Anda di halaman 1dari 22

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150


KKS RS DR RM Djoelham Binjai
1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap system respirasi yang menuntut
asuhan keperawatan dapat dialami oleh orang pada berbagai tingkat usia. Bila salah satu
organ tersebut mengalami ganguan maka akan mengganggu semua sistem tubuh. Empiema
masih merupakan masalah dalam bidang penyakit paru karena secara signifikan masih
menyebabkan kecacatan dan kematian walaupun sudah ditunjang dengan kemajuan terapi
antibiotik dan drainase rongga pleura maupun dengan tindakan operasi dekortikasi.
Penyakit tersebut dapat pula disebabkan oleh :
a. Trauma pada dada (sekitar 1 5 % kasus mendorong ke arah empiema)
b. Pecahnya abses dari paru-paru kedalam rongga pleura

1.2 Tujuan

Tujuan dalam pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk membantu mahasiswa
dalam mempelajari tentang aritmia dan asuhan keperawatan aritmia
Tujuan khusus:
1. Mengetahui pengertian dari empiema
2. Menngetahui penyebab dari empiema
3. Mengetahui tanda dan gejala dari empiema
4. Mengetahui klasifikasi dari empiema
5. Mempelajari asuhan keperawatan empiema

1.3 Rumusan Masalah

1) Apa pengertian empiema?
2) Apa saja penyebab empiema?
3) Apa saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien empiema?
4) Bagaimana proses perjalanan empiema?
5) Dan bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien empiema?

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Emphiema thoraksis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya penumpukan
cairan terinfeksi atau pus pada kavitas pleural (Brunner and Suddart, 2000). Emphiema
thorak juga dapat berarti adanya proses supuratif pada rongga pleura.
Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) didalam rongga pleura.Pada
awalnya,cairan pleura encer dengan jumlah leukosit rendah,tetapi sering kali menjadi stadium
fibropurulen dan akhirnya sampai pada keadaan dimana paru-paru tertutup oleh membran
eksudat yang kental.Meskipun empiema sering kali disebabkan oleh komplikasi dari infeksi
pulmonal, namun tidak jarang penyakit ini terjadi karena pengobatan yang terlambat.
Empiema merupakan salah satu penyakit yang sudah lama ditemukan dan berat. Di
India terdapat 5 10% kasus anak dengan empiema toraks. Empiema toraks didefinisikan
sebagai suatu infeksi pada ruang pleura yang berhubungan dengan pembentukan cairan yang
kental dan purulen baik terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena
adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi bakteri. Empiema paling
banyak ditemukan pada anak usia 2 9 tahun. Empiema adalah akumulasi pus diantara paru
dan membran yang menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru
terinfeksi. Pus ini berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel
polimorfonuklear) dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin).
Ketika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru
sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan berlanjutnya perjalanan
penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi kantong kantong
(lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan akhirnya
mengakibatkan kerusakan yang permanen.









Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
3

2.2 Etiologi

1. Berasal dari Paru
Pneumonia
Abses Paru
Adanya Fistel pada paru
Bronchiektasis
TB
Infeksi fungidal paru
2. Infeksi Diluar Paru
Trauma dari tumor
Pembedahan otak
Thorakocentesis
Subdfrenic abces
Abses hati karena amuba
3. Bakteriologi
Staphilococcus Pyogenes.
Terjadi pada semua umur, sering pada anak

Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab dikenal sebagai
Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-penyakit sebagai akibat dari infeksi
beragam jaringan-jaringan tubuh. Bakteri-bakteri Staph dapat menyebabkan penyakit tidak
hanya secara langsung oleh infeksi (seperti pada kulit), namun juga secara tidak langsung
dengan menghasilkan racun-racun yang bertanggung jawab untuk keracunan makanan dan
toxic shock syndrome. Penyakit yang berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan
dan tidak memerlukan perawatan sampai berat/parah dan berpotensi fatal.
Bakteri gram negatif
Bakteri anaerob
Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius
seperti radang paru-paru (pneumonia),meningitis (radang selaput otak) dan infeksi darah
(sepsis).Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi hanya sedikit yang bisa
menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau
kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
4

2.3 Patofisiologi

Infeksi paru dapat menyebabkan terjadinya empiema. Infeksi adalah komplikasi yang
paling sering terjadi. Sumber infeksi yang paling jarang termasuk sepsis abdomen, yang mana
pertama sekali dapat membentuk abses subfrenik sebelum menyebar ke rongga pleura
melalui aliran getah bening. Abses hati yang disebabkan Entamoeba histolytica mungkin juga
terlibat dan infeksi pada faring, tulang thoraks atau dinding thoraks dapat menyebar ke
pleura, baik secara langsung maupun melalui jaringan mediastinum.
Pleura dan rongga pleura dapat menjadi tempat sejumlah gangguan yang dapat
menghambat pengembangan paru atau alveolus atau keduanya. Reaksi ini dapat disebabkan
oleh penekanan pada paru akibat penimbunan udara, cairan, darah atau nanah dalam rongga
pleura. Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan akibat
peningkatan permeabelitas kapiler atau gangguan absorbsi getah bening. Eksudat dan
transudat dibedakan dari kadar protein yang dikandungnya dan berat jenis. Transudat
mempunyai berat jenis <1,015 dan kadar proteinnya kurang dari 3%; eksudat mempunyai
berat jenis dan kadar protein lebih tinggi, karena banyak mengandung sel. Penimbunan cairan
dalam rongga pleura disebut efusi pleura.
Infeksi oleh organisme-organisme patogen menyebabkan jaringan ikat pada membran
pleura menjadi edema dan menghasilkan suatu eksudasi cairan yang mengandung protein
yang mengisi rongga pleura yang dinamakan pus atau nanah. Jika efusi mengandung nanah,
keadaan ini disebut empiema.
Terjadinya empyema thoraks dapat melalui tiga jalan :
1. Sebagai komplikasi penyakit pneumonia atau bronchopneumonia dan abscessus
pulmonum, oleh karena kuman menjalar per continuitatum dan menembus
pleuravisceralis.
2. Secara hematogen , kuman dari focus lain sampai di pleura visceralis.
3. Infeksi dari luar dinding thorax yang menjalar ke dalam rongga pleura, misalnya pada
trauma thoracis, abses dinding thorax.
Terjadinya empyema akibat invasi basil piogenik ke pleura, timbul peradangan akut yang
diikuti dengan pembentukan eksudat serous dengan banyak sel-sel PMN
(Polimerphonucleus) baik yang hidup ataupun mati dan meningkatnya kadar protein, maka
cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk kantong-
kantong yang melokalisasi nanah tersebut.Apabila nanah menembus bronkus timbul fistel
bronko pleura, atau menembus dinding thoraks dan keluar melalui kulit disebut empyema
Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
5

nasessitatis. Stadium ini masih disebut empyema akutyang lama-lama akan menjadi kronis
(batas tak jelas). Biasanya empyema merupakan suatu proses luas, yang terdiri atas
serangkaian daerah berkotak-kotak yang melibatkan sebagian besar dari satu atau kedua
rongga pleura. Dapat pula terjadi perubahan pleura parietal. Jika nanah yang tertimbun
tersebut tidak disalurkan keluar,maka akan menembus dinding dada ke dalam parenkim paru-
paru dan menimbulkan fistula.
Piopneumothoraks dapat pula menembus ke dalam rongga perut. Kantung-kantung
nanah yang terkotak-kotak akhirnya berkembang menjadi rongga-rongga abses berdinding
tebal, atau dengan terjadinya pengorganisasian eksudat maka paru-paru dapat menjadi kolaps
sertadikelilingi oleh sampul tebal yang tidak elastis .


2.4 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala empiema secara umum adalah :
1. Demam
2. Keringat malam
3. Nyeri pleural
4. Dispnea
5. Anoreksia dan penurunan berat badan
6. Auskultasi dada, ditemukan penurunan suara napas
7. Perkusi dada, suara flatness
8. Palpasi , ditemukan penurunan fremitus

Tanda gejala empiema berdasarkan klasifikasi empiema akut dan empiema kronis :
a. Emphiema akut:
Panas tinggi dan nyeri pleuritik.
Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia, anemia, dan
clubbing finger .
Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-pleural.
Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan darah dan
nanah banyak sekali.

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
6

b. Emphiema kronis:
Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
Pucat, clubbing finger.
Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.Terjadi fibrothorak trakea dan
jantung tertarik kearah yang sakit.
Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.


2.5 Komplikasi

Kemungkinan komplikasi yang terjadi adalah pengentalan pada pleura. Jika inflamasi
telah berlangsung lama, eksudat dapat terjadi di atas paru yang menganggu ekspansi normal
paru. Dalam keadaan ini diperlukan pembuangan eksudat melalui tindakan bedah (dekortasi).
Selang drainase dibiarkan ditempatnya sampai pus yang mengisi ruang pleural dipantau
melalui rontgen dada dan pasien harus diberitahu bahwa pengobatan ini dapat membutuhkan
waktu lama.
Fibrosis pleura :
Kolaps paru akibat penekanan cairan pada paru-paru
Panyakit paru restriktif
Pergeseran organ-organ mediastinum
Piopneumotoraks











Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
7

2.6 Klasifikasi

a. Emphiema akut:
Panas tinggi dan nyeri pleuritik.
Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia, anemia, dan
clubbing finger .
Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-pleural.
Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan darah dan
nanah banyak sekali.
b. Emphiema kronis:
Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
Pucat, clubbing finger.
Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.
Terjadi fibrothorak trakea dan jantung tertarik kearah yang sakit.
Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.


2.7 Pemeriksaan Penunjang

1. Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut kostofrenikus
pada posisi posteroanterior atau lateral.
2. Dijumpai gambaran yang homogen pada daerah posterolateral dengan gambaran
opak yang konveks pada bagian anterior yang disebut denganD-shaped shadow yang
mungkin disebabkan oleh obliterasi sudut kostofrenikus ipsilateral pada gambaran
posteroanterior.
3. Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan dengan efusi.
4. Air-fluid level dapat dijumpai jika disertai dengan pneumotoraks, fistula
bronkopleural.



Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
8

5. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) :
Pemeriksaan dapat menunjukkan adanya septa atau sekat pada suatu empiema yang
terlokalisir. Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk menentukan letak empiema
yang perlu dilakukan aspirasi atau pemasangan pipa drain.
6. Pemeriksaan CT scan :
Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya suatu penebalan dari pleura.
Kadang dijumpai limfadenopati inflamatori intratoraks pada CT scn.


2.7 Penatalaksanaan

1) Pengambilan nanah
a. Closed drainage-tube thoracostomy-water seal drainage (WSD)
Indikasi :
Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu
Terjadi piopneumotoraks
b. Drainase terbuka (Open drainage)
Indikasi :
Dikerjakan pada empiema kronis akibat pengobatan yang terlambat atau tidak
adekuat.

2) Antibiotika
Antibiotika harus segera diberikan begitu diagnosa ditegakkan dan dosisnya harus adekuat.
Pemilihan antibiotika didasarkan pada hasil pengecatan Gram dari hapusan nanah.
Pengobatan selanjutnya tergantung pada hasil kultur dan sensitivitasnya. Metronidazole dapat
ditambahkan untuk organisme gram negatif anaerob yang menghasilkanb-laktamase.
Sefalosporin generasi kedua seperti cefoxitin sangat potensial terhadap gram negatif yang
menghasilkan b-laktamase.




Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
9

3) Penutupan rongga empiema
a. Dekortikasi
Drain tidak berjalan dengan baik karena banyak kantung-kantung
Letak empiema sukar dicapai dengan drain
Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis.
b. Torakoplasti
Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistula bronkopleural.

4) Pengobatan kausal
Misalnya abses subfrenik dengan drainase subdiafragmatika, terapi spesifik pada amubiasis,
tuberkulosis, aktinomikosis dan sebagainya. Perbaiki keadaan umum, fisioterapi untuk
membebaskan jalan nafas.

5) Pengobatan tambahan
Perbaiki keadaan umum, fisioterapi untuk membebaskan jalan nafas.



























Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
10

Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
Pasien mengeluhkan sesak napas
Pasien mengeluh rasa berat di dada yang
disertai dengan nyeri
Pasien juga mengeluh batuk
Pasien mengeluh demam
Pemeriksaan fisik :
Penurunan fremitus
Saat di perkusi terdengar suara pekak
Auskultasi terdengar suara napas
melemah / menghilang
Pemeriksaan laboratorium :
Leukositosis (+)
Pemeriksaan Diagnostik :
Foto thorax : perselubungan homogen
menutupi struktur paru bawah yang
biasanya

Data yang perlu dikaji :
a. Data Subjektif
Kemungkinan pasien mengeluh
Kemungkinan timbul keluhan pusing dan sakit kepala
Kemungkinan timbul keluhan lemah dan lelah
Kemungkinan pasien merasakan denyut jantung nya bertambah cepat
Kemungkinan timbul keluhan nyeri dada ringan berat
Kemungkinan pasien mengeluhkan berkeringat
Kemungkinan pasien mengeluh cemas dan takut akan kematian
b. Data Objektif
Pada Pemeriksaan Fisik kemungkinan ditemukan :
Nadi : > 100x / menit dan
RR : > 24 x / menit
Penurunan suara napas
Kemungkinan ditemukan kulit pucat dan sianosis
Kemungkinan ditemukan kesulitan untuk bersuara
Kemungkinan ditemukan kelisahang
Pemeriksaan rontgen thorax, kemungkinan ditemukan pembesaran jantung





Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
11

2. Diagnosa Keperawatan

DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI
DS :
Pasien mengeluhkan napas pendek
Pasien mengeluhkan sesak napas
Pasien mengeluh rasa berat di dada
yang disertai dengan nyeri
Pasien juga mengeluh batuk
DO :
Pemeriksaan fisik :
Penurunan fremitus
Saat di perkusi terdengar suara pekak
Auskultasi terdengar suara napas
melemah / menghilang
Perubahan gerakan dada.
Mengambil posisi tiga titik.
Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi.
Penurunan ventilasi semenit.
Penurunan kapasitas vital.
Napas dalam.
Peningkatan diameter anterior-
posterior.
Napas cupping hidung.
Ortopnea.\
Fase ekspirasi yang lama.
Pernapasan purset-lip.
Kecepatan respirasi.
Rasio waktu.
Penggunaan otot Bantu untuk
bernapas
Ketidakefektifan
pola napas
Sesak napas
DS :
Mengungkapkan secara verbal /
melaporkan dengan isyarat.
DO :
Gerakan menghindari nyeri.
Posisi menghindari nyeri.
Perubahan autonomik dari tonus otot.
Perubahan nafsu makan dan makan.
Perilaku menjaga atau melindungi.
Gangguan rasa
nyaman
Nyeri dada
DS :
Mual
DO :
Demam
Kulit memerah
Frekuensi napas meningkat
Takikardi
Hypertermi Infeksi saluran napas


Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
12

3. Intervensi

Dx TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL
INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi Rasional
Ketidakefektifan
pola napas
dispnea,
ansietas, posisi
tubuh
Setelah dilakan
tindakan keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan pasien
dapat:
Menunjukkan pola
pernapasan
efektif, dibuktikan
dengan status
pernapasan yang
tidak berbahaya :
ventilasi dan
status tanda vital
Menunjukkan
status pernapasan :
ventilasi tidak
terganggu
Kedalaman
inspirasi dan
kemudahan
bernapas.
Ekspansi dada
simetris.
Tidak adanya
penggunaan otot
bantu.
Bunyi napas
tambahan tidak
ada.
Napas pendek
tidak ada.
1. Kaji frekuensi atau
kedalaman
pernapasan dan
gerakan dada
2. Auskultasi area
paru, catat area
penurunan/tak ada
aliran udara dan
bunyi napas
adventisius, missal
krekels mengi.
3. Penghisapan sesuai
dengan indikasi
4. Berikan cairan
sedikitnya 2.500
ml/hari, tawarkan
air hangat.
5. Ajarakan metode
batuk efektif dan
terkontrol
Kolaborasi
6. Pemeriksaan
sputum pasien di
laboratorium
1. Takipnea,
pernapasan
dangkal, dan
gerakan dada tak
simetris sering
terjadi karena
ketidaknyamanan
gerakan. Gerakan
dinding dada dan
atau cairan paru.
Penurunan aliran
darah terjadi pada
area konsolidasi
dengan cairan.
Bunyi napas
bronchial (normal
pada bronkus)
dapat terjadi juga
pada area
konsolidasi.
2. Krekels, rongkhi,
dan mengi
terdengar pada
inspirasi dan atau
ekspirasi pada
respon terhadap
pengumpulan
cairan, secret
kental, dan spasme
jalan
napas/obstruksi
3. Merangsang batuk
atau pembersihan
jalan napas secara
mekanik pada
pasien yang tak
mampu melakukan
karena batuk tak
efektif atau
penurunan tingkat
kesadaran.
4. Cairan (khususnya
yang hangat)
memobilisasi dan
mengeluarkan
Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
13

sekret
5. Batuk tidak
terkontrol akan
melelahkan klien.
6. Sputum yang di
periksa guna untuk
mengetahui adanya
penyakit lain
Hypertermi
infeksi saluran
pernapasan.
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan pasien
dapat:
Pasien akan
termoregulasi,
dibuktikan dengan
suhu kulit dalam
rentang normal.
Nadi dan
pernapasan dalam
rentang yang
diharapkan.
Perubahan warna
kulit tidak ada.
Mandiri:
Pantau suhu minimal 2
jam sekali.
Pantau:
tekanan darah, nadi,
pernapasan.
aktifitas kejang,
warna kulit
Kolaborasi :
Berikan obat antipiretik
sesuai dengan anjuran
dan evaluasi
keefektifannya.
Lakukan tindakan-
tindakan untuk
mengurangi demam
seperti, gunakan matras
dingin.
Untuk
mengidentifikasi
kemajuan-kemajuan
atau penyimpangan
dari sasaran yg
diharapkan.
Perubahan frekuensi
jantung atau TD
menunjukkan bahwa
pasien mengalami
nyeri, khususnya bila
alasan lain untuk
perubahan tanda vital
telah terlihat.
Hal tersebut
merupakan tanda
berkembangnya
komplikasi.
Gunakan matras dingin
memungkinkan
terjadinya pelepasan
panas secara konduksi
dan evaporasi
(penguapan).
Nyeri dada
trauma jaringan
Setelah dilakukan
tindakkan
keperawatan selam
3x24 jam , diharapkan
pasien dapat:
Penurunan
penampilan peran
/ hubungan
interpersonal.
Gangguan kerja,
kepuasaan hidup /
kemampuan untuk
mengendalikan
diri.
Penurunan
konsentrasi.
Terganggunya
Mandiri :
Karakteristik
nyeri, misal
tajam, constan,
ditusuk. Selidiki
perubahan
karakter/ lokasi/
intensitas nyeri.
Pantau :
Suhu setiap 4
jam
Hasil
pemeriksaan
SDP
Hasil kultur
sputum
Berikan tindakan
Nyeri dada, biasanya
dada dalam beberapa
derajat pada
pneumonia seperti
pericarditis dan
endokarditis.
Untuk
mengidentifikasi
kemajuan-
kemajuan atau
penyimpangan dari
sasaran yg
diharapkan.
Tindakan tersebut
akan meningkatkan
relaksasi.
Analgesik
Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
14

tidur.
Penurunan nafsu
makan.
untuk memberikan
rasa nyaman
Kolaborasi :
Berikan
analgetik sesuai
dengan anjuran
untuk mengatasi
nyeri pleuritik
jika perlu dan
evaluasi
keefektifannya
Konsul pada
dokter jika nyeri
dan demam
tetap ada atau
mungkin
memburuk.
Berikan
antibiotik sesuai
dengan anjuran
dan evaluasi
keefektifannya.
membantu
mengontrol nyeri
dengan memblok
jalan rangsang
nyeri. Nyeri
pleuritik yg berat
sering kali
memerlukan
analgetik narkotik
untuk mengontrol
nyeri lebih efektif.
Hal tersebut
merupakan tanda
berkembagnya
komplikasi.
Antibiotik
diperlukan untuk
mengatasi infeksi,
efek maksimum
dapat dicapai jika
kadar obat dalam
darah konsisten
dan dapat
dipertahankan.
Interaksi satu obat
dgn yg lain dpt
mengurangi
keefektifan
pengobatan




















Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
15

BAB III
PENUTUP

Empiema adalah suatu efusi pleura eksudat yang disebabkan oleh infeksi langsung
pada rongga pleura yang menyebabkan cairan pleura menjadi purulen atau keruh. Pleura dan
rongga pleura dapat menjadi tempat sejumlah gangguan yang dapat menghambat
pengembangan paru atau alveolus atau keduanya.
Pemberian asuhan keperawatan empiema difokuskan pada upaya pencegahan
terhadap terjadinya komplikasi yang berlanjut selama proses pemulihan fisik klien.
Penentuan diagnosa harus akurat agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat diberikan
secara maksimal dan mendapatkan hasil yang diharapkan. Pemberian asuhan keperawatan
kepada pasien penderita empiema secara umum bertujuan untuk memperlancar
pernapasannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas dan keahlian dalam pemberian asuhan
keperawatan dan kolaborasikan dengan tim medis lainnya yang bersangkutan.


















Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
16

DAFTAR PUSTAKA

1. Empiema. Bahan Kuliah Ilmu Kesehatan Paru. Fakultas Kedokteran UKI, Jakarta. 2010.
2. Somantri Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika
3. Behrman rc., et.el. Respiratory disordes. Nelson textbook of pediatrics 17th ediion
saunders. 2010
4. http://www.askep-askeb.cz.cc/2010/01/empiema.html
5. Empiema behrma, re md, dkk dalam buku nelson Ilmu Kesehatan Aak vol 3 edisi 15
penerbit EGC. 2000























Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
17


STATUS PASIEN
I. Anamnesa Pasien
Nama : Ananda Pertiwi
Umur : 3 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jln. Ikan Hiu no 6, Tanah Tinggi, Binjai
BB Masuk : 10 kg
Tgl Masuk : 22 April 2014
Jam Masuk : 17.55 WIB

II. Anamnesa Orang Tua
Nama Ayah : Andri Nama Ibu : Ida Khairani
Umur : 33 Tahun Umur : 35 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta Pekerjaan : IRT
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Tanah Tinggi

III. Riwayat Kelahiran
Tanggal Lahir : 31 Juli 2011
Cara Lahir : Secsio Caesaria
BB Lahir : 3200 gram
Tempat Lahir : Batam
Penolong : Dokter Spesialis

IV. Riwayat Imunisasi
BCG : (+)
DPT : (+)
Polio : (+)
Hepatitis : (+)
Campak : (+)

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
18

V. Riwayat Perkembangan Anak
Lahir 0 Bulan : Langsung Menangis
0-3 Bulan : Belajar mengangkat kepala
3-6 Bulan : Berusaha meraih benda, Tertawa
6-8 Bulan : Dapat tengkurap dan berbalik sendiri
9-12 Bulan : Belum bisa berjalan tanpa berpegangan
12-18 Bulan : Mulai berjalan
18-24 Bulan : Mulai berbicara sederhana

VI. Riwayat pemberian ASI
0-4 Bulan : ASI semaunya
4-6 Bulan : ASI semaunya + nasi TIM
6-12 Bulan : ASI semaunya + nasi lembek
12-24 Bulan : PASI + Nasi biasa
2-4 Tahun : Nasi biasa + menu keluarga

VII. Riwayat Bersaudara
Os anak pertama dari dua bersaudara

VIII. Anamnesa Penyakit
KU : Sesak Napas
Telaah : Os datang ke RS DR RM Djoelham Binjai diantar orang tuanya
dengan keluhan sesak dirasakan 1 minggu lalu os juga mengeluhkan
batuk, demam hilang timbul dan terkadang menggigil. Muntah (-),
BAK & BAB (-) Riwayat Opname 2 hari tapi belum ada perbaikan.
RPT : (-)
RPO : (-)






Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
19

IX. Pemeriksaan Fisik :
Vital Sign
Sensorium : Composmentis
HR : 104x/i
RR : 32x/i
T : 36
o
C
BB Masuk : 10 kg

Status Gizi
BB : 10 kg
Umur : 3 Tahun
BBN : 2N + 8 = 14
Status Gizi : BBS x 100% = 10 x 100% = 71,4 %
BBN 14


Status Generalisata
Kepala
Rambut : Berwarna Hitam
Mata : Refleks Cahaya (+/+), Anemia (-/-), Ikterik (-/-)
Hidung : Septum deviasi (-), Sekret (-)
Mulut : Mukosa Bibir Pucat (+)
Telinga : Serumen (-)

Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax : Paru-Paru : I : Simetris
P : Stem Fremitus Ka=Ki
P : Sonor
A : Wheezing (+) Ronkhi (+)
Jantung : I : Ictus Cordis tidak terlihat (-)
P : Ictus Cordis tidak teraba (-)
P : Redup
A : Bj
I
=Bj
II
Reguler
Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
20


Abdomen : I : Soepel (+)
P : Peristatik Usus (+)
P : Nyeri Tekan (-)
A : Tympani

Ekstremitas :
Superior : Oedema (-/-) Sianosis (-/-) Ikterik (-/-)
Inferior : Oedema (-/-) Sianosis (-/-) Ikterik (-/-)

Genetalia : TDP

Resume :
Os datang ke RS DR RM Djoelham Binjai diantar orang tuanya dengan keluhan sesak napas,
sesak dirasakan sejak 1 minggu lalu, os juga mengeluh batuk dan mengalami demam hilang
timbul dan terkadang menggigil. Muntah (-) BAB&BAK (-)

Diagnosis Banding
1. Bronchopnemonia
2. Pnemonia
3. Asma Bronchial

Diagnosis Sementara : Bronchopnemonia

Anjuran :
Darah Rutin
LED
Widal
Foto Thorax




Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
21

Terapi :
O
2
2-3 L/i
IVFD RL 20gtt/i mikro
Inj. Ceftriaxon 1 amp/ amp/ 8 jam
Inj. Ranitidin 25 mg/ 8 jam
Inj. Dexametason 1 amp/ amp/8 jam
Inj. Novalgin 200 ml/ 8 jam
Vantoin Nebule 1 amp diencerkan
2 cc NaCl/ 8jam
Vantolin Expectorant 3x1 cth 1/2

Follow Up

Tanggal 23 April 2014 24 April 2014
KU Sesak Nafas (+)
Batuk (+)
Sesak Nafas (+)
Batuk (+)
Vital Sign HR : 148x/i
RR : 52x/i
T : 36
o
C
BB : 10kg
HR : 140x/i
RR : 40x/i
T : 36
o
C
BB : 10 kg
Diagnosa Bronchopnemonia +
Mucositis
Empiema
Terapi Diet M
II

02 2-3 L/i
IVFD Dextrose 5% NaCl
0,45% 20 gtt/i Mikro
Inj Ceftriaxon 500 ml/ 12
jam
Inj. Ranitidin 25 ml/ 8
jam
Inj. Dexamethason
amp/ 8jam
Inj. Novalgin 200 mg/
8jam
Vantolin Nebule 1 amp
2,5 ml NaCl 0,9%/ 8 jam
Mistatin drop 2x1 ml
Kenalog orobase 2x
Diet M
II

02 2-3 L/i
IVFD Dextrose 5% NaCl
0,45% 20 gtt/i Mikro
Inj Ceftriaxon 500 ml/ 12
jam
Inj. Ranitidin 25 ml/ 8
jam
Inj. Dexamethason
amp/ 8jam
Inj. Novalgin 200 mg/
8jam
Vantolin Nebule 1 amp
2,5 ml NaCl 0,9%/ 8 jam
Mistatin drop 2x1 ml
Kenalog orobase 2x






Laporan Kasus Ilmu Penyakit Anak

Masagung Wicaksono 07310150
KKS RS DR RM Djoelham Binjai
22