Anda di halaman 1dari 19

Pasar Dana Pinjaman

Pasar dana pinjaman di sebuah perekonomian terbuka, dimulai dengan persamaan


identitas, yakni:
S = I + NX
Setiap kali sebuah perekonomian menabung satu rupiah dari pendapatannya, pada saat itu
juga tercipta dana untuk membiayai pembelian modal dalam negeri atau membiayai pembelian
aset luar negeri. Kedua sisi persamaan tersebut pada dasarnya mewakili dua sisi dari pasar dana
pinjaman. Penawaran dana pinjaman berasal dari tabungan nasional (S). Sedangkan permintaan
atas dana pinjaman tersebut bersumber dari investasi domestik (I) dan investasi asing bersih (net
foreign investment/NFI).
Pembelian aset modal (capital asset) menambah permintaan dana pinjaman, terlepas dari
apakah aset itu berada di dalam negeri atau di luar negeri. Karena investasi asing bersih bisa
berbentuk positif atau negatif, maka hal tersebut dapat menambah atau mengurangi permintaan
dana pinjaman yang bersumber dari investasi domestik.
Pada pasar dana pinjaman, bahwa tingkatan atau kuantitas penawaran dan permintaan akan
dana pinjaman itu ditentukan oleh suku bunga riil. Semakin tinggi suku bunga riilnya,
masyarakat akan lebih bersemangat untuk menabung uangnya sehingga mengakibatkan kuantitas
penawaran dana-dana pinjaman. Suku bunga yang lebih tinggi juga mendorong peminjaman
untuk membiayai proyek-proyek permodalan menjadi lebih mahal; sehingga menurunkan
investasi dan juga akan menurunkan kuantitas permintaan dana pinjaman.
Selain mempengaruhi tabungan nasional dan investasi domestik, suku bunga riil di suatu
negara juga mempengaruhi investasi asing bersih pada negara yang bersangkutan. Untuk
mengetahui alasannya, terdapat dua reksadana (mutual funds) . yang satu berada di Indonesia
dan yang lain berada di Amerika Serikat . yang tengah mempertimbangkan untuk membeli
obligasi pemerintah Indonesia atau obligasi Pemerintah Amerika Serikat. Keduanya
mendasarkan keputusan pada perbandingan suku bunga riil di Indonesia dan Amerika Serikat.
Seandainya suku bunga riildi Indonesia meningkat, maka obligasi yang diterbitkan oleh
Pemerintah Indonesia pun menjadi lebih menarik bagi kedua reksadana tersebut.

Dengan demikian, kenaikan suku bunga riil di Indonesia juga akan menyurutkan minat
investor di dalam negeri Indonesia sendiri untuk membeli aset-aset luar negeri dan sekaligus
meningkatkan minat investor asing untuk membeli aset-aset di Indonesia. Bertolak dari kedua
alasan tersebut, suku bunga riil yang lebih tinggi di Indonesia akan menurunkan investasi asing
bersih Indonesia.
Pada Gambar 2.1, menyajikan pasar dana pinjaman secara grafis dalam bentuk diagram
penawaran dan permintaan. Sama halnya dengan analisis sistem keuangan, kurva penawaran
miring ke atas (dari pusat sumbu) karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan kuantitas
dana pinjaman yang ditawarkan, sedangkan kurva permintaan miring ke bawah karena suku
bunga yang lebih tinggi akan menurunkan kuantitas dana pinjaman yang diminta. Dalam sebuah
perekonomian terbuka, permintaan akan dana pinjaman tidak hanya datang dari mereka yang
perlu meminjam dana untuk membeli barang-barang modal atau aset-aset domestik namun juga
dari mereka yang memerlukan dana pinjaman untuk membeli aset-aset luar negeri.
Suku bunga selalu menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan
dana pinjaman. Apabila suku bunga lebih rendah dari tingkat ekuilibrium, maka kuantitas
penawaran dana-dana pinjaman menjadi lebih kecil daripada kuantitas permintaannya. Hal itu
akan mendorong naiknya suku bunga. Sebaliknya, jika suku bunga lebih tinggi daripada tingkat
ekuilibrium, maka kuantitas penawaran dana pinjaman akan lebih besar daripada kuantitas
permintaannya. Kelebihan dana tersebut kemudian akan menekan suku bunga yang berlaku.
Sedangkan pada kondisi ekuilibrium, penawaran dana pinjaman sama dengan permintaannya.
Dengan demikian, suku bunga ekuilibrium, jumlah tabungan masyarakat persis sama dengan
kuantitas investasi domestik dan investasi asing bersih yang diinginkan.

Gambar 2.1. Pasar Dana Pinjaman
Pasar Valuta Asing

Pasar kedua dalam model perekonomian terbuka adalah pasar valuta asing. Para pelaku di
pasar ini dapat menukar atau memperdagangkan rupiah dengan mata uang dari negara-negara
lain. Dengan menggunakan persamaan identitas, yakni:
NFI = NX (2.5)

Pada persamaan 2.5 di atas, dapat dilihat pada kedua sisi dari identitas tersebut sebagai
cerminan dari dua sisi pasar valuta asing. Investasi asing bersih mencerminkan kuantitas rupiah
yang ditawarkan untuk membeli berbagai aset luar negeri. Sebagai contoh, jika sebuah reksadana
Indonesia hendak membeli obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Amerika Serikat, maka
reksadana tersebut perlu menukar rupiah menjadi dollar AS, dan pada saat reksadana melakukan
penukaran, reksadana tersebut memasok rupiah ke dalam pasar valuta asing. Sedangkan net
ekspor mencerminkan kuantitas rupiah yang diminta untuk membeli barang dan jasa yang
nantinya tercatat pada angka net ekspor Indonesia. Sebagai contoh, kalau sebuah perusahaan
industri Amerika Serikat hendak membeli timah buatan PT. Aneka Tambang, maka perusahaan
industri tersebut perlu menukar dollar menjadi rupiah, yang berarti perusahaan industri
mengajukan permintaan rupiah di pasar valuta asing.
Pada Gambar 2.2, memperlihatkan penawaran dan permintaan di pasar valuta asing. Kurva
permintaan miring ke bawah karena nilai tukar riil yang lebih tinggi menjadikan barang-barang
Indonesia lebih mahal dan menurunkan kuantitas rupiah yang diminta untuk membeli barang-
barang tersebut. Sedangkan kurva penawaran berbentuk garis tegak lurus karena kuantitas rupiah
yang ditawarkan bagi keperluan investasi asing bersih tidak tergantung pada nilai tukar riil
(sebagaimana telah disinggung sebelumnya, investasi asing bersih tergantung pada nilai tukar
riil. Dalam membicarakan pasar valuta asing, menganggap suku bunga riil dan investasi asing
bersih tetap).
Nilai tukar riil akan menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan
rupiah, sama halnya dengan harga suatu barang yang selalu menyesuaikan diri guna
menyeimbangkan penawaran dan permintaan barang tersebut. Seandainya nilai tukar riil berada
di bawah tingkat ekuilibrium, maka kuantitas rupiah yang ditawarkan menjadi lebih kecil dari
pada kuantitas yang diminta. Dampak langsungnya adalah kekurangan rupiah, yang selanjutnya
akan meningkatkan .harga. atau nilai tukar rupiah. Demikian pula, sebaliknya,
jika nilai
tukar riil berada di atas tingkat ekuilibriumnya, maka kuantitas penawaran rupiah akan lebih
besar daripada permintaannya sehingga menekan turun nilai tukar rupiahtersebut. Pada nilai
tukar riil ekuilibrium, permintaan rupiah oleh warga asing untuk membiayai net ekspor benar-
benar menyeimbangkan penawaran rupiah dari warga Indonesia untuk ditukar dengan valuta
asing dalam membiayai investasi asing bersih Indonesia.
Pada titik ekuilibrium tersebut, pembedaan atau pemilahan transaksi antara sisi penawaran
atau permintaan dalam model ini sebenarnya sudah tidak terlalu penting lagi. Dalam model itu,
net ekspor merupakan sumber permintaan terhadap rupiah, sedangkan investasi asing bersih
merupakan sumber penawarannya. Dengan demikian, ketika warga Indonesia mengimpor mobil
dari Jepang, model kita menganggap bahwa transaksi tersebut sebagai penurunan kuantitas
rupiah yang diminta (karena turunnya net ekspor), bukannya sebagai kenaikan kuantitas rupiah
yang ditawarkan. Demikian pula, ketika seorang warga Jepang membeli selembar obligasi atau
surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Indonesia, model melihatnya sebagai penurunan
kuantitas rupiah yang ditawarkan (karena turunnya investasi asing bersih), bukannya sebagai
kenaikan kuantitas rupiah yang diminta.

Gambar 2.2. Pasar Valuta Asing

Investasi Asing Bersih: Keterkaitan Antara Dua Jenis Pasar
Dengan memperhatikan persamaan identitas, yakni:
S = I + NFI
dan
NFI = NX
Di pasar dana pinjaman, penawaran berasal dari tabungan nasional, sedangkan permintaan
bersumber dari investasi domestik serta investasi bersih, dan suku bunga riil menyeimbangkan
penawaran dan permintaan tersebut. Di pasar valuta asing, penawaran berasal dari investasi asing
bersih, permintaan bersumber dari net ekspor, dan nilai tukar riil menyeimbangkan penawaran
serta permintaan itu.
Investasi asing bersih merupakan variabel yang mengaitkan kedua jenis pasar tersebut. Di
pasar dana pinjaman, investasi asing bersih adalah bagian dari permintaan. Seseorang yang ingin
membeli aset luar negeri harus membiayai pembelian itu dengan meminjam kredit dari pasar
dana pinjaman. Di pasar valuta asing bersih merupakan sumber penawaran. Seseorang yang
ingin membeli suatu aset di negara lain (di luar Indonesia) harus memasok rupiah guna
memperoleh valuta asing yang sesuai untuk membiayai pembeliannya tersebut.
Faktor penentu atau determinan penting bagi investasi asing bersih adalah suku bunga riil.
Jika suku bunga di Indonesia terhitung tinggi, maka memiliki asetaset Indonesia pun menjadi
lebih menarik, dan karenanya investasi asing bersih Indonesia akan relatif rendah. Gambar 2.3
memperlihatkan hubungan negatif antara suku bunga dan investasi asing bersih. Kurva investasi
asing bersih ini merupakan mata rantai yang menghubungkan pasar dana pinjaman dan pasar
valuta asing.

Gambar 2.3. Investasi Asing Bersih Tergantung pada Suku Bunga
Ekuilibrium Serentak di Dua Pasar
Pada Gambar 2.4 memperlihatkan pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing secara
bersama menentukan berbagai variabel makroekonomi yang penting dari sebuah perekonomian
terbuka.
Bagian (a) dari gambar tersebut memperlihatkan pasar dana pinjaman (diambil dari
Gambar 2.1). Di mana tabungan nasional merupakan sumber penawaran dana pinjaman.
Sebaliknya, investasi domestik dan investasi asing bersih merupakan sumber permintaan dana
pinjaman. Suku bunga riil ekuilibrium (r1) akan menyeimbangkan kuantitas dana pinjaman yang
ditawarkan dengan kuantitas dana pinjaman yang diminta.
Bagian (b) memperlihatkan investasi asing bersih (diambil dari Gambar 2.3). Gambar
tersebut menunjukkan suku bunga dari bagian (a) menentukan investasi asing bersih. Suku bunga
yang lebih tinggi di dalam negeri akan membuat aset-aset domestik lebih menarik, dan hal ini
pada gilirannya menurunkan investasi asing bersih. Dengan demikian, kurva investasi asing pada
bagian (b) miring ke bawah atau menghadap pusat sumbu.
Sedangkan bagian (c) memperlihatkan pasar valuta asing (yang diambil dari Gambar 2.2).
Karena investasi asing bersih harus dibayar dengan valuta asing, maka kuantitas investasi asing
bersih dari bagian (b) menentukan penawaran rupiah yang hendak ditukarkan dengan valuta
asing. Nilai tukar riil tidak mempengaruhi investasi asing bersih, sehingga kurva penawarannya
pun berbentuk garis tegak lurus (vertikal). Permintaan rupiah berasal dari net ekspor. Karena
depresiasi nilai tukar riil meningkatkan net ekspor, maka bentuk kurva permintaan valuta asing
juga miring ke bawah. Nilai tukar riil ekuilibrium (E1) menyeimbangkan kuantitas rupiah yang
ditawarkan dengan kuantitas rupiah yang diminta di pasar valuta asing.
Kedua pasar yang diperlihatkan pada Gambar 2.4 menentukan dua harga relatif, yakni suku
bunga riil dan nilai tukar riil. Suku bunga riil yang ditentukan pada bagian (a) merupakan harga
sekarang atas berbagai barang dan jasa relatif terhadap harganya di masa mendatang. Sedangkan
nilai tukar riil yang digambarkan pada bagian (c) adalah harga barang dan jasa domestik relatif
terhadap harga barang dan jasa luar negeri. Kedua jenis harga relatif ini dapat bergerak serentak
guna menyeimbangkan permintaan dan penawaran di kedua pasar itu. Ketika penyesuaian
sedang berlangsung, kedua harga relatif itu menentukan berapa tabungan nasional, investasi
domestik, investasi asing bersih, dan net ekspor akan tercipta.

Gambar 2.4. Ekuilibrium Serentak di Dua Pasar
Teori Paritas Suku Bunga
IRP adalah salah satu teori yang paling dikenal dalam keuangan internasional yang
menerangkan bagaimana hubungan antara bursa valas (forex market) dan money market (pasar
uang internasional). Teori IRP menyatakan bahwa perbedaan tingkat bunga (sekuritas) pada
international money market akan cenderung sama dengan forward rate premium ataupun
discount. Dengan kata lain, berdasarkan teori IRP akan dapat ditentukan beberapa perubahan
kurs forward atau forward rate (FR) dibandingkan dengan spot rate (SR) bila terdapat perbedaan
tingkat bunga antara home country dan foreign country.
Dengan demikian, seorang pemilik dana akan dapat menentukan dalam mata uang apa
dananya akan diinvestasikan, yaitu dengan membandingkan besarnya perbedaan tingkat bunga
antara dua negara (home dan foreign country) dengan perbedaan antara FR dan SR yang
ditentukan oleh forward rate premium/discount.
Teori ini terdiri dari dua bentuk yaitu paritas suku bunga tertutup (covered interest rate
parity) dan paritas suku bunga tidak tertutup (uncovered interest rate parity). Paritas Suku Bunga
Tertutup (Covered Interest Rate Parity) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kurs spot,
kurs forward, dan variabel suku bunga.
Paritas suku bunga tertutup ini menjelaskan hubungan yang erat antara suku bunga dengan
pergerakan kurs spot dan kurs forward mata uang tertentu khususnya mata uang keras (hard
currency) seperti dolar Amerika dan Yen Jepang. Paritas suku bunga tertutup dipandang sebagai
dasar yang lebih relevan untuk menjelaskan kurs valas.
Mekanisme paritas suku bunga tertutup, yaitu dengan menggunakan hubungan dua negara
dengan nilai mata uang dan suku bunga masing-masing negara, dengan asumsi terdapat
keterbukaan antar negara. Pelaku pasar di suatu negara memiliki dua alternatif untuk
membelanjakan kekayaannya yaitu dengan membeli surat berharga baik di dalam negeri maupun
luar negeri. Hasil dari surat berharga dalam dan luar negeri akan berbeda tergantung dari tingkat
bunga. Hasil satu periode mendatang dari surat berharga dalam negeri adalah (1+i) dalam satuan
domestik. Sedangkan hasil surat berharga luar negeri dalam satuan luar negeri adalah (1+i*)/S, di
mana i adalah prosentase suku bunga, S adalah kurs spot, dan tanda bintang (*) menunjukkan
variabel luar negeri.
Paritas Suku Bunga Tidak Tertutup (Uncovered Interest Rate Parity) juga digunakan untuk
menganalisis model kurs valas. Dalam teori paritas suku bunga tidak tertutup, diasumsikan pasar
yang efisien terjadi bila kurs forward merupakan peramal yang tidak bias untuk nilai kurs spot
pada masa yang akan datang (Syafrudin, 1994: 53). Paritas suku bunga tidak tertutup
mengimplikasikan pelaku pasar dapat memiliki posisi terbuka pada pasar spot yang didasarkan
pada harapan nilai kurs forward. Kurs forwad diharapkan menjadi penentu kurs spot masa datang
secara efisien, yaitu mencakup seluruh informasi yang tersedia yang relevan pada tahun ke-t.

2.6. Teori Paritas Daya Beli
Teori paritas daya beli pertama kali dikemukakan oleh Gustav Casell 1922 (Khalwaty,
2000) mengandung dua pengertian, yaitu pengertian absolut dan pengertian relatif. Pengertian
absolut mengatakan bahwa nilai tukar keseimbangan di antara mata uang dalam negeri dan mata
uang luar negeri merupakan rasio antara harga absolut luar negeri dan harga absolut dalam
negeri. Sedangkan pengertian relatif menyatakan bahwa persentase perubahan kurs
keseimbangan di antara mata uang dalam negeri dan mata uang luar negeri merupakan rasio
antara persentase perubahan harga dalam negeri dan persentase perubahan harga luar negeri,
sehingga persentase perubahan nilai tukar tersebut mencerminkan perbedaan tingkat inflasi di
antara dua negara.
Beberapa hal yang perlu ditekankan dari teori paritas daya beli adalah pertama masalah
dasar dari paritas daya beli, yakni proporsionalitas tingkat harga dan nilai tukar hanya terjadi jika
penyebab goncangan yang mengubah tingkat harga dari nilai tukar merupakan suatu goncangan
moneter. Kedua, teori paritas daya beli tersebut tidak bekerja seketika, tetapi memerlukan waktu
yang cukup lama, sehingga dapat dikatakan bahwa teori tersebut menunjukkan hubungan
keseimbangan jangka panjang antara nilai tukar dengan tingkat harga.
Nilai mata uang dari suatu negara yang cenderung menurun menunjukkan negara tersebut
mempunyai tingkat inflasi yang tinggi. Inflasi suatu negara lebih tinggi dibandingkan dengan
negara lain berarti harga barang-barang di negara tersebut naik lebih cepat dari negara lain. Hal
ini akan berakibat ekspor akan turun dan impor akan naik karena harga barang-barang negara
bersangkutan lebih mahal dibandingkan dengan harga barang-barang negara lain. Dengan
demikian supply dari mata uang asing akan turun dan demand akan naik, sehingga nilai mata
uang asing akan naik (nilai mata uang domestik akan turun atau terdepresiasi)

Penentuan Nilai Tukar Rupiah dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Berkaitan dengan urgensi teori dan aplikasi penelitian dan penyusunan hipotesis maka
mengambil beberapa literatur berkenaan dengan pengaruh fluktuasi nilai tukar; (Sarwono dan
Warjiyo, 1998), menyatakan pada dasarnya terdapat empat jalur transmisi yang menunjukkan
bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi perekonomian yaitu: jalur nilai tukar, jalur
suku bunga, jalur harga set dan jalur kredit perbankan.
Jalur nilai tukar berpandangan bahwa pergerakan nilai tukar paling berpengaruh bagi
perekonomian khususnya perekonomian terbuka dengan sistem nilai tukar fleksibel, pengetatan
moneter akan mendorong suku bunga nominal dalam negeri meningkat. Jika suku bunga
internasional tidak berubah maka interest rate differential meningkat dan ini akan mendorong
masuknya dana dari luar negeri. Nilai tukar akan akan cenderung terapresiasi maka kegiatan
ekspor akan menurun dan sebaliknya impor meningkat, sehingga transaksi berjalan dalam neraca
pembayaran akan membaik, akibatnya permintaan aggregat akan menurun dan demikian pula
laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Derajat keterbukaan ekonomi adalah total perdagangan (ekspor + impor) terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) (Arifin, S., Winantyo, R., Kurniati, Y., 2005).
Derajat keterbukaan ekonomi yang merupakan rasio perdagangan terhadap PDB ini sangat
mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian dengan semakin meningkatnya derajat
keterbukaan ini akan mempengaruhi nilai tukar suatu negara.
Arifin (1998) menyatakan bahwa berdasarkan beberapa literatur ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pergerakan nilai tukar, yakni:
a) Faktor fundamental, berkaitan dengan indikator ekonomi;
b) Faktor teknis, berkaitan dengan kondisi permintaan dan penawaran valuta
asing;
c) Faktor sentimen pasar, berkaitan dengan rumor yang bersifat insidentil yang
dapat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar valuta asing dalam jangka pendek.

Suku bunga adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima
dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi
keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak atau menyimpan
uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga juga merupakan sebuah harga yang
menghubungkan masa kini dengan masa depan, sebagaimana harga lainnya maka tingkat suku
bunga ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran.
Naiknya suku bunga Bank Indonesia akan meningkatkan investasi asing bersih. Karena
sekarang di dalam negeri memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi, maka investasi ke
luar negeri menjadi kurang menarik dibandingkan sebelumnya sehingga pembelian aset-aset luar
negeri oleh penduduk domestik juga berkurang. Lebih tingginya suku bunga juga menarik lebih
banyak investor asing, yang tentunya ingin turut menikmati hasil atau bunga yang ditawarkan.
Dengan demikian, valuta asing yang diperlukan orang-orang untuk membeli aset luar negeri juga
berkurang dan dengan masuknya investasi dari luar negeri menyebabkan penawaran valuta asing
di dalam negeri bertambah. Penurunan penawaran rupiah dan kenaikan penawaran valuta asing
akan menyebabkan rupiah terapresiasi (Mankiw, N., 2003).
Teori inflasi klasik berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang
beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta riil
uang dan harga (Mankiw, 2000). Nilai mata uang dari suatu negara yang cenderung menurun
menunjukkan negara tersebut mempunyai tingkat inflasi yang tinggi. Inflasi suatu negara lebih
tinggi dibandingkan dengan negara lain berarti harga barang-barang di negara tersebut naik lebih
cepat dari negara lain. Hal ini berakibat ekspor akan turun dan import akan naik karena harga
barangbarang negara bersangkutan lebih mahal bila dibandingkan dengan barang-barang negara
lain. Dengan demikian penawaran (supply) dari mata uang asing akan turun dan permintaan
(demand) akan naik, sehingga nilai mata uang asing akan naik (nilai mata uang domestik akan
turun atau terdepresiasi).
Menurut teori paritas daya beli (Purchasing Power Parity), nilai tukar nominal antara mata
uang dari dua negara harus mereflesikan perbedaan tingkat harga di negara-negara bersangkutan
yang memberikan implikasi dengan terjadinya kenaikan inflasi menyebabkan uang akan
kehilangan nilainya dalam artian barang dan jasa yang dapat dibelinya dan dalam artian jumlah
mata uang lain yang dapat diperolehnya (depresiasi).
Investasi asing bersih (Net Foreign Investment . NFI) merupakan pembelian aset
domestik oleh warga asing dikurangi nilai pembelian aset luar negeri oleh warga domestik.
Investasi asing mempunyai dua bentuk yaitu investasi asing langsung (Foreign Direct Investment
. FDI) dan investasi portofolio asing (foreign portfolio investment).
Kenaikan investasi asing bersih akan meningkatkan penawaran mata uang asing di suatu
negara sehingga mengakibatkan nilai mata uang tersebut terapresiasi. Begitu juga sebaliknya,
jika penurunan investasi asing bersih akan meningkatkan penawaran mata uang domestik
sehingga mengakibatkan nilai mata uang tersebut akan terdepresiasi.
Untuk mengilustrasikan mengenai pengaruh investasi asing bersih terhadap nilai tukar
mata uang adalah sebagai berikut: Jika Pemerintah Indonesia menawarkan surat
berharga/obligasi dan kemudian warga Amerika Serikat membeli surat berharga tersebut, maka
pembelian surat berharga tersebut akan menaikkan investasi asing bersih Indonesia. Warga
Amerika Serikat tersebut akan menukarkan dollar AS menjadi rupiah ke pasar. Dengan demikian
dollar AS yang ditawarkan makin banyak dan rupiah makin sedikit sehingga mengakibatkan
rupiah terapresiasi.
Jika warga Indonesia membeli surat berharga/obligasi yang dikeluarkan Pemerintah
Amerika Serikat, maka pembelian surat berharga tersebut mengurangi investasi asing bersih.
Warga Indonesia tersebut akan menukarkan rupiah menjadi dollar AS ke pasar. Dengan
demikian rupiah yang ditawarkan makin banyak dan dollar AS makin sedikit sehingga
mengakibatkan rupiah terdepresiasi.

2.8. Penelitian Terdahulu
Iqbal Abdillah (2006), dengan menggunakan analisis metode Ordinary Least Square
(OLS) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi nilai kurs adalah Jumlah
Uang Beredar, Inflasi dan Suku Bunga dengan hasil estimasi memperlihatkan bahwa jumlah
uang beredar, inflasi dan suku bunga mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik
terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Wibowo, T. dan Amir, H. (2005), menyatakan bahwa variabel moneter yang
mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika adalah selisih pendapatan riil
Indonesia dan Amerika, selisih inflasi Indonesia dan Amerika, serta nilai tukar rupiah terhadap
dollar Amerika satu bulan sebelumnya (lag -1). Selisih jumlah uang beredar (M1) Indonesia dan
Amerika belum menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Elastisitas
masing-masing variabel bebas terhadap nilai tukar rupiah adalah: (i) selisih logaritma PDB
Indonesia dan Amerika sebesar -0,814; (ii) selesih Wholesale Price Index Indonesia dan Amerika
sebesar 0,436; (iii) selisih logaritma suku bunga Indonesia dan Amerika sebesar -0,009; dan (iv)
nilai tukar satu bulan sebelumnya sebesar 0,765.
Sanusi, A. (2004) dengan menggunakan pendekatan perhitungan analisa regresi linier
berganda didasarkan pada hubungan fungsional atau kausal suatu variabel independen dengan
suatu variabel dependen dalam rentang waktu 2000- 2002. Dari hasil estimasinya adalah pada
sistem nilai tukar mengambang penuh periode pengujian Januari 2000 sampai dengan Desember
2002 menyatakan bahwa jumlah uang beredar, tingkat suku bunga, valas di perbankan, valas
otoritas moneter, mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap fluktuasi nilai
kurs, sedangkan inflasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik.
Wibowo, T. dan Amir, H. (2005) dengan model yang dikembangkan Bappenas (2001),
menggabungkan antara fungsi permintaan uang dengan Purchasing Power Parity (PPP) dengan
data analisis kurun waktu Januari 2000 sampai dengan juni 2005 diperoleh hasil selisih
logaritama M1 Indonesia dan logaritma M1 Amerika menunjukkan berpengaruh nyata terhadap
logaritma nilai tukar. Variabel selisih logaritma pendapatan riil Indonesia dan Amerika belum
menunjukkan pengaruh kurs terhadap logaritma kurs. Sedangkan variabel selisih tingkat suku
bunga menunjukkan pengaruh terhadap logaritma kurs.
Kardoyo, H. dan Kuncoro, M. (2001), dengan menggunakan pendekatan Box- Jenkins
dalam rentang waktu 1983.2 . 2000.3 diperoleh hasil sebagai berikut: Pertama, dengan cocok
dan laiknya model kurs valas Frenkel-Bilson yang melibatkan variabel fundamental ekonomi
jumlah uang beredar, tingkat pendapatan nasional, dan tingkat suku bunga, serta signifikansinya
variabel-variabel fundamental ekonomi tersebut dalam menjelaskan fluktuasi kurs Rp/US$
menghasilkan temuan bahwa doktrin paritas suku bunga (interest rate parity) berlaku dalam
mempengaruhi fluktuasi kurs valas Rp/US$. Kedua, model kurs valas kasus Indonesia yang
melibatkan variabel fundamental ekonomi jumlah uang beredar, tingkat pendapatan nasional, dan
tingkat inflasi serta signifikansinya variabel-variabel fundamental ekonomi dalam model tersebut
dalam menjelaskan fenomena fluktuasi kurs Rp/US$ memberikan hasil bahwa model tersebut
laik dan cocok untuk diterapkan menganalisis kurs Rp/US$. Variabel tingkat Inflasi Indonesia
terhadap Amerika signifikan dalam menjelaskan fenomena fluktuasi kurs Rp/US$. Hal ini
menghasilkan kesimpulan bahwa doktrin paritas daya beli juga berlaku dalam mempengaruhi
fluktuasi kurs Rp/US$.
Noname, (2000), Hasil informasi ini diperoleh dari internet dengan judul .Analisis Faktor-
faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika: Pendekatan Moneter
1987.2 . 1999.1. diperoleh hasil sebagai berikut:
a) Dengan melihat nilai statistik dari Error Correction Term (ECT) sebesar 2,23 dan secara
statistik adalah signifikan pada derajat keyakinan sebesar 5%, hal ini berarti bahwa spesifikasi
model koreksi kesalahan yang dipakai sudah benar.
b) Hasil estimasi OLS dengan model koreksi kesalahan menunjukkan bahwa variabel
perbedaan jumlah uang beredar (LMX) adalah berpengaruh terhadap nilai tukar dalam jangka
pendek sedangkan dalam jangka panjang variabel ini tidak mampu menerangkan perilaku nilai
tukar. Tidak signifikannya perbedaan jumlah uang beredar dalam jangka panjang menunjukkan
bahwa kebijakan moneter yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah uang beredar dalam
jangka panjang kurang efektif dalam mengatasi masalah nilai tukar.

c) Variabel perbedaan tingkat pendapatan riil (LYX) menunjukkan bahwa variabel ini
hanya mampu menerangkan perubahan nilai tukar dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang
uji tanda sesuai dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dan signifikan secara
statistik.
d) Hasil estimasi untuk variabel perbedaan tingkat harga mampu menerangkan perubahan
nilai tukar baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Uji tanda sangat
mendukung hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini. Dengan demikian teori paritas daya beli
berlaku selama periode penelitian.
e) Untuk variabel perbedaan tingkat suku bunga (RX) hasil estimasi menunjukkan bahwa
variabel ini mampu menerangkan perubahan nilai tukar baik dalam jangka pendek dan jangka
panjang. Tanda yang ditunjukkan adalah variabel perbedaan tingkat suku bunga berpengaruh
positif terhadap nilai tukar atau terjadinya apresiasi rupiah.
f) Hasil estimasi menunjukkan bahwa pelepasan band intervensi oleh Bank Indonesia
mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami depresiasi. Secara statistik variabel
ini menunjukkan hasil yang signifikan.
Doddy dan Benny (1999) dalam penelitiannya dengan periode observasi 1984-1987, hasil
uji hubungan granger causality test menunjukkan real effective exchange rate (REER)
mempengaruhi inflasi (searah) dengan lag rata-rata 1 triwulan artinya kurs mempunyai hubungan
yang signifikan dengan inflasi.
Iskandar Simorangkir (2006), dalam tulisannya yang berjudul: .Openness and Its Impact to
Indonesian Economy. dengan pendekatan structural vector autoregression (SVAR) untuk
menguji dampak keterbukaan perdagangan (trade openness) dan keterbukaan finansial (financial
openness) terhadap perekonomian Indonesia. Hasil penelitian menyatakan bahwa keterbukaan
perdagangan (trade openness) menyebabkan terjadinya fluktuasi atas nilai tukar dan inflasi
secara signifikan dalam jangka pendek dan jangka panjang dan keterbukaan finansial (financial
openness) menyebabkan terjadinya fluktuasi atas nilai tukar dan inflasi secara signifikan dalam
jangka pendek sedangkan dalam jangka panjang tidak signifikan.

2.9. Kerangka Pemikiran
Nilai tukar rupiah bersumber pada faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi. Dalam
penelitian ini, dilakukan penelitian terhadap faktor-faktor ekonomi (keterbukaan dan faktor
ekonomi) yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Keterbukaan ekonomi terdiri dari keterbukaan
dalam bidang perdagangan dengan variabel derajat keterbukaan ekonomi dan keterbukaan dalam
bidang finansial/ keuangan dengan variabel investasi asing bersih (Net Foreign Investmen - NFI).
Sedangkan untuk faktor ekonomi dengan variabel suku bunga Bank Indonesia dan inflasi.
Derajat keterbukaan ekonomi, dengan semakin terbukanya perekonomian suatu negara
yang ditandai semakin besarnya nilai perdagangan barang dan jasa terhadap pendapatan nasional
yang mengakibatkan perubahan nilai tukar rupiah. Pengaruh suku bunga terhadap fluktuasi nilai
tukar rupiah yaitu tinggi rendahnya permintaan terhadap uang akan tercermin pada tinggi
rendahnya suku bunga. Apabila suku bunga turun akan mengurangi minat investor untuk
memegang rupiah karena insentif yang diterima menurun. Nilai tukar rupiah akan melemah
(depresiasi) seiring dengan aksi pembelian valas oleh investor.
Dapat juga dilihat bahwa apabila suku bunga rendah minat investor untuk menanamkan
modalnya (dalam bentuk portofolio) akan menurun, hal tersebut dikarenakan keuntungan yang
diterima akan menurun sehingga nilai tukar rupiah akan melemah (depresiasi).
Pengaruh inflasi, menurut Ilham (2003) menyatakan bahwa laju inflasi yang tinggi bila
dibiarkan akan secara bertahap mengurangi daya beli masyarakat, selain itu inflasi akan
mengundang peningkatan volume import, yang akan menyebabkan mata uang domestik
terdepresiasi terhadap mata uang asing.
Pengaruh investasi asing bersih di pasar dana pinjaman, penawaran berasal dari tabungan
nasional (S), sedangkan permintaan bersumber dari investasi domestik (I) serta investasi asing
net (NFI) dan suku bunga riil menyeimbangkan penawaran dan permintaan tersebut. Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut:
S = I + NFI

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan dari beberapa penelitian empiris yang dilakukan oleh
peneliti-peneliti sebelumnya, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
a) Terdapat pengaruh positif antara derajat keterbukaan ekonomi 3 bulan sebelumnya
terhadap perubahan nilai tukar rupiah (depresiasi), ceteris paribus.
b) Terdapat pengaruh negatif antara suku bunga Bank Indonesia tenor 3 bulan pada 3 bulan
sebelumnya terhadap nilai tukar rupiah (terapresiasi), ceteris paribus.
c) Terdapat pengaruh positif antara inflasi 3 bulan sebelumnya terhadap nilai tukar rupiah
(terdepresiasi), ceteris paribus.
d) Terdapat pengaruh negatif antara Net Foreign Investment (NFI) 3 bulan sebelumnya
terhadap nilai tukar rupiah (terapresiasi) ceteris paribus.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini bersifat makro dengan memfokuskan wilayah Indonesia.
Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat pengaruh indeks derajat keterbukaan, suku bunga,
inflasi dan investasi asing bersih 3 bulan sebelumnya terhadap nilai tukar di Indonesia selama
kurun waktu tahun 1999: 1 . 2008: 3.

Jenis dan Sumber Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder bersumber dari Bank Indonesia
(BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) dan sumber-sumber lain yang dipublikasikan, serta
penelitian sebelumnya. Data yang diperoleh dengan cara mencatat langsung, mengkopi atau
mendownload dari website www.bi.go.id dan selanjutnya secara umum disajikan dalam bentuk
tabel atau grafik. Sumber data dari laporan-laporan bulanan dan tahunan statistik ekonomi
moneter Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Adapun data yang diperlukan adalah
data nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, nilai ekspor, import, pendapatan nasional (proksi
Produk Domestik Bruto), suku bunga SBI 3 bulan, inflasi dan investasi asing bersih.

Model Analisis
Untuk dapat mengetahui hubungan antara indeks derajat keterbukaan, suku bunga, inflasi,
dan investasi asing bersih (NFI) terhadap nilai tukar rupiah, maka penelitian ini menggunakan
distributed lag model sebagai berikut:

KURSt = 0 + 1 IDKt-1 + 2 SBIt-1 + 3 INFt-1 + 4 NFIt-1 + (3.1)
Di mana:
KURSt = nilai tukar rupiah (Rp) terhadap dollar US pada saat t
IDKt-1 = indeks derajat keterbukaan ((X+M)/GDP (Persen) pada
pada saat t-1
SBIt-1 = suku bunga Bank Indonesia triwulanan (Persen)
pada saat t-1
INFt-1 = inflasi (Persen) pada saat t-1
NFIt-1 = investasi asing bersih (US$ juta) pada saat t-1
0 = intercept
1, 2, 3, 4 = koefisien regresi
= error term

Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS).
Metode ini mempunyai sifat-sifat yang dapat diunggulkan yaitu secara teknis sangat akurat,
mudah dalam menginterpretasikan perhitungan serta sebagai alat estimasi linear dan unbiased
terbaik (Gujarati, 2003). Alat bantu untuk mengolah data dalam penelitian ini adalah Program
Eviews versi 4.1.

Definisi Operasional Variabel

Untuk meragamkan persepsi dalam penulisan ini, maka disajikan beberapa definisi
operasional yang diuraikan sebagai berikut:
i. Nilai tukar merupakan perbandingan nilai mata uang rupiah terhadap mata uang dollar
Amerika dalam satuan rupiah;
ii. Indeks derajat keterbukaan adalah indeks derajat keterbukaan perekonomian Indonesia
terhadap perekonomian dunia diukur dengan {(ekspor + import)/ produk domestik bruto} dalam
satuan persen;
iii. Suku Bunga adalah suku bunga Bank Indonesia tenor 3 bulan (triwulanan) dalam
satuan persen;
iv. Inflasi merupakan keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara
cepat sehingga berdampak menurunnya daya beli yang diukur menurut Bank Indonesia,
dinyatakan dalam satuan persen;
v. Net Foreign Investment (NFI) adalah selisih antara investasi penduduk Indonesia ke luar
negeri terhadap investasi asing yang masuk ke Indonesia dalam satuan dollar US.

Uji Kesesuaian (Test of Goodness of Fit)
Uji kesesuaian dilakukan berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2), yang kemudian
dilanjutkan dengan F-test dan t-test. Koefisien determinasi (R2) adalah angka yang menunjukkan
variansi variabel-variabel bebas (independent variable) terhadap variabel terikat (dependen
variable). F-tes dimaksudkan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel bebas (independent
variable) terhadap variabel terikat (dependent variable) secara serentak. T-test dimaksudkan
untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh variabel bebas (independent variable) terhadap
variabel terikat (dependent variable) secara parsial.

Uji Pelanggaran Asumsi Klasik
Dalam suatu model regresi ada beberapa permasalahan yang biasa terjadi yang secara
statistik dapat mengganggu model yang telah ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan
yang diambil dari persamaan yang dibentuk. Untuk itu maka perlu melakukan uji penyimpangan
asumsi klasik, yang terdiri dari:

Multikolinieritas
Multikolinieritas timbul karena satu atau lebih variabel bebas merupakan kombinasi linier
yang pasti (sempurna) atau mendekati pasti dari variabel penjelas lainnya. Jika terdapat
multikolinieritas sempurna, koefisien regresi dari variabel penjelas tersebut tidak dapat
ditentukan dan variansnya bernilai tak terhingga. Jika multikonilinieritas kurang sempurna,
koefisien regresi dapat ditentukan, namun variansnya sangat besar, sehingga tidak dapat
menaksir koefisien secara akurat.
Dalam model regresi linier, diasumsikan tidak terdapat multikolinieritas di antara variabel-
variabel penjelas, untuk itu perlu dideteksi dengan mengamati besaranbesaran regresi yang
didapat, yaitu:
1) Interval tingkat kepercayaan lebar (karena varians besar maka standar error besar,
sehingga interval kepercayaan lebar);
2) Koefisien determinasi tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan pada uji t-test;
3) Koefisien korelasi antar variabel bebas tinggi;
4) Nilai koefisien korelasi parsial tinggi;
5) Variasi besar dari taksiran menggunakan metode OLS.

Untuk melihat ada tidaknya multikolinieritas dalam suatu model pengamatan, dapat
dilakukan dengan regresi antar variabel bebas, sehingga dapat diperoleh nilai koefisien
determinan (R2) masing-masing. Selanjutnya R2 hasil regresi antar variabel bebas tersebut
dibandingkan dengan R2 hasil regresi model, sehingga diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Jika nilai R2 hasil regresi antar variabel bebas > R2 model penelitian, maka hipotesis
yang menyatakan bahwa tidak ada multikolinieritas dalam model empiris yang digunakan
ditolak.
2. Jika nilai R2 hasil regresi antar variabel bebas < R2 model penelitian, maka hipotesis
yang menyatakan bahwa tidak ada masalah multikolinieritas model empiris yang digunakan
tidak dapat ditolak.

Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi
yang diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series. Autokorelasi itu sering dapat
didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut
waktu (seperti dalam data runtun waktu atau time-series) atau ruang (seperti dalam data lintas
sektoral atau cross section). Sehingga terdapat saling ketergantungan antara faktor pengganggu
yang berhubungan dengan pengamatan lainnya. Oleh sebab itu masalah autokorelasi biasanya
muncul dalam data time series, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi dalam data cross
section.
Dalam konteks regresi, model regresi linier mengasumsikan bahwa situasi autokorelasi
tidak terdapat dalam faktor pengganggu atau dapat ditulis:
E(i,j) = 0; i j (3.3)

Berdasar persamaan (3.3), dapat dikemukakan bahwa model regresi linier mengasumsikan
bahwa faktor pengganggu yang berhubungan dengan pengamatan lainnya. Oleh karena itu, bila
pengamatan-pengamatan dilakukan sepanjang waktu, pengaruh faktor pengganggu yang terjadi
dalam suatu periode waktu, tidak terbawa pada periode waktu berikutnya.
Bila terjadi saling ketergantungan antara faktor pengganggu yang berhubungan dengan
observasi dipengaruhi oleh unsur gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lainnya atau
dengan kata lain terjadi autokorelasi, ditulis dengan simbol berikut:
E(i,j) 0; i j (3.4)
Untuk menguji autokorelasi dalam model ini digunakan uji Lagrange Multiplier (LM test),
yaitu dengan membandingkan nilai 2 hitung dengan 2 tabel, dengan kriteria keputusan sebagai
berikut:
a) Bila nilai 2 hitung > 2 tabel maka hipotesis nol (Ho) ditolak, berarti ada autokorelasi.
b) Bila nilai 2 hitung < 2 tabel maka hipotesis nol (Ho) tidak dapat ditolak, berarti tidak ada
autokorelasi.

Normalitas
Untuk mengetahui apakah normal dan tidaknya faktor pengganggu, t dengan J-B test.
Adapun kriteria untuk mengetahui normal atau tidaknya dari faktor pengganggu adalah sebagai
berikut:
a. Bila nilai JB hitung (= 2 hitung) > nilai 2 tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa
residual, t adalah berdistribusi normal ditolak.
b. Bila nilai JB hitung (= 2 hitung) < nilai 2 tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa
residual, t adalah berdistribusi normal tidak dapat ditolak.

Linieritas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui apakah spesifikasi model yang digunakan sudah
benar atau tidak. Apakah fungsi yang digunakan sebaiknya berbentuk linier atau tidak. Apakah
suatu variabel baru relevan atau tidak dimasukkan dalam model. Untuk uji linieritas dalam
penelitian ini digunakan uji Ramsey (Ramsey RESET Test), yaitu dengan membandingkan Fhitung
dan Ftabel. Kriteria keputusannya adalah sebagai berikut:
a. Bila nilai Fhitung > nilai Ftabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa spesifikasi model
digunakan dalam bentuk fungsi linier adalah benar ditolak.
b. Bila nilai Fhitung < nilai Ftabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa spesifikasi model
digunakan dalam bentuk fungsi linier adalah benar tidak dapat ditolak.