Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Refrigerasi merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan saat ini terutama bagi
masyarakat perkotaan. Karena itu kita perlu mempelajari sitem kerja refrigerasi dan sekaligus
mengenal komponen-komponen refrigerasi. Refrigerasi dapat berupa lemari es pada rumah
tangga, mesin pembeku (freezer), pendingin sayur dan buah-buahan pada super market dan
sebagainya. Peralatan ini dapat dijumpai mulai dari skala kecil pada rumah tangga hingga
skala besar pada aplikasi di industri. Sistem refrigerasi kompressi uap juga digunakan pada
aplikasi tata udara (air condition). Aplikasi tata udara untuk hunian manusia, mesin yang
digunakan dapat ditemui mulai dari skala kecil seperti AC window dan AC spilit dan skala
besar seperti air cooled chiller. Pada suatu alat refrigrasi terdapat sebuah komponen penting
yang berfungsi sebagai penyerap panas panas dari udara atau suatu ruangan yang akan
didinginkan oleh alat refrigerasi tersebut yang dinamakan evaporator. Evaporator adalah
komponen yang digunakan untuk mengambil kalor dari suatu ruangan atau suatu benda
yang bersentuhan dengannya. Pada evaporator terjadi pendidihan (boiling) atau penguapan
(evaporation), atau perubahan fasa refrigran dari cair menjadi uap. Refrigeran pada
umumnya memiliki titik didih yang rendah. Sebagai contoh, refrigeran 22 (R22) memiliki titik
didih -41 C. Dengan demikian, refrigeran mampu menyerap kalor pada temperatur yang
sangat rendah.

B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
- Untuk memenuhi Tugas mata kuliah Teknik Pendingin
- Untuk menjelaskan Definisi dan fungsi dari evaporator
- Untuk menjelaskan jenis-jenis evaporator




BAB II
EVAPORATOR

A. Definisi Evaporator
Evaporator juga disebut: Boiler, freezing unit, low side, cooling unit atau nama
lainnya yang menggambarkan fungsinya atau lokasinya. Fungsi dari evaporator adalah untuk
menyerap panas dari udara atau benda di dalam ruangan yang didinginkan. Kemudian
membuang kalor tersebut melalui kondensor di ruang yang tidak didinginkan. Kompresor
yang sedang bekerja menghisap refrigeran gas dari evaporator, sehingga tekanan di dalam
evaporator menjadi rendah. Evaporator fungsinya kebalikan dari kondensor. Tidak untuk
membuang panas ke udara di sekitarnya, tetapi untuk mengambil panas dari udara di
dekatnya. Kondensor ditempatkan di luar ruangan yang sedang didinginkan, sedangkan
evaporator ditempatkan di dalam ruangan yang sedang didinginkan. Kondensor tempatnya
diantara kompresor dan alat ekspansi, jadi pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Evaporator
tempatnya diantara alat ekspansi dan kompresor, jadi pada sisi tekanan rendah dari sistem.
Evaporator adalah jaringan atau bentuk pipa yang dikonstruksi sedemikian rupa.
Fungsinya sebagai alat pendingin. Pipa evaporator ada yang terbuat dari bahan tembaga,
besi, alumanium atau dari kuningan. Namun kebanyakan terbuat dari alumanium dan besi.
Kerusakan yang sering dijumpai pada evaporator adalah kebocoran pipa. Hamper semua
kerusakan terjadi karena kebocoran sehingga mesin pendingin tidak mampu mendinginkan
ruangan (pada kulkas adalah ruang pendingin). Adapun cara kerja evaporator adalah
menguapkan gas yang masuk dari pipa condenser. Gas refrigerant dari kompresor masih
dalam temperatur yang sangat tinggi. Artinya kalorinya (panasnya) dinaikkan. Setelah itu
karena dorongan dari kompresor, ia mengalir masuk ke pipapipa kondensor. Di dalam pipa
condenser ini, gas mengalami perubahan menjadi dingin. Selanjutnya mengalir terus
menuju pipa kapiler. Dari pipa kapiler merambat menuju pipa evaporator.



Gambar 1. Pipa Evaporator pada mesin pendingin /kulkas

Evaporator dibuat dari bermacam-macam logam, tergantung dari refrigeran yang dipakai
dan pemakaian dari evaporator sendiri. Logam yang banyak dipakai: besi, baja, tembaga,
kuningan dan aluminium. Evaporator pendingin cairan umumnya digunakan untuk
mendinginkan air, susu, jus, dan kegunaan industri lainnya. Jenis evaporator yang sering
digunakan adalah evaporator bare-tube karena proses pengambilan panas terjadi langsung
dari bahan ke ferigeran. Terdapat bebrapa tipe evaporator yang sering digunakan, seperti
pipa ganda, Baudelot cooler, tipe tank, shell and coil cooler dan shell and tube cooler.

B. Jenis Evaporator
1. Jenis evaporator berdasrkan konstruksinya
a. Bare tube evaporator


Gambar 2. Bare Tube Evaporator

Evaporator jenis bare-tube pada Gambar 2, terbuat dari pipa baja atau pipa tembaga.
Penggunaan pipa baja biasanya untuk evaporator berkapasitas besar yang menggunakan
refrigerant ammonia. Pipa tembaga biasa digunakan untuk evaporator berkapasitas rendah
dengan refrigeran selain ammonia.

b. Finned tube evaporator
Evaporator jenis finned tube pada Gambar 3 adalah evaporator bare-tube tetapi dilengkapi
dengan sirip-sirip yang terbuat dari plat tipis alumunium yang dipasang disepanjang pipa
untuk menambah luas permukaan perpindahan panas. Sirip-sirip alumunium ini berfungsi
sebagai permukaan transfer panas sekunder. Jarak antar sirip disesuaikan dengan kapasitas
evaporator, biasanya berkisar antara 40 sampai 500 buah sirip per meter. Evaporator untuk
keperluan suhu rendah, jarak siripnya berkisar 80 sampai 200 sirip per meter. Untuk
keperluan suhu tinggi, seperti room AC, jarak fin berkisar 1,8 mm.

Gambar 3. Finned Tubed Evaporator

c. Plate surface evaporator
Evaporator permukaan plat atau plate-surface pada Gambar 4, dirancang dengan berbagai
jenis. Beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan dua plat tipis yang dipres dan
dilas sedemikian sehingga membentuk alur untuk mengalirkan refrigeran.. Cara lainnya,
menggunakan pipa yang dipasang diantara dua plat tipis kemudian dipress dan dilas.

Gambar 4. Plated Surface Evaporator



2. Jenis evaporator berdasarkan metoda pemasokan refrigerannya
a. Dry expansion evaporator
Pada jenis expansi kering ditunjukkan oleh Gambar 5, cairan refrigerant yang diexpansikan
melalui katup expansi, pada waktu masuk ke dalam evaporatot sudah dalam keadaan
campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan uap kering. Oleh
sebagian besar dari evaporator terisi oleh uap refrigerant, maka perpindahan kalor yang
terjadi tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan keadaan dimana evaporator terisi oleh
refrigerant cair. Akan tetapi, evaporator jenis expansi kering tidak memerlukan refrigerant
dalam jumlah yang besar. Disamping itu, jumlah minyak pelumas yang tertinggal di dalam
evaporator sangat kecil.


Gambar 5. Dry Expansion Evaporator

b. Flooded evaporator
Pada evaporator tipe banjir ditunjukkan oleh Gambar 6, gelembung refrigerant yang terjadi
karena pemanasan akan naik kemudian pecah pada cair atau terlepas dari permukaannya.
Sebagian refrigeran kemudian masuk ke dalam akumulator yang memisahkan uap dari
cairan maka refrigerant yang ada dalam bentuk uap sajalah yang masuk ke dalam
kompresor. Bagian refrigerant cair yang dipisahkan di dalam akumulator akan masuk
kembali ke dalam evaporator, bersama-sama dengan refrigerant (cair) yang berasal dari
kondensor. Jadi tabung evaporator terisi oleh cairan refrigeran. Cairan refrigeran menyerap
kalor dari fluida yang hendak digunakan (air larutan garam, dsb), yang mengalir di dalam
pipa uap refrigeran yang terjadi dikumpulkan di bagian atas dari evaporator sebelum masuk
ke kompresor.

Gambar 6. Flooded Evaporator
3. Jenis evaporator berdasarkan sirkulasi udaranya
a. Natural convection evaporator
Natural convection evaporator adalah evaporator yang aliran udaranya mengalir secara
alami tanpa adanya dorongan atau paksaan dari kipas atau blower. Pada evaporator jenis ini
udara yang telah didinginkan akan jatuh ke bawah karena massa jenisnya yang lebih berat
dari udara yang lebih panas.

Gambar 7. Natural Convection Evaporator


b. Forced convection evaporator
Pada Forced convection evaporator ditunjukkan oleh Gambar 8, udara yang mengalir melalui
evaporator dihembuskan secara paksa menggunakan kipas atau blower. Sehingga sirkulasi
udara berlangsung secara cepat dan lebih efektif. Pada beberapa jenis sistem refrijerasi dan
tata udara, kecepatan aliran udara dapat diatur dengan mengatur hembusan dari kipas atau
blower tersebut.

Gambar 8. Forced Convection Evaporator

4. Jenis evaporator berdasarkan fluida yang didinginkan
a. Air cooling evaporator
Evaporator jenis air cooling, adalah evaporator yang mendinginkan produk dengan udara
dingin yang telah melawati evaporator tersebut, udara yang telah didinginkan
didistribusikan untuk mendinginkan benda atau udara yang akan dikondisikan, penggunaan
evaporator jenis ini biasanya seperti AC split, Cold storage room dan lemari es.

b. Liquid chilling evaporator
Liquid chilling evaporator mendinginkan fluida cair biasanya berupa air atau larutan ari
dengan garam. Air yang telah didinginkan nantinya akan didistribusikan pada wadah yang
dinamakan AHU (khusus untuk AC) untuk mendinginkan ruangan, atau didistribusikan ke
dalam pipa ganda yang memiliki dua lubang untuk mendinginkan produk cair seperti susu.
Penggunaan liquid chilling evaporator biasanya pada AC central, pabrik susu dan pabrik es
komersial. Liquid chilling evaporator ada beberapa jenis yaitu:
1) Double pipe cooler (tube in tube cooler)

Gambar 9. Tube in Tube Cooler

Tube in tube cooler seperti Nampak pada Gambar 9 adalah evaporator yang pipanya terdiri
dari dua lubang yang salurannya berbeda, saluran yang satu biasanya adalah untuk saluran
refrigeran, sedangkan saluran yang satunya lagi biasanya untuk fluida yang akan
didinginkan, biasanya air. Selain itu, pada tube in tube cooler saluran pertama biasanya
untuk aliran air dingin dan saluran yang satunya lagi untuk produk yang akan didinginkan
seperti susu. Aliran kedua fluida yang mengalir biasanya berlawanan arah supaya
perpindahan kalor menjadi lebih efektif.

2) Baudelot cooler (falling film surface)
Pada baudelot cooler yang ditunjukkan oleh Gambar 10, air diguyurkan melalui pipa-pipa
evaporator. Sehingga, pada lapisan pipa tersebut membentuk lapisa es yang tipis, kemudian
air yang jatuh ditampung pada panampungan air dan selanjutnya didistribusikan untuk
mendinginkan benda atau ruangan.

Gambar 10. Baudelot cooler

3) Shell and coil evaporator
Shell and coil evaporator pada Gambar 11, terbuat dari sebuat tabung yang besar. Pada
bagian dala tabung tersebut terdapat pipa yang berbentuk seperti lilitan atau coil. Pada coil
tersebut dialirkan refrigeran, sedangkan pada bagian tabung/shell dialirkan air.



Gambar 11. Shell coil evaporator




4) Shell and tube evaporator
Shell and tube evaporator yang nampak pada Gambar 12, terdiri dari sebuah tabung besar
yang di dalamnya dipasang pipa-pipa. Pada pipa-pipa tersebut dialirkan air yang akan
didinginkan, selanjutnya air tersebut digunakan untuk mendinginkan ruangan atau benda.
Penggunaan shell and tube evaporator biasanya pada chiller.

Gambar 12. Shell and tube evaporator

5. Jenis evaporator berdasarkan sistem kontak refrigerannya
a. Direct system
Direct system adalah jenis evaporator yang proses pendinginannya langsung mendinginkan
produk atau ruangan yang akan dikondisikan, refrigeran yang menguap pada evaporator
langsung mengambil kalor dari produk atau ruangan yang akan dikondisikan.

b. Indirect system
Pada indirect system, uap refrigeran yang menguap mengambil kalor dari fluida yang
didinginkan, fluida tersebut biasanya disebut dengan secondary refrigerant. Refrigeran
sekunder tersebut nantinya akan mendinginkan ruangan atau produk yang akan
dikondisikan. Sistem yang biasanya menggunakan indirect system adalah water chiller dan
pabrik es komersial.




C. Beda Temperatur Rata-rata Logaritma ( LMTD )

Faktor perhitungan pada alat penukar kalor adalah masalah perpindahan panasnya.
Apabila panas yang dilepaskan besarnya sama dengan Q peratuan waktu, maka panas itu
diterima fluida yang dingin sebesar Q tersebut dengan persamaaan :
Q = U. A. Tlm
Dimana :
Q = kalor yang dilepaskan / diterima
U = Koefisien perpindahan panas menyeluruh
A = Luas permukaan
Tlm = selisih temperatur rata-rata

Sebelum menentukan luas permukaan kalor (A), maka terlebih dahulu ditentukan nilai dari
LMTD. Hal ini berdasarkan selisih temperature dari fluida uang masuk dan keluar dari kalor.

Untuk aliran pararel arah aliran fluida berbeda, dimana

Untuk aliran fluida berlawanan, maka :

Dimana :
LMTD = Selisih temperature rata-rata logaritmik
T
1
= Temperatur fluida msuk kedalam shell
T
2
= Temperatur fluida keluar shell
t
1
= Temperatur fluida masuk ke dalam tube
t
2
= Temperatur fluida keluar tube

Dalam perencanaan alat penukar kalor harus dicari selisih temperature rata-rata sebenarnya,
yaitu dengan menggunakan faktor koreksi (Ft).


D. Fouling Factor (Faktor Pengotoran)
Faktor pengotoran ini sangat mempengaruhi perpindahan panas pada evaporator.
Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi pada
komponen dari evporator akibat pengaruh dari jenis fluida yang dialirinya. Selama evaporator ini
dioperasikan pengaruh pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat
menganggu atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau
mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain :
Temperatur fluida
Temperatur dinding tube
Kecepatan aliran fluida
Faktor pengotoran (fouling factor) dapat dicari persamaan :






E. Evaporator pada mesin pendingin
Pada banyak system pendinginan, refrigerant akan menguap di evaporator dan
mendinginkan fluida yang melalui evaporator. Evaporator ini disebut sebagai direct-
expansion evaporator. Berdasarkan zat yang didinginkan, evaporator rdibedakan menjadi
evaporator pendingin udara dan pendingin cairan. Pada umumnya evaporator pendingin
udara menggunakan jenis plat, bare tube, dan finned evaporator. Evaporator plat biasa
digunakan pada kulkas rumah. Evaporator pendingin udara ini umumnya digunakan untuk
system pengkondisian udara (AC).
Evaporator pendingin cairan umumnya digunakan untuk mendinginkan air, susu, jus,
dan kegunaan industry lainnya. Jenis evaporatoryang sering digunakan adalah evaporator
bare-tube karena proses pengambilan panas terjadi langsung dari bahan ke refrigerant.
Terdapat beberapa tipe evaporator yang sering digunakan, seperti : pipa ganda, Baudelot
cooler, tipe tank, shell and coil cooler dan shell and tube cooler.
Pada mesin pendingin seperti AC atau kulkas pada umumnya juga menggunakan
Forced convection evaporator (evaporator konveksi paksa), udara yang mengalir melalui
evaporator dihembuskan secara paksa menggunakan kipas atau blower. Sehingga sirkulasi
udara berlangsung secara cepat dan lebih efektif. Pada beberapa jenis sistem refrijerasi dan
tata udara, kecepatan aliran udara dapat diatur dengan mengatur hembusan dari kipas atau
blower tersebut.



















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Evaporator adalah alat penukar kalor yang digunakan untuk penguapan cairan
menjadi uap. Dimana pada alat ini menjadi proses evaporasi (penguapan) suatu zat dari fasa
cair menjadi uap. Yang dimanfaatkan alat ini adalah panas latent dan zat yang digunakan
adalah air atau refrigerant cair. Jenis Evaporator antara lain :
1. Jenis evaporator berdasarkan konstruksinya
Bare tube evaporator
Finned tube evaporator
Plate surface evaporator
2. Jenis evaporator berdasarkan metoda pemasokan refrigerannya :
Dry expansion evaporator
Flooded evaporator
3. Jenis evaporator berdasarkan sirkulasi udaranya :
Natural convection evaporator
Forced convection evaporator
4. Jenis evaporator berdasarkan fluida yang didinginkan :
Air cooling evaporator
Liquid chilling evaporator, Liquid Chilling evaporator dibedakan lagi menjadi :
Double pipe cooler (tube in tube cooler)
Baudelot cooler (falling film surface)
Shell and coil evaporator
Shell and tube evaporator
5. Jenis evaporator berdasarkan sistem kontak refrigerannya
Direct system
Indirect system



DAFTAR PUSTAKA

Modul Teknik Pendingin. Chapter II. Universitas Sumatera Utara
Evaporator dan katup Ekspansi. Bahan Ajar Teknik Pendingin.
Kusuma, Yuliadi. Bahan Ajar Teknik Pendingin. Pusat Pengembangan bahan Ajar. Universitas
Mercu Buana
Adjiz, Adrijal. Desain Evaporator Jenis Shell dan Tube Pada Mesin Refrigerasi Siklus Kompresi
Uap Hibrida. Universitas Riau.