Anda di halaman 1dari 50

Laporan Praktikum

OSEANOGRAFI
MORFOLOGI PANTAI


Oleh :
NAMA : YASRIN KARIM
NIM : 451 409 057
KELAS : GEOGRAFI B
ANGKATAN : 2009
KELOMPOK : I (Satu)

JURUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2011
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat, hidayah,
serta inayah-Nya, kami masih diberi kesehatan sehingga dapat menyelesaikan laporan
ini walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Laporan ini dimaksudkan untuk mengembangkan minat dan wawasan
mahasiswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehingga nantinya dapat
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ucapan terimakasih kepada dosen pembimbing yang memiliki peran penting
dalam penyusunan laporan ini, serta dari semua pihak yang secara langsung ataupun
tidak telah memberikan inspirasinya guna tersusunnya laporan ini.
Permohonan maaf yang tidak terkira dihaturkan kepada semua pihak apabila
dalam penulisan laporan ini banyak terdapat kesalahan dan jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan dari semua
pihak demi lengkap dan sempurnanya laporan ini.
Akhir kata, semoga laporan ini dapat menambah wawasan kita sebagai
mahasiswa walaupun hanya sebagian kecil dari ilmu pengatahuan yang ada.
Nuun wal Qalami wamaa yasthuruun
Sekian dan terimakasih..

Gorontalo, 09 Januari 2011

Penulis
ii

DAFTAR ISI
Kata pengantar .............................................................................................. i
Daftar isi ......................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Tujuan ............................................................................................. 2
1.2 Manfaat ........................................................................................... 2
1.3 Rumusan masalah ........................................................................... 2
Bab II Metodologi Pengamatan
2.1 Alat dan Bahan ................................................................................. 3
2.2 Waktu dan tempat ............................................................................ 3
Bab III Kajian Teori
3.1 Gelombang Laut ............................................................................... 5
3.2 Sedimen ............................................................................................ 8
3.3 Iklim Laut ......................................................................................... 12
3.4 Pencemaran Laut .............................................................................. 14
3.5 Arus Laut .......................................................................................... 17
3.6 Morfologi pantai............................................................................... 20
3.7 Air Laut ............................................................................................ 21
3.8 Pasang surut Air Laut ....................................................................... 22
3.9 Biota Laut ......................................................................................... 23
Bab IV Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil ................................................................................................. 24
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 33
Bab V Penutup
5.1 Simpulan ......................................................................................... 44
5.2 Saran ............................................................................................... 45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN






1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang
mempelajari lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang
murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain.
Ilmu-ilmu lain yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah (geology). Ilmu bumi
(geography). Ilmu fisika (physics), ilmu kimia (chemistry). Ilmu hayat (biology) dan
ilmu iklim (metereology), (Hutabarat, 1985).
Laut seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuh-tumbuhan,
hewan dan mikroorganisme hidup. Biota laut menghuni hampir semua bagian laut,
mulai dari pantai, permukaan laut sampai dasar laut yang teluk sekalipun. Keberadaan
biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya
yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan
manusia (Romimohtarto, 2001).
Kedalaman dasar laut pada umumnya tidak sama. Selain itu, banyak terdapat
fenomena-fenomena alam yang berkaitan dengan laut di dalamnya, diantaranya ada
pasang surut, gelombang air laut, arus laut, dan fenomena-fenomena lainnya. Banyak
faktor yang mempengaruhi keadaan laut dan ekosistem di dalamnya yang dapat
mejadi perhatian untuk diamati.
Dengan bebagai asumsi diatas, maka laporan pengamatan oseanografi ini
dibuat guna memberikan pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
perihal tersebut.




2

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pengamatan ini adalah sebagai berikut :
1) Mengetahui morfologi pantai.
2) Mengetahui gejala-gejala alam yang terjadi di pantai.
3) Mengetahui dan memahami berbagai faktor yang ikut mempengaruhi
keadaan pantai.
4) Mengetahui berbagai jenis biota laut.
5) Memahami bahaya yang dapat ditimbulkan dari pencemaran laut.

1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat ditimbulkan dengan adanya pengamatan ini
adalah sebagai berikut :
1) Dapat mengetahui bagaimana sebenarnya morfologi pantai.
2) Dapat mengetahui gejala-gejala alam yang terjadi di pantai.
3) Dapat mengetahui dan memahami berbagai faktor yang ikut
mempengaruhi keadaan pantai.
4) Dapat mengetahui berbagai jenis biota laut.
5) Dapat memahami bahaya yang ditimbulkan dari pencemaran laut.

1.4 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pengamatan ini adalah sebagai berikut :
1) Bagaimana morfologi pantai ?
2) Bagaimana gejala-gejala alam yang terjadi di pantai ?
3) Bagaimana jenis-jenis biota yang ada di laut ?
4) Apa faktor-faktor yang memepengaruhi keadaan pantai ?
5) Bagaimana bahaya yang ditimbulkan dari pencemaran laut ?



3

BAB II
METODOLOGI PENGAMATAN
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pengamatan pantai ini adalah
sebagai berikut ?
1) GPS
2) Rool Meter
3) PH-meter
4) Thermometer infrared
5) Anemometer digital
6) Stopwatch
7) Papan silang
8) Tali rafia (2 meter)
9) Tongkat
10) Pemberat

2.2 Waktu dan Tempat
Pengamatan Oseanografi ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 09
Januari 2011 tepatnya di Pantai Wisata Olele Gorontalo.









4

BAB III
KAJIAN TEORI

Menurut sejarahnya, laut terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana
awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 C)
karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer
Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida.
Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi
yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai
berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup
oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk
masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah
hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi
cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan.
Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai
berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk
kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari
dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses
penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan
bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan
batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan
air laut semakin asin.
Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut
yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan
5

dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada
bentuk kehidupan di bumi.
Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the
ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) pengertian
laut adalah kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang
menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau-pulau.
Laut atau bahari adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan
samudra. Pengertian laut berbeda dengan samudra. Definisi samudra adalah
bentangan air asin yang menutupi cekungan yang sangat luas. Sedangkan laut
merupakan bagian dari samudra. Di laut ataupun samudra banyak terdapat fenomena
fenomena laut yang unik. Untuk mengetahui dan memahami mengenai fenomena-
fenomena laut tersebut, berikut dipaparkan uraiannya.

3.1 Gelombang Laut
Gelombang laut merupakan pergerakan naik dan turunnya air dengan arah
tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang
laut merupakan contoh dari gelombang mekanik. Secara umum, gelombang laut
terjadi karena hembusan angin secara teratur, terus-menerus, di atas permukaan air
laut. Hembusan angin yang demikian akan membentuk riak permukaan, yang
bergerak kira-kira searah dengan hembusan angin.
Gelombang laut/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang
laut dapat disebabkan oleh angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulan-
matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut
(gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.
6

Berdasarkan proses terbentukknya, gelombang laut dibedakan menjadi tiga,
yaitu gelombang angin, gelombang pasang surut, dan gelombang tsunami.
1) Gelombang Angin
Gelombang angin disebabkan oleh tiupan angin di permukaan laut.
Gelombang ini dapat menimbulkan energi untuk membentuk pantai. Selain itu
juga dapat menimbulkan arus dan transpor sedimen dalam arah tegak lurus di
sepanjang pantai, serta menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan
pantai. Gelombang merupakan faktor utama di dalam penentuan tata letak
pelabuhan, alur pelayaran, dan perencanaan bangunan pantai.
2) Gelombang Pasang Surut
Gelombang pasang surut disebabkan adanya pasang surut air laut.
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya
gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan. Pasang surut air laut ini juga merupakan faktor
yang penting karena bisa menimbulkan arus yang cukup kuat terutama di
daerah yang sempit, misalkan di teluk dan muara sungai. Elevasi muka air
pasang dan air surut juga sangat penting untuk merencanakan bangunan
bangunan pantai. Sebagai contoh elevasi puncak bangunan pantai ditentukan
oleh elevasi muka air pasang untuk mengurangi limpasan air, sementara
kedalaman alur pelayaran dan perairan pelabuhan ditentukan oleh muka air
surut.
3) Gelombang Tsunami
Gelombang tsunami merupakan gelombang yang terjadi karena
letusan gunung berapi atau gempa bumi di bawah laut. Gelombang yang
terjadi bervariasi dari 0,5 m sampai 30 m dan periode dari beberapa menit
sampai sekitar satu jam. Tinggi gelombang tsunami dipengaruhi oleh
7

konfigurasi dasar laut. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya
tsunami) menuju pantai, sedangkan tinggi gelombang semakin besar oleh
karena pengaruh perubahan kedalaman laut. Di daerah pantai tinggi
gelombang tsunami dapat mencapai puluhan meter.
Dipandang dari sisi sifat-sifatnya, gelombang dibagi menjadi dua tipe, yaitu:
4) Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave).
Yang tergolong gelombang pembentuk pantai bercirikan mempunyai
ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang
tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material
pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang
pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.

5) Gelombang perusak pantai (Destructive wave).
Gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan
kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar
mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika
gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air
yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau
ke tempat lain.

3.2 Sedimen Laut
Sedimen merupakan material lepas yang berasal dari daratan, laut maupun
bisa berasal dari benda- benda hidup lainnya yang tertransfer melalui media air
maupun udara.
Pettijohn (1975) mendefinisikan sedimentasi sebagai proses pembentukan
sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material
pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan
8

pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut
dalam. Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber
yang menurut Reinick (Dalam Kennet, 1992) dibedakan menjadi empat yaitu :
1) Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan
material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut
melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut
dan akan terendapkan jika energi tertrransforkan telah melemah.
2) Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme
yang hidup seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik
yang mengalami dekomposisi.
3) Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi
kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut
sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini
adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit.
4) Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang bersal dari berbagai sumber dan
masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat
bersumber dari luar angkasa , aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat
yang terbawa angin. Material yang bersal dari luarangkasa merupakan sisa-
sisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut. Sedimen yang bersal
dari letusan gunung berapi dapat berukuran halus berupa debu volkanin, atau
berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan sedimen yang bersal dari
partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana
proses eolian dominan namun demikian dapat juga terjadi pada daerah sub
tropis saat musim kering dan angin yang bertiup kuat.

Adapun klasifikasi sedimen berdasarkan partikel Menurut skala Wentworth
adalah sebagai berikut :

9

Nama sedimen Partikel Ukuran (mm)
Batu (Stone) Bongkah (boulder)
Krakal (coble)
Kerikil (Peble)
Butiran (granule)

> 256
64 - 256
4 - 64
2 - 4

Pasir (Sand) Pasir sangat kasar (v.coarse sand)
pasir kasar (coarse sand)
pasir sedang (medium sand)
Pasir Halus (fine sand)
pasir sangat halus (very fine sand)
1 2
- 1
- 1/2
1/8 - 1/4
1/16 - 1/8
Lumpur (Silt) Lumpur kasar (coarse silt)
Lumpur sedang (medium silt)
Lumpur halus (fine silt)
Lumpur sangat halus (very fine silt)
1/32 - 1/16
1/64 - 1/32
1/128 - 1/64
1/256 - 1/128
Lempung (Clay) Lempung kasar (coase clay)
Lempung sedang (medium clay)
Lempung halus (fine clay)
Lempung sangat halus (very fine
clay )
1/640 - 1/256
1/1024 - 1/640
1/2360 - 1/1024
1/4096 - 1/2360

Kalsifikasi sedimen skala Afnor adlah sebagai berikut :
Nama sedimen ukuran sedimen
Batu
Kerikil
Pasir Kasar
Pasir sedang
Pasir halus
> 20,00
20 2
2 2,8
0, 8 0,315
0,315 0,0125
10

pasir sangat halus
Debu
0,0125 0,050
< 0,050

Transport sedimen
Gross (1992) menyatakan bahwa butiran yang berukuran besar akan
mengendap pada daerah yang dekat dengan tempat pertama kali sedimen masuk ke
laut. Sedangkan untuk butiran yang berukuran kecil bisa di transportasikan lebih jauh,
untuk jarak 4 km sedimen dengan ukuran lumpur akan mengendap membutuhkan
waktu yang kurang lebih 185 hari. Secara teoritis partikel sedimen berukuran debu
bisa di transportasikan di seluruh samudra dan akan mengendap sampai ke dasar
setelah 50 tahun.

Struktur sedimen
Salley (1988) membagi struktur sedimen dalam dua kelas yaitu, kelas primer
dan kelas sekunder. Struktur sediman primer adalah struktur yang di hasilkan selama
atau segera setelah terjadi seposisi yang di sebabkan oleh proses-proses fisika.
Struktur sedimen primer dapat di bagi menjadi struktur anorganik (misalnya: Flute
merks, cross bedding, slump dan slide) dan struktur organik (misalnya: liang, jejak
organisme, dan sisa-sisa organisme). Struktur sedimen sekunder adalah struktur yang
terbentuk beberapa waktu setelah terjadinya sedimentasi dan struktur ini biasanya
terjadi akibat proses-proses kimia.
Analisa kimia sedimen
Keanekaragaman ukuran butir dalam sedimen didefinisikan sebagai pilahan
(sortasi). Jika suatu endapan sedimen di susun oleh butiran yang mempunyai ukuran
hampir sama dengan merata atau homogen, maka sedimen itu tergolong sortasi baik.
Sebaliknya, bila sedimen disusun oleh butiran yang beragam ukuran, maka sedimen
tersebut terpilah buruk. Bentuk butiran sedimen klastika erat hubungannya dengan
tingkatan proses sedimentasinya. Mineral yang menyusun batuan beku mempunyai
11

bentuk kristal yang berbeda-beda, seperti bentuk kubus, heksagonal, tetragonal, dan
seterusnya. Ciri umum dari krisatal tersebut adalah bentuk ujungnya yang menyudut.
Jika terjadi proses sedimentasi pada batuan tersebut, maka kemungkinan besar kristal
kristal dari mineral yang terdapat pada sedimen klastika tersebut sebagian besar
akan berubah. Jika bentuk kristal sebagai partikel sedimen klastika tersebut sebagian
besar masih memperlihatkan bentuk menyudut, maka endapan sedimen itu berada
tidak jauh dari asal sumber batuannya. Begitu juga jika bentuk maupun ukuran kristal
berubah menjadi ukuran sangat kecil dan berbentuk memudar baik, dapat di pastikan
telah terjadi tingkatan proses sedimentasi yang sempurna. Batuan endapan kimiawi
dan biokimia merupakan batuan yang terbentuk itu berasal dari endapan larutan
kimia, atau berasal dari endapan cangkang moluska bermineral karbonat, silikan atau
fosfat.

Lapisan Kimia dan warna sedimen.
1) Lapisan aerob, lapisan ini berada di permukaan sedimen atau langsung di
bawah kolom air sampai pada kedalaman kira- kira 4 cm. Umumnya
organisme bentos dari golongan epi-fauna sering di temukan pasa
permukaan zona ini.
2) Lapisan Reduksi nitrat, lapisan sedimen ini biasanya berwarna kuning dan
mempunyai ketebalan antara 4-10 cm. hewan-hewan bentos golongan in-
fauna, sebagian besar mendiami sampai pada zona ini.
3) Lapisan reduksi sulfat, lapisan sedimen pada zona ini biasanya berwarna
abu-abu dan mempunyai ketebalan antara 10-50 cm.
4) Lapisan reduksi karbonat (MgCO3), sedimen pada zona ini biasanya
berwarna hitam dan mempunyai aroma khas karena mengandung banyak
gas metana(CH4) dan amonia (NH3). Contohnya batuan beku granit yang
mengandung mineral kuarsa (Sio2), felspar, dan mineral mafik.

12

Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi
sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat dalam proses biologi dan kimia yang
terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen,
zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun , sedimen
tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan.
Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersusfensi kembali oleh arus bawah sebelum
kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral
dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap berlangsung
penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral.
(Agus Supangat dan Umi muawanah).

3.3 Iklim Laut
Iklim merupakan keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang
penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi
wilayah yang luas. Matahari merupakan kendali iklim yang sangat penting dan
sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut. Kendali iklim
yang lain, misalnya distribusi darat dan air, tekanan tinggi dan rendah, massa udara,
pegunungan, arus laut dan badai. Adapun ilmu yang mempelajari dan membahas
tentang iklim disebut Klimatologi, Sedangkan cuaca merupakan keadaan udara pada
saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang
singkat. Untuk ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi.
Meteorologi mempelajari proses fisis dan gejala cuaca yang terjadi didalam atmosfer
terutama pada lapisan bawah (troposfer).
Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat
beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Secara
umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang
tinggi. Iklim yang di kenal di Indonesia ada tiga iklim antara lain terdiri dari iklim
musim (muson), iklim tropika (iklim panas), dan iklim laut.
13

1) Iklim Musim (iklim Muson)
Iklim Muson terjadi karena pengaruh angin musim yang bertiup berganti
arah tiap-tiap setengah tahun sekali. Angin musim di Indonesia terdiri atas
Musim Barat Daya dan Angin Musim Timur Laut.
Angin Musim Barat Daya adalah angin yang bertiup antara bulan
Oktober sampai April sifatnya basah. Pada bulan-bulan tersebut,
Indonesia mengalami musim penghujan
Angin Musim Timur Laut adalah angin yang bertiup antara bulan
April sampai Oktober, sifatnya kering. Akibatnya, pada bulan-bulan
tersebut, Indonesia mengalami musim kemarau.
2) Iklim Tropika (Iklim Panas)
Indonesia terletak di sekitar garis khatulistiwa. Akibatnya, Indonesia
termasuk daerah tropika (panas). Keadaan cuaca di Indonesia rata-rata
panas mengakibatkan negara Indonesia beriklim tropika (panas), Iklim ini
berakibat banyak hujan yang disebut Hujan Naik Tropika.
3) Iklim Laut
Negara Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar tanah daratan
Indonesia dikelilingi oleh laut atau samudra. Itulah sebabnya di Indonesia
terdapat iklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak mendatangkan
hujan.

3.4 Pencemaran Laut
Pencemaran merupakan pemasukan bahan pencemar seperti bahan kimia,
limbah, hama, cahaya dan tenaga ke dalam alam sekitar yang mengakibatkan kesan
yang memusnahkan sehingga membahayakan kesehatan manusia, mengancam
sumber alam dan ekosistem, serta mengganggu pemanfaatan alam sekitar.
Sedangkan Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya
partikel kimia, limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau
14

penyebaran organisme invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek
berbahaya bagi laut tersebut.
Pencemaran laut di dunia menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan
kehidupan bawah laut. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan,
baik tertiup angin, ulah manusia, terhanyut maupun melalui tumpahan. Berikut
beberapa sumber polutan yang masuk ke laut.
Buangan Kapal
Kapal dapat mencemari sungai dan laut dalam banyak cara. Antara lain
melalui tumpahan minyak, air penyaring dan residu bahan bakar. Polusi dari
kapal dapat mencemari pelabuhan, sungai dan lautan. Kapal juga membuat
polusi suara yang mengganggu kehidupan liar alam, dan air dari balast tank
dapat menyebarkan ganggang/alga berbahaya dan spesies asing yang dapat
mempengaruhi ekosistem local yang sudah ada.
Plastik
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung
dan terendap di lautan. Delapan puluh persen dari sampah di laut adalah
plastic. Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut
berbahaya untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam
akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan.
Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan hilang di laut.
Jaring ini dikenal sebagai hantu jala sangat membahayakan lumba-lumba,
penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang
membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan
menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.
Racun
Selain plastik, ada masalah-masalah tertentu dengan racun yang tidak hancur
15

dengan cepat di lingkungan laut. Terbagi dua kelompok racun yang sring
mencemari lautan, pertama kelompok racun yang sifatnya cenderung masuk
terus menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam
berat, suatu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan yang relatif tinggi
dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh logam berat
yang sering mencemari adalah air raksa, timah, nikel, arsenik dan kadmium.
Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke
dalam jaring makanan di laut. Dalam jarring makanan, pestisida ini dapat
menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut ,
seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia.
Eutrofikasi
Peristiwa Eutrofikasi merupakan kejadian peningkatan/pengkayaan nutrisi,
biasanya senyawa yang mengandung nitrogen atau fosfor dalam ekosistem.
Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan produktivitas primer (ditandai
peningkatan pertumbuhan tanaman yang berlebihan dan cenderung cepat
membusuk). Efek lebih lanjut termasuk penurunan kadar oksigen, penurunan
kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme lain.
Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena
nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi. Nutrisi ini kemudian
dibawa oleh air hujan masuk ke lingkungan laut , dan cendrung menumpuk di
muara.
Peningkatan keasaman
Lautan biasanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Karena kadar
karbon dioksida atmosfer meningkat, lautan menjadi lebih asam. Potensi
16

peningkatan keasaman laut dapat mempengaruhi kemampuan karang dan
hewan bercangkang lainnya untuk membentuk cangkang atau rangka.
Polusi Kebisingan
Kehidupan laut dapat rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara dari
sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan
frekuensi sonar angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di
udara.
Hewan laut, seperti paus, cenderung memiliki penglihatan lemah, dan hidup
di dunia yang sebagian besar ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini
berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup lebih dalam di dunia
kegelapan. Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien kebisingan
di laut naik sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat).
Jelas sekarang bahwa sumber pencemaran sangat bervariasi. Tidak hanya dari
hal-hal yang menurut kita hanya bisa dilakukan oleh industri besar, namun juga bisa
disebabkan oleh aktiftas harian manusia.


3.5 Arus Laut
Arus merupakan proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang
menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Sedangkan arus air laut
merupakan pergerakan massa air secara vertikal dan horisontal sehingga menuju
keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan
dunia. Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan
tiupan angin atau perbedaan densitas atau pergerakan gelombang panjang. Pergerakan
arus dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain arah angin, perbedaan tekanan air,
17

perbedaan densitas air, gaya Coriolis, topografi dasar laut, arus permukaan,
upwelling.
Gaya Coriolis mempengaruhi aliran massa air, dimana gaya ini akan
membelokan arah angin dari arah yang lurus. Gaya ini timbul sebagai akibat dari
perputaran bumi pada porosnya. Gaya Coriolis ini yang membelokan arus dibagian
bumi utara kekanan dan dibagian bumi selatan kearah kiri. Pada saat kecepatan arus
berkurang, maka tingkat perubahan arus yang disebabkan gaya Coriolis akan
meningkat. Hasilnya akan dihasilkan sedikit pembelokan dari arah arus yang relaif
cepat dilapisan permukaan dan arah pembelokanya menjadi lebih besar pada aliran
arus yang kecepatanya makin lambat dan mempunyai kedalaman makin bertambah
besar. Akibatnya akan timbul suatu aliran arus dimana makin dalam suatu perairan
maka arus yang terjadi pada lapisan-lapisan perairan akan dibelokan arahnya.
Hubungan ini dikenal sebagai Spiral Ekman, Arah arus menyimpang 450 dari arah
angin dan sudut penyimpangan bertambah dengan bertambahnya kedalaman
(Supangat, 2003).
Ketika angin berhembus di laut, energi yang ditransfer dari angin ke batas
permukaan. Sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi
permukaan yang memberikan pergerakan air dari yang kecil kearah perambatan
gelombang sehingga terbentuklah arus dilaut. Semakin cepat kecepatan angin,
semakin besar gaya gesekan yang bekerja pada permukaan laut, dan semakin besar
arus permukaan laut yang dihasilkan (Supangat,2003).
Arus laut dapat terjadi di samudera luas yang bergerak melintasi samudera
(ocean currents), maupun terjadi di perairan pesisir (coastal currents).
1) Arus Samudera, terbagi atas :
Arus Permukaan Laut di Samudera (Surface Circulation)
18

Penyebab utama arus permukaan laut di samudera adalah tiupan angin
yang bertiup melintasi permukaan Bumi melintasi zona-zona lintang yang
berbeda. Ketika angin melintasi permukaan samudera, maka massa air laut
tertekan sesuai dengan arah angin.
Pola umum arus permukaan samudera dimodifikasi oleh faktor-faktor fisik
dan berbagai variabel seperti friksi, gravitasi, gerak rotasi Bumi,
konfigurasi benua, topografi dasar laut, dan angin lokal. Interaksi berbagai
variabel itu menghasilkan arus permukaan samudera yang rumit.
Arus di samudera bergerak secara konstan. Arus tersebut bergerak
melintasi samudera yang luas dan membentuk aliran yang berputar searah
gerak jarum jam di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), dan
berlawanan arah gerak jarum jam di Belahan Bumi Selatan (Southern
Hemisphere).
Karena gerakannya yang terus menerus itu, massa air laut mempengaruhi
massa udara yang ditemuinya dan merubah cuaca dan iklim di seluruh
dunia.

Arus di Kedalaman Samudera (Deep-water Circulation)
Faktor utama yang mengendalikan gerakan massa air laut di kedalaman
samudera adalah densitas air laut. Perbedaan densitas diantara dua massa
air laut yang berdampingan menyebabkan gerakan vertikal air laut dan
menciptakan gerakan massa air laut-dalam (deep-water masses) yang
bergerak melintasi samudera secara perlahan. Gerakan massa air laut-
dalam tersebut kadang mempengaruhi sirkulasi permukaan.
Perbedaan densitas massa air laut terutama disebabkan oleh perbedaan
temperatur dan salinitas air laut. Oleh karena itu gerakan massa air laut-
19

dalam tersebut disebut juga sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline
circulation)
2) Arus Perairan Pesisir
Arus Pasang Surut (Tidal Current)
Arus pasang surut terjadi terutama karena gerakan pasang surut air laut.
Arus ini terlihat jelas di perairan estuari atau muara sungai. Bila air laut
bergerak menuju pasang, maka terlihat gerakan arus laut yang masuk ke
dalam estuari atau alur sungai, sebaliknya ketika air laut bergerak menuju
surut, maka terlihat gerakan arus laut mengalir ke luar.
Arus Sepanjang Pantai (longshore current) dan Arus Rip (rip current)
Kedua macam arus ini terjadi di perairan pesisir dekat pantai, dan terjadi
karena gelombang mendekat dan memukul ke pantai dengan arah yang
muring atau tegak lurus garis pantai. Arus sepanjang pantai bergerak
menyusuri pantai, sedang arus rip bergerak menjauhi pantai dengan arah
tegak lurus atau miring terhadap garis pantai.
3.6 Morfologi Pantai
Pantai adalah geologi bentuk lahan di sepanjang garis pantai dari laut, atau
danau. Biasanya terdiri dari partikel-partikel lepas yang sering terdiri dari batuan,
seperti pasir, kerikil, sirap, kerikil, gelombang atau batu-batuan.
Dalam memahami morfologi pantai ada dua istilah yang sering digunakan
untuk membedakan bagian daratan dipinggir laut, yang dalam bahasa Inggris disebut
shore dan coast. Shore atau pesisir ialah sejalur daerah tempat pertemuan
daratandengan laut, mulai dari batas permukaan laut ketika pasang surut terendah
menuju kearah darat sampai batas tertinggi yang mendapat pengaruh gelombang
20

ketika badai. Jadi daerah ini akan tergenang ketika pasang naik dan kering ketika
sedang pasang surut.
Sedangkan coast atau pantai ialah suatu zone yang mendapat pengaruh kuat
dari proses marine a zone in which coastal prosesses operate or have a strong
influence(Strahler,1979:534). Dan dataran pantai atau coastal plain adalah jalur
pantai yang muncul dari bawah permukaan laut yang merupakan bagian dari
dangkalan benua atau continental shelf, dibatasi oleh suatu tingkat dengan lereng
yang curam ke arah laut.
Pantai merupakan hasil dari pemuatan gelombang, proses dimana gelombang
atau arus memindahkan pasir atau material lepas pantai lainnya yang dibuat sebagai
partikel-partikel ini diadakan di suspensi. Atau, mungkin pasir digerakkan oleh
saltation (gerakan memantul partikel besar). komponen-komponen pantai berasal dari
erosi dari batuan lepas pantai, serta dari tanjung erosi dan longsoran memproduksi
simpanan Scree. Sebuah terumbu karang lepas pantai merupakan sumber signifikan
dari pasir.
Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang kedua di dunia setelah
Kanada. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sebesar 81.000 km. Garis pantai
merupakan batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut
pasang tertinggi. Garis laut dapat berubah karena adanya abrasi, yaitu pengikisan
pantai oleh hantaman gelombang laut yang menyebabkan berkurangnya areal daratan.
3.7 Air Laut
Air laut adalah air dari laut atau samudera. Air laut memiliki kadar garam
rata-rata 3,5%. Artinya dalam 1 liter (1000 mL) air laut terdapat 35 gram garam
(terutama, namun tidak seluruhnya garam dapur/NaCl).
Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5 %,
air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya disetiap daerah. Yang paling tawar
21

adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari
Laut Baltik. Yang paling asin adalah di Laut Merah, di mana suhu tinggi dan sirkulasi
terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air dari sungai-sungai.
Kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi.
Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral
yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kalsium,
dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tersebut membawa garam dalam
alirannya ke lautan. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan
garam yang terdapat pada batu-batuan. Lama-kelamaan air laut menjadi asin karena
banyak mengandung garam.
Keberadaan garam-garaman di laut mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti:
densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi
maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas,
daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang
sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik
(konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi salinitas adalah sebagai berikut :
1) Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka
salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan
air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
2) Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka
salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah
hujan yang turun salinitas akan tinggi.
3) Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak
sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan
rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut
maka salinitasnya akan tinggi.
22

3.8 Pasang Surut air Laut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan
gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan
bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh
atau ukurannya lebih kecil.
Faktor non astronomi yang mempengaruhi pasang surut terutama di perairan
semi tertutup seperti teluk adalah bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan.
Ada tiga penyebab terjadinya pasang surut air laut yaitu Matahari, Bulan, dan Bumi.
Selain itu, pasang surut air laut dapat disebabkan oleh terjadinya perubahan
iklim. Saat ini perubahan iklim tidak dapat diprediksi dengan tepat. Hal ini
dikarenakan adanya gejala pemanasan global yang diakibatkan oleh kerusakan
lingkungan. Kerusakan lingkungan ini seringkali ditimbulkan oleh manusia.
Adanya perubahan iklim ini maka permukaan air laut sering mengalami
kenaikan. Selain itu, adanya pemanasan global mengakibatkan terjadinya pelelehan di
Kutub Utara maupun Kutub Selatan. Dengan adanya peristiwa pelelehan es tersebut,
dapat menimbulkan peristiwa alam pasang surut air laut.
3.9 Biota Laut
Biota laut merupakan berbagai jenis organisme hidup di perairan laut yang
menurut fungsinya digolongkan menjadi tiga, yaitu produsen merupakan biota laut
yang mampu mensintesa zat organik baru dari zat anorganik, kedua adalah konsumen
merupakan biota laut yang memanfaatkan zat organik dari luar tubuhnya secara
langsung. Dan yang ketiga adalah redusen merupakan biota laut yang tidak mampu
menelan zat organik dalam bentuk butiran, tidak mampu berfotosintesis namun
mampu memecah molekul organik menjadi lebih sederhana.
23

Penggolongan biota laut menurut sifat hidupnya dibedakan menjadi plankton
merupakan semua biota yang hidup melayang di dalam air yang pergerakkannya
ditentukan oleh lingkungannya. Kemudian nekton adalah semua biota yang dapat
berenang bebas dan mengatur sendiri arah pergerakkannya dan bentos yang
merupakan semua biota yang hidup didasar perairan baik membenamkan diri,
menempel maupun merayap.
Perubahan kondisi laut yang terjadi dimasa lalu hingga saat ini ditambah
dengan interaksi biota laut dalam pemangsaan merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap daya adaptasi pada biota laut. Kemampuan adaptasi biota laut yang berlanjut
dalam jangka waktu lama yang akhirnya menjadi sebuah evolusi menjadikan
keanekaragaman biota laut menjadi tinggi. Selain itu, laut dengan berbagai kondisi
fisik, kimia dan topografi menjadikan biota laut yang hidup didalamnya semakin
beragam. Berikut disajikan gambar-gambar sebagai bukti beragam dan indahnya
biota laut.





24

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Pengamatan Kelompok 1
1) Gelombang laut
Titik koordinat : N 00
0
24 44,4
E 123
0
09 11,8
Titik ketinggian : 1 m dpl
Tabel. 1Panjang Gelombang
No. Jarak
(m)
Waktu gelombang
(s)
Panjang gelombang
(m)
Tinggi gelombang
(m)
1 10 06,375 2,10 1
2 15 04,525 2 1,70

Menentukan suhu air laut dengan menggunakan thermometer infrared
1. 30
0
C

2. 29
0
C
3. 30
0
C
4. 30
0
C
5. 30
0
C
=

= , C

25

2) Sedimen laut
Lokasi dengan titik koordinat
N 00
0
24 36,8
E 123
0
09 00,0
Memiliki sedimen berupa :
Litos : pasir, batuan
Biogenesis : keong, terumbu karang, lumut
Lokasi dengan titik koordinat
N 00
0
24 36,0
E 123
0
09 00,1
Memiliki sedimen berupa :
Litos : pasir, batuan
Biogenesis : terumbu karang, lumut
Lokasi dengan titik koordinat
N 00
0
24 36,6
E 123
0
09 00,0
Memiliki sedimen berupa :
Litos : batuan, kerikil
Biogenesis : keong, terumbu karang, lumut
Hidrogenesis
Lokasi dengan titik koordinat
N 00
0
24 36,4
E 123
0
09 00,1
Memiliki sedimen berupa :
Litos : batuan, kerikil
Biogenesis : terumbu karang, lumut



26

3) Iklim laut
Titik koordinat : N 00
0
24 37,4
E 123
0
09 08,7
Kecepatan angin : 0,6 pada pukul 14.28
Arah angin : dari selatan ke utara

No Pada pukul Suhu udara
1 09.00 -
2 13.00 36,5
3 16.00 33,1

4) Pencemaran laut
Sampah di pesisir berupa :
Kotoran hewan
Plastik
dll

Sampah di permukaan air laut berupa :
Kertas
Bangkai hewan
dll

Sampah di dasar laut berupa :
Kulit jagung
Plastik
Botol aqua
27

Dedaunan
dll

4.1.2 Pengamatan Kelompok 2
1) Morfologi Pantai
Jenis pantai merupakan Pantai Terangkat (Emergency)
Jenis Biota : Terumbu karang, ikan, dll.
Kecepatan Angin : 292 m/s (Angin Laut)
Salinitas (kadar garam) :
1) 12,06
2) 12,07
3) 9,02
Jumlah = 33,15
Rata-rata = 11,05
Jadi, Salinitas (kadar garam) adalah 11,05 yang merupakan pH Basa.

Temperatur:
1) 32,4 C
2) 31,6 C
3) 32,8 C
4) 33,0 C
5) 32,6 C
Jumlah = 162,4 C
Suhu Rata-rata = 32,48 C
Jadi, Suhu rata-rata pada saat itu (siang hari) adalah 32,48 C

4.1.3 Pengamatan Kelompok 3
1) Menghitung kecepatan arus laut
28

Adapun data yang diperoleh pada saat pengamatan berkenaan dengan
kecepatan arus laut adalah sebagai berikut :
Data yang diperoleh kelas B
S (m) t (sekon)
1 157
1 57
1 55

Jarak dari bibir pantai ke tongkat = 16 meter
Kedalaman laut =1,58 meter
Dari data yang diperoleh, ditanyakan kec. rata-rata arus laut = .???
Mencari kecepatan arus laut, menggunakan persamaan =

.
Maka :


= ,


= ,


Dan


29

=


= ,


Dari perolehan v
1
, v
2
, dan v
3
, maka dapat ditentukan kecepatan rata-rata dari
arus laut tersebut sebagai berikut :
=


=
, +, +,


= ,


Jadi, kecepatan arus rata-rata yang diperoleh oleh kelas B adalah 0,0138 m/s.
Data yang diperoleh kelas C
S (m) t (sekon)
1 16
1 17
1 17

Jarak dari bibir pantai ke tongkat = 31,5 meter
Kedalaman laut = 10 meter
Dari data yang diperoleh, ditanyakan kec. rata-rata arus laut = .???





Penyelesaian :
30

= ,


= ,


Dan


= ,


Dari perolehan v
1
, v
2
, dan v
3
, maka dapat ditentukan kecepatan rata-rata dari
arus laut tersebut sebagai berikut :
=


=
, +, +,


= ,


Jadi, kecepatan arus rata-rata yang diperoleh oleh kelas C adalah 0,06 m/s.

Data yang diperoleh kelas A
S (m) t (sekon)
31

1 32
1 35
1 50

Jarak dari bibir pantai ke tongkat = 31,4 meter
Kedalaman laut = 8,55 meter
Dari data yang diperoleh, ditanyakan kec. rata-rata arus laut = .???
Penyelesaian :


= ,


= ,


Dan


= ,


Dari perolehan v
1
, v
2
, dan v
3
, maka dapat ditentukan kecepatan rata-rata dari
arus laut tersebut sebagai berikut :
32

=


=
, +, +,


= ,


Jadi, kecepatan arus rata-rata yang diperoleh oleh kelas A adalah 0,026 m/s.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengamatan Kelompok 1
1) Gelombang laut
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di pantai wisata Olele,
diketahui bahwa gelombang laut terjadi karena hembusan angin secara teratur, terus-
menerus, di atas permukaan air laut. Hembusan angin yang demikian akan
membentuk riak permukaan, yang bergerak kira-kira searah dengan hembusan angin.
Dalam pengukuran gelombang yang telah dilakukan, ternyata semakin cepat gerak
gelombang, maka gelombang semakin panjang dan semakin tinggi. Gelombang
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya angin yang meliputi kecepatan angin,
panjang/jarak hembusan angin, dan waktu (lamanya) hembusan angin.
Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch
pembangkitannya. Fetch yang dimaksud disini merupakan jarak perjalanan tempuh
gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang
mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan
semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian
gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.
Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan
mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila
gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang
berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Hal ini diakibatkan oleh friksi/gesekan
33

antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air
akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam
dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang
tersebut kemudian pecah.
2) Sedimen laut
Sedimen merupakan material lepas yang berasal dari daratan, laut maupun
bisa berasal dari benda- benda hidup lannya yang tertransfer melalui media air
maupun udara. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di pantai wisata Olele,
telah ditemukan berbagai macam sedimen laut yang terdapat pada pantai tersebut,
diantaranya sedimen jenis Litos atau Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang
berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat
sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan
atau arus laut dan akan terendapkan jika energi tertrransforkan telah melemah,
sedimen ini berupa berupa hasil sedimentasi dari pasir, batuan dan kerikil.
Selain itu, di pantai wisata Olele juga terdapat sedimen jenis biogenesis yang
merupakan sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti
cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami
dekomposisi. Serta terdapat juga sedimen jenis hidrogenesis yang merupakan
sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk
partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut,
sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit.

3) Iklim laut
Iklim merupakan kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Matahari
merupakan kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang
menimbulkan gerak udara dan arus laut. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi
34

darat dan air, tekanan tinggi dan rendah, massa udara, pegunungan, arus laut dan
badai.
Ketika kita berbicara tentang iklim maka kita akan berbicara tentang kondisi
lautan yang mempengaruhi iklim yaitu suhu permukaan laut. Iklim di bumi sangat
dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Perubahan iklim dapat terjadi secara
tiba-tiba. Perubahan iklim tersebut dapat mempengaruhi keadaan laut, dalam hal ini
gelombang, arus laut, sedimen, dan dapat juga mempengaruhi morfologi pantai.

4) Pencemaran laut
Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia,
limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme
invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya. Sebagian
besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup angin, terhanyut
maupun melalui tumpahan. Pencemaran laut di dunia menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan
kehidupan bawah laut.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pencemaran laut di pantai wisata Olele bisa dikatan sangat
memprihatinkan. Baik disekitar wilayah pesisir pantai maupun di pantai banyak terdapat bahan-bahan pencemar,
baik pencemaran dari bahan organic maupun anorganik. Disekitar peseisir pantai banyak terdapat sampah-sampah
plastik, botol-botol air kemasan, kulit jagung, kotoran hewan bahkan bangkai hewan pun ada. Saampah-sampah
tersebut bukan hanya tersebar diwilayah pesisir, namun juga tersebar disekitar permukaan laut bahkan dasar laut
juga pun ada.
Pantai wisata Olele merupakan salah satu tempat wisata di Gorontalo yang terkenal dengan terumbu
karangnya dan sudah tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga hendaknya pencemaran laut patut ditangani dan
ditanggulangi. Hal ini demi kelestarian pantai, keragaman biota lautnya, dan kesehatan lingkungan sekitarnya,
mengingat disekitar Pantai wisata Olele merupakan pemukiman penduduk. Berikut gambar pencemaran yang
terlihat di pantai wisata Olele.
35


4.2.2 Pengamatan Kelompok 2
1) Morfologi Pantai
Berdasarkan hasil pengamatan, Morfologi pantai wisata Olele merupakan
jenis pantai Terangkat (Emergency), ini ditunjukkan dengan adanya Cleaf-Cleaf pada
pinggiran pantai. Terdapat tebing-tebing yang menggambarkan keadaan dimana
dulunya berupa dataran pantai yang mengalami pengangkatan daratan. Berikut
beberapa hal yang kami amati mengenai keadaan pantai wisata Olele.
Pengukuran Salinitas (Kadar Garam)
Pada pengukuran Salinitas (kadar garam) air laut ini, kami menggunakan alat
pengukur PH yaitu PH Meter. Sebelum digunakan, alat tersebut di celupkan pada
cairan agar terkalibrasi dengan PH normal = 7. Selanjutnya dicelupkan pada air laut
dan mendapatkan PH berturut-turut adalah 12,06, 12,07 dan 9,02 dengan PH rata-rata
adalah 11,05. Sehingga menunjukkan bahwa Salinitas air laut di pantai wisata Olele
tersebut adalah Basa.
Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material
lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-
36

partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Selain air murni (H
2
O), air laut mengandung garam. Karena itu, rasanya menjadi asin.
Rata-rata air laut mengandung 3,5% garam. Artinya, dalam setiap 1 kg air laut
terkandung garam 35 gram.
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk
mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan
petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan
ketidakseimbangan kadar CO
2
yang dapat membahayakan kehidupan biota laut.
Pengukuran Suhu (Temperatur)
Pengukuran suhu pada pantai wisata Olele menggunakan alat Termometer
infra red, dengan cara menembakkan 30 m kearah laut. Pengukuran dilakukan 5 kali
berturut-turut dengan hasil yang diperoleh yaitu:
1) 32,4 C
2) 31,6 C
3) 32,8 C
4) 33,0 C
5) 32,6 C
Sehingganya dengan pengukuran tersebut, didapatkan Suhu rata-rata 32,48 C.
Suhu berpengaruh terhadap pasang surut air laut. Dimana pada suhu rendah pada
daerah kutub mengalami pembekuan dan menyebabkan penyusutan air laut,
sedangkan ketika suhu tinggi menyebabkan es dikutub mencair dan berakibat pada
penambahan volume air laut dan biasanya menjadi air pasang.
Suhu air mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pertukaran zat atau
metabolisne dari makhluk-makhluk hidup. Keadaan ini jelas terlihat dari jumlah
plankton didaerah-daerah yang beriklim sedang lebih banyak daripada didaerah-
daerah yang beriklim panas (Asmawi,1986). Suhu merupakan salah satu faktor
37

lingkungan yang mempengaruhi kecepatan aktivitas proses metabolisme. Suhu air
mempunyai arti penting bagi organisme perairan karena berpengaruh terhadap laju
metabolisme dan pertumbuhan. Suhu bagi hewan poikilotermik merupakan faktor
pengontrol (controlling factor) yaitu pengendali kecepatan reaksi kimia didalam
tubuh termasuk prosses metabolisme. Foresberg dan summerfelt (1998) menyatakan
bahwa meningkatkannya suhu akan mempercepat kelangsungan proses metabolisme
(Widiyati, 2005).
Pengukuran Kecepatan Angin
Pada Pengukuran Kecepatan Angin menggunakan alat yaitu Anemometer
Digital. Alat tersebut diarahkan menghadap laut dan di diamkan beberapa saat hingga
alat secara otomatis menunjukkan berapa kecepatan angin pada saat itu. Dan
berdasarkan hasil pengukuran didapatkan kecepatan angin di pantai wisata Olele pada
saat itu adalah 292 m/s. Pengukuran kecepatan angin dilakukan pada siang hari
sehingga menunjukkan bahwa angin pada saat itu adalah angin laut.
Kecepatan angin mempengaruhi frekuensi gelombang laut. Dimana semakin
besar kecepatan angin maka gelombang laut semakin besar pula, dan begitupun
sebaliknya.

2) Pasang Surut
Kami mengambil gambar pengamatan di daerah Desa Botubarani Kecamatan
Kabila Bone kabupaten Bone Bolango pada tanggal 23 desember 2010. Yang mana
air laut sudah mulai naik. Kami mengambil gambar pada waktu sore hari menjelang
magrib. Kemudian pada pagi harinya kondisi air laut sudah mulai turun.
Pasang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air
yang menggelembung yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut
di wilayah pesisir secara periodik. Gaya tarik gravitasi matahari juga memiliki efek
yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil.
38

Dengan kata lain peristiwa alam pasang surut air laut merupakan naik
turunnya perairan yang diakibatkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari.
Bumi dan matahari saling menarik. Demikian juga antara Bumi dan Bulan.
Gaya tariknya tergantung pada jaraknya. Semakin dekat jaraknya, gaya tariknya
makin kuat. Bumi terdiri dari bagian yang padat, termasuk daratannya, dan bagian
laut. Kedua bagian itu sama-sama mengalami tarikan dari Bulan dan Matahari. Tetapi
besarnya gaya tarik pada bagian padat dan lautan berbeda, tergantung jaraknya dari
bulan atau Matahari. Akibat perbedaan gaya tarik itu, air laut cenderung bergerak
menjauhi bagian padat. Akibatnya akan terjadi pasang, baik di bagian yang
menghadap Bulan atau Matahari maupun di bagian sebaliknya. Di bagian lain air laut
surut. Karena rotasi Bumi, bagian yang pasang dan yang surut selalu berpindah.
Setiap setengah hari akan mengalami keadaan pasang yang bergantian dengan
keadaan surut.
Karena Matahari lebih jauh daripada Bulan, pengaruh pasang surut oleh
matahari lebih kecil daripada oleh Bulan. Tetapi, kalau digabungkan pengaruhnya
akan lebih kuat dari biasanya. Ini terjadi pada saat bulan sabit atau bulan purnama.
Itulah sebabnya pada saat bulan purnama air pasang paling tinggi.
Kemudian Adanya gaya gravitasi Bulan yang besarnya dua kali daripada gaya
gravitasi Matahari, mengakibatkan terjadinya gejala pasang surut air laut. Gaya
gravitasi Bulan lebih besar daripada matahari dikarenakan oleh letak bulan lebih
dekat dengan bumi.
Selain itu, pasang surut air laut dapat disebabkan oleh terjadinya perubahan
iklim. Saat ini perubahan iklim tidak dapat diprediksi dengan tepat. Hal ini
dikarenakan adanya gejala pemanasan global yang diakibatkan oleh kerusakan
lingkungan. Kerusakan lingkungan ini seringkali ditimbulkan oleh manusia.
Adanya perubahan iklim ini maka permukaan air laut sering mengalami
kenaikan. Selain itu, adanya pemanasan global mengakibatkan terjadinya pelelehan di
Kutub Utara maupun Kutub Selatan. Dengan adanya peristiwa pelelehan es tersebut,
dapat menimbulkan peristiwa alam pasang surut air laut.
39


3) Biota Laut
Biota laut merupakan berbagai jenis organisme hidup di perairan laut yang
menurut fungsinya digolongkan menjadi tiga, yaitu produsen merupakan biota laut
yang mampu mensintesa zat organik baru dari zat anorganik, kedua adalah konsumen
merupakan biota laut yang memanfaatkan zat organik dari luar tubuhnya secara
langsung.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di pantai wisata Olele, terdapat
beragam biota laut, namun lebih didominasi oleh terumbu karang. Terumbu karang
ini berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan, Mencegah terjadinya
pengikisan pantai (abrasi) dan dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata bahari yang
dapat mendatangkan wisataan.
Tidak semua tempat dilaut dapat menjadi ekosistem dari terumbu karang atau
biota laut lainnya, hal ini dipengaruhi oleh tingkat intensitas cahaya matahari,
pencemaran lautnya, serta zonasi wilahnya. Intensitas cahaya matahari dapat
membantu proses fotosintesis dari terumbu karang, sehingganya terumbu karang
hanya dapat tumbuh pada daerah laut yang masih dipengaruhi dan mampu ditembus
oleh cahaya matahari.
Pencemaran laut juga dapat mempengaruhi keberadaan biota laut. Pencemaran
laut yang berlebih dapat mempengaruhi warna terumbu karang, dan proses kehidupan
biota laut lainnya. Dengan adanya pencemaran laut, misalnya sampah-sampah
anorganik seperti plastic atau sejenisnya, dapat mempengaruhi perkembangan biota
laut didalamnya. Pencemaran plastic dapat menghambat aktivitas biota laut
didalamnya.
Sesuai dengan hasil pengamatan yang telah dilakukan, pencemaran pantai
wisata Olele sangat memprihatinkan. Banyak terdapat sampah-sampah berserakan
40

disekitar pesisir pantai sampai dengan wilayah pantai itu sendiri. Pencemaran yang
ada bukan hanya berupa sampah anorganik, tapi juga terdapat pencemaran minyak
dari berbagai macam sumber, diataranya minyak dari pembuangan perahu, dan dari
pembuangan rumah tangga. Berikut beberapa gambar beragam biota laut yang ada di
pantai wisata Olele.


4.2.3 Pengamatan Kelompok 3
4.2.4 Menghitung Kecepatan arus laut
Arus laut merupakan gerakan massa air laut yang berpindah dari satu tempat
ke tempat lain. Arus di permukaan laut terutama disebabkan oleh tiupan angin,
sedang arus di kedalaman laut disebabkan oleh perbedaan densitas massa air laut.
Arus mempunyai pengaruh positif maupun negativ terhadap kehidupan biota
perairan. Arus dapat mengakibatkan luasnya jaringan. Jaringan jasad hidup yang
41

tumbuh didaerah itu dan partikel-partikel dalam supensi dapat menghasilkan
pengkikisan. Manfaat dari arus yakni banyak biota yang menyangkut penambahan
makanan bagi biota-biota lainnya dan pembuangan kotoran-kotoranya. (anonymous c,
2009).
Pada pengamatan yang dilakukan di pantai wisata Olele mengenai kecepatan
arus laut, kami menggunakan papan silang, tali 1 meter, dan tongkat sekitar 2 meter
sebagai medianya. Pada pengamatan ini, kecepatan rata-rata arus pantai Olele
menjadi objek yang ingin diketahui.
Pada proses mencari kecepatan rata-ratanya, menggunakan media yang telah
disediakan. Papan silang diikat pada tongkat dengan tali sepanjang 1 meter.
Kemudian tongkat tersebut dibawa ke permukaan laut dengan jarakdari bibir pantai
sesuai dengan yang diinginkan. Pada pengamatan tersebut, jarak yang digunakan dari
bibir pantai ke tongkat untuk tiap-tiap kelas berbeda-beda. Untuk kelas A, jarak yang
digunakan 31,5 meter, kelas B 16 meter, dan kelas C 31,4 meter. Setelah itu,
menentukan kedalaman yang digunakan, untukkelas A kedalaman laut yang
digunakan 8,55 meter, kelas B 1,58 meter, dan kelas C 10 meter. Kemudian, setelah
segala sesuatunya telah ditentukan, papan silang yang terikat pada tongkat dibawa ke
permukaan laut, dan setelah sampai lokasi yang telah ditentukan papan silang yang
tetap terikat pada tongkat dilepaskan dan dibiarkan sampai talinya meregang, dan
mencatat berapa waktu yang diperlukan untuk tali meregang. Hal ini dilakukan
sebanyak 3 kali. Kemudian setelah memperoleh waktu yang diperlukan tali untuk
meregang, maka dengan data yang ada dapat ditentukan berapa kecepatan rata-rata
dari arus laut tersebut. Untuk kecepatan rata-rata yang diperoleh dari pengukuran
kelas A adalah 0,026 m/s, kelas B 0,0138 m/s, dan kelas C 0,06 m/s.
Kecepatan arus rata-rata yang diperoleh dari setiap kelas berbeda. Kecepatan
arus yang paling besar diperoleh dari perhitungan data kelas C, sedangkan untuk
kecepatan arus rata-rata yang paling rendah yakni perolehan data dari kelas B. Hal
42

yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah jarak tongkat dari bibir pantai, dan
kedalaman laut yang digunakan pada saat pengambilan data.
Jauh jarak pengambilan data dari bibir pantai dan semakin dalam lautnya
sangat mempengaruhi waktu tali pada papan silang meregang. Mengapa? Karena
apabila jarak yang digunakan dekat dengan bibir pantai dan kedalaman lautnya tidak
begitu dalam, gerak dari papan silang selain dipengaruhi oleh arus dating, juga
dipengaruhioleh arus balik.
Semakin jauh dari bibir pantai dan semakin dalam lautnya, kuat arus semakin
besar dan bergerak normal. Begitupula sebaliknya, semakin dekat dengan bibir
pantai, kuat arus semakin rendah dan bergerak tidak normal, hal ini dikarenakan di
daerah dekat bibir pantai terjadi pertemuan antara ombak dating dan ombak balik atau
dikenal dengan istilah wilayah kepesisiran.
Menurut Hinckteg Etall (1991), arus selalu berhungan dengan kedalaman.
perubahan arah arus yang kompleks susunannya terjadi sesuai dengan makin
bertambahnya kedalaman perairan. Hal ini sesuai dengan pengamatan yang telah
dilakukan.










43

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berapa kesimpulan yang dapat dipaparkan berkaitan dengan pengamatan ini
adalah sebagai berikut :
1) Pantai wisata Olele terbentuk karena adanya proses pengangatan lautan.
2) Ekosistem laut di pantai wisata Olele terdiri dari beragam biota laut yang unik
dan indah. Untuk pantai wisata Olele, biota laut yang mendominasi yaitu
terumbu karang.
3) Keragaman ekosistem laut dalam hal ini biota laut sangat dipengaruhi oleh
intensitas cahaya matahari, pencemaran laut, dan zonasi wilayahnya.
4) Kecepatan arus laut sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut dan kecepatan
angin.
5) Gelombang dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya angin yang meliputi
kecepatan angin, panjang/jarak hembusan angin, dan waktu (lamanya)
hembusan angin.
6) Sedimen yang terdapat di pantai wisata Olele terdiri dari sedimen sedimen
jenis Litos atau Lithougenus, sedimen jenis biogenesis, serta sedimen jenis
hidrogenesis.
7) Pencemaran laut dapat mempengaruhi kehidupan biota laut.
8) Perubahan iklim dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi
gelombang laut, arus laut, dan lambat laun juga akan mempengaruhi
morfologi pantai.





44

5.2 Saran
Adapun beberapa hal yang dapat disampaikan terkait pengamatan ini adalah
sebagai berikut :
1) Dalam pengamatan selanjutnya hendaknya pematangan materi perlu agar
dalam proses pengamatan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
2) Hendaknya dalam pengamatan selanjutnya, alat yang digunakan lebih
ditunjang lagi kelengkapannya.
3) Bimbingan dari dosen pembimbing perlu dilakukan demi kelancaran
kelangsungan pengamatan.




















DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.http://www.alpensteel.com/article/52-106-energi-laut-ombak-
gelombang-arus/2174--definisi-gelombang-laut.html (diakses tanggal 08
terumbu karang-laut.hJanuari 2011)
Anonim.2010.http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/morfologi-biota- tml
(diakses tanggal 08 Januari 2011)
Hutabarat,Sahala dan M.Evans,Stewart. 2008 . pengantar oseanografi . Universitas
Indonesia Press : JAKARTA
Kresna, T, D, dan Y. Darlan. 2008. Partikel microskopis dasar laut Nusantara.
Universitas Gajah Mada Press : Jogyakarta
Upangat A, dan Susanna. 2003. Pengantar Oseanografi. Pusat Riset wilayah Laut
dan Sumberdaya Non-Hayati, BRPKP-DKP. ISBN.No. 979-97572-4-1











LAMPIRAN

Gambar 1. Anemometer digital dalam menentukan arah angin


Gambar 2. Termometer Infra red dalam mengukur suhu



Gambar 3. Mengamati Biota Laut