Anda di halaman 1dari 3

3. Jelaskan mekanisme kerja albuterol!

Jawab:
Abulterol (salbutamol) adalah obat golongan adrenergik dan merupakan
reseptor agonis

.
Farmakodinamik: relaksasi otot polos bronkus, uterus dan pembuluh darah
otot rangka melalui aktivitas pada reseptor

.
Indikasi: asma, obstruksi saluran napas reversibel lainnya.
Peringatan: hati-hati pada hipertiroid, penyakit kardiovaskuler, aritmia,
peka terhadap perpanjangan interval QT, hipertensi dan DM
Efek Samping: tremor, ketegangan, sakit kepala, kram otot, palpitasi,
takikardi, aritmia, vasodilatasi perifer, gangguan tidur dan tingkah laku.
Bronkospasme paradoksikal, urtikaria, angioedema, hipotensi, kolaps
jarang. Hipokalemia terjadi pada dosis tinggi.
Interaksi Obat: efek antagonis bersama penghambat non selektif
(propanolol, nadolol, pindolol, oksprenolol, timolol, alprenolol, penbutolol,
sotalol).
Dosis:
Oral : dewasa 4 mg; lansia dan pasien yang sensitif dosis awal 2 mg,
3-4 kali sehari. Dosis tunggal max. 8 mg. Anak <2 tahun 200
mcg/kgBB 4x/hari, 2-6 tahun 1-2 mg 3-4x/hari, 6-12 tahun 2 mg
Injeksi SK/IM: 500 mcg, diulang tiap 4 jam bila perlu. Infus IV
lambat: 250 mcg, diulang bila perlu. Infus IV: awal 5 mcg/menit,
sesuaikan dosis dengan respon dan denyut jantung, biasanya antara 3-
20 mcg/menit
Inhalasi aerosol: dewasa 100-200 mcg (1-2 hirupan). Gejala
persisten 3-4x/hari. Anak 100 mcg (1 hirupan), naik menjadi 200 mcg
(2 hirupan) bila perlu. Profilaksis bronkospasme akibat latihan fisik,
dewasa 200 mcg (2 hirupan), anak 100 mcg (1 hirupan).
Inhalasi nebulizer: bronkospasme kronis tidak responsif terhadap
terapi konvensional, asma akut berat dewasa dan anak >18 bulan 2,5
mg, beri sampai 4x/hari, tidak dianjurkan untuk anak <18 bulan.
Contoh: combivent, ventolin, brondisal, salbuven, salbrona

Jelaskan Mekanisme kerja diuretik!
Diuretik yang digunakan pada pasien ini adalah golongan diuretik tiazid.
Farmakodinamik: diuretik yang terpilih untuk antihipertensi. Tiazid dapat
menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetapi juga
karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi
Indikasi: hipertensi, gagal jantung, pengobatan jangka panjang edema
kronik, diabetes insipidus, hiperkalsuria
Kontra indikasi: hipokalemia refrakter, hiperkalsemia, gangguan
ginjal/hati berat, kehamilan, menyusui
Peringatan: hipotensi akibat pengurangan volume intravaskular,
pembatasan diet garam, diare atau muntah. Arteri stenosis ginjal, hipertensi
renovaskular, gangguan ginjal, trasnplantasi ginjal, gangguan hati, kelainan
katup jantung, stenosis aorta da mitral, hipertrofi obstruktif kardiomiopati,
aldosteronisme primer, diabetes, ketidakseimbangan elektrolit, kondisi lain
yang distimulasi sistem RAA.
Efek samping: sangat jarang pada dosis <25 mg/hari, anoreksia, penurunan
nafsu makan, iritasi lambung, diare, konstipasi, hipokalemi, gout, intoleransi
glukosa. Reaksi berat sangat jarang.
Interaksi obat: alkohol, barbiturat, narkotik, antidiabetik oral, insulin,
kolestiramin, resin kolestipol, kotikosteroid, ACTH, glikosida digitalis,
AINS, pressor amine, relaksan otot skelet nondepolarizing, garam kalsium,
atropin, beperiden, siklofosfamid, metotreksat.
Dosis:
Edema: 12,5-25 mg/hari
Pasien edema berat yang tidak mampu mentoleransi diuretika: 75
mg/hari
Hipertensi: 12,5 mg/hari; dapat naik menjadi 25 mg/hari. Bila perlu
diberi kalium (pada yang aritmia, digitalis-infark miokard)