Anda di halaman 1dari 17

1

IKTERUS NEONATORUM FISIOLOGIS


Silvia Witarsih
102012520
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
Telp. (021) 56966593-4 Fax. (021) 5631731
Email : silviiy@yahoo.com





SKENARIO 9
Seorang bayi usia 5hari dibawa kedokter untuk kontrol rutin.ibu mengatakan bahwa bayinya
mulai tampak kuning pada usia 2hari. Bayi dilahirkan secara normal per vaginam pada usia
kehamilan 39 minggu. Bayi masih aktif, menangis kuat, dan menyusu dengan baik. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan (+) sclera ikterik, (+)jaundice pada wajah dan badannya. TTV
dalam batas normal.







2



Mind Maping

















HIPOTESIS
Bayi 5 hari, diduga menderita ikterus neonatorum fisiologis.









Anamnesis
Pemeriksaanfisik
Prognosis
Pemeriksaan
penunjang
Komplikasi
Penatalaksanaan
Patogenesiss
Etiologi
WD DD
Ikterus
neonatorum
patologis
Ikterus
Neonatorum
Fisiolgis

Bayi 5 hari, wajah dan tubuh
kuning sejak 2 hari disertai
dengan sklera ikteri
3

A. Pendahuluan
Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut dengan ikterus neonatorum merupakan
warna kuning pada kulit dan bagian putih dari mata (sklera) pada beberapa hari setelah lahir
yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Gejala ini dapat terjadi antara 25%-50% pada
seluruh bayi cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi prematur. Walaupun kuning pada bayi
baru lahir merupakan keadaan yang relatif tidak berbahaya, tetapi pada usia inilah kadar bilirubin
yang tinggi dapat menjadi toksik dan berbahaya terhadap sistim saraf pusat bayi.
1
Angka kejadian Ikterus pada bayi sangat bervariasi di RSCM persentase ikterus
neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar 32,1% dan pada bayi kurang bulan sebesar 42,9%,
sedangkan di Amerika Serikat sekitar 60% bayi menderita ikterus baru lahir menderita ikterus,
lebih dari 50%. Bayi-bayi yang mengalami ikterus itu mencapai kadar bilirubin yang melebihi 10
mg. Ikterus terjadi apabila terdapat bililirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus, ikterus
akan ditemukan dalam minggu pertama dalam kehidupannya. Dikemukakan bahwa kejadian
ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada bayi 80% bayi kurang bulan. Ikterus dapat
bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan
kematian. Sedangkan ikterus fisiologi yang normal terjadi pada neonatus. Dalam keadaan
tersebut penatalaksanaan ikterus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat
dihindarkan. Ikterus yang ditemukan pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala
fisiologis (terdapat pada 25-50% nonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonates kurang
bulan) atau dapat merupakan hal yang patologis misalnya pada inkompatibilitas Rhesus dan
ABO, sepsis, galaktosemia, penyumbatan saluran empadu dan sebagainya.
2
Dengan demikian,
setiap bayi yang mengalami ikterus, harus dibedakan apakah ikterus yang terjadi merupakan
keadaan fisiologis atau patologis serta dimonitor apakah mempunyai kecendrungan untuk
berkembang menjadi hiperbilirubinemia berat.
3


B. Definisi
Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin
dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam, yang
menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar, sistem biliary, atau sistem hematologi.
4

Ikterus dapat terjadi baik karena peningkatan bilirubin indirek (unconjugated) dan direk
(conjugated).
2
Ikterus pada neonatus dapat bersifat fisiologis dan patologis. Ikterus fisiologis
adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis,
kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi
kernicterus dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologis ialah ikterus
yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut
hiperbilirubinemia.
2,3
C. Anamnesis
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis dapat
dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan terhadap orang
tua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut sebagai aloanamnesis.
Termasuk didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter yang merujuk, catatan rekam
medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. Oleh karena bayi dan
sebagian besar anak belum dapat memberikan keterangan, maka dalam bidang kesehatan anak
aloanamnesis menduduki tempat yang jauh lebih penting dari pada autonamnesis. Yang perlu
dilakukan pada anamnesis pada anak adlah sebagai berikut:
a. Identitas
Nama lengkap
Jenis kelamin
Tanggal lahir
Umur/ usia anak (Neonatus/ bayi, Balita/ prasekolah, Sekolah)
Nama orang tua
Umur orang tua
Alamat
pendidikan/ pekerjaan orang tua
b. Riwayat penyakit
- Keluhan utama: Keluhan/ gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat
Biasa datang dengan keluhan bayi kuning
5

- Apakah ada usaha pengobatan sebelumnya dan hasilnya (macam obat dll)
- Perkembangan penyakit gejala sisa/ cacat
- Riwayat penyakit pada anggota keluarga (anemia, pembesaran hepar dan limpa)
- Riwayat alergi
- Riwayat penyakit dahulu yang pernah diderita
c. Hal hal yang perlu ditanyakan tentang keluhan / gejala
- Sejak kapan dan lama keluhan
- Mendadak, terus-menerus, sesaat
- Keluhan lokal: lokasi, menetap, pindah-pindah, menyebar
- Faktor pencetus yang mendahului keluhan
- Bertambah berat sebelum sakit dan sesudah sakit
- Warna feses bayi (kuning,pucat/dempul)
- Warna Urin berwarna gelap (coklat tua seperti air teh)
- Keluhan penyerta: demam, mual, muntah, tidak mau menyusu, ada/ tidak
dehidrasi
- Bagaimana dengan pemberian ASI
- Riwayat Persalinan dan kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan, ibu DM,
gawat janin, malnutrisi intra uterin, infeksi intranatal)
- Riwayat ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya
- Riwayat inkompatibilitas darah

D. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik seperti biasa pada bayi juga dilakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Pada abdomen: pemeriksaan auskultasi didahulukan (supaya tidak mengganggu
pemeriksaan akibat palpasi
1. Bayi/ anak dibaringkan pada meja pemeriksaan dengan posisi kepala sebelah kiri
dokter (pemeriksa di kanan pasien)
2. Posisi pasien yang nyaman
6

3. Bila pasien tidak mau berbaring, periksa dalam gendongan/ pangkuan dulu, atau
dalam posisi duduk/ berdiri kemudian dibaringkan.
a) Inspeksi
- Inspeksi umum: dilihat anak secara umum apa ada perubahan
- Inspeksi lokal: pemeriksaan setempat. (Warna kulit, lesi kulit, bentuk permukaan
torak dan abdomen)
b) Palpasi
Apakah ada benjolan atau masa pada abdomen, memeriksa adakah pembesaran hati:
- Permukaan: licin/ benjol-benjol
- Konsistensi: lunak, keras, kenyal
- Tepi: tajam, tumpul
c) Auskultasi
Mendengarkan Bising usus, denyut jantung, pernapasan
Secara klinis ikterus dapat dideteksi dari warna kulit yaitu pemucatan kulit dengan
cara menekan kulit dengan jari, ketika bilirubin melebihi 5 mg/dL(85 mikromol/L). Ikterus
dimulai dari wajah, kemudian menyebar ke abdomen dan kemudian ke ekstremitas. Jika terdapat
pertanyaan mengenai keparahan ikterus, ukur kadar bilirubin dan plotkan pada diagram bilirubin,
sesuai dengan usia dalam jam.
4,5

Ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa hari kemudian.
Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Ikterus akan terlihat lebih jelas
dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang, terutama pada
neonatus yang kulitnya gelap.
4,5






7

Tabel 1. Derajat ikterus berdasarkan Kramer.
4

Derajat
ikterus
Daerah ikterus
Perkiraan kadar
bilirubin
I Kepala dan leher 5,0 mg%
II Sampai badan atas (di atas umbilikus) 9,0 mg%
III
Sampai badan bawah (di bawah
umbilikus) hingga tungkai atas (di atas
lutut)
11,4 mg/dl
IV Sampai lengan, tungkai bawah lutut 12,4 mg/dl
V Sampai telapak tangan dan kaki 16,0 mg/dl

E.
Pemeriksaan Penunjang
3,7
Pemeriksaan penunjang diindikaskan jika Ikterus pada usia kurang dari 24 jam. Untuk ikterus
yang muncul 24 jam sampai 2 minggu perlu dipantau kadar bilirubinnya agar mudah terdeteksi
terjadinya ikterus berkepanjangan atau tidak.
1. COOMBS DIREK
Pemeriksaan Coombs direk (antiglobulin) mendeteksi antibodi-anyibodi . Pemeriksaan
Coombs positif menunjukan adanya antibodi pada sel-sel darah merah, tetapi
pemeriksaan ini tidak mendeteksi antibodi yang ada.

Masalah-masalah klinis:Positif (+1
sampai +4) : Eritroblastosis fetalis, anemia hemolitik (autoimun atau obat-obatan), reaksi
hemolitik transfusi (darah inkompatibel), leukemia< SLE.
8

2. Bilirubin
Dalam uji laboratorium, bilirubin diperiksa sebagai bilirubin total dan bilirubin direk.
Sedangkan bilirubin indirek diperhitungkan dari selisih antara bilirubin total dan bilirubin
direk. Hati bayi yang baru lahir belum berkembang sempurna sehingga jika kadar
bilirubin yang ditemukan sangat tinggi. Kadar bilirubin (total) pada bayi baru lahir bisa
8

mencapai 12 mg/dl; kadar yang menimbulkan kepanikan adalah > 15 mg/dl. Ikterik kerap
nampak jika kadar bilirubin mencapai > 3 mg/dl. Bayi baru lahir: total : 1 12 mg/dl.
3. Golongan darah ABO, rhesus ibu dan bayi
4. Serum Albumin
5. Hitung darah lengkap
6. Pemeriksaan hitung retikulosit untuk melihat apakah bayi memproduksi sel darah merah
yang baru
7. Konsentrasi G6PD untuk melihat respon terhadap foto terapi kurang
8. Urinalisis untuk mengetahui zat pereduksi (galaktosemia)

F. Diagnosis Kerja
I kterus fisiologi
Ikterus fisiologis merupakan masalah yang sering timbul pada bayi premature maupun
bayi cukup bulan selama minggu pertama kehidupan yang frekuensinya pada bayi cukup bulan
dan kurang bulan berturut-turut adalah 50-60% dan 80%. Ikterus fisiologis tidak disebabkan oleh
factor tunggal tetapi kombinasi dari berbagai factor yang berhubungan dengan bayi baru lahir.
3
Peningkatan bilirubin merupakan hasil dari produksi bilirubin dan early bilirubin yang lebih
besar serta penurunan usia sel darah merah. Resirkulasi aktif bilirubin di enterohepatik, yang
meningkatkan kadar serum bilitubin tidak terkonjugasi, disebabkan oleh penurunan bakteri flora
normal, aktifitas -glukurodinase yang tinggi dan penurunan motilitas usus halus. Pada bayi
yang diberi minum lebih awal atau diberi minum lebih sering dan bayi dengan aspirasi
mekonium atau pengeluran mekonium yang lebih awal cendrung mempunyai insiden rendah
ikterus fisiologi. Pada bayi yang diberi susu formula cendrung mengeluarkan bilirubin lebih
banyak dan pada mekoniumnya selama 3 hari pertama kehidupan dibandingan dengan yang
mendapat ASI. Pada bayi yang mendapat ASI kadar bilirubinnya lebih rendah dan defekasinnya
lebih sering. Bayi yang terlambat mengeluarkan mekonium lebih sering terjadi ikterus fisiologi.
Umumnya mencapai kadar puncaknya pada usia 2-5 hari, kemudian hilang,
3
Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah sebesar 1-3
mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl/24 jam; dengan demikian
ikterus baru terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4, dengan
kadar 5-6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara
9

lain ke 5-7 kehidupan. Ikterus akibat perubahan ini dinamakan ikterus fisiologis dan diduga
sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai pembatasan sementara pada
konjugasi dan ekskresi bilirubin oleh hati. Diagnosis ikterus fisiologik pada bayi aterm atau
preterm, dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyebab ikterus berdasarkan anamnesis dan
penemuan klinik dan laboratorium.
Ikterus Fisiologis memiliki karakteristik sebagai berikut:
8
Timbul pada hari kedua ketiga
Kadar bilirubin indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup
bulan dan 10 mg % per hari pada kurang bulan
Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari
Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %
Ikterus hilang pada 10 hari pertama
Tidak mempunyai dasar patologis
G. Gejala klinis
Ikterus fisiologis dapat ditemukan ikterik pada bayi setelah 24 jam dan mencapai
puncaknya pada hari ke 5 setelah itu menghilang. Secara klinis terlihat pemucatan warna kulit
dengan cara menekan kulit dengan jari ataupun kekuning-kuningan, Terlihat kuning pada bagian
putih bola mata si bayi, tidak ada bukti infeksi atau patologis. Pada ikterus fisiologi bayi masih
terlihat masih aktif dan mau menyusui.
Pada ikterus patologis Urin berwarna gelap (coklat tua seperti air teh), kuning timbul dan
terlihat dalam waktu kurang dari 24 jam setelah bayi lahir, Tubuh menguning berkepanjangan
lebih dari satu minggu. Fesesnya tidak kuning, melainkan pucat (putih kecoklatan seperti
dempul), memar, peteqie, bukti adanya infeksi, hepatosplenomegali, dehidrasi dan penurunan
berat badan.

H. Diagnosis Banding
I kterus patologis
Ikterus yang terjadi < 24 jam kelahiran ataupun ikterus yang berkepanjangan yang terjadi
diatas usia 3 minggu kelahiran.
Keadaan dibawah ini merupakan petunjuk untuk dilakukan tindakan lebih lanjut:
7
10

1. Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam
2. Peningkatan kadar bilirubin total serum . 0,5 mg/dL/jam
3. Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari ( muntah, malas menyusu, penurunan berat
badan, apnea, takipnea, suhu tubuh tidak stabil
4. Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau 14 hari pada bayi kurang
bulan.
Breastfeeding jaundice, dapat terjadi pada bayi yang mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif.
Terjadi akibat kekurangan ASI yang biasanya timbul pada hari kedua atau ketiga pada waktu
ASI belum banyak dan biasanya tidak memerlukan pengobatan.
1

Ikterus akibat ASI(breast milk jaundice)
Umum dijumpai. Bilirubin tak terkonjugasi. Bergantung dengan kemampuan bayi mengubah
bilirubin indirek. Pemberian ASI tetap harus dilanjutkan. Akan dieksaserbasi oleh dehidrasi
akibat kegagalan untuk memberikan ASI atau pemberian susu yang tidak adekuat. Berlanjut
hingga usia diatas 2 minggu pada 15% kasus. Pada sebagian bayi yang mendapat ASI
eksklusif, dapat terjadi ikterus yang yang berkepanjangan. Hal ini dapat terjadi karena adanya
faktor tertentu dalam ASI yang diduga meningkatkan absorbsi bilirubin di usus halus. Bila
tidak ditemukan faktor risiko lain, ibu tidak perlu khawatir, ASI tidak perlu dihentikan dan
frekuensi ditambah. Apabila keadaan umum bayi baik, aktif, minum kuat, tidak ada tata
laksana khusus meskipun ada peningkatan kadar bilirubin.
7
Sepsis
Sebagian kecil bayi yang tampak ikterik saat lahir, menderita suatu infeksi kongenital yang
dapat melewati plasenta dan mungkin dapat menyebabkan kerusakan serius pada janin.
Infeksi kongenital tersebut adalah toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, virus herpes,
dan sifilis. Ikterus akibat infeksi kongenital ini biasanya merupakan gabungan bilirubin tak
terkonjugasi dan bilirubin terkonjugasi. Bayi memperlihatkan tanda-tanda infeksi lainnya
yang abnormal. Bayi-bayi baru lahir sangatlah rentan terhadap sepsis bakterial(infeksi
sistemik dengan kultur darah ataupun kultur sentral lainnya yang positif). Sepsis onset-
dini(early-onset sepsis, EOS): <72 jam setelah kelahiran. Definisi ini berkisar dari 24 jam
sampai 6 hari, namun paling banyak terjadi dalam 72 jam setelah kelahiran. Kondisi ini
disebabkan oleh pajanan vertikal ke jumlah bakteri yang tinggi selama kelahiran dan jumlah
11

antibodi pelindung yang sedikit. Sepsis onset-lambat:>72 jam setelah kelahiran. Organisme
biasanya didapat melalui transmisi nosokomial dari orang ke orang.
7,9

Inkompatibilitas ABO dan penyakit Rhesus.
Golongan darah ibu O, golongan darah bayi A atau B. IgG antihemolisin maternal melewati
plasenta dan menyebabkan hemolisis pada bayi, pemeriksaan antibodi direk(DAT atau tes
Coombs) positif(namun hasil yang positif merupakan prediktor buruk bahwa bayi akan
mengalami ikterus-hanya 10% yang membutuhkan fototerapi), kakak kandungnya mungkin
juga terkena, kurang berat dibandingkan penyakit Rhesus, onset setelah kelahiran, hemolisis
dengan anemia dapat berkembang selama beberapa minggu pertama kehidupan dan hal ini
membutuhkan tindak lanjut untuk pemantauan anemia. Penyakit Rhesus adalah keadaan
bentuk penyakit hemolitik yang paling berat dan berawal in utero. Saat lahir, bayi mungkin
mengalami anemia, hidrops, ikterus, dan hepatosplenomegali. Biasanya teridentifikasi pada
skrining antenatal, kini keadaan ini tidak umum ditemukan akibat adanya profilaksis,
antibodi Duffy dan Kell dan golongan darah lainnya dapat timbul, namun tidak terlalu
benar.
7
Percepatan destruksi sel darah merah pada janin dan neonatus paling sering disebabkan oleh
inkompatibilitas golongan darah Rh dan ABO dengan golongan darah ibu (eritoblastosis
fetalis). Konsentrasi bilirubin serum hanya sedikit meningkat di darah tali pusat bayi yang
terkena, tetapi dapat meningkat pesat setelah pemisahan plasenta saat persalinan.
10

Hepatitis B.
Hepatitis merupakan radang pada hepar yang bisa disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D,
E,dan G. Hepatitis dapat didiagnosa terutama melalui pemeriksaan serologi. Pada bayi
baru lahir, hepaitits terutama disebabkan oleh HBV. HBV spesifik menginfeksi hati karena
reseptor spesifik untuk virus terdapat pada membrana sel hepatosit yang memudahkan
masuknya virus dan faktor transkripsi hanya ada dalam sel hati.
7

Hemolisis

Akibat defisiensi suatu enzim sel darah merah. Banyak bayi bangsa Negro dan Asia yang
realtif kekurangan glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Hal ini dapat diketahui dengan skrining.
Mereka yang terkena harus menghindari sejumlah obat yang dapat mempresipitasi terjadinya
12

hemolisis. Akhirnya, kelainan bentuk sel darah merah seperti sferositosis dapat
mengakibatkan peningkatan fragilitas osmotic dan hemolisis.
8


I. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya, sekitar 65% mengalami
ikterus. Di Indonesia, didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan.
Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional
Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003, menemukan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir
sebesar 58% untuk kadar bilirubin di atas 5 mg/dL dan 29,3% dengan kadar bilirubin di atas 12
mg/dL pada minggu pertama kehidupan. RS Dr. Sardjito melaporkan sebanyak 85% bayi cukup
bulan sehat mempunyai kadar bilirubin di atas 5 mg/dL dan 23,8% memiliki kadar bilirubin di
atas 13 mg/dL. Pemeriksaan dilakukan pada hari 0, 3 dan 5. Dengan pemeriksaan kadar bilirubin
setiap hari, didapatkan ikterus dan hiperbilirubinemia terjadi pada 82% dan 18,6% bayi cukup
bulan. Sedangkan pada bayi kurang bulan, dilaporkan ikterus dan hiperbilirubinemia ditemukan
pada 95% dan 56% bayi. Tahun 2003 terdapat sebanyak 128 kematian neonatal (8,5%) dari 1509
neonatus yang dirawat dengan 24% kematian terkait hiperbilirubinemia.
Data yang agak berbeda didapatkan dari RS Dr. Kariadi Semarang, di mana insidens
ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar 13,7%, 78% di antaranya merupakan ikterus fisiologis
dan sisanya ikterus patologis. Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13,1%.
Didapatkan juga data insidens ikterus pada bayi cukup bulan sebesar 12,0% dan bayi kurang
bulan 22,8%.
J. Etiologi
Bilirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. Bilirubin mulai
meningkat secara normal setelah 24 jam, dan puncaknya pada hari ke 3-5. Setelah itu perlahan-
lahan akan menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu.
Jenis bilirubin yang menyebabkan pewarnaan kuning pada ikterus disebut bilirubin tidak
terkonjugasi, merupakan jenis yang tidak mudah dibuang dari tubuh bayi. Hati bayi akan
mengubah bilirubin ini menjadi bilirubin terkonjugasi yang lebih mudah dibuang oleh tubuh.
13

Hati bayi baru lahir masih belum matang sehingga masih belum mampu untuk melakukan
pengubahan ini dengan baik sehingga akan terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang
ditandai sebagai pewarnaan kuning pada kulit bayi.
Adapun faktor yang berhubungan dengan ikterus fisiologi:
3

1. Peningkatan produksi bilirubin yang disebabkan peningkatan sel darah merah, penurunan
umur sel darah merah
2. Peningkatan resirkulasi melalui enterohepatik shunt yang disebabkan peningkatan
aktifitas -glukoronidase tidak adanya flora bakteri, dan pengeluraan mekonium yang
terlambat
K. Metabolisme bilirubin
1. Pembentukan bilirubin
Bilirubin adalah pigmen Kristal berwarna jingga ikterus merupakan bentuk akhir dari
pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi-reduksi. Langkah oksidasi
yang pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim
hemeoksigenase. Pada reaksi tersebut terbenyuk besi yang digunakan kembali untuk
pembentukan hemoglobin dan karbon monoksida (CO) yang diekskresikan ke dalam
paru. Biliverdin kemudian akan direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin
reduktase. Biliverdin larut dalam air dan cepat akan diubah menjadi bilirubin melalaui
reaksi bilirubin reduktase. Bayi baru lahir akan memproduksi 8-10 mg/kgBB/hari,
sedangkan orang dewasa sekitar 3-4 mg/kgBB/hari. Peningkatan bilirubin pada bayi baru
lahir disebabkan oleh peningkatan massa eritrosit (hematokrit lebih tinggi) dan
pemendekan rentang usia eritrosit 70-90 hari, dibandingkan dengan 120 hari rentang usia
eritrosit dewasa.
3,4

2. Transport
Pembentukan bilirubin yang terjadi di retikuloendotelia, selanjutnya dilepaskan ke
sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin. Bilirubin yang terikat pada albmin akan
ditransportasi ke sel hepar.
3. Konjugasi
Dalam sel hepar bilirubin kemudian dikonjugasi menjadi bilirubin diglukosonide.
Walaupun ada sebagian kecil dalam bentuk monoglukoronide. Glukoronil transferase
14

merubah bentuk monoglukoronide menjadi diglukoronide. Pertama-tama yaitu uridin di
fosfat glukoronide transferase (UDPG : T) yang mengkatalisasi pembentukan bilirubin
monoglukoronide. Sintesis dan ekskresi diglokoronode terjadi di membran kanilikulus.
Isomer bilirubin yang dapat membentuk ikatan hidrogen seperti bilirubin natural IX dapat
diekskresikan langsung kedalam empedu tanpa konjugasi. Misalnya isomer yang terjadi
sesudah terapi sinar (isomer foto).
4. Ekskresi
Sesudah konjugasi bilirubin ini menjadi bilirubin direk yang larut dalam air dan di
ekskresi dengan cepat ke sistem empedu kemudian ke usus. Dalam usus bilirubin direk
ini tidak diabsorpsi; sebagian kecil bilirubin direk dihidrolisis menjadi bilirubin indirek
dan direabsorpsi. Siklus ini disebut siklus enterohepatis. Pada neonatus karena aktivitas
enzim B glukoronidase yang meningkat, bilirubin direk banyak yang tidak dirubah
menjadi urobilin. Jumlah bilirubin yang terhidrolisa menjadi bilirubin indirek meningkat
dan tereabsorpsi sehingga siklus enterohepatis pun meningkat.

L. Patofisologi
Penyakit hemolitik bayi baru lahir merupakan penyebab umum ikterus neonatus.
Meskipun demikian, karena imaturitas metabolisme bilirubin, banyak bayi baru lahir menjadi
ikterus tanpa adanya hemolisis. Bilirubin dihasilkan pada katabolisme hemoglobin dalam sistem
retikuloendotelial. Cincin tetrapirol heme dipecah oleh heme oksigenase membentuk biliverdin
dan karbon monoksida dengan jumlah yang sama. Karena tidak ada sumber biologis lain untuk
karbon monoksida, ekskresi gas ini secara stoikiometrik identik dengan produksi bilirubin oleh
biliverdin reduktase. Satu gram hemoglobin menghasilkan 35 mg bilirubin. Sumber bilirubin
selain dari hemoglobin dalam sirkulasi mewakili 20% produksi bilirubin; sumber ini meliputi
produksi hemoglobin inefisien dan lisis sel prekursor dalam sumsum tulang. Dibandingkan
dengan dewasa, bayi baru lahir mempunyai kecepatan produksi bilirubin dua sampai tiga kali
lebih besar. Ini sebagian disebabkan oleh peningkatan massa eritrosit (hematokrit lebih tinggi)
dan pemendekan rentang usia eritrosit 70-90 hari, dibandingkan dengan 120 hari rentang usia
eritrosit dewasa.
3,4

15

M. Penatalaksanaan
Dasarnya bayi yang mengalami ikterus fisiologis, tidak berbahaya dan tidak diperlukan
pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya. Namun pada ikterus yang
patologis prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan
penyebabnya. Tujuan utama penatalaksanaan ikterus neonatal adalah untuk mengendalikan agar
kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/ensefalopati
biliaris, dengan mengusahakan agar konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung. Pada
penanganan yang terutama dapat dilakukan untuk memulihkan penyakit ikterus neonatorum
yaitu terapi sinar dan tranfusi tukar.
9,10
Penanganan saat dirumah berikan ASI yang cukup (8-12 kali sehari)
,
Sinar matahari
dapat membantu memecah bilirubin sehingga

lebih mudah diproses oleh hati. Tempatkan bayi
dekat dengan jendela terbuka untuk mendapat matahari pagi

antara jam 7-8 pagi agar bayi tidak
kepanasan, atur posisi

kepala agar wajah tidak menghadap matahari langsung.

Lakukan
penyinaran selama 30 menit, 15 menit terlentang dan 15 menit tengkurap. Usahakan kontak sinar
dengan kulit

seluas mungkin, oleh karena itu bayi tidak memakai pakaian (telanjang) tetapi hati-
hati jangan sampai kedinginan.
1
N. Pencegahan
Primer
3

a) Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya paling sedikit sekitar 8-12 kali perhari
untuk beberapa hari pertama
b) Tidak memberikan cairan tambahan rutin seperti air atau formula pengganti pada
bayi yang mendapat ASI dan sedang tidak mengalami dehidrasi.
Skunder
3

a) Saat hami periksa golongan darah ABO dan rhesus serta penyaringan serum
antibodi isoimun yang tidak biasa, bila golongan darah ibu tidak deketahui atau
Rh(-) dilakukan pemeriksaan Antibodi direk (Tes combs), golongan darah dan
tipe darah tali pusat bayi
b) Secara rutin memonitor terhadap timbulnya ikterus dan menetapkan penilaian
terhadap ikterus yang dinilai saat memeriksa tanda-tanda vital
16

c) Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada masa
kehamilan dan kelahiran, misalnya sulfafurazole, novobiosin, oksitosin dan lain-
lain.


O. Prognosis
Prognosis pada bayi yang mengalami ikterus fisiologi adalah baik.


P. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dan kaitannya dengan skenario, Pada bayi yang tampak kuning
dalam rentang waktu 24 jam 5 hari setelah lahir dapat disimpulkan mengalami ikterus fisiologi.
Ini hal normal yang terjadi pada neonatus dan tidak diperlukan pengobatan khusus.










17

Daftar Pustaka
1 Tjipta GD. Kuning pada bayi baru lahir. Medan: Divisi Perinatologi Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FK USU; 2012.
2 Staf Ilmu Penyakit Anak Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala BLU. Ikterus
neonatorum. Banda Aceh: Bagian Ilmu Penyakit Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala BLU; 2010.
3 IDAI. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2008.h. 147-59.
4 Hassan R, Alatas H, editors. Ilmu kesehatan anak. Jilid ke-2. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI; 2007.h.519-22; 1101-23.
5 Hidayat AAA. Pengantar ilmu kesehatan anak. Jakarta: Salemba Medika; 2008.h.66.
6 Suresh GK, Clark RE. Cost-effectiveness of strategies that are intended to prevent
kernicterus in newborn infants. Pediatrics. 2004.p.114;917-24.
7 Lissauer T, Fanaroff AA. At a glance neonatologi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2009.h.96-
109.
8 Hull D., Johnston D.I. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2008.h.61-4;168-70.
9 Yusna D, Hartanto h, editors. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2008.h.62.
10 Appleton, Lange. Rudolphs pediatrics. 20
th
ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2007.h.1249-52.