Anda di halaman 1dari 11

A n e l l a R . K u m a l a .

S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 1
LAPORAN PRAKTIKUM
MATA KULIAH ILMU HAMA TANAMAN
Hubungan Antara Faktor Fisik Tanaman Dengan Perkembangan Hama
Dan Preferensinya Pada Tanaman Inang
NAMA : ANELLA RETNA KUMALA
NIM : 115040207111018
KELOMPOK : Senin, 10.55
KELAS : D
ASISTEN : Arrohmatus Syafaqoh Liaini
MINAT PERLINDUNGAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 2
BAB 3
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a) Alat tulis untuk menulis keterangan di kertas label
b) Beaker glass untuk wadah larutan
c) Cutter untuk menghilangkan trichom pada daun
d) Kamera sebagai alat untuk dokumentasi
e) Toples plastik untuk wadah spesimen
f) Kertas label untuk memberi label pada permukaan toples plastik
g) Kompor listrik untuk memanaskan larutan
h) Mikroskop untuk melihat bekas tusukan spesimen
i) Pengaduk kaca untuk mengaduk ketika memanaskan larutan
j) Petridish untuk wadah selama pengamatan dibawah mikroskop
k) Gelas plastik untuk wadah spesimen selama perlakuan percobaan
3.1.2 Bahan
a) Riptortus linearis sebagai spesimen yang akan diamati
b) Daun kedelai sebagai inang dari spesimen
c) Aquades sebagai pelarut asam fuksin
d) Asam fuksin cairan berfungsi untuk memperjelas bekan tusukan spesimen
ketika diamati di mikroskop
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 3
3.2 Cara Kerja (Diagram Alir)
Mengambil 2 tangkai daun kedelai,
dengan perlakuan 1 tangkai daun
bertrichom dan 1 tangkai daun tidak
bertrichom.
Memasukkan masing-masing daun
tersebut ke dalam toples plastik
yang telah diberi label dengan 2X
ulangan
Memasukkan 2 ekor Riptortus
linearis ke dalam toples plastik.
Setelah 24 jam, mengeluarkan
R.linearis dari toples plastik
Mendidihkan asam fuksin dan
aquades kemudian masukkan daun
kedelai ke dalam larutan tersebut
Setelah terjadi perubahan warna,
angkat daun tersebut kemudian
bilas dengan air mengalir dan
selanjutnya meletakkannya dalam
petrisish
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 4
3.3 Analisa Perlakuan
Perlakuan dengan menggunakan 2 tangkai yang pada masing-masing tangkai terdapat 3
helai daun kedelai bertujuan untuk perbandingan gejala serangan oleh R. linearis. Perlakuan
dilakukan dengan 1 tangkai daun yang bertrichom dan yang 1 tangkai tidak bertrichom
(trichom daun dihilangkan dengan menggunakan cutter/pisau cukur). Untuk mengamati
perbedaan gejala serangan, letakkan masing-masing tangkai pada toples yang berbeda dengan
meletakkan 2 R. linearis per toples. Dan untuk lebih meyakinkan hasil pengamatan, maka
dilakukan 2 kali ulangan pada masing-masing perlakuan.
Setelah 24 jam, ambil daun dan rebus dengan menggunakan campuran asam fuksin dan
aquades pada kompor listrik sampai daun berubah warna. Setelah berubah warna, angkat
daun dari rebusan dan bilas dengan air mengalir, lalu tiriskan pada petridish. Langkah
selanjutnya adalah pengamatan dan menghitung jumlah tusukan pada daun dengan
menggunakan mikroskop (tusukan ditandai dengan warna merah gelap pada permukaan
daunnya).
Mengamati dan menghitung jumlah
tusukan R.linearis dengan
menggunakan mikroskop, tusukan
ditandai dengan adanya bintik warna
gelap pada daun
Bandingkan jumlah tusukan antara
kedua perlakuan tersebut dan cata
hasilnya lalu dokumentasikan
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 5
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Dokumentasi dan Klasifikasi Riptortus linearis
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 5
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Dokumentasi dan Klasifikasi Riptortus linearis
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 5
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Dokumentasi dan Klasifikasi Riptortus linearis
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 6
Klasifikasi
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Hemiptera
- Famili : Coreoidea
- Genus : Riptortus
- Spesies : Riptortus linearis. (Wahyu, 2010).
4.2 Tabel Hasil Pengamatan (Kelompok Selasa 07.30)
Keterangan : hanya dilakukan 1 sub perlakuan saja
PERLAKUAN ULANGAN 1 ULANGAN 2 ULANGAN 3 ULANGAN 4
Daun bertrichom 4 3 3 4
Rata-rata - - - -
Daun tanpa
trichom
10 13 13 11
Rata-rata - - - -
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 6
Klasifikasi
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Hemiptera
- Famili : Coreoidea
- Genus : Riptortus
- Spesies : Riptortus linearis. (Wahyu, 2010).
4.2 Tabel Hasil Pengamatan (Kelompok Selasa 07.30)
Keterangan : hanya dilakukan 1 sub perlakuan saja
PERLAKUAN ULANGAN 1 ULANGAN 2 ULANGAN 3 ULANGAN 4
Daun bertrichom 4 3 3 4
Rata-rata - - - -
Daun tanpa
trichom
10 13 13 11
Rata-rata - - - -
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 6
Klasifikasi
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Hemiptera
- Famili : Coreoidea
- Genus : Riptortus
- Spesies : Riptortus linearis. (Wahyu, 2010).
4.2 Tabel Hasil Pengamatan (Kelompok Selasa 07.30)
Keterangan : hanya dilakukan 1 sub perlakuan saja
PERLAKUAN ULANGAN 1 ULANGAN 2 ULANGAN 3 ULANGAN 4
Daun bertrichom 4 3 3 4
Rata-rata - - - -
Daun tanpa
trichom
10 13 13 11
Rata-rata - - - -
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 7
4.3 Dokumentasi Hasil (Daun trichoma dan tanpa trichoma)
Daun bertrichom U1 Daun tanpa bertrichom U1
Daun bertrichom U2 Daun tanpa bertrichom U2
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 7
4.3 Dokumentasi Hasil (Daun trichoma dan tanpa trichoma)
Daun bertrichom U1 Daun tanpa bertrichom U1
Daun bertrichom U2 Daun tanpa bertrichom U2
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 7
4.3 Dokumentasi Hasil (Daun trichoma dan tanpa trichoma)
Daun bertrichom U1 Daun tanpa bertrichom U1
Daun bertrichom U2 Daun tanpa bertrichom U2
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 8
Daun bertrichom U3 Daun tanpa bertrichom U3
Daun bertrichom U4 Daun tanpa bertrichom U4
4.4 Pembahasan (mencakup pertanyaan yang ada di modul IHT dan perbandingan
literatur)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa gejala serangan (banyaknya tusukan) R.
linearis lebih banyak terlihat pada daun kedelai yang telah dihilangkan trichomnya. Trichom
pada daun kedelai ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan yang ada pada
tanaman untuk melindungi tanaman dari serangan hama, utamanya. Pada daun tanpa trichom,
hama lebih mudah untuk menyerang bagian tanaman tersebut.
Trichom pada daun kedelai dapat mengurangi gejala serangan dari R. linearis yang
memiliki tipe mulut menusuk menghisap. Tusukan dari hama ini dapat terhalang oleh bulu-
bulu pada permukaan daun, sehingga apabila dibandingkan dengan daun tanpa trichom
tusukan jelas akan lebih banyak. Hal ini dikerenakan, tidak adanya penghalang bagi
R.linearis untuk menusuk permukaan daun dan menghisap cairan yang terkandung pada
daun. Gejala dari tusukan dan hisapan dari R.linearis adalah timbulnya lubang-lubang kecil
pada permukaan daun dengan pinggirannya yang sedikit kecoklatan.
Menurut Setiyawati (2011), terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah
bulu (trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi. Sodiq
(2009) menyatakan bahwa terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah bulu
(trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi.
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 8
Daun bertrichom U3 Daun tanpa bertrichom U3
Daun bertrichom U4 Daun tanpa bertrichom U4
4.4 Pembahasan (mencakup pertanyaan yang ada di modul IHT dan perbandingan
literatur)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa gejala serangan (banyaknya tusukan) R.
linearis lebih banyak terlihat pada daun kedelai yang telah dihilangkan trichomnya. Trichom
pada daun kedelai ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan yang ada pada
tanaman untuk melindungi tanaman dari serangan hama, utamanya. Pada daun tanpa trichom,
hama lebih mudah untuk menyerang bagian tanaman tersebut.
Trichom pada daun kedelai dapat mengurangi gejala serangan dari R. linearis yang
memiliki tipe mulut menusuk menghisap. Tusukan dari hama ini dapat terhalang oleh bulu-
bulu pada permukaan daun, sehingga apabila dibandingkan dengan daun tanpa trichom
tusukan jelas akan lebih banyak. Hal ini dikerenakan, tidak adanya penghalang bagi
R.linearis untuk menusuk permukaan daun dan menghisap cairan yang terkandung pada
daun. Gejala dari tusukan dan hisapan dari R.linearis adalah timbulnya lubang-lubang kecil
pada permukaan daun dengan pinggirannya yang sedikit kecoklatan.
Menurut Setiyawati (2011), terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah
bulu (trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi. Sodiq
(2009) menyatakan bahwa terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah bulu
(trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi.
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 8
Daun bertrichom U3 Daun tanpa bertrichom U3
Daun bertrichom U4 Daun tanpa bertrichom U4
4.4 Pembahasan (mencakup pertanyaan yang ada di modul IHT dan perbandingan
literatur)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa gejala serangan (banyaknya tusukan) R.
linearis lebih banyak terlihat pada daun kedelai yang telah dihilangkan trichomnya. Trichom
pada daun kedelai ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan yang ada pada
tanaman untuk melindungi tanaman dari serangan hama, utamanya. Pada daun tanpa trichom,
hama lebih mudah untuk menyerang bagian tanaman tersebut.
Trichom pada daun kedelai dapat mengurangi gejala serangan dari R. linearis yang
memiliki tipe mulut menusuk menghisap. Tusukan dari hama ini dapat terhalang oleh bulu-
bulu pada permukaan daun, sehingga apabila dibandingkan dengan daun tanpa trichom
tusukan jelas akan lebih banyak. Hal ini dikerenakan, tidak adanya penghalang bagi
R.linearis untuk menusuk permukaan daun dan menghisap cairan yang terkandung pada
daun. Gejala dari tusukan dan hisapan dari R.linearis adalah timbulnya lubang-lubang kecil
pada permukaan daun dengan pinggirannya yang sedikit kecoklatan.
Menurut Setiyawati (2011), terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah
bulu (trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi. Sodiq
(2009) menyatakan bahwa terdapat kolerasi antara serangga hama dengan jumlah bulu
(trichome) pada permukaan daun, luas daun, kandungan cairan pada daun dan diameter
batang. Disamping itu, jumlah bulu pada daun mempengaruhi populasi telur yang
diletakkan, semakin jarang atau sedikit trichom, maka populasi telur semakin tinggi.
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 9
Dalam penelitian Suharsono (2006) Antixenosis Morfologis Salah Satu Faktor
Ketahanan Kedelai terhadap Hama Pemakan polong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ketahanan kedelai terhadap penghisap polong Riptortus linearis dipengaruhi oleh ketebalan
kulit polong dan kerapatan trichom. Trichom yang rapat dan panjang mengurangi banyaknya
luka tusukan stilet penghisap polong. Samsudin (2008) menyatakan bahwa pada tanaman
terdapat mekanisme katahanan secara morfologi yang dapat digunakan untuk
mempertahankan diri dari serangan serangga hama, salah satu mekanisme ketahanan secara
morfologi ini adalah adanya bulu-bulu halus pada permukaan tanaman yang biasa disebut
trikoma. Trikoma dapat mengurangi efek kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan
serangga hama.
Preferensi sejenis serangga terhadap jenis makanan dipengaruhi oleh stimuli zat kimia
chemotropisme yang terutama menentukan bau dan rasa, mutu gizi dan adaptasi struktur.
Tersedianya makanan yang cukup maksudnya adalah yang cocok bagi kehidupan serangga,
bila makanan tidak cocok bagi hama dengan sendirinya populasi hama tidak akan dapat
berkembang sebagaimana biasanya. Ketidak cocokan makanan dapat timbul karena
kurangnya kandungan unsur yang diperlukan, rendahnya kadar air dalam kandungan
makanan, permukaan material yang keras dan bentuk materialnya. (Kartasapoetra, 1991).
Sudah merupakan hukum alam walaupun semua faktor lingkungan cukup baik bagi
kehidupan sarangga, pada akhirnya kehidupan dan perkembangan serangga ditentukan oleh
ada tidaknya faktor makanan.Syarat agar makanan dapat memberikan pengaruh yang baik
adalah tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup dan cocok untuk perkembangan
serangga.
Berdasarkan uraian tersebut, beberapa hal yang dapat disampaikan sebagai tindak lanjut
untuk pengendalian hama tersebut antara lain adalah melakukan analisa dan identifikasi
mengenai adanya potensi ketahanan tanaman, baik secara fisik atau morfologis, seperti
adanya trikom pada permukaan daun kedelai, maupun potensi lain misalnya secara genetik
maupun potensi ketahanan tanaman yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagai
mahasiswa HPT, saran yang dapat diberikan untuk meminimalkan penurunan produksi
pertanian akibat serangan hama secara umum adalah melakukan penelitian lebih lanjut
tentang mekanisme pertahanan yang ada pada tanaman, sehingga akan didapatkan ide untuk
membuat varietas yang memiliki ketahanan yang dapat tahan untuk lebih dari satu jenis
gangguan. Selain itu, penerapan PHT sangatlah penting untuk keberlanjutan dan
keseimbangan suatu agroekosistem.
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 10
BAB 5
KESIMPULAN
Trichom (bulu halus) yang terdapat pada permukaan daun kedelai merupakan salah satu
bentuk mekanisme pertahanan yang dapat mengurangi jumlah gejala serangan dan kerusakan
dari hama yang menyerang. Terdapat hubungan antara factor fisik tanaman, dilihat dari ada
dan tidaknya trichom pada daun kedelai terhadap tingkat serangan hama Riptortus linearis.
Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum, didapatkan data yang menunjukkan
bahwa gejala sarangan dan kerusakan (yang berupa tusukan) pada permukaan daun lebih
banyak terdapat pada daun tanpa trichom. Sedangkan pada daun yang bertrichom, gejala
serangan dan kerusakan yang ditimbulkan hanya sedikit. Hal ini menunjukkan adanya
pengaruh mekanisme pertahanan pada daun kedelai yang bertrichom terhadap serangan R.
Linearis.
A n e l l a R . K u m a l a . S _ 1 1 5 0 4 0 2 0 7 1 1 1 0 1 8 Page 11
DAFTAR PUSTAKA
Kartasapoetra, A. G. 1991. Hama Hasil Tanaman dalam Gudang. Rineka Cipta: Jakarta.
Setiyawati, A. D. 2011. Kepekaan Tanaman Kedelai (Glycine max L, Merr) Terhadap Hama
Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn). Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan
teknologi, UIN Maliki Malik Ibrahim, Malang
Sodiq, M. 2009. Ketahanan Tanaman Terhadap Hama. Universitas Pembangunan Nasional
Veteran. Surabaya.
Suharsono. 2006. Antixenosis Morfologis Salah Satu Faktor Ketahanan Kedelai Terhadap
Hama Pemakan Polong. Buletin Palawija. 11: 31-33.