Anda di halaman 1dari 3

Setelah tablet dicetak, kemudian dilakukan pengujian tablet yang meliputi

:
Keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan tablet, friabilitas, dan waktu
hancur.
Keseragaman bobot merupakan suatu pengujian kualitas tablet dilihat dari
keseragaman massa masing-masing tablet. Uji keseragaman bobot dilakukan
dengan cara sebanyak 20 butir tablet ditimbang kemudian dilihat rata-rata bobot
dari tablet. Hasil dari pengujian keseragaman bobot adalah 0.5989, 0.6417,
0.6711, 0.6705, 0.5964, 0.5816, 0.6769, 0.6291, 0.679, 0.6775, 0.5808, 0.5948,
0.6392, 0.6589, 0.6593, 0.6232, 0.5792, 0.6432, 0.6428, 0.6494. Dari hasil
pengujian keseragaman bobot tersebut diperoleh rata-rata bobot adalah 0.604
gram. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa bobot tidak seragam dan tidak
memenuhi syarat, hal ini karena terdapat lebih dari 2 tablet yang masing-masing
bobotnya menyimpang 5% dari bobot rata-rata tersebut dimana pada hasil
simpangan 5% seharusnya bobot tablet tidak kurang dari 0.6853 gram dan tidak
lebih dari 0.757438 gram.
Setelah dilakukan pegujian keseragaman bobot, kemudian dilakukan uji
keseragaman ukuran. Pengujiannya dilakukan dengan cara sebanyak 20 butir
tablet diukur ketebalan dan diameternya menggunakan jangka sorong digital.
Jangka sorong merupakan alat untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis,
mengukur diameter bagian dalam atau bagian luar pipa, dan untuk mengukur
kedalaman suatu bejana yang sempit. Jangka sorong terdiri dari dua bagian utama,
yaitu rahang tetap dan rahang sorong. Rahang tetap dilengkapi dengan skala
nonius atau vernier, yang diambil dari nama penemu yang pertama kali
menemukan jangka sorong, yakni Pine Vernier. Jangka sorong memiliki ketelitian
pengukuran sampai dengan 0,1 mm. Pada perkembangan selanjutnya, ada jangka
sorong yang memiliki ketelitian sampai dengan 0,05 mm, 0,02 mm, dan jangka
sorong digital dengan ketelitian 0,01 mm. Hasil dari pengukuran diameter
menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut: 12.04, 12.07, 12.03, 12.07,
12.26, 11.86, 12.07, 12.07, 12.07, 12.03, 11.91, 12.05, 12.06, 12.07, 11.84, 12.07,
12.06, 11.96, 12.07, 11.74. Sedangkan pengukuran tebal diperoleh 5.55, 5.56,
5.81, 5.82, 5.63, 5.55, 5.95, 5.75, 5.94, 5.71, 5.53, 5.57, 5.67, 5.84, 5.66, 5.65,
5.54, 5.71, 5.71, 5.80. Dari hasil tersebut kemudian dirata-ratakan dan diperoleh
rata-rata tebal 5.702 mm dan diameter 12.02. Keseragaman ukuran perlu diukur,
hal ini dikarenakan apabila ukuran tidak sama maka akan mempengaruhi kualitas
suatu produk obat. Dan dari hasil dapat dilihat bahwa ukuran dari masing-masing
tablet adalah seragam karena rata-rata diameter tidak 3 kali dari tebal dan rata-rata
diameter tidak kurang dari 1 1/3 tebal.
Pengujian selanjutnya adalah uji kekerasan tablet. Uji ini dilakukan
dengan alat yang bernama hardness tester. Pada pengujian ini yang diukur adalah
tekanan yang digunakan untuk memecahkan tablet. Cara pengujiannya adalah
sebanyak 20 tablet diuji satu per satu kekerasannya menggunakan alat hardness
tester. Dan didapatkan hasil tekanan (dalam Newton) 25, 50,45, 50, 37.5, 28.5, 55,
42.5, 60, 67.5, 26, 27, 48, 55, 66, 40, 26, 48, 47.5,45. Dari hasil tersebut dapat
dilihat bahwa tablet yang dihasilkan mempunyai kekerasan yang buruk karena
standar dari kekerasan tablet adalah 70-80 Newton.
Selanjutnya dilkaukan pengujian friabilitas atau yang biasa disebut uji
kerapuhan obat. Pengujian dilakukan dengan cara sebanyak 6.06 gram tablet
ditimbang (sebanyak 10 tablet) kemudian tablet dimasukkan ke dalam alat
friability tester. Pengujian ini dilakukan dilakukan selama 4 menit. Alat ini dapat
mengetahui kekerasan tablet dengan mekanisme tablet dimasukkan kedalam
sebuah roda pada alat, kemudian roda tersebut akan berputar.

Setelah waktu pengujian selesai maka massa sisa tablet ditimbang kembali. Dan
dari hasil uji tersebut masa yang tersisa adalah 5.8337 gram. Hal ini karena tablet
hancur pada saat pengujian. % friabilitas dapat ditentukan dengan rumus:




Setelah dilakukan perhitungan maka diperoleh % friabilitasnya adalah 3.73%.
Dari hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa friabilitas tablet yang
dihasilkan adalah buruk karena pada literatur disebutkan bahwa standar friabilitas
yang baik adalah kurang dari 1%.
Faktor yang mempengaruhi hasil kekerasan dan friabilitas tablet yang
buruk adalah kurangnya zat pengikat dan formula yang dikerjakan. Zat pengikat
yang digunakan pada formula kali ini adalah amprotab pro pasta. Merupakan
senyawa yang mengandung molekul air, yang diperoleh dengan cara tertentu
sehingga berbentuk kristal. Amprotab pro pasta ini tidak berasa dan tidak berbau,
berwarna putih, tidak larut dalam air dan alkohol. Sedikit larut dalam asam asetat
dan HNO3 encer. Amprotab pro pasta mempunyai sifat sebagai bahan pelicin dan
bahan pengisi. Penggunaan bahan ini pada formula ini membuat tablet dapat
dicetak namun tablet mempunyai friabilitas yang tinggi.
Pengujian selanjutnya adalah uji waktu hancur. Waktu hancur merupakan
waktu yang dibutuhkan untuk hancurnya tablet menjadi partikel-
partikel penyusunnya bila kontak dengan cairan. Waktu hancur tablet juga
menggambarkan cepat lambatnya tablet hancur dalam cairan pencernaan.
Dimasukkan 5 tablet ke dalam tabung berbetuk keranjang, kemudian diturun-
naikkan tabung secara teratur 30 kali setiap menit dalam medium air dengan suhu
antara 36-38 derajat celcius. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet
yang tertinggal di atas kaca. Dicatat lama waktu hancur tablet. Dan diperoleh
hasil waktu hancur tablet adalah 10.08, 10.10, 8.43, 9.20, 9.10, 8.36 detik.
Menurut Farmakope III, untuk tablet tidak bersalut akan hancur dengan sempurna
dalam waktu 15 menit maka tanlet dinyatakan memenuhi syarat bagi parameter
ini.