Anda di halaman 1dari 16

1

AUDIT INVESTIGASI
Suatu bentuk audit atau pemeriksaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengungkap
kecurangan atau kejahatan dengan menggunakan pendekatan, prosedur dan teknik-teknik
yang umumnya digunakan dalam suatu penyelidikan atau penyidikan terhadap suatu
kejahatan.
Karena tujuan audit investigasi adalah untuk mengidentifikasi dan mengungkap kecurangan
atau kejahatan, maka pendekatan, prosedur dan teknik yang digunakan di dalam audit
investigatif relatif berbeda dengan pendekatan, prosedur dan teknik yang digunakan di dalam
audit keuangan, audit kinerja atau audit dengan tujuan tertentu lainnya.
Dalam audit investigatif, seorang auditor memulai suatu audit dengan praduga/ indikasi akan
adanya kemungkinan kecurangan dan kejahatan yang akan diidentifikasi dan diungkap
melalui audit yang akan dilaksanakan. Kondisi tersebut, misalnya, akan mempengaruhi siapa
yang akan diwawancarai terlebih dahulu atau dokumen apa yang harus dikumpulkan terlebih
dahulu. Selain itu, dalam audit investigatif, jika memiliki kewenangan, auditor dapat
menggunakan prosedur dan teknik yang umumnya digunakan dalam proses penyelidikan dan
penyidikan kejahatan, seperti pengintaian dan penggeledahan.
Auditor sebagai pelaksana Audit Investigasi
Audit investigatif terhadap indikasi korupsi bisa dilaksanakan oleh auditor di lembaga negara
dan lembaga pemerintah serta auditor di lembaga non-pemerintah. Pelaksanaan audit
investigatif di lembaga negara dan lembaga pemerintah terikat kepada ketentuan yang
terdapat di dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara atau SPKN. Sementara itu,
pelaksanaan audit investigatif oleh auditor di lembaga non-pemerintah dapat mengacu kepada
standar pemeriksaan yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk
mengeluarkan standar seperti itu, di Indonesia misalnya Institut Akuntan Publik Indonesia
atau standar pemeriksaan yang lain tergantung kepada keterikatan antara auditor dengan
pemberi mandat audit.
Kualifikasi Auditor
Audit investigatif seharusnya dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai pengalaman
dan keahlian dalam melaksanakan audit investigatif. Auditor yang belum memiliki
pengalaman dan keahlian harus mendapat bimbingan dari auditor lain yang memiliki
pengalaman dan keahlian audit investigatif. Auditor investigatif juga perlu mempunyai
pemahaman yang cukup tentang hal-hal yang akan diaudit terutama menyangkut peraturan
yang berlaku serta proses bisnis yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diaudit. Secara
2


khusus, auditor yang akan melaksanakan audit investigatif juga harus mempunyai
pemahaman yang cukup tentang ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan hal-hal
yang akan diaudit maupun ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan pengungkapan
kejahatan misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP.
Pendekatan Audit Investigasi
Sebagaimana halnya penyelidikan dan penyidikan, audit investigatif bisa dilaksanakan secara
REAKTIF atau PROAKTIF.
A. REAKTIF; Audit investigatif dikatakan bersifat reaktif apabila auditor melaksanakan
audit setelah menerima atau mendapatkan informasi dari pihak lain mengenai
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang
bersifat reaktif umumnya dilaksanakan setelah auditor menerima atau mendapatkan
informasi dari berbagai sumber informasi misalnya dari auditor lain yang
melaksanakan audit reguler, dari pengaduan masyarakat, atau karena adanya
permintaan dari aparat penegak hukum. Karena sifatnya yang reaktif maka auditor
tidak akan melaksanakan audit jika tidak tersedia informasi tentang adanya dugaan
atau indikasi kecurangan dan kejahatan.
B. PROAKTIF; audit investigatif dikatakan bersifat proaktif apabila auditor secara aktif
mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi tersebut untuk menemukan
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan sebelum melaksanakan audit
investigatif. Auditor secara aktif mencari, mengumpulkan informasi dan menganalisis
informasi-informasi yang diperoleh untuk menemukan kemungkinan adanya
kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat proaktif perlu dilakukan
pada area atau bidang-bidang yang memiliki potensi kecurangan atau kejahatan yang
tinggi. Audit yang bersifat proaktif dapat menemukan kemungkinan adanya
kecurangan dan kejahatan secara lebih dini sebelum kondisi tersebut berkembang
menjadi kecurangan atau kejahatan yang lebih besar. Selain itu Audit investigatif
yang bersifat proaktif juga dapat menemukan kejahatan yang sedang atau masih
berlangsung sehingga pengumpulan bukti untuk penyelidikan, penyidikan dan
penuntutan kejahatan tersebut lebih mudah dilaksanakan.
Hasil dari suatu audit investigatif, baik yang bersifat reaktif maupun proaktif dapat digunakan
sebagai dasar penyelidikan dan penyidikan kejahatan oleh aparat penegak hukum.
Berdasarkan hasil audit tersebut, aparat penegak hukum akan mengumpulkan bukti-bukti
3


yang relevan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku untuk kepentingan penuntutan dan
pemeriksaan di pengadilan.
Mekanisme Audit
Mekanisme dalam melakukan Audit Investigasi, yaitu:
1. Mengumpulkan data dan informasi serta menganalisis adanya indikasi korupsi
Audit investigatif yang bersifat proaktif dimulai dengan pengumpulan data dan
informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diaudit. Terdapat sejumlah
besar data dan informasi yang dapat dikumpulkan dari berbagai sumber untuk
mengidentifikasi adanya indikasi kecurangan dan kejahatan. (misalnya data aliran
dana keluar perusahaan, data kekayaan orang-orang yang menjadi key person di
perusahaan, informasi dari media massa, dsb). Selanjutnya berbagai data dan
informasi tersebut dianalisis sesuai dengan tujuan dari audit investigatif yang akan
dilaksanakan.
2. Mengembangkan hipotesis kejahatan dan merencanakan audit; diantaranya:
Lakukan analisis terhadap perkembangan produk perusahaan di pasaran, bandingkan
dengan perusahaan sejenis, analisis rugi karena apa?
Dapatkan informasi mengenai siapa yang berwenang/ melakukan otorisasi uang
keluar dengan nominal yang signifikan, dll
3. Melaksanakan audit untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung hipotesis
Dalam melaksanakan audit investigatif maka auditor harus menerapkan pendekatan
yang relatif berbeda dengan pendekatan yang dilaksanakan dalam audit non
investigative, diantaranya adalah:
Auditor melaksanakan wawancara terhadap saksi yang mendukung audit dan
menganalisa dokumen yang tersedia;
Auditor menggunakan bukti tidak langsung yang tersedia untuk meyakinkan saksi-
saksi agar bisa mendapatkan bukti-bukti yang secara langsung menunjukkan
terjadinya kecurangan atau kejahatan;
Jika sudah mendapatkan bukti-bukti yang cukup, auditor dapat mewawancarai orang-
orang yang diduga melakukan kecurangan atau kejahatan terutama untuk
membuktikan adanya unsur niat atau kesengajaan.
Auditor juga harus mampu mengidentifikasi dan mengungkap adanya indikasi/
keberadaan fraud dengan pengungkapkan mengenai:
What/ Apa yang menjadi masalah indikasi fraud dalam perusahaan?
4


Who/ Siapa yang diduga/ terindikasi melakukan fraud?
Where/ Dimana indikasi suatu fraud terjadi?
When/ Kapan pelaku melakukan fraud tersebut?
Why/ Mengapa fraud bisa terjadi di perusahaan?
How(how much)/ Bagaimana fraud bisa terjadi? dan berapa besar kerugian akibat
fraud tersebut?
Dokumentasi Audit; auditor harus mendokumentasikan hasil auditnya dalam kertas
kerja audit, kertas kerja akan direview team leader dan manajer audit (Partner in
Charge) dan dikumpulkan serta disusun secara sistematis di dalam suatu tempat
penyimpanan dokumen
Penyelesaian Pelaksanan Audit; Jika auditor telah melaksanakan program kerja
pemeriksaan yang diperlukan dan mengumpulkan bukti-bukti yang dapat menjawab
pertanyaan 5W+H yang ada maka auditor dapat menghentikan audit dan menyusun
Laporan Hasil Audit Investigatif
4. Penyusunan Laporan Hasil Audit
Setelah selesai melaksanakan audit maka Ketua Tim Audit menyusun laporan audit
investigatif, yang disusun dengan memperhatikan ketentuan penyusunan laporan
audit investigatif sebagai berikut:
1. Akurat dalam arti bahwa seluruh materi laporan misalnya menyangkut kecurangan
atau kejahatan yang terjadi serta informasi penting lainnya, termasuk penyebutan
nama, tempat atau tanggal adalah benar sesuai dengan bukti-bukti yang sudah
dikumpulkan;
2. Jelas dalam arti bahwa laporan harus disampaikan secara sistematik dan setiap
informasi yang disampaikan mempunyai hubungan yang logis. Sementara itu, istilah-
istilah yang bersifat teknis harus dihindari dan kalau tidak bisa dihindari harus
dijelaskan secara memadai;
3. Berimbang dalam arti bahwa laporan tidak mengandung bias atau prasangka dari
auditor yang menyusun laporan atau pihak-pihak lain yang dapat mempengaruhi
auditor. Laporan hanya memuat fakta-fakta dan tidak memuat opini atau pendapat
pribadi auditor
4. Relevan dalam arti bahwa laporan hanya mengungkap informasi yang berkaitan
langsung dengan kecurangan atau kejahatan yang terjadi;
5


5. Tepat waktu dalam arti bahwa laporan harus disusun segera setelah pekerjaan
lapangan selesai dilaksanakan dan segera disampaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.



AUDIT FORENSIK
Audit forensik merupakan audit gabungan keahlian yang mencakup keahlian akuntansi,
auditing maupun bidang hukum/perundangan dengan harapan bahwa hasil audit tersebut akan
dapat digunakan untuk mendukung proses hukum di pengadilan maupun kebutuhan hukum
lainnya. Audit forensik dilakukan dalam rangka untuk memberikan dukungan keahlian dalam
proses legal pemberian keterangan ahli dalam proses litigasi/litigation. Audit forensik yang
sebelumnya dikenal dengan akuntansi forensik mengandung makna antara lain yang
berkenaan dengan pengadilan. Selain itu, juga sesuatu yang berkenaan dengan penerapan
pengetahuan ilmiah pada permasalahan hukum.
Menurut Editor in chief dari Journal of Forensic Accounting D. Larry Crumbley bahwa
secara sederhana dapat dikatakan, bahwa akuntansi forensik adalah akuntansi yang akurat
untuk tujuan hukum, artinya akuntansi yang dapat bertahan dalam kancah perseteruan selama
proses pengadilan atau proses peninjauan judisial atau administratif. Secara makro cakupan
audit forensik meliputi investigasi kriminal, bantuan dalam konteks perselisihan pemegang
saham, masalah gangguan usaha (business interupstions)/jenis lain dan klaim assuransi,
maupun business/employee fraud investigation.
Berkaitan dengan istilah fraud dalam judul tersebut dapat dimaknai sebagai serangkaian kata
perbuatan yang melawan hukum/illegal acts yang dilakukan dengan sengaja dan merugikan
pihak lain. Perbuatan yang merugikan tersebut antara lain bisa berbentuk korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN), kecurangan, penyelewengan, pencurian, penyogokan, manipulasi,
penggelapan, penjarahan, penipuan, penyelundupan, salah saji. Perbuatan tersebut secara
keseluruhan merupakan perbuatan yang menyimpang etika dan kepatutan/abuse
Audit investigasi mendahului forensik secara kontekstual, perlu ditingkatkan pemahaman
yang maknanya merupakan audit yang bersifat khusus utamanya yang ditujukan untuk
mengungkap kasus-kasus atau kecurangan maupun penyimpangan-penyimpangan yang
memiliki indikasi Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Audit investigasi merupakan
6


kegiatan pengumpulan fakta dan bukti yang dapat diterima dalam sistim hukum yang berlaku
dengan tujuan untuk mengungkapkan terjadinya kecurangan/fraud.
Menurut Centre of International Crime Prevention/CICP dan UN Office for Drug Control and
Crime Prevention (UN-ODCCP) mengelompokkan dalam 10 bentuk korupsi yaitu:
(i) Pemalsuan/Fraud, (ii) Penyuapan/Bribery, (iii) Penggelapan/Emblezzlement, (iv)
Komisi/Commision, (v) Pemerasan/Extortion, (vi) Pilih kasih/Favoritism, (vii)
Penyalahgunaan wewenang/Abuse of Discretion, (viii) Nepotisme/Nepotism, (ix) Bisnis
orang dalam/Insider Trading, dan (x) Sumbangan Illegal/Illegal contribution.
Theodorus M. Tuanakotta menyampaikan beberapa kondisi yang bisa mengidentifikasikan
risiko terjadinya kecurangan yaitu lemahnya manajemen yang tidak bisa menerapkan
pengendalian intern yang ada atau tidak bisa mengawasi proses pengendalian. Pemisahan
tugas yang tidak jelas, terutama yang berkaitan dengan tugas-tugas pengendalian dan
pengamanan sumberdaya. Transaksi-transaksi yang tidak lazim dan tanpa penjelasan yang
memuaskan. Kasus dimana pegawai cenderung menolak liburan atau menolak promosi.
Dokumen-dokumennya hilang atau tidak jelas, atau manajemen selalu menunda memberikan
informasi tanpa alasan yang jelas. Informasi yang salah atau membingungkan dan
pengalaman audit atau investigasi yang lalu dengan temuan mengenai kegiatan-kegiatan yang
perlu dipertanyakan atau bersifat kriminal.
Seperti telah disinggung dalam uraian tersebut bahwa audit ini tidak sama dengan
pelaksanaan audit secara umum, audit forensik lebih menekankan pada hal-hal atau tindakan
yang diluar kewajaran atau diluar kebiasaan maupun yang seringkali dikatakan pengecualian
maupun keanehan (exception, addities, irregularities) dan pola tindakan (pattern of conduct)
daripada hal-hal yang sifatnya normatif yaitu kesalahan (error) dan keteledoran (ommisions)
seperti audit umumnya. Dapat dikatakan bahwa audit forensik merupakan suatu metodologi
dan pendekatan khusus dalam menilisik kecurangan (fraud), atau audit yang bertujuan untuk
membuktikan ada atau tidaknya fraud yang dapat digunakan dalam proses litigasi.
Upaya penajaman atas permasalahan dari audit investigasi melalui teknologi forensik,
terutama untuk menguji bahan bukti audit yang bersifat khusus utamanya yang ditujukan
untuk mengungkap kasus-kasus atau kecurangan maupun penyimpangan-penyimpangan yang
memiliki indikasi merugikan keuangan Negara, modus operandi, pihak-pihak yang terlibat,
peraturan perundangan yang dikangkangi, kapan terjadinya kejadian, lokus kejadian,
kerugian yang ditimbulkan, dan alat bukti perkara sesuai dengan Pasal 184 ayat (1) KUHAP
berupa keterangan saksi, keterangan ahli, bukti surat, petunjuk, maupun keterangan terdakwa.
7


Tentunya runtutan kejadian perkara tersebut harus dituangkan dalam berita acara permintaan
keterangan (BAPK) dari pihak yang terkait dengan kejadian perkara dimaksud.
Dalam audit forensik ini secara normatif auditor dibebani tuntutan untuk dapat memperoleh
bukti dan alat bukti yang dapat mengungkap adanya tindak pidana fraud. Selain itu, alat bukti
hasil audit forensik dimaksud untuk digunakan oleh aparat penegak hukum (APH) untuk
dikembangkan menjadi alat bukti yang sesuai dengan yang tercantum dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) seperti tersebut pada uraian diatas dalam rangka
mendukung litigasi peradilan. Alat bukti yang cukup dikembangkan tersebut selanjutnya
dilakukan analisis yang merupakan tanggungjawab auditor dalam upaya pembuktian sampai
menemukan alat bukti sesuai ketentuan, sedangkan penetapan terjadinya fraud maupun salah
tidaknya seseorang merupakan wewenang APH, dalam hal ini alat bukti dan keyakinan
hakim pengadilan.
Bukti Tindak Pidana
Bukti yang diperoleh auditor harus cukup, mengingat seringnya dampak yang akan dihadapi
oleh pihak-pihak yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejadian kecurangan. Dan
auditor dapat menghadapi tuntutan hukum dari pihak yang merasa dirugikan akibat kesalahan
auditor yang mengambil simpulan dari fakta-fakta yang tidak lengkap. Standar audit Aparat
Pengawasan Fungsional Pemerintah (SA-APFP) SK Kepala Balai Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan No Kep.378/K/1996 tentang Standar Pelaksanaan Audit APFP bahwa Bukti
Audit yang relevan, kompeten dan cukup harus diperoleh sebagai dasar yang memadai untuk
mendukung pendapat simpulan dan saran. Maknanya Relevan yaitu logis mendukung
pendapat/kesimpulan; Kompeten yaitu sah dan dapat diandalkan menjamin kesesuaian
dengan fakta, dan Cukup dalam arti jumlah bukti untuk menarik kesimpulan.
Mengumpulkan bukti.
Tahapan untuk mendapatkan keyakinan bahwa bukti yang didapatkan/diidentifikasi dapat
diandalkan (leading) atau tidak dapat diandalkan (misleading). Bila tidak, maka harus
dievaluasi untuk menentukan apakah audit harus diselesaikan sebagaimana yang
direncanakan. Bukti dapat diperoleh dari saksi, korban dan pelaku; Pencarian dan
penggeledahan; Penggunaan alat bantu (computer), dan tenaga ahli
Evaluasi bukti.
Merupakan tahapan yang paling kritis sebab pada tahap ini akan ditentukan diperluas atau
tidaknya untuk mendapatkan informasi tambahan sebelum simpulan diambil dan laporan
disusun. Kegiatan mencakup evaluasi relevansi dapat diterima dan kompetensi. Evaluasi
8


bukti dilakukan bila seluruh bukti terkait telah diperoleh. Hal ini dilakukan untuk (i) menilai
kasus terbukti atau tidak kebenarannya; (ii) evaluasi berkala untuk menilai kesesuaian
hipotesis dengan fakta yang ada, (iii) perlu tidaknya pengembangan suatu bukti, (iv)
antisipasi dengan urutan proses kejadian (sequence) dan kerangka waktu kejadian/time
frame). Teknis analisis bukti meliputi (i) Find, (ii) Read and interpret documents, (iii)
Determinate relevance, (iv) verify the evidence, (v) assemble the evidence, dan (vi) Draw
conclusion.
Theodorus M Tuanakotta mengutip standar yang dirumuskan K.H. Spencer Pickett dan
Jennifer Pickett dengan 7 (tujuh) standar untuk melakukan investigasi terhadap fraud, yaitu :

1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktek terbaik yang diakui/accepted best
practices)
2. Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian/due care sehingga bukti-bukti
tadi dapat diterima di pengadilan
3. Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks;
dan jejak audit tersedia.
4. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak azasi pegawai dan senantiasa
menghormatinya.
5. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan,
dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus
hukum administratif maupun hukum pidana.
6. Cakup seluruh subtansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis
ditinjau dari segi waktu.
7. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan,
pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga,
pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia, ikuti tatacara atau protokol,
dokumentasi dan penyelenggaraan catatan, keterlibatan polisi, kewajiban hukum, dan
persyaratan mengenai pelaporan.
Theodorus M Tuanakotta mengutip standar yang dirumuskan K.H. Spencer Pickett dan
Jennifer Pickett dengan 7 (tujuh) standar untuk melakukan investigasi terhadap fraud, yaitu :
1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktek terbaik yang diakui/accepted best
practices)
9


2. Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian/due care sehingga bukti-bukti
tadi dapat diterima di pengadilan
3. Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks;
dan jejak audit tersedia.
4. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak azasi pegawai dan senantiasa
menghormatinya.
5. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan,
dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus
hukum administratif maupun hukum pidana.
6. Cakup seluruh subtansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis
ditinjau dari segi waktu.
7. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan,
pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga,
pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia, ikuti tatacara atau protokol,
dokumentasi dan penyelenggaraan catatan, keterlibatan polisi, kewajiban hukum, dan
persyaratan mengenai pelaporan.
Berdasarkan overview mengenai audit investigasi dan audit forensik dibawah ini merupakan
contoh dari hasil audit tersebut:
AUDIT INVESTIGASI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Dari audit investigatif terhadap Laporan pengaduan masyarakat terhadap dugaan korupsi oleh
mantan pejabat Bupati Minahasa Selatan di Amurang diidentifikasikan sejumlah
penyimpangan yaitu :
1. Mark Up pembelian mobil dinas (kendaraan bermotor roda empat);
2. Mark Up pembelian motor dinas (kendaraan bermotor roda dua);
3. Dana Bencana Alam di Kecamatan Belang dan Kecamatan Tenga sebesar
Rp1.224.800.000,00;
Pekerjaan normalisasi dan pembuatan tanggul banjir sungai owisang Kecamatan
Belang sebesar Rp499.900.000,00.
Pekerjaan Normalisasi dan Perkuatan Tebing Sungai Tongop Desa Tawaang
Kecamatan Tenga sebesar Rp349.900.000,00.
10


Pekerjaan penanganan banjir Desa Molinow Bawah Kecamatan Tenga sebesar
Rp150.000.000,00.
Bantuan Untuk Desa Pakuure I, II dan III sebesar Rp225.000.000,00.
4. Dana Bea Siswa
Bupati Minahasa Selatan (Sdr. Drs. R. M. Luntungan), tidak mengeluarkan Surat Keputusan
berupa penetapan siswa SD, SMP, dan SMU/K serta mahasiswa penerima beasiswa dan
bantuan perguruan tinggi.
B. Rekomendasi
Berdasarkan penyimpangan, modus operandi, pihak yang diindikasikan terlibat, serta
indikasi unsur tindak pidana yang telah diidentifikasikan dan setelah didapatkan alat bukti,
kemudian dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi adanya kemahalan harga atas
pengadaan kendaraan bermotor roda empat. Tim audit investigasi merekomendasikan agar
hasil audit investigasi ini ditindaklanjuti dengan penyerahan laporan ini kepada Kejaksaan
agar dapat segera diteruskan dengan proses penyidikan, namun sudah terdapat unsur-unsur
positif yang meringankan, yaitu pihak rekanan (Sdr. Ari Suroto, Pimpinan Cabang PT. Astra
Internasional Tbk Daihatsu Manado) telah menyadari kesalahannya dan telah bersedia
menyetor ke Kas Daerah atas kerugian daerah akibat perbuatannya sebesar
Rp407.790.000,00, sesuai dengan bukti surat tertanggal 14 Desember 2005.
KESIMPULAN INDIKASI TERPENUHINYA UNSUR TINDAK PIDANA KORUPSI
a. Mark Up pembelian mobil dinas (kendaraan bermotor roda empat);
Berdasarkan investigasi yang dilakukan, Tim Audit Investigatif berkesimpulan telah terjadi
penyimpangan dalam pengadaan kendaraan dinas roda empat pada Pemerintah Kabupaten
Minahasa Selatan di Amurang yaitu :
1) Drs. H.D. Waworuntu, Sekretaris Daerah Kabupaten dalam kedudukannya sebagai a.n.
Pnj. Bupati Minahasa Selatan, menyetujui dan menandatangani persetujuan prinsip
Penunjukan langsung Tanpa Lelang, memberikan pengesahan atas penetapan harga
penunjukan langsung.
2) Drs. O.W. Ch. Tumundo, sebagai Ketua Panitia Pengadaan tidak menyusun Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) untuk pengadaan kendaraan roda empat.
3) Drs. O.W. Ch. Tumundo, sebagai Ketua Panitia Pengadaan tidak melaksanakan negosiasi
atas harga penawaran yang diajukan dan menggunakan harga penawaran sebagai harga yang
diusulkan untuk ditetapkan sebagai harga kontrak.
11


4) Drs. O.W. Ch. Tumundo, sebagai Ketua Panitia Pengadaan tidak menilai secara efisien
(tepat) mengenai proses pembayaran atas pengadaan kendaraan dinas dimana terdapat nilai
bunga yang cukup besar sedangkan dalam APBD telah dianggarkan untuk pembelian
kendaraan dinas roda empat.
5) Ari Suroto, sebagai Kepala Cabang PT Astra Internasional Tbk Daihatsu Manado telah
melakukan mark up penawaran harga yang diberikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten
Minahasa Selatan berupa bunga sebesar 3 % perbulan.
Pokok modus operandi secara singkat adalah Drs. H.D. Woworuntu, menyetujui dan
menandatangani persetujuan prinsip penunjukan langsung tanpa lelang dan pengesahan atas
penetapan harga, Drs. O.W. Ch. Tumondo melakukan pengadaan kendaraan dinas kantor
Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan tanpa melalui evaluasi harga terlebih dahulu,
sehingga mengakibatkan terjadi kemahalan harga atas pengadaan tersebut. Adapun pihak
yang terlibat adalah Sdr.Ari Suroto (Kepala Cabang PT. Astra Internasional Tbk Daihatsu
Manado). Dari investigasi yang dilakukan, Tim berkesimpulan bahwa terdapat indikasi
terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana korupsi yaitu pelaku, unsur perbuatan melawan
hukum, unsur memperkaya diri sendiri dan atau orang lain, dan unsur merugikan negara atau
perekonomian negara. namun sudah terdapat unsur-unsur positif yang meringankan, yaitu
pihak rekanan (Sdr. Ari Suroto, Pimpinan Cabang PT. Astra Internasional Tbk Daihatsu
Manado) telah menyadari kesalahannya dan telah bersedia menyetor ke Kas Daerah atas
kerugian daerah akibat perbuatannya sebesar Rp407.790.000,00, sesuai dengan bukti surat
tertanggal 14 Desember 2005. Hasil temuan saat ini belum di konsultasikan dengan Tim
Konsulen Hukum BPK-RI untuk mengetahui apakah Tim Konsulen Hukum berpendapat
bahwa kasus ini telah terindikasi terjadinya tindak pidana korupsi. Untuk sampai pada
kesimpulan telah terjadinya unsur tindak pidana Tim Audit telah melakukan langkah-langkah
antara lain melakukan evalusasi atas dokumen-dokumen pengadaan dan pembayaran,
meminta keterangan dari pihak yang diindikasikan terlibat dan pihak lain yang terkait, serta
melakukan pemeriksaan fisik atas Pengadaan Kendaraan dinas Roda Empat pada Pemerintah
Kabupaten Minahasa Selatan di Amurang.
b. Mark Up pembelian motor dinas (kendaraan bermotor roda dua);
Berdasarkan investigasi yang dilakukan, Tim Audit Investigatif berkesimpulan telah terjadi
penyimpangan dalam pengadaan kendaraan dinas roda dua pada Pemerintah Kabupaten
Minahasa Selatan di Amurang yaitu :
12


1) Drs. H.D. Waworuntu, Sekretaris Daerah Kabupaten dalam kedudukannya sebagai a.n.
Pnj. Bupati Minahasa Selatan, menyetujui dan menandatangani persetujuan prinsip
Penunjukan Langsung Tanpa Lelang, memberikan pengesahan atas penetapan harga
penunjukan langsung
2) Drs. O.W. Ch. Tumundo, sebagai Ketua Panitia Pengadaan tidak menyusun Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) untuk pengadaan kendaraan roda dua.
3) Drs. O.W. Ch. Tumundo, sebagai Ketua Panitia Pengadaan tidak melaksanakan negosiasi
atas harga penawaran yang diajukan dan menggunakan harga penawaran sebagai harga yang
diusulkan untuk ditetapkan sebagai harga kontrak. Dari investigasi yang dilakukan, Tim
berkesimpulan bahwa tidak terdapat indikasi terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana korupsi
yaitu pelaku, unsur perbuatan melawan hukum, unsur memperkaya diri sendiri dan atau orang
lain, dan unsur merugikan negara atau perekonomian negara. Hasil temuan saat ini belum di
konsultasikan dengan Tim Konsulen Hukum BPK-RI untukmengetahui apakah Tim
Konsulen Hukum berpendapat bahwa kasus ini telah terindikasi terjadinya tindak pidana
korupsi.
c. Bantuan Bencana Alam
Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, Tim Audit Investigatif berkesimpulan bahwa
tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan dana bantuan bencana alam
berindikasi terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana korupsi, yaitu pelaku, unsur perbuatan
melawan hukum, unsur memperkaya diri sendiri dan atau orang lain, dan unsur merugikan
negara atau perekonomian negara. Hasil temuan saat ini belum di konsultasikan dengan Tim
Konsulen Hukum BPK-RI untuk mengetahui apakah Tim Konsulen Hukum berpendapat
bahwa kasus ini telah terindikasi terjadinya tindak pidana korupsi.
Untuk sampai pada kesimpulan telah terjadinya unsur tindak pidana Tim Audit telah
melakukan langkah-langkah, antara lain melakukan evaluasi atas dokumen-dokumen kontrak
dan bukti kwitansi pembayaran, meminta keterangan dari pihak yang diindikasikan terlibat
dan pihak lain yang terkait, serta melakukan cek fisik pada pelaksanaan pekerjaan dana
bantuan bencana alam.
d. Dana Beasiswa
Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, Tim Audit Investigatif berkesimpulan bahwa
tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan penyaluran beasiswa SD, SMP, SMU/K dan
bantuan pendidikan mahasiswa perguruan tinggi yang berindikasi terpenuhinya unsur-unsur
tindak pidana korupsi, yaitu pelaku, unsur perbuatan melawan hukum, unsur memperkaya
13


diri sendiri dan atau orang lain, dan unsur merugikan negara atau perekonomian negara. Hasil
temuan saat ini belum di konsultasikan dengan Tim Konsulen Hukum BPK-RI untuk
mengetahui apakah Tim Konsulen Hukum berpendapat bahwa kasus ini telah terindikasi
terjadinya tindak pidana korupsi. Untuk sampai pada kesimpulan telah terjadinya unsur
tindak pidana Tim Audit telah melakukan langkah-langkah, antara lain melakukan evaluasi
atas dokumen-dokumen seleksi dan bukti kwitansi pembayaran, meminta keterangan dari
pihak yang diindikasikan terlibat dan pihak lain yang terkait, serta melakukan konfirmasi
kepada kepala sekolah dan siswa penerima beasiswa dan bantuan pendidikan bagi mahasiswa
perguruan tinggi tahun 2004.
Berdasarkan penyimpangan, modus operandi, pihak yang diindikasikan terlibat, serta
indikasi unsur tindak pidana yang telah diidentifikasikan dan setelah didapatkan alat bukti,
kemudian dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi adanya kemahalan harga atas
pengadaan kendaraan bermotor roda empat. Tim audit investigasi merekomendasikan agar
hasil audit investigasi ini ditindaklanjuti dengan penyerahan laporan ini kepada Kejaksaan
agar dapat segera diteruskan dengan proses penyidikan, namun sudah terdapat unsur-unsur
positif yang meringankan, yaitu pihak rekanan (Sdr. Ari Suroto, Pimpinan Cabang PT. Astra
Internasional Tbk Daihatsu Manado) telah menyadari kesalahannya dan telah bersedia
menyetor ke Kas Daerah atas kerugian daerah akibat perbuatannya sebesar
Rp407.790.000,00, sesuai dengan bukti surat tertanggal 14 Desember 2005.














14



AUDIT FORENSIK
FORENSIC AUDIT OF CLICO INTERNATIONAL LIFE INSURANCE Ltd by
DELOITE (5 December 2011).
Pada April 14, 2011 Mahkamah Agung Barbados menunjuk Deloitte Consulting Ltd sebagai
Yudisial Manager ("Judicial Manager") dari Clico International Life Insurance Ltd
berdasarkan pasal 57 dari Undang-Undang Asuransi Barbados. Pada April 29, 2011
Pengadilan menetapkan kewenangan Manajer Yudisial. Tanggal April 29, 2011 diperlukan
Manager Yudisial untuk mengajukan Laporan Interim ke Pengadilan mengenai operasi CIL
dalam waktu 30 hari. Karena itu, Manajer Yudisial mengajukan Laporan Interim pada tanggal
27 Mei 2011; temuan dalam laporan yang disampaikan oleh Manajer Yudisial di Pengadilan
pada 22 Juni 2011. Laporan Interim mengidentifikasi beberapa inisiatif yang akan dilakukan
oleh Manajer Yudisial. Hal ini juga mencatat bahwa aset Perseroan pada tanggal
pengangkatan Manajer Yudisial mencapai $ 802M yang beberapa $ 446M didukung oleh
dokumentasi yang diperoleh Manager Yudisial. Sehubungan dengan aset diidentifikasi,
Laporan Interim membuat referensi khusus untuk $ 370M dalam jumlah piutang oleh CIL
dari perusahaan terkait, dimana $ 319M tercatat sebagai piutang Clico Holdings (Barbados)
Limited ("CHBL") dan anak perusahaan. Peradilan Manajer mencatat bahwa dokumen untuk
mendukung sebagian besar piutang tersebut antar perusahaan, termasuk piutang CHBL dan
anak perusahaan dalam jumlah, tidak bisa ditemukan pada saat itu.
Pada tanggal 3 Juni 2011, Perusahaan, melalui Manajer Yudisial, mengeluarkan surat
tuntutan untuk CHBL untuk pembayaran seluruh saldo jatuh tempo. Selain itu, manajer
Yudisial menegosiasikan Nota Agreement ("MOU") antara CIL, CHBL dan induknya, CL
Financial Limited ("CFL"), untuk:
"Membangun pengaturan antara CHBL dan CIL untuk kepuasan uang dan kewajiban
karena CIL oleh CHBL. "
Perjanjian tersebut juga menyediakan untuk hasil dari setiap penjualan,
pemindahan,pengalihan atau pelepasan lain dari aset CHBL atau anak perusahaannya untuk
diterapkan dalam kepuasan dari saldo piutang jatuh tempo dan dibayarkan kepada CIL.
CHBL akan menyediakan Manajer Yudisial dan / atau orang-orang tersebut disahkan oleh
Yudisial. Akses manager setiap saat yang wajar untuk semua kontrak, informasi keuangan,
catatan, perjanjian, perbuatan dan informasi lain yang berkaitan dengan transaksi antara CIL
dan CHBL, CIL dan setiap anak perusahaan dari CHBL.
15


Forensik Audit
Pada 8 Juli 2011 Manager Yudisial mengajukan Permohonan ke Pengadilan menetapkan
dasar untuk nya rekomendasi bahwa audit forensik CIL dilakukan oleh Forensik & Sengketa
Jasa tim Deloitte & Touche LLP di Kanada ("Deloitte & Touche LLP") untuk membantu
manajer Yudisial dalam mengidentifikasi, mengamankan dan meninjau dokumentasi yang
tersedia untuk mendukung saldo antar perusahaan dan mengidentifikasi transaksi dengan
pihak terkait. Aplikasi ini disetujui oleh Pengadilan pada tanggal 20 September 2011, salinan
yang terlampir sebagai Lampiran A. Laporan ini merangkum temuan-temuan dari audit
forensik pada tanggal 5 Mei 2011.
Satu tujuan utama dari audit forensik adalah untuk mendapatkan informasi untuk membantu
Manager Yudisial dalam usahanya untuk memulihkan aset antar-perusahaan dari CIL dan
menyadari mereka untuk kepentingan kreditur CIL "s.
Mr Jordan "s Affidavit mencatat:
".... [Yudisial Manajer] mengakui bahwa audit forensik akan dimulai dalam ketiadaan penuh
atau informasi yang lengkap dalam keadaan di mana kekurangan ekstensif .... harus diatasi.
Oleh karena itu lingkup dan sifat pekerjaan yang diperlukan mungkin memerlukan waktu
tambahan dan pengeluaran yang melebihi taksiran biaya dan periode waktu diuraikan .... "
Pekerjaan selesai ontime saat hasil menunjukkan bahwa penyelidikan dari saldo antar-
perusahaan adalah luas dan memakan waktu karena volume dari transaksi dan kondisi dari
catatan. Telah digariskan pekerjaan investigasi tambahan untuk dipertimbangkan, pekerjaan
ini mungkin dilakukan, di bawah kewenangan Mahkamah, untuk mengatasi setiap
ketidakpastian yang tersisa mengenai baik recoverability tersebut dari saldo antar-perusahaan
atau kelengkapan dan sifat dari atas transaksi dengan pihak terkait diidentifikasi:
Saldo Inter-Perusahaan
Sampai-sampai bahwa dokumentasi yang diberikan sampai saat tidak menyediakan
jaminan yang diperlukan mengenai transaksi dipilih dari signifikansi, membuat
pertanyaan lebih lanjut dari CIL, CHBL atau mereka perusahaan terkait untuk
mengamankan bukti tambahan yang diperlukan, seperti dokumen pihak ketiga.
Dalam contoh-contoh di mana dokumentasi menunjukkan bahwa CIL disediakan
jumlah yang signifikan dari dana kepada perusahaan CHBL atau terkait untuk alasan-
alasan unspecific (misalnya tidak untuk membiayai suatu transaksi yang spesifik)
melacak dana tersebut untuk catatan dari penerima untuk menentukan apakah dana
16


yang digunakan untuk memperoleh aset, investasi atau yang dimanfaatkan untuk
tujuan lain.
Untuk transaksi antar-perusahaan signifikan yang diidentifikasi sebagai mewakili
investasi dalam berpotensi aset realisasi, melacak dana CIL disalurkan untuk CHBL
(atau perusahaan terkait) dalam catatan dari penerima untuk mengkonfirmasi
bagaimana dana ini dicairkan.
Membuat pertanyaan lebih lanjut dari CIL untuk mengatasi $ 50.7M dari saldo
historis untuk mana tidak ada breakdown telah disediakan untuk menentukan mereka
yang dapat dilacak ke aset yang mungkin pulih.
Transaksi dengan Pihak Terkait
Lengkapi penyelidikan transaksi dengan pihak berelasi diidentifikasi, termasuk
wawancara lebih lanjut dan meninjau dari bukti lebih lanjut untuk menilai
kelengkapan dan kesesuaian transaksi ini dan untuk mengidentifikasi setiap jumlah
yang mungkin dapat dipulihkan oleh Manajer Yudisial.
Dalam terang dari temuan sampai saat ini, mengidentifikasi dan menganalisis semua
biaya yang dibayarkan kepada firma hukum di periode tersebut, mengkonfirmasikan
sifat dan tujuan dari setiap pembayaran.
Lainnya
Menganalisis dan meninjau bukti elektronik yang relevan untuk memitigasi efek pada
penyelidikan dari hilang hardcopy catatan. Secara khusus, melakukan tinjauan
terfokus catatan email yang tersedia dari CIL dan / atau perusahaan CHBL dan yang
terkait untuk mengamankan bukti, jika ada, berkaitan dengan sifat dari atau motivasi
untuk transaksi spesifik perhatian diidentifikasi dari penyidikan pada tanggalnya.
Melakukan wawancara dengan perwakilan dari CIL, CHBL atau perusahaan terkait
bagaimana mungkin diperlukan dalam rangka untuk memperoleh informasi yang
tersisa, dokumenter dan bukti lain diperlukan.