Anda di halaman 1dari 4

Mengenali Ciri karakteristik Ikan Badut

Haji Mustakin H1K013006


Ilmu Kelautan Fakultas Sains & Teknik Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr Soeparno Purwokerto 53123 Indonesia
Email : hajimustakin@gmail.com
Abstract
Ikan yang masuk dalam family pomacentridae ini memiliki karakteristik warna dasar jingga
dengan belang tiga garis berwarna putih. Anemone laut yang merupakan kerabat dekat binatang
karang merupakan tempat tinggal utama bagi ikan badut. Tidak sembarangan anemone menjadi
tempat tinggal ikan badut, ikan badut memiliki pilihan tersendiri terhadap anemone yang
disukai. Dikalangan peminat aquarium air laut ikan badut berada pada pilihan atas namun
tingkat kerelatifan untuk memelihara ikan ini pada aquarium air laut masih cukup sulit
dikarenakan tanpa anemone laut, ikan badut akan sukar untuk hidup, sedangkan anemone
sendiri rentan akan kematian apabila tidak pada habitat aslinya.

Keywords : karakteristik, anemone laut, ikan badut

I. PENDAHULUAN
Perairan tropis Indonesia mempunyai vegetasi yang khas diantaranya mangrove, lamun dan
terumbu karang. Ketiga vegetasi ini mempunyai peranan penting bagi kelangsungan hidup
manusia dan biota yang terkandung di dalamnya. Daerah terumbu karang merupakan daerah
yang paling digemari untuk dikunjungi, karena daerah ini menyuguhkan keindahan alam bawah
air. Adapun salah satu keindahan yang bisa kita amati adalah kehidupan beberapa jenis ikan dan
salah satunya yang sangat akrab di kalangan kita yaitu ikan badut ( clownfish/ikan klon/ikan
giru). Ikan badut biasa hidup bersimbiosis dengan biota laut lainnya, yaitu anemone laut.
Anemone laut adalah kerabat dekat binatang karang. Binatang ini merupakan salah satu biota
laut yang digemari bagi pecinta aquarium air laut. Selain itu menurut masyarakat pulau seribu
anemone laut dapat diamakan ( Hadi dan Sumadiyo, 1992). Ikan badut melakukan simbiosis
mutualisme dengan anemone laut. Dalam ekosistemnya ikan badut memiliki kesukaan tersendiri
terhadaap jenis anemone. Untuk itu perlu pengetahuan akan tingkah laku ikan badut bila
anemone yang tersedia bukan anemone kesukaannya. Anemone laut merupakan hewan lunak
yang rentan akan kematian, sehingga memerlukan pengetahuan khusus dalam perawatan
anemone laut di akuarium laut untuk menghindari kematian yang tinggi atau kematian yang
cepat yang dapat berdampak pula pada ikan badut.
II. CIRI-CIRI
Ikan badut termasuk kedalam family Pomacentridae. Ikan badut sebenarnya tidak kurang dari
29 jenis. Pola warna pada ikan ini sering dijadikan dasar dalam proses identifikasi mereka,
disamping bentuk gigi, kepala dan bentuk tubuh ( Fautin dan Allen, 2003). Menurut Mc.
Grouther (2004) ikan badut dikenal dengan 3 warna garis putih (garis tengahnya selalu
mempunyai sebuah bagian yang membengkok dibagian belakangnya ). Dan mempunyai
lingkaran hitam pada bagian siripnya. Spesienya dapat tumbuh mencapai 8 cm panjangnya dan
memakan alga serta zooplankton. Susanto (2003) menyatakan bahwa ikan klon berbentuk
buntek, warna dasarnya merah muda dengan variasi belang berwarna putih. Variasi warna ini
mirip dandanan badut-badut sirkus sehingga dinamai ikan badut. Ikan badut siripnya relative
besar dengan sirip dorsal yang unik. Pola warna pada ikan ini sering dijadikan dasar dalam
proses identifikasi mereka., disamping bentuk gigi, kepala, dan bentuk tubuh. Variasi ini dapat
terjadi pada spesies yang sama ; khususnya berkenaan dengan lokasi sebenarnya. Sebagai contoh
A.cllarki merupakan spesies yang mempunyai penyebaran paling luas sehingga spesies ini
memiliki variasi warna yang paling banyak ( tergantung pada tempat yang ditemukan )
dibandingkan dengan spesies ikan badut lainnya ( Fautin dan Allen, 2003).
Ikan badut dapat ditemukan di kedalamn 1-12m. ikan ini terdapat pada perairan tropis ( Mc.
Grouther, 2004). Suharti ( 1990 ) menjelaskan bahwa, ikan badut merupakan kelompok hewan
diurnal, sebagian besar aktifitasnya di siang hari. Beberapa ahli menyatakan bahwa aktifitas
terbesar dari ikan ini adalah mencari makan dan berenang diantara tentakel-tentakel anemone
laut. Keinginan makan ikan badut dikarenakan adanya rangsangan penglihatan terhadap obyek
baik yang bergerak maupun tidak bergerak ( Allen, 1972). Ikan ini makan sisa dari anemone,
ikan ini menunggu sampai anemone melumpuhkan dan memakan seekor ikan, kemudian
membantu memotongnya-motongnya hingga anemone meninggalkannya sampai tidak makan
lagi. Ikan badut juga memakan tentakel anemone yang telah mati dan plankton ( Enchanted dan
Learning, 2004 ). Randall (2003) berpendapat lain yaitu walaupun ikan anemone termasuk ikan
yang omnivorus, ikan ini cenderung memakan sisa material yang bersifat hewani seperti Alga.

Sumber :Me. Grouther (2004)
IV. DISTRIBUSI
Fautin dan Allen (2003) memaparkan bahwa Ikan Badut merupakan ikan yang mempunyai
daerah penyebaran relatif luas, terutama di daerah seputar Indo Pasifik. Di perairan Papua New
Guinea ditemukan tidak kurang dari 8 species. Berdasarkan Encharted & Learning ( 2004) ikan
anemone hidup dibawah laut diantara Anemon. Ikan klon dapat hidup di perairan hangat pada
pantai Tropis Pasifik, Laut Merah, Samudera Hindia, dan Great Barrier Reef Australia.
Kelompok ikan ini hidup sesuai pada anemone yang sesuai pula ( Suharti, 1990). Susanto (2003)
menambahkan ikan klon senang bermain di belaian anemone. Anemone adalah teman utama
apabila ingin memelihara ikan badut di aquarim. Ikan betook / Pomacentridae adalah ikan giru /
ikan badut yang hidup diantara tentakel tertentu. Betook adalah ikan air laut yang popular di
aquarium ( Nicol, 1960 )
V. MANFAAT BAGI MANUSIA
Ikan klon berdampak positif bagi dunia ekonomi. Hal ini karena ikan klon popular dalam
perdagangan akuarium dan merupakan anggota penting dalam ekosistem di mana
mereka hidup. Mereka berkontribusi dalam kepentingan ekosistem terumbu karang, sehingga
menarik pariwisata. Spesies ini juga penting dalam riset tentang organisme mutualisme. Ikan
badut tidak memiliki dampak negative bagi manusia. Walaupun ikan ini popular dalam
perdagangan akuarium, tetapi saat ini ikan badut tidak terdaftar sebagai ikan yang terancam
punah dalam setiap database internasional (Fautin, DG & Allen, GR 1997).
VI. KERUGIAN BAGI MANUSIA
Anemone clown fish biasa diletakan di aquarium sebagai hewan peliharaan. Meski ikan
badut dapat dijadikan hewan peliharaan namun untuk memeliharanya tidaklah mudah. Salah satu
kerugian yang dihasilkan dari ikan ini adalah apabila kita gagal dalam memelihara ikan ini,
kerugian yang diterima tidaklah sedikit. Hal ini dikarenakan untuk memelihara ikan badut
membutuhkan anemone sebagai tempat tinggal, untuk mendapatkan anemone laut tidaklah
mudah, selain harga mahal , metode pemeliharaan anemone itu sendiri cukup sulit dan butuh
waktu yang lama untuk membuat anemone dapat berkembang biak ( Susanto, 2003). cukup
menguras kantong untuk mendapatkan ikan ini dan akan sangat merugikan manusia apabila ikan
ini mati ketika pemeliharaanya ( Suharti, 1990 ).
VII. KESIMPULAN
Ikan badut dapat diidentifikasi secara umum berdasarkan bentuk gigi, kepala dan bentuk
tubuh. Ikan badut biasa hidup bersimbiosis dengan biota laut lainnya, yaitu anemone laut.
Anemone laut adalah kerabat dekat binatang karang. Ikan klon memiliki warna dasar jingga
dengan 3 corak warna putih pada tubuhnya. Cara mendapatkan makan ikan badut adalah
memakan makanan sisa dari anemone laut. Ikan ini bisa ditemukan pada kedalaman 1-12 m. .
Ikan klon dapat hidup di perairan hangat pada pantai Tropis Pasifik, Laut Merah, Samudera
Hindia, dan Great Barrier Reef Australia. Dalam kalangan pecinta aquarium air laut ikan ini
mempunyai daya tarik yang cukup tinggi , namun disisi cukup sulit untuk memelihara anemone
clown fish ini karena memerlukan anemone yang rentan akan kematian bila tidak pada habitat
aslinya. Ikan badut tidak bias diberikan sembarang anemone, ikan badut akan memilih anemone
yang sesuai untuk tempat tinggalnya.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
.Enchanted Learning. 2004. Clownfish or Clown Anemonefish . http ://www
.EnchantedLearning.com. [November 2004].
Fautin, D.G. dan G. R. Allen. 2003. Clown Fish. http://www .O-Fish.com .[November 2004].
Hadi, N. dan Sumadiyo. 1992. Anemon Laut (Coelenterata, Actiniaria) Manfaat dan
Bahayanya dalam: Oseana vol. XVII No. 4. P20-LIPI. Jakarta p: 168- 175.
Mc. Grouther, M. 2004. Amphiprion percula (Lacepede, 1802). http://WW\:v .Australian
Museum. com. [November 2004]..
Suharti chris, V. A. 1990. Sessile Animals of The Sea Shore. Chapman and Hall. London p:
181-222.
Susanto, H. 2003. Seri Agriwawasan : Ikan Hias Air Laut (edisi revisi yang ke-3). Penebar Swadaya.
Jakarta: 37 -38.