Anda di halaman 1dari 6

Blok Endokrinologi Skenario 2: Hipertiroid

TIROID, PARATIROID, dan PENYAKIT GRAVE


BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Seorang wanita cantik usia 28 tahun tinggal di daerah gondok endemis memiliki keluhan
benjolan di leher depan sejak 5 tahun yang lalu. Riwayat penyakit sekarang: dua tahun yang
lalu penderita berobat karena benjolan di leher depan makin membesar, badan panas dan
nyeri, oleh dokter dikatakan kemungkinan menderita thyroiditis. Sekitar 1 bulan ini penderita
merasakan banyak keringat, suka hawa dingin, sering berdebar-debar dan kedua tangan
gemetar bila memegang sesuatu. Tetangganya juga memiliki anak laki-laki usia 10 tahun
menderita cretinism pendidikannya masih di sekolah dasar kelas 2 oleh karena sering tidak
naik kelas dan kelihatan kecil. Ketika di poliklinik dilakukan pemeriksaan didapatkan nadi
wanita tersebut 110 kali/menit, matanya terlihat exopthalmus, hasil pemeriksaan fisik:
benjolan di leher konsistensi lunak, tidak nyeri dan mudah digerakkan. Pemeriksaan
laboratorium TSHs <>

Setelah berobat selama 1 tahun, penderita ingin penyakitnya di operasi karena benjolan di
leher dirasakan mengurangi kecantikannya. Di poliklinik bagian bedah penderita dilakukan
persiapan operasi, dikatakan setelah operasi nanti kemungkinan bisa terjadi hal-hal yang tidak
diharapkan seperti hypothyroid, hypoparathyroid atau hyperparathyroid, krisis thyroid.
Karena takut dioperasi akhirnya penderita memutuskan tidak jadi operasi.

2. RUMUSAN MASALAH

a) Bagaimana anatomi fisiologi dan fungsi hormon tiroid dan paratiroid?
b) Bagaimana kriteria diagnosis dan terapi pada hipotiroid dan hipertiroid?
c) Bagaimana kriteria diagnosis dan terapi pada hipoparatiroid dan hiperparatiroid?

3. TUJUAN

a) Mengetahui fisiologis hormon tiroid dan paratiroid.
b) Mengetahui fungsi hormon tiroid dan paratiroid.
c) Mengetahui kriteria diagnosis dan terapi pada hipotiroid dan hipertiroid.
d) Mengetahui kriteria diagnosis dan terapi pada hipoparatiroid dan hiperparatiroid.

4. MANFAAT

a) Mampu mengetahui gejala dan tanda penyakit yang berhubungan dengan sistem endokrin.
b) Mampu memahami kriteria diagnosis dan terapi penyakit endokrin.

5. HIPOTESIS

Berdasarkan kasus dalam skenario, diduga wanita tersebut menderita hipertiroidisme(Graves
disease).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. ANATOMI FISIOLOGI dan FUNGSI HORMON TIROID

Anatomi Fisiologi

Kelenjar tiroid terdiri atas banyak sekali folikel-folikel yang tertutup yang dipenuhi dengan
bahan sekretorik yang disebut koloid dan dibatasi oleh sel-sel epitel kuboid yang
mengeluarkan hormonnya ke bagian folikel itu. Unsur utama dari koloid adalah glikoprotein
tiroglobulin besar, yang mengandung hormon tiroid di dalam molekul-molekulnya. Begitu
hormon yang disekresikan sudah masuk ke dalam folikel, hormon itu harus diabsorpsi
kembali melalui epitel folikel ke dalam darah, sebelum dapat berfungsi dalam tubuh. Setiap
menitnya jumlah aliran darah di dalam kelenjar tiroid kira-kira lima kali lebih besar daripada
berat kelenjar itu sendiri, yang merupakan suplai darah yang sama besarnya dengan bagian
lain dalam tubuh, kecuali korteks adrenal(Guyton dan Hall,2007).

Fungsi

Hormon tiroid meningkatkan transkripsi sejumlah besar gen, meningkatkan aktivitas
metabolik selular, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan
janin dan beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir (Guyton dan Hall, 2007). Hormon
tiroid mempunyai efek-efek terhadap tubuh yaitu:
Efek kalorigenik (peningkatan termogenesis), meningkatkan pemakaian oksigen oleh sel
sehingga BMR meningkat 60-100%.
Efek simpatomimetik, hormon tiroid meningkatkan ketanggapan sel sasaran terhadap
katekolamin.
Efek pada kardiovaskuler, meningkatkan kecepatan denyut dan kontraksi jantung
sehingga curah jantung meningkat dan vasodilatasi.
Efek terhadap sistem saraf, meningkatkan kecepatan serebrasi, sehingga saraf lebih peka
terhadap rangsang.
(Sherwood, 2001)

2. ANATOMI FISIOLOGI dan FUNGSI HORMON PARATIROID
Anatomi Fisiologi

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia; yang terletak tepat di
belakang kelenjar tiroid. Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama mengandung sel utama
dan sel oksifil dalam jumlah sedikit sampai cukup banyak. Sebagian besar PTH diyakini
disekresikan oleh sel utama. Fungsi sel oksifil masih belum jelas (Guyton dan Hall,2007).

Fungsi

Hormon paratiroid menyediakan mekanisme yang kuat untuk mengatur konsentrasi kalsium
dan fosfat ekstrasel lewat pengaturan reabsorpsi usus, eksresi ginjal, dan pertukaran ion-ion
tersebut antara cairan ekstrasel dan tulang. Aktivitas kelenjar paratiroid yang berlebihan dapat
menyebabkan timbulnya absorpsi garam-garam kalsium yang cepat dari tulang, dengan
akibat timbulnya hiperkalsemia dalam cairan ekstrasel; sebaliknya, keadaan hipofungsi
kelenjar paratiroid menimbulkan hipokalsemia, yang sering menimbulkan tetani (Guyton dan
Hall,2007).

3. KRITERIA DIAGNOSIS dan TERAPI
Hipotiroid

Karakteristik fisiologis yaitu rasa capai dan rasa mengantuk yang sangat sehingga pasien
tidur selama 12 sampai 14 jam dalam sehari, kelemahan otot yang ekstrem, kecepatan denyut
jantung menjadi lambat, menurunnya curah jantung, berkurangnya volum darah, kadangkala
berat badan naik, konstipasi, kelambatan mental, gagalnya sebagian besar fungsi tropik yang
ditandai dengan kurangnya pertumbuhan rambut dan kulit bersisik, suara parau seperti suara
katak, dan pada kasus yang parah seluruh tubuh bengkak, yang disebut sebagai miksedema
(Guyton dan Hall, 2007).

Untuk menegakkan diagnosis bisa digunakan indeks Billewics, analog dengan indeks
Wayne dan New Castle pada hipertiroidisme untuk membedakan antara eutiroidisme dan
hipotiroidisme. Interpretasi skor: bukan hipotiroidisme kalau skor <= -30, diagnostik apabila
skor >25 dan meragukan apabila skor antara -29 dan+24 dan dibutuhkan pemeriksaan
konfirmasi (Djokomoeljanto,2006).

Pengobatan hipotiroidisme antara lain dengan pemberian tiroksin, biasanya dimulai dalam
dosis rendah (50 g/hari), khususnya pada pasien yang lebih tua atau pada pasien dengan
miksedema berat, dan setelah beberapa hari atau minggu sedikit demi sedikit ditingkatkan
sampai akhirnya mencapai dosis pemeliharaan maksimal 150 g/hari. Pada dewasa muda,
dosis pemeliharaan maksimal dapat dimulai secepatnya. Pengukuran kadar TSH pada pasien
hipotiroidisme primer dapat digunakan untuk menentukan manfaat terapi pengganti. Kadar
ini harus dipertahankan dalam kisaran normal. Pengobatan yang adekuat pada pasien dengan
hipotiroidisme sekunder sebaiknya ditentukan dengan mengikuti kadar tiroksin bebas
(Guyton dan Hall.2007).

Hipertiroid

Penyebab tersering hipertiroidisme adalah penyakit Grave, suatu penyakit autoimun, yakni
tubuh secara serampangan membentuk thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI), suatu
antibodi yang sasarannya adalah reseptor TSH di sel tiroid. Immunoglobulin perangsang
tiroid (TSI) merangsang sekresi dan pertumbuhan tiroid dengan cara serupa yang dilakukan
TSH. Namun, TSI tidak dipengaruhi inhibisi umpan balik negatif oleh hormon tiroid,
sehingga sekresi dan pertumbuhan tiroid terus berlangsung ( Sherwood, 2001).

Gejala hipertiroidisme yaitu sangat mudah terangsang, intoleransi terhadap panas,
berkeringat banyak, berat badan berkurang sedikit atau banyak, berbagai derajat keparahan
diare, kelemahan otot, kecemasan atau kelainan psikis lainnya, rasa capai yang sangat, namun
pasien tidak dapat tidur, dan tremor pada tangan serta eksoftalmos (Guyton dan Hall, 2007).

Untuk mendiagnosis hipertiroidisme, menggunakan indeks Wayne dan New Castle yang
didasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik teliti. Kemudian diteruskan dengan pemeriksaan
penunjang untuk konfirmasi diagnosis anatomis, status tiroid dan etiologi. Untuk fungsi tiroid
diperiksa kadar hormon beredar TT4, TT3 (dalam keadaan tertentu sebaiknya fT3 dan fT4)
dan TSH, ekskresi yodium urin, kadar tiroglobulin, uji tangkap I(RAI), sintigrafi dan kadang
dibutuhkan FNA, antibodi tiroid (Djokomoeljanto, 2006). Kadar T3 dan T4 serum diukur
dengan radioligand assay. Kadar normal T4 adalah 4-11 g/dl, untuk T3 80-160 ng/dl. Kadar
TSH plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik, normalnya 0,02-5,0 U/ml (Price
dan Wilson, 2006).

Penatalaksanaan Hipertiroidisme, yaitu: 1. pengobatan jangka panjang dengan obat-obat
antitiroid seperti propiltiourasil atau metimazol, yang diberikan paling sedikit selama 1 tahun.
Obat-obatan ini menyekat sintesis dan pelepasan tiroksin. 2. Penyekat beta seperti propanolol
diberikan bersamaan dengan obat-obat antitiroid. 3. Pembedahan tiroidektomi subtotal
sesudah terapi propiltiourasil prabedah. 4. Pengobatan dengan yodium radioaktif(RAI) (Price
dan Wilson, 2006).

Hipoparatiroid

Penyebab tersering hipoparatiroidisme adalah pengangkatan secara tidak sengaja kelenjar
paratiroid sewaktu pengangkatan kelenjar tiroid secara bedah. Hipoparatiroidisme
menyebabkan hipokalsemia dan hiperfosfatemia. Gejala-gejala terutama disebabkan oleh
peningkatan eksitabilitas saraf otot turunnya kadar kalsium dalam plasma. Pada defisiensi
relatif HPT gejala- gejala yang nyata adalah peningkatan eksitabilitas neuromuskulus. Kejang
dan kedutan otot disebabkan oleh aktivitas spontan saraf- saraf motorik (Sherwood, 2001).
Pengobatan hipoparatiroidisme dengan menggunakan PTH dan vitamin D ( Guyton dan Hall,
2007).

Hiperparatiroid

Ditandai oleh hiperkalsemia dan hipofosfatemia, konsekuensi-konsekuensi yang dapat terjadi
adalah hiperkalsemia menurunkan eksitabilitas jaringan otot dan saraf, sehingga terjadi
kelemahan otot dan gangguan saraf, mobilisasi berlebihan Ca++ dan PO4_ dari simpanan di
tulang menyebabkan tulang-tulang menipis, yang dapat menimbulkan deformitas tulang dan
peningkatan insiden fraktur, dan terjadi peningkatan insidens pembentukan batu ginjal yang
mengandung Ca++ karena peningkatan jumlah Ca++ yang difiltrasi melalui ginjal
(Sherwood, 2001).

BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus, dua tahun yang lalu penderita didiagnosis menderita thyroiditis karena benjolan
di leher depan makin membesar, badan panas, dan nyeri. Namun, sekitar 1 bulan ini penderita
merasakan banyak keringat, suka hawa dingin, sering berdebar-debar, kedua tangan gemetar
bila memegang sesuatu, gejala ini disebabkan oleh hipertiroidisme, yaitu karena kelebihan
sekresi hormon tiroid menyebabkan metabolisme basal tubuh meningkat sehingga wanita
tersebut banyak berkeringat. Hormon tiroid juga mempunyai efek kalorigenik (peningkatan
termogenesis), meningkatkan pemakaian oksigen oleh sel sehingga BMR meningkat 60-
100% oleh karena itu wanita tersebut suka hawa dingin. Sering berdebar- debar disebabkan
oleh efek hormon tiroid terhadap kardiovaskuler yaitu meningkatkan denyut jantung, selain
itu gemetar pada tangan berhubungan dengan efek hormon tiroid terhadap sistem saraf, yaitu
meningkatkan serebrasi, sehingga saraf lebih peka terhadap rangsang maka terjadi tremor.

Berdasarkan pemeriksaan matanya terlihat eksopthalmus ini merupakan gambaran penyakit
Grave yang jelas mencolok dan tidak ditemukan pada jenis hipertiroidisme lain. Tanpa alasan
yang jelas, di belakang mata tertimbun karbohidrat kompleks yang menahan air. Retensi
cairan di belakang mata mendorong bola mata ke depan, sehingga mata menonjol keluar dari
tulang orbita. Hasil pemeriksaan fisik: benjolan di leher konsistensi lunak, tidak nyeri dan
mudah digerakkan ini merupakan struma yang terdapat pada graves disease.
Seperti dijelaskan di bawah ini.
Disfungsi tiroid dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
1. Hipotiroidisme
Penyebab dan konsentrasi plasma hormon:
- Kegagalan primer kelenjar tiroid: T3 dan T4, TSH (terdapat struma)
- Sekunder akibat kegagalan hipotalamus/ adenohipofisis: T3 dan T4,TRH dan TSH
(tidak terdapat struma)
- Kekurangan yodium dalam makanan: T3 dan T4, TSH (terdapat struma)
2. Hipertiroidisme
Penyebab dan konsentrasi plasma hormon :
- Adanya immunoglobulin perangsang tiroid(TSI)(penyakit grave): T3 dan T4, TSH
(terdapat struma)
- Kelebihan sekresi hipotalamus/ adenohipofisis: T3 dan T4, TRH dan atau TSH
(terdapat struma)
- Hipersekresi tumor tiroid: T3 dan T4, TSH (tidak terdapat struma)

Berdasarkan tabel di atas, pemeriksaan laboratorium pada Graves disease TSHs<>
Pengobatan untuk Graves disease adalah pengobatan jangka panjang dengan obat antitiroid
seperti propiltiourasil/ metimazol, penyekat beta seperti propanolol(menghambat perubahan
tiroksin perifer menjadi T3), pembedahan tiroidektomi subtotal sesudah terapi propiltiourasil
prabedah dan pengobatan dengan yodium radioaktif. Namun, apabila dilakukan pembedahan
bisa terjadi hal-hal yang tidak diharapkan seperti hipotiroid, hipoparatiroid atau
hiperparatiroid, krisis tiroid sehingga pembedahan (tiroidektomi) dilakukan apabila ada
indikasi operasi yaitu: pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap
obat antitiroid, pada wanita hamil(trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis
besar, alergi terhadap obat antitiroid, adenoma toksik atau struma multinodular toksik, pada
penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul( Mansjoer,2000).

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
1) Ibu tersebut menderita penyakit Graves(hipertiroidisme), yaitu penyakit autoimun, tubuh
secara serampangan membentuk thyroid-stimulating immunoglobulin(TSI), suatu antibodi
yang sasarannya adalah reseptor TSH di sel tiroid.
2) Pengobatan untuk penyakit ini menggunakan obat antitiroid seperti propiltiourasil,
penyekat beta(propanolol), tiroidektomi, dan yodium radioaktif.

Saran
Sebaiknya pasien mematuhi pengobatan yang telah diberikan oleh dokter agar tidak
memperparah penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA

Djokomoeljanto, R. 2006. Insulin: Mekanisme Sekresi dan Aspek Metabolisme. In: Aru WS,
Bambang S.,dkk.(eds). Buku Ajar IPD Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, pp: 1857-1859.

Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.

Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Price dan Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 (Vol 2).
Jakarta: EGC.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.