Anda di halaman 1dari 35

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Green Construction
2.1.1 Definisi Green Contruction
Agar kita dapat memahami maksud konstruksi hijau maka kita perlu menyeragamkan
pengertian dari istilah tersebut. Dasar untuk memahami secara lebih mendalam tentang
konstruksi hijau dimulai dari definisi konstruksi hijau.
Definisi green construction menurut Glavinich (2008) adalah green construction is a
planning and managing a construction project in accordance with the contract document in
order to minimize the impact of the construction process on the environment (suatu
perencanaan dan pengaturan proyek konstruksi sesuai dengan dokumen kontrak untuk
meminimalkan pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan agar terjadi keseimbangan
antara kemampuan lingkungan dan kebutuhan hidup manusia untuk generasi sekarang dan
mendatang). Berdasarkan definisi tersebut kontraktor diposisikan untuk berperan proaktif,
peduli terhadap lingkungan selama tahap pelaksanaan proyek konstruksi melalui efisiensi
penggunaan sumber daya alam (konservasi energi, air, material) dan meminimalkan limbah
konstruksi.
Menurut Du Plesis (2002) menyatakan bahwa bagian dari sustainable construction
adalah green construction yang merupakan proses holistik yang bertujuan untuk
mengembalikan dan menjaga keseimbangan antara lingkungan alami dan buatan. United State
Environmental Protection Agency (2010) mendefinisikan green construction merupakan
praktek membangun dan menerapkan proses yang memperhatikan lingkungan dan efisiensi
sumberdaya sepanjang siklus hidup bangunan dari tahap perencanaan, konstruksi, operasi,
pemeliharaan, renovasi, dan dekonstruksi. Menurut Davy Sukamta, ahli struktur yang juga
Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, konsep green sejatinya merupakan konsep yang
memiliki konektivitas dengan isu efisiensi energi, yang pada akhirnya mengurangi daya
eksploitasi terhadap alam.
Melihat dari istilah green construction atau konstruksi hijau adalah sebuah gerakan
berkelanjutan yang mencita-citakan terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan,
6

pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam
pemakaian energi dan sumberdaya, serta berbiaya rendah. Sedangkan menurut Budisuanda
(2011), green construction dapat disebutkan menjadi beberapa aspek diantaranya adalah:
1. Proses pembangunan yang berusaha mengurangi material yang merusak
lingkungan.
2. Proses pembangunan yang tidak mengganggu ketenangan penghuni sekitar.
3. Metode pelaksanaan yang tidak menghasilkan limbah di atas ambang toleransi.
4. Metode pelaksanaan yang tidak mengganggu keseimbangan ala sekitar.
5. Pelaksanaan pembangunan yang tidak mencemari lingkungan atas bahan kimia
yang berbahaya.
6. Proses pembangunan yang seharusnya memanfaatkan kembali sisa-sisa material.
7. Proses pembangunan yang menggunakan material yang tidak merusak lingkungan
hidup.
2.1.2 Tujuan Green Construction
Secara sederhana tujuan penerapan konsep green construction dalam proyek
konstruksi untuk meminimalisir kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pekerjaan
konstruksi. Menurut US Environmental Protection Agency (2010), green construction atau
konstruksi hijau didesain untuk mereduksi dampak lingkungan terbangun pada kesehatan
manusia dan alam melalui efisiensi dalam penggunaan energi, air, dan sumberdaya lain,
perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas pekerja, mereduksi limbah
atau buangan padat, cair, dan gas, mengurangi polusi atau pencemaran padat, cair, dan gas,
serta mereduksi kerusakan lingkungan.
Menurut Imam Soeharto, menyadari dampak kegiatan pembangunan yang dapat
berpengaruh besar terhadap lingkungan hidup maka pemerintah mengeluarkan Undang-
undang No. 32 Tahun 2009 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan, sedangkan
pelaksanaannya dituangkan dalam PP No. 29 Tahun 1986. Undang-undang beserta peraturan
pelaksanaan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk melakukan pencegahan terhadap
suatu rencana kegiatan, misalnya proyek yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan
lingkungan. Dalam undang-undang tersebut pengelolaan lingkungan hidup diwajibkan
berpegang pada azas pelestarian lingkungan yang serasi dan seimbang bagi pengingkatan
7

kesejahteraan manusia. Hal ini berarti kegiatan pembangunan proyek dan pengoperasian unit
hasil proyek harus berpatokan pada wawasan lingkungan.
Menurut Harimurti (2011), penerapan green construction menuntut sebuah proses
konstruksi yang peduli lingkungan hidup dan memberikan nilai tambah pada lingkungan di
sekitar pelaksanaan proses konstruksi tersebut. Kepedulian proses konstruksi pada lingkungan
hidup dalam bentuk pengendalian limbah, kualitas udara dan air, kebisingan, penghematan
energi, pemanfaatan sumberdaya alam yang efisien. Aspek-aspek tersebut merupakan aspek
teknis dalam pelaksanaan konsep green construction sedangkan aspek non-teknis berupa
manajemen dan pelatihan tenaga ahli green construction, alat-alat berat yang digunakan
hingga pemberian wawasan green construction kepada para pekerja di lapangan. Sehingga
tolak ukur keberhasilan pelaksanaan green construction dalam proyek konstruksi tersebut
dapat dievaluasi sejauh mana tingkat keberhasilannya dan bagaimana solusi yang diberikan
terhadap aspek-aspek konsep green construction yang belum terlaksana.
2.1.3 Manfaat Green Construction
Proyek konstruksi memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan
keseimbangan lingkungan hidup. Hal ini dapat dilihat dari pencemaran udara dan air yang
dihasilkan dari pekerjaan konstruksi, berkurangnya keseimbangan area resapan karena
tertutupi oleh konstruksi perkerasan jalan, limbah yang dihasilkan selama proses konstruksi,
dan cara bekerja pekerja di lapangan yang cenderung mengabaikan kesehatan dan
keselamatan kerja. Sejumlah fakta tersebut menunjukkan betapa pentingnya dunia konstruksi
untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dengan menerapkan konsep
green construction.
Menurut US Environmental Protection Agency (2010) manfaat penerapan konsep
green construction antara lain:
1. Manfaat Lingkungan
a. Meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem
b. Memperbaiki kualitas udara
c. Memperbaiki kualitas air
d. Mereduksi limbah
e. Konservasi sumberdaya alam
8


2. Manfaat Ekonomi
a. Mereduksi biaya operasional
b. Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau
c. Meningkatkan produktivitas penghuni
d. Mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi
3. Manfaat Sosial
a. Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni
b. Meningkatkan kualitas estetika
c. Mereduksi masalah dengan infrastruktur lokal
d. Meningkatkan kualitas hidup keseluruhan
2.1.4 Penerapan Konsep Green Construction
2.1.4.1 Green Construction Menurut PT. PP
Penerapan konsep green construction menuntut sebuah proses konstruksi yang peduli
pada lingkungan hidup dan memberikan nilai tambah pada lingkungan di sekitar pelaksanaan
proses konstruksi tersebut. Menurut PT. PP (Persero) (2008) dalam Suratman (2010), fokus
dari penerapan konsep green construction terletak pada:
1. Sustainable site atau lokasi yang berkelanjutan, kategori ini mendorong
manajemen yang lebih baik dalam pengelolaan lahan dan meminimalkan dampak
lingkungan yang tidak diinginkan oleh lingkungan sekitar baik selama ataupun
pasca kegiatan konstruksi. Kategori ini menuntut tim proyek mempertimbangkan
pemilihan dan pengolahan lahan, alternatif transportasi, gangguan pada
lingkungan, pengelolaan air dan polusi.
2. Efisiensi air, kategori ini mendorong pengelolaan yang bijak dalam penggunaan
air. Konsep ini dibuat agar bisa menghemat menggunakan air serta mengurangi
buangan air.
3. Energi dan atmosfir, kategori ini mendorong tim proyek dapat mengonsumsi
energi pada tingkat serendah mungkin tanpa mengurangi kinerja proses
konstruksi.
9

4. Material dan sumber daya, kategori ini memfokuskan pada penggunaan material
daur ulang dalam proses konstruksi dan penggunaan material secara berulang.

Tabel 2.1 Indikator Green Construction Menurut PT. Pembangunan Perumahan
No Kategori Maksud dan Tujuan Kegiatan yang Diukur
1 Tepat Guna Lahan a. Memelihara
kehijauan
lingkungan serta
mengurangi/
menyerap CO2
dan polutan
a.1. Penanaman pohon (penghijauan)

a.2. Tidak menebang pohon (proses
konstruksi)
b. Mengurangi
beban drainase
kota akan
limpasan air baik
dari kuantitas
maupun kualitas
b.1. Pengadaan sumur resapan untuk
buangan limpasan air
b.2. Filterisasi air sebelum masuk ke
drainase kota.
2 Efisiensi dan
Konservasi Energi
c. Pemantauan &
pencatatan
pemakaian listrik
c.1. Pemasangan KWH meter
c.2. Monitoring pemakaian listrik per
bulan
d. Penghematan
konsumsi energi
d.1. 50% dari jumlah ruangan di
kontraktor keet memanfaatkan
sinar matahari untuk penerangan
d.2. Penggunaan water reservoir
untuk penyimpanan air bersih
d.3. Penggunaan LHE (Lampu
Hemat Energi) untuk kantor dan
lapangan
d.4. Membuat tata tertib ketentuan
10

penggunaan perangkat kantor
(lampu, AC, dispenser, mesin
FC, pompa air, dll)
d.5. Mengatur temperatur AC pada
posisi (25 1)
o
C
d.6. Jadwal transportasi (zoning
kegiatan transportasi karyawan)
d.7. Mess karyawan proyek (bila
dimungkinkan)
d.8. Penggunaan sensor cahaya untuk
lampu penerangan yang ada di
lokasi proyek
d.9. Melakukan pengukuran
intensitas cahaya ( 250 lux atau
sesuai ketentuan)
e. Mengendalikan
penggunaan
sumber energi
yang memberikan
dampak terhadap
lingkungan
e.1. Melakukan pengukuran getaran
e.2. Melakukan pengukuran
kebisingan
e.3. Penyediaan Absorban untuk
penyimpanan material B3
e.4. Kendaraan dan alat berat proyek
telah lulus pengecekan emisi gas
buang
3 Konservasi Air f. Pemantauan dan
pencatatan
pemakaian air
f.1. Pemasangan meteran air
(PDAM) maupun air tanah
f.2. Monitoring pemakaian air per
bulan
g. Penghematan
konsumsi air
g.1. Penggunaan kran otomatis
(water saving devices)
11

g.2. Pemasangan stiker Gunakan air
secukupnya
g.3. Penggunaan shower untuk
tempat mandi pekerja
h. Daur ulang
pemakaian air
h.1. Denah pekerjaan dewatering
h.2. Pengadaan recharge well
h.3. Pemasangan Piezometer untuk
memonitor MAT
h.4. Pemanfaatan dewatering untuk
kegiatan lapangan
i. Pengelolaan
sampah (selama
proses
konstruksi)
i.1. Penyediaan tempat sampah
konstruksi
i.2. Pemilahan sampah konstruksi
sesuai jenisnya
i.3. Penyediaan tempat sampah non
konstruksi (organik, anorganik,
B3) di sekitar lokasi kerja dan
TPS
i.4. Pemilihan sampah rumah tangga
sesuai dengan jenisnya
i.5. Bekerja sama dengan pihak III
(pengepul)
i.6. Monitoring pencatatan volume
sampah yang dikeluarkan
4 Manajemen
Lingkungan Proyek
j. Mendorong
mengurangi
terjadinya
sampah
(mengurangi
j.1. Penyajian makanan dengan
sistem katering (minim sampah)
j.2. Menyediakan minuman isi ulang
(galon)
j.3. Penggunaan Veldples
12

beban TPA) j.4. Penggunaan kertas bolak balik
(dua sisi) untuk kebutuhan
internal
j.5. Menyediakan cetakan untuk
buangan/ limpahan beton
j.6. Pemanfaatan sisa potongan besi
(<1 m)
j.7. Pembuatan lubang resapan
biopori
j.8. Tidak menggunakan minumam
kemasan (untuk mengurangi
sampah plastik)
j.9. Menggunakan bekas bobokan
puing
k. Program promosi
Green Contractor
k.1. Menggunakan leaflet
k.2. Pemasangan simbol green
construction (3R: reuse-reduce-
recycle) pada helm
k.3. Pemasangan papan wajib baca/
slogan-slogan green
k.4. Mencantumkan pernyataan
green construction dalam
kontrak vendor (mitra kerja)
k.5. Melaksanakan terobosan
(inovasi) penetapan green
k.6. Menggunakan vendor yang
brsertifikat SMI, ISO 14001
5 Sumber dan Siklus
Material
l. Menggunakan
material lokal
l.1. Penggunaan temporary facility
(long life cycle)
13

bekas bangunan
lama dan atau
tempat lain untuk
mengurangi
pemakaian
material baru
l.2. Memanfaatkan material bekas
bongkaran bangunan lama
m. Melakukan
proses produksi
yang ramah
lingkungan
m.1. Melaksanakan pekerjaan
dengan Pre fabrikasi
m.2. Menggunakan material daur
ulang
m.3. Menggunakan material kayu
yang bersertifikat legal sesuai
peraturan pasal kayu
m.4. Menggunakan material lokal
(<800 km)
6 Kesehatan dan
Kenyamanan di Area
Proyek
n. Mengurangi
dampak asap
rokok
n.1. Memasang tanda dilarang
merokok di semua ruangan di
kantor proyek
n.2. Memasang tanda dilarang
merokok di lokasi kerja
n.3. Menyediakan fasilitas area
merokok (jarak 5 m) di luar
kontraktor keet dan lokasi kerja
o. Mengurangi
polusi zat kimia
berbahaya bagi
kesehatan
o.1. Tidak menggunakan material
asbes untuk atap
o.2. Tidak menggunakan lampu
merkuri untuk penerangan
o.3. Tidak menggunakan Styrofoam
untuk insulasi panas
14

p. Menjaga
kebersihan dan
kenyamanan area
proyek
p.1. Pengadaan safety net (untuk
mengurangi debu)
p.2. Penyiraman lapangan (untuk
mengurangi debu)
p.3. Pengadaan washing bay (bila
diperlukan)
2.1.4.2 Green Construction Menurut GBCI (Green Building Council I ndonesia)
Dalam GBCI (Green Building Council Indonesia) yaitu sebuah perangkat penilaian
greenship dalam dunia konstruksi, GBCI dapat dijadikan tolak ukur green construction pada
suatu bangunan.
Tabel 2.2 Green Construction Menurut GBCI (Green Building Council Indonesia)
No Materi Tujuan Tolak Ukur
1 Pengembangan lahan yang cocok
a. Lahan hijau Memelihara kehijauan kota
untuk meningkatkan kualitas
iklim mikro
Adanya area lansekap berupa
vegetasi (softscape) yang
bebas dari struktur bangunan
dan struktur sederhana taman
(hardscape)
b. Pemilihan lahan Menghindari pembangunan
di lahan hijau dan
menghindari pembukaan
lahan baru
Pembangunan berlokasi dan
merevitalisasi di atas lahan
yang bernilai negatif, seperti
tempat pembuangan akhir
(TPA), daerah yang sarana
dan prasarana minimum
c. Transportasi publik Mendorong pengguna
gedung menggunakan
transportasi umum dan
mengurangi pemakaian
kendaraan pribadi didalam
1) Menyediakan sarana dan
prasarana transportasi
umum dalam jangkauan
300 m.
2) Menyediakan fasilitas
15

pergerakan mereka di sekitar
gedung
jalur pedestrian di area
gedung menuju ke stasiun
transportasi umum
terdekat secara aman dan
nyaman
2 Konservasi dan Efisiensi Energi
a. Pemasangan meteran
sub-listrik (kWh
meter)
Mengontrol penggunaan
listrik sehingga manajemen
energi dapat terlaksana lebih
baik
Pemasangan kWh meter
untuk setiap kelompok beban
dan sistem peralatan
b. Efisiensi energi Mendorong penghematan
konsumsi energi melalui
aplikasi langkah-langkah
aplikasi energi
1) Penggunaan lampu hemat
energi (daya pencahayaan
sebesar 30%)
2) Penggunaan manajemen
sistem pada transportasi
vertikal yang sudah lulus
traffic analysis seperti
sleep mode pada escalator
atau sensor perak
3) Menggunakan peralatan
air conditioning (AC)
dengan COP minimum
10% > dari standar SNI
03-6390-2000/ AC hemat
energi
c. Pencahayaan alami Mendorong penggunaan
pencahayaan alami sehingga
dapat menghemat energi
Penggunaan pencahayaan
alami secara optimal sehingga
kebutuhan ruangan
mendapatkan intensitas
16

cahaya alami terpenuhi,
seperti letak jendela
menghadap ke timur dan
barat
d. Ventilasi Mendorong penggunaan
ventilasi secara efisien
Tidak mengkondisikan (tidak
memberi AC) pada WC,
tangga, koridor, lobi, lift
tetapi dengan menggunakan
ventilasi alami

3 Konservasi Air
a. Pemasangan meteran
air (alat meteran air)
Mengontrol penggunaan air
sehingga manajemen energi
dapat terlaksana dengan lebih
baik
Pemasangan alat meteran air
untuk setiap kelompok beban
dan sistem distribusi air
b. Penghematan
penggunaan air
Penghematan penggunaan air
bersih dapat mengurangi
beban konsumsi air bersih
dan keluaran air limbah
Penggunaan teknologi-
teknologi yang dapat
menghemat penggunaan air
bersih
c. Sumber air alternatif Menggunakan sumber air
alternatif yang diproses
sehingga menghasilkan air
bersih
1) Penggunaan salah satu
dari tiga alternatif berikut:
air kondensasi AC, air
bekas wudhu, air hujan
2) Penggunaan teknologi
yang memanfaatkan air
laut



17

4 Sumber dan Siklus Material
a. Penggunaan material
bangunan lama
Menggunakan material bekas
bangunan lama atau dari
tempat lain untuk
mengurangi penggunaan
bahan mentah baru
Menggunakan semua material
bekas/ lama setara minimal
10% dari total biaya material
b. Material ramah
lingkungan
Mengurangi jejak ekologi
dari proses ekstraksi bahan
mentah dan proses produksi
material
Menggunakan material
bersertifikasi sistem
manajemen lingkungan
minimal bernilai 30% dari
total biaya material
c. Kayu bersertifikat Penggunaan material kayu
yang dapat dipertanggung
jawabkan sumbernya untuk
melindungi kelestarian hutan
Menggunakan kayu
bersertifikat legal sesuai
dengan Peraturan Pemerintah
tentang asal kayu
d. Material regional Mengurangi jejak karbon
dari moda transportasi untuk
distribusi dan mendorong
pertumbuhan ekonomi
(daerah) dalam negeri
Menggunakan material yang
berlokasi dan pabrikasi
beradius 1000 km dari lokasi
proyek dan minimal bernilai
50% dari total biaya material,
serta material tersebut berada
dalam wilayah Republik
Indonesia dengan nilai 80%
dari total biaya material
5 Kenyamanan dan Kesehatan dalam Ruangan
a. Kenyamanan visual Mencegah terjadinya
gangguan visual akibat
iluminasi yang tidak sesuai
dengan daya akomodasi mata
Menggunakan lampu dengan
tingkat iluminasi ruangan
sesuai SNI 03-6197-2000
tentang konservasi energi
18

pada sistem pencahayaan
6 Manajemen Lingkungan Bangunan
a. Manajemen limbah
sederhana
Mendorong gerakan
pemilahan sampah secara
sederhana guna memudahkan
proses daur ulang
Pemilahan sampah
berdasarkan jenis organik dan
anorganik
b. Aktivitas polusi
konstruksi
Mendorong pengurangan
sampah ke TPA dan polusi
dari proses konstruksi
Pemilahan limbah padat
dengan limbah cair
c. Pengarahan
kelembagaan tepat
Melaksanakan kelembagaan
yang baik dan benar agar
pelaksanaan sesuai dengan
perencanaan awal
1) Melakukan prosedur
pengarahan dan pelatihan
kinerja/ sistem sesuai
dengan petunjuk GBCI
2) Memastikan seluruh
measuring adjusting
instrument/ telah
terpasang saat proses
konstruksi dan
memperhatikan spesifikasi
teknis dengan desain
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konstruksi Hijau Berdasarkan GBCI dan PT.PP





Tabel 2.3 faktor yang memengaruhi konstruksi hijau berdasarkan GBCI dan PT. PP
(Ervianto, 2012)
No Faktor GBCI PT. PP
19

1 Simbol dan siklus material

2 Kualitas udara dan kenyamanan
ruangan

-
3 Konservasi air

4 Tepat guna lahan

5 Efisiensi dan konservasi energi

6 Manajemen lingkungan bangunan

7 Kesehatan dan kenyamanan di alam
proyek
-

2.1.5 Membangun secara ekologis
Frick (2007) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan memuat empat asas
ekologis, yaitu: (a) menggunakan bahan baku alam tidak lebih cepat daripada alam mampu
membentuk penggantinya; (b) menciptakan sistem yang menggunakan sebanyak mungkin
energi terbarukan; (c) hasil samping dari aktivitas konstruksi yang berupa sisa/sampah dapat
digunakan sebagai bahan mentah untuk produksi bahan lain; (d) meningkatkan fungsi dan
keanekaragaman hayati.
Material yang digunakan dalam membangun harus memenuhi persyaratan material
ekologis seperti yang dinyatakan oleh Frick (2007): (a) eksploitasi dan produksi material
menggunakan energi sesdikit mungkin; (b) material tidak mengalami perubahan bahan
(transformasi) yang tidak dapat dikembalikan kepada alam; (c) eksploitasi, produksi,
penggunaan, dan pemeliharaan material sedikit mungkin mencemari lingkungan; (d) material
bangunan berasal dari sumber alam lokal.
2.1.6 Emisi Material Bangunan
Secara internasional telah disepakati bahwa yang dijadikan ukuran besar kecilnya
pengaruh dari suatu proses terhadap lingkungan adalah emisi gas yang disetarakan dengan
kandungan CO
2
di udara (CO
2
ekivalen). Oleh karena itu nilai yang ingin dicapai dalam
konstruksi hijau adalah meminimalkan emisi CO
2
ekivalen yang ditimbulkan oleh
sumberdaya proyek (material, peralatan, metoda) selama proses konstruksi.
20

Proses konstruksi di lapangan pada tahap pelaksanaan konstruksi diyakini merupakan sebuah
proses yang sistematis, dimana terdapat input, proses, dan output. Elemen-elemen dari input
yang memegang peran penting dalam penciptaan nilai konstruksi hijau dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu:
1. Elemen input yang secara langsung menimbulkan emisi CO
2
ekivalen adalah
a. Material sebagai salah satu komponen bangunan yang berpotensi menimbulkan
emisi CO
2
ekivalen pada kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (a) proses
pengambilan dari alam dengan menggunakan peralatan yang membutuhkan
energi; (b) proses pengolahan material/produksi yang menggunakan berbagai
jenis mesin yang membutuhkan energi; (c) distribusi produk dari sumber ke
pemakai menggunakan moda transportasi yang membutuhkan energi,
(Ervianto, 2012).
Emisi yang dihasilkan dalam produksi semen setiap satu ton adalah 500 kg
CO
2
dan merupakan salah satu kontributor yang signifikansebagai penyumbang
emisi CO
2
sebesar 8-10% dari total emisi, (Wolly T., dkk, 1997).
Proses produksi sumberdaya alam (pasir, batu, dan kerikil) tidak menimbulkan
emisi CO
2
karena material ini dihasilkan oleh alam melalui mekanisme kerja
gunung berapi. Emisi CO
2
yang dihasilkan bersumber dari pembakaran bahan
bakar moda transportasi selama proses transportasi dari sumber pengambilan
material sampai ke lokasi pekerjaan. (Ervianto, 2011).
Kayu merupakan material yang dihasilkan dari hutan dan diperoleh dengan
cara penebangan hutan yang berakibat hilangnya kesempatan hutan untuk
menyerap CO
2
sehingga konsentrasi CO
2
di udara bebas cenderung menjadi
lebih besar. Kayu olahan berupa multipleks banyak digunakan dalam proses
pembangunan khususnya cetakan beton. Dalam proses produksinya, kayu
olahan ini menimbulkan emisi sebesar 1,3 kgCO
2
(Frick, 2007).
Besi tulangan adalah salah satu material penting yang dibutuhkan dalam
membentuk komponen struktur beton bertulang. Emisi CO
2
ekivalen yang
ditimbulkan selama proses produksi besi adalah antara 2,4 kg CO
2
/kg (Frick,
2007).
21

b. Pekerja konstruksi umumnya adalah pekerja lepas yang berasal dari kampong
dan hanya bekerja manakala ada pekerjaan. Pihak pengelola proyek umumnya
menyediakan tempat tinggal berupa mes karyawan dan pekerja. Ada kalanya
letak mes pekerja jauh dengan lokasi pekerjaan. Dalam hal ini faktor pekerja
akan menimbulkan emisi CO
2
ekivalen yang bersumber dari moda transportasi
yang digunakan untuk mencapai lokasi pekerjaan dan kembali ke mes.
c. Peralatan konstruksi selalu dibutuhkan dalam kegiatan proyek, dari yang
sederhana hingga yang berat. Kebutuhan jenis dan dan kapasitas alat
bergantung jenis proyek dan tingkat kompleksitasnya. Pada umumnya proyek
konstruksi membutuhkan genset sebagai sumber energi untuk berbagai
keperluan, diantaranya untuk kepentingan lampu penerangan di lokasi proyek.
Untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan dibutuhkan peralatan yang sesuai
jenis dan kapasitasnya, misalnya tower crane, bull dozer, excavator, vibrator,
mollen, stamper, compressor, dan lain sebagainya. Peralatan ini selalu
membutuhkan energi (misal solar) untuk operasionalnya dan berpotensi
menimbulkan emisi CO
2
ekivalen.
Tabel 2.4 Faktor emisi bahan bakar minyak
Input Proses lb CO
2
/gal kg CO
2
/liter Keterangan
Motor Gasoline 19.37 2.32 1 pound = 453.59 gram;
1 gal = 3.785 liter Diesel Fuel 22.23 2.66
LPG (HD-5) 12.7 1.52
United States Environmental Protection Agency (2004)
Unit Conversions, Emissions Factor, and Other Reference Data
2. Elemen input yang secara tidak langsung memengaruhi timbulnya emisi CO
2

ekivalen adalah metode konstruksi, yaitu cara yang akan digunakan untuk
mewujudkan bangunan berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknis.
Pemilihan metode konstruksi yang tepat akan menghasilkan berbagai keuntungan,
misalnya efisiensi proses konstruksi berupa keuntungan finansial bagi kontraktor.
Dalam aspek lingkungan, efisiensi proses konstruksi berpotensi untuk
memperpendek durasi konstruksi dan mereduksi waktu operasional berbagai
22

peralatan yang terkait, sehingga konsumsi energi menjadi lebih sedikit dan
berpengaruh pada menurunnya emisi CO
2
ekivalen.
Faktor tidak langsung lainnya yang ikut memengaruhi besar kecilnya emisi CO
2

ekivalen adalah: (a) perencanaan pelaksanaan proyek; (b) keterampilan operator
peralatan ; (c) lingkungan kerja; (d) kondisi alat; (e) polusi di lokasi proyek. Jika
hal-hal seperti di atas tidak pada kondisi optimal maka berpotensi menurunkan
produktivitas alat yang berakibat pada semakin panjangnya durasi yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang membuat konsumsi energi
semakin besar sehingga meningkatkan emisi CO
2
ekivalen.
2.2.Konsep Green Roads
Green roads adalah standar yang diusulkan untuk mengukur praktik-praktik sustainable
yang terkait dengan desain dan konstruksi jalan raya (www.greenroads.us).
2.3.Perkerasan Jalan Raya
Perkerasan jalan raya adalah bagian jalan raya yang diperkeras dengan lapis konstruksi
tertentu, yang memiliki ketebalan, kekuatan, dan kekakuan, serta kestabilan tertentu agar
mampu menyalurkan beban lalu lintas di atasnya ke tanah dasar secara aman (Materi Kuliah
PPJ Teknik Sipil UNDIP).
2.3.1. Jenis Konstruksi Perkerasan dan Komponennya
Konstruksi perkerasan terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan bahan ikat yang
digunakan serta komposisi dari komponen konstruksi perkerasan itu sendiri (Materi Kuliah
PPJ Teknik Sipil UNDIP), antara lain:
1. Konstruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
a. Memakai bahan pengikat aspal
b. Sifat dari perkerasan ini adalah memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah
dasar
c. Pengaruhnya terhadap repetisi beban adalah timbulnya rutting (lendutan pada jalur
roda)
d. Pengaruhnya terhadap penurunan tanah dasar yaitu jalan bergelombang (mengikuti
tanah dasar)

23




Gambar 2.1 Komponen Perkerasan Lentur
2. Konstruksi Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
a. Memakai bahan pengikat semen portland (PC)
b. Sifat lapisan utama (plat beton) yaitu memikul sebagian besar beban lalu lintas
c. Pengaruhnya terhadap repetisi beban adalah timbulnya retak-retak pada permukaan
jalan
d. Pengaruhnya terhadap penurunan tanah dasar yaitu bersifat sebagai balok di atas
permukaan




Gambar 2.2 Komponen Perkerasan Kaku
3. Konstruksi Perkerasan Komposit (Composite Pavement)
a. Kombinasi antara perkerasan kaku dan perkerasan lentur
b. Perkerasan lentur di atas permukaan kaku atau sebaliknya




Gambar 2.3 Komponen Perkerasan Komposit



2.1.2 Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
24

Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan lapisan-lapisan perkerasannya bersifat
memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.
Konstruksi perkerasan lentur terdiri atas lapisan-lapisan yang diletakkan di atas tanah
dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima beban lalu
lintas dan menyebarkan ke lapisan yang ada di bawahnya, sehingga beban yang diterima oleh
tanah dasar lebih kecil dari beban yang diterima oleh lapisan permukaan dan lebih kecil dari
daya dukung tanah dasar.
Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari:
1. Lapisan permukaan (Surface Course)
Lapis permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas. Fungsi lapis permukaan
dapat meliputi:
a. Stuktural:
Ikut mendukung dan menyebarkan beban kendaraan yang diterima oleh
perkerasan, baik beban vertikal maupun beban horizontal (gaya geser). Untuk hal ini
persyaratan yang dituntut adalah kuat kokoh, dan stabil.
b. Non Struktural, dalam hal ini mencakup:
1) Lapis kedap air, mencegah masuknya air ke dalam lapisan perkerasan yang ada
di bawahnya.
2) Menyediakan permukaan yang tetap rata, agar kendaraan dapat berjalan dan
memperoleh kenyamanan yang cukup.
3) Membentuk permukaan yang tidak licin, sehingga tersedia koefisien gerak (skid
resistance) yang cukup untuk menjamin tersedianya keamanan lalu lintas.
4) Sebagai lapisan aus, yaitu lapis yang dapat aus yang selanjutnya dapat diganti
lagi dengan yang baru.
Lapis permukaan itu sendiri dibagi menjadi dua lapisan, yaitu:
a. Lapis Aus (Wearing Course)
Lapis aus (wearing course) merupakan bagian dari lapis permukaan yang terletak
di atas lapis antara (binder course). Fungsi dari lapis aus adalah (Nono 2007):
1) Mengamankan perkerasan dari pengaruh air.
25

2) Menyediakan permukaan yang halus.
3) Menyediakan permukaan yang kesat.
b. Lapis Antara (Binder Course)
Lapis antara (binder course) merupakan bagian dari lapis permukaan yang
terletak di antara lapis pondasi atas (base course) dengan lapis aus (wearing course).
Fungsi dari lapis antara adalah (Nono 2007):
1) Mengurangi tegangan.
2) Menahan beban paling tinggi akibat beban lalu lintas sehingga harus mempunyai
kekuatan yang cukup.
c. Lapis Pondasi Atas (Base Course)
Lapis pondasi atas adalah bagian dari perkerasan yang terletak antara lapis
permukaan dan lapis pondasi bawah atau dengan tanah apabila tidak menggunakan
lapis pondasi bawah. Fungsi lapis ini adalah:
a. Mengurangi tegangan.
b. Pemikul beban vertikal dan horizontal.
c. Lapis perkerasan bagi pondasi bawah.
d. Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)
Lapis pondasi bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis
pondasi atas dan tanah dasar. Fungsi lapis ini adalah:
a. Penyebar beban roda
b. Lapis peresapan.
c. Lapis pencegah masuknya tanah dasar ke lapis pondasi.
d. Lapis pertama pada pembuatan perkerasan.
e. Tanah Dasar (Subgrade)
Tanah dasar (subgrade) adalah permukaan tanah semula permukaan tanah galian
atau permukaan tanah timbunan yang dipadatkan dan merupakan permukaan tanah
dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya.
2.1.2.1 Bahan Penyusun Perkerasan Lentur
Bahan penyusun lapis permukaan untuk perkerasan lentur yang utama terdiri atas
bahan ikat dan bahan pokok. Bahan pokok bisa berupa pasir, kerikil, batu pecah/agregat, dan
26

lain-lain. Sedang untuk bahan ikat untuk perkerasan bisa berbeda-beda tergantung dari jenis
perkerasan jalan yang akan dipakai. Bisa berupa tanah liat, aspal/bitumen, portland cement,
atau kapus/lime.
1. Aspal
Aspal merupakan senyawa hidrokarbon berwarna coklat gelap atau hitam pekat yang
dibentuk dari unsur-unsur asphathenes, resins, dan oils. Aspal pada lapis perkerasan
berfungsi sebagai bahan ikat antara agregat untuk membentuk suatu campuran yang
kompak, sehingga akan memberikan kekuatan masing-masing agregat (Kerbs and
Walker, 1971). Selain sebagai bahan ikat, aspal juga berfungsi untuk mengisi rongga
antara butir agregat dan pori-pori yang ada dari agregat itu sendiri.
Pada temperatur ruang, aspal bersifat thermoplastic sehingga aspal akan mencair jika
dipanaskan sampai temperatur tertentu dan kembali membeku jika temperatur turun.
Bersama agregat, aspal merupakan material pembentuk campuran perkerasan jalan.
Banyaknya aspal dalam campuran perkerasan berkisar antara 4-10% berdasarkan berat
campuran, atau 10-15% berdasarkan volume campuran (Silvia Sukirman 2003).
Berdasarkan tempat diperolehnya, aspal dibedakan atas aspal alam dan aspal minyak.
Aspal alam yaitu aspal yang didapat di suatu tempat di alam, dan dapat digunakan
sebagaimana diperolehnya atau dengan sedikit pengolahan. Aspal minyak adalag aspal
yang merupakan residu pengilangan minyak bumi.
a. Aspal Minyak
Aspal minyak adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak bumi.
Setiap minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis asphaltic base crude oil yang
banyak mengandung aspal, paraffin base crude oil yang mengandung banyak
parafin, atau mixed base crude oil yang mengandung campuran antara parafin dan
aspal. Untuk perkerasan jalan umumnya digunakan aspal minyak jenis asphaltic base
crude oil. Berikut adalah klasifikasi dari aspal buatan:
1) Menurut Bahan Dasar Aspal aspal dibedakan menjadi (Suprapto, 2004):
a) Dari bahan hewani (animal origin) yaitu diperoleh dari pengolahan crude
oils. Dari proses pengolahan crude oils akan diperoleh bahan bakar dan
residu yang jika diprosen lanjut akan diperoleh aspal/bitumen.
27

b) Dari bahan nabati (vegetable origin) yaitu diperoleh dari pengolahan batu
bara/coal, dalam hal ini akan diperoleh tar.
2) Menurut Tingkat Kekerasannya, aspal minyak/aspal murni/petroleum asphalt
diklasifikasikan menjadi:
a) Aspal Keras/Aspal Panas/Aspal Semen (Asphalt Cement) merupakan aspal
yang digunakan dalam keadaan panas. Aspal ini berbentuk padat pada
keadaan penyimpanan dalam temperatur ruang (25
o
-30
o
C). merupakan jenis
aspal buatan yang langsung diperoleh dari penyaringan minyak dan
merupakan aspal yang terkeras. Berdasarkan tingkat
kekerasan/kekentalannya, maka aspal semen dibedakan menjadi:
AC 40-50
AC 60-70
AC 85-100
AC 120-150
AC 200-300
Angka-angka tersebut menunjukkan kekerasan aspal, yaitu yang paling
keras adalah AC 40-50 dan yang terlunak adalah AC 200-300. Angka
kekerasan adalah berapa dalam masuknya jarum penetrasi ke dalam contoh
aspal. Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas
atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal dengan penetrasi
tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas dengan
volume rendah. Di Indonesia pada umumnya dipergunakan aspal dengan
penetrasi 60-70 dan 80-100.
b) Aspal Cair (Cut Back Asphalt/Liquid Asphalt) bukan merupakan produksi
langsung dari penyaringan minyak kasar (crude oil), melainkan produksi
tambahan karena harus melalui proses lanjutan terlebih dahulu. Aspal cair
adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair dari hasil
penyulingan minyak bumi. Dengan demikian cut back asphalt berbentuk
cair dalam temperatur ruang.
28

Berdasarkan beban pencairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya,
aspal cair dapat dibedakan menjadi:
RC (Rapid Curing cut back) merupakan suatu produksi campuran dari
aspal semen dengan penetrasi relatif agak keras (biasanya AC 85/100)
yang dilarutkan dengan gasoline (bensin atau premium). RC merupakan
cut back asphalt yang paling cepat menguap.
MC (Medium Curing cut back) merupakan suatu produksi campuran
dari aspal semen dengan penetrasi yang lebih lunak (biasanya AC
120/150) dengan minyak yang tingkat penguapannya lebih kecil dari
gasoline yaitu kerosene.
SC (Slow Curing cut back) merupakan suatu produksi campuran dari
aspal semen dengan penetrasi lunak (biasanya AC 200/300) dengan
minyak diesel yang hampir tidak mempunyai penguapan. Aspal jenis
ini merupakan cut back asphalt yang paling lama menguap.
c) Aspal Emulsi merupakan suatu campuran aspal dengan air dan bahan
pengemulsi. Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya,, aspal emulsi
dapat dibedakan atas (Subekti, 2006):
Kationik disebut juga aspal emulsi asam merupakan aspal emulsi yang
bermuatan arus listrik positif.
Anionik disebut juga aspal emulsi alkali merupakan aspal emulsi yang
bermuatan arus listrik negatif.
Nonionik merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi,
berarti tidak menghantarkan listrik.
Aspal yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal
emulsi anionik dan kationik. Berdasarkan kecepatan pengerasannya, aspal
emulsi dibedakan atas:
RS (Rapid Setting), aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi
sehingga pengikatan yang terjadi cepat.
MS (Medium Setting)
29

SS (Slow Setting), jenis aspal emulsi yang paling lambat menguap.
b. Aspal Alam
Aspal alam ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau Buton,
dan ada pula yang diperoleh di danau seperti di Trinidad. Indonesia memiliki aspal
alam yaitu di pulau Buton, yang berupa aspal gunung, terkenal dengan nama
Asbuton (Aspal batu Buton). Asbuton merupakan batu yang mengandung aspal.
Asbuton merupakan campuran antara bitumen dengan bahan mineral lainnya
dalam bentuk batuan. Karena Asbuton merupakan yang begitu saja di alam, maka
kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi.
Untuk mengatasi hal ini, maka Asbuton mulai diproduksi dalam berbagai bentuk di
pabrik pengolahan Asbuton.
Produk Asbuton dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
1) Produk Asbuton yang masih mengandung material filler, seperti Asbuton kasar,
Asbuton halus, Asbuton mikro, dan Butonic Mastic Asphalt.
2) Produk yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses ekstraksi atau
proses kimiawai.
Lapis permukaan jalan yang dapat dibuat dari Asbuton ada beberapa (Suprapto,
2004), yaitu:

1) Seal Coat Asbuton
Lapis ini merupakan campuran antara Asbuton, bahan pelunak dengan
perbandingan tertentu dan pencampurannya dilakukan secara dingin (cold mix).
2) Sand Sheet Asbuton
Lapis ini merupakan campuran antara Asbuton, bahan pelunak, dan pasir
dengan perbandingan tertentu dan pencampurannya dilakukan secara
dingin/hangat/panas.
3) Lapis Beton Asbuton
Lapis ini merupakan campuran antara Asbuton, bahan pelunak, dan agregat
dengan gradasi rapat pada perbandingan tertentu yang dilaksanakan secara
dingin/hangat/panas.
30

4) Surface Treatment Asbuton
Lapis ini seperti halnya Seal Coat Asbuton. Sedangkan perbedaannya terletak
pada pelaksanaannya di lapangan, yaitu di atas lapis tersebut ditaburkan agregat
single size.
Berdasarkan temperatur ketika mencampur dan memadatkan campuran, suhu
pelaksanaan pencampuran bisa dilakukan secara:
1) Secara Dingin
Pencampuran dilaksanakan pada suhu ruangan. Campuran secara dingin
tidak dapat langsung dihamparkan di lapangan, tetapi harus diperam lebih
dahulu (1-3 hari) agar bahan pelunak diberi kesempatan meresap ke dalam
butiran Asbuton. Lama waktu pengeraman tergantung dari:
a) Diameter butir Asbuton, semakin besar butiran, waktu peram makin lama.
b) Kadar air yang terkandung dalam Asbuton.
c) Cuaca setempat.
d) Kekentalan bahan pelunak, makin encer peresapan akan makin cepat,
sehingga lama pengeraman makin singkat.
e) Kadar aspal dalam Asbuton.

2) Secara Hangat dan Panas
Kedua cara teersebut hampir sama kecuali:
a) Secara panas: suhu campuran diatas 100
o
C.
b) Secara hangat: suhu campuran dibawah 100
o
C.








Asbuton Padat
Asbuton pada dengan nilai penetrasi bitumen rendah ( 10 dmm) seperti asbuton padat
eks Kabungka atau yang memiliki nilai penetrasi bitumen diatas 10 dmm (missal
asbuton padat eks Lawele), namun dapat juga penggabungan dari kedua jenis asbuton
padat tersebut.
Asbuton hasil ekstraksi
Dipecah dengan Crusher Diekstrasi dengan Pelarut
(Kerosin, alogosol, naptha, normal heptan,
asam sulfat, dan trichlor ethylene (TCE))
Asbuton Butir
(memiliki ukuran butir tertentu)
31








Gambar 2.4 Bagan Alir Pengolahan Asbuton

2. Agregat
Agregat adalah sekumpulan butir-butir pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya, baik
berupa hasil alam maupun buatan (Petunjuk Pelaksanaan Laston Untuk Jalan Raya SKBI-
2.4.26.1987).
Fungsi dari agregat dalam campuran aspal adalah sebagai kerangka yang memberikan
stabilitas campuran jika dilakukan dengan alat pemadat yang tepat. Agregat sebagai
komponen utama atau kerangka dari lapisan perkerasan jalan yaitu mengandung 90%-
99% agregat berdasarkan persentase berat atau 75%-85% agregat berdasarkan persentase
volume (Silvia Sukirman, 2003, Beton Aspal Campuran Panas).
Pemilihan jenis agregat yang sesuai untuk digunakan pada konstruksi perkerasan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu gradasi, kekuatan, bentuk butir, tekstur
permukaan, kelekatan terhadap aspal, serta kebersihan dan sifat kimia. Jenis dan
campuran agregat sangat memengaruhi daya tahan atau stabilitas suatu perkerasan jalan
(Kerbs, and Walker, 1971).
2.1.Kualifikasi Agregat
Agregat dapat dikualifikasikan sebagai berikut (Silvia Sukirman, 1999):
3 Berdasarkan proses pengolahannya, agregat dapat dibedakan menjadi :
a. Agregat Alam
Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam dan dengan
sedikit proses pengolahannya dinamakan agregat alam. Dua bentuk agregat
yang sering dipergunakan yaitu :
32

1) Kerikil adalah agregat yang ukuran partikel lebih besar dari inch (6,35
mm)
2) Pasir adalahh agregat dengan ukuran partikel kecil dari inch lebih besar
dari 0,075 mmm (saringan no.200)
b. Agregat yang melalui proses pengolahan
Di gunung gunung atau bukit bukit dan di sungai sering ditemui agregat
berbentuk besar besar melebihi ukuran yang dipergunakan sebagai agregat
konstruksi perkerasan jalan. Agregat ini harus melalui proses pemecahan
terlebih dahulu supaya diperoleh :
1) Bentuk partikel bersudut, diusahakan berbentuk kubus
2) Pemukaan partikel kasar sehingga mempunyai gesekan yang baik.
3) Gradasi sesuai yang diinginkan
Proses pemecahan sebaiknya enggunkan mesin pemecah batu (stone crusher)
sehingga ukuran partikel partikel yang dihasilkan dapat terkontrol berarti
gradasi yang diharapkan dapat dicapai spesifikasi yang telah ditetapkan.
c. Agregat buatan
Agregat yang merupakan mineral filler/pengisi (partikel dengan ukuran
<0,075 mm), diperoleh dari hasil sampingan pabrik pabrik semen dan
pemecah batu.
4 Berdasarkan besar partikel partikel (ukuran butiran) agregat, dapat dibedakan
menjadi :
a. Agregat kasar adalah agregatyang tertahann pada saringan no. 4 (4,75 mm).
b. Agregat halus adalah agregat yang lolos saringan no. 4 dan tertahan saringan
no. 200 (0,075 mm).
c. Abu batu/mineral filler, merupakan bahan berbutir halus yang mempunyai
fungsi sebagai pengisi pada pembuaan campuran aspal. Filler didefinisikan
sebagai fraksi debu mineral/ agregat halus yang umumnya lolos saringan no.
200, bisa berupa kapur, debu batu, atau bahan lain, dan harus dalam keadaan
kering (kadar air aksimal 1%).
4.1 Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
33

2.1.1 Pengertian, Jenis, dan Sifat Perkerasan Kaku
Perkerasan kaku atau perkerasan beton semen adalah suatu konstruksi (perkerasan)
dengan bahan baku agregat dan menggunakan semen sebagai bahan ikatnya, (Aly, 2004).
Pada saat ini dikenal ada 5 jenis perkerasan beton semen yaitu:
1. Perkerasan beton semen tanpa tulangan dengan sambungan (Jointed Plain Concrete
Pavement).
2. Perkerasan beton semen bertulang dengan sambungan (Jointed Reinforced Concrete
Pavement).
3. Perkerasan beton semen tanpa tulangan (Continously Reinforced Concrete Pavement).
4. Perkerasan beton semen bertulang fiber (Fiber Reinforced Concrete Pavement).




34











\


Sumber: Anas Aly, Perkerasan Beton Semen 2004
Gambar 2.1 Macam-macam Perkerasan Beton Semen
Perkerasan kaku mempunyai sifat yang berbeda dengan perkerasan lentur. Pada
perkerasan kaku daya dukung perkerasan terutama diperoleh dari pelat beton. Hal ini terkait
dengan sifat pelat beton yang cukup kaku, sehingga dapat menyebarkan beban pada bidang
yang luas dan menghasilkan tegangan yang rendah pada lapisan-lapisan di bawahnya.








Sumber: Anas Aly, Perkerasan Beton Semen 2004
Gambar 2.2 Penyebaran Beban dari Lapisan Perkerasan ke Subgrade
2.1.2 Komponen Konstruksi Perkerasan Kaku
35

Pada konstruksi perkerasan beton semen, sebagai konstruksi utama adalah berupa satu
lapis beton semen mutu tinggi. Sedangkan lapis pondasi bawah (subbase berupa cement
treated subbase maupun granular subbase) berfungsi sebagai konstruksi pendukung atau
pelengkap.










Gambar 2.3 Skema Potongan Melintang Konstruksi Perkerasan Kaku
Adapun komponen konstruksi perkerasan beton semen (Rigid Pavement) adalah
sebagai berikut:


1. Tanah Dasar (Subgrade)
Tanah dasar adalah bagian dari permukaan badan jalan yang dipersiapkan untuk
menerima konstruksi di atasnya yaitu konstruksi perkerasan. Tanah dasar ini berfungsi
sebagai penerima beban lalu lintas yang telah disalurkan/disebarkan oleh konstruksi
perkerasan. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyiapan tanah dasar (subgrade)
adalah lebar, kerataan, kemiringan melintang, keseragaman daya dukung, dan
keseragaman kepadatan.
Daya dukung atau kapasitas tanah dasar pada konstruksi perkerasan kaku yang umum
digunakan adalah CBR dan modulus reaksi tanah (k).
36


Sumber: DPU Petunjuk Perencanaan Perkerasan Kaku (Beton Semen), 1985
Gambar 2.4 Korelasi Hubungan antara CBR dan Nilai (k)
2. Lapis Pondasi (Subbase)
Lapis pondasi ini terletak di antara tanah dasar dan pelat beton semen mutu tinggi.
Sebagai bahan subbase dapat digunakan unbound granular (sirtu) atau bound granular
(CTSB, Cement Trated Subbase).
Fungsi utama dari lapisan ini adalah sebagai lantai kerja yang rata dan uniform.
Apabila subbase tidak rata, maka pelat beton juga tidak rata. Ketidakrataan ini dapat
berpotensi sebagai crack inducer.
3. Tulangan
Pada perkerasan beton semen terdapat dua jenis tulangan yaitu tulangan pada pelat
beton untuk memperkuat pelat beton tersebut dan tulangan sambungan untuk
menyambung kembali bagian-bagian pelat beton yang telah terputus (diputus). Kedua
tulangan tersebut memiliki bentuk, lokasi, dan fungsi yang berbeda satu sama lain.
Adapun tulangan tersebut antara lain:
a. Tulangan Pelat
Tulangan pelat pada perkerasan beton semen mempunyai bentuk, lokasi, dan
fungsi yang berbeda dengan tulangan pelat pada konstruksi beton yang lain seperti
37

gedung, balok, dan sebagainya. Adapun karakteristik dari tulangan pelat pada
perkerasan beton semen adalah sebagai berikut:
1) Bentuk tulangan pada umumnya berupa lembaran atau gulungan. Pada
pelaksanaan di lapangan, tulangan yang berbentuk lembaran lebih baik daripada
tulangan yang berbentuk gulungan. Kedua bentuk tulangan ini dibuat oleh
pabrik.
2) Lokasi tulangan pelat beton pracetak terletak tebal pelat di sebelah atas.
3) Fungsi dari tulangan beton ini yaitu untuk memegang beton agar tidak retak
(retak beton tidak terbuka), bukan untuk menahan momen ataupun gaya lintang.
Oleh karena itu tulangan pelat beton tidak mengurangi tebal perkerasan beton
semen.
b. Tulangan Sambungan
Tulangan sambungan ada dua macam yaitu tulangan sambungan arah melintang
dan arah memanjang. Sambungan melintang merupakan sambungan untuk
mengakomodir kembang susut ke arah memanjang pelat. Sedangkan tulangan
sambungan memanjang merupakan sambungan untuk mengakomodir gerakan lenting
pelat beton.

Gambar 2.5. Sambungan Pada Konstruksi Perkerasan Kaku
Adapun ciri dan fungsi dari masing masing tulangan sambungan adalah
sebagai berikut :
38

Tulangan sambungan melintang disebut juga dowel
1) Berfungsi sebagai sliding device dan load transfer device.
2) Berbentuk polos, bekas potongan rapi dan berukuran besar.
3) Satu sisi dari tulangan melekat pada pelat beton, sedangkan satu sisi yang
4) lain tidak lekat pada pelat beton
5) Lokasi di tengah tebal pelat dan sejajar dengan sumbu jalan.
Tulangan Sambungan Memanjang
1) Tulangan sambungan memanjang disebut juga Tie Bar.
2) Berfungsi sebagai unsliding devices dan rotation devices.
3) Berbentuk deformed / ulir dan berbentuk kecil.
4) Lekat di kedua sisi pelat beton.
5) Lokasi di tengah tebal pelat beton dan tegak lurus sumbu jalan.
6) Luas tulangan memanjang dihitung dengan rumus seperti pada tulangan
melintang.
c. Sambungan atau Joint
Fungsi dari sambungan atau joint adalah mengendalikan atau mengarahkan retak
pelat beton akibat shrinkage (susut) maupun wrapping (lenting) agar teratur baik
bentuk maupun lokasinya sesuai yang kita kehendaki (sesuai desain). Dengan
terkontrolnya retak tersebut, mka retak akan tepat terjadi pada lokasi yang teratur
dimana pada lokasi tersebut telah kita beri tulangan sambungan.
Pada sambungan melintang terdapat 2 jenis sambungan yaitu sambungan susut
dan sambungan lenting. Sambungan susut diadakan dengan cara memasang bekisting
melintang dan dowel antara pelat pengecoran sebelumnya dan pengecoran berikutnya.
Sedangkan sambungan lenting diadakan dengan cara memasang bekisting memanjang
dan tie bar.
Pada setiap celah sambungan harus diisi dengan joint sealent dari bahan khusus
yang bersifat thermoplastic antara lain rubber aspalt, coal tars ataupun rubber tars.
Sebelum joint sealent dicor/dituang, maka celah harus dibersihkan terlebih dahulu dari
segala kotoran.
d. Bound Breaker di atas Subbase
39

Bound breaker adalah plastik tipis yang diletakan di atas subbase agar tidak
terjadi bounding antara subbase dengan pelat beton di atasnya. Selain itu, permukaan
subbase juga tidak boleh di - groove atau di - brush.
e. Alur Permukaan atau Grooving/Brushing
Agar permukaan tidak licin maka pada permukaan beton dibuat alur-alur
(tekstur) melalui pengaluran/penyikatan (grooving/brushing) sebelum beton disemprot
curing compound, sebelum beton ditutupi wet burlap dan sebelum beton mengeras.
Arah alur bisa memanjang ataupun melintang.