Anda di halaman 1dari 24

Air Pendingin (Cooling Water)

Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Utilitas.
Dosen pengampu: Wa Ode Cakra Nirwana, S.T., M.T.



Disusun Oleh:
Cindy Mutiara Septani (115061100111006)
Fajar Kurniawan (115061100111018)
Ferlin Rurisca Arynta D. (115061105111004)
Kumara Tejanegara (115061105111002)




PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013

Tanggal: 11 Maret 2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan penting dalam proses produksi dan kegiatan lain dalam
suatu industri. Penggunaan air industri dapat memanfaatkan air permukaan, air sebagai sumber
air. Penggunaan air permukaan dan air tanah mengharuskan untuk mengolah air. Air
merupakan kebutuhan penting dalam proses produksi dan kegiatan lain dalam suatu
industri. Untuk itu diperlukan penyediaan air bersih yang secara kualitas memenuhi standar
yang berlaku dan secara kuantitas dan kontinuitas harus memenuhi kebutuhan industri
sehingga proses produksi tersebut dapat berjalan dengan baik. Dengan adanya standar baku
mutu untuk air bersih industri, setiap industri memiliki pengolahan air sendiri-sendiri
sesuai dengan kebutuhan industri (Hardayanti, 2006).
Air pendingin merupakan salah satu jenis air yang diperlukan dalam proses industri.
Kualitas air pendingin akan mempengaruhi integritas komponen atau struktur reaktor, karena
pada dasarnya air sebagai pendingin akan berhubungan langsung dengan komponen atau struktur
reaktor. Air yang digunakan sebagai pendingin harus memenuhi persyaratan yang sesuai dengan
komponen atau struktur yang dirumuskan dalam spesifikasi kualitas air pendingin (Lestari,
2006). Dalam memenuhui spesifikasi dari air pendingin maka dilakukan pengolahan terhadap air
pendingin tersebut dengan berbagai metode dan teknologi peralatan yang bervariasi. Oleh karena
itu, dalam makalah ini kami akan mencoba menjelaskan mengenai air pendingin atau biasa
disebut dengan cooling water.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini antara lain:
1. Apakah definisi air pendingin (cooling water) itu?
2. Apa saja jenis air pendingin yang digunakan dalam proses industri?
3. Apa saja komponen sistem air pendingin?
4. Apa saja masalah yang sering terjadi dalam air pendingin?
5. Apa saja teknologi yang berhubungan dengan air pendingin?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini, antara lain:
1. Mengetahui definisi mengenai air pendingin (cooling water)
2. Mengetahui jenis air pendingin yang digunakan dalam proses industri.
3. Mengetahui komponen sistem air pendingin.
4. Memahami masalah yang sering terjadi dalam air pendingin.
5. Mengetahui teknologi yang berhubungan dengan air pendingin.




















BAB II
ISI


2.1 Air Pendingin
Sistem pendinginan adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya over heating
(panas yang berlebihan) pada mesin agar mesin bisa bekerja secara stabil. Air pendingin adalah
air limbah yang berasal dari aliran air yang digunakan untuk penghilangan panas dan tidak
berkontak langsung dengan bahan baku, produk antara dan produk akhir (KEP-
49/MENLH/11/2010). Sistem air pendingin merupakan bagian yang terintegrasi dari proses
operasi pada industri. Untuk produktifitas pabrik yang kontinu, sistem tersebut memerlukan
pengolahan kimia yang tepat, tindakan pencegahan, dan perawatan yang baik. Kebanyakan
proses produksi pada industri memerlukan air pendingin untuk efisiensi dan operasi yang baik.
Air pendingin sistem mengontrol suhu dan tekanan dengan cara memindahkan panas dari fluida
proses ke air pendingin yang kemudian akan membawa panasnya. Total nilai dari proses
produksi akan menjadi berarti jika sistem pendingin ini dapat menjaga suhu dan tekanan proses
dengan baik. Memonitor & mengatur korosi, deposisi, pertumbuhan mikroba, dan sistem operasi
sangat penting untuk mencapai Total Cost of Operation (TCO) yang optimal.
Air pendingin mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap efisiensi total engine
serta umur engine. Apabila temperatur air pendingin masuk engine terlalu tinggi, maka efisiensi
mekanis engine akan menurun dan dikhawatirkan dapat terjadi over - heatingi pada engine.
Sedang bila temperatur air terlalu rendah, maka efisiensi termal akan menurun (Handoyo, 1999).
Proses pendinginan melibatkan pemindahan panas dari satu substansi ke substansi yang lain.
Substansi yang kehilangan panas disebut cooled, dan yang menerima panas disebut coolant.
Beberapa faktor yang membuat air menjadi coolant yang baik adalah :
1. Sangar berlimpah dan tidak mahal.
2. Dapat ditangani dengan mudah dan aman digunakan.
3. Dapat membawa panas per unit volume dalam jumlah yang besar.
4. Tidak mengembang ataupun menyusut (volumenya) pada perubahan suhu dalam range
normal.
5. Tidak terdekomposisi.
Beberapa parameter penting dalam sistem air pendingin :
1. Konduktivitas mengindikasikan jumlah dissolved mineral dalam air.
2. pH, menunjukkan indikasi dari tingkat keasaman atau kebasaan dari air.
3. Alkalinitas, berupa ion carbonate (CO
3
-2
) dan ion bicarbonate (HCO
3
-
).
4. Hardness / kesadahan, menunjukkan jumlah ion calcium dan magnesium yang ada dalam
air.
Pada umumnya air digunakan sebagai media pendingin karena faktor-faktor sebagai
berikut:
1.Air merupakan malcri yang dapat diperoleh dalam jumlah besar.
2.Mudah dalam pcngaturan dan pengolahan.
3.Menyerap panas yang relatif tinggi persatuan volume.
4.Tidak mudah menyusut secara berarti dalam batasan dengan adanya perubahan temperatur
pendingin.
5.Tidak terdekomposisi.
Adapun syarat-syarat air yang digunakan sebagai media pendingin:
1.Jernih, maksudnya air harus bersih, tidak terdapat partikel-parlikel kasar yaitu batu, krikil
atau partikel-partikel halus seperti pasir, tanah dan lumut yang dapat menyebabkan air
kotor.
2.Tidak menyebabkan korosi.
3.Tidak menyebabkan fouling, fouling disebabkan oleh kotoran yang terikut saat air masuk
unit pengolahan air seperti pasir, mikroba dan zat-zat organik.
Berikut ini adalah standar industri terhadap air pendingin yang digunakan:
No. Jenis Air Limbah Parameter
Kadar Maksimum
(mg/L)
Metode Pengukuran
1. Air Pendingin
Residu Klorin 2
Standard Method 4500-
Cl
Karbon Organik
Total
5
SNI-06-6989.28-2005
atau APHA 5310
Tabel 1.1: Standar Industri Terhadap Air Pendingin (KEP-49/MENLH/11/2010)

Secara umum, industri menerapkan parameter air pendingin ialah sebagai berikut:

Tabel 1.2: Parameter Air Pendingin (Setiadi, 2007)

Ada tiga system air pendingin yang biasa digunakan di industri yaitu :
1. Once through.system
2. Open evaporative recirculating.
3. Closed non-evaporative recirculating.

2.2 Jenis Sistem Air Pendingin
2.2.1 Once through systems
Air pendingindigunakan sebagai pendingin pada heat exchanger hanya dilewatkan sekali,
selanjutnya langsung dikembalikan lagi ke badan air. Once through systems digunakan bilamana
kebutuhan air pendingin sangat banyak, ketersediaan sumber air banyak dan murah serta
memiliki fasilitas untuk menangani buangan air panas dari air pendingin yang sudah digunakan.
Once through system dimana air pendingin akan melewati HE hanya sekali. Mineral-mineral
dalam air akan relatif tetap jumlahnya, tidak berubah. Polusi suhu yang disebabkan discharge
dari sistem ini menjadi perhatian lingkungan.
Keuntungan menggunakan Once through systems :
a. Tidak diperlukan cooling tower
b. Tidak diperlukan pengolan / treatment pendahuluan
Kerugian menggunakan once through systems :
a. Korosi
b. Fouling
c. Sampah dan kotoran
d. Polusi / pencemaran temperatur di badan air

Gambar 1.1: Once through.system (Gumilar, 2011)

2.2.2 Open Evaporative Recirculating Systems
Air tawar yang berasal dari sungai atau danau dipompakan sebagai make-up cooling
tower setelah sebelumnya dilakukan treatment (sedimentasi dan koagulasi) terlebih dahulu. Air
tersebut digunakan untuk mendinginkan proses-proses di dalam pabrik.
Air pendingin yang telah panas kemudian didinginkan di cooling tower untuk kemudian
disirkulasikan kembali ke dalam pabrik. Untuk menjaga kualitas air, misalnya agar tidak terdapat
algae/bacteria dan pengendapan (scaling), maka perlu diinjeksikan beberapa jenis chemicals
tertentu. Kualitas air juga dijaga melalui mekanisme make-up dan blow-down.
Sistem ini banyak digunakan oleh pabrik yang berada dekat dengan sumber air tawar atau
jauh dari laut. Spesifikasi material untuk peralatan yang menggunakan air tawar tidak perlu
sebagus peralatan yang menggunakan air laut, karena air tawar lebih tidak korosif dibandingkan
dengan air laut. Open recirculating system banyak digunakan dalam industri. Sistem ini terdiri
dari pompa, HE, dan cooling tower. Pompa akan meresirkulasikan air melalui HE, mengambil
panasnya, lalu membuangnya di cooling tower dimana panas tersebut akan dibuang dari air
dengan cara evaporasi. Dalam sistem ini, chemical akan lebih banyak digunakan karena
komposisi air akan berubah saat evaporasi berlangsung, dimana konstituen korosi dan scaling
akan lebih pekat (Gumilar, 2011).
Air pendingin teruapkan sekitar 1% water. Kehilangan air akibat penguapan ini harus
dikompensasi oleh make up air pendingin.
Keungtungan menggunakan Open evaporative recirculating systems :
a. Jumlah kebutuhan air medikit (make up);
b. Memungkinkan untuk mengontrol korosi
Kerugian menggunakan Open evaporative recirculating systems :
a. Investasi (capital cost) lebih tinggi daripada once through;
b. Memerlukan cooling tower yang cukup besar;
c. System purge dan blowdown kemungkinan dapat mengakibatkan pencemaran
lingkungan


Gambar 1.2: Open evaporative recirculating systems (Gumilar, 2011)

2.2.3 Closed Nonevaporative Recirculating Systems
Air tawar pendingin digunakan untuk mendinginkan proses-proses didalam pabrik. Air
tawar pendingin yang telah panas didinginkan kembali di suatu secondary cooler (biasanya
plate heat exchanger) untuk selanjutnya disirkulasikan kembali secara tertutup kedalam pabrik.
Air laut dipakai untuk mendinginkan secondary cooler dengan cara hanya sekali pakai (once
through), sumber air berasal dari laut kemudian dibuang lagi ke laut. Closed Nonevaporative
Recirculating Systems yang menggunakan air pendingin yang sama dan disirkulasikan berulang
kali dalam siklus yang kontinu. Pada sistem ini, komposisi air juga relatif konstan.
Air pendingin didinginkan pada secondary heat exchanger. Tidak ada kehilangan akibat
penguapan juga tidak ada pengembalian.
Keungtungan menggunakan Closed nonevaporative recirculating systems :
a. Air pendinginyang kembali relatif bersih
b. Temperatur air pendingin memungkinkan lebih tinggi dari 100
o
C
Kerugian menggunakan Closed nonevaporative recirculating systems :
a. Investasi / capital cost sangat tinggi
b. Dibatasi oleh equipment secondary heat exchanger


Gambar 1.3: Closed nonevaporative recirculating systems (Gumilar, 2011)

2.3 Komponen Sistem Air Pendingin
2.3.1 Komponen Sistem Air Pendingin Utama
Sistem air pendingin utama meliputi kondensor, pompa air pendingin utama, dan
cooling tower. Sistem ini mempertahankan vakum pada sisi pembuangan turbin dengan
mengalirkan air pendingin yang cukup untuk mengkondensasikan uap pembuangan turbin.
2.3.1.1 Kondensor
Fungsi Kondensor adalah untuk mendinginkan (mengkondensasikan) uap bekas dari turbin
dengan cara menyemprotkan air pendingin utama melalui noozle-noozle langsung
bersingggungan dengan uap bekas sehingga terjadi perubahan phase dari uap menjadi
air.Parameter yang dipantau adalah tekanan condensor, level condensor, hot well temperatur
dan ekhaust turbin.
Pada kondensor terdapat vacuum breaker yang berfungsi untuk mengisolasi tekanan udara
luar dengan tekanan dalam ruangan kondensor sehingga kevakuman kondensor dapat
dipertahankan, alat ini akan terus dibuka selama kondensor belum vakum, dan akan ditutup
ketika kondensor vakum. Vacuum breaker digunakan untuk membuat kevakuman
kondensor sebelum dilakukan rolling turbin.
2.3.1.2 Main cooling water Pump
Main cooling water pump (MCWP) adalah pompa pendingin utama yang berfungsi untuk
memompakan air kondensat dari kondensor ke hot water basin cooling tower untuk
kemudian didinginkan.
Parameter yang dipantau adalah tekanan masuk/keluar pompa, arus dan tegangan motor,
temperatur bearing, vibrasi motor dan flow air condensat.
2.3.1.3 Cooling Tower
Menara pendingin (Cooling tower) merupakan alat yang digunakan untuk menembalikan
panas ke atmosfer dengan cara mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke
atmosfir. Menara pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke
aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Fakta bahwa air
membutuhkan biaya yang rendah, mudah didapatkan dan merupakan media yang efektif
yang digunakan sebagai penukar panas (Keister, 2008). Air yang dipompakan dari
kondensor didistribusikan kedalam bak (Hot Water Basin) yang terdapat di bagian atas
cooling tower. Bak tesebut juga dilengkapi dengan noozle yang berfungsi utuk
memancarkan air sehingga menjadi butiran butiran kecil dan didinginkan dengan cara
kontak langsung dengan udara pendingin. Setelah terjadi proses pendinginan air menuju bak
penampung (Cool Water Basin) dan seterusnya dialirkan ke kondensor yang sebelumnya
melewati 4 buah screen untuk menyaring kotoran-kotoran yang terdapat dalam air.
2.3.2 Komponen Sistem Air Pendingin Bantu
2.3.2.1 Komponen Sistem Primary I ntercooler
2.3.2.1.1 I nter Condenser and After Condensor
Inter condensor and after condensor berfungsi untuk mengkondensasikan NCG (Not
condensable gases) yang tidak dapat terkondensasi pada kondensor, gas tersebut dihisap
oleh steam ejector tingkat pertama untuk diteruskan ke inter condensor.
Gas-gas yang tidak dapat dikondensasi pada inter condenser dihisap oleh Liquid Ring
Vacuum Pump (LRVP) atau steam ejector tingkat 2 untuk diteruskan ke after condenser. Air
hasil kondensasi NCG dikembalikan ke kondensor, sedangkan sisa gas yang tidak dapat
dikondensasikan di buang ke udara.
2.3.2.1.2 I ntercooler
Intercooler berfungsi sebagai alat penukar panas antara air pendingin primer dengan air
pendingin sekunder. Pada intercooler air pendingin primer dialirkan untuk mendinginkan air
pendingin sekundary.
2.3.2.1.3 Primary Intercooler Pump (Pompa Pendingin Primer)
Primary intercooler pump adalah pompa pendingin primary, berfungsi untuk memompa air
pendingin primary dari cold basin cooling tower yang masuk ke intercooler, inter
condensor, after condensor, dan perapat poros MCWP.
2.3.2.2 Secondary I ntercooler
Secondary intercooler adalah pendingin sekundary, berfungsi untuk mendinginkan
instalasi/peralatan minyak pelumas, udara pendingin generator, dan udara kompresor.
2.3.2.2.1 Treated Water Transfer Pump
Treated water transfer pump berfungsi untuk memompa air dari water storage menuju water
header tank. Air pada tangki ini digunakan sebagai air secondary intercooler. Treated water
transfer pump terdiri dari dua buah yaitu pompa A/B, hal itu bertujuan agar pompa yang
satu bisa terus beroperasi ketika pompa lainya dilakukan pemeliharaan.
2.3.2.2.2 Lube Oil Cooler
Lube oil cooler adalah pendingin minyak pelumas setelah melumasi bearing turbin dan
generator, berfungsi untuk menjaga tingkat kekentalan minyak pelumas agar viskositas
minyak pelumas tetap sesuai standar. Prinsip kerjanya adalah memindahkan panas dari
minyak pelumas ke air pendingin .
2.3.2.2.3 Generator air Cooler
Generator air cooler adalah pendingin udara generator, berfungsi untuk menjaga
temperature udara di dalam generator agar sesuai dengan batasan operasi, prinsip kerjanya
adalah memindahkan panas dari udara yang keluar generator ke air pendingin sekundary.
2.3.2.2.4 Compressor Air Cooler
Compressor air cooler adalah pendingin udara kompresor, berfungsi untuk menjaga
temperature udara di dalam kompresor agar sesuai dengan batasan operasi, prinsip kerjanya
adalah memindahkan panas dari udara yang keluar kompresor ke air pendingin.


2.3.2.2.5 Secondary I ntercooler Pump (Pompa Pendingin Sekundary)
Secondary intercooler pump adalah pompa pendingin sekundary, berfungsi untuk memompa
air pendingin sekundary dari intercooler ke instalasi/peralatan minyak pelumas, udara
pendingin generator, dan udara kompresor (Roepandi, 2008).

2.4 Masalah dalam Air Pendingin
Permasalahan pada air pendingin, apabila tidak dikontrol dengan baik, akan
menimbulkan efek negatif pada keseluruhan proses atau operasi. Contohnya meningkatkan biaya
perawatan, perbaikan peralatan, frekuensi shutdown lebih sering (untuk cleaning), mengurangi
efisiensi transfer panas, menimbulkan pemborosan bahan bakar untuk power plant, dan lain-lain.
Beberapa permasalahan umum pada air pendingin, adalah sebagai berikut:
2.4.1 Korosi
Korosi adalah proses elektrokimia dimana logam kembali ke bentuk alaminya sebagai
oksida. Beberapa tipe korosi yang sering terjadi antara lain general attack, pitting, dan galvanic
attack. Kerugian yang ditimbulkan oleh korosi pada sistem air pendingin adalah penyumbatan
dan kerusakan pada sistem perpipaan. Kontaminasi produk yang diinginkan karena adanya
kebocoran-kebocoran, dan menurunnya efisiensi perpindahan panas.
General attack terjadi apabila korosi yang muncul terdistribusi merata dan sama di
semua permukaan logam. Sedangkan pitting terjadi ketika hanya sebagian kecil dari logam yang
mengalami korosi. Walaupun begitu, pitting sangat berbahaya karena hanya terpusat di sebagian
area saja. Galvanic attack terjadi ketika dua logam yang berbeda berkontak. Logam yang lebih
aktif akan terkorosi secara cepat.
Faktor utama yang mempangaruhi terjadinya korosi adalah kondisi air pendingin itu sendiri.
Beberapa kondisi tersebut antara lain :
1. Oksigen atau dissolved gas yang lain.
2. Dissolved dan suspended solid.
3. Alkalinitas (pH).
4. Suhu.
5. Aktifitas mikroba.
Metode yang digunakan untuk mencegah / meminimalisir korosi antara lain :
1. Memililih material anti korosi saat mendesain proses.
2. Menggunakan protective coatings seperti cat, metal plating, tar, atau plastik.
3. Melindungi dari substansi yang bersifat katiodik, menggunakan anoda dan atau yang lain.
4. Menambahkan corrosion inhibitor (anodic : molybdate, orthophosphate, nitrate, silicate
katiodik : PSO, bicarbonate, polyphosphate, zinc general : soluble oils, triazoles
copper).
2.4.2 Scale
Scale adalah lapisan padat dari material inorganik yang terbentuk karena pengendapan.
Beberapa scale yang sering terjadi berupa calcium carbonat, calcium phosphate, magnesium
silicate, dan silica.
2.4.3 Fouling
Fouling adalah akumulasi dari material solid yang berbeda dari scale. Fouling dapat
dikendalikan secara mekanikal atau dengan menggunakan pengolahan kimia. Pengendalian
fouling pada cooling system melibatkan 3 hal :
1. Prevention Pendekatan terbaik adalah mencegah foulant memasuki cooling system.
Pendekatan ini juga termasuk perlakuan mekanik ataupun chemical untuk clarify makeup
water.
2. Reduction Menghilangkan atau mengurangi jumlah foulant yang tidak dapat dicegah
memasuki sistem. Pendekatan ini melibatkan sidestream filtering atau dapat juga
melakukan pembersihan basin tower secara perodik.
3. Ongoing Control Menambahkan chemical dispersants atau back flushing exchangers.
2.4.4 Biological Contamination
Biological contamination adalah pertumbuhan tidak terkontrol dari mikroba yang dapat
menimbulkan pembentukan deposit, fouling, corrosion, dan scale. Menara pendingin (cooling
tower) merupakan bagian dari sistem air pendingin yang memberikan lingkungan yang baik
untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisma. Algae dapat berkembang dengan baik
pada bagian yang cukup mendapat sinar matahari, sedangkan "lendir" (slime) dapat berkembang
pada hampir di seluruh bagian dari sistem air pendingin ini. Mikroorganisma yang tumbuh dan
berkembang tersebut merupakan deposit (foul) yang dapat mengakibatkan korosi lokal,
penyumbatan dan penurunan efisiensi perpindahan panas. Penggunaan air yang memenuhi
persyaratan dapat mencegah timbulnya masalah-masalah dalam sistem air pendingin. Persyaratan
bagi air yang dipergunakan sebagai air pendingin tidak seketat persyaratan untuk umpan ketel.
Slime mikrobial, seperti fouling pada umumnya, mengurangi efisiensi transfer panas.
Terlebih lagi, slime mikrobial lebih bersifat insulator dari deposit pada umumnya. Slime dapat
menjerat deposit lain, membuat permasalahan menjadi lebih buruk. Mikroba dapat masuk
melalui makeup water, atau bisa juga melalui udara yang masuk ke cooling tower. Faktor yang
mendukung pertumbuhan mikroba antara lain :
1. Nutrien, hidrokarbon atau substansi organik lainnya sbg makanan dari mikroba.
2. Atmosfir, pertumbuhan organisme bergantung pada ketersediaan oksigen atau
karbondioksida.
3. Temperatur, organisme dapat membentuk slime dapat membentuk slime pada suhu 4,4
65,6 C.
Tiga golongan kimia yang umum digunakan untuk mengontrol mikroba adalah biosida
oksidasi, biosida non-oksidasi, dan biodispersan. Biosida oksidasi berperan mengoksidasi sel-sel
penting pada mikroba sehingga mikroba tersebut akan mati. Contoh dari biosida oksidasi ini,
seperti yang telah disebutkan di atas, adalah chlorine dan bromine. Biosida non-oksidasi adalah
senyawa organik yang bereaksi dengan sel-sel spesifik pada mikroba, yang secara langsung akan
menghancurkan sel-sel tersebut. Sedangkan untuk biodispersan tidak mematikan mikroba.
Biodispersan hanya mengurangi deposit microbial, yang akan terlepas dari permukaan logam,
dan kemudian dibuang (Setiadi, 2007).

2.5 Cara Pengendalian Air Pendingin
2.5.1 Pengendalian Pembentukan Kerak
Pembentukan kerak dipengaruhi oleh jumlah padatan terlarut yang ada di air. CaCO3 merupakan
kerak yang sering ditemui pada sistem air pendingin dan terbentuk jika kadar Ca dan alkalinitas
air terlalu tinggi. Pengendalian gangguan ini dimaksudkan untuk mencegah pembentukan kerak
CaCO3 dengan menjaga agar kadar Ca dan alkalinitas dalam air sirkulasi cukup rendah, dan
mencegah pengendapan kerak pada permukaan logam. Untuk maksud pertama dapat ditempuh
dua cara, yaitu :
1. Menurunkan siklus konsentrasi air yang bersirkulasi atau
2. Menambah asam, misalnya H
2
SO
4
, agar pH air di bawah 7. Dapat digunakan inhibitor kerak
berupa bahan kimia seperti polifosfat, fosfonat, ester fosfonat dan poliacrylat.

2.5.2 Pengendalian Korosi
Pengendalian korosi dilakukan dengan cara menambahkan bahan kimia yang berfungsi sebagai
inhibitor (penghambat). Inhibitor yang umum dipakai adalah polifosfat, kromat, dikromat,
silikat, nitrat ferrosianida dan molibdat. Dosis inhibitor yang digunakan harus tepat, karena suatu
inhibitor hanya dapat bekerja efektif setelah kadarnya mencapai harga tertentu. Kadar minimum
yang dibutuhkan oleh suatu inhibitor agar dapat bekerja secara efektif disebut batas kritis.
Pemakaian inhibitor yang melebihi batas kritis akan menambah biaya operasi. Jika kadar
inhibitor turun dibawah batas kritis, bukan saja menjadi tidak efektif, tetapi dapat pula
menyebabkan pitting (Setiadi, 2007).
2.5.3 Pengendalian Pembentukan Fouling dan Penghilangan Padatan Tersuspensi
Pembentukan fouling yang disebabkan oleh mikroorganisme dapat dicegah atau dikendalikan
menggunakan klorin, klorofenol, garam organometal, ammonium kuartener, dan berbagai jenis
mikrobiosida (biosida). Klorin merupakan chemicals yang paling banyak dipakai. Dosis pemakaian
klorin yang efektif adalah sebesar 0,3 sampai 1,0 ppm. Pengolahan yang tepat diperoleh secara
percobaan, karena penggunaan beberapa biosida secara bersama-sama kadang-kadang memberikan
hasil yang lebih baik dan senyawa-senyawa tersebut acap kali digunakan bersama klorin. Padatan
tersuspensi dalam air merupakan masalah yang cukup serius. Padatan tersuspensi tersebut dapat
menempel pada permukaan perpindahan panas sehingga mengakibatkan berkurangnya efisiensi
perpindahan panas. Salah satu metoda yang digunakan untuk mengendalikan padatan tersuspensi
adalah dengan melakukan filtrasi secara kontinu terhadap sebagian air yang disirkulasi.
2.5.4 Penanganan Masalah Lumut/ Mikroorganisme
Cara mengatasi tumbuhnya lumut dan mikroorganisme pada pendingin sekunder adalah
sebagai berikut:
1. Pencegahan kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi pada air pendingin. Untuk mencegah
agar sekecil mungkin kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi yang berasal dari air make-
up, dilakukan pra-pengolahan seperti penyaringan.
2. Pemakaian bahan pengontrol lumut. Fungsi dari bahan pengontrol lumut diklasifikasikan atas
sterilisasi. Karena setiap bahan pengontrol lumut mempunyai mekanisme kerja yang berbeda,
maka apabila penanggulangan lumut dilakukan, kondisi deposit lumut harus dipelajari
supaya dapat memilih bahan kimia yang sesuai.
3. Sterilisasi adalah suatu perawatan untuk merendahkan potensi pelekatan mikroorganisme
dalam sistem air pendingin dengan jalan pembunuhan mikroorganisme. Bahan kimia yang
mempunyai efek sterilisasi adalah senyawa klor, senyawa organik, nitrogen-sulfur dan lain-
lain. Mekanisme kerja bahan-bahan kimia ini diperkirakan sebagai berikut: Bahan kimia ini
mempunyai reaktivitas yang tinggi terhadap radikal SH sistein (komponen protein dalam
mikroorganisme), dan membunuh mikroorganisme dengan jalan melumpuhkan enzim
(bagian yang aktif) radikal SH, atau membunuh mikroorganisme dengan daya oksidasi dari
bahan kimia tersebut. Secara umum, klorinasi digunakan untuk sterilisasi karena efektif dan
murah. Namun, karena klor bersifat korosif terhadap metal, maka konsentrasi sisa klor
(residual chlorine) dalam air pendingin harus dikontrol meksimum 1 ppm (Cl2).
4. Peredaman pertumbuhan mikroorganisme . Ini adalah perawatan dengan menurunkan
kecepatan pertumbuhan lumut dengan jalan meredam pertumbuhan mikroorganisme dalam
sistem pendingin air sekunder. Mekanisme kerja bahan kimia yang digunakan hampir sama
dengan mekanisme kerja biocide-boicide lainnya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pada
perawatan ini perlu dipertahankan pemakaian bahan kimia secara kontinu / dalam waktu
relatif lama walaupun konsentrasi kecil. Sedangkan biocide lainnya adalah sebaliknya. Bahan
kimia yang cocok untuk perawatan secara biostatik adalah senyawa organik nitrogen-sulfur
dan senyawa-senyawa amina.
5. Pencegahan pelekatan: getah lendir yang diproduksi mikroorganisme bertalian dengan
pelekatan mikroorganisme pada permukaan padatan. Dalam pencegahan pelekatan lumut,
bahan kimia bereaksi dengan getah lendir dan kemudian menetralisasinya, sehingga daya
pelekatan mikroorganisme diturunkan atau dilemahkan. Bahan kimia yang mempunyai efek
seperti ini adalah senyawa garam ammonium kwartener, senyawa bromine dan lain-lain.
6. Pengikisan lumut: perawatan ini adalah mengikis lumut yang melekat pada system pendingin
dengan bahan-bahan kimia. Bahan kimia yang mempunyai efek mengikis adalah senyawa
klor, peroksida, senyawa amina dan lainlain. Mekanisme kerja bahan-bahan kimia ini
menurunkan daya pelekatan lumut dengan jalan denaturasi getah lendir dan membentuk
gelembung- gelembung, akibat reaksi bahan kimia dengan lumut, sehingga lumut secara
alami terkikis. Dengan demikian setelah penambahan bahan kimia, dengan menaikkan
kecepatan aliran air akan meningkatkan efek pengikisan.
7. Pendispersi lumpur: padatan tersuspensi dalam air akan menjadi gumpalan (flocs) akibat
aktivitas mikroorganisme dan terakumulasi sebagai lumpur. Pengolahan dispersi lumpur
bukan hanya meredam pembentukan gumpalan tetapi juga mendispersi gumpalan yang telah
terbentuk. Padatan tersuspensi yang terdispesi dibuang keluar melalui air blowdown sehingga
volume akumulasi lumpur dikurangi. Bahan kimia untuk pencegahan pelekatan lumut dan
pengikisan lumut juga digunakan untuk pendispersi lumut dan untuk bioflokulasi
(penggumpalan akibat mikrobiologi) padatan tersuspensi. Juga polielektrolit atau polimer
digunakan untuk pendispersi anorganik padatan tersuspensi atau peredaman penggumpalan
padatan tersuspensi.
8. Penyaringan pembantu merupakan suatu pengolahan untuk menurunkan akumulasi lumpur
dan pelekatan lumut yaitu dengan jalan penyaringan sebagian air pendingin yang
disirkulasikan untuk membuang padatan tersuspensi (Lestari, 2010).
2.5.5 Pengendalian Scale
Scale dapat dikendalikan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Membatasi konsentrasi dari mineral-mineral pembentuk scale.
2. Menambahkan asam untuk menjaga agar mineral pembentuk scale (contoh : calcium
carbonate) tetap larut.
3. Meningkatkan aliran air dengan luas permukaan yang besar.
4. Menambahkan bahan kimia anti scale.

2.6 Teknologi Cooling Tower (Menara Pendingin)
Proses perpindahan panas selalu dijumpai industri-industri kimia yang dijalankan dalam
alat penukar panas.
Penukar panas atau dalam istilah bahasa inggrisnya heat exchanger (HE) adalah suatu
alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun
sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas (super heated steam)
dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien (Maruli tua saud,2007).
Salah satu alat penukar panas adalah menara pendingin (cooling tower). Menara pendingin
merupakan merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menurunkan suhu aliran air dengan
cara mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfir.
Menara pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran
udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Sebagai akibatnya, air yang tersisa
didinginkan secara signifikan. Menara pendingin mampu menurunkan suhu air lebih dari
peralatan-peralatan yang hanya menggunakan udara untuk membuang panas. Berikut ini adalah
beberapa teknologi yang digunakan dalam pengolahan air pendingin yang digunakan dalam
berbagai industri yang disesuaikan dengan kebutuhan dan spesifikasinya (Roepandi, 2008).


Gambar 1.4: Diagram skematik sistim menara pendingin (Laboratorium Nasional Pacific Northwest, 2001)

1. Komponen menara pendingin
Komponen dasar sebuah menara pendingin meliputi rangka dan wadah, bahan pengisi, kolam
air dingin, eliminator aliran, saluran masuk udara, louvers, nosel dan fan. Kesemuanya
dijelaskan dibawah
A. Rangka dan wadah:hampir semua menara memiliki rangka berstruktur yang menunjang
tutup luar (wadah/casing), motor, fan, dan komponen lainnya. Dengan rancangan yang
lebih kecil, seperti unit fiber glass, wadahnya dapat menjadi rangka (anonim. 2010)
B. Terdapat tiga jenis bahan pengisi (fill) :
1) Media Isian Penciprat (Splash Film). Media isian splash menciptakan area
perpindahan panas yang dibutuhkan melalui cipratan air diatas media pengisi
menjadi butiran air yang kecil. Luas permukaan butiran air adalah luas permukaan
perrpindahan panas dengan udara.
2) Media Isian Selaput (Film Fill). Pada isian film, air membentuk lapisan tipis pada
sisi-sisi lembaran pengisi. Luas permukaan dari lembaran pengisi adalah luas
perpindahan panas dengan udara sekitar. Bahan pengisi film dapat menghasilkan
penghematan listrik yang signifikan melalui kebutuhan air yang lebih sedikit dan
head pompa yang lebih kecil.
3) Bahan isian/pengisi sumbatan rendah (Low-clog film fills). Bahan pengisi sumbatan
rendah dengan ukuran flute (galur) yang lebih tinggi saat ini dikembangkan untuk
menangani air yang keruh, yang merupakan pilihan terbaik untuk air laut karena
menghemat daya dan kinerjanya lebih baik dibanding isian penciprat konvensional
(mulyono,2010)

Tabel 1.3: Nilai desain berbagai jenis bahan pengisi (Mulyono, 2010)

C. Kolam air dingin (cold-water basin): Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian
bawah menara, dan menerima air dingin yang mengalir turun melalui menara dan bahan
pengisi. Kolam biasanya memiliki sebuah lubang atau titik terendah untuk pengeluaran air
dingin. Dalam beberapa desain, kolam air dingin berada dibagian bawah seluruh bahan
pengisi. Pada beberapa desain aliran yang berlawanan arah pada forced draft, air di bagian
bawah bahan pengisi disalurkan ke bak yang berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai
kolam air dingin. Sudu-sudu fan dipasang dibawah bahan pengisi untuk meniup udara naik
melalui menara. Dengan desain ini, menara dipasang pada landasannya, memberikan
kemudahan akses bagi fan dan motornya.
D. Saluran udara masuk: merupakan titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk
bisa berada pada seluruh sisi menara (desain aliran melintang) atau berada dibagian bawah
menara (desain aliran berlawanan arah).
E. Louvers: pada umumnya, menara dengan aliran silang memiliki saluran masuk louvers.
Kegunaan louvers adalah untuk menyamakan aliran udara ke bahan pengisi dan menahan air
dalam menara. Beberapa desain menara aliran berlawanan arah tidak memerlukan louver.
F. Nosel: Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi bahan pengisi. Distribusi air yang
seragam pada puncak bahan pengisi adalah penting untuk mendapatkan pembasahan yang
benar dari seluruh permukaan bahan pengisi. Nosel dapat dipasang dan menyemprot dengan
pola bundar atau segi empat, atau dapat menjadi bagian dari rakitan yang berputar seperti
pada menara dengan beberapa potongan lintang yang memutar.
G. Fan: Fan aksial (jenis baling-baling) dan sentrifugal keduanya digunakan dalam menara.
Umumnya fan dengan baling-baling/propeller digunakan pada menara induced draft dan baik
fan propeller dan sentrifugal dua-duanya ditemukan dalam menara forced draft. Tergantung
pada ukurannya, jenis fan propeller yang digunakan sudah dipasang tetap atau dengan dapat
dirubah-rubah/ diatur. Sebuah fan dengan baling-baling yang dapat diatur tidak secara
otomatis dapat digunakan diatas range yang cukup luas sebab fan dapat disesuaikan untuk
mengirim aliran udara yang dikehendaki pada pemakaian tenaga terendah. Baling-baling
yang dapat diatur secara otomatis dapat beragam aliran udaranya dalam rangka merespon
perubahan kondisi beban.









2.6.1 Jenis-Jenis Menara Pendingin
1. Menara pendingin jenis natural draft merupakan menara pendingin jenis natural draft atau
hiperbola menggunakan perbedaan suhu antara udara ambien dan udara yang lebih panas
dibagian dalam menara. Begitu udara panas mengalir ke atas melalui menara (sebab udara
panas akan naik), udara segar yang dingin disalurkan ke menara melalui saluran udara
masuk di bagian bawah. Tidak diperlukan fan dan hampir tidak ada sirkulasi udara panas
yang dapat mempengaruhi kinerja. Kontruksi beton banyak digunakan untuk dinding
menara dengan ketinggian hingga mencapai 200 m. Menara pendingin tersebut hanya
digunakan untuk jumlah panas yang besar sebab struktur beton yang besar cukup mahal.
Gambar 1.5: Natural Draft Cooling Tower (Laboratorium Nasional Pacific Northwest, 2001)

2. Menara Pendingin Draft Mekanik merupakan menara draft mekanik memiliki fan yang
besar untuk mendorong atau mengalirkan udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun
diatas permukaan bahan pengisi, yang membantu untuk meningkatkan waktu kontak antara
air dan udara hal ini membantu dalam memaksimalkan perpindahan panas diantara
keduanya. Laju pendinginan menara draft mekanis tergantung pada banyak parameter
seperti diameter fan dan kecepatan operasi, bahan pengisi untuk tahanan sistim dll. Menara
draft mekanik tersedia dalam range kapasitas yang besar. Menara tersedia dalam bentuk
rakitan pabrik atau didirikan dilapangan sebagai contoh menara beton hanya bisa dibuat
dilapangan. Banyak menara telah dibangun dan dapat digabungkan untuk mendapatkan
kapasitas yang dikehendaki. Jadi, banyak menara pendingin yang merupakan rakitan dari
dua atau lebih menara pendingin individu atau sel. Jumlah sel yang mereka miliki,
misalnya suatu menara delapan sel, dinamakan sesuai dengan jumlah selnya. Menara
dengan jumlah sel banyak, dapat berupa garis lurus, segi empat, atau bundar tergantung
pada bentuk individu sel dan tempat saluran udara masuk ditempatkan pada sisi atau
dibawah sel.

Gambar 1.6: Menara Pendingin Draft Mekanik (Laboratorium Nasional Pacific Northwest, 2001)











BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ialah sebagai berikut:
1. Air pendingin adalah air limbah yang berasal dari aliran air yang digunakan untuk
penghilangan panas dan tidak berkontak langsung dengan bahan baku, produk antara
dan produk akhir.
2. Ada tiga system air pendingin yang biasa digunakan di industri yaitu : Once
through.system, Open evaporative recirculating, Closed non-evaporative recirculating.
3. Sistem air pendingin utama meliputi kondensor, pompa air pendingin utama, dan
cooling. tower serta dilengkapi dengan beberapa komponen bantu.
4. Masalah dalam air pendingin ialah, korosi, scale, fouling, dan biological contamination.
5. Menara pendingin jenis natural draft dan menara pendingin mekanik draft merupakan
dua teknologi menara pendingin yang banyak digunakan.

3.2 Saran
Sebaiknya dalam perancangan sebuah pabrik memperhatikan aspek-aspek yang
berpengaruh dalam penggunaan air pendingin dan parameter yang mengaturnya untuk
memaksimalkan efisiensi dan nilai ekonomi dari proses produksi.










DAFTAR PUSTAKA

Gumilar, Arie. 2011. Sistem air Pendingin. Jakarta: STE.
Handoyo, Ekadewi. 1999. Pengaruh Temperatur Air Pendingin Terhadap Konsumsi Bahan
Bakar Motor Diesel Stasioner di Sebuah Huller. Surabaya: Universitas Eka Petra.
Hardayanti, Nurandani. 2006. Studi Evaluasi Instalasi Pengolahan Air Bersih Untuk Kebutuhan
Domestik Dan Non Domestik. Semarang: Universitas Diponegoro.
Keister, Timothy. 2008. Cooling Water Management Basic Principles and Technology. New
York: ProChemTech International.
Lestari, Erlina. 2010. Pengaruh Bioksida Pengoksidasi Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme
Pada Air Pendingin Sekunder RSG-GAS. Banten: ISSN 1978-8738.
Mulyono. Analisa Beban Kalor Menara Pendingin Basah Induced-Draft Aliran Lawan Arah.
Semarang; Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang. 2010.
Roepandi, Opan.2008. Pengoperasian Sistem Air Pendingin. Surabaya: PT. Indonesia Power.
Setiadi, Tjandra. 2007. Pengolahan dan Penyediaan Air. Bandung:ITB.