbiat terjadi interkasi
keempat faktor: host, agen penyebab penyakit, lingkungan, dan frekuensi
mengkonsumsi karbohidrat dan lamanya pelekatan karbohidrat pada email.

5.2. Hubungan Pengetahuan dengan Status Karies Gigi Murid SD Kelas V dan
VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara pengetahuan dengan status karies gigi
diperoleh nilai P=0,716 (P>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan
yang bermakna antara pengetahuan dengan status karies gigi. Sama halnya dengan
analisis multivariat, nilai yang diperoleh adalah P=0,551(P>0,25), artinya
pengetahuan tidak berhubungan terjadinya karies gigi.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti
Nurbayani (2008) terhadap siswa SD di Kecamatan Cibodas menunjukkan bahwa
tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan status karies gigi.
Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariningrum (2006)
pada siswa SD Kecamatan Penjaringan menunjukkan bahwa indeks DMFT
dipengaruhi skor variabel pengetahuan. Demikian juga hasil penelitian Wargiati
(2007) menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan status
karies gigi.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Kebiasaa membersihkan gigi dan mulut sebagai bentuk perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan mempengaruhi baik atau buruknya kebersihan gigi dan mulut,
selanjutnya juga akan mempengaruhi angka karies gigi.
Mengenai hasil hubungan yang tidak bermakna ini menurut penulis karena
pengetahuan kesehatan gigi seseorang tidak berhubungan secara langsung dengan
status karies giginya. Seseorang yang berpengetahuan tinggi saja belum cukup untuk
mempengaruhi status karies giginya menjadi rendah apabila pengetahuan tersebut
belum diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Diperlukan upaya-upaya untuk
memotivasi murid agar pengetahuan kesehatan gigi yang dimilkinya dapat
diwujudkan alam perilaku kesehatan giginya sehari-hari.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.



5.3. Hubungan Sikap dengan Status Karies Gigi Murid SD Kelas V dan VI di
Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara sikap dengan status karies gigi
diperoleh nilai P=0,904 (P>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan
yang bermakna antara sikap dengan status karies gigi. Sama halnya dengan analisis
multivariat, tahapan awal permodelan nilai yang diperoleh adalah P=0,724 (P>0,25),
artinya sikap tidak berhubungan terjadinya karies gigi.
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap tidak langsung dilihat tetautupi hanya dapat
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang
dalam kehidupan sehari-hari adalah reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus
sosial.
Mengenai hasil hubungan yang tidak bermakna ini menurut penulis murid SD
yang menjadi responden memiliki sikap yang baik terhadap kesehatan giginya. Sikap
yang dimiliki sangat bernilai positif terhadap kesehatan giginya. Tingkatan sikap
(menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab) mereka lakukan dengan
sistematis walaupun tidak sempurna. Hal tersebut sesuai dengan tingkat pendidikan
mereka yang masih sekolah dasar yang pengetahuannya masih rendah.


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


5.4. Hubungan Tindakan dengan Status Karies Gigi Murid SD Kelas V dan VI
di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara tindakan dengan status karies gigi
diperoleh nilai P=0,048 (P<0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang
bermakna antara tidakan dengan status karies gigi. Sama halnya dengan analisis
multivariat, setelah dilakukan tahapan permodelan nilai yang diperoleh adalah
P=0,018 (P<0,05), artinya tindakan berhubungan terjadinya karies gigi.
Tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap menjadi suatu perbuatan
nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktek yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
Secara aplikatif terdapat hal yang berbanding terbalik antara tindakan
terhadap karies gigi. Semakin baik tindakan seseorang maka semakin rendah pula
status karies giginya. Hal tersebut dilihat dari apa yang telah dilakukan sesuai dengan
tingkatan kesehatan yang didapat. Sebaliknya, jika tindakan yang tidak baik akan
tinggi status karies giginya.




Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


5.5. Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan dengan Status Karies Gigi
Murid SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang

Sesuai dengan hasil analisis yang didapat bahwa pengetahuan dan sikap tidak
berhubungan signifikan dengan status karies gigi. Sedangkan tindakan terdapat
hubungan yang signifikan dengan status karies gigi.
Pengetahuan, sikap, dan tindakan merupakan 3 tingkatan perilaku. Banyak
yang bisa dikaitkan dari ketiga tingkatan tersebut. Pengetahuan yang baik, sikap yang
baik, belum tentu tindakan yang dilakukan baik juga. Hal tersebut terjadi karena
pengetahuan dan sikap sebatas perilaku tertutup, artinya masih terbatas dalam bentuk
perhatian, perasaan, persepsi. Sedangkan tindakan merupakan perilaku terbuka,
artinya telah dilakukan atau telah dipraktekkan.

5.6. Hubungan Pendidikan Orang Tua dengan Status Karies Gigi Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara pendidikan orang tua dengan status
karies gigi diperoleh nilai P=0,208 (P>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada
hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua dengan status karies gigi.
Sama halnya dengan analisis multivariat, setelah dilalui oleh tahapan permodelan
diperoleh nilai adalah P=0,092 (P>0,05), artinya pendidikan orang tua tidak
berhubungan terjadinya karies gigi.
Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial penting yang berhubungan
dengan prevalensi karies gigi. Pendidikan yang rendah sangat berpengaruh terhadap
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


pengetahuan seseorang karena tidak mendapat pendidikan yang layak. Hasil Survey
Kesehatan Runah Tangga (2001) menunjukkan kerusakan gigi tertinggi terjadi pada
orang dengan pendidikan tidak lulus SD yaitu sebesar 8 gigi per orang. Pada orang
dengan pendidikan lulus SD rata-rata 4 gigi mengalami kerusakan dan pada orang
dengan pendidikan lulus SMP ke atas rata-rata 3 gigi mengalami kerusakan.
Mengenai hasil penelitian ini penulis berasumsi tidak terdapatnya hubungan
yang bermakna antara tingkat pendidikan orang tua dengan status karies gigi
kemungkinan disebabkan karena tingkat pendidikan tidak secara langsung
mempengaruhi status karies gigi anaknya, tetapi peran ibu sangat penting dalam
membina perilaku kesehatan gigi anaknya sejak dini.

5.7. Hubungan Pekerjaan Orang Tua dengan Status Karies Gigi Murid SD
Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara pendidikan orang tua dengan status
karies gigi diperoleh nilai P=0,263 (P>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada
hubungan yang bermakna antara pekerjaan orang tua dengan status karies gigi. Sama
halnya dengan analisis multivariat, pada tahap awal nilai yang diperoleh adalah
P=0,793 (P>0,25), artinya sikap tidak mempengaruhi terjadinya karies gigi.
Menurut Reich (1999), pekerjaan merupakan faktor sosial yang dapat
berhubungan status karies gigi. Menurut Kent dan Blinkhorn (2005), pekerjaan
menunjukkan kelas sosial tertentu dimana penelitian menunjukkan adanya penurunan
dalam insidensi karies, khususnya pada anak-anak dewasa muda, terutama pada anak-
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.


anak kelompok sosioekonomi tinggi. Semakin meningkatnya keadaan sosioekonomi
seseorang maka akan lebih menjamin terlaksananya pemeliharaan kesehatan gigi dan
mempunyai kesadaran serta perilaku ke arah positif sehingga lebih menyadari
pentingnya pencegahan karies gigi.

5.8. Hubungan Sumber Informasi Kesehatan dengan Status Karies Gigi Murid
SD Kelas V dan VI di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli
Serdang

Hasil analisis bivariat, hubungan antara sumber informasi kesehatan dengan
status karies gigi diperoleh nilai P=0,652 (P>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak
ada hubungan yang bermakna antara sumber informasi kesehatan dengan status karies
gigi. Sama halnya dengan analisis multivariat, setelah dilalui oleh bertahap-tahap
model didapat nilai yang diperoleh adalah P=0,999 (P>0,05), artinya variabel sumber
informasi tidak berhubungan terhadap status karies gigi.
Pada kenyataannya petugas kesehatan dan orang tua peran aktifnya kurang
maksimal dalam memberikan informasi tentang kesehatan gigi. Kemungkinan hal ini
terjadi disebabkan oleh waktu petugas kesehatan yang sempit dalam memberikan
informasi atau penyuluhan dan tingkat pengetahuan orang tua yang kurang tentang
kesehatan gigi.







Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.







BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa: status karies gigi murid SD kelas V dan VI di
Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 sudah cukup baik dengan
hasil status karies gigi rendah sebanyak 71 orang (74,0%). Kemudian setelah
dalakukan analisis bivariat dengan =0,05 diperoleh yaitu : tidak ada hubungan yang
bemakna antara pengetahuan, sikap, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan
sumber informasi dengan status karies gigi. Tindakan merupakan hasil analisis yang
dapat berhubungan dengan status karies gigi
Hasil selanjutnya dalam bentuk analisis multivariat didapat hasil sebagai
berikut: tidak ada hubungan antara penggetahuan, sikap, pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua dan sumber informasi terhadap status karies gigi. Tindakan
merupakan variabel yang dapat berhubungan dengan status karies gigi.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan variabel tindakan adalah variabel yang
dapat berhubungan terhadap status karies gigi.


Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.





6.2 Saran
1. Mengingat pentingnya peranan kegiatan Usaha Kegiatan Gigi Sekolah (UKGS)
dalam upaya pembentukan perilaku kesehatan gigi murid SD, perlu kebijakan
untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kegiatan UKGS di sekolah-
sekolah dasar (khususnya pelayanan preventif dan promotif).
2. Memfasilitasi kebutuhan dalam kegiatan UKGS antara lain pelatihan bagi tenaga-
tenaga pelaksana UKGS, termasuk guru sekolah yang bertugas dalam kegiatan
UKGS dan penyediaan alat bantu peraga yang diperlukan dalam kegiatan
promotif.
3. Perlu meningkatkan kembali kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di
setiap SD secara berkesinambungan dengan membuat perencanaan yang baik.
4. Melaksanakan promosi kesehatan khususnya tentang kesehatan gigi yang
berkaitan dengan perilaku masyarakat. Memberikan pengetahuan yang cukup dan
memberikan contoh atau sikap yang baik terhadap kesehatan gigi.
5. Membanggun komunikasi yang baik dengan orang tua murid supaya ikut andil
dalam menjaga kesehatan gigi anaknya.
6. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan desain dan variabel
yang berbeda.
Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.










Lampiran 3
Jadwal Penelitian

Kegiatan
November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus
September
Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
Minggu
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
I II
Penelusuran
Pustaka


Penyusunan

Proposal

Kolokium

Perbaikan
Proposal


Pengumpulan
data


Pengolahan
data


Seminar Hasil

Perbaikan
tesis


Komprehensif










Linda Warni : Hubungan Perilaku Murid Sd Kelas V Dan Vi Pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status
Karies Gigi Di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, 2010.