Anda di halaman 1dari 71

Laporan Kasus

SPONDILITIS TB
Oleh:
Abdurrahman Hadi, S.Ked
NIM. !"#!$%!%
Pembimbin&:
Dr. Ismail Bas'omi, SpOT
BA(IAN)D*PA+T*M*N ILM, B*DAH
+S,P D+. MOH. HO*SIN PAL*MBAN(
-AK,LTAS K*DOKT*+AN ,NI.*+SITAS S+I/I0A1A
#"!
HALAMAN P*N(*SAHAN
Judul Laporan Kasus
SPONDILITIS TB
Oleh:
Abdurrahman Hadi, S.Ked
!"#!$%!%
Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian
kepaniteraan klinik senior di Bagian/Departemen Ilmu Bedah Rumah akit
!mum "usat Dr# $ohammad %oesin &akultas Kedokteran !ni'ersitas ri(ijaya
"alembang "eriode ) Desember )*+,-+* &ebruari )*+.#
"alembang/ Januari )*+.

dr# Ismail Bastomi/ pOT
)
STAT,S PASI*N
I. ID*NTITAS PASI*N
0ama : 1ahyudin $unasyeh
!mur : ,2 tahun
Jenis Kelamin
Kebangsaan
:
:
Laki3laki
Indonesia
4lamat : Desa ungai "inang/ Ke5# Rambutan/ Banyuasin
tatus : $enikah
"ekerjaan :
"endidikan : D
0o# Re5# $ed : 67,),7
$R : ++ Desember )*+,
II. ANAMN*SA
4utoanamnesa : Tanggal +6 Januari )*+.
Keluhan !tama : Tidak dapat menggerakkan kedua tungkai
sejak . bulan yang lalu
Keluhan tambahan : 0yeri pinggang
Ri(ayat "erjalanan "enyakit :
ejak 8 9 bulan yang lalu penderita mengeluh kedua
tungkai terasa lemah/ dia(ali dari tungkai kanan kemudian
berlanjut ke tungkai kiri# Ketika berdiri penderita sering merasa
goyah dan hilang kekuatan# Kesemutan di sepanjang tungkai ada#
0yeri pinggang dirasakan/ hilang timbul/ terlokalisir/ tidak
menjalar# 0yeri pinggang ini dirasakan terutama pada malam hari/
saat penderita beristirahat dan saat bangun pagi hari# "enderita
berobat sendiri dengan obat rematik di (arung/ keluhan berkurang
namun tak lama kemudian nyeri dirasakan kembali#
Kurang lebih . bulan yang lalu kelemahan tungkai semakin
bertambah# "enderita dapat berjalan bila dipapah/ kemudian
semakin lemah hingga akhirnya penderita tidak mampu lagi
,
berjalan# "enderita hanya dapat menggerakkan tungkainya
mela(an gra'itasi# Rasa kesemutan tidak dirasakan lagi#
Kisaran , bulan yang lalu/ kelemahan kedua tungkai
semakin berat/ penderita hanya bisa menggerakkan kedua tungkai
ke samping/ tidak dapat mela(an gra'itasi# "enderita tiba3tiba juga
mengeluhkan nyeri perut selama tiga hari dan berobat ke R$%
atas keluhan nyeri perut tersebut/ didiagnosis menderita peritonitis
di:usa e5 susp per:orasi gaster# "ada penderita dilakukan operasi
pada tanggal ++ Desember )*+, dan penderita kemudian dira(at di
oleh bagian Bedah Digesti: R$% untuk obser'asi pas5a operasi#
elama dira(at di R$%/ kelemahan tungkai penderita
bertambah parah# "enderita tidak dapat menggerakkan kedua
tungkai sama sekali# 0yeri pinggang masih dirasakan/ dan semakin
hebat# "enderita memposisikan punggungnya menjadi kaku untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan# ekujur tungkai penderita mati
rasa# Kelemahan anggota gerak atas disangkal# "enderita B4B dan
B4K seperti biasa# "enderita kemudian dikonsulkan ke bagian
Bedah Orthopaedi R$%#
Ri(ayat "enyakit Dahulu:
"enderita mengakui terdapat penrunan berat badan selama
, bulan terakhir# Keringat di malam hari ;<=# Demam/ sesak napas/
batuk3batuk lama/ mengonsumsi obat3obatan paru/ maupun ri(ayat
tinggal atau kontak dengan orang penderita penyakit paru
disangkal# Ri(ayat trauma pada tulang belakang diakui penderita 8
) tahun yang lalu saat pasien bekerja sebagai buruh bangunan#
"enderita lupa bagaimana kejadian dan posisi jatuh# Keluhan
setelah trauma disangkal# Ri(ayat menderita ken5ing manis
disangkal#
Ri(ayat "enyakit Keluarga :
.
Ri(ayat anggota keluarga menderita penyakit serupa
keluhan pasien saat ini disangkal#
Ri(ayat osial >konomi :
"enderita adalah kepala keluarga/ menghidupi anak/ istri
dan ibu# Bekerja sebagai buruh bangunan#
Kesan: status ekonomi menengah ke ba(ah
III. P*M*+IKSAAN -ISIK
Dilakukan pada tanggal +6 Januari )*+.
Kesadaran : Kompos $entis
Keadaan !mum : akit sedang
Berat Badan : 9) kg
Tinggi badan : +26 5m
?i@i : Baik
Tekanan Darah : +)*/6* mm%g
0adi : A) B/menit
RR : ). B/menit
uhu : ,6/)CD
STAT,S (*N*+ALIS
Kepala : 0ormo5ephali/ distribusi rambut merata#
$ata : "upil bulat isokor/ konjungti'a tidak anemis/
s5lera tidak ikterik/ re:lek 5ahaya langsung </</
Re:leks 5ahaya tidak langsung </<#
Telinga : 0ormotia/ serumen 3/3/ membran timpani intak/
nyeri tekan mastoid 3/3
%idung : septum de'iasi ;3=/ pernapasan 5uping hidung ;3=/
oedem mukosa ;3=
Tenggorokan : &aring tidak hiperemis/ T+3T+ tenang
9
Leher : Trakea lurus di tengah/ kelenjar tiroid tidak teraba
membesar/ K?B tidak teraba
Thoraks :
"ulmo : Inspeksi : statis dinamis simetris
"alpasi : stem :remitus paru simetris di kedua
hemithoraks
"erkusi : sonor di kedua lapang paru
4uskultasi : 'esikuler ;<= n/ Rhonki 3/3/ 1hee@ing3/3
Dor : Inspeksi : I5tus 5ordis tidak tampak
"alpasi : I5tus 5ordis tidak teraba
"erkusi :
Batas atas jantung : ID III linea parasternalis
sinistra
Batas kiri jantung : ID E + jari medial linea
mid5la'ikularis sinistra
Batas kanan jantung : ID IE linea sternalis
deBtra
4uskultasi : BJ I3II regular/ $urmur ;3=/ ?allop ;3=
4bdomen: Inspeksi : 4bdomen datar/ tampak s5ar bekas operasi
sudah menutup/ benjolan ;3=
"alpasi : lemas/ massa ;3=/ nyeri tekan epigastrium ;3=/
de:ans muskuler ;3=/ hepatosplenomegali ;3=
"erkusi : timpani/ shi:ting dullness ;3=/ undulasi ;3=
4uskultasi : B! ;<= normal
>kstremitas: 4kral hangat/ sianosis ;3=/ edema ;3=
STAT,S LOKALIS
Regio Thorakolumbal
2
A
.
A
.
B
.
B
.
(ambar "# "enampang tubuh penderita ;a= tampak belakangF ;b= tampak samping
Look : De:ormitas ;<= ki:osis 'ertebra thorakal
Benjolan ;<= Thorakal IG3G
Tanda radang ;3=/ (arna benjolan sama dengan (arna
kulit/ pat5h hiperpigmentasi3hipopigmentasi/ bulat/ )
5m/ sikatrik ;3=/ :istel ;3=#
&eel : uhu benjolan sama dengan sekitarnya
Benjolan berbentuk lonjong ukuran 7B9B+ 5m
Konsistensi keras/ batas tegas/ imobil/ :luktuasi ;3=
0yeri tekan ;3=#
$o'e : RO$ akti: pasi: terbatas#
STAT,S N*,+OLO(IS
- ?D : >.E9$2
Mo'ori2
Len&an Kanan Kiri
?erakan Luas Luas
Kekuatan 9 9
Tonus >utoni >utoni
Re:leks :isiologis
Biseps
<n
<n
<n
<n
6
Triseps
Radius
!lna
<n
<n
<n
<n
Re:leks patologis
%o::man3
tromner
3 3
Tun&2ai
?erakan Tidak ada Tidak ada
Kekuatan + +
Tonus %ipertonus %ipertonus
Klonus
"aha
Kaki
Tidak diperiksa
<
Tidak diperiksa
<
Re:leks :isiologis
4"R
K"R
<H
<H
<H
<H
Re:leks patologis
3 Babinsky
3 Dhaddo5k
3 Oppenheim
3 5hae::er
<
<
<
<
<
<
<
<
Sensori2
anestesi setinggi symphisis pubis
?4$B4R
7
(ambar #. ketsa :ungsi sensorik
-un&si .e&e'a'i3
$iksi : 0ormal
De:ekasi : 0ormal
>reksi : tidak diperiksa
Kolumna .er'ebralis
Kyphosis : ;<=
Lordosis : ;3=
?ibbus : ;<= 'ertebra thorakal IG3G
De:ormitas : ;<=
Tumor : ;3=
A
$eningo5ele : ;3=
%ematoma : ;3=
0yeri ketok : ;3=
(e4ala +an&san& Menin&eal
Kaku kuduk ;3=
KerniI ;3=
LasseIue ;3=
Brud@insky
o Leg I ;3=
o Leg II ;3=
(ai' Dan Keseimban&an
?ait : tidak dapat berjalan
Keseimbangan dan Koordinasi: tidak ada kelainan
(era2an Abnormal : 5
I.. DIA(NOSIS BANDIN(
"araplegi in:erior e5 pondilitis TB < dekubitus gr I 'ertebra thora5alis
GII
"araplegi in:erior e5 tumor 'ertebrae < dekubitus gr I 'ertebra
thora5alis GII
"araplegi in:erior e5 :raktur kompresi 'ertebra < dekubitus gr I
'ertebra thora5alis GII
.. +*N6ANA P*M*+IKSAAN
Darah rutin/ kimia darah
BT4 putum I/II/III
+*
Rontgen ThoraB "4/Lateral
Rontgen Thora5olumbal "4/Lateral
DT 5an 'ertebra T3G
.I. DIA(NOSIS K*+0A
"araplegi in:erior e5 susp# pondilitis TB < dekubitus gr I 'ertebra
thora5alis GII
.II. T*+API A/AL
- Konsul "DL untuk regimen O4T
- "era(atan dekubitus
- 0a Diklo:ena5 ,B9* mg
.III. P*M*+IKSAAN P*N,N0AN(
Laboratorium tgl 2 Januari )*+.
Darah
- %b : +,/6 g/dL
- %t : .) J
- L>D : +)* mm/jam
- Leukosit : A#,** /uL
- Trombosit : 9,*#*** /uL
- Di:: 5ount : */2/*/97/)2/+*
Kimia klinik hati
- 4T : )2 mnt/L
- 4LT : )* mnt/L
- "rotein total : 7/. g/dL
- 4lbumin : ,/, g/dL
- ?lobulin : 9/+ g/dL
Kimia klinik ginjal
- !reum : ). mg/dL
++
- 4sam urat : 9/A mg/dL
- Kreatinin : */*2 mg/dL
Spu'um
- BT4 ,B negati:
Pemeri2saan 'hora2s 7PA8, "" Desember #"9
(ambar 9# &oto thoraB "4
- Kesan: gambaran thoraB dalam batas normal
Pemeri2saan 'hora2olumbal 7AP)La'eral8 "" Desember #"9
+)
(ambar !. &oto Thora5olumbal 4"/"4/Lat
- Kur'atura torakal tampak hiperki:otik
- Tampak destruksi korpus E#Th IG3G3GI disertai penyempitan
diskus inter'ertebralis
- Tampak pula para'ertebral massa pada setinggi E#Th IG3G3GI
+,
- "edikel masih tampak intak
- Korpus lumbal baik
- akroiliaka dan 5oBae joint kanan kiri baik
Kesan : Kur'atura torakal tampak hiperki:otik dengan destruksi
korpus E#Th IG3G3GI/ penyempitan diskus inter'ertebralis dan
para'ertebra mass suspek spondilitis TB
aran: $RI thorakolumbal dengan kontras
CT Scan Thora:al ;: dijad(alkan )* &ebruari )*+.
I;. +*S,M*
"asien (anita umur +A tahun datang ke poli R! KOJ4 pada
tanggal + eptember )**6 dengan keluhan benjolan pada
punggung belakang sebelah kiri kurang lebih sejak 9 bulan $R#
Benjolan yang dirasakan a(alnya ke5il yang lama3kelamaan
menjadi besar dan nyeri# Benjolan juga terdapat pada daerah leher
sebelah kiri dan nyeri pada saat pasien menengoke sebelah kiri#
"asien merasakan badan dan kaki terasa lemas sehingga sering
tiba3tiba terjatuh# 0a:su makan menurun dan BB menurun# "asien
dira(at di R! KOJ4 sejak tanggal + eptember )**6# "ada
pemeriksaan :isik/ status generalis dalam batas normal# "ada status
lokalis regio thorakolumbal ditemukan de:ormitas ;<= ki:osis
'ertebra thorakal/ benjolan ;<= Thorakal IG3G/ (arna benjolan
sama dengan (arna kulit/ suhu benjolan lebih hangat dari
sekitarnya/ benjolan berbentuk lonjong ukuran +)B)B) 5m/
konsistensi keras/ batas tegas/ imobil/ :luktuasi ;3=/ didapatkan
pat5h hiperpigmentasi3hipopigmentasi ) 5m setinggi 'ertebra
thora5alis GII# RO$ terbatas ketika bungkuk dan nyeri# tatus
neurologis didapatkan gerakan tungkai tidak ada/ kekuatan kedua
tungkai */ re:leB :isiologis meningkat/ klonus ada/ re:leB patologis
+.
ada# &ungsi sensori anestesi setinggi sim:isis pubis/ ?R$ ;3=/
pasien tidak dapat berjalan# "emeriksaan :oto thora5olumbal
4"/Lat didapatkan kur'atura torakal tampak hiperki:otik dengan
destruksi korpus E#Th IG3G3GI/ penyempitan diskus
inter'ertebralis dan para'ertebra mass suspek spondilitis TB
;. P+O(NOSIS
4d Eitam : dubia ad bonam
4d &ungtionam: dubia
4d sanationam : dubia
+9
BAB II
TIN0A,AN P,STAKA
#." Ana'omi Tulan& Bela2an&
Tulang belakang ;'ertebra= terdiri dari ,, tulang: 6 buah tulang 5er'i5al/
+) buahtulang thora5al/ 9 buah tulang lumbal/ 9 buah tulang sa5ral dan . tulang
5o55ygeus# Tulang 5er'i5al/ thora5al dan lumbal membentuk 5olumna 'ertebralis/
sedangkan tulang sa5ral dan 5o55ygeus satu sama lain menyatu membentuk dua
tulang yaitu tulang sa5rum dan 5o55ygeus# Dis5us inter'ertebralis merupakan
penghubung antara dua 5orpus 'ertebra#
(ambar %. "embagian tulang belakang
istem otot ligamentum membentuk jajaran barisan ;aligment= tulang
belakang dan memungkinkan mobilitas 'ertebra# &ungsi 5olumna 'ertebralis
adalah menopang tubuh manusia dalam posisi tegak/ yang se5ara mekanik
sebenarnya mela(an pengaruh gaya gra'itasi agar tubuh se5ara seimbang tetap
tegak# Eertebra 5er'i5al/ thora5al/ lumbal bila diperhatikan satu dengan yang
+2
lainnya ada perbedaan dalam ukuran dan bentuk/ tetapi bila ditinjau lebih lanjut
tulang tersebut mempunyai bentuk yang sama# Dorpus 'ertebra merupakan
struktur yang terbesar karena mengingat :ungsinya sebagai penyangga berat
badan#
(ambar <. "enampang melintang tulang belakang
"rosesus trans'ersus terletak pada ke dua sisi 5orpus 'ertebra/ merupakan
tempat melekatnya otot3otot punggung# edikit ke arah atas dan ba(ah dari
prosesus trans'erse sterdapat :asies artikularis 'ertebra dengan 'ertebra yang
lainnya# 4rah permukaan :a5et join men5egah/membatasi gerakan yang
berla(anan arah dengan permukaan :a5et join# "ada daerah lumbal :a5et terletak
pada bidang 'erti5al sagital memungkinkan gerakan :leksi dan ekstensi ke arah
anterior dan posterior# "ada sikap lordosis lumbalis ;hiperekstensilumbal= kedua
:a5et saling mendekat sehingga gerakan ke lateral/ obliIue dan berputar
terhambat/ tetapi pada posisi sedikit :leksi kedepan ;lordosis dikurangi= kedua
:a5et saling menjauh sehingga memungkinkan gerakan ke lateral berputar# Bagian
lain dari 'ertebrae/ adalah KlaminaK dan KpredikelK yang membentuk arkus tulang
'ertebra/ yang ber:ungsi melindungi :oramen spinalis# "rosesus spinosus
merupakan bagian posterior dan 'ertebra yang bila diraba terasa sebagai tonjolan/
ber:ungsi tempat melekatnya otot3otot punggung# Diantara dua buah tulang
+6
'ertebra terdapat dis5us inter'ertebralis yang ber:ungsi sebagai bentalan atau
Ksho5k absorbersK bila 'ertebra bergerak# dis5us inter'ertebralis terdiri dari
annulus :ibrosus yaitu masa :ibroelastik yang membungkus nu5leus pulposus/
suatu 5airan gel koloid yang mengandung mukopolisakarida#
&ungsi mekanik dis5us inter'ertebralis mirip dengan balon yang diisi air
yang diletakkan diantara kedua telapak tangan # Bila suatu tekanan kompresi yang
merata bekerja pada 'ertebrae maka tekanan itu akan disalurkan se5ara merata ke
seluruh diskus inter'ertebralis# Bila suatu gaya bekerja pada satu sisi yang lain/
nu5leus pulposus akan mela(an gaya tersebut se5ara lebih dominan pada sudut
sisi lain yang berla(anan# Keadaan ini terjadi pada berbagai ma5am gerakan
'ertebra seperti :leksi/ ekstensi/ latero:leksi#
(ambar $. 4natomi diskus inter'ertebralis
Karena proses penuaan pada dis5us inter'ebralis/ maka kadar 5airan dan
elastisitasdis5us akan menurun# Keadaan ini mengakibatkan ruang dis5us
inter'ebralis makin menyempit/K:a5et joinK makin merapat/ kemampuan kerja
+7
dis5us menjadi makin buruk/ annulus menjadi lebih rapuh# 4kibat proses penuaan
ini mengakibatkan seorang indi'idu menjadi rentan mengidap nyeri punggung
ba(ah# ?aya yang bekerja pada dis5us inter'ebralis akan makin bertambah setiap
indi'idu tersebut melakukan gerakan membungkuk/ gerakan yang berulang3ulang
setiap hari yang hanya bekerja pada satu sisi dis5us inter'ebralis/ akan
menimbulkan robekan ke5il pada annulus :ibrosus/ tanpa rasa nyeri dan tanpa
gejala prodromal# Keadaan demikian merupakan Klo5us minoris resistensiK atau
titik lemah untuk terjadinya %0" ;%ernia 0u5leus "ulposus=# ebagai 5ontoh/
dengan gerakan yang sederhana seperti membungkuk memungut surat kabar di
lantai dapat menimbulkan herniasi dis5us# Ligamentum spinalis berjalan
longitudinal sepanjang tulang 'ertebra#Ligamentum ini ber:ungsi membatasi
gerak pada arah tertentu dan men5egah robekan#diskus inter'ebralis dikelilingi
oleh ligamentum anterior dan ligamentum posterior# Ligamentum longitudinal
anterior berjalan di bagian anterior 5orpus 'ertebrae/ besar dan kuat/ ber:ungsi
sebagai alat pelengkap penguat antara 'ertebrae yang satu dengan yang lainnya#
Ligamentum longitudinal posterior berjalan di bagian posterior 5orpus 'ertebrae/
yang juga turut membentuk permukaan anterior 5analis spinalis# Ligamentum
tersebut melekat sepanjang 5olumna 'ertebralis/ sampai di daerah lumbal yaitu
setinggi L+/ se5ara progresi: menge5il/ maka ketika men5apai L9 3 sa5rum
ligamentum tersebut tinggal sebagian lebarnya/ yang se5ara :ungsional potensi
mengalami kerusakan# Ligamentum yang menge5il ini se5ara :isiologis
merupakan titik lemah dimana gaya statistik bekerja dan dimana gerakan spinal
yangterbesar terjadi/ disitulah mudah terjadi 5idera kinetik#
(ambar =# &isiologi nukleus pulposus
+A
Otot punggung ba(ah dikelompokkan sesuai dengan :ungsi gerakannya#
Otot yang ber:ungsi mempertahankan posisi tubuh tetap tegak dan se5ara akti:
mengekstensikan 'ertebralumbalis adalah: m# Luadratus lumborum/ m#
a5rospinalis/ m# Intertrans'ersarii dan m#interspinalis# Otot :leksor lumbalis
adalah muskulus abdominalis men5akup: m# ObliIus eksternusabdominis/ m#
Internus abdominis/ m# Trans'ersalisabdominis dan m# Re5tusabdominis/ m#
"soas mayor dan m# "soas minor#
Otot latero :leksi lumbalis adalah m#Iuadratus lumborum/ m# "soas mayor
dan minor/ kelompok m# 4bdominis dan m#intertrans'ersarii#Jadi dengan melihat
:ungsi otot di atas otot punggung di ba(ah ber:ungsimenggerakkan punggung
ba(ah dan membantumempertahankan posisi tubuh berdiri#
(ambar ># Otot3otot punggung
$edulla spinalis dilindungi oleh 'ertebrae# RadiB sara: keluar melalui 5analis
spinalis/menyilang dis5us inter'ertebralis di atas :oramen inter'ertebralis# Ketika
keluar dari :oramen inter'ertebralis sara: tersebut ber5abang dua yaitu ramus
anterior dan ramus posterior dan salah satu 5abang sara: tersebut mempersara:i
K:a5etK# 4kibat berdekatnya struktur tulang 'ertebrae dengan radiB sara:
5enderung rentan terjadinya gesekan dan jebakan radiB sara: tersebut# emua
ligamen/ otot/ tulang dan :a5et join adalah struktur tubuh yang sensiti: terhadap
)*
rangsangan nyeri/ karena struktur persara:an sensoris ke5uali ligament :la'um/
dis5us inter'ertebralis dan ligamentum interspinosum karena tidak dira(at oleh
sara: sensoris#
(ambar "# "ersara:an tulang belakang
)+
Dengan demikian semua proses yang mengena istruktur tersebut di atas seperti
tekanan dan tarikan dapat menimbulkan keluahan nyeri# 0yeri punggung ba(ah
sering berasal dari ligamentum longitudinalis anterior atau posterior yang
mengalami iritasi# 0yeri artikuler pada punggung ba(ah berasal dari :a5ies
artikularis 'ertebrae beserta kapsul persendiannya yang sangat peka terhadap
nyeri# 0yeri yang berasal dari otot dapat terjadi oleh karena: akti'itas motor
neuron/ is5hemia mus5ular dan pereganganmio:asial pada (aktu otot berkontraksi
kuat# Tulang belakang mempunyai tiga lengkungan :isiologis yaitu lordosis
ser'ikalis/ kyphosis thorakalis dan lordosis lumbalis# Bila dilihat dari samping
dalam posisi tegak ketiga lengkungan :isiologis ini disebut posture atau sikap#
"ostur yang baik adalah postur tidak memerlukan tenaga/ tidak melelahkan/ tidak
menimbulkan nyeri/ yang dapat dipertahankanuntuk jangka (aktu tertentu dan
se5ara estetis memberikan penampilan yang dapat diterima# Disini terjadi
keseimbangan antara kerja ligamen dan torus minimal otot# e5ara keseluruhan
posture dipengaruhi oleh keadaan anatomi/ suku bangsa/ latar belakang
kebudayaan/ lingkungan pekerjaan/ jenis kelamin dan keadaan psikis seseorang#
udut lumbosakral adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan os#sakrum dengan
garis hori@ontal# 0ormal besar sudut lumbosakral ;sudut :erguson= ,* derajat#
Rotasi pel'is ke atas memperke5il sudut lumbosakral sedangkan rotasi pel'is ke
ba(ah memperbesar sudut lumbosakralis# Bila seseorang membungkuk untuk
men5oba menyentuh lantai dengan jari tangan tanpa :leksi lutut/ selain :leksi dari
lumbal harus dibantu dengan rotasi dari pel'is dan sendi 5o5sae# "erbandingan
antara rotasi pel'is dan :leksi lumbal disebut ritme lumbal3pel'is# e5ara singkat
punggung ba(ah merupakan suatu struktur yang kompleksF dimana tulang
'ertebrae/ dis5us inter'ertebralis/ ligamen dan otot akan akan bekerjasama
membuat manusia tegak/ memungkinkan terjadinya gerakan dan stabilitas#
Eertebrae lumbalis ber:ungsi menahan tekanan gaya stati5 dan gaya kinetik
;dinamik= yang sangat besar maka dari itu 5enderung terkena ruda paksa dan
5edera#
#.# Spondili'is Tuber2ulosa
))
#.#." De3inisi
pondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan
nama "ottMs disease o: the spine atau tuber5ulous 'ertebral osteomyelitis
merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia# Terhitung kurang
lebih , juta kematian terjadi setiap tahunnyadikarenakan penyakit ini#
N,O
pondilitis tuberkulosa merupakan salah satu kasus penyakit tertua dalam
sejarahdengan ditemukan dokumentasi kasusnya pada mummi di $esir dan "eru#
ir "er5i'al "ott ;+6AA= mendeskrispsikan penyakit ini dalam monogra:nya yang
klasik#
pondilitis tuberkulosa merupakan :okus sekunder dari in:eksi
tuberkulosis dengan penyebaran sebagian besar se5ara hematogen melalui
pembuluh darah arteri epi:iseal atau melalui pleBus 'ena batson# "ada usia
de(asa/ dis5us inter'ertebralis a'askular sehingga lebih resisten terhadap in:eksi
dan kalaupun terjadi adalah sekunder dari 5orpus 'ertebra# "ada anak3anak karena
dis5us inter'ertebralis masih bersi:at 'askular/ in:eksi diskus dapat terjadi primer#
"enyempitan dis5us inter'ertebralis terjadi akibat destruksi tulang pada kedua sisi
dis5us sehingga dis5us mengalami herniasi ke dalam 5orpus 'ertebra yang telah
rusak# Kompresi struktur neurologis terjadi akibat penekanan oleh proses
ekstrinsik maupun intrinsik# "roses ekstrinsik pada :ase akti: diakibatkan oleh
akumulasi 5airan akibat edema/ abses kaseosa/ jaringan granulasi/ seIuester tulang
atau diskus#
N,/./9O
"ott disease merupakan bentuk tuberkulosis muskuloskeletal yang
paling berbahaya karena dapat menyebabkan destruksi tulang/ de:ormitas/ dan
paraplegia#

pondilitis ini paling sering ditemukan pada 'ertebra T7 - L,dan
paling jarang pada 'ertebra D+3)# pondilitis tuberkulosis biasanya mengenai
korpus 'ertebra/ tetapi jarang menyerang arkus 'ertebrae#
#.#.# Insiden dan *pidemiolo&i
Insidensi spondilitis tuberkulosa ber'ariasi di seluruh dunia dan biasanya
berhubungan dengan kualitas :asilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang
tersedia serta kondisi sosial dinegara tersebut# aat ini spondilitis tuberkulosa
merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan
),
sedang berkembang/ terutama di asia/ malnutrisi dan kepadatan penduduk masih
menjadi merupakan masalah utama# "ada negara3negara yang sudah berkembang
atau maju insidensi ini mengalami penurunan se5ara dramatis dalam kurun (aktu
,* tahun terakhir
# N./9O
pondilitis tuberkulosa merupakan 9*J dari seluruh tuberkulosis tulang
dan sendi# "ada negara yang sedang berkembang/ sekitar 2*J kasus terjadi pada
usia diba(ah usia )* tahun sedangkan pada negara maju/ lebih sering mengenai
pada usia yang lebih tua# $eskipun perbandingan antara pria dan (anita hampir
sama/ namun biasanya pria lebih sering terkena dibanding (anita yaitu +/9:)/+#
!mumnya penyakit ini menyerang orang3orang yang berada dalam keadaan sosial
ekonomi rendah#
N.O
Tuberkulosis merupakan masalah besar bagi negara3negara berkembang
karena insidensnya 5ukup tinggi dengan morbiditas yang serius# Indonesia adalah
kontributor pasien tuberkulosis nomor 9 di dunia# Diperkirakan terdapat 97,#***
kasus baru tuberkulosis pertahun/ sebagian besar berada dalam usia produkti: ;+93
9. tahun=/ dengan tingkat sosioekonomi dan pendidikan yang rendah#
Dari seluruh kasus tersebut/ tulang belakang merupakan tempat yang
paling seringterkena tuberkulosa tulang ;kurang lebih 9*J kasus=/ diikuti
kemudian oleh tulang panggul/ lutut dan tulang3tulang lain di kaki/ sedangkan
tulang di lengan dan tangan jarang terkena# 4rea torako3lumbal terutama torakal
bagian ba(ah ;umumnya T +*= dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang
paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari (eight
bearing men5apai maksimum/ lalu dikuti dengan area ser'ikal dan sakral#
N9/2O
Banerjee melaporkan pada .AA pasiendengan spondilitis tuberkulosa/
radiologis memperlihatkan ,+J :okus primer adalah paru3paru dan kelompok
tersebut 67J adalah anak3anak/ sedangkan 2AJ sisanya memperlihatkan :oto
rontgen paru yang normal dan sebagian besar adalah de(asa#
#.#.9 *'iolo&i
?9,!@
).
pondilitis tuberkulosa disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil
;basilus=# Bakteri yang paling sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium
tuberculosis/ (alaupun spesies mikobakterium yang lainpun dapat juga
bertanggung ja(ab sebagai penyebabnya/ seperti Mycobacterium africanum
;penyebab paling sering tuberkulosis di 4:rika Barat=/ bovine tubercle baccilus/
ataupun non3tuber5ulous my5oba5teria ;banyak ditemukan pada penderita %IE=#
"erbedaan jenis spesies ini menjadi penting karena sangat mempengaruhi pola
resistensi obat# Tuberkulosis tulang belakang merupakan in:eksi sekunder dari
tuberkulosis di tempat lain di tubuh/ A*3A9J disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis tipik ;)/, dari tipe human dan +/, dari tipe bo'in= dan 93+*J oleh
Mycobacterium tuberculosa atipik#
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yang
bersi:at a5id :ast non3motile atau disebut pula sebagai basil tahan asam ;BT4=#
Dipergunakan teknik Piehl3 0ielson untuk mem'isualisasikannya# Bakteri tumbuh
se5ara lambat dalam media egg3enri5hed dengan periode 237 minggu# "roduksi
niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu
untuk membedakannya dengan spesies lain#
Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah 'ertebra torakal
ba(ah dan lumbal atas/ sehingga diduga adanya in:eksi sekunder dari suatu
tuberkulosa traktus urinarius/ yg penyebarannya melalui pleksus Batson pada 'ena
para'ertebralis# $eskipun menular/ tetapi orang tertular tuber5ulosis tidak
semudah tertular :lu#
"enularan penyakit ini memerlukan (aktu pemaparan yang 5ukup lama
dan intensi: dengan sumber penyakit ;penular=# $enurut $ayo5lini5/ seseorang
yang kesehatan :isiknya baik/ memerlukan kontak dengan penderita TB akti:
setidaknya 7 jam sehari selama 2 bulan/ untuk dapat terin:eksi#
ementara masa inkubasi TB sendiri/ yaitu (aktu yang diperlukan dari
mula terin:eksi sampai menjadi sakit/ diperkirakan sekitar 2 bulan# Bakteri TB
akan 5epat mati bila terkena sinar matahari langsung# Tetapi dalam tempat yg
lembab/ gelap/ dan pada suhu kamar/ kuman dapat bertahan hidup selama
beberapa jam# Dalam tubuh/ kuman ini dapat tertidur lama ;dorman= selama
)9
beberapa tahun#
#.#.! Pa'olo&i
?9,%,$,=@
Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran
hematogen atau penyebaran langsung nodus lim:atikus para aorta atau melalui
jalur lim:atik ke tulang dari :okus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar
tulang belakang# "ada penampakannya/ :okus in:eksi primer tuberkulosa dapat
bersi:at tenang# umber in:eksi yang paling sering adalah berasal dari sistem
pulmoner dan genitourinarius# "enyebaran basil dapat terjadi melalui arteri
inter5ostal atau lumbar yang memberikan suplai darah ke dua 'ertebrae yang
berdekatan/ yaitu setengah bagian ba(ah 'ertebra diatasnya dan bagian atas
'ertebra di ba(ahnya atau melalui pleksus batsonMs yang mengelilingi 5olumna
'ertebralis yang menyebabkan banyak 'ertebra yang terkena# %al inilah yang
menyebabkan pada kurang lebih 6*J kasus/ penyakit ini dia(ali dengan
terkenanya dua 'ertebra yang berdekatan/ sementara pada )*J kasus melibatkan
tiga atau lebih 'ertebra#
(ambar "". 4liran pembuluh darah tulang belakang
1alaupun semua 'ertebrae dari 5olumna 'ertebralis dapat diserang namun
yang terbanyak menyerang bagian thoraB# Eertebra lumbalis juga dapat terserang
)2
dan akhirnya 'ertebra 5er'i5alis pun tidak terlepas dari serangan ini# &okus yang
pertama dapat terletak pada 5entrum 5orpus 'ertebrae atau pada metaphyse/ bisa
juga pertama kali bersi:at subperiosteal# "enyakit ini juga dapat menjalar/
sehingga akhirnya 5orpus 'ertebrae tidak lagi kuat untuk menahan berat badan
dan seakan3akan han5ur sehingga dengan demikian 5olumna 'ertebralis
membengkok# Kalau hal ini terjadi pada bagian thoraB/ maka akan terdapat
pembengkokan hyperkyphose yang kita kenal sebagai gibbus# ementara itu
proses dapat menimbulkan gejala3gejala lain/ diantaranya dapat terkumpulnya
nanah yang semakin lama semakin banyak/ nana hini dapat menjalar menuju ke
beberapa tempat diantaranya dapat berupa :
+# uatu abs5ess para'ertebrae/ abs5ess terlihat dengan bentuk spoel di kiri3
kanan 5olumna 'ertebralis#
)# 4bs5ess dapat pula menembus ke belakang dan berada di ba(ah :asia dan
kulit di sebelah belakang dan di luar 5olumna 'ertebralis merupakan suatu
abs5ess akan tetapi tidak panas# !mumnya abs5ess ini dinamakan abs5ess
dingin# 4bs5ess dingin artinya abs5ess tuber5ulose#
,# Dapat pula abs5ess menjalar mengelilingi tulang rusuk/ sehingga
merupakan senkungMs abs5ess yang terlihat di bagian dada penderita#
.# 4bs5ess juga dapat menerobos ke pleura sehingga menimbulkan empiema#
9# "ada leher dapat juga terjadi abs5ess yang terletak dalam :aring sehingga
merupakan abses retro:aringeal#
2# Dapat pula abs5ess terlihat sebagai abses suprakla'ikular#
6# "ada lumbar spine abs5ess dapat turun melalui mus5ulus iliopsoas yang
kemudian menurun sampai terjadi abs5ess besar yang terletak di bagian
dalam dari paha#
emua abses tersebut di atas dapat menembus kulit dan menyebabkan timbulnya
:istel yang bertahun3tahun# Ke5uali abses3abses tersebut di atas/ tuber5ulose pada
'ertebrae dapat pula memberikan komplikasi/ ialah paraplegia/ umumnya disebut
"ottMs paraplegia#
Komplikasi ini disebabkan karena adanya tekanan pada medulla spinalis#
4dapun pathogenesis dari proses ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
)6
Tekanan dapat berasal dari proses yang terletak di dalam 5analis spinalis#
Jika di dalam 5analis spinalis ada proses tuberkulose yang terletak pada korpus
bagian belakang yang merupakan dasar dari kanalis spinalis/ maka proses tadi
menimbulkan pengumpulan nanah/jaringan granulasi langsung menekan medulla
spinalis# Dalam hal ini meskipun nanah hanya sedikit/ akan tetapi 5ukup untuk
memberikan tekananyang hebat pada medulla spinalis#
;)/.=
(ambar "#. pondilitis tuberkulosa# ;a= ?ibus torakolumbal dengan hipertonus ere5tor
mu5us# "enderita menyandarkan diri pada ekstremitas atasF ;b= +# Rare:aksi bagian
anterior 'ertebra mulai 0ampak penyempitan diskus inter'ertebralis/ )# Rare:aksi meluar/
penyempitan jelas/ ,# Kompresi 'ertebra bagian 'entral/ terjadinya gibus/ kompresi
medulla spinalis#
orrel3dejerine mengklasi:ikasikan "ottMs paraplegia menjadi:
+# >arly onset paresis
Terjadi kurang dari dua tahun sejak onset penyakit
)# Late onset paresis
Terjadi setelah lebih dari dua tahun sejak onset penyakit
ementara itu eddon dan Butler memodi:ikasi klasi:ikasi sorrel menjadi tiga
tipe:
+# Type I ;paraplegia o: a5ti'e disease=
)7
Berjalan akut onset dini/ terjadi dalam dua tahun pertama sejak onset
penyakit/ dan dihubungkan dengan penyakit yang akti:# Dapat membaik
;tidak permanen=#
)# Type II
Onsetnya juga dini/ dihubungkan dengan penyakit yang akti:/ bersi:at
permanen bahkan (alaupun in:eksi tuberkulosa menjadi tenang#
"enyebab timbulnya paraplegia pada tipe I dan II dapat disebabkan oleh
karena :
a# Tekanan eksternal pada korda spinalis dan duramater dapat disebabkan
oleh karena adanya granuloma di kanalis spinalis/ adanya abses/
material perkijuan/ sekuestra tulang dan diskus atau karena subluksasi
atau dislokasi patologis 'ertebra# e5ara klinis pasien akan
menampakkan kelemahan alat gerak ba(ah dengan spastisitas yang
ber'ariasi/ tetapi tidak tampak adanya spasme otot in'olunter dan
re:lek (ithdra(al
b# In'asi duramater oleh tuberkulosa tampak gambaran meningomielitis
tuberkulosa atau araknoiditis tuberkulosa# e5ara klinis pasien tampak
mempunyai spastisitas yang berat dengan spasme otot in'olunter dan
re:lek (ithdra(al# "rognosis tipe ini buruk dan ber'ariasi sesuai
dengan luasnya kerusakan korda spinalis# e5ara umum dapat terjadi
inkontinensia urin dan :eses/ gangguan sensoris dan paraplegia#
,# Type III/yang berjalan kronis
Onset paraplegi terjadi pada :ase lanjut# Tidak dapat ditentukan apakah
dapat membaik# Bisa terjadi karena tekanan korda spinalis oleh granuloma
epidural/ :ibrosis meningen dan adanya jaringan granulasi serta adanya
tekanan pada korda spinalis/ peningkatan de:ormitas ki:otik ke anterior/
reakti'asi penyakit atau insu:isiensi 'askuler ;trombosis pembuluh darah
yang mensuplai korda spinalis=#
Klasi:ikasi untuk penyebab "ottMs paraplegia dijabarkan oleh %odgson menjadi:
)A
+# "enyebab ekstrinsik :
+#+# "ada penyakit yang akti:
a# 4bses ;5airan atau perkijuan=
b# Jaringan granulasi
5# ekuester tulang dan diskus
d# ubluksasi patologis
e# Dislokasi 'ertebra
+#)# "ada penyakit yang sedang dalam proses penyembuhan
a# Trans'erse ridge dari tulang anterior ke 5orda spinalis
b# &ibrosis duramater
)# "enyebab intrinsik :
menyebarnya peradangan tuberkulosa melalui duramater melibatkan
meningen dan korda spinalis#
,# "enyebab yang jarang :
,#+ trombosis korda spinalis yang in:ekti:
,#) spinal tumor syndrome
Dapat pula proses tuberkulosa menghan5urkan korpus sehingga kanalis spinalis
membengkok dan menekan pada tulang dindingnya# Tekanan tadi menyebabkan
paraplegia# Kemungkinan lain ialah terdapat seIuestra dan pus di sekeliling
kanalis spinalis tadi yang juga menekan pada medulla spinalis# Dengan demikian
banyak sebab3sebab yang dapat menekan medulla spinalis dengan keras sehingga
menimbulkan gejala paraplegia# e5ara klinis paraplegia dapat dibagi menjadi
early onset/ ialah jika paraplegia segera timbul sebagai kelanjutan dari proses
spondilitis TB# Tipe kedua adalah paraplegia late onset/ paraplegia ini terjadi
setelah penyakit spondilitis si:atnya tenang untuk beberapa (aktu lamanya
kemudian timbul gejala3gejala paraplegia se5ara perlahan3lahan#
Berdasarkan lokasi in:eksi a(al pada korpus 'ertebra dikenal tiga bentuk
spondilitis:
+# "eridiskal / paradiskal
,*
In:eksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus ;di area meta:ise di
ba(ah ligamentum longitudinal anterior/area subkondral=# Banyak
ditemukan pada orang de(asa# Dapat menimbulkan kompresi/ iskemia dan
nekrosis diskus# Terbanyak ditemukan di regio lumbal#
)# entral in:eksi
Terjadi pada bagian sentral korpus 'ertebra/ terisolasi sehingga
disalahartikan sebagai tumor# ering terjadi pada anak3anak# Keadaan ini
sering menimbulkan kolaps 'ertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe
lain sehingga menghasilkan de:ormitas spinal yang lebih hebat# Dapat
terjadi kompresi yang bersi:at spontan atau akibat trauma# Terbanyak di
temukan di regio torakal#
,# 4nterior in:eksi
Terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari 'ertebra di atas dan di
ba(ahnya# ?ambaran radiologisnya men5akup adanya s5alloped karena
erosi di bagian anterior dari sejumlah 'ertebra ;berbentuk baji=# "ola ini
diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik yang ditransmisikan
melalui abses pre'ertebral di ba(ah ligamentum longitudinal anterior atau
karena adanya perubahan lokal dari suplai darah 'ertebral#
.# Bentuk atipikal
Dikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan :okus primernya tidak
dapat diidenti:ikasikan# Termasuk di dalamnya adalah tuberkulosa spinal
dengan keterlibatan lengkung syara: saja dan granuloma yang terjadi di
5analis spinalis tanpa keterlibatan tulang ;tuberkuloma=/ lesi di pedikel/
lamina/ prosesus trans'ersus dan spinosus/ serta lesi artikuler yang berada
di sendi inter'ertebral posterior#
Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen posterior tidak diketahui tetapi
diperkirakan berkisar antara )J3+*J# Lesi spondilitis tuberkulosa bera(al suatu
tuberkel ke5il yang berkembang lambat/ bersi:at osteolisis lokal/ a(alnya pada
tulang subkhondral di bagian superior atau in:erior anterior dari 5orpus 'ertebra#
,+
"roses in:eksi Mycobacterium tuberculosis akan mengakti:kan 5haperonin
+* yang merupakan stimulator poten dari proses resorpsi tulang sehingga akan
terjadi destruksi korpus 'ertebra dianterior# "roses perkijuan yang terjadi akan
menghalangi proses pembentukan tulang reakti: dan mengakibatkan segmen
tulang yang terin:eksi relati: a'askular sehingga terbentuklah seIuester
tuberkulosis# Destruksi progresi: di anterior akan mengakibatkan kolapsnya
korpus 'ertebra yang terin:eksi dan terbentuklah ki:osis ;4ngulasi posterior=
tulang belakang# "roses terjadinya ki:osis dapat terus berlangsung (alaupun telah
terjadi resolusi dari proses in:eksi# Ki:osis yang progresi: dapat mengakibatkan
problem respirasi dan paraplegi# Dengan adanya peningkatan sudut ki:osis di
regio torakal/ tulang3tulang iga akan menumpuk menimbulkan bentuk de:ormitas
rongga dada berupa Barrel Dhest# In:eksi akhirnya menembus korteks 'ertebra
dan membentuk abses para'ertebral# Diseminasi lokal terjadi melalui penyebaran
hematogen dan penyebaran langsung diba(ah ligamentum longitudinal anterior#
4pabila telah terbentuk abses para'ertebral/ lesi dapat turun mengikuti alur :as5ia
muskulus psoas yang dapat men5apai trigonum :emoralis# "ada usia de(asa/
dis5us inter'ertebralis a'askular sehingga lebih resisten terhadap in:eksi dan
kalaupun terjadi adalah sekunder dari 5orpus 'ertebra# "ada anak3anak karena
dis5us inter'ertebralis masih bersi:at 'askular/ in:eksi dis5us dapat terjadi primer#
?ejala utama adalah nyeri tulang belakang/ nyeri biasanya bersi:at kronis dapat
lokal maupun radikular#
"asien dengan keterlibatan 'ertebra segmen 5er'i5al dan thorakal
5enderung menderita de:isit neurologis yang lebih akut sedangkan keterlibatan
lumbal biasanya bermani:estasi sebagai nyeri radikular# elain nyeri terdapat
gejala sistemik berupa demam/ malaise/ keringat malam/ peningkatan suhu tubuh
pada sore hari dan penurunan berat badan# Tulang belakang terasa nyeri dan kaku
pada pergerakan#
#.#.% Pa'o3isiolo&i
?9,!,%@
Basil tb masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus
respiratorius# "ada saat terjadi in:eksi primer/ karena keadaan umum yang buruk
,)
maka dapat terjadi basilemia# "enyebaran terjadi se5ara hematogen# Basil tb dapat
tersangkut di paru/ hati limpa/ ginjal dan tulang# >nam hingga delapan minggu
kemudian/ respons imunologik timbul dan :okus tadi dapat mengalami reaksi
selular yang kemudian menjadi tidak akti: atau mungkin sembuh sempurna#
Eertebra merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang# "enyakit
ini paling sering menyerang 5orpus 'ertebra# "enyakit ini pada umumnya
mengenai lebih dari satu 'ertebra# In:eksi bera(al dari bagian sentral/ bagian
depan/ atau daerah epi:isial 5orpus 'ertebra# Kemudian terjadi hiperemi dan
eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan 5orpus# elanjutnya
terjadi kerusakan pada korteks epi:ise/ dis5us inter'ertebralis dan 'ertebra
sekitarnya# Kerusakan pada bagian depan 5orpus ini akan menyebabkan terjadinya
ki:osis yang dikenal sebagai gibbus# Berbeda dengan in:eksi lain yang 5enderung
menetap pada 'ertebra yang bersangkutan/ tuberkulosis akan terus
menghan5urkan 'ertebra di dekatnya# Kemudian eksudat ;yang terdiri atas serum/
leukosit/ kaseosa/ tulang yang :ibrosis serta basil tuberkulosa= menyebar ke depan/
di ba(ah ligamentum longitudinal anterior dan mendesak aliran darah 'ertebra di
dekatnya# >ksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai
arah di sepanjang garis ligament yang lemah# "ada daerah 5er'i5al/ eksudat
terkumpul di belakang :asia para'ertebralis dan menyebar ke lateral di belakang
muskulus sternokleidomastoideus# >ksudat dapat mengalami protrusi ke depan
dan menonjol ke dalam :aring yang dikenal sebagai abses :aringeal# 4bses dapat
berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea/ esophagus/ atau 5a'um pleura#
4bses pada 'ertebra thora5alis biasanya tetap tinggal pada daerah thoraks
setempat menempati daerah para'ertebral/ berbentuk massa yang menonjol dan
:usi:orm# 4bses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul
paraplegia# 4bses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus
psoas dan mun5ul di ba(ah ligamentum inguinal pada bagian medial paha#
>ksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat
mengikuti pembuluh darah :emoralis pada trigonum s5arpei atau regio glutea#
$enurut ?ilroy dan $eyer ;+A6A=/ abses tuberkulosis biasanya terdapat pada
daerah 'ertebra thora5alis atas dan tengah/ tetapi menurut Bedbrook ;+A7+= paling
,,
sering pada 'ertebra thora5alis +) dan bila dipisahkan antara yang menderita
paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada 'ertebra torakalis +*
sedang yang non paraplegia pada 'ertebralumbalis#
"enjelasan mengenai hal ini sebagai berikut :
4rteri induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen thorakal paling
sering terdapat pada 'ertebra thorakal 73lumbal + sisi kiri# Trombosis arteri yang
'ital ini akan menyebabkan paraplegia# &aktor lain yang perlu diperhitungkan
adalah diameter relati: antara medulla spinalis dengan 5analis 'ertebralisnya#
Intumesensia lumbalis mulai melebar kira3kira setinggi 'ertebra thora5alis +*/
sedang 5analis 'ertebralis di daerah tersebut relati'e ke5il# "ada 'ertebra lumbalis
+/ 5analis 'ertebralisnya jelas lebih besar oleh karena itu lebih memberikan ruang
gerak bila ada kompresi dari bagian anterior# %al ini mungkin dapat menjelaskan
mengapa paraplegia lebih sering terjadi pada lesi setinggi 'ertebra thora5al +*#
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit pott terjadi melalui kombinasi
. :aktor yaitu :
+# "enekanan oleh abses dingin
)# Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis
,# Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya
.# "enyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus 'ertebra yang rusak
Diskus inter'ertebralis karena a'askular lebih resisten tetapi akan mengalami
dehidrasi dan penyempitan karena dirusak oleh jaringan granulasi TBD#
Kerusakan progresi: bagian anterior 'ertebra akan menimbulkan ki:osis ;a'ant/
)**6=#
"erjalanan penyakit spondilitis tuberkulosa terdiri dari lima stadium yaitu:
+# tadium implantasi
etelah bakteri berada dalam tulang/ apabila daya tahan tubuh penderita
menurun/ bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung
selama 237 minggu# Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus
dan pada anak3anak pada daerah sentral 'ertebra#
,.
)# tadium destruksi a(al
elanjutnya terjadi destruksi korpus 'ertebra dan penyempitan yang ringan
pada diskus# "roses ini berlangsung selama ,32 minggu#
,# tadium destruksi lanjut
"ada stadium ini terjadi destruksi yang masi:/ kolaps 'ertebra/ dan
terbentuk massa kaseosa serta pus yangberbentuk 5old abses/ yang tejadi
)3, bulan setelah stadium destruksi a(al# elanjutnya dapat terbentuk
sekuestrum dan kerusakan diskus inter'ertebralis# "ada saat ini terbentuk
tulang baji terutama di depan ;(edging anterior= akibat kerusakan korpus
'ertebra sehingga menyebabkan terjadinya ki:osis atau gibbus#
.# tadium gangguan neurologis
?angguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya ki:osis yang terjadi
tetapi ditentukan oleh tekanan abses kekanalis spinalis# Eertebra torakalis
mempunyai kanalis spinalis yang ke5il sehingga gangguan neurologis
lebih mudah terjadi di daerah ini#
4pabila terjadi gangguan neurologis/ perlu di5atat derajat kerusakan
paraplegia yaitu:
I# Derajat I
Kelemahan pada anggota gerak ba(ah setelah berakti'itas atau
berjalan jauh# "ada tahap ini belum terjadi gangguan sara: sensoris#
II# Derajat II
Kelemahan pada anggota gerak ba(ah tetapi penderita masih dapat
melakukan pekerjaannya#
III# Derajat III
Kelemahan pada anggota gerak ba(ah yang membatasi gerak atau
akti'itas penderita disertai dengan hipoestesia atau anestesia#
IE# Derajat IE
,9
?angguan sara: sensoris dan motoris disertai dengan gangguan
de:ekasi dan miksi#TBD paraplegia atau "ott paraplegia dapat
terjadi se5ara dini atau lambat tergantung dari keadaan
penyakitnya# "ada penyakit yang masih akti:/ paraplegia terjadi
karena tekanan ekstradural dari abses para'ertebral ataukerusakan
langsung sumsum tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan#
"araplegia pada penyakit yang tidak akti: atau sembuh terjadi
karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau
pembentukan jaringan :ibrosis yang progresi: dari jaringan
granulasi tuberkulosa# TBD paraplegia terjadi se5ara perlahan dan
dapat terjadi destruksi tulang disertai dengan angulasi dan
gangguan 'askuler 'ertebra#
9# tadium de:ormitas residua/
tadium ini terjadi kurang lebih ,39 tahun setelah stadium implantasi#
Ki:osis atau gibus bersi:at permanen karena kerusakan 'ertebra yang
masi: di depan ;a'ant/ )**6=

#.#.< (ambaran His'opa'olo&i
Inflamasi Kronis
In:lamasi kronis dide:inisikan sebagai suatu in:lamasi yang berkepanjangan
dimana proses in:lamasi akti:/ destruksi jaringan dan penyembuhan berlansung
simultan#
?ambaran histologik in:lamasi kronik berupa:
+# In:iltrasi sel3sel mononuklear/ makro:ag/ lim:osit/ sel plasma
)# Destruksi jaringan
,# "enggantian jaringan rusak oleh jaringan ikat melalui angiogenesis dan :ibrosis#
Infiltrasi Mononuklear
,/./6

,2
$erupakan gambaran utama in:lamasi kronik# Berasal dari sel3sel monosit di
aliran darah peri:er yang bermigrasi melalui endotel akibat pengaruh agen3agen
kemotaktik: D9a/ :ibropeptides/ 5ytokines ;$D"3+=/ "D?&#
4kti'asi makro:ag akan menimbulkan:
+# "rotease
)# Dhemota5ti5 &a5tors
,# $etabolit asam arakidonat
.# Oksigen reakti:
9# &aktor - :aktor pembekuan
2# ?ro(th :a5tors
6# Dytokines ;IL3+/ Q-inter:eron =
"roses akti'asi makro:ag pada in:lamasi dipengaruhi oleh lymphokines ;R-
inter:eron= yang dihasilkan oleh sel3sel T akti: imun# "roduk3produk makro:ag
tersebut akan menghasilkan perubahan karakteristik pada in:lamasi kronis/ yaitu:
+# Destruksi jaringan ;protease dan radikal oksigen bebas=
)# 0eo'askularisasi dan proli:erasi :ibroblas#
,# 4kumulasi jaringan ikat ;5ytokines dan gro(th :a5tors=
.# Remodeling ;kolagenase=
Inflamasi Granulomatus
5
alah satu karakter lain in:lamasi kronis adalah adanya granuloma/ yaitu
kumpulan makro:ag berbentuk nodul3nodul ke5il/ yang dikenal juga sebagai sel -
sel epiteloid# el3sel epiteloid terbetuk dari sel3sel berinti banyak# "ada
granuloma terdapat juga lim:osit/ sel plasma/ neutro:il F pada granuloma
ditemukan juga nekrosis sentral#
Granuloma
9

Terbentuk dari sel T akti: imun terhadap antigen yang sulit tergradasi#
Lymphokines ;R-inter:eron= yang dihasilkan oleh sel3sel T akti: imun
,6
menyebabkan makro:ag berubah menjadi sel3sel epiteloid dan multinu5leate giant
5ells#
?ranuloma merupakan gambaran khas pada beberapa penyakit tertentu
antara lain/ tuberkulosis/ silikosis dan sarkoidosis#
Tuberkulosis
9

Disebabkan in:eksi $y5oba5trium tuber5ulosis/ bakteri aerob/ tidak mem
bentuk spora/ tidak motil dan tahan pen5u5ian asam pada pe(arnaan# "ada in:eksi
primer mikobakteria akan berproli:erasi didalam makro:ag/ dan dapat
dikendlaikan pada A9J kasus oleh respons imun selular#
el T DD.< ;T helper= menghasilkan R-inter:eron yang akan mengakti'asi
makro:ag untuk membunuh bakteri intraselular dan membentuk sel3sel epiteloid#
el T DD7< ;T supressor= akan membunuhsel3sel makro:ag yang
terin:eksi mikobakteria/ menghasilkan nekrosis perkijuan melalui reaksi
hipersensiti: tipe lambat#
"ada tuberkulosis sekunder/ kuman mikobakteria dengan granuloma yang
terbentuk/ akan menetap di parenkim paru atau menyebar se5ara hematogen ke
berbagai organ/ termasuk tulang# ?ranuloma3granuloma yang gagal
mengendalikan pertumbuhan mikobakteria merupakan penyebab utama timbulnya
kerusakan jaringan pada tuberkulosis#
#.#.$ Sis'im Imun
%,=,"

Sel-Sel Imun
istim imun berperan dalam perlindungan tubuh terhadap adanya in:eksi#
istim ini terbentuk dari jutaan klon lim:osit/ sekitar ) B +*
+)
# eSsel lim:osit
pada setiap klon memiliki reseptor permukaan yang unik yang memungkinkan
berikatan dengan determinan antigen yang mempunyai susunan sangat spesi:ik/
seperti halnya atom dalam susunan molekul# 4da ) kelompok lim:osit yaitu/ sel B
yang dihasilkan oleh sumsusm tulang dan menghasilkan antibodi serta sel T yang
dihasilkan oleh kelenjar timus dan membentuk respons imun selular#
,7
Respons Imun Selular
Respons imun selular menghasilkan sel3sel khusus yang akan bereaksi
dengan antigen asing yang terdapat pada permukaan sel3sel yang lain# el tersebut
akan membunuh sel3sel tubuh yang terin:eksi 'irus dipermukaan selnya/ sehingga
sel3sel tersebut akan dimusnah kan sebelum 'irus bereplikasi# Dontoh lain/ sel
imun tersebut menghasilkan sinyal3sinyal kimia yang akan mengakti:kan
makro:ag untuk membunuh mikro3organisme#
Reseptor Sel T dan Subkelasnya
Terdapat sedikitnya dua subkelas yang berbeda pada sel T/ yaitu DytotoBi5
T 5ell dan %elper T 5ell# DytotoBi5 T 5ell dengan segera membunuh sel yang
terin:eksi/ terutama oleh 'irus# %elper T 5ell membantu akti'asi sel B untuk
membentuk antibodi dan makro:ag/ untuk menelan dan merusak mikro3
organisme# Kedua jenis sel T pada permukaan sel nya/ membentuk reseptor yang
strukturnya serupa dengan antibodi#
Molekul MH dan !enya"ian #nti$en pada Sel T
Reseptor tersebut diatas dapat mengenali :ragmen3:ragmen protein asing
yang dimun5ulkan pada permukaan sel tubuh oleh molekul $%D# Kedua sel T
tersebut dapat mengenali antigen dalam bentuk :ragmen peptida yang dibentuk
melalui degradasi antigen protein asing didalam sel target/ dan keduanya
bergantung kepada kemampuan molekul $%D/ suatu protein khusus dalam
kemampuannya mengikat :ragmen protein asing/ memba(anya kepermukaan sel
dan menyajikannya kepada sel T#
"rotein3protein $%D ini dihasilkan oleh kelompok gen3gen yang dikenal
dengan istilah $ajor %isto5ompatability DompleB ;$%D=# "ada manusia $%D
juga disebut antigen %L4 ;%uman leu5o5yte3asso5iated antigens=/ karena pertama
kali didemostrasikan pada lekosit#
Kelas Molekul MH
,A
$olekul $%D yang terdiri dari kelas I dan kelas II/ mempunyai peran
yang sangat penting didalam menyajikan antigen protein asing kepada DytotoBi5
T 5ell dan %elper T 5ell# $olekul $%D kelas I dihasilkan oleh hampir seluruh sel
tubuh manusia F molekul m%D kelas II hanya dihasilkan oleh beberapa sel saja
yang dapat berinter3aksi dengan %elper T 5ell/ yaitu lim:osit B dan makro:ag#
Reseptor Tambahan% &' dan &(
Kemampuan berikatan antara reseptor sel T dengan kompleks molekul
$%D3peptida pada sel target pada umumnya terlalu lemah untuk menghasilkan
interaksi yang :ungsional# Oleh karena itu dibutuhkan reseptor tambahan
;a55essory re5eptors= untuk memperkuat stabilitas interaksi dengan memperkuat
adhesi antar sel/ disebut sebagai 5o3re5eptors# Reseptor ini juga berperan dalam
mengakti:kan sel T melalui sinyal intrasel mereka sendiri# Tidak seperti reseptor
sel T atau molekul $%D/ reseptor tambahan ini tidak berikatan dengan antigen/
tidak 'ariati: dan tidak polimor:ik#
Resptor tambahan sel T yang terpenting dan banyak dikenal adalah protein
DD. dan DD7# DD adalah singkatan dari 5luster o: di::rentiation# DD. dihasilkan
oleh helper T 5ell dan berikatan dengan molekul $%D kelas II# DD7 dihasilkan
oleh 5ytotoBi5 T 5ell dan berikatan dengan molekul $%D kelas I#
ytoto)ic T ell
DytotoBi5 T 5ell bekerja langsung membunuh sel target yang terin:eksi
yang telah memun5ulkan :ragmen protein mikroba pada permukaan selnya#
Beberapa bagian dari protein mikroba yang dihasilkan didalam sitosol sel target
akan mengalami degradasi melalui akti:itas proteasom/ dan :ragmen protein yang
terbentuk akan dipompakan kedalam lumen retikulum endoplasma dan akan
berkaitan dengan molekul $%D kelas I# Kompleks ini akan ditransportasikan
menuju permukaan sel target sehingga dikenali oleh 5ytotoBi5 T 5ell# el T ini
diduga membunuh sel target dengan menginduksi kematian sel target melalui
mekanisme programmed 5ell death atau apoptosis#
4kti'asi el T
.*
4kti'asi sel T/ 5ytotoBi5 T 5ell atau helper T 5ell/ adalah suatu proses
rumit yang belum dipahami sepenuhnya# Reseptor sel T mengenali peptida asing
yang berikatan dengan molekul $%D pada permukaan sel target#"ada sel B/
reseptornya bekerja sama dengan in'ariant transmembrane polypetida 5hains/
disebut sebagai DD, 5ompleB/ yang dapat mengtransduksikan ;transdu5e=
peristi(a ikatan di ekstrasel menjadi sinyal akti'asi intrasel ;intra5ellular
a5ti'ating signals= # Kompleks DD, tersebut diduga mengakti:kan satu atau lebih
bagian dari r5 :amily dari tyrosine kinases/ termasuk protein &yn/ yang
mem:os:orilasi berbagai ma5am protein selular/ termasuk kompleks DD, itu
sendiri dan juga en@im phopholipase D3R/ yang akan mengakti:kan inositol
phospholipid signaling path(ay#
Reseptor sel T dan kompleks DD, tidak bekerja sendiri untuk
mengakti:kan sel T# Beberapa 5o3re5eptors juga berperan penting/ diantaranya
DD. / DD7 dan LDK kinase# "ada proses akti'asi sel T/ reseptor dan 5o3re5eptor/
juga r53like tyrosine kinases diduga bekerja sama didalam suatu kompleks sinyal
yang luas di memberan plasma sel TF akan tetapi kompleks sinyal yang luas ini
ternyata belum 5ukup untuk mengakti'asi sel T# Dibutuhknn juga jalur sinyal
lainnya yang independen#
Mekanisme Sinyal pada #ktivasi Helper T ell*
!ntuk mengakti:kan helper T 5ell/ sel penyaji antigen sedikitnya harus
menyediakan ) sinyal# inyal pertama/ telah dikemukakan diatas#/ melalui ikatan
protein asing dengan molekul $%D kelas II pada permukaan sel target/ yang akan
mengakti:kan reseptor sel T# inyal kedua terbentuk melalui sekresi sinyal kimia/
misalnya interleukin3+ ;IL3+=/ atau melalui plasma membrane3bound signaling
mole5ule B6 pada permukaan sel penyaji antigen#
Jika helper T 5ell menerima kedua sinyal tersebut/ terjadi akti'asi untuk
berproli:erasi dan untuk mensekresikan berbagai interleukin# ebaliknya jika
hanya menerima sinyal pertama tanpa sinyal kedua/ sel T akan terganggu
sehingga tidak akan dapat lagi diakti:kan (alupun kemudian menerima kedua
sinyal# atu kali helper T 5ell atau 5ytotoBi5 T 5ell mendapat stimulasi antigen/
.+
protein tambahan lainnya akan di:ungsikan untuk menambah kekuatan ikatan sel
T pada sel target#
!roliferasi Sel T
?abungan aksi sinyal pertama dan sinyal kedua/ akan mempro'okasi
helper T 5ell untuk berproli:erasi melalui mekanisma tidak langsung# Terjadi
stimulasi terhadap diri sel T itu sendiri untuk berproli:erasi melalui sekresi gro(th
:a5tor/ interleukin3) ;IL3)= dan sistesis reseptor permukaan sel yang mengikatnya
se5ara simultan# Ikatan IL3) dengan reseptor nya ini akan se5ra langsung
menstimulasi proli:erasi sel T# $elalui mekanisme autokrin ini/ helper T 5ell akan
terus berproli:erasi setelah mereka meninggalkan permukaan sel penyaji antigen#
%elper T 5ell ini juga dapat menstimulasi proli:erasi sel3sel T lainnya yang
berdekatan termasuk 5ytotoBi5 T 5ell yang sebelumnya telah membentuk reseptor
IL3) akibat induksi antigen# Karena ekspresi reseptor IL3) sangat tergantung pada
stimulasi antigen/ maka IL3) hanya menimbulkan proli:erasi pada sel T yang telah
berikatan dengan antigen spesi:ik#
Sekresi Interleukin Sel T
%elper T 5ell setidaknya dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan
interleukin yang disekresikan# el T%+ mensekresikan IL3) dan R3inter:eron dan
utamanya membantu akti'asi 5ytotoBi5 T 5ell dan makro:ag# el T%)
menghasilkan IL3. dan IL39 dan utamanya membantu akti'asi sel B dan eosino:il#
4kti'asi makro:ag oleh sel T sangat penting dalam mekanisme pertahanan
terhadap in:eksi mikro3organisma yang dapat betahan dari :agositosis oleh
makro:ag yang tidak akti:# alah satu 5ontoh adalah in:eksi tuberkulosis#
#.#.= (ambaran Klinis
?9,%,=,>@
?ambaran klinis spondilitis tuberkulosa ber'ariasi dan tergantung pada
banyak :aktor
;6=#
Biasanya onset "ottMs disease berjalan se5ara mendadak dan
.)
bere'olusi lambat# Durasi gejala3gejala sebelum dapat ditegakkannya suatu
diagnosa pasti ber'ariasi dari bulanhingga tahunF sebagian besar kasus didiagnosa
sekurangnya dua tahun setelah in:eksi tuberkulosa#
?ambaran spondilitis tuberkulosa antara lain :
3 badan lemah/lesu/
3 na:su makan berkurang/
3 berat badan menurun/
3 suhu sub:ebril terutama pada malam hari serta sakit pada punggung/
pada anak3anak sering disertai dengan menangis pada malam hari#
3 pada a(al dapat dijumpai nyeri inter5ostal yaitu nyeri yang menjalar
dari tulang belakang ke garis tengah keatas dada melalui ruang
inter5osta/ hal ini karenatertekannya radiks dorsalis ditingkat thora5al
3 nyeri spinal yang menetap/ terbatasnya pergerakan spinal#
Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 9*J kasus karena proses destruksi lanjut
berupa :
3 paraplegia/ paraparesis/ ataupun nyeri radiB sara:/ akibat penekanan
medulla spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan
dan nyeri/
3 gambaran paraplegia in:erior kedua tungkai bersi:at !$0 dan adanya
batas de:isit sensorik setinggi tempat gibus/lokalisasi nyeri inter5ostal
3 pemeriksaan :isik :
o adanya gibus dan nyeri setempat
o spastisitas
o hiperre:lesia tendon lutut/a5hilles dan
o re:leB patologik pada kedua belah sisi
o batas de:isit sensorik akibat mielitis trans'ersa dan gangguan
miksi jarang dijumpai
pondylitis 5orpus 'ertebra dibagi menjadi tiga bentuk :
+# "ada bentuk sentral#
.,
Detruksi a(al terletak di sentral 5orpus 'ertebra/ bentuk ini sering
ditemukan pada anak#
)# Bentuk paradikus#
Terletak di bagian 5orpus 'ertebra yang bersebelahan dengan dis5us
inter'ertebral/ bentuk ini sering ditemukan pada orang de(asa#
,# Bentuk anterior#
Dengan lokus a(al di 5orpus 'ertebra bagian anterior/ merupakan
penjalaran per kontinuitatum dari 'ertebra di atasnya#
#.#.> Dia&nosis
?%,$,=,>,",""@
4namnesis dan "emeriksaan &isik :
+# 4namnesis dan inspeksi :
4namnesis dilakukan untuk mendapatkan keterangan dari pasien/ meliputi
keluhan utama/ keluhan sistem badan/ ri(ayat penyakit sekarang/ ri(ayat
penyakit dahulu/ dan ri(ayat penyakit keluarga atau lingkungan#
+#+# ?ambaran adanya penyakit sistemik: kehilangan berat badan/
keringat malam/ demam yang berlangsung se5ara intermitten terutama
sore dan malam hari serta kakeksia# "ada pasien anak3anak/ dapat juga
terlihat berkurangnya keinginan bermain di luar rumah# ering tidak
tampak jelas pada pasien yang 5ukup gi@i sementara pada pasien
dengan kondisi kurang gi@i/ maka demam ;terkadang demam tinggi=/
hilangnya berat badan dan berkurangnya na:su makan akan terlihat
dengan jelas#
+#)# 4danya ri(ayat batuk lama ;lebih dari , minggu= berdahak atau
berdarah disertai nyeri dada# "ada beberapa kasus di a:rika terjadi
pembesaran dari nodus lim:atikus/ tuberkel di subkutan/ dan
pembesaran hati dan limpa#
+#,# 0yeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri
yang menjalar# In:eksi yang mengenai tulang ser'ikal akan tampak
sebagai nyeri di daerah telinga atau nyeri yang menjalar ke tangan#
..
Lesi di torakal atas akan menampakkan nyeri yang terasa di dada dan
inter5ostal# "ada lesi di bagian torakal ba(ah maka nyeri dapat berupa
nyeri menjalar ke bagian perut# Rasa nyeri ini hanya menghilang
dengan beristirahat# !ntuk mengurangi nyeri pasien akan menahan
punggungnya menjadi kaku#
+#.# "ola jalan mere:leksikan rigiditas protekti: dari tulang belakang#
Langkah kaki pendek/ karena men5oba menghindari nyeri di
punggung#
+#9# Bila in:eksi melibatkan area ser'ikal maka pasien tidak dapat
menolehkan kepalanya/ mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi
dan duduk dalam posisi dagu disangga oleh satu tangannya/ sementara
tangan lainnya di oksipital# Rigiditas pada leher dapat bersi:at
asimetris sehingga menyebabkan timbulnya gejala klinis torti5ollis#
"asien juga mungkin mengeluhkan rasa nyeri di leher atau bahunya#
Jika terdapat abses/ maka tampak pembengkakan di kedua sisi leher#
4bses yang besar/ terutama pada anak/ akan mendorong trakhea ke
ternal not5h# ehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan
adanya stridor respiratoar/ sementara kompresi medulla spinalis pada
orang de(asa akan menyebabkan tetraparesis ;%su dan Leong +A7.=#
Dislokasi atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan
merupakan salah satu penyebab kompresi Der'i5omedullary# Di negara
yang sedang berkembang# %al ini perlu diperhatikan karena gambaran
klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio ser'ikal#
+#2# In:eksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak
menjadi kaku# Bila berbalik ia menggerakkan kakinya/ bukan
mengayunkan dari sendi panggulnya# aat mengambil sesuatu dari
lantai ia menekuk lututnya sementara tetap mempertahankan
punggungnya tetapkaku ;5oin test= jika terdapat abses/ maka abses
dapat berjalan di bagian kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan
tampak sebagai pembengkakan lunak dinding dada# Jika menekan
.9
abses ini berjalan ke bagian belakang maka dapat menekan korda
spinalis dan menyebabkan paralisis#
+#6# Di regio lumbar: abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan
lunak yang terjadi di atas atau di ba(ah lipat paha# Jarang sekali pus
dapat keluar melalui :istel dalam pel'is danmen5apai permukaan di
belakang sendi panggul# "asien tampak berjalan dengan lutut danhip
dalam posisi :leksi dan menyokong tulang belakangnya dengan
meletakkan tangannya diatas paha# 4danya kontraktur otot psoas akan
menimbulkan de:ormitas :leksi sendi panggul#
+#7# Tampak adanya de:ormitas/ dapat berupa : ki:osis ;gibbus/angulasi
tulang belakang=
+#A# 4danya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis ;de:isit
neurologis=# Terjadi pada kurang lebih +*3.6J kasus# Insidensi
paraplegia pada spondilitis lebih banyak di temukan pada in:eksi di
area torakal dan ser'ikal# Jika timbul paraplegia akan tampak
spastisitas dari alat gerak ba(ah dengan re:leks tendon dalam yang
hiperakti:/ pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang
ber'ariasi# Dapat pula terjadi gangguan :ungsi kandung kemih dan
anorektal#
+#+*# "embengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas
dan nyeri akut seperti pada in:eksi septik# Onset yang lambat dari
pembengkakan tulang ataupun sendi mendukung bah(a hal tersebut
disebabkan karena tuberkulosa#
)# "alpasi :
)#+ Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang ber:luktuasi dan kulit
diatasnya terasa sedikit hangat ;disebut Dold ab5ess/ yang
membedakan dengan abses piogenik yang teraba panas=# Dapat
dipalpasi di daerah lipat paha/ :ossa iliaka/ retropharynB/ atau di sisi
.2
leher ;di belakang otot sternokleidomastoideus=/ tergantung dari le'el
lesi# Dapat juga teraba disekitar dinding dada# "erlu diingat bah(a
tidak ada hubungan antara ukuran lesi destrukti: dan kuantitas pus
dalam Dold abs5ess
)#) pasme otot protekti: disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang
terkena#
,# "erkusi :
,#+ "ada perkusi se5ara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus
spinosus'ertebrae yang terkena/ sering tampak Tenderness
#
.# 4uskultasi
"ada pemeriksaan auskultasi/ keadaan paru tidak ditemukan kelainan#
"emeriksaan penunjang :
+# Laboratorium :
+#+ Laju endap darah meningkat ;tidak spesi:ik=/ dari )* sampai lebih dari
+**mm/jam#
+#) Tuberculin skin test /$antouB test /Tuberculine purified protein
derivative ;ppd= positi:# %asil yang positi: dapat timbul pada kondisi
pemaparan dahulu maupun yang baru terjadi oleh $y5oba5terium#
Tuber5ulin skin test ini dikatakan positi: jika tampak area berindurasi/
kemerahan dengan diameter +*mm di sekitar tempat suntikan .736)
jamsetelah suntikan# %asil yang negati: tampak pada 8 )*J kasus
;tandon and pathak/ +A6,F ko5en/ +A66= dengan tuberkulosis berat
;tuberkulosis milier= dan pada pasien yang immunitas selulernya
tertekan ;seperti baru saja terin:eksi/ malnutrisi atau disertai
penyakitlain=
+#, !ji kultur biakan bakteri dan BT4 ditemukan $y5oba5terium#
+#. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar lim:e regional#
.6
+#9 "emeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel#
+#2 Kultur urin pagi ;membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal=/
sputum dan bilas lambung ;hasil positi: bila terdapat keterlibatan
paruparu yang akti:=
+#6 4pus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan lim:ositosis yang
bersi:atrelati:#
+#7 Tes darah untuk titer anti3staphylo5o55al dan anti3streptolysin
haemolysins/ typhoid/ paratyphoid dan bru5ellosis ;pada kasus3kasus
yang sulit dan pada pusat kesehatan dengan peralatan yang 5ukup
5anggih= untuk menyingkirkan diagnosa banding#
+#A "ungsi lumbal didapati tekanan 5airan serebrospinalis rendah#
Dairan serebrospinal dapat abnormal ;pada kasus dengan meningitis
tuberkulosa=# 0ormalnya 5airan serebrospinal tidak mengeksklusikan
kemungkinan in:eksi pemeriksaan 5airan serebrospinal se5ara serial
akan memberikan hasil yang lebih baik# Dairan serebrospinal akan
tampak:
Gantokrom
Bila dibiarkan pada suhu ruangan akan menggumpal#
"leositosis ;dengan dominasi lim:osit dan mononuklear=# "ada
tahap akut responnya bisa berupa neutro:ilik seperti pada
meningitis piogenik#
Kandungan protein meningkat#
Kandungan gula normal pada tahap a(al tetapi jika gambaran
klinis sangat kuat mendukung diagnosis/ ulangi pemeriksaan
"ada keadaan ara5hnoiditis tuberkulosa ;radi5ulomyelitis=/
punksi lumbal akan menunjukkan ?enuine dry tap# "ada pasien
ini adanya peningkatan bertahap kandungan protein
menggambarkan suatu blok spinal yang mengan5am dan sering
diikuti dengan kejadian paralisis# "emberian steroid akan
men5egah timbulnya hal ini ;1adia/ +A6,=# Kandungan protein
.7
5airan serebrospinal dalam kondisi spinal terblok spinal dapat
men5apai +3.?/+**$L#
Kultur 5airan serebrospinal# 4danya basil tuberkel merupakan
tes kon:irmasi yang absolut tetapi hal ini tergantung dari
pengalaman pemeriksa dan tahap in:eksi#
+#+* "eningkatan DR" ;D3Reakti: "rotein=#
+#++ "emeriksaan serologi dengan deteksi antibodi spesi:ik dalam
sirkulasi#
+#+) "emeriksaan >LI4 ;>n@yme3Linked Immunoadsorbent 4ssay=
tetapi menghasilkan negati: palsu pada penderitadengan alergi#
+#+, Identi:ikasi "DR ;"olymerase Dhain Rea5tion= meliputi denaturasi
D04 kuman tuberkulosis melekatkan nukleotida tertentu pada
:ragmen D04 dan ampli:ikasi menggunakan D04 polimerase sampai
terbentuk rantai D04 utuh yang diidenti:ikasi dengan gel#
)# Radiologis :
N9/6/+)O
?ambarannya ber'ariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas in:eksi#
&oto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk men5ari bukti
adanya tuberkulosa di paru ;)/, kasus mempunyai :oto rontgen yang
abnormal=#
&oto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk men5ari
bukti adanya tuberkulosa di tulang belakang# Tanda radiologis baru
dapat terlihat setelah ,37 minggu onset penyakit#
Jika mungkin lakukan rontgen dari arah antero3posterior dan lateral#
.A
(ambar "#. pondilitis TB# Radiogra:i lateral menunjukkan hilangnya ruang
diskus ;panah lurus= dengan destruksi pelat ujung yang berdekatan ;panah
melengkung= dan pendesakan di anterior#

(ambar "9# "enyebaran subligamentum dari tuber5ulosis spinal# ?ambaran
radiogra:i lateral enunjukkan erosi pada tepi anterior 5orpus 'ertebra ;panah=
disebabkan oleh abses jaringan lunak sekitar#
Tahap a(al tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau
sudut in:erior 5orpus 'ertebrae/ osteoporosis regional yang kemudian
berlanjut sehingga tampak penyempitan diskus inter'ertebralis yang
berdekatan/ serta erosi 5orpus 'ertebrae anterior yang berbentuk
5alloping karena penyebaran in:eksi dari area subligamentous
In:eksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel/ lamina/ prosesus
trans'ersus atau prosesus spinosus#
9*
Keterlibatan bagian lateral 5orpus 'ertebra akan menyebabkan
timbulnya de:ormita s5oliosis ;jarang=
"ada pasien dengan de:ormitas gibbus karena in:eksi sekunder
tuberkulosa yang sudahlama akan tampak tulang 'ertebra yang
mempunyai rasio tinggi lebih besar daril ebarnya ;'ertebra yang
normal mempunyai rasio lebar lebih besar terhadap tingginya=# Bentuk
ini dikenal dengan nama Long 'ertebra atau Tall 'ertebra/ terjadi
karena adanyastress biomekanik yang lama di bagian kaudal gibbus
sehingga 'ertebra menjadi lebih tinggi# Kondisi ini banyak terlihat
pada kasus tuberkulosa dengan pusat pertumbuhan korpus 'ertebra
yang belum menutup saat terkena penyakit tuberkulosa yang
melibatkan 'ertebra torakal# Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak/
seperti abses para'ertebral dan psoas# Tampak bentuk :usi:orm atau
pembengkakan berbentuk globular dengan kalsi:ikasi# 4bses psoas
akan tampak sebagai bayangan jaringan lunak yang mengalami
peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsi:ikasi pada saat
penyembuhan# Deteksi ;e'aluasi= adanya abses epidural sangatlah
penting/ oleh karena merupakan salah satuindikasi tindakan operasi
;tergantung ukuran abses=#
Domputed tomography 3 s5an ;5t=terutama berman:aat untuk
mem'isualisasi regio torakal dan keterlibatan iga yangsulit dilihat pada
:oto polos# Keterlibatan lengkung syara: posterior seperti pedikel
tampak lebih baik dengan 5t s5an#DT s5an memberi gambaran tulang
se5ara lebih detail dari lesi irreguler/ skelerosis/ kolaps diskus/ dan
gangguan sirkum:erensi tulang#
9+
(ambar "!. pondilitis TB# DT 5an aBial menunjukkan destruksi litik 5orpus
'ertebra ;panah hitam= dengan keterlibatan abses jaringan lunak ;panah putih=
(ambar "%# 4bses psoas terkalsi:ikasi# DT 5an aksial menunjukkan abses
bilateral tuber5ulosis psoas dengan kalsi:ikasi peri:er ;panah=
$agneti5 resonan5e imaging ;$RI=mempunyai man:aat besar untuk
membedakan komplikasi yang bersi:at kompresi: dengan yang bersi:at
non kompresi: pada tuberkulosa tulang belakang# $RI menge'aluasi
in:eksi diskus inter'ertebralis dan osteomielitis tulang belakang serta
menunjukkan adanya penekanan sara: ;Lauerman/ )**2=# Berman:aat
untuk :
o $embantu memutuskan pilihan manajemen apakah akan
bersi:at konser'ati: atau operati:#
9)
o $embantu menilai respon terapi# Kerugiannya adalah dapat
terle(atinya :ragmen tulang ke5il dan kalsi:ikasi di abses#
(ambar "<. pondilitis TB# $RI "otongan sagital T) menunjukkan area dengan
peningkatan intensitas disebabkan edema 5orpus in'ertebral disertai penyempitan
diskus ;panah putih= dan penyebaran ke kanalis spinalis ;panah hitam=
0eddle biopsi/ operasi eksplorasi ;Dostotrans'erse5tomi =
Dari lesi spinal mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi
membutuhkan pengalaman dan pemba5aan histologi yang baik ;untuk
menegakkan diagnosa yang absolut= ;berhasil pada 9*J kasus=#
4spirasi puspara'ertebral yang diperiksa se5ara mikroskopis untuk
men5ari basil tuberkulos adan granuloma/ lalu kemudian dapat
diinokulasi di dalam ?uinea babi#
#.#." Pena'ala2sanaan
?!,%,"9,"!@
"enatalaksanaan spondilitis tuberkulosis ditujukan untuk eradikasi in:eksi/
memberikan stabilitas pada tulang belakang dan menghentikan atau
memperbaiki ki:osis# Kriteria kesembuhan sebagian besar ditekankan pada
9,
ter5apainya :a'ourable status yang dide:inisikan sebagai pasien dapat
berakti:itas penuh tanpa membutuhkan kemoterapi atau tindakan
bedahlanjutan/ tidak adanya keterlibatan sistem sara: pusat/ :okus in:eksi yang
tenang se5ara klinis maupun se5ara radiologis# "ada prinsipnya pengobatan
tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk
menghentikan progresi'itas penyakit serta men5egah paraplegia#
"rinsip pengobatan paraplegia "ott sebagai berikut :
+# "emberian obat antituberkulosis
)# Dekompresi medulla spinalis
,# $enghilangkan/ menyingkirkan produk in:eksi
.# tabilisasi 'ertebra dengan gra:t tulang ;bone gra:t=
"engobatan terdiri atas :
+# Terapi konser'ati: berupa:
a# Tirah baring ;bed rest=
b# $emberi korset yang men5egah gerakan 'ertebra /membatasi gerak
'ertebra
5# $emperbaiki keadaan umum penderita
d# "engobatan antituberkulos astandar pengobatan di indonesia
berdasarkan program p)tb paru adalah :
Kategori +
!ntuk penderita baru bta ;<= dan bta;3=/rontgen ;<=/ diberikan dalam )
tahap F
tahap + :
9.
o ri:ampisin .9* mg/ etambutol 69* mg/ inh ,** mg dan
pira@inamid +#9**$?#
o Obat ini diberikan setiap hari selama ) bulan pertama
;2* kali=#
tahap ):
o ri:ampisin .9* mg/ inh 2** mg/
o diberikan , kali seminggu ;intermitten=selama . bulan
;9. kali=#
Kategori )
!ntuk penderita bta;<= yang sudah pernah minum obat selama sebulan/
termasuk penderita dengan bta ;<= yang kambuh/gagal yang diberikan
dalam ) tahap yaitu :
tahap +
o Diberikan streptomisin 69* mg / inh ,** mg/
ri:ampisin .9* mg/pira@inamid +9**$? dan etambutol
69* mg#
o Obat ini diberikan setiap hari /streptomisin injeksi
hanya ) bulan pertama ;2* kali= dan obat lainnya
selama , bulan ;A* kali=#
tahap )
o Diberikan inh 2** mg/ ri:ampisin .9* mg dan
etambutol +)9* mg#
o Obat diberikan , kali seminggu ;intermitten= selama 9
bulan ;22 kali=#
99
kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita
bertambah baik/ laju endap darah menurun dan menetap/ gejala3gejala
klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik
ditemukanadanya union pada 'ertebra#
Tabel ". "anduan O4T untuk tiap kategori
Di ba(ah adalah penjelasan singkat dari obat anti tuberkulosa yang
primer:
o Isonia@id ;inh=
Bersi:at bakterisidal baik di intra ataupun ekstraseluler
Tersedia dalam sediaan oral/ intramuskuler dan
intra'ena#
Bekerja untuk basil tuberkulosa yang berkembang
5epat#
92
Berpenetrasi baik pada seluruh 5airan tubuh termasuk
5airan serebrospinal#
>:ek samping : hepatitis pada +J kasus yang mengenai
lebih banyak pasien berusia lanjut usia/ "eripheral
neuropathy karena de:isiensi piridoksin se5ararelati:
;bersi:at re'ersibel dengan pemberian suplemen
piridoksin=#
Relati: aman untuk kehamilan
Dosis inh adalah 9 mg/kg/hari - ,** mg/hari
o Ri:ampin ;rmp=
Bersi:at bakterisidal/ e:ekti: pada :ase multiplikasi
5epat ataupun lambat dari basil/ baik di intra ataupun
ekstraseluler#
Keuntungan : mela(an basil dengan akti'itas metabolik
yang paling rendah ;seperti pada nekrosis perkijuan=#
Lebih baik diabsorbsi dalam kondisi lambung kosong
dan tersedia dalam bentuk sediaan oral dan intra'ena#
Didistribusikan dengan baik di seluruh 5airan tubuh
termasuk 5airanserebrospinal# >:ek samping yang
paling sering terjadi: perdarahan pada traktus
?astrointestinal/ Dholestati5 jaundi5e/ Trombositopenia
dan Dose dependent peripheral neuritis#
%epatotoksisitas meningkat bila dikombinasi dengan
I0%#
Relati: aman untuk kehamilan
Dosisnya: +* mg/kg/hari 3 2** mg/hari#
96
o "yra@inamide ;p@a=
Bekerja se5ara akti: mela(an basil tuberkulosa dalam
lingkungan yang bersi:atasam dan paling e:ekti: di
intraseluler ;dalam makro:ag= atau dalam lesi perkijuan#
Berpenetrasi baik ke dalam 5airan serebrospinalis#
>:ek samping: +# %epatotoksisitas dapat timbul akibat
dosis tinggi obat ini yang dipergunakan dalam jangka
yang panjang tetapi bukan suatu masalah bila diberikan
dalam jangka pendek#
)# 4sam urat akan meningkat/ akan tetapi kondisi gout
jarang tampak# 4rthralgia dapat timbul tetapi tidak
berhubungan dengan kadar asam urat#
Dosis : +93,*$?/kg/hari
o >thambutol ;emb=
Bersi:at bakteriostatik intraseluler dan ekstraseluler
Tidak berpenetrasi ke dalam meningen yang normal
>:ek samping : toksisitas okular ;opti5 neuritis= dengan
timbulnya kondisi buta (arna/ berkurangnya ketajaman
penglihatan dan adanya 5entral s5otoma
Relati: aman untuk kehamilan
Dipakai se5ara berhati3hati untuk pasien dengan
insu:isiensi ginjal
Dosis : +93)9 mg/kg/hari
o treptomy5in ;stm=
97
Bersi:at bakterisidal
>:ekti: dalam lingkungan ekstraseluler yang bersi:at
basa sehingga dipergunakan untuk melengkapi
pemberian p@a#
Tidak berpenetrasi ke dalam meningen yang normal
>:ek samping : ototoksisitas ;kerusakan syara: 'iii=/
nausea dan 'ertigo ;terutama sering mengenai pasien
lanjut usia=
Dipakai se5ara berhati3hati untuk pasien dengan
insu:isiensi ginjal
Dosis : +9 mg/kg/hari 3 + g/kg/hari)#
Tabel ## Dosis O4T
)# Terapi operati: bedah kostotrans'ersektomi
yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus 'ertebra yang
rusak dengan tulang spongiosa/kortiko 3 spongiosa# "ottMs paraplegia
sendiri selalu merupakan indikasi perlunya suatu tindakan operasi
9A
;%odgson= akan tetapi ?ri::iths dan eddon mengklasi:ikasikan indikasi
operasi menjadi:
a# indikasi absolut
o "araplegia dengan onset selama terapi konser'ati:F operasi
tidak dilakukan bilatimbul tanda dari keterlibatan traktur
piramidalis/ tetapi ditunda hingga terjadikelemahan motorik#
o "araplegia yang menjadi memburuk atau tetapi statis (alaupun
diberikan terapikonser'ati:
o %ilangnya kekuatan motorik se5ara lengkap selama + bulan
(alaupun telah diberi terapi konser'ati:
o "araplegia disertai dengan spastisitas yang tidak terkontrol
sehingga tirah baring dan immobilisasi menjadi sesuatu yang
tidak memungkinkan atau terdapat resiko adanya nekrosis
karena tekanan pada kulit#
o "araplegia berat dengan onset yang 5epat/ mengindikasikan
tekanan yang besar yang tidak biasa terjadi dari abses atau
ke5elakaan mekanisF dapat juga disebabkan karena trombosis
'askuler yang tidak dapat terdiagnosa
o "araplegia beratF paraplegia :lasid/ paraplegia dalam posisi
:leksi/ hilangnya sensibilitas se5ara lengkap/ atau hilangnya
kekuatan motorik selama lebih dari 2 bulan ;indikasi operasi
segera tanpa per5obaan pemberikan terapi konser'ati:=
b# indikasi relati:
2*
o "araplegia yang rekuren bah(a dengan paralisis ringan
sebelumnya
o "araplegia pada usia lanjut/ indikasi untuk operasi diperkuat
karena kemungkinan pengaruh buruk dari immobilisasi
o "araplegia yang disertai nyeri/ nyeri dapat disebabkan karena
spasme ataukompresi syara:
o Komplikasi seperti in:eksi traktur urinarius atau batu
5# indikasi yang jarang
o "osterior spinal disease
o pinal tumor syndrome
o "aralisis berat sekunder terhadap penyakit ser'ikal
o "aralisis berat karena sindrom kauda ekuinaabses dingin ;5old
abses=
o 5old abses yang ke5il tidak memerlukan tindakan operati: oleh
karena dapat terjadi resorbsispontan dengan pemberian
tuberkulostatik# "ada abses yang besar dilakukan drainase
bedah#
4da tiga 5ara menghilangkan lesi tuberkulosa/ yaitu:
a# Debrideman :okal
b# Kosto3trans'eresektomi
5# Debrideman :okal radikal yang disertai bone gra:t di bagian depan#
2+
"araplegia
"enanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia/ yaitu:
a# "engobatan dengan kemoterapi semata3mata
b# Laminektomi
5# Kosto3trans'eresektomi
d# Operasi radikal
e# Osteotomi pada tulang baji se5ara tertutup dari belakang
Operasi ki:osis
Operasi ki:osis dilakukan bila terjadi de:ormitas yang hebat/ ki:osis
mempunyaitendensi untuk bertambah berat terutama pada anak3anak# Tindakan
operati: dapat berupa :usi posterior atau melalui operasi radikal#
#.#."" Dia&nosis Bandin&
?9,%@
+# Osteitis piogen : khasnya demam lebih 5epat timbul
)# "oliomielitis : paresis/paralisis tungkai/ skoliosis dan bukan ki:osis
,# koliosis idiopatik : tanpa gimus dan tanda paralisis
.# "enyakit paru dengan bekas empiema : tulang belakang bebas penyakit
9# $etastasis tulang belakang : tidak mengenai diskus/ adanya karsinoma
prostat
2# Ki:osis senilis : ki:osis tidak lo5al/ osteoporosis seluruh kerangka
#.#."# Kompli2asi
?9,%@
Dedera 5orda spinalis ; pinal 5ord injury=#
2)
Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus
tuberkulosa/ sekuestra tulang/ sekuester dari diskus inter'ertebralis
;5ontoh : "ottMs paraplegia 3 prognosa baik= atau dapat juga langsung
karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa
;5ontoh: menigomyelitis 3 prognosa buruk=# Jika 5epat diterapi sering
berespon baik ;berbeda dengan kondisi paralisis pada tumor=# $RI dan
$ielogra:i dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan
atau karena in'asi dura dan 5orda spinalis#
>mpyema tuberkulosa karena rupturnya abses para'ertebral di torakal
ke dalam pleura#
2,
Tabel 9. 4lternati: penatalaksanaan pondilitis TB
Pilihan
'erapi
Pende2a'an Me'ode Indi2asi
I 3 3 "enatalaksanaan dasar 3 Kasus baru dengan
masalah terbatas/
penderita menolak
dioperasi
II 4nterior 3 Debridement anterior
3 >'akuasi abses para'ertebral
3 "asien dalam kondisi baik
3 4bses besar
3 Destruksi minimal
III 4nterior 3 Debridement anterior
3 &usi dan instrumentasi
3 TB ser'ikal lempeng
anterior TB torakolumbal
$etode %ongkong
IE "osterior3
anterior
3 Instrumentasi posterior
3 Debridement anterior dan
:usi sirkum:erensial
3 De:ormitas non3rigid
3 Toleransi buruk dengan
pendekatan anterior -
debrideman thora5oskopi5
dan instrumentasi
3 In:eksi/ nyeri/ instabilitas/
de:ormitas# Dan de:i5it
neurologis
E "osterior3
anterior
3 Instrumentasi posterior
3 Debridement anterior dan
:usi sirkum:erensial
3 "emendekan terbatas
3 De:ormitas rigid
EI "osterior
3 Dekompresi posterior
laminektomi
3 Dostotrans'erse5tomy
debrid dan e'akuasi abses
3 Lihat indikasi alternati:
penatalaksanaan II3IE
EII "osterior 3 Lamine5tomy
3 "emendekan terbatas
3 Debridement dan :usi
translateral/posterior
3 Instrumentasi posterior
3 TB lumbal tanpa abses
para'ertebral
EIII "osterior 3 Laminektomi
3 Debridement transpedikular
3 Biopsy
3 Instrumentasi posterior
3 TB thoraB atas
3 4bses minimal
3 De:ormitas minimal
IG "osterior
3 "emendekan dibuang:
lamina/ :a5et/ prosesus
trans'erses/ kosta
3 Instrumentasi posterior
3 Ki:osis berat ;2*3A*
o
=
G 3 3 Lihat metode II3IG 3 Ki:osis TA*
o
/ neuro de:isit
<
2.
#.#."9 Pen:e&ahan
Eaksin Ba5illus Dalmette3?uerin ;BD?= merupakan suatu strain
Mycobacterium bovis yang dilemahkan sehingga 'irulensinya berkurang# BD?
akan menstimulasi immunitas/ meningkatkan daya tahan tubuh tanpa
menimbulkan hal3hal yang membahayakan# Eaksinasi ini bersi:at aman tetapi
e:ekti:itas untuk pen5egahannya masih kontro'ersial# "er5obaan terkontrol di
beberapa negara Barat/ dimana sebagian besar anakanaknya 5ukup gi@i/ BD?
telah menunjukkan e:ek proteksi pada sekitar 7*J anak selama +9 tahun setelah
pemberian sebelum timbulnya in:eksi pertama# 4kan tetapi per5obaan lain dengan
tipe per5obaan yang sama di 4merika dan India telah gagal menunjukkan
keuntungan pemberian BD?# ejumlah ke5il penelitian pada bayi di negara
miskin menunjukkan adanya e:ek proteksi terutama terhadap kondisi tuberkulosa
milier dan meningitis tuberkulosa# "ada tahun +A67/ The +oint Tuberculosis
ommittee merekomendasikan 'aksinasi BD? pada seluruh orang yang uji
tuberkulinnya negati: dan pada seluruh bayi yang baru lahir pada populasi
immigran di Inggris ;?lassroth et al# +A7*=
;)/+*=
#
aat ini 1%O dan International ,nion #$ainst Tuberculosis and -un$
&isease tetap menyarankan pemberian BD? pada semua in:ant sebagai suatu
yang rutin pada negara3negara dengan pre'alensi tuberkulosa tinggi ;ke5uali pada
beberapa kasus seperti pada 4ID akti:=# Dosis normal 'aksinasi ini */*9 ml
untuk neonatus dan bayi sedangkan */+ ml untuk anak yang lebih besar dan
de(asa# Oleh karena e:ek utama dari 'aksinasi bayi adalah untuk memproteksi
anak dan biasanya anak dengan tuberkulosis primer biasanya tidak in:eksius/
maka BD? hanya mempunyai sedikit e:ek dalam mengurangi jumlah in:eksi pada
orang de(asa# !ntuk mengurangi insidensinya di kelompok orang de(asa maka
yang lebih penting adalah terapi yang baik terhadap seluruh pasien dengan sputum
berbasil tahan asam ;BT4= positi: karena hanya bentuk inilah yang mudah
menular# Diperlukan kontrol yang e:ekti: dari in:eksi tuberkulosa di populasi
masyarakat sehingga seluruh kontak tuberkulosa harus diteliti dan diterapi# elain
BD?/ pemberian terapi pro:ilaksis dengan I0% berdosis harian 9mg/kg/hari
29
selama + tahun juga telah dapat dibuktikan mengurangi resiko in:eksi
tuberkulosa
;)/+*=#
#.#."! Pro&nosis
"rognosa pasien dengan spondilitis tuberkulosa sangat tergantung dari usia
dan kondisi kesehatan umum pasien/ derajat berat dan durasi de:isit neurologis
serta terapi yang diberikan#
a# $ortalitas
$ortalitas pasien spondilitis tuberkulosa mengalami penurunan seiring
dengan ditemukannya kemoterapi ;menjadi kurang dari 9J/ jika pasien
didiagnosa dini dan patuh dengan regimen terapi dan penga(asan ketat=#
b# Relaps
4ngka kemungkinan kekambuhan pasien yang diterapi antibiotik
dengan regimen medis saat ini dan penga(asan yang ketat hampir
men5apai *J#
5# Ki:osis
Ki:osis progresi: selain merupakan de:ormitas yang mempengaruhi
kosmetis se5ara signi:ikan/ tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya
de:isit neurologis atau kegagalan perna:asan dan jantung karena
keterbatasan :ungsi paru# Rajasekaran dan oundarapandian dalam
penelitiannya menyimpulkan bah(a terdapat hubungan nyata antara sudut
akhir de:ormitas dan jumlah hilangnya 5orpus 'ertebra#
!ntuk memprediksikan sudut de:ormitas yang mungkin timbul peneliti
menggunakan rumus:
U V a < bG
dengan keterangan :
U V sudut akhir dari de:ormitas
G V jumlah hilangnya 5orpus 'ertebrae
a dan b adalah konstanta dengan a V 9/9 dan bV ,*/ 9#
Dengan demikian sudut akhir gibbus dapat diprediksi/ dengan akurasi A*J
padapasien yang tidak dioperasi# Jika sudut prediksi ini berlebihan/ maka
operasi sedini mungkin harus dipertimbangkan#
22
d# De:isit neurologis
De:isit neurologis pada pasien spondilitis tuberkulosa dapat membaik
se5ara spontan tanpa operasi atau kemoterapi# Tetapi se5ara umum/
prognosis membaik dengan dilakukannya operasi dini#
e# !sia
"ada anak3anak/ prognosis lebih baik dibandingkan dengan orang de(asa
:# &usi
&usi tulang yang solid merupakan hal yang penting untuk
pemulihanpermanen spondilitis tuberkulosa#
26
BAB III
ANALISIS KAS,S
eorang perempuan berusia ,6 tahun/ bertempat tinggal di Bukit angkal/
"alembang/ datang ke R!" Dr# $ohammad %oesin "alembang dengan keluhan
nyeri kepala setelah ke5elakan lalu lintas# %asil autoanamnesis didapatkan (ajah
kanan penderita membentur benda keras setelah ke5elakaan lalu lintas# "enderita
juga mengeluh kesulitan dan nyeri saat membuka mulut/ penglihatan berbayang
dan rasa nyeri di sekitar bola mata# Dari autoanamnesis dapat diperkirakan telah
terjadi :raktur pada tulang3tulang pembentuk (ajah kanan#
"ada pemeriksaan :isik tanggal ,* Juni )*+, didapatkan status generalis
penderita dalam batas normal# "ada pemeriksaan status lokalis regio :rontal pada
inspeksi tampak luka ukuran 8+*B+ 5m/ telah dijahit/ tepi luka tidak rata/ dasar
tulang/ dipalpasi terdapat krepitasi# Regio orbita dekstra melalui inspeksi
didapatkan luka di palpebra superior ukuran 8, 5m/ telah dijahit/ ekimosis pada
periorbita/ enopthalmos orbita dekstra/ pada palpasi ditemukan nyeri tekan margo
lateral dan in:erior orbita dekstra# Regio @igomatikomaksilaris dekstra terdapat
de:ormitas dan asimetris/ dipalpasi terdapat nyeri tekan dan malar depressed#
Regio mandibula didapatkan pada inspeksi simetris dan trismus ;<=/ pada palpasi
tidak ditemukan dan step o::# "meriksaan intraoral ditemukan tidak ada 5edera
lidah#
"ada pemeriksaan Rontgen 4"/Lateral dan 1aters serta DT 5an bone
(indo( tanggal ,* Juni )*+, didapatkan kesan :raktur dinding lateral rima orbita
dekstra/ :raktur os @igomatika/ :raktur dinding lateral sinus maksilaris/ dan tampak
perselubungan/so:t tissue s(elling pada regio maksilaris dekstra yang di5urigai
bukan sinusitis/ tapi bekuan darah# #
Dari anamnesis/ pemeriksaan :isik dan pemeriksaan radiologis dapat
ditegakkan diagnosa kerja pada kasus ini adalah :raktur @igomatikomaksillaris
5ompleB dekstra# "enyebab :rakturnya karena benturan benda keras pada pipi
kanan pasien# "enatalaksanaan a(al dilakukan stabilisasi keadaan umum pasien
27
yang meliputi air.ay dengan membuka dan membersihkan jalan na:as/
breathin$ dengan pemberian oksigen dan circulation dengan pera(atan
perdarahan disertai pemberian 5airan isotonik# "enatalaksanaan de:initi: dilakukan
operasi terbuka dan :iksasi interna dengan menggunakan plat mini and scre./
konsul bagian mata/ injeksi Ketorola5 ,B,* mg ;i'=/ injeksi De:triaBon )B+ gram
;i'=# "rognosis pada pasien ini se5ara 'itam dan :un5tionam bonam#
2A
DA-TA+ P,STAKA
+# $artini &#%#/ (el5h k# &undamentals o: anantomy and physiology# 9th ed#
0e(jersey: !pper addle Ri'er/ )**+: +,)/+9+"?
)# 4natomi &ungsional Eertebra/ a55essed on + Januari )*+./ a'ailable :rom
http://:isiosby#5om/anatomi3:ungsional3'ertebrae
,# $edlinuB/ spondilitis tuberkulosa/ a55essed on + Januari )*+./ a'ailable
:romhttp://medlinuB#blogspot#5om/)**6/*A/spondylitis3tuberkulosa#html
.# Rasjad D/ "engantar Ilmu Bedah Ortopedi/ Jakarta: hal +..3+.A
9# %idalgo Ja/ "ott Disease ;Tuber5ulous pondylitis=/ %er5hline T/ Tala'era
&/ Jhon J:/$lonakis >/ Dunha Ba/ 455essed On + January )*+./ a'ailable
:rom http://(((#emedi5ine#5om/med/in:e5medi5alWtopi5s#htm
2# 1im De Jong/ pondilitis Tb5/ Dalam Buku 4jar Ilmu Bedah/ JakartaF
hal# +))23+))A
6# Bohndor: K#/ Imho: %# Bone 4nd o:t Tissue In:lammation# In :
$us5uloskeletalimaging: 4 Don5ise $ultimodality 4pproa5h# 0e( york
:thieme/ )**+ : +9*/ ,,.3,2#
7# Lindsay/ K(/ Bone I/ Dallander R# pinal Dord 4nd Root Dompresion#
In : 0eurologyand 0eurosurgery Illustrated# )0D>D# >dinburgh :
Dhur5hill Li'ingstone/ +AA+ : ,77
A# a'ant D/ Rajamani K# Tropi5al Diseases O: The pinal Dord# In :
Drit5hley >/>isen 4#/>ditor# pinal Dord Disease : Basi5 5ien5e/
Diagnosis 4nd $anagement# London:pringer3Eerlag/ +AA6 : ,67376#
+*# idharta "/ pondilitis Tuber5ulosa/ In La@uardi / %ok Ts/ udibjo 4i/ 4t
4ll >ds/ 0eurologi Klinik Dalam "raktek !mum/Dian Rakyat/ Jakarta
+AAA:,.+
++# De(i Lk/ >di 4/ uarthana >/ pondilitis Tuberkulosa/ In $ansjoer 4/
uprohaita/1ardhani 1i/ etio(ulan 1/ >ds/ Kapita elekta Kedokteran
$edia 4es5ulapiusjakarta )*** : 97
+)# Lauerman 15/ Regan $# pine# In : $iller/ >ditor# Re'ie( O:
Orthopaedi5s# )0D >d#"hiladelphia : 1#B# aunders/ +AA2 : )6*3A+
+,# Durrier B#L/ >ismont &#J# In:e5tions O: The pine# In : The pine# ,RD
>d#Rothmansimeone >ditor# "hiladelphia : 1#B# auders/ +AA) : +,9,32.
+.# ?raham Jm/ Ko@ak J# pinal Tuber5ulosis# In : %o5hs5huler h/ Dotler %b/
?uyer Rd#>ditor# Rehabilitation O: The pine : 5ien5e 4nd "ra5ti5e# t#
Louis : $osby3Uear Book/ In5#/ +AA, : ,763A*#
15. Jose 4 %idalgo/ $D/ ?eorge 4langaden/ $D# "ott Disease ;Tuber5ulous
pondylitis= in: http://www.emedicine.medscape.com# !pdated: De5 )A/
)*+,#
6*
16. Dan5hai'ijitr/ 0# Diagnosti5 455ura5y o: $R Imaging in Tuber5ulous
pondylitis# NOnlineO# )**6 &eb +A N5ited )*+, Des )6OFN9 s5reensO#
4'ailable :rom: !RL:http://(((#medasso5thai#org/journal
+6# 4nonim# "agetXs disease o: bone# NOnlineO# )**9 O5t N5ited )*+, De5 )6OF
N. s5reensO# 4'ailable :rom: !RL:http:// (((#thamburaj#5om
18. pondilitis Tb# 455essed on )Ath Des )*+,# 4'ailable :rom:
http://dro:id(iantoro#blogspot#5om/)*++/*6/spondilitis3tbW*2#html
+A# Isi Re:erat pondilitis# 455ess on ,+st Des )*+,# 4'ailable :rom:
%ttp://(((#s5ribd#5om/do5/+*)2,AA+*/isi3re:erat3spondilitis
)*# 4l:arisi#Do5# "atogenesis / "ato:isiologi / tadium / Dan Derajat
Klasi:ikasi pondilitis Tuberkulosa#NOnlineO# )*++ 4pril ,* N5ited )*+,
De5 )AO FNA s5reensO# 4'ailable :rom:!RL:
Http://doc-alfarisi.blogspot.com/2011/0/patogenesis-patofisiologi-
stadi!m-dan.html
)+# %idalgo/ J4# "ott Disease# NOnlineO# )**9 4ug )9 N5ited )*+, De5 ,*OFN+6
s5reensO# 4'ailable :rom: !RL:http:(((#e$edi5ine#5om/med/topi5
))# 4nonim# "enyakit "aget "ada Tulang# NOnlineO# )**2 O5t N5ited )*+, De5
)7OFN) s5reensO# 4'ailable :rom: !RL: http://
(((#patient#5o#uk/sho(do5/.***+)67/
6+