Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS

Disusun Untuk Memenuhi Praktek Klinik
Stase Keperawatan Anak







Oleh :
Rio Andrianto
2013131099















PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SAHID SURAKARTA
2014
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Keperawatan Dengan Judul :

LAPORAN PENDAHULUAN
FEBRIS

Telah Mendapat persetujuan dari Pembimbing Akademik dan Klinik








Menyetujui,




Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik


.




LAPORAN PENDAHULUAN
FEBRIS

I. Konsep Febris atau demam
A. Pengertian
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara
abnormal.
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan
berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan
juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar
perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila
demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari
terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam
yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode
bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti
semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu
misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan
demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti :
abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak
dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari
para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu
penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya.
Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.

B. ETIOLOGI
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,
keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu
sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan
diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat
penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan
evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik.
Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama
demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam.
Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami
demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan
tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara
intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya (Suriadi
2001).

C. MANEFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala demam menurut (Sinarty, 2003) antara lain :
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C 40 C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri punggung, anoreksia dan
somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih tinggi dari 37,5 C-40C, kulit
hangat, takichardi, sedangkan batasan karakteristik minor yang muncul yaitu kulit
kemerahan, peningkatan kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat
dan dingin, nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala verigo),
keletihan, kelemahan, dan berkeringat.


D. PATOFISIOLOGI
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan set point, tetapi ada
peningkatan suhu tubuh karena pembentukan panas berlebihan tetapi tidak disertai
peningkatan set point. Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon
imun) anak terhadap infeksi atau zatasing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada
infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan
dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari dalam
tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi
oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing (non
infeksi). Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang
terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus. Dalam
hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan
peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan
suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi
kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah ketidakseimbangan
pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang menimbulkan demam pada anak. Suhu
yang tinggi ini akan merangsang aktivitas tentara tubuh (sel makrofag dan sel limfosit
T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan meningkatkan proteolisis yang
menghasilkan asam amino yang berperan dalam pembentukan antibodi atau sistem
kekebalan tubuh. Sedangkan sifat-sifat demam dapat berupa menggigil atau
krisis/flush.Menggigil. Bila pengaturan termostat dengan mendadak diubah dari tingkat
normal ke nilai yang lebih tinggi dari normal sebagai akibat dari kerusakan jaringan,zat
pirogen atau dehidrasi. Suhu tubuh biasanya memerlukan beberapa jam untuk mencapai
suhu baru. Krisis/flush. Bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi dengan mendadak
disingkirkan, termostat hipotalamus dengan mendadak berada pada nilai rendah, mungkin
malahan kembali ke tingkat normal (Sinarty, 2003).
E. PATHWAY FEBRIS

Agen infeksius Dehidrasi
Monosit / makrofag Tubuh kehilangan cairan
Stokin pirogen
Mempengaruhi hipotalamus penurunan cairan intrasel
Anterior
Aksi antipiretik DEMAM / FEBRIS


Peningkatan evaporasi meningkatnya ph berkurang
Metabolic tubuh
MK. Resiko deficit Aneroksia
Volume Cairan
Kelemahan Intake makanan (-)

MK: intoleransi aktifitas MK: Resiko Gangguan
Pemenuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh
Gangguan Rasa Nyaman

Rewel
Cemas
MK; Kurang Pengetahuan


Sumber : Suriadi & Rita Yuliani (2001)


F. Penatalaksanaan Demam menurut ( Soegeng Soegijanto, 2002) :
1. Secara Fisik
1. Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam.
Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau. Perhatikan
pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak mengalami
kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya
bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak.
Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam
keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi
intelektual tertentu.
2. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
3. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
4. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak
yang akan berakibat rusaknya sel sel otak.
5. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak banyaknya
Minuman yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan),
air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat
naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
6. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
7. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh
dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk
menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena justru
akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat keluar.
Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan).
8. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam kuku.
Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa hangat dan
tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas. Dengan
demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak
meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang
hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami
vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan
mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.
2. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin dengan
jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan
kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas diatas normal dan
mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi.
Petunjuk pemberian antipiretik:
a. Bayi 6 12 bulan : 1 sendok the sirup parasetamol
b. Anak 1 6 tahun : parasetamol 500 mg atau 1 1 sendokteh sirup
parasetamol
c. Anak 6 12 tahun : 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2 sendok the sirup
parasetamol. Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan
dengan air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari. Gunakan
sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya. (Mansoer arif, 2001)

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik bertujuan untuk mengatahui penyebab dari demam yang dapat
meliputi ( Soegeng Soegijanto,2002 ) :
1. Laboratorium : sero-imunologi, mikrobiologi, hemato-kimia klinik.
2. Biopsi
3. Endoskopi
4. Ultrasonografi
5. Scanning

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan
seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah,
pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap
melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan
seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi ( Soegeng Soegijanto, 2002)



I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi
2. Resiko defisit volume cairan yang berhubungan dengan intake tidak adekuat dan
Diaphoresis
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan keinginan untuk makan (anoreksia).
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hipertermi
5. Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap
infeksi akut
6. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
7. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan informasi
(Lynda juall, Carpenito, 2000)

J. INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan
1) Hypertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan menujukan temperatur dalan batas
normal
Kriteria hasil :
a. Bebas dari kedinginan
b. Suhu tubuh stabil 36-37 C
Intervensi :
1. Monitor suhu tubuh minimal tiap 2 jam.
2. Jelaskan upaya untuk mengatasi hipertermi dan bantu klien/ keluarga dalam
melaksanakanya
3. Observasi tanda-tanda vital (Tekanan darah, Suhu, Nadi dan Respirasi) setiap 2-3
jam.
4. Monitor penurunan tingkat kesadaran.
5. Anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien.
6. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian obat antipiretik dan antibiotik.
2) Resiko defisit volume cairan yang berhubungan dengan intake tidak adekuat dan
diaphoresis
Tujuan : Defisit volume cairan dapat diatasi.
Kriteria hasil :
Mempertahankan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Intervensi :
1. kaji masukan dan haluaran cairan,
2. kaji tanda- tanda vital pasien,
3. ajarkan pasien pentingnya mempertahankan masukan yang adekuat (sedikitnya
2000 ml / hari, kecualiterdapat kontra indikasi penyakit jantung atau ginjal),
4. kaji tanda dan gejala dini defisit volume cairan (mukosa bibir kering, penurunan
berat badan).
5. Timbang berat badan setiap hari.
3) Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : Berat badan normal, nafsu makan ada / bertambah.
Intervensi :
1. timbang berat badan pasien setiap hari
2. jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat beri diet lunak,
3. ajarkan pasien untuk makan sedikit tapi sering,
4. pertahankam kebersihan mulut dengan baik,
5. sajikan makanan dalam bentuk yang menarik
4) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hipertermi
Tujuan: Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil : suhu tubuh 36-37,5oc, N: 100-110x/menit, RR: 24-28x/menit,
kesadaran composmentis, anak tidak rewel.
Intervensi :
1. Kaji faktor-faktor terjadinya hipertermi
2. Observasi tanda-tanda vital tiap 4jam sekali
3. Pertahankan suhu tubuh normal
4. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala/ketiak
5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
6. Anjurkan sirkulasi udara ruangan
7. Beri extra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
8. Batasi aktivitas fisik
5) Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap
infeksi akut
Tujuan: Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas
Intervensi:
1. Tingkatkan tirah baring dan berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung
2. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik
3. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi
4. Berikan aktifitas hiburan yang tepat (nonton TV, radio)
6) Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
Tujuan :
cemas hilang
Kriteria hasil :
a. klien dapat mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan dan menurunkan
suhu tubuh
b. klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan
c. klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi,
proses penyakit
Intervensi :
1. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai
hipertermi
2. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi
3. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon
yang normal
4. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan
keadaan penyakit
7) Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan informasi
Tujuan : pengetahuan keluarga
Kriteria hasil :
a. Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya
b. Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan
c. Keluarga mentaati setiap proses keperawatan

Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
2. Berikan penjelasan kepada keluarga sebab akibat kajang demam
3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan
4. Berikan Health Education tentang cara menolong anak yang kejang dan mencegah
kejang demam
5. Berikan Health Education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak panas
6. Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan
menghindari orang atau teman yang menderita panyakit menular sehingga tidak
mencetuskan kenaikan suhu
7. Beritahukan keluarga jika akan mendapatkan imunisasi agar memberitahukan
kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita kejang demam.





















DAFTAR PUSTAKA
Suriadi & Rita Yuliani. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada
Anak. Edisi I. CV Sagung Seto. Jakarta. 2001.
Sinarty hartanto. (2003). Anak Demam Perlu Kompres. www.
Pediatrik.Com/knal.php
Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba
Medika. Jakarta. 2002.
Mansjoer. A (2001). Kapikta Selekta kedokteran. edisi IV. EGC: Jakarta
Lynda juall, Carpenito, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan / Lynda juall
Carpenito, Editor Edisi Bahasa Indonesia, Monica Ester (Edisi 8), Jakarta: EGC.