Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian mengenai difusi larutan melalui membran telah membedakan koloid
dengan kristaloid. Dari pengamatannya ternyata partikel zat dalam larutan ada yang
berfungsi cepat dan lambat. Zat-zat yang mudah terdifusi umumnya membentuk
kristal dalam keadaan padat, sehingga ia menyebutnya kristaloid, contohnya NaCl
dalam air. Sedangkan zat-zat yang yang sukar berdifusi seperti lem, agar-agar, putih
telur, dinamakan kolid (Bahasa Yunani kolla = perekat) . Dalam sistem koloid zat
terdispersi maupun pendispersi dapat berupa gas, cairan, maupun padatan.
Dari sistem koloid terdapat titik isoelektrik, dimana ketika pH pada muatan
negatif dan muatan positifnya setimbang yaitu pada viskositas minimum. Penentuan
titik isoelektrik dilakukan melalui pengamatan viskositas. Pada koloid, jika pH sama
dengan titik isoelektrik, maka sebagian atau semua muatan pada partikelnya akan
hilang selama proses ionisasi terjadi. Jika pH berada pada kondisi di bawah titik
isoelektrik, maka muatan partikel koloid akan bermuatan positif. Sebaliknya jika pH
berada di atas titik isoelektrik maka muatan koloid akan berubah menjadi netral atau
bahkan menjadi negatif. Oleh sebab itu, dilakukan suatu percobaan mengenai sol
liofil untuk mempelajari sifat sol liofil dan menentukan titik isoelektrik melalui
pengamatan viskositas.
1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan sol liofil ini adalah untuk mempelajari sifat sol liofil dan
menentukan titik isoelektrik melalui pengamatan viskositas.

1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah penentuan titik isoelektrik sol liofil dapat
ditentukan dengan memperhatikan nilai minimum dan titik isoelektriknya dengan
suatu alat yaitu viskometer Ostwald. Selain itu ditentukan juga viskositas sol liofil
pada berbagai pH dimana digunakan air sebagai standar dan menentukan rapat
massa larutan-larutan tersebut menggunakan piknometer. Pada dasarnya sol liofil
terbentuk jika gelatin dimasukkan ke dalam air dan bermuatan positif dalam suasana
asam serta bermuatan negatif dalam suasana basa.
Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
Asam : HOOCRNH
2
+ H
+
HOOCRNH
3
+
Basa : HOOCRNH
2
+ OH
-

-
OOCR NH
2
+ H
2
O















\\

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Koloid
Kestabilan koloid dapat juga disebabkan adanya adsorpsi molekul atau koloid
yang lain (koloid protektif/pelindung). Misalnya gelatin sebagai penstabil es krim.
Secara fisika koagulasi dapat terjadi karena pemanasan atau pendinginan. Misalnya
telur atau santan kelapa muda dapat menggumpal jika dipanaskan . Es lilin bisa
menjadi keras karena didinginkan (Keenan, dkk, 1992).
Berdasarkan interaksi antara fasa terdispersi dengan fasa pendispersi, koloid
dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain (Martin, 1983):
a. Koloid liofil
Koloid liofil adalah koloid yang memiliki daya tarik yang kuat dengan medium
pendispersinya, sehingga sulit dipisahkan (stabil).
b. Koloid liofob
Koloid liofob adalah jenis koloid yang memiliki daya tarik yang lemah terhadap
medium pendispersinya sehingga cenderung memisah (tidak stabil).
c. Koloid gabungan (koloid amfilik)
Koloid amfilik atau koloid gabungan adalah zat aditif pada permukaan yang
memiliki dua daerah melawan aktifitas.

2.2 Sol dan Sifat-Sifatnya
Sol adalah sistem koloid yang fase terdispersinya zat padat dari medium
pendispersinya, sol dibedakan atas sol liofil dan sol liofob. Sol liofil yang medium
pendispersinya air disebut sol hidrofil, sedangkan sol liofob yang medium
pendispersinya air disebut sol hidrofob. Pada sol liofil, partikel-partikel padat akan
menyerap molekul cairan (suka larut). Sol liofil lebih stabil dan tidak mengalami
koagulasi jika ditambahkan sedikit elektrolit. Pada sol hidrofob, partikel-partikel
tidak menyerap molekul cairan. Dengan menambahkan elektrolit, maka pada butir-
butir sol liofob akan dinetralkan sehingga menjadi endapan (Sukardjo, 2002).
Sifat-sifat yang didapat dari suatu sol adalah (Yazid, 2005):
a. Sifat koligatif
b. Sifat fisika
c. Sifat optik
d. Sifat kinetika
2.3 Viskositas dan Konsep Viskositas
Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan atau fluida.
Kekentalan merupakan sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk
mengalir. Beberapa cairan ada yang dapat mengalir cepat, sedangkan lainnya
mengalir secara lambat. Jadi, viskositas tidak lain menentukan kecepatan mengalirnya
suatu cairan (Yazid, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas antara lain (Martin, 1983) :
a. Suhu
Viskositas dan suhu memiliki perbandingan terbalik, dimana semakin tinggi suhu
maka viskositas dari bahan tersebut akan semakin tinggi.
b. Konsentrasi
Semakin besar konsentrasi suatu bahan maka viskositasnya semakin besar.
c. Tekanan
Viskositas pada bahan pangan tidak terlalu dipengaruhi oleh tekanan.
d. Berat molekul
Terjadi hubungan langsung non-linier antara berat molekul dan viskositas larutan
pada konsentrasi yg sama.



BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Adapun peralatan yang digunakan pada percobaan ini adalah batang pengaduk,
botol semprot, gelas kimia, labu takar, piknometer, viskometer Ostwald dan klem
viskometer.
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades, asam sitrat,
dinatrium hidrogen fosfat dan gelatin.

3.2 Analisa Bahan
3.2.1 Akuades (H
2
O)
Akuades merupakan larutan berwarna putih yang merupakan pelarut universal
atau dapat melarutkan banyak elektrolit. Akuades memiliki titik didih 100dan titik
leleh 0dengan massa jenis sebesar 1 gr/mL. Akuades memiliki pH netral dan tidak
berbahaya (Kusuma, 1983).
3.2.2 Asam Sitrat (C
6
H
8
O
7
)
Asam sitrat merupakan asam organik berbentuk hablur, berwarna putih, dan
berasa asam. Asam ini digunakan untuk menetralkan basa dalam minuman segar,
seperti air jeruk (Pudjaatmaka, 2002).
3.2.3 Dinatrium Hidrogen Fosfat (Na
2
HPO
4
)
Dinatrium hidrogen fosfat merupakan padatan kristalin yang biasa digunakan
sebagai soda kue, zat aditif pada bahan pangan dan pengaruh sistem buffer. Larutan
ini tidak berbahaya (Daintith, 1994).
3.2.4 Gelatin
Gelatin merupakan protein yang diperoleh dari kulit, jaringan ikat putih dan
tulang hewan. Gelatin digunakan dalam makanan untuk pengental dan penarik air,
industri plastik, metalurgi farmasi dan fotografi (Pudjaatmaka, 2002).




3.3 Prosedur Kerja
Pertama-tama dibuat larutan dengan pH berturut-turut 2,2; 3,0; 4,4; 5,0; 6,0 dan
7,0 masing-masing sebanyak 50 mL. Kemudian kedalam tiap larutan tersebut
dilarutkan 0,5 gram gelatin. Jika untuk melarutkan gelatin tersebut diperlukan
pemanasan, maka setelah dipanaskan larutan dipindahkan kedalam labu takar 50 mL
dan volumenya dijadikan tepat 50 mL dengan penambahan air suling. Selanjutnya
ditentukan pH larutan dengan pH meter. Tentukan juga viskositas larutan-larutan
gelatin tersebut dengan menggunakan air sebagai standar dengan viscometer Ostwald.
Tentukan pula rapat massa larutan-larutan tersebut dengan menggunakan piknometer.

3.4 Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Viskometer Ostwald


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
No Ph Waktu (sekon) Massa pikno+larutan
1 Air 27,12 26,74 26,54
2 3,07 43,95 44,09 44.07
3 3,71 38,73 37,90 38,10
4 4,34 34,31 34,42 34,48
5 4, 33,41 33,53 33,68
6 5,82 34,38 34,30 34,19
7 7 34,70 34,55 34,63


PH Na2HPO4 0,2M (ml) Asam sitrat 0,1M (ml)
2 0,2 9,8
3 2,06 7,94
4 3,86 6,14
5 5,15 4,85
6 6,32 3,48
7 8,24 1,76

4.2 Pembahasan
Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau
lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang
dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain. Dimana di antara campuran
homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran yaitu koloid, atau bisa juga
disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi heterogen. Campuran homogen
adalah campuran yang memiliki sifat sama pada setiap bagian campuran tersebut,
contohnya larutan gula dan hujan. Sedangkan campuran heterogen sendiri adalah
campuran yeng memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran, contohnya air
dan minyak (Sukardjo, 2002).
Menurut (Sastrohamidjojo, 2001) sol biasanya dibentuk dengan pemecahan
padatan menjadi partikel-partikel kecil berdimensi koloid dan partikel-partikel
tersebut terdispersi dalam fasa cairan. Sol juga dapat dibentuk oleh pembuatan
partikel koloid dari agregat molekul . Menurut (Yazid, 2005) sistem koloid
merupakan suatu sistem dispersi yang terdiri dari dua fasa yaitu, fasa terdispersi
berupa zat padat dan fasa pendispersi berupa cairan. Sol liofil merupakan sol yang
partikel-partikel padatnya akan menyerap molekul cairan atau dengan kata lain sol
yang suka pelarut.
Cara kerja viskometer Ostwald (Lahman, 1994) :
1) Sebelum digunakan , viskometer hendaknya di bersihkan terlebih dahulu.
2) Letakkan viskometer pada posisi vertical.
3) Pipet cairan yang akan ditentukan kekentalannya dimasukkan kedalam reservoir
a sampai melewati garis reservoirnya (kira-kira setengahnya).
4) Biarkan viskometer beberapa menit dalam thermostat untuk menyeimbangkan
atau mencapai suhu yang di kehendaki.
5) Cairan dihisap melalui pipa b sampai melewati garis m.reservoirnya.
6) Cairan dibiarkan turun sampai garis n.
7) Catat waktu yang dibutuhkan cairan untuk mengalir dari garis m ke n.
Titik Isoelektrik adalah derajat keasaman atau pH ketika suatu makromolekul
bermuatan nol akibat bertambahnya proton atau kehilangan muatan oleh reaksi asam-
basa. Pada koloid, jika pH sama dengan titik isoelektrik, maka sebagian atau semua
muatan pada partikelnya akan hilang selama proses ionisasi terjadi. Jika pH berada
pada kondisi di bawah titik isoelektrik, maka muatan partikel koloid akan bermuatan
positif. Sebaliknya jika pH berada di atas titik isoelektrik maka muatan koloid akan
berubah menjadi netral atau bahkan menjadi negatif. Perbedaan titik isoelektrik pada
protein didasarkan atas perbedaan asam amino penyusunnya. Setiap asam amino
memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan antara yang satu dengan yang
lainnya. Asam-asam amino ada yang bermuatan positif, negatif, ataupun netral ketika
beberapa asam amino bergabung membentuk protein maka setiap muatan asam amino
akan berkontribusi pada muatan total protein yang disusunnya. Pada titik
isoelektriknya, asam-asam amino yang menyusun suatu protein berada dalam
keadaan sebagai ion zwitter-tidak bermuatan atau memiliki jumlah muatan positif dan
negatif yang sama. Dalam percobaan ini penentuan titik isoelektrik didasarkan atas
perhitungan pH dan nilai viskositas air dengan nilai viskositas dari tiap pH (Keenan,
1984).
Penggolongan sistem koloid didasarkan pada jenis fase pendispersi dan fase
terdispersi yaitu (Alberty dan Daniels, 1984 ) ;
1. Aerosol
Sistem koloid yang terdiri dari fase terdispersi padat atau cairan dan fase
pendispersinya gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut
aerosol padat.
Contoh aerosol padat : debu buangan knalpot. Sedangkan zat yang terdispersi berupa
zat cair disebut aerosol cair. Contoh aerosol cair : hairspray dan obat semprot. Untuk
menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol).
Contoh propelan aerosol yang banyak digunakan yaitu CFC dan CO2.
2. Sol
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol.
Contoh sol : putih telur, air lumpur, tinta, cat dan lain-lain. Sistem koloid dari partikel
padat yang terdispersi dalam zat padat disebut sol padat. Contoh sol padat :perunggu,
kuningan, permata (gem).
3. Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi.
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat disebut emulsi padat
sedangkan system koloid dari zat cair yang terdispersi dalam gas disebut emulsi gas.
Syarat terjadinya emulsi yaitu kedua zat cair tidak saling melarutkan. Emulsi
digolongkan ke dalam 2 bagian yaitu emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam
minyak.Contoh emulsi minyak dalam air : santan, susu, lateks. Contoh emulsi air
dalam minyak : mayonnaise, minyak ikan, minyak bumi. Contoh emulsi padat: jelly,
mutiara, opal. Emulsi terbentuk karena pengaruh adanya suatu pengemulsi
(emulgator). Misalnya sabun dicampurkan kedalam campuran minyak dan air, maka
akan diperoleh campuran stabil yang disebut emulsi.
4. Buih
Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih, sedangkan
sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut buih padat.Buih
digunakan dalam proses pengolahan biji logam dan alat pemadam kebakaran. Contoh
buih cair : krim kocok (whipped cream), busa sabun. Contoh buih padat : lava,
biskuit. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat yang
mengandung
pembuih dan distabilkan oleh pembuih seperti sabun dan protein. Ketika buih tidak
dikehendaki, maka buih dapat dipecah oleh zat-zat seperti eter, isoamil dan alkohol.
5. Gel
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat
setengah kaku disebut gel. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya
mengadsorpsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contoh
gel : agar-agar, semir sepatu, mutiara, mentega. Campuran gas dengan gas tidak
membentuk sistem koloid tetapi suatu larutan sebab semua gas bercampur baik secara
homogen dalam segala perbandingan.
Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan
fruktosa. Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa,
yaitu antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada
fruktosa melalui atom oksigen. Gugus OH glikosidik adalah atom karbon yang
merupakan gugus aldehida pada glukosa dan gugus keton para fruktosa. Sukrosa
mempunya sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Pada proses hidrolisis terjadi
perubahan sudut putar, mula-mula ke kanan menjadi ke kiri, proses ini disebut juga
inversi. Hasil hidrolisis sukrosa yaitu campuran glukosa dan fruktosa disebut gula
invert. Dalam usus halus sukrosa akan diubah menjadi glukosa dan fruktosa oleh
enzim sukrase atau invertase.
Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi tiga
kelompok,yaitu suspensi, koloid,dan larutan (Atkins, 1997) :
1.Larutan(dispersi molekuler)
Larutan merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya sangat kecil (< 10
-7
cm atau < 1 nm), sehingga tidak dapat dibedakan
antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi. Contoh: Larutan gula, larutan
garam, udara bersih.
2.Koloid
Koloid merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya 10
-7
-10
-5
cm(1 100 nm), secara makroskopis tampak homogen, tetapi
sebenarnya heterogen (dengan mikroskop ultra dapat dibedakan antara partikel
pendispersi dengan partikel terdispersi). Contoh: susu cair, asap, dan kabut.
3.Suspensi
Suspensi merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya relatif besar (> 10
-5
cm atau > 100 nm) dan tersebar merata dalam
medium pendispersinya. Pada umumnya suspensi merupakan campuran
heterogen.Contoh:pasir yang dicampur dengan air, air sungai, dan air kopi.Dalam
sistem dispersi, partikel terdispersi dapat diamati dengan mikroskop biasa atau
dengan mata telanjang.

Seperti yang telah dijelaskan, sol merupakan jenis koloid dimana fase
terdispersinya merupakan zat padat. Berdasarkan medium pendispersinya, sol dapat
dibagi menjadi:
Sol padat
Sol cair (sol)
Sol gas (aerosol padat)
Sol liofil adalah sol yang zat terdispersinya akan menarik dan mengadsorpsi
molekul mediumnya. Bila sol tersebut menggunakan air sebagai mediumnya, maka
disebut hidrofil.. Contoh sol hidrofil adalah kanji, protein, sabun, agar-agar, detergen,
dan gelatin. Sifat-sifat dari sol liofil yaitu:
Efek Tyndall
Gerak Brown
Adsorpsi koloid
Muatan Koloid Sol
4.2.1 Analisis Prosedur Kerja
Pada percobaan sol liofil ini, ditentukan penentuan titik isoelektrik melalui
pengamatan viskositas dimana dalam percobaan ini, pembuatan sol liofil dilakukan
dengan menggunakan gelatin sebagai fasa terdispersi dan sebagai fasa pendispersinya
adalah larutan dinatrium hidrogen fosfat (Na
2
HPO
4
) dan larutan asam sitrat
(C
6
H
8
O
7
).Gelatin dicampurkan ke dalam larutan dinatrium hidrogen fosfat
(Na
2
HPO
4
) 0,2 M dan larutan asam sitrat (C
6
H
8
O
7
) 0,1 M dengan variasi pH yang
berbeda-beda, variasi PH yang digunakan bertujuan untuk mengetahui pengaruh PH
terhadap massa jenis zat terlarut dan viskositas cairan. Gelatin yang dicampurkan ke
dalam larutan dinatrium hidrogen fosfat (Na
2
HPO
4
) 0,2 M dan larutan asam sitrat
(C
6
H
8
O
7
) 0,1 M adalah zat kimia padat, tembus cahaya, tak berwarna, rapuh (jika
kering), dan tak berasa, yang didapatkan dari kolagen yang berasal dari berbagai
produk sampingan hewan, gelatin merupakan campuran antara peptida dengan
protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen yang secara alami terdapat pada tulang
atau kulit binatang. Struktur molekul gelatin sebagai berikut;

Gambar 4.1 Struktur Molekul Gelatin
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling
utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan
polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain
dengan ikatan peptida. Gelatin adalah protein yang bersifat amfoter yaitu dapat
bereaksi pada suasana asam dan basa kemudian gelatin ini merupakan suatu protein
zwitter ion yang dapat terinisasi membentuk ion positif (+) pada suasanan asam dan
ion negatif (-) pada suasana basa. Pada gelatin yang menjadi penyebab bermuatan (+)
dan (-) adalah gugus amina (NH
3
). Pada larutan asam suatu protein terionisasi, sesuai
reaksi berikut:
HOOC R NH
2
+ H
+
HOOC R NH
3
+

Sedangkan pada larutan yang bersifat basa reaksinya adalah:
HOOC R NH
2
+ OH
-

-
OOC R NH
2
+ H
2
O
Setelah pengukuran gelatin, kemudian dilakukan pengukuran terhadap pH,
pengukuran pH ini menggunakan pH meter dimana penggunaan dalam pengukuran
pH ini harus dilakukan kalibrasi terhadap pH meter agar hasil pH yang didapatkan
tidak berubah-berubah. Pada percobaan sol liofil ini menggunakan viskometer
Ostwald bertujuan untuk menentukan rapat massa. Viskometer merupakan sebuah
alat yang digunakan untuk mengukur viskositas suatu cairan, dimana viskositas
sendiri yaitu tahanan aliran fluida yang merupakan gesekan antara molekul-molekul
yang satu dengan yang lainnya. Viskometer Ostwald yaitu dengan cara mengukur
waktu yang dibutuhkan bagi cairan dalam melewati 2 tanda ketika mengalir karena
gravitasi melalui viskometer Ostwald.Untuk mengkalibrasi viskometer Ostwald
adalah dengan air yang sudah diketahui tingkat viskositasnya.
4.2.2 Analisis Hasil
Pada percobaan sol liofil ini berdasarkan perhitungan didapatkan massa jenis
tiap pH yang berbeda-beda dengan rumus sebagai berikut;

( )



Dari rumus tersebut didapatkan hasilnya pH = 3,07 = 0,95449

; pH = 3,71 =
0,95592

; pH = 4,34 = 0,96029

; pH = 5,41 = 0,95568

; pH =
5,82= 0,95481

; dan pH = 7 = 0,95672

. Kemudian perhitungan
viskositas ; pH = 3,07= 1,31719

; pH = 3,71= 1,14662

; pH = 4,34=
1,03630

;pH = 5,41= 1,00647

; pH = 5,82 = 1,0250

;pH = 7
= 1,03816

.
Hubungan antara pH dan massa jenis adalah berbanding terbalik begitu juga
hubungan antara pH dan viskositas ini karena dalam percobaan yang lakukan jika
nilai pH semakin besar maka nilai viskositas yang didapatkan semakin kecil. Akan
tetapi pada percobaan ada yang tidak sesuai dengan teori hal tersebut kemungkinan
dikarenakan adanya salah dalam menentukan waktu dengan tepat ketika menekan
stopwatch, ketika pengukuran lama alir larutan.
Tabel 4.1 Nilai pH dan Viskositas






Secara teori pada pH dimana terjadi penurunan viskositas yaitu memiliki
viskositas minimum, hal ini terjadi titik isoelektrik dimana muatan negatif (-) sama
dengan muatan positif (+), sehingga molekul-molekul protein dalam keadaan yang
maksimal mengikat H
+
dan OH
-
pada asam sitrat maupun Na
2
HPO
4
. Sedangkan
setelah melalui titik isoelektrik viskositasnya naik kembali akibat molekul protein
yang berperan mengikat OH
-
mengalami kelebihan muatan OH
-
sehingga dapat
disebut mengalami overload. Oleh karena itulah viskositasnya meningkat kembali
(Atkins, 1999).
Pada grafik, penentuan titik isoelektriknya dengan menghubungkan antara
viskositas dengan pH. Penentuan titik isoelektrik ini yaitu dengan melihat titik pH
yang paling rendah, di percobaan ini didapatkanlah nilai viskositas terendah yaitu
berada pada pH 2,8. Pada grafik yang dihasilkan dapat dilihat pengaruh pH terhadap
viskositas cairan tersebut.
pH (x) (y)
3,07 1,31719
3,71 1,14662
4,34 1,03630
5,41 1,00647
5,82 1,0250
7 1,03816













y = -0.0626x + 1.4013
R = 0.5821
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
0 2 4 6 8
Y-Values
Y-Values
Linear (Y-Values)
titik isoelektirk
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa penentuan titik isoelektrik dengan pengamatan viskositas
dengan cara melihat titik pH yang paling rendah 3.07.














DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W, 1997, Kimia Fisika , Erlangga, Jakarta.
Daintith, J,1994, Oxford, Kamus Lengkap Kimia , Erlangga, Jakarta.
Keenan, Kleinfelter, Wood, A., 1984, Kimia untuk Universitas, Edisi 6, Jilid
1, Penerjemah : Hadyana Pudjaatmaka, Ph.D, Erlangga, Jakarta.

Kusuma, S, 1983, Pengetahuan Bahan-bahan, Erlangga, Jakarta.
Lahman. L.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jakarta : UI
Press.
Martin,A., James,S.,Acthur,C.,1983, Farmasi Fisik, UI press, Jakarta.
Mulyono, 2006, Kamus Kimia , Bumi Aksara, Jakarta.
Sukardjo, 1990, Kimia Anorganik , Rineka Cipta, Jakarta.
Petrucci, 1987,Kimia Dasar, Edisi 6, Jilid 2,Penerjemah : Suminar, Erlangga,
Jakarta
Yazid, E., 2005,Kimia Fisikauntuk Paramedis, Andioffset, Yogyakarta.







ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan mengenai sol liofil dengan tujuan untuk
mempelajari sifat sol liofil dan menentukan titik isoelektrik melalui pengamatan
viskositas. Titik Isoelektrik sendiri adalah derajat keasaman atau pH ketika suatu
makromolekul bermuatan nol akibat bertambahnya proton atau kehilangan muatan
oleh reaksi asam-basa, sedangakan viskositas adalah ukuran yang menyatakan
kekentalan suatu cairan atau fluida. Berdasarkan hasil percobaan yang didapat massa
jenis tiap pH yang berbeda-beda dengan rumus sebagai berikut ; pH = 3,07 = 0,95449

; pH = 3,71 = 0,95592

; pH = 4,34 = 0,96029

; pH = 5,41 =
0,95568

; pH = 5,82= 0,95481

; dan pH = 7 = 0,95672

.
Kemudian perhitungan viskositas ; pH = 3,07= 1,31719

; pH = 3,71=
1,14662

; pH = 4,34= 1,03630

;pH = 5,41= 1,00647

; pH =
5,82 = 1,0250

;pH = 7 = 1,03816

.

Kata Kunci : Sol liofil, titik isoelektrik, viskositas, Ph, massa jenis