Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pembinaan kesehatan lansia merupakan salah satu kegiatan yang
harus terus digalakkan untuk mewujudkan lansia sejahtera, bahagia dan berdaya
guna bagi kehidupan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan
suatu upaya menghadapi peningkatan status dan derajat kesehatan rakyat
Indonesia yang memberikan dampak pada meningkatnya usia harapan hidup
bangsa.
Lebih kurang 40% dari populasi lansia mengalami gangguan
pendengaran (presbikusis). Gangguan pendengaran mulai dari derajat ringan
sampai berat dapat dipantau dengan menggunakan alat audiometer. Pada
umumnya laki-laki lebih sering menderita gangguan pendengaran dibandingkan
perempuan.


B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi usia lanjut pada gangguan pendengran
2. Apa etiologi usia lanjut pada gangguan pendengaran
3. Apa tanda dan gejala usia lanjut pada gangguan pendengaran
4. Apa penatalaksaan usia lanjut pada gangguan pendengaran
5. Apa asuhaan keperawatan usia lanjut pada gangguan pendengran

C. Tujuan

1. Tujuan umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk
mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya
pada mata kuliah gerontik
2



2. Tujuan khusus
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar
mahasiswa /mahasiswi mengetahui bagaimana askep usia lanjut pada
gangguan pendegaran.















3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Gangguan pendengaran merupakan suatu keadaan yang menyertai
lanjutnya usia. Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ
corti berupa hilangnya sel epitel syaraf yang di mulai pada usia pertengahan
(Vander Cammen, 1991)
Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis. fenonema
tersebut sebagai suatu penyakitsimetris bilateral pada pendengaran yang
berkembang secara progresif lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan
dihubungkan dengan penuaan.(Rees and Deekert, 1990)

B. Klasifikasi Gangguan Pendengaran

1. Gangguan Pendengaran Tipe Konduktif
Gangguan bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalis
auditorius, membrana timpani atau tulang-tulang pendengaran. Salah satu
penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia
lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada
pemeriksaan. Hanya dengan membersihkan lobang telinga dari serumen
ini pendengaran bisa menjadi lebih baik.

2. Gangguan Pendengaran Tipe Sensori-Neural
Penyebab utama dari kelainan ini adalah kerusakan neuron akibat bising,
prebiakusis, obat yang oto-toksik, hereditas, reaksi pasca radang dan
komplikasi aterosklerosis.

3. Prebiakusis
Hilangnya pendengaran terhadap nada murni berfrekwensi tinggi, yang
merupakan suatu fenomena yang berhubungan dengan lanjutnya usia.
4

Bersifat simetris, dengan perjalanan yang progresif lambat. Terdapat
beberapa tipe presbiakusis, yaitu
a) Presbiakusis Sensorik
Patologinya berkaitan erat dengan hilangnya sel neuronal di
ganglion spiralis. Letak dan jumlah kehilangan sel neuronal akan
menentukan apakah gangguan pendengaran yang timbul berupa
gangguan atas frekwensi pembicaraan atau pengertian kata-kata.
b) Prebiakusis Strial
Abnormalitas vaskularis striae berupa atrofi daerah apical dan
tengah dari kohlea. Prebiakusis jenis ini biasanya terjadi pada usia
yang lebih muda disbanding jenis lain.
c) Prebiakusis Konduktif Kohlear
Diakibatkan oleh terjadinya perubahan mekanik pada membrane
basalis kohlea sebagai akibat proses dari sensitivitas diseluruh
daerah tes.
4. Tinitus
Suatu bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah,
bisa terus menerus atau intermiten. Biasanya terdengar lebih keras di
waktu malam atau ditempat yang sunyi. Apabila bising itu begitu keras
hingga bisa didengar oleh dokter saat auskkkultasi disebut sebagai tinnitus
obyektif.

5. Persepsi Pendengaran Abnormal
Sering terdapat pada sekitar 50% lansia yang menderita presbiakusis, yang
berupa suatu peningkatan sensitivitas terhadap suara bicara yang keras.
Tingkat suara bicara yang pada orang normal terdengar biasa, pada
penderita tersebut menjadi sangat mengganggu.

6. Gangguan Terhadap Lokalisasi Suara
Pada lansia seringkali sudah terdapat gangguan dalam membedakan arah
suara, terutama dalam lingkungan yang agak bising.

5

C. ETIOLOGI
Etiologi di bagi menjadi 2 yaitu :
1. Internal
Degenerasi primer eferen dari koklea, degenerasi primer organ corti
penurunan vascularisasidari reseptor neuro sensorik mungkin juga
mengalami gangguan.Sehingga baik jalur auditorik dan lobus temporalis
otak sering terganggu akibat lanjutnya usia
2. Eksternal
Terpapar bising yang berlebihan, penggunaan otottoksik dan reaksi paska
radan

D. Tanda Dan Gejala
1. Berkurangnya pendengaran secara perlahan dan progresif perlahan pada
kedua telinga dan tidak disadari oleh penderita
2. Suara-suara terdengar seperti bergumam, sehingga mereka sulit untuk
mengerti pembicaraan
3. .Sulit mendengar pembicaraan di sekitarnya, terutama jika berada di tempat
dengan latar belakang suara yang rama
4. Suara berfrekuensi rendah, seperti suara laki-laki, lebih mudah didengar
daripada suaraberfrekuensi tinggi
5. Bila intensitas suara ditingikan akan timbul rasa nyeri di telinga
6. . Telinga terdengar berdenging (tinnitus)

E. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa pilihan terapi untuk penderita presbikusis, diantaranya:
1. kurangi paparan terhadap bising
2. Gunakan pelindung telinga (ear plegs atau ear muffs) untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut
3. Gunakan alat bantu dengar
4. Lakukan latihan untuk meningkatkan keterampilan membaca gerak bibir
dan latihan mendengar
6

5. Berbicaralah kepada penderita presbikusis dengan nada rendah dan jelas.
Dengan memahami kondisi yang dialami oleh para lansia dan memberikan
terapi yang tepat bagimereka, diharapkan kita dapat membatu mengatasi
masalah sosial yang mungkin mereka alami akibatadanya keterbatasan
fungsi pendengaran mereka.



























7

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status perkawinan,
pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, golongan darah dan lain
sebagainya.
2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Klien susah mendengar pesan atau rangsangan suara
b) Riwayat kesehatan sekarang
1) Saat sekarang keluarga klien mengatakan susah mendengar
pesan atau rangsangan berupa suara.
2) Ketika berbicara dengan orang lain klien tidak mengerti
terhadap pembicaraan.
3) Untuk lebih mengerti, klien sering meminta untuk mengulangi
pembicaraan.
4) Keluarga klien mengatakan lebih senang menyendiri dan
dengan kesendiriannya itu klien mengekspresikan kesepian dan
keluarga klien mengatakan bahwa klien sering menarik diri
dari lingkungan dan tidak mau tampil bersama anggota
keluarga.
5) Untuk mengisi kebosanannya, keluarga klien mengatakan
bahwa klien lebih banyak tidur dan tidak mau melakukan
aktivitas apapun.
6) Komunikasi dengan klien sebagian besar berjalan melalui
pesan-pesan tertulis.
c) Riwayat penyakit dahulu
1) Dikaji dari keluarga klien, apakah klien mengalami penyakit
akut maupun kronis.
8

2) Sejak kapan gangguan pendengaran mulai dirasakan klien ?
biasanya prebikusis sering muncul pada umur 60 tahun
keatas ,tapi hal tersebut belum terlalu mengganggu bagi klien.
3) Apakah klien pernah mengalami cedera kepala dan
mengalami alergi terhadap berbagai makanan dan minuman.
4) Bagaimana gaya hidup klien, apakah klien seorang perokok
berat atau tidak.
5) Apakah Klien sering terpajan dengan suara bising ?
d) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit pada sistem
pendengaran,

3. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian Daun telinga
a) Inspeksi:
1) Kesimetrisan daun telinga (simetris kiri dan kanan)
2) Posisi telinga normal yaitu sebanding dengan titik puncak
3) Penempatan pada lipatan luar mata ( masih terdapat/tampak
atau tidak)
4) Terdapat pembengkakan pada Auditorius eksternal atau tidak.
b) Palpasi:
1) Apakan terdapat nyeri raba
2) Apakah ada pembengkakan

4. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan otoskopik
Menggunakan alat otoskop untuk memeriksa meatus akustikus
eksternus dan membran timpani dengan cara inspeksi:
Hasil:
1) Serumen berwarna kuning, konsistensi kental.
2) Dinding liang telinga berwarna merah muda
b) Tes ketajaman pendengaran
9

1) Tes penyaringan sederhana
Hasil:
- Biasanya klien tidak mendengar secara jelas angka-
angka yang disebutkan
- Klien tidak mendengar secara jelas detak jarum jam
pada jarak 12 inchi.
2) Uji rinne
Hasil: Biasanya klien tidak mendengarkan adanya getaran
garpu tala dan tidak jelas mendengar adanya bunyi dan saat
bunyi menghilang.

B. Diagnosa keperawatan

1. Kerusakan komunikasi verbal b/d kerusakan pendengaran
2. Kerusakan aktivitas b/d ketidakseimbangan dalm beraktifitas karena
hilangnya fungsi pendengaran.
3. Kehilangan perawatan diri dirumah b/d hilangnya fungsi pendengaran
4. Kerusakan interaksi sosial b/d kerusakan saraf sensori

C. Rencana intervensi keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan kreteria hasil Rencana tindakan
1 Kerusakan
komunikasi
verbal b/d
kerusakan
pendengara
n

. Tujuan
Komunikasi verbal klien
berjalan baik
Kriteria hasil:
a. Menerima pesan melalui
metode alternative
b. Mengerti apa yang
diungkapkan
c. Memperlihatkan suatu
a. tingkat
kemampuan klien
dalam penerimaan
pesan
b. Periksa apakah ada
serumen yang
menganggu
pendengaran
c. Bicara dengan
10

peningkatan kemampuan
untuk berkomunikasi
d. Menggunakan alat bantu
dengar dengan cara yang
tepat
e. Klien dapat menerima
keadaan dirinya

pelan dan jelas
d. Gunakan alat tulis
pada waktu
menyampaikan
pesan
e. Beri dan ajarkan
klien pada
penggunaan alat
bantu dengar
f. Pastikan alat bantu
dengar berfungsi
dengan baik
g. Anjurkan klien
untuk menjaga
kebersihan telinga


Diagnosa ke 2
2 Kerusakan
aktivitas b/d
ketidakseimban
gan dalm
beraktifitas
karena
hilangnya fungsi
pendengaran
Tujuaan:
Agar aktifitas bisa di lakukan
dengan normal

Kreteria hasil
a. Menceritakan perasaan-
perasaan bosan
b. Melaporkan adanya
peningkatan dalam
aktivitas yang
menyenangkan
c. Menceritakan metoda
koping thd perasaan
marah atau depresi yang
a. Beri motivasi untuk
dapat saling berbagi
perasaan dan
pengalaman
b. Bantu klien untuk
mengatasi perasaan
marah dari berduka
c. Variasikan rutinitas
sehari-hari
d. Libatkan individu
dalam merencanakan
rutinitas sehari-hari
e. Rencanakan suatu
aktivitas sehari-hari
11

disebabkan oleh
kebosanan

f. Berikan alat bantu
dalam melakukan
aktivitas-




















12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gangguan pendengaran merupakan suatu keadaan yang menyertai
lanjutnya usia. Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ
corti berupa hilangnya sel epitel syaraf yang di mulai pada usia
pertengahan ,Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis. fenonema
tersebut sebagai suatu penyakitsimetris bilateral pada pendengaran yang
berkembang secara progresif lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan
dihubungkan dengan penuaan.
B. Saran
Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga
bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi tim penyusun dan semua mahasiswa
dan mahasiswi kesehatan pada umumnya.
Kami sebagai penyusun menyadari akan keterbatasan kemampuan
yang menyebabkan kekurang sempurnaan dalam makalah ini, baik dari segi isi
maupun materi, bahasa dan lain sebagainya. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan-
perbaikan selanjutnya agar makalah selanjutnya dapat lebih baik.









13

DAFTAR PUSTAKA

Roach sally. Introduktory gerontological Nursing. 2001. Lippinctt: New Yor
Syaifuddin, Anatomi fisisologi. 1997. EGC. Jakarta
Petunjuk praktikum fisiologi I. Tim pengajar fisiologi. 2005. Stikes Aisyiyah
Yogyakarta,
wahyudi, Nugroho, Keperawatan Gerontik. 2000. EGC : Jakarta.
Http: // www.pfizer peduli . com / artcel _ detail . aspex. Id : 21
Panduan dianosa keperawatan NANDA
Http: // www. Dokter tetanus . pjnkk. Go. Id / content . view / 249/31
http: // www. Dokter tetanus. WordPress. Com