Anda di halaman 1dari 46

ANALISIS STRATEGI RUMAH SAKIT SWASTA X

DALAM MENGHADAPI ASURANSI KESEHATAN NASIONAL

PROPOSAL TESIS

Disusun oleh
MUALLIM HAWARI
20111030110

PROGRAM PASCA SARJANA


MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2013

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL TESIS

ANALISIS STRATEGI RUMAH SAKIT SWASTA X


DALAM MENGHADAPI ASURANSI KESEHATAN NASIONAL

Diajukan Oleh:
MUALLIM HAWARI
20111030110

Tanggal,

Januari 2013

Dosen Pembimbing,

(dr. Arlina Dewi, M.Kes., AAAK)

ii

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini bukan merupakan hasil plagiat kata
orang lain, melainkan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diterbitkan oleh
pihak manapun. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan
apabila dikemudian hari ada yang mengklaim bahwa karya ini adalah milik orang
lain dan dibenarkan secara hukum, maka saya bersedia dituntut berdasarkan
hukum yang berlaku di Indonesia.

Yogyakarta,

Januari 2013

Yang membuat Pernyataan :

MUALLIM HAWARI
20111030110

iii

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
PERNYATAAN....................................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
DAFTAR TABEL................................................................................................vii
BAB I
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A.Latar Belakang...............................................................................................1
B.Masalah Penelitian.........................................................................................5
C.Tujuan Penelitian...........................................................................................5
D.Manfaat Penelitian.........................................................................................6
E.Keaslian Penelitian........................................................................................6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................9
A.Asuransi Kesehatan Nasional........................................................................9
1.Definisi........................................................................................................9
2.Azaz, Tujuan dan Prinsip Penyelenggaraan.............................................16
3.Mekanisme Penyelengaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional.................19
4.Landasan Konstitusi Pelaksanaan SJSN..................................................21
B.Analisis SWOT.............................................................................................22
C.Kerangka Konsep........................................................................................30

BAB III
METODE PENELITIAN....................................................................................32
A.Desain Penelitian.........................................................................................32
B.Subyek Penelitian........................................................................................32
C.Teknik Pengumpulan Data...........................................................................33
1.Wawancara...............................................................................................33
2.Focus Group Discussion (FGD)................................................................34
3.Observasi..................................................................................................35
D.Metode Analisis Data...................................................................................36
E.Lokasi Penelitian..........................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................38

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses analisis SWOT......................................................................25


Gambar 2. Kuadran Analisis SWOT Kuantitatif.............................................28
Gambar 3. Kerangka Konsep.............................................................................31

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Matrix Analisis SWOT.........................................................................24


Tabel 2. Matriks SWOT Kearns.........................................................................25
Tabel 3. Analisis SWOT Kuantitatif..................................................................28

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2011 ini adalah 237.641.326 jiwa. Dengan populasi sebesar itu Indonesia
menduduki peringkat ke empat negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia
di bawah RRC, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk miskin (penduduk
dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia
pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen), turun 1,00 juta orang
(0,84 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2010 yang
sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen).
Jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 237 juta penduduk, belum
semuanya terjangkau oleh jaminan kesehatan. Rincian cakupan pada multiple
scheme coverage 2011, menyatakan bahwa JAMKESMAS mencakup 76.400.000
jiwa (32,27%), JAMSOSTEK mencakup 5.568.160 jiwa (2,36%), ASKES PNS
dan TNI POLRI 17.205.516 jiwa (7,29%), JAMKES Oleh perusahaan 15.351.532
(6,51%), ASURANSI SWASTA dan LAIN 5.844.789 (2,48%), JAMKESDA
32.983.318 (13,98%), belum mempunyai jaminan 87.055.320 (36,88%). Dari
data diatas dapat diketahui bahwa pada tahun 2011 jumlah penduduk yang belum
mempunyai jaminan kesehatan yaitu sebesar 36,88 %. Hal ini menunjukan bahwa
telah terjadi penurunan jumlah penduduk yang belum mempunyai jaminan
kesehatan di tahun 2010 yaitu sebesar 40,93%. (KEMENKES RI, 2012)

Data data tersebut diatas menunjukkan hanya sebagian kecil masyarakat yang
memiliki jaminan kesehatan (PNS, Pensiunan, veteran, sebagain kecil pegawai
pegawai formal, TNI/POLRI sebagian kecil asuransi swasta dan pembiayaan
mikro). Sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai.
Manfaat yang diberikan atas jaminan kesehatan beragam bentuknya, belum
adanya kesamaan dan berkeadilan dikarenakan belum mampu memberikan
perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta sesuai dengan manfaat
program yang menjadi hak peserta. Perlu sinkronisasi penyelenggaraan berbagai
bentuk jaminan sosial yang dilaksanakan oleh beberapa penyelenggara agar dapat
menjangkau kepesertaan yang lebih luas serta memberikan manfaat yang lebih
besar bagi setiap peserta melalui suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Sistem pembiayaan pada periode sebelum pelaksanaan SJSN berbeda dengan
periode SJSN pada tahun 2014. Pada saat ini sistem pembayarannya adalah fee for
service akan tetapi pada pelaksanaan SJSN sistem pembayaran pun berubah
menjadi sistem jaminan sosial seperti pada negara Jerman. Pada pembayaran fee
for service atau out of pocket maka pasien akan membayar setelah jasa pelayanan
kepada Rumah Sakit, akan tetapi pada sistem yang akan datang rumah sakit akan
mendapatkan haknya dengan cara klaim atau lebih sering disebut sistem Case-mix
kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Sistem fee for service secara singkat diartikan sebagai sistem pembayaran
berdasarkan layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu membayar
kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK (dokter atau rumah sakit)
mendapatkan pendapatan berdasarkan atas pelayanan yang diberikan, semakin

banyak yang dilayani, semakin banyak pula pendapatan yang diterima.


Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih bergantung pada sistem
pembiayaan kesehatan secara Fee for Service ini. Dari laporan World Health
Organization di tahun 2006 sebagian besar (70%) masyarakat Indonesia masih
bergantung pada sistem, Fee for Service dan hanya 8,4% yang dapat mengikuti
sistem Health Insurance (WHO, 2009). Kelemahan sistem Fee for Service adalah
terbukanya peluang bagi pihak pemberi pelayanan kesehatan (PPK) untuk
memanfaatkan hubungan Agency Relationship , dimana PPK mendapat imbalan
berupa uang jasa medik untuk pelayanan yang diberikannya kepada pasien yang
besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien yang
ditangani, semakin besar pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang
ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung PPK didorong
untuk meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan
imbalan jasa yang lebih banyak (Gufron,2004).
Sistem pada fase pelaksanaan SJSN adalah sistem Asuransi Kesehatan
Nasional, agak berbeda dengan sistem NHS (National Health Services) yang
diberlakukan di Inggris. Sistem yang pendanaannya berasal dari premi peserta
yang merupakan seluruh warna negara Indonesia kecuali masyarakat miskin yang
premi ditanggung pemerintah. Dalam sistem tersebut sistem pembiayaan
menggunakan prospective payment lebih tepatnya case-mix yang mana
aplikasinya menggunakan sistem INA CBGs, yang sebelumnya menggunakan
INA DRG yang sudah habis masa berlakunya. Diharapkan dengan sistem yang

\baru maka tidak ada lagi pasien yang membayar dengan out of pocket, dan pada
akhirnya seluruh masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Pelaksanaan dari Sistem Jaminan Sosial Nasional itu sendiri dimulai 1 Januari
2014. Pelaksana dari SJSN adalah Rumah sakit itu sendiri. Dalam hal ini rumah
sakit harus mempersiapkan diri dalam menghadapi SJSN 2014. Dalam
implementasi SJSN di rumah sakit, rumah sakit harus menilai kemampuan
internal rumah sakit sendiri, dan menilai faktor eksternal rumah sakit.
Analisis kemampuan internal dan eksternal rumah sakit dapat dilakukan
dengan menggunakan metode analisis SWOT (strength, weakness, opportunity,
threats). Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal suatu
organisasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk merancang
strategi dan program kerja. Analisis internal meliputi peniaian terhadap faktor
kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness). Sementara, analisis eksternal
mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (Threaths).
Hasil dari analisis tersebut digunakan dalam menentukan srategi dalam
menghadapi SJSN 2014. Pada akhirnya akan berujung pada kesiapan Rumah
Sakit tersebut. Dalam pelaksanaan SJSN dimungkinkan akan timbul beberapa
masalah. Beberapa issue yang cukup kuat adalah pertama penggunaan obat
berdasarkan indikasi medis dan tidak ada perbedaan antar kelas, kedua
meningkatnya pengguna kelas III sesuai dengan prinsin SJSN, ketiga tidak adanya
perbedaan jasa medis antar kelas, keempat alur klaim dari rumah sakit kepada
BPJS karena sebelum diterapkannya SJSN rumah sakit masih memiliki
pemasukan dari out of pocket pasien, sedangkan dengan berlakunya SJSN maka

semua pasien menggunakan jaminan dan tidak ada out of pocket hal tersebut
berkaitan dengan biaya operasional dari setiap Rumah Sakit, kecepatan dan
besarnya klaim juga merupakan permasalahan tersendiri, kelima kendali mutu
dengan sistem diagnostic related group dan sistem out of pocket.
Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan diatas penulis memutuskan untuk
meneliti hal tersebut diatas dengan judul penelitian ANALISIS STRATEGI
RUMAH SAKIT SWASTA X MENGHADAPI ASURANSI KESEHATAN
NASIONAL 2014 .

B. Masalah Penelitian
1. Bagaimana kesiapan rumah sakit dalam menghadapi Asuransi Kesehatan
Nasional 2014?
2. Bagaimana strategi rumah sakit dalam menghadapi Asuransi Kesehatan
Nasional 2014?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
a. Untuk menganalisa kesiapan Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014
b. Untuk menganalisa strategi Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014

2. Tujuan Khusus :
a. Untuk menganalisis kekuatan Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014
b. Untuk menganalisis kelemahan Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014
c. Untuk menganalisis kesempatan Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014
d. Untuk menganalisis hambatan Rumah Sakit dalam menghadapi Asuransi
Kesehatan Nasional 2014

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat penelitian untuk peneliti
Dijadikan bahan pembelajaran dalam menambah wawasan keilmuan di
bidang jaminan sosial nasional.
2. Manfaat penelitian untuk rumah sakit
Dijadikan bahan pertimbangan untuk perencanaan strategi menghadapi
Asuransi Kesehatan Nasional 2014
3. Manfaat penelitian untuk pasca sarjana
Dijadikan bahan referensi untuk penelitian serupa

E. Keaslian Penelitian
Beberapa penelitian tentang sistem jaminan kesehatan antara lain :

1. The Introduction of the Universal Coverage of Health Care Policy in


Thailand : Policy Responses Siriwan Pitiyarangsarit, 2010. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis Policy Responses dari pelaksanaan Universal
Coverage di Thailand. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa masih
banyak pertentangan antara para birokrat di Thailand, dan permasalahan teknis
yang terjadi dalam implementasi Universal Coverage. Perbedaan dengan
penelitian yang akan dilakukan adalah level analisisnya, yaitu pada penelitian
diatas analisis dilakukan pada tingkat pemerintah, sedangkan penelitian yang
akan dilakukan adalah pada level rumah sakit sebagai pelaksana.
2. Implementasi

Kebijakan

Program

Jaminan

Kesehatan

Masyarakat

(JAMKESMAS) di Kecamatan Banyumanik Semarang Argo Baskoro


Susongko & Sri Suwitri, 2011. Penelitian tersebut menganalisa daya tanggap
dan sikap masyarakat terhadap implementasi JAMKESMAS, dengan hasil
penelitian adanya pengaruh positif dan signifikan antara daya tanggap dan
sikap masyarakat terhadap implementasi program JAMKESMAS. Perbedaan
dengan penelitian yang akan dilakukan adalah level analisis pada penelitian
tersebut adalah pada level masyarakat sebagai konsumen, pada penelitian yang
akan dilakukan adalah pada level pelaksana kebijakan yaitu rumah sakit.
3.

The Equity Impact Of Universal Coverage : Health Care Finence,


Catasthrophic Expenditure, Utilization And Goverment Subsidies In
Thailand Limwattananon S, dkk. 2011. Menilai dampak equitas dari
penerapan UC pada penyebaan /distribusi manfaat penggunaan jasa pelayanan
kesehatan. Beban ekonomi pada pelayanan kesehatan dan perlindungan dri

resiko biaya perawatan medis yang mahal. Hasilnya distribusi beban ekonomi
yang setara sebelum ataupun setelah UC, pengeluaran biaya out of pocket
lebih rendah, Subsidi publik dan pelayanan yang pro rakyat miskin.,
menurunnya pembayaran out of pocket untuk pelayanan kesehatan. Perbedaan
penelitian tersebut dengan penelitian

yang akan dilakukan adalah timing

penilaian dan yang dianalisis karena yang dianalisis adalah dampak Universal
coverage..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuransi Kesehatan Nasional


1. Definisi
Istilah Asuransi Kesehatan Nasional (AKN) atau National Health
Insurance (NHI) kini semakin banyak digunakan di dunia. Inggris merupakan
negara pertama yang memperkenalkan AKN di tahun 1911 (HIAA, 1997).
Walaupun sistem kesehatan di Inggris lebih dikenal dengan istilah National
Health Service (NHS) suatu sistem kesehatan yang didanai dan dikelola oleh
pemerintah secara nasional (tidak terdesentralisasi), namun sifat pengelolaanya
merupakan AKN yang sebagian dibiayai dari kontribusi wajib oleh tenaga kerja
(termasuk di sektor informal) dan pemberi kerja. Sistem di Inggris tersebut
disebut NHS karena penyaluran dananya melalui anggaran belanja negara yang
sebagian besar bersumber pajak umum (tax-funded). Pembayaran pajak yang tidak
memisahkan secara khusus dana untuk kesehatan seperti yang sebelumnya terjadi
menjadikan sistem di Inggris tersebut lebih dikenal dengan istilah NHS dibanding
AKN.
Cakupan kepesertaan dengan NHS adalah universal yaitu seluruh
penduduk (universal coverage) karena kepesertaan tidak dikaitkan dengan iuran
oleh masing-masing peserta. Banyak negara lain di Eropa yang juga memiliki
cakupan universal menggunakan sistem NHS yang mengikuti pola Inggris (Dixon
A and Mossialos E, 2002). Hakekatnya baik NHS maupun AKN mempunyai

10

tujuan yang sama yaitu menjamin bahwa seluruh penduduk mendapatkan


pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis tanpa mempertimbangkan
kemampuan ekonominya. Perbedaan NHS dan AKN terletak pada mekanisme
pendanaan. AKN lebih bertumpu pada kontribusi khusus yang bersifat wajib
(yang ekivalen dengan pajak) dan dikelola secara terpisah dari anggaran belanja
negara, baik dikelola langsung oleh pemerintah maupun oleh suatu badan kuasi
pemerintah yang otonom .
Walaupun AKN mempunyai kesamaan prinsip dan tujuan, namun
penyelenggaraannya di dunia sangat bervariasi. Kanada memperkenalkan AKN
yang kini disebut Medicare di tahun 1961 dengan prinsip dasar menjamin akses
universal, portabel, paket jaminan yang sama bagi semua penduduk dan
dilaksanakan otonom di tiap propinsi. Pendanaan AKN merupakan kombinasi dari
kontribusi wajib dan subsidi dari anggaran pemerintah pusat. Pada awalnya, hanya
rawat inap yang dijamin oleh AKN. Pada tahun 1972, paket jaminan diperluas
dengan rawat jalan. Kini seluruh penduduk Kanada menikmati pelayanan
kesehatan komprehensif tanpa harus memikirkan berapa besar biaya yang harus
mereka keluarkan dari kantong sendiri bahkan untuk penyakit berat sekalipun.
Beberapa jenis pelayanan rumah sakit dan obat yang tidak termasuk klasifikasi
esensial, dijamin AKN. Inilah yang menjadi pangsa pasar asuransi kesehatan
komersial ( Tuohy CH, 2002). Peran usaha asuransi kesehatan komersial terbatas
pada menjamin hal-hal yang tidak dijamin AKN atau dikenal dengan asuransi
tambahan/suplemen.

11

Sistem pembiayaan kesehatan secara garis besar dapat dibedakan menjadi


4 kelompok. Pertama, berupa sistem pelayanan kesehatan nasional (National
Health Service/NHS) seperti di Inggris dan Malaysia yang sumber pembiayaanya
bertumpu pada pajak. Kedua, sistem pembiayaan kesehatan yang diserahkan pada
mekanisme pasar dengan asuransi kesehatan profit-komersial sebagai pilar
utamanya seperti di Amerika. Ketiga, sistem asuransi kesehatan sosial seperti di
Jerman, Belanda, Perancis, Jepang, Korea dan Taiwan. Keempat, sistem
pembiayaan kesehatan sosialis yang diterapkan di negara-negara sosialis-komunis
seperti Rusia dan Cina.
Dilihat dari pembayar dan pemberi pelayanan kesehatan kaitannya dengan
pemerintah dan swasta, maka dapat berupa pembayar pemerintah dan pelaksana
pemberi pelayanan kesehatan pemerintah, pembayar pemerintah dan pemberi
pelayanan kesehatan swasta, pembayar swasta dan pemberi pelayanan kesehatan
swasta dan pembayar swasta pemberi pelayanan kesehatan pemerintah selain itu
tentu terdapat bentuk campuran antara pemerintah dan swasta (public-privatemix). Sedangkan dilihat dari sumber pembiayaan kesehatan dapat berasal dari
pajak dengan berbagai jenis dan variasinya, asuransi kesehatan baik sosial dan
komersial, pinjaman, tabungan, donatur kemanusiaan, sumbangan/bantuan dll.
Dari berbagai sudut pertimbangan baik dari aspek penentu kebijakan,
unsur penting sistem pembiayaan dan realitas lapangan maka arah reformasi
sistem pembiayaan kesehatan yang berbasis asuransi kesehatan sosial akan
merupakan pilihan yang tepat. Sistem pembiayaan seperti NHS Inggris atau
Malaysia yang bertumpu pajak akan sulit diterapkan di Indonesia. Karena

12

kenyataan di lapangan menunjukkan masih sedikitnya pembayar pajak dan


terbatasnya jumlah pemilik NPWP. Sistem anggaran yang diterapkan selama ini
cenderung seperti NHS, tetapi karena keterbatasan kemampuan pemerintah,
sistem ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di samping itu sistem yang
bertumpu pada anggaran sangat tergantung stabilitas keuangan negara juga para
pembuat kebijakan termasuk para anggota Dewan yang terhormat yang selalu
berubah sesuai masa jabatan dan orientasi politiknya terhadap kesehatan. Di sisi
lain, kebutuhan kesehatan itu sendiri tidak mau kompromi dengan situasi
keuangan negara dan masa jabatan anggota Dewan. Sistem pembiayaan kesehatan
yang bertumpu pada mekanisme pasar dengan asuransi komersialnya sebagai
pahlawan, ternyata terbukti tidak efisien, tidak merata dan kurang berkeadilan.
Amerika sebagai negara penganut sistem ini mengeluarkan biaya kesehatan per
orang tertinggi dengan outcome tingkat kesehatan masyarakatnya yang relatif
rendah. Meskipun secara manajemen mikro organisasi rumah sakit Amerika
cukup unggul, tetapi secara makro hasil proses upaya kesehatan keseluruhan di
Amerika ternyata tertinggal di antara negara-negara maju lain. Bahkan angka
kematian bayipun lebih tinggi daripada negara Kuba yang selama empat dekade
mengalami blokade ekonomi dari Amerika. Dengan sistem pembiayaan kesehatan
yang bertumpu ada mekanimse pasar, ternyata mengakibatkan lebih dari 38 juta
penduduk di Amerika tidak mendapatkan jaminan kesehatan (Baldor, 1996).
Oleh karena itu, kalaupun sistem ini dianut maka perlindungan kepada
kelompok masyarakat miskin seperti program Medicaid di Amerika harus
dibangun terlebih dahulu. Sistem pembiayaan kesehatan sosialis-komunis jelas

13

kurang sesuai dengan atmosfer masyarakat Indonesia. Di samping negara negara


yang menerapkan sistem sosialis komunis pun sudah mulai meninggalkannya
seperti yang terjadi di Eropa Timur. Dengan demikan secara konseptual sistem
pembiayaan yang berbasis asuransi kesehatan sosial merupakan pilihan yang lebih
tepat. Tentu disadari, pada dataran implementasi masih menyisakan pekerjaan
rumah yang cukup berat dan harus cepat diatasi, misalnya tentang penentuan
rancangan makro, jumlah, sifat, bentuk dan tingkatan badan penyelenggara
asuransi/jaminan kesehatan yang lebih efisien dan efektif. Termasuk juga segera
diambil keputusan tentang penentuan paket pelayanan, besaran premi,
pengumpulan, metode pembayaran, peran daerah dan lain-lain sehingga
didapatkan pemenuhan persyaratan terlaksananya sistem asuransi kesehatan sosial
dengan baik. Sebagai contoh dalam penentuan paket pelayanan, apakah dipilih
paket pelayanan mahal katastrofik seperti bedah jantung, hemodialisis, AIDS
untuk menyelamatkan jiwa sebagian kecil masyarakat ataukah paket pelayanan
lebih sederhana seperti diare, demam berdarah, malaria, tuberkulosis untuk
menyelamatkan jiwa sebagian besar masyarakat? Menjadi pertanyaan pula di sini
jiwa siapa, kalangan atas atau kalangan bawah? (Gufron, 2004)
Secara global pembiayaan kesehatan di Indonesia sebagai negara
berkembang tidak hanya bergantung pada pemerintah saja tetapi juga melibatkan
sektor swasta. Pembiayaan kesehatan di Indonesia cukup memprihatinkan,
pembiayaan sepenuhnya melalui anggaran belanja negara tidak bisa diandalkan.
Sehingga alternatif yang paling rasional dan reliable (dapat diandalkan untuk
jangka panjang dan berkelanjutan) adalah dengan mekanisme asuransi sosial.

14

Alternatif sistem pendanaan melalui mekanisme asuransi sosial sebagai salah satu
bentuk reformasi pembiayaan sektor kesehatan di Indonesia, diharapkan melalui
mekanisme ini dapat menjadi solusi bagi peningkatan mutu pelayanan maupun
keterjangkauan pelayanan bagi masyarakat (Murti, 2000)
Asuransi kesehatan sosial adalah suatu sistem manajemen risiko sosial
seperti risiko kehilangan pendapatan atau biaya kebutuhan medis karena sakit
yang risiko tersebut dipadukan (pooled) atau dipindahkan dari individu ke
kelompok dengan kepesertaannya yang bersifat wajib, dimana kontribusi diatur
oleh peraturan tanpa memperhatikan tingkat risiko individu, sedangkan kontribusi
terkait dengan pendapatan (biasanya dalam bentuk persentase pendapatan),
berorientasi not-for profit untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat, dikelola secara profesional dan surplus dikembalikan lagi ke
masyarakat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik (Norman and Weber,
1994).
Dalam asuransi kesehatan sosial seharusnya tidak diperkenankan adanya
perkecualian seseorang tidak ikut dalam program tersebut. Hal ini akan
mempengaruhi risk pooling menjadi encer, apalagi jika banyak orang yang tidak
ikut dalam program. Oleh karena kepesertaan yang bersifat wajib ini maka secara
teknis perasuransian dapat memenuhi hukum bilangan banyak (the law of large
number), meskipun tidak ada ketentuan pasti tentang berapa jumlah banyak itu.
Asuransi kesehatan sosial ini membawa konsekuensi yang kaya membantu yang
miskin, yang muda membantu yang tua, yang sehat membantu yang sakit, yang
berisiko rendah membantu berisiko tinggi. Hal ini sangat lain dengan asuransi

15

kesehatan komersial yang berorientasi profit dan tidak memungkinkan terjadinya


mekanisme gotong royong di antara berbagai elemen lapisan masyarakat (Gufron,
2004) .
Menurut Roemer (1993) Indonesian health care system had been
identified as an entrepreneurial system and it is partially financed and delivered
through public health care facilities consisting of health centers and public
hospitals. Sehingga seperti yang dijelaskan diatas masih terdapat campuran
antara profit dan non profit akan tetapi belum terjadi universal coverage.
Sehingga diharapkan dengan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional akan
terjadi universal coverage. Universal coverage didefinisikan sebagai securing
access by all citizens to appropriate promotive, preventive, curative, and
rehabilitative services at an affordable cost (Carrin G, dkk. 2008).
Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk
menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang
layak. UU No 40 2004 Kebutuhan dasar hidup yang layak yang dimaksud oleh
UU SJSN adalah kebutuhan essensial setiap orang agar dapat hidup layak demi
terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan
sosial

oleh

beberapa

badan

penyelenggaraan

jaminan

sosial.

SJSN

diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan


sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Thabrany.,dkk, 2006).
Jaminan sosial diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Sosial yaitu
suatu mekanisme pengumulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran

16

(premi) guna memberikan perlindungan atas resiko sosial ekonomi yang menimpa
peserta dan atau anggota keluarganya (Thabrany.,dkk, 2006). Asuransi kesehatan
sosial adalah suatu sistem manajemen risiko sosial seperti risiko kehilangan
pendapatan atau biaya kebutuhan medis karena sakit yang risiko tersebut
dipadukan (pooled) atau dipindahkan dari individu ke kelompok dengan
kepesertaannya yang bersifat wajib, dimana kontribusi diatur oleh peraturan tanpa
memperhatikan tingkat risiko individu, sedangkan kontribusi terkait dengan
pendapatan (biasanya dalam bentuk persentase pendapatan), berorientasi not-for
profit untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dikelola
secara profesional dan surplus dikembalikan lagi ke masyarakat untuk
memberikan pelayanan yang lebih baik (Norman and Weber, 1994)

2. Azaz, Tujuan dan Prinsip Penyelenggaraan


Sistem

Jaminan

Sosial

Nasional

diselenggarakan

berdasarkan

asas

kemanusiaan, asas manfaat dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
(Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional)
Asas kemanusian berkaitan dengan penghargaan terhadap matabat manusia.
Asas manfaat merupakan asas yang bersifat operasiaonal menggambarkan
pengelolaan yang efesien dan efektif. Asas keadilan merupakan asas yang bersifat
ideal. Ketiga asas tersebut dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan program
dan hak peserta (Thabrany.,dkk, 2006).
SJSN bertujuan untuk melaksanakan amanat pasal 28 H ayat (3) dan pasal 34
ayat (2) Amandemen UUD 1945, yang dituangkan dalam UU SJSN yang
mengatur substansi berupa cakupan kepesertaan, besarnya iuran dan manfaat,

17

mekanisme penyelenggaraan jaminan sosial, dan kelembagaan sistem jaminan


sosialyang berlaku nasional guna memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan
dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya
(Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional)
Sistem

Jaminan

Sosial

dirancang

untuk

mampu

mensisnkronkan

penyelenggaraan berbagai bentuk jamninan sosial yang dilaksanakan oleh


beberapa penyelenggara agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi
seluruh peserta. Program Jaminan Sosial diselenggarakan dengan menggunakan
mekanisme asuransi sosial, bantuan sosial, dan atau tabungan wajib yang
bertujuan untuk meneyediakan jaminan sosial bagi seluruh penduduk, guna
memenuhi kebutuhan dasar yang layak (Thabrany.,dkk, 2006).
Terdapat 9 Prinsisp Sistem Jaminan Sosial Nasional :
1) Prinsip Kegotong-royongan
Prinsip in diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang
mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib
bagi seluruh rakyat : peserta yang beresiko rendah membantu yang beresiko
tinggi dan peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Melalui prinsip
kegotong-royongan ini, jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
2) Prinsip Nirlaba
Pengelolaan dana tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial, akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan
jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.

18

Hasil pengembangannya dan surplus dana akan dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta.
3) Prinsip Keterbukaan
Merupakan suatu keharusan dalam jaminan soasial karena dana yang dikelola
merupana dana milik peserta oleh karenanya akses informasi yang lengkap,
benar dan jelas bagi setiap peserta harus dipermudah.
4) Prinsip Kehati-hatian
Pengeloaan dana secara cermat, teliti, aman dan tertib.
5) Prinsip Akuntabilitas
Pelaksanaan program dan pengeloalaan keuangan yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
6) Prinsip Portabilitas
Jaminan

Sosial

dimaksudakan

untuk

memberikan

jaminana

yang

berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal


dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
7) Prinsip Kepeseraan Bersifat Wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta hingga
dapat terlindungi. Meskipun kepesertaaan wajib bagi seluruh rakyat,
penerapannya tetap disesuaikan kemampuan ekonomi rakyat dan Pemerintah
serta kelayakan peyelenggara program. Tahapan pertama dari pekerja di sektor
formal, bersama dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara
sukarela sehingga dapat mencakup petani, nelayan dan mereka yang bekerja

19

secara mandiri, sehingga pada sakhirnya Sistem Jaminan Nasional dapat


mencakup seluruh rakyat.
8) Prinsip Dana Amanat
Dana yang terkumpul dari uiran peserta merupakan titipan kepada badanbadan

peyelenggara

untuk

dikelola

sebaik-baiknya

dalam

rangka

mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.


9) Prinsip Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional
Hasil berupa deviden dari pegang saham yang dikembalikan untuk
kepentingan peserta jaminan sosial
(UU No.40 Tahun 2004 Pasal 4)

3. Mekanisme Penyelengaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional


Kepesertaan dan Iuran :
1) Kepesertaan wajib bagi seluruh warga negara (rakyat) untuk menjadi peserta
Jaminan (PNS, TNI-Polri, Pejabat Negara, Pekerja Swasta, Pekerja Informal,
dan penduduk tidak mampu)
2) Manfaat yang akan diterima adalah untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup
yang layak untuk semua program (menanggulangi resiko ekonomi karena
sakit, kecelakaan kerja, menjadi tua, pensiun, atau kematian)
3) Iuran dibayar bersama oleh kontribusi pekerja, pemberi kerja, dan pemerintah.
Dana merupakan titipan peserta. Bagi orang miskin/ tidak mampu mempunyai
hak mendapatkan bantuan untuk membayar iuran/premi dan iuran/premi
asuransi yang terkumpul merupakan dana dana bersama bukan lagi milik

20

perseorangan. Jdi tidak bisa diambil kempali meskipun yang bersangkutan


belum pernah memanfaatkan (Thabrany.,dkk, 2006).
Lima Program Jaminan Sosial Nasional :
1) Jaminan Kesehatan (JK)
Suatu program Jaminan Sosial dengan tujuan memberiakan kepastian
jamianan

kesehatan

yang

menyeluruh

(komprehensif)

bagi

setiap

peserta/rakyat Indonesia agar dapat hidup sehat, produktif atau sejahtera.


Diberiakn dalam bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.
2) Jaminan Kecelakan Kerja (JKK)
Suatu program Jaminan Sosial dengan tujuan memeberiakn kepastian Jaminan
pelayanan dan santunan apabila tenega kerja mengalami kecelakaan saat
menuju, menunaikan dan selesai menunaikan tugas pekerjaan dan berbagai
penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
3) Jaminan Hari Tua (JHT)
Merupan jaminan yang diselnggarakan dengan tujuan untuk memberikan
bekal peserta ketika memesauki masa purna tugas/pensiun. Tetapi apabila
peserta mengalami cacat tetap sehingga tidak mampu bekerja atau meninggal
dunia sebelum masa pensiun maka peserta atau ahli warisnya berhak
menerima jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus.
4) Jaminan Pensiun (JP)
Merupakan program jaminan yang diselenggarakan berdasarkan sistem
asuransi dan tabungan dengan tujuan untuk menjamin kebutuhan hidup

21

minimum yang layak ketika peserta menjalani pensiun atau mengalami cacat
tetap sehingga tidak dapat bekerja yang dibayarkan secara berkala.
5) Jaminan Kematian (JKM)
Merupakan program jaminan/santunana kematian berdasarkan mekasnisme
asuransi sosial yang dibayarkan kepada ahli waris yang meninggal dunia.
Kejelasan mengenai pengelolaan dana jaminan sosial, penegakan hukum
dan masa peralihan akan dipertegas di dalam peraturan pelaksanaan UU SJSN
( UU No 40 tahun 2004).

4. Landasan Konstitusi Pelaksanaan SJSN


a. UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002, Pasal 28H ayat (1), Setiap
orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
b. UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002. Pasal 28H ayat (3), Setiap
orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya
secara utuh sebagai manusia yang bermanfaat.
c. UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002, pasal 4 ayat (1) Fakir
miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
d. UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002, pasal 34 ayat (2), Negara
mengembangkan

sistem

jaminan

sosial

bagi

seluruh

rakyat

dan

memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan


martabat kemanusiaan.

22

e. UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN adalah merupakan penyempurnaan


substansi, kelembagaan dan mekanisme penyelenggaran jaminan sosial yang
sudah berlaku sebelumnya.
f. UU No.32 tahun 2004 Pasal 22 huruf h : Dalam menyelenggarakan otonomi,
daerah mempunyai kewajiban mengembangkan sistem jaminan nasional
(Thabrany.,dkk, 2006).

B. Analisis SWOT
Menurut Kurtz (2008), Analisis SWOT adalah suatu alat perencanaan
strategik yang penting untuk membantu perencana untuk membandingkan
kekuatandan kelemahan internal organisasi dengan kesempatan dan ancaman dari
external.
Menurut Pearce and Robinson (2003), analisis SWOT perlu dilakukan karena
analisa SWOT untuk mencocokkan fit antara sumber daya internal dan situasi
eksternal perusahaan. Pencocokkan yang baik akan memaksimalkan kekuatan dan
peluang perusahaan dan meminimumkan kelemahan dan ancamannya. Asumsi
sederhana ini mempunyai implikasi yang kuat untuk design strategi yang sukses.
Menurut Fred David (1997), analisa SWOT adalah adalah metode
perencanaan strategis yang berfungsi untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman suatu perusahaan. Proses ini melibatkan penentuan tujuan
yang spesifik dari spekulasi bisnis dan mengidentifikasi faktor internal dan
eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.

23

Para analisis SWOT memberikan informasi untuk membantu dalam hal


mencocokan perusahaan sumber daya dan kemampuan untuk menganalisa
kompetitif lingkungan di mana bidang perusahaan itu bergerak. Informasi tersebut
dibuat berdasarkan perumusan strategi dan seleksi.
1) Kekuatan / Strength ( S )
Sebuah kekuatan perusahaan adalah sumber daya dan kemampuan yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan competitive advantage.
Contoh dari kekuatan tersebut meliputi: hak paten, nama merek yang kuat,
reputasi yang baik dimata para pelanggan, keuntungan biaya operasional,
akses eksklusif dalam sumber daya alam kelas tinggi, akses yang
menguntungkan di jaringan distribusi
2) Kelemahan / Weakness ( W )
Kelemahan adalah sesuatu yang menyebabkan satu perusahaan kalah bersaing
dengan perusahaan lain. Dalam beberapa kasus, kelemahan bagi satu
perusahaan mungkin merupakan suatu kekuatan bagi perusahaan lainnya.
Sebagai contoh, berikut ini dapat dianggap sebagai Weakness: kurangnya
perlindungan hak paten, nama merek yang lemah, reputasi buruk di antara
para pelanggan, struktur biaya tinggi, kurangnya akses sumber daya alam
yang baik, kurangnya akses untuk saluran distribusi utama
3) Peluang / Opportunities ( O )
Analisis lingkungan eksternal dapat membuahkan peluang baru bagi sebuah
perusahaan untuk meraih keuntungan dan pertumbuhan. Beberapa contoh
kesempatan tersebut adalah :

kebutuhan pelanggan yang tidak dipenuhi

24

dipasar, kedatangan teknologi baru, pelonggaran peraturan, penghapusan


hambatan perdagangan internasional
4) Ancaman / Threat ( T )
Perubahan dalam lingkungan eksternal juga dapat menghadirkan ancaman
bagi perusahaan. Beberapa contoh ancaman tersebut adalah: perubahan selera
konsumen dari produk-produk perusahaan, munculnya produk-produk
pengganti, peraturan baru, peningkatan hambatan perdagangan, Sebuah
perusahaan tidak selalu harus mengejar peluang yang menguntungkan karena
dengan mengembangkan competitive advantage, ada kesempatan yang lebih
baik untuk meraih kesuksesan dengan cara mengidentifikasi sebuah kekuatan
dan kesempatan mendatang. Dalam beberapa kasus, perusahaan dapat
mengatasi kelemahannya dengan cara mempersiapkan diri untuk meraih
kesempatan yang pasti.
Tabel 1. Matrix Analisis SWOT

25

Ada dua macam pendekatan dalam analisis SWOT, yaitu:


Gambar 1. Proses analisis SWOT
1) Pendekatan Kualitatif Matriks SWOT
Pendekatan kualitatif matriks SWOT sebagaimana dikembangkan oleh Kearns
menampilkan delapan kotak, yaitu dua paling atas adalah kotak faktor eksternal
(Peluang dan Tantangan) sedangkan dua kotak sebelah kiri adalah faktor internal
(Kekuatan dan Kelamahan). Empat kotak lainnya merupakan kotak isu-isu
strategis yang timbul sebagai hasil titik pertemua antara faktor-faktor internal dan
eksternal.
Tabel 2. Matriks SWOT Kearns

Keterangan:
Sel A : Comparative Advantages
Sel ini merupakan pertemuan dua elemen kekuatan dan peluang sehingga
memberikan kemungkinan bagi suatu organisasi untuk bisa berkembang
lebih cepat.
Sel B : Mobilization

26

Sel ini merupakan interaksi antara ancaman dan kekuatan. Di sini harus
dilakukan upaya mobilisasi sumber daya yang merupakan kekuatan
organisasi untuk memperlunak ancaman dari luar tersebut, bahkan
kemudian merubah ancaman itu menjadi sebuah peluang.
Sel C : Divestment/Investment
Sel ini merupakan interaksi antara kelemahan organisasi dan peluang dari
luar. Situasi seperti ini memberikan suatu pilihan pada situasi yang kabur.
Peluang yang tersedia sangat meyakinkan namun tidak dapat dimanfaatkan
karena kekuatan yang ada tidak cukup untuk menggarapnya. Pilihan
keputusan yang diambil adalah (melepas peluang yang ada untuk
dimanfaatkan organisasi lain) atau memaksakan menggarap peluang itu
(investasi).
Sel D : Damage Control
Sel ini merupaka kondisi yang paling lemahdari semua sel karena
merupakan pertemuan antara kelemahan organisasi dengan ancaman dari
luar, dan karenanya keputusan yang salah akan membawa bencana yang
besar bagi organisasi. Strategi yang harus diambil adalah Damage Control
(mengendalikan kerugian) sehingga tidak menjadi lebih parah dari yang
diperkirakan (Hisyam, 1998).
2) Pendekatan Kuantitatif Analisis SWOT
Data SWOT kualitatif di atas dapat dikembangkan secara kuantitaif melalui
perhitungan Analisis SWOT yang dikembangkan oleh Pearce dan Robinson
(2003) agar diketahui secara pasti posisi organisasi yang sesungguhnya.

27

Perhitungan yang dilakukan melalui tiga tahap, yaitu :


a. Melakukan perhitungan skor (a) dan bobot (b) point faktor setta jumlah total
perkalian skor dan bobot (c = a x b) pada setiap faktor S-W-O-T; Menghitung
skor (a) masing-masing point faktor dilakukan secara saling bebas (penilaian
terhadap sebuah point faktor tidak boleh dipengaruhi atau mempengeruhi
penilaian terhadap point faktor lainnya. Pilihan rentang besaran skor sangat
menentukan akurasi penilaian namun yang lazim digunakan adalah dari 1
sampai 10, dengan asumsi nilai 1 berarti skor yang paling rendah dan 10
berarti skor yang peling tinggi.
b. Perhitungan bobot (b) masing-masing point faktor dilaksanakan secara saling
ketergantungan. Artinya, penilaian terhadap satu point faktor adalah dengan
membandingkan tingkat kepentingannya dengan point faktor lainnya.
Sehingga formulasi perhitungannya adalah nilai yang telah didapat (rentang
nilainya sama dengan banyaknya point faktor) dibagi dengan banyaknya
jumlah point faktor).
c. Melakukan pengurangan antara jumlah total faktor S dengan W (d) dan faktor
O dengan T (e); Perolehan angka (d = x) selanjutnya menjadi nilai atau titik
pada sumbu X, sementara perolehan angka (e = y) selanjutnya menjadi nilai
atau titik pada sumbu Y;
d. Mencari posisi organisasi yang ditunjukkan oleh titik (x,y) pada kuadran \
SWOT (Pearce dan Robinson, 1998)

28

Tabel 3. Analisis SWOT Kuantitatif

Gambar 2. Kuadran Analisis SWOT Kuantitatif


Kuadran I (positif, positif)

29

Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat dan berpeluang,


Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Progresif, artinya organisasi dalam
kondisi prima dan mantap sehingga sangat dimungkinkan untuk terus melakukan
ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal.
Kuadran II (positif, negatif)
Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat namun menghadapi
tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Diversifikasi
Strategi, artinya organisasi dalam kondisi mantap namun menghadapi sejumlah
tantangan berat sehingga diperkirakan roda organisasi akan mengalami kesulitan
untuk terus berputar bila hanya bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh karenya,
organisasi disarankan untuk segera memperbanyak ragam strategi taktisnya.
Kuadran III (negatif, positif)
Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah namun sangat
berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Ubah Strategi, artinya
organisasi disarankan untuk mengubah strategi sebelumnya. Sebab, strategi yang
lama dikhawatirkan sulit untuk dapat menangkap peluang yang ada sekaligus
memperbaiki kinerja organisasi.
Kuadran IV (negatif, negatif)
Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah dan menghadapi
tantangan besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Strategi Bertahan,
artinya kondisi internal organisasi berada pada pilihan dilematis. Oleh karenanya
organisasi disarankan untuk meenggunakan strategi bertahan, mengendalikan

30

kinerja internal agar tidak semakin terperosok. Strategi ini dipertahankan sambil
terus berupaya membenahi diri (Pearce dan Robinson, 2003)

C. Kerangka Konsep
Pelaksanaan kebijakan Sistem Jaminan Sosial Nasional
atau
Asuransi Kesehatan Nasional

analisis SWOT kualitatif dan kuantitatif


FAKTOR INTERNAL

FAKTOR EKSTERNAL

Akreditasi RS

UU SJSN/BPJS

Tenaga medis, non medis,


para medis (SDM)

Rumah Sakit pesaing


Akses menuju RS

Keuangan
Clinical Governance

Kecepatan pelunasan klaim

Clinical Pathway

Posisi Kuadran Rumah Sakit

Analisis Kesiapan
Rumah Sakit

Analisis Strategi
Kebijakan Rumah Sakit

31

Gambar 3. Kerangka Konsep

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif
didefinisikan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia
(Catherine Marshal, 1995).
Poerwandari

(2009)

mengungkapkan

bahwa

penelitian

kualitatif

menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkip


wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video, dan lain sebagainya.
Definisi tersebut menunjukkan beberapa kata kunci dalam penelitian kualitatif,
yaitu: proses, pemahaman, kompleksitas, interaksi, dan manusia. Proses dalam
melakukan penelitian merupakan penekanan dalam penelitian kualitatif oleh
karena itu dalam melaksanakan penelitian, peneliti lebih berfokus pada proses dari
pada hasil akhir.
Proses yang dilakukan dalam penelitian ini memerlukan waktu dan kondisi
yang berubah-ubah maka definisi penelitian ini akan berdampak pada desain
penelitian dan cara-cara dalam melaksanakannnya yang juga berubah-ubah atau
bersifat fleksibel.

B. Subyek Penelitian
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling. Subyek dari penelitian ini adalah jajaran direksi atau pengurus /
32

33

struktural rumah sakit terkait yang secara langsung terlibat didalam persiapan
menghadapi Sistem Jaminan Sosial Nasional 2014,

C. Teknik Pengumpulan Data


Metode pengambilan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, hal ini
disebabkan karena sifat dari penelitian kualitatif terbuka dan luwes, tipe dan
metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, disesuaikan
dengan masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti.
Jika diperhatikan, metode yang paling banyak digunakan dalam penelitian
kualitatif adalah metode wawancara, focus group discussion dan observasi. Maka
dengan itu, penelitian yang akan dilakukan ini pun menggunakan 3 metode yang
sama yaitu metode wawancara, FGD, dan observasi. Akan tetapi yang menjadi
teknik utama pengumpulan data adalah wawancara. Alasan dipilihnya metode
wawancara dalam penelitian ini adalah karena didalam penelitian ini, informasi
yang diperlukan adalah berupa kata-kata yang diungkapkan subjek secara
langsung, sehingga dapat dengan jelas menggambarkan perasaan subjek penelitian
dan mewakili kebutuhan informasi dalam penelitian.
1. Wawancara
Banister, dkk (dalam Poerwandari, 2009) mengungkapkan wawancara adalah
percakapan dan proses tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan
tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk
memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu
berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi

34

terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan
lain.
Menurut Stewan dan Cash (2000), wawancara adalah suatu proses komunikasi
interaksional antara dua orang, setidaknya satu diantaranya memiliki tujuan
tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya, dan biasanya melibatkan pemberian
dan menjawab pertanyaan. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah wawancara mendalam yaitu wawancara yang tetap menggunakan pedoman
wawancara, namun penggunaannya tidak seketat wawancara terstruktur.
Penelitian ini menggunakan pedoman wawancara yang bersifat umum, yaitu
pedoman wawancara yang harus mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa
menentukan urutan pertanyaan.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai
aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist)
apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau dinyatakan (Poerwandari,
2009). Adapun aspek yang ingin diungkap peneliti melalui wawancara dalam
penelitian ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan kesiapan rumah sakit
dalam menghadapi SJSN 2014, yang terfokus pada strategi pelaksana SJSN yaitu
Rumah Sakit dalam menghadapi SJSN itu sendiri.
2. Focus Group Discussion (FGD)
FGD adalah suatu metode riset yang oleh Irwanto (1988) didefinisikan sebagai
suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang
sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 1988:1). Dengan perkataan

35

lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara,


bukan perorangan, dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD
termasuk metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation,
indepth interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how-and
why, bukan jenis-jenis pertanyaan what-and-how-many yang khas untuk metode
kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya lebih
sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan to
generate theories and explanations (Morgan and Kruger, 1993)
Peneliti akan melaksanakan FGD untuk melihat kesiapan Rumah Sakit secara
umum, dan melihat konsistensi pada jajaran menejerial. Akan tetapi FGD ini tidak
wajib dilakukan karena hanya menjadi sebuah cadangan untuk menghimpun
informasi. Apabila melalui indepth interview dirasa sudah cukup konsisten antar
lini makan tidak diperlukan FGD. Mengingat tingkat kesulitan dalam
mengumpulkan direksi untuk melakukan FGD.
3. Observasi
Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat,
mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek
dalam fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian penelitian psikologis,
dapat berlangsung dalam konteks laboratorium maupun konteks alamiah. Patton
(1990) menjelaskan bahwa presepsi selektif pada manusia menyebabkan
munculnya keragu-raguan terhadap validitas dan reliabilitas observasi sebagai
suatu metode pengumpulan data ilmiah. (Poerwandari,2009)

36

Observasi merupakan pengumpulan data esensial dalam penelitian apalagi


dalam penelitaian kualitatif. Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting
yang dipelajari, aktivitas-aktivitas ayang berlangsung, orang-orang yang terlibat
dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat
dalam kejadian yang daimati tersebut.(Poerwandari,2009)
Dalam penelitian ini, peneliti mengobservasi langsung kesiapan rumah sakit
menghadapi SJSN 2014, baik yang berupa fasilitas fisik maupun non-fisik.

D. Metode Analisis Data


Metode analisis data pada penelitian ini adalah menggunakan analisis SWOT.
Hasil wawancara, observasi, dan FGD akan dirangkum dalam 4 kategori strength,
weaknesses, opportunities, dan threats. Kemudian akan dilihat kondisi rumah sakit
masuk dalam kategori yang mana. Analisis SWOT yang digunakan adalah analisis
SWOT

kualitatis

dan

kuantitatif

sehingga

paneliti

dapat

mengetahui

kecenderungan strategi rumah sakit.

E. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil tempat penelitian di Rumah Sakit
PKU

Muhammadiyah

Bantul.

Alasan

peneliti

mengambil

RS

PKU

Muhammadiyah Bantul sebagai tempat penelitian adalah kedekatan lokasi dengan


peneliti, selain itu di daerah Bantul mulai bermunculan Rumah Sakit yang cukup
besar sehingga menyebabkan banyak timbul persaingan. Bahkan RSUD
Panembahan Senopati Bantul merupakan rumah sakit satelit RSUP Dr. Sardjito
sehingga sangat layak untuk melakukan penelitian di RS PKU Bantul untuk
mengetahui sejauh mana kesiapan dan strategi menghadapi SJSN 2014.

37

38

DAFTAR PUSTAKA
Berita Resmi Statistik-Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2012,
available at : http://www.bps.go.id/menutab.php?tabel=1&kat=1&id_
subyek =12
Bisma, Murti, 2000, Dasar Dasar Asuransi Kesehatan, Bumi Aksara, Jakarta
Carrin G, Mathauer I, Xu K, Evans D. Universal coverage of health services:
tailoring its implementation. Bull World Health Organ 2008; 86: 85763.
David, Fred R. (2006). Manajemen Strategis: Konsep, buku 1. Edisi kesepuluh.
Terjemahan Salemba Empat, Jakarta (hal.134).
Dixon A and Mossialos E. Health system in eight countries: trends and
challenges. The european observatory on health care systems. London,
2002
Friedlander WA and Apte RZ. Introduction to social welfare. Prentice Hall.
Englewood, New Jersey, USA, 1980
Gufron, Ali. 2004. Reformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan Di

Indonesia: Asuransi Kesehatan Sosial Sebagai Pilihan.


Hisyam, M.S. 1998. Analisa SWOT
Usaha.Makalah.Jakarta.SEM Institute.

sebagai

awal

perencanaan

HIAA. Group health insurance. Part A. HIAA, Washington DC. 1997


Henderson JW. Op Cit Rejda, GE. Social insurance and economic security. 3rd
Ed. Prentice hall, New Jersey, USA.1988
Irwanto, 1998, Focus Group Discussion, Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat
(hal.1)
Journal of Business Management Vol. 5(22), pp. 9448-9454, Available online at
http://www.academicjournals.org/ajbm/pdf/pdf2011/30Sept/
Ommani.pdfUndang-Undang Republik Indonesia No.40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Nasional. (hal. 1-33)
Keintz RM. NHI and income distribution. D.C. health and company, Lexington,
USA, 1976
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Data Kesehatan
Indonesia Tahun 2011.
Kurtz, David L., 2008, Principles Of Contemporary Marketing, South-Western
Educational Publishing, Stamford (hal. 45)

39

Merritt Publishing, Glossary of insurance terms, Santa Monica, CA, USA 1996
Morgan, DL dan R.A. Kruger , 1993, When to Use Focus Group and Why, , in ed.
D.L. Morgan Successful Focus Groups, pp (hal.9)
Ommani, Ahmad R, 2011, Strengths, weaknesses, opportunities and threats
(SWOT) analysis for farming system businesses management: Case of
wheat farmers of Shadervan District, Shoushtar Township, Iran , African
Pearce, John A dan Richard B. Robinson, 2003, Manajemen Stratejik: Formula,
Implementasi & Pengendalian. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
(hal.134).
Riston N (2008). Strategic Management. Neil Riston and Ventus Publishing APS,
ISBN (hal. 978-87-7681-417-5)
Roemer MI. Health system of the world. Vol II. Oxford university press. Oxford,
UK.1993
Stewart, Charles. J & Cash, W.B,. (2000). Interviewing: Principles and practices.
USA: McGraw Hill Company.
Thabrany, Hasbullah., dkk, 2006, Pedoman Reformasi Sistem Jaminan Sosial di
Indonesia (Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Nasional Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi RI, Kementrian
Koordinator Kesejahteraan Rakyat Indonesia bekerjasama dengan German
Technical Cooperation. (hal. 1-64)
Tuohy CH. The costs of constraint and prospects for health care reform in
Canada. Health affairs: 21(3): 32-46, 2002
Uzair Suhaimi, 1999, Panduan Bagi Peneliti Studi Kualitatif, Studi Dampak
Sosial Krisis Moneter, Kerjasama BPS - ADB, available at :
http://uzairsuhaimi.files.wordpress.com/2009/11/focus-groupdiscussion2.pdf
Vayda E dan Deber RB. The canadian health-care system: A developmental
overview dalam Naylor D. Canadian health care and the state. McGillQueens University Press. Montreal, Canada, 1992
Whalley A (2010). Strategic Marketing. Andrew Whally and Ventus Publishing
APS, ISBN 978-87-7681-643-8)

BUKU PEGANGAN SOSIALISASI


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional