Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam keseluruhan proses pendidikan, tujuan pokok penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran adalah membelajarkan perserta didik agar mampu
memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi diri
sendiri berdasarkan atas kecakapan, kecerdasan, minat, bakat dan kreativitas yang
dimiliki oleh peserta didik itu sendiri. Hal ini berarti, kecerdasan alamiah yang
dimiliki oleh peserta didik, sangat penting dalam kaitannnya dengan keberhasilan
belajar peserta didik itu sendiri.
Pendidikan sebagai proses atas nama kemampuan manusia (bakat dan
kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan dan
disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara
artistik dibuat dan dipakai oleh siapa pun untuk tujuan yang ditetapkan, yaitu
kebiasaan yang baik, (Adler, 2007). Didalam pendidikan, tentu adanya sebuah
interaksi edukatif yakni terjadinya proses kegiatan belajar mengajar antara
seorang guru dan peserta didik. Proses belajar mengajar yang terjadi di dalam
kelas tentu tak lepas dari adanya peran seorang pendidik, dimana peran pendidik
tidak dapat diganti oleh piranti elektronik semodern apapun. Hal demikian
tersebut, disebabkan bahwa dalam proses belajar mengajar di kelas, yang
diharapkan adalah bukan hanya menyampaikan bahan belajar, melainkan pendidik
tersebut memiliki peranan sebagai pembimbing, pendidik, mediator, dan
1
2

fasilitator. Selain itu, karena urgennya sistem pembelajaran dalam meningkatkan
kemajuan peserta didik di dalam suatu lembaga pendidikan. Pembelajaran adalah
seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta
didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstreme yang berperanan
terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami peserta
didik.
Dalam melaksanakan pembelajaran, agar tercapai suatu hasil yang lebih
optimal, maka ada yang perlu diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran. Salah
satu dari prinsip pembelajaran adalah menarik perhatian (gaining attention) yaitu
hal yang menimbulkan minat peserta didik dengan mengemukakan sesuatu yang
baru, aneh, kontradiksi atau kompleks.
Munif Chatib dalam bukunya Sekolahnya Manusia (2012: 80)
menjelaskan bahwa pada saat Multiple Intelligences ditarik ke dalam ranah
edukasi, paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi. Ia pun menyadari
betul, bahwa dalam penerapan Multiple Intelligences dalam dunia pendidikan,
terutama untuk pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang ada di
Indonesia akan mengalami tantangan dan hambatan besar.
Adapun kenyataan di lapangan yang terjadi pada lembaga pendidikan di
Indonesia adalah bahwa sebagian besar di Indonesia terdapat lembaga pendidikan
yang belum memakai sistem pembelajaran yang berbasis Multiple Intelligences
dengan benar, hal ini terbukti bahwa sebagian besar para pendidik di Indonesia,
masih memakai sistem pembelajaran yang hanya menuntut kepada peserta
3

didiknya untuk memiliki satu kecerdasan tunggal yakni kecerdasan intelektual
bukan kecerdasan majemuk.
Kecerdasan intelektual adalah keseluruhan kemampuan individu untuk
berfikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan
secara efektif. Sedangkan kecerdasan majemuk adalah bahwa manusia tidak
mempunyai satu inteligensi, tetapi malah memiliki banyak inteligensi (Multiple
Intelligences), yang berbeda antara satu sama lain. Multiple Intellegences menjadi
sebuah strategi pembelajaran untuk materi apapun dalam semua bidang studi. Inti
dari strategi pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya
mengajarnya agar mudah ditangkap dan dapat ditangkap oleh peserta didiknya.
Pendalaman tentang strategi pembelajaran ini akan menghasilkan kemampuan
guru membuat peserta didik tertarik dan berhasil dalam belajar dengan waktu
yang relatif cepat.
Jikalau masalah hal diatas tadi, dibiarkan secara terus-menerus, maka
lulusan sekolah sebagai generasi penerus bangsa akan sulit untuk bersaing dengan
lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak hanya sekedar
mampu mengingat dan memahami informasi, tetapi juga mampu menerapkannya
secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era globalisasi sekarang ini,
diperlukan sebuah keanekaragaman keterampilan agar peserta didik mampu
memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai, dan
menggunakan informasi, serta melahirkan sebuah gagasan yang kreatif untuk
menentukan sikap dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, diperlukan
4

kemampuan profesional pendidik dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang
lebih efektif dan efesien.
Oleh karena itu, jika ditinjau berdasarkan uraian di atas, maka penulis
berpendapat bahwa terdapat adanya suatu kesalahpahaman dari para pendidik di
Indonesia dalam mendefinisikan sebuah Multiple Intelligences dengan benar.
Dengan demikian, dalam hal ini, penulis sangat tertarik untuk mengkaji dan
menganalisis lebih dalam mengenai bagaimanakah sistem pembelajaran berbasis
multiple intelligences yang seharusnya diterapkan di Indonesia dengan benar.
Dalam penulisan tesis ini, penulis akan meneliti mengenai analisis pembelajaran
berbasis Multiple Intelligences dalam pendidikan Biologi di SMA.

1.2 Fokus Penelitian
Masalah dalam penelitian kualitatif bertumpu pada suatu fokus. Tidak ada
satu penelitian yang dapat dilakukan tanpa adanya fokus. Fokus pada dasarnya
adalah sumber pokok dari masalah penelitian. Di dalam latar belakang masalah
di atas ada beberapa masalah yang diungkapkan. Berdasarkan latar belakang di
atas fokus penelitian ini adalah, permasalahan yang hanya difokuskan pada
masalah problematika analisis pembelajaran berbasis Multiple Intellegences dalam
pendidikan biologi di salah satu SMA di kota Denpasar. Analisis pembelajaran
berbasis Multiple Intellegences disini dimaksudkan adalah menelaah mengenai
pembelajaran berbasis Multiple Intellegences apakah penerapannya sudah sesuai
dengan pengertian dari basis pembelajaran tersebut.

5

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan diatas, maka rencana
penelitian ini dapat dirumuskan ke dalam beberapa pertanyaan penelitian, yaitu
sebagai berikut.
1. Apa itu pembelajaran berbasis Multiple Intellegences?
2. Bagaimana konsep pembelajaran berbasis Multiple Intellegences dalam
pendidikan biologi di SMA?
3. Bagaimana proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences dalam
pendidikan Biologi di SMA?

1.4 Tujuan Penelitian
a. Secara umum
Secara umum tujuan dari rencana penelitian adalah untuk menemukan,
mengembangkan, dan membuktikan pengetahuan, (Sugiyono, 2008). Di dalam
penelitian ini, tujuan secara umum dilakukannya penelitian ini untuk
menemukan, mengembangkan, dan membuktikan pengetahuan tentang analisis
pembelajaran berbasis Multiple Intellegences dalam pendidikan biologi di
SMA.
b. Secara khusus
Adapun tujuan khusus iyang ingin dicapai dari rencana penelitian ini, di
antaranya:
1. Untuk mengetahui apa itu pembelajaran berbasis Multiple Intellegences.
6

2. Untuk mengetahui bagaimana konsep pembelajaran berbasis Multiple
Intellegences dalam pendidikan biologi di SMA.
3. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran berbasis Multiple
Intelligences dalam pendidikan Biologi di SMA.
1.5 Manfaat Penelitian
Berbagai temuan dan informasi yang dapat digali dalam penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi pendidik, peserta didik dan lembaga. Penelitian
analisis pembelajaran berbasis Multiple Intellegences dalam pendidikan biologi
ini diharapkan juga bermanfaat secara teoretis dan secara praktis.
a. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat menunjang teori-teori yang telah ada dalam
rangka peningkatan mutu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), khususnya biologi
melalui Analisis Pembelajaran berbasis Multiple Intellgences.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi Peserta Didik dan Pendidik
Dalam penelitian ini diharapkan bagi peserta didik dapat memberikan
pengetahuan dan menambah wawasan keilmuwan khususnya berkaitan dengan
bentuk pelaksanaan Multiple intellegences dalam pendidikan biologi.
Memberikan masukan dan konstribusi yang berarti bagi para pendidik dan
calon pendidik dalam mengembangkan pembelajaran berbasis Multiple
Intellegences bagi peserta didik.


7

2. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses
pembelajaran, menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program
peningkatan proses pembelajaran pada tahap berikutnya, serta dapat memberikan
konstribusi yang cukup signifikan bagi upaya pengembangan pembelajaran
berbasis Multiple Intellegences khususnya dalam pendidikan biologi.

















8

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Analisis
Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan
terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.
Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata analisa atau analisis dapat juga
berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan
suatu zat dalam cuplikan (Wikipedia, 2014).
Analisa atau analisis atau Analysis adalah suatu usaha untuk mengamati
secara detail sesuatu hal atau benda dengan cara menguraikan komponen-
komponen pembentuknya atau penyusunnya untuk di kaji lebih lanjut. Analisa
berasal dari kata Yunani kuno analusis yang artinya melepaskan. Analusis
terbentuk dari dua suku kata, yaitu ana yang berarti kembali, dan luein yang
berarti melepas sehingga jika di gabungkan maka artinya adalah melepas kembali
atau menguraikan. Kata anlusis ini di serap kedalam bahasa inggris menjadi
analysis yang kemudian di serap juga ke dalam bahasa Indonesia menjadi analisis.
Kata analisa atau analisis atau analysis di gunakan dalam berbagai bidang. Baik
dalam bidang ilmu bahasa, ilmu sosial maupun ilmu alam (sains), dll. Dalam ilmu
bahasa atau linguistik analisa di definisikan sebagai suatu kajian yang
dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut
secara mendalam. Dalam ilmu sosial, analisis di mengerti sebagai upaya dan
proses untuk menjelaskan sebuah permasalahan dan berbagai hal yang ada di
dalamnya. Sedangkan dalam ilmu pasti (sains) pengertian dan definisi analisa
7
9

adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menguraikan suatu bahan menjadi
senyawa-senyawa penyusunnya. Dalam ilmu kimia, analisa di gunakan untuk
menentukan komposisi suatu bahan atau zat. Contoh bidang yang paling terkenal
dengan kegiatan analisanya adalah bidang Teknologi Makanan.
Dalam kehidupan ini, segala hal bisa di analisa hanya saja cara dan metode
analisanya saja yang berbeda. Namun biasanya dalam mengkaji suatu
permasalahan di kenal suatu metode yang disebut dengan istilah Metode Ilmiah,
(Lestari, 2012).

2.2 Pembelajaran
Istilah pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah pengajaran dan
istilah belajar-mengajar. Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh
seorang pendidik untuk membelajarkan peserta didik yang belajar. Pada
pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan
kepada pendidik, karena pendidik merupakan tenaga profesional yang
dipersiapkan untuk itu. Pembelajaran di sekolah semakin berkembang dari
pengajaran yang bersifat tradisional sampai pembelajaran dengan sistem modern.
Kegiatan pembelajaran bukan lagi sekadar kegiatan mengajar (pengajaran) yang
mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekadar menyiapkan pengajaran dan
melaksanakan prosedur mengajar dalam pembelajaran tatap muka. Akan tetapi,
kegiatan pembelajaran lebih kompleks lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola
pembelajaran yang bervariasi, (Deni dan Permasih, 2011).
10

Menurut Adams dan Dickey (2008), peran pendidik sesungguhnya sangat
uas, yaitu meliputi; a) Pendidik sebagai pengajar (teacher as instructor); b)
Pendidik sebagai pembimbing (teacher as counselor); c) Pendidik sebagai
ilmuwan (teacher as scientist); d) Pendidik sebagai pribadi (teacher as person).
Bahkan dalam arti luas, dimana sekolah berubah fungsi menjadi hubungan
antara ilmu/teknologi dengan masyarakat, dan sekolah lebih aktif ikut dalam
pembangunan, maka peran pendidik menjadi lebih luas. Dalam kaitannya dengan
aktivitas belajar sebagai proses mental dan emosional peserta didik tersebut dalam
mencapai kemampuannya, maka pendidik hendaknya berperan dalam
memfasilitasi agar terjadi proses mental emosional peserta didik tersebut sehingga
dapat tercapainya kemajuandalam proses pembelajaran. Pendidik harus berperan
sebagai motor penggerak terjadinya aktivitas belajar dengan cara memotivasi
peserta didik (motivator), memfasilitasi belajar (fasilitator), mengorganisasi kelas
(organisator), mengembangkan bahan pembelajaran (developer, desainer), menilai
program-proses-hasil pembelajaran (evaluator), memonitor aktivitas siswa
(monitor), dan sebagainya.
Secara teoretis, peserta didik memiliki kemampuan, tetapi tidak dapat
mengaplikasikan dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam
kehidupan sehari-hari. Di sinilah perlunya peserta didik diarahkan untuk belajar
melalui aktivitas (Konzulin dkk, 2003). Kesulitan dalam menerapkan
pembelajaran, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam setiap pelaksanaan
pembelajaran. Identifikasi dan penggalian kecerdasan peserta didik masih sangat
11

jarang dijadikan sandaran utama mengawali setiap rancangan pembelajaran,
strategi dan pendekatan yang digunakan, serta sistem evaluasi yang diterapkan.
Kecenderungan minat, bakat, talenta dan ketrampilan dasar belum menjadi
bagian yang integral dengan pengembangan kurikulum dan pemilihan serta
pembuatan media pembelajaran yang dapat mengakomodasikan dan memfasilitasi
terbangunnya suatu pola pembinaan yang mengedepakan tumbuh dan
berkembangnya kecerdasan jamak (Vallicelli, 2009).

2.3 Pendidikan Biologi
2.3.1 Pengertian Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogy, yang
mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang
pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput disebut paedagogos.
Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educate yang berarti
mengeluarkan sesuatu sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris,
pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih
intelektual (Rusman, 2011).
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia muda
(Hartoko, 1985; Dryarkara, 2006). Melalui pendidikan banyak aspek diharapkan
akan dapat dicapai. Proses pendidikan merupakan proses aktif, yang dilakukan
oleh peserta pendidikan dengan kesadaran untuk menjadi mandiri dan
bertanggung jawab penuh terhadap dirinya dan terhadap masyarakat. Secara
gamblang Dyarkara mendefinisikan mendidikan sebagai pertolongan atau
12

pengaruh yang diberikan oleh oranga yang bertanggung jawab kepada anak suaya
anak menjadi dewasa. Dalam pendidikan terjadi hidup bersama dalam kesatuan
yang memungkinkan terjadi pemanusiaan anak. Dengan pendidikan terjadi
pelaksanaan nilai-nilai dan manusia berproses untuk akhirnya bisa membudaya
(melaksanakan) sendiri sebagai manusia purnawan (Dryarkara, 2006).
2.3.2 Pengertian Biologi

Biologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang artinya hidup dan
logos yang artinya ilmu. Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari sesuau
yang hidup beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan. Objek kajian
biologi sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup. Karenanya dikenal
berbagai cabang ilmu biologi yang mengkhususkan diri pada kajian tertentu yang
lebih spesifik, di antaranya anatomi, anastesi, zoologi, botani, bakteriologi,
parasitologi, ekologi, genetika, embriologi, entomologi, evolusi, fisiologi,
histologi, mikologi, mikrobiologi, morfologi, paleontologi, patologi, dan lain
sebagainya.
2.3.3 Substansi Pendidikan dan Biologi
Dalam mempertahankan hidupnya di alam, manusia pada awalnya sangat
bergantung pada lingkungan. Manusia mengambil semua keperluan hidupnya dari
lingkungan di sekitarnya. Apabila lingkungan setempat sudah tidak mendukung
keperluannya, manusia mulai berpindah membuka tempat baru. Selanjutnya
manusia mulai memanfaatkan lingkungannya.
Manusia mencoba bercocok tanam dan beternak untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Bahkan manusia mulai mengawetkan bahan-bahan makanan yang
13

berlebih untuk disimpan sebagai cadangan makanan dan digunakan apabila
diperlukan., atau mengadakan tukar menukar bahan makanan tersebut sehingga
manusia dapat menikmati bahan olahan dengan sesamanya. Setelah
memberdayakan lingkungan, manusia mulai mengubah lingkungan untuk
kebutuhannnya sendiri. Manusia mulai membawa taman ke dalam rumahnya, atau
bahkan membawa hutan kecil di lingkungan kediamannya. Manusia mulai
melupakan hubungannya dengan alam atau lingkungan. Manusia memandang
dirinya terpisah dari lingkungannya. Manusia lupa dengan daya dukung alam atau
lingkungan. Pendidikan biologi mestinya memberikan andil dalam perkembangan
biologi dari waktu ke waktu. Pengenalan berbagai organisme yang berguna
diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena yang dikenal manusia
banyak, pengetahuan tersebut perlu dikelompokkan sehingga berkembang
taksonomi dan sistematik. Selanjutnya manusia mempelajari biofungsi,
bioperkembangan, dan bioteknologi. Manusia memperoleh banyak manfaat dari
semua itu, tetapi pendidikan biologi perlu membekali biomanajamen dan bioetika
agar penerapan pengetahuan di lingkungannya membawa arah pemberdayaan
berkelanjutan. Seyogianya pendidikan biologi memberi siswa bekal keterampilan,
pengetahuan dan persepsi yang dilandasi kesadaran akan pentingnya etika dalam
mengolah bahan di lingkungannya. Manusia hendaknya menjadi pemelihara
keanekaragaman dan fungsi lingkungan agar manusia tetap dapat mengambil
manfaat dari keanekaragaman dan lingkungan tetap dapat mendukung kehidupan
manusia pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang. Jadi dari semua itu
14

sebenarnya pendidikan biologi atau bioedukasi yang perlu berperan agar
lingkungan dan alam tetap bersahabat dengan manusia.
Jadi pendidikan biologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
bagaimana hubungan pendidikan dengan biologi, bagaimana cara mempelajari
dan mengajarkan biologi dengan baik dan benar, baik pada instusi pendidikan
formal maupun non formal. Pendidikan untuk pengajaran Biologi perlu dan dapat
dimuati unsure pembentukan karakter melalui pengembangan sikap ilmiah
(scientific attitude). Beberapa jenis sikap ilmiah yang dapat dikembangkan
melalui pengajaran sains antara lain meliputi: curiosity (sikap ingin tahu), respect
for evidence (sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti), flexibility (sikap luwes
terhadap gagasan baru), critical reflection (sikap merenung secara kritis),
sensitivity to living things and environment (sikap peka/ peduli terhadap makhluk
hidup dan lingkungan). Cara pengajaran dapat diintegrasikan dengan penyisipan
dan penanaman nilai-nilai sains di dalamnya. Nilai-nilai yang dimaksud antara
lain adalah nilai praktis, nilai intelektual, nilai religius, nilai sosial-ekonomi, dan
nilai pendidikan.
2.3.4 Tujuan Pendidikan Biologi
Adapun tujuan pendidikan biologi itu sendiri dapat dijabarkan sebagai
berikut:
a. Menumbuhkan kebiasaan membaca literasi ilmiah dan bahasa. Rendahnya
pengetahuan dan penguasaan ilmu dipengaruhi oleh kebiasaan membaca dan
menguasai bahasa. Habits of reading dan habits of mind memberikan
15

kontribusi penting dalam pengembangan diri dan pengembangan ilmu
selanjutnya.
b. Menumbuhkan kebiasaan untuk berpikir kritis dan ilmiah. Pembelajaran
biologi bisa memotivasi generasi muda untuk berpikir kritis dan
memaksimalkan fungsi otak untuk memahami ilmu yang dipelajari.
c. Menumbuhkan sikap ilmiah dan kerja ilmiah. Dari sejumlah sikap ilmiah yang
dikemukakannya beberapa sikap sangat penting untuk pembentukan karakter
anak bangsa. Sikap yang dimaksud adalah kemelitan (curiosity), sikap untuk
senantiasa mendahulukan bukti (respect for evidence), luwes terhadap gagasan
baru (fllexibility), merenung secara kritis (critical reflection), dan yang paling
penting adalah peka/ peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan
(sensitivity to living things and environment). Sikap ilmiah tersebut
dikembangkan melalui pembelajaran sains pada pendidikan dasar dan
menengah. Di tingkat pendidikan tinggi khususnya di jurusan-jurusan life
sciences sikap ilmiah sangat potensial untuk membekali pengembangan
karakter mereka.
d. Meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain sikap ilmiah
yang telah dibahas di atas, pada setiap kurikulum sains sikap mencintai dan
menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa menjadi rujukan perumusan
tujuan atau kompetensi. Dengan kata lain selain sikap ilmiah, diharapkan
dikembangkan juga pengembangan nilai-nilai dalam pembelajaran sains, baik
berupa nilai religius, nilai praktis (manfaat), maupun nilai intelektual.
16

e. Pendidikan biologi sebagai bekal hidup. Tidak kalah pentingnya adalah
penggunaan pengetahuan dan pandangan biologi dalam mempersiapkan
generasi yang akan datang. Pengetahuan tentang gizi, perkembangan janin
dalam rahim, replikasi DNA beserta kerusakan dan perbaikannya, sintesis
protein. Rekayasa genetic dan bioteknologi yang menurut Callahan dalam
Shanon, (1985) termasuk teknologi perbaikan perlu didampingi dengan
bioetika. Biologi sering dianggap kurang mengembangkan proses berpikir.
Temuan dalam biologi masih belum banyak diterapkan dalam dunia
pendidikan. Penerapan bioetika dalam pendidikan sains sudah merupakan suatu
keharusan sebagaimana dikemukakan oleh Capra (dalam Rustaman, 2002).

2.4 Multiple I ntellegences
Kecerdasan sering didefinisikan sebagai kemampuan mental umum untuk
belajar dan menerapkan pengetahuan dalam memanipulasi lingkungan, serta
kemapuan untuk berpikir abstrak (Muhammad Yaumi, 2012). Menurut Fleetham
(2006), Pembelajaran Multiple Intelligences atau biasa disebut dengan
pembelajaran kecerdasan jamak adalah pembelajaran yang memanfaatkan
berbagai ketrampilan dan bakat yang dimiliki peserta didik untuk menyelesaikan
berbagai persoalan dalam pembelajaran.
Intelligences (kecerdasan) disini adalah kemampuan beradaptasi dengan
lingkungan baru atau perubahan dalam lingkungan, kapasitas pengetahuan dan
kemampuan untuk memperolehnya, kapasitas untuk memberikan alasan dan
berpikir abstrak, kemampuan untuk memahami hubungan, mengevaluasi dan
17

menilai, serta kapasitas untuk menghasilkan pikiran-pikiran produktif dan
original, Gardner (1993), menemukan delapan macam kecerdasan jamak yakni (1)
Kecerdasan verballingualistik, (2) logismatematis, (3) visualspasial, (4)
beriramamusik, (5) Jasmaniahkinestetik, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, (8)
Naturalistik.
Belajar secara psikologis diartikan sebagai perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang tidak semuanya dikatakan sebagai
perubahan dalam arti belajar. Karena perubahan dalam belajar memiliki ciriciri
sebagai berikut:
Terjadi secara sadar, bersifat continue dan fungsional, bersifat aktif dan
positif, bukan bersifat sementara, bertujuan dan terarah, dan mencakup seluruh
aspek tingkah laku ( Susilodalam Hamzah,2005 ).
Pada awalnya Gardner(1993), berpendapat bahwainteligensi manusia
memiliki tujuh dimensi, yang berbasis yaitu (1) Linguistik, (2) musik, (3) Logis
matematik, (4) Visual spasial, (5) Kinestetik, (6) Sosial interpersonal, (7)
Intrapersonal. Inteligensi Linguistik, yaitu kemampuan untuk membaca, menulis,
dan berkomunikasi. Inteligensi Logis Matematis yaitu berpikir logis, analitik,
sistematis, dan menghitung. Inteligensi Visual spasial yaitu kemampuan berpikir
melalui gambar, mengimajinasikan sesuatu dengan penglihatan. Inteligensi
Musikal, merupakan kemampuan untuk memainkan musik, menyanyi, serta peka
terhadap irama. Intelegensi Kinestetik yakni kemampuan untuk menggunakan
badan secara terampil, seperti atlit, penari dan aktor. Intelegensi Interpersonal
18

yakni kemampuan untuk dapat bekerja secara efektif dengan orang lain, berempati
dan pengertian serta menghayati motivasi. Sedangkan Inteligensi Intrapersonal,
yaitu kemampuan untuk menganalisis diri dan refleksi untuk menilai keberhasilan
orang lain. (Hamzah dan Masri, 2009). Dan pada tahun 1996, Gardner
menambahkan Inteligensi kedelapan yaitu Inteligensi Naturalistik, yakni
kemampuan berkaitan dengan mengenal kembali flora, fauna dan mencintai alam
yang dikembangkan melalui ilmu Biologi.
2.4.1 Jenis-jenis Multiple I ntellegences
Pembelajaran Multiple Intelligences atau biasa disebut dengan
pembelajaran kecerdasan jamak adalah pembelajaran yang memanfaatkan
berbagai ketrampilan dan bakat yang dimiliki peserta didik untuk menyelesaikan
berbagai persoalan dalam pembelajaran. Terdapat delapan macam kecerdasan
jamak yakni (1) Kecerdasan verballingualistik, (2) logismatematis, (3) visual
spasial, (4) beriramamusik, (5) Jasmaniahkinestetik, (6) interpersonal, (7)
intrapersonal, (8) Naturalistik.
a. Verbal linguistik
Kemampuan berkaitan dengan bahasa dengan menggunakan kata secara
efektif, baik lisan (bercerita, berpidato, orator atau politisi) dan tertulis (seperti
wartawan, sastrawan, editor dan penulis). Kecerdasan ini meliputi kemampuan
memanipulasi tata bahasa atau struktur, fonologi, semantik dan pragmatik.
Ciri-ciri anak dengan kecerdasan linguistic yang menonjol biasanya senang
membaca, pandai bercerita, senang menulis cerita atau puisi, senang belajar
bahasa asing, mempunyai perbendaharaan kata yang baik, pandai mengeja,
19

suka menulis surat atau e-mail, senang membicarakan ide-ide dengan teman-
temannya, memiliki kemampuan kuat dalam mengingat nama atau fakta,
menikmati permainan kata (utak-atik kata, kata-kata tersembunyi, scrabble atau
teka-teki silang, bolak-balik kata, plesetan atau pantun) dan senang membaca
tentang ide-ide yang menarik minatnya.
b. Matematis Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya ahli matematika,
fisikawan, akuntan pajak, dan ahli statistik). Melakukan penalaran (misalnya,
programmer, ilmuwan dan ahli logika). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada
pola hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi lain.
Seseorang dengan kecerdasan matematis logis yang tinggi biasanya memiliki
ketertarikan terhadap angka-angka, menikmati ilmu pengetahuan, mudah
mengerjakan matematika dalam benaknya, suka memecahkan misteri, senang
menghitung, suka membuat perkiraan, menerka jumlah (seperti menerka
jumlah uang logam dalam sebuah wadah), mudah mengingat angka-angka serta
skor-skor, menikmati permainan yang menggunakan strategi seperti catur atau
games strategi, memperhatikan antara perbuatan dan akibatnya (yang dikenal
dengan sebab-akibat), senang menghabiskan waktu dengan mengerjakan kuis
asah otak atau teka-teki logika, senang menemukan cara kerja komputer,
senang mengelola informasi kedalam tabel atau grafik dan mereka mampu
menggunakan komputer lebih dari sekedar bermain games.


20

c. Visual Spasial
Kemampuan mempersepsikan dunia spasial-visual secara akurat, misalnya
pemandu, pramuka, dan pemburu. Mentransformasikan persepsi dunia spasial-
visual dalam bentuk tertentu. Misalnya dekorator interior, arsitek, dan seniman.
Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan
hubungan antarunsur tersebut. Seorang anak yang memiliki kecerdasan dalam
spasial biasanya lebih mengingat wajah ketimbang nama, suka
menggambarkan ide-idenya atau membuat sketsa untuk membantunya
menyelesaikan masalah, berpikir dalam bentuk gambar-gambar serta mudah
melihat berbagai objek dalam benaknya, dia juga senang membangun atau
mendirikan sesuatu, senang membongkar pasang, senang membaca atau
menggambar peta, senang melihat foto-foto/gambar-gambar serta
membicarakannya, senang melihat pola-pola dunia disekelilingnya, senang
mencorat-coret, menggambar segala sesuatu dengan sangat detail dan realistis,
mengingat hal-hal yang telah dipelajarinya dalam bentuk gambar-gambar,
belajar dengan mengamati orang-orang yang sedang mengerjakan banyak hal,
senang memecahkan teka-teki visual/gambar serta ilusi optik dan suka
membangun model-model atau segala hal dalam 3 dimensi. Anak dengan
kecerdasan visual biasanya kaya dengan khayalan sehingga
cenderung kreatif dan imajinatif.
d. Kinestetik
Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan
perasaan. Misalnya sebagai aktor, pemain pantomim, atlit atau penari.
21

Keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu,
misalnya pengrajin, pematung, tukang batu, ahli mekanik. Anak yang memiliki
kecerdasan dalam memahami tubuh cenderung suka bergerak dan aktif, mudah
dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik serta suka bergerak
sambil berpikir, mereka juga senang berakting, senang meniru gerak-gerik atau
ekspresi teman-temannya, senang berolahraga atau berprestasi dalam bidang
olahraga tertentu, terampil membuat kerajinan atau membangun model-model,
luwes dalam menari, senang menggunakan gerakan-gerakan untuk
membantunya mengingat berbagai hal.
e. Musikal
Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsikan,
membedakan, mengubah dan mengekspresikan. Misalnya penikmat musik,
kritikus musik, komposer, dan penyanyi. Kecerdasan ini meliputi kepekaan
terhadap irama, pola nada, melodi, warna nada atau suara suatu lagu. Seorang
anak yang memiliki kecerdasan dalam bermusik biasanya senang menyanyi,
senang mendengarkan musik, mampu memainkan instrumen musik, mampu
membaca not balok/angka, mudah mengingat melodi atau nada, mampu
mendengar perbedaan antara instrumen yang berbeda-beda yang dimainkan
bersama-sama, suka bersenandung/bernyanyi sambil berpikir atau mengerjakan
tugas, mudah menangkap irama dalam suara-suara disekelilingnya, senang
membuat suara-suara musikal dengan tubuhnya (bersenandung, bertepuk
tangan, menjentikkan jari atau menghentakkan kaki), senang
22

mengarang/menulis lagu-lagu atau rap-nya sendiri dan mudah mengingat fakta-
fakta dengan mengarang lagu untuk fakta-fakta tersebut.
f. Interpersonal
Kemampuan mempersepsikan dan membedakan suasana hati, maksud,
motivasi, serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap
ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat. Jika seseorang memiliki kecerdasan dalam
memahami sesama biasanya ia suka mengamati sesama, mudah berteman, suka
menawarkan bantuan ketika seseorang membutuhkan, menikmati kegiatan-
kegiatan kelompok serta percakapan yang hangat dan mengasyikkan, senang
membantu sesamanya yang sedang bertikai agar berdamai, percaya diri ketika
bertemu dengan orang baru, suka mengatur kegiatan-kegiatan bagi dirinya
sendiri dan teman-temannya, mudah menerka bagaimana perasaan sesamanya
hanya dengan mengamati mereka, mengetahui bagaimana cara membuat
sesamanya bersemangat untuk bekerja sama atau bagaimana agar mereka mau
terlibat dalam hal-hal yang diminatinya, lebih suka bekerja dan belajar bersama
ketimbang sendirian, dan senang bersukarela untuk menolong sesama. Anak
yang memiliki kecerdasan interpersonal biasanya disukai teman-temannya
karena ia mampu berinteraksi dengan baik dan memiliki empati yang besar
terhadap teman-temannya.
g. Intrapersonal
Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri sendiri secara akurat
mencakup kekuatan dan keterbatasan. Kesadaran akan suasana hati, maksud,
motivasi, temperamen, keinginan, disiplin diri, memahami dan menghargai
23

diri. Seorang anak yang memiliki kecerdasan dalam memahami diri sendiri
biasanya lebih suka bekerja sendirian daripada bersama-sama, suka
menetapkan serta meraih sasaran-sasarannya sendiri, mengetahui bagaimana
perasaannya dan mengapa demikian dan seringkali ia menghabiskan waktu
hanya untuk merenungkan dalam-dalam tentang hal-hal yang penting baginya.
Anak dengan kecerdasan intrapersonal biasanya sadar betul akan bidang yang
menjadi kemahirannya dan bidang dimana dia tidak terlalu mahir. Anak seperti
ini biasanya sadar betul akan siapa dirinya dan ia sangat senang memikirkan
masa depan dan cita-citanya di suatu hari nanti.
h. Naturalis
Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies, flora dan fauna di
lingkungan sekitar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam.
Misalnya formasi awan dan gunung. Seorang yang memiliki kecerdasan dalam
memahami alam biasanya suka binatang, pandai bercocok tanam dan merawat
kebun di rumah atau di lingkungannya, peduli tentang alam serta lingkungan.
Selain itu ia juga senang berkemah atau mendaki gunung di alam bebas, senang
memperhatikan alam dimanapun dia berada, mudah beradaptasi dengan tempat
dan acara yang berbeda-beda.
2.4.2 Analisis Multiple intellegences
Yang dimaksud analisis Multiple Intellegences disini adalah menguraikan
bagian-bagian dari Multiple intellengences, menelaahnya dan menghubungkan
antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti
keseluruhan menurut metode yang konsisten untuk mecapai pengertian tentang
24

prinsip-prinsip dasarnya serta untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya di
lapangan (Muhamad Yaumi, 2012)
2.5 Kajian hasil penelitian yang Relevan
Diantara hasil penelitian yang telah ada mengenai Pembelajaran Multiple
Intellegences, terdapat beberapa Kajian hasil penelitian yang relevan. Kajian hasil
penelitian yang relevan tersebut yaitu, Penerapan Pembelajaran Berbasis
Multiple Inteligences untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Kelas
VII D di SMPN 2 Sukawati. Penelitian dengan judul ini menyimpulkan bahwa
penerapan pembelajaran berbasis Multiple Intelligencesdapat meningkatkan
aktivitas belajar matematika peserta didik lebih baik dibandingkan dengan
penerapan pembelajaran yang biasa digunakan di kelas.
Yang kedua kajian hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran
Multiple Intellegences adalah penelitian yang telah dilakukan oleh, Nur Afifah
yang yang berjudul, Pengembangan Inventori Persepsi Multiple Intelligences
Untuk Siswa SMA. tesis Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, dari
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini membahas
tentang pengembangan serta persepsi dari pembelajaran Multiple Intellegences
yang telah atau belum diterapkannya pembelajaran Multiple Intellegences di
Sekolah tersebut.

2.6 Kerangka Berpikir
Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences merupakan sebuah konsep
pembelajaran dimana jika dianalisis secara lebih mendalam dan berdasarkan
25

kajian pustaka yang relevan yang telah diperoleh menjelaskan bahwa,
pembelajaran ini dapat mengaktifkan peserta didik dan juga menggali kemampuan
atau kecerdasan alam yang dimiliki peserta didik itu sendiri serta mampu menarik
perhatian peserta didik pada saat belajar IPA maupun biologi, yang akan
berpengaruh dalam pedidikan biologi pada peserta didik. Pembelajaran Multiple
Intelligences dapat, (1) Menarik perhatian peserta didik untuk dapat menerima
materi pembelajaran yang menyenangkan, (2) Memberi inspirasi kepada pendidik
untuk mengembangkan kreativitas dalam penyajian materi pembelajaran agar
dapat dicerna dan diterima dengan baik oleh peserta didik, (3) Meningkatkan
interaksi pada semua potensi peserta didik baik pada ranah kognitif, afektif,
maupun psikomotor, (4) Kemampuan peserta didik dialam mengemukakan
pendapat, ide dan gagasan.
Dari pemaparan di atas, tampak bahwa dengan analisis pembelajaran
berbasis Multiple Intelligences, kita akan mengetahui bagaimana Pembelajaran
tersebut sangat berkaitan erat terhadap perkembangan dan kemampuan belajar
peserta didik dalam pendidikan biologi terutama di SMA.

2.7 Hipotesis Penelitian
Ha: Terdapat persepsi positif mengenai penelitian tentang analisis pembelajaran
berbasis Multiple Intellegences dalam pendidikan biologi di SMA.
H
0
: Terdapat persepsi negatif mengenai penelitian tentang analisis pembelajaran
berbasis Multiple Intellegences dalam pendidikan biologi di SMA.

26

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif (qualitatif research), yaitu penelitian yang dilakukan untuk memahami
fenomena sosial dari pandangan pelakunya. Penelitian kualitatif merupakan
penelitian yang menghasilkan penemuan yang tidak dapat dicapai dengan
menggunakan prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran),
Sugiyono (2011).
Dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Dengan tujuan untuk
memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan
mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti
dengan fenomena yang diteliti.

3.2 Situasi sosial
Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu,
melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang di pandang tahu
tentang situasi sosial tersebut. Penentuan sumber data pada orang yang di
wawancarai dilakukan secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan
tujuan tertentu. Dalam penelitian ini yang merupakan situasi sosial disini adalah
yang menjadi informan utama, yaitu para guru biologi yang mengajar kelas X dan
26
27

peserta didik kelas X sendiri, di salah satu SMA yang nantinya akan dijadikan
tempat penelitian.
3.2.1 Tempat penelitian (place)
Tempat penelitian ditentukan secara sengaja oleh peneliti, ini bertujuan
agara data yang diperoleh nantinya oleh peneliti didapat berdasarkan kejadian
yang sebenarnya. Adapun yang menjadi tempat dalam penelitian ini adalah salah
satu SMA berada di denpasar yang tepat untuk dijadikan tempat penelitian setelah
peneliti melakukan observasi awal.
3.2.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki
data mengenai variabel-variabel atau permasalahan-permasalahan yang diteliti.
Pada dasarnya subjek penelitian adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil
penelitian. alam penelitian kualitatif, jumlah sampel atau subjek yang diteliti tidak
begitu berpengaruh, yang jelas dalam penelitian kualitatif subjek yang diambil
benar-benar fokus pada permasalahan yang kita angkat dan kita mencoba untuk
mengorek keterangan darinya sedalam-dalamnya dan sedetail-detailnya. Adapun
yang menjadi subjek dalam penelitian ini yaitu, Guru, yang mengajar biologi dan
peserta didik kelas X di SMA yang akan dijadikan tempat penelitian. Syarat guru
dan peserta didik yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah ditentukan sesuai
dengan kriteria, yaitu guru dan peserta didik yang bersedia menjadi informan dan
memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian.


28

3.2.3 Objek Penelitian (activity)
Objek adalah apa yang akan diselidiki dalam kegiatan penelitian. Beberapa
persoalan sekiranya perlu kita pahami agar bisa menentukan dan menyusun obyek
penelitian dalam metode penelitian kita ini dengan baik, yaitu berkaitan dengan
apa itu obyek penelitian dalam penelitian kualitatif, apa saja obyek penelitian
dalam penelitian kualitatif, dan criteria apa saja yang layak dijadikan obyek
penelitian kita. (Sugiono, 2011)
Yang menjadi Objek dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran yang
dterapkan oleh para guru kepada peserta didik serta kemampuan dan kecerdasan
peserta didik dalam menangkap pelajaran biologi yang diajarkan oleh guru.

3.3 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian
adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus divalidasi. Validasi terhadap
peneliti, meliputi, pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan
terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian -
baik secara akademik maupun logiknya. (Sugiono, 2008).
Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus
penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data,
menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan
atas temuannya (Sugiono, 2008).
Instrumen dalam penelitian ini adalah berupa angket terbuka yang di
dalamnya terdapat pertanyaan dan pernyataan, selain itu yang menjadi instrumen
29

penelitian ini adalah berupa alat perekam seperti kamera, dan video perekam,
yang dapat membantu peneliti dalam proses pengumpulan data.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan. Teknik pengumpulan data yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik pengumpulan data berupa
wawancara (interview), teknik observasi, dan teknik dokumentasi. Teknik tersebut
akan digunakan peneliti, karena suatu fenomena itu akan dimengerti maknanya
secara baik, apabila peneliti melakukan interaksi dengan subyek penelitian dimana
fenomena tersebut berlangsung.
3.4.1 Teknik Wawancara (I nterview)
Teknik wawancara yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara mendalam, artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara
mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan, sehingga dengan
wawancara mendalam ini data-data dapat dikumpulkan semaksimal mungkin.
3.4.2 Teknik Observasi
Teknik observasi atau pengamatan yang akan digunakan dalam penelitian
ini yaitu pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. Pengamatan
memungkinkan peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat
perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Dengan teknik ini, peneliti mengamati aktivitas-aktivitas sehari-hari obyek
penelitian, karakteristik fisik situasi sosial dan perasaan pada waktu menjadi
bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, jenis observasinya tidak
30

tetap. Dalam hal ini peneliti mulai dari observasi deskriptif (descriptive
observation) secara luas, yaitu berusaha melukiskan secara umum situasi sosial
dan apa yang terjadi disana. Kemudian, setelah perekaman dan analisis data,
peneliti dapat menyempitkan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus.
Peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi
selektif (selective observation). Sekalipun demikian, peneliti masih terus
melakukan observasi deskriptif sampai akhir pengumpulan data.
Hasil observasi dalam penelitian ini dicatat dalam catatan lapangan
merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. dalam penelitian
kualitatif, peneliti mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam
pengumpulan data di lapangan. Format rekaman hasil observasi catatan lapangan
dalam penelitian ini menggunakan format rekaman hasil observasi.
3.2.3 Teknik Dokumentasi
Dalam penelitian kualitatif, teknik ini merupakan alat pengumpul data yang
utama karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional.
Teknik dokumentasi sengaja digunakan dalam penelitian ini, sebab, sumber ini
selalu tersedia dan murah terutama ditinjau dari waktu, teknik dokumentasi
merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam
merefleksikan situasi yang terjadi dimasa lampau, maupun dapat dan dianalisis
kembali tanpa mengalami perubahan. Rekaman dan dokumen merupakan sumber
informasi yang kaya, secara kontekstual relevan dan mendasar dalam konteksnya.
Teknik dokumentasi juga merupakan pernyataan legal yang dapat memenuhi
31

akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam
format rekaman dokumentasi.

3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Burhan Bungin
(2003), yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data (Data Collection)
Pengumpulan data merupakan bagian integral dari kegiatan analisis data.
Kegiatan pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan
wawancara dan studi dokumentasi.
2. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatancatatan
tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data dimulai dengan
membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, menulis
memo dan sebagainya dengan maksud menyisihkan data/informasi yang tidak
relevan.
3. Display Data
Display data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang
memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif.

32

4. Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan (Conclution Drawing and Verification)
Merupakan kegiatan akhir dari analisis data. Penarikan kesimpulan berupa
kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah disajikan. Antara
display data dan penarikan kesimpulan terdapat aktivitas analisis data yang ada.
Dalam pengertian ini analisis data kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang
dan terus-menerus. Masalah reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan sebagai
rangkaian kegiatan analisis yang terkait. Selanjutnya data yang telah dianalisis,
dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kata-kata untuk mendiskripsikan fakta
yang ada di lapangan, pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian
yang kemudian diambil intisarinya saja. Berdasarkan keterangan di atas, maka
setiap tahap dalam proses tersebut dilakukan untuk mendapatkan keabsahan data
dengan menelaah seluruh data yang ada dari berbagai sumber yang telah didapat
dari lapangan dan dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya
melalui metode wawancara yang didukung dengan studi dokumentasi..





33

DAFTAR PUSTAKA


Amri Sofan, dkk. 2011, Implementasi Pendidikan dalam Pembelajaran.
Prestasi Pustaka Raya: Jakarta

Arikunto Suharsimi. 2012, Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara: Jakarta
Muhadi. 2011, Penelitian Tindakan Kelas. Shira Media: Yogyakarta

Sugiyono. 2008, Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta: Bandung

Tim Pengembang MKDP. 2011, Kurikulum dan Pembelajaran. PT
RajaGrafindo Persada: Jakarta

Trianto. 2010, Model pembelajaran Terpadu. Bumi Aksara: Jakarta

Uno B. Hamzah dan Kuadrat Masri. 2009, Mengelola Kecerdasan
Dalam Pembelajaran. Bumi Aksara: Jakarta

Yaumi Muhammad. 2012, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. PT
Dian Rakyat: Jakarta

_____. 2012, Pembelajaran Multiple Intelligences. Diakses 12 Mei 2014
http://belajarpsikologi.com/multiple-intelligences-atau-kecerdasan-ganda/












34

INSTRUMEN EVALUASI PROPOSAL KUALITATIF

Judul Tesis : ...







Nama Pengusul : ......................... NIM : .

No. Aspek Skor Keterangan
UMUM
1. Kerapian 1 2 3 4

2. Tata bahasa 1 2 3 4

3. Tata tulis 1 2 3 4

JUDUL
4. Kejelasan judul 1 2 3 4

LATAR BELAKANG
5.
Kejelasan permasalahan
penelitian
1 2 3 4

6.
Kejelasan situasi
problematik
1 2 3 4

7.
Dukungan studi
pendahuluan
1 2 3 4

FOKUS PENELITIAN
8.
Kejelasan fokus
penelitian
1 2 3 4

RUMUSAN MASALAH
9.
Kejelasan rumusan
masalah
1 2 3 4

TUJUAN PENELITIAN
10.
Kejelasan tujuan
penelitian
1 2 3 4


MANFAAT
PENELITIAN

11.
Kejelasan manfaat
penelitian
1 2 3 4


35

No. Aspek Skor Keterangan
KAJIAN PUSTAKA
12. Kejelasan kajian teori 1 2 3 4
13. Kejelasan konsep 1 2 3 4
14. Dukungan studi relevan 1 2 3 4
15. Kejelasan model penelitian 1 2 3 4
METODE PENELITIAN
16. Kejelasan jenis penelitian
dan alasan penggunaannya
1 2 3 4
17. Kejelasan tempat dan
waktu penelitian
1 2 3 4
18. Kejelasan subjek dan
objek penelitian
1 2 3 4
19. Kejelasan
informan/responden dan
cara penentuannya
1 2 3 4
20. Kejelasan instrumen
penelitian
1 2 3 4
21. Kejelasan cara
pengambilan data
1 2 3 4
22. Kejelasan cara analisis
data
1 2 3 4