Anda di halaman 1dari 22

1

PRAKTIKUM 6
SKRINING HIPOKRATIK

1. Tujuan Praktikum
Memahami dan terampil melakukan skrining farmakodinamik obat
menggunakan teknik skrining hipokratik.
Memahami dan mampu menganalisa hasil-hasil skrining farmakologi obat.

2. Tinjauan Pustaka
Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu
obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal dari bahan alami
maupun senyawa sintetis atau semisintetis. Cara ini didasarkan atas bahwa obat
bila berinteraksi dalam materi biologis dalam tubuh akan menghasilkan efek
tertentu tergantung pada dosis yang diberikan. Penapisan farmakologi
pendahuluan dilakukan menurut metode Malon-Robichoud mengenai penapisan
hipokratik yang dimodifikasi. Prinsipnya adalah melihat gejala-gejala yang timbul
pada hewan percobaan setelah diberi suatu obat Skrining ini dapat membedakan
suatu obat/bahan yang berguna dan yang tidak berguna dengan cepat dan biaya
yang relatif murah. Darinya akan dihasilkan profil farmakodinamik obat/bahan.
Selain itu dapat diketahui efek farmakologi pada suatu obat yang belum diketahui
sebelumnya, sehingga diperoleh perkiraan efek farmakologi berdasarkan
pendekatan data parameter-parameter yang diketahui.

Penelitian ini menggunakan metode penapisan hipokratik yang dipertajam
dengan uji-uji spesifik diantaranya seperti uji viskositas, uji aktivitas motorik, uji
perpanjangan waktu tidur, uji anti konvulsi dan uji efek hipotensi.

2

Skrining/penapisan farmakologi adalah suatu metode untuk mengetahui
aktivitas farmakologik suatu zat. Prinsipnya adalah melihat gejala-gejala yang
timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji.

Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas
farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan dengan
melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji. Zat atau
obat yang disediakan dalam praktikum ini antara lain yang memberikan efek
depresan SSP, perangsang SSP, simpatomimetik, parasimpatomimetik,
simpatolitik, muscle relaxant, analgesik, vasokonstriktor, dan vasodilator. Pada
percobaan ini akan dilakukan evaluasi dan pengelompokan efek-efek yang timbul
pada hewan uji (tikus) berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh zat atau obat
tersebut.

Prinsip dasar penapisan atau skrining farmakologi ini ialah mencari persen
aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efekefek tersebut, kemudian dapat
ditarik kesimpulan berdasarkan persen aktivitas yang paling besar. Semakin besar
persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai
kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut.

Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat yang belum
diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat tersebut memiliki efek
fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai penapisan hipokratik (penapisan
awal). Penapisan ini masih merupakan prediksi.

Sistem saraf biasanya dibagi menjadi susuna saraf pusat (otak dan sumsum
tulang belakang). Serta susunan saraf perifer, yang terbagi menjadi 2, yaitu
susunan syaraf motoris (yang bekerja sekehendak kita) serta susuna saraf otonom
yang bekerja menurut aturannya sendiri.
Farmakodinamik adalah ilmu cabang yang mempelajari efek biokimiawi dan
fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Menurut teori pendudukan reseptor,
3

intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau
diikatnya, dan intensitas efek mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki
oleh obat. Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor. Pada
sel suatu organisme reaksi ini menyebabkan perubahan biokimiawi dan fisiologi
yang merupakan respon khas obat tersebut : reseptor obat merupakan komponen
mikromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, obat dapat
merubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, obat tidak menimbulkan suatu
fungsi baru, tetapi hanya memodifikasi fungsi yang sudah ada.

Parasimpatomimetik
Parasimpatomimetika atau kolinergika adalah sekelompok zat yang dapat
menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis, karena
melepaskan neurohormon asetilkolin di ujung-ujung neuronnya. Efek-efek yang
muncul setelah pemberian kolinergika adalah :
Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi
kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dll.
Memperlambat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan
jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah.
Memperlambat pernapasan, antara lain dengan menciutkan bronchi,
sedangkan sekresi dahak diperbesar.
Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan
menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata.
Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar
pengeluaran urin.
Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka.
Menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.



4

Simpatomimetik
Simpatomimetika atau adrenergika adalah zat-zat yang dapat menimbulkan
(sebagian) efek yang sama dengan stimulasi susunan sipaticus dan melepaskan
noradrenalin di ujung-ujung sarafnya. Efek-efek yang ditimbulkan adalah :
Vasokonstriksi otot polos dan menstimulsi sel-sel kelenjar dengan
bertambahnya antar lain sekresi liur dan keringat.
Menurunkan peristaltik usus.
Memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.
Bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak.

Simpatolitik
Simpatolitika atau adrenolitika adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh
aktivitas susunan saraf simpatis. Efeknya melawan efek yang ditimbulkan oleh
simpatomimetika.
Analgetik
Anlagetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Vasodilator
Vasodilator didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat melebarkan pembuluh
darah secara langsung.
Vasokonstriktor
Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan vasodilator.
CNS Activation
Zat-zat yang dapat merangsang SSP. Efek-efek yang ditimbulkan adalah :
Konvulsi.
5

Meningkatkan laju pernapasan.
Misal pada tikus, efek yang diitmbulkan antara lain :
Aktivitas motorik meningkat
Temperatur rektum naik
Rasa ingin tahu meningkat

CNS Depressant
Zat-zat yang dapat menekan SSP. Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan
CNS activation. Misal pada tikus, efek yang ditimbulkan antara lain :
Aktivitas motorik menurun
Laju pernapasan menurun

Muscle Relaxant
Efek yang ditimbulkan mirip dengan CNS depressant.
Daftar bobot untuk parameter-parameter yang diamati
No Parameter
Faktor
bobot Kriteria aktivitas
1 Kelopak mata turun 1 PEN.SSSP/SIMPL/REL.OT
2 Bulu berdiri 0,5 SIMM/PARASIMM
3 Ekor berdiri 0,5 ANALG
4 Bola mata menonjol 1,5 SIMM
5 Ekor/telinga merah 1 FASODILATASI
6 Ekor/telinga pucat 2 FASOKONSTRILSI
7 Fasikulasi 1 STIM.SSP/PARASIMM
8 Tremor 1 STIM.SSP
9
Aktiv. Motorik
menurun 1 PEN.SSP/SILML, REL.OT
10
Aktiv. Motorik
meningkat 1 STIM.SSP
11 Respirasi meningkat 2 STIM SSP
12 Respirasi menurun 2 PEN.SSP/REL.OT
13 Gerak berputar 1 STIM.SP/ANALG
14 Ekor bergelombang 1 STIM..SSP
6

15 Agresif 1 STIM.SSP
16 Rasa ingin tahu 1 STIM.SSP
17 Rasa ingin tahu 1 PEN.SSP/REL.OT
18
Refleks kornea
hilang 1 PEN.SSP
19
Refleks telinga
hilang 1 PEN..SSP/REL.OT
20 Refleks ballik hilang 1 PEN.SSP
21 Salivasi 2 PARASIMM
22 Lakrimasi 0,5 PARASIMM
23 Lakrimasi 2 SIMM
24 Air mata berdarah 1,5 PARASIMM
25 Paralisa kaki 1 PEN.SSP/REL.OT
26 Tremor 1 STIM.SP
27 Konvulsi 1
STIMM.SSP/SIMM/SIML/PARASI
MM
28 Urinasi 2 PARASIMM
29 Diare 1 PARASIMM
30 Temperatur rektum 2 SRIM.SSP/SIMM
31 Temperatur rektum 1 PEN.SSP/SIML/PARASIMM
32 Jatuh dari rotaroad 1 PEN.SSP/REL.OT
33 Katalepsi 1 PEN.SSP
34
Tonus tubuh
menurun 1,5 PEN.SSP/REL.OT
35
Tonus tubuh
meningkat 2 RTIM.SSP
36 Reaksi plat panas 1 PEN,SSP/REL.OT/ANALG
37 Reaksi jepit ekor 1 PEN.SSP/REL.OT/ANALG
38 Menggeliat 0,5 REL..OT
39 Pandangan tak lurus 2 PEN.SSP
40 Pupil mengecil 1,5 PARASIMM/SIML/PEN.SSP
41 Pupil melebar 0,5 SIML/PARASIML/ANALG
42 Ekor naik 0,5 ANALG
43 Berat badan 1,5
44 Berat badan 2

Hewan percobaan yang akan kami bahas yaitu mencit karena pada praktikum ini
kami menggunakan mencit sebagai hewan coba.

7

Mencit
Scientific classification
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Rodentia
Family : Muridae
Subfamily : Murinae
Genus : Mus
Species : M.musculus
Memiliki panjang dari hidung sampai ekor 7.510 cm dan panjang ekor 510
cm; memilki beartthe 1025 g. memilki panjang kaki hanya 1519 mm long;
dapat melompat sampai 45 cm. mencit takut terhadap tikus, karena tikus sering
memakan mereka. dapat menerima gelombang ultrasonic sampai 100 kHz dan
aktif pada malam hari, mencit bersifat penakut , fotofobik, cenderung berkumpul
sesamanya. memiliki suhu tubuh normal 47,4 0C laju respirasi normal 163 tiap
menit.
Mencit dijadikan hewan percoabaan di laboratorium karena mencit
merupakan mamalia dan adanya homolog dengan manusia. Selain itu mencit
mudah ditangani, tidak mahal, dan cepat bereproduksi.
Dalam percobaan farmakologi, volume cairan yang diberikan kepada hewan
percobaan tidak boleh melebihi jumlah tertentu. Adapun volume maksimum
pemberian obat pada mencit yaitu :

8

Hewan
Percobaan
Batas volume maksimum (ml) perekor untuk cara
pemberian
IV IM IP SC ORAL
Mencit 0,5 0,05 1 0,5 1

Adapun jumlah obat yang diberikan kepada hewan percobaan dihitung
berdasarkan pada rumus :
VAO =
() ()
()

Faktor yang mempengaruhi hasil eksperimen dalam hal ini kondisi mencit
yaitu keadaan kandang, suasana kandang baru yang asing, pengamatan hewan
dalam kandang, dan keadaan ruangan tempat hidup hewan percobaan (cuaca).

3. Alat dan Bahan
a) Alat
Alat suntik
Stopwatch
Hot plate
Hotating road
Thermometer
Platform
Pinset
Kertas saring
Alat gantung
Jaring kawat
Alat-alat gelas lainnya
b) Bahan
Ekstrak ( 3 mg/kgBB, 10 mg/kgBB, 30 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 300
mg/kgBB, 1000 mg/kgBB )
Mencit
9

4. Prosedur Kerja
1) Timbang hewan, tandai dan tentukan dosis yang akan diberikan.
2) Amati parameter-parameter seperti yang tertera pada tabel 2 dan beri
skor 1 atau 0 untuk respon kualitatif dan 1,2,3 untuk respon kuantitatif.
3) Respon kuantitatif dapat dilihat pada tabel 3. Gunakan alat yang tersedia
untuk mendeteksi gejala tertentu, seperti :
Tonus otot melalui kemampuan hewan memegang jaring atau
bergelantungan pada alat gelantung.
Laju pernapasan dihitung persatuan waktu memakai stopwatch.
Reaksi jepit ekor menggunakan pinset.
Reaksi plat panas menggunakan hotplate.
Temperature tubuh menggunakan thermometer.
Chromodacriorea (air mata berdarah), salvitasi, lakrimasi
menggunakan kertas saring.
4) Setelah semua parameter teramati (pada keadaan tak di beri obat =
kontrol) injeksi masing-masing hewan pada dosis yang telah ditentukan.
5) Amati lagi semua parameter diatas pada 5, 10, 15, 30, dan 60 menit
setelah penyuntikan obat.
6) Evaluasi hasil saudara dengan cara sebagai berikut :
a. Kumpulkan nilai menurut bobot untuk masing-masing parameter
sesuai dengan dosis seperti contoh berikut :
Parameter yang diamati : peningkatan laju pernapasan

b. Lakukan hal yang sama untuk semua parameter yang lain.
c. Hitung skor total dengan mengalikan skor dengan faktor bobot untuk
masing-masing parameter pada tiap-tiap dosis dan bandingkan dengan
skor maksimum. Contoh :

Dosis (mg/kgBB) Control 5' 10' 15' 30' 60' 120'
3 0 1 1 2 1 1 0
10 0 1 2 2 3 2 1
30 0 2 2 3 3 3 2
100 0 2 3 3 3 2 1
10

Laju pernapasan meningkat

d. Kumpulkan nilai parameter- parameter yang relevan untuk aktifitas
tertentu, misalnya untuk aktivitas penekanan sistem saraf pusat
(PSSP) seperti pada tabel 4 dan jumlahkan skor actual. Hitung juga
skor maksimum actual.
e. Ranking % respon aktivitas yang didapat menurut dosis dan katagori
aktivitas.
f. Bahas hasil yang saudara peroleh dan buatlah beberapa kemungkinan
kategori aktivitas senyawa yang anda uji sebagai kesimpulan.

5. Hasil dan Pembahasan
a) Hasil
Perhitungan Dosis
Dosis : 30 mg/kgBB
Konsentrasi : 3 mg/L
VAO : 0,28 ml
BB : 28 g (0,028 kg)
VAO =
() ()
()

=



= 0,28 ml






Dosis (mg/kgBB) Skor total Skor maksimum
3 6 x 1 18 x 1
10 11 x 1 19 x 1
30 15 x 1 20 x 1
100 14 x 1 21 x 1
11

Tabel hasil pengamatan


K 5' 10' 15' 30' 60' 120'
1 Kelopak mata turun 0 1 1 1 0 0 0
2 Bulu berdiri 0 0 0 0 0 0 0
3 Ekor berdiri 0 0 0 0 0 0 0
4 Bola mata menonjol 1,5 0 0 0 1,5 1,5 1,5
5 Ekor merah 0 0 0 0 0 0 0
6 Telinga pucat 0 0 0 0 0 0 0
7 Ekor pucat 0 0 0 0 0 0 0
8 Fasikulasi 0 0 0 0 0 0 0
9 Tremor 0 0 0 0 0 0 0
10 Aktiv. Motorik meningkat 1 1 0 0 1 1 0
11 Aktiv. Motorik menurun 0 0 1 0 0 0 1
12 Respirasi meningkat 0 0 0 2 2 0 0
13 Respirasi menurun 0 2 2 0 0 2 2
14 Gerak berputar 0 0 0 0 0 0 0
15 Ekor bergelombang 0 0 0 0 0 0 0
16 Agresif 1 1 0 0 0 1 0
17 Rasa ingin tahu 1 1 0 0 0 1 0
18 Rasa ingin tahu 0 0 1 1 1 0 1
19 Refleks kornea hilang 0 0 0 0 0 0 0
20 Refleks telinga hilang 0 0 0 0 0 0 0
21 Refleks ballik hilang 0 0 0 0 0 0 0
22 Salivasi 0 0 0 0 0 0 0
23 Lakrimasi 0 0 0 0 0 0 0
24 Lakrimasi 0 0 0 0 0 0 0
25 Air mata berdarah 0 0 0 0 0 0 0
26 Paralisa kaki 0 0 0 0 0 0 0
27 Tremor 0 0 0 0 0 0 0
28 Konvulsi 1 0 0 0 0 0 0
29 Urinasi 0 1 0 0 0 1 0
30 Diare 1 0 0 0 0 0 0
31 Temperatur rektum 38,8 0 0 2 2 2 2
32 Temperatur rektum 0 1 1 0 0 0 0
33 Jatuh dari rotaroad 0 0 0 0 1 1 1
34 Katalepsi 0 0 0 0 0 0 0
35 Tonus tubuh menurun 0 0 0 0 0 0 0
36 Reaksi plat panas 1 1 1 1 1 1 1
37 Reaksi jepit ekor 0 0 0 0 0 0 0
38 Menggeliat 0 0 0 0 0 0 0
39 Pandangan tak lurus 0 0 0 0 0 0 0
40 Pupil mengecil 0 0 0 0 0 0 0
41 Pupil melebar 0 0 0 0 0 0 0
42 Ekor naik 0 0 0 0 0 0 0
43 Berat badan 0 0 0 0 0 0 0
44 Berat badan 0 0 0 0 0 0 0
No Parameter
Nilai (1-3) atau terukur pada waktu
12

Tabel parameter aktivitas
1. Aktivitas penekan sistem saraf pusat














2. Simpatolitik


3. Relaksasi otot

Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Kelopak mata 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Aktivitas motorik 1 x 2 2 1 x 6 x 1 6
Konvulsi 1 x 1 1 1 x 6 x 1 6
Temperature rectum 1 x 2 2 1 x 6 x 1 6
Jumlah 8 24
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Kelopak mata 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Aktivitas motorik 1 x 2 2 1 x 6 x 1 6
Respirasi 2 x 8 16 2 x 6 x 2 24
Rasa ingin tahu 1 x 4 4 1 x 6 x 1 6
Reflex telinga hilang 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Paralisa kaki 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Jatuh dari rotaroad 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Tonus tubuh 1,5 x 0 0 1,5 x 6 x 0 0
Reaksi jepit ekor 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Menggeliat 0,5 x 0 0 0,5 x 6 x 0 0
Jumlah 28 48
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Kelopak mata 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Aktivitas motorik 1 x 2 2 1 x 6 x 1 6
Respirasi 2 x 8 16 2 x 6 x 2 24
Rasa ingin tahu 1 x 4 4 1 x 6 x 1 6
Reflex kornea hilang 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Reflex telinga hilang 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Reflex balik hilang 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Paralisa kaki 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Temperature rectum 1 x 2 2 1 x 6 x 1 6
Jatuh dari rotaroad 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Katalepsi 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Tonus tubuh 1,5 x 0 0 1,5 x 6 x 0 0
Reaksi jepit ekor 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Pandangan tak lurus 2 x 0 0 2 x 6 x 0 0
Jumlah 30 54
13

4. Simpatomimetik


5. Parasimpatomimetik


6. Analgetik


7. Vasokontriksi


8. Vasodilatasi

Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Bola mata menonjol 1,5 x 6 9 1,5 x 6 x 1,5 13,5
Lakrimasi 2 x 0 2 2 x 6 x 0 0
Konvulsi 1 x 1 1 1 x 6 x 1 6
Temperature rectum 2 x 8 16 2 x 6 x 2 24
Jumlah 28 43,5
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Bulu berdiri 0,5 x 0 0 0,5 x 6 x 0 0
Fasikulasi 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Salivasi 2 x 0 0 2 x 6 x 0 0
Lakrimasi 0,5 x 0 0 0,5 x 6 x 0 0
Air mata berdarah 1,5 x 0 0 1,5 x 6 x 0 0
Konvulsi 1 x 1 1 1 x 6 x 1 6
Urinasi 2 x 2 4 2 x 6 x 1 12
Diare 1 x 1 1 1 x 6 x 1 6
Temperature rectum 1 x 2 2 1 x 6 x 0 0
Jumlah 8 24
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Ekor berdiri 0,5 x 0 0 0,5 x 6 x 0 0
Gerak berputar 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Reaksi jepit ekor 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Jumlah 0 0
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Ekor/ telinga pucat 2 x 0 0 2 x 6 x 0 0
Jumlah 0 0
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Ekor/ telinga merah 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Jumlah 0 0
14

9. Stimulasi sistem saraf pusat


10. Parasimpatolitik



Perhitungan % aktivitas
% Aktivitas =


x 100%

1. Aktivitas penekan sistem saraf pusat
% Aktivitas =

x 100%
= 55,55%

2. Aktivitas simpatolitik
% Aktivitas =

x 100%
= 33,33%



Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Fasikulasi 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Tremor 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Aktivitas motorik 1 x 4 4 1 x 6 x 1 6
Respirasi 2 x 4 8 2 x 6 x 2 24
Gerak berputar 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Ekor bergelombang 1 x 0 0 1 x 6 x 0 0
Agresif 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Rasa ingin tahu 1 x 3 3 1 x 6 x 1 6
Konvulsi 1 x 1 1 1 x 6 x 1 6
Temperatur rectum 2 x 8 16 2 x 6 x 2 24
Tonus tubuh 1,5 x 0 0 1,5 x 6 x 0 0
Jumlah 35 72
Parameter Skor total Jumlah Skor Max Jumlah
Pupil melebar 0,5 x 0 0 0,5 x 6 x 0 0
Jumlah 0 0
15

3. Aktivitas relaksasi otot
% Aktivitas =

x 100%
= 79,17%

4. Aktivitas simpatomimetik
% Aktivitas =

x 100%
= 64,36%

5. Aktivitas parasimpatomimetik
% Aktivitas =

x 100%
= 33,33%

6. Aktivitas analgetik
% Aktivitas =

x 100%
= 0%

7. Aktivitas vasokontriksi
% Aktivitas =

x 100%
= 0%

8. Aktivitas vasodilatasi
% Aktivitas =

x 100%
= 0%

9. Aktivitas stimulasi sistem saraf pusat
% Aktivitas =

x 100%
= 48,61%
16

10. Aktivitas parasimpatolitik
% Aktivitas =

x 100%
= 0 %

b) Pembahasan
Pada dasarnya, percobaan skrinning hipokratik ini dilakukan untuk
mengetahui atau menapis aktivitas suatu obat atau bahan yang belum
diketahui sebelumnya baik yang berasal dari bahan alami maupun senyawa
sintetis atau semisintetis. Hal itu disebut dengan skrining hipokratik. Obat
yang diberikan belum diketahui aktifitas maupun golongan senyawa tersebut.
Oleh karena itu, pada percobaan skrining hipokratik ini digunakan hewan uji
yaitu berupa mencit. Mencit selanjutnya disuntikan obat dengan dosis 30
mg/kg BB dan konsentrasi obat sebesar 3 mg/ml. Mencit disuntikkan secara
intraperitoneal. Kemudian setelah itu mencit tersebut diamati berdasarkan
parameter fisiologis yang terjadi pada menit ke-5, 10, 15, 30, 60, dan 120.

Respon kualitatif yang terjadi yaitu pada saat 5 menit pertama terlihat
aktivitas motorik meningkat, agresif, rasa ingin tahu meningkat, dan konvulsi.
Selanjutnya pada menit ke 10 dan 15 efek obat lebih banyak terlihat. Efek
yang teramati pada menit tersebut diantaranya ditandai dengan laju respirasi
yang semakin meningkat. Pada menit ke 30 rasa ingin tahu menurun, refleks
balik hilang, masih temperature rectum meningkat dan jatuh dari rotaroad.

Respon kuantitatif agak sulit diamati, karena salah satunya faktor yang
mempengaruhi adalah alat yang terbatas. Respon yang dapat diamati
diantaranya laju pernapasan mencit yang semakin bertambah. Pada data
pengamatan berdasarkan persentase, efek yang paling besar adalah relaksasi
otot (79,17%). Efek-efek lainnya terjadi dengan persentase bervariasi, antara
lain , analgetik (0%), penekan SSP (55,55%), relaksasi otot (79,17%),
17

parasimpatomimetik (33,33%), simpatomimetik (64,46%), vasokonstriksi
(0%), vasodilatasi (0%), parasimpatolitik (0%) dan stimulasi SSP (48,61%).

Berdasarkan parameter-parameter yang diamati pada percobaan, obat
yang disuntikan merupakan golongan simpatomimetik, relaksasi otot
(muscule relaxant). Hal ini dapat dilihat dari parameter yang paling besar bila
dikalikan dengan faktor bobot yaitu menggeliat, ekor naik/berdiri, gerak
berputar dan paralisa kaki. Efek lain yang mendukung yang menunjukkan
bahwa obat yang diberikan adalah golongan relaksan otot adalah rasa ingin
tahu menurun dan jatuh dari rotaroad.

Mencit yang diujicobakan dalam percobaan skrinning hipokratik ini tidak
mengalami peningkatan urinasi, maupun diare yang mengakibatkan berat
badannya menurun. Mencit tersebut juga tidak mengalami sekresi saliva
meningkat sehingga obat ini bukan golongan parasimpatomimetik.

Ketidak akuratan hasil yang diperoleh mungkin saja terjadi dalam
percobaan ini dikarenakan kesalahan-kesalahan yang terjadi, mungkin
disebabkan karena pengamatan dari efek terapi mencit yang subjektif, agak
susah untuk dapat menentukan apakah terjadi perubahan signifikan pada
mencit. Selain juga dikarenakan keterbatasan alat yang tersedia. Mencit
tersebut juga mungkin saja kurang memberikan efek terapi yang seharusnya
ada oleh karena sifat mencit yang agak resisten.








18

6. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu
obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal dari
bahan alami maupun senyawa sintetis atau semisintetis.
Kriteria yang digunakan sebagai parameter untuk pengamatan ini ialah
aktivitas penekan sistem saraf pusat, simpatolitik, relaksasi otot,
simpatomimetik, parasimpatomimetik, analgetik, vasodilatasi,
vasokontriksi, stimulasi system saraf pusat, dan parasimpatolitik.
Pada data pengamatan berdasarkan persentase, efek yang paling besar
adalah relaksasi otot (79,17%). Efek-efek lainnya terjadi dengan
persentase bervariasi, antara lain , analgetik (0%), penekan SSP
(55,55%), relaksasi otot (79,17%), parasimpatomimetik (33,33%),
simpatomimetik (64,46%), vasokonstriksi (0%), vasodilatasi (0%),
parasimpatolitik (0%) dan stimulasi SSP (48,61%).
Berdasarkan parameter-parameter yang diamati pada percobaan, obat
yang disuntikan merupakan golongan simpatolitik yang bekerja dengan
cara merelaksasikan otot
Mencit yang diujicobakan dalam percobaan skrinning hipokratik ini tidak
mengalami peningkatan urinasi, maupun diare yang mengakibatkan berat
badannya menurun. Mencit tersebut juga tidak mengalami sekresi saliva
meningkat sehingga obat ini bukan golongan parasimpatomimetik.
Faktor yang mempengaruhi hasil eksperimen dalam hal ini kondisi
mencit yaitu keadaan kandang, suasana kandang baru yang asing,
pengamatan hewan dalam kandang, dan keadaan ruangan tempat hidup
hewan percobaan ( cuaca ) dan juga factor-faktor lainnya seperti
kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan oleh praktikan (human
error).


19

Jawaban Pertanyaan

1. Apa beda skrining buta dan skrining spesifik?
Jawab :
Skrining buta adalah program skrining terhadap senyawa baru yang tidak
diketahui aktivitas farmakologinya. Sedangkan skrining spesifik adalah
program skrining yang dilakukan pada senyawa yang telah dapat diperkirakan
khasiatnya.

2. Apa kelebihan metode skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining
spesifik? Apa pula kelemahannya?
Jawab :
Kelebihan
o Caranya sederhana dan peralatan yang digunakan relative murah.
o Aktivitas bahan/obat yang diuji dapat diketahui dengan cepat.
Kekurangan
Dalam pengamatannya sedikit rumit karena waktu pengamatan membutuhkan
waktu yang singkat (5 menit) sedangkan parameter yang diamati banyak.
3. Apakah toksisitas bahan obat dapat diramalkan menggunakan cara skrining
ini? Jelaskan.
Jawab :
Bisa. Karena dari skrining hipokratik ini diperoleh seberapa besar aktivitas
dari berbagai kriteria yang diamati. Bila pada skrining hipokratik ini pada
dosis yang besar dapat memberikan efek yang sangat berlebihan, maka bisa
dinyatakan berefek toksik.

20

4. Jelaskan tahap-tahap penelitian yang harus dilalui untuk suatu obat baru agar
dapat digunakan secara klinis?
Jawab :
Pengembangan dan penilaian obat ini meliputi 2 tahap uji :
Uji Praklinik
Serangkaian uji praklinik yang dilakukan antara lain :
o Uji Farmakodinamika
o Uji Farmakokinetik
Untuk mengetahui ADME
Merancang dosis dan aturan pakai.
o Uji Toksikologi
Mengetahui keamanannya
o Uji Farmasetika

Uji Klinik
Uji dilakukan pada manusia. Dibagi menjadi 4 Fase :
a. Uji Klinik Fase I
Fase ini merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya
pada manusia.
b. Uji Klinik Fase II
Pada fase ini dicobakan pada pasien sakit.
c. Uji Klinik Fase III
d. Uji Klinik Fase IV
o Uji terhadap obat yang telah dipasarkan (post marketing surveilance)
o Mamantau efek samping yang belum terlihat pada uji-uji
sebelumnya
21

5. Jelaskan hubungan parameter-parameter yang diamati dengan jenis aktivitas-
aktivitas yang ditentukan.
Jawab :
Piloerection atau bulu mencit berdiriu menunjukkan adanya kompensasi
temperatur yang rendah atau aktivitas simpatomimetik.
Skin colour atau warna kulit khususnya daun telinga, bila berubah dari
merah muda menjadi merah maka menunjukkan adanya vasodilatasi akibat
pengaruh simpatolitik. Warna putih menunjukkan vasikontriksi karena
pengaruh simpatomimetik.
Heart rate yaitu detak jantung dapat dipercepat oleh aktivitas
parasimpatomimetik dan dapat diperlambat oleh depresan pernafasan dan
SSP, khususnya pada dosis tinggi.
Ukuran pupil dibandingkan antara sebelum dan sesudah diberi obat.
Pelebaran pupil menandakan bahwa hewan terpengaruh obat para
simpatolitik atau simpatomimetik.









22

DAFTAR PUSTAKA

Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange
Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text).

Tan, Hoan Tjay dan Kirana Rahardja. 2003. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia

Woodley, Michele. 1995. Pedoman Pengobatan. Yogyakarta.

http://www.scribd.com/doc/82930532/Kel-5-Laporan-Praktikum-Farkol-Skrining

http://www.scribd.com/doc/93132991/SKRINING-HIPOKRATIK-
FARMAKOLOGI

http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=36063&idc=14