Anda di halaman 1dari 10

PERANAN DOKTER FORENSIK DALAM MEMBANTU PROSES

PERADILAN
Dokter forensik merupakan seseorang yang telah diambil sumpah dan mengabdikan diri pada
bidang kesehatan untuk kepentingan peradilan yaitu mempelajari sebab-sebab terjadinya suatu
tindak pidana yang menyangkut tubuh atau jiwa manusia mempunyai peranan yang penting
dalam menjelaskan titik permasalahan di persidangan. Bantuan dokter ini dilakukan secara
tertulis yang dituangkan dalam Visum et Repertum dan biasanya digunakan sebagai salah satu
alat bukti yang sah menurut pasal 184 dalam KUHAP selain itu dilakukan secara lisan untuk
memperjelas isi dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter forensik.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengemukakan bagaimana peranan dan pentingnya
kehadiran dokter forensik didalam persidangan baik itu dalam peradilan pidana dan perdata
sebagai pembuat Visum et Repertum khususnya Visum et Repertum jenazah ataupun sebagai
ahli apabila hakim memintanya.
Berdasarkan beberapa temuan penulis dalam penelitian secara umum dapat digambarkan bahwa
sesungguhnya kehadiran dokter forensik dalam proses peradilan tidak hanya pada proses
pembuatan visum saja akan tetapi memberikan keterangan di muka persidangan. Dokter forensik
tidak hanya berperan dalam proses peradilan pidana yaitu dari tingkat penyelidikan sampai
pelaksanaan putusan hakim akan tetapi berperan dalam proses peradilan perdata. Mengenai
fungsi dari keterangan dokter forensik adalah sebagai alat bukti dengan memenuhi syarat materiil
dan syarat formil.
Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa dokter forensik merupakan seseorang
yang diminta bantuan dalam melakukan pemeriksaan yang dituangkan dalam Visum et R
epertum serta sebagai keterangan ahli yang kekuatan pembuktiannya bebas tidak mengikat
hakim dan dalam penanganan jenazah di setiap rumah sakit mempunyai tata cara sendiri, tetapi
ada ketentuan yang tidak boleh dilewati yaitu adanya surat permintaan visum et repertum dari
pihak penyidik dan adanya surat keterangan persetujuan dari pihak keluarga jenazah. Akan tetapi
dalam pembuatan visum et repertum jenazah terdapat berbagai macam hambatan yakni dari
pihak penyidik seperti keterlambatan permintaan visum, dari pihak keluarga karena tidak
mengijinkan dilakukannya autopsi, dari pihak dokter karena butuh tempat untuk melaksanakan
pemeriksaan lanjutan.Visum et repertum jenazah selalu dibutuhkan dalam setiap perkara yang
menyangkut jiwa atau tubuh manusia.
Akhirnya penulis menyarankan agar para pihak yang terkait lebih memperhatikan akan
pentingnya keberadaan dokter forensik ini. Selain itu hendaknya para pihak dapat mengatasi
hambatan-hambatan yang sering ada yakni bagi penyidik agar dapat dengan segera membuat
surat permintaan visum kepada dokter apabila terdapat korban yang perlu dimintakan visum,
untuk pihak keluarga diharapkan dapat memberikan ijin untuk dilakukan autopsi guna
kepentingan penyidikan, bagi pihak dokter agar pembuatan visum dapat berjalan dengan lancar
maka sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu tempat khusus untuk pemeriksaan lanjutan. Dan
berdasarkan penelitian ini juga penulis berpendapat bahwa keberadaan dokter khususnya dokter
forensik mempunyai peranan yang besar dalam pembuktian dan untuk mengetahui keterlibatan
terdakwa dalam suatu perkara.
Diposkan oleh adjie di 18:07 0 komentar
Selasa, 08 September 2009
PERANAN VISUM ET REPERTUM DALAM PEMERIKSAAN PERKARA
PIDANA PADA TAHAP PENYIDIKAN

abstraks:
Sehubungan dengan peran visum et repertum yang semakin penting dalam pengungkapan suatu
kasus perkosaan, pada kasus perkosaan dimana pangaduan atau laporan kepada pihak Kepolisian
baru dilakukan setelah tindak pidana perkosaan berlangsung lama sehingga tidak lagi ditemukan
tanda-tanda kekerasan pada diri korban, hasil pemeriksaan yang tercantum dalam visum et
repertum tentunya dapat berbeda dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan segera setelah
terjadinya tindak pidana perkosaan. Terhadap tanda-tanda kekerasan yang merupakan salah satu
unsur penting untuk pembuktian tindak pidana perkosaan, hal tersebut dapat tidak ditemukan
pada hasil pemeriksaan yang tercantum dalam visum et repertum. Menghadapi keterbatasan hasil
visum et repertum yang demikian, maka akan dilakukan langkah-langkah lebih lanjut oleh pihak
penyidik agar dapat diperoleh kebenaran materiil dalam perkara tersebut dan terungkap secara
jelas tindak pidana perkosaan yang terjadi.
Berdasarkan kenyataan mengenai pentingnya penerapan hasil visum et repertum dalam
pengungkapan suatu kasus perkosaan pada tahap penyidikan sebagaimana terurai diatas, hal
tersebut melatarbelakangi penulis untuk mengangkatnya menjadi topik pembahasan dalam
penulisan skripsi dengan judul PERANAN VISUM ET REPERTUM PADA TAHAP
PENYIDIKAN DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi di
Kepolisian Resort Kota Malang) .
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang dapat diangkat untuk selanjutnya diteliti
dan dibahas dalam penulisan skripsi ini yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peranan visum et repertum pada tahap penyidikan dalam mengungkap suatu
tindak pidana perkosaan ?
2. Upaya apakah yang dilakukan penyidik apabila hasil visum et repertum tidak sepenuhnya
mencantumkan keterangan tentang tanda kekerasan pada diri korban perkosaan ?
a. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini, penelitian yang dilakukan
untuk membahas permasalahan tersebut mempunyai tujuan:
1) Untuk mengetahui peranan visum et repertum pada tahap penyidikan dalam mengungkap
suatu tindak pidana perkosaan.
2) Untuk mengetahui upaya yang ditempuh penyidik apabila hasil visum et repertum tidak
memuat keterangan tentang tanda kekerasan pada korban perkosaan, dalam tujuannya untuk
mendapatkan kebenaran materiil suatu kasus perkosaan.
Berdasarkan kenyataan mengenai pentingnya penerapan hasil visum et repertum dalam
pengungkapan suatu kasus perkosaan pada tahap penyidikan sebagaimana terurai diatas, hal
tersebut melatarbelakangi penulis untuk mengangkatnya menjadi topik pembahasan dalam
penulisan skripsi dengan judul PERANAN VISUM ET REPERTUM PADA TAHAP
PENYIDIKAN DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi di
Kepolisian Resort Kota Malang) .
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang dapat diangkat untuk selanjutnya diteliti
dan dibahas dalam penulisan skripsi ini yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peranan visum et repertum pada tahap penyidikan dalam mengungkap suatu
tindak pidana perkosaan ?
2. Upaya apakah yang dilakukan penyidik apabila hasil visum et repertum tidak sepenuhnya
mencantumkan keterangan tentang tanda kekerasan pada diri korban perkosaan ?
a. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini, penelitian yang dilakukan
untuk membahas permasalahan tersebut mempunyai tujuan:
1) Untuk mengetahui peranan visum et repertum pada tahap penyidikan dalam mengungkap
suatu tindak pidana perkosaan.
2) Untuk mengetahui upaya yang ditempuh penyidik apabila hasil visum et repertum tidak
memuat keterangan tentang tanda kekerasan pada korban perkosaan, dalam tujuannya untuk
mendapatkan kebenaran materiil suatu kasus perkosaan.
D. Manfaat Penelitian :
Memperhatikan tujuan penelitian yang ada, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat :
1) Bagi kalangan akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan gambaran mengenai
realitas penerapan hubungan ilmu hukum khususnya hukum pidana dengan bidang ilmu lainnya
yaitu ilmu kedokteran. Kepentingan penyidik untuk mendapatkan kebenaran materiil suatu
perkara yang ditanganinya merupakan aplikasi dari ketentuan hukum acara pidana, sedangkan
pembuatan visum et repertum yang dilakukan oleh dokter merupakan aplikasi dari ilmu
kedokteran yang dapat berperan dan membantu penyidik dalam tugasnya menemukan kebenaran
materiil tersebut. Disamping itu dapat memberikan informasi yang berguna bagi pengembangan
ilmu hukum acara pidana khususnya mengenai penggunaan bantuan tenaga ahli yang dalam hal
ini adalah dokter pembuat visum et repertum dalam tahap penyidikan suatu perkara pidana.
2) Bagi masyarakat luas
Hasil penelitian ini dimaksudkan agar dapat memberikan informasi dan gambaran mengenai
peran visum et repertum dan penerapannya oleh pihak Kepolisian selaku penyidik, khususnya
dalam mengungkap tindak pidana perkosaan yang saat ini semakin banyak terjadi di masyarakat.
3) Bagi penulis
Penelitian yang dilakukan dapat melatih dan mengasah kemampuan penulis dalam mengkaji dan
menganalisa teori-teori yang didapat dari bangku kuliah dengan penerapan teori dan peraturan
yang terjadi di masyarakat. Hasil penelitian yang diperoleh dapat memberikan pengetahuan dan
gambaran mengenai realitas penggunaan visum et repertum bagi kepentingan penyidikan untuk
mengungkap suatu tindak pidana perkosaan.
Diposkan oleh adjie di 21:05 0 komentar
Lima bagian tetap VeR
Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum, yaitu:
Pro Justisia. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum
dibuat untuk tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai
alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
[3]
.
Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung dituliskan
berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan penyidik pemintanya berikut
nomor dan tanggal, surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas
korban yang diperiksa.
Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan pemeriksaan.
Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan
perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia
kedokteran.
Kesimpulan. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil
pemeriksaan, berisikan:
1. Jenis luka
2. Penyebab luka
3. Sebab kematian
4. Mayat
5. Luka
6. TKP
7. Penggalian jenazah
8. Barang bukti
9. Psikiatrik
Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum
ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah
sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP".
Diposkan oleh adjie di 20:58 0 komentar
enis Visum et repertum
A. Untuk orang hidup
VeR Biasa, perlukaan (termasuk keracunan)
VeR Lanjutan, kejahatan susila
VeR Sementara, psikiatrik
B. Untuk Orang Mati
VeR jenazah

Pengertian Visum et repertum
Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter dalam
ilmu kedokteran forensik
[1]
(Lihat: Patologi forensik) atas permintaan penyidik yang berwenang
mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau
diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk
kepentingan pro yustisia.
Visum et repertum kemudian digunakan bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan terakhir
korban penganiayaan, pemerkosaan, maupun korban yang berakibat kematian dan dinyatakan
oleh dokter setelah memeriksa (korban). Khusus untuk perempuan visum et repertum termasuk
juga pernyataan oleh dokter apakah seseorang masih perawan atau tidak

forensik KDRT
karna ni blog gw bikin di satse forensik, jd gw masukin deh...
TINJAUAN PUSTAKA


I. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Definisi Kekerasan Dalam Rumah Tangga berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.
23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran
rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Kekerasan fisik
Adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. (Pasal 6)

Kekerasan psikis
Adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada
seseorang. (Pasal 7)

Kekerasan seksual :
1. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam rumah
tangga tersebut;
2. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya
dengan orang lain untuk tujuan komersil dan/atau tujuan tertentu. (Pasal 8)

II. KETENTUAN PIDANA
II.1 Ketentuan Pidana Kekerasan Terhadap Rumah Tangga Berdasarkan Undang-Undang No.23
Tahun 2004
1. Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).
2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban
mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
3. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya
korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda
paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).
4. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap
isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00
(lima juta rupiah).
Hak-Hak Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab IV Pasal 10 Korban berhak
mendapatkan:
1. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga
sosial, atau pihak Iainnya, baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah
perlindungan dari pengadilan;
2. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
3. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
4. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses
pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
5. Pelayanan bimbingan rohani.

Perlindungan Terhadap Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab VI Pasal 16
1. Dalam waktu 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak mengetahui atau
menerima laporan kekerasan dalam rumah tangga, kepolisian wajib segera memberikan
perlindungan sementara pada korban.
2. Perlindungan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling lama 7
(tujuh) hari sejak korban diterima atau ditangani.
3. Dalam waktu 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak pemberian
perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepolisian wajib meminta surat
penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
Pemulihan Terhadap Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab VII Pasal 39 Untuk
kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:
1. Tenaga kesehatan;
2. Pekerja sosial;
3. Relawan pendamping; dan/atau
4. Pembimbing rohani.

II.2 Ketentuan pidana berdasarkan KUHP
Kualifikasi luka dibahas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu bab XX pasal 351
dan 352 serta bab IX pasal 90:
Pasal 351
1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama lima tahun
3. Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun
4. Dengan penganiayaan disamakan dengan sengaja merusak kesehatan
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana
Pasal 352
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencahariaan, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama
tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga
bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau
menjadi bawahannya.
2. Percobaan untuk melakukan ini tidak dipidana
Pasal 90
Luka berat berarti :
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,
atau yang menimbulkan bahaya maut
Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencahariaan
Kehilangan salah satu panca indera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan

Dari pasal-pasal tersebut maka penganiayaan dibagi menjadi 4 jenis tindak pidana, yaitu:
1. Penganiayaan ringan
2. Penganiayaan
3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat
4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian

Penganiayaan ringan yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencahariaan. Penganiayaan ringan digolongkan sebagai
luka derajat satu. Bila akibat suatu penganiayaan seseorang mengalami penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencahariaan yang sifatnya sementara waktu maka
digolongkan menjadi luka derajat dua. Bila penganiayaan yang dilakukan mengakibatkan luka
berat seperti dalam pasal 90, maka luka tersebut digolongkan menjadi luka derajat tiga.

Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum, yaitu dengan sengaja melukai
atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang, maka didalam Visum et Repertum yang
dibuat dokter tidak boleh mencantumkan istilah penganiayaan, karena itu merupakan urusan
hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan nyeri sukar sekali untuk dapat dipastikan
secara objektif, maka kewajiban dokter di dalam membuat Visum et Repertum hanyalah
menentukan derajatnya.

Dengan demikian di dalam penulisan kesimpulan Visum et Repertum kasus-kasus perlukaan,
penulisan kualifikasi luka adalah sebagai berikut:
1. Luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan
atau jabatan
2. Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau
jabatan untuk sementara waktu
3. Luka yang termasuk dalam pengertian hukum luka berat (pasal 90 KUHP)
III. PERLUKAAN AKIBAT KEKERASAN TUMPUL

Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat
mekanik, fisika dan kimia. Kekerasan akibat benda tumpul berdasarkan sifatnya termasuk
kedalam kekerasan yang bersifat mekanik. Luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul
dapat berupa luka memar (kontusio, hematom), luka lecet (ekskoriasi, abrasi), dan luka terbuka
atau luka robek (vulnus laseratu).

a. Luka Memar
Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah dalam jaringan bawah
kulit (kutis) karena pecahnya pembuluh darah kapiler dan vena akibat kekerasan benda tumpul
sewaktu seseorang masih hidup. Apabila kekerasan benda tumpul terjadi pada jaringan ikat
longgar, seperti pada daerah leher, daerah mata atau pada orang yang sudah lanjut usia, maka
luka memar yang terjadi kadang seringkali tidak sebanding dengan kekerasan yang terjadi, dalam
arti seringkali lebih luas; adanya jaringan ikat longgar tersebut memungkinkan berpindahnya
memar ke daerah yang lebih rendah, berdasarkan gravitasi.

Luka memar kadang kala memberi petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya. Salah satu
bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi mengenai bentuk dari benda tumpul ialah
apa yang dikenal dengan istilah perdarahan tepi (marginal haemorrhages).
Letak, bentuk, dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna
kulit, kerapuhan pembuluh darah dan penyakit.

Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat
timbul, memar berwarna merah kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah empat
sampai lima hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam waktu
tujuh sampai sepuluh hari, dan akhirnya menghilang dalam empat belas sampai lima belas hari.
Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung
derajat dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.

b. Luka Lecet
Luka lecet adalah luka yang superfisial, luka ini terjadi akibat cedera pada epidermis yang
bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Luka lecet memiliki
ciri-ciri bentuk luka tidak teratur, tepi luka tidak rata, kadang-kadang ditemui sedikit perdarahan,
permukaan tertutup oleh krusta, warna kecoklatan merah, pada pemeriksaan mikroskopik terlihat
adanya beberapa bagian yang masih ditutupi oleh epitel dan reaksi jaringan(inflamasi). Sesuai
dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai :
Luka lecet gores, diakibatkan benda runcing yang menggeser lapisan permukaan kulit di
depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat.
Luka lecet serut, variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih besar.
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit.
Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser.
Luka lecet memiliki arti penting dalam kedokteran kehakiman karena luka lecet tersebut dapat
memberikan banyak petunjuk dalam banyak hal, misalnya :

Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat dalam tubuh, seperti hancurnya
jaringan hati, limpa, atau ginjal, yang dari pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet
didaerah yang sesuai dengan alat dalam tersebut.

Petunjuk perihal jenis dan bentuk dari permukaan benda tumpul yang menyebabkan luka.
Misalnya pada luka lecet jerat, jejas jerat akan tampak sebagai suatu luka lecet yang berwarna
merah kecoklatan, pada perabaan seperti perkamen dan gambaran cetakan sesuai dengan bentuk
permukaan dari alat penjerat. Sedangkan pada kasus penjeratan menggunakan tangan
(pencekikan) maka kuku-kuku pelaku dapat menimbulkan luka lecet yang berbentuk seperti
bulan sabit, dimana dari arah garis lengkung dapat diperkirakan apakah pencekikan dilakukan
menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Pada kasus penembakan, apabila moncong
menempel pada tubuh korban, akan terdapat gambaran khas yaitu adanya jejas laras yang
merupakan luka lecet tekan. Pada kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban bersentuhan
dengan radiator maka ditemukan luka lecet tekan akibat cetakan dari bentuk radiator.

Petunjuk dari arah kekerasan, dapat diketahui dari tempat dimana kulit ari yang terkelupas
banyak terkumpul pada tepi luka.

c. Luka Terbuka atau Luka Robek
Luka terbuka adalah luka yang disebabkan karena adanya persentuhan dengan benda tumpul
dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan dibawahnya. Ciri-ciri
dari luka terbuka adalah bentuk luka tidak beraturan, tepi atau dinding luka tidak rata, tebing
luka tidak rata, bila ditautkan tidak merapat karena terdapat jembatan-jembatan jaringan yang
menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur atau tercabut, disekitar luka robek
sering tampak adanya luka lecet atau luka memar.

DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. UU RI No. 23 tahun 2004.
Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia.
Budianto, A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Cetakan 2. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik FKUI.
Idries, AM. 1989. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Jakarta: Bina Rupa
Aksara.
Soesilo, R. 1988. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Cetakan Ulang
Kesepuluh. Poelita Bogor