Anda di halaman 1dari 16

1

BLOK MEDICAL EMERGENCY


LAPORAN CASE STUDY-2
PERIKORONITIS DAN OPERKULEKTOMI






Tutor / Pembimbing :
drg. Siska Yumira



Disusun Oleh :

Aristy Tresnahadi G1G010001
Rizki Surya Nugraha G1G010003
Deni Hermansyah G1G010012
Ika Mayasari G1G010018
Farikha Liqna Nailufar G1G010023
Ichma Amarviana Bekti G1G010024
Fida Thahirah G1G010025
Windha Kusumaningtyas G1G010038
Novita Dwi Saputri G1G010039
Pratidina Fitri Ramadhani G1G010048
Gelar S. Ramdhani G1G009020






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
2014

2

A. Perikoronitis
1. Gambaran Umum
Perikoronitis adalah keradangan jaringan gingiva disekitar mahkota
gigi yang erupsi sebagian. Gigi yang sering mengalami perikoronitis
adalah pada gigi molar ketiga rahang bawah. Proses inflamasi pada
perikoronitis terjadi karena terkumpulnya debris dan bakteri di poket
perikorona gigi yang sedang erupsi atau impaksi (Mansour and Cox,
2006).
Faktor-faktor resiko yang dapat menimbulkan perikoronitis adalah
mahkota gigi yang erupsi sebagian atau adanya poket di sekeliling
mahkota gigi tersebut, gigi antagonis yang supraposisi, dan kebersihan
rongga mulut yang buruk (Meurman et al, 2003). Perikoronitis
berhubungan dengan bakteri dan pertahanan tubuh. Jika pertahanan
tubuh lemah seperti saat menderita influenza atau infeksi pernafasan atas,
atau karena penggunaan obat-obat imunosupresan maka pertahanan
tubuh seorang pasien akan lemah dan mempermudah timbulnya
perikoronitis (Hupp et al, 2008).
Penyebab perikoronitis adalah terjebaknya makanan di bawah
operkulum. Selama makan, debris makanan dapat berkumpul pada
pseudopoket antara operkulum dan gigi impaksi. Poket yang tidak bisa
dibersihkan mengakibatkan bakteri berkolonisasi dan menyebabkan
perikoronitis (Hupp et al, 2008). Mikroflora pada perikoronitis
didapatkan mirip dengan mikroflora pada poket periodontal. Bakteri-
bakteri tersebut memicu inflamasi pada daerah perikorona (Leung, 1993).
Perikoronitis juga diperparah dengan adanya trauma akibat gigi
antagonis. Selain itu faktor emosi, merokok, dan infeksi saluran respirasi
juga memperparah perikoronitis (Topazian, 2002).
Gejala awal perikoronitis berupa nyeri dan pembengkakan lokal
pada operkulum yang menutupi mahkota gigi. Selain itu, adanya bau
mulut yang tidak enak akibat adanya pus, ulkus pada jaringan operkulum
yang terinfeksi akibat kontak yang terus menerus dengan gigi antagonis
dan meningkatnya suhu tubuh dapat menyertai gejala-gejala klinis dari
3

perikoronitis. Apabila perikoronitis tidak diterapi dengan adekuat
sehingga infeksi menyebar ke jaringan lunak, dapat timbul gejala klinis
yang lebih serius berupa limfadenitis pada kelenjar limfe
submandibularis, trismus, demam, lemah, dan bengkak pada sisi yang
terinfeksi (Laine et al, 2003).

2. Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang umum muncul pada kondisi perikoronitis antara
lain gingiva kemerahan dan bengkak di regio gigi yang erupsi sebagian,
serta rasa sakit saat mengunyah. Perikoronitis secara klinis dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu :
a. Perikoronitis akut
Pada perikoronitis akut terjadi pembengkakan pada gingiva
disekitar gigi, eritema, disertai eksudat dan terasa sakit bila ditekan.
Rasa sakit yang muncul dapat menyebar ke leher, telinga, dan dasar
mulut. Gejala yang timbul meliputi limfadenitis pada kelenjar limfe
submandibularis, pembengkakan wajah, eritema, edema, terasa keras
saat operkulum dipalpasi, malaise, bau mulut, dan eksudat purulen
yang keluar dari poket operkulum saat palpasi. Jika tidak segera
ditangani maka dapat timbul gejala sistemik, seperti demam dibawah
38,5
o
serta rasa ketidaknyamanan. Trismus juga dapat terjadi pada
kondisi perikoronitis akut (Shepherd dan Brickley, 1994).
b. Perikoronitis Subakut
Perikoronitis subakut ditandai dengan adanya nyeri yang terus
menerus namun tidak disertai oleh trismus atau gejala sistemik.
c. Perikoronitis Kronis
Perikoronitis kronis ditandai dengan timbulnya rasa tidak
nyaman yang terus menerus. Pada gambaran radiologi didapatkan
resorpsi tulang alveolar sehingga ruang folikel melebar, tulang
interdental diantara molar kedua dan ketiga mengalami resorpsi
sehingga terdapat poket periodontal pada distal gigi molar kedua
(Laine el al, 2003).
4

3. Etiologi
Perikoronitis merupakan infeksi bakteri pada gingiva yang paling
sering terjadi pada gigi molar ketiga rahang bawah. Pada gigi yang erupsi
sebagian, mahkota gigi ditutupi oleh jaringan lunak yang disebut dengan
operkulum. Pada saat makan, debris makanan dapat berkumpul pada
pseudopoket antara operkulum dan gigi impaksi. Poket pada operkulum
tidak dapat dibersihkan secara sempurna sehingga mengakibatkan bakteri
berkolonisasi dan sering mengalami infeksi (Keys and Bartold, 2000).
Penyebab utama dari infeksi ini adalah flora normal rongga mulut
yang terdapat dalam sulkus gingiva. Flora normal tersebut yaitu
polibakteri yang terdiri atas bakteri gram positif dan bakteri gram negatif
(Sixou et al, 2003). Bakteri gram positif seperti Gamella, Lactococcus,
Streptococcus, Staphylococcus, Actinomyces, Bacillus,
Corynenebacterium, Lactobacillus, Propionibacterium,
Peptostreptococcus, Prevotella, Bacteroides, Fusobacterium,
Leptotrichia, dan Porphyromonas. Sedangkan bakteri gram negatif antara
lain Capnocytophaga dan Pseudomonas. Mikroflora pada perikoronitis
yang ditemukan mirip dengan mikroflora pada poket periodontal.
Bakteri-bakteri tersebut yang memicu inflamasi pada daerah perikorona.
Perikoronitis juga dipicu oleh trauma akibat gigi antagonisnya yang terus
menerus berkontak (Leung, 2004).
Bakteri Streptococcus mutans dapat tumbuh subur dalam suasana
asam dan menempel pada mukosa ruang perikorona karena
kemampuannya membuat polisakarida ekstra sel yang sangat lengket dari
karbohidrat makanan. Polisakarida yang mempunyai konsistensi seperti
gelatin sehingga bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada mukosa
serta saling melekat satu sama lain. Setelah semakin bertambah, bakteri-
bakteri ini akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan suasana
asam dalam rongga mulut (Volk dan Wheeler, 1990). Bakteri
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling dominan
peranannya dalam patogenesis perikoronitis. Bakteri lain yang banyak
ditemukan pada operkulum perikoronitis adalah Actinomyces.
5

Actinomyces banyak ditemukan dalam gigi karies, poket gingiva dan
kripta tonsil sebagai saprofit. Prevotella merupakan bakteri lain yang
banyak ditemukan pada operkulum perikoronitis. Prevotella adalah
organisme anaerobik yang umumnya ditemukan pada infeksi rongga
mulut, termasuk penyakit periodontal (Eduaro and mario, 2005).

4. Patofisiologi
Perikoronitis berawal dari gigi yang erupsi sebagian, mahkota gigi
diliputi oleh jaringan lunak yang disebut dengan operkulum. Antara
operkulum dengan mahkota gigi yang erupsi sebagian terdapat spasia
yang membentuk pseudopoket. Debris makanan dapat berkumpul pada
poket antara operkulum dan gigi impaksi, sehingga tidak dapat
dibersihkan dari sisa makanan dengan sempurna akhirnya menyebabkan
infeksi oleh berbagai macam flora normal rongga mulut, terutama
mikroflora subgingiva yang membentuk koloni di celah tersebut.
Keadaan ini juga dapat diperparah karena salah satunya kebersihan
rongga mulut yang kurang, sehingga terdapat akumulasi plak, dapat
mendukung berkembangnya koloni bakteri dan juga infeksi ini dapat
bersifat lokal atau dapat meluas ke jaringan yang lebih dalam dan
melibatkan spasia jaringan lunak yang lainnya (Bataineh et al, 2003).

B. Operkulektomi
1. Gambaran Umum
Operkulum adalah flap jaringan gingiva yang padat berserat yang
mencakup sekitar 50 % dari permukaan oklusal yang menutupi sebagian
dari molar ketiga pada mandibula. Pengambilan flap ini dikenal sebagai
operkulektomi. Operkulektomi dilakukan dengan menggunakan
menggunakan pisau bedah biasa atau gunting. Operkulektomi atau
perikoronal flap adalah pembuangan operkulum secara bedah. Perawatan
perikoronitis tergantung pada derajat keparahan inflamasinya.
Komplikasi sistemik yang ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi
yang terlibat nantinya akan dicabut atau dipertahankan (Shepherd dan
6

Brickley, 1994).
Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah faktor usia dan kapan
dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi mengenai hal tersebut
karena jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir memang
waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka
operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu. Kondisi akut merupakan
kontra indikasi dilakukannya operkulektomi, namun tindakan emergensi
dapat dilakukan hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian
keadaan dievaluasi untuk dapat melakukan operkulektomi (Shepherd dan
Brickley, 1994).

Gambar 1. Operkulektomi

2. Indikasi dan Kontraindikasi
a. Indikasi
1) Erupsi sempurna ( bagian dari gigi terletak pada ketinggian yang
sama pada garis oklusal)
2) Adanya ruang yang cukup untuk ditempati coronal, adanya
ruangan yang cukup antara ramus dan sisi distal M2
3) Inklinasi yang tegak
4) Ada antagonis dengan oklusi yang baik
b. Kontraindikasi
1) Kondisi perikoronitis akut.
7

2) Gigi tumbuh unfavorable atau gigi tumbuh dengan posisi
horizontal.

3. Teknik dan Penatalaksanaan Operkulektomi
a. Alat dan Bahan :
1) Diagnostik set
2) Pinset chirurgis
3) Glass plate
4) Akuades steril dan spuit
5) Cotton roll
6) Alkohol 70%
7) Betadine antiseptic
8) Neir beiken
9) Semen spatel
10) Tampon
11) Cotton pelet
12) Periodontal probe
13) Periodontal pack (dressing)
14) Gunting
15) Scalpel
b. Penatalaksanaan
Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan
operkulum secara bedah. Perawatan perikororonitis tergantung pada
derajat keparahan inflamasinya. Komplikasi sistemik yang
ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi yang terlibat nantinya
akan dicabut atau dipertahankan. Selain itu hal yang perlu
diperhatikan dan adalah faktor usia dan kapan dimulai adanya
keluhan. Perlu adanya observasi mengenai hal tersebut karena jika
usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir memang
waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka
operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu. Kondisi akut
merupakan kontraindikasi dilakukannya operkulektomi, namun
8

tindakan emergensi dapat dilakukan hingga kondisi akut dapat
ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk dapat melakukan
operkulektomi.
Teknik Operkulektomi
Kunjungan Pertama
1. Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yang
terlibat serta komplikasi toksisitas sistemik yang ditimbulkan.
2. Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada
permukaan operkulum dengan aliran air hangat atau aquades
steril.
3. Usap dengan antiseptik.
4. Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan
menggunakan scaler dan debris di bawah operkulum
dibersihkan.
5. Irigasi dengan air hangat/aquades steril.
Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat
diberikan anastesi topikal. Pada kondisi akut juga tidak boleh
dilakukan kuretase maupun surgikal. Bila operkulum
membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna
mendapatkan drainase. Bila perlu pasang drain dan pasien
diminya datang kembali setelah 24 jam guna
melepas/mengganti drainnya.
6. Pemberian medikasmentosa. Seperti obat kumur, analgesik,
muscle relaxan (bila perlu), dan antibiotik.
7. Jika kondisi akut, maka perawatan selanjutnya diberikan di
knjungan kedua. Pasien diinstruksikan agar :
a. Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam
b. Banyak istirahat
b. Makan yang banyak dan bergizi
c. Menjaga kebersihan mulutnya
d. Kontrol kembali 5 hari kemudian
9

8. Kondisi pasien kemudian dievaluasi di kunjungan berikutnya
dan dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya bila kondisi pasien
telah membaik dan keadaan akut telah reda.
Kunjungan Kedua
1. Evaluasi hasil medikasi, apakah peradangan masih terjadi atau
tidak .
2. Irigasi dan bersihkan daerah inflamasi bila dirakan masih ada
debris
3. Asepsis area operkulektomi dan area anestesi dengan povidone
iodine. Serta, siapkan tampon dan suction
4. Anastesi daerah yang ingin dilakukan operkulektomi. Anastesi
tidak perlu mencapai sampai tulang, hanya sampai periosteal.
5. Lakukan operkulektomi (eksisi periodontal flap) dengan
memotong bagian distal M3. Jaringan di bagian distal M3
(retromolar pad) perlu dipotong untuk menghindari terjadinya
kekambuhan perikoronitis. Ambil seadekuat mungkin.
Penjahitan dilakukan jika trauma terlalu besar atau bleeding
terlalu banyak.
6. Teknik operkulektomi yang lain dapat dilakukan secara partial
thickness mucogingival flap pada daerah lingual. Untuk daerah
bukal juga dibuat insisi partial thickness flap dengan
meninggalkan selapis jaringan. Partial thickness flap adalah
flap yang dibuat dengan jalan menyingkap hanya sebagian
ketebalan jaringan lunak yakni epitel dan selapis jaringan ikat,
tulang masih ditutupi jaringan ikat termasuk periosteum.
Indikasi untuk dilakukannya teknik ini adalah flap yang akan
ditempatkan ke arah apikal atau operator tidak bermaksud
membuka tulang. Setelah dilakukan flap dapat dilakukan eksisi
seluruh jaringan retromolar pad kemudian menyatukan flap
bukal dan lingual dengan melakukan penjahitan
7. Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril.
10

8. Keringkan agar periodontal pack yang akan diaplikasikan tidak
mudah lepas.
9. Aplikasikan periodontal pack.
Penggunaan periodontal pack bukan medikasi, namun
menutupi luka (dressing) agar proses penyembuhan tidak
terganggu. Dressing periodontal dulu mengandung zinc-oxide
eugenol, namun sekarang kurang disukai karena dapat
mengiritasi. Karena alasan itu, sekarang ini digunakan bahan
dressing periodontal bebas eugenol. Dalam
mengaplikasikannya harus hati-hati sehingga dapat menutupi
daerah luka dan mengisi seluruh ruang interdental karena di
situlah letak retensinya. Pada daerah apikal, periodontal pack
diaplikasikan jangan melebihi batas epitel bergerak dan epitel
tak bergerak dan mengikuti kontur. Pada daerah koronal jangan
sampai mengganggu oklusi. Dengan demikian, retensi
periodontal pack menjadi baik.
10. Instuksikan pada pasien agar datang kembali pada kunjungan
berikutnya (kalau tidak ada keluhan, satu minggu kemudian)
11. Pada kunjungan berikutnya, pack dibuka dan dievaluasi
keadaannya.

C. Analisa Kasus
1. Skenario
Seorang ibu rumah tangga umur 30 tahun datang ke RSGMP
Unsoed karena merasa nyeri pada gigi paling belakang bawah kiri sejak
seminggu yang lalu. Nyeri dirasakan berdenyut dan menjalar hingga ke
telinga kiri serta kepala. Awalnya, nyeri yang dirasa ini hilang timbul,
tetapi sejak 3 hari lalu nyeri semakin memburuk dan terus menerus. Gusi
di area belakang terasa menebal dan sering tergigit, sehingga mudah
terjadi perdarahan. Pasien mengaku tidak memiliki alergi obat dan tidak
dicurigai adanya kelainan sistemik. Pasien menggosok gigi sehari 2 kali
11

dan belum pernah ke dokter gigi sebelumnya. Pasien hanya minum obat
parameks tetapi keluhan tersebut tidak berkurang.

Gambar 2. Keadaan klinis rongga mulut pasien


Gambar 3. Gambaran radiografis

2. Pemeriksaan Subjektif
CC : Nyeri pada gigi paling belakang bawah kiri sejak seminggu yang
lalu.
PI : - Nyeri berdenyut dan menjalar ke telinga kiri dan kepala. Nyeri
hilang timbul, namun sejak tiga hari yang lalu nyeri semakin
memburuk dan terus menerus.
- Gusi area belakang menebal, sering tergigit dan mudah
berdarah.
12

- Pasien minum obat parameks akan tetapi keluhan tidak
berkurang.
PMH : Tidak terdapat alergi obat dan tidak dicurigai terdapat kelainan
sistemik.
PDH : Belum pernah ke dokter gigi sebelumnya.
FH : Tidak diketahui.
SC : Ibu rumah tangga, Pasien menggosok gigi sehari 2 kali.

3. Pemeriksaan Klinis
a. Pembengkakan gusi yang menutupi sebagian distal gigi molar 3
bawah kiri.
b. Warna kemerahan.
c. Nyeri (+)
d. Trismus ringan.

4. Pemeriksaan Penunjang (Radiografis)
a. Gigi M3 bawah kiri distoanguler.
b. Puncak alveolar mengalami penurunan.
c. Radiolusen pada distal M3 bawah kiri.

5. Diagnosa
Diagnosa : perikoronitis akut
Pada skenario, disebutkan bahwa pasien mengalami
pembengkakan gusi berwarna kemerahan yang menutupi sebagian distal
gigi 38, trismus ringan dan nyeri yang awalnya hilang timbul kemudian
menjadi berdenyut dan menjalar. Manifestasi klinis tersebut merupakan
tanda dan gejala dari diagnosis perikoronitis akut.
6. Rencana Perawatan
Penanganan perikoronitis, tidak bisa hanya dengan satu kali
kunjungan. Pada perikoronitis, pasien mengalami nyeri hebat sehingga
ketika pasien masih mengalami nyeri tidak bisa langsung dilakukan
operkulektomi. Hal ini dikarenakan pada prosedur operkulektomi diawali
13

dengan anestesi sebagai penghilang sakit sementara selama pembedahan.
Namun, ketika pasien dalam kondisi nyeri, obat anestesi tidak dapat
bekerja maksimal.
a. Kunjungan pertama
1) Melakukan irigasi/ spooling pada gigi 38. Irigasi dilakukan
sampai bersih dan debris hilang. Larutan yang dapat digunakan
sebagai cariran irigasi diantaranya povidone iodine 1%,
clorhexidine gluconate 0,2%, NaOCl atau H
2
O
2
.
2) Memberikan resep analgesik (misal: NSAID atau kombinasi
paracetamol dengan NSAID) dan muscle relaxan (misal:
diazepam). Antibiotik tidak perlu diberikan jika tidak ada
supuratif, tetapi jika dirasa perlu memberikan antibiotik dapat
diberikan antibiotik spektrum luas misalnya golongan penicylin
ataupun clyndamicin.
3) Menginstruksikan kepada pasien untuk menjaga oral hygiene dan
kumur menggunakan antiseptik atau air biasa setelah makan.
Selain itu, instuksikan pula kepada pasien untuk kontrol 5 hari
pasca medikasi atau setelah peradangan membaik untuk
dilakukan operkulektomi.

b. Kunjungan kedua
1) Mengkomunikasikan kepada pasien terkain tindakan yang akan
dilakukan dan menanyakan kesediaan pasien untuk dilakukan
operkulektomi atau tidak (informed consent)
2) Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
3) Melakukan aplikasi antiseptik menggunakan kapas yang telah
diberi povidone iodine pada area pembedahan
4) Melakukan anestesi blok atau infiltrasi pada area operasi
5) Melakukan pemotongan (eksisi) gingiva yang menutupi
permukaan gigi (operkulum). Eksisi dapat dilakukan dari bagian
bukal gigi 38 dengan posisi operator pada jam 11 atau dari lingual
gigi 38 dengan posisi jam 7-9. Selain itu, dapat pula dilakukan
14

eksisi dari bagian operkulum yang menutupi coronal gigi 38.
Eksisi dilakukan satu arah dan tidak terputus-putus.
6) Menutup luka menggunakan tampon dan menginstruksikan pasien
untuk menggigit tampon tersebut. Selain tampon dapat juga
dengan menggunakan coe pack.
7) Meresepkan analgesik (misal: NSAID atau kombinasi
paracetamol dengan NSAID) selama 3 hari dan apabila pada
kunjungan pertama juga diresepkan antibitotik, dapat dilanjutkan
pemberian antibiotik untuk hari keenam dan ketujuh. Namun
apabila pasien datang kembali untuk operkulektomi setelah
sehari/ beberapa hari obat yang diberikan pada kunjungan
pertama habis, pemberian antibiotik diulang dari awal yaitu
dimulai dari hari pertama, sehingga pasien dapat diberi resep
antibiotik untuk 3-5 hari
8) Memberikan edukasi kepada pasien untuk meminum obat sampai
habis, tidak merokok dan tidak minum air panas selama proses
penyembuhan luka, mengunyah menggunakan sisi yang tidak
dilakukan pembedahan, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan
mulut, kumur air garam setelah makan, serta menginstruksikan
pasien untuk kontrol 3 hari dan 1 minggu setelah operkulektomi.
Namun, apabila menutup luka menggunakan coe pack,
instruksikan pasien untuk datang sehari setelah operkulektomi/
pembedahan.






15

D. Kesimpulan
Perikoronitis adalah infeksi yang melibatkan jaringan lunak di sekitar
mahkota gigi yang erupsi sebagian. Perikoronitis sering terjadi pada gigi M3
RB (bagian distal). Perikoronitis terjadi akibat penumpukan bakteri, plak,
dan sisa makanan pada rongga operkulum gusi dan gigi yang erupsi sebagian.
Secara klinis perikoronitis dibagi menjadi 3 yaitu perikoronitis akut,
perikoronitis subakut, dan perikoronitis kronis.
Gejala klinis perikoronitis meliputi kemerahan pada gingiva, edema
pada regio gigi yang erupsi sebagian, terjadi peningkatan pada suhu tubuh,
rasa sakit pada waktu mengunyah makanan, serta bau mulut dikarenakan
adanya pus. Penatalaksanaan untuk perikoronitis yaitu dilakukan irigasi untuk
menghilangkan penumpukan plak serta debris pada rongga operkulum serta
pemberian terapi analgetik dan terapi antibiotik. Setelah fase akut reda, terapi
bedah operkulektomi dengan pembuangan operkulum secara bedah dapat
dilakukan.

















16

DAFTAR PUSTAKA

Bataineh QM et al. 2003. The Predisposing Factors of Pericoronitis of
Mandibular Third Molars in a Jordania Population. J Oral Maxillofacial
surgery.

Eduaro AP, Mario JAC. 2005. Prevotella Intermedia and Porphyromonas
GingivaisIsolated from Osseointegrated Dental Implants: Colonization and
Antimicrobial Susceptibility. Brazilian J Microbiol.

Hupp J, Ellis E, Tucker H. 2008. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery
5th edition. St. Louis Missouri. Mosby Elsevier.
Mansour MH, Cox SC. 2006. Patiens Presenting to the general practitioner with
pain from dental origin. Australia Med J.
Meurman JH, Rajasuo A, Murtomaa H, Savoleinen S. 1995. Respiratory tract
infections and contaminant pericoronitis of the wisdom teeth. British Med.
Keys D and Bartold M. 2000. Periodontal conditions of relevance to the
Australian Defence Force. Australian Defence Force Health.
Laine M, Venta I, Hyrkas T, Jian MA and Konttinen YT. 2003. Chronic
Inflamation around painless partially erupted third molars. Oral Surg Oral
Med Oral Pathol Oral Radiol Endod.

Leung AKC and Robson WLM. 2004. Childhood Cervical Lymphadenopathy.
Ped Health Care.
Shepherd JP, Brickley M. 1994. Surgical Removal of Third Molars. British Med J.
Sixou JL, Magaud C, Jolived-Gougeon A, Cormier M, Bonnaure-Mallet M. 2003.
Evaluation of the Mandibular Third Molar Pericoronitis Flora and Its
Susceptibility to Different Antibiotics Prescribed in France. J. Clin. Micro.

Topazian RG, Goldberg MH, and Hupp JR. 2002. Oral and Maxillofacial
Infection.4th Edition. Philadhelphia: WB Saunders Company.
Volk WA dan Wheeler MF. 1984. Basic Microbiology. 5th Edition. Harper and
Row, Publisher, Inc. Diterjemahkan oleh Adisoemarto S, 1990.
Mikrobiologi Dasar jilid 2; Erlangga; Jakarta.