Anda di halaman 1dari 14

PERCOBAAN 9

PENENTUAN KESADAHAN


A. TANGGAL PERCOBAAN
28 Maret 2014, pukul 13.00 15.00 WIB

B. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengetahui kesadahan dalam air

C. KAJIAN TEORI

D. ALAT DAN BAHAN
Alat
1. Neraca ohaus (1 set)
2. Buret 50 mL (1 buah)
3. Labur ukur 100 mL (1 buah)
4. Gelas ukur 10 mL (1 buah)
5. Labru erlenmeyer 100 mL (3 buah)
6. Pipet ukur/volume 25 mL (1 buah) dan 10 mL (1 buah)
7. Propipet (1 buah)
8. Ember/wadah sampel (1 buah)
9. Wadah penyaringan (1 buah)

Bahan
1. Larutan Na
2
EDTA 0,01 M
2. Indikator Eriochrom Black T (EBT)
3. Larutan NaOH 0,01 N
4. Larutan HCl
5. Sampel air (air sumur)
6. Larutan buffer pH 10
7. Aquades
8. Indikator murexid (serbuk)
9. Arang 40 gram
10. Batu 280 gram
11. Pasir 120 gram
12. Ijuk 30 gram
13. Kasa

E. ALUR KERJA
1. Penyaringan air sumur








2. Penentuan Kesadahan Ca
2+


















25 mL sampel air sumur
- Diambil dengan menggunakan pipet volume 25 mL
- Dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL
- Ditambahkan 1 mL larutan NaOH 0,01 N
- Ditambahkan sedikit serbuk murexid (menjadi merah muda)
- Dititrasi dengan Na
2
EDTA 0,01 sambil diaduk
- Diulangi sampai 2x
Hasil Pengamatan
Perubahan warna : merah muda ungu
Volume Na
2
EDTA yang diperlukan : 0,4 mL, 0,4 mL dan 0,6 mL

Air sumur
- Dimasukkan dalam wadah berisi arang, batu, pasir, ijuk, kasa
(dari atas ke bawah) seperti pada gambar rancangan percobaan
- Didiamkan sampai tersaring
- Diambil air hasil penyaringan tersebut
Sampel air sumur (lebih jernih)
3. Penentuan Kesadahan Mg
2+


































25 mL sampel air sumur encer
- Diambil dengan menggunakan pipet volume 25 mL
- Dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL
- Ditambahkan 1 mL larutan penyangga pH 10
- Ditambahkan 1 tetes indikator EBT
- Dititrasi dengan Na
2
EDTA 0,01 sambil diaduk
- Diulangi sampai 2x
Hasil Pengamatan
Perubahan warna : merah muda biru
Volume Na
2
EDTA yang diperlukan : 1,8 mL, 1,9 mL dan 1,9 mL

10 mL sampel air sumur
- Diambil dengan menggunakan pipet volume 10 mL
- Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
- Ditambahkan 90 mL aqudes (sampai tanda batas labu ukur)
- Diambil 25 mL
F. Rancangan Percobaan
























Gambar G.1. Rancangan percobaan Penyaringan Air Sumur
F
G
Sampel
Keterangan :
A : Arang
B : Batu
C : Pasir
D : Ijuk
E : Kasa
F : Air Sumur
G : Air sumur hasil filtrasi (sampel air sumur)
A
B
C
D
E
I. HASIL PENGAMATAN
No. Perlakuan (Alur Kerja) Hasil Pengamatan Dugaan (Reaksi) Kesimpulan
1



















Sebelum
Air sumur : jernih (+)
Arang : hitam
Batu : hitam
Pasir : sebuk hitam
Ijuk : serabut coklat
Kasa : putih

Sesudah
Sampel air sumur : jernih (++)






Air sumur
- Dimasukkan dalam
wadah berisi arang,
batu, pasir, ijuk,
kasa (dari atas ke
bawah) seperti pada
gambar rancangan
percobaan
- Didiamkan sampai
tersaring
- Diambil air hasil
penyaringan tersebut
Sampel air sumur (lebih jernih)
2






















Sebelum
Sampel air sumur : jernih (++)
NaOH : larutan tidak berwarna
Murexid : serbuk berwarna abu-abu
Na
2
EDTA : larutan tidak berwarna

Sesudah
Sampel air sumur + NaOH : tidak ada
perubahan tetap jernih (++)
Sampel air sumur + NaOH + serbuk murexid :
merah muda
Sampel air sumur + NaOH + serbuk murexid
+ dititrasi dengan Na
2
EDTA : ungu
No.
Volume
sampel
(mL)
Volume
Na
2
EDTA
yang
diperlukan
(mL)
Konsentrasi
Ca
2+
dalam
sampel
(mg/mL)
1 25 0,4 6,41248
2 25 0,4 6,41248
3 25 0,4 9,61872
Konsentrasi rata
-
rata Ca
2+

dalam sampel (mg/mL)
7,48123


25 mL sampel air sumur
- Diambil dengan
menggunakan pipet
volume 25 mL
- Dimasukkan ke dalam
labu erlenmeyer 100
mL
- Ditambahkan 1 mL
larutan NaOH 0,01 N
- Ditambahkan sedikit
serbuk murexid
(menjadi merah muda)
- Dititrasi dengan
Na
2
EDTA 0,01 sambil
diaduk
- Diulangi sampai 2x
Hasil Pengamatan
3





















Sebelum
Sampel air sumur : jernih (++)
Aquades : tidak berwarna
Larutan penyangga pH 10 : tidak berwarna
EBT : larutan ungu tua
Na
2
EDTA : larutan tidak berwarna

Sesudah
Sampel air sumur + Larutan penyangga pH 10
: tidak ada perubahan tetap jernih (++)
Sampel air sumur + Larutan penyangga pH 10
+ EBT : merah muda
Sampel air sumur + Larutan penyangga pH 10
+ EBT + dititrasi dengan Na
2
EDTA : biru
No.
Volume
sampel
(mL)
Volume
Na
2
EDTA
yang
diperlukan
(mL)
Konsentrasi
Ca
2+
dalam
sampel
(mg/mL)
1 25 1,8 174,996
2 25 1,8 184,178
3 25 1,9 184,178
Konsentrasi rata
-
rata Ca
2+

dalam sampel (mg/mL)
181,477


25 mL sampel air sumur encer
- Diambil dengan
menggunakan pipet
volume 25 mL
- Dimasukkan ke dalam
labu erlenmeyer 100 mL
- Ditambahkan 1 mL
larutan penyangga pH 10
- Ditambahkan 1 tetes
indikator EBT
- Dititrasi dengan
Na
2
EDTA 0,01 sambil
diaduk
- Diulangi sampai 2x
Hasil Pengamatan
10 mL sampel air sumur
- Diambil dengan
menggunakan pipet
volume 10 mL
- Dimasukkan ke dalam
labu ukur 100 mL
- Ditambahkan 90 mL
aqudes (sampai tanda
batas labu ukur)
- Diambil 25 mL
J. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Percobaan Penentuan Kesadahan langkah awal adalah menyaring air sumur dengan
menggunakan arang, batu, pasir, ijuk, kasa yang dirancang seperti pada gambar G.1.
Kemudian didiamkan sampai semua air sumur turun kebawah (tersaring). Lalu air yang
telah disaring tersebut dapat digunakan sebagai sampel.
Setelah didapatkan larutan sampel, langkah selanjutnya adalah menentukan kesadahan
Ca
2+
dalam sampel. Penentuan kesadaan Ca
2+
dalam sampel dilakukan dengan cara
memasukkan sampel ke dalam labu erlenmeyer dengan menggunakan pipet volume
sebnyak 25 mL. Kemudian ditambahkan ditambahkan 1 mL NaOH 0,01 N yang
berfungsi sebagai pemberi suasana basa dimana NaOH merupakan basa kuat dan pada
konsentrasi 0,01 N pH NaOH adalah sekitar 12. PH yang diperlukan untuk menentukan
kesadahan Ca
2+
adalah 12-14 karena pada pH ini ion Mg
2+
akan mengenda menjadi
Mg(OH)
2
. Seperti yang kita ketahui bahwa air sadah adalah air yang mengandung ion-
ion Ca
2+
dan Mg
2+
, sedangkan untuk menentukan kesadahan Ca
2+
dan Mg
2+
harus
direaksikan dengan Na
2
EDTA (prinsip titrasi pengompleksan) sehingga bila ingin
mengetahui kadar Ca2+ saja diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ menjadi
Mg(OH)2 (hanya ion Ca dan Mg yang mampu membentuk senyawa kompleks dengan
EDTA). Selanjutnya sampel yang terbebebas dari ion Mg
2+
ditambahkan serbuk murexid
sebagai indikator. Penggunaan serbuk murexid sebagai indikator dikarenakan pH sampel
yang berada pada sekitar 12. Serbuk mirexid merupakan indikator Ca
2+
yang memiliki
rentang pH 6-13. Penambahan mirexid membuat sampel berunbah menjadi merah muda.
Kemudian sampel dititrasi dengan mengguakan Na
2
EDTA sampai sampel tepat berubah
menjadi ungu dan dicatat volume yang diperlukan hingga 3 kali replikasi. Volume
Na
2
EDTA
0
,01 M yang diperlukan adalah 0,4 mL ; 0,4 mL dan 0,6 mL. Reaksi antara ion
Ca
2+
dan Na
2
EDTA menghasilkan senyawa kompleks dimana senyawa kompleks
tersebut terbentuk dari Ca
2+
yang menggantikan Na
+
untuk berikatan sengan EDTA (Y
4-
). Berikut adalah reaksinya :

[]


Dengan menggunakan persamaan (J.1.) didapatkan nilai kesadahan/konsentrasi Ca
2+

sebesar 6,41428 x 10
3
mg/L; 6,41428 x 10
3
mg/L dan 9,61872 x 10
3
mg/L dengan nilai
rata
-
rata sebesar 7,48123 x 10
3
mg/L. Berikut adalah persamaan J.1. :
[

]



Untuk penentuan kadar/kesadahan M
g2+
, langkahnya awalnya adalah dengan
mengencerkan sampel dengan 10 kali pengenceran yaitu mengambil 10 mL sampel
kemudian diencerkan pada labu ukur 100 mL hingga tanda batas. Kemudian sampel yang
telah diencerkan diambil 25 mL dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan pipet
volume lalu ditambahkan larutan penyangga pH 10. Sama seperti NaOH, penambahan 1
mL larutan penyangga pH 10 berfungsi sebagai pemberi suasana basa agar indikator
EBT dapat bekerja karena indikator EBT bekerja pada pH 7-11. Langkah selajutnya
adalah menambahkan 1 tetes indikator EBT yang mebentuk larutan berwarna merah
muda. Selanjutnya sampel dtitrasi dengan dengan N
a2
EDTA 0,01 M sampai tepat
berubah menjadi biru dan dicatat volume N
a
2EDTA yang diperlukan. Volume N
a
2EDTA
yang diperlukan adalah 1,8 mL ; 1,9 mL dan 1,9 mL. Reaksi antara ion M
g2+
dan
N
a2
EDTA menghasilkan senyawa kompleks dimana senyawa kompleks tersebut
terbentuk dari M
g2+
yang menggantikan N
a+
untuk berikatan sengan EDTA (
Y4-
). Berikut
adalah reaksinya :

[]


Dengan menggunakan persamaan (J.2.) didapatkan nilai kesadahan/konsentrasi
C
a
2+

sebesar 174,996 x 10
3
mg/L; 184,718 x 10
3
mg/L dan 184,718 x 10
3
mg/L dengan nilai
r
a
ta
-
rata sebesar 181,477 x 10
3
mg/L. Berikut adalah persamaan J.2. :
[

]




Untuk menentukan kesadahan total digunakan persamaan sebagai berikut :




Dengan menggunakan persmaan J.3. diman
a
A
rata-rata
adalah 0,47 mL da
n
B
rata-rata
adalah 1,87 mL maka kesadahan totalnya adalah 936 x 10
3
mg/L. Bila ilihat dari nilai
kesadahannya didapatkan kan bahwa air sumur tersenut tidak layak konsumsi karena
melebihi ambang batas yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam Permenkes No.492
tahun 2010 dimana kesadahan air yang dibolehkan adalah 500 mg/L.
Keterangan : A
=
mL Na
2
EDTA u
nt
uk Ca
2+
B
=
mL Na
2
EDTA u
n
tuk Mg
2+
C = Konsentrasi Na
2
EDTA

K. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini adalah
Kesadahan Ca
2+
dalam sampel air sumur di daerah kenjeran adalah sekitar 7,48123 x
10
3
mg/L
Kesadahan Mg
2+
dalam sampel air sumur di daerah kenjeran adalah sekitar 181,477 x
10
3
mg/L
Kesadahan total dalam sampel air sumur di daerah kenjeran adalah sekitar 936 x 10
3

mg/L
Kesadahan total air sumur di daerah kenjeran melebihi ambang batas yang ditentukan
oleh Pemerintah dalam Permenkes No.492 tahun 2010 dimana kesadahan air yang
dibolehkan adalah 500 mg/L sehingga air sumur tersebut tidak layak untuk
dikonsumsi

L. DAFTAR PUSTAKA
Tolong cariin dapus permenkes no.492 tahun 2010 tentang
sayarat mutu air (kalo gak salah), gw download dihape
LAMPIRAN

1. Perhitungan
1.1. Menentukan kadar Ca
2+
dalam sampel air sumur
[

]



Keterangan :
A = mL Na
2
EDTA untuk Ca
2+

C = Konsentrasi Na
2
EDTA

1.1.1. Data 1 (A
1
= 0,4 mL)
[



1.1.2. Data 2 (A
2
= 0,4 mL)
[



1.1.3. Data 3 (A
3
= 0,6 mL)
[



1.1.4. Rata-Rata
[



1.2. Menentukan kadar Mg
2+
dalam sampel air sumur
[

]



Keterangan :
B = mL Na
2
EDTA untuk Mg
2+

C = Konsentrasi Na
2
EDTA

1.2.1. Data 1 (B
1
= 1,8 mL)
[



1.2.2. Data 2 (B
2
= 1,9 mL)
[



1.2.3. Data 3 (B
3
= 1,9 mL)
[



1.2.4. Rata-Rata
[





1.3. Menentukan kesadahan total


2. Dokumentasi (Foto)
2.1. Penentuan Kadar Ca
2+
dalam sampel air sumur






















Sampel air sumur +NaOH
Sampel air sumur +NaOH +
Serbuk murexid +Dititrasi dengan
Na
2
EDTA
Sampel air sumur
Sampel air sumur +NaOH +
Serbuk murexid
2.2. Penentuan Kadar Mg
2+
dalam sampel air sumur














Sampel air sumur
Sampel air sumur +Larutan
penyangga pH 10
Sampel air sumur +Larutan
penyangga pH 10 +I ndikator EBT
+Dititrasi dengan Na
2
EDTA
Sampel air sumur +Larutan
penyangga pH 10 +I ndikator EBT