Anda di halaman 1dari 14

Faktor Sukses Implementasi E-Government

Oleh: Mas Wigrantoro Roes Setiyadi


Country Advocate GIPI – IMLPC

Pengantar
Pada akhirnya, sebagaimana sudah terjadi di banyak negara, Internet masuk dan merasuki
pemerintahan. Bila sebelumnya hanya digunakan untuk sarana penelitian dan komunikasi
antar-peneliti di lingkungan perguruan tinggi, setelah Internet dikomersialkan, tak pelak
ia mampu menjadi “perubah besar” dalam berbagai aspek kehidupan manusia termasuk
tata laksana pemerintahan.

Jauh sebelum munculnya Internet, sudah banyak institusi pemerintah di Indonesia yang
menggunakan Sistem Informasi (SI) bagi menunjang operasional masing – masing.
Namun SI ini masih berupa pulau – pulau yang terpisah satu dengan lainnya, relatif tidak
ada keterhubungan dan ketersesuaian, bahkan di satu departemen sekalipun. Sebagian
besar SI ini masih berorientasi ke dalam, artinya hanya untuk memenuhi kepentingan
internal organsaisi saja. Penggunaan SI untuk pelayanan publik masih belum lazim,
bukan saja disebabkan oleh belum tersedianya teknologi yang mudah dan murah untuk
pelayanan publik, namun adanya permasalahan lain yang menghambat seperti tatanan
peraturan dan perundangan yang belum mendukung adanya pelayanan publik melalui
media online.

Munculnya gelombang reformasi dan makin matangnya teknologi Internet seolah


menjadi pemecah kebekuan yang selama ini tak tergoyahkan. Masyarakat membicarakan
e-government. Sebagian aparat pemerintah menunjukkan itikad dan antusiasmenya
terhadap e-govt yang dipercaya akan menjadi “wajah” pemerintahan di era milenium. Di
balik semua itu ada terkandung berbagai masalah yang bila tidak dibenahi, akan
mengurangi manfaat dari e-govt, atau bahkan tidak akan menambah kesejahteraan
masyarakat meski sumber daya sudah banyak dikerahkan.

Paper ini dimaksudkan sebagai masukan dan pemikiran dalam memahami faktor – faktor
penghambat maupun pendukung dalam upaya mensukseskan implementasi e-govt. Faktor
– faktor ini tidak hanya yang bersifat teknis semata, namun juga yang non-teknis dan
strategis. Pada bagian pertama akan diuraikan permasalahan yang berkenaan dengan
implementasi e-govt dalam tataran makro dan mikro, Untuk memperoleh gambaran
implementasi dan harapan, disajikan fakta di negara – negara lain beserta komentar dari
berbagai pihak mengenai e-govt.

Pola pikir yang melandasi implementasi e-govt dicoba didekati dalam konteks Indonesia,
dari sinilah kemudain muncul berbagai faktor penghambat dan pendorong. Pada bagian
akhir penulis menyampaikan tantangan yang akan dihadapi ke depan berkaitan dengan
tata laksana pemerintahan dan posisi relatif e-government. Menutup paper ini penulis
menyampaikan kesimpulan dan saran dengan harapan dapat bermanfaat dalam loka karya
ini, maupun bagi masyarakat Indonesia.

25028932.doc Page 1 of 14
Permasalahan
Telematika di Indonesia sedang menghadapi dua fenomena secara bersamaaan.
Fenomena pertama, anak ayam mencari sangkar dan induk. Sejak belum terjadi
perubahan pemerintahan, Telematika tidak memiliki “sangkar” yang permanen dan
“induk” yang dapat dijadikan panutan. Ketika sangkar telah dibentuk, ternyata masih
menyisakan masalah baru karena tidak semua bersedia dimasukan ke dalam sangkar
tersebut. Sementara induk semang yang lama sudah pindah dan induk yang baru tidak
tahu kalau punya anak – anak yang mesti diasuh. Dapat dibayangkan bagaimana
susahnya anak ayam ini dapat tumbuh berkembang karena tiada rumah dan tiada
pemimpin yang dapat dijadikan lokomotif di depan.

Kedua, fenomena sekelompok orang buta yang mengamati gajah sedang terjadi di
Indonesia. E-government yang sedang menjadi buzzword bagi sementara pihak
belakangan ini “didekati” oleh berbagai pihak dengan bermacam konsep pemikiran dan
pendekatan. Di satu sisi, ada pihak yang telah lama berkecimpung dalam bidang
Teknologi Informasi (TI) dan telah berhasil membangun sistem informasi di berbagai
instansi pemerintah melihat e-govt tidak lebih dari sekedar membangun aplikasi sistem
informasi yang dapat diakses publik melalui media Internet. Sementara itu ada pendapat
lain yang berpendadapat bahwa e-govt adalah menampilkan informasi pemerintahan di
Internet dan selanjutnya melakukan pelayanan publik melalui media yang sama.
Menambahi pendapat ini, seorang praktisi pemerintahan menyatakan bahwa e-govt
adalah memberi nilai tambah bagi pelayanan pemerintah yang selama ini sudah
berlangsung. Namun ada juga sementara pihak yang berpendapat, e-govt tidak sekedar
tampil di Internet. E-govt bagi kelompok ini adalah perubahan radikal di dalam sistem
dan tata laksana pemerintahan yang menuntut teladan kepemimpian, kesediaan merubah
paradigma, berani bertindak transparan, dan semua itu bukan sekedar untuk melayani
kepentingan publik semata, tetapi mencakup kepentingan yang lebih luas yaitu sebagai
bagian dari sistem pemerintahan yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat.

Perbedaan cara pandang ini sah – sah saja bila masih dalam tataran wacana. Akan
menjadi masalah besar bila di antara berbagai pihak yang berkepentingan dengan
pemerintahan tidak terjalin keharmonisan pemahaman tentang e-govt sehingga pada
tataran berikutnya dapat memunculkan implementasi e-govt yang tidak dapat saling
berbicara satu dengan lainnya. Bila sudah demikian, yang akan muncul adalah inefisiensi
dan kesia-siaan penggunaan teknologi yang semestinya bisa memakmurkan masyarakat.

Pola pikir sektoral yang hanya melihat kepentingan sendiri dalam membangun e-govt
juga akan menjadi potensi masalah bila tidak ada koordinasi antar-berbagai institusi
pemerintah. Pembenaran atas pemikiran dan langkah dalam implementasi e-govt sesuai
dengan selera masing – masing tanpa mengindahkan pentingnya berpikir dan bertindak
secara komprehensif akan menimbulkan potensi fragmentasi implementasi e-govt.
Demikain pula kepentingan sekelompok pihak agar produknya dipakai, tanpa
memperhatikan standar teknis yang menjamin kompatibilitas dan harmonisasi dengan
Sistem Informasi Nasional akan menciptakan kesia- siaan baru.

25028932.doc Page 2 of 14
3. Fakta dan Pendapat
Beberapa negara sudah mulai menerapkan e-govt, demikian pula ada beberapa
pemerintah daerah yang meng-klaim dirinya sebagai telah melaksanakan e-govt. Untuk
memperoleh gambaran mengenai apa yang sudah dikerjakan dan yang diharapkan oleh
berbagai kalangan tentang e-govt di bawah ini disajikan fakta dari beberapa negara lain
dan pendapat dari berbagai pihak

Singapura
Pemerintah merumuskan visi e-govt “to be a leading e-government to better serve the
nation in the Digital Economy”. Selanjutnya visi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

The Singapore Public Service faces the challenge of re-inventing government in the
Digital Economy. This transformation of government and governance cuts across all
aspects of the public sector from leadership, delivery of electronic public services,
internal government operations, and ultimately economic competitiveness. It
requires the establishment of an e-Government, one which recognises the impact of
infocomm technologies on governance in the Digital Economy and exploits these
technologies in the workplace and in internal processes for the delivery of citizen-
centric public services.

Kunci sukses Singapura dalam implementasi e-govt sebagaimana dinyatakan dalam visi
pemerintah adalah komitmen pemimpin nasional yang disertai dengan sasaran yang

25028932.doc Page 3 of 14
hendak dicapai dan strategi untuk melakukan kaji ulang tata laksana pemerintahan
(reinventing the government), kejelasan jenis pelayanan publik secara online yang akan
dilaksanakan, serta kesiapan masyarakatnya untuk menyambut e-govt.

Amerika Serikat
Presiden menetapkan bahwa e-govt merupakan salah satu elemen untuk mengukur
kinerja pemerintah, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Clinton, pada tahun 1998.

Electronic government is one of the five key elements in the President's Management
and Performance Plan. Our approach, modeled on the best practices of the private
sector, is to tap into that knowledge and use it to identify applications of Internet
technologies to reform the way our organizations do business.

Amerika Serikat sebagai negara pengguna Internet pertama kali, mempelopori e-


government yang diaplikasikan dalam pelayanan kepada individu, kalangan bisnis,
hubungan antar-lembaga pemerintahan, serta sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan efisiensi dan effektivitas internal organisasi. Komitmen dan perintah
Presiden yang ditindak –lanjuti dengan pembentukan satuan tugas dan didukung dengan
tersedianya sumber daya merupakan kunci sukses implementasi e-govt di Amerika
Serikat.

25028932.doc Page 4 of 14
Philippines
Seorang pejabat pemerintah menyatakan:
The government has embarked on a computerization program for fast-track
development and implementation of information systems for government frontline
services such as civil, vehicle, land registration, licensing, health and other social
services. Electronic governance is a goal intended to be achieved by the creation of
RPWEB by virtue of Administrative Order. No. 332, requiring the interconnection of
all government offices and units, continues to be implemented. The Bureau of
Internal Revenue is almost fully computerized, while other agencies such as the
Bureau of Customs are gearing up as well for computerization. Computerization of
these agencies is expected not only to increase efficiency in service, but more
importantly, to enhance revenues and reduce graft and corruption.

Penjelasan di atas mendapat tanggapan dari kalangan bisnis sebagai berikut:


Having efficient government systems in the Philippines has seemingly become an
impossible dream. Slow processing of papers, red tape and disorganized process are
just a few of the so many realities that turn off foreign and local investors. Will the
new e-commerce system called B2G heal these maladies in the government?

Seorang akademisi dengan netral menyatakan:


At present, there are already existing government systems that service some of the
needs of the business community. Most of them have already created presence on the
Internet they already have Web sites. Although the services are still limited, there are
already provisions of additional services in the future.

E-government di Philippines masih dalam tahap mencari format, tidak berbeda


kondisinya dengan Indonesia dan Thailand. Meski sudah banyak upaya yang dilakukan
untuk mengembangkan aplikasi Internet termasuk e-commerce dan e-government namun
Pemerintah di kedua negara ini belum membuat kebijakan nasional yang dijadikan acuan
bagi pengembangan e-government.

Korea
Upaya komputerisasi instansi pemerintah sudah cukup lama dikerjakan oleh Korea,
namun baru pada tahun 1998 Ministry of Government Administration and Home Affairs
(MOGAHA) menetapkan visi dan strategi e-government. Sebagaimana dinyatakan oleh
pemerintah sebagai berikut:
We aim to make a knowledge-based government which delivers high quality service
and does best work through IT based office innovation. Thus government will : (1)
Deliver one-stop service to every citizen any time, anywhere; (2) Do better work than
the private sector; and (3) Be transparent and customer-friendly.

Visi ini selanjutnya diikuti dengan strategi pengembangan yang meliputi tiga tahap:
The first stage (1998-1999) is the arrangement period for an electronic government:
• Connecting government departments and administrations with the intranet
• Undertaking pilot projects
• Sharing key public data, etc

25028932.doc Page 5 of 14
The second stage (2000-2001) is the construction period for integrated information:
• Connecting central and local governments with a network
• Exchanging electronic documents among the central and local governments
• Giving the public servants e-mail addresses, etc.

The third stage (2002) is the operation period of the electronic government:
• Exchanging electronic documents between the public sector and the private
sector
• Constructing open and transparent governments
• Supporting CEO to make policy, etc.

Kunci sukses implementasi e-govt di Korea, selain adanya komimen dari pemimpin
nasional, juga adanya kejelasan visi, strategi, dan sasaran yang ingin dicapai. Selain itu
keterbukaan dan kemauan untuk merubah tata kerja pemerintah yang disertai koordinasi
antar instansi pemerintah juga mendukung suksesnya implementasi e-govt.

Kemajuan di Dalam Negeri


Sementara di pemerintah pusat kita masih mencari bentuk dan berkutat dengan masalah
koordinasi dan penyamaan persepsi, beberapa pemerintah kabupaten dan kota telah
berinisiatif membangun portal dan menyatakan telah mulai menerapkan e-government di
lingkungan pemda masing - masing. Salah satunya adalah pemerintah daerah kabupaten
Takalar. Bila disimak dari tampilan yang ada, e-govt di pemda Takalar ini dimaksudkan
untuk pelayanan publik satu atap seperti pembuatan SIM, KTP, IMB, Akta Catatan Sipil
dan lain – lain yang nota bene merupakan hak warga negara untuk memperoleh dan
memilikinya. Setidaknya hingga saat ini belum ada survei yang menunjukkan apakah “e-
govt” yang dibangun beberapa pemerintah daerah tersebut sudah memenuhi kebutuhan
dan dapat berjalan sesuai dengan keinginan sebagaimana ketika direncanakan.

Komentar Dari Dalam Negeri


Khudori, pengamat ekonomi dan agribisnis, alumnus Fakultas Pertanian Universitas
Jember, dalam situs http://www.lppm.ac.id/majalah/sep-2001/otonomi.htm memberi
komentar:
“Salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah daerah di Indonesia dalam
memper-cepat penerapan e-Government, adalah perubahan budaya kerja bagi
karyawan kantor pemerintah. Kecepatan pelayanan akan secara transparan terlihat
bagi anggota masyarakat.”

Sementara itu Menteri Negara Komunikasi dan Informasi dalam pidato pembukaan ICT
Week di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 2001 memberi komentar tentang e-government:
“Tidak bisa saling menunggu. Walaupun ada sejumlah perbedaan, dengan teknologi
semua itu pasti bisa disatukan.”

Arvino Mudjiarto, Manajer IBM, sebagaimana dikutip dalam sebuah portal menyatakan:
“E-government tidak harus berbiaya mahal dan dimulai dengan sesuatu yang besar,
e-government bisa dimulai dari yang paling sederhana."

25028932.doc Page 6 of 14
4. Landasan Pemikiran
Stiglitz (2000) menyatakan bahwa yang membedakan pemerintah dari swasta adalah
legitimasi dan hak untuk menetapkan peraturan yang juga mengatur swasta. Pemerintah
memiliki hak untuk menetapkan dan memaksa warga negara untuk membayar pajak,
meminta untuk melaksanakan wajib militer, dan lain sebagainya yang bersifat paksaan.
Namun di sisi lain pemerintah juga memiliki kewajiban mensejahterakan masyarakat
dengan dana yang dihimpun dari pajak masyarakat. Segala daya dan upaya harus
dilakukan pemeritah agar rakyat yang memberi kepercayaan kepada mereka dapat
menikmati kemakmuran.itulah ciri suatu negara yang demokratis.

Amanah rakyat ini tertuang dalam konstitusi maupun produk – produk hukum di
bawahnya sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Dasar 1945 (UUD 45), dan
Garis – garis Besar Haluan Negara (GBHN). UUD 45 (yang telah diamandemen) Pasal
28F menyatakan:
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah,dan menyampaikan informasi dengan menggunakan
segaa jenis saluran yang tersedia.

Ketetapan MPR-RI Nomor V/MPR/2000 tentang Pemantapan Persatuan Dan Kesatuan


Nasional mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penyeleggaraan pemerintahan

25028932.doc Page 7 of 14
di masa lalu dengan menyatakan bahwa penyalah gunaan kekuasaan sebagai akibat dari
lemahnya fungsi pengawasan oleh internal pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat,
serta terbatasnya pengawasan oleh masyarakat dan media massa pada masa lampau, telah
menjadikan transpransi dan pertanggung-jawaban pemerintah untuk menyelenggarakan
pemerintahan yang bersih dan bertanggung – jawab tidak terlaksana. Akibatnya,
kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara negara menjadi berkurang. Bila kita
konsisten dengan tujuan berbangsa dan bernegara, kondisi yang diperlukan untuk
memperbaiki keadaan ini adalah pulihnya kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara
negara dan antar sesama masyarakat sehingga dapat menjadi landasan untuk kerukunan
dalam hidup bernegara. Arah kebijakan yang perlu disiapkan dalam mengatasi masalah
ini mencakup dan tidak terbatas pada upaya meningkatkan integritas, profesionalisme,
dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan negara, serta memberdayakan masyarakat
untuk melakukan kontrol secara konstruktif dan efektif.

Arah kebijakan yang dinyatakan dalam Ketetapan MPR ini pada tataran berikutnya
diterjemahkan oleh Instruksi Presiden Nomor 6/2001 tentang Pedoman Pendaya – gunaan
Teknologi Telematika di Indonesia melalui perlunya Indonesia melaksanakan prinsip
good governance dalam pelaksanaan pemerintahan. Implementasi online government
sebagaimana diamanatkan dalam Inpres 6/2001 diwujudkan menggunakan alat bantu
teknologi telematika yang selanjutnya disebut e-government.

5. Faktor Dominan
Suksesnya implementasi e-govt di suatu pemerintah dipengaruhi oleh berbagai faktor,
baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Garnham (2000) memperkirakan faktor non
teknis seperti adanya visi, misi, sasaran dan strategi yang dinyatakan dengan jelas dan
dilaksanakan dengan dukungan penuh dari para pemimpin nasional lebih dominan dalam
mempengaruhi keberhasilan e-govt dari pada faktor teknis. Hal ini dapat dimaklumi,
karena pada dasarnya dalam faktor teknis kita berhubungan dengan alat yang bersifat
statis, sementara dalam faktor non-teknis kita lebih banyak berhubungan dengan manusia
yang memiliki berbagai karakter dan latar belakang kepentingan yang berbeda.

Definisi
Moh. Nazir, PhD dalam Metode Penelitian (1988), menganjurkan agar dalam memulai
suatu kajian diawali dengan menetapkan definisi. Dari definisi ini akan terkuak ruang
lingkup yang terkandung di dalam permasalahan yang dibahas, serta hal – hal apa saja
yang diperlukan dalam penetapan langkah berikutnya.

World Bank
E-Government refers to the use by government agencies of information technologies
(such as Wide Area Networks, the Internet, and mobile computing) that have the
ability to transform relations with citizens, businesses, and other arms of government.
These technologies can serve a variety of different ends: better delivery of
government services to citizens, improved interactions with business and industry,
citizen empowerment through access to information, or more efficient government

25028932.doc Page 8 of 14
management. The resulting benefits can be less corruption, increased transparency,
greater convenience, revenue growth, and/or cost reductions.
Bozz Allen Hamilton
Government online is the use of information and communication technologies (ICT)
for government operations and the delivery of public services in a more convenient,
customer-oriented and cost effective way.

Australia
Pemerintah Australia mendefinisikan e-government melalui lima tujuan yang ingin
dicapai:
• Government Online aims to extend the benefits of the information revolution
currently being experienced by individuals, communities and businesses in their
dealings with each other to their dealings with government.
• Government Online has as its objective an environment where virtually all
government services are available around the clock to anyone
• Government Online has as its objective a complete range of high quality, low cost
online services.
• Government Online has as its objective tailored services that are easy to use and
allow people to interact with Government in a way which is natural to them.
• Government Online has as its objective bringing government closer to people to
encourage people to interact with government

Janet Caldow, Director, Institute for Electronic Government, IBM Corporation


mengingatkan bahwa definisi e-govt yang terlalu sempit, seperti “simply moving services
online” dalam jangka panjang akan mengurangi keunggulan bersaing atau dalam kata
lain mengurangi bobot pemerintah. Sebagaimana kita ketahui tugas pemerintah bukan
hanya sebagai institusi penerbit ijin, namun ada tugas yang lebih besar yaitu
mensejahterakan masyarakat. Sebaliknya, definisi e-govt yang terlalu melebar, dapat
mengakibatkan kesulitan tersendiri bagi pemerintah untuk melaksanakannya.
Implementasi e-govt membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar, bila batasan dan
ukuran keberhasilan tidak dinyatakan secara spesifik, besar kemungkinan yang akan
terjadi adalah aktivitas yang hanya memboroskan biaya saja.

Usulan Definisi
Mengacu pada definisi di atas dan melihat tujuan pembangunan Indonesia sebagaimana
diamanatkan dalam konstitusi, GBHN, dan peratusan perundangan di bawahnya, dirasa
perlu untuk mengalang harmonisasi dan persepsi mengenai definisi e-government. Lebih
jauh setelah tercapai kesepakatan mengenai definisi, langkah selanjutnya adalah
mencapai kesepakatan mengenai visi, misi, sasaran dan strategi nasional dalam
pembangunan e-government ini.

Penulis berinisiatif untuk mengajukan usulan definisi dari e-government sebagai berikut:
Dalam konteks makro, e-government mencakup penggunaan Telematika (ICT) secara
efektif dan efisien guna menunjang pelaksanaan tugas dan tata laksana pemerintah
dalam misinya sebagai pengemban amanat menuju masyarakat demokratis, adil,
makmur dan sejahtera.

25028932.doc Page 9 of 14
Dalam konteks mikro, e-government adalah pelayanan publik yang dilaksanakan
oleh semua instansi pemerintah yang terkoordinasi satu dengan lainnya secara
optimal dengan menggunakan teknologi telematika.

Implikasi
Dari definisi di atas tersirat bahwa e-government tidak dapat dipandang secara linier satu
dimensi saja, melainkan harus dilihat sebagai aspek yang multi dimensi, dan melibatkan
berbagai pelaku (multi players) dengan berbagai kepetingan di dalamnya. Dimensi
tersebut antara lain, namun tidak terbatas pada: teknologi, ekonomi, sosial, organisasi,
politik, dan budaya.

Simon Kuznet (1971) membuktikan bahwa teknologi berperan besar dalam upaya
memperbaiki kuantitas dan kualitas output ekonomi yang ditunjukkan dengan
peningkatan pendapatan per capita. Pengembangan pengetahuan dan penggunaan
teknologi pada gilirannya akan berdampak pada dua hal: makin matangnya teknologi
tersebut serta terjadinya peningkatan kemampuan manajemen dan organisasi dalam
menghadapi tantangan (Samantha, 2000). Pada bagian lain, Fukuyama (1999)
meyakinkan kita bahwa pada akhirnya teknologi informasi akan mendorong tercapainya
freedom and equality. Teknologi Informasi khususnya Internet, demikian kata Fukuyama,
mengantarkan setiap individu untuk bebas menentukan pilihannya sesuai dengan selera
dan kemampuan ekonominya. Hirarki menjadi kian datar (flat), baik itu di dalam area
politik, pemerintahan, maupun perusahaan. Sebagai akibatnya, birokrasi yang di masa
lalu bersifat kaku dan memaksa, dan cenderung merasa sebagai penguasa, ketika era
ekonomi baru yang berbasis pada teknologi informasi menjadi semakin nyata, akan
segera tertinggal dan tidak berdaya bila tidak segera merubah dirinya. Tolok ukur
kesejahteraan berubah dari parameter lama. Satuan kesejahteraan tidak lagi ditetapkan
menggunakan GDP atau income per capita, namun pada berapa besar setiap individu
mengkonsumsi bandwidth dalam dunia nyata dan cyber yang saling terpilin satu dengan
lainnya.

Perubahan budaya sangat mungkin terjadi meski kecepatannya berbeda satu daerah
dengan lainnya. Kelompok masyarakat yang sudah mulai akrab dengan teknologi,
menuntut efisiensi dan transparansi. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi bila organisasi
publik memiliki kapasitas dan kesediaan untuk melakukan transformasi dari pola lama
yang tertutup, lambat dalam pegambilan keputusan, birokratis dan korup menjadi
organisasi yang transparan, efisien dalam pengambilan dan pelaksanaan keputusan, serta
berorientasi melayani bukan dilayani.

Implementasi e-government yang dikaitkan dengan upaya memenuhi kebutuhan


kebebasan dan kesamaan ini membutuhkan patron dari pemimpin nasional dengan
memberikan teladan dan komitmen. Kepemimpinan menjadi kunci keberhasilan
implementasi e-govt sebagaimana telah ditunjukan Singapura, Amerika Serikat, dan
Korea. Sebaliknya, meski kita, yang berada di tataran perumus kebijakan, sudah cukup
lama berupaya menyamakan persepsi dan merancang format dan rancangan e-govt
namun hasilnya belum menggembirakan.

25028932.doc Page 10 of 14
Sasaran
Bila visi, definisi, dan leadership sudah dimiliki, faktor berikut yang menentukan dalam
suksesnya implementasi e-govt adalah kesepakatan mengenai sasaran yang ingin dicapai
dengan e-govt ini. Secara bijak Amartya Sen, ekonom pemenang hadiah nobel ekonomi,
mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat (means) bukan tujuan (ends). Kesalahan
dalam menetapkan tujuan membawa kita terjebak pada keberhasilan semu. Dengan pola
pikir Sen ini, kita harus berani mengatakan bahwa tujuan kita membangun e-govt bukan
agar: semua instansi pemerintah terotomatisasi, atau terintegrasi satu dengan lainnya
melalui Internet, atau agar terbangun sistem pelayanan publik secara online, namun lebih
besar dari itu, yakni sebagai sarana untuk mensejahterakan masyarakat.

Kejelasan sasaran dan pemahaman serta konsistensi semua pelaku terhadap tercapainya
sasaran inilah yang perlu disepakati sejak awal suatu pemerintah merencanakan
membangun e-govt. Kalau tidak, yang akan terbentuk adalah aplikasi – aplikasi
telematika yang dibangun tanpa mengindahkan harmonisasi dan sinergi dengan elemen
pemerintah lainnya.

Strategi
Untuk mewujudkan masyarakat makmur dan sejahtera yang difasilitasi oleh e-govt pelru
dibuat suatu strategi implementasi. Strategi di sini dapat diibaratkan sebagai beberapa
ekor kuda penarik sebuah kereta. Bila tidak ada kuda yang bergerak, maka kereta akan
tetap tinggal diam, sebaliknya bila kuda – kuda tersebut dibiarkan begerak liar, maka laju
kerta tidak terkendali dan penumpang dalam keadaaan bahaya. Kemampuan menentukan
strategi dan sekaligus mengendalikan sumber daya ketika menjalankan e-govt menjadi
faktor pendukung sukses tidaknya implementasi e-govt.

Strategi pertama diperlukan integrasi proses dan teknologi. Beberapa pemerintah daerah
telah melaksanakan pelayanan publik secara online dalam satu atap melalui satu portal.
Pendekatan yang sering disebut process transparency ini dilakukan dengan alasan bahwa
masyarakat tidak perlu tahu proses pelayaan yang terjadi di dalam, atau masyarakat tidak
dituntut untuk mengetahui instansi apa yang melayani kebutuhan mereka. Yang muncul
di portal bukan nama – nama instansi tetapi daftar pelayanan. Hal ini tentu saja baik,
namun demikian kesulitan muncul ketika suatu pelayanan melibatkan lebih dari satu
instansi sementara antar-instansi terkait tidak ada keterhubungan dan kesesuaian aplikasi.
Integrasi proses dan teknologi menjadi strategi pertama yang perlu dilakukan dalam
implementasi e-government.

Strategi kedua berkait dengan upaya pembangunan ekonomi. Bila di masa lalu ketika
ekonomi masih bertumpu pada aktivitas konvensional perhatian pembangunan ekonomi
hanya ditujukan pada sedikit perusahaan besar dengan memberikan permodalan dan
kemudahan lain, dalam era ekonomi digital perhatian sebaiknya difokuskan pada pelaku
ekonomi berskala kecil yangmampu bekerja dengan efisien. Pembangunan ekonomi
dalam era digital yang difasilitasi oleh adanya e-govt memiliki lima dimensi kepentingan:
(1) meningkatkan kapasitas usaha kecil menengah (UKM); (2) meningkatkan kualitas dan
kuantitas pendidikan; (3) menarik industri teknologi tinggi;(4) menyediakan akses kepada

25028932.doc Page 11 of 14
infrastruktur ekonomi, dan (5) mewujudkan pemerintahan yang dekat dengan masyarakat
dan bisnis.

Strategi ketiga berkait dengan upaya demokratisasi. Visi e-govt dianggap tidak lengkap
bila di dalamnya tidak memberi perhatian dan dukungan terhadap upaya demokratisasi.
Melalui e-government, harus terbentuk e-democracy, yakni pelaksanaan hak dan
kewajiban warga negara yang disampaikan dan diekspresikan melalui media Internet.
Pada tataran operasional, e-democracy dapat berupa pencatatan pemilih, kampanye partai
politik, voting, pengumpulan opini publik, komunikasi dengan wakil rakyat yang duduk
di parlemen, pengajuan draft undang – undang dan lain sebagainya. Salah satu tolok ukur
keberhasilan Implementasi e-govt adalah ia mampu mengundang partisipasi masyarakat
dalam kehidupan bernegara yang demokratis.

Strategi keempat berkait dengan upaya membangun komunitas. Lambat laun,


penggunaan Internet mendorong terbentuknya komunitas baru berdasarkan minat dan
kepentingan yang sama. Komitmen membangun e-govt harus disertai dengan upaya
pengayaan terhadap masyarakat yang dilayani. Masyarakat dalam konteks ini bukan
hanya berperan sebagai warga suatu negara, tetapi masyarakat dalam pengertian
tradisional seperti orang tua, keluarga, pelajatr, konsumen, manula, dan lain sebagainya.
Implementasi e-government akan berhasil dengan baik bila melihat profil masyarakat,
yang nota bene akan menjadi pengguna, secara spesifik bukan hanya dari parameter
statistik dalam tataran makro saja.

Strategi kelima berkait dengan membangun koordinasi intra dan antar-instansi


pemerintah. Bila pada strategi pertama kita berbicara pada tataran integrasi proses dan
teknologi, pada level di atasnya perlu dibangn strategi yang mendukung koordinasi intra
dan antar instansi pemerintah, baik di level pemerintah pusat, pemerintah pusat dan
daerah, atau sesama pemerintah daerah. Dalam tata laksana pemerintahan yang
konvensional hal ini sudah lama ada, namun pada kenyataannya masih sering ditemui
adanya ketidak –tersambungan komunikasi antar satu dengan lainya. Penyebab utama
dari hal ini adalah masih rendahnya kualitas koordinasi antar-pihak yang seharusnya
saling berinteraksi. Di dalam e-government, keberadaan koordinasi antar para pihak
yang berkepentigan menjadi syarat utama keberhasilan implementasi.

Strategi keenam berkait dengan perlunya tersedia kebijakan pendukung. Undang –


undang dan peraturan lama akan tidak relevan lagi bila e-govt sudah diterapkan secara
masif dalam skala nasional. Kerangka kebijakan, tatatan hukum dan peraturan yang baru
diperlukan agar e-govt dapat berfungsi. Relevan dengan isu ini adalah perlunya mengkaji
ulang struktur, tugas dan fungsi organisasi pemerintah. Koordinasi eksekutif dengan
legislatif untuk melakukan kaji ulang semua Undang – Undang dan peraturan terkait
sangat diperlukan. Beberapa isu kebijakan seperti perpajakan, tanda tangan digital,
otentikasi bukti transaksi, perlindungan privasi, perdagangan internasional, perlindungan
konsumen, perlindungan hak cipta dan paten, deregulasi telekomunikasi, dan
perampingan prosedur perijinan merupakan keijakan yang perlu segera disediakan
bersamaan dengan rencana implementasi e-govt. Mencipatakan kerangka hukum dan
kebijakan merupakan salah satu pilar dalam suksesnya imlementasi e-government.

25028932.doc Page 12 of 14
Strategi ketujuh berkaitan dengan penyediaan infrastruktur Internet dan aplikasi e-
govt. E-govt seusia dengan definisi di depan hanya mungkin terwujud bila tersedia
Infrastruktur Internet dan aplikasi yang memadai kuantitas maupun kualitasnya.
Penyediaan prasarana telekomunikasi dengan kapasitas mencukupi, beserta ketersediaan
point of present untuk mengakses Internet dengan biaya murah, disertai dengan
tersedianya aplikasi yang mudah dipahami dan digunakan oleh orang awam menjadi
salah satu faktor suksesnya implementasi e-govt.

Faktor lain
Selain faktor – faktor dominan sebagaimana tersebut diatas, ada faktor lain yang tak
kalah pentingnya dan seringkali menjadi penghambat bagi terwujudnya suatu program
pembangunan. Bertahannya krisis moneter dan keuangan yang melanda pemerintah
Indonesia menyebabkan banyak aktivitas yang harus ditunda pelaksanaannya. Hal ini
diperkirakan juga dapat menimpa terhadap inisiatif untuk membangun e-govt. Bila
demikian halnya, maka tahapan pembangunan yang ditetapkan menjadi sulit
direalisasikan.

Mengantisipasi langkanya anggaran pemerintah untuk membangun e-govt, disarankan


kepada semua pihak untuk merancang model pendanaan baru yang tidak bergantung pada
anggaran pemerinitah. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan pola outsourcing
atau menyerahkan pembangunan dan penyediaan sarana e-govt kepada pihak swasta,
pemerintah tinggal memfasilitasi saja dengan kebijakan, sedangkan swasta yang
membangun aplikasi tersebut diberi kewajiban untuk melayani publik dengan
kompensasi mendapat bagian dari pendapatan yang dibayarkan masyarakat atas
pelayanan yang mereka terima.

6. Tantangan ke Depan
Menyediakan infrastruktur, membangun aplikasi, dan menyediakan perangkat relatif
mudah dilakukan. Tantangan ke depan berkenaan dengan implementasi e-govt lebih
terletak pada faktor sumber daya manusia. Makin enggan para stekeholder untuk
melakukan perubahan paradigma dan pola pikir, makin sulit e-government terwujud
sesuai yang dicita – citakan. Demikian pula, meningkatnya semangat demokrasi, apabila
tidak disertai dengan kesadaran untuk menghormati kepentingan orang lain akan menjadi
batu sandungan dalam implementasi e-govt. Mengajak parlemen untuk bersedia
menghasilkan perubahan perudangan dan peraturan yang mendukung e-govt merupakan
tantangan besar ke depan yang harus disiapkan dari sekarang.

7. Kesimpulan dan Saran


E-Govt harus dipandang sebagai sarana bukan sebagai tujuan. Agar implementasi e-govt
dapat terlaksana dengan baik perlu diperhatikan faktor teknis dan non-teknis yang dapat
mempengaruhi keberhasilan. Pada umumnya faktor non-teknis lebih dominan
dibandingkan faktor teknis, oleh karena itu pemahaman mendalam terhadap faktor non-
teknis sangat diperlukan ketika merancang dan mengimplementasikan e-govt.

25028932.doc Page 13 of 14
Visi, misi, sasaran, dan strategi pembangunan e-govt perlu disiapkan agar dapat menjadi
acuan bagi stakeholder., ketiadaan semua itu hanya akan menyebabkan terjadinya
pemborosan waktu, biaya, dan energi.

Jakarta, 19 Nopember 2001

25028932.doc Page 14 of 14