Anda di halaman 1dari 80

Hum 7

Buku Ke 41 dari Maha Guru Lien Shen Lu Sheng Yen


Dunia Mata Ketiga
Tidak Untuk Dijual Tidak Untuk Dipasarkan Di Toko Buku
Prakata
Buku "Hum" seri ke7 berisi penterjemahan buku Maha Guru Lien Shen
yang ke 41 yang berjudul "Dunia Mata Ketiga". Istilah "Mata Ketiga" rasanya
sudah cukup populer dan sering digunakan sebagai alias dari mata batin,
mata gaib, mata dewa, ataupun mata langit.
Buku ke 41 terbit pada bulan Januari 1983. Sedangkan, Maha Guru
pindah dari Taiwan ke Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 1982 yang
berarti buku ini ditulis pada periode beberapa bulan pertama sejak pindah.
Dari analisa periode waktu ini, kita dapat memahami mengapa dalam
tulisan tulisan beliau dalam buku ini, masih terkesan ada suasana kerinduan
akan kampung halaman nya, masih terkesan beliau masih teringat akan
segala fitnah, kecaman, dan segala kesulitan yang beliau alami selama
membabarkan Dharma di Taiwan.
Pada periode waktu tersebut, aliran yang didirikan oleh Maha Guru
Lien Shen masih bernama "Ling Sien Cung" yang secara harafiah berarti
"Aliran Roh Sejati".Istilah "Roh Sejati" berkonotasi Taoisme dan pelatihan diri
berdasarkan metode membangunkan roh (chi-ling), seperti diuraikan dalam
buku "Padmakumara 7".
Setelah tahun 1983, barulah bermunculan lebih banyak buku buku
Maha Guru Lien Shen yang bertopikkan Tantrayana. Nama aliran kemudian
berubah menjadi Ling Sien Cen Fo Cung yang menunjukkan perpaduan
antara Taoisme, Sutrayana dan Tantrayana.Belakangan baru berubah
menjadi Cen Fo Cung.
Buku ke 41 merupakan buku ke 2 yang diterbitkan semenjak beliau
pindah ke Amerika. Buku ke 1 yang ditulis beliau dari Amerika berarti adalah
buku nomor 40 yang berjudul "Ilmu Ilmu Rahasia Taoisme Untuk
Berkomunikasi Dengan Dunia Roh" dimana beberapa artikel nya sudah
ditampilkan dalam buku "Padmakumara 4".
Lima artikel yang berjudul "Pesan Ilahi di Gunung Rainier", "Sebuah
Telegram Dari Langit", "Semua Lampu Menyala", "Dorongan Dari Belakang",
dan "Kisah Nyata Penglihatan Batin" sudah pernah ditampilkan dalam buku
"Padmakumara" seri ke 4. 1 artikel berjudul "Paustika 4 Penjuru" sudah
pernah ditampilkan di buku "Padmakumara" seri ke 16. 6 artikel ini hanya
sekedar dicetak ulang disini. Para pembaca yang sudah membaca artikel
artikel ini di "Padmakumara 4" dan "Padmakumara 16" bisa melewatinya.
Seperti biasa, dalam menterjemahkan, kami menganut prinsip
"penterjemahan bebas". Buku buku seri "Padmakumara" dan "Hum" bersifat
jembatan sementara dan kelak boleh dibakar bila sudah ada perhatian,
minat, dan upaya nyata yang serius dari kalangan formal untuk menyadari
makna kata "Maha Guru menulis setiap hari tak putus-putusnya" dan
"Menulis, bagi beliau, adalah membabarkan Dharma".
Yang kami kuatirkan adalah bahwa buku buku seri "Padmakumara"
dan "Hum" akan bersifat langgeng, terus menjadi pegangan utama siswa
siswa di Indonesia selama puluhan tahun ke depan. Mungkin ini adalah
nasib bangsa Indonesia dan nasib Tantrayana Satyabudhagama di
Indonesia.
Dalam buku ini, adakalanya tulisan Maha Guru yang panjangnya bisa
2 atau 3 halaman diringkas sehingga tinggal beberapa kalimat saja, asal
mencukupi untuk mengutarakan inti sari yang ingin dibicarakan.
Meskipun ini bukan merupakan penterjemahan yang baik, intisari
cerita tidak berubah. Jadi, para pembaca awam boleh merasa sudah
membaca buku ini secara garis besar bila sudah membaca ringkasan cerita
yang ditampilkan dalam tulisan ini.
Di salah satu artikel paling akhir di buku ini, seorang siswa
mengutarakan bahwa buku sang Maha Guru dibacanya sampai 10 kali
sebagai tanda ia demikian menghargai Dharma dari sang Guru, sebagai
tanda ia sungguh ingin belajar.
Betapa sedikit jumlah siswa yang bisa benar benar menghargai makna
dari prinsip utama Tantrayana "Menghormati Guru, Menghargai Dharma
Nya, dan Berlatih Tekun".
Pesan Ilahi di Gunung Rainier
Saya tiba di sebuah lembah yang dalam di gunung Rainier.
Pemandangan yang tadinya kehijau-hijauan disana sekarang telah
dibungkus dengan salju sepenuhnya. Angin gunung sangat sejuk
menyegarkan, dan udaranya segar bersih. Salju salju penuh bergantungan
di pohon pohon. Di kejauhan, puncak puncak gunung telah berubah putih
bagaikan raksasa raksasa kristal.
Dipadukan dengan kabut tebal yang melingkar-lingkar,
pemandangannya bagaikan dunia fantasi. Didepan kaki saya, air mengalir
dengan banyak lempengan salju diatas aliran sungai itu. Memandang salju
dan mendengarkan suara arus air, berbagai perasaan muncul di hati.
Saya telah meninggalkan rombongan saya dan berjalan seorang diri
tanpa bimbang jauh kedalam lembah karena suatu suara di hati telah
berkata, "Pergilah seorang diri jauh kepedalaman gunung itu." Salju salju
sangat halus sehingga setiap langkah saya menimbulkan jejak kaki yang
dalam.
Setelah beberapa saat, saya berhenti dan melihat kebelakang tanpa
dapat melihat lagi rute asal saya. Bersama dengan salju yang bersinar
cemerlang, suara arus sungai yang berderu deru, dan pohon pohon yang
diselimuti salju, hanya ada diri saya sendiri yang terlihat.
Saya merasa seperti telah berubah menjadi satu titik dalam alam
semesta. Saya menengadahkan kepala melihat angkasa yang berwarna
putih keabu-abuan. Saya memandang ke tanah yang bagaikan kertas putih
bersih. Tiba tiba saya merasa kesepian. Saya telah meninggalkan
segalanya, termasuk orang tua saya, teman saya, dan para siswa saya di
Taiwan.
Dapatkah mereka bayangkan bahwa orang yang telah mengalami
berbagai kesulitan hidup, menulis 40 buku, menimbulkan kegemparan di
empat lautan, sekarang berjalan seorang diri di kedalaman lembah yang
diselimuti salju di gunung Rainier? Penjelasan apakah yang saya sedang
cari? Ini sulit dijelaskan dengan kata kata. Lagipula, siapakah yang dapat
menjenguk isi hati dan pikiran saya?
Di saat seperti ini, suatu perasaan yang luar biasa muncul dihatiku.
Saya merasakan tubuh saya bagaikan disetrum oleh listrik. Energi gaib yang
luar biasa ini membuat saya hampir terengah engah menarik napas. Saya
melihat angkasa yang putih keabu-abuan terbuka dan muncullah sebuah
pintu gerbang yang memisahkan bagian kiri dan bagian kanan.
Tiba tiba, langit memancarkan suatu lingkaran sinar keemasan yang
menyorot diri saya. Sinar ini seperti api yang membakar tapi tidak terlalu
panas.
Sinar ini sepertinya berdansa di udara namun tidak
terkonsentrasikan pada diri saya. Sinar ini mengelilingi tubuh saya bagaikan
asap rokok. Saya merasakan batin saya menjadi terang menyala dan
hangat.
Rasanya bagaikan kesadaran saya telah menyatu dengan
kesadaran langit, dan sinar ilahi dari surga dan hati saya telah menyatu
dengan intim membentuk suatu makhluk baru.
Pada saat itu, saya merasakan jalan jalan langit yang halus dan
aspirasi diri saya yang melimpah akhirnya tercapai! Hati saya yang sepi
diubah menjadi sebuah hati yang penuh dengan roh kudus. Air mata
membasahi mata saya.
Di angkasa, muncul tiga pembawa kabar. Ketiga makhluk itu berdiri
berbaris dan tubuh mereka memancarkan sinar keemasan yang luar biasa.
Setiap dari mereka mempunyai mahkota emas dikepalanya dan
tubuh emas mereka memancarkan kewibawaan yang anggun. Sinar emas
yang menyoroti diri saya adalah sinar emas yang dipancarkan dari tubuh
ketiga malaikat tersebut.
Malaikat yang ditengah berkata, "Sampaikanlah kepada orang orang
tentang kebenaran, sehingga mereka dapat kembali kesini." Setelah kata
kata ini, ketiga malaikat itu perlahan lahan menghilang.
Sinar emas yang menyoroti tubuh saya juga perlahan lahan
menghilang. Kedua pintu dari pintu gerbang langit tertutup kembali dan
kemudian ditutupi oleh lempengan lempengan salju yang melingkar lingkar.
Angkasa kembali menjadi kelabu dan segalanya kembali seperti semula.
Kedua kaki saya terpendam dalam di salju. Diatas kepala dan
pundak saya, terdapat berbagai mutiara kristal dari berbagai ukuran. Saya
bergerak sedikit sehingga kristal kristal seperti mutiara itu jatuh semua ke
tanah. Ini seperti sebuah mimpi, tapi bukan mimpi.
Saya telah melihat dengan kedua mata saya sendiri terbukanya
pintu gerbang langit. Ketiga malaikat telah muncul dari pintu langit itu dan
berkata, "Sampaikanlah kepada orang orang tentang kebenaran sehingga
mereka dapat kembali kesini."
Apakah ini merupakan halusinasi? "Pintu gerbang langit terbuka dan
memancarkan sinar emas. Suara yang merdu mengalir di hati saya."
Ini bukanlah halusinasi. Ini adalah meterai konfirmasi. Aliran Ling-Xian yang
saya perkenalkan akan tersebar bukan hanya di Taiwan tapi di luar negeri.
Trompet akan berbunyi lebih keras dan lebih jelas.
Ketika ajaran rohani mulai mengalir dengan anggunnya di seberang lautan,
semua orang di dunia akan menyeberang dan diselamatkan. Saya akan
bekerja dengan rajin dan tekun untuk mencapai tujuan ini.
Para Budha dan Bodhisattva di dunia roh telah menaruh harapan besar
pada diri saya dan telah membuka pintu gerbang langit untuk secara
langsung mempercayakan saya dengan tanggung jawab ini. Bagaimana
mungkin saya bersikap dingin dan terus bermimpi?
Tiba tiba, saya merasakan tanggung jawab besar yang harus saya
emban. Di saat itu, saya tahu bahwa saya harus terus menulis untuk
membuka segala rahasia yang diinginkan untuk dibuka oleh para malaikat
itu.
Karena itu, saya terus menulis tentang dunia roh dan menggunakan mata
batin saya untuk melihat dunia roh. Ini akan menjadi buku ke 41 saya,
langkah ke 41 saya. Saya akan terus menulis sehingga buku buku saya
akan berlimpah secara jumlah.
Saya dapat merasakan aliran Ling Xian menjelma menjadi ombak ombak
raksasa di lautan yang tak terbatas. (Catatan Penterjemah: Nama 'Ling Xian
Cung' adalah nama awal dari Cen Fo Cung. Nama aliran ini diubah karena
terjadi pembajakan nama ini oleh sebuah grup di Taiwan) Saya dapat
merasakan bahwa ini akan diikuti dengan generasi kedua, generasi ketiga,
dan akan menjadi jalan kebenaran yang luas tak terhingga.
Di lantai ketiga dari tempat kediaman saya di Seattle (Amerika
Serikat), saya dapat membuka jendela kamar dan melihat gunung Rainier
dari kejauhan.
Gunung itu menjulang tinggi dengan megah dan anggunnya dan
tetap diselimuti salju sepanjang tahun. Kadang kadang, ia diselimuti oleh
lapisan kabut yang tebal. Bila saya melihat gunung itu, saya teringat saat
saat luar biasa tersebut.
Gunung, air, salju, pohon pohon, arus air yang menderu, dan udara
bersih, semuanya menjadi bukti bagi saya. Semuanya adalah nyata.
Kebenaran ini kekal adanya. Alam alam yang lebih tinggi telah mulai
memanggil. Saya adalah seorang nabi yang telah sadar. Saya juga seorang
tak berarti yang menghormat dan mengabdi. (ditulis di Loteng Ling Xian,
Seattle, Januari 1983)
Sebuah Telegram dari Langit
Bila saya sedang tak berdaya, saya berdoa dengan setulus hati
kepada para Budha dan makhluk suci. Roh Roh dari langit ini selalu
menjawab doa doa saya dan menolong saya. Saya merasakan bahwa Dunia
Sinar selalu menerangi Bumi yang retak ini.
Perjalanan saya ke Australia diiringi oleh Mr. Lin Yung Mao. Kami
mengunjungi kota Sydney dan Melbourne. Saya menyukai gaya hidup yang
tenang dari bangsa Australia yang karena letak geografis negara mereka
terpisah jauh dari dunia lain membuat mereka sangat kalem.
Namun, dalam perjalanan pulang keluar Australia, saya menghadapi
masalah sulit yang belum pernah saya alami. Masalah ini muncul akibat
kecerobohan dari travel agen kami. Penduduk Taiwan yang ingin
mengunjungi Australia harus mendapatkan visa Hongkong. (Catatan: Pada
saat itu, tidak ada penerbangan langsung dari Taiwan ke Australia sehingga
orang harus ke Hongkong dulu untuk pergi ke Australia).
Dalam perjalanan kami ke Sydney, kami harus melakukan transfer
pesawat di Hongkong dan karena kami cuma menunggu di daerah transit di
airport, tidak ada masalah yang timbul. Tetapi, dalam perjalanan balik, flight
connection membuat kami terpaksa bermalam di Hongkong.
Orang tidak diijinkan untuk tidur di daerah transit. Karena itu orang
harus mempunyai visa Hongkong untuk keluar dari airport. Masalah yang
harus segera ditangani adalah bahwa airport Australia tidak mengijinkan
penumpang tanpa visa Hongkong untuk naik ke pesawat.
Tiket pesawat kami adalah dari Cathay Pacific Airlines. Baik airline
maupun travel agen telah bertindak ceroboh. Meskipun saya menyenangi
perjalanan saya didalam Australia, mengalami situasi seperti ini tidaklah
menyenangkan. Di negara asing yang tak memiliki hubungan diplomatik
dengan Taiwan, kepada siapa kami harus menjelaskan masalah kami dan
mengajukan permohonan?
Kami melakukan hubungan dengan pihak airline. Manager dari
Cathay Pacific Airlines yang bertugas di Melbourne memberitahu kami,
"Kami ingin membantu tapi kami tidak dapat karena ini adalah urusan
hukum." Dengan kata lain, bagaimana orang dapat terbang ke Hongkong
tanpa visa yang dikeluarkan Hongkong?
Kami berusaha menjelaskan permasalahan sebenarnya. Karena
pihak airline telah berbuat kesalahan menjual tiket kepada kami tanpa visa
Hongkong, mereka juga bersalah dalam menciptakan situasi ini.
Sebenarnya, orang Taiwan harus mempunyai baik visa Australia maupun
visa Hongkong sebelum ia dapat pergi dari Taiwan menuju Australia.
Setelah berkonfrontasi, sang manager akhirnya memberitahu kami
bahwa ia akan mengirim telegram ke Cathay Pacific Airlines di Hongkong
dan bahwa kami harus pergi ke airport pagi pagi sekali untuk mendapat
jawaban dari Hongkong.
Mr. Lin Yung Mau menoleh kepada saya dan berkata, "Yang berhak
memberi ijin untuk naik ke pesawat adalah pihak imigrasi. Bagaimana pihak
airlines dapat menolong kita dalam hal ini? Saya rasa situasi kita ini tak
tertolong lagi." Malam itu, Mr. Lin Yung Mao sangat kuatir sehingga tak
dapat tidur.
Kedua matanya merah dan ia hampir saja menangis. Saya tetap
tenang dan sebelum tidur, saya berdoa kepada makhluk suci dengan sekuat
tenaga saya. Didalam hati, saya meminta dengan tulus dan berulang kali
untuk suatu mujizat.
Tiba tiba, roh Bodhisattva turun dan ia mengangkat tangannya untuk
menulis di udara empat huruf Mandarin yang bersinar keemasan. Tulisan itu
berarti "Transit tanpa rintangan."
Saya mengcopi ke4 kata itu di sepotong kertas putih dan
menaruhnya didalam saku. Lalu saya tidur dengan tenang tanpa
memberitahukan hal ini kepada Mr. Lin Yung Mao.
Pada pagi dini di Melbourne International Airport, ternyata, kami
memang menerima sebuah telegram yang berbunyi, "Ini untuk memberi ijin
kepada Mr. Lu Sheng-yen dan Mr. Lin Yung Mao untuk naik ke pesawat
menuju Hongkong. Visa dari kedua penumpang ini dijamin oleh Cathay
Pacific Airlines."
Kami sangat senang menerima telegram ini, meskipun Mr. Lin Yung
Mao terus berkata, "Sungguh mustahil. Sungguh mustahil..." Jadi, dengan
telegram ditangan, kami melewati pihak imigrasi dan memasuki daerah
boarding.
Tidak lama kemudian, kami naik keatas pesawat dan menunggu
keberangkatan pesawat menuju Hongkong. Bukankah semua berjalan
lancar? Tetapi ternyata urusan belum selesai sepenuhnya.
Sewaktu pesawat sudah hampir berangkat, seorang petugas imigrasi
bergegas naik ke pesawat dan menghentikan keberangkatan pesawat.
Sambil memegang sebuah telegram ditangannya, ia memanggil nama saya.
Telegram ini berisi pesan, "Jangan ijinkan Mr. Lu Sheng-yen naik
pesawat ke Hongkong karena ia tidak mempunyai visa Hongkong. Saya
terperanjat untuk mendapatkan bahwa telegram itu juga dikirim dan ditanda
tangani oleh pihak Cathay Pacific Airlines.
Petugas imigrasi menginginkan kami untuk turun dari pesawat
karena pesawat itu harus segera berangkat. Saya mengajukan beberapa
permohonan kepada petugas imigrasi itu: pertama, mereka harus memberi
saya visa Australia karena visa Australia saya telah dicabut ketika saya
melewati counter imigrasi.
Kedua, karena koper saya berada didalam pesawat, saya meminta
koper saya dikembalikan segera. Ketiga, saya meminta mereka
mengongkosi biaya tinggal dan makan untuk tinggal di Australia sampai visa
Hongkong kami dapat dikeluarkan karena saya telah menghabiskan semua
uang saya.
Petugas imigrasi itu kebingungan karena ia tidak dapat memenuhi
ketiga permintaan ini. Saya juga mengeluarkan telegram pertama dan
menunjukkannya kepada petugas imigrasi itu. Setelah membacanya, ia
merasa tercengang.
Tapi, ia berkeras akan peraturan dan meminta saya untuk turun dari
pesawat. Selama 20 menit, kami berada dalam situasi yang tak terpecahkan,
dengan semua penumpang pesawat memandang kami. Akhirnya, pilot
pesawat keluar dari kokpit dan menjadi juruselamat saya.
Dengan tersenyum, ia mendengarkan permasalahannya dan
membaca kedua telegram. Ia kemudian memberitahu petugas imigrasi itu
bahwa ia akan menaruh tanda tangannya diatas sepotong kertas untuk
menjamin saya. Setelah itu, sang pilot menepuk pundak saya. Pada saat itu,
barulah petugas imigrasi mulai tersenyum dan berkata kepada saya, "Anda
sungguh beruntung."
Sewaktu pesawat naik keangkasa dengan halus, saya mengeluarkan
sepotong kertas putih yang saya simpan itu dan menunjukkannya kepada
Mr. Lin Yung Mao kata kata yang tertulis: "Transit tanpa rintangan".
Ternyata, mereka tidak dapat merintangi kami dari melakukan transit.
Ketika kami tiba di Hongkong, kami menyelidiki sumber dari telegram
pertama. Cathay Pacific Airlines di Hongkong menyangkal dengan tegas
bahwa mereka mengirim telegram mustahil seperti itu. Mereka percaya
bahwa telegram itu palsu adanya.
Dengan marah, mereka sampaikan bahwa menurut hukum
internasional, sebuah airline dapat dihukum berat kalau mengangkut
penumpang tanpa visa.
Karena kejadian ini, pekerja dari pihak travel agen dan pihak airline
kemudian mendapat hukuman dan penurunan pangkat. (Saya menyesali
tindakan hukuman yang dijatuhkan kepada mereka).
Karena vefifikasi tentang telegram dari airline itu tidak membawa
hasil, saya mencari jawaban dari Roh Suci. Ia hanya tersenyum tanpa
menjawab.
Ini adalah kesimpulan saya: Roh Suci pasti telah menggunakan
kekuatan batinnya pada petugas pengirim telegram sehingga menyebabkan
dia terhipnotis sementara waktu dan mengirim telegram tanpa menyadari
tindakannya itu. Telegram dari langit.
Semua Lampu Menyala
Pada jam 2 pagi dini hari, tanggal 25 bulan 7 menurut penanggalan
imlek, tahun ke 71 Republik Cina (1982), didalam sebuah rumah yang kecil
dan sepi di barat laut kota Seattle, negara bagian Washington, Amerika
Serikat, semua orang sedang tertidur.
Tiba tiba, semua lampu di dalam rumah menyala, termasuk lampu di
kamar bawah tanah, kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dan dapur.
Dengan menyalanya lampu, ruangan ruangan menjadi terang bagaikan di
siang hari saja.
Orang pertama yang terbangun dengan rasa was was adalah
nyonya rumah, Lu Li-hsiang. Ia ingat dengan jelas bahwa ia membaca buku
sambil berbaring diatas ranjang sampai tengah malam. Setelah itu, ia
mematikan lampu di ruang tidur sebelum ingin tidur. Karena itu, ia bangkit
dari ranjang, memakai baju luarnya, dan berjalan keluar menuju ruang
tamu.
Ia terperanjat mendapatkan lampu langit langit dan lampu meja di
ruang tamu keduanya menyala. Orang dapat mengerti mengapa ia dapat
terperanjat. Bagaimana mungkin semua lampu menjadi menyala tanpa
seorangpun menghidupkannya?
Ia menjadi takut dan tidak berani mematikan lampu lampu itu. Maka
ia bergegas kembali ke ruang tidur dan tanpa mengeluarkan banyak suara
kembali berbaring diranjang dan menarik selimutnya menutupi kepalanya.
Saya, yang tidur di lantai ke tiga, juga terbangun dengan lampu
lampu yang tiba tiba menyala terang itu. Lampu di ruang tidur saya
menyala.
Terheran-heran, saya turun ke lantai dibawah dan mendapatkan
bahwa semua lampu juga menyala di ruang tamu. Saya pergi ke lantai
bawah tanah dan juga mendapatkan semua lampu menyala disana. Kamar
mandi dan ruang dapur juga terang.
Berjalan ke ruang tidur anak anak saya, saya dapatkan kedua anak
saya, yang berusia 9 dan 6 tahun, masih tertidur meskipun lampu di
ruangan mereka juga menyala. Pada saat itu, saya berpikir, mungkinkah
ada seorang perampok yang telah masuk kedalam rumah kami?
Tetapi, tidak terlihat ada tanda tanda terjadi penjebolan pintu.
Kesimpulan terakhir adalah bahwa tanpa alasan yang dapat dijelaskan --
semua lampu hidup dengan sendirinya pada tengah malam.
Saya teringat sebuah film yang pernah saya tonton berjudul "Close
Encounters of The Third Kind". Dalam film itu, makhluk makhluk angkasa
luar datang juga datang pada tengah malam.
Semua lampu dari mobil mobil yang diparkir di luar rumah menyala
dan yang lebih mengagetkan lagi, semua klakson mobil mobil itu juga mulai
berbunyi nyaring tanpa ada orang yang menekannya. Kejadian selanjutnya
adalah bahwa semua objek didalam rumah mulai beterbangan seolah olah
tidak ada lagi gaya gravitasi bumi.
Ketika saya teringat dengan cerita film itu, saya mulai menyadari
bahwa ada semacam energi didalam rumah saya itu. Saya berjalan menuju
altar Budha dan duduk dengan tenang bermeditasi.
Saya mulai dengan metode menghitung pernapasan dan kemudian
masuk kedalam keadaan Vajra Samadhi. Dalam keadaan ini, saya dapatkan
bahwa saya telah tiba di sebuah tempat diatas sebuah kuil, yaitu vihara Bajik
Terang di Taiwan.
Didepan vihara itu, sebuah upacara Dharma sedang
diselenggarakan. Ternyata ini merupakan upacara 'Festival Semua Roh"
(Ulambana) yang diselenggarakan oleh para siswa Ling Xian Cung di
Taiwan. Banyak orang berkerumun di pekarangan vihara itu. Altar untuk
festival itu telah didekorasi dengan anggun dan baik.
Seorang rahib Budhis, pendeta Ching-wu, pada saat itu sedang
membentuk mudra untuk "mewujudkan dan melipat-gandakan
persembahan". Maka, duduk diangkasa diatas, saya menolong rahib itu.
Hari itu, disamping banyaknya masyarakat yang datang, juga banyak sekali
roh roh yang datang.
Meskipun tubuh fisik saya berada di Amerika Serikat, roh saya
muncul diangkasa diatas vihara Bajik Terang dan saya dapat mendengar
semua pelafalan mantra dengan sangat jelas.
Saya sudah tahu sebelumnya bahwa pada tanggal 25 bulan 7 imlek,
para siswa saya di Taiwan akan menyelenggarakan upacara
penyeberangan roh di vihara Bajik Terang. Mereka telah mengirimkan
undangan kepada saya. Tetapi, di Amerika Serikat, saya sedang sibuk
dengan perencanaan konstruksi vihara "Markas Ling Xian" dan juga saya
sedang ditengah tengah penulisan buku.
Yang saya lakukan adalah, sewaktu membaca mantra dalam
sadhana malam hari saya, menambahkan pembacaan Maha Karuna
Dharani dan Mantra Penyeberangan Roh sebanyak 3 kali dan melimpahkan
jasa pembacaan mantra ini untuk kelancaran upacara di Taiwan.
Saya tidak menyangka bahwa, di tengah malam itu, semua lampu
akan tiba tiba menyala. Saya juga tidak menyangka bahwa begitu saya
bermeditasi, saya akan segera masuk kedalam Vajra Samadhi dan
kemudian roh saya pergi secepat kilat ke vihara Bajik Terang.
Sepertinya segalanya telah diatur. Di angkasa diatas vihara Bajik
Terang, awan awan yang cerah berputar putar. Ke 8 makhluk supernatural
dan para pelindung dharma juga mengelilingi vihara.
Suasana sangat baik dan harmonis. Saya terus tersenyum dan
menyapa siswa siswa saya itu. Mereka melihat tapi tidak melihat, mendengar
tapi tidak mendengar.
Mahkota Panca Tathagata yang dipakai rahib itu terlihat sangat
anggun. Pembacaan mantra juga berjalan sangat sukses. Semua siswa
sedang menjalankan tata cara upacara dan bernamaskara dengan penuh
hormat.
Di angkasa diatas, saya menyampaikan ceramah kepada semua roh
yang hadir tentang arti hati yang welas asih, hati yang menganggap sama
segala sesuatunya, hati yang tidak membeda-bedakan, hati yang murni, hati
yang memandang kekosongan, hati yang penuh hormat, hati yang penuh
penyesalan, dan hati yang mempunyai bodhicitta agung.
Kemudian saya membentuk mudra kesempurnaan agung dan
menggunakan kebijaksanaan luar biasa dari mudra maha sempurna untuk
memberkati semua roh itu dengan energi Budha.
Saya sampaikan kepada mereka tentang cara cara Tantra untuk
mengangkat guru dan menerima abhiseka. Banyak diantara roh roh itu yang
segera mengerti makna dharma itu dan segera dapat naik ke alam yang
lebih tinggi.
Tapi, saya juga merasa sedih didalam hati karena tak ada seorang
siswa saya yang hadir disitu yang dapat melihat saya. Saya tidak
menyalahkan mereka karena mereka harus bekerja keras menjalankan mata
pencaharian mereka seperti biasa dan tidak dapat dengan sepenuh waktu
menjalankan sadhana.
Tanpa mendapatkan ke lima macam penglihatan dan ke 6 kesaktian,
bagaimana mereka dapat mengerti tujuan dibalik anjuran saya yang
berulang kali?
Buku yang telah saya tulis setelah tibanya saya di Amerika Serikat,
"Ilmu Ilmu Rahasia Taoisme Untuk Berkomunikasi Dengan Roh", sebetulnya
adalah harta tak ternilai bagi pembinaan diri. Bila seseorang melatih diri
berdasarkan salah satu metode dalam buku itu, ia akan dapat mencapai
keberhasilan dalam metode yang bersangkutan itu.
Saya harap mereka tidak hanya berkonsentrasi dalam pelajaran
Hong-Shui saja yang hanya membahas tentang dunia fisik. Buku "Ilmu Ilmu
Rahasia Taoisme Untuk Berkomunikasi Dengan Roh" adalah pengetahuan
yang abadi, sementara HongShui adalah metode sementara hanya untuk
dunia ini.
Saya harap mereka dapat mengerti hal ini dan tidak memuta-
balikkan yang mana yang penting dan yang kurang penting. (Hanya ada
satu dari siswa siswa saya yang sekedar merasakan kehadiran saya dalam
kunjungan itu).
Di malam hari di tanggal 25 dari bulan 7 imlek itu, semua lampu di
rumah saya tiba tiba menyala. Saya memohon penjelasan dari Bodhisattva
dan mendapat penjelasan sebagai berikut, "Segala sesuatu telah diatur.
Perwujudan lampu lampu di rumahmu itu hanyalah untuk meminta
rohmu untuk kembali ke Taiwan memberikan bantuan dalam upacara. Hanya
itu saja."
Saya merasa sangat bersyukur atas bimbingan sang Bodhisattva
dan caranya yang ahli. Tanpa kita sadari, segala sesuatu telah diatur. Kita
tidak perlu memutar otak dalam mencoba melindungi barang barang milik
kita dengan paksa atau tipuan. Ada sebuah ungkapan Cina,
"Jangan memaksakan segala sesuatu karena setiap orang pasti
akan mendapatkan apa yang telah ditakdirkan untuk diterimanya dalam
kehidupan ini."
Disini, saya berdoa dengan setulus tulusnya kepada Bodhisattva
Kwan Im Seribu Tangan Seribu Mata, semoga sang Bodhisattva
menggunakan seribu tangannya untuk menolong para siswa saya dan
menggunakan seribu matanya untuk menerangi jalan mereka.
Dorongan dari Belakang
Dalam ilmu ramalan "Pe Ji" (Pa Ce; 8 karakter; ilmu ramalan Cina
yang berdasarkan tahun, bulan, tanggal, dan jam kelahiran seseorang
dimana setiap dari 4 data ini mempunyai 2 subdata yaitu unsur langit dan
unsur bumi), ada kategori yang dikenal sebagai "mudah melihat hantu". Ini
terjadi bila kombinasi dari ke 8 karakter menunjukkan bahwa roh utama (roh
sentral) diserang atau dilukai dan tidak memiliki perlindungan yang kuat.
Orang yang terlahir dalam kategori ini sangatlah lemah kekuatan
batinnya dan tidak mempunyai energi positif ('yang') yang cukup. Ketika
orang orang ini menghadapi kekuatan negatif, energi mereka terhisap, dan
mereka sangat mudah melihat hantu.
Saya juga pernah menyebutkan bahwa meskipun energi 'yang'
seseorang kuat, adakalanya energi 'yin' dapat menguasai. Melemahnya
energi 'yang' seseorang menunjukkan kedatangan penyakit atau bahwa
keberuntungan seseorang berada pada titik terendah. Penglihatan akan
hantu dan roh oleh orang orang ini merupakan pertanda bahwa kehidupan
mereka sebagai manusia sudah mendekati ajal atau bahwa mereka akan
segera menghadapi bencana.
Namun, ada pula sekelompok orang lain yang dapat melihat roh dan
hantu. Mereka adalah orang orang istimewa yang membina rohani mereka
dan telah mendapatkan mata batin. Didalam proses bersadhana
(pembinaan rohani), seseorang bisa mendapatkan mata batin dan bila
sudah mencapai tingkat itu, semua roh dan hantu dapat terlihat olehnya.
Fenomena fenomena supernatural menjadi hal hal biasa baginya.
Misalnya, data 'Pe Ji' (Pa Ce) saya sendiri menunjukkan energi diri
yang kuat dan penuh (yang bertolak belakang dengan kategori 'mudah
melihat hantu'). Namun, saya dapat melihat roh dan hantu tanpa perlu
menguatirkan apapun. Saya sehat secara fisik dan mental, dan segalanya
berjalan baik dalam hidup saya.
Diantara kawan kawan saya yang berkebangsaan Amerika, ada
sebuah pasangan yang bernama Wayne dan Mary. Suatu kali mereka
mengadakan 'garage sale' (sebuah cara populer di Amerika Serikat dimana
seseorang menjual barang barang bekas pribadi di ruang garasi mobil di
rumah sendiri). Kami datang melihat lihat.
Ketika saya melihat wajah Mary, saya segera tahu ada yang negatif
tentangnya. Ada awan hitam pada keningnya yang menunjukkan
keterlibatan dengan energi negatif. Bila energi negatif ini tidak disingkirkan,
bencana dapat terjadi pada dirinya. Tetapi, saya tidak begitu mengenal
Mary karena hanya bertemu beberapa kali saja. Saya tidak merasa cukup
akrab untuk memberitahukannya tentang kecurigaan saya ini.
Tidak lama kemudian, saya mendengar kabar bahwa Mary telah
masuk ke rumah sakit. Ternyata, ketika ia sedang menuruni tangga rumah
ke lantai bawah tanah, ia tiba tiba terpeleset dari tangga. Kakinya patah dan
harus dibalsem.
Kening (cakra dahi) yang diselimuti dengan awan hitam yang tebal
menunjukkan meningkatnya energi negatif dan melemahnya roh utama (roh
sentral) seseorang. Bila dalam keadaan demikian seseorang didorong dari
belakang oleh hantu, sudah beruntung bila tidak mengalami kematian.
Suatu hari, pasangan Amerika ini datang mencari saya. Mary
berjalan terpincang pincang. Didalam pembicaraan kami, saya akhirnya
mendapatkan sebab dari 'kecelakaan' yang dialaminya. Ternyata mereka
tinggal di sebuah rumah yang mereka beli setahun sebelumnya. Pemilik
lama dari rumah itu adalah seorang lanjut usia yang sangat memperhatikan
rumah berbata merah itu dan mati disana.
Setelah kematiannya, putranya menjual rumah itu kepada Wayne.
Wayne memberitahu saya bahwa ketika mereka memasuki rumah itu,
mereka merasakan suatu keanehan di udara. Tinggal di rumah itu, mereka
merasa mudah lelah secara luar biasa. Kadang kadang mereka dapat
melihat sekelebat bayangan hitam bergerak di dalam rumah dan sering
mendengar suara berbagai barang. Bila sedang duduk di sofa di ruang
tamu, mereka dapat merasakan sebuah bayangan hitam berjalan didepan
mereka.
Bukan cuma Wayne dan Mary yang dapat memberikan kesaksian
tentang kejadian kejadian ini. Saya dan istri saya juga telah mengalami
pengalaman yang mirip. Ketika kami baru tiba di Seattle, rumah yang kami
tinggali cukup luas untuk dua orang dewasa dan dua anak anak dan terlihat
baru karena telah direnovasi ulang.
Dalam buku terakhir saya, "Ilmu Ilmu Rahasia Taoisme Dalam
Berkomunikasi Dengan Roh", saya mengisahkan tentang bagaimana saya
bertarung dengan hantu hantu yang tinggal di rumah itu. Suatu kali, istri
saya, Lu Li-Hsiang, sedang menuruni tanggal ke lantai bawah tanah ketika
sebuah tangan tiba tiba mendorongnya dari belakang sehingga terpeleset
dari tangga. Rasa sakit yang dideritanya sangat besar sehingga ia
menangis dan meraung dengan air mata membasahi pipi.
Ia tidak cukup kuat untuk naik tangga ke lantai atas lagi ataupun
untuk berteriak keras memanggil. Untungnya, saya sedang berada di rumah
pada hari itu dan dapat segera menolongnya. Saya segera menggunakan
minyak obat Cina khusus untuk luka luka jatuh dan berdarah dan dengan
berkat para Budha dan Bodhisattva, ia hanya mengalami salah urat dan tak
ada patah tulang. Kakinya bengkak dan ia kesakitan selama seminggu.
Namun, akhirnya sembuh dengan sendirinya. Istri saya bertanya kepada
saya apakah rumah kami itu berhantu dan saya katakan tidak.
Tetapi sesungguhnya memang rumah kami itu dihantui oleh dua
hantu Amerika. Karena tingkah laku keterlaluan mereka berlanjut dan
menimbulkan banyak masalah, maka saya terpaksa menggunakan Palu
Vajra Tantra untuk mengusir mereka dari rumah kami. Kedua hantu itu tidak
tahu bahwa Lu Sheng-yen adalah seorang 'ghostbuster' (pemberes hantu)
dan mengira dapat mempermainkan kami.
Saya dapatkan bahwa sebagian hantu hantu Amerika mempunyai
kebiasaan buruk menipu, membuat kesulitan, dan mempermainkan manusia,
sambil menertawakan mereka yang menjadi korban. Hantu hantu ini
terutama sekali suka mendorong dari belakang seseorang yang sedang
menuruni tangga. Sang korban mungkin menyangka bahwa mereka sendiri
yang ceroboh tanpa menyadari bahwa seorang hantu yang sesungguhnya
mendorong mereka.
Disamping itu, hantu hantu Amerika suka membuat banyak suara
seperti berpesta disko saja. Ternyata bahkan di negara yang sangat
materialistis dengan kemampuan teknologi ruang angkasa, energi nuklir,
dan pengaruh besar di dunia ini, masalah masalah yang disebabkan oleh
hantu hantu dapat menyaingi negara negara lainnya di dunia.
Lambat laun, orang orang mulai mengetahui tentang kekuatan batin
saya dan kemampuan saya untuk melihat dan mengusir hantu. Sepertinya
orang orang seperti saya ini dibutuhkan untuk mengontrol hantu hantu
pengganggu di Amerika ini. "Mendorong dari belakang" adalah semacam
kebiasaan dari para hantu pengganggu ini, dan saya menggunakan ilmu
Palu Vajra Tantra untuk mengusir mereka.
Kemudian, saya menggunakan air suci Taois untuk membersihkan
rumah itu. Terakhir, saya menaruh sebuah hu 'lima petir' di rumah sehingga
hantu hantu yang berniat jahat tidak dapat memasuki rumah. Para hantu
pengganggu ini suka melihat sang korban menangis sambil mentertawakan
mereka, maka saya ingin mereka merasakan sendiri bagaimana rasanya
menangis.
KumaraJiwa (Hati Bocah) Dekat Dengan Tao
Tanggal 28, bulan 9, tahun 1982, adalah hari GURU. Pagi pagi saya
menerima surat dari Taiwan, dari seorang bocah bernama Cang Yu Cuin. Ia
mengangkat guru kepada saya semenjak saya masih di Taiwan. Wajahnya
ganteng. Otaknya pintar sehingga selalu nomor satu dalam pelajaran
sekolah. Bocah ini adalah orang yang mempunyai pengalaman gaib (rohnya
sensitif).
Sebagai contoh, kakek neneknya adakalanya menelpon nya. Ia
tinggal di kota Tai-Chung. Kakek neneknya tinggal di kota Pien Tung.
Sewaktu menelpon si cucu, si nenek suka menyuruh cucunya menebak ia
sekarang sedang memakai baju warna apa. Si cucu menggunakan insting
nya dapat mengetahui bahwa si nenek sedang memakai baju berwarna hijau
apel. Segalanya dapat ditebaknya dengan tepat. Ia pun dapat melihat
makhluk halus. Saya pernah berjanji kepadanya bahwa saya akan
membantunya naik ke tingkat suci.
Dibawah ini adalah suratnya:
Guru yang terhormat dan terkasih,
Hari ini adalah peringatan HARI GURU. Saya hanya mengirim sebuah
kartu ucapan selamat HARI GURU karena saya sangat hormat kepadamu.
Saya beruntung bisa masuk ke sekolah menengah yang terletak di
perut gunung dengan pemandangan indah, sebuah tempat yang cocok
untuk menjadi tempat belajar. Cuma, sayang tempat ini jauh dari rumah
tempat tinggal saya, bolak-balik sekolah memakan waktu yang lama.
Saya masih memohon petunjuk Guru mengenai dunia roh. Terima
kasih kepada Guru yang sungguh sabar. Saya akan rajin sekolah. Salam
saya untuk Se-Mei dan Se-Ti. [Yang dimaksud disini adalah putra putri
Master Lu.]
Sajak dalam kartu ucapan:
Jalan Dunia bercabang-cabang Lautan manusia bagaikan perahu
membuka layar. Jarum selatan lagi dipeluk. Mendongak melihat Guru
Tao yang tinggi, Terima kasih, wahai Guru yang terhormat dan
tercinta, Semoga kau selalu bahagia.
Jawaban Master Lu:
Saya sering merasa bahwa hati bocah yang tulus sungguh dekat
dengan TAO. Kemurnian bocah, itulah hati yang baik. Tidak tergoda
ketenaran nama. Bila demikian, baru bisa menjalankan bhavana. Harus
wajar dan alami seperti hati bocah. Hati bocah seringkali "gentleman". Hati
orang dewasa seringkali kerdil. Kalau kita bisa kembali ke hati bocah yang
tulus, barulah bisa SADAR.
Orang yang telah mengerti TAO tidak lagi mempunyai keinginan
DUNIAWI, namun Wibawa nya akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya,
kelicikan merupakan siluman. Bila menyebut diri sudah berlatih sukses tapi
hatinya masih penuh tipu muslihat, itu artinya sudah terperangkap MARA.
Saya ingin bocah Chang Yu Cuin ini tetap berhati bersih. Janganlah
hatimu ternoda oleh keinginan dan kotoran duniawi. Tidak berhati palsu
sungguh sangat penting. Untuk menyelami TAO, haruslah berhati tulus,
welas asih, dan mempunyai tekad yang kuat.
Surat ini juga dimaksudkan supaya dibaca oleh semua siswa saya.
Meski saya ada di Amerika, saya tetap memperhatikan bhavana para siswa
saya. Dalam menjalankan bhavana, penting untuk menjaga hati, jangan
terlibat dalam perebutan kekuasaan. Bila tidak bisa mempertahankan hati
yang suci, berarti memperbesar resiko terperangkap MARA.
Ada upacara dharma di Ming-Te-Kung yang telah berlangsung
sukses. Sebelumnya, mereka telah memohon adisthana saya. Sesudah
upacara, saya sudah tidak lagi mendengar apa apa dari mereka. [Catatan:
Kalimat ini berkaitan dengan artikel "Semua Lampu Menyala" di awal buku ini
yang mengisahkan perjalanan astral Maha Guru Lien Shen ke Taiwan untuk
mendukung penyelenggaraan upacara ulambana yang diadakan oleh para
siswa beliau.]
Ada beberapa murid yang sebetulnya sangat saya perhatikan. Tapi,
setelah saya pergi ke Amerika, sudah tidak lagi mendengar kabar dari
mereka. Aneh sekali. Apakah hati suci kalian telah hilang bersama dengan
kepergian saya ini? Apa kalian sudah kalah dengan seorang bocah cilik?
Menghindar Dari Murid Pengkhianat Bintang Kelabang
Saya pernah katakan bahwa di dunia ini saya mengagumi 2 tempat
sebagai tempat untuk mengasingkan diri. Yang pertama di Jepang di kota
Han Kuan di vihara Tang Chuan Se. Yang kedua di Seattle, Amerika Serikat.
Ke 2 tempat ini mempunyai persamaan yaitu membuat kita merasa seperti di
kebon buah dewa di surga, keduanya adalah kota kecil dengan
pemandangan yang indah. Ini adalah perasaan hati saya.
Saya pernah tanya kepada Bodhisattva, kapan saya boleh
mengasingkan diri?
"Bila kau melihat di langit ada bintang kelabang, itulah saatnya
mengasingkan diri."
"Apa arti bintang kelabang itu?"
"Ia adalah muridmu, seorang wanita, seorang pengkhianat, bersifat
perusak. Hati-hatilah sewaktu ia telah mendekatimu. Salah satu cara
menghindar dari daya rusaknya adalah mengasingkan diri. Dia akan
melontarkan fitnah, bicara yang bukan-bukan, bergosip yang bukan-bukan.
Bila kau tidak mempunyai keinginan, maka daya rusaknya dengan
sendirinya hilang."
Banyak siswa saya tidak mengerti mengapa sewaktu saya lagi naik
daun di Taiwan -- malah saya mengasingkan diri ke Amerika Serikat.
Jawabannya adalah karena tuan San San Chiu Hou mengajarkan saya
sebuah ilmu gaib yang sangat rahasia tentang bagaimana melihat langit.
Saya memandang langit di Barat untuk melihat nasib saya, di sebelah kiri
muncul sebuah bintang kecil berbentuk kelabang. Itulah sebabnya saya
meninggalkan Taiwan.
Ucapan Budha tidak pernah dusta. Saya tahu siapa orang bintang
kelabang ini, siapa dirinya di masa lampau dan di masa sekarang. Orang itu
memang murid saya. Sikapnya selalu ingin menang sendiri, suka mengadu
domba orang, suka memaksa, suka berperkara dengan berbagai pihak.
Saya pernah menasihatinya untuk jangan berkonflik, bahwa permusuhan
mudah dibuat tapi susah untuk diselesaikan, bahwa kalau dapat memaafkan
orang, lebih baik bersikap pemaaf.
Namun, bila gunung masih bisa diubah, ternyata adat manusia lebih
sulit diubah. Pikiran nya sempit. Ia tetap bertingkah laku seperti biasanya.
Saya berusaha menggunakan metode Budha untuk mengubahnya, tapi
mulutnya sungguh beracun, hatinya bagaikan kelabang, sangat beracun.
[Pada suatu hari, suami dari wanita ini melakukan perselingkuhan,
namun anehnya Maha Guru Lien Shen yang dituding sebagai biang keladi
nya.] Apakah perselingkuhan nya itu harus seijin saya? Saya tidak apa-apa
memikul karma karena Budha ingin saya dapat bertahan menghadapi situasi
situasi yang orang lain tidak bisa tahan.
Saya pergi mengasingkan diri ke Amerika Serikat, dengan sendirinya
fitnahnya juga akan lenyap setelah saya pergi. Saya tidak merindukan
ketenaran nama saya di Taiwan. Terhadap para siswa yang berkeberatan
berpisah dengan saya, saya hanya bisa mengatakan bahwa tak ada
perjamuan yang tidak bubar.
Seumur hidup saya, baru sekarang ini saya merasakan
berbahayanya mulut beracun dari seseorang. Sungguh menyeramkan,
membuat mata saya terbuka dan sadar. Saya bertanya kepada Budha,
"Apakah ada pembalasan karma untuk orang orang berhati kelabang seperti
dia?"
Kata Budha, "Biarlah perutnya tetap bergeser di tanah. Biarlah
giginya tetap tajam. Biarlah mulutnya tetap beracun. Biarlah ia terus
mengadu-domba seperti ular. Biarlah ia selalu menggigit setiap kali bertemu
sesuatu. Ia akan terlahir kembali menjadi seekor ular panjang. Itulah
pembalasan karma nya." Mendengar hal ini, saya langsung MELINANGKAN
AIR MATA.
Kwan Im Menolong Di 10 Penjuru Tanpa Pilih Kasih
Di Vihara Ling-Xian (Markas Ling-Xian) di Seattle (Amerika), di altar
utama vihara, ada pratima (patung) Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im)
yang diapit oleh Wei-To (Skandha Bodhisattva) dan Kwan Kong (Yang Mulia
Cia Lan). Lebih ke kanan lagi, ada Yao Che Cing Mu dan beberapa dewa.
Lebih ke kiri, ada Ksitigarbha, dan dakini.
Pratima Avalokitesvara ditempatkan di posisi sentral karena
jodohnya yang sangat besar dengan umat manusia. Kwan Im adalah
seorang Budha masa lampau yang menjelmakan diri sebagai Kwan Im demi
menolong umat manusia. Hati welas asih Nya yang besar menjelmakan
ribuan tangan ribuan mata di 10 penjuru untuk menyadarkan hati manusia
agar berpaling pada Budha (Tao). Mantra Nya, Maha Karuna Dharani,
sungguh bisa menghindarkan manusia dari kejahatan dan penyakit,
sungguh merupakan Dharma yang benar yang dapat cepat mengangkat
manusia ke tanah suci Budha.
Patung Kwan Im, Wei-To, dan Kwan Kong di vihara Ling-Xian berasal
dari kota Tai-Chung (Taiwan) dan disumbangkan oleh seorang murid saya
yang bernama Wang Se Ling. Rupang rupang ini dikirim ke Amerika dengan
kargo laut.
Setibanya rupang ini di Amerika, begitu dikeluarkan dari kardus dan
didudukkan secara benar, meskipun belum di "kay-kuang" (diresmikan, di-
"isi"), sudah menimbulkan kegaiban. Ada seorang wanita Amerika keturunan
Norway bernama Jone dan berusia 50 tahunan yang bekerja sebagai staff
kami. Begitu ia melihat rupang Kwan Im tersebut, langsung merasa sangat
terharu sehingga terus mencucurkan air mata, sepertinya ia telah bertemu
dengan seorang sahabat lama.
Sambil menangis, sekujur badannya pun sampai gemetar, bagai
orang yang baru saja terbangkitkan rohnya. Ia kemudian bercerita bahwa
sewaktu ia masih kecil, 40 tahun yang lalu, ia bisa melihat Budha. Ayahnya
berkata, "Pergilah ke gereja. Hanya Tuhan Yesus yang dapat menolongmu."
Tapi, yang ia lihat bukanlah Yesus namun berwujud makhluk suci lain. Di
dalam hati, ia tahu bahwa makhluk suci yang ia lihat bukanlah Yesus.
Sekarang, sewaktu ia melihat rupang Kwan Im yang baru dikirim ke
Amerika itu, ia menjadi kaget karena wujud itu persis sama seperti yang ia
lihat sewaktu masih kecil. Kwan Im menampakkan diri kepadanya pada waktu
ia masih kecil karena mengetahui bahwa ia berjodoh dengan ajaran Budha.
Rupang Kwan Im tersebut bermodel berdiri diatas teratai, dengan Budha
diatas kepala Nya. Tangan kiri memegang botol air suci, tangan kanan
memegang dahan yang-liu.
Raut mukanya sangat anggun berwibawa, agak tertawa. Sewaktu
saya tiba di vihara Ling-Xian pada hari itu, secara insting, saya telah
menyadari bahwa sinar Bodhisattva telah menyorot pada rupang itu,
meskipun acara "kay-kuang" (pembukaan mata rupang) secara resmi belum
dilakukan. Itu sebabnya, begitu rupang ini ditaruh di meja, bisa mempunyai
kekuatan roh yang membuat staff kami itu langsung menangis haru.
"Dewa Tiongkok inilah yang harus saya puja. Di kemudian hari, ia
pasti bisa menolong Amerika. Kekuatannya sungguh luar biasa." Demikian
kata Jone.
Saya sungguh merasa bahwa dalam membabarkan Dharma Budha
dan menjalankan misi penyelamatan, Kwan Im bersifat universal, tidak pilih
kasih dan pilih tempat. Ini berbeda dengan agama Yahudi yang menyebut
bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah dan bangsa bangsa lain sebagai
orang kafir.
Budha tidak pilih kasih, tidak membedakan warna kulit dan suku
bangsa. Itu sebabnya, Dharma Budha bisa menyebar dari India ke negri
Tiongkok lalu ke Jepang, ke Korea, dan terus ke barat dan negara negara
lain.
Sikap tidak mau menyebar-luaskan Dharma Budha, bukankah itu
terlalu egois? Itu sebabnya membangun vihara di Amerika (seperti vihara
Ling Xian) merupakan suatu hal yang luhur. Benih dan Dharma Budha
memang sudah seharusnya disebarkan di tempat yang belum mengetahui
Dharma Budha.
Dharma Budha bukanlah milik pribadi seseorang, bukan pula milik
sebuah bangsa tertentu. HARAP INGAT! Di bawah kolong langit ini, Dharma
Budha adalah milik semua insan. Sungguh kasihan orang orang Barat yang
belum pernah mendengar ajaran Budha. Bukankah mereka sepatutnya
menerima Dharma Budha?
Di Los Angeles (Amerika Serikat), sudah ada Vihara Menara Putih
dari Biksu Xing Yun, vihara Kwan Im dari U-Mei-Ing, juga Vihara Sinar
Dharma. Di San Francisco, ada "Kota 10 Ribu Budha" dari Master Hsuan
Hua. Di Kanada, ada "Perkumpulan Budhis Sedunia". Biksu Si Chen juga
membangun vihara. Demi menyebarkan Dharma Budha, U-Mei-Ing khusus
telah datang menemui saya dalam rangka membangun cabang vihara Kwan
Im.
Saya sendiri ingin membangun vihara di Seattle karena di Seattle
sama sekali belum ada vihara Budha, hanya ada 1 kelenteng Jepang. Bila
orang Tionghoa saja yang mayoritas beragama Budha tidak mempunyai
rumah ibadah disini, apalagi untuk orang Barat? Vihara Ling-Xian di Seattle
akan menjadi rumah ibadah dan sumber Dharma Budha bagi orang orang
Tionghoa penganut agama Budha disini, juga akan berfungsi untuk
memperkenalkan keagungan Dharma Budha kepada Amerika.
Ini baru sesuai dengan niat Budha dan Bodhisattva yang ingin
membabarkan Dharma di seluruh penjuru. Orang yang mendiskriminasi soal
lokasi adalah seperti ikan yang berenang di dalam air, sama sekali tidak
menyadari bahwa burung terbang di langit.
Saya dapat melihat masa depan yang cerah dari vihara Ling-Xian.
Suksesnya sungguh tiada batas. Rupang Kwan Im, meski belum di "kay-
kuang", sudah bisa membuat 1 orang Barat menjadi demikian terharu
merasakan kesaktian Kwan Im. Agama Budha memang sudah ditakdirkan
akan menyebar ke Amerika. Tahun 1982, bulan 8 lunar, tanggal 10, rupang
Kwan Im itu resmi di "kay-kuang". Keajaiban Kwan Im yang lebih besar lagi
akan terjadi.
Roh Ahli Kungfu
Saya teringat bahwa suatu kali saya mengunjungi sebuah vihara
besar di Taipeh untuk menonton acara yang di-istilah-kan "jotosan dewa"
(adu kungfu gaya dewa). Lokasi vihara ada di Siong-san. Di vihara tersebut,
ada banyak medium yang mahir memperagakan jurus jurus "jotosan dewa".
Pada malam itu, di vihara tersebut, lampu lampu dinyalakan
semuanya. Semua pintu ditempeli Hu. Tambur dan genderang dipukul
lantang. Ada biksu di panggung sedang membaca mantra. Di lapangan
bawah, berdiri 7 orang jagoan yang bertelanjang dada. Mereka semua
memakai ikatan kepala yang bersulamkan Pat-Kwa. Banyak orang yang
sudah berkerumun siap menonton, termasuk saya.
Saya berdiri di bawah sebuah tiang naga, dengan tenang menunggu
dimulainya acara adu kungfu dewa ini. Konon, dalam acara seperti ini, jurus
jurus kembangannya sangat banyak, sangat menarik untuk ditonton.
Tambur dan genderang sangat keras dibunyikan. Si biksu mendadak
berteriak dan membakar Hu pengundang dewa, lalu mulai menotol-notol ke
7 jagoan. Semua orang terpaku memandang. Dalam sekejab, para roh
sudah mulai memasuki ke 7 jagoan itu. Badan mereka mulai gemetar, dari
gemetar kecil menjadi gemetar keras. Tiba tiba mereka meloncat saling
memisahkan diri.
Saya tegas melihat, di posisi timur, seorang jagoan berdiri dengan
gaya ayam emas. Tangannya seperti memegang tongkat. Wah, rupanya Li
Tieh Kuai (dewa mabuk, salah seorang dari 8 Dewa).
Si jagoan di posisi barat tampak tenang. Kedua tangan ditaruh di
belakang. Cara jalannya unik. Saya langsung tahu bahwa ini adalah gaya Lu
Tong Pin (pendekar pedang, salah seorang dari 8 Dewa).
Jagoan di posisi selatan, badannya tinggi besar, berjalan seperti
gaya busur panah. Tangannya seperti memegang golok besar. Satu tangan
lagi seperti memegang jenggot. Ini pasti Kwan Kong.
Jagoan di posisi utara, begitu ber-aksi, langsung memamerkan jurus
Shao-Lin. Ini pasti Bodhidharma (Tat-Mo-Cou-Su).
Ada 3 jagoan di posisi sentral. Yang satu bergaya Nacha, si dewa
cilik. Yang kedua bergaya Ol-Lang-Shen (Dewa Bermata Tiga Penjaga
Sungai yang biasa dikawal anjing langit). Yang ketiga jelas sekali bergaya
Sun Go Kong.
7 pendekar ini kemudian mulai bertarung, mengeluarkan jurus jurus
yang sangat lincah. Posisi mereka berubah-ubah. Adakalanya mereka
meloncat tinggi. Adakalanya mereka tiarap. Adakalanya mereka menyapu
kaki lawan. Bila mereka sedang saling berhadapan muka dengan muka,
mereka segera saling soja (memberi hormat).
Adakalanya mereka seperti bercanda, saling berpukulan ringan
beberapa kali. Semua orang seperti menahan napas menonton. Tontonan
semenarik ini memang jarak ada. Masing masing pendekar mempunyai jurus
yang unik.
Saya mengkonsentrasikan diri membaca mantra cakra emas di
dalam hati. Tak ada yang memperhatikan saya bergumam membaca mantra.
Namun, tiba tiba ke 7 pendekar yang sedang beradu ilmu itu semuanya
menengok ke saya. Lalu, satu per satu mendatangi saya untuk bersoja.
Saya menjadi kaget, tidak tahu harus bagaimana kecuali balas
bersoja kepada mereka. Sewaktu saya melirik ke panggung dan sekeliling
ruangan, saya melihat si biksu dan para hadirin sedang memandang saya
dengan heran. Saya benar benar merasa tidak enak hati. Muka saya
memerah. Tergesa-gesa saya keluar dari kerumunan itu.
Pembaca mungkin mengira, Lu Sheng Yen ini terlalu sombong. Lu
Tong Pin, Li Tieh Kuai, Kwan Kong, Tat Mo Cou Su, Nacha, Ol Lang Shen,
dan Sun Go Kong, semuanya bersujud kepada Lu Sheng Yen. Kalau begitu,
Lu Sheng Yen ini, penjelmaan makhluk suci apa?
Harap para pembaca tidak menjadi salah paham. Saya tidak berani
mengatakan bahwa saya lebih besar dari ke 7 dewa tersohor yang
disebutkan diatas. Tapi saya berani mengatakan bahwa ke 7 roh ahli kungfu
yang menempel di badan para medium itu bukanlah 7 dewa yang asli.
Mereka hanya mengaku dan berpura-pura saja sebagai 7 dewa, padahal
mereka adalah siluman. Begitu saya membaca mantra, mereka langsung
menyadarinya sehingga datang menyalami saya.
Memang, pada umumnya, dalam acara "jotosan dewa", yang datang
menempel pada tubuh medium adalah siluman (asura) yang berpura-pura
dan meminjam nama dewa dewa tenar. Adakalanya, mereka suka membuat
ulah.
Ada orang bertanya kepada saya, apakah itu benar benar roh ahli
kungfu. Saya jawab, bisa benar bisa tidak. Bisa disebut benar kalau si
medium sebenarnya sama sekali tidak bisa kungfu dan menjadi bisa kungfu
begitu ditempel. Perlu diketahui pula bahwa ada roh ahli kungfu yang bisa
kebal senjata, bisa berjalan di atas api, berjalan di atas pedang sehingga
membuat orang menjadi percaya akan dunia roh. Banyak orang terpesona
dan senang melihat pertunjukan seperti ini.
Kalau tidak punya 5 jenis mata dan 6 jenis kemampuan gaib, maka
orang sulit mengenali keaslian roh yang datang menempel, apakah benar
dia itu Amitabha, Ksitigarbha, atau Indra, seperti yang diakuinya. Yang palsu
sangat banyak. Yang asli sangat sedikit. Kebanyakan roh yang menempel
pada medium adalah roh tingkat rendah, roh yang dekat dengan frekwensi
manusia, seperti misalnya dewa tanah. Roh tingkat tinggi tidak suka manusia
yang kotor sehingga tidak akan datang menerima undangan dari orang
orang yang kacau balau.
Mengundang roh pendekar untuk hiburan sih memang kebiasaan
umum yang sering dipraktekkan. Misalnya, di waktu bulan 8 tanggal 15,
sudah menjadi kebiasaan bagi bocah bocah Taiwan untuk mengundang roh
katak sehingga setelah ditempel, mereka bisa meloncat-loncat dan bersuara
seperti katak.
Namun, sangat berbahaya melakukan permainan ini di atas balkon.
Kalau loncat kebawah, habislah nyawa. Kalau mau membuat sadar
seseorang yang ditempel roh katak, semprot saja mukanya dengan air.
Orang yang hamil dan yang sedang berkabung dilarang bermain seperti ini
karena bisa mengundang hawa maut. Ini merupakan peraturan penting.
Apakah dunia roh ada? Saya katakan ada. Bila ada orang bilang
dunia roh itu tidak ada, itu karena ia sendiri tidak pernah merasakannya.
Dunia roh mengandung banyak kegaiban.
Menyembuhkan Orang Gila (Judul asli: Dharma Esoterik Bagai Pelangi
Di Angkasa)
Seorang pembaca dari Hongkong yang bernama Pang Wei Sing
menulis surat kepada saya sebagai berikut:
Maha Guru Lu Sheng Yen, sudah lama saya mendengar nama besar
anda dan mengagumi anda. Saya bernama Pang Wei Sing, seorang
penganut agama Budha yang bersarana kepada Maha Guru Si Chen. Saya
rasa seumur hidup saya tidak pernah membuat kesalahan besar, tapi
mengapa langit menurunkan bencana yang sangat besar kepada saya?
Istri saya bernama Ling Cing Fang, berusia 35 tahun, dan lahir pada
bulan 3 tanggal 10. Saya menikah dengannya 12 tahun yang lalu dan
semula hidup berbahagia. Setelah menikah selama 2 tahun, mendadak
istrinya berubah sifat. Di malam hari, ia tidak bisa tidur. Ia tidak enak makan.
Ia suka kaget dan berteriakteriak. Wajahnya selalu murung.
Adakalanya saya dilihatnya sebagai musuhnya yang ingin
dibunuhnya. Adakalanya ia tidur ditengah jalan sepertinya ingin membunuh
diri. Istri saya sebenarnya berparas cantik. Tapi, karena 10 tahun terus
menerus sakit seperti ini, rambutnya telah memutih, dan wajahnya telah
berkeriput, terlihat sangat menyeramkan.
Saya telah menemaninya selama 10 tahun sehingga adakalanya
saya merasa bahwa mati itu lebih baik daripada hidup. Ia sudah pernah
diperiksa oleh dokter jiwa tanpa hasil. Pernah pula saya meminta tolong
kepada orang di rumah ibadah. Katanya ia disantet, tiada guna berobat.
Kami juga pernah minta tolong kepada Maha Guru Lin Yun. Menurutnya,
hongshui rumah kami salah.
Kami telah menuruti nasihatnya, namun kondisi istri saya malah
menjadi lebih parah, satu menitpun tidak bisa tenang. Ketidak-warasan nya
selama 10 tahun itu telah menghabiskan uang, waktu, dan tenaga yang
sudah tak terhitung lagi. Sebenarnya saya sudah putus asa, tapi beberapa
teman kemudian membawakan buku anda kepada saya. Setelah
membacanya, saya yakin bahwa hanya anda yang bisa menolong istri saya.
Saya memohon bantuan Maha Guru. Harap jangan menolak. Tertanggal:
bulan 7 tahun 1982.
Jawaban Maha Guru Lien Shen Lu Sheng Yen: Sewaktu saya
menerima surat ini, saya sudah berada di Amerika Serikat. Surat tersebut
dititipkan kepada seorang biksu yang kemudian membawanya kepada saya.
Di rumah, saya mempersiapkan altar Vajra Rahasia. Saya bacakan Maha
Karuna Dharani sebanyak 1008 (seribu delapan) kali.
Saya gunakan pula Mudra "Si Cai Ta Shou Ing" (Santika) yang
diajarkan kepada saya oleh "tuan San San Chiu Hou". Sudah 2 tahun saya
melatihnya. Jumlahnya 108 jurus. Satu per satu saya gunakan tanpa putus-
putusnya. Mudra 108 jurus yang luar biasa ini bukan seperti yang digunakan
Lin Yun yang hanya bermudra duniawi (paustika) dan sekedar digunakan
untuk difoto orang.
Saya mencurigai kemanjuran mudranya itu. Saya pernah belajar
mudra yang digunakan Lin Yun itu; seharusnya ada 108 jurus, barulah
dianggap sukses dan sempurna. Apakah Lin Yun memahami mudra ini atau
tidak, itu merupakan sebuah tanda tanya di hati saya.
Mudra "Si Cai Ta Shou Ing", begitu dimainkan, memunculkan sinar
merah yang keluar lewat ujung jari dan dari telapak tangan maupun
punggung tangan. Sinar merah ini menyorot ke pasien wanita yang
dikisahkan dalam surat. Ada sekumpulan hawa hitam yang menyelimuti si
pasien wanita langsung terdorong oleh sinar merah ini sehingga mulai
buyar. Sadhana ini saya jalankan sehari sekali selama 37 hari,
menggunakan 108 jurus mudra ini, membaca Maha Karuna Dharani serta
Mantra Vajra Jejak Rahasia (Mi Ci Cingkang Cou).
Saking hafalnya akan mudra ini, saya tidak perlu berpikir lagi
sewaktu melakukannya jurus demi jurus. Sekujur badan saya menjadi penuh
dengan daya roh. Sepertinya sudah bukan saya lagi yang melakukan tarian
mudra ini. Saya telah menjelma menjadi Vairocana Budha yang mana nya
sinarnya bagaikan pelangi di angkasa yang dari Amerika menuju rumah si
pasien, mendorong hawa hitam di dirinya sehingga menjadi buyar.
Si pasien kemudian dipenuhi dengan sinar merah. Setelah 1 bulan,
datang surat dari suaminya itu dengan melampirkan check sebesar $100
dollar Amerika. Suratnya berbunyi demikian:
Guru besar Lu Sheng Yen, terima kasih bermilyar-milyar kali. Di
rumah, saya bersujud ke arah anda sampai ratusan kali. Selama-lamanya
saya akan mengingat budi baik anda. Saya tidak akan melupakan anda.
Saya akui bahwa saya telah menangis terharu karena apa yang terjadi.
Sudah 10 tahun saya berharap ke langit. Hari ini, akhirnya saya tertolong
juga. Istri saya, 2 minggu yang lalu, mendadak bisa tidur 2 hari 2 malam.
Setelah bangun, ternyata ia sudah kembali waras.
Ia merasa ia telah bermimpi selama 10 tahun. Ia sekarang sudah
bisa cuci baju, pergi ke pasar, bisa bicara dan tertawa dengan saya.
Kebingungan di mata nya telah hilang, malah matanya bersinar. Betul betul
dua minggu terakhir, keadaan keluarga saya telah kembali normal. Istri saya
sudah bisa dandan. Para tetangga menjadi keheranan dan berkomentar
bahwa para makhluk suci sungguh benar mempunyai mata. Maha Guru Lu,
terima kasih. Bila saya ada waktu, saya pasti datang secara pribadi untuk
berterima kasih kepada anda.
Membaca surat ini, hati saya gembira. Hari ini, saya mendapat satu
bukti lagi akan kebenaran Dharma Budha. Dalam artikel ini, saya sedikit
berkomentar tentang Lin Yun karena si penulis surat ini pernah meminta
tolong kepadanya. Saya bisa maklum bahwa Lin Yun repot sehingga tidak
bisa khusus bersadhana menggunakan mudra rahasia.
Saya pernah lihat majalah Se Pao yang memberitakan Lin Yun
membentuk mudra di depan umat. Katanya, itu mudra paustika.
Sebenarnya, mudra ini ada 108 jurusnya. Saya harap pembaca menjadi
mengerti bahwa mudra tersebut bukan hanya 1 jurus. Saya telah mengobati
ratusan orang gila seperti ini, jumlahnya tak terhitung lagi.
Tapi, kalau Budha sudah katakan seseorang tak bisa ditolong,
sayapun tidak lagi ikut campur. Adakalanya gila adalah karma seseorang.
Ada sebab sebab karma yang khusus. Bila karma seseorang terlalu berat
dan saya tolong juga, maka tidak ada lagi hukum karma. Harap pembaca
maklum.
Indra Ke 6
Ay Ling, seorang gadis Amerika yang cantik, mengisahkan kepada
saya 2 cerita berikut ini. Kisah pertama, selagi ia masih kecil dan tinggal di
desa, ada seorang tetangga seusianya yang sangat akrab dengan nya.
Setelah Ay Ling pindah ke Seattle yang sangat jauh dari desa asalnya,
maka kedua nya tidak lagi berhubungan. 5 tahun kemudian, suatu hari Ay
Ling sedang pergi ke sebuah supermarket di Seattle di jalan 3rd Street.
Tiba tiba ia menjadi teringat akan teman lamanya itu. Ingatannya
sangat keras. Ia merasa bahwa temannya itu ada di sekitar tempat itu.
Setelah 10 menit berputar-putar, akhirnya di lantai 2 supermarket, ia
bertemu dengan temannya itu. Keduanya sangat terkejut. Rupanya
temannya itu akhirnya juga pindah ke Seattle.
Kisah kedua, ada seorang teman kerja Ay Ling yang karena sakit
akhirnya meninggal dunia. Sebetulnya mereka tidak berteman akrab. Kalau
sedang saling bertemu, rekan kantornya itu hanya manggut menyapa.
Mereka tidak begitu saling mengenal. Herannya, meskipun rekan kantornya
sudah meninggal dunia, Ay Ling sering mengingatnya.
Bayangan rekannya itu suka timbul di hatinya, sulit dibuang,
sehingga membuatnya gelisah. Di tempat kerja, Ay Ling merasa terganggu.
Di rumah, perasaan lebih terganggu lagi. Pada suatu hari, sewaktu Ay Ling
membersihkan gudang barangnya, ia temukan sepasang sepatu milik rekan
kantornya yang telah almarhum itu. Ceritanya begini. Ay Ling dulu pernah
membuat pesta hari ulang tahun di rumah nya.
Rekan kantornya itu juga datang menghadiri. Dalam pesta itu,
sepatu rekannya itu patah sehingga disimpan Ay Ling. Rekannya pulang
dengan memakai sendal. Setelah itu, keduanya sudah melupakan tentang
sepatu tersebut. Sekarang setelah rekan nya itu meninggal, barulah Ay Ling
menemukan bekas sepatu nya. Ay Ling segera membuangnya. Semenjak
saat itu, ia tidak lagi merasa terganggu. Ay Ling bertanya kepada saya
tentang alasan dibalik 2 kejadian aneh yang ia alami ini.
Inilah penjelasan saya. Ay Ling mempunyai Indra ke 6 yang kuat.
Indra ke 6 berbeda dengan perasaan biasa, lebih berkaitan dengan otak
dan pikiran. Orang sering mencampur-adukkan 2 hal yang berbeda ini. Indra
ke 6 Ay Ling membuatnya dapat mengetahui bahwa temannya ada di tempat
yang dekat. Dalam kisah ke 2, sepatu milik si almarhum masih mempunyai
getaran si almarhum. Ini dirasakan oleh indra Ay Ling. Setelah sepatu
tersebut dibuang, barulah hilang gangguan yang ia rasakan.
Memang kalau jodoh sudah dekat, hal tersebut dapat segera timbul
di pikiran. Saya sendiri mempunyai banyak pengalaman seperti ini. Misalnya,
bila telpon berdering, saya bisa langsung tahu siapa yang menelpon. Ada
pepatah mengatakan, begitu bicara soal hantu, maka hantu pun datang.
Memang sepertinya kebetulan.
Contoh lain, bila saya menginginkan sebuah jam tangan, maka tak
lama kemudian saya bertemu dengan seorang saudari di Tai-Chung yang
membuka toko jam tangan. Bila saya ingin sebuah berlian, langsung bisa
ada orang yang menawarkan saya untuk pergi ke toko berlian. Seumur
hidup saya tidak pernah menjahati orang. Namun, memang begitu saya
menginginkan sesuatu, maka hal itu akan datang kepada saya. Pernah pula
saya terpikir untuk keliling dunia. Eh, ada orang menawarkan saya untuk
keliling dunia. Bukankah ini aneh? Saya dulu suka kagum akan Seattle.
Sekarang saya malah tinggal di Seattle.
Sewaktu menulis artikel ini, sepertinya roh saya telah
mempersiapkan judul dan isi nya. Begitu saya memegang pen, langsung
saya bisa menulis dengan cepat, tidak perlu berpikir-pikir dulu, seperti air
mengalir saja. Roh sudah datang ke pen. Saya merasa bukan hanya saya
yang mempunyai kemampuan gaib seperti ini. Ada beberapa orang lain di
dunia yang juga mempunyai indra ke 6 seperti yang dimiliki oleh Ay Ling.
Indra ke 6, bila ditambah dengan latihan chi-ling (pembinaan roh
yang terbangunkan), maka akan menjadi lebih luar biasa lagi. Roh yang
terbangunkan berarti lebih mendekati frekwensi dunia roh, roh dijadikan
lincah. Akibatnya, pengetahuan yang aneh tapi nyata akan muncul.
Matahari Turun Di Kota Emas
Pada suatu sore, di saat saat matahari sudah di ufuk barat, awan
awan berwarna keemasan sehingga seluruh kota berubah menjadi bersinar
keemasan. Sungguh mempesonakan, indah menakjubkan. Melihatnya, saya
tak terasa menghela napas serta berkata, "Matahari turun di kota emas."
Di saat yang indah seperti itu, saya didatangi seorang tamu yang tak
saya kenal. Namanya adalah tuan Chen Tien Lung, berusia 65 tahun,
datang dari Sakston (Kanada) dengan mengendarai mobil, telah membaca
beberapa buku saya.
Setelah duduk di ruang tamu, ia langsung memberitahu saya nama
serta usianya. Setelah itu, ia tidak berkata apa apa lagi, hanya
mengharapkan saya meramal nasibnya.
Duduk dihadapannya, saya meminta bantuan makhluk suci
pendamping saya. Lalu, saya mengambil pen dan menulis, "Matahari turun
di kota emas, sinarnya menyorot sampai ke pintu." Saya bertanya
kepadanya,
"Rumahmu menghadap ke barat, bukan?"
Ia membuka matanya lebih lebar dan berkata, "Betul. Apakah tuan
Lu pernah pergi ke Sakston?"
"Belum pernah. Dimana itu letak kota Sakston, saya pun tidak tahu."
Saya menulis lagi di atas kertas, "Model Spanyol, bayangan hijau
menyembunyikan 2 orang." Lalu, saya bertanya lagi kepadanya,
"Rumah anda bermodel Spanyol, berwarna hijau. Ada 2 orang
penghuninya. Benar tidak?"
Kali ini, mulutnya ternganga.
Saya menulis lagi di atas kertas, "Anak anak mendapat kecelakaan.
Roda penyakit, tidak bisa hidup. Hari ini datang untuk bertanya masa depan.
Memandang Laut Tanpa Mendengar Suara."
Setelah membaca syair saya ini, tuan Chen Tien Lung kemudian
berdiri menghadap ke luar rumah. Ia terpaku memandang ke arah laut.
Matahari kebetulan pada saat separuh di atas permukaan air, separuh di
bawah permukaan air. Pemandangan yang menakjubkan.
Chen Tien Lung kemudian berkata, "Tuan Lu, setelah saya
membaca buku buku anda, saya sebenarnya masih tidak mau percaya
bahwa di dunia ini ada orang yang bisa meramal sampai sedemikian tepat.
Dengan hati yang masih setengah ragu, saya datang mencari anda. Tuan
tidak mengenal saya, tidak pernah pula datang ke rumah saya. Saya
mendapat data alamat tuan dari seorang kawan di Taiwan.
Kawan saya itupun belum pernah pergi ke Kanada, belum pernah
melihat rumah saya di Kanada. Putra saya memang meninggal akibat
kecelakaan mobil. Putri saya meninggal akibat sakit darah. Dalam hal hal ini,
hitungan anda sungguh tepat. Tapi, terus terang, saya tidak senang dengan
kalimat syair anda yang terakhir: "Memandang Laut Tanpa Mendengar
Suara". Itu kan berarti saya sudah tidak ada harapan lagi.
Meskipun anak anak saya sudah meninggal, saya masih mempunyai
semangat hidup. Saya masih bersemangat mencari Dharma Budha. Hal ini
tidak ada dalam syair anda. Saya rasa, hitungan anda dalam hal ini tidak
tepat. Saya telah menjadi umat Budha selama bertahun-tahun. Saya telah
bervegetarian selama bertahun-tahun. Apakah ini tidak diketahui Budha?
Mengenai hal ini, mengapa anda tidak bisa mengetahuinya?"
Saya berdiam diri. Di dalam hati saya merasa heran. Kalau benar ia
telah memuja Budha dan bervegetarian selama bertahun-tahun, tentu saja
Budha akan mengetahui. Di dalam ilham syair yang saya tulis, pasti akan
ada komentar tentang hal ini. Saya sangat heran, namun belum bisa
mendapatkan titik terang yang menjelaskan hal ini. Hati saya ikut menyesal
dan sedih.
Saya bertanya, "Tuan Chen, anda menerima sarana (dibabtis) dari
siapa?"
"Menerima sarana (Dibaptis)? Senior saya adalah Hung-Fu-Sing.
Guru yang "thiam" (totok) saya adalah Rahib Yen. Di Kanada, di vihara
pribadinya, saya telah resmi diterima. Ini berarti nama saya telah tercatat di
langit dan telah dihapus dari catatan di neraka."
"Apakah anda berbicara tentang aliran yang menggunakan mantra 5
kata "U Thai Fu Mi Le" serta bermudra seperti ini?" [Maha Guru Lien Shen
memperagakan sebuah bentuk mudra.]
"Betul," jawab tuan Chen sambil manggut.
Astaga!!! Rupanya, aliran "Yi Kwan Tao" sudah tersebar sampai ke
Kanada. Sungguh lihai!
"Dharma Budha yang sejati adalah berdasarkan ajaran Sakyamuni
Budha, bukan ajaran menyimpang. Dalam melatih diri, kita harus
mengandalkan Dharma dan Hati yang lurus, bukan menggunakan pintu
samping. Jangan percaya akan apa yang disebut sebagai 18 guru silsilah
dari aliran Yi Kwan Tao. Itu hanya omongan yang dibuat-buat saja. Meski
anda berhati baik dan benar benar ingin melatih diri, bila anda hanya
berlatih seperti itu, hanya akan tetap dalam kegelapan, tidak akan mengenal
Terang." [Referensi: "Yi Kwan Tao" adalah sebuah aliran yang muncul di
Taiwan dan kemudian menyebar luas dengan pesat ke berbagai
mancanegara. Orang luar yang ingin tahu tentang tatacara puja bakti
mereka diharuskan mereka untuk menerima "thiam" (totokan diantara kedua
mata) terlebih dahulu. Mereka menganut vegetarianisme dan memakai
pakaian seragam. Di Indonesia, nama "Yi Kwan Tao" dikenal dengan
beberapa nama lain.]
"Mengenai mudra dan mantra yang tidak boleh diberitahukan
kepada orang lain, mengapa tuan Lu bisa tahu?"
Saya langsung tertawa dan berkata, "Saya tahu banyak urusan di
dunia ini."
Saya mengajarkan Chen Tien Lung supaya, setelah tiba kembali ke
rumah, mengambil dan menyingkirkan pelita "Lao Mu" yang ditaruhnya di
belakang altar Kwan Im. Juga, saya memberinya dua teratai merah untuk
ditaruhnya di hadapan patung Kwan Im. Setiap pagi dan malam, ia saya
minta membaca Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou) sebanyak 3 kali sampai
selesai membaca 1008 kali. Setelah selesai membaca 1008 kali, jasa
pembacaan mantra dilimpahkan kepada putra-putri nya. Satu teratai merah
dibakar di depan kuburan putrinya. Satu lagi dibakar di depan kuburan
putranya. Maka roh mereka, berkat kekuatan Maha Karuna Dharani, bisa
keluar dari pintu neraka dan diseberangkan ke alam yang lebih baik. Saya
katakan kepada tuan Chen, kalau mau melatih diri, harus memegang dan
membaca satu sutra utama dan satu mantra utama, harus mempelajari
metode meditasi yang benar sehingga dapat mengambil hawa murni sampai
menyatu dengan kesucian.
"Benar benar tidak sia sia perjalanan saya kesini," kata tuan Chen.
Sewaktu ia ingin pulang, saya memberinya syair yang telah direvisi berikut
ini:
Matahari turun di kota emas. Sinarnya menyorot sampai ke pintu.
Model Spanyol, bayangan hijau menyembunyikan 2 orang. Anak-
anak mendapat kecelakaan. Penyakit, tidak bisa hidup. Hari ini
datang untuk bertanya jodoh dengan Budha. Melatih Terang Musim
Semi
[Catatan Tim "Padmakumara": Perlu diingat dan dicamkan bahwa
artikel ini ditulis pada tahun 1983, lebih dari 16 tahun yang lalu. Dalam
tulisan tulisan beliau di kemudian hari, sikap beliau lebih melunak terhadap
aliran yang sekarang ini tak dapat disangkal lagi telah sangat meluas.
Satyabudhagama menjunjung toleransi hidup beragama. Maha Guru Lien
Shen sudah menegaskan bahwa ajaran Budha dapat dibagi menjadi 5
tingkat: tingkat sekuler (kemanusiaan), tingkat dewa, tingkat arahat, tingkat
bodhisattva, dan tingkat Budha. Tingkat paling rendah, Budhisme
Kemanusiaan, adalah berdasarkan persyaratan minimal mentaati Pancasila
Budhisme yang merupakan nilai nilai universal yang dijalankan oleh praktis
semua agama di dunia. Jadi, berdasarkan definisi agama Budha secara
longgar, ajaran apapun, asal mentaati Pancasila Budhisme, sudah dianggap
memenuhi persyaratan minimal untuk disebut ajaran Budha. Berdasarkan
konsep ini, toleransi hidup beragama dapat dijunjung tinggi. Pada saat yang
sama, Maha Guru Lien Shen menyatakan pula bahwa tingkat pencapaian
masing masing ajaran berbeda-beda, seperti halnya ada SD, SMP, SMA,
Sarjana S1, S2, dan S3. Setiap umat memilih tingkat yang sesuai bagi
dirinya. Semoga penjelasan ini dapat menepis kemungkinan terjadinya
kesalah-pahaman. Artikel yang kontroversil ini tetap kami tampilkan di buku
ini karena mengandung nilai historis (sejarah) yang membantu para siswa
Satyabudhagama dalam menelusuri evolusi pemikiran sang Maha Guru.]
Bagaimana Rasanya Setelah 4 Bulan Pindah Ke
Amerika
Dalam artikel ini, Maha Guru mengutarakan perasaan nya tentang
perbedaan yang demikian jauh antara sewaktu masih hidup di Taiwan dan
setelah pindah ke Amerika.
Di Taiwan, dari pagi jam 8 sampai jam 12 siang, waktu terpaksa
dihabiskan untuk membantu meramal nasib orang. Begitu buka pintu di pagi
hari, orang orang sudah meng-antri bagaikan air yang mengalir, langsung
masuk ke ruang tamu. Maha Guru sudah pindah rumah 6 kali selama di
Taiwan, tapi tetap saja alamatnya akhirnya ketahuan banyak orang.
Orang orang yang antri adakalanya berkelahi. Para tetangga
semuanya memasang pengumuman di depan pagar yang berbunyi, "Lu
Sheng Yen ada di sebelah, bukan di rumah ini. Harap jangan sembarang
memencet bel mengganggu ketenangan orang." Kalau para tetangga saja
merasa tidak tenang tinggalnya, apalagi Maha Guru dan keluarganya.
Orang orang yang meng-antri diminta untuk mengambil nomor, tidak
perduli orang kaya, pejabat, orang terkenal, dan sebagainya. Urusan yang
sebenarnya sepele ini adakalanya tidak mudah pula. Adakalanya ada orang
orang yang berasal dari kota yang jauh. Pesawat terbang nya sudah akan
berangkat sehingga tidak bisa menunggu lebih lama lagi, namun
menyerobot orang lain yang nomor nya lebih awal juga akan merepotkan.
Setelah pindah ke Amerika Serikat, setiap kali membuka pintu atau
memandang dari jendela, Maha Guru hanya melihat jalan raya yang kosong.
Warga pergi bekerja di pagi hari. Tidak ada orang yang luntang-lantung di
jalanan. Pergi kemana-mana, tidak ada orang yang tahu bahwa orang yang
sedang berjalan lewat di depannya itu adalah seorang peramal ulung yang
sangat terkenal di Taiwan. Sungguh kehidupan yang sangat tenang.
Getaran Roh dan Burung
Dalam artikel ini, Maha Guru mengisahkan pengalaman unik sewaktu
beliau melihat burung burung beterbangan secara berkelompok. Suatu kali,
beliau sengaja membacakan mantra dan mengarahkannya kepada burung
burung yang beterbangan itu. Ternyata burung burung itu bisa menanggapi
pembacaan mantra nya. Mereka dapat terbang naik dan turun sesuai
dengan irama pembacaan mantra. Sangat indah sekali.
Sewaktu burung burung itu sedang mendarat, Maha Guru datang
menghampiri. Seekor burung kemudian mengeluarkan suara khas nya
sepertinya menyapa Maha Guru, kemudian terbang dengan indahnya
mendarat di tangan Maha Guru, mematuk-matuk telapak tangan Maha Guru,
serta berjalan berputar-putar di tangan. Maha Guru melihat mata si burung,
segera mengetahui bahwa burung ini mempunyai kecerdasan yang unik.
Dari kisah tentang burung ini, artikel berlanjut pada pembahasan
penggunaan telepati yang sedang dilakukan secara rahasia oleh Rusia.
Maha Guru berkomentar bahwa Rusia secara diam diam mengumpulkan
orang orang berbakat yang mempunyai kemampuan telepati.
Mereka kemudian dilatih tentang bagaimana menghipnotis ataupun
membuat orang tidur. Secara strategi militer, mereka bisa digunakan untuk
menyerang secara kebatinan (menyantet) pimpinan pihak lawan sehingga
membuat pimpinan itu membuat keputusan yang salah atau lambat.
Kisah Dewa Menampakkan Diri
Tuan Chen Ming Fung tinggal di Sakston, membuka sebuah motel.
Mengetahui bahwa saya pindah ke Amerika Serikat, ia khusus naik pesawat
terbang ke Seattle yang memakan waktu selama setengah jam.
Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya melihat roh. Ayah nya
bekerja di sebuah pabrik gula di Tai-Chung (Taiwan). Waktu itu, ia masih
sekolah di SMA. Pada libur tahunan, ia bekerja membantu ayahnya. Saat itu,
karena di pabrik gula sering terjadi pencurian tebu yang menimbulkan
kerugian yang cukup besar, maka pemilik pabrik mempekerjakan beberapa
Satpam malam hari.
Satpam malam biasanya tidak punya banyak kegiatan kecuali
menjawab telpon yang berdering. Pada suatu malam, ia melihat 2 orang
jahat berkeliaran dan langsung menghubungi Satpam. Akibatnya, ke 2
orang jahat itu berhasil ditangkap dan dikurung selama beberapa hari. Ke 2
orang jahat ini, bukannya bertobat, malah ingin membalas dendam. Chen
Ming Fung tidak menyadari niat jahat mereka.
Pada suatu malam, Chen Ming Fung sedang bertugas jaga. Pada
sekitar jam 1 malam, karena iseng, ia membaca buku sekolahnya.
Mendadak, ia melihat banyak sekali bintang bintang berjatuhan dari langit
sebelah barat. Pemandangannya sangat indah, seperti tetesan air hujan
yang berjatuhan. Ia berlari ke jendela untuk melihat dengan lebih jelas.
Ia melihat bintang bintang itu berjatuhan di tengah tengah kebun
tebu. Lalu, ditengah-tengah kebun tebu, naik segumpal awan putih. Dari
antara awan putih, tampak ada bayangan yang sedang bergerak. Ia berpikir,
mungkin ada orang jahat lagi yang ingin mencuri tebu. Ia langsung keluar
menuju tempat tersebut. Setelah mendekat, ia melihat wujud bayangan itu
dengan lebih jelas, seorang wanita berbaju putih.
Dilihat dari samping, rambutnya tersanggul tinggi, raut mukanya
anggun berwibawa, satu tangannya memegang kebutan, satu tangannya
lagi memegang bunga merah, terlihat sangat tenang, berdiri teguh tak
bergerak. Sewaktu ia melihat dengan lebih jelas lagi, astaga, ternyata badan
wanita itu cuma setengah, cuma ada bagian atasnya saja, badannya
mengambang di udara.
Ia mengira ini pasti cuma khayalan belaka sehingga memalingkan
muka sejenak ke tempat lain. Namun, setelah menengok lagi, ternyata ia
tetap melihat wanita cantik berbaju putih yang badan atasnya mengambang
di udara. Ia pikir, kalau bukan dewa, wanita itu pasti setan. Begitu terpikir
tentang setan, ia langsung gemetar dan merinding. Tiba tiba wujud itu hilang
lenyap. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Keesokan harinya, ia mengisahkan kejadian itu kepada ayahnya.
Bersama ayahnya, ia mengunjungi seorang kenalan ayahnya, seorang rahib
Tao yang mempunyai kemampuan paranormal. Sewaktu tiba di rumah si
rahib Tao, belum lagi mereka mulai berbicara, si rahib Tao sudah
berkomentar, "Ia adalah Ho Sien Ko, salah seorang dari 8 Dewa." Sang
rahib membawanya melihat gambar Ho Sien Ko.
Ternyata persis seperti wanita yang dilihatnya di kebun tebu itu.
Tapi, ini mana mungkin? Ho Sien Ko adalah dewa tingkat tinggi yang tidak
akan sembarang menampakkan diri pada sembarang orang. Pikirnya,
mengapa beliau menampakkan diri kepada orang awam seperti dirinya? Si
Rahib Tao menjelaskan kepadanya, "Chen Ming Fung, kau memang belum
ditakdirkan untuk mati. Itu sebabnya, dewa menolongmu.
Sebenarnya, yang terjadi adalah sebagai berikut. 2 orang jahat itu
ingin membalas dendam pada malam itu. Mumpung malam itu sangat gelap,
mereka menyelusup masuk. Di tangan, mereka membawa pisau tajam. Kali
ini, mereka bukan ingin mencuri tebu, tapi ingin membalas dendam
kepadamu. Waktu mereka tiba, ternyata tempat jaga dalam keadaan
kosong. Mereka tidak tahu bahwa kau sedang ada di kebun tebu. Mereka
sangat kesal dan mengeluarkan caci-maki karena kau demikian beruntung."
Chen Ming Fung dan ayahnya mengucapkan terima kasih kepada si
rahib Tao. Setelah Chen Ming Fung menyelidiki lebih lanjut, ternyata benar
bahwa 2 orang jahat itu telah menyatroni dirinya dan masih mencari
kesempatan lain untuk membalas dendam. Ia langsung berhenti bekerja
demi keselamatan dirinya.
Setelah ia beranjak dewasa dan lulus sekolah kepolisian, ia bekerja
di kepolisian bagian interogasi. Lalu, karena istrinya, ia akhirnya pindah ke
barat (luar negri) dan membuka motel dengan kesuksesan yang lumayan.
Sewaktu menjadi polisi, ia pernah belajar yudo. Di Amerika, ia juga
pernah bertemu dengan preman preman yang sengaja mencari gara gara.
Ia mampu mengalahkan mereka dengan ilmu yudo nya. Orang Amerika juga
makan makanan lembek. Kalau mereka ketemu jagoan, mereka juga bisa
keok terkencing-kencing.
Ini adalah kisah bagaimana dewa menampakkan diri untuk menolong
manusia. Sebagian orang yang lebih netral akan tertawa saja mendengar
kisah Chen Ming Fung. Sebagian orang lagi akan memanggilnya gila. Chen
Ming Fung khusus bolak-balik yang memakan waktu 10 jam hanya untuk
menceritakan pengalamannya ini kepada saya.
Saya tahu benar bahwa dewa mempunyai hati yang welas asih. Bila
mereka tidak welas asih, maka mereka sudah kehilangan akar kedewaan.
Seperti halnya Sakyamuni Budha dan Yesus. Keduanya bersedia lahir
kembali ke dunia manusia demi untuk menolong umat manusia. Banyak
Sangha suci (para arya) yang terlahir kembali demi umat manusia.
Saya sendiri telah beberapa kali lolos dari bahaya maut, semuanya
berkat bantuan dari para bodhisattva yang turun tangan membantu. Dalam
menolong, mereka tidak suka meninggalkan jejak sehingga orang orang
awam mengatakan bahwa kejadiannya hanya kebetulan saja.
Cara Meramal Gaya Maha Guru Lien Shen
Akhir bulan 10 merupakan hari raya Halloween's Day di Amerika,
bisa disebut hari raya setan. Seorang paranormal (dukun) terkenal, menurut
kabar berita, akan menyelenggarakan sebuah upacara besar di New York
pada hari tersebut. Para peserta club nya itu akan memakai kedok setan.
Dalam upacara itu, si dukun akan memanggil setan setan dari dunia roh.
Hal seperti ini menambah seram keseraman di hari Halloween's Day
pada tahun tersebut, membuatnya menjadi malam yang tak terlupakan. Si
dukun berkata bahwa nasib para peserta upacara bisa ditebaknya
berdasarkan baju yang mereka pakai. Dia menyambut lebih banyak orang
menghadiri acaranya itu. Pada malam tersebut, semua yang hadir
berpakaian setan yang menyeramkan. Ada yang seperti tukang sihir,
drakula berwajah putih pengisap darah, dan sebagainya.
Dari berita ini, yang saya perhatikan adalah bagaimana cara dukun
itu memanggil roh dan bagaimana caranya meramal. Saya amati bahwa
meramal dengan melihat baju orang merupakan metode biasa saja yang
mirip dengan penggunaan ciam-si.
Cara meramal gaya Maha Guru Lien Shen adalah dengan melihat
hawa (aura). Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang rohnya telah
terbangunkan. Ramalan dengan melihat hawa (aura) berbeda dengan
ramalan dengan melihat tulang, Pe-Ji (Pa-Ce), dan sebagainya.
Aura merah menandakan orang yang baik hati. Hawa putih
menandakan orang yang berlatih diri. Hawa (aura) emas menandakan orang
yang latihannya sudah berhasil. Hawa abu-abu juga disebut "sinar sial"
menandakan orang yang berhati sempit, suka menjahati orang lain secara
diam-diam.
Sinar ungu gelap menandakan hati yang sudah sesat. Ini disebut
sinar sesat. Sinar sesat juga bisa mengeluarkan hawa kehijau-hijauan (yang
gelap). Sinar hitam menandakan bahwa orang itu sudah bukan orang lagi,
sudah menjadi siluman. Ini juga disebut sinar siluman.
Sinar sinar ini bisa berubah sesuai hati kita. Jadi, seorang setan
jahat pun, bila terus berbuat baik, akhirnya kegelapan akan hilang berganti
terang. Bila setan melatih diri terus sampai memperoleh sinar oranye, ia
telah mencapai tingkat "kuiy sien" (dewa hantu; dewa alam bardo; Tu Ti
Kung termasuk kategori kuiy sien.)
Nasihat saya bagi orang jahat adalah "janganlah memasuki vihara
suci untuk minta sesuatu" karena bila aura nya terlihat oleh makhluk suci
tingkat tinggi, bukannya untung malah buntung. Bencana malah akan lebih
cepat datang. Itu sebabnya, sebagian orang sewaktu pergi ke vihara,
bukannya mendapat rejeki, malah mendapat bencana.
Saya menganjurkan orang supaya berhati baik dan ber-TAO tebal.
Sayang sekali, omongan saya jarang didengar orang. Sifat orang susah
diubah. Bisa bisa malah saya dihantam orang orang seperti ini. Danau dan
gunung masih bisa diubah, tapi hati orang lebih sulit lagi diubah. Ay, kasihan
sekali, kasihan sekali. Bagaimana menolongnya? [Demikian keluh kesah
Guru Junjungan kita.]
Pengalaman Meditasi Seorang Biksu Pertapa
Seorang biksu pertapa datang ke rumah saya. Ia memakai baju
kasaya coklat, berkulit hitam, berbadan kurus. Usianya 70 tahun lebih. Saya
begitu melihatnya, langsung mengenali siapa dia.
Dengan kikuk ia mengutarakan maksud kedatangannya, "Saya
datang dari Hawaii kesini karena ingin bertanya satu hal saja. Saya tidak
akan menyita banyak waktu anda yang berharga."
Tapi, karena saya tahu siapa dia dan sangat menghormatinya, saya
berbicara dengannya sampai sore hari.
Biksu pertapa ini memang pantas disebut "Maha Guru". Ia terkenal
baik di dalam negri maupun di luar negri. Upacara "Sila Bodhisattva" yang
telah ia pimpin sungguh banyak sekali. Sewaktu saya sampaikan kepadanya
niat saya untuk menuliskan pertemuan saya dengannya, ia menyatakan
tidak keberatan asal saja identitas dirinya dirahasiakan. "Kalau ada orang
mencurigai bahwa saya adalah orangnya, saya akan membantah."
"Bagaimana bante dapat mengetahui alamat saya?"
"Saya meminta tolong kepada seorang sesepuh di Taiwan. Sesepuh
itu harus melacak dan melakukan penyelidikan sampai 1 bulan penuh
sebelum mengetahui alamat orang tua anda yang setelah dihubungi --
kemudian memberitahu alamat anda. Mencari alamat anda, sungguh
melelahkan!"
Kisah biksu pertapa ini adalah sebagai berikut. Ia secara rutin
bermeditasi di ruang meditasi nya. Selama ini, acara meditasi nya selalu
berjalan wajar. Bila ia mengalami pengalaman yang tidak wajar, ia akan
segera bangkit berdiri berhenti bermeditasi. Tapi, pada suatu kali, ia
mengalami pengalaman yang unik.
Sewaktu duduk bermeditasi, ia merasa seolah-olah kepalanya
berputar. Ia tidak sempat lagi berdiri karena kakinya seolah-olah seperti
terikat. Badannya terasa berat dan tidak bisa bergerak. Kepalanya juga
terasa berat. Matanya tidak bisa dibuka. Ia merasa, badannya semakin
mengecil, seperti masuk ke lubang. Ia kemudian melihat bahwa di
sekelilingnya ada banyak makhluk yang berbulu lebat dan mempunyai
tangan dan kaki yang banyak.
Kepala dan matanya besar sekali. Giginya runcing bercaling.
Matanya melotot dan sangat menyeramkan. Mukanya seperti Dharmapala
Tantrayana yang sangat garang. Para makhluk itu sepertinya bisa terbang
pula. Entah darimana datangnya semua makhluk ini. Semua makhluk itu
terlihat seperti ingin menerkam dirinya. Ia hanya bisa membaca mantra
untuk melindungi diri. Ia segera terbangun dan mendapatkan dirinya
ternyata masih ada di ruang meditasi.
Semenjak saat itu, setiap kali ia bermeditasi, ia selalu mendapatkan
dirinya kembali ke negri makhluk aneh yang ingin memakannya itu sehingga
membuatnya takut. Keadaan ini terus berlangsung selama 1 bulan sehingga
membuat badannya kurus. Meski ia telah mencoba pergi ke dokter, tidak
ada hasil. Meski makan obat penenang yang diberikan dokter, tetap saja
tidak memberikan hasil.
Ia menguasai mudra dan mantra penakluk Mara. Namun, sewaktu
digunakan, tetap saja tidak manjur. Setelah semua cara sudah habis
dicobanya, akhirnya ia hanya bisa meminta tolong kepada Budha dengan
menyalakan 5 batang hio. Malamnya, ia bermimpi dan dibisiki, "Cari Lu
Sheng Yen, nanti anda akan tahu." Bisikan ini sampai diulang 3 kali. Setelah
terbangun, ia masih sangat ingat mimpinya itu. Tapi, ia tidak tahu siapa itu
Lu Sheng Yen. Dimana mencarinya di dunia yang luas ini?
Ternyata kemudian di sebuah vihara, ada seorang biksu yang
pernah mendengar nama Lu Sheng Yen. Murid dari biksu tersebut pernah
menyebutkan bahwa Lu Sheng Yen ini mengarang beberapa buku tentang
roh, sebagian orang di kalangan agama menganggapnya sesat, ada yang
setuju dengannya, ada pula yang mengeritiknya.
Seperti itulah. Setelah mendapat informasi ini, si biksu pertapa
langsung menulis surat ke Taiwan minta bantuan dalam mencari saya.
Sekarang ia bahkan khusus naik pesawat terbang menemui saya. Tadinya
ia ingin merahasiakan identitas dirinya, tapi saya sudah terlanjur
mengenalinya.
"Tuan Lu, dapatkan anda menjelaskan pengalaman meditasi yang
saya alami?"
Setelah saya menghitung dengan tangan, saya tertawa seraya
berkata, "Saya ucapkan selamat, bante. Karma buruk masa lalu anda sudah
hampir habis. Buah keberhasilan latihan sudah didepan mata. Tidak perlu
takut sedikitpun. Bila karma buruk ini telah habis, otomatis surga datang."
"Meskipun omongan tuan masuk diakal, apakah hanya diucapkan
untuk menghibur hati saya? Apa penjelasan anda tentang dewa dewa
berwujud aneh itu?"
"Itu bukan dewa. Itu adalah laba-laba. Di masa lalu, bante pernah
menjadi laba-laba. Karena sebagai laba-laba, bante dulu banyak memakan
serangga sehingga dalam kehidupan sekarang, bante harus melunasi
hutang karma ini. Itu sebabnya bante mengalami pengalaman aneh
tersebut. Sudah mengerti?"
Saya lanjutkan, "Asalkan membuat perisai pelindung diri (membuat
simabandhana -- perbatasan sakral), maka akan bisa melepaskan diri dari
rintangan ini. Bante coba saja setelah pulang."
Ia berterima kasih dan pamit. Setelah beberapa lama, ia menulis
surat kepada saya mengatakan, "Semua ternyata seperti yang telah tuan
duga. Ilusi yang saya alami telah hilang lenyap. Tuan adalah Guru saya."
Menjelaskan Sebab Sebab Berbagai Keanehan
Berikut ini surat dari seorang wanita bernama Chang Hoa yang
mengalami berbagai keanehan:
Master Lu, apa khabar? Saya membaca setiap buku anda sehingga
membuat pengetahuan saya tentang dunia roh bertambah. Sungguh saya
berterima kasih. Sudah lama saya ingin mengunjungi anda, tapi sayangnya
anda sudah menutup pintu tidak menerima tamu asing lagi. Baru kemarin
saya membeli buku anda yang terbaru.
Saya akui bahwa saya belum pernah secara serius mempelajari hal
roh yang terbangunkan (chi-ling). Namun, ada beberapa hal yang saya
alami yang membuat saya bingung.
Hal pertama adalah kejadian di sebuah vihara bernama Vihara Ti Mu
yang saya kunjungi sebelum hari raya tahun baru imlek. Pada saat saya
sembahyang, sewaktu saya mendongak melihat wajah patung dewa, saya
melihat tangan Dewa Ti Mu memegang sebuah Pat-Kwa yang berputar
sedemikian cepatnya sehingga memusingkan pandangan mata saya.
Sungguh aneh.
Hal kedua, saya di rumah memasang altar Thien Sang Seng Mu
(Dewi Matsu; Dewi Pelindung Pelaut yang sangat banyak dipuja di Taiwan).
Pada suatu kali, sewaktu saya berdoa di depan altar, saya melihat seorang
wanita cantik yang sedang duduk di kursi naga. Wajahnya sangat
berwibawa. Di belakang nya, ada 2 pengawal bermuka merah dan hijau.
Di depannya ada macan putih dari batu yang giginya terbuka dan
sedang berputar-putar. Apakah itu Thien Sang Seng Mu yang
menampakkan diri? Yang dibelakang Seng Mu, apakah si Mata Ribuan Km
dan si Telinga Ribuan Km, 2 pengawal dari Thien Sang Seng Mu? Apakah
macan putih itu merupakan mbah macan? Ataukah ini hanya khayalan saja?
Juga, sewaktu saya pulang dari vihara Ti Mu, saya membawa pulang
kitab "Pai I Shen Cou" (Mantra Kwan Im Baju Putih). Saya kemudian
membacanya dengan tulus. Di rupang Kwan Im, di sebelah kanan, rasanya
saya melihat mata yang seperti kelenengan dan mulutnya terbuka seperti
bayangan setan. Jadi, sekarang saya tidak membacanya lagi.
Hal selanjutnya, saya tinggal di sebuah rumah sewa yang sangat
aneh. Setelah matahari terbenam, saya sering melihat di jendela dan di
tembok rumah, ada sepasang pria wanita. Wajah wanita itu sangat cantik.
Rambutnya panjang, belah di tengah. Waktu ketawa, giginya indah sekali.
Sangat hidup. Di rumah itu, saya membuka salon. Di waktu kerja,
saya suka merasakan ada yang menarik baju saya. Adakalanya ada yang
membantu menutup pintu. Orang orang lain pun merasakan keanehan ini
meskipun tidak dapat melihatnya.
Meski saya tidak diganggu, saya mulai terpikir ingin pindah dari
rumah ini. Langsung pada malam itu juga saya bermimpi. Ada yang berkata,
"Jangan pindah rumah. Bisa bahaya!" Saya tetap tidak percaya akan mimpi
itu dan memutuskan pindah ke Tai Chung. Ternyata suami saya mengalami
kecelakaan mobil. Mobil hancur lebur, meskipun suami saya hanya luka
sedikit.
Mau tidak mau saya menjadi percaya. Sewaktu saya pindah lagi ke
kota semula, saya dapatkan bahwa rumah sewa itu tidak dihuni orang baru.
Menurut pemilik rumah sewa itu, semua orang yang datang ingin menyewa
menjadi tidak tertarik setelah datang. Sepertinya rumah sewa itu sedang
menunggu penghuni lama nya. Rupanya sepasang roh itu suka membuat
ulah.
Tahun ini, bulan 6, kami sembahyang Yao Che Cing Mu di kota Hua
Lien. Disana kami menemui seseorang yang rohnya sensitif. Saya
diberitahunya bahwa sepasang roh itu mati karena perahu nya terbalik.
Mereka minta bantuan di "chaotu" (didoakan arwahnya sehingga dapat
reinkarnasi lagi).
Mereka akan membalas budi dengan memajukan usaha saya. Saya
pun mendaftarkan nama mereka berdua untuk di "chao-tu" di Hua Lien.
Saya bisa melihat kehadiran sepasang roh itu. Sewaktu saya kembali ke
rumah, saya melihat ada seekor kuya yang mulutnya terbuka lebar. Saya
tidak mengerti apa maksud penglihatan ini.
Sewaktu saya masih di sekolah Menengah, saya gemar melukis,
terutama sekali melukis Bodhisattva. Saya pernah melukis Samantabhadra
Bodhisattva dan kemudian meng-altar-kannya. Sebelum saya lukis, saya
mandi dulu sampai bersih dan kemudian melukis dengan sepenuh hati.
Saya pernah bertanya di dalam hati, apakah Bodhisattva senang
saya meng-altar-kan lukisan nya? Saya minta dimimpikan. Ternyata saya
bermimpi tentang 3 ekor ikan yang lincah. Mereka menyemprotkan air
sampai ke langit. Apakah mimpi ini baik?
Saya hari ini telah menulis demikian panjang sehingga menganggu
ketenangan anda. Saya merasa tidak enak. Tapi, saya rasa Master Lu
adalah orang yang baik hati dan pasti memahami kebodohan saya ini.
Terima kasih atas kebaikan hati anda. Saya mohon petunjuk anda.
Terlampir check saya senilai $10. Mohon balasan surat dari anda.
Jawaban surat dari Maha Guru Lien Shen Lu Sheng Yen:
Bahwa anda melihat Pat-Kwa yang berputar di tangan dewa, itu
menunjukkan bahwa roh anda terbangunkan secara tidak disengaja tanpa
latihan resmi. Karena bakat masa lampau (jodoh dengan Budha), banyak
orang tidak perlu latihan "membangunkan roh" secara resmi pun sudah
mengalami hal roh yang terbangunkan. Ada orang yang hanya sekedar
nien-fo (menyebut nama Budha) sudah bisa melihat bunga teratai
beterbangan. Ini merupakan tanda roh terbangunkan secara seketika.
Mengenai melihat Seng-Mu, memang khayalan bisa timbul dari
pikiran.
Bila anda melihat bayangan setan sewaktu membaca sebuah
mantra, maka jangan memaksakan diri membaca mantra tersebut. Segala
sesuatu adalah berdasarkan jodoh. Carilah mantra yang semakin anda baca
-- membuat hati anda semakin terang.
Mengenai hal roh gentayangan, anda tidak perlu takut. Bila orang
mati penasaran, memang rohnya mudah tampak. Bila mereka minta di"chao-
tu", mereka berarti tidak bermaksud mengganggu anda. Bantulah mereka
dengan setulus hati. Kelak mereka akan membalas budi, bisa membuat
usaha anda menjadi maju.
Mengenai makhluk tak berwujud membantu makhluk berwujud, ini
adalah hal biasa di dunia roh. Bila mereka berhutang budi, maka mereka
akan balas budi. Bila mereka dendam, maka mereka akan balas dendam.
Kecelakaan mobil yang dialami suami anda belum tentu disebabkan oleh
mereka. Memang roh bisa tahu lebih dulu dibandingkan manusia sehingga
mereka memberi peringatan.
Roh wanita itu, karena meminta tolong kepada anda, maka membuat
rumah sewa itu tidak laku disewa orang lain untuk menunggu kembalinya
anda ke rumah itu. Ini masuk diakal. Setelah di "chao-tu", anda melihat kuya.
Saya sudah tanyakan hal ini kepada Bodhisattva.
Karena pahala ulambana (chaotu), mereka bisa terlahir kembali ke
dunia, tapi tidak langsung melainkan terlebih dahulu mereka akan terlahir
sebagai kuya. Ini memang rumit, tapi rasanya lebih baik jadi kuya sementara
waktu daripada terus gentayangan. Sewaktu kuya membuka mulut, mereka
sedang mengucapkan terima kasih kepada anda.
Orang yang berjodoh dengan Budha, bila melihat gambar Budha, di
hatinya akan timbul perasaan senang. Ini adalah akibat karma masa lalu.
Sewaktu melukis, tentunya akan merasa pas. Ketulusan hati anda, apalagi
mandi bersih terlebih dahulu, sudah tentu diketahui oleh Bodhisattva.
Lukisan anda itu sudah tidak perlu di kay-kuang (dibuka mata) karena setiap
goresan koas anda sudah merupakan kay-kuang. Lukisan anda sudah tentu
mengandung kekuatan roh.
Mengenai mimpi 3 ekor ikan yang menyemprotkan air ke langit, ini
adalah mimpi yang sangat baik. Ikan melambangkan keselamatan. Tiap
tahun anda akan bertambah sejahtera. Air adalah sumber uang,
menandakan terkabulnya keinginan anda. Latihan anda sudah berbuah. Ini
menggembirakan.
Patut dipuji. Akar kebajikan anda sangat dalam. Hati anda baik. Bila
anda bisa terus melatih diri, maka sukses anda di masa yang akan datang
sungguh tidak terbatas. Apalagi mata roh anda sudah terang, berarti pikiran
anda tidak macam macam. Saya memuji.
Obrolan tentang surga dan neraka
Tuan Ling dan tuan Li mengundang saya berbincang-bincang ke
rumahnya. Ada 4 putri nya. Yang sulung sekolah di Universitas Washington.
Ia bertanya tentang hal surga dan neraka. Inilah jawaban saya:
Surga dan neraka benar benar ada. Surga dan neraka adalah juga
ciptaan hati manusia. Hati sendiri bisa menciptakan surga, bisa menciptakan
neraka. Hati yang baik akan selalu merasa selamat sentosa. Meski tinggal di
gubuk sekalipun, hidup tetap terasa seperti di surga. Bila hati penuh
permusuhan, kebencian, dan dendam, meski kaya raya, tetap saja tidak bisa
tenang siang dan malam.
Tidak usah tanya saya dimana surga dan dimana neraka karena di
dunia manusia saja kita sudah bisa melihat surga dan neraka. Lahir di
daerah utara (seperti Eropah Utara yang merupakan tempat negara negara
maju dengan lingkungan yang bersih indah) adalah seperti terlahir di surga.
Lahir di selatan, Cina Timur, Korea adalah seperti lahir di neraka. [Umumnya
daerah miskin atau selalu berperang.] Jadi, dimana-mana ada surga dan
ada neraka.
Di buku-buku ada kisah tentang neraka cabut lidah, neraka lepas
kulit, dan neraka gunung pisau. Coba kita lihat rumah sakit dan ruang
operasi nya. Sewaktu orang dioperasi, bukankah itu pisau neraka? Sewaktu
orang tukar jantung, bukankah itu neraka?
Binatang ular yang saling berkelahi diantara sesamanya, berjalan
dengan perut, menganggap semua sebagai musuhnya, kalau dilihat
manusia langsung ingin membunuhnya karena menganggapnya tidak baik,
bukankah seperti hidup di neraka? Surga bagi manusia juga berarti
kebebasan. Neraka bisa berarti perbudakan, kemiskinan, saling bunuh.
Resonansi Getaran Roh
Untuk dapat menyentuh dunia roh, seseorang harus mengalami
getaran roh. [Roh harus terbangunkan.] Selain tubuh fisik, manusia juga
mempunyai tubuh roh yang tak terlihat mata fisik. Bila roh itu terbangunkan
(menjadi aktif), maka ia akan bisa merasakan getaran roh roh lain. Ini baru
disebut terjadi resonansi getaran roh.
Dalam dunia roh, ada dimensi roh tingkat tinggi sampai dimensi roh tingkat
rendah.Sayangnya setelah manusia terlahir kembali sebagai manusia,
karena batasan tubuh fisik, ia melupakan kehidupan masa lalunya sehingga
ia membantah adanya dunia roh. Bagi orang yang rohnya tidak
terbangunkan, memang roh tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar, tidak
dapat dirasakan, tidak dapat dibuktikan.
Orang yang rohnya sensitif (telah terbangunkan) akan dapat dengan
jelas merasakan bila menyentuh roh. Bila bertemu roh, terasa ada benturan.
Ini bukan perasaan khayalan, melainkan perasaan gesekan yang sangat
jelas terjadi. Misalnya begini. Manusia bisa merasakan embun meski tidak
melihatnya. Orang yang rohnya sensitif bisa merasakan roh beratus-ratus
kali lipat lebih jelas dibandingkan manusia merasakan embun.
Orang yang telah lama melatih rohnya tahu bagaimana menerima
daya roh yang disampaikan dan bagaimana menyalurkannya keluar lagi.
Roh jarang menampakkan diri kecuali ada alasan khusus. Manusia itu
seperti hawa yang dimasukkan ke dalam botol. Bila botolnya suatu saat
pecah, maka hawa akan kembali kepada hawa.
Orang yang rohnya sensitif, bila ingin berkomunikasi dengan orang
lain yang rohnya sensisitf, dapat menggunakan cara memikirkannya secara
terfokus. Daya konsentrasi ini bisa mencapai langit ke 9 dan neraka
terbawah. Bila daya konsentrasi tinggi, maka makhluk suci tingkat tinggi bisa
diundang. Bila daya konsentrasi lemah, hanya roh tingkat rendah saja yang
bisa diundang.
Roh mudah sekali menghubungi saya. Tanpa saya berpikir pun,
mereka bisa datang mencari saya. Misalnya, sewaktu saya sedang menulis
artikel, makan, ataupun mandi. Tidak perduli saya sedang mengerjakan apa,
mereka bisa langsung memberi pesan, terasa seperti ada tiupan hawa
ataupun baal. Ini sangat jelas terasa, bahkan terasa seperti benturan.
Dalam berkomunikasi dengan roh, diperlukan pula kode etik. Bila
saya sedang menulis artikel dan roh roh mencari saya, saya bisa terganggu
konsentrasinya. Karena itu saya katakan kepada mereka, "Kalau saya lagi
menulis, harap jangan ribut. Kalau bukan urusan penting, harap tidak
mengganggu." Roh roh tingkat tinggi juga bisa berkumpul dan memahami
pikiran manusia. Mereka berkomentar memuji saya, "Lu Sheng Yen ini
adalah orang yang berpikiran lurus.
Bila ada urusan apa, langsung bicara apa adanya. Bila melihat
sesuatu yang tidak beres di jalan, maka bisa langsung mencabut golok
seperti ksatria. Namun, hati nya lemah lembut dan berdiam saja bila
dirugikan orang. Hatinya lurus, tidak munafik. Namun, terhadap orang yang
merugikan Dharma Budha, tulisannya bisa seperti singa mengaum."
Saya pernah ikut dalam pertemuan para roh tingkat tinggi. Suasana
nya seperti di surga. Ada titik titik sinar terang seperti bintang bintang
berkelap kelip di malam hari. Mereka berkomunikasi dengan sinar. Ini tidak
bisa diuraikan dengan kata kata, tak terbayangkan oleh manusia awam.
Resonansi getaran roh benar benar ada. Kalau manusia sudah
mengalami getaran roh (rohnya menjadi aktif), baru bisa menyentuh dunia
roh. Indra ke 6 mengandalkan getaran roh (roh terbangunkan).
Mengetahui masa depan juga mengandalkan getaran roh. Untuk
dapat menghitung semua hal di dunia, juga mengandalkan getaran roh. Itu
sebabnya ramalan roh tak tertandingkan dibandingkan ilmu ilmu ramalan
biasa. Ramalan berdasarkan getaran roh bisa menggemparkan.
Menerima Ujian
Ada seorang arsitek dari kota Houston (Texas) bernama tuan Ciang
Ce Yung. Istrinya bermarga Cang. Pada suatu malam, si nyonya bermimpi
aneh. Ia melihat sinar sinar pelangi di angkasa dan seseorang yang berdiri
diatas awan berkata, "Saya Lu Sheng Yen."
Setelah bangun, ia memberitahu suaminya akan mimpinya itu. Si
nyonya mendapat firasat bahwa saya akan pergi ke Amerika dan bahwa
mereka akan mempunyai kesempatan untuk bertemu saya. Sang suami
hanya menganggap mimpi si nyonya sebagai fantasi belaka.
Suami istri ini adalah lulusan universitas Taiwan yang kemudian
melanjutkan pendidikan mereka di Amerika Serikat. Saya ingin memberitahu
pembaca bahwa saya sama sekali tidak mengenal mereka. Sebaliknya, si
nyonya mengenal saya karena buku buku saya rupanya juga dijual di kota
Houston (Texas, Amerika Serikat).
Setelah si nyonya bermimpi, tak lama kemudian ada orang yang
mengabarkan mereka lewat telpon bahwa Lu Sheng Yen sekarang tinggal di
Seattle. Maka, mereka berdua naik pesawat terbang selama 5 jam dari
Houston ke Seattle untuk menemui saya.
Tuan Ciang Ce Yung, si suami, berasal dari Cia-Yi, semenjak kecil
belajar pengetahuan modern, seumur hidupnya tidak percaya akan dunia
roh, menganggap pembicaraan tentang dunia roh sebagai pembicaraan
ngawur belaka, menganggap ramalan nasib sebagai permainan untuk
hiburan belaka.
Sebaliknya, si istri lebih berjodoh dengan Budha -- lebih baik
daripada tidak punya keyakinan sama sekali. Di pesawat terbang, si istri
menyodorkan buku saya kepada suaminya. Suaminya melirikpun tidak
kepada buku saya. Matanya terpusat pada majalah Time yang sedang
dibacanya.
Di rumah saya, Bodhisattva menghitung nasib si nyonya dengan 4
bait syair. Sepasang suami istri ini menjadi heran dan terkejut akan
ketepatannya.
Si nyonya berkata, "Tuan Lu, saya bukannya ingin menantang anda.
Hanya saja suami saya ini hanya percaya teknologi dan sangat meremehkan
dunia roh. Harap tuan bisa memberi bukti yang kuat kepadanya. Saya
sendiri juga masih ingin membuktikan sendiri setelah membaca buku buku
anda. Saya belum memberitahu anda berapa jumlah anak kami. Bisakah
anda menebaknya?"
Diuji seperti ini, meski telah saya alami berulang kali, tetap saja
membuat muka saya memerah. Saya kemudian meminta petunjuk
Bodhisattva. Dalam nasib, seharusnya ada 5 anak, tapi sekarang cuma ada
4. Hal ini saya tulis di kertas. Mereka saling pandang, tidak berkata apa apa,
sepertinya mengakui.
Lalu, si suami menulis alamat rumahnya meminta saya memerinci
keadaan rumahnya. Saya katakan, rumahnya sangat luas dan ditata dengan
mewah. Lokasinya pun bagus. Ada 3 pintu, satu jarang digunakan, satu
untuk tamu, dan satu lagi merupakan pintu belakang. Ada satu pintu di
balkon. Jumlah kamar ada 6.
Sepasang suami istri ini hanya manggut manggut saja.
Selain sebagai arsitek, si suami juga mempunyai usaha motel dan
mobil. Ia meminta saya mengomentari keadaan usaha motel dan mobil yang
digelutinya. Saya katakan "lumayan".
"Usaha mobil dan motel yang saya geluti dalam keadaan parah.
Bagaimana bisa dikatakan lumayan?"
Saya teliti lagi. Menurut hitungan, usaha mobil dan motelnya
sebenarnya bisa berjalan baik, hanya saja terlalu banyak pemegang saham,
sulit mengambil keputusan dengan tegas. Keuntungan hasil usaha
seharusnya di-investasi-kan kembali untuk memperluas usaha. Namun,
karena tidak disetujui para pemegang saham, kemajuan usaha menjadi
tersendat.
Keduanya sangat kagum akan ketepatan ramalan. Sebenarnya
bukan saya yang hebat, tapi para Bodhisattva dalam sekejab telah
memeriksa dan memberitahu saya. Pertanyaan dari mereka banyak sekali,
termasuk untuk sanak keluarga mereka.
Saya pun diminta melakukan "kay-kuang" (buka mata) patung Kwan
Im dan Dewa Bumi yang mereka bawa. Melayani mereka menyita waktu dari
jam 8 pagi sampai jam 11:30 siang. Jumlah pertanyaan mereka kalau bukan
100, paling sedikit
50. Namun, rupanya mereka sangat puas. Kami kemudian pergi makan di
restoran.
Si suami berkata, "Sesungguhnya pernah ada orang di Houston
meminta saya membantu dalam pembangunan vihara di Houston. Waktu itu
saya tolak karena saya tidak percaya akan agama dan dunia roh.
Sekarang, saya berubah pikiran. Saya akan berusaha membantu
mereka. Saya pun ingin membantu pembangunan vihara Ling-Xian (Markas
Ling-Xian) di Seattle." Rupanya tuan Ciang Ce Yung telah menjadi mulai
berjodoh dengan Budha.
Malam Hari Di Sydney
Suatu kali saya ada di Sydney (Australia) bersama dengan seorang
teman seperjalanan, tuan Lim Yung Mao. Kami tinggal di sebuah hotel yang
dekat taman dan dilengkapi restoran.
Di malam hari, saya terbangun dan melihat ke arah Lim Yung Mao.
Saya melihat ada 1 orang berdiri dihadapannya. Ia tinggi besar sampai
kepalanya mencapai plafon, berpakaian lengkap. Herannya, mukanya
adalah muka Lim Yung Mao. Rupanya, itu adalah roh dari Lim Yung Mao
yang akan pergi meninggalkan kamar. Roh adalah semacam hawa sehingga
bisa menembus pintu.
Meski saya berkawan baik dengan Lim Yung Mao, saya jarang
bepergian bersamanya. Jadi, saya tidak mengetahui keadaan dirinya ini.
Keesokan harinya, saya bertanya kepadanya, "Bagaimana tidurmu?"
"Mengenai hal tidur, diri saya ini aneh. Saya tidak pernah bisa tidur
nyenyak. Saya selalu bermimpi buruk."
"Mimpi apa?"
"Saya sering bermimpi saya berkeliaran ke tempat tempat yang jauh
dan melihat berbagai keanehan. Tiap kali saya bangun, saya merasa badan
saya sakitsakitan. Saya sudah mencoba pergi ke dokter, tapi dokter juga
tidak mengerti. Saya hanya diberi obat tidur. Meski makan obat tidur, tetap
saja saya bermimpi seperti itu lagi. Ini sudah berlangsung selama bertahun
tahun."
Saya berkata, "Saya melihat roh anda pergi keluar berkelana."
Masalah yang dihadapi Lim Yung Mao adalah adanya roh roh yang
mengisap energi (chi) nya selagi tidur. Karena ia telah kehilangan banyak
hawa murni, maka rohnya pun ikut membuyar sehingga suka berkeliaran.
Setiap malam, sewaktu rohnya keluar, hawa murni nya dicuri roh roh lain
sehingga membuatnya tak bertenaga dan selalu loyo.
Saya juga menghitung nasib masa depannya. Kabar baiknya, ia bisa
mendapat putra. Sekarang ia sudah punya 2 putri. Kabar yang tidak baik,
pada bulan 7, ia akan mengalami perkara di pengadilan. Mengenai ramalan
saya ini, Lim hanya tertawa saja tidak percaya.
Ia merasa, selama hidup, ia tidak pernah melanggar hukum, selalu
menjaga pergaulannya, gemar membantu orang lain. Jadi, bagaimana
mungkin ia akan mengalami perkara di pengadilan?
Ternyata memang benar di bulan ke 7, Lim dengan gugup datang
mencari saya. Pabriknya membuat tas kulit. Ada seorang managernya
bermarga Sing melakukan korupsi, menjual produk tanpa sepengetahuan
pabrik. Sebenarnya Lim merupakan bintang penolong si manager itu.
Namun, air susu dibalas dengan air tuba. Sikap baik Lim dianggap sebagai
kebodohan yang bisa dimanfaatkan nya. Itu sebabnya terjadi perkara
pengadilan. Juga, Lim memang mendapat seorang putra.
Menasihati Pemalsu Nama
Di dalam artikel ini, ada seorang bocah dari Taiwan menulis surat
kepada Maha Guru melaporkan tentang adanya orang yang menggunakan
nama "Lu Sheng Yen" untuk berprofesi paranormal dengan memungut tarif
yang sangat berlebihan.
Maha Guru kemudian memberikan komentar yang panjang lebar
yang bersifat nasihat kepada orang yang memalsukan nama nya itu.
Disini, kami hanya menampilkan beberapa komentar beliau. Beliau
mengatakan bahwa beliau tidak marah dipalsukan nama nya, bahkan
merasa betapa kalau seseorang sampai mau menggunakan nama nya,
berarti nama tersebut mempunyai nilai tersendiri.
Beliau menasihati si pemalsu nama untuk belajar dengan sungguh
sungguh sehingga bukan hanya pantas disebut "Lu Sheng Yen" malah
dapat mengungguli kemampuan orang yang asli.
Beliau juga menasihati si pemalsu nama untuk kiranya jangan
terbuai oleh uang dan jangan menipu wanita. Di Taiwan, rupanya sering
terjadi medium memperkosa pasien nya yang wanita setelah berada di
kamar berduaan saja. Si pasien wanita, karena malu, tidak berani
mengungkapkan musibah yang menimpanya.
Nonton Acara Kesenian Bersama Para Bodhisattva
Bulan 10 tanggal 28 jam 10 malam, bel pintu berbunyi. Rupanya
datang beberapa orang yang membawakan kami beberapa lembar karcis
masuk untuk menonton acara kesenian.
Mereka berkata, "Stasiun TV Taiwan mengadakan acara malam
kesenian di hari peringatan ulang tahun Chiang Kai Sek untuk menghibur
para Hoakiau (orang Tionghoa perantauan). Karcis ini tidak gratis. Kursi VIP
berharga $12. Kursi kelas menengah $8. Kursi kelas ekonomi bawah $4.
Tapi, kalian kami berikan beberapa lembar karcis gratis, meskipun bukan
untuk kursi VIP. Harap kalian bisa datang."
Bicara terus terang, acara kesenian ini mungkin membosankan bagi
orang orang yang tinggal di Taiwan. Tapi, bila grup kesenian ini telah jauh
jauh datang ke Amerika, apalagi kami diberikan karcis gratis, maka tidak
enak perasaan kami bila tidak pergi. Itu sebabnya kami akhirnya pergi
menonton.
Lokasi acara kesenian ini ada di Seattle, di jalan "Olive Avenue".
Gedung nya megah dan kuno. Ini adalah untuk pertama kalinya saya
mengunjungi gedung ini sehingga saya meluangkan waktu memperhatikan
bangunan dan dekorasi nya. Saya amati bahwa tempat VIP ada di loteng,
dilengkapi dengan meja makan panjang dengan lilin menyala. Makanan ala
Barat telah dihidangkan.
Suasana nya terlihat "kelas tinggi", sambil santai bisa makan.
Tempat kelas 2 berbentuk meja meja yang berukuran panjang sekali,
dengan sedikit ruang gerak. Ada hidangan kopi dan buah-buahan.
Tempat kelas ekonomi kebawah ada di lantai 3, tidak disediakan
meja dan makanan, hanya ada kursi kursi seperti di gedung bioskop. Hal
yang baik tentang lantai 3 adalah bisa memandang seluruh ruangan secara
lebih jelas. Saya dapatkan semua lantai berkarpet.
Yang paling menarik perhatian dari semua ini adalah adanya lampu
lampu gantung yang besar di plafon. Lampu lampu gantung itu sangat besar
dan indah bagaikan yang ada di istana Tiongkok.
Sewaktu saya duduk, saya sedikit pusing karena sorotan sinar lampu
gantung menutupi pandangan mata saya ke panggung. Saya pikir, "Celaka!
Mau lihat acara kesenian, malah hanya bisa melihat terang lampu gantung."
Saya tadinya berpikir untuk berpindah tempat ke lantai 3, tapi
ternyata semua kursi sudah terisi. Jadi, saya hanya bisa bengong
memandangi lampu gantung. Tiba tiba ada suara kecil berbisik, "Jangan
tegang. Setelah acara dimulai, lampu lampu gantung itu secara otomatis
akan dinaikkan ke atas." Mendengar suara ini, saya senang sekali.
Rupanya para Bodhisattva yang saya setiap hari puja ikut datang
menonton bersama saya. Apa karena saking kesepian nya di Amerika, para
Bodhisattva ikutikutan nonton acara kesenian? Ternyata memang benar.
Begitu acara dimulai, lampu lampu gantung otomatis naik ke atas.
Tepuk tangan bergemuruh. Saya merasakan betapa kekuatan para
Bodhisattva sungguh tak terbayangkan.
Saya melihat para Bodhisattva duduk di atas lampu lampu gantung
dengan gaya yang berwibawa sekali. Di setiap sinar lampu, ada 1
bodhisattva sehingga jelmaan para Bodhisattva sungguh tak terhitung
banyaknya.
Setiap bodhisattva memancarkan sinar yang berwarna-warni. Saya
pikir, para hadirin tidak menyadari bahwa mereka telah dimandikan dan
dilindungi oleh sinar para Bodhisattva. Sungguh ajaib.
[Selanjutnya, Maha Guru menyebutkan beberapa nama anggota tim
kesenian. Nama nama yang disebutkan rupanya termasuk penyanyi
penyanyi yang cukup tersohor di negri Taiwan.]
Para pembaca mungkin heran bahwa para Bodhisattva juga bisa ikut
menonton acara kesenian. Apakah mereka benar bisa menikmatinya? Saya
ingin jelaskan disini, para Budha dan Bodhisattva adalah makhluk makhluk
yang telah bebas dari tumimbal lahir. Mereka bisa dibilang ada, juga bisa
dibilang tidak ada. Para Budha dan Bodhisattva sudah di luar dunia tapi juga
ada di dalam dunia.
Mereka boleh pergi kemanapun sesuka hati mereka tanpa
pantangan. Semua Maha Bodhisattva memang demikian adanya. Manusia
awam masih harus mengikuti peraturan dan larangan tertentu, tapi bagi para
Bodhisattva, mereka boleh pergi kemana saja, bahkan boleh berdisko
karena mereka sudah terlepas dari kemelekatan duniawi, sudah tidak lagi
terikat pada birahi dan cinta asmara.
Sewaktu saya di Taiwan, saya senang pergi ke pasar malam yang
suasana nya ramai sekali. Ada yang menjual makanan, koyo, perhiasan.
Manusia penuh bagaikan air laut. Para Budha dan Bodhisattva adakalanya
ikut saya jalan jalan ke pasar malam.
Mereka juga bisa bertepuk tangan dan berteriak, "Bagus. Bagus!"
Dunia manusia memang kotor, tapi mana mungkin bisa mengotori hati para
Budha dan Bodhisattva. Kalau mereka begitu mudah terkotori, berarti
mereka bukan Budha dan Bodhisattva.
Dengan mengikuti irama dan gaya hidup manusia secara wajar,
barulah mereka bisa menyelamatkan umat. Kalau mereka menjaga jarak
dengan manusia dan tidak mau tinggal di dunia manusia, mana bisa para
umat menerima dan merasakan makna pelajaran dari mereka.
Kasus U- Fe- Ling dan Bagaimana Menghadapi Fitnah
Di koran "Harian Dunia", ada berita mengenai peresmian vihara "Cin
San Fo Tao". Saya pun mengirim surat ke vihara itu untuk memberi
persembahan kepada "Tri-Suci di Barat" (Amitabha, Kwan Im,
Mahasthamaprapta Bodhisattva). Sewaktu saya menerima balasan suratnya,
saya menerima beberapa gambar Budha dan Bodhisattva. Disamping itu,
juga diselipkan kartu nama dari Rahib Taois bernama U-Fe-Ling.
Rupanya rahib ini sudah mengenal saya. U-Fe-Ling memberikan
bimbingan Dharma di vihara tersebut. Jasa nya besar dalam penyebaran
Dharma Budha Taoisme, merupakan penceramah dharma yang aktif. Ia
pernah bergabung dengan sebuah kelompok di Hongkong, namun
kemudian berpisah karena konflik. Muncullah sebuah buku kecil yang
mengeritik U-Fe-Ling.
Tuduhan berat terhadapnya yang dituliskan dalam buku kecil itu
adalah "suka wanita". U-Fe-Ling segera membantah tuduhan ini lewat
suratkabar dan menggugat. Rahib Yu-Ce-Cai balik menggugat. Keduanya
saling menuntut meminta ganti rugi. Merasa namanya dicemarkan, U-Fe-
Ling menulis sebagai berikut, "Banyak urusan di dunia ini berbelit-belit. Putih
dan hitam susah dibedakan.
Dewa, dalam menjalankan tugasnya, berprinsip tidak boleh
melanggar hati nurani sendiri. Yang penting, langit tahu hal yang
sebenarnya. Mata dewa pasti dapat melihat dengan cepat siapa yang
menyerang dari tempat gelap. Kalau kebenaran tidak ada di dalam hati,
mana bisa mengatakan diri sendiri bersih. Hitam putih nya seseorang, hanya
langit yang tahu dan yang akan menghakimi.
Bila sudah tahu hukum karma dan masih melanggarnya juga, itu
berarti bunuh diri. Sungguh tidak perlu menyebar isu, gosip, dan fitnah
kepada masyarakat luas seperti di dunia politik, perfilman, ataupun dunia
dagang. Orang suci yang telah bebas dari tumimbal lahir pun harus
mengalami kesulitan ini bila ada di dunia manusia."
Sebagai pembaca, saya mempunyai beberapa perasaan di dalam
hati tentang hal ini yang berikut ini akan saya uraikan. Saya menasihati U-
Fe-Ling, anggaplah fitnah sebagai hal biasa, janganlah menghiraukannya.
Semua orang besar dalam sejarah dan para manusia dewa di dunia ini
seringkali terkena fitnah dalam hidupnya. Nabi Konghucu pun
mengalaminya. Apalagi, di jaman sekarang.
Saya berpendapat bahwa karakteristik sadhaka adalah berdiam diri,
hanya berpikir tentang pelatihan diri sendiri dan pembabaran Dharma, hidup
di tempat yang sepi dan hening. Itu sebabnya, pertapa jaman dulu suka
menyepi dengan bersembunyi di gunung. Janganlah seperti Lin Yun yang
berjalan berlawanan dengan Tao, justru ingin mencari perhatian. Harus
dimengerti bahwa hidup sadhaka dan hidup seorang bintang film berbeda
adanya.
Seorang sadhaka tidak perlu ribut ribut dan memamerkan diri
sehingga membuat umat Budha menjadi salah paham. Sadhaka sejati
menyadari bahwa hidup ini hanyalah sementara. Nama dan kedudukan di
dunia manusia tidaklah kekal bagaikan awan di langit. Umur manusia pun
maksimal cuma 100 tahun.
Cepat atau lambat, manusia akan berpulang dengan tangan kosong.
Tuduhan orang tidak perlu dibalas. Sadhaka sejati meninggalkan
keduniawian. Bila nama sendiri dirugikan/dicemarkan, jangan hiraukan. Bila
diomeli, dicaci-maki, jangan hiraukan. Apapun yang terjadi, jangan hiraukan.
Memang orang duniawi mati-matian melekat pada reputasi nama baiknya
dan kedudukan nya sehingga sewaktu mereka kehilangan hal hal ini,
mereka demikian menderitanya sehingga merasa lebih baik mati saja.
Sebaliknya, sadhaka sejati sudah bisa mengatasi hal reputasi, keuntungan
uang, dan kedudukan, telah sukses dalam mencapai Tao sehingga tak ada
sesuatupun hal di dunia yang dapat mengikatnya. Itulah orang nomor 1.
Kasus U-Fe-Ling ini membuat saya teringat akan masa lalu saya.
Saya telah pula difitnah dan dikecam oleh kalangan budaya dan agama.
Saya dituduh ingin membuat revolusi agama. Terus terang, ombak besar
dan tantangan yang saya alami sungguh sulit ditandingi.
Bila orang awam menghadapi rintangan rintangan yang saya alami
itu, mungkin mereka sudah mati kesal. Namun, saya tetap bisa bertahan.
Meskipun saya difitnah, baik secara sembunyi maupun secara terbuka, saya
tetap tak tergoyahkan.
Makhluk suci tingkat tinggi mengajarkan, untuk mendapatkan
kesejukan jiwa, berlatihlah sampai tak ada api permusuhan. Bila masih ada
api permusuhan, maka anda tidak akan bisa mencapai tempat yang sejuk
dan tenang, anda hanya bisa mencapai alam jin (asura) yang terus saling
berkelahi, terus saling adu kekuatan, dan terus tidak pernah bisa tenang
Hantu Hantu Di Sebuah Bangunan Angker
Artikel ini hanya mengisahkan tentang sebuah bangunan angker di
Hongkong yang disebut bangunan Mei Li. Konon banyak hantu nya. Pernah
ada orang yang tidak percaya kemudian dengan sengaja berjalan-jalan di
sebuah lorong gelap dalam bangunan itu. Ketika kemudian ia ingin ke WC
dan membuka pintu toilet, jantung nya hampir copot melihat sebuah makhluk
berbaju putih yang memelototinya.
Dari kisah di bangunan Mei Li, Maha Guru berkomentar bahwa
peperangan menimbulkan banyak masalah tambahan. Akibat perang,
banyak orang yang mati terbunuh dan mati penasaran. Mereka kemudian
menjadi hantu gentayangan yang bisa mengganggu manusia.
30. Cara Mendapat Mata Dewa
Pada suatu malam, saya berdiri di altar dan menengadah ke
angkasa memandang bintang. Hawa terasa sangat sejuk. Bintang berkelap-
kelip. Perasaan saya adalah sepertinya ingin menunggangi angin terbang
ke angkasa. Sekujur badan terasa ringan mengambang.
Waktu untuk melihat bintang, paling baik adalah jam 3-4 subuh pagi
karena terlihat sangat terang dan tak ada embun. Di atas, saya melihat
bintang yang "ciong" pada saya perlahan-lahan menjauh, sebaliknya ada
bintang yang mengeluarkan sinar biru sebagai pertanda masa yang paling
tenang dan paling tidak ada urusan, masa untuk berlatih diri.
Saya memasang hio, membaca sutra dan mantra, dengan tenang
bermeditasi. Di kejauhan langit, terlihat sebuah bintang. Saya gembira
melihatnya karena bintang ini merupakan kawan lama saya. 2 tahun yang
lalu karena ditutupi embun, nasibnya tidak terbuka. Hari ini, saya melihatnya
bersinar indah, sungguh menggembirakan.
Tiba tiba saya teringat akan Maha Dwikolam Teratai, Alam
Sukhawati. Mata gaib saya menyorotkan sinar emas. Semua di sekeliling
saya sudah tidak terlihat lagi, telah berubah menjadi Maha Dwikolam Teratai
dengan 18 teratai yang bersinar terang, dengan angin Tao yang
mengalunkan musik dan wangi aromanya, sungguh tak bertepi tempat suci
ini, semuanya damai sentosa adanya.
Keindahan nya tak terungkapkan dengan kata kata. Terus terang,
saya sudah bosan dan lelah tinggal di dunia manusia. Saya berusaha selalu
berbaik hati dan tidak pernah mau berkonflik dengan orang lain, tetapi
orang orang di sekeliling bisa membuat saya merasa bahwa hati manusia
begitu hina dan kotor.
Saya terus menjaga pikiran yang baik. Itu sebabnya saya mendapat
mata gaib (mata langit). Istana langit dimanapun juga, bila saya ingin lihat,
maka akan terlihat.
Ada yang bertanya, bagaimana caranya membuka mata gaib?
"Kawan, bukalah dengan menggunakan hatimu. Hatimu janganlah
sempit, jangan jahat, jangan busuk, jangan ego, jangan berat sebelah. Ini
adalah sebuah syarat untuk dapat membuka mata gaib. Hati yang tidak
terbatas dapat membungkus seluruh alam semesta. Mempunyai hati yang
tidak terbatas, barulah pantas bermata gaib."
Saya berdesah melihat orang orang yang kebelet ingin punya mata
gaib tapi yang hatinya sangat sempit. Begitu sempitnya hatinya sehingga
sebutir pasir pun tidak bisa masuk. Mereka hanya tahu mengejar harta,
gengsi, dan kedudukan.
Orang orang seperti ini, bila ingin mempunyai mata gaib, adalah
bagaikan punguk merindukan bulan, sungguh mustahil. Hatimu tidak boleh
jahat, tidak boleh kotor, tidak boleh sesat. Kalau hatimu sesat, keinginan
hatimu sesat pula. Pikiran yang tidak bersih bagaikan ada embun menutupi
mata, bagaikan kambing yang sedang tersesat.
Kalau hati jahat tapi punya mata dewa, bukankah ini menggelikan?
Hati yang busuk itu ribuan kilometer jauhnya dari mata gaib. Orang berhati
busuk, jadi manusia saja tidak pantas, apalagi bermimpi ingin mempunyai
mata gaib, sungguh mimpi di siang hari bolong.
Memang ada mantra dan Hu untuk membuka mata gaib. Tapi 2 hal
ini tidak akan sembarangan saya beritahukan orang lain. Untuk mendapat
mantra dan Hu ini, harus terlebih dahulu memiliki HATI LANGIT sebagai
persyaratan nya.
Orang yang tidak tahu apa apa, asal mempunyai sifat dewa, maka ia
pun bisa langsung mendapat mata dewa. Kalau sebelumnya ia tidak bersifat
dewa, maka latihlah diri mulai dari mula. Bila belum berhati dewa, maka
hanya akan melihat secara remang-remang. Bila hati manusia dan hati langit
telah menyatu, barulah bisa melihat dengan tegas. Apapun bisa dilihat.
Saya sama sekali tidak bicara bohong. Bila semua energi telah
terkonsentrasi pada mata, maka akan terlihat terang. Pada mulanya akan
seperti melihat kunang kunang, sebentar terang sebentar gelap. Setelah
lama, akhirnya terlihat jelas. Sadhaka harus berlatih sampai dapat melihat
jelas apakah matanya terpejam ataupun terbuka.
Membuka mata gaib, ada 2 syaratnya. Yang pertama, telah dapat
menerima getaran Yang Kuasa (berhati langit). Yang kedua, memfokuskan
kesadaran pada mata.
Syarat kedua ini lebih mudah karena cukup banyak orang yang
rohnya telah terbangunkan. Setelah latihan nya cukup, cepat atau lambat
akan memperoleh mata dewa. Ini memerlukan keteguhan. Kelak otomatis
mendapat sendiri.
Syarat pertama yang lebih sulit untuk dipenuhi. Mencari satu orang
saja pun di dunia ini yang bertulang dewa dan yang belum ternoda oleh
kotoran duniawi, susahnya luar biasa. Cari 1 orang saja yang berakar baik,
sudah susah sekali, jauh lebih susah dari naik ke langit.
Mau dapat mata gaib, gampang dibicarakan, tapi sulit dilaksanakan.
Melihat Terang Di dalam
Guru saya, Rahib Taois Ching-Chen tinggal di gunung Lien-tou.
Pada suatu malam, sewaktu saya mengunjungi beliau, saya melihat beliau
sedang duduk bermeditasi. Ruang meditasi nya gelap, namun sekeliling
tubuhnya (jarak 1 cm) bersinar terang yang halus seperti jala.
Sewaktu guru melihat saya, beliau lalu bangkit berdiri, sinar pun
hilang lenyap. Kata Guru, "Tubuh manusia memang memiliki sinar. Taoisme
menyebutnya Roh Sejati. Budhisme menyebutnya sifat kebudhaan. Seorang
sadhaka sejati, cepat atau lambat, akan kembali ke sifat asal, akan
memahami sumber terang, meninggalkan kotoran duniawi, kembali ke
tempat asal."
Saya pernah pula bertemu dengan seseorang yang tubuhnya
memancarkan sinar meskipun ia bukan seorang yang melatih diri.
Pengetahuan nya pun rendah. Herannya, begitu ia duduk di tempat gelap,
tubuhnya dapat bersinar.
Saya pun tadinya tidak mengerti mengapa demikian. Setelah saya
selidiki lebih jauh, ternyata dalam kehidupan lampau nya, ia adalah seekor
kunang-kunang. Pantas saja bisa bersinar, namun orang seperti ini sungguh
jarang ditemukan.
Saya pun pernah melihat seorang biksu yang tubuhnya
memancarkan sinar. Banyak orang yang mengetahui kemampuannya,
meskipun ia jarang sekali memamerkannya, hanya sekali sekali sewaktu ia
sedang bersenang hati saja. Adakalanya sewaktu ia sedang berceramah
dharma, tubuhnya dapat bersinar sehingga orang orang yang melihatnya
sangat senang. Banyak saksi yang melihat peristiwa ini.
Bukan cuma para Bodhisattva saja yang kepala nya memancarkan
sinar terang. Bunda Maria, Allah Yehova, dan Yesus, serta segala dewa
juga memancarkan lingkaran sinar terang. Lingkaran sinar ini sangat
bernilai, menandakan buah keberhasilan latihan. Pada makhluk tingkat
tinggi, bukan hanya kepala nya saja yang memancarkan sinar terang, tapi
seluruh tubuhnya juga.
Saya akui bahwa sewaktu roh saya keluar dari badan, di kepala saya
ada sinar terang terutama sekali berwarna ungu muda. Sewaktu saya
mengkonsentrasikan kekuatan roh di ujung jari sewaktu memegang pen
untuk menulis di kertas, maka akan ada sinar terang keluar ke kertas.
Jadi, pen yang saya pegang pun bisa mengandung kekuatan roh.
Kalau saya memegang gelas, sinar bisa masuk ke air, membuat air di gelas
memiliki kekuatan roh. Sewaktu saya melakukan kay-kuang patung, terlebih
dahulu saya melakukan pembersihan dengan sinar, sebelum saya
mengundang makhluk suci tingkat tinggi untuk turun ke patung.
Di buku "Ilmu Ilmu Rahasia Taoisme Dalam Berkomunikasi Dengan
Roh", saya sudah menulis tatacara sebagai berikut: Lidah dinaikkan ke
langit langit mulut.
Bayangkan diri sendiri sebagai Budha yang berwibawa dengan sekujur
tubuh memancarkan sinar emas. Hidung menghirup sinar emas, masukkan
ke perut, ke atas sampai ke Niwan, kebawah sampai ke Pao Ping. Setelah
itu, hirup napas lagi. Air ludah ditelan. Saat demikian, dalam hati membaca
"Mantra Sinar Emas" sebagai berikut:
Metode penghirupan hawa seperti ini akan menambah sinar tubuh
sehingga menjadi terang. Mantra Sinar Emas dibaca selama 48 "waktu".
Tangan harus membentuk mudra Sinar Luas (Hao Kuang Ing) sebagai
berikut: Jari tengah dan jari manis kedua tangan masuk ke dalam telapak.
Jari kelingking dan jari telunjuk kedua tangan berdiri tegak saling
menyentuh. Jari jempol berdiri berdampingan menekan punggung jari
tengah. Begitulah cara melatih terang tubuh.
Juga ada cara yang tidak berbentuk yaitu dengan meditasi dan
perenungan. Selain mengandalkan kekuatan luar, hati sendiri pun harus
bisa memancarkan sinar terang. Bila senantiasa memusatkan pikiran pada
hal hal yang baik, maka sinar terang akan muncul.
Orang yang tidak melatih diri, seperti dalam kegelapan. Orang orang
yang selalu egois, mengejar keuntungan diri sendiri, mengejar kedudukan
dan ketenaran, yang tidak memperdulikan orang lain, yang suka menyakiti
orang lain, orang orang seperti ini memancarkan hawa hitam di atas kepala
nya.
Hati kita haruslah terang bersih, tingkah laku haruslah lurus, tidak
boleh ada hati yang ingin mencelakakan orang lain, sekuat hati selalu ingin
membantu orang lain, setiap hari pasrah alamiah sesuai jodoh. Bila ada
orang jahat tidak mau berhenti mengganggu kita, kita harus dapat bertahan,
dua kali bertahan, tiga kali bertahan, terus bertahan.
Kalau sampai sudah tidak tahan dan mereka pun masih belum mau
bertobat juga, maka boleh menggunakan pedang Raja Vajra (Cing Kang
Wang) untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan. Bila orang
sudah sejahat demikian, maka sudah jangan sungkan sungkan lagi.
Melihat sinar di dalam berarti merenungkan kesalahan diri sendiri,
senantiasa memperbaiki diri dari sifat sifat yang buruk, selalu berkonsentrasi
pada hal hal yang baik.
Saya sendiri selalu berusaha untuk welas asih dan menolong dunia,
tapi setelah menahan diri ratusan kali, bila orang jahat terlalu memaksa,
maka saya akan meminta Pedang Raja Vajra untuk turun tangan membasmi
kejahatan.
Mendengar Suara Internal
Ada banyak pembaca bertanya kepada saya, apakah para dewa di
Amerika Serikat bisa berbicara dalam bahasa Mandarin? Saya katakan,
tentu saja mereka bicara dalam bahasa Inggris. Yesus adalah orang Israel
yang berbahasa Ibrani. Tapi, rintangan bahasa bukanlah masalah.
Meskipun bahasa Inggris saya memang tidak istimewa dan hanya cukup
sekedar untuk keperluan sehari-hari, saya bisa menggunakan bahasa hati.
Di dalam tubuh manusia, ada banyak suara seperti suara jantung,
usus, tulang siku-siku, peredaran darah, pernapasan, kantong nasi, ginjal,
paru-paru, dan sebagainya. Coba lihat dokter yang menggunakan
stetoskop. Dengan mendengar suara di dalam, ia bisa mengetahui kelainan
dalam tubuh dan mengusulkan obatnya. Bila melatih mendengar suara di
dalam sampai mahir, maka kita akan bisa mendengar suara jantung,
pernapasan, dan sebagainya.
Kalau Bodhisattva ingin berbicara dengan kita, mereka bicara lewat
otak kita. Tidak perduli mereka berbicara dalam bahasa apapun, setelah
diproses lewat otak kita, maka kita akan memahami maksud pembicaraan
mereka. Ini sungguh ajaib. Rupanya dalam otak kita, ada semacam mesin
penterjemah bahasa. Jadi, pembicaraan para dewa di Amerika bisa saya
pahami.
Orang yang ingin berlatih dapat mulai dengan metode menghitung
napas. Bila sudah bisa mencapai samadhi, maka bisa mulai mendengarkan
suara jantung, peredaran darah, tulang siku-siku, getaran otak. Lambat
laun, ia akan dapat memahami apa yang dikomunikasikan para roh
kepadanya. Ini merupakan keberhasilan yang baik. Anda tidak perlu kaget
ataupun takut.
Kasus terperangkap Mara terjadi bila ada kelainan (penyimpangan).
Orang yang sakit jiwa juga bisa mendengar suara, bahkan siang malam
tidak berhenti sehingga membuatnya gila. Kesurupan terjadi kalau hati tidak
lurus. Kalau hati tidak lurus, barulah Mara bisa datang masuk.
Bermeditasi merupakan sumbu penyulut orang dapat kemasukan
Mara. Sewaktu mendengar suara di dalam, harus bisa membedakan antara
yang wajar dan tidak wajar, harus dapat mengontrol diri sendiri, hati harus
lurus. Kerasukan berarti telah dikuasai/dikontrol. Mara menimbulkan
kekacauan, diri tidak mampu mengontrol. Terperangkap Mara membuat
orang tidak bisa tidur, bersemangat lemah, bisa teriak-teriak, melihat setan
dan dewa.
Cara mengobatinya adalah dengan membuat otaknya kembali
bekerja wajar, mampu tidur seperti biasa, tubuh kembali ke asalnya. Sampai
sekarang belum ada obat terperinci untuk mengobati penyakit terperangkap
Mara ini. Satu satunya jalan adalah membuatnya tenang. Kalau dokter yang
menangangi, biasanya memberinya obat penenang, atau untuk kasus yang
lebih parah, menyetrum nya.
Orang yang bisa mendengar suara di dalam dapat meramal
nasibnya sendiri berdasarkan suara tulang berkerotokan. Bila suara
kerotokan nya besar, berarti nasib lebih bagus, dan sebaliknya. Untuk
memahami nasib sendiri, dengarkan sendi sendi tulang. Bila nasib bagus,
maka mengerjakan pekerjaan besar bisa sukses. Bila tidak, lebih baik
menahan diri.
Orang yang rohnya telah terbangunkan, bila kekuatan rohnya
disalurkan ke getaran otak, mendengarkan suara getaran otak, maka
pertama-tama akan mendengar banyak suara yang bising. Setelah lambat
laun, baru menjadi jelas. Suara di dalam bisa memberitahu segala urusan di
dunia. Hanya orang berbakat saja yang bisa melatih hal ini. Orang orang
yang berkarma buruk yang berat akan mengambil resiko terperangkap oleh
Mara.
Yang menggelikan adalah adanya orang orang yang mengaku
berteknologi tinggi, yang menyangka bahwa teknologi itu nomor satu, bahwa
dunia roh itu hanya tahyul belaka. Mereka tidak percaya sama
sekali. Namun, kalau sudah ada anggota keluarganya yang kerasukan,
barulah mereka ketakutan setengah mati, sibuk mencari dokter. Kalau
dokter sudah angkat tangan, akhirnya datang mencari saya. Bila sudah
mengalami hal demikian, barulah mereka merasa bahwa diri mereka tidak
luar biasa lagi, sekarang baru tahu bahwa dunia itu begitu luas, begitu
penuh dengan kegaiban.
Roh Keluar Badan
Sewaktu saya masih di Taiwan, suatu kali saya menerima undangan
seorang biksu untuk datang mengunjunginya. Setelah saya tiba di vihara
nya, seorang biksu cilik mengantar saya ke kamar si tuan rumah. Saya
perhatikan di dalam kamar itu ada gambar Sidharta Gautama sedang naik
kuda putih, juga ada gambar mustika hitam dari orang ternama bernama
tuan Chang-Ta. Kamar itu sederhana, hanya ada 1 ranjang, 1 meja tulis, 1
rak buku, 1 tempat duduk meditasi, kursi tamu, dan 1 meja. Saya
dipersilahkan duduk di kursi tamu, sementara si biksu tuan rumah duduk di
tempat duduk meditasi.
"Tuan Sheng-Yen, saya telah membaca buku buku anda."
"Apakah Bante mempunyai petunjuk untuk saya?"
"Terus terang, saya mengundang anda kesini justru untuk
merundingkan hal ini," kata si biksu.
"Silahkan bante utarakan."
"Apa yang anda tulis, saya tidak percaya. Harap anda jangan lagi
menulis hal hal seperti itu," kata si biksu tanpa tedeng aling-aling.
Saya pun terkejut mendengarnya.
"Anda katakan bahwa roh anda bisa keluar dan terbang ke alam
Sukhawati untuk mendengarkan Dharma disana. Hal ini saya tidak percaya.
Saya telah menjadi biksu semenjak kecil dan sekarang saya sudah berusia
77 tahun.
Saya sudah bermeditasi semenjak kecil, namun sekarang pun saya
baru bisa mencapai Istana Langit tingkat ke 4, belum bisa pergi ke Istana
Langit tingkat 5, apalagi ke negri Budha. Sedangkan anda, yang masih
begitu muda belia, mengatakan bahwa anda bisa pergi ke negri Budha.
Bukankah anda sedang berbohong?"
"Bante, saya....."
"Hei, anak muda, bicara harus benar. Jangan mengejar ketenaran
nama. Jangan berdusta. Saya kuatir kau melanggar Pancasila Budhisme
dan masuk ke neraka."
"Jadi, bante mengundang saya kesini untuk menolong saya?"
"Benar. Saya pun bersedia membimbingmu."
Saya terus mendengarkan ucapan si biksu. Perasaan saya sulit
dikatakan dengan kata kata. Saya memang maklum bahwa buku buku saya
sangat mengagetkan dunia, tapi apa yang saya tulis selalu saya upayakan
semaksimalnya untuk menampilkan bukti dan saksi. Bila orang tetap salah
paham dan tidak percaya, saya mau bicara apa lagi. Sungguh sulit
menolong umat manusia!
Biksu itu melihat saya berdiam diri berkata lagi, "Apa anda percaya
bahwa saya bisa pergi ke Istana Langit tingkat 4?"
"Saya percaya," jawab saya karena saya memang melihat sinar
merah di kepala si biksu.
"Saya akan buktikan kepada anda dengan mengambil sebuah
barang dari Istana Langit tingkat 4."
"Silahkan bante lanjutkan."
Saya kemudian mengambil pen dan membuat sebuah goresan halus
di tanah. Si biksu mulai bermeditasi. Dari atas kepala nya, saya melihat sinar
merah keluar. Roh nya perlahan-lahan naik ke atas. Sampai di sebuah
tempat, tampak di hadapan mata si biksu, ada sebuah sungai hitam yang
menghalanginya sehingga membuat ia menjadi ragu-ragu.
Ia telah sering bepergian secara roh melewati tempat tersebut dan
tidak menemukan adanya sungai hitam ini. Mengapa sekarang bisa ada
disini? Tapi, ilmu nya ternyata tidak rendah. Ia menggunakan tongkatnya
sebagai jembatan untuk menyeberangi sungai hitam itu. Akhirnya, ia tiba di
Istana Langit tingkat 4.
Disana, ia bertemu dengan Raja Langit Ta-Fan. Sewaktu ia santai
berjalan-jalan, ia melihat di meja ada sebuah batu giok. Setelah
mengambilnya, ia meninggalkan istana tersebut, menyeberangi kembali
sungai hitam, dan akhirnya kembali ke tubuh fisiknya di dunia manusia.
Perjalanan roh nya pulang pergi badan ini hanya memakan waktu 14 menit.
"Tuan Sheng-yen, saya telah mengambil batu giok ini di Istana
Langit tingkat 4." Dengan tertawa, si biksu membuka gumpalan tangannya.
Tapi ketawanya segera lenyap karena ternyata yang ada di tangan nya
adalah sebuah pulpen.
"Pulpen siapa ini?"
"Pulpen saya, bante. Ada tulisan "Lu Sheng Yen" tertera di pulpen
itu. Perhatikanlah."
"Sungai hitam itu?"
Saya langsung menunjuk garis halus yang saya goreskan di tanah.
Suasana menjadi hening beberapa saat. Si biksu tidak berbicara lama
sekali.
"Rupanya anda benar benar mempunyai kemampuan. Saya telah
salah paham. Tadinya, saya berpikir, mana mungkin ia bisa, mana mungkin
ia bisa. Tadinya, saya tidak tahu, sekarang saya sudah tahu. Ketahuilah
latar belakang alasan saya mengundang anda datang kesini.
Beberapa biksu telah datang menemui saya untuk meminta saya
menjadi juru bicara dalam meminta anda supaya berhenti menulis buku buku
anda. Sekarang saya telah tahu dan percaya akan kemampuan anda.
Masalahnya sekarang, apakah mereka akan percaya?"
Saya baru paham. Rupanya buku buku saya telah membuat
kehebohan besar sehingga membuat beberapa biksu merasa tidak enak
dan datang meminta seorang biksu terhormat untuk keluar muka menjadi
juru bicara, meminta saya menulis tentang berbagai kisah kisah dunia roh
yang saya alami.
Kejadian diatas sudah lama saya simpan sendiri saja. Tapi, sewaktu
saya ingin menulis tentang hal "roh keluar badan", saya jadi teringat akan
kejadian diatas. Ada 3 alasan mengapa saya putuskan untuk akhirnya
membeberkan kejadian itu:
Pertama, si biksu tua itu telah meninggal dunia. Kedua,
kesalahpahaman terhadap saya telah mulai mereda. Kalangan agama di
Taiwan saat ini sudah tidak lagi sekeras dan salah paham seperti dulu.
Ketiga, saya pun sudah meninggalkan Taiwan dan pindah ke Amerika
Serikat.
Mengenai hal "roh keluar badan", di tahap awal, roh cuma bisa
berjalan-jalan di dalam badan.
Di tahap lanjutan, roh sudah bisa keluar lewat pintu atas (ubun ubun
kepala), berputar-putar disana, namun belum bisa pergi jauh. Pengalaman
nya masih seperti setengah berkhayal.
Di tahap akhir, sewaktu telah membuktikan bahwa 10 alam dharma
adalah ilusi belaka, bahwa diri sendiri pun adalah ilusi belaka, barulah "pintu
atas" terbuka penuh. Ini sungguh sulit diuraikan dengan kata kata.
Saat itu, Dharma sebagai perahu pun telah ditinggalkan. Hanya
orang berbakat besar yang dapat mencapai tingkat akhir ini. Apa yang saya
sampaikan merupakan "ucapan rahasia" (rahasia besar). Itu sebabnya
orang orang awam bisa salah paham karena mereka terbiasa melihat yang
palsu sebagai yang asli.
Lewat kejadian yang saya tuliskan diatas, semoga para pembaca
menjadi paham tentang bagaimana keadaan sewaktu roh keluar dari badan.