Anda di halaman 1dari 7

Pemberian Obat Pada Mencit

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mencit merupakan hewan yang sudah tidak asing lagi bagi manusia. Tetapi sebagian
besar manusia bahkan dikalangan mahasiswa pun tidak menegetahui bagaimana cara
memperlakukan mencit dengan benar. Oleh karena itu dilakukanlah suatu percobaan, yang
dimana percobaan ini mengenai bagaimana pemberian obat pada hewan dalam hal ini
hewan uji yang digunakan adalah mencit. Karena mencit merupakan tikus rumah yang mudah
ditangani dan memiliki sifat penakut atau fotofobik, sedangkan tikus tidak bersifat fotofobik,
lebih resisten terhadap infeksi, dan jika merasa tidak aman akan menjadi liar dan galak,
kemudian tikus jika menggigit sangat dalam dan gigitannya sulit dilepaskan.
Dalam memilih hewan uji, sebelumnya kita harus mengetahui bagaimana cara
memperlakukan mencit dengan benar, harus mengetahui sifat-sifat hewan yang akan diujikan,
serta bagaimana cara memberikan obat kepada hewan tersebut. Pada praktikum kali ini,
hewan yang akan dijadikan percobaan adalah mencit (Mus musculus), kita akan
mempraktikkan bagaimana cara pemberian obat yang benar pada mencit dengan beberapa
cara. Oleh karena itu, kita melakuakn percobaan ini agar kita dapat mengetahui bagaimana
cara pemberian obat pada hewan uji dengan benar.
B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemberian obat pada hewan percobaan (mencit) dengan
baik dan benar dengan cara intra muscular, intra peritoneal, subkutan dan per oral.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini sekarang ditemukan di
seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia. Mencit peliharaan memiliki periode kegiatan
selama siang dan malam. Tikus memakan makanan manusia dan barang-barang rumah
tangga. Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil.
Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena
kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya, serta bersarang di sudut-
sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia, setelah manusia.
Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan
jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal di
perkotaan. Mencit kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan dan mewah. Namun,
sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan laboratorium untuk digunakan dalam
penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Bahkan, tujuh puluh persen dari semua
hewan yang digunakan dalam kegiatan biomedis tikus. Melebihi dari 1000 saham dan strain
tikus telah dikembangkan, serta ratusan mutan saham yang digunakan sebagai model
penyakit manusia. Dalam hal genetika, mouse adalah mamalia dicirikan paling lengkap
(Anonim, 2011).
Hewan mencit atau Mus musculus adalah tikus rumah biasa termasuk ke dalam ordo
rodentia dan family muridae. Mencit merupakn hewan yang tidak mempunyai kelenjar
keringat, jantung terdiri atas empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding
ventrikel yang tebal. Percobaan dalam menangani hewan yang akan diuji cenderung memiliki
karakteristik yang berbeda, seperti mencit penakut dan fotofobik, cenderung sembunyi dan
berkumpul dengan sesama, mudah ditangani, lebih aktif pada malam hari, aktifitas terganggu
dengan adanya manusia, laju respirasi 163/menit sedangkan pada hewan tikus sangat cerdas,
mudah ditangani, tidak bersifat fotofobik, lebih resisten terhadap infeksi, kecenderungan
berkumpul dengan sesama kurang, jika makanannya kurang atau diperlakukan secara kasar
akan menjadi liar dan galak. Pada mencit dan tikus persamaannya gigi seri padakeduanya
seringdigunakan untuk mengerat/menggigit benda-benda yang keras (Tim Pengajar, 2011).
Mayoritas mencit laboratorium adalah strain albino yang mempunyai bulu putih dan
merah muda. Mencit merupakan hewan yang tidak mempunyai kelenjar keringat, jantung
terdiri atas empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yang lebih
tebal. Percobaan dalam menangani hewan yang akan diuji cenderung memilki karakteristik
yang berbeda (Tim Pengajar, 2011).
Pemberian obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu proses penyembuhan dengan
cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai dengan program pengobatan dari dokter
(Sihombing, 2010).
Pemberian obat per oral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif
mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi
bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam absorpsi di saluran cerna).
Intinya absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat
diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak (Ansel,
1989).
Selain pemberian topikal untuk mendapatkan efek lokal pada kulit atau membran mukosa,
penggunaan suatu obat hampir selalu melibatkan transfer obat ke dalam aliran darah. Tetapi,
meskipun tempat kerja obat tersebut berbeda-beda, namun bisa saja terjadi absorpsi ke dalam
aliran darah dan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Absorpsi ke dalam darah
dipengaruhi secara bermakna oleh cara pemberian (Katzung, 1986).

III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jumat/11 November 2011
Waktu : Pukul s.d. WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III Sebelah Barat FMIPA
Universitas Negeri Makassar
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Kandang mencit,
b. Jarum suntik tumpul dan runcing
c. Spoid
2. Bahan
a. Mencit
b. alkohol 70%
c. aquades.
d. tisu
C. Prosedur Kerja
1. Cara memegang mencit
Mengangkat ujung ekor mencit dengan tangan kanan, meletakkan pada suatu tempat yang
permukaannya tidak licin (misalnya rem kawat pada penutup kandang), jangan sampai mencit
stress dan ketakutan lalu mengelus-elus mencit dengan jari telunjuk tangan kiri. Kemudian
menarik kulit pada bagian tengkuk mencit dengan jari tengah dan ibu jari tangan kiri, dan
tangan kanan memegang ekornya lalu membalikkan tubuh mencit sehingga menghadap ke
kita dan menjepit ekor dengan kelingking dan jari manis tangan kiri.
2. Cara pemberian obat
a. Oral
1. Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya tumpul.
2. Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan
ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
3. Sebelum measukkan sande oral, posisi kepala dan keadaan mulut harus diperhatikan. Ketika
hewan dipegang dengan posisi terbalik pastikan posisi kepala menengadah atau posisi dagu
sejajar dengan tubuh dan mulut terbuka sedikit.
b. intra muscular
1. Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya runcing.
2. Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan
ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
3. posisi hewan harus terbalik dan kaki agak ditarik keluar agar paha bagian belakang terlihat.
4. posisi jarum sejajar dengan tubuh/abdomen.
5. suntikkan pada otot paha bagian belakang.
6. suntikan tidak boleh terlalu dalam agar tidak terkena pembuluh darah.
7. sebelum melakukan suntikan, bersihkan daerah kulit dengan alcohol 70%
c.subkutan
1. Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya runcing.
2. Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan
ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
3. Posisi hewan tetap mengarah kebawah (tidak terbalik).
4. Arah suntikan dari depan.
5. Usahakan lokasi suntikan pada daerah kulit tipis dengan terlebih dahulu membersihkannya
dengan alkoho 70%.
6. Melakukan suntikan dengan cepat agar tidak terjadi pendarahan.
d. Intrapetioneal.
1. Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya runcing.
2. Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan
ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
3. Posisi hewan terbalik, kepala lebih rendah daripada abdomen.
4. Posisi jarum suntik sepuluh derajat dari abdomen berlawanan arah dengan kepala (arah
jarum ke bagian perut.
5. Lokasi suntikan pada bagian tengah abdomen, pada daerah yang sedikit menepi dari garis
tengah agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi agar tidak
terkena penyuntikan pada hati.
6. Suntikan di bawah kulit dengan terlebih dahulu membersihkan lokasi suntikan dengan alkoho
70%.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil pengamatan
a. Pemberian obat secara oral
Pemberian oral pada mencit dilakukan dengan alat suntik memasukkan jarum oral
kedalamulut mencit dengan volume maksimal 0,5 ml.
b. Pemberian obat secara subkutan
Pemberian obat dilakukan dengan cara menyuntikkan pada bagian bawah tengkuk dengan
volume 0,5 ml.
c. Pemberian obat secara intramuscular
Pemberian obat dilakukan dengan cara menyuntikkan pada paha bagian posterior dengan
volume 0,5 ml.
d. Pemberian obat secara intra peritoneal
Pemberian obat dilakukan dengan cara menyuntikkan pada daerah abdomen sampai agak
menepi dari garis tengah dengan volume 0,5 ml.
2. Pembahasan
Yang pertama kita lakukan adalah memegang mencit dengan benar yaitu
dengan mengangkat ujung ekor mencit dengan tangan kanan dan mengeluarkannya dari
kandang dan mnyimpannya di tempat yang permukaannya kasar (misalnya rem kawat pada
penutup kandang), kemudian menjinakkannya. Jangan sampai mencit stress dan ketakutan
lalu mengelus-elus mencit dengan jari telunjuk tangan kiri, dan mengikuti terus arah
pergerakan mencit. Kemudian setelah mencit tenang kita menarik kulit pada bagian tengkuk
mencit dengan jari tengah dan ibu jari tangan kiri, dan tangan kanan memegang ekornya lalu
membalikkan tubuh mencit sehingga menghadap ke atas dan menjepit ekor dengan
kelingking dan jari manis tangan kiri. Pada percobaan ini ada salah satu mencit yang terlihat
stres, hal itu ditandai dengan perubahan rambut mencit yang langsung mekar dan tubuhnya
sangat bergetar. Mencit tersebut pun berubah menjadi liar dan galak.
Kemudian yang kita lakukan berikutnya yaitu pemberian obat pada mencit.
Pemberian obat dilakukan pada 2 ekor mencit. Pemberian obat dilakukan secara bertahap,
yaitu:
1. Pemberian secara oral
Pemberian secara oral pada mencit dilakuakan dengan alat suntik yang dilengkapi
jarum berujung tumpul, yang telah diisi cairan obat (aquades) 0,5 ml. kita menarik kulit pada
bagian tengkuk mencit dengan jari tengah dan ibu jari tangan kiri, dan tangan kanan
memegang ekornya lalu membalikkan tubuh mencit sehingga menghadap ke kita dan
menjepit ekor dengan kelingking dan jari manis tangan kiri, dimana posisi kepala mencit
menengadah dan mulutnya sedikit terbuka, sonde oral (jarum tumpul) ditempatkan pada
langit langit mulut atas mencit kemudian memasukkan perlahan sampai ke esophagus dan
cairan obat dimasukkan.
2. Pemberian secara subkutan
Penyuntikan dilakukan di bawah kulit pada daerah tengkuk dengan mencubit tengkuk
di antara jempol dan telunjuk. Bersihkan area kulit yang akan disuntik dengan alcohol 70%.
Masukkan obat dengan menggunakan alat suntik 1 ml secara paraler dari arah depan
menembus kulit sampai terdengar bunyi klik. Kita melakukan dengan cepat untuk
menghindari pendarahan yang terjadi dengan kepala mencit.
3. Pemberian secara intra muscular
Obat disuntikkan pada paha posterior. Mencit dipegang dengan cara menyamping,
dimana ibu jari dan telunjuk memegang kepala mencit dengan tangan kiri kemudian
kelingking dan jari manis memegang paha dan perut bagian kiri mencit. Bersihkan area kulit
yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Masukkan obat dengan menggunakan alat suntik 1
ml.
4. Pemberian secara intra peritoneal
Mencit dipegang dan diposisikan telentang, pada penyuntikan posisi kepala lebih
rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dari abdomen yaitu, pada daerah yang menepi dari
garis tengah, agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi supaya
tidak terkena penyuntikan pada hati.

V. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pada praktikum ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum kita melakukan penyuntikan
pada mencit, mencit harus dalam keadaan tenang (tidak stress), karena pada saat stress mencit
akan menjadi liar dan sulit untuk disuntik. Kemudian kita harus menguasai dan betul-betul
memahami bagaimana cara menyuntik mencit dengan benar.
2. Saran
1. Kepada praktikan: sebaiknya kedisiplinan para praktikan lebih ditingkatkan agar kegiatan
praktikum dapat berjalan dengan lancar.
2. Kepada Asisten: sebaiknya asisten lebih memperhatikan para praktikannya.
3. Kepada Kepala Laboran: sebaiknya laboran menyiapkan alat dan bahan yang lebih lengkap.




















DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Mencit. http://www.wikipedia. /ensiklopedia/mencit/html. Diakses pada tanggal 20
November 2011
Ansel, Howard C. 1989 Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Katzung, Bertram G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Salemba Medika.
Sihombing,ferdinan. 2010 .Memberikan Obat Oral.http:Nersferdimanskeprawatans Weblog.htm.
Tim pengajar. 2011. Praktikum perkembangan Hewan pemberian Obat pada hewan Uji.
Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.