Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

ABSES BARTOLINI

Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi
Persyaratan Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin






Pembimbing :
dr. Sri Windayati Hapsoro, Sp.KK

Disusun Oleh :

Emallia Fitriani (108170006)





KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN
KULIT DAN KELAMIN
RSUD DR. ADHYATMA, MPH
SEMARANG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2013



1

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. LR
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 20 tahun
Alamat : Ngaliyan Semarang
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Agama : Islam
Suku : Jawa
Asuransi : Jamsostek
No. RM : 40.53.31
Tanggal pemeriksaan : 10 Desember 2013

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Benjolan di kemaluan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD dr. Adhyatma, MPH
dengan keluhan timbul benjolan di bibir kemaluan sebelah kiri. Benjolannya
mulai timbul sejak 2 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Benjolannya
makin lama makin membesar dan membengkak. Sejak 1 minggu yang lalu
mulai terasa sakit dan perih, bila tersentuh sakitnya makin kuat. Benjolan
pada kemaluan tersebut juga terasa sakit terutama saat berjalan dan saat
duduk. Rasa sakit berkurang bila dalam posisi berbaring dan tidak memakai
celana ketat. Benjolan tidak gatal.
Keluhan tersebut dirasakan pertama kali dirasakan sejak 1 tahun yang
lalu, dalam satu tahun tersebut pasien mengeluhkan keluarnya benjolan 4
kali, kambuhan, biasanya benjolan sembuh sendiri dengan mengecil. Pasien
mengeluhkan dalam satu tahun ini selalu mengalami keputihan, mula-mula
2

keputihan warna putih kental, kadang kekuning-kuningan, banyak dan berbau
lalu muncul benjolan, makin lama makin membesar.
Dua bulan yang lalu pasien periksa ke poli kulit RS Kariadi diberi obat
dan benjolam dikemaluan di insisi.1 bulan terakhirkeluhan benjolan di
kemaluan muncul lagi, disertai keputihan berwarna kekuningan dan berbau,
dalam 2 minggu ini benjolan dirasakan makin cepat bertambah besar. Pasien
juga mengeluhkan kadang demam sejak 7 hari terakhir namun sudah minum
obat parasetamol dan demam turun.
Pasien belum menikah,namun sudah sering berhungan seksual dengan
pasangannya dalam satu tahun terakhir ini, terakhir kali berhubungan 1
bulan yang lalu. Pasien juga mengeluhkan nyeri ketika berhubungan seksual.
Pasien mengaku tidak berganti-ganti pasangan. Riwayat menstruasi teratur,
riwayat pemakaian pantyliners disangkal.

3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengalami keluhan serupa hilang timbul dalam satu tahun terakhir
sebanyak 4 kali.
Riwayat alergi makanan dan obat-obatan tidak ada.

4. Riwayat Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang sakit serupa.

III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital Sign :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5
0
C


3

IV. STATUS GENERALISATA
1. Pemeriksaan Kepala
Bentuk mesochepal dan simetris, rambut warna hitam, tidak mudah dicabut,
tidak mudah rontok, tidak ada nyeri tekan.
2. Pemeriksaan Mata
Conjunctiva anemic -/-, sclera ikterik -/-, edema palpebra -/-, secret -/-
3. Pemeriksaan Telinga
Deformitas (-), nyeri tekan (-), otore (-), discharge (-).
4. Pemeriksaan Hidung
Deformitas (-), nafas cuping hidung (-), epistasis (-), discharge (-).
5. Pemeriksaan Mulut dan Faring
Sianosis (-), bibir pecah-pecah (-), stomatitis (-), hiperemis pada faring (-).
6. Pemeriksaan Thorak
Tidak dilakukan.
7. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi :Luka bekas operasi (-), bendungan vena (-).
Palpasi :Nyeri tekan (-), massa teraba (-)
Auskultasi : Tidak diperiksa.
8. Pemeriksaan Genitalia
Inspeksi : tampak massa dengan diameter 3 cm warna kemerahan,
leucorrhea berwarna kekuningan.
Palpasi : lunak, nyeri tekan (+)
9. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : Deformitas (-), akral dingin (-/-)
Inferior : Deformitas (-), akral dingin (-/-)







4

V. STATUS LOKALIS : Genitalia Externa
Inspeksi :
Rambut pubis : dalam batas normal
Labia mayor : tidak ditemukan kelainan
Labia minor :
o dextra : tidak ditemukan kelainan
o sinistra : terdapat benjolan/ massa sebesat telur ayam arah jam 4
dengan daerah sekitar eritema dan edema.
Orifisium urethra eksterna: Tampak leukorrhea berwarna kekuningan,
berbau anyir
Klitoris : tidak ditemukan kelainan
Palpasi (perabaan):
Pada palpasi labia minora sinistra terdapat massa berbentuk ovale, konsistensi
lunak, berbatas tegas, nodul 3cm x 3cm, eritema, teraba hangat dan nyeri
tekan (+), fluktuasi (+)









VI. DIAGNOSIS BANDING
Abses Bartholini
Kista Bartholini

VII. DIAGNOSIS KERJA : Abses Bartholini Sinistra



5

VIII. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pemeriksaan kultur jaringan (pus)
Secret vagina kekuning kuningan
Darah rutin

IX. PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa :
Marsupialisasi
Medikamentosa :
Terapi Preoperatif
Ciprofloxacin 2 x 500 mg
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidine 2 x 150 mg
Terapi Kausatif
Bila terbukti bakteri penyebabnya adalah Neisseria gonorrhoeae setelah
dilakukan pemeriksaan penunjang dengan kulur jaringan pengobatannya
adalah dengan golongan kuinolon generasi terbaru yaitu levofloksasin
dengan dosis 250 mg peroral dosis tunggal, atau ofloksasin 400 mg,
siprofloksasin 500 mg per oral selama 7 hari.
Obat dosis tunggal yang tidak efektif lagi untuk pengobatan gonore saat ini
adalah: tetrasiklin, steptomisin dan spiramisin. Obat-obat yang dapat
digunakan untuk pengobatan gonore dengan galur NGPP ialah
spektinomisisn, kanamisin, sefalosporin, ofloksasin, sefiksim dan
tiamfenikol.
Dalam penataksanaan infeksi gonore perlu diperhatikan fasititas laboratorium
dalam menegakkan diagnosis, frekuensi galur NGPP, pemilihan obat dengan
toksisitas dan efek samping rendah, cara pemberian mudah, harga murah,
namun efektivitas tinggi.
6

Edukasi
Mengajak pasangannya untuk memeriksakan diri apakah terinfeksi PMS
juga apabila terinfeksi sama-sama diobati sehingga tidak terus menerus
berulang dikemudian hari.
Tidak boleh berganti- ganti pasangan dalam berhubungan seksual.
Jika berhubungan seksual penggunakan pengaman seperti kondom.
Menjaga kebersihan alat kelamin.
Kontrol kembali 7 hari kemudian untuk mengetahui perkembangan
penyakitnya dan tingkat kesembuhannya.

X. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : ad bonam
Quo ad Fungtionam : ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad bonam
Qou ad Cosmeticam : dubia ad bonam
















7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi
Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna,
kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah
berbentuk bundar, dan terletak posterolateral dari vestibulum arah jam 4 & 8.
Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara
labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan
glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus
dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan
vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi
vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal
inferior.
1
Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari
bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan
seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak
sebagai lubrikan. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang
kira-kira 2-2,5 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral
hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palapasi.
seperti pada gambar dibawah ini :
2


2. Histologi
Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel
kolumnair atau kuboid. Mukosa kelenjar dilapisi oleh sel epitel kuboid.
Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara
embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus
genital.
2,3

8

3. Fisiologi
Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan
vagina. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit
sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme.
Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas
vagina, tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa
pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin
sedikit membasahi permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah
sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.
3


4. Kelainan pada kelenjar bartholin
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ
genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan,
salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna
maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak
terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar
bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian
bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung
lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini. Kista bartolini adalah
salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista
yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang
menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat
berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat
mengumpul di dalam menjadi abses.
1

Bartolinitis ini merupakan masalah pada wanita usia subur,
kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1
dalam 50 wanita akan mengalami bartolinitis atau abses dalam hidup mereka,
sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista
bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan
ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun
penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum
terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya
9

kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi
penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
1

Bentuk-bentuk kelainan pada kelenjar Bartholin :
1

Bartholinitis
Kista bartholini
Abses bartholini
Keganasan (berupa adenokarsinoma maupun karsinoma skuamosa)

5. Definisi
Bartholinitis merupakan infeksi kelenjar Bartholini (nama diambil dari
seorang ahli anatomi belanda) yang letaknya bilateral pada bagian dasar labia
minor. Kelenjar ini bermuara pada posisi kira-kira jam 4 dan jam 8.
Ukurannya sebesar kacang (0,5-1 cm) dan tidak melebihi 1 cm, dan pada
pemeriksaan dalam keadaan normal kelenjar ini tidak dapat di palpasi,
bertugas mensekresi lendir dengan duktus sepanjang1,5-2cm. Bartolinitis
terjadi bila ada sumbatan pada duktus ini. Bartolinitis ini dapat terjadi
berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi menahun dalam bentuk kista
bartolini.
3


6. Epidemiologi
Kista Bartholini merupakan kista yang sering terjadi pada vulva. Dua
persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat
dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak
daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita
berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini
atau abses bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa perempuan dengan
paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista Bartolini, yang paling
umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini
10

dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini
mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama
usia reproduksi. Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa
pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. Beberapa
penelitian telah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan
karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114 kanker per 100.000
wanita-tahun).Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi
lebih buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau
abses di dalam hidup mereka. Jadi, hal ini adalah masalah yang perlu
dicermati. Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia reproduktif, antara 20
sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada
wanita yang lebih tua atau lebih muda.
4,5


7. Etiologi
Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini
tersumbat. Penyebab penyumbatan diduga akibat infeksi atau adanya
pertumbuhan kulit pada penutup saluran kelenjar bartholini. Cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista
menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri.
Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti
Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran
pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari
satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan
retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan
kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar.
Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar
Bartolini adalah abses polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah
mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah
patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi
organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak
11

lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Selain itu
operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut.
5

Penyebab sumbatan :
5

1. Infeksi :
Sejumlah bakteri dapat menyebabkan infeksi, termasuk bakteri yang
umum, seperti Escherichia coli (E. coli), serta bakteri yang menyebabkan
penyakit menular seksual seperti gonore dan klamidia.
2. Non infeksi :
Stenosis / atresia congenital
Trauma mekanik
Inspissated mucous

8. Patogenesis



















Akumulasi cairan
Obstruksi pada ostium ductus kelenjar Bartolini
Trauma non spesifik
Hambatan aliran cairan
Membentuk kantong (kista)
Infeksi pada kista
kelenjar Bartolini
Menghasilkan pus Membesar dalam
beberapa jam hari
Kista akan teraba lunak,
berwarna merah dan panas
Kista dan abses kelenjar
Bartolini
12

9. Patofisiologi
Obstruksi dari saluran bartolini distal bisa karena retensi sekresi
dengan resultan dilatasi saluran dan formasi kista. Kista bisa menjadi infeksi
dan akhirnya berkembang menjadi abses. Kista saluran bartolini bisa saja
tidak tampak sebelum menjadi abses. Jika kista saluran bartolini tampak kecil
dan tidak menjadi inflamasi, akan tampak asimptomatik. Jika kista menjadi
infeksi, akan tampak bentuk abses. Obstruksi duktus Penumpukan sekret
mukus Pembengkakan (kista bartholin) Kista dapat mengalami
peradangan (bartholinitis) terutama bila terjadi infeksi Kista yang terinfeksi
dapat berkembang menjadi abses (abses bartholin).
5


10. Manifestasi klinik
Jika kista duktus Bartholini masih kecil dan belum terjadi inflamasi,
penyakit ini bisa menjadi asimptomatik. Biasanya ditemukan ketika seorang
wanita datang ke dokter untuk pemeriksaan umum tanpa keluhan apapun,
tanpa rasa sakit vagina. Kista Bartolini menyebabkan pembengkakan labia di
satu sisi, dekat pintu masuk ke vagina.Kista biasanya nampak sebagai massa
yang menonjol secara medial dalam introitus posterior pada regio yang
duktusnya berakhir di dalam vestibula. Karena letaknya di vagina bagian
luar, kista akan terjepit terutama saat duduk dan berdiri. Jika kista tumbuh
lebih besar dari diameter 1 inci, dapat menyebabkan ketidaknyamanan ketika
duduk, atau selama hubungan seksual.
6

Jika kista menjadi terinfeksi maka bisa terjadi abses pada kelenjar (berisi
nanah, dan menjadi bengkak). Tanda kista Bartholini yang tidak terinfeksi
berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai
kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Indurasi biasa terjadi pada
sekitar kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan, duduk atau melakukan
hubungan seksual bisa menyebabkan rasa nyeri pada vulva. Pasien berjalan
mengegang ibarat menjepit bisul diselangkangan.
6

Pada bartholinitis akut, kelenjar membesar, merah,nyeri dan lebih panas
dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui
duktusnya, atau jika duktus tersumbat, mengumpul di dalamnya dan menjadi
13

abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum
menjadi abses, keadaan bisa diatasi dengan antibiotik, jika sudah bernanah
akan mencari jalan sendiri atau harus dikeluarkan dengan sayatan. Radang
pada kelenjar bartholin dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat
menjadi menahun dalam bentuk kista bartholin.
6
Biasanya unilateral
Berbentuk bulat sampai oval, berukuran 1-5 cm
Tidak terasa nyeri
Terletak pada labia mayora bagian 1/3 posterior, menonjol kearah introitus
Kista yang membesar menimbulkan rasa tidak nyaman/mengganggu saat
berjalan, duduk atau coitus
Bila meradang :nyeri, demam, disertai tanda radang lainnya
Bila terbentuk abses:fluktuasi (+)
Dapat disertai pembesaran kelenjar limph femoral dan inguinal

11. Diagnosis
Anamnesis
Pada anamnesis ditanyakan tentang gejala seperti :
7

Panas
Gatal
Sudah berapa lama gejala berlangsung
Kapan mulai muncul
Faktor yang memperberat gejala
Apakah pernah berganti pasangan seks
Keluhan saat berhubungan
Riwayat penyakit menular seks sebelumnya
Riwayat penyakit kulit dalam keluarga
Riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin
Riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan hipertensi
Riwayat pengobatan sebelumnya

14

Keluhan pasien pada umumnya adalah :
7

Benjolan
Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau berhubungan seksual
Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan
mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual atau ditandai
dengan adanya perabaan kelenjar limfe pada inguinal
Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari
Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari pasca
pembengkakan, terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang
ditularkan melalui hubungan seksual
Dapat terjadi ruptur spontan
Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut, dan
berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras

Pemeriksaan Fisis
Abses dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik khususnya dengan
pemeriksaan ginekologis pelvik. Pemeriksaan fisik dengan posisi litotomi.
Hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses
bartolini adalah sebagai berikut:
1,4,5,10
Pada inspeksi, terlihat massa unilateral di daerah labium, biasanya pada
labium minor arah jam 4 dan 8 atau posisi jam 5 atau 7 dengan daerah
sekitar yang eritema dan edema
Dalam beberapa kasus didapatkan daerah selulitis disekitar abses
Pada perabaan teraba massa yang lunak, berbatas tegas, berfluktuasi,
sferis, dan sangat nyeri tekan
Jika abses telah pecah secara spontan, dapat terdapat duh yang purulen

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan gram dan biakan materi purulen membantu identifikasi bakteri
patogen
11
2. Pemeriksaan darah rutin untuk melihat adanya tidaknya leukositosis.
Namun apabila pasien afebris, pemeriksaan darah rutin tidak diperlukan.
12

15

3. Mengambil sampel sekresi dari vagina atau servix untuk mengetahui
adanya infeksi menular seksual, gonore, sifilis atau infeksi menular seksual
lainnya.Kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasi jenis bakteri
penyebab infeksi Gonorrhea dan Chlamidya. Untuk kultur, di ambil swab
dari abses atau daerah lain seperti serviks. Hasil tes ini baru dapat dilihat
setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak menunda pengobatan. Dari
hasil tes ini dapat diketahui apakah antibiotik perlu diberikan.
11
4. Biopsi dari massa untuk mengetahui adanya sel-sel kanker, bagi pasien:
12,13
a) Perimenopause, menopause atau lebih dari 40 tahun
b) Kegagalan penyembuhan dengan pengobatan yang teratur
c) Ada riwayat menderita keganasan labial
d) Kronik dan atau tidak nyeri sama sekali

12. Diagnosis Banding
Kista bartolini
Kista bartolini biasanya asimtomatik sehingga pasien biasanya
datang dengan keluhan ada benjolan di daerah vagina. Akan tetapi jika
ukurannya lebih besar makadapat menyebabkan ketidaknyamanan saat
duduk lama dan saat koitus. Pada pemeriksaan fisis kista bartolini tidak
ditemukan nyeri tekan disertai kemerahan atau edema pada daerah vulva.
Dan apabila kistanya ruptur maka, sekretnya berupa sekret nonpurulen.
7

Gambar 3: Kista bartolini
(dikutip dari kepustakaan 7)



16

Fibroma vulva
Fibroma vulva merupakan tumor vulva jinak yang paling sering
ditemukan. Fibroma vulva biasanya berbentuk soliter, berfluktasi, coklat
keabu-abuan, dapat digerakkan, diameter 3-8 mm, berkembang
mengelilingi ligamen hingga ke labia mayor. Fibroma jarang berukuran
besar. Fibroma vulva menekan ke arah lateral dan menghasilkan lekukan
yang dikenal sebagai dimple yang merupakan karakteristik dari tumor.
Lesi ini biasanya tidak menimbulkan gejala hingga mencapai ukuran yang
lebih besar atau lokasinya dekat introitus vagina atau uretra.
14

Gambar 4: Fibroma Vulva
(dikutip dari kepustakaan 14)

Hidradenitis supurativa
Merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan terbentuknya
abses, utamanya di daerah yang terdapat kelenjar apokrin. Daerah
predileksi hidradenitis supurativa adalah axilla, inguninal, dan perineum.
Untuk daerah vulva, hidradenitis suprativa paling banyak ditemukan di
labia majora dan lipatan intrakruris dengan gambaran berupa papul eritem
acneiform, nodul, berfluktuasi, dan nyeri. Pada beberapa kasus, nodul
subkutaneus yang nyeri dapat mengalami ulserasi dan menimbulkan duh
purulen.
14
17


Gambar 5: Hidradenitis Supurativa
(dikutip dari kepustakaan 14)
Karena kelenjar Bartholini biasanya mengecil saat menopause,
pertumbuhan vulva pada wanita postmenopause harus dievaluasi untuk
kemungkinan terjadinya keganasan, khususnya jika massa irregular, nodular
dan indurasi persisten.
7

Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaceous ini
merupakan suatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik.
Dysontogenic cysts merupakan kista jinak yang berisi mucus dan berlokasi
pada introitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang menyerupai
mukosentrum, dan seringkali asimptomatik.
Hematoma pada vulva. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat
berolahraga, kekerasan.
Fibroadenoma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan.
Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri, pertumbuhan yang
progresif dan kosmetik.

13. Penatalaksanaan
Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu
dilakukan tindakan apa-apa. Dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan.
Tindakan itu terdiri atas ekstirpasi, akan tetapi tindakan ini bisa menimbulkan
perdarahan. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa
resiko sayatan dan isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit
pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan.
8

18

1. Bartholinitis : Antibiotik spektrum luas
2. Kista Bartholin :
Kecil, asimptomatik dibiarkan
Simptomatis/rekuren pembedahan berupa insisi +word catheter
marsupialisasi
laser varporization dinding kista
3. Abses bartholin :
Insisi (bedah drainase) + word catheter, ekstirpasi
Penanganan abses bartholin sama dengan penanganan kista
bartholin simtomatis, namun ada sedikit perbedaan. Prinsipnya berikan
terapi antibiotik spektrum luas, dan lakukan pemeriksaan kultur pus oleh
karena ada kemungkinan disebabkan gonorrhea atau chlamydia, meskipun
67% disebabkan oleh flora normal vagina.
Tujuan penanganan kista bartholini adalah memelihara dan
mengembalikan fungsi dari kelenjar bartholini. Metode penanganan kista
bartholini yaitu insersi word catheter untuk kista dan abses kelenjar
bartholini dan marsupialization untuk kista kelenjar bartholini. Terapi
antibiotik spektrum luas diberikan apabila kista atau abses kelenjar
bartholini disertai denganadanya selulitis. Biopsi eksisional dilakukan
untuk pengangkatan adenokarsinoma pada wanita menopause atau
perimenopause yang irregular dan massa kelenjar Bartholini yang
nodular.
8

Penatalaksanaan dari kista duktus bartholin tergantung dari gejala
pada pasien. Kista yang asimptomatik mungkin tidak memerlukan
pengobatan, tetapi symptomatic kista duktus bartholin dan abses bartholin
memerlukan drainage. Kecuali kalau terjadi rupture spontan, abses jarang
sembuh dengan sendirinya.
8


Insisi dan drainage abses
8

Tindakan ini dilakukan bila terjadi symptomatic Bartholin's gland
abscesses .
Sering terjadi rekurensi
19

Cara:
Disinfeksi abses dengan betadine
Dilakukan anastesi lokal( khlor etil)
Insisi abses dengan skapel pada titik maksimum fluktuasi
Dilakukan penjahitan







Gambar Insisi abses

Definitive drainage menggunakan Word catheter.
8

Word catheter biasanya digunakan ada penyembuhan kista
duktus bartholin dan abses bartholin. Panjang tangkai catheter 1 inch dan
mempunyai diameter seperti foley catheter no 10. Balon Catheter hanya
bias menampung 3 ml normal saline.
Cara:
Disinfeksi dinding abses sampai labia dengan menggunakan betadine.
Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %
Fiksasi abses dengan menggunakan forsep kecil sebelum dilakukan
tindakan insisi.
Insisi diatas abses dengan menggunakan mass no 11
Insisi dilakukan vertikal di dalam introitus eksternal terletak bagian
luar ring himen. Jika insisi terlalu lebar, word catheter akan kembali
keluar.
Selipkan word kateter ke dalam lubang insisi
Pompa balon word kateter dengan injeksi normal salin sebanyak 2-3 cc
Ujung Word kateter diletakkan pada vagina.
20

Proses epithelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu,
word catheter akan dilepas setelah 4-6mgg, meskipun epithelisasa biasa
terbentuk pada 3-4 minggu.











Bedrest selama 2-3 hari mempercepat penyembuhan. Meskipun
dapat menimbulkan terjadinya selulitis, antibiotik tidak diperlukan.
Antibiotik diberikan bila terjadi selulitis (jarang) .
8
















21

Marsupialisasi
8

Banyak literatur menyebutkan tindakan marsupialisasi hanya
digunakan pada kista bartholin.Namun sekarang digunakan juga untuk
abses kelenjar bartholin karena memberi hasil yang sama efektifnya.
Marsupialisasi adalah suatu tehnik membuat muara saluran kelenjar
bartholin yang baru sebagai alternatif lain dari pemasangan word kateter.
Komplikasi berupa dispareuni, hematoma, infeksi.

Cara:
Disinfeksi dinding kista sampai labia dengan menggunakan betadine.
Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %.
Dibuat insisi vertikal pada kulit labium sedalam 0,5cm (insisi sampai
diantara jaringan kulit dan kista/ abses) pada sebelah lateral dan sejajar
dengan dasar selaput himen.
Dilakukan insisi pada kista dan dinding kista dijepit dengan klem pada
4 sisi, sehingga rongga kista terbuka dan kemudian dinding kista
diirigasi dengan cairan salin.
Dinding kista dijahit dengan kulit labium dengan atraumatik catgut.
Jika memungkinkan muara baru dibuat sebesar mungkin(masuk 2 jari
tangan), dan dalam waktu 1 minggu muara baru akan mengecil
separuhnya, dan dalam waktu 4 minggu muara baru akan mempunyai
ukuran sama dengan muara saluran kelenjar bartholin sesungguhnya.
8











22

Pengobatan Medikamentosa
Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit
menular seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal
dan chlamydia. Idealnya, antibiotik harus segera diberikan sebelum
dilakukan insisi dan drainase.
Penggunaan antibiotik
8

Antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti
dari hasil pengecatan gram maupun kultur pus dari abses kelenjar
bartholin
Infeksi Neisseria gonorrhoe:
Ceftriaxon125 mg IM sebagai dosis tunggal
Ciprofloxacin 500 mg single dose
Terbaru Levofloksasin 250 mg oral dosis tunggal
Ofloxacin 400 mg single dose
Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil)
Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil)
Infeksi Chlamidia trachomatis:
Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po
Doxycyclin 2 X100 mg/ hari selama 7 hari, po
Infeksi Escherichia coli:
Ciprofoxacin 500 mg oral single dose
Ofloxacin 400 mg oral single dose
Cefixime 400 mg single dose
Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :
Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari
Ampisilin 250-500 mg/ dosis 4x/hari, po.
Amoksisillin 250-500 mg/dosi, 3x/hari po.





23

14. Prognosis
Abses bartolini memberikan respon yang cukup baik pada
pengobatan dalam beberapa hari. Perbaikan yang sangat memuaskan
ditunjukkan hanya 10% pada kejadian abses yang rekuren pada masa yang
akan datang. Sangat penting menangani penyebab timbulnya abses seperti
gonorhea, chlamydia, dan infeksi bakteri lainnya. Kebanyakan prosedur
operasi, selain insisi dan drainase, efektif untuk mencegah infeksi yang
rekuren.
10
Pada beberapa kasus, terutama pada kasus diabetes atau wanita
dengan gangguan imunitas, necrotizing fasciitis yang mengancam jiwa
dapat terjadi.
16





















24

DAFTAR PUSTAKA

1. Ashari, M.A. (2010). Materi Kuliah Tumor Jinak Ginekologi. Yogyakarta :
SMF Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSD Panembahan Senopati Bantul.
2. Cunningham, F.G., MacDonald, P.C. (2005). Obstetri Williams. Jakarta: EGC.
3. Norwitz, E., Schorge, J. (2008). At A Glance : Obstetri & Ginekologi. Edisi 2.
Jakarta : Erlangga.
4. Winkjosastro, H., Saifuddin, A.B., Rachimdani, T. (2002). Ilmu Kandungan.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
5. Blumstein, A Howard. 2005. Bartholin GlandDiseases.
http://www.emedicine.com/emerg/topic54.
6. Omole,FolashadeM.D. 2003. Management of Bartholin's Duct Cyst and Gland
Abscess. http://www. Aafp.org/afp/20030701/135.html.
7. Hill Ashley, M.D. 1998. Office Management of Bartholin Gland Cyst and
Abscess. http://www.fpnotebook.com/GYN 199.htm
8. Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
9. Bunker CB, Neill SM. The Genital, Perianal and Umbilical Regions in : Burn
T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of
Dermatology. Massachusetts:Blackwell Science; 2004. p.68.67
10. S Parvathi, et all. Bartholinitis caused by Streptococcus pneumoniae : Case
report and review of literature. Indian journal of pathology and microbiology.
2009. 52(2): 265-266
11. Tanaka, et all. Microbiology of Bartholins Gland Abscess in Japan. Journal
of Clinical Microbiology. 2005 August 43(8): 4258-4261
12. Amiruddin DM, Anggreni D, Madjid A, Bartholinitis dan Kista Bartholini in:
Amiruddin DM, ed. Penyakit Menular Seksual. Makassar: Bagian Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin;
2004. P.163-175.