Anda di halaman 1dari 14

MATA KULIAH TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN


SEDIAAN INFUS PARENTERAL



OLEH :

KELOMPOK 5

TIARA AYU PERMATA N 111 10 124
SITTI KHULIQAT AQNA N 111 11 013
RAYMOND IBRAHIM N 111 11 102



MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Parenteral berasal dari dua kata'' para'' dan '' enteron'' yang berarti untuk
menghindari usus. Parenteral didefinisikan menurut USP 24/NF19
'' sebagaimana sediaan injeksi diperuntukkan melalui kulit atau jaringan batas
eksternal lainnya, bukan melalui saluran pencernaan, sehingga zat aktif diberikan
menggunakan gravitasi atau memaksa secara langsung ke dalam pembuluh darah,
organ, jaringan, atau luka. Produk parenteral disusun cermat dengan metode yang
dirancang untuk memastikan bahwa mereka memenuhi persyaratan Pharmacopeial
untuk sterilitas, pirogen, ukuran partikulat, dan kontaminan lainnya, dan, bila sesuai,
mengandung inhibitor pertumbuhan mikroorganisme.” Telah diperkirakan bahwa
40% dari semua obat diberikan dalam rumah sakit diberikan dalam bentuk suntikan.
Peningkatan ini terjadi karena penggunaan yang lebih luas dari cairan intravena (IV
cairan). Tidak hanya melakukan IV cairan terus melayani sebagai sarana untuk
penggantian cairan dan elektrolit, dan gizi tambahan, juga sebagai pembawa untuk
administrasi zat obat lain dan nutrisi parenteral. Cairan intravena menemukan
penggunaan yang lebih besar sebagai sarana pemberian obat lain karena kenyamanan,
sarana mengurangi potensi iritasi pada obat-obatan, dan ketergantungan. Oleh karena
itu, patut dipahami apa saja yang perlu diketahui dari infus sediaan parenteral.

I.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari infus ?
2. Apa saja tujuan penggunaan infus
3. Apa saja syarat – syarat parenteral volume besar ?
4. Apa saja metode pemberian infus ?
5. Bagaimana mengatur kecepatan alir infus ?
6. Apa saja komposisi cairan elektrolit yang normal ?
7. Apa saja evaluasi sediaan parenteral ?

I.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari infus
2. Mengetahui tujuan dari infus
3. Mengetahui syarat – syarat parenteral volume besar
4. Mengetahui metode – metode pemberian infus
5. Mengetahui cara mengatur kecepatan alir infus
6. Mengetahui komposisi cairan elektrolit yang normal
7. Mengetahui evaluasi sediaan parenteral



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Infus
1. Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen
dan sedapat mungkin isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam
vena dalam volume relatif banyak. (1:12)
2. Larutan intravena volume besar mengacu pada injeksi untuk pemberian
intravena dan larutan ini dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih. (2: 163)
3. Injeksi ini besar ditujukan untuk digunakan dengan infus i.v biasanya disebut
cairan intravena dan digolongkan kedalam kelompok produk steril yang
disediakan sebagai parenteral volume besar. Terdiri dari injeksi volume
tunggal yang mempunyai volume 100 ml atau lebih dan dalam pewadahan
tidak ditambahkan bahan-bahan cairan intravena dikemas dalam wadah yang
mempunyai 100-1000 ml. (3:837)
4. Injeksi intravena adalah penggunaan dari suatu larutan dari suatu obat yang
dimasukkan langsung kedalam vena. Prosesnya diketahui sebagai infus
phelobodylisis. (4:193)
5. Parenteral vial besar diklasifikasikan sebagai volume besar dari cairan dalam
masing-masing wadah. Volume wadah dapat berkisar 50-2000 ml, ukurannya
biasa tersedia adalah 150, 250, 500 dan 1000 ml. (5:973)
Kesimpulan : Suatu sediaan steril berupa larutan atau emulsi bebas pirogen
sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah yang disuntikkan langsung
kedalam vena dalam volume relatif banyak yang dikemas dalam wadah kapasitas
100-1000 ml yang digunakan untuk memperbaiki gangguan elektrolit cairan
tubuh yang serius yang menyediakan nutrisi dasar dan digunakan sebagai
pembawa untuk bahan-bahan obat


B. Tujuan Penggunaan Infus
1. Injeksi parenteral volume besar sering digunakan dalam memperbaiki
gangguan keseimbangan elektrolit dan cairan tubuh yang serius dan
menyediakan nutrisi dasar. Pada tahun belakang ini, parenteral volume besar
digunakan sebagai pembawa untuk obat-obat lain dan metode dalam
penyiapan nutrisi parenteral. (6:201)
2. Larutan steril volume besar meliputi obat-obat yang digunakan untuk irigasi
atau untuk dialisis. (2 :163)
3. Cairan intravena umumnya digunakan untuk sejumlah kondisi klinik. Ini
meliputi:
a. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
b. Memperbaiki gangguan dalam cairan
c. Bahan untuk menyediakan nutrisi dasar
d. Bahan untuk praktek penyediaan nutrisi parenteral total
e. Digunakan sebagai pembawa untuk bahan obat lain (3: 838)
4. Tabel penggunaan larutan volume besar untuk intravena (2:166)
Injeksi Nama umum %
konsentrasi
pH Penggunaan terapi
Dekstrosa Glukosa 5D/W 2,5
5
10
20
50
3,5-6,5 Hidrasi, kalori
Hidrasi, kalori
Shok insulin, kalori
Shok insulin, kalori
Shok insulin, kalori
Na. klorida Normal saline
N.S.S
½ normal saline
0,9

0,45
3
6
4,5-7,0 Pengganti cairan
Ekstraseluler
Dehidrasi
Hiponatrium
Hiponatrium
Ringer’s
NaCl
KCl
CaCl
2

Ringer’s
0,86
0,03
0,033


5,0-7,5
Pengganti cairan &
elektrolit
Ringer’laktat
NaCl
KCl
CaCl
2

Na. Laktat
Natrium
Bikarbonat
Amonium
klorida
Hartmann’s
0,6
0,03
0,02
0,5
1,4
5
2,14


6,0-7,5




4,5-6,0


Pengganti cairan &
elektrolit

Asidosis metabolit
Asidosis metabolit
Asidosis metabolit
Hipokloremia
Na. laktat m/6 Na. laktat 6/4 molar 6,0-7,3 Asidosis metabolit
Fruktosa

Fruktosa &
elektrolit
Gula invert
Levalase


10

10

5
3,0-6,0



4
Kalori, pengganti
cairan


Kalori, pengganti
cairan
Protein
hidrolisis
Manitol
Juga dalam
kombinasi
Dgn dekstrosa
a/ NaCl
10

5
5

10
20
5,0-7,0




5,0-7,0
Mempertahankan
nutrisi



Diuresis osmotik
Alkohol
Dgn 5% D/W

Dgn 5% D/W
dalam N.S.S
5

5
4,5 Sedatif analgetik
kalori
Sedatif analgetik
kalori
C. Syarat-Syarat Parenteral Volume Besar
1. Kecuali dinyatakan lain, infus tidak diperboleh kan mengandung bakterisida
dan zat dapar, larutan untuk infus intravena harus jernih dan bebas partikel.
(1:12)
2. Cairan intavena adalah larutan steril dari bahan-bahan kimia sederhana seperti
gula, asam amino atau bahan-bahan elektrolit yang mudah di bawa dalam
sistem sirkulasi dan diasimilasikan. Dibuat dengan air untuk injeksi USP.
Larutan bebas pirogen, karena volume besar digunakan secara i.v ketidak
adanya bahan-bahan partikulat mengasumsikan peranan yang signifikan pada
kemungkinan biologis dihasilkan dari partikel-partikel yang tidak larut. Tidak
adanya bahan partikulat atau kejernihan cairan intravena sangat penting pada
waktu digunakan pada suatu waktu penggunaanya untuk manipulasikan pada
rumah sakit sebagai waktu pembuatan injeksi. (3:837)
3. Semua sediaan parenteral volume besar disyaratkan yaitu :
a. Steril
b. Bebas pirogen
c. Bebas dari bahan partikulat
d. Dikemas dalam wadah dosis tunggal. (6:201)
4. Larutan steril volume besar dikemas dalam wadah yang dirancang untuk
kosomg dengan cepat dan terdiri dari volume lebih dari 100 ml LUP dikemas
dalam unit dosis tunggal dalam wadah gelas dan plastik sebagai tambahan
harus steril, bebas pirogen dan bebas bahan partikulat. Karena digunakan
volume besar, bahan bakteriostatik tidak petnah ditambahkan untuk mencegah
toksisitas yang dapat dihasilkan dari jumlah bakteriostatik yang digunakan.
(2:163)
Penjelasan : Steril. Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik diantara
bentuk obat terbagi karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran
mukosa kebagian dalam tubuh. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan
pertama dari tubuh yang paling efisien yakni membran kulit dan mukosa. Sediaan
tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba, dan dari komponen toksis dan
harus mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi. (7:639). Bebas dari bahan
partikulat mengacu pada bahan-bahan yang tidak larut yang bergerak yang hadir
pada sediaan parenteral.
Tonisitas . Parenteral volume besar tidak disyaratkan isotonis, walaupun
kebanyakan demikian. Namun, lebih sering hipotonik atau hipertonik
membutuhkannya untuk efektivitas pengobatan. Range yang luas dari tekanan
osmotik berhubungan dengan volume yang digunakan. Sementara itu, untuk
mencapai efektivitas terapi, beberapa sediaan parenteral volume besar tidak
isotonik (seperti 0,45 % injeksi NaCl dan 10 % injeksi dekstrosa). (6:206)
D. Metode Pemberian Infus
1. 3 : 1574
Pengaturan berselang antibiotik dan obat lainnya dapat dicapai melalui tiga
metode yaitu injeksi intravena langsung (i.v bolus atau pasti), penambahan
obat untuk penambahan volume larutan sebelumnya dalam volume kontrol,
penggunaan wadah kedua (botol mini kotak mini) dengan menggantung
cairan i.v siap pakai.
a. Injeksi i.v langsung
Volume kecil (1-50 ml) dari obat disuntikkan kedalam vena dalam waktu
yang singkat (1-5 menit). Suntikan juga dapat diberikan melalui tempat
injeksi karet yang siap tergantung. Metode ini sesuai untuk jumlah obat
yang berbentuk tetapi terlalu berbahaya untuk kebanyakan obat.
b. Metode pengontrolan volume
Alat kontrol volume ditujukan untuk infus berselang larutan obat dan
jumlah tepat pada pengontrolan laju aliran alat atau metode ini meliputi
alat kalibrasi plastik, tempat penampungan langsung dibawah wadah, i.v
yang sebelumnya dipasang atau lebih sering dilekatkan pada penyediaan
cairan yang bebas. Pada kasus yang lain, obat yang diberikan pertama
disusun kembali bila obat merupakan padatan steril dan disuntikkan
kedalam tempat penyuntikan karet dari unit pengontrol volume kemudian
dilarutkan dalam 50-150 ml dengan caiaran pertama atau cairan yang
terpisah. Pemberian seluruh larutan yang mengandung obat 30-60 menit
dan menghasilkan konsentrasi puncak pada darah diikuti oleh penurunan
bila dosis di hentikan. Prosedur untuk pemberian infus berselang dengan
satu alat pengontrol volume sbb :
1) Menggunakan teknik aseptik, alat penusuk volume kontrol
dimasukkan kedalam cairan i.v utama atau pada wadah cairan yang
terpisah.
2) Udara dihilangkan dari pipa alat pengontrol volume dengan membuka
klem sampai cairan mengalir.
3) Klem dibuka diatas tempat kalibrasi dan chamber kalibrasi diisi
dengan 25-50 ml cairan dari wadah utama atau wadah cairan yang
terpisah.
4) Klem diatas chamber ditutup.
5) Obat disuntikkan melalui tempat karet untuk pengontrol volume.
6) Klem diatas chamber dibuka untuk mencukupkan larutan hingga
volume yang diinginkan (50-150 ml) lalu ditutup.
7) Aliran dimulai jika klem bawah unit volume kontrol dibuka.
c. Metode piggyback
Metode piggyback menunjukkan tetesan berselang i.v dari larutan kedua,
campuran obat melalui tempat penusukan vena dari sistem intravena yang
telah dibuat sebelumnya. Dengan cara ini obat akan masuk pada vena
mulai dari bagian atas cairan intravena yang pertama. Teknik piggyback
tidak hanya mengurangi keperluan untuk penusukan vena yang lain, tapi
juga menghasilkan pengenceran obat dan konsentrasi puncak dari darah
dalam waktu yang relatif singkat biasanya 30-60 menit. Pengenceran obat
membantu mengurangi iritasi serum yang tinggi sebelumnya merupakan
pertimbangan penting dalam infeksi serius yang memerlukan terapi obat
yang tepat. Keuntungan ini telah mempopulerkan metode piggyback dari
terapi i.v terutama untuk penggunan berselang antibiotik.
2. 2 : 194 – 196
a. Terapi berkelanjutan
Infus IV metode umum dari pemberian obat adalah untuk menambahkan
obat secara langsung pada wadah injeksi. Obat menjadi encer dalam cairan
infus dan diteteskan secara perlahan kedalam vena.
b. Terapi berselang
Dalam terapi berselang obat diberikan pada internal waktu. Tiga
kemungkinan pemberian terapi intermitten disarankan: (1) menggunakan
botol mini dengan alat pemberian yang telah tergantung, (2) injeksi dari
larutan secara perlahan dengan jarum dan spoit secara langsung kedalam
vena adalah tempat injeksi dari suatu alat pemberian volume besar yang
telah tergantung, atau (3) penambahan obat untuk suatu volume
pendeterminan dari cairan pada suatu alat volume kontrol.
E. Kecepatan Alir Infus
Dokter dapat menginginkan infus cepat atau lambat tergantung tujuan
penggunaannya. Dokter dapat menginginkan cairan atau mungkin lebih suka
pemberian elektrolit. Perhatian utamanya dapat pada pemberian obat atau tidak
perlu dengan cairan, kecepatan aliran biasanya atau secara normal dari larutan
isotonik viskositas rendah (5% D/W, garam NaCl, RL) adalah sekitar 125 ml/jam
atau 1 l/8 jam ini sekitar 2 ml/menit. Larutan hipertonik yang tinggi seperti
larutan hyperalimentasi diberikan rata-rata lebih dari 1 L/8 jam atau 3 liter setiap
24 jam. Hanya pada kasus khusus (kehilangan darah, shock atau pemberian
anestesi) dapat diberikan rata-rata 1L setiap 1 ½ jam. Jumlah ini sama dengan 11
ml/menit. Tujuan sering ditulis sebagai kwo dan dalam hal ini kecepatan
penggunaan harus lambat. Tujuannya adalah untuk menjaga cairan intravena
mengalir dalam antipasi tetapi lebih lanjut. Kecepatan alir i.v dibawah 10 ml/jam
mengurangi tekanan pada titik dimana darah akan meregulasi melalui jarum dan
tube dan penggumpalan darah dapat terjadi. Jika terlalu cepat, dapat terjadi shock.
(2:204)
F. Komposisi cairan elektrolit tubuh normal (mEq/L)
Intraseluler Plasma Intestinal
Na
+
142 146 146
K
+
9 5 150
Ca
2+
9 3 2
Mg
2+
2 1 27
Cl
-
103 144 1
HCO
3
-
27 30 10
HPO
4
2-
2 2 100
SO
4
2-
1 1 20
Asam-Asam Organik 5 8 -
Protein 10 0 63

G. Evaluasi Sediaan Parenteral
1. Fisika :
a. Uji Keseragaman Bobot
Keseragaman bobot : Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi
dilarutkan terlebih dahulu, harus memenuhi syarat keseragaman bobot
berikut : Hilangkan etiket 10 wadah, cuci bagian luar wadah dengan air,
keringkan. Timbang satu persatu, dalam keadaan terbuka. Keluarkan isi
wadah, cuci wadah dengan air kemudian dengan etanol (95%) P,
keringkan pada suhu 105
0
C hingga bobot tetap, dinginkan, timbang satu
persatu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang
tertera pada daftar berikut, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang
tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.


Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpanan (%)
Tidak lebih dari 120 mg +10
Antara 120 mg dan 300 mg + 7,5
300 mg atau lebih + 5
b. Keseragaman Volume
Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang
ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di
bawah ini.
Volume pada etiket
Volume tambahan yang dianjurkan
Cairan encer Cairan kental
0,5 ml 0,10 ml 0,12 ml
1,0 ml 0,10 ml 0,15 ml
2,0 ml 0,15 ml 0,25 ml
5,0 ml 0,30 ml 0,50 ml
10,0 ml 0,50 ml 0,70 ml
20,0 ml 0,60 ml 0,90 ml
30,0 ml 0,80 ml 1,20 ml
50,0 ml atau lebih 2% 3%
c. Kejernihan
Diputar 180°C secara berulang-ulang didepan latar gelap dan sisinya
diberi cahaya . bahan melayang akan berkilauan jika terkena cahaya.
2. Kimia :
Kadar zat aktif
Menggunakan metode volumetric, spektrofotometer, HPLC atau standar
farmakope.
3. Biologi :
Uji Kesterilan
Injeksi harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan
hayati. (1:18-19)


























DAFTAR PUSTAKA

1. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
2. Turco, S.,dkk., (1970), Sterile Dosage Forms, Lea and Febiger, Philadelphia.
3. Gennaro, A.R., (2005), Remington's Pharmaceutical Science, 21
th
Edition,
Marck Publishing Co, Easton.
4. Jenkins, G.L., (1969), Scoville's:The Art of Compounding, Burgess Publishing
Co, USA.
5. Martin Erick W. 1971.Dispending of Medication : Formerly Husa’s
Pharmaceutical dispending 7 th ed . Marck Publishing Company
Pennsylvania.
6. Swarlorick James.2007. “ Encyclopedia of Pharmaceutical Technology Third
Edition USA. Pharmaceutic in Pinehirst.
7. Lachman, Leon. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II Edisi Ke III.
Jakarta: UI