Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KIMIA ANALIS

TITRASI IODIMETRI
JURUSAN FARMASI


Di Susun Oleh :
Ida Ayu Laksmi Dewi (12330057)
Dina Rachmawati (12330060)
Ade Andriyani (12330081)
Rizky Nasurullah (12330086)
Yeni Apri Anwarwati (12330090)
Deby Anggraini (12330097)
Oky Yuliati Zaenida (12330102)
Millah Maftuhah (12330103)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA SELATAN
2013
2

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun Panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas kehendak-
Nyalah makalah Kimia Analis dengan judul Titrasi Iodimetri ini dapat diselesaikan dengan
baik.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penyusun tidak terlalu banyak mengalami
kesulitan, karenareferensi yang didapatkan oleh penyusun merupakan rekomendasi langsung
dari dosen matakuliah yang bersangkutan, hal ini tidak meminimkan pengetahuan para
penyusun dalam penyelesaian makalah. Selain itu, penyusun pun mendapatkan berbagai
bimbingan dari beberapa pihak yang pada akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga dengan adanya makalah inidapat menambah ilmu pengetahuan para pembaca
tentang titrasi iodimetri terutama untuk pengertian, kegunaan, kelebihan, kelemahan dari
titrasi, pembakuan dan indikator titrasi iodimetri serta contoh-contohnya.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah kimia analis ibu
Dra. Herdini, MSi,Apt.yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun
makalah ini dengan baik. Dan pada Akhirnya kepada Allah jualah penyusun mohon taufik
dan hidayah, semoga usaha kami mendapat manfaat yang baik, serta mendapat ridho Allah
SWT. Amin ya rabbal alamin.




Jakarta, Desember 2013


Penyusun





3

Daftar Isi

KATA PENGANTAR................................................................................. 2
DAFTAR ISI........................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 4
A. Latar belakang masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Titrasi Iodimetri......................................................................
B. Pembakuan Titrasi Iodimetri....................................................................
C. Indikator Untuk Titrasi Iodimetri..............................................................
D. Titran Untuk Iodimetri.............................................
E. Contoh Untuk Titrasi Iodimetri.................................................................

BAB III PENUTUP
Kesimpulan... 13

LAMPIRAN...................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 21













4

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan
bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan
oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi
memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung
mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang
terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu
berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator
reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja.
Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor. Namun demikian, oksidator
dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan
oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion
vanadium(II).Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi
(iodimetri). Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau
penetapan kuantitatif yang pada dasar penentuannya adalah jumlah I
2
yang bereaksi
dengan sample atau terbentuk dari hasil reaksi antara sample dengan ion iodida.
Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I
2
sebagai penitar.
Titrasi iodimetri merupakan titrasi langsung terhadap zat zat yang potensial
oksidasinya lebih rendah dari sistem iodium iodida, sehingga zat tersebut akan
teroksidasi oleh iodium. Cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa
pereduksi iodium yaitu secara langsung disebut iodimetri, dimana digunakan larutan
iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif
pada titik ekivalennya.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan titrasi iodimetri?
2. Apa sajaindikator yang digunakan untuk titrasi iodimetri?
3. Bagaimana cara pembakuan titrasi iodimetri?
4. Bagaimana titran dan contoh dari titrasi iodimetri?
5


C. Tujuan
Adapun tujuankami membahas titrasi iodimetri untuk mengetahui dan memahami
lebih dalam tentang pengertian, indikator, pembakuan dan titran pada titrasi iodimetri
serta contoh-contohnya.























6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Titrasi Iodimetri
Titrasi Iodimetri merupakan titrasi langsung dengan menggunakan baku iodium (I
2
)
dan digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa-senyawa yang mempunyai potensial
oksidasi lebih kecil daripada sistem iodium-iodida atau dengan kata lain digunakan untuk
senyawa-senyawa yang bersifat reduktor yang cukup kuat seperti Vitamin C, tiosulfat,
arsenit, sulfide, sulfit, Stibium (III), timah (II), dan ferosianida. Daya mereduksi dari
berbagai macam zat ini tergantung pada konsentrasi ion hidrogen, dan hanya dengan
penyesuaian pH dengan tepat yang dapat menghasilkan reaksi dengan iodium secara
kuantitatif. Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri
merupakan oksidator yang lemah. Prinsip penetapannya yaitu apabila zat uji (reduktor)
langsung dititrasi dengan larutan iodium( I
2
) sebagai larutan standart.

Reaksinya : Reduktor oksidator + e

I
2
+ 2e 2I
Iodimetri adalah oksidasi kuantitatif dari senyawa pereduksi dengan menggunakan
iodium. Iodimetri ini terdiri dari 2 metode, yaitu;
1. Iodimetri metode langsung, bahan pereduksi langsung dioksidasi dengan larutan baku
Iodium. Contohnya pada penetapan kadar Asam Askorbat.
2. Iodimetri metode residual (titrasi balik), bahan pereduksi dioksidasi dengan larutan
baku iodium dalam jumlah berlebih, dan kelebihan iod akan dititrasi dengan larutan
baku natrium tiosulfat. Contohnya pada penetapan kadar Natrium Bisulfit.

B. Pembakuan Titrasi Iodimetri
Pembuatan larutan baku iodium
Menurut FI Ed III, larutan iodium 0,1 N dibuat dengan melarutkan 12,69 g iodium
Pke dalam larutan 18 g kalium iodida P dalam 100 ml air, kemudian diencerkan dengan
air hingga 1000 ml. Larutan iodium yang lebih encer (0,02 : 0,001 N) dibuat dengan
mengencerkan larutan iodium 0,1 N.
Iod 0,335 gram melarut dalam 1 dm
3
air pada 25C. Selain keterlarutan yang kecil
ini, larutan air iod mempunyai tekanan uap yang cukup berarti, karena itu konsentrasinya
berkurang sedikit disebabkan oleh penguapan ketika ditangani. Kedua kesulitan ini dapat
7

diatasi dengan melarutkan iod itu dalam larutan air kalium iodida. Makin pekat larutan
itu,makin besar keterlarutan iod. Keterlarutan yang bertambah ini disebabkan oleh
pembentukan ion triiodida:
I
2
+ I I
3
-
Selain menggunakan larutan iodium dalam iodimetri dapat digunakan larutan baku
KIO
3
dan KI. Larutan ini cukup stabil dalam menghasilkan iodium bila ditambahkan
asam menurut reaksi :
IO
3
-
+ 5I
-
+ 6 H
+
3I
2
+ 3H
2
O
Larutan KIO
3
dan KI memiliki dua kegunaan penting, pertama adalah sebagai
sumber dari sejumlah iod yang diketahui dalam titrasi, ia harus ditambahkanlarutan yang
mengandung asam kuat, ia tidak dapat digunakan dalam medium yang netral atau
memiliki keasaman rendah. Yang kedua, dalam penetapan kandungan asam dari larutan
secara iodometri, atau dalam standarisasi larutan asam keras.
Pada penggunaan iodium untuk titrasi ada dua sumber kesalahan yaitu :
a. Hilangnya iodium karena mudah menguap
b. Iodida dalam larutan asam mudah dioksidasi oleh udara menurut reaksi :
4I + O
2
+ 4H
+
2I
2
+ 2H
2
O
Penguapan dari iodida dapat dikurangi dengan adanya kelebihan iodida karena
terbentuk ion triiodida. Dengan 4% KI, maka penguapan iodium dapat diabaikan, asalkan
titrasinya tidak terlalu lama. Titrasi harus dilakukan dalam labu tertutup dan dingin.
Oksidasi iodida oleh udara dalm larutan netral dapat diabaikan, akan tetapi oksidasinya
bertambah jika pH larutan turun. Reaksi ini dikatalisis oleh logam dengan valensi
tertentu (terutama tembaga), ion nitrit dan cahaya matahari yang kuat. Oleh karena itu
titrasi tidak boleh dilakukan pada cahaya matahari langsung.

Pembakuan Larutan dengan Arsen Trioksida (As
2
O
3
)
Larutan dapat distandarisasi terhadap arsen(III) oksida murni atau dengan suatu
larutan natrium tiosulfat yang baru saja distandarkan terhadap kalium iodat.
Adapun cara pembakuannya dilakukan dengan arsen trioksida. Timbang kurang
lebih 150 mg arsen trioksid secara seksama dan larutkan dalam 20 ml NaOH 1 N bila
perlu dengan pemanasan, encerkan dengan 40 ml air dan tambah dengan 2 tetes metil
orange dan diikuti dengan penambahan HCl encer sampai warna kuning berubah menjadi
pink. Tambahkan 2 gram NaHCO
3
, 20 ml air dan 3 ml larutan kanji. Titrasi dengan baku
iodium perlahan-lahan hingga timbul warna biru tetap.
8

Arsen trioksid sukar larut dalam air akan tetapi mudah larut dalam larutan
natrium hidroksida (NaOH) dengan membentuk natrium arsenit menurut reaksi:
As
2
O
3
+ 6 NaOH 2 Na
2
AsO
3
+ 3 H
2
0
Jika iodium ditambahkan pada larutan alkali maka iodium akan bereaksi dengan
NaOH membentuk natrium hipoiodit atau senyawa-senyawa serupa yang mana tidak
akan bereaksi secara cepat dengan natrium arsenit.
2 NaOH + I
2
NaIO + NaI + H
2
O
Kelebihan natrium hidroksida dinetralkan dengan HCl menggunakan metil orange
sebagai indikator. Penambahan NaHCO
3
untuk menetralkan asam iodida (HI) yang
terbentuk yang mana asam iodida ini menyebabkan reaksi berjalan bolak-balik
(reversibel). Natrium bikarbonat akan menghilangkan asam iodida secepat asam iodida
terbentuk sehingga reaksi berjalan ke kanan secara sempurna. Reaksi secara lengkap
pada pembakuan iodium dengan arsen trioksid sebagai berikut:
As
2
O
3
+ 6NaOH 2Na
3
AsO
3
+ 3H
2
O
Na
3
AsO
3
+ I
2
+ 2NaHCO
3
Na
3
AsO
4
+ 2NaI + 2CO
2
+ H
2
O
Pada reaksi diatas dapat diketahui bahwa valensinya adalah empat. Karena 1 mol
As
2
O
3
setara dengan 2 mol Na
3
AsO
3
sedangkan 1 mol Na
3
AsO
3
setara dengan 1 mol
I
2
akibatnya 1 mol As
2
O
3
setara dengan 2 mol I
2
sehingga perhitungan normalitas dari
iodium setara dengan 2 mol I
2
sehingga perhitungan normalitas dari iodium:
mgrek iodium = mgrek arsen trioksid
ml I
2
x N I
2
= mmol As
2
O
3
x valensi
N I
2
= mg As
2
O
3
x valensi
BM As
2
O
3
x ml I
2

C. Indikator Titrasi Iodimetri
Indikator yang umum digunakan untuk titrasi iodimetri adalah larutan kanji, karena
warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap
iodium. Kanji dengan adanya iod akan memberikan kompleks berwarna biru kuat yang
akan terlihat apabila konsentrasi iodium 2x10
-5
M dan konsentrasi iodida lebih besar dari
2x10
-4
M. Kepekaan warna berkurang dengan kenaikan suhu larutan dan adanya pelarut-
pelarut organik. Ada pendapat bahwa warna biru itu adalah dikarenakan adsorpsi iod
atau ion triiodida pada permukaan makromolekul kanji. Dalam konsentrasi iodida 4x10
-5
sudah memungkinkan iodium dalam konsentrasi 2x10
-5
atau lebih memberikan warna
biru yang nyata. Jika konsentrasi iodida dinaikkan tidak begitu berbeda intensitasnya,
9

akan tetapi bila konsentrasi iodida diturunkan maka penurunan intensitas warna
kelihatan. Tanpa iodida, iod-kanji tidak memberikan warna. Apabila suhunya dinaikkan
maka kepekaan warna menurun. Pada suhu 50 kepekaannya menjadi 10x lebih kurang
daripada suhu 25. Penambahan pelarut seperti etil alkohol menurunkan kepekaan juga.
Jika mengandung 50% atau lebih etanol menyebabkan warna tidak timbul. Kanji tidak
dapat digunakan dalam medium yang sangat asam karena akan terjadi hidrolisis dari
kanji itu.
Komponen utama kanji yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa memiliki rantai
lurus dan memberikan warna biru jika bereaksi dengan iodium. Amilopektin memiliki
rantai bercabang dan memberikan warna merah violet jika bereaksi dengan
iodium.Keuntungan penggunaan kanji adalah harganya murah, sedangkan kerugiannya
adalah tidak mudah larut dalam air dingin, tidak stabil pada suspensi dengan air,
karenanya dalam proses pembuatannya harus dibantu dengan pemanasan.
Mekanisme reaksi indikator kanji adalah sebagai berikut :
Amilum + I
2
iod-amilum (biru)
Iod-amilum (biru) + Na
2
S
2
O
3
2NaI + Na
2
S
4
O
6
+ amilum (tak berwarna)
D. Titran Untuk Titrasi Iodimetri
Iodimetri merupakan metoda titrasi atau volumetri yang pada penentuan atau
penetapan berdasar pada jumlah I
2
(iodium)

yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk
dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodida (I
-
). Iodimetri termasuk titrasi
redoks dengan I
2
sebagai titran. Seperti dalam reaksi redoks umumnya yang harus selalu
ada oksidator dan reduktor, sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya
(melepaskan elektron), maka harus ada suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang
atau turun (menangkap elektron), jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun
reduktor saja. Dalam metoda analisis ini analit dioksidasikan oleh I
2,
sehingga I
2

tereduksi menjadi ion iodide, dengan kata lain I
2
bertindak sebagai oksidator. Indikator
yang digunakan adalah suspensi amilum atau kanji, sedikit kelebihan larutan iod akan
membentuk warna biru gelap dengan amilum dan titik akhir titrasi tercapai pada saat
warna biru hilang.



10

E. Penetapan Kadar
Iodimetri merupakan titrasi redoks yang melibatkan titrasi langsung I
2
dengan
suatu agen pereduksi. I
2
merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat
yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas, beberapa contoh zat yang sering
ditentukan secara iodimetri adalah H
2
S, ion sulfite, Sn
2+
, As
3+
atau N
2
H
4
. Akan tetapi
karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I
2
bersifat lebih selektif
dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat. Pada umumnya
larutan I
2
distandarisasi dengan menggunakan standar primer As
2
O
3
, As
2
O
3
dilarutkan
dalam natrium hidroksida dan kemudian dinetralkan dengan penambahan asam.
Disebabkan kelarutan iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I
2
dibuat dengan
melarutkan I
2
dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang
dipakai untuk titrasi adalah larutan I
3
-
.
I
2
+ I
-
I
3
-

Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah
sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi
disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I
2
+ 2OH
-
IO
3
-
+ I
-
+ H
2
O
Sedangkan pada keadaan asam kuat maka amilum yang dipakai sebagai indicator
akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah
menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.
4I
-
+ O
2
+ 4H
+
2I
2
+ 2H
2
O
Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator dimana titik
akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I
2
yang berwarna biru tua.
Beberapa reaksi penentuan dengan iodimetri ditulis dalam reaksi berikut:
H
2
S + I
2
S + 2I
-
+ 2H
+

SO
3
2-
+ I
2
+ H
2
O SO
4
2-
+ 2I
-
+ 2H
+

Sn
2+
+ I
2
Sn
4+
+ 2I
-

H
2
AsO
3
+ I
2
+ H
2
O HAsO
4
2-
+ 2I
-
+ 3H
+





11

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan




















12

LAMPIRAN






















13

DAFTAR PUSTAKA
http://eiodia-forever.blogspot.com/2011/06/penetapan-kadar-dengan-metode-
iodimetri.html