Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOKIMIA
EKSTRAKSI KARAGENAN




Oleh :
Dias Natasasmita
26020110110093







PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karaginan sampai saat ini belum diolah di Indonesia, walaupun bahan baku
yang digunakan (Kappaphycus alvarezzi) untuk membuat karaginan banyak
terdapat di Indonesia. Karaginan adalah campuran yang kompleks dari beberapa
polisakarida. Ada tiga jenis karaginan, yaitu lamda, kappa, dan iota. Lamda dan
kappa karaginan dapat diekstrak dari rumput laut jenis Chondrus crispus dan
beberapa spesies Gigartina, sedangkan iota karaginan diekstrak dari Eucheuma
spinosum. Karaginan banyak dimanfaatkan pada industri farmasi, kosmetik,
makanan dan minuman seperti susu, keju, kecap, susu coklat, sirop, biscuit, dan es
krim. Juga untuk pet food dan keramik.
Pada saat ini, pemanfaatan rumput laut meningkat seiring dengan
peningkatan kesejahteraan manusia dan teknologi, antara lain dibidang pertanian
digunakan sebagai bahan pupuk organic, media tumbuhan dalam kultur jaringan;
dibidang peternakan sebagai pakan ternak; dibidang kedokteran digunakan
sebagai media kultur bakteri; dibidang farmasi digunakan sebagai bahan pembuat
suspensi, pengemulsi, tablet, plester dan filter. Dibidang industri lainnya
digunakan dalam proses pengolahan produksi, sebagai bahan aditif pada industri
tekstil, kosmetik, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pelindung kayu dan
pencegah api.
Selain bernilai ekonomis, rumput laut juga bernilai ekologis. Dimana
rumput laut sebagai tumbuhan menempati posisi sebagai produsen primer yang
menyokong kehidupan biota lain pada tropic level yang lebih tinggi. Dewasa ini
penelitian tentang rumput laut telah banyak dilakukan terutama untuk jenis-jenis
yang mempunyai nilai ekonomis penting. Hal ini diarahkan untuk menghasilkan
biomassa dan mutu rumput laut yang belum bernilai ekonomis tetapi berniali
ekologis yang penting kurang mendapat perhatian.

1.2 Tujuan
Mengisolasi karagenan dari rumput laut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rumput laut
Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga. Tanaman ini adalah
gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan tanaman
sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar, batang dan daun. Jenis
rumput laut sangat beragam, mulai dari yang berbentuk bulat, pipih, tabung atau
seperti ranting dahan bercabang-cabang. Seperti layaknya tanaman darat pada
umumnya, rumput laut juga memiliki klorofil atau pigmen warna yang lain.
(www.cinduatakacauharihujan.wordpress.com)
Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati (salah satu sumber daya
dapat pulih renewable resources yang terdiri atas flora dan fauna) yang terdapat
di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai
Seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi
dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat
hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah pantai di bagian
selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas
karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak.
(www.cinduatakacauharihujan.wordpress.com)

2.1.1. Morfologi
Kappaphycus alvarezii atau Euchema alvarezii atau Euchema cottoni
mempunyai thallus silindris, permukaan licin, cartilagineus, warna hijau, hijau
kuning, abu-abu atau merah. Penampakan thalli bervariasi mulai dari bentuk
sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus terdapat juga sama seperti
halnya dengan E. spinosum tetapi tidak bersusun melingkari thallus. Percabangan
ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan di daerah
basal (pangkal). Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram.
Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun
dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari. Cabang-cabang
tersebut tampak ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk.
(www.zonaikan.wordpress.com)
Ciri-ciri umum. Alge tumbuh tegak, sangat rimbun membentuk rumpun
yang padat, melekat diatas batu karang dengan cakram perekat, tinggi sekitar 15
cm dan diameter rumpun antara 20-30 cm, warna thalli meraah tua kadang
kecoklatan. (www.iptek.net.id)

2.1.2. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Genus : Kappaphycus
Spesies : Kappaphycus alvarezii
(www.sith.itb.ac.id)
2.1.3. Komposisi Kimia
Tabel 1. Komposisi kimia rumput laut Kappaphycus alvarezii.
Komposisi Jumlah
Air (%) 83,3
Protein (%) 0,7
Lemak (%) 0,2
Abu (%) 3,4
Serat makanan tidak larut (%) 58,6
Serat makanan larut (%) 10,7
Total serat makanan (%) 69,3
Mineral Zn (mg/g) 0,01
Mineral Mg (mg/g) 2,88
Mineral Ca (mg/g) 2,80
Mineral K (mg/g) 87,10
Mineral Na (mg/g) 11,93
(Atmadja, 1996)
2.1.4. Siklus Hidup dan Reproduksi
Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi. Rhodopyceae
membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta, netral,
monospora. Tetraspora, bispora, dan polispora.
(www.tugaskuli4h.wordpress.com)
Pada yang tingkat tinggi pergantian keturunan terdiri dari dua tipe, yaitu:
Bifasik : inti zigot langsung mengadakan meiosis; hingga
menghasilkan karposporafit haploid yang tumbuh pada
gametofitnya atau inti zigot membelah mitosis hingga
membentuk karposporangium yang intinya diploid inti
karposporangium mengadakan meiosis dan membentuk
karpospora yang haploid. Karposporofit berada pada
gametofit.
Trifasik : inti zigot hanya membelah mitosis, membentuk
karposporangium dengan karpospora yang diploid.
Karposporofit terdapat pada gametofit, karpospora yang
diploid tumbuh menjadi tetrasporofit yang diploid dan
hidup bebas, tetrasporangium yang terbentuk intinya
membelah meiosis dan menghasilkan 4 spora yang haploid
(tertraspora). Tetraspora tumbuh menjadi gametofit.
Gametofit dan tetrasporofit umumnya isomorfik.
(www.tugaskuli4h.wordpress.com)
2.2. Karagenan
Karaginan adalah senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut
merah jenis Eucheuma cottonii. Karaginan dapat digunakan untuk meningkatkan
kestabilan bahan pangan baik yang berbentuk suspensi (dispersi padatan dalam
cairan), emulsi (dispersi gas dalam cairan). Selain itu dapat digunakan sebagai
bahan penstabil karena mengandung gugus sulfat yang bermuatan negatif
disepanjang rantai polimernya dan bersifat hidrofilik yang dapat mengikat air atau
gugus hidroksil lainnya (Suryaningrum, 2000). Karena sifatnya yang hidrofilik
maka penambahan karaginan dalam produk emulsi akan meningkatkan viskositas
fase kontinyu sehingga emulsi menjadi stabil. Karaginan dapat berfungsi dalam
industri makanan sebagai bahan pengental, pengemulsi dan stabilisator suhu.
Karaginan digunakan dalam industri makanan, kosmetik dan tekstil (Kadi, 1990).
Karaginan merupakan polisakarida yang diekstraksi dari rumput laut merah
dari jenis Chondrus, Eucheuma, Gigartina, Hypnea, Iradea dan Phyllophora.
Polisakarida ini merupakan galaktan yang mengandung ester asam sulfat antara 20
-30% dan saling berikatan dengan ikatan (1,3): B (1,4) D glikosidik secara
berselang seling. Karaginan juga merupakan suatu campuran yang kompleks dari
beberapa polisacharida. Lambda dan Kappa karaginan secara bersama-sama dapat
diekstrak dari rumput laut jenis Chondrus crispus dan beberapa species dari
Gigartina, sedangkan lota karaginan diekstrak dari Eucheuma cottinii (Aslan,
1991).

2.2.1 Struktur Kimia Karageenan
(www.fao.org)

Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester
kalium,natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6
anhidrogalaktosa kopolimer. Karaginan adalah suatu bentuk polisakarida linear
dengan berat molekul di atas 100 kDa (Winarno 1996 ; WHO 1999).
Karaginan tersusun dari perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhidro
galaktosa (3,6-AG). Keduanya baik yang berikatan dengan sulfat atau tidak,
dihubungkan dengan ikatan glikosidik 1,3 dan -1,4 secara bergantian (FMC
Corp 1977).Menurut Hellebust dan Cragie (1978), karaginan terdapat dalam
dinding sel rumput laut atau matriks intraselulernya dan karaginan merupakan
bagian penyusun yang besar dari berat kering rumput laut dibandingkan dengan
komponen yang lain. Jumlah dan posisi sulfat membedakan macam-macam
polisakarida Rhodophyceae, seperti yang tercantum dalam Federal Register,
polisakarida tersebut harus mengandung 20 % sulfat berdasarkan berat kering
untuk diklasifikasikan sebagai karaginan. Berat molekul karaginan tersebut cukup
tinggi yaitu berkisar 100 - 800 ribu (Winarno 1996).
Karaginan merupakan getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi
rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali
pada temperatur tinggi (Glicksman 1983).
Karaginan merupakan nama yang diberikan untuk keluarga polisakarida
linear yang diperoleh dari alga merah dan penting untuk pangan. Doty (1987),
membedakan karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya menjadi dua fraksi
yaitu kappa karaginan yang mengandung sulfat kurang dari 28 % dan iota
karaginan jika lebih dari 30 %. Winarno (1996) menyatakan bahwa kappa
karaginan dihasilkan dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii, iota karaginan
dihasilkan dari Eucheuma spinosum, sedangkan lambda karaginan dari Chondrus
crispus, selanjutmya membagi karaginan menjadi 3 fraksi berdasarkan unit
penyusunnya yaitu kappa, iota dan lambda karaginan. Kappa karaginan tersusun
dari (1,3)-D-galaktosa-4-sulfat dan (1,4)-3,6- anhidro-D-galaktosa. Karaginan
juga mengandung D-galaktosa-6-sulfat ester dan 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat
ester. Adanya gugusan 6-sulfat, dapat menurunkan daya gelasi dari karaginan,
tetapi dengan pemberian alkali mampu menyebabkan terjadinya transeliminasi
gugusan 6-sulfat, yang menghasilkan 3,6-anhidro-D-galaktosa. Dengan demikian
derajat keseragaman molekul meningkat dan daya gelasinya juga bertambah
(Winarno 1996).
Menurut Imeson (2000), karagenan merupakan polisakarida berantai linear
dengan berat molekul yang tinggi. Rantai polisakarida tersebut terdiri dari ikatan
berulang antara gugus galaktosa dengan 3,6-anhidrogalaktosa (3,6 AG), keduanya
baik yang berikatan dengan sulfat maupun tidak, dihubungkan dengan ikatan
glikosidik -(1,3) dan -(1,4).
Kappa karagenan tersusun atas -(1,3) D-galaktosa-4-sulfat dan -(1,4) 3,6-
anhidrogalaktosa. Kappa karagenan mengandung 25% ester sulfat dan 34% 3,6-
anhidrogalaktosa. Jumlah 3,6-anhidrogalaktosa yang terkandung dalam kappa
karagenan adalah yang terbesar diantara dua jenis karagenan lainnya. Iota
karagenan tersusun atas -(1,3) D-galaktosa-4-sulfat dan -(1,4) 3,6-
anhidrogalaktosa-2-sulfat. Iota karagenan mengandung 32% ester sulfat dan 30%
3,6-anhidrogalaktosa.(Winarno 1996).
Lambda karagenan tersusun atas -(1,3) D-galaktosa-2-sulfat dan -(1,4) D-
galaktosa-2,6-disulfat. Lambda karagenan mengandung 35% ester sulfat dan
hanya mengandung sedikit atau tidak mengandung 3,6- anhidrogalaktosa. Selain
ketiga jenis tipe karagenan tersebut, terdapat pula dua jenis tipe karagenan lain
yaitu, mu () dan nu () karagenan. (Imeson, 2000)

2.2.2 Biosintesa Karageenan
Ekstraksi karaginan dari rumput laut Eucheuma pada prinsipnya merebus
rumput laut dalam larutan perebus. Kemudian disaring, dijendalkan, dipress dan
dikeringkan kembali. Untuk memperoleh tepung karagenan dengan kekuatan gel
yang tinggi, rumput laut yang digunakan sebaiknya rumput laut yang telah diberi
perlakuan alkali panas (ATC). Ekstraksi karaginan dilakukan sebagai berikut:
rumpt laut kering yang telah diberi perlakuan alkali panas diekstraksi dengan
menggunakan larutan KCl 0.1% dengan olume larutan 50-60 kali berat rumpt laut
kering. Ekstraksi dilakukan pada suhu 90-95C selama 3-6jam. Setelah proses
esktraksi selesai, ru,put lat disaring dengan saringan bergetar. Filtrat yang
diperoleh ditampung dalam pan penjedal dan dibiarkan membentuk gel semalam.
Gel karagenan kemudian diiris dengan menggunakan alat pemotong gel dengan
ketebalan 0,8 cm sehngga membentuk lembaran. Lembaran gel kaagenan
dibungkus dengan menggunakan kain blacu kemudian dipres dalam bak
pengepres dan diberi beban dengan menggunakan batu pemerat. Pengepresan
dilakukan selama semalam dengan penambahan beban secara bertahap. Sehingga
diperoleh lembaran embaran gel karagenan yangcukup tipis. Gel karagenan
kemudian dijemur beserta kain sampai kering.kemudian dilpas dari kainnya dan
dipotong-potong dan digiling sehingga menjadi tepung karagenan. (Badan riset
Kelautan dan Perikanan,2003)
Karagenan adalah hasil ekstraksi dari rumput laut yang tergolong
Rhodophyceae dengan menggunakan air atau alkali. Karagenan tersusun dari
perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhidro-galaktosa (3,6-AG), keduanya
baik yang berikatan dengan sulfat maupun tidak, dihubungkan dengan ikatan
glikosidik -1,3 dan -1,4 secara bergantian (Anonim, 1977). Karagenan dapat
dibagi dalam tiga fraksi, yaitu fraksi kappa-, iota-, dan lambda-karagenan. Fraksi
iota-karagenan banyak terdapat pada genus Eucheuma (Winarno 1996).
Proses yang dilakukan terhadap rumput laut untuk menghasilkan karagenan
dapat dibagi menjadi 9 tahapan utama, yakni :
1. Pembersihan bahan baku dan pensortiran
Pembersihan dan pensortiran dilakukan untuk membuang rumput laut
yang sudah berwarna kegelapan dan kurang bermutu, ini dilakukan
dengan menggunakan tenaga kerja. Bahan baku yang telah disortir
dikumpulkan dalam gudang penyimpan.
2. Pemotongan rumput laut
Rumput laut yang telah sesuai dengan standard dimasukkan ke dalam
mesin pemotong melalui screw conveyor, sehingga pada saat keluar
memiliki panjang sekitar 10 cm. Hal ini dilakukan agar untuk
mempermudah dalam proses ekstraksi karagenan.
3. Pencucian
Bahan baku yang telah dipotong, kemudian dicuci dengan air pada suhu
300C untuk membuang garam yang melekat pada rumput laut di dalam
Tangki Pelarut. Kadar garam yang terkandung dalam rumput laut
biasanya 15-25% dari berat rumput laut.
4. Reaksi
Rumput laut kemudian di ekstraksi dengan larutah KOH 12% pada suhu
750C di dalam Reaktor. Ekstraksi ini biasanya memakan waktu sekitar 1-
2 jam.
5. Filtrasi
Setelah tercapai waktu yang dibutuhkan untuk pemasakan, rumput laut
dikeluarkan dan dilajutkan ke unit filtrasi. Unit filtrasi berguna untuk
memisahkan larutan KOH, protein, air, karagenan dan karbohidrat
dengan K2SO4.
6. PemurnianK2SO4
Residu dari proses filtrasi, yakni K2SO4 dimurnikan dengan cara
disentrifusi dan dikeringkan pada rotary dryer.
7. Pemisahan kappa karagenan dengan KOH, protein dan karbohidrat
Filtrat berupa larutan KOH, protein, air, karagenan dan karbohidrat yang
tidak bereaksi diumpankan ke unit Rotary Filter untuk memisahkan
KOH, Protein, karbohidrat yang tidak bereaksi dengan kappa karagenan.
8. Pemurnian kappa karagenan
Endapan karagenan yang masih mengandung sedikit air dikeringkan dan
dihancurkan untuk membuat tepung kappa karagenan. (Winarno, 1990).
.
2.3 Manfaat karageenan
2.3.1. Industri makanan
Produk pangan yang dihasilkan meliputi cokelat, bakso, sosis, kue, biskuit,
roti, mi, es krim, saus, kecap, serta daging olahan tanpa tulang (nugget). Di
samping itu, ia juga memasarkan bubuk karaginan untuk diolah konsumen.
(wwwwargahijau.org)
Beer/wine/vinega : Mempercepat dan memperbaiki kejernihan
Chocolate milk drink : Stabilizer dan memperbaiki viskositas
Ice cream : Mencegah pembentukan kristal es dan memperbaiki rasa
Sauces, dressing : Mengentalkan dan memperbaiki viskositas
Daging dan unggas : Penstabil emulsi air/minyak selama proses
preparasi,
pemasakan dan penyimpanan serta mencegah denaturasi protein.
Mi : Meningkatkan daya tahan akibat over cooking dan dapat
mengurangi jumlah pemakaian telur tanpa penurunan kualitas.
(http://iinparlina.wordpress.com).

2.3.2. Industri Farmasi
Mencegah kanker
Mengkonsumsi rumput laut yang kaya akan kandungan serat, selenium
dan seng dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu
tinggi dapat mendorong timbulnya kanker. Penelitian yang dilakukan
terhadap penderita kanker di Amerika menunjukkan bahwa wanita yang
melakukan diet ketat dengan mengkonsumsi serat tinggi dan mengurangi
asupan lemak dari daging dan susu mempunyai level estrogen yang
rendah. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Harvard School of Public
Health Amerika telah membuktikan bahwa pola konsumsi wanita Jepang
yang selalu menambahkan rumput laut dalam menu makannya,
menyebabkan wanita premenopause di Jepang mempunyai peluang tiga
kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita
Amerika.
Mencegah penyakit stroke
Mengkonsumsi rumput laut dapat menyerap kelebihan garam pada tubuh
sehingga dapat mengurangi tekanan darah tinggi pada seseorang.
Mencegah terjadinya penurunan kecerdasan
Kandungan vitamin, mineral, asam amino dan enzym dalam rumput laut
sangat potensial sebagai anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan
dan peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C bekerja
sama dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari
rumput laut penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit.
Mencegah terjadinya penuaan dini dan menjaga kesehatan kulit
Kandungan iodium pada rumput laut yang sangat tinggi dapat mengatasi
defisiensi iodium pada tubuh yang berdampak pada penurunan
kecerdasan seseorang.
Sebagai makanan diet
Serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan kandungan
karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa kenyang
lebih lama. Disamping itu, serat pada rumput laut juga dapat membantu
memperlancar proses metabolisme lemak sehingga akan mengurangi
resiko obesitas, menurunkan kolesterol darah dan gula darah.
Sebagai antioksidan dan meningkatkan kekbalan tubuh
Kandungan klorofil dan vitamin C pada rumput laut (ganggang hijau)
berfungsi sebagai anti oksidan sehingga dapat membantu membersihkan
tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya sehingga dapat
meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang kuat
akan dapat menguruangi gejala alergi.
Mencegah gejala osteoporosis :
Rumput laut mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan
dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untuk
mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis
Mencegah penyakit gangguan pencernaan
Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus
besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya.
Lain lain
Disamping sebagai bahan makanan bergizi, rumput laut telah banyak
digunakan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dan suplemen makanan
serta difortifikasi ke produk pangan untuk meningkatkan nilai jual
produk tersebut. Jenis rumput laut yang banyak digunakan untuk
pembuatan obat adalah alga coklat khususnya sargasum dan turbinaria.
Pengolahan rumput laut jenis tersebut menghasilkan ekstrak berupa
senyawa natrium alginat. Senyawa alginat inilah yang dimanfaatkan
dalam pembuatan obat antibakteri, anti tumor, penurunan darah tinggi
dan mengatasi gangguan kelenjar.
(www.cinduatakacauhariujan.wordpress.com)

2.4. Standar Mutu Karageenan
Tabel 2. Standar mutu karageenan komersial FAO (Food Agriculturre
Organization), FCC (Food Chemical Codex), dan EEC (European Economic
Community) (www.fao.org)

Parameter Karageenan
Komersil
Karageenan
standar FAO
Karageenan
standar FCC
Karageenan
standar EEC
Kadar Air 14,34 0,25

Maksimal 12 Maksimal 12 Maksimal 12
Kadar
Abu
18,60 0,22 15 - 40 18 - 40 15 40
Kekuatan
gel
685,50 13,43 - - -
Titik
leleh
50,21 1,05 - - -
Titik gel 34,10 1,86 - - -













(www.rumputlautindonesia.blogspot.com)

Indonesia belum mempunyai standar mutu karaginan. Standar mutu yang
dikenal adalah EEC Stabilizer Directive dan FAO/WHO Specification. Tepung
karagenan mempunyai standar 99 % lolos saringan 60 mesh, tepung yang
terendap alcohol 0,7 dan kadar air 15 % pada RH 50 dan 25 % pada RH
70(www.iinparlina.wordpress.com).





BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Hari, Tanggal : Senin, 6 Juni 2011
Pukul : 08.00 13.00 WIB
Tempat : Laboratorium Biokimia, Fakuktas perikanan dan
Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro, Semarang.
3.2. Alat dan Bahan
No Nama Alat/
Bahan
Gambar Fungsi
1. Timbangan

Untuk menimbang jumlah
Kappaphycuss alvarezii
yang akan digunakan
2. Gunting

Untuk memeotong
Kappaphycuss alvarezii
3. Kompor
pemanas

Untuk memanaskan
Kappaphycuss alvarezii
4. Beker glass

Meletakan Kappaphycuss
alvarezii saat di beri
perlakuan
5. Thermometer

Untuk mengukur suhu saat
pemanasan

6. Kappaphycus
alvarezii




Sebagai sample yang akan
di ekstraksi
7. KOH

Untuk menetralkan PH
8. NaOCl
(Kaporit)

Untuk memutihkan sample
9. Aquades

Untuk mencuci
Kappaphycuss alvarezii

3.2. Prosedur Kerja


Ditimbang 20 gram




Dicuci dengan Akuades
Dipotong berukuran 2 3 cm



Dicuci dengan KOH 6 %.
Kappaphycus alvarezzi
20 gr Kappaphycus alvarezzi
Gelas Beker

20 gr Kappaphycus alvarezzi
Beker gelas



Dipanaskan pada suhu 50
o
C selama 15
menit.
Disaring




Dicuci dengan aquades sampai pH < 9
Direndam dengan kaporit 1000 ppm
hingga tidak berbau
Dicuci dengan aquades.
Dikeringkan di bawah sinar matahari.




Ditimbang

















Kappaphycus alvarezzi
setelah pengeringan
Karagenan
Kappaphycus alvarezzi
Gelas beker

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Kappaphycus alvarezzi direndam dalam KOH 6% dan dipanaskan
pada suhu 50 C selama 15 menit air menjadi berwarna kuning
kecokelatan dan berlendir.
Direndam / dicuci dengan air tawar lendir menjadi sedikit dan
pH menjadi < 9
Direndam dengan kaporit 1000 ppm warna Kappaphycuss
alvarezii menjadi putih.
Karagenan di jemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih 2
hari dari pelaksanaan praktikum. Setelah kering hasil yang diperoleh
ditimbang. Hasil penimbangan adalah 2,32 gram.
Kadar Karagenan = Berat akhir(gr) x 100
Berat awal(gr)
= 2,32 x 100
20
= 11,6
Data Perbandiangan Kadar Karagenan masing-masing kelompok
Kelompok Berat Awal Berat Akhir Kadar Karagenan
1A 20 gr 5,10 gr 25,5 %
1B 20 gr 4,30 gr 21,5 %
1C 20 gr 6.65 gr 33,25 %
2A 20 gr 1,80 9 %
2B 20 gr 2,32 11,6 %
2C 20 gr 2,50 12,5 %

4.2 Pembahasan
Dalam percobaan ini, rumput laut (Kappaphycuss alvarezii) 20 gr
dicuci dalam akuades. Hal ini ditujukan untuk membersihkan rumput laut
dari kotoran, selain itu juga agar kandungan garam (NaCl) yang terkandung
dalam rumput laut dapat berkurang.
Setelah direndam dalam aquades, rumput laut dipotong kecil-kecil
kira-kira 2-3 cm. Pemotongan pada rumput laut bertujuan untuk
memperkecil ukuran rumput laut agar mempermudah pada proses-proses
selanjutnya misalnya pada proses pengeringan.
Setelah itu, dilakukan perendaman dengan KOH 6%.
Kappaphycuss alvarezii direndam dalam KOH bertujuan agar
menghasilakan gel yang elastis, jika digunakan natrium klorida maka
kekuatan gel yang dihasilkan akan rendah. Sedangkan jika menggunakan
garam kalium akan menghasilkan gel yang keras.
Kemudian Kappaphycuss alvarezii dipanaskan pada suhu 50
o
C
selama 15 menit, ketika proses ini berlangsung perlu dilakukan pengadukan
yang konstant agar campuran menjadi homogen. Setelah pemanasan
didapatkan hasil rumput laut menjadi kuning kecoklatan dan berlendir.
Setelah itu, dilakukan perendaman Kappaphycuss alvarezii dengan
air tawar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan rumput laut
tersebut bersifat netral, tidak mengandung asam.
Kemudian perendaman dengan kaporit 1000 ppm selama 10 menit
yang bertujuan untuk membersihkan rumput laut dari kuman-kuman yang
masih menempel. Hasil yang di dapatkan warna Kappaphycuss alvarezii
menjadi putih.
Setelah direndam dengan kaporit 1000 ppm, proses selanjutnya
pencucian kembali dengan akuades. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan
kandungan kaporit yang menempel pada rumput laut tersebut.
Langkah terakhir yaitu pengeringan dengan cara dijemur dibawah
sinar matahari. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air dalam
karagenan.
Setelah proses pengeringan, hasil yang didapat berupa karagenan itu
ditimbang. Berat tersebut merupakan berat akhir dari karagenan dan
karagenen tersebut pun siap untuk dikonsumsi. Berat akhir yang didapatkan
kelompok kami adalah 2,32 gram. Atau dalam persen yaitu 11,6 .
Dari data kelompok lain di dapatkan kadar karagenan sebesar 12,5 %,
21,5 %, 33,25 %, 9 %, 25,5 % dari jenis rumput laut Kappaphycuss
alvarezii. Hal ini menunjukan bahwa terjadi perbedaan kadar karagenan
meskipun pada jenis rumput laut yang sama. Fenomena ini bias terjadi
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Ketelitian Alat
Kondisi dan kelayakan alat yang digunakan dapat membuat hasil dan
data praktikum yang tidak akurat
2. Human Error
Kesalahan kesalahan yang dilakukan oleh praktikan ketika
melakukan praktikum bias saja menjadi penyeabab perbedaan hasil akhir.
Kesalahan kesalahn tersebut seperti :
a) Kesalahan penimbangan
b) Kesalahan prosedur
c) Kesalahan Perhitungan
d) Ketelitian praktikan
















BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Karagenan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-
galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh
ikatan 1-4 glikosiklik. Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat.
Jumlah sulfat kurang lebih 35,1%.
2. Berdasarkan strukturnya karagenan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
kappa, iota dan lamda.
3. Dari praktikum ini didapatkan hasil kadar karagenan kappaphycus
alvarezzi sebesar 11,6 %

5.2. Saran
1. Asisten hendaknya mengontrol kinerja masing masing praktikan.
2. Praktikan hendaknya memahami materi praktikum, sebelum pelaksanaan
praktikum.
3. Dalam pelaksanaan praktikum jumlah alat diusahakan sesuai dengan
jumlah kelompok praktikan agar tidak terjadi pergantian alat dengan
kelompok praktikan lainnya untuk hasil yang lebih detail, tepat dan
akurat.











DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta
Atmadja, W.S., Sulistijo, Kadi, A.,Sahari, R. 1996. Pengenalan Jenis Rumput
Laut di Indonesia. P30 LIPI, Jakarta
Glicksman, M. 1983. Food Hydrocolloids. Vol. II. CRC Press, Boca Raton,
Florida.
Harapan. Jakarta.
Imeson. A. P. 2000. Carrageenan di dalam Handbook of Hydrocolloids. G. O.
Badan riset Kelautan dan Perikanan. 2003. Proyek riset Kelautan dan
Perikanan.Departemen Kelautan dan Perikanan : Jakarta
Kadi, A. 1990. Inventarisasi Rumput Laut di Teluk Tering dalam Perairan Pulau
Bangka, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 45 - 50.
Winarno, F. G. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar
Winarno, F. G. 1996. Kimia Pangan dan Gizi. . Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama

Dari Website :
www. iinparlina.wordpress.com/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul 08.00 WIB
www.cinduatakacauhariujan.wordpress.com/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul
08.00 WIB
www.fao.org/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul 08.00 WIB
www.rumputlautindonesia.blogspot.com/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul 08.00
WIB
www.sith.itb.ac.id/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul 08.00 WIB
www.zonaikan.wordpress.com/diakses Rabu, 08 Juni 2011 pukul 08.00 WIB






LAMPIRAN
























V
PENIMBANGAN KOH
PEMANASAN
PEMANASAN
PEMOTONGAN
PEMBERIAN KAPORIT