Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup
masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu
penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma.
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total.
Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan terbebas dari ancaman
serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungannya serta faktor ekonomi, penderita
harus selalu berhadapan dengan faktor alergen yang menjadi penyebab serangan. Biaya pengobatan
simptomatik pada waktu serangan mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi
pengobatan profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama, sering menjadi problem tersendiri.
Peran dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting. Dokter sebagai pintu
pertama yang akan diketuk oleh penderita dalam menolong penderita asma, harus selalu meningkatkan
pelayanan, salah satunya yang sering diabaikan adalah memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan.
Pendidikan kesehatan kepada penderita dan keluarganya akan sangat berarti bagi penderita, terutama
bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan pada waktu menghadapi serangan, dan bagaimana
caranya mencegah terjadinya serangan asma.
Dalam tiga puluh tahun terakhir terjadi peningkatan prevalensi (kekerapan penyakit) asma
terutama di negara-negara maju. Kenaikan prevalensi asma di Asia seperti Singapura, Taiwan, Jepang,
atau Korea Selatan juga mencolok. Kasus asma meningkat insidennya secara dramatis selama lebih dari
lima belas tahun, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Beban global untuk penyakit ini
semakin meningkat. Dampak buruk asma meliputi penurunan kualitas hidup, produktivitas yang
menurun, ketidakhadiran di sekolah, peningkatan biaya kesehatan, risiko perawatan di rumah sakit dan
bahkan kematian. (Muchid dkk,2007)
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal ini
tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia.
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10
penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992,
asma, bronkitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian ke- 4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %.
Tahun 1995, prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis kronik
11/1000 dan obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan
kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan prevalensi asma
(gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya mempunyai gejala klasik.
Maka disini kami akan memaparkan tentang Asma Bronchial yang nantinya akan dibutuhkan
oleh kita selaku askep. Didalamnya terkandung Definisi Penyakit Asma Bronchial, Etiologi Penyakit Asma
Bronchial, Patofisiologi Penyakit asma bronkial, Gejala Klinis Penyakit Asma Bronchial, Diagnosis
Penyakit Asma Bronchial dan Pencegahan Penyakit Asma Bronchial.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian yang ada diatas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana definisi Asma Bronchial ?
2. Bagaimana etiologi Asma Bronchial ?
3. Bagaimana patofisiologi Asma Bronchial ?
4. Bagaimana gejala klinis Asma Bronchial ?
5. Bagaimana diagnosis Asma Bronchial ?
6. Bagaimana pencegahan Asma Bronchial ?
1.3 Tujuan
2. Menjelaskan definisi Asma Bronchial
3. Menjelaskan etiologi Asma Bronchial
4. Menjelaskan patofisiologi Asma Bronchial
5. Menjelaskan gejala klinis Asma Bronchial
6. Menjelaskan diagnosis Asma Bronchial
7. Menjelaskan pencegahan Asma Bronchial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Asma adalah suatu kadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan bronkus
yang berulang namun reversibel, dan diantara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan
ventilasi yang lebih normal. Keadaan ini pada orang-orang yang rentan terkena asma mudah ditimbulkan
oleh berbagai rangsangan, yang menandakan suatu keadaan hipere aktivitas bronkus yang khas.Penyakit asma
adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penyempitan saluran pernapasan sementara waktu sehingga
sulit bernapas. Asma terjadi ketika ada kepekaan yang meningkat terhadap rangsangan dari lingkungan sebagai
pemicunya. Diantaranya adalah dikarenakan gangguan emosi, kelelahan jasmani,perubahan cuaca,
temperatur, debu, asap, bau-bauan yang merangsang, infeksisaluran napas, faktor makanan dan reaksi
alergi.

Penyakit asma bronkial di masyarakat sering disebut sebagai bengek, asma, mengi,
ampek, sasak angok, dan berbagai istilah lokal lainnya. Asma merupakan suatu penyakit gangguan jalan
nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme,
peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan nafas.

Orang yang menderita asma memiliki ketidak mampuan mendasar dalam mencapai
angka aliran udara normal selama pernapasan (terutama pada ekspirasi). Ketidak mampuan ini
tercermin dengan rendahnya volume udara yang dihasilkan sewaktu melakukan usaha eksirasi paksa pada detik
pertama. Karena banyak saluran udara yang menyempit tidak dapat dialiri dan dikosongkan secara
cepat,tidak terjadi aerasi paru dan hilangnya ruang penyesuaian normal antara ventilasidan aliran darah
paru. Turbulensi arus udara dan getaran mukus bronkus mengakibatkan suara mengi yang terdengar
jelas selama serangan asma, namun tanda fisik ini juga terlihat mencolok pada masalah saluran napas
obstruktif.Diantara serangan asma, pasien bebas dari mengi dan gejala, walaupun reaktivitas bronkus
meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap berlanjut. Namun, pada asmakronik, masa tanpa serangan dapat
menghilang, sehingga mengakibatkan keadaan asma yang terus-menenrus yang sering disertai infeksi bakteri
sekunder.
2.2 Etiologi
Sampai saat ini etiologi dari asma bronchial belum diketahui. Berbagai teori sudah diajukan,
akan tetapi yang paling disepakati adalah adanya gangguan parasimpatis (hiperaktivitas saraf kolinergik),
gangguan simpatis (blok pada reseptor beta adrenergic dan hiperaktifitas reseptor alfa adrenergik).
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik).
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik,
seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu
jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan
asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik).
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik
atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran
pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya
waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-
alergik.
Berdasarkan Keparahan Penyakitnya :
a. Asma intermiten
Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu, eksaserbasi ringan dalam beberapa jam atau hari, gejala
asma malam hari terjadi < 2 kali dalam 1 bulan, fungsi paru normal dan asimtomatik di antara waktu
serangan, Peak Expiratory Folw (PEF) dan Forced Expiratory Value in 1 second (PEV1) > 80%

b. Asma ringan
Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu tetapi < 1 kali dalam 1 hari, eksaserbasi mengganggu
aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi > 2 kali dalam 1 bulan, PEF dan PEV1 > 80%
c. Asma sedang (moderate)
Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari
terjadi >1 kali dalam 1 minggu, menggunakan inhalasi beta 2 agonis kerja cepat dalam keseharian, PEF
dan PEV1 >60% dan < 80%
d. Asma parah (severe)
Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam hari sering terjadi,
aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma
bronchial:
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit
asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya
juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan

3. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
4. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat
serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma
yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
5. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan
dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes,
polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh
raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas
biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
http://doctorology.net/wp-content/uploads/2009/03/tipe-asma.jpg&imgrefurl.htm


2.3 Patofisiologi

Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar
bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di
udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang
yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam
jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang
berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka
antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel
mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat
anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan
bradikinin. Efek gabungan dari semua factor-faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos
bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi
karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena
bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal
yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat
melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini
menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat
selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa
menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003)















Klasifikasi
Derajat Gejala Gejala malam Faal paru
Intermiten Gejala kurang dari 1x/minggu
Asimtomatik
Kurang dari 2 kali dalam
sebulan
APE > 80%
Mild persistan -Gejala lebih dari 1x/minggu tapi kurang dari
1x/hari
-Serangan dapat menganggu aktivitas dan tidur
Lebih dari 2 kali dalam
sebulan
APE >80%
Moderate
persistan
-Setiap hari,
-Serangan 2 kali/seminggu, bisa berahari-hari.
-Menggunakan obat setiap hari
-Aktivitas & tidur terganggu
Lebih 1 kali dalam seminggu APE 60-
80%
Severe persistan - Gejala Kontinyu
-Aktivitas terbatas
-Sering serangan
Sering APE <60%


2.4 Gejala Klinis
Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai fase inspirasi yang lebih
pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi mengi (wheezing), batuk yang disertai
serangn napas yang kumat-kumatan. Pada beberapa penderita asma, keluhan tersebut dapat ringan,
sedang atau berat dan sesak napas penderita timbul mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat
atau tiba-tiba menjadi lebih berat.
Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat ringannya wheezing tergantung cepat atau
lambatnya aliran udara yang keluar masuk paru. Bila dijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot
pernapasan, wheezing akan terdengar lebih lemah atau tidak terdengar sama sekali. Batuk hamper
selalu ada, bahkan seringkali diikuti dengan dahak putih berbuih. Selain itu, makin kental dahak, maka
keluhan sesak akan semakin berat.
Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk membungkuk
dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi ini didapati juga pada pasien dengan
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Tanda lain yang menyertai sesak napas adalah
pernapasan cuping hidung yang sesuai dengan irama pernapasan. Frekuensi pernapasan terlihat
meningkat (takipneu), otot Bantu pernapasan ikut aktif, dan penderita tampak gelisah. Pada fase
permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan PaO2 dan PaCO2, tetapi pH normal atau sedikit
naik. Hipoventilasi yang terjadi kemudian akan memperberat sesak napas, karena menyebabkan
penurunan PaO2 dan pH serta meningkatkan PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah
dan denyut nadi sampai 110-130/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalam darah
akibat respons hipoksemia.

2.5 Diagnosis asma bronkial
1. Anamnesa
a.Keluhan sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang tak kunjung sembuh,
atau batuk malam hari.
b.Semua keluhan biasanya bersifat episodik dan reversible.
c.Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain.

2. Pemeriksaan Fisik
a.Keadaan umum : penderita tampak sesak nafas dan gelisah, penderita lebih nyaman dalam posisi duduk.
b.Jantung : pekak jantung mengecil, takikardi.
c.Paru :
Inspeksi : dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong ke bawah.
Auskultasi : terdengar wheezing (mengi), ekspirasi memanjang.
Perkusi : hipersonor
Palpasi : Vokal Fremitus kanan=kiri

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium meliputi :
a. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :
- Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil.
- Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
- Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
- Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang
tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah
- Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau
asidosis.
- Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
- Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan
terdapatnya suatu infeksi.
- Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun
pada waktu bebas dari serangan.
c. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan
gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga
intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang
didapat adalah sebagai berikut:
- Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
- Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat
bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
d. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang
positif pada asma. Pemeriksaan menggunakan tes tempel.
e. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan
disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
- Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clockwise rotation.
- Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block).
- Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan
- VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
f. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana
diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer
dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan
adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak
adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk
menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak
penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. (Medicafarma,2008)
g. Uji provokasi bronkus untuk membantu diagnosis
Pengobatan profilaksis dianggap merupakan cara pengobatan yang paling rasional, karena sasaran
obat-obat tersebut langsung pada faktor-faktor yang menyebabkan bronkospasme. Pada umumnya
pengobatan profilaksis berlangsung dalam jangka panjang, dengan cara kerja obat sebagai berikut :
a. Menghambat pelepasan mediator.
b. Menekan hiperaktivitas bronkus.

Hasil yang diharapkan dari pengobatan profilaksis adalah :
a. Bila mungkin bisa menghentikan obat simptomatik.
b. Menghentikan atau mengurangi pemakaian steroid.
c. Mengurangi banyaknya jenis obat dan dosis yang dipakai.
d. Mengurangi tingkat keparahan penyakit, mengurangi frekwensi serangan dan
meringankan beratnya serangan.



Obat profilaksis yang biasanya digunakan adalah :
a. Steroid dalam bentuk aerosol.
b. Disodium Cromolyn.
c. Ketotifen.
d. Tranilast.

2.6 Pencegahan
a. Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi
b. Menghindari kelelahan
c. Menghindari stress psikis
d. Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin
e. Olahraga renang, senam asma.




















BAB III
KESIMPULAN

Asma bronchial adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat
reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas. Berdasarkan penyebabnya,
asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : Ekstrinsik (alergik), Intrinsik (non alergik)
,Asma gabungan.
Dan ada beberapa hal yang merupakan faktor penyebab timbulnya serangan asma bronkhial yaitu :
faktor predisposisi(genetic), faktor presipitasi(alergen, perubahan cuaca, stress, lingkungan kerja,
olahraga/ aktifitas jasmani yang berat). Pencegahan serangan asma dapat dilakukan dengan :
a. Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi
b. Menghindari kelelahan
c. Menghindari stress psikis
d. Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin
e. Olahraga renang, senam asma
Saran
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan
memahami apa yang telah terulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa menambah
pengetahuan pembaca. Disamping itu saya juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca
sehinga kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.









DAFTAR PUSTAKA

http://myhealing.files.wordpress.com/2008/02/asthma.htm. diakses 21 Juni 2012
http://myhealing.files.wordpress.com/2008/02/asthma.htm. diakses 21 Juni 2012
http://doctorology.net/wp-content/uploads/2009/03/tipe asma.htm. diakses 21 Juni 2012
Medicafarma. (2008, Mei 7). Asma Bronkiale. Diakses 22 Juni 2012 dari
Medicafarma: http://medicafarma.blogspot.com/2008/05/asma-
bronkiale.html
Muchid, dkk. (2007, September). Pharmaceutical care untuk penyakit asma.
Diakses 22 Juni 2012 dari Direktorat Bina Farmasi Komunitas
Dan Klinik Depkes RI:http://125.160.76.194 /bidang/yanmed/farmasi/
Pharmaceutical/ASMA.pdf
Tanjung, D. (2003). Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Diakses 22 Juni 2012
dari USU digital library:
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-dudut2.pdf. diakses 22 Juni 2012
http://www.scribd.com/doc/12896544/Asma-Bronkial. diakses 22 Juni 2012












BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan
respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam macam stimuli yang ditandai dengan
penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih lebihan dari kelenjar
kelenjar di mukosa bronchus. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor yang mempengaruhi, baik
dari faktor ekstrinsik dan instrinsik.
Di dalam Faktor Ekstrinsik memperlihatkan Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas
yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (
antigen inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk serbuk dan bulu binatang, sedangkan pada
faktor instrinsik nya memperlihatkan bahwa asma timbul akibat infeksi baik itu virus, bakteri dan
jamur, cuaca iritan, bahan kimia, emosional, dan aktifitas yang berlebihan. Penyakit asma ini
berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada
pengobatan yang lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian.
Asma diklasifikasikan sebagai penyakit, intermiten reversibel, obstruktif dari paru-paru. Ini
adalah berkembang masalah kesehatan di Amerika Serikat, dengan sekitar 20 juta orang terkena
dampak.
Dalam 20 tahun terakhir, jumlah anak dengan asma telah meningkat nyata, dan tidak terkemuka
serius penyakit kronis pada anak-anak. Sayangnya, sekitar 75% anak dengan asma terus
memiliki masalah kronis di masa dewasa. Jumlah kematian setiap tahunnya dari asma telah
meningkat lebih dari 100% sejak tahun 1979 di Amerika Serikat.
Asma adalah penyakit saluran udara yang ditandai oleh peradangan saluran napas dan
hyperreactivity (Meningkat tanggap terhadap berbagai pemicu). Hyper-reaktivitas mengarah ke
saluran napas karena onset akut kejang otot pada otot polos dari tracheobronchial obstruksi
pohon, sehingga mengarah ke lumen menyempit. Selain kejang otot, terdapat pembengkakan
mukosa, yang menyebabkan edema. Terakhir, kelenjar lendir peningkatan jumlah, hipertrofi, dan
mengeluarkan lendir tebal.
Pada asma, kapasitas total paru (TLC), kapasitas residu fungsional (FRC), dan sisa volume (RV)
meningkat, tetapi tanda penyumbatan saluran napas adalah pengurangan rasio paksa expiratory
volume dalam 1 detik (FEV1) dan FEV1 dengan kapasitas vital paksa (FVC). Meskipun asma
dapat disebabkan oleh infeksi (khususnya virus) dan iritasi dihirup, hal itu sering terjadi
hasil reaksi alergi.
Sebuah alergen (antigen) diperkenalkan untuk tubuh, dan kepekaan seperti antibodi
imunoglobulin E (IgE) terbentuk. LgE antibodi mengikat untuk sel mast jaringan dan basofil di
mukosa bronkiolus, jaringan paru-paru, dan nasofaring. Antigen-antibodi reaksi melepaskan zat
mediator primer seperti histamin dan zat bereaksi lambat dari anaphylaxis (SRS-A) dan lain-lain.
Ini menyebabkan mediator kontraksi kelancaran otot dan edema jaringan. Selain itu, sel goblet
mengeluarkan lendir tebal ke saluran udara yang menyebabkan obstruksi. Asma intrinsik hasil
dari semua penyebab lain kecuali alergi, seperti infeksi (Khususnya virus), menghirup iritasi, dan
penyebab lainnya atau etiologi. The parasimpatis sistem saraf menjadi terangsang, yang
meningkatkan nada bronchomotor, mengakibatkan bronkokonstriksi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari makalah ini siswa Keperawatan TRISAKTI GEMOLONG dapat
mengetahui tentang penyakit asma tikus dan asuhan keperawatan terhadap klien dengan penyakit
asmatikus.

2. Tujuan Khusus
a. Siswa dapat mengetahui definisi penyakit asmatikus
b. Siswa dapat mengetahui etiologi penyakit asmatikus
c. Siswa dapat mengetahui tanda dan gejala penyakit asmatikus
d. Siswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit asmatikus
e. Siswa dapat mengetahui pathway penyakit asmatikus
f. Siswa dapat mengetahui Penatalaksanaan dan asuhan keperawatan penyakit asmatikus













BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).

Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme
yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).

Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi
berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Asmatikus adalah Suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai
beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim.
Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian, oleh karena itu :
a. Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan diutamakan terhadap usaha
menanggulangi sumbatan saluran pernapasan.
b. Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor yang merangsang
timbulnya serangan (debu, serbuk, makanan tertentu, infeksi saluran napas, stress emosi, obat-
obatan tertentu seperti aspirin, dan lain-lain).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespons terhadap terapi
konvensional. Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas, penggunaan
tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic, dan
iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh
hipersensitivitas terhadap penisilin.

Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic berupa seranganasam berat kemudian
bertambah berat yang refrakter bila serangan 1 2 jam pemberian obat untuk serangan asma akut
seperti adrenalin subkutan, aminofilin intravena, atau antagonis tidak ada perbaikan atau malah
memburuk.

B. Etiologi
1. Faktor Ekstrinsik
Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang
bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk
serbuk dan bulu binatang.
2. Faktor Intrinsik
a. Infeksi :
- virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)
- bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus
- jamur, misalnya aspergillus
3. Cuaca :
perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan.
4. Iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara.
5. Emosional : takut, cemas dan tegang.
6. Aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari.

C. MANIFESTASI KLINIK
1. Wheezing
2. Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan
3. Pernapasan cuping hidung
4. Batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit
5. Diaphoresis
6. Sianosis
7. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan
8. Kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadarn
9. Tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara

D. PATHOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar
bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing
di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut :
seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya. (Tanjung, 2003) Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast
yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus
kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen
bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan
mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat
(yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.
Efek gabungan dari semua faktor - faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme
otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
(Tanjung, 2003) Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada
selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian
luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah
akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali
melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume
residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan
udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003)
a. Pencetus serangan (alergen, emosi/stress, obat-obatan, infeksi)
b. Kontraksi otot polos
c. Edema mukusa
d. Hipersekresi
e. Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi)
f. Hipoventilasi
g. distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru
h. Gangguan difusi gas di alveoli
i. Hipoxemia
j. Hiperkarpia

E. Pathway
Telampir.

F. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum pada penderita asma
akan didapati :
a. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
1. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari Kristal eosinopil.
2. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
3. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
4. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b. Pemeriksaan darah
1. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis.
2. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
3. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan
terdapatnya suatu infeksi.
4. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan
menurun pada waktu bebas dari serangan.

B. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan
gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga
intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat
dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
C. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi
yang positif pada asma.

D. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan
disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
a. perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise
rotation.
b. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch
block).
c. Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau
terjadinya depresi segmen ST negative.

E. Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan
asma tidak menyeluruh pada paru-paru.

F. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan
sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan
spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau
nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk
menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan obstruksi.

G. Komplikasi
Komplikasi yang ditimbulkan oleh status asmatikus adalah
a. Atelaktasis
b. Hipoksemia
c. Pneumothoraks Ventil
d. Emfisema
e. Gagal napas.

H. Penatalaksanaan Medis
Prinsip-prinsip penatalaksanaan status asmatikus adalah :
1. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan : Saatnya serangan Obat-
obatan yang telah diberikan (macam obatnya dan dosisnya).
2. Pemberian obat bronchodilator.
3. Penilaian terhadap perbaikan serangan
4. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid
5. Setelah serangan mereda : Cari faktor penyebab modifikasi pengobatan penunjang
selanjutnya.
6. Oksigen dosis 2-4 liter/ menit

I. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut:
a. Riwayat kesehatan yang lalu:
1. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.
2. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.
3. Kaji riwayat pekerjaan pasien.
b. Aktivitas
1. Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.
2. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
3. Aktivitas sehari-hari.
4. Tidur dalam posisi duduk tinggi.
C. Pernapasan
1. Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
2. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.
3. Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan hidung.
4. Adanya bunyi napas mengi.
5. Adanya batuk berulang.
d. Sirkulasi
1. Adanya peningkatan tekanan darah.
2. Adanya peningkatan frekuensi jantung.
3. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.
4. Kemerahan atau berkeringat.
e. Integritas ego
1. Ansietas
2. Ketakutan
3. Peka rangsangan
4. Gelisah
f. Asupan nutrisi
1. Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
2. Penurunan berat badan karena anoreksia.

g. Hubungan sosial
1. Keterbatasan mobilitas fisik.
2. Susah bicara atau bicara terbata-bata.
3. Adanya ketergantungan pada orang lain.
h. Seksualitas
1. Penurunan libido

J. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi,
bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkus, serta sekresi mucus yang kental.
2. Resiko tinggi ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan penignkatan kerja
pernapasan, hipoksemia, dan ancaman gagal napas.
3. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
penurunan nafsu makan.
5. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan.
6. Cemas yang berhubugan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan
(ketidakmampuan untuk bernapas).

7. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi tidak adekuat mengenai proses
penyakit dan pengobatan.
K. Rencana Intervensi
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan
bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkus, serta sekresi mucus
yang kental.
Tujuan dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas kembali
efektif.
Kriteria evaluasi :
a. Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
b. Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi
c. Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing (-).
d. Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Rencana Intervensi :
a. Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum
Rasional : Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi.
b. Atur posisi semifowler
Rasional : Meningkatkan ekspansi dada
c. Ajarkan cara batuk efektif
Rasional : Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan keluarnya secret yang melekat
di jalan napas.
d. Bantu klien latihan napas dalam
Rasional : Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan secret ke
dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan
e. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan
pembersihan jalan napas.
f. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.
Rasional : Fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret.
g. Kolaborasi pemberian obat
Bronkodilator golongan B2
1.1. Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25mg, fenoterol HBr 0,1% Solution,
orciprenaline sulfur 0,75mg.
Rasional : Pemberian bronkodilator via ihalasi akan langsung menuju area bronkus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
1.2. Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg.
Rasional : Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas
dapat optimal.
h. Agen mukolitik dan ekspektorant
Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk memudahkan
pembersihan.
Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari perlengketan ajaln napas.

i. Kortikosteroid.
Rasional : Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan
reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronchus.
























BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. KASUS
Nn.B 18 thn ,Agama Islam,dan nama walinya adalah Tn. Eko. Masuk kerumah sakit pada
tanggal 27 april 2011klien masuk melalui poliklinik penyakit dalam , dengan keluhan sesak
napas , saat dilakukan pemeriksaan, Nn. B mengeluh sesak pada saat ia bernapas, batuk kering
dan nyeri pada dada dan abdomen. Klien juga mengatakan lemah,lemas dan hanya bias berbaring
saja karena susah bernapas jika beraktifitas, aktivitas sehari hari klien di bantu oleh keluarganya.
Skala nyeri klien adalah 5 . Klien mengatakan 3 tahun yang lalu pernah, ia pernah dirawat di
rumah sakit dengan sakit yang sama, dan dokter saat itu mengatakan bahwa dia sakit asma. Nn.B
tampak lelah, dan nmengatakan adanya alergi pada debu, dan sangat rentan kena asma pada
udara malam.ny. N Menggunakan otot bantu pernapasan, tampak adanya pernapasan cuping
hidung. Pada saat pengkajian klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi
wheezing. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi :
113x/mnt, klien tampak lemah dan letih, wajah klien tampak pucat. Hasil pemeriksaan radiologi
paru Nn.B , didapati hiperinflasi pada parunya.
Pengkajian
Nama Perawat : Perawat Dila
Tanggal Pengkajian : 28 April 2011
Ruang Perawatan Dahlia, Rumah Sakit Respati
Jam Pengkajian : 08.00 wib
Tanggal Masuk : 27 April 2011

1. Biodata :
Pasien
Nama : Nn. B
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : -
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Jogjakarta
Diagnosa Medis : Status Asmatikus

Penanggung Jawab
Nama : Tn. Eko
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Pekerjaan : Admin di sebuah perusahaan swasta
Status Pernikahan : Menikah
Alamat : Jogjakarta
Hubungan dengan klien : Orang tua

2. Keluhan utama :
Klien mengeluh sesak napas.
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien menderita penyakit asma sejak 3 tahun yang lalu.
4. Basic Promoting physiology of Health
1. Aktivitas dan latihan
Klien sangat lemah sehingga untuk aktivitas yang berat dibantu keluarga dan aktivitas yang
dikerjakan pasien hanya sebatas ringan saja, seperti membaca buku, dan menonton TV.
2. Tidur dan istirahat
Untuk istirahat klien mengatakan tidak pernah mengalami masalah, kecuali pada saat
penyakitnya kambuh.
3. Kenyamanan dan nyeri
Klien mengatakan nyeri yang dirasakannya mengganggu. Saat dilakukan pengkajian nyeri
didapatkan :
P : saat terkena debu dan udara malam
Q : nyeri yang dirasakan klien terus menerus
R : pada dada
S : skala nyeri 5
T : sekitar 15 menit

4. Nutrisi
Klien masuk rumah sakit dengan BB 50 kg, sebelum masuk rumah sakit nafsu makan klien baik.
Sejak masuk rumah sakit, klien mengatakan nafsu makannya kurang.
5. Cairan, elektrolit dan asam
Pasien mengatakan dalam sehari minum pasien minum 6 gelas blimbing, dalam 1 gelas
ukurannya 200 cc.
Minum 6 gelas sehari = 6 x 200 = 1200 ml
Infus 500 cc/6 jam = 4 x 500 cc = 2000
Air metabolisme 5/kg BB/hari=5x69=345ml
Intake=1200+2000+345=3545ml
Urin = 5 x 300= 1200 ml/hari
IWL =14/kg/hari=15 x 69= 1035ml
IWL = IWL+200 (suhu sekarang - 370C) = 1035 + 200(38 - 37) = 1235
Output=1500+100+1235=2835
BC =Intake-Output
=4545-2835
= + 1710ml
pH =7,28

6. Oksigenasi
Pada saat masuk rumah sakit klien mengalami sesak nafas dan dyspnea / sakit saat bernafas, RR
karakteristik pernapasan.
7. Eliminasi fekal/bowel
Klien BAB normal dalam sehari 1X, klien mengatakan jarang sekali menderita diare.
8. Eliminasi urin
Klien BAK dengan mudah dan tidak merasa sakit saat BAK ataupun ada keluhan lain saat BAK.
9. Sensori, persepsi dan kognitif
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori. Kllien juga tidak menggunakan alat bantu
penglihatan dan alat bantu untuk berjalan. Pendengaran klien masih normal dan tidak mengalami
gangguan. Penciuman klien masih normal.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum pasien tampak lemah dan wajah tampak pucat. GCSkuanti berapa, kualinya
apa??? Pemeriksaan TTV didapatkan hasil : TD : 100/70 mmHg, nadi : 110x/menit, RR :
26x/menit, suhu : 37,7 0C.
b. Pemeriksaan kepala (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): bentuk kepala klien mesochepal,
tidak terdapat lesi, tidak ada hematom, rambut klien bersih tidak rontok. Pemeriksaan muka :
muka klien tampak pucat, berkeringat, tidak ada lesi pada muka klien. Sklera klien berwarna
putih bersih, terdapat sekret pada mata, konjunctiva anemis. Hidung klien simetris, tidak ada
septum deviasi, tidak ada lesi juga tidak ada epistaksis, tidak ada polip. Pada pemeriksaan bibir
klien didapatkan bibir klien kering, tidak ada stomatitis. Pada telinga klien bentuknya simetris,
telinga klien sedikit kotor.
c. Pemeriksaan leher , leher klien simetris tidak ada penyimpangan, tidak ada pembesaran
kelenjar tyhroid, saat dilakukan pengukuran JVP didapatkan nilai 2 cm, tidak ada kaku kuduk,
tidak terjadi kesusahan dalam menelan.
d. Pemeriksaan dada dibagi jadi 2 :
a) Pulmonal /paru
- Inpeksi : bentuk tulang dada simetris, tetapi saat bernapas klien terlihat pengembangan dada
yang tidak simetris.
- Palpasi : pada saat dilakukan palpasi volal fremitus dapat terasa getaran yang berat .
- Perkusi : suara perkusi yang dapat dihasilkan dari paru-paru klien terdapat pekak yang
menunjukkan banyak sekret.
- Auskultasi : saat dilakukan auskultasi terdapat suara whweezing pada pernapasan klien.
b) Coroner / jantung
Auskultasi = Terdapat suara bunyi jantung yaitu S1 dan S2 yang berarti tidak ada gannguan pada
jantung.
e. Pemeriksaan abdomen
1. Inspeksi : bentuk abdomen klien simetris, tidak asites ataupun kemerahan
2. Auskultasi : karakter bunyi peristaltiknya normal, frekuensi peristaltic ususnya didapatkan
nilai 12x/menit masih dalam rentang normal.
3. Palpasi : saat dilakukan palpasi terdapat terdapat nyeri tekan, karena adanya pengaruh otot
pada abdomen.
4. Perkusi : Kajian jenis & lokasi bunyitympani (normal pd usus) hypertimpani (kembung),
menentukan batas hepar.
f. Pada Genetalia klien warnanya sama dengan warna kulit,tidak terdapat lesi pada vulva, Pada
palpasi tidak terdapat nyeri.
g. Pengkajian ekstremitas, klien terdapat edema dan kekuatannya ototnya melemah.

B. Diagnosa Keperawatan
a) Analisa Data
No Data Fokus Etiologi Problem
1. DS : klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas, batuk kering dan nyeri pada dada dan
abdomen. adanya alergi pada debu.

DO : klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing. Dari hasil
pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi : 113x/mnt Spasme jalan
napas Bersihan jalan napas tidak efektif
2. Ds: Klien mengatakan sesak pada saat bernafas,nyeri pada dada dan abdomen.

Do: Klien tampak lemah,letih, dan wajah tampak pucat.
Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi Hiperinflasi pada parunya .
Menggunakan otot bantu pernapasan, tampak adanya pernapasan cuping hidung
Pada TTV klien menunjukkan :
TD : 120/80.
RR : 29x/menit.
Nadi : 113x/menit. Penurun energi/kelelahan. Pola nafas tidak efektif.
3. Ds: Klien mengatakan sesak saat bernapas , batuk kering, dan nyeri pada dada dan abdomen.
Klien juga mengatakan lemah, lemas, dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat
beraktivitas.
DO : Terlihat TTV klien :
TD: 120/80, RR : 29 x/menit, dan nadi 113 x/menit.
Wajah Klien tampak pucat.
Aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga Kelemahan Intoleransi Aktivitas

b) Diagnosa Prioritas
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhungan dengan Spasme jalan napas yang ditandai dengan
klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas, batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen.
adanya alergi pada debu dan klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi
wheezing. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi :
113x/mnt.
2. Pola napas tidak efektif berhungan dengan penurunan energi atau kelelahan ditandai dengan
Klien mengatakan sesak pada saat bernafas,nyeri pada dada dan abdomen, Klien tampak
lemah,letih, dan wajah tampak pucat ,Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi
Hiperinflasi pada parunya dan Pada TTV klien menunjukkan TD : 120/80, RR : 29x/menit dan
Nadi : 113x/menit.
3. Intoleransi aktivitas berhungan dengan kelemahan yang dintai dengan Klien mengatakan sesak
saat bernapas , batuk kering, dan nyeri pada dada dan abdomen, Klien juga mengatakan lemah,
lemas, dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat beraktivitas dan Terlihat TTV
klien TD: 120/80, RR : 29 x/menit, dan nadi 113 x/menit. Wajah Klien yang tampak pucat dan
aktivitas- aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga.



c) Rencana Tindakan Keperawatan
Nama : Nn.B No. CM : 12455
Umur : 18 tahun Tanggal masuk RS : 28 april 2011
Ruang : - Diagnosa : Status Asmatikus

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasionalisasi TTD
1 Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d spasme jalan napas Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam pada Tn.A, diharapkan jalan nafas klien menjadi efektik dengan
kriteria hasil :
1. Klien merasa nyaman ditandai dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada serta abdomen yang
diarasakan klien berkurang.
2. Klien tidak mengeluh sakit saat batuk.
3. TTV klien dalam rentang normal yaitu :
RR : 16 24x/menit
Nadi : 60 100x/menit
4. bunyi nafas bronkhovesikuler pada daerah bronkus
5. bunyi nafas vesikuler di semua lapang paru 1. Kaji TTV
2. Lakukan pemeriksaan austulkasi
3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotik 1. Untuk mengetahui perubahan keadaan
klien meliputi nadi, TD, RR, dan suhu
2. Untuk mengetahui adanya bunyi tambahan
3. Untuk merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi
mukosa
4. Untuk membunuh kuman yang terdapat pada sputum ( staphilococcus ) Dila
2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energi atau kelelahan. Setelah
dilakukan tindakan keperawatan pada klien B,selama 2x24 jam. Diharapkan pola nafas dapat
kembali normal. Dengan kriteria hasil:
1. Sesak napas klien mulai berkurang
2. Tidak lagi menggunakan otot bantu pernapasan
3. Tidak ada lagi pernapasan cuping hidung
4. TTV dalam batas normal yaitu TD : 110/70-120/80mmHg, RR : 16-24x/menit, nadi : 60-
100x/menit, suhu : 36,5-37,50C 1. Kaji TTV klien.
2. Beritahu klien untuk banyak istirahat
3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 2-4 liter/menit )
4. Ajarkan klien untuk nafas dalam
5. kalaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis.
1. Mengidentifikasi keadaan umum klien.
2. Untuk memulihakan kondisi kelelahan klien
3. Agar kebutuhan oksigen klien terpenuhi
4. Agar dapat mengatur pernapasan klien
5. Untuk merencanakn terapi oksigen yg akan diberikan pada klien.
Dila
3 Intoleransi aktivitas b.d kelemahan Setelah dilakukan tindakan kepada Nn. b selama 3 x 24 jam
pasien mampu melakukan aktivitas, dengan kriteria hasil :
a. Keadaan umum baik..
b. Klien mampu memenuhi kebetuhan sehari-hari dibantu keluarga dan perawat seminimal
mungkin.
c. klien dapat melakukan ROM pasif
1. Observasi KU klien
2. Dekatkan alat- alat yang dibutuhkan klien.
3. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi 1. Dengan mengobservasi keaadaan umum pasien.
2. Dengan mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien dapat melatih pasien untuk tidak
bergantung dengan orang lain.
3. Dengan membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akan dapat mengurangi
aktivitas klien.
4. Untuk memenuhi kebutuhan klien Dila







d) Catatan Perkembangan
Nama : Nn.B No. CM : 12455
Umur : 18 tahun Tanggal masuk RS : 28 april 2011
Ruang : - Diagnosa : Status Asmatikus
Dx Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD
1 28/4/2011 07.00





07:00






11:00



11:30
1. Mengkaji KU
S : Klien bersedia diukur TTV nya.
O : RR : 26x/menit.
bunyi pernapasan wheezing
2. Melakukan pemeriksaan auskultasi
S : pasien bersedia dilakukan pemeriksaan bunyi napas
O : terdengar suara napas wheezing yang semakin berkurang

3. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator
(sanbutamol)
4. berkolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotic amoxiline 500mg
S : klien mengeluh masih terasa sedikit sesak saat bernapas

O : RR : 26x/menit
Bunyi napas wheezing

A : Tujuan belum tercapai.

P : Intevensi 1,2,3,4,dan 5
dilanjutkan

2. 28/04/2011 07:00




07:30
11:00
11:30
12.00
1. mengkaji TTV klien.
S : klien mengatakan masih susah untuk bernapas
O: di dapati TTV klien RR : 29 x/mnt , tampak pernapasan cuping hidung, pasien tampak
menggunakan otot bantu pernapasan


2. memberitahu klien untuk banyak istirahat
S : klien mau mendengarkan saran perawat
O: klien tampak dengan sungguh sungguh melakukan saran perawat
3. mengkolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 2-4 liter/menit )
4. mengajarkan klien untuk nafas dalam
S; klien memperhatikan dengan baik pengajaran perawat
O: klien dapat melakukan dengan benar tapi masih susah untuk bernapas
5. mengkolaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator
mekanis.
03/05/2011

S: klien mengatakan belum merasa nyaman dalam bernafas.

O: klien masih tampak sesak napas

A: tujuan belum tercapai

P: Lanjutkan intervensi
No: 1, 2, 3,dan 4
3. 28/04/2011 07.00


07.30
11:00
11:30
12.30 1. Mengobservasi Keadaan Umum
O : Keadaan umum lemah.
2. Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
S : Klien mengatakan tidak bisa mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
O : Klien terlihat kesulitan mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
3. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
S : Klien mengatakan bahwa klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi.
4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
O : Keluarga klien mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien karena
keluarga belum terbiasa.
5. Mengkolaborasi dengan ahli gisi dengan dalam pemberian nutrisi
Tanggal 03/ 05 / 2011 Pukul 13.50
S : Klien mengatakan belum dapat melakukan aktivitas sendiri.

O : Keadaan umum lemah
Klien menunjukkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara mandiri.Intake nutrisi
klien terpenuhi dengan baik.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 dilanjutkan.
Dx Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD
1. Mengkaji KU
S : Klien bersedia diukur TTV nya.
O : RR : 24x/menit.
Suara napas bronkovesikuler
2. Melakukan pemeriksaan austulkasi
S : pasien bersedia dilakukan pemeriksaan bunyi napas
O : terdengar suara napas bronkovesikuler
3. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator (
sanbutamol)
4. berkolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotic amoxiline 500mg
S : klien mengatakan sudah tidak terasa sesak saat bernapas

O : RR : 24x/menit
Bunyi napas bronkovesikuler

A : Tujuan tercapai.

P : Intevensi dipertahankan
1. Mengobservasi Keadaan Umum
O : Keadaan Umum Baik.
2. Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
S : Klien mengatakan dapat mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
O : Klien terlihat mampu mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
3. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
S : Klien mengatakan bahwa klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi.
4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
O : Keluarga klien sangat antusias dalam membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
5. Monitor intake nutrisi.
O : Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.
Tanggal 08/05/ 2011 Pukul 13.50
S : Klien mengatakan sudah dapat melakukan aktivitas sendiri.

O : Keadaan umum baik
Klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri. Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.

A : Masalah teratasi.

P : Intervensi dipertahankan.


BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan respon dari
trachea dan bronkus terhadap bermacam macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan
bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih lebihan dari kelenjar kelenjar di mukosa
bronchus.
Pada status asmatikus Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas,
penggunaan tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok
adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin
dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.

2. Saran
a) Mahasiswa
Untuk mahasiswa calon perawat sebaiknya sungguh-sungguh dalam belajar, supaya dalam
praktik nanti, ketika menemukan kasus-kasus gangguan status asma tikus, mahasiswa calon
perawat sudah dapat melakukan tindakan keperawatan professional dengan tepat
b) Perawat
Untuk perawat dan tim kesehatan, tingkatkan lagi keprofesionalan dalam melayani pasien.
Tunjukkan karakteristik keperawatan yang baik dengan komunikasi terapeutik dan tindakan yang
cepat, tepat,sikap ramah dan lembut, sehingga mengurangi sakitnya klien.
Perawat harus bisa memotifasi klien dan keluarganya dalam proses keperawatan klien, supaya
klien dapat semangat dalam kesembuhannya

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner and Suddarth.(2002). Keperawatan Medikal Bedah.EGC Jakarta
2. http://anwarbaharuddin.blogspot.com/2010/11/asuhan-keperawatan-asma-bronchial.html
3. http://kep-2a.blogspot.com/2008/09/askep-asma-bronkial_16.html
4. http://nursingbegin.com/tag/askep-asma/
5. http://zulpatinnasri.blogspot.com/asma-tikus/
6. Karnen G. Baratawidjaya, Samsuridjal. (1994). Pedoman Penatalaksanaan Asma Bronkial. CV
Infomedika Jakarta.
7. NANDA

8. NIC-NOC





Makalah Penyakit Asma dan Cara Pencegahannya- - -Saat ini berbagai penyakit baru bermunculan
bahkan dengan tingkat berbahaya yang sangat tinggi hingga menelan korban banyak dan sangat
disayangkan penyakit-penyakit yang baru timbul dengan keganasan dan tidak ada obat yang dapat
menyembuhkan pada pembuatan makalah ini saya mengangkat tema tentang penyakit ASMA yang tidak
asing lagi di dunia medis penyakit ASMA ini merupakan Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari
bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan
nafas).

Istilah asma berasal dari kata yunani yang artinya terengah engah dan berarti serangan napas pendek.
Meskipun dahulu istilah ini digunakan untuk menyatakan gambaran klinis napas pendek tanpa
memandang sebabnya, sekarang istilah ini hanya ditunjukan untuk keadaan - keadaan yang menunjukan
respon abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan
napas yang meluas. Perubahan patofisiologi yang menyebabkan obstruksi jalan napas terjadi pada
bronkus ukuran sedang dan bronkiolus yang berdiameter 1 mm. penyempitan jalan napas disebabkan
oleh bronkospasme,edema mukosa dan hipersekresi mucus yang kental.

A. Pengertian Asma
Asma adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Dalam
Pendapat Lain Asma dapat diartikan:

Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).

Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang
reversibel. (Joyce M. Black : 1996).

Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon
secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).

Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas
obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme,
peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan nafas.

B. Penyebab Asma
Pada penderita asma, penyempitan saluran pernapasan merupakan respon terhadap rangsangan yang
pada paru-paru normal tidak akan memengaruhi saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh
berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Makalah Penyakit Asma dan Pencegahannya
Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran
udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan (inflamasi) dan pelepasan lendir ke dalam
saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan
penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernapas.

Sel-sel tertentu di dalam saluran udara, terutama mastosit diduga bertanggungjawab terhadap awal
mula terjadinya penyempitan ini. Mastosit di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan
leukotrien yang menyebabkan terjadinya: - kontraksi otot polos - peningkatan pembentukan lendir -
perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki. Mastosit mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon
terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang
terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.

Tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama terjadi jika
orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin. Stres dan kecemasan juga bisa
memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

Sel lainnya yakni eosinofil yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan
lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara. Asma juga dapat
disebabkan oleh tingginya rasio plasma bilirubin sebagai akibat dari stres oksidatif yang dipicu oleh
oksidan.[1]

C. Gejala Asma
Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas dari gejala
dan hanya mengalami serangan serangan sesak napas yang singkat dan ringan, yang terjadi sewaktu-
waktu. Penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan
hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan.
Menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala dan juga sering batuk
berkepanjangan terutama di waktu malam hari atau cuaca dingin.[2]

Suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan napas yang berbunyi (mengi,
bengek), batuk dan sesak napas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan
napasnya. Di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara
bertahap semakin memburuk. Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang
penderita asma adalah sesak napas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam
beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam, bahkan selama beberapa hari.

Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau
ketika melakukan olah raga juga bisa merupakan satu-satunya gejala. Selama serangan asma, sesak
napas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan,
penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.

Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat
hebat. Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap,
tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak
kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera
dilakukan pengobatan. Meskipun telah mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan
sembuh sempurna,

Kadang beberapa alveoli (kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di
dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. Hal ini akan
memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.

D. JENIS-JENIS ASMA
Asma sering dicirikan sebagai alergi , idiopatik/non alergi, serta gabungan.
1. Asma alergi
Disebabkan oleh allergen / alergenalergen yang dikenal (misal: serbuk sari , binatang, amarah, makanan,
jamur). Kebanyak allergen terdapat di udara dan musiman. Pasien dengan asma allergic biasanya
mempunyai riwayat keluarga yang allergic dan riwayat medis masa lalu eczema / rhinitis allergic.
Pemajanan terhadap allergen mencetuskan serangan asma. Anak-anak dengan asma allergic sering
dapat mengatasi kondisi sampai masa remaja.

2. Asma idiopatik / non allergic
Tidak berhubungan dengan allergen spesifik.faktor factor,seperti common cold, infeksi traktus
respiratorius, latihan, emosi, dan polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.beberapa agen
farmakologi, seperti aspirin dan agen anti inflamasi nonsteroid lain, pewarna rambut, antagonis beta
adrenergic, dan agen sulfit (pengawet makanan), juga mungkin menjadi factor. Serangan asma idiopatik
atau non allergic menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronchitis kronis dan emfisema.

3. Asma Gabungan
Adalah bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk allergic maupun
bentuk ideopatic atau non allergic.


E. Diagnosa Asma
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan
pemeriksaan spirometri berulang. Spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan
saluran udara dan untuk memantau pengobatan. Menentukan faktor pemicu asma seringkali tidak
mudah. Tes kulit alergi bisa membantu menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala asma. Jika
diagnosisnya masih meragukan atau jika dirasa sangat penting untuk mengetahui faktor pemicu
terjadinya asma, maka bisa dilakukan bronchial challenge test.


F. Pengobatan Asma (Untuk Pengetahuan Saja/Tidak ada jaminan)
Obat-obatan bisa membuat penderita asma menjalani kehidupan normal. Pengobatan segera untuk
mengendalikan serangan asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan.

Agonis reseptor beta-adrenergik merupakan obat terbaik untuk mengurangi serangan asma yang terjadi
secara tiba-tiba dan untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu oleh olahraga. Bronkodilator ini
merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.

Bronkodilator yang bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik (misalnya adrenalin), menyebabkan
efek samping berupa denyut jantung yang cepat, gelisah, sakit kepala dan tremor (gemetar) otot.
Bronkodilator yang hanya bekerja pada reseptor beta2-adrenergik (yang terutama ditemukan di dalam
sel-sel di paru-paru), hanya memiliki sedikit efek samping terhadap organ lainnya. Bronkodilator ini
(misalnya albuterol), menyebabkan lebih sedikit efek samping dibandingkan dengan bronkodilator yang
bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik.

Sebagian besar bronkodilator bekerja dalam beberapa menit, tetapi efeknya hanya berlangsung selama
4-6 jam. Bronkodilator yang lebih baru memiliki efek yang lebih panjang, tetapi karena mula kerjanya
lebih lambat, maka obat ini lebih banyak digunakan untuk mencegah serangan.

Bronkodilator tersedia dalam bentuk tablet, suntikan atau inhaler (obat yang dihirup) dan sangat efektif.
Penghirupan bronkodilator akan mengendapkan obat langsung di dalam saluran udara, sehingga mula
kerjanya cepat, tetapi tidak dapat menjangkau saluran udara yang mengalami penyumbatan berat.
Bronkodilator per-oral (ditelan) dan suntikan dapat menjangkau daerah tersebut, tetapi memiliki efek
samping dan mula kerjanya cenderung lebih lambat.

Jenis bronkodilator lainnya adalah theophylline. Theophylline biasanya diberikan per-oral (ditelan);
tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet dan sirup short-acting sampai kapsul dan tablet long-
acting. Pada serangan asma yang berat, bisa diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah).

Jumlah theophylline di dalam darah bisa diukur di laboratorium dan harus dipantau secara ketat, karena
jumlah yang terlalu sedikit tidak akan memberikan efek, sedangkan jumlah yang terlalu banyak bisa
menyebabkan irama jantung abnormal atau kejang. Pada saat pertama kali mengonsumsi theophylline,
penderita bisa merasakan sedikit mual atau gelisah. Kedua efek samping tersebut, biasanya hilang saat
tubuh dapat menyesuaikan diri dengan obat. Pada dosis yang lebih besar, penderita bisa merasakan
denyut jantung yang cepat atau palpitasi (jantung berdebar). Juga bisa terjadi insomnia (sulit tidur),
agitasi (kecemasan, ketakuatan), muntah, dan kejang.

Corticosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. Jika
digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap corticosteroid akan menyebabkan berkurangnya
kecenderungan terjadinya serangan asma dengan mengurangi kepekaan saluran udara terhadap
sejumlah rangsangan.

Tetapi penggunaan tablet atau suntikan corticosteroid jangka panjang bisa menyebabkan:
1. gangguan proses penyembuhan luka
2. terhambatnya pertumbuhan anak-anak
3. hilangnya kalsium dari tulang
4. perdarahan lambung
5. katarak prematur
6. peningkatan kadar gula darah
7. penambahan berat badan
8. kelaparan
9. kelainan mental.

Tablet atau suntikan corticosteroid bisa digunakan selama 1-2 minggu untuk mengurangi serangan asma
yang berat. Untuk penggunaan jangka panjang biasanya diberikan inhaler corticosteroid karena dengan
inhaler, obat yang sampai di paru-paru 50 kali lebih banyak dibandingkan obat yang sampai ke bagian
tubuh lainnya. Corticosteroid per-oral (ditelan) diberikan untuk jangka panjang hanya jika pengobatan
lainnya tidak dapat mengendalikan gejala asma.

Cromolin dan nedocromil diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan
menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini digunakan untuk
mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan. Obat ini terutama efektif untuk anak-
anak dan untuk asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum
secara teratur meskipun penderita bebas gejala.

Obat antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium bromida) bekerja dengan menghalangi
kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. Lebih
jauh lagi, obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah
mengonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik.

Pengubah leukotrien (contohnya montelucas, zafirlucas dan zileuton) merupakan obat terbaru untuk
membantu mengendalikan asma. Obat ini mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia
yang dibuat oleh tubuh yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma).

Pengobatan untuk serangan asma
Suatu serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran
pernapasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam
dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda.

Agonis reseptor beta-adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer
(untuk sesak napas yang sangat berat). Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan
melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita. Pengobatan
asma juga bisa dilakukan dengan memberikan suntikan epinephrine atau terbutaline di bawah kulit dan
aminophyllins theophylline) melalui infus intravena.

Penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan
lainnya, bisa mendapatkan suntikan corticosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah).
Pada serangan asma yang berat biasanya kadar oksigen darahnya rendah, sehingga diberikan tambahan
oksigen. Jika terjadi dehidrasi, mungkin perlu diberikan cairan intravena. Jika diduga terjadi infeksi,
diberikan antibiotik.

Selama suatu serangan asma yang berat, dilakukan:
1. pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah
2. pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
3. pemeriksaan rontgen dada.

Pengobatan jangka panjang
Salah satu pengobatan asma yang paling efektif adalah inhaler yang mengandung agonis reseptor beta-
adrenergik. Penggunaan inhaler yang berlebihan bisa menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung.

Jika pemakaian inhaler bronkodilator sebanyak 2-4 kali/hari selama 1 bulan tidak mampu mengurangi
gejala, bisa ditambahkan inhaler corticosteroid, cromolin atau pengubah leukotrien. Jika gejalanya
menetap, terutama pada malam hari, juga bisa ditambahkan theophylline per-oral.


G. Pencegahan Asma
Serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui dan bisa dihindari. Serangan yang dipicu
oleh olah raga bisa dihindari dengan meminum obat sebelum melakukan olah raga. Selain itu Langkah
tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma adalah menjauhi faktor-faktor penyebab
yang memicu timbulnya serangan asma itu sendiri. Penyebab yang mungkin dapat saja bantal, kasur,
pakaian jenis tertentu, hewan peliharaan kuda, detergen, sabun , makanan tertentu,jamur dan serbuk
sari. jika serangan berkaitan dengan musim maka serbuksari dapat menjadi dugaan kuat. Upaya harus
dibuat untuk menghindari agen penyebab kapan saja memungkinkan. Setiap penderita umumnya
memiliki ciri khas tersendiri terhadap hal-hal yang menjadi pemicu serangan asmanya.

Setelah terjadinya serangan asma, apabila penderita sudah merasa dapat bernafas lega akan tetapi
disarankan untuk meneruskan pengobatannya sesuai obat dan dosis yang diberikan oleh dokter.

PENUTUP
Penyakit Asma (Asthma) adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan
(bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga bronchiale sehingga
mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas. Adapun
tanda dan gejala penyakit asma diantaranya :

Pernafasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama saat mengeluarkan nafas (exhalation). Tidak
semua penderita asma memiliki pernafasan yang berbunyi, dan tidak semua orang yang nafasnya
terdegar wheezing adalah penderita asma
Adanya sesak nafas sebagai akibat penyempitan saluran bronki (bronchiale).
Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau cuaca dingin.
Adanya keluhan penderita yang merasakan dada sempit.
Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam
mengatur pernafasan.

Langkah tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma adalah menjauhi faktor-faktor
penyebab yang memicu timbulnya serangan asma itu sendiri