Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

HEMATURIA

(Diajukan Sebagai Tugas Final Semester)

Oleh :

Nyoman Satriyawan

0518011022

REFERAT HEMATURIA (Diajukan Sebagai Tugas Final Semester) Oleh : Nyoman Satriyawan 0518011022 Pembimbing : Dr. Harizon.

Pembimbing :

Dr. Harizon. M. N, Sp.B

BAGIAN ILMU BEDAH

RUMAH SAKIT AHMAD YANI METRO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

MEI 2012

I.

PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Darah dalam kemih merupakan suatu pertanda yang perlu segera ditindak lanjuti dengan berbagai pemeriksaan laboratorium. Hematuria merupakan salah satu gejala yang penting pada berbagai penyakit ginjal dan salurannya, sedangkan proteinuria lebih mempunyai arti dalam hal diagnostik dan prognostik penyakit. Pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti dan terarah supaya jangan sampai ada hal penting terlewatkan sedangkan pemeriksaan- pemeriksaan yang tidak perlu hendaknya dihindarkan. Hematuria sering dijumpai pada kelainan ginjal dan saluran kemih, meskipun prevalensi hematuria mikroskopik asimtomatik pada anak sekolah hanyalah sebesar 0.5 1.6%. Hematuria dapat merupakan pertanda dari suatu penyakit yang serius sehingga oleh karenanya sangat penting untuk dipastikan adanya sel darah merah dalam kemih serta ditentukan tingkat keparahan dan persistensinya. Hematutria dapat dijumpai dalam berbagai keadaan, seperti misalnya: sebagai bagian dari suatu episode hematuria makroskopik, sebagai gejala dari infeksi saluran kemih atau sebagai gejala lain yang secara kebetulan dijumpai pada saat pemeriksaan rutin.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik memegang peran penting dalam

menegakkan diagnosis pada hematuria. Bila ada demam, letargi, nyeri perut,

sembab atau gejala-gejala spesifik saluran kemih seperti misalnya disuria,

ngompol lagi, sering kencing, maka diagnosis kemungkinan besar infeksi

saluran kemih. Kolik daerah pinggang sebelum timbulnya hematuria,

kemungkinannya adalah batu ginjal atau ureter, yang kalau ditelusuri

mungkin ada riwayat pernah keluar pasir waktu kencing. Adanya nyeri telan

atau radang tenggorok 10-14 hari (atau infeksi kulit 4-6 minggu) sebelum

terjadinya hematuria, maka kemungkinan terbesar adalah glomerulonefritis

pasca streptokokus. Bila ada riwayat ruam kulit, terutama bila terjadi ruam

kupu di daerah wajah, mungkin itu suatu lupus eritematosus sistemik, atau

bila ruam berbentuk purpura maka kemungkinannya adalah purpura Henoch

Schönlein.

Riwayat penyakit dahulu juga perlu dilacak seperti misalnya riwayat adanya

trauma ginjal, gangguan faal hemostasis, atau hematuria dalam keluarga.

Adanya riwayat ketulian dengan gagal ginjal dalam keluarga terutama pada

keluarga laki-laki sangat mungkin satu sindrom Alport. Demikian pula

adanya riwayat penyakit ginjal polikistik autosomal dominan dalam keluarga.

Meskipun pemeriksaan fisik tidak terlalu penting dalam menegakkan

diagnosis hematuria, namun adanya pembesaran ginjal, kelainan pada

genitalia, atau adanya ruam kulit atau nyeri sendi akan dapat membantu

menegakkan diagnosis.

B. Tujuan

Penyusunan referat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

pemahaman dokter muda tentang hematuri, bagaimana menegakkan diagnosis

sampai dengan penatalaksanaannya.

A. Definisi

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Hematuria adalah suatu terminologi medik yang menjelaskan adanya

darah dalam urine. Hematuria makroskopis atau gross dapat terlihat

secara kasat mata, sedangkan hematuria mikroskopik hanya dapat

dideteksi dengan uji dipstick yang dipastikan dengan pemeriksaan

mikroskop sedimen urin. 3

Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata dapat

dilihat sebagai urine yang berwarna merah, mungkin tampak pada awal miksi

atau pada akhirnya yang berasal dari daerah posterior uretra atau leher

kandung kemih. (Wim de Jong, dkk, 2004). Hematuria makroskopik yang

berlangsung terus menerus dapat mengancam jiwa karena dapat menimbulkan

penyulit berupa: terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat aliran

urine, eksanguinasi sehingga menimbulkan syok hipovolemik/anemi, dan

menimbulkan urosepsis. (Mellisa C Stoppler, 2010).

Hematuria mikroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata tidak dapat

dilihat sebagai urine yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan

mikroskopik diketemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapangan pandang.

(Mellisa C Stoppler, 2010)

Berdasarkan Canadian Urology Association, hematuria mikroskopis

didefenisikan dengan terdapatnya eritrosit lebih dari 2 sel per lapang pandang

dalam dua kali pemeriksaan urinalisis mikroskopis dengan menyingkirkan

latihan, menstruasi, atau aktivitas seksual sebelumnya. 4 Beberapa Clinical

Guideline Practice yang lain menyebutkan cut of point untuk hematuri

mikroskopis adalah lebih dari 5 sel eritosit per lapang pandang. 5

Diagnosis hematuria mikroskopis ditegakkan apabila didapatkan lebih dari 5

sel darah merah per lapang

pandang besar. Hematuria hampir selalu

merupakan masalah medik yang lebih memerlukan penanganan oleh

sepesialis penyakit ginjal dibandingkan spesialis bedah urologi. Adanya

hematuria harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan sedimen urin

secara mikroskopis oleh karena banyaknya penyebab lain yang dapat

menimbulkan kemih berwarna merah atau coklat dan memberikan uji dipstick

positif palsu.

Berdasarkan Canadian Urology Association , hematuria mikroskopis didefenisikan dengan terdapatnya eritrosit lebih dari 2 sel per

Gambar 1. Hematuri Makrokopi dan Hematuri Mikroskopi

B. Insidensi

Gross hematuri, atau hematuri makroskopis, darah yang dapat dilihat dengan

mata telanjang dalam urin. Keluhan ini umum terjadi pada anak-anak. Pada

salah satu senter penelitian anak, gross hematuri diperkirakan 1,3 kasus setiap

1000 kunjungan. Berdasarkan penelitian terhadap lima populasi, prevalensi

hematuri mikroskopis asimtomatik bervariasi mulai dari 0,19 % sampai

16,1%. Pada laki-laki usia tua dimana faktor resiko terhadap penyakit urologi

yang meningkat, prevalensi hematuri meningkat sampai 21 %. 5

Penelitian yang dilakukan oleh American Urological Asscotiation

menyebutkan bahwa prevalensi penyakit mendasar pada pasien hematuri

mulai dari sedang sampai berat berkisar 0% sanpai 56%. Prevalensi

keganasan urologi pada penelitian tersebut berkisar antara 0 %- 25,8%.

Prevalensi bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin, sumber rujukan,

keadaan klinis, namun prevalensi ini lebih meningkat pada pasien-paien

dalam pemeriksaan urologi, usia tua, dan laki-laki.

Pada sebuah penelitian prospektif terhadap 100 pasien berusia diatas 16 tahun

yang dirujuk karena hematuri, 37% ditemukan kelainan kanker urogenital,

sedangkan 15 % lainnya karena batu, retensi urin kronik atau obstruksi

ureteropelvik.

Penelitian retrospektif terhadap 110 pasien hematuria menyatakan bahwa

penyebab terbanyak berasal dari tumor (41,8% pasien), 22 % merupakan

kegansan yang berasal dari vesika urinaria (9%), ginjal (6%), dan prostat

(6%). Keadaan yang paling banyak terjadi adalah hipertofi prostat (19%).

Infeksi merupakan diagnosis terbanyak kedua (26%), diikuti nefrolitiasis

(13,6%). Kelainan congenital merupakan penyebab 3,6% hematuri, trauma

2%, dan 12 % lainnya belum dapat diidentifikasi penyebabnya. 6

C. Etilogi

Etiologi

penyebab

dari

hematuria

dapat

dibedakan

berdasarkan

asal

perdarahannya yaitu sebagai berikut :

  • 1. Berasal dari ginjal (renal bleeding) :

    • a) Perdarahan glomerulus :

Glomerulonefritis akut

Glomerulonefritis membranoproliferatif

Nefritis herediter (sindrom alport)

Nefropati IgA ( Maladie de Berger)

Hematuria familial

Hematura benigna rekuren atau persisten

  • b) Perdarahan ekstra glomerulus

Pielonefritis akut atau kronik

Tumor ginjal

Hemangioma ginjal

Ginjal polikistik

Hidronefrosis

Nekrosis papil ginjal

Trombosis vena renalis

Trauma ginjal

Hiperkalsiuria idiopatik

  • 2. Berasal dari luar ginjal (extra renal bleeding):

ISK : sistitis, ureteritis, uretritis

Batu saluran kemih

Trauma saluran kemih

Kelainan kongenital saluran kemih

  • 3. Penyakit sistemik:

Sindrom Henoch Schonlein

Lupus Eritromatosus Sistemik

Poliarteritis nodosa

Endokarditis Bakterialis Subakut

  • 4. Penyakit Darah:

Leukemia

Sindrom Hemolitik Uremik

Imun Trombositopeni Purpura

Hemofilia

Penyakit Sel Sabit

  • 5. Olah raga

6.

Medications

Penicillin, aminoglycosides, anticonvulsants, diuretics,

coumarin, aspirin

Amitryptiline, cyclophosphamide, chlorpromazine, thorazine

Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam

system urogenitalia atau kelainan yang berada di luar system urogenitalia.

Kelainan yang berasal dari system urogenitalia antara lain adalah:

Infeksi antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis,

dan uretritis

Tumor jinak atau tumor ganas yaitu: tumor ginjal (tumor Wilms),

tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan

hiperplasia prostat jinak.

Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain : kista ginjal

Trauma yang mencederai sistem urogenitalia.

Batu saluran kemih. (Mellisa C Stoppler, 2010)

Kelainan-kelainan yang berasal dari luar sistem urogenitalia antara lain

adalah:

Kelainan pembekuan darah (Diathesis Hemorhagic)

SLE

Penggunaan antikoagulan, atau proses emboli pada fibrilasi atrium

jantung maupun endokarditis. (Wim de Jong, dkk, 2004)

Gambar 2. Pembagian Sistem Saluran Kemih
Gambar 2. Pembagian Sistem Saluran Kemih

Gambar 2. Pembagian Sistem Saluran Kemih

Gambar 2. Pembagian Sistem Saluran Kemih

Gambar 3. Penyebab Pigmenturia dan Hematuria

D. Patogenesis

Berdasarkan lokasi yang mengalami kelainan atau trauma, dibedakan menjadi

glomerulus dan ekstra glomerulus untuk memisahakn bidang nefrologi dan

urologi. Darah yang berasal dari nefron disebut hematuria glomerulus. Pada

keadaan normal sel darah merah jarang ditemukan pada urine. Adanya

eritrosit dapat terjadi pada kelainan herediter maupun perubahan struktur

glomerulus dan intergritas kapiler yang abnormal, eritrosit bila berikatan

dengan protein Taam-Horsfall akan membentuk silinder eritrosit. Ini

merupakan petunjuk kelainan glomerulus yang merupakan penanda penyakit

ginjal kronik. Pada kelainan glomerulus biasanya hanya ditemukan sea darah

merah saja tanpa silinder. Proteinuria merupakan tanda lesi glomerulus.

Darah dapat berasal

dari

berbagai

bagian

ginjal,

yaitu

glomerulus,

tubulus, dan interstitium, atau dari saluran kemih, kandung kemih, dan

urethra.

Sel darah merah terlepas dari kapiler glomerulus melalui celah-

celah dinding kapiler yang tidak dapat terlihat walaupun dengan

pemeriksaan mikroskop elektron. Proteinuria, dan eritrosit yang

mengalami deformitas dalam urine biasanya menyertai hematuria yang

berasal dari kerusakan glomerulus. Papila renalis dapat rusak oleh

mikrotrombi dan/atau anoksia pada pasien dengan hemoglobinopati atau

toksin.

Pasien

dengan

kelainan

parenkim

ginjal

dapat

menunjukkan adanya

hematuria

mikroskopik

atau

makroskopik

selama

terjadinya

infeksi

sistemik, atau setelah kegiatan fisik sedang. Hal tersebut sebagai akibat

respon hemodinamik ginjal terhadap aktivitas fisik atau demam. Hal tersebut

penting untuk membedakan antara penyebab hematuria glomerulus atau

non-glomerulus agar dapat membatasi kemungkinan diagnosis dan

mengarahkan pemeriksaan yang lebih terfokus. 9

Tabel 1. Perbedaan Gambaran Hematuria Glomerular dan Non-glomerular 10

Feature

Glomerular

Non Glomerular

Hematuria

Hematuria

History

   

Burning of Micturation

No

Urethritis, Cystitis

Systemic Complication

Edem, fever, pharingitis, rush, athralgia

Fever with UTI Severe pain with calculi

History of trauma

No

Yes

Family History

Deafness in

Usually negative

Alport

May be positif with calculi

Syndrome, renal

failure

Physical Examination

   

Hypertension Edema Abdominal masa

Often present May be present No

Unlikely No Important with Wilms

Rash, arthritis

Lupus

Tumor, Polycystic kidney No

Eritematosus,

Henoch

Schonlein

Puspura

Urine Analysis

   

Color Proteinuri Dysmorphic RBCs RBS cast

Brown, tea, cola Often Present Yes Yes

Bright red No No No

Crystal

No

May be informative

E. Diagnosis

Hematuria mikroskopik bermakna ditegakkan apabila paling sedikit

dalam 3 kali pemeriksaan urinalisis dalam kurun waktu 2-3 minggu

menunjukkan adanya 5 atau lebih sel darah merah per lapang pandang

besar. Uji dipstick merupakan uji tapis yang sensitif untuk memastikan

adanya darah dalam urin. Dipstick terdiri dari secarik kertas yang diisi

dengan hydroperoxide dan tetramethylbenzidine. Peroxidase-like

activity dari hemoglobin mengkatalisis suatu reaksi yang menimbulkan

warna biru hijau. Uji tersebut mampu mendeteksi sel darah merah

intak, free hemoglobin, dan mioglobin. Uji tersebut dapat

mendeteksi free hemoglobin minimal 150μg/l, ekivalen dengan 5-20 sel darah

merah intak per mm 3 urin.

Positif palsu terjadi apabila urin tercemar dengan sabun pemutih pembersih

tabung penampung urin. Negatif palsu terjadi apabila urin mempunyai

berat jenis yang tinggi atau mengandung asam askorbat dalam kadar yang

tinggi. Sampel urin yang uji dipstiknya postif sebaiknya selalu dikonfirmasi

dengan pemeriksaan mikroskopis, untuk melengkapi informasi jumlah

eritrosit, adanya sel-sel lain, torak, Kristal dan bakteri. 9

Gambar 2. Workup hematuria 1. Anamnesis Dalam mencari penyebab hematuria perlu dicari data yang terjadi pada

Gambar 2. Workup hematuria

1. Anamnesis

Dalam mencari penyebab hematuria perlu dicari data yang terjadi pada

saat episode hematuria, antara lain (Mellisa C Stoppler, 2010) :

(a). Bagaimanakah warna urine yang keluar?

(b). Apakah diikuti dengan keluarnya bekuan-bekuan darah?

(c). Di bagian manakah pada saat miksi urine berwarna merah?

(d). Apakah diikuti dengan perasaan sakit ?

Hematuri yang terjadi pada saat permulaan berkemih menandakan suatu

kelainan di uretra distal sampai ke diafragma urogenital. Hematuria yang

terjadi sepanjang berkemih menandakan kelainan di traktus urinarius

bagian atas atau penyakit di atas vesika urinaria, sedangkan hematuria

yang terjadi saat di akhir berkemih menunjukkan kelainan di leher vesika

urinaria atau prostat. Pada seorang perempuan yang mengalami

hematuria, sangat penting untuk menyingkirkan kejadian menstruasi untuk

kepentingan pengambilan sampel urin. 6

Peningkatan frekuensi berkemih dan terjadinya disuri mungkin mengarah

kepada infeksi traktus urinarius atau keganasan uroepitelial. Nyeri kolik

menandakan adanya penyebab batu. Hematuria tanpa disertai dengan

nyeri menandakan sesuatu diluar nefrolitiasis, infeksi, atau nekrosis

papilar, tetapi tidak dapat menyingkirkan penyebab tersebut. Namun

demikian, hematuria tanpa nyeri dengan tidak adanya tanda dan gejala

penyakit ginjal atau infeksi traktus urinarius, sebaiknya dilakukan

pemeriksaan kemungkinan keganasan urogenital.

Penurunan berat badan, manifestasi ektrarenal (rash), arthritis, artralgia,

gejala pernafasan, menunjukkan adanya penyakit sistemik, termasuk

syndrome vaskulitis, keganasan, dan tuberculosis. Infeksi tenggorokan

dan kulit yang baru terjadi mengarahkan kepada glomerulonefritis

posstreptokokus. Riwayat penggunaan obat-obatan sebaiknya ditanyakan

karena banyak obat-obatan yang dapat menyebabkan hematuri atau

perubahan warna pada urin.

Penggunaan obat kontrasepsi oral berhubungan dengan hematuri sindrom

Loin. Merokok berhubungan dengan peningkatan resiko kejadian

karsinoma buli, dan juga pengobatan dengan siklofosfamid. Tanyakan

tentang riwayat hematuri dalam keluarga, penyakit sickle cell, penyakit

ginjal polikistik, atau penyakit ginjal lain, atau riwayat perjalanan ke

daerah endemis malaria atau schistosomiasis. 6

  • 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik abdomen sebaiknya dilakukan hati-hati untuk menilai massa di abdomen atau flank area. Tumor ginjal yang paling banyak terjadi pada usia anak-anak adalah Wilms tumor. Hidronefrosis atau kista ginjal mungkin dapat dipalpasi. Nyeri suprapubik mungkin menunjukkan sumber perdarahan atau kemungkinan infeksi, batu, atau kelainan vesika urinaria yang lain. Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan untuk mencari hipertensi yang mengindikasikan glomerulonefritis atau insufisiensi renal khususnya dengan adanya edem. Penemuan adanya pucat, demam, rash di kulit, atau kelainan musukuloskeletal menandakan penyakit sistemik, misalnya lupus eritematosus sistemuk dengan glomerulonefritis. 11 Tes pendengaran sebainya dilakukan jika curiga terhadap sindrom Alport. Pemeriksaan prostat dan meatus uretra merupakan bagian dari pemeriksaan lengkap. 6

  • 3. Pemeriksaan Penunjang Klinisi harus dapat membedakan antara hematuri dengan pigmenturi (pewarnaan pada urin). Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan di laboratorium adalah dengan menginspeksi dan pengujian

dipstick. Uji dipstick juga memberikan hasil semikuantitatif terhadap

ekskresi protein. Jika test dipstick positif terhadap heme, langkah

selanjutnya adalah membedakan apakah ekskresi protein urin meningkat,

dan apakah sel darah merah, sel darah putih, cast, atau kristal tampak pada

pemeriksaan mikroskop urin.

Tabel 2. Warna Kemih dan Penyebabnya. 10

Color

Cause

Dark Yellow

 

Normal concentrated urine

 

Dark

brown

or

Bile pigments

Alanine, cascara, resorcinol

 

balck

Homogentisic acid, thymol,

melanin,

methhemoglobinemia, alkaptonuria

Red or pink urine

Red

blood

cell,

free

hemoglobin,

myoglobin,

porphyrine

 

Benzene,

chloroquine,

deferoxamine,

phenazopyridine, phenoftalein. Beets, blackberries, rifampin, red dyes in food

Urates

Pengambilan sampel urine untuk urinalisis rutin dengan pungumpulan

specimen midstream pada tempat yang bersih tanpa membersihkan gentilia

sebelumnya. Jika specimen sepertinya tercemari oleh discharge vagina

atau darah menstruasi, sebaiknya pengambilan sampel diulang. Idealnya

specimen urinalisis rutin sebaiknya diperiksa langsung. Jika tidak

memungkinkan maka dapat dimasukkan ke dalam pendingin sebelum

diuji. 12

Urinalisis mikroskopis dapat membedakan antara eritrosit dismorfik

(parenkim renal) dan isomorfik eritrosit (sistem kolektivus urin).

Hematuri mikroskopis persisten yang sulit dijelaskan penyebabnya

membutuhkan pemeriksaan awal untuk perujukan. Dipstick urin mungkin

tumpang tindih karena ketidakmampuannya membedakan antara eritrosit

dengan mioglobin atau hemoglobin. 12

Peningkatan ekskresi protein urin dapat dijadikan pembeda diagnostik

yang penting. Karena membrane basal glomerulus yang normalnya

impermeable terhadap albumin, peningkatan rasio albumin kreatinin urine

merupakan diagnostic untuk penyakit glomerulus, khususnya

glomerulonefritis atau glomerulopati (nefropati membranosa).

Ekskresi protein urin antara 1-1,5 g/24 jam mungkin menjurus kepada

penyakit tubulointertisial daripada penyakit glomerulus, khususnya bila

albumin bukan merupakan komponen penting dalam protein urin.

Proteinuria pada batas nefrotik (>3 atau 3,5 g/24 jam atau rasio protein

kreatinin urin lebih dari 3 atau 3,5 ) spesifik untuk penyakit glomerular.

Langkah selanjutnya adalah penilaian mikroskopis sedimen urin dan urine

yang telah disentrifugasi. Jika uji dipstick positif namun tidak ditemukan

sel darah merah pada sedimen, maka kemungkinan hematuria

berhubungan dengan pigmenturi karena eksogen dan endogen. Hematuria

tanpa ditemukannya elemen pembentuk (eritrosit atau cast) atau proteinuri

disebut “isolated hematuria

Hal penting lainnya yang berhubungan dengan perdarahan dari glomerulus

adalah casts eritrosit. Cast eritrosit menandakan adanya proses inflamasi

daripada kelainan struktur atau fungsi membrane basal, atau kelainan

metabolisme matriks glomerulus. Adanya piuri dengan hematuri

membutuhkan pemeriksaan lanjut untuk menyingkirkan infeksi traktus

urinarius, yang merupakan penyebab umum hematuri. Sebaiknya

dilakukan pewarnaan gram, kultur, atau keduanya.

Jika hasil urinalisis menunjukkan test dipstick positif, eritrosit di

sendimen, dan tidak terdapat protein urin (isolated hematuria), langkah

selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan untuk gangguan perdarahan

dengan melihat jumlah hitung trombosit, protrombine time, partial

thromboplastin time, dan jika pasien merupakan bangsa kulit hitam, maka

lakukan pemeriksaan untuk sickle cell. Jika hasi pemeriksaan ini negative,

maka lakukan pemeriksaan untuk menilai penyakit urologi atau

renovaskular, misalnya nefrolitiasis, menggunakan pemeriksaan radiologi.

Gambar 4. Modalitas Pencitraan untuk Evaluasi Traktus Urinarius 13

urinarius, yang merupakan penyebab umum hematuri. Sebaiknya dilakukan pewarnaan gram, kultur, atau keduanya. Jika hasil urinalisis

Pielografi intravena (IVP) merupakan pemeriksaan radiologi awal untuk

menilai traktus urinarius, dengan gambaran detail struktur kolektivus.

Keuntungannya yang lain adalah relative tidak mahal dengan teknik yang

terstandar. Namun, IVP memiliki sensitivitas yang rendah untuk

mendeteksi massa dengan ukuran kurang dari 3 cm dan kegunaannya

terbatas untuk evaluasi urethra dan vesika urinaria. IVP juga

membutuhkan materi kontras yang merupakan resiko nefrotoksis pada

pasien dengan insufisiensi renal.

Ultrasonografi (USG) ginjal sangat baik digunakan untuk mengkonfirmasi

dan menilai karakteristik kista dan dapat digunakan pada pasien dengan

insufisiensi renal, karena tidak menggunakan kontras. Kerugiannya adalah

kurang akurat dalam menilai lesi solid dengan ukuran kurang dari 3 cm,

dan kurang baik dalam menilai uroepitelial.

Computed Tomography (CT) dengan kontras merupakan pencitraan yang

terbaik untuk mendeteksi massa parenkim ginjal yang kecil, urolitiasis,

dan abses renal. CT sama baiknya dibandingkan dengan Magentic

Resonance Imaging (MRI) dalam mendeteksi massa parenkim ginjal yang

kecil, dan lebih murah. Namun lebih mahal daripada IVP dan USG.

Keterbatasan utama penggunaan CT adalah kurangnya sensitivitas menilai

keganasan uroepitelial. Pada pasien dengan insufisiensi renal atau alergi

kontras, kombinasi USG dengan pielografi retrograde dapat dilakukan.

Tidak satupun dari pemeriksaan di atas yang dapat secara lengkap menilai

mukosa vesika urinaria, sehingga sistoskopi dapat digunakan sebagai

bagian dari pemeriksaan semua pasien dengan isolated hematuria yang

berusia diatas 40 tahun dan pasien usia muda dengan faktor resiko untuk

keganasan genitourinari. Angiografi dapat digunakan untuk menilai

kemungkinan malformasi arteriovenosa kecil, jika penyebab-penyebab

lain sudah disingkirkan. 6

F.

Evaluasi

  • 1. Hematuri Mikroskopis Isolated Mikrohematuria, tanpa adanya kelainan pada anamnesis atau pemeriksaan fisik, sering ditemukan pada pemeriksaan urin rutin. Urinalisis hendaknya diulang 2-3 kali dalam beberapa bulan (tanpa didahului oleh latihan fisik) sebelum memulai pemeriksaan berikutnya. Bila hematuri mikroskopis menetap, harus dibuat anamnesis yang teliti tentang pemakaian obat-obatan, riwayat dalam keluarga adanya hematuria, ketulian, gagal ginjal, batu saluran kemih, riwayat adanya sickle cell disease. Tidak terdapat bukti literature yang cukup untuk merekomendasikan pasien-pasien mana yang akan dilakukan evaluasi urologis secara lengkap atau parsial. AUA Best Panel Policy merekomendasikan semua pasien dengan hematuria mikroskopis dilakukan evaluasi terhadap trakrus urinarius bagian atas, dan hanya memiliki resiko tinggi yang diavaluasi traktus urinarius bagian bawah.

Traktus urinarius bagian atas dievaluasi menggunakan diagnostic

pencitraan. Tujuan pencitraan adalah untuk mendeteksi neoplasma,

urolitiasis, lesi obatruktif, atau lesi inflamatori. Urografi intravena,

ultrasonografi, dan CT merupakan modalitas yang umumnya digunakan.

Traktus urinarius bagian bawah dievaluasi dengan sitologi urin dan

sistoskopi.

Traktus urinarius bagian atas dievaluasi menggunakan diagnostic pencitraan. Tujuan pencitraan adalah untuk mendeteksi neoplasma, urolitiasis, lesi

Gambar 5. Algoritma Evaluasi Pasien dengan Hematuri Mikroskopis. 4

2.

Hematuri Gross

Hematuri gross merupakan gejala tanda bahaya yang membutuhkan

evaluasi yang cepat. Urinalisis harus segera dikerjakan untuk memastikan

adanya eritrosit dan mencari adanya torak dan Kristal. Kadang-kadang

Scistosoma hematobium terdiagnosa dengan ditemukannya ova dalam

urin pada anak-anak dengan hematuri gross yang tidak dapat diterangkan.

Penyebab hematuri gross yang berasal dari glomerulus adalah

glomerulonefritis akut pasca streptokokkus dan nefropati IgA. Anamnesis

yang teliti harus dilakukan untuk menemukan penyebab hematuri.

Riwayat adanya nyeri tenggorok, pioderma atau impetigo, proteinuri,

sembab, hipertensi, dan torak mendukung diagnosis glomerulonefritis.

Bila titer ASO dan uji Streptozyme, dan kadar komplemen C3 serum

dilakukan akan dapat memastikan diagnosis. Bila pemeriksaan tersebut

tidak dilakukan harus dibuat diagnosis banding. Nefropati IgA dapat

menyebabkan hematuri gross berulang dan penyakit ini didahului oleh

infeksi saluran pernafasan atas dan bahkan disertai dengan nyeri perut atau

pinggang.

Demam, disuria, nyeri pinggang dengan atau tanpa gejala muntah

mungkin suatu ISK. Hal ini merupakan penyebab terbanyak hematuri

gross pada anak. CT scan abdomen dan pelvis perlu segera dilakukan bila

ada riwayat trauma abdomen. Riwayat keluarga adanya batu ginjal atau

kolik ginjal hebat dengan hematuri gross sangat mungkin suatu batu

saluran kemih. Hiperkalsiuri dapat menyebabkan hematuri gross berulang

atau hematuri mikroskopis tanpa adanya gambaran batu pada pencitraan.

Unruk mencari sumber perdarahan, sistoskopi paling tepat dilakukan pada

saat terjadi perdarahan aktif. Wanita muda yang mengalami hematuri

gross berulang perlu diselidiki adanya riwayat child abuse, atau adanya

benda asing yang masuk ke vagina. Daerah genitalia harus diperiksa

apakah ada tanda-tanda trauma. 9

A.

Simpulan

III.

KESIMPULAN

  • a) Hematuria makroskopis atau gross dapat terlihat secara kasat mata, sedangka hematuria mikroskopik hanya dapat dideteksi dengan uji dipstick yang dipastikan dengan pemeriksaan mikroskop sedimen urin

  • b) Prevalensi ini lebih meningkat pada pasien-pasien dalam pemeriksaan urologi, usia tua, dan laki-laki.

  • c) Faktor resiko yang signifikan antara lain adalah penggunaan analgetik yang berlebihan, usia lebih dari 40 tahun (faktor resiko meningkat berdasarkan usia, dan 2 kali lebih tinggi pada pria), penggunaan beberapa obat (siklofosfamid, terapi HIV, phenacetin), paparan radiasi pelvis, riwayat infeksi saluran kemih, paparan zat-zat kimia (benzene, aromatic amina), rokok, penyakit urologi sebelumnya (nefrolitiasis, tumor urologis).

  • d) Darah dalam urin dapat berasal dari berbagai bagian ginjal, yaitu glomerulus, tubulus, dan interstitium, atau dari saluran kemih, kandung kemih, dan urethra

e) Uji dipstick merupakan uji tapis yang sensitif untuk memastikan

adanya darah dalam urin dan dikonfirmasi ulang menggunakan

pemeriksaan mikroskopis.