Anda di halaman 1dari 49

Makalah pestisida

BAB I
PENDAHULUAN

Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, dan atau berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat
tertentu hingga menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai
dengan peruntukannya (UU Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982).
Dengan meningkatnya pembangunan nasional dan juga terjadinya peningkatan
industrialisasi diperlukan saran-sarana yang mendukung lancarnya proses industrialisasi tersebut,
yaitu dengan meningkatkan sektor pertanian. Kondisi pertanian di Indonesia di masa mendatang
banyak yang akan diarahkan untuk kepentingan agroindustri. Salah satu bentuknya akan
mengarah pada pola pertanian yang makin monokultur, baik itu pada pertanian darat maupun
akuakultur. Dengan kondisi tersebut, maka berbagai jenis penyakit yang tidak dikenal atau
menjadi masalah sebelumnya akan menjadi kendala bagi peningkatan hasil berbagai komoditi
agroindustri.
Peningkatan sektor pertanian memerlukan berbagai sarana yang mendukung agar dapat
dicapai hasil yang memuaskan dan terutama dalam hal mencukupi kebutuhan nasional dalam
bidang pangan/sandang dan meningkatkan perekonomian nasional dengan mengekspor hasil ke
luar negeri. Sarana-sarana yang mendukung peningkatan hasil di bidang pertanian ini adalah
alat-alat pertanian, pupuk, bahan-bahan kimia yang termasuk di dalamnya adalah pestisida.
Di negara-negara dunia ketiga yang sedang berkembang yang mencukupi kebutuhannya
sendiri dalam bidang pangan/sandang, penggunaan bahan-bahan kimia pertanian membantu pada
kemajuan dan perkembangan pertanian selanjutnya. Tetapi di negara-negara berkembang telah
mengurangi penggunaan dari bahan-bahan kimia pertanian karena merupakan salah satu
penyebab utama dari pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan terutama lingkungan pertanian disebabkan oleh penggunaan
bahan-bahan kimia pertanian. Telah dapat dibuktikan secara nyata bahwa bahan-bahan kimia
pertanian dalam hal ini pestisida, meningkatkan produksi pertanian dan membuat pertanian lebih
efisien dan ekonomi. Pencemaran oleh pestisida tidak saja pada lingkungan pertanian tapi juga
dapat membahayakan kehidupan manusia dan hewan dimana residu pestisida terakumulasi pada
produk-produk pertanian dan pada perairan.
Bagaimana cara untuk meningkatkan produksi pertanian disamping juga menjaga
keseimbangan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran akibat penggunaan pestisida yang dapat
mengganggu stabilitas lingkungan pertanian.
Untuk itu perlu diketahui peranan dan pengaruh serta bagaimana penanggulangan dari
bahaya residu pestisida tersebut dan adanya alternatif lain yang dapat menggantikan peranan
pestisida pada lingkungan pertanian dalam mengendalikan hama, penyakit dan gulma.















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pestisida
Pestisida adalah zat beracun, apabila digunakan tidak bijaksana, maka akan
membahayakan tidak saja pada manusia tetapi juga hewan dan lingkungannya. Di dalam
menggunakan pestisida harus mengikuti peraturan perundang undangan di dalam negeri sesuai
dengan peraturan Pemerintah No. 7 th. 1973, yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat
kimia dan bahan lain serta jasad pernik dan virus yang dipergunakan untuk :
Memberantas hama.
Memberantas rerumputan tetentu yang tidak dikehendaki.
Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak di inginkan.
Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman, bagian tanaman, tidak termasuk pupuk.
Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan
binatang.
Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu
bersifat biosoda yang tidak saja beracun pada organisme pengganggu tetapi dapat juga meracuni
manusia dan lingkungannya.
Dalam meningkatkan/pencegahan pencemaran perlu dilakukan usaha-usaha pencegahan
masalah pestisida :
- Peningkatan SDM pengguna maupun pengawas pestisida.
- Peningkatan kepedulian dan dedikasi dalam pengawasan pestisida.
- Peningkatan kerjasama lintas sektoral.
- Melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada pengguna pest
Pestisida telah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pertanian di
Indonesia. Penggunaan pestisida telah dilakukan sejak tahun 1965. Pada saat itu, jenis pestisida
yang banyak digunakan adalah jenis organoklorin, contohnya antara lain DDT (Dichloro
Diphenyl Trichloroethane) dan lindan. Pada tahun 1970-an penggunaan jenis organoklorin
dilarang digunakan, karena tingkat toksisitas dan persistensinya yang tinggi (tahan lama hingga
berpuluh-puluh tahun bahkan bisa mencapai seratus tahun). Sejak saat itu, barulah dimulai era
jenis pestisida organofosfat dan karbamat. Pada tahun 2002 tercatat sebanyak 813 formulasi dan
341 bahan aktif. Penggunaan pestisida tertinggi adalah di lahan hortikultura dan diikuti pada
lahan tanaman pangan. Frekuensi aplikasi pestisida bisa mencapai 3-5 kali dalam seminggu.
Dan jenis pestisida yang digunakan bisa lebih dari 2 jenis pestisida, bahkan bisa mencapai 7 jenis
pestisida yang digunakan sekaligus/dioplos.
Salah satu dampak dari penggunaan pestisida adalah tertinggalnya residu pestisida di
dalam produk pertanian dan di dalam tanah. Walaupun telah lama jenis organoklorin
dilarang/tidak digunakan, namun residunya masih ditemukan hingga kini baik di dalam tanah
maupun pada produk pertanian.
















B. Dampak Negatif Residu Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia.
Pengaruh residu pestisida terhadap kesehatan manusia adalah dapat mengganggu
metabolisme steroid, merusak fungsi tiroid, berpengaruh terhadap spermatogenesis;
terganggunya sistem hormon endokrin (hormon reproduksi) atau yang lebih dikenal dengan
istilah EDs (Endocrine Disrupting Pesticides), disamping dapat merangsang timbulnya kanker.
Gejala keracunan akut pada manusia adalah paraestesia, tremor, sakit kepala, keletihan dan
muntah. Efek keracunan kronis pada manusia adalah kerusakan sel-sel hati, ginjal, sistem saraf,
system imunitas dan sistem reproduksi.
Gejala kearacunan secara umum yang berkaitan dengan pestisida, yang mungkin timbul
sendiri atau bersama-sama, diantara gejala umum yang sering kita alami jika mengalami
keracunan pestisida yaitu kelemahan atau kelelahan yang berlebihan, kulit iritasi, terbakar,
keringat berlebihan, perubahan warna. Sementara untuk gejala keracunan pestisida pada mata



ditandai dengan Iritasi, terbakar, air mata berlebihan, kaburnya penglihatan, biji mata mengecil
atau membesar.
Pada saluran pencernaan orang yang mengalami gejala keracunan pestisida akan ditandai
dengan mulut dan kerongkongan yang terbakar, air ludah yang berlebihan, mual, muntah, perut
kejang atau sakit, dan mencret. Keracunan pestisida dapat juga menimbulkan gangguan pada
sistem syaraf yang ditandai dengan gejala kesulitan bernapas, napas berbunyi, batuk, dada sakit,
atau kaku.
Pestisida golongan Organofospat berdampak apabila masuk kedalam tubuh, baik melalui
kulit, mulut, dan saluran pencernaan maupun saluran pernapasan, pestisida organofosfat akan
berikatan dengan enzim dalam darah yang berfungsi mengatur bekerjanya syaraf, yaitu
kholinesterase. Apabila kholinesterase terikat, maka enzim tersebut tidak dapat melaksanakan
tugasnya sehingga syaraf dalam tubuh terus menerus mengirimkan perintah kepada otot-otot
tertentu. Dalam keadaan demikian otot-otot tersebut senantiasa bergerak-gerak tanpa dapat
dikendalikan.
Disamping timbulnya gerakan-gerakan otot-oto tertentu, tanda dan gejala lain dari
keracunan pestisida organofosfat adalah pupil atau celah iris mata menyempit sehingga
penglihatan menjadi kabur, mata berair, mulut berbusa, atau mengeluarkan banyak air liur, sakit
kepala, rasa pusing, berkeringat banyak, detak jantung yang cepat, mual, muntah-muntah, kejang
pada perut, mencret sukar bernapas, otot-otot tidak dapat digerakkan atau lumpuh dan pingsan.

C. Pengendalian Residu Pestisida dengan Arang
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu
tanaman. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti
penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan
lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya
masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain
menggunakan pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan
hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu.
Dari aplikasi pestisida pada suatu tanaman di lahan pertanian, maka kurang lebih 60%
pestisida akan jatuh ke tanah. Pestisida yang jatuh ke tanah tersebut kemudian menjadi
permasalahan besar bagi kualitas lingkungan, karena akan terbawa aliran air dan akhirnya akan
masuk ke sungai sehingga akan berpotensi membahayakan hewan ternak bahkan manusia.
Agar residu pestisida di dalam tanah tersebut tidak terbawa aliran air maka residu
tersebut perlu ditahan dengan suatu bahan yang dapat menyerap (imobilisasi). Bahan tersebut
adalah arang aktif yang memiliki kemampuan menyerap polutan. Arang aktif dapat dibuat dari
limbah pertanian yang melimpah yaitu sekam padi atau tempurung kelapa atau limbah pertanian
lainnya melalui proses pemanasan 500C selama 5 jam dan aktivasi pada tungku listrik dengan
suhu 900C selama 60 menit.
Berdasarkan hasil penelitian (Asep, 2008), menunjukkan bahwa arang aktif yang berasal
dari sekam padi dan tempurung kelapa memiliki daya serap yang tinggi (yang diekspresikan
dengan angka Iod) terhadap residu pestisida masing-masing sebesar. 460,4 dan 1191,8 mg/g.
Tabel 1. Karakteristik arang aktif tempurung kelapa dan sekam padi

D.
Mengatasi Limbah Pestisida dengan Biokatalis Amobil
Biokatalisis adalah proses yang menggunakan katalis alami (biokatalis), seperti protein
enzim, untuk melakukan transformasi kimia pada senyawa organik. Enzim yang digunakan
dalam biokatalisis dapat berupa enzim yang telah diisolasi atau enzim yang masih terdapat dalam
sel hidup. Biokatalisis merupakan teknologi yang relatif ramah lingkungan karena reaksi
enzimatis dapat berlangsung dalam pelarut air pada suhu ruangan, pH netral, tidak membutuhkan
Parameter Arang Aktif
Tempurung Kelapa Sekam Padi
pH
H
2
O 10,1 9,6
HCl 8,0 7,8
Bahan organik
C (%) 6,5 2,3
N (%) 0,1 0,3
C/N 47 7
Nilai Tukar Kation
Ca (me/100g) 0,7 1,7
Mg (me/100g) 0,6 0,5
tekanan tinggi dan kondisi yang sangat khusus. Kekhususan enzim dalam struktur molekul dan
gugus-gugus kimia spesifiknya memungkinkan berlangsungnya reaksi yang bersih karena reaksi
samping dapat diperkecil. Katalis yang digunakan dalam biokatalisis dapat berupa enzim, sel
utuh mikroba hidup yang bermetabolisme secara aktif, atau berupa sel yang telah mati. Sel hidup
digunakan bila reaksi yang dilakukan adalah reaksi oksidoreduktasi yang membutuhkan adanya
daur ulang kofaktor yang relatif mahal. Dari kedua jenis sumber enzim di atas, biokatalis dapat
digunakan dalam bentuk amobil atau dalam bentuk bebas.
Enzim amobil adalah enzim yang secara fisik dijerap pada atau terlokalisasi dalam suatu
bahan penyangga dengan tetap dipertahankannya aktivitas katalitik, dan dapat digunakan
berulangkali ataupun secara terus menerus. Bahan penyangga akan menahan enzim, tetapi masih
dapat membiarkan substrat, produk, dan kofaktor menembusnya.
Amobilisasi enzim dapat mencegah terbukanya lipatan-lipatan protein enzim yang dapat
berakibat pada penurunan aktivitas enzim. Dengan kata lain amobilisasi enzim meningkatkan
kestabilan struktur enzim sehingga enzim dapat dipakai berulangkali. Amobilisasi juga
memudahkan pemisahan biokatalis dari produk. Kemudahan memisahkan enzim dapat
membantu proses ekstraksi produk dan menghasilkan produk yang lebih baik kualitasnya.

E. Teknologi Pengendali Residu Pestisida Berbasis Arang Aktif
Teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian ini bisa
mengurangi kandungan residu pestisida hingga 50 persen. Melalui serangkaian kegiatan
penelitian yang telah dilakukan di Lab. Residu Bahan Agrokimia (Lab RBA), Balai Penelitian
Lingkungan Pertanian di Bogor pada periode 2007-2009 telah didapatkan suatu bahan amelioran
arang aktif yang terbuat dari limbah pertanian yang diketahui memiliki daya serap tinggi dan
mampu menyerap/mengikat pencemar residu pestisida.

Pupuk Urea Berlapis Arang Aktif
Arang aktif tersebut adalah arang aktif tempurung kelapa, sekam padi, tongkol
jagung dan tandan kosong kelapa sawit. Arang aktif tersebut kemudian digunakan sebagai bahan
pelapis pupuk urea dengan perbandingan (80 : 20) dan sebagai bahan pengisi/penyerap pada alat
Fio (Filter pada inlet dan outlet) di lahan sawah.
Produk teknologi pemanfaatan limbah pertanian menjadi arang aktif yang mampu
menyerap residu pestisida di lahan pertanian, teknologi pelapisan pupuk urea dengan arang aktif,
dan alat filter residu pestisida pada saluran inlet dan outlet di lahan sawah telah didaftarkan hak
patennya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada tahun 2009 dengan nomor
pendaftaran masing-masing S00200900254, P00200900630 dan S00200900253.
Pada tahun 2010, Lab RBA, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian bekerjasama dengan
PT. Delta Bumi Jaya (pemilik pupuk kombinasi urea dan zeolit - two in one) mengembangkan
pupuk tersebut menjadi pupuk three in one (urea-zeolit-arang aktif) yang memiliki kemampuan
untuk menangkap dan mendegradasi pencemar residu pestisida.
Berdasarkan hasil uji coba lapangan terlihat bahwa penggunaan urea berlapis arang aktif
(berasal dari tempurung kelapa) dan urea berlapis arang aktif dan Fio serta penggunaan zeolit di
rumah kaca dan lahan sawah menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut mampu menurunkan
kadar residu pestisida klorpirifos (organofosfat) dan lindan (organoklorin) hingga > 50 %.

Kemampuan urea+AATK (1), Zeolit (2), dan Urea+AATK+Fio
dalam menekan residu organofosfat dan organoklorin
di tanah sawah hingga >50%


Pupuk Urea Berlapis Arang Aktif dan Zeolit

Alat Fio (Filter Inlet dan Outlet)

Residu insektisida telah ditemukan di berbagai komponen lingkungan pertanian (tanah,
air dan tanaman) di berbagai lokasi sentra produksi padi dan sayuran di Pulau Jawa. Tidak
menutup kemungkinan hal serupa terjadi di sentra produksi padi dan sayuran di daerah lainnya.
Residu pestisida sebagian besar akan terikat di tanah, dikarenakan sebanyak 60 % dari pestisida
yang disemprotkan ke tanaman akan jatuh ke tanah yang selanjutnya menjadi residu pestisida,
dan tentunya hal ini akan membahayakan kehidupan biota sungai bilamana residu tersebut
terbawa aliran air permukaan. Untuk itu, maka diperlukan suatu strategi untuk mengikat/
imobilisasi residu pestisida agar tidak terbawa aliran air permukaan.
Ada 2 (dua) strategi yang diterapkan untuk mengikat residu pestisida tersebut
yaitu :
1. Pengikatan residu pestisida di tengah petakan oleh arang aktif yang dilapiskan pada pupuk urea.
2. Pengikatan residu pestisida oleh alat Fio yang ditempatkan pada posisi inlet dan outlet di
petakan sawah.
Dengan dua strategi tersebut diharapkan efek residu pestisida terhadap produk pertanian
dan lingkungan dapat diminimalisir. Atas dasar pemikiran inilah Badan Litbang Pertanian
Kementerian Pertanian telah menemukan teknologi pengendali residu pestisida ini.
Manfaat Pupuk Urea Berlapis Arang Aktif (+ Zeolit) yaitu:
1. Pupuk urea berlapis arang aktif dan zeolit akan bersifat slow release.
2. Zeolitnya akan berfungsi mengikat pupuk N dan K serta meningkatkan KTK tanah.
3. Pupuk urea akan tidak mudah menguap dan tidak mudah tercuci.
4. Arang aktifnya akan berfungsi untuk mengikat (imobilisasi) pencemar residu pestisida.
5. Arang aktif akan disenangi oleh mikroba pendegradasi residu pestisida sebagai "rumah
tinggalnya" sehingga populasinya meningkat.








BAB III
KESIMPULAN

Penanggulangan residu pertisida pada pertanian dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya adalah :
1. Imobilisasi langsung dengan arang aktif baik dari sekam padi maupun tempurung kelapa.
2. Amobilisasi dengan biokatalis yaitu penyerapan residu pestisida dengan memanfaatkan
biokatalis berupa protein enzim, dan sel utuh mikroba hidup yang bermetabolisme secara aktif,
atau berupa sel yang telah mati.
3. Penggunaan pupuk urea berlapis arang aktif (+ zeolit) yang dikombinasikan dalam alat Fio
(Filter Inlet dan Outlet) yang ditempatkan pada petakan sawah.

















DAFTAR PUSTAKA


Akhriwal Yulandra. 2010. Kunjungan Lapangan Di Merapi Golf Cangkringan Sleman. Online
(http://www.lingkunganbumi.blogspot.com). Diakses tanggal 8 Januari 2011.

Asep Nugraha. 2008. Teknologi Arang Aktif untuk Pengendali Residu Pestisida di Lingkungan
Pertanian. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. Online (http://www.asena.blogdrive.com).
Diakses tanggal 8 Januari 2011.

Diana Sofia. 2010. Pengaruh Pestisida dalam Lingkungan Pertanian. Makalah Lingkungan. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara.

Nina Hermayani. 2009. Biokatalis Amobil Untuk Mengatasi Limbah Pestisida. Online
(http://www.limnologi.lipi.go.id). Diakses tanggal 8 Januari 2011.


MAKALAH PESTISIDA ORGANISME

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul organofosfat
Dalam penulisan makalah ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari para penulis-
penulis maupun media. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak
atau media-media yang telah membantu.
Kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan baik dari segi materi maupun teknis penulisan karena keterbatasan yang
dimiliki penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis
sendiri. Oleh karena itu dengan hati yang tulus harapan penulis untuk mendapatkan koreksi dan
telaah yang bersifat konstruktif agar makalah ini menjadi lebih baik.


Makassar, 11 November 2011


Penulis


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................
1
DAFTAR ISI ...................................................................................
2
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................................
3
A. Latar Belakang .................................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 5
BAB II PESTISIDA (ORGANOFOSFAT) ......................................................................................
6
A. Pestisida ................................................................................................................................ 6
B. Pestisida Golongan Organofosfat ......................................................................................... 11
C. Memahami Keracunan Organofosfat ................................................................................... 13
D. Mekanisme Toksisitas .......................................................................................................... 15
E. Mekanisme Kerja Pestisida Organofosfat Dalam Tubuh .................................................... 15
F. Gejala Keracunan Organofosfat .......................................................................................... 17
G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Keracunan ................................................. 19
1. Faktor Internal .................................................................................................................. 19
2. Faktor Eksternal ................................................................................................................ 20
H. Cara Pencegahan Keracunan Pestisida ...................................................... .......................... 22





















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pestisida (sida, cide = racun) sampai kini masih merupakan salah satu cara utama yang
digunakan dalam pengendalian hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu
serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur),
bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis),
siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.
Di Indonesia pestisida banyak digunakan baik dalam bidang pertanian maupun kesehatan.
Di bidang pertanian pemakaian pestisida dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pangan.
Banyaknya frekuensi serta intensitas hama dan penyakit mendorong petani semakin tidak bisa
menghindari pestisida. Di bidang kesehatan, penggunaan pestisida merupakan salah satu cara
dalam pengendalian vektor penyakit. Pengguaan pestisida dalam pengendalian vektor penyakit
sangat efektif diterapkan terutama jika populasi vektor penyakit sangat tinggi atau untuk
menangani kasus yang sangat menghawatirkan penyebarannya.
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani.
Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), tetatpi pada
praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Dampak
negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran
dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia.
Petani merupakan kelompok kerja terbesar di Indonesia. Meski ada kecenderungan
semakin menurun, angkatan kerja yang bekerja pada sektor pertanian, masih berjumlah sekitar
40% dari angkatan kerja. Banyak wilayah Kabupaten di Indonesia yang mengandalkan pertanian,
termasuk perkebunan sebagai sumber Penghasilan Utama Daerah (PAD).
Untuk meningkatkan hasil pertanian yang optimal, dalam paket intensifikasi pertanian
diterapkan berbagai teknologi, antara lain penggunan agrokimia (bahan kimia sintetik).
Penggunaan agrokimia, diperkenalkan secara besar-besaran (massive) menggantikan kebiasan
atau teknologi lama, baik dalam hal pengendalian hama maupun pemupukan tanaman.
Pola penggunaan agrokimia khususnya pestisida beberapa petani hortikultura tidak
terkendali. Para petani cederung memakai pestisida bukan atas dasar indikasi untuk pengendalian
hama namun mereka menjalankan cara cover blanket system yaitu ada ataupun tidak adanya
hama, tanaman tetap disemprot dengan pestisida.
Penggunaan pestisida yang tidak terkendali akan berakibat pada kesehatan petani itu
sendiri dan lingkungan pada umumnya.. Hingga tahun 2000 penelitian terhadap para pekerja atau
penduduk yang memiliki riwayat kontak pestisida, banyak sekali dilakukan. Dari berbagai
penelitian tersebut diperoleh gambaran prevalensi keracunan tingkat sedang hingga berat
disebabkan pekerjaan, yaitu antara 8,5% sampai 50 %. Dengan demikian, dapat diperkirakan
prevalensi angka xvi keracunan tingkat sedang pada para petani bisa mencapai angka puluhan
juta pada musim penyemprotan.
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian keracunan pestisida organofosfat antara
lain umur, jenis kelamin, pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, pendidikan, pemakaian Alat
Pelindung Diri, status gizi dan praktek penanganan pestisida. Sedangkan fase kritis yang harus
diperhatikan adalah penyimpanan pestisida, pencampuran pestisida, penggunaan pestisida dan
pasca penggunaanpestisida.
Pestisida golongan sintetik yang banyak digunakan petani di Indonesia adalah golongan
organofosfat. Dampak penggunaan pestisida sering ditemui keluhan antara lain muntah-muntah,
ludah terasa lebih banyak, mencret, gejala ini dianggap oleh petani sebagai sakit biasa. Beberapa
efek kronis akibat dari keracunan pestisida adalah berat badan menurun, anorexia, anemia,
tremor, sakit kepala, pusing, gelisah, gangguan psikologis, sakit dada dan lekas marah. Pestisida
organofosfat yang masuk ke dalam tubuh manusia mempengaruhi fungsi syaraf dengan jalan
menghambat kerja enzim kholinesterase, suatu bahan kimia esensial dalam menghantarkan
impuls sepanjang serabut syaraf.
Pestisida organofosfat masuk ke dalam tubuh, melalui alat pencernaan atau digesti,
saluran pernafasan atau inhalasi dan melalui permukaan kulit yang tidak terlindungi atau
penetrasi. Pengukuran tingkat keracunan berdasarkan aktifitas enzim kholinesterase dalam darah,
penentuan tingkat keracunan adalah sebagai berikut ; 75% - 100% katagori normal; 50% - < 75%
katagori keracunan ringan; 25% - <50% katagori keracunan sedang; 0% - <25% katagori
keracunan berat.
Keluarga petani merupakan orang yang mempunyai risiko keracunan pestisida, hal ini
karena selalu kontak dengan petani penyemprot, tempat penyimpanan pestisida, peralatan
aplikasi pestisida, yang dapat menimbulkan kontaminasi pada air, makanan dan peralatan yang
ada di rumah. Keracunan terjadi disebabkan kurang mengertinya keluarga petani akan bahaya
pestisida, masih banyaknya petani yang menggunakan pestisida yang kurang memperhatikan dan
megikuti cara-cara penangganan yang baik dan aman, sehingga dapat membahayakan pada
keluarga petani.












B. Rumusan Masalah
Pekerjaan sebagai petani tidak mungkin terpisah dari penggunaan pestisida dalam
mengendalikan populasi hama. Dimana ada kecenderungan para petani menggunakan pestisida
secara terus menerus dengan frekuensi tinggi, bahkan tidak jarang kurang memperhatikan aturan
pemakaiannya. Keluarga petani merupakan orang yang mempunyai risiko keracunan pestisida,
hal ini karena selalu kontak dengan petani penyemprot, tempat penyimpanan pesticida, peralatan
aplikasi pestisida sesudah aplikasi yang dapat menimbulkan kontaminasi pada air, makanan dan
peralatan yang ada di rumah.
Menurut laporan tahun 2006 kegiatan pemeriksaan aktifitas kholinesterase pada petani
dengan jumlah sampel yang diperiksa 50 orang menunjukan 98 % keracunan dengan rincian
keracunan berat 16 %, keracunan sedang 48%, keracunan ringan 34% dan normal 2%.
Hal ini diduga kuat ada pengaruh pada aspek penggunaan (teknik aplikasi), aspek
manusia pekerja itu sendiri seperti pendidikan, ketrampilan, perilaku, umur, tinggi tanaman yang
disemprot, pakaian pelindung arah dan kecepatan angin dan lain-lain. Sedangkan fase kritis yang
harus diperhatikan adalah pencampuran, penggunaan dan pasca penyemprotan dalam
pencegahan dan
pengendaliaan kejadian keracunan yang dapat membahayakan bagi keluarganya.
Rumusan permasalahan yang diambil dari keterangan tersebut yaitu gejala keracunan
pestisida golongan organofosfat dan faktor-faktor resiko keracunan pestisida golongan
organofosfat serta cara pencegahannya.




























BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama
lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam berbagai
bentuknya. Dari gunung sampai pantai, dari desa sampai kota. Petani di pegununganpun tidak
lepas dari penggunaan pestisida. Petani sayuran di Dieng, Kopeng, atau petani tembakau di
lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Nelayan dalam pembuatan ikan asin misalnya, ada yang
menggunakan pestisida. Tentunya cara ini tidak dibenarkan, namun demikian adanya masyarakat
kita. Pemakaian pestisida di rumah tangga seperti penggunaan obat nyamuk, anti rayap / ngengat,
pengusir nyamuk (repelent) dan banyak lagi macamnya. Untuk itulah kita perlu mengenal lebih
jauh tentang pestisida. Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat.
Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada
tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Jumlah ini mencapai 5 % konsumsi dunia.
Pestisida merupakan suatu bahan yang banyak dijumpai dan digunakan secara luas dalam
kehidupan sehari-hari untuk berbagai tujuan penggunaan termasuk perlakuan yang bersifat
pencegahan maupun untuk tujuan pengendalian organisme pengganggu pada hampir semua
sektor dalam masyarakat, diantaranya sektor kesehatan, pertanian, kehutanan, perikanan,
perdagangan, perindustrian, ketenagakerjaan, perhubungan, lingkungan hidup dan di rumah
tangga.
Tidak hanya di bidang pertanian, pengunaaan pestisida dalam rumah tangga Indonesia sudah
demikian luas juga. Berbagai merek obat serangga dapat kita temui di etalase supermarket
hingga warung kecil, memudahkan kita untuk mengakses racun ini dan memasukkannya ke
dalam rumah kita. Pestisida dalam rumah tangga biasanya digunakan untuk mengatasi semut,
mengatasi kecoa, mengusir lalat, mengatasi ngengat, mengatasi tikus, mengatasi nyamuk. Walau
banyak laporan dan penelitian tentang dampak negatif pestisida ini (pada manusia dan
lingkungan), seolah kita tidak punya pilihan lain selain menyemprot hama pengganggu (dan
pembawa penyakit) ini dengan obat hama. Sekalipun sebagai bahan beracun (biosida) yang
memiliki potensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia,
pestisida banyak digunakan karena mempunyai kelebihan-kelebihan antara lain dapat
diaplikasikan dengan mudah pada hampir semua tempat dan waktu, hasilnya dapat dirasakan
dalam waktu yang relatif singkat, dan dapat diaplikasikan dalam areal yang luas.
Tanpa kita sadari terdapat berbagai jenis pestisida yang tersimpan dirumah. Pestisida ini bukan
saja digunakan di dalam rumah tetapi juga digunakan dihalaman rumah dan kebun untuk
melindungi tanaman dari gulma dan hewanperusak lainnya. Anak-anak merupakan korban utama
pada kasus racunanini karena rasa keingin tahuannya yang tinggi dan tingkah lakunya yaitu
senang sekali memasukan apa saja yang ditemui ke dalam mulutnya
Memperhatikan hal-hal tersebut diatas maka merupakan suatu keharusan bahwa pestisida perlu
dikelola dengan sebaik-baiknya agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan
dampak negatif yang sekecil-kecilnya.
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan
alam hayati maka dalam pengelolaan pestisida antara lain adalah peraturan pemerintah nomor 7
tahun 1973. berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, maka setiap pestisida yang akan
diedarkan, disimpan dan digunakan harus terlebih dahulu terdaftar dan memperoleh izin menteri
pertanian. Mengacu pada peraturan pemerintah tersebut, menteri pertanian telah mengeluarkan
beberapa keputusan yang bersifat kebijaksanaan dalam kaitannya dengan pengelolaan pestisida,
antara lain keputusan menteri pertanian nomor 434.1 tahun 2001 tentang syarat dan tata cara
pendaftaran pestisida, dan keputusan menteri pertanian nomor 517 tahun 2002 tentang
pengawasan pestisida.
Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang
dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing
pestisida.
Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan
bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
1. Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau
hasil pertanian.
2. Memberantas gulma
3. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan
4. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang
tergolong pupuk
5. Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan
6. Memberantas atau mencegah hama air
7. Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
8. Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau
binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahu tentang Pestisida Rumah Tangga

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini adalah untuk mengetahui :
a. Pengertian dari Pestisida di rumah tangga
b. Peranan Pestisida di rumah tangga
c. Macam dan contoh pestisida
d. Formulasi dan kimia pestisida
e. Cara dan petunjuk penggunaan pestisida
f. Peraturan Pemerintah tentang pestisida
g. Petunjuk keamanan dan pertolongan pertama pada keracunan pestisida
h. Cara pestisida meracuni manusia
i. Alternatif pestisida dalam rumah tangga
j. Kasus dan analisis keracunan Pestisida

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Pestisida

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk
mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga,
tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria
dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput,
tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.
Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau
menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.
Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk
memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama
sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali.
Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman, khususnya untuk pertanian dan kehutanan
pada tahun 2008 hingga kwartal I tercatat 1702 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan
penggunaannya. Sedangkan bahan aktif yang terdaftar telah mencapai 353 jenis.
Dalam pengendalian hama tanaman secara terpadu, pestisida adalah sebagai alternatif terakhir.
Dan belajar dari pengalaman, Pemerintah saat ini tidak lagi memberi subsidi terhadap pestisida .
Namun kenyataannya di lapangan petani masih banyak menggunakannya. Menyikapi hal ini,
yang terpenting adalah baik pemerintah maupun swasta terus menerus memberi penyuluhan
tentang bagaimana penggunaan pestisida secara aman dan benar. Aman terhadap diri dan
lingkungannya, benar dalam arti 5 tepat (tepat jenis pestisida, tepat cara aplikasi, tepat sasaran,
tepat waktu, dan tepat takaran).

B. Peranan Pestisida di Rumah Tangga

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang
pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu
dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan
vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam
bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.
Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu tersebut adalah
racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan manusia. Untuk itu penggunaan
pestisida yang tidak bijaksana jelas akan menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia,
sumber daya hayati dan lingkungan pada umumnya.
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman.
Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen
pengendalian. Prinsip penggunaannya adalah:
1. Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti
komponen hayati
2. Efisien untuk mengendalikan hama tertentu
a. meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan
b. tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai
c. dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus memenuhi
persyaratan keamanan yang maksimum
d. harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut
e. sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota
f. relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif tinggi)
g. harga terjangkau bagi petani.

Idealnya teknologi pertanian maju tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini belum ada
teknologi yang demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan penggunaannya semakin
meningkat. Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi,
ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida dengan cepat
menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil
karena hama dapat ditekan.
Pengalaman di Amerika Latin menunjukkan bahwa dengan menggunakan pestisida dapat
meningkatkan hasil 40 persen pada tanaman coklat. Di Pakistan dengan menggunakan pestisida
dapat menaikkan hasil 33 persen pada tanaman tebu, dan berdasarkan catatan dari FAO
penggunaan pestisida dapat menyelamatkan hasil 50 persen pada tanaman kapas.
Dengan melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida,
maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang
sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan
menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan
pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh
meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi
pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan
ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan
tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling
manjur hanya pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan,
kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat
dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya. Pestisida saat ini
masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad
pengganggu.

C. Macam dan Contoh Pestisida

Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal
katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:
1. Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu.
Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
2. Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi
untuk melawan alge.
3. Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai
pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
4. Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk
melawan bakteri.
5. Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur.
Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
6. Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh
gulma (tumbuhan pengganggu).
7. Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh.
Berfungsi untuk membunuh serangga.
8. Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
9. Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek.
Berfungsi untuk membunuh siput.
10. Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang.
Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar).
11. Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
12. Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh
kutu atau tuma.
13. Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan
14. Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk
membunuh binatang pengerat, seperti tikus.
15. Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa.
16. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
17. Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
18. Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi
untuk membunuh rayap.

Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan
akhiran sida:
1. Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga
dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
2. Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
3. Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen,
digunakan pada tanaman kapas dan kedelai.
4. Desiccant. zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
5. Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
6. Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan
pertumbuhan tanaman.
7. Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang
lainnya. Contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
8. Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
9. Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
10. Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
11. Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
12. Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
13. Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan
terjadinya buah.

D. Formulasi dan Kimia Pestisida

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni
biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke
formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang
sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang
diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B
(emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang
menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti
pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen,
yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi
karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik.
Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal.
Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas
talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen,
dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding
dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum
singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti
talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena
kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini
diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan
pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida
formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder)
atau WSP (water soluble powder).

5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in
oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat
digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer.
Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.

6. Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk
membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang
sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering
dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan
yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.

1. Sifat pestisida
Setiap pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat pestisida yang sering ditemukan adalah
daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.

2. Tata Nama Pestisida
Pengetahuan pestisida juga meliputi struktur dan cara pemberian nama atau dikenal dengan tata
nama.

3. Cara Kerja Pestisida :
a. Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran.
b. Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas
c. Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan.
Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
d. Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.

E. Cara dan Petunjuk Penggunaan Pestisida

Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam
menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena
penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara,
kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel
pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke
atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel
pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan
pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.
Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan
dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak
lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping
berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan
hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau
lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau
diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu.
Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan
luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label
pestisida.

2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida :
a. Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah
dicampur dengan air.
b. Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.
c. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam
suatu larutan jadi.

3. Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high
volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume)
biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume)
biasanya kurang dari 5 liter.

4. Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet :
a. Veri coarse spray lebih 300 m
b. Coarse spray 400-500 m
c. Medium spray 250-400 m
d. Fine spray 100-250 m
e. Mist 50-100 m
f. Aerosol 0,1-50 m
g. Fog 5-15 m

5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:
a. Macrogranules lebih 300 m
b. Microgranules 100-300 m
c. Coarse dusts 44-100 m
d. Fine dusts kurang 44 m
e. Smoke 0,001-0,1 m

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 m

Dalam menggunakan pestisida harus menggunakan petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan
yaitu :

1. Memilih pestisida
Di pasaran banyak dijual formulasi pestisida yang satu sama lain dapat berbeda nama dagangnya,
walaupun mempunyai bahan aktif yang sama. Untuk memilih pestisida, pertama yang harus
diingat adalah jenis jasad pengganggu yang akan dikendahikan. Hal tersebut penting karena
masing-masing formulasi pestisida hanya manjur untuk jenis jasad pengganggu tertentu. Maka
formulasi pestisida yang dipilih harus sesuai dengan jasad pengganggu yang akan dikendalikan.
Untuk mempermudah dalam memilih pestisida dapat dibaca pada masing-masing label yang
tercantum dalam setiap pestisida. Dalam label tersebut tercantumjenis-jenis jasad pengganggu
yang dapat dikendahikan. Juga tercantum cara penggunaan dan bahaya-bahaya yang mungkin
ditimbulkan.
Untuk menjaga kemanjuran pestisida, maka sebaiknya belilah pestisida yang telah terdaftar dan
diizinkan oleb Departemen Pertanian yang dilengkapi dengan wadah atau pembungkus asli dan
label resmi. Pestisida yang tidak diwadah dan tidak berlabel tidak dijamin kemanjurannya.

2. Menyimpan pestisida
Pestisida senantiasa harus disimpan dalam keadaan baik, dengan wadah atau pembungkus asli,
tertutup rapat, tidak bocor atau rusak. Sertakan pula label asli beserta keterangan yang jelas dan
lengkap. Dapat disimpan dalam tempat yang khusus yang dapat dikunci, sehingga anak-anak
tidak mungkin menjangkaunya, demikian pula hewan piaraan atau temak. Jauhkan dari tempat
minuman, makanan dan sumber api. Buatlah ruang yang terkunci tersebut dengan ventilasi yang
baik. Tidak terkena langsung sinar matahari dan ruangan tidak bocor karena air hujan. Hal
tersebut kesemuanya dapat menyebabkan penurunan kemanjuran pestisida.
Untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu pestisida tumpah, maka harus disediakan air dan
sabun ditergent, beserta pasir, kapur, serbuk gergaji atau tanah sebagai penyerap pestisida.
Sediakan pula wadah yang kosong, sewaktu-waktu untuk mengganti wadah pestisida yang bocor.

4. Menggunakan pestisida
Untuk menggunakan pestisida harus diingat beberapa hal yang harus diperhatikan:
a. Pestisida digunakan apabila diperlukan
b. Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan pestisida
c. Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label
d. Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan pestisida, demikian pula wanita hamil dan
orang yang tidak baik kesehatannya
e. Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena pestisida dapat terserap melalui luka
f. Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung tangan, sepatu kebun,
kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut lain yang diperlukan
g. Hati-hati bekerja dengan pestisida, lebih-lebih pestisida yang konsentrasinya pekat. Tidak
boleh sambil makan dan minum
h. Jangan mencium pestisida, karena pestisida sangat berbahaya apabila tercium
i. Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran pestisida dilakukan di tempat terbuka.
Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus
j. Dalam mencampur pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan. Jangan berlebih atau
kurang
k. Tidak diperkenankan mencampur pestisida lebih dari satu macam, kecuali dianjurkan
l. Jangan menyemprot atau menabur pestisida pada waktu akan turun hujan, cuaca panas, angin
kencang dan arah semprotan atau sebaran berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan
berhentilah bekerja dan istirahat secukupnya
m. Wadah bekas pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya tidak digunakan oleh
orang lain untuk tempat makanan maupun minuman
n. Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan pestisida
o. Setelah bekerja dengan pestisida, semua peralatan harus dibersihkan, demikian pula pakaian-
pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih mungkin.

F. Peraturan Pemerintah No. Tahun 1973

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan
alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan
penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan
tersebut antara lain ditentukan bahwa:
1. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi Pestisida untuk
dimintakan izin penggunaannya
2. Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian
boleh disimpan, diedarkan dan digunakan
3. Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya
boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam
izin pestisida itu.
4. tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan
yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing
pestisida.
5. Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia
dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
a. memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau
hasil pertanian
b. memberantas gulma
c. mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan
d. mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang
tergolong pupuk
e. memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan.
f. memberantas atau mencegah hama air
g. memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
h. memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau
binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
i. Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian
pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan
seperti tersebut di atas.
selain itu juga ada UU no 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, PP nomor 6 tahun
1995 tentang perlindungan tanaman, Keputusan Menteri Pertanian nomor 434.1 tahun 2001
tentang syarat dan tata cara pendaftaran pestisida dan ketentuan pelaksanaannya

H. Cara Pestisida Meracuni Manusia

1. Melalui kulit
Hal ini dapat terjadi apabila pestisida terkena pada pakaian atau langsung pada kulit. Ketika
petani memegang tanaman yang baru saja disemprot, ketika pestisida terkena pada kulit atau
pakaian, ketika petani mencampur pestisida tanpa sarung tangan, atau ketika anggota keluarga
mencuci pakaian yang telah terkena pestisida. Untuk petani atau pekerja lapangan, cara
keracunan yang paling sering terjadi adalah melalui kulit.

2. Melalui pernapasan
Hal ini paling sering terjadi pada petani yang menyemprot pestisida atau pada orang-orang yang
ada di dekat tempat penyemprotan. Perlu diingat bahwa beberapa pestisida yang beracun tidak
berbau.

3. Melalui mulut
Hal ini terjadi bila seseorang meminum pestisida secara sengaja ataupun tidak, ketika seseorang
makan atau minum air yang telah tercemar, atau ketika makan dengan tangan tanpa mencuci
tangan terlebih dahulu setelah berurusan dengan pestisida.

I. Alternatif Pestisida Dalam Rumah Tangga

Berikut ini beberapa pestisida alternatif yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan jenis kegunaan
sehingga tidak mengakibatkan keracunan dan kerugian , yaitu :

1. Mengatasi semut
Taburkan bubuk cabe rawit atau bubuk kopi di tempat semut biasa datang, dapat juga
menggunakan perasan jeruk atau letakkan kulit jeruk pada tempat semut datang.

2. Mengatasi kecoa
Campurlah tepung gandum dengan gips kapur dengan perbandingan sama, atau campuran baking
soda dan gula, lalu taburkan di daerah yang ditempati kecoa. Dapat juga dengan menaruh
beberapa lembar daun salam (segar) di area yang dijelajahi kecoa.

3. Mengusir lalat
Gantungkan setandan cengkih dalam ruangan. Cara lain ialah dengan membuat lem perekat dari
kertas perekat yang berwarna kuning terang yang diolesi sedikit madu. Atau dengan
menggunakan kulit jeruk yang digores, letakkan di tempat yang banyak lalat.

4. Mengatasi ngengat
Gunakan merica utuh atau buatlah bungkusan berisi bunga mawar kering dan daun mint kering,
letakkan di lemari atau laci.

5. Mengatasi tikus
gunakan campuran gips kapur, tepung, sedikit gula dan bubuk coklat, lalu taburkan campuran
tersebut ditempat tikus biasa ditemukan. Perhatikan juga rumah anda, apakah arsitektur rumah
anda sudah cukup anti-tikus? Jangan sediakan tempat di rumah anda untuk tikus berkembang
biak, dan sedemikian rupa, halangi akses masuk tikus ke rumah

6. Mengatasi nyamuk
Gunakan kain kelambu. Sebuah sapu lidi kecil sebagai pemukul juga sama ampuhnya dengan
raket beraliran listrik. jangan lupa pasang kasa pada pintu dan jendela. Kemudian menyebarkan
bunga melati atau kamboja di ruangan sdapat juga mengurangi nyamuk. Pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) dan bio-secutity yang intinya menjaga kebersihan lingkungan adalah syarat
mutlak untuk mengendalikan nyamuk dan beberapa serangga lain.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan
untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu
serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur),
bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis),
siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

2. Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang
pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu
dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan
vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam
bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.

3. Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal
katanya yaitu Akarisida, Algisida, Avisida, Bakterisida, Fungisida, Herbisida, Insektisida,
Larvisida, Molluksisida, Nematisida, Ovisida, Pedukulisida, Piscisida, Rodentisida, Predisida,
Silvisida, Termisida, Atraktan, Kemosterilan, Defoliant, Desiccant.
Disinfektan, Repellent, Sterilan tanah, Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol
(PCP). Stiker, Surfaktan dan agen penyebar, Inhibitor, dan Stimulan tanaman.

4. Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang
sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering
dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan
yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.

5. Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam
menentukan keberhasilan pengendalian hama dan dalam menggunakan pestisida harus
menggunakan petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan

6. Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya
kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran,
penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973.
dan surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973

7. Dalam menggunakan pestisida agar tidak merusak maka harus sesuai dengan petunjuk dan
cara penggunaan yang sesuai dengan Keamanan

8. Agar tidak terjadi keracunan yang lebih maka kita harus mengetahui gejala dini dari keracunan
9. Pestisida dapat meracuni manusia melalui kulit, melalui mulut, dan melalui pernapasan
10. Apabila terjadi kasus keracunan maka dalam melakukan langkah awal harus mengikuti
petunjuk pertolongan pertama pada keracunan
11. Perawatan keracunan oleh pestisida oleh Dokter dilakukan secara simptomatik sesuai dengan
gejala yang timbul.
12. Ada bemacam-macam pestisida alternatif yang berasal dari alam yang bisa dimanfaatkan
secara aman sesuai dengan jenis kegunaannya.
13. Tingginya angka keracunan pestisida Racun Tikus yang menimbulkan kesakitan bahkan
kematian yang terjadi di China disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor manusia seperti :
kelalaian, perilaku, pengetahuan , keadaan alam dan aspek hukum yang mengaturnya. Selain itu
dalam memanfaatkan racun tikus haruslah sesuai dengan aturan dan petunjuk pada kemasan serta
pengetahuan tentang cara pertolongan pertama pada keracunan racun tikus sehingga tidak
menjadi berat dan menimbulkan kematian.


HERBISIDA

I. PENDAHULUAN







A. Latar Belakang
Pengertian pestisida luas sekali karena meliputi produk-produk yang digunakan ,
kehutanan, perkebunan, peternakan/kesehatan hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat.
Pada pestisida pertanian terdapat pestisida untuk mengendalikan gulma yaitu herbisida.
Herbisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan digunakan untuk
mematikan tanaman pengganggu/gulma. Gulma ini ada bermacam-macam, antara lain gulma
berdaun lebar, rerumputan, alang-alang, eceng gondok, dan lain-lain.

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah pengenalan herbisida ini adalah untuk mengetahui cara
penggunaan herbisida yang tepat sehingga tidak menimbulkan efek yang bernahaya terhadap
lingkungan disekitarnya dan tepat sasaran terhadap gulma sasaran. Selain itu juga untuk
mengetahui kandungan-kandungan kimia yang terdapat didalam herbisida tersebut dan teknik
pengaplikasiannya.

II. PEMBAHASAN

A. Penggunaan Herbisida
Herbisida merupkan salah satu pestisida yang berfungsi mengendalikan gulma. Untuk
keperluan pengendaliannya, gulma dibedakan menjadi 3 golongan. 1) gulma berdaun lebar,
seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania sp.; 2) gulma berdaun sempit (golongan
rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens. 3) golongan teki, seperti Cyperus
rotundus, Cyperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh yang bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan
gulma berdaun lebar, golongan teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif
ini adalah tidak membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya.
Jadi, dengan menggunakan herbisida purna-tumbuh yang selektif, kita dapat mematikan gulma
tanpa harus khawatir tanaman pokok rusak akibat semprotan herbisida.
Gulma yang tidak dapat dibasmi dengan herbisada selektif dapat dikendalikan dengan
herbisida purna tumbuh yang berspektrum luas dan mampu membunuh hampir semua tumbuhan.
Jika menggunakan herbisida ini diantara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotannya
harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan tanaman
utama.
Herbisida purna tumbuh memiliki dua cara kerja yang berbeda, yaitu herbisida kontak
dan herbisida sistemik. Pengolahan tanah atau pencabutan gulma setelah penyemprotan herbisida
tidak disarankan, karena dapat mengurangi efektivitasnya. Pengolahan tanah akan memutuskan
hubungan antara tajuk dan akar gulma, sehingga herbisida tidak dapat mencapai akar gulma. Jika
pengolahan tanah dilakukan pada saat herbisida sistemik belum sampai mematikan rhizome atau
stolon, gulma baru akan segera tumbuh dari rhizome atau stolon yang terputus tadi.

B. Klasifikasi Kimiawi Herbisida
Klasifikasi Kimiawi Herbisida
Senyawa Anorganik
Bioherbisida
Kelompok Aryloxpropionic Acid
Aryloxyphenoxypropionate
Benzoic Acid (Auksin Sintetik)
Pyridinecarboxylic Acid (Auksin
Sintetik)
Qiunolinecarboxylic Acid (Auksin
Sintetik)
Kelompok Urea
Sulfonilurea
Triazin
Kelompok Karbamat
Kloroasetamida
Oksiasetamida
Urasil
Triazolinon
Sicloheksanedion Oksim
Triazinon
Benzothiadiazinon
Garam Bipiridinum
(Bipiridilium)
Imidazolinon
Diphenyl-Ether
Organofosfat
Oxadiazol
Dinitroanilin Anilide
Isoxazole


C. Sifat dan Cara Kerja Herbisida
a. Klasifikasi herbisida
Hampir sejalan dengan pembagian gulma, secara tradisional herbisida dibagi menjadi tiga
kelompok.
- Herbisida yang kuat mengendalikan gulma dari kelompok rumput, misalnya alaktor, butaklor,
ametrinfluazifop.
- Herbisida yang kuat dalam mengendalikan gulma daun lebar, misalnya 2,4-D, MCPA.
- Herbisida yang aktif terhadap semua kelompok gulma. Herbisida ini disebut pula sebagai
herbisida yang non-selektif. Herbisida jenis ini mampu membunuh semua tumbuhan hijau,
misalnya glifosat glufosinat, dan paraquat.

Berdasarkan bidang sasaran, yaitu kemana herbisida di tersebut diaplikasikan, herbisida
diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Herbisida yang diaplikasikan ke tanah.
Bekerja umumnya dengan cara menghambat perkecambahan gulma atau membunuh biji-biji
gulma yang masih berada dalam tanah dan umumnya disemprotkan sebelum gulma tumbuh.
2) Herbisida yang diaplikasikan ke daun-daun gulma.
Herbisida yang diaplikasikan langsung pada daun-daun gulma yang tentunya sudah tumbuh.
Herbisida yang digunakan herbisida pasca-tumbuh.

Menurut gerakannya pada gulma sasaran, herbisida juga bisa dibagi menjadi dua
golongan berikut.
1. Herbisida kontak (non-sistemik), yaitu herbisida yang membunuh jaringan jaringan gulma yang
terkena langsung oleh herbisida tersebut dan tidak ditranslokasikan di dalam jaringan tumbuhan,
sehingga hanya mampu membunuh bagian gulma yang berada di atas tanah.
2. Herbisida sistemik, yaitu herbisida yang bisa masuk ke dalam jaringan tumbuhan dan
ditranslokasikan ke bagian tumbuhan lainnya. Oleh karena sifatnya yang sistemik, herbisida ini
mampu membunuh jaringan gulma yang berada di dalam tanah (akar, rimpang, umbi).

Penggolongan herbisida tersebut juga membawa implikasi terhadap penggolongan
berdasarkan cara dan saat penggunaannya.
1. Herbisida pratumbuh
Herbisida ini diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh.
2. herbisida purna-tumbuh
Herbisida ini diaplikasikan saat gulma sudah tumbuh.

b. Mode of action herbisida
Herbisida mematikan gulma dengan berbagai macam cara. Efek herbisida terhadap gulma
bisa disarikan sebagai berikut (Hance, 1987).
1. Herbisida yang mempengaruhi respirasi gulma.
2. Herbisida yang mempengaruhi proses fotosintesis gulma.
3. Herbisida penghambat perkecambahan.
4. Herbisida yang memiliki efek terhadap asam amino.
5. Herbisida yang mempengaruhi metabolisme lipida.
6. Herbisida yang bekerja sebagai hormon.


III. PENUTUP



A. Kesimpulan
Pada herbisida dikenal kelompok purna-tumbuh (post emergence) dan herbisida pra-
tumbuh (pre emegance). Herbisida purna-tumbuh hanya dapat mematikan gulma yang telah
tumbuh dan memiliki organ yang sempurna seperti akar, cabang dan daun. Sedangkan herbisida
pra-tumbuh mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

B. Saran
Sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma, terlebih dahulu perlu kita mengenali
terlebih dahulu herbisida yang akan digunakan agar sesuai dengan apa yang kita harapkan. Selain
itu perlu juga kita mengetahui penggolongan dari gulma agar dapat ditentukan herbisida yang
tepat untuk penggunaannya, dan waktu pemberiannya.






MAKALAH PESTISIDA JENIS HERBISIDA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gulma berinteraksi dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau
lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan bergantung
pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan
gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing (Jatmiko et al. 2002).
Gulma merupakan jenis tumbuhan yang hidupnya atau keberadaannya tidak dikehendaki.
Munculnya suatu jenis gulma di sekitar areal tanaman budidaya dapat dikendalikan dengan
menggunakan bahan kimia yang dinamakan herbisida.
Herbisida adalah senyawa kimia peracun gulma, dapat menghambat pertumbuhan bahkan
mematikan tumbuhan tersebut. Sedangkan substansi pengatur tumbuhan adalah gugusan organik
yang bukan nutrisi, dalam jumlah sedikit dapat menghambat atau memodifikasi proses fisiologis
tumbuhan yang mungkin dapat pula berarti pemodifikasian pertumbuhan, herbisida translokasi,
dan herbisida sistemik. Dalam klasifikasi herbisida dapat dibedakan :
1. Menurut waktu apilkasi.
2. Menurut cara kerja.
3. Menurut sifat bahan kimianya
Penggunaan salah satu jenis herbisida secara terus menerus dapat menyebabkan gulma
menjadi resisten. Untuk menghindari hal tersebut, maka diusahakan mencampurkan dua jenis
herbisida dalam mengendalikan gulma.
Berbagai bahan kimia dipandang mem-punyai prospek yang baik untuk mengendalikan
gulma, akan tetapi efektif tidaknya suatu herbisida yang digunakan bergantung pada jenis dan
dosis herbisida yang suatu diberikan serta besar kecilnya pengaruh lingkungan. Penggunaan
herbisida sebagai pengendali gulma mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya
adalah gulma dapat dikendalikan dalam waktu yang relatif singkat dan mencakup areal yang
luas. Lagi pula bahaya erosi dan kerusakan akar tanaman tidak perlu dikhawatirkan kareana
gulma yang mati oleh herbisida menutupi permukaan tanah. Adapun dampak negatif penggunaan
herbisida adalah merusak tanaman, karena itu penggunaannya harus hati-hati. Pemakaian yang
salah dapat merugikan lingkungan, tanaman yang diusahakan bahkan manusia. Pemakaian suatu
jenis herbisida secara terus menerus akan membentuk gulma yang resisten sehingga akan sulit
mengendali-kannya.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Muncul dan berkembangnya jenis-jenis gulma dalam suatu lahan pertanian selain di-
pengaruhi oleh iklim, keadaan tanah dan sifat biologi jenis gulma sendiri, juga ditentukan oleh
sistem pola tanam, pengolahan tanah dan cara pengendalian (Everaat, 1981).
Sukman dan Yakub (1991), mengemukakan bahwa penggunaan herbisida pada suatu
lahan sering menyebabkan perubahan species gulma yang lain menjadi dominan, misalnya
pengendalian gulma Imperata cylindrica diikuti pertumbuhan Paspalum conjugatum.
Berbagai bahan kimia dipandang mem-punyai prospek yang baik untuk mengen-dalikan
gulma, akan tetapi efektif tidaknya suatu herbisida yang digunakan bergantung pada jenis dan
dosis herbisida yang suatu diberikan serta besar kecilnya pengaruh lingkungan(Akobundu,
1987).
Pemilihan herbisida yang sesuai untuk pengendalian gulma di pertanaman karet
merupakan suatu hal yang sangat penting. Pemilihan dilakukan dengan memperhatikan daya
efikasi herbisida terhadap gulma dan ada tidaknya titotoksisitas pada tanaman. Faktor lain yang
perlu dipertimbangkan meliputi keamanan terhadap lingkungan (organisme bukan sasaran),
harga dan ketersediaan (Nasution, 1986).

BAB II
HERBISIDA

A. Pengertian Herbisida
Herbisida merupakan bahan kimia yang dapat mematikan ataupun menghambat
pertumbuhan normal bagi gulma. Berdasarkan struktur kimianya herbisida dapat dikenal sebagai
herbisida anorganik dan organik. NaCl, H2SO4 dan CuSO4 merupakan contoh herbisida
anorganik. Sedangkan glifosat Melolakhlor dan Alakhlor merupakan contoh herbisida organik.
Dalam menggunakan herbisida tidak boleh sembarangan karena dapat berakibat negtif
terhadap lingkungan maupun penggunanya. Oleh sebab itu sebelum menggunakan dibaca
labelnya sehingga tidak membuat kesalahan dalam aplikasi dilapangan.
Adapun beberapa pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh pestisida adalah
sebagai berikut :
Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah
lingkungan tanah alami. Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk
hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia,
hewan hidup dari tumbuhan. Memang ada tumbuhan dan hewan yang hidup di laut, tetapi
sebagian besar dari makanan kita berasal dari permukaan tanah.
Dapat diakibatkan dari Limbah pertanian
Limbah pertanian dapat berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah atau
tanaman, misalnya pupuk urea dan pestisida untuk pemberantas hama tanaman. Penggunaan
pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak struktur tanah, yang menyebabkan
kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman tertentu karena hara tanah
semakin berkurang. Dan penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga
mikroorga-nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada jumlah
organisme di dalamnya. Selain itu penggunaan pestisida yang terus menerus akan mengakibatkan
hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.
Air
Di Amerika Serikat , pestisida ditemukan mencemari sungai setiap dan lebih dari 90% dari
sumur sampel dalam penelitian oleh US Geological Survey. [12] residu pestisida juga telah
ditemukan dalam hujan dan air tanah.Studi yang dilakukan oleh pemerintah Inggris
menunjukkan bahwa konsentrasi pestisida melebihi yang diijinkan untuk minum air di beberapa
sampel air sungai dan air tanah.
Ada empat rute utama di mana pestisida mencapai air: mungkin drift luar daerah dimaksud
ketika disemprotkan, mungkin meresap, atau pencucian, melalui tanah, mungkin akan dibawa ke
air sebagai aliran, atau mungkin tumpah, misalnya sengaja atau melalui kelalaian. Mereka juga
dapat dilakukan untuk air dengan tanah mengikis . Faktor-faktor yang mempengaruhi pestisida
kemampuan untuk mencemari air termasuk air yang larut , jarak dari sebuah situs aplikasi ke
tubuh air, cuaca, jenis tanah, kehadiran tanaman tumbuh, dan metode yang digunakan untuk
menerapkan kimia
Batas maksimum konsentrasi diijinkan untuk pestisida individu dalam badan publik air
ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat. Demikian pula, pemerintah
Inggris menetapkan Standar Kualitas Lingkungan (Persamaan), atau konsentrasi maksimum yang
diperbolehkan beberapa pestisida dalam tubuh air di atas yang keracunan mungkin terjadi. Uni
Eropa juga mengatur konsentrasi maksimum pestisida dalam air.
Tanaman
Fiksasi nitrogen , yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi , terhalang
oleh pestisida dalam tanah. The insektisida DDT , parathion metil , dan terutama pentaklorofenol
telah terbukti mengganggu legum - rhizobium signaling. kimia Pengurangan bahan kimia ini
mengakibatkan sinyal simbiotik fiksasi nitrogen berkurang dan berkurang hasil panen. formasi di
tanaman ini akan menyimpan perekonomian dunia $ 10 miliar dalam nitrogen sintetik pupuk
setiap tahun.
Pestisida dapat membunuh lebah dan sangat terlibat dalam penurunan penyerbuk , hilangnya
spesies yang penyerbukan tanaman, termasuk melalui mekanisme Colony Collapse Disorder di
mana lebah pekerja dari sarang lebah atau Barat madu lebah koloni tiba-tiba menghilang..
Aplikasi pestisida pada tanaman yang mekar dapat membunuh lebah madu , yang bertindak
sebagai penyerbuk The USDA dan USFWS memperkirakan bahwa petani AS kehilangan
setidaknya $ 200 juta tahun dari penyerbukan tanaman berkurang karena pestisida diterapkan
untuk bidang menghilangkan sekitar seperlima dari koloni lebah madu di Amerika
Serikat dan melukai 15%.
Binatang
Pestisida menimbulkan kerusakan yang sangat luas untuk biota , dan banyak negara telah
bertindak untuk mencegah penggunaan pestisida melalui mereka Rencana Aksi Keanekaragaman
Hayati.
Hewan mungkin diracuni oleh residu pestisida yang tersisa pada makanan setelah
penyemprotan, misalnya ketika satwa liar memasuki bidang disemprot atau wilayah di dekatnya
segera setelah penyemprotan.
aplikasi luas pestisida dapat menghilangkan sumber makanan yang beberapa jenis hewan
butuhkan, menyebabkan hewan untuk relokasi, mengubah diet mereka, atau kelaparan.
Keracunan dari pestisida dapat melakukan perjalanan ke atas rantai makanan , misalnya, burung
dapat dirugikan ketika mereka makan serangga dan cacing yang telah dikonsumsi pestisida.
Beberapa pestisida dapat bioaccumulate , atau membangun tingkat racun dalam tubuh organisme
yang mengkonsumsi mereka dari waktu ke waktu, sebuah fenomena yang dampak spesies tinggi
pada rantai makanan sangat keras.


Burung
elang Gundul adalah contoh umum dari organisme nontarget yang terkena dampak
penggunaan pestisida Teman-tengara buku Rachel Carson Silent Spring berurusan dengan
hilangnya spesies burung karena bioakumulasi pestisida dalam jaringan mereka. Ada bukti
bahwa burung terus dirugikan oleh penggunaan pestisida. Dalam lahan pertanian dari Inggris ,
populasi yang berbeda sepuluh spesies burung telah menurun sebesar 10 juta individu
berkembang biak antara tahun 1979 dan 1999, fenomena yang diduga telah menyebabkan
kerugian tanaman dan spesies invertebrata di mana pakan burung. Sepanjang Eropa , 116 jenis
burung kini terancam. Penurunan populasi burung telah ditemukan terkait dengan waktu dan
daerah di mana pestisida digunakan.
Dalam contoh lain, beberapa jenis fungisida yang digunakan dalam usahatani kacang tanah
hanya sedikit beracun untuk burung dan mamalia, tetapi mungkin membunuh cacing tanah, yang
pada gilirannya dapat mengurangi populasi burung dan mamalia yang memakannya.
Beberapa pestisida datang dalam bentuk butiran, dan burung dan satwa liar lainnya bisa
memakan butiran, salah mereka untuk butir makanan. Sebuah butiran beberapa pestisida sudah
cukup untuk membunuh seekor burung kecil.
Herbisida paraquat, ketika disemprotkan ke telur burung, menyebabkan kelainan
pertumbuhan embrio dan mengurangi jumlah anakan yang menetas berhasil, tetapi herbisida
kebanyakan tidak langsung menyebabkan banyak kerugian bagi burung. Herbisida dapat
membahayakan populasi burung dengan mengurangi habitat mereka.
Makhluk hidup Perairan
Ikan dan biota air lainnya dapat dirugikan oleh pestisida-air yang terkontaminasi. Pestisida
aliran permukaan ke sungai dan sungai dapat sangat mematikan bagi kehidupan air, kadang-
kadang membunuh semua ikan di aliran tertentu.
Aplikasi herbisida untuk badan air dapat menyebabkan ikan membunuh saat tanaman
membusuk mati dan menggunakan air oksigen, mencekik ikan. Beberapa herbisida, seperti sulfit
tembaga, yang diterapkan pada air untuk membunuh tanaman yang beracun untuk ikan dan
hewan air lainnya pada konsentrasi yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh
tanaman. paparan berulang dosis subletal beberapa pestisida dapat menyebabkan perubahan
fisiologis dan perilaku pada ikan yang mengurangi populasi, seperti meninggalkan sarang dan
merenung, penurunan kekebalan terhadap penyakit , dan peningkatan kegagalan untuk
menghindari predator.
Aplikasi herbisida untuk badan air dapat membunuh tanaman yang bergantung pada habitat
ikan mereka Pestisida dapat terakumulasi dalam badan air ke tingkat yang membunuh
zooplankton , sumber utama makanan bagi ikan muda.
Pestisida dapat membunuh serangga yang beberapa pakan ikan, menyebabkan ikan untuk
melakukan perjalanan jauh untuk mencari makanan dan mengekspos mereka untuk risiko yang
lebih besar dari pemangsa.
Semakin cepat pestisida yang diberikan rusak di lingkungan, ancaman kurang itu pose untuk
kehidupan akuatik. Insektisida lebih racun bagi kehidupan air dari herbisida dan fungisida.
Amfibia
Dalam beberapa dekade terakhir, penurunan populasi amfibi telah terjadi di seluruh dunia,
untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan yang dianggap bervariasi tetapi yang mungkin pestisida
bagian.
Campuran dari beberapa pestisida tampaknya memiliki efek toksik kumulatif pada katak.
Berudu dari kolam dengan beberapa pestisida terkandung di dalam air memakan waktu lebih
lama untuk bermetamorfosis menjadi katak dan lebih kecil ketika mereka lakukan, mengurangi
kemampuan mereka untuk menangkap mangsa dan menghindari predator.
Sebuah penelitian di Kanada menunjukkan bahwa mengekspos berudu untuk endosulfan ,
sebuah organochloride pestisida pada tingkat yang mungkin ditemukan pada habitat di dekat
ladang disemprot dengan bahan kimia tersebut membunuh berudu dan menyebabkan dan
pertumbuhan kelainan perilaku. Herbisida atrazin telah ditunjukkan untuk mengubah katak
jantan menjadi hermaprodit , mengurangi kemampuan mereka untuk bereproduksi.
Manusia
Pestisida dapat memasuki tubuh manusia melalui inhalasi aerosol, debu dan uap yang
mengandung pestisida; melalui paparan lisan dengan mengkonsumsi makanan dan air; dan
melalui pajanan dermal melalui kontak langsung pestisida dengan kulit. Pestisida disemprotkan
ke makanan, terutama buah-buahan dan sayuran, mereka mengeluarkan ke dalam tanah dan air
tanah yang dapat berakhir di air minum, dan semprot pestisida dapat hanyut dan mencemari
udara.
Efek pestisida terhadap kesehatan manusia lebih berbahaya didasarkan pada toksisitas bahan
kimia dan panjang dan besarnya paparan. Farm pekerja dan keluarganya mengalami eksposur
terbesar untuk pestisida pertanian melalui kontak langsung dengan bahan kimia. Tapi setiap
manusia mengandung persentase pestisida ditemukan pada sampel lemak dalam tubuh mereka.
Anak-anak yang paling rentan dan sensitif terhadap pestisida karena ukurannya kecil dan
keterbelakangan. [35] Bahan kimia dapat bioaccumulate dalam tubuh dari waktu ke waktu.
Paparan terhadap pestisida dapat berkisar dari iritasi kulit ringan sampai cacat lahir, tumor,
perubahan genetik, dan saraf kelainan darah, gangguan endokrin, dan bahkan koma atau
kematian.
C. Pengaruh Pestisida Pada lingkungan
Pestisida sering digunakan untuk melindungi semak dari serangga dan spesies tanaman
invasif. Pestisida adalah kelas bahan kimia yang digunakan dalam tanaman dan kebun yang
dirancang untuk menargetkan dan membunuh serangga atau gulma yang dapat membahayakan
atau membunuh tanaman.
Kebanyakan pestisida mengiklankan kemampuan mereka untuk hanya menargetkan
tanaman berbahaya sementara tidak memiliki efek negatif pada tanaman kebun lainnya, namun,
paparan pestisida jangka panjang dapat memiliki banyak efek negatif belukar dan semak.
Pertumbuhan terhambat.
Ketika sebuah semak terkena pestisida selama jangka, sebuah fitotoksisitas disebut keracunan
dapat terjadi. Fitotoksisitas mengacu pada penyerapan bahan kimia berbahaya ke dalam struktur
penting dari semak, seperti root atau sistem reproduksi. Salah satu gejala fitotoksisitas terhambat
pertumbuhan. Ketika bahan kimia aktif dalam pestisida yang diserap ke dalam semak, mereka
dapat menyebabkan mutasi pada kromosom dan hormon yang bertanggung jawab untuk
pertumbuhan tanaman.
Mutasi gen menyebabkan pertumbuhan abnormal atau kerdil yang menghasilkan semak jelas
pendek atau semak yang tidak kemajuan tahap terakhir tumbuh awal, beberapa semak dapat
menghasilkan cabang tanpa daun atau daun tapi tidak mekar.
Dedaunan Kerusakan
Kerusakan daun atau daun juga efek samping yang umum pestisida pada belukar dan semak.
Selama fitotoksisitas, bahan kimia aktif dan tidak aktif dalam pestisida berinteraksi dengan
sistem penyerapan gizi semak-semak. nutrisi penting Kurang mampu mencapai struktur daun
yang halus, sehingga mengakibatkan daun kering atau cokelat. Dalam beberapa kasus
fitotoksisitas, bermanifestasi kerusakan daun sebagai lubang atau bintik pada daun. Sayangnya,
banyak pemilik rumah keliru mengidentifikasi kerusakan dedaunan sebagai disebabkan oleh
hama seperti serangga atau jamur. Sebagai hasilnya, mereka dapat meningkatkan penggunaan
pestisida pada semak, lebih merusak struktur tanaman dan memperburuk kerusakan dedaunan.
Kerusakan akar.
Salah satu masalah yang paling serius yang disebabkan oleh penggunaan pestisida jangka
panjang adalah kerusakan sistem akar semak itu.. Sistem akar adalah pintu gerbang untuk hampir
semua fungsi-fungsi penting dalam semak: akar memberikan nutrisi penting yang berkontribusi
terhadap sehat, respirasi pertumbuhan dan reproduksi. Bila pestisida diterapkan ke area lain dari
landscape, kimia leach ke dalam tanah dan bahkan air tanah.. Bahan kimia yang kemudian dapat
menyebar ke tanaman lain atau semak di luar area tanaman target atau serangga. sistem akar
Semak 'menyerap sejumlah besar bahan kimia kuat, menyebabkan mereka untuk menyumbat
atau busuk. semak Baru, bibit dan anakan sangat rentan terhadap kerusakan akar selama tahap-
tahap awal tanam; menghindari pestisida pada tahap awal pertumbuhan dan sebagai gantinya,
hama tempur dengan penyiangan, mulsa atau pestisida alami.

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan
atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma), jenis-jenis herbisida
dapat dilihat berdasarkan sifat herbisida dan cara aplikasinya.
Herbisida yang selektif merupakan suatu herbisida yang sangat beracun untuk suatu jenis
tumbuhan tertentu, akan tetapi tidak beracun untuk tumbuhan lainnya yang berbeda terutama
familinya.
Sedangkan herbisida nonselektif merupakan herbisida yang beracun untuk setiap jenis
tumbuhan.
Cara aplikasi berdasarkan waktu dibedakan menjadi herbisida pratanam, pascatanam, herbisida
pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide).
Cara aplikasi menurut konsentrasi, waktu aplikasi dan volume semprot merupakan penentuan
derajat keberhasilan pengendalian gulma.
Herbisida dikelompokkan berdasarkan cara kerja, mekanisme kerja, pemakaian dan struktur
kimia.
B. Saran
Dalam praktikum pengenalan herbisida sebaiknya pengamatan dilakukan lebih teliti
dalam pengamatan pada label jenis herbisda yang diamati dan lebih banyak hal yang diamati dan
jenis herbisida yang digunakan lebih banyak lagi, agar praktikan lebih banyak mengenal jenis
herbisida yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Akobundu, I. O. 1987. Weed Science In The Tropics Principles and Practices. Wiley. Interscience
Publication. New York.
Nasution, U. 1986. Gulma dan pengendaliannya di perkebunan karet Sumatera Utara
dan Aceh. PT. Gramedia, Jakarta, 269 hal.
Sukman, Y. dan Yakub. 1991. Gulma dan Teknis Pengendaliannya. Rajawali. Jakarta











Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang
dipakai untuk membunuh serangga.
[1]
Insektisida dapat
memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku,
perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem
pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung
pada kematian serangga pengganggu tanaman
[2]
Insektisida
termasuk salah satu jenis pestisida. Sejarah penggunaan
insektisida
Para pekerja kebun diketahui telah menggunakan sabun untuk mengontrol pertumbuhan hama
serangga sejak awal tahun 1800an.
[3]
Di awal abag ke 19, sabun yang terbuat dari minyak ikan
paling banyak digunakan. Cara-cara tersebut cukup efektif, meski harus diberikan berkali-kali
dan kadang justru mematikan tanaman.
[3]
Belakangan diketahui juga adanya penggunaan
campuran bawang putih, bawang merah, dan lada atau berbagai jenis makanan lainnya, namun
tidak cukup efektif membunuh serangga.
[3]

Penggunaan insektisida sintetik pertama dimulai pada tahun 1930an dan mulai meluas setelah
berakhirnya Perang Dunia II.
[4]
Pada tahun 1945 hingga 1965, insektisida golongan organoklorin
dipakai secara luas baik untuk pertanian maupun kehutanan.
[4]
Salah satu produk yang paling
terkenal adalah insektisida DDT yang dikomersialkan sejak tahun 1946.
[5]
Selanjutnya mulai
bermunculan golongan insektisida sintetik lain seperti organofosfat, karbamat, dan pirethroid
pada tahun 1970an.
[4]

Sejak tahun 1995, tanaman transgenik yang membawa gen resistensi terhadap serangga mulai
digunakan.
[6]

Jenis-jenis insektisida
Insektisida dapat dibedakan menjadi golongan organik dan anorganik.
[7]
Insekstisida organik
mengandung unsur karbon sedangkan insektisida anorganik tidak.
[7]
Insektisida organik
umumnya bersifat alami, yaitu diperoleh dari makhluk hidup sehingga disebut insektisida hayati.
Insektisida Sintetik
Insektisida organik sintetik yang banyak dipakai dibagi-bagi lagi menjadi beberapa golongan
besar:
[7]

Senyawa Organofosfat
Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan fosfat.
[7]
Insektisida
sintetik yang masuk dalam golongan ini adalah Chlorpyrifos, Chlorpyrifos-methyl, Diazinon,
Dichlorvos, Pirimphos-methyl, Fenitrothion, dan Malathion.
[7]

Senyawa Organoklorin
Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan klorin.
[7]
Insektisida
organoklorin bersifat sangat persisten, dimana senyawa ini mashi tetap aktif hingga bertahun-
tahun.
[7]
Oleh karena itu, kini insektisida golongan organoklorin sudah dilarang penggunaannya
karena memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Contoh-contoh insektisida golongan
organoklorin adalah Lindane, Chlordane, dan DDT.
[7]

Karbamat
Insektisida golongan karbamat diketahui sangat efektif mematikan banyak jenis hama pada suhu
tinggi dan meninggalkan residu dalam jumlah sedang.
[7]
Namun, insektisida karbamat akan
terurai pada suasana yang terlalu basa. Salah satu contoh karbamat yang sering dipakai adalah
bendiokarbamat.
[7]

Pirethrin/ Pirethroid Sintetik
Insektisida golongan ini terdiri dari dua katergori, yaitu berisfat fotostabil serta bersfiat tidak non
fotostabil namun kemostabil.
[7]
Produknya sering dicampur dengan senyawa lain untuk
menghasilkan efek yang lebih baik. Salah satu contoh produk insektisida ini adalah Permethrin.
[7]

Pengatur Tumbuh Serangga
Insektisida golongan ini merupakan hormon yang berperan dalam siklus pertumbuhan serangga,
misalnya menghambat perkembangan normal.
[7]
Beberapa contoh produknya adalah Methoprene,
Hydramethylnon, Pyriproxyfen, dan Flufenoxuron.
Fumigan
Adalah suatu jenis pestisida (obat pembasmi hama) yang dalam suhu dan tekanan
tertentu berbentuk gas,
dan dalam konsentrasi serta waktu tertentu dapat membunuh hama (organisme
pengganggu). A. Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu:

1. Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik,
wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau
gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh: basudin, basminon, tiodan, diklorovinil
dimetil fosfat, diazinon,dll.

2. Fungisida adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/cendawan seperti
bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun.
Contoh: tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat.

3. Bakterisida adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida
adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang menyerang tanaman jeruk.
Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya
segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu.

4. Rodentisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan
pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras
atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang
memakannya. Contohnya: Warangan.

5. Nematisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda
(cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya
digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi
penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat
memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

6. Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti
alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh: ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.