Anda di halaman 1dari 17

Disusun Oleh : Kelompok 6

TEDDY TAMARA
PEBRIANSYAH
YESI WIGIARTI
CHYNTIA SANDOVA
AGNES RIA ANGGRAINI




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013/2014



BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah.
Sebagai negara demokrasi yang berlandaskan UUD. Negara Indonesia sangatlah
menghargai pendapat ataupun aspirasi dari rakyatnya. Oleh karena itu UUD telah mengatur dan
menjamin sebagaimana rakyat Indonesia, bebas untuk berkumpul ataupun berorganisasi.
Sehingga setiap rakyat pun terdorong untuk membentuk suatu organisasi.
Sejak di adakannya pemilihan umum secara langsung melalui voting (pemungutan suara
terbanyak). Pemilihan umum di Indonesia sejak masa kemerdekaan Republik Indonesia, sudah di
lengkapi dengan berbagai macam partai politik. Partai Politik adalah organisasi yang bersifat
nasional dan di bentuk oleh sekelompok warganegara indonesia secara sukarela atas dasar
kepentingan bersama.

2. Rumusan Masalah.
Sebagaimana dengan latarbelakang masalah yang telah di jelaskan di atas. Dengan
demikian rumusan masalah yang akan di bahas, yaitu:
A. Bagaimana sejarah lahirnya partai politik di Indonesia?
B. Apakah definisi dari partai politik?
C. Bagaimana pengklasifikasian atau pengelompokan partai?
D. Apakah fungsi atau peranan dari partai politik?






BAB 2
PEMBAHASAN

A. Sejarah Partai Politik di Indonesia.
Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat. Pada mulanya
perkembangannya hanya di negara-negara barat seperti Inggris dan Perancis. Kegiatan politik di
pusatkan pada kelompok-kelompok politik dalam parlemen. Dengan meluasnya hak pilih,
kegiatan politik berkembang di luar parlemen dengan terbentuknya panitia pemilihan umum.
Sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, macam-macam partai politik yang bertujuan
sosial maupun berasaskan agama telah ada di Indonesia. Seperti partai Budi Utomo,
Muhammadiyah, Sarekat Islam, PNI, Katolik, Masyumi, dan sebagainya. Hal ini merupakan
suatu bentuk manifestasi rakyat Indonesia yang menginginkan Indonesia merdeka dari bangsa
asing.
Syarat pembentukan partai politik pun telah di atur sedemikian rupa di dalam UU tentang
partai politik. Seperti halnya di dalam pasal 2 ayat 1tahun 2008 UU partai politik. Telah di
jelaskan bahwa, partai politik di dirikan dan di bentuk paling sedikit 50 orang warga negara
Indonesia yang berusia 21 tahun dengan akta notaris.Sehingga setiap kelompok orang tidak
dapat dengan sembarangan ingin membentuk suatu partai politiknya sendiri.
Dengan demikian pada suatu negara demokrasi, peranan partai politik sangatlah di
perlukan. Demi mendukung sistem demokrasi tersebut.

B. Definisi Partai Politik.
Partai politik secara umum dapat di definisikan dengan, sekumpulan kelompok orang
yang mempunyai tujuan ataupun kepentingan yang sama. Dengan tujuan memperoleh kekuasaan
politik dan merebut kekuasaan politik. Biasanya dengan cara konstitusional untuk melaksanakan
kebijaksanaan mereka.Berbagai pengertian atau definisi dari partai politik menurut beberapa para
ahli, yaitu:
Carl J. Friedrich: Partai Politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil
dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan
partainya, berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang
bersifat idiil maupun materiil.
R. H. Soltau: Partai Politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir,
yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk
memilih. Bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka.
UU Partai Politik pasal 1 ayat 1 tahun 2008: Partai Politik adalah organisasi yang bersifat
nasional dan di bentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar
kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik
anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
George B. de Huszar dan Thomas H. Stevenson: adalah sekelmpok orang-rang yang
terorganisir untuk ikut serta mengendalikan suatu pemerintahan, agar dapat melaksanakan
programnya dan menempatkan anggota-anggotanya dalam jabatan.

C. Klasifikasi Partai Politik.
Klasifikasi partai dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jika dilihat dari segi komposisi
dan fungsi kenggotaannya, secara umum partai poltik dapat dibagi dalam dua jenis yaitu partai
masa dan partai kader. Partai masa mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah
anggota, oleh karena itu ia biasanya terdir dari pendukung pendukung dari berbagai aliran alira
politik dalam masyarakat yang sepakat untuk bernaung di bawahnya dalam memperjuangkan
suatu program yang biasanya luas dan agak kabur. Namun, kelemahan dari partai massa masing
masing aliran atau kelompok yang bernaung di bawah partai massa cenderung untuk
memaksakan kepentingan masing masing, terutama pada saat saat krisis, sehingga persatuan
dalam partai dapat menjadi lemah atau hilang sama sekali, hal itu menyebabkan salah satu
golongan memisahkan diri dan mendirikan partai baru. Sedangkan partai kader mementingkan
keketatan organisasi dan disiplin kerja dari anggotanya. Pimpinan partai biasanya menjaga
kemurnian doktrin politik yang dianut dengan jalan mengadakan saringan terhadap calon
anggotanya dan memecat anggota yang menyeleweng dari garis partai yang telah ditetapkan.
Klasifikasi lainnya dapat dilakukan dari segi sifat dan orientasi, secara umum dapat
dibagi dalam dua jenis yaitu partai lindungan dan partai ideology atau partai azas.
Partai lindungan biasanya memiliki organisasi nasional yang kendor, disiplin yang lemah
dan biasanya tidak terlalu mementingkan pemungutan iuran secara teratur. Sedangkan partai
ideology atau azas biasanya mempunyai pandangan hidup yang digariskan dalam kebijaksanaan
pimpinan dan berpedoman pada disiplin partai yang kuat dan mengikat.
Pembagian di atas sering dianggap kurang memuaskan karena dalam setiap partai ada
unsure lindungan serta pembagian rezeki di samping pandangan hidup tertentu. Oleh karena itu
Maurice Duverger dalam bukunya yang berjudul Political Parties, mengklasifikasikan partai
politik ke dalam tiga jenis, yaitu sistim partai tunggal, sistim dwi-partai dan sistim multi-partai.

a. Sistem Partai Tunggal.
Dalam sistem ini, hanya ada satu partai dalam suatu negara atau ada satu partai yang
mempunyai kedudukan dominan di antara beberapa partai lainnya untuk dapat menyalurkan
aspirasi rakyat. Sehingga aspirasi rakyat tidak dapat berkembang dengan baik. Segalanya
ditentukan oleh satu partai tanpa adanya campur tangan partai lain, baik sebagai saingan maupun
sebagai mitra. Partai tersebut tentunya adalah partai yang mengendalikan pemerintahan. Suasana
kepartaian dinamakan non-kompetitif karena partai- - partai yang ada harus menerima pimpinan
dari partai yang dominan dan tidak dibenarkan untuk saling bersaing secara merdeka melawan
partai itu. Contohnya adalah Partai Nazi di Jerman, Partai Fascis di Italia dan Partai Komunis di
Uni Soviet, RRC, Jerman.
Negara yang paling berhasil meniadakan negara negara lain ialah Uni Soviet, Partai
komunis Uni Soviet bekerja dalam suasana yang non-kompetitif. Tidak ada partai lain yang
boleh bersaing. Oposisi dianggap sebagai pengkhianatan.
b. Sistem Dwi-Partai
Dalam sistem ini diartikan adanya dua partai dalam suatu negara atau adanya dua partai yang
berperan dominan dari partai yang lain. Dalam sistem ini di bagi jelas antara partai yang
berkuasa dan partai oposisi. Partai yang kalah berperan sebagai pengecam utama tapi yang setia
terhadap kebijaksanaan partai yang duduk dalam pemerintahan, dengan pengertian bahwa
peranan ini sewaktu waktu dapat bertukar tangan. Dalam persaingan memenangkan pemilihan
umum kedua partai berusaha untuk merebut dukungan orang orang yang ada di tengah dua
partai dan yang sering dinamakan pemilih terapung.
Sistem dwi-partai dapat berjalan dengan baik apabila terpenuhi tiga syarat, yaitu komposisi
masyarakat homogeny, consensus dalam masyarakat mengenai azas dan tujuan sosial yang
pokok kuat, dan adanya kontinuitas sejarah. Contohnya adalah Partai Konservatif (Tory) dan
Partai Buruh di Inggris serta Partai Liberal dan Partai Buruh di Australia.
Inggris biasanya di kemukakan sebagai contoh yang paing ideal dalam menjalankan sistem
dwi-partai. Partai buruh dan Partai Konservatif boleh di katakan tidak mempunyai pandangan
yang banyak berbeda mengenai azas dan tujuan politik, dan perubahan pimpinan umumnya tidak
terlalu mengganggu kontinuitas dalam kebijaksanaan pemerintah. Perbedaan yang pokok hanya
berkisar pada caracara dan kecepatan melaksanakan beberapa program pembaharuan yang
menyangkut masalah sosial, perdagangan dan industri. Di samping kedua partai tadi ada
beberapa partai kecil lainnya, diantaranya yan paling penting adalah Partai Liberal. Kedudukan
partai ini relatif sedikit artinya dan baru terasa perannya jika kemenangan yang dicapai oleh
salah satu partai besar hanya tipis sekali, sehingga perlu diadakan koalisi dengan Partai Liberal.
c. Sistem Multi-Partai
Dalam sistem ini terdapat lebih dari dua partai. Ada negara yang mempunyai sampai 12
partai, walau umumnya berkisar antara 5 sampai 8 partai saja. Indonesia hanya memiliki tiga
orsospol. Negara lainnya yang menganut sistem multi partai adalah Jerman, Perancis, Jepang,
Malaysia.
Dalam sistem multi-partai, jika tidak ada partai yang meraih suara mayoritas, maka terpaksa
dibentuk pemerintahan koalisi. Penentuan suara mayoritas adalah setengah tambah satu, yaitu
bahwa sekurang kurangnya lebih dari separuh jumlah anggota parlemen.

D. Fungsi Partai Politik.
Sistem politik memiliki memiliki beberapa fungsi yang di laksanakan oleh partai politik
itu sendiri. Terdapat 7 fungsi yang menjadi pengendali dari sistem politik tersebut ketika
menjalankan sebuah tugas atau wewenangnya. Salah satu utama dari fungsi partai politik ialah
mencari dan mempertahankan kekuasaan seperti fungsi rekrutmen dan fungsi-fungsi lain yang
akan dijabarkan.
a) Sosisalisasi Politik.
Fungsi pertama yaitu fungsi sosialisasi politik. Yang dimaksud dengan sosialisasi politik
ialah proses pembentukan sikap dari diri politik masyarakat itu sendiri. Melalui proses sosialisasi
politik inilah para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan
politik yang berlangsung dalam masyarakat. Proses ini berlangsung seumur hidup mereka baik
secara sengaja dan tidak. Contoh dari yang tidak disengaja yaitu melalui pendidikan. Contoh dari
yang tidak disengaja itu melalui pengalaman sehari-hari baik dari keluarga atau pun dari warga
masyarakat sekitarnya..
Dari segi metode penyampaian pesan, sosialisasi politik dibagi dua, yakni pendidikan
politik dan indoktrinasi politik. Pendidikan politik merupakan suatu proses pembelajaran yang
diajarkan antara pemberi dan penerima pesan. Dalam proses ini, para anggota masyarakat
mempelajari dan lebih mengetahui tentang nilai-nilai, norma-norma, dan simbol-simbol politik
negaranya yang ada. Mulai dari pihak dalam sistem politik seperti sekolah, pemerintah, dan
partai politik. Cara yang dilakukan dalam proses ini seperti melalui kegiatan kursus, latihan
kepemimpinan, diskusi dan keikutsertaan dalam berbagai forum pertemuan.
Sedangkan indoktrinasi politik diartikan sebagai proses sepihak ketika penguasa
memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai, norma, dan simbol yang dianggap pihak
yang berkuasa sebagai sesuatu hal yang ideal dan baik. Cara yang dilakukan yaitu dengan
melalui kegiatan berbagai forum pengarahan yang penuh paksaan psikologis, dan latihan yang
penuh disiplin.
b) Rekrutmen Politik.
Rekrutmen politik ialah seleksi dan pemilihan umum atau seleksi dan pengangkatan
seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam system
politikpada umumnya dan pemerintahan pada khususnya. Dalam artian, fungsi ini adalah fungsi
untuk memilih seseorang yang benar-benar mengetahui atau ahli dalam menjalankan peranan
dan system politik di sebuah lembaga atau pemerintahan.
Partai politik merupakan partai tunggal dari sistem politik totaliter dimana partai ini
memiliki porsi besar. Porsi besar yang dimaksud yaitu partai politik memiliki suatu tugas atau
tanggung jawab yang dimiliki kepada seluruh partai yang ada di partai politik. Partai politik ini
merupakan partai mayoritas dalam badan perwakilan rakyat sehingga berwenang membentuk
pemrtintahan dalam system politik demokrasi.
Tujuan kedua dari fungsi rekrutmen adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan.
Selain itu,fungsi rekrutmen politik sangat penting bagi kelangsungan system politik sebab tanpa
elite yang mampu melaksanakan peranannya,kelangsungan hidup sistem politik akan terancam.
c) Partisipasi Politik.
Partisipasi Politik ialah kegiatan warga Negara biasa dalam memengaruhi proses
pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin
pemerintahanKegiatan yang di maksud, antara lain, mengajukan tuntutan, membayar pajak,
melaksanakan keputusan, mengajukan kritik kepada suatu kebijakan umum yang sudah dibuat
oleh pemerintah. Partai politik juga memiliki fungsi untuk membuka kesempatan, mendorong
dan mengajak para anggota dan anggota masyarakat lain untuk menggunakan partai politik
sebagai kegiatan mereka untuk memengaruhi suatu proses politik.
Jadi, partai politik dapat disebut sebagai wadah dalam partisipasi politik. Fungsi ini
memiliki porsi yang lebih tinggi dari sistem politik totaliter dalam partai politik, karena fungsi
ini lebih mengharapkan ketaatan dari warga daripada aktivitas warganya.
d) Pemadu Kepentingan.
Dalam masyarakat, terdapat sejumlah kepentingan yang berbeda dengan orang lain bahkan
acapkali bertentangan, seperti antara kehendak yang diinginkan seseorang dan kehendak yang
tidak diinginkan oleh orang lain, seperti mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan
kehendak untuk mendapatkan barang dan jasa dengan harga murah tetapi bermutu, antara
kehendak untuk mencapai dan mempertahankan pendidikan tinggi yang bermutu tinggi, tetapi
dengan jumlah penerimaan mahasiswa yang lebih sedikit dengan kehendak masyarakat untuk
menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, antara kehendak menciptakan dan memelihara
kestabilan politik dengan kehendak berbagai kelompok, seperti mahasiswa, intelektual, pers, dan
kelompok agama untuk berkumpul dan menyatakan pendapat secara bebas.
Fungsi pemadu kepentingan ini merupakan salah satu fungsi utama partai politik sebelum
fungsi rekrutmen yang mencari dan mempertahankan kekuasaan. Fungsi ini sangat menonjol
dalam system politik demokrasi. Karena dalam sistem politik totaliter, kepentingan dianggap
seragam jadi partai politik dalam sistem ini kurang melaksanakan fungsi pemadu kepentingan.
Alternatif kebijakan umum yang diperjuangkan oleh partai tunggal dalam sistem politik totaliter
lebih banyak merupakan tafsiran atas ideologi doktriner. Dalam sistem politik demokrasi,
ideologi digunakan sebagai cara memandang permasalahan dan perumusan penyelesaian
masalah dengan menggunakan konsep atau teori.
e) Komunikasi Politik.
Komunikasi politik ialah proses penyampaian informasi mengenai politik dari
pemerintahan kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada pemerintah. Disini partai politik
memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai komunikator politik. Funsi ini tidak hanya
menyampaikan segala keputusan pemerintah tetapi juga menjalankannya.
Dalam melaksanakan fungsi ini, partai politik tidak begitu saja menyampaikan segala
informasi yang disampaikan pemerintah kepada masyarakat atau dari masyarakat kepada
pemerintah. Tetapi partai politik memiliki cara sendiri agar masyarakat ataupun pemerintah
dapat memahami informasi dengan mudah. Partai politik menggunakan konsep dasar dari ilmu
komunuikasi dimana penerima informasi (komunikan) dapat dengan mudah memahami dan
memanfaatkan informasi tersebut.
Dengan kebijakan pemerintah ini segala aspirasi atau pendapat, keluhan dan tuntutan
masyarakat sudah dapat diterjemahkan dari bahasa teknis ke bahasa yang dapat dimengerti oleh
pemerintah sekarang ini. Jadi, proses komunikasi politik antara pemerintah dan masyarakat dapat
berlangsung secara efektif melalui partai politik.
f) Pengendalian Konflik.
Dalam arti luas konflik yang dimaksud dari fungsi ini, mulai dari perbedaan pendapat
sampai pada pertikaian fisik antar-individu atau kelompok dalam masyarakat. Dalam Negara
demokrasi, setiap warga Negara atau kelompok masyarakat berhak menyampaikan dan
memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya sehingga konflik merupakan gejala yang sukar.
Akan tetapi, suatu sistem politik hanya akan mentolerir atau menerima konflik yang tidak
mengancurkan dirinya sehingga permasalahannya tidak menjadi semakin menambah konflik
yang terjadi, melainkan mengendalikan konflik melalui lembaga demokrasi untuk mendapatkan
penyelesaian dalam bentuk keputusan politik.
Partai politik sebagai salah satu lembaga demokrasi berfungsi untuk mengendalikan
konflik melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan
memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik yang kemudian
permasalahan ini dibawa ke dalam cara musyawarah badan perwakilan rakyat untuk
mendapatkan penyelesaian berupa keputusan secara politik. Untuk mencapai penyelesaian
berupa keputusan politik itu, diperlukan kesediaan berkompromi antara para wakil rakyat, yang
berasal dari partai-partai politik. Apabila partai-partai politik keberatan untuk mengadakan
kompromi, atau bahkan tidak mengikuti cara musyawarah yang ditetapkan berarti partai politik
bukan mengendalikan konflik, melainkan menciptakan konflik dalam masyarakat tersebut.
g) Kontrol Politik.
Kontrol politik ialah kegiatan untuk menunjukan kesalahan, kelemahan, dan
penyimpangan dalam isi suatu kebijakan atau dalam pelaksanaan kebijakan yang dibuat dan
dilaksanakan oleh pemerintah. Kebijakan pelaksanaan yang dibuat dan dilaksanakan oleh
pemerintah. Dalam melakukan suatu kontrol politik atau pengawasan yang pertama dilakukan
yaitu adanya tolak ukur yang jelas sehingga kegiatan itu bersifat objektif.
Tolak ukur dalam fungsi kontrol politik ini berupa nilai-nilai dan norma politik yang
dianggap ideal dan baik. Kemudian dijabarkan ke dalam berbagai kebijakan atau peraturan
perundang-undangan. Selain itu, tujuan kontrol politik adalah meluruskan kebijakan atau
pelaksanaan kebijakan yang menyimpang dan memperbaiki yang keliru sehingga kebijakan dan
pelaksanaannya sejalan dengan tolak ukur tersebut. Fungsi kontrol ini merupakan salah satu
mekanisme politik dalam sistem politik demokrasi umtuk memperbaiki dan memperbaharui
dirinya secara terus-menerus.
Jika fungsi kontrol politik tersebut dilaksanakan maka partai politik harus menggunakan
tolak ukur. Sebab tolak ukur merupakan kesepakatan bersama yang menjadi landasan atau
pegangan bersama.
Berdasarkan fakta, tidak semua fungsi partai politik dilaksanakan dalam porsi besar dan
tingkat keberhasilan yang sama. Tetapi semua fungsi dijalankan sesuai kepada sistem politik itu
sendiri yang menjadi faktor yang melingkupi partai politik tersebut, tetapi juga ditentukan oleh
faktor lain. Di antaranya yaitu berupa dukungan atau semangat yang diberikan anggota
masyarakat terhadap partai politiknya.
Menurut pasal 11 ayat 1 dalam Undang-Undang Partai Politik.
Partai Politik berfungsi sebagai sarana:
1) Pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang
sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
2) Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk
kesejahteraan masyarakat.
3) Penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan
menetapkan kebijakan negara.
4) Partisipasi politik warga negara Indonesia; dan
5) Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan
memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.



E. Tugas Parta Politik
Dalam negara yang berpaham demokrasi, dimana masyarakatnya merupakan masyarakat yang
heterogen, partai politik mempunyai beberapa tugas, di antaranya yaitu:
1. Tugas pokok partai politik yaitu untuk menjadi penghubung antara rakyat dan
pemerintah. Partai politik mengatur kemauan yang berbeda-beda dari rakyat dalam
masyarakat, di samping itu juga menyalurkan keinginan-keinginan tersebut sedemikian
rupa sehingga dapat mengurangi kesimpang-siuran pendapat di dalam suatu masyaraka,
karena pendapat serta keinginan tiap-tiap individu atau orang ataupun kelompok orang
dalam masyarakat modern adalah sama sekali tidak berarti jika tidak diatur dan
dirumuskan bersama-sama dengan pendapat serta kenginan orang lain yang sehapan dan
sealiran. Partai politik bertugas untuk menampung semua pendapat dan keingina rakyat
atau khalayak ramai kemudian langkah berikutnya ialah memilihnya dan merumuskannya
serta menyerahkannya kepada pemerintah untuk dapat dijadikan program poltik yang
akan diperjuangkan semaksimal mungkin.
2. Partai politik juga mempunyai tugas untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan atau ide-
ide yang tersimpul di dalam recana kebijakan pemerintah.
3. Partai politik mempunyai tugas mendidik para warga negara menjadi rang yang sadar
akan tanggung jawabnya sebagai warga negara.
4. Partai politik mempunyai tugas untuk menumbuhkan dan memupuk kesadaran akan
loyalitas nasional.
5. Demikian juga partai politik mempunyai tugas untuk mencari dan mengajak ikut serta
mereka yang kelihatan dan dianggap berbakat dan mampu untuk ikut serta dan aktif
dalam lapangan kegatan politik dan mendidik mereka untuk menjadi kader pemmpin.
6. Tugas yang lain dari partai plitik yaitu mengatur pertikaian. Partai politik membantu
merumuskan konflik-konflik dan selanjutnya berusaha untuk mengatasi konflik-konflik
tersebut serta mencari penyelesaiannya.

F. Organisasi Partai
Maurice Duverger dalam Plitical Parties membedakan organisas partai menjadi:
1. Organisasi yang horizontal
2. Organisasi yang vertical
Mengenai organisasi yang horiznta, pembagian in berdasarkan siapa yang menjadi
anggta-anggotanya. Organisasi yang vertical, yaitu melihat pada satuan-satuan yang merupakan
basis dari kehidupan dan kegiatan partai itu; tersusun hrarkis ke atas, keseluruhannya merupakan
mesin partai.
1. Susunan yang horizontal
Dalam susunan yang horizontal ini dapat dibedakan antara:
a. Direct parties= partai langsung
Dalam partai langsung, anggota-anggotanya adalah perorangan atau individu. Jad
beranggotakan langsung orang.
b. Indirect parties= partai tidak langsung
Berkeanggotaan tidak langsung. Anggota dari partai ini adalah kolektif atau group
sebgai suatu keseluruhan, masuk dalam suatu partai. Di dalam bentuknya yang
murni partai ini tidak mempunyai anggota rang atau individu, tetapi menghimpun
satuan organsasi yang sudah ada.
2. Susunan yang vertical
Satuan dasar dari susunan ini merupakan elemen dasar. Empat macam elemn dasar
yaitu:
1. Caucus
2. Branch
3. Cell
4. Militia
1) Caucus
Adalah suatu satuan dasar dari suatu partai yang terdiri atas segolongan kecil orang
merupakan suatu susunan yang tertutup artinya: orang tidak mudah untuk masuk di
dalamnya dengan melalui seleksi yang diadakan oleh anggota-anggotanya yang telah
ada, karena pengaruhnya. Orang yang bergabung dengan caucus diharapkan
dapatmembantu memenangkan pemilihan. Organisasi caucus bersifat semi permanen.
Kegiatannya berlangsung musiman, sedangkan puncaknya ketika pemilihan. Caucus
debedakan menjadi dua yaitu:
1. Caucus langsung = direct caucus
2. Caucus tidak langsung = indirect caucus
1. Caucus langsung
Dalam caucus langsung anggota-anggotanya terdiri dari kaun elite middle
class. Beranggotakan orang yang tidak mewakili golongan. Mereka itu
dipilih untuk menjadi anggota caucus yang bersangkutan, ialah karena
pengaruh dan kualitas individu mereka.
2. Caucus tidak langsung
Dalam caucus yang tidak langsung ini anggota-anggotanya adalah wakil-
wakil yang ditunjuk oleh kolektifa anggota partai itu.
2) Branch
Elemen dasar dari organisasi partai yang kedua yaitu branch. Perbedaan antara caucus
dengan branch, terdapat dalam unsure-unsure sebagai berikut:
a. Caucus adalah suatu satuan dasar yang lebih didesentralisasi, dapat
hidup sendiri di luar keseluruhan partai, tidak dapat berdiri sendiri
tanpa partai, sehingga kalau dibandingkan dengan caucus, maka
branch kurang mendapatkan desentralisasi.
b. Caucus: merupakan satuan yang tertutup.
Branch : sebaliknya merupakan satuan yang terbuka, bahkan justru
selalu berusaha menambah dan memperluas anggotanya.
c. Caucus: tidak mempunyai organisasi administrasi yang permanen.
Branch: kebalikan dari caucus, branch mempunyai administrasi yang
lebih sempurna dan permanen. Ini disebabkan karena branch
mempunyai jumlah anggota yang jauh lebih banyak, jika dibandingkan
dengan caucus.
3) Cell
Merupakan satuan dasar dari suatu parta. Perbedaan antara cell dan branch yang
terpenting yaitu terletak pada dasar kelompok dan jumlah anggota.
Pada Branch, seperti halnya dengan caucus, mempunyai dasar local, lebih sempit
daripada caucus, tetapi masih bersifat geogrfi. Jadi dapat dikatakan caucus dan branch
dasar pembentukannya adalah geograf. Sebaliknya cell, dasar pembentuknnya bukan
lingkungan geografi, tetapi lingukan-lingkungan pekerjan (occupational basis), yaitu
menghimpun orang-orang yang bekerja pada satu tempat yang sama, jadi tempat
tinggal para anggota tidak penting. Pada branch, jumlah anggotanya lebih besar. Tiap-
tiap distrik mempunyi anggota lebih dari seratus. Kadang-kadang beberapa ratus dan
bahkan jumlah anggota sampai beberapa ribu. Oleh karena itu pada branch tidak ada
hubungan yang erat antara warga anggotanya, demikian juga hubungan antara
pemimpin-pemimpin dan para anggotanya.
Pada cell, merupakan kabalikan branch. Jumlah naggota tiap distrik tidak pernah
mencapai sratus. Biasanya cell-cell ini jumlah anggotanya sekitar 50 sampai 60
orang. Tetapi, cell yang ideal, malahan anggotanya lebih sedikit yaitu antara 15-20
orang saja. Terdapat hubungan yang tetap dan erat antara anggota-anggotanya,
demikian juga antara pemimpin dan anggota serta rasa solidaritas partai lebih kuat
dirasakan.
4) Militia
Militia adalah semacam tentara partai (private army) yaitu sesuatu lascar yang
diorganisasikan secara hierarkis seperti di dalam ketentaraan jadi terdapat pembagian
kelompok secara regu, battalion dan sebagainya. Para anggotanya dibebani suatu
disiplin yang keras dengan latihan-latihan ketentaraan, juga dberi pakaian seragam
tertentu. Organisasi ini bukan anggota-anggota militia setiap hari harus melakukan
tugas-tugas militia seprti tantara, akan tetapi, tugasnya hanya berkala saja. Para warga
anggota militia dibagi menjadi dua kategori:
1. Golongan yang aktif
2. Golongan yang pasif (reserve=cadangan)
Dapat diambil contoh selama zaman Hitler, golongan militia yang aktif harus
mengadakan serangkaian latihan tiga atau empat kali dalam seminggu dan hampir
tap-tiap hari minggu berbaris keperluan propaganda atau untuk pertemuan-
pertemuan partai. Sebaliknya golongan militia yang berumur antara 35 tahun ke
atas dimasukkan dalam golongan cafangan atau golongn pasif. Terhadap mereka
ini diberi tugas dan disiplin yang agak ringan yaitu tidak seberat mereka yang
dimasukkan dalam golongan aktif. Partai nazi dan partai Fascis di samping
mempunyai dasar militia sebagai unsure dasar, masih mempunyai pula cell-cell
meskipun cell-cell ini mempunyai tugas yang sekunder.











BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan.


Partai politik merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan
kahidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab.Dengan
kondisi Partai Politik yang sehat dan fungsional, maka memungkinkan untuk melaksanakan
rekrutmen pemimpin atau proses pengkaderan, pendidikan politik dan kontrol sosial yang sehat.
Dengan Partai Politik pula, konflik dan konsensus dapat tercapai guna mendewasakan
masyarakat. Konflik yang tercipta tidak lantas dijadikan alasan untuk memecah belah partai, tapi
konflik yang timbul dicarikan konsensus guna menciptakan partai yang sehat dan fungsional
Menumbuhkan Partai Politik yang sehat dan fungsional memang bukan perkara mudah.
Diperlukan sebuah landasan yang kuat untuk menciptakan Partai Politik yang benar-benar
berfungsi sebagai alat artikulasi masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik-cet. Ke-26. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2004.
Rudy, Teuku May. Pengantar Ilmu Politik-cet. pertama. Bandung: Eresco, 1993
Sanit, Arbi. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik-cet. ketujuh. Jakarta: Grasindo, 2010.
Syafiie, Inu Kencana. Ilmu Politik-cet. pertama. Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Undang-Undang Partai Politik & Perubahannya (2011).