Anda di halaman 1dari 85

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Tuberkulosis (TB) sudah dikenal sejak beribu-ribu tahun sebelum Masehi.
Hal ini terbukti dari adanya tulisan tentang penyakit ini dalam Pen Tsao yakni materi medika
Cina yang sudah berumur 5 tahun. Penyakit ini dulunya bernama Consumption atau
Pthisis dan semula dianggap sebagai penyakit degenerati! atau penyakit turunan. Barulah
"eanne# ($%$&) yang pertama kali menyatakan bah'a penyakit ini suatu in!eksi kronik( dan
)o#h ($%%*) dapat mengidenti!ikasi kuman penyebabnya. Penyakit ini dinamakan
Tuberkulosis karena terbentuknya nodul yang khas yakni tubercle. Hampir seluruh organ
tubuh dapat terserang olehnya( tetapi paling banyak adalah paru-paru. (+oeparman( $&&)
+etiap tahunnya( TB menyebabkan hampir dua juta kematian( dan diperkirakan saat
ini sekitar sepertiga penduduk dunia telah terin!eksi kuman TB( yang mungkin akan
berkembang menjadi penyakit TB di masa datang. +elain jumlah kematian dan in!eksi TB
yang amat besar( pertambahan kasus baru TB pun amat signi!ikan( men#apai jumlah sembilan
juta kasus baru setiap tahunnya. Menurut laporan ,H- pada tahun *.( jumlah terbesar
kasus TB terjadi di /sia Tenggara yaitu 001 dari seluruh kasus TB di dunia( yaitu 2*5.
orang atau angka mortalitas sebesar 0& orang per $. penduduk. +elain itu( menurut
laporan TB dunia oleh ,H- tahun *2( masih menempatkan 3ndonesia sebagai
penyumbang TB terbesar nomor 0 di dunia setelah 3ndia dan Cina dengan jumlah kasus baru
sekitar 50&. dan jumlah kematian sekitar $$. pertahun. (4epkes 53( *6)
Pada tahun **( terdapat %(% juta kasus baru tuberkulosis( dimana 0(& juta adalah
kasus BT/ (Basil Tahan /sam) positi!. +epertiga penduduk dunia telah terin!eksi kuman
tuberkulosis dan menurut regional ,H- jumlah terbesar kasus TB terjadi di /sia Tenggara
yaitu 001 dari seluruh kasus TB di dunia( namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat
$%* kasus per $. penduduk. Berikut ini adalah gambaran penyebaran penyakit
tuberkulosis di seluruh dunia 7
1 | M i n i P r o j e c t
Gambar 1. Penyebaran Penyakit Tuberkulosis di eluru! Dunia
Penyakit TB tidak hanya mengenai orang de'asa( anak-anak pun sudah mulai banyak
yang terjangkit penyakit TB ini. 4iperkirakan jumlah kasus TB anak per tahun adalah 5-21
dari total kasus TB. Pada tahun $&%&( ,H- memperkirakan bah'a setiap tahun terdapat $(0
juta kasus baru TB anak( dan .5. anak usia 8$5 tahun meninggal dunia karena TB.
)asus baru diperkirakan akan meningkat setiap tahun( dari 6(5 juta kasus ($.0 kasus per
$. penduduk) pada tahun $&&( menjadi %(% juta kasus ($5* kasus per $.
penduduk) pada tahun $&&5( menjadi $(* juta kasus ($20 kasus per $. penduduk) pada
tahun *( dan akan men#apai $$(& juta kasus pada tahun *5. Pada sur9ey nasionai di
3nggris dan ,ales selama setahun pada tahun $&%0( didapatkan bah'a .5* anak berusia 8$5
tahun menderita TB. 4i negara berkembang( TB pada anak berusia 8$5 tahun adalah $51
dari seluruh kasus TB( sedangkan di negara maju angkanya lebih rendah yaitu 5-61.
Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang de'asa.
Pada TB anak( permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosis( pengobatan(
pen#egahan serta TB dengan keadaan khusus. TB anak merupakan !aktor penting di negara
berkembang karena jumlah anak berusia 8$5 tahun adalah .1-51 dari jumlah seluruh
populasi. (34/3( *%)
4i /merika +erikat dan )anada( peningkatan TB pada anak berusia -. tahun adalah
$&1( sedangkan pada usia 5-$5 tahun adalah .1. 4i /sia Tenggara( selama $ tahun(
diperkirakan bah'a jumlah kasus baru adalah 05($ juta( %1 di antaranya (*(% juta) disertai
in!eksi H3:. "aporan Hasil 5iset )esehatan 4asar tahun *6( didapatkan pre9alensi $*
bulan TB Paru klinis di 3ndonesia $1 dengan kisaran (01 ("ampung) sampai *(51 (Papua).
2 | M i n i P r o j e c t
Berdasarkan kelompok umur dijumpai pre9alensi TB kurang dari $ tahun sekitar (.61( $-.
tahun sekitar (621( dan antara 5-$. tahun sekitar (501. (5iskesdas( *%)
Masalah yang dihadapi saat ini adalah peningkatan kasus TB dengan pesat(
peningkatan kasus penyakit H3:;/34+( juga meningkatnya kasus multidrug resistence-TB
(M45-TB)( hasil penelitian di <akarta mendapatkan =.1 dari kasus baru. (>elson( *.)
Total insidens TB selama $ tahun( dari tahun $&&-$&&&( diperkirakan sebanyak %%(* juta
penyandang TB( % juta di antaranya berhubungan dengan in!eksi H3:. Pada tahun *
terdapat $(% juta kematian akibat TB( **2. di antaranya berhubungan dengan H3:. +elama
tahun $&%5-$&&*( peningkatan TB paling banyak terjadi pada usia *5-.. tahun (5.(51)(
diikuti oleh usia -. tahun (02($1)( dan 5-$* tahun (0%($1). Pada tahun *5( diperkirakan
kasus TB naik 5%1 dari tahun $&&( &1 di antaranya terjadi di negara berkembang. (4epkes
53( *6)
Masalah lain adalah peran 9aksinasi BC? dalam pen#egahan in!eksi dan penyakit TB
yang masih kontro9ersial. Berbagai penelitian melaporkan proteksi 9aksinasi BC? untuk
pen#egahan penyakit TB berkisar antara 1-%1. +e#ara umum daya proteksi BC?
diperkirakan hanya 51( dan 9aksinasi BC? hanya men#egah terjadinya TB berat( seperti
milier dan meningitis TB. 4aya proteksi BC? terhadap meningitis TB 2.1( dan TB miler
6%1 pada anak yang mendapat 9aksinasi. (>elson( *.)
3ndonesia telah berkomitmen men#apai target dunia dalam penanggulangan
tuberkulosis. +trategi 4-T+ yang direkomendasikan oleh ,H- telah diimplementasikan dan
diekspansi se#ara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan termasuk puskesmas dan
institusi terkait. Berbagai kemajuan telah di#apai( namun tantangan program di masa depan
tidaklah lebih ringan( meningkatnya kasus H3: dan M45 serta ber9ariasinya komitmen akan
menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah
dalam hal pen#apaian target global( sebagaimana ter#antum pada Millenium Development
Goals (M4?). (4epkes 53( *6)
Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat pada saat ini( diduga disebabkan
oleh berbagai hal( yaitu 7
($) diagnosis tidak tepat
(*) pengobatan tidak adekuat
(0) program penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat
(.) in!eksi endemik H3:
(5) migrasi penduduk
(2) mengobati sendiri (self treatment)
3 | M i n i P r o j e c t
(6) meningkatnya kemiskinan
(%) pelayanan kesehatan yang kurang memadai. (34/3( *%)
Berdasarkan data dari Poliklinik /nak 5+@4 /rga Makmur Bengkulu @tara( kasus
TB pada anak yang terjadi di kabupaten Bengkulu @tara pada tahun *$* sekitar 6 orang
anak( dan bertambah pada tahun *$0 yaitu sekitar $$ orang anak. @ntuk 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur sendiri didapatkan pada tahun *$* sekitar $ orang anak terkena
TB( dan bertambah pada tahun *$0 yaitu sekitar 0 orang anak terkena TB. Berdasarkan data
tersebut( terbukti bah'a masih ditemukannya kasus TB pada anak di 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur( oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan
mengangkat topik TB pada anak ini dalam bentuk karya tulis ilmiah berupa mini proje#t(
terutama mengenai TB pada anak beserta diagnosis bandingnya.
1." #umusan $asala!
Berdasarkan uraian pada latar belakang yang dikemukakan di atas( maka yang
menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah ABagaimana gambaran tingkat
pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai kasus TB pada anak( terutama dalam hal
membedakan TB dengan penyakit paru pada anak lainnyaBC.
1.% Tu&uan Penelitian
1.%.1 Tu&uan Umum
@ntuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai TB pada anak
terutama untuk membedakannya dengan penyakit paru pada anak lainnya( sehingga
diharapkan dapat membantu menurunkan pre9alensi penyakit TB pada anak yang terjadi di
ke#amatan /rga Makmur pada umumnya dan di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur
pada khususnya.
1.%." Tu&uan '!usus
$. Mengidenti!ikasi gambaran tingkat pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit TB pada anak terutama dalam hal membedakannya dengan
penyakit paru pada anak lainnya.
*. Mengidenti!ikasi gambaran sikap masyarakat terhadap penyakit TB pada
anak dalam upaya pen#egahan dan pengobatan TB pada anak di
Puskesmas /rga Makmur.
4 | M i n i P r o j e c t
1.( $an)aat Penelitian
1.(.1 Untuk Puskesmas
Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat mengenai TB pada
anak( terutama dalam hal membedakannya dengan penyakit paru pada
anak lainnya( serta untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap penyakit
TB pada anak terutama dalam upaya pen#egahan dan pengobatan sehingga
dapat diketahui sejauh mana upaya edukasi perlu diberikan.
+ebagai bahan masukan bagi Puskesmas /rga Makmur dalam peningkatan pelayanan
kesehatan baik dalam hal pen#egahan dan pengobatan penyakit TB pada anak sehingga
dapat membantu menurunkan angka kesakitan dan angka kematian anak karena penyakit
TB.
1.(." Untuk $asyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB
pada anak( terutama dalam hal membedakannya dengan
penyakit paru pada anak lainnya( serta dalam hal pen#egahan
dan pengobatan yang harus diberikan.
Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyakit
TB terutama pada anak.
/gar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih maksimal
berkaitan dengan penatalaksanaan penyakit TB( terutama pada anak( baik
dalam hal pen#egahan dan pengobatan penyakit.
1.(.% Untuk Dokter Interns!i*
Merupakan kesempatan untuk menambah pengalaman serta menerapkan
ilmu kedokteraan terutama 3lmu )esehatan Masyarakat.
Meningkatkan keilmuan mengenai penyakit TB terutama pada anak.
Meningkatkan keterampilan komunikasi di masyarakat juga meningkatkan
kemampuan berpikir analisis dan sistematis dalam mengidenti!ikasi dan
menyelesaikan masalah kesehatan.
Merupakan kesempatan untuk bersosialisasi di dalam masyarakat.
Meningkatkan kemmapuan berpikir analisis dan sistematis dalam
mengidenti!ikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan.
4apat digunakan untuk penelitian selanjutnya.
5 | M i n i P r o j e c t
1.+ #uang Lingku* dan 'eterbatasan Penelitian
)arena adanya keterbatasan 'aktu( dana( dan kemampuan yang ada( maka penelitian
ini dibatasi hanya membahas gambaran tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai
penyakit TB pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur. Penelitian ini dilakukan
pada saat posyandu( serta dengan melakukan kunjungan rumah di tiga kelurahan dengan
penemuan kasus TB terbanyak pada tahun *$0( yaitu kelurahan ?unung /lam( ?unung
+elan( dan ?unung /gung. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan kegiatan.
6 | M i n i P r o j e c t
BAB II.
TIN,AUAN PUTA'A
".1 De)inisi
Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit in!eksi bakteri menahun yang disebabkan
oleh Mycobakterium tuberkulosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada
jaringan yang terin!eksi. @mumnya TB menyerang paru-paru( sehingga disebut dengan TB
paru. Tetapi kuman TB juga bisa menyebar ke bagian atau organ lain dalam tubuh( dan TB
jenis ini lebih berbahaya dari TB paru. Bila kuman TB menyerang otak dan sistem sara!
pusat( akan menyebabkan meningitis TB. Bila kuman TB mengin!eksi hampir seluruh organ
tubuh( seperti ginjal( jantung( saluran ken#ing( tulang( sendi( otot( usus( kulit( disebut TB
milier atau TB ekstrapulmoner.

(34/3( *%)
Berbeda dengan TB de'asa( gejala TB anak sering kali tidak khas. 4iagnosis pasti
ditegakkan dengan menemukan kuman TB. Pada anak( sulit didapatkan spesimen diagnostik
yang dapat diper#aya. )arena sulitnya mendiagnosis TB pada anak( sering terjadi
overdiagnosis yang diikuti overtreatment. 4i lain pihak( ditemukan juga underdiagnosis dan
undertreatment. Hal tersebut terjadi karena sumber penyebaran TB umumnya adalah orang
de'asa dengan sputum basil tahan asam positi! sehingga penanggulangan TB ditekankan
pada pengobatan pengobatan TB de'asa. /kibatnya penanganan TB anak kurang
diperhatikan.

(+upriyatno( *6)
TB pada anak dide!inisikan sebagai tuberkulosis yang diderita oleh anak 8$5 tahun.
(34/3( *%) +eorang anak dikatakan terpapar TB jika anak memiliki kontak yang signi!ikan
dengan orang de'asa atau remaja yang terin!eksi TB( pada tahap ini test tuberkulin negati!(
rontgen toraks negati!. 3n!eksi terjadi ketika seseorang menghirup droplet nu#lei
Mycobacterium tuberculosis dan kuman tersebut menetap se#ara intraseluler pada jaringan
paru dan jaringan lim!oid sekitarnya( pada tahap ini rontgen toraks bisa normal atau hanya
terdapat granuloma atau kalsi!ikasi pada parenkim paru dan jaringan lim!oidnya serta
didapatkan uji tuberkulin yang positi!. +ementara itu( seseorang dikatakan sakit TB jika
terdapat gejala klinis yang mendukung serta didukung oleh gambaran kelainan rontgen
toraks( pada tahap inilah seseorang dikatakan menderita tuberkulosis. (Madhi( *)
TB ditularkan melalui udara (melalui per#ikan dahak penderita TB). )etika penderita
TB batuk( bersin( berbi#ara atau meludah( mereka memer#ikkan kuman TB atau basil ke
udara. +eseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah ke#il kuman
7 | M i n i P r o j e c t
TB. Penderita TB dengan status TB BT/ (Basil Tahan /sam) positi! dapat menularkan
sekurang-kurangnya kepada $-$5 orang lain setiap tahunnya. +epertiga dari populasi dunia
sudah tertular dengan TB. +eseorang yang tertular dengan kuman TB belum tentu menjadi
sakit TB. )uman TB dapat menjadi tidak akti! (dormant) selama bertahun-tahun dengan
membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila sistem kekebalan tubuh
seseorang menurun( kemungkinan menjadi sakit TB menjadi lebih besar. +eseorang yang
sakit TB dapat disembuhkan dengan minum obat se#ara lengkap dan teratur.

(+upriyatno(
*6)
"." E*idemiologi
,H- memperkirakan bah'a sepertiga populasi dunia (D* bilyun orang) terin!eksi
dengan M. tuberculosis. /ngka in!eksi tertinggi adalah di /sia Tenggara( Cina( 3ndia( /!rika(
dan /merika "atin. TB terutama menonjol di populasi yang mengalami giEi yang jelek( padat
penduduk( dan pera'atan kesehatan tidak #ukup. Frekuensi kasus TB turun selama setengah
abad pertama jauh sebelum penemuan obat-obat antituberkulosis (-/T) sebagai akibat dari
perbaikan kondisi kehidupan. (Behrman( **)
Pada orang de'asa( dua pertiga kasus terjadi pada orang laki-laki( tetapi ada sedikit
dominasi TB pada 'aktu di masa anak. 4i /merika +erikat( kebanyakan anak terin!eksi
dengan M. tuberculosis di rumahnya oleh seseorang yang dekat padanya( tetapi 'abah TB
anak juga bisa terjadi di tempat umum seperti sekolah( pusat penitipan anak( dan tempat
lainnya. -rang de'asa yang terin!eksi 9irus de!isiensi imun manusia (Human
Immunodeficiency irus ! HI) dengan TB dapat menularkan kuman TB ke anak( dan anak
dengan in!eksi H3: bertambah resiko berkembang TB sesudah in!eksi. (Behrman( **)
4iperkirakan jumlah kasus TB anak per tahun adalah 5-2 1 dari total kasus TB. 4i
>egara berkembang( TB pada anak berusia 8$5 tahun adalah $51 dari seluruh kasus TB(
sedangkan di negara maju angkanya lebih rendah yaitu 5-61.

(34/3( *%)
"aporan Hasil 5iset )esehatan 4asar (5iskesdas) tahun *6( didapatkan pre9alensi
$* bulan TB Paru klinis di 3ndonesia $1 dengan kisaran (01 ("ampung) sampai *(51
(Papua). Berdasarkan kelompok umur dijumpai pre9alensi TB kurang dari $ tahun sekitar
(.61( $-. tahun sekitar (621( dan antara 5-$. tahun sekitar (501.

(5iskesdas( *%)
".% Anatomi Paru $anusia
Paruparu adalah organ berbentuk spons yang terdapat di dada. Paru-paru kanan
memiliki 0 lobus( sedangkan paruparu kiri memiliki * lobus. Paruparu kiri lebih ke#il(
8 | M i n i P r o j e c t
karena jantung membutuhkan ruang yang lebih pada sisi tubuh ini. Paruparu memba'a
udara masuk dan keluar dari tubuh( mengambil oksigen dan menyingkirkan gas karbon
dioksida (Eat residu perna!asan). (+her'ood( *$)
Gambar ". Anatomi Paru
"apisan di sekitar paruparu disebut pleura( membantu melindungi paru-paru dan
memungkinkan mereka untuk bergerak saat berna!as. Batang tenggorokan (trakea) memba'a
udara ke dalam paruparu. Trakea terbagi ke dalam tabung yang disebut bronkus( yang
kemudian terbagi lagi menjadi #abang lebih ke#il yang disebut bronkiol. Pada akhir dari
#abang-#abang ke#il inilah terdapat kantung udara ke#il yang disebut al9eoli. 4i ba'ah paru
paru( terdapat otot yang disebut dia!ragma yang memisahkan dada dari perut (abdomen). Bila
bernapas( dia!ragma bergerak naik dan turun( memaksa udara masuk dan keluar dari paru
paru. (+her'ood( *$)
".( -isiologi Paru
@dara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang terdapat
antara atmos!ir dan al9eolus akibat kerja mekanik otot-otot. +eperti yang telah diketahui(
dinding toraks ber!ungsi sebagai penembus. +elama inspirasi( 9olume toraks bertambah besar
karena dia!ragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu
sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus( skalenus dan
9 | M i n i P r o j e c t
interkostalis eksternus mengangkat iga-iga. +elama pernapasan tenang( ekspirasi merupakan
gerakan pasi! akibat elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada 'aktu otot interkostalis
eksternus relaksasi( dinding dada turun dan lengkung dia!ragma naik ke atas ke dalam rongga
toraks( menyebabkan 9olume toraks berkurang. Pengurangan 9olume toraks ini
meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal. +elisih tekanan antara
saluran udara dan atmos!ir menjadi terbalik( sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru
sampai udara dan tekanan atmos!ir menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi. Tahap kedua
dari proses pernapasan men#akup proses di!usi gas-gas melintasi membrane al9eolus kapiler
yang tipis (tebalnya kurang dari (5 Gm). )ekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah
selisih tekanan parsial antara darah dan !ase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmos!ir
pada permukaan laut besarnya sekitar $.& mmHg. Pada 'aktu oksigen diinspirasi dan sampai
di al9eolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar $0 mmHg.
Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan !akta bah'a udara inspirasi ter#ampur
dengan udara dalam ruangan sepi anatomi# saluran udara dan Tahap kedua dari proses
pernapasan men#akup proses di!usi gas-gas melintasi membrane al9eolus kapiler yang tipis
(tebalnya kurang dari (5 Gm). )ekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih
tekanan parsial antara darah dan !ase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmos!ir pada
permukaan laut besarnya sekitar $.& mmHg. Pada 'aktu oksigen diinspirasi dan sampai di
al9eolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar $0 mmHg.
Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan !akta bah'a udara inspirasi ter#ampur
dengan udara dalam ruangan sepi anatomi# saluran udara dan dengan uap air. Perbedaan
tekanan karbondioksida antara darah dan al9eolus yang jauh lebih rendah menyebabkan
karbondioksida berdi!usi kedalam al9eolus. )arbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke
atmos!ir. 4alam keadaan beristirahat normal( di!usi dan keseimbangan oksigen di kapiler
darah paru-paru dan al9eolus berlangsung kira-kira (*5 detik dari total 'aktu kontak selama
(65 detik. Hal ini menimbulkan kesan bah'a paru-paru normal memiliki #ukup #adangan
'aktu di!usi. Pada beberapa penyakit misalH !ibosis paru( udara dapat menebal dan di!usi
melambat sehingga ekuilibrium mungkin tidak lengkap( terutama se'aktu berolahraga
dimana 'aktu kontak total berkurang. <adi( blok di!usi dapat mendukung terjadinya
hipoksemia( tetapi tidak diakui sebagai !aktor utama. (+her'ood( *$)
".+ Etiologi
Terdapat 2 lebih spesies Mycobacterium( tetapi hanya separuhnya yang merupakan
patogen terhadap manusia. Hanya terdapat 5 spesies dari Mycobacterium yang paling umum
10 | M i n i P r o j e c t
menyebabkan in!eksi( yaitu7 M. tuberculosis" M. bovis" M. africanum" M. microti dan M.
canetti. 4ari kelima jenis ini M. tuberculosis merupakan penyebab paling penting dari
penyakit tuberkulosis pada manusia. /da 0 9arian M. tuberculosis yaitu 9arian humanus"
bovinum dan avium. Iang paling banyak ditemukan mengin!eksi manusia M. tuberkulosis
9arian humanus.

(Chintu( **)
Mycobacterium tuberkulosis( sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang
$-.;Jm dan tebal (0-(2;Jm. M. tuberculosis tumbuh optimal pada suhu 06-.$

C dan
merupakan bakteri aerob obligat yang berkembang biak se#ara optimal pada jaringan yang
mengandung banyak udara seperti jaringan paru. 4inding sel yang kaya akan lipid
menjadikan basil ini resisten terhadap aksi bakterisid dari antibodi dan komplemen. +ebagian
besar dari dinding selnya terdiri atas lipid (%1)( peptidoglikan( dan arabinomannan. "ipid
membuat kuman tahan terhadap asam sehingga disebut BT/ dan kuman ini tahan terhadap
gangguan kimia dan !isika. -leh karena ketahanannya terhadap asam( M. tuberculosis dapat
membentuk kompleks yang stabil antara asam mikolat pada dinding selnya dengan berbagai
Eat pe'arnaan golongan aryl methan seperti #arbol!u#hsin( auramine dan rhodamin. )uman
ini dapat bertahan hidup di udara yang kering atau basah karena kuman dalam keadaan
dorman. 4an dari keadaan dorman ini kuman dapat reakti9asi kembali.

(+oeparman( $&&)
4i dalam jaringan( kuman hidup sebagai parasit intraseluler yaitu di dalam sitoplasma
makro!ag karena pada sitoplasma makro!ag banyak mengandung lipid. )uman ini bersi!at
aerob( si!at ini menunjukan bah'a kuman ini menyenangi jaringan yang tinggi mengandung
oksigen sehingga tempat predileksi penyakit ini adalah bagian apikal paru karena tekanan -
*
pada apikal lebih tinggi dari pada tempat lainnya.

(Madhi( *)
M. tuberculosis dapat tumbuh pada medium klasik yang terdiri kuning telur dan
glyserin (medium "o'enstein-<ensen). Bakteri ini tumbuh se#ara lambat( dengan 'aktu
generasi $*-*. jam. Pengisolasian dari spesimen klinis dari media sintetik yang solid
membutuhkan 'aktu 0-2 minggu dan untuk uji sensiti9itas terhadap obat membutuhkan
tambahan 'aktu . minggu. +ementara itu( pertumbuhan bakteri ini dapat dideteksi dalam $-0
minggu dengan menggunakan medium #air yang selekti! seperti B/CTKC dan uji sensiti9itas
terhadap obat hanya membutuhkan 'aktu tambahan 0-5 hari.

(Chintu( **)
".. -aktor #esiko
Perkembangan TB pada manusia melalui dua proses( yaitu pertama seseorang yang
rentan bila terpajan oleh kasus TB yang in!eksius akan menjadi tertular TB (in!e#tious TB)(
dan setelah beberapa lama kemudian baru menjadi sakit. -leh karena itu !aktor risiko untuk
11 | M i n i P r o j e c t
in!eksi berbeda dengan !aktor risiko menjadi sakit TB. ("ienhardt( *0) Terdapat beberapa
!aktor yang mempermudah terjadinya in!eksi TB maupun timbulnya penyakit TB pada anak.
Faktor risiko tersebut dibagi menjadi !aktor resiko in!eksi dan !aktor resiko progresi in!eksi
menjadi penyakit (resiko penyakit).

(+upriyatno( *6)
a. 5esiko in!eksi TB
Faktor resiko terjadinya in!eksi TB antara lain adalah anak yang terpajan
dengan orang de'asa dengan TB akti! (kontak TB positi!)( daerah endemis(
kemiskinan( lingkungan yang tidak sehat (higiene dan sanitasi yang tidak membaik)(
tempat penampungan umum (panti asuhan( penjara atau panti pera'atan lain) yang
banyak terdapat pasien TB de'asa akti!. 5isiko timbulnya transmisi kuman dari orang
de'asa ke anak akan lebih tinggi jika pasien de'asa tersebut mempunyai BT/
sputum positi!( in!iltrat luas atau ka9itas pada lobus atas( produksi sputum banyak dan
en#er( batuk produkti! dan kuat( serta terdapat !aktor lingkungan yang kurang sehat
terutama sirkulasi udara yang kurang baik. (Behrman( **)
Penularan M. tuberculosis adalah dari orang ke orang( droplet lendir berinti
(droplet nuclei) di udara. Penularan jarang terjadi dari barang-barang yang
terkontaminasi kuman TB. Faktor lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk(
memperbesar peluang penularan. Penularan dari anak ke anak jarang terjadi( karena
basil tuberkel sedikit disekresi endobronkial. Hal tersebut karena 7
a.) <umlah kuman pada TB anak biasanya sedikit (paucibacillary)( tetapi karena
imunitas anak masih lemah jumlah yang sedikit tersebut sudah mampu
menyebabkan sakit.
b.) "okasi in!eksi primer yang kemudian berkembang menjadi sakit TB primer
biasanya terjadi di daerah parenkim yang jauh dari bronkus( sehingga tidak
terjadi produksi sputum.
#.) +edikitnya atau tidak ada produksi sputum dan tidak terdapatnya reseptor batuk
di daerah parenkim menyebabkan jarangnya gejala batuk pada TB anak.
(Behrman( **)
b. 5esiko sakit TB
/nak yang telah terin!eksi TB tidak selalu akan mengalami sakit TB. Berikut
ini adalah !aktor-!aktor yang dapat menyebabkan berkembangnya in!eksi TB menjadi
sakit TB 7
a.) @sia
12 | M i n i P r o j e c t
/nak berusia L5 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi in!eksi
menjadi sakit TB karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna
(imatur). /kan tetapi( risiko sakit TB ini akan berkurang se#ara bertahap seiring
dengan pertambahan usia. /nak berusia L5 tahun memiliki risiko lebih tinggi
mengalami TB diseminata (seperti TB milier dan meningitis TB). Pada bayi(
rentang 'aktu antara terjadinya in!eksi dan timbulnya sakit TB singkat (kurang
dari $ tahun) dan biasanya timbul gejala yang akut.
b.) 3n!eksi baru yang ditandai dengan adanya kon9ersi uji tuberkulin (dari negati!
menjadi positi!) dalam $ tahun terakhir.
#.) +osial ekonomi yang rendah( kepadatan hunian( penghasilan yang kurang(
pengangguran( pendidikan yang rendah.
d.) Faktor lain yaitu malnutrisi( immunocompromise (misalnya pada in!eksi H3:(
keganasan( transplantasi organ dan pengobatan imunosupresi).
e.) :irulensi dari M. tuberculosis dan dosis in!eksinya. (Behrman( **)
"./ Patogenesis 0 Patologi
Paru merupakan port d entree lebih dari &% 1 kasus in!eksi TB. )arena ukurannya
yang sangat ke#il (85 Jm)( kuman TB dalam droplet nuclei yang terhirup dapat men#apai
al9eolus. )uman TB tidak seluruhnya dapat dihan#urkan. Pada indi9idu yang tidak dapat
menghan#urkan seluruh kuman( makro!ag al9eolus akan mem!agosit kuman TB. )uman TB
tersebut akan terus berkembang biak dalam makro!ag( dan akhirnya menyebabkan lisis
makro!ag. +elanjutnya kuman TB membentuk lesi ditempat tersebut( yang dinamakan !okus
primer ?hon.

(34/3( *%)
4ari !okus primer ?hon( kuman TB menyebar melalui saluran lim!e menuju kelenjar
lim!e regional( yaitu kelenjar lim!e yang mempunyai saluran lim!e ke lokasi !okus primer.
Penyebaran ini menyebabkan terjadinya in!lamasi di saluran lim!e (lim!angitis) dan di
kelenjar lim!e (lim!adenitis) yang terkena. <ika !okus primer terletak di lobus ba'ah atau
tengah( kelenjar lim!e yang akan terlibat adalah kelenjar lim!e parahilus (perihiler)(
sedangkan jika !okus primer terletak di apeks paru( yang akan terlibat adalah kelenjar
paratrakeal. ?abungan antara !okus primer( lim!angitis( dan lim!adenitis dinamakan
kompleks primer.

(34/3( *%)
,aktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer se#ara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian
masa inkubasi pada proses in!eksi lain( yaitu 'aktu yang diperlukan sejak masuknya kuman
13 | M i n i P r o j e c t
hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB berlangsung selama .-% minggu(
dengan rentang 'aktu *-$* minggu. 4alam masa inkubasi tersebut( kuman tumbuh hingga
men#apai jumlah $
0
-$
.
( yaitu jumlah yang #ukup untuk merangsang respon imunitas
seluler.

(34/3( *%)
+elama minggu-minggu a'al proses in!eksi( terjadi pertumbuhan logaritmik kuman
TB sehingga jaringan tubuh yang a'alnya belum tersensitisasi terhadap tuberkulin
mengalami perkembangan sensiti9itas. Pada saat terbentuknya kompleks primer( in!eksi TB
primer dinyatakan telah terjadi. +etelah terjadi kompleks primer( imunitas seluler tubuh
terhadap TB terbentuk( yang dapat diketahui dengan adanya hipersensiti9itas terhadap
tuberkuloprotein( yaitu uji tuberkulin positi!. +elama masa inkubasi uji tuberkulin masih
negati!. Pada sebagian besar indi9idu dengan sistem imun yang ber!ungsi baik( pada saat
sistem imun seluler berkembang( proli!erasi kuman TB terhenti. /kan tetapi sebagian ke#il
kuman TB akan dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler telah terbentuk(
kuman TB baru yang masuk ke dalam al9eoli akan segera dimusnahkan oleh imunitas seluler
spesi!ik (cellular mediated immunity" CMI ).

(34/3( *%)
+etelah imunitas seluler terbentuk( !okus primer di jaringan paru mengalami resolusi
se#ara sempurna membentuk !ibrosis atau kalsi!ikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan
dan enkapsulasi( tetapi penyembuhannya biasanya tidak sempurna. )uman TB dapat tetap
hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini( tetapi tidak menimbulkan
gejala sakit TB.

(34/3( *%)
)ompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. )omplikasi yang terjadi dapat
disebabkan oleh !okus di paru atau di kelenjar lim!e regional. Fokus primer di paru dapat
membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis !okal. <ika terjadi nekrosis perkijuan
yang berat( bagian tengah lesi akan men#air dan keluar melalui bronkus sehingga
meninggalkan rongga di jaringan paru (ka9itas).

)elenjar lim!e parahilus atau paratrakeal
yang mulanya berukuran normal pada a'al in!eksi( akan membesar karena reaksi in!lamasi
yang berlanjut( sehingga bronkus akan terganggu. (34/3( *%)
+elama masa inkubasi( sebelum terbentuknya imunitas seluler( dapat terjadi
penyebaran lim!ogen dan hematogen. Pada penyebaran lim!ogen( kuman menyebar ke
kelenjar lim!e regional membentuk kompleks primer atau berlanjut menyebar se#ara
lim!ohematogen. 4apat juga terjadi penyebaran hematogen langsung( yaitu kuman masuk ke
dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. /danya penyebaran hematogen inilah
yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.

(34/3( *%)
14 | M i n i P r o j e c t
Melalui penyebaran hematogen( kuman TB menyebar se#ara sporadik dan sedikit
demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. )uman TB kemudian men#apai
berbagai organ di seluruh tubuh( bersarang di organ yang mempunyai 9askularisasi baik(
paling sering di limpa dan kelenjar lim!e super!isialis. +elain itu( dapat juga bersarang di
organ lain seperti otak( hati( tulang( ginjal( dan lain-lain. Pada umumnya( kuman di sarang
tersebut tetap hidup( tetapi tidak akti!( demikian pula dengan proses patologiknya. +arang di
apeks paru disebut dengan !okus +imon( yang di kemudian hari dapat mengalami reakti9asi
dan terjadi TB apeks paru saat de'asa.

(34/3( *%)
Menurut ,allgren( ada tiga bentuk dasar TB paru pada anak( yaitu penyebaran
lim!ohematogen( TB endobronkial( dan TB paru kronik. Tuberkulosis paru kronik adalah TB
pas#aprimer sebagai akibat reakti9asi kuman di dalam !okus yang tidak mengalami resolusi
sempurna. 5eakti9asi ini jarang terjadi pada anak tetapi sering terjadi pada remaja dan
de'asa muda.

(<eena( **)
Tuberkulosis ekstrapulmonal( yang biasanya juga merupakan mani!estasi TB
pas#aprimer( dapat terjadi pada *5-01 anak yang terin!eksi TB. Tuberkulosis sistem
skeletal terjadi pada 5-$1 anak yang terin!eksi( paling banyak terjadi dalam $ tahun setelah
in!eksi primer( tetapi dapat juga *-0 tahun setelah in!eksi primer. Tuberkulosis ginjal
biasanya terjadi 5-*5 tahun setelah in!eksi primer.

(+upriyatno( *6)
15 | M i n i P r o j e c t
Gambar %. Patogenesis Tuberkulosis

'eterangan 1
M$ 7 penyebaran hematogen umumnya terjadi se#ara sporadik (occult hematogenis
spread). )uman TB kemudian membuat !okus koloni di berbagai organ dengan
9askularisasi baik. Fokus ini berpotensi mengalami reakti9asi di kemudian hari
16 | M i n i P r o j e c t
M* 7 kompleks primer terdiri dari !okus primer( lim!angitis( dan lim!eadenitis regional
M0 7 tuberkulosis primer adalah proses masuknya kuman TB( terjadinya penyebaran
hematogen( terbentuknya kompleks primer dan imunitas seluler spesi!ik( hingga
pasien mengalami in!eksi TB dan dapat menjadi sakit TB primer
M. 7 sakit TB pada keadaan ini disebut TB pas#aprimer karena mekanismenya dapat
melalui reakti9asi !okus lama TB (endogen) atau rein!eksi (in!eksi sekunder dan
seterusnya) oleh kuman TB dari luar (eksogen)
(Nar H<( *$)
Gambar (. Per&alanan Penyakit Tuberkulosis
Gambar +. Gambaran Paru yang Terin)eksi 'uman TB
17 | M i n i P r o j e c t
".2 'lasi)ikasi
A. Berdasarkan 3rgan yang Terkena
$. Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus
*. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru( misalnya pleura(
selaput otak( selaput jantung (perikardium)( kelenjar lim!e( tulang( persendian(
kulit( usus( ginjal( saluran ken#ing( alat kelamin( dan lain-lain. ?ejala dan
keluhan tergantung organ yang terkena( misalnya kaku kuduk pada meningitis
TB( nyeri dada pada TB pleura (pleuritis)( pembesaran kelenjar lim!e
super!isialis pada lim!adenitis TB dan de!ormitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya. 4iagnosis pasti sering sulit ditegakkan
sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang
kuat dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. )etepatan diagnosis
tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-
alat diagnostik( misalnya uji mikrobiologi( patologi anatomi( serologi( !oto toraks
dan lain-lain. (4epkes 53( *6)
B. Berdasarkan #i4ayat Pengobatan ebelumnya
$. )asus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan -/T atau sudah
pernah menelan -/T kurang dari satu bulan (. minggu)
*. )asus kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap( didiagnosis kembali dengan BT/ posti! (apusan atau
kultur)
0. )asus setelah putus berobat (default) adalah pasien yang telah berobat dan putus
berobat * bulan atau lebih dengan BT/ positi!
.. )asus setelah gagal (failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya
tetap positi! atau kembali menjadi positi! pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan
5. )asus pindahan (transfes in) adalah pasien yang dipindahkan dari @P) yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya
18 | M i n i P r o j e c t
2. )asus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. 4alam
kasus ini termasuk kasus kronik( yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih
BT/ positi! setelah selesai pengobatan ulangan (4epkes 53( *6)
".5 Diagnosis
)arena patogenesis TB sangat kompleks( mani!estasi klinis TB sangat ber9ariasi dan
bergantung pada !aktor kuman TB( penjamu serta interaksi di antara keduanya. Faktor kuman
bergantung pada jumlah kuman dan 9irulensinya( sedangkan !aktor penjamu bergantung pada
usia dan kompetensi imun serta kerentanan penjamu pada a'al terjadinya in!eksi.
(+upriyatno( *6)
/nak ke#il sering tidak menunjukkan gejala selama beberapa 'aktu. Tanda dan
gejala pada balita dan de'asa muda #enderung lebih signi!ikan( sedangkan pada kelompok
dengan rentang umur diantaranya menunjukkan clinically silent dissease.

(Nar H<( *$)
A. Ge&ala istemik
Mani!estasi sistemik adalah gejala yang bersi!at umum dan tidak spesi!ik
karena dapat disebabkan oleh berbagai penyakit atau keadaan lain. Beberapa
mani!estasi sistemik yang dapat dialami anak yaitu 7
$. 4emam lama (=* minggu) dan;atau berulang tanpa sebab yang jelas( yang dapat
disertai keringat malam. 4emam pada umumnya tidak tinggi. Temuan demam pada
pasien TB berkisar antara .-%1 kasus.
*. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam $ bulan dengan
penanganan giEi atau naik tetapi tidak sesuai dengan gra!ik pertumbuhan.
0. >a!su makan tidak ada (anoreksia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak
naik dengan adekuat (failure to thrive).
.. Pembesaran kelenjar lim!e super!isialis yang tidak sakit dan biasanya multipel.
5. 4iare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
2. Malaise (letih( lesu( lemah( lelah).

(Nar H<( *$)
B. Ge&ala Lokal Paru
$. TB /simptomatis
3n!eksi asimptomatis (atau laten) dide!inisikan sebagai in!eksi yang
dihubungkan dengan hipersensiti9itas tuberkulis dan tes tuberkulin positi! tanpa
gejala klinis dan mani!estasi radiologis. 4ari CT s#an dapat dilihat pembesaran nodus
lim!e di rongga dada( 'alaupun pada rontgen hasil dapat normal. )adang-kadang(
demam sub!ebris ditemukan pada onset penyakit. +ekiranya anak berkontak dengan
19 | M i n i P r o j e c t
indi9idu dengan TB yang tes tuberkulinnya positi!( diagnosis TB asimptomatis harus
segera disingkirkan setelah rontgen !oto thorak dan pemeriksaan !isik yang teliti.
(Madhi( *)
*. TB Paru Primer
)ompleks primer mengandung 0 elemen( yaitu !okus primer( lim!angitis dan
lim!adenitis regional. )arena aliran lim!atik thorak berlangsung se#ara predominan
dari kiri ke kanan( nodus pada bagian kanan atas paratrakeal sering dinilai paling
terin!eksi. 3nterpretasi ukuran nodus lim!e intratoraks pada rontgen sulit( tapi akan
terlihat jelas apabila terdapat adenopati yang disebabkan oleh tuberkulosis. /pabila
nodus lim!e membesar( obstruksi parsial dari bronkus dapat menimbulkan hiperin!lasi
dan berlanjut kepada atelektasis. ?ambaran radiologis pada penyakit ini mirip
penyakit yang disebabkan oleh aspirasi benda asing. /telektasis segmental dan lesi
hiperin!lasi dapat terjadi bersamaan.

(+upriyatno( *6)
Balita #enderung memperlihatkan tanda dan gejala karena perubahan diameter
saluran na!as berbanding nodus lim!e parenkim. ?ejala yang paling sering adalah
batuk non produkti! dan dispneu. ?angguan respiratorik #ontohnya obstruksi bronkus
dengan tanda adanya air trapping dan gejala #hee$ing jarang dikeluhkan.

(<eena(
*2)
0. TB Paru )ronis ; 5eakti9asi
+ebelum penemuan -bat /nti Tuberkulosis (-/T)( TB paru kronis sangat
jarang ditemukan pada anak. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak-anak
yang mempunyai strata sosio-ekonomi yang rendah( serta pada anak dengan diagnosis
TB yang lambat ditegakkan. Penyakit ini sering ditemukan pada remaja berbanding
anak dengan gambaran radiologis mirip pada orang de'asa( dengan gambaran in!iltrat
pada lobus atas dan ka9itas. /nak dengan penyakit ini #enderung mengalami demam(
anoreksia( malaise( penurunan berat badan( keringat malam( batuk produkti!( nyeri
dada dan hemoptisis.

(Nar H<( *$)
.. K!usi pleura
K!usi pleura yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat terjadi unilateral atau
bilateral. K!usi pleura TB jarang ditemukan pada anak kurang dari * tahun dan hampir
tidak ditemukan pada anak usia di ba'ah 5 tahun. -nset dari e!usi pleura berlangsung
#epat dengan gambaran klinis nyeri dada( sesak na!as( perkusi dullness dan penurunan
bunyi na!as. 4emam tinggi dan jika tidak dira'at dapat berlangsung beberapa
minggu.

(>elson( *.)
20 | M i n i P r o j e c t
6. Pemeriksaan Penun&ang
$. @ji tuberkulin
Tuberkulin adalah komponen protein kuman TB yang mempunyai si!at
antigenik yang kuat. <ika disuntikkan se#ara intrakutan kepada seseorang yang telah
terin!eksi TB( maka akan terjadi reaksi berupa indurasi di lokasi suntikan. @ji
tuberkulin #ara mantouO dilakukan dengan menyuntikkan ($ ml PP4 5T-*0 *T@
se#ara intrakutan di bagian 9olar lengan ba'ah. Pemba#aan dilakukan .%-6* jam
setelah penyuntikan. Pengukuran dilakukan terhadap indurasi yang timbul. <ika tidak
timbul indurasi sama sekali hasilnya dilaporkan sebagai negati!.

(+upriyatno( *6)
Gambar .. 6airan PPD #T7"% "TU
+e#ara umum( hasil uji tuberkulin dengan diameter indurasi $ mm dinyatakan
positi! tanpa menghiraukan penyebabnya. Hasil positi! ini sebagian besar disebabkan
oleh in!eksi TB alamiah( tetapi masih mungkin disebabkan oleh imunisasi BC? atau
in!eksi M. atipik. Pada anak balita yang telah mendapat BC?( diameter indurasi $-$.
#m dinyatakan uji tuberkulin positi!( kemungkinan besar karena in!eksi TB alamiah(
tetapi masih mungkin disebabkan oleh BC?-nya( tapi bila ukuran indurasinya $5
mm sangat mungkin karena in!eksi alamiah. /pabila diameter indurasinya -. mm(
maka dinyatakan uji tuberkulin negati!. 4iameter 5-& #m dinyatakan positi!
meragukan. Pada keadaan imunokompromais atau pada pemeriksaan !oto thorak
terdapat kelainan radiologis( maka hasil positi! yang digunakan 5mm.

(+upriyatno(
*6)
21 | M i n i P r o j e c t
Gambar /. Pengukuran Diameter Indurasi
*. @ji inter!eron
Prinsip yang digunakan adalah merangsang lim!osit T dengan antigen tertentu(
diantaranya antigen dari kuman TB. Bila sebelumya lim!osit T tersebut telah
tersensitisasi dengan antigen TB maka lim!osit T akan menghasilkan inter!eron
gamma yang kemudian dikalkulasi. /kan tetapi( pemeriksaan ini hingga saat ini
belum dapat membedakan antara in!eksi TB dan sakit TB.

(Chintu( **)
0. 5adiologi
?ambaran !oto 5ontgen toraks pada TB tidak khas( kelainan-kelainan radiologis
pada TB dapat juga dijumpai pada penyakit lain.
+e#ara umum( gambaran radiologis yang sugesti! TB adalah 7
Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan;tanpa in!iltrat
)onsolidasi segmental;lobar
Milier
)alsi!ikasi dengan in!iltrat
/telektasis
)a9itas
K!usi pleura
Tuberkuloma (+upriyatno( *6)
22 | M i n i P r o j e c t
Gambar 2. #oentgen T!oraks *ada Anak yang $enderita TB Paru
.. +erologi
Beberapa pemeriksaan serologis yang ada di antaranya adalah P/P TB(
mycodot( Immuno Chromatographic Test (3CT)( dan lainnya. /kan tetapi( hingga saat
ini belum ada satu pun pemeriksaan serologis yang dapat membedakan antara in!eksi
TB dan sakit TB.

(Chintu( **)
5. Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi yang dilakukan terdiri dari pemeriksaan
mikroskopik apusan langsung untuk menemukan BT/ dengan metode pe'arnaan
%iehl&'elsen( pemeriksaan biakan kuman M. tuberculosis dan pemeriksaan PC5. Pada
anak( pemeriksaan mikroskopik langsung sulit dilakukan karena sulit mendapatkan
sputum sehingga harus dilakukan bilas lambung. 4ari hasil bilas lambung didapatkan
hanya $1 anak yang memberikan hasil positi!. Pada kultur( hasil dinyatakan positi!
jika terdapat minimal $ basil per milliliter spesimen. +aat ini PC5 masih digunakan
untuk keperluan penelitian dan belum digunakan untuk pemeriksaan klinis rutin.
(+upriyatno( *6)
23 | M i n i P r o j e c t
Gambar 5. Gambaran $ikrosko*ik BTA Positi)
2. Patologi /natomik
Pemeriksaan P/ dapat menunjukkan gambaran granuloma yang ukurannya
ke#il( terbentuk dari agregasi sel epiteloid yang dikelilingi oleh lim!osit. ?ranuloma
tersebut mempunyai karakteristik perkijuan atau area nekrosis kaseosa di tengah
granuloma. ?ambaran khas lainnya ditemukannya sel datia "anghans.

(+upriyatno(
*6)
Gambar 18. Gambaran PA *ada Paru yang Terin)eksi TB
4iagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis
maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan
dahak pada anak biasanya sulit( maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan
menggunakan sistem skor. @nit )erja )oordinasi 5espirologi PP 34/3 telah membuat
Pedoman >asional Tuberkulosis /nak dengan menggunakan sistem skor (scoring system)(
24 | M i n i P r o j e c t
yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut se#ara
resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB
anak. (34/3( *%)
Tabel 1. istem koring 9Scoring System: Ge&ala dan Pemeriksaan Penun&ang TB
Parameter 8 1 " % ,umla!
'ontak TB Tidak jelas "aporan
keluarga(
BT/
negati! atau
tidak tahu(
BT/ tidak
jelas
BT/ positi!
U&i Tuberkulin >egati! Positi! (P $
mm( atau P 5
mm pada
keadaan
imunosupresi)
Berat badan 0
keadaan gi;i
Ba'ah garis
merah ()M+)
atau BB;@
8%1
)linis giEi
buruk
(BB;@
821)
Demam tan*a
sebab &elas
P * minggu
Batuk P0 minggu
Pembesaran
kelen&ar lim)e
koli< aksila<
inguinal
P$ #m(
jumlah =$(
tidak nyeri
Pembengkaka
n tulang 0 sendi
*anggul< lutut<
)alang
/da
pembengkakan
-oto t!oraks >ormal ;
tidak jelas
)esan TB
,umla!
25 | M i n i P r o j e c t
Catatan 7
4iagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter
Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik
lainnya seperti asma( sinusitis( dan lain-lain
<ika dijumpai skro!uloderma (TB pada kelenjar dan kulit)( pasien dapat
langsung didiagnosis tuber#ulosis
Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname)
4emam dan batuk tidak ada respon terhadap terapi sesuai baku
?ambaran sugesti! TB( berupaH pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal
dengan;tanpa in!iltratH konsolidasi segmental;lobarH kalsi!ikasi dengan in!iltratH
atelektasisH tuberkuloma. ?ambaran milier tidak dihitung dalam skor karena
diperlakukan se#ara khusus
Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak
Mengingat pentingnya peran uji tuberkulin dalam mendiagnosis TB anak(
maka sebaiknya disediakan tuberkulin di tempat pelayanan kesehatan
Pada anak yang diberi imunisasi BC?( bila terjadi reaksi #epat BC? (L 6 hari)
harus die9aluasi dengan sistim skoring TB anak( BC? bukan merupakan alat
diagnostik
/nak didiagnosis TB jika jumlah skor = 2( (skor maksimal $.)
Pasien usia balita yang mendapat skor 5( dirujuk ke 5+ untuk e9aluasi lebih
lanjut
<ika ditemukan gambaran milier( ka9itas atau e!usi pleura pada !oto toraks(
dan;atau terdapat tanda-tanda bahaya( seperti kejang( kaku kuduk dan
penurunan kesadaran serta tanda kega'atan lain seperti sesak napas( pasien
harus di ra'at inap di 5+. (34/3( *%)
+etelah dokter melakukan anamnesis( pemeriksaan !isik( dan pemeriksaan penunjang(
maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau
sama dengan 2 (=2)( harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat -/T (obat anti
tuberkulosis). Bila skor kurang dari 2 tetapi se#ara klinis ke#urigaan kearah TB kuat maka
perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi( seperti bilasan lambung(
patologi anatomi( pungsi lumbal( pungsi pleura( !oto tulang dan sendi( !unduskopi( CT-+#an(
dan lain lainnya. (34/3( *%)
26 | M i n i P r o j e c t
Pada anak yang menderita TB( perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu
keadaan di ba'ah ini 7
$. Tanda bahaya 7
Q kejang( kaku kuduk
Q penurunan kesadaran
Q kega'atan lain( misalnya sesak napas
*. Foto toraks menunjukkan gambaran milier( ka9itas( e!usi pleura
0. ?ibbus( koksitis (4epkes 53( *6)
Terapi TB diteruskan Terapi TB diteruskan
sambil men#ari penyebabnya
Gambar 11. Alur Tatalaksana Pasien TB Anak *ada Unit Pelayanan 'ese!atan Dasar
".18 Diagnosis Banding
4iagnosis banding TB antara lain pneumonia. Pneumonia adalah proses in!eksi akut
yang mengenai jaringan paru-paru (al9eoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali
bersamaan dengan proses in!eksi akut pada bronkus (biasa disebut bron#hopneumonia).
?ejala penyakit ini berupa napas #epat dan napas sesak( karena paru meradang se#ara
mendadak. Batas napas #epat adalah !rekuensi pernapasan sebanyak 2 kali per menit pada
anak usia 8* bulan( 5 kali per menit atau lebih pada anak usia * bulan sampai kurang dari $
tahun( dan . kali permenit atau lebih pada anak usia $ tahun sampai kurang dari 5 tahun.
(Behrman( **)
Pneumonia bakterial biasanya timbul mendadak( pasien tampak toksik( demam tinggi
disertai menggigil dan sesak memburuk dengan #epat. Pneumonia 9iral biasanya timbul
perlahan( pasien tidak tampak sakit berat( demam tidak tinggi( gejala batuk dan sesak
bertambah se#ara bertahap( melibatkan banyak organ bermukosa (mata( mulut( tenggorok
usus). (Behraman( **)
Pada pemeriksaan laboratorium( pada pemeriksaan darah lengkap( didapatkan 7
27 | M i n i P r o j e c t
Skor P2
Beri OAT selaa 2 !"lan #an
#ie$al"asi
%es&on '()
%es&on '*)
Pneumomia bakteri 7 leukositosis ( $5. R ..;mm
0
)( dengan predominan
PM>.
Pneumonia 9irus dan pneumonia mikoiplasma 7 leukosit dalam batas normal
atau meningkat sedikit.
)adang R kadang terdapat anemia ringan dan laju endap darah ( "K4 )
menigkat (Behrman( **)
Pemeriksaan mikrobiologis dilakukan pada pneumonia berat. +pesimen yang diambil
berasal dari usap tenggorok( sekret naso!aring( bilasan bronkus( darah( !ungsi pleura atau
aspirasi paru. 4iagnosis dikatakan de!initi! bila ditemukan kuman dari spesimen tersebut.
(Behrman( **)
Pemeriksaan yang dilakukan hanyalah pemeriksaan rontgen toraks posisi /P. +e#ara
umum gambaran !oto toraks terdiri dari 7
a. 3n!iltrat interstisial( ditandai dengan peningkatan #orakan bronko9askuler( dan
hiperaerasi
b. 3n!iltrat al9eolar( merupakan konsolidasi paru dengan air bron#hogram.
)onsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris( atau
terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya #ukup besar( berbentuk s!eris( berbatas
tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru( dikenal sebagai round pneumonia.
#. Bronkopneumonia( ditandai dengan gambaran di!us merata pada kedua paru( berupa
ber#ak-ber#ak in!iltrate yang dapat meluas hingga daerah peri!er paru( disertai dengan
penigkatan #orakan peribronkial (Behrman( **)
?ambaran !oto rontgen toraks pneumonia pada anak meliputi in!iltrat ringan pada
satu paru hingga konsolidasi luas pada kedua paru. "esi pneumonia anak terbanyak berada di
paru kanan( terutama di lobus atas. <ika ditemukan di paru kiri dan terbanyak di lobus ba'ah
itu merupakan predi#tor perjalanan penyakit yang lebih berat dengan resiko terjadinya
pleuritis lebih meningkat.
".11 $edikamentosa
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien( men#egah kematian(
men#egah kekambuhan( memutuskan rantai penularan dan men#egah terjadinya resistensi
kuman terhadap obat anti tuberkulosis (-/T). @ntuk menjamin kepatuhan pasien menelan
obat( dilakukan penga'asan langsung (4-T S Directly *bserved Treatment) oleh seorang
Penga'as Minum -bat (PM-).
28 | M i n i P r o j e c t
Pada a'al tahun $&&-an ,H- telah mengembangkan strategi penanggulangan TB
yang dikenal sebagai strategi 4-T+ (Directly *bserved Treatment +hort&course) dan telah
terbukti sebagai strategi penanggulangan yang se#ara ekonomis paling e!ekti! (cost&efective).
+trategi ini dikembangkan dari berbagi studi( uji #oba klinik (clinical trials)"
pengalamanpengalaman terbaik (best practices)( dan hasil implementasi program
penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Penerapan strategi 4-T+ se#ara baik(
disamping se#ara #epat menekan penularan( juga men#egah berkembangnya M45-TB. Fokus
utama 4-T+ adalah penemuan dan penyembuhan pasien( prioritas diberikan kepada pasien
TB tipe menular. +trategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian
menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan
#ara terbaik dalam upaya pen#egahan penularan TB. ,H- telah merekomendasikan strategi
4-T+ sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun $&&5. Bank 4unia menyatakan
strategi 4-T+ sebagai salah satu inter9ensi kesehatan yang paling e!ekti!. 3ntegrasi ke dalam
pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi e!isiensi dan e!ekti!itasnya. (4epkes 53(
*6)
+trategi 4-T+ terdiri dari 5 komponen kun#i 7
$) )omitmen politis
*) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
0) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana
kasus yang tepat( termasuk penga'asan langsung pengobatan
.) <aminan ketersediaan -/T yang bermutu
5) +istem pen#atatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil
pengobatan pasien dan kinerja program se#ara keseluruhan (4epkes 53( *6)
".11.1 3bat TB yang Digunakan
-bat TB utama (!irst line( lini utama) saat ini adalah ri!ampisin (5)( isoniaEid (H)(
piraEinamid (N)( etambutol (K)( dan +treptomisin (+). 5i!ampisin dan isoniaEid
merupakan obat pilihan utama dan ditambah dengan piraEinamid( etambutol( dan
streptomisin. -bat lain (second line( lini kedua) adalah para&aminosalicylic acid (P/+)(
cycloserin teri$idone" ethionamide" prothionamide" oflo,acin" levoflo,acin" mi,iflok,acin"
gatiflo,acin" ciproflo,acin" kanamycin" amikacin" dan capreomycin( yang digunakan jika
terjadi M45.

(Chintu( **)
$. 3soniaEid
29 | M i n i P r o j e c t
3soniaEid (isokotinik hidra$il) adalah obat antituberkulosis (-/T) yang
sangat e!ekti! saat ini( bersi!at bakterisid dan sangat e!ekti! terhadap kuman
dalam keadaan metabolik akti! (kuman yang sedang berkembang)( bakteriostatik
terhadap kuman yang diam (dormant). -bat ini e!ekti! pada intrasel dan
ekstrasel kuman( dapat berdi!usi ke dalam seluruh jaringan dan #airan tubuh
termasuk C++( #airan pleura( #airan asites( jaringan kaseosa( dan memiliki
angka reaksi simpang (adverse reaction) yang sangat rendah.

(+upriyatno( *6)
3soniaEid diberikan se#ara oral. 4osis harian yang biasa diberikan adalah
5-$5 mg;kgBB;hari( maksimal 0mg;hari( dan diberikan dalam satu kali
pemberian. 3soniaEid yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet $ mg dan
0 mg( dan dalam bentuk sirup $ mg;5##. sedian dalam bentuk sirup
biasanya tidak stabil( sehingga tidak dianjurkan penggunaannya. )onsentrasi
pun#ak di dalam darah( sputum( dan C++ dapat di#apai dalam $-* jam dan
menetap selama paling sedikit 2-% jam. 3soniaEid dimetabolisme melalui proses
asetilasi di hati. /nak-anak mengeliminasi isoniaEid lebih #epat daripada orang
de'asa( sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi dari pada de'asa.
3soniaEid pada air susu ibu (/+3) yang mendapat isoniaEid dan dapat menembus
sa'ar darah plasenta( tetapi kadar obat yang mmen#apai janin;bayi tidak
membahayakan.

(+upriyatno( *6)
3soniaEid mempunyai dua e!ek toksik utama( yaitu hepatotoksik dan
neuritis peri!er. )eduanya jarang terjadi pada anak( biasanya terjadi pada pasien
de'asa dengan !rekuensi yang meningkat dengan bertambahnya usia. +ebagian
besar pasien anak yang menggunakan isoniaEid mengalami peningkatan kadar
transaminase darah yang tidak terlalu tinggi dalam * bulan pertama( tetapi akan
menurun sendiri tanpa penghentian obat. 3dealnya( perlu pemantauan kadar
transaminase pada * bulan pertama( tetapi karena jarang menimbulkan
hepatotoksisitas maka pemantauan laboratorium tidak rutin dilakukan( ke#uali
bila ada gejala dan tanda klinis.

(+upriyatno( *6)
*. 5i!ampisin
5i!ampisin bersi!at bakterisid pada intrasel dan ekstrasel( dapat
memasuki semua jaringan dan dapat membunuh kuman semidorman yang tidak
dapat dibunuh oleh isoniaEid. 5i!ampisin diabsorbsi dengan baik melalui sistem
gastrointestinal pada saat perut kosong ($ jam sebelum makan)( dan kadar serum
pun#ak ter#apai dalam * jam. +aat ini( ri!ampisin diberikan dalam bentuk oral
30 | M i n i P r o j e c t
dengan dosis $-* mg;kgBB;hari( dosis maksimal 2 mg;hari( dengan satu
kali pemberian per hari. <ika diberikan bersamaan dengan isoniaEid( dosis
ri!ampisin tidak melebihi $5 mg;kgBB;hari dan dosis isoniaEid $
mg;kgBB;hari. 4istribusinya sama dengan isoniaEid.

(Nar H<( *$)
K!ek samping ri!ampisin lebih sering terjadi dari isoniaEid. K!ek yang
kurang menyenangkan bagi pasien adalah perubahan 'arna urin( ludah( sputum(
dan air mata( menjadi 'arna orange kemerahan. +elain itu( e!ek samping
ri!ampisin adalah gangguan gastrointestinal (mual dan muntah)( dan
hepatotoksisitas (ikterus;hepatitis) yang biasanya ditandai dengan peningkatan
kadar transaminase serum yang asimtomatik. <ika ri!ampisin diberikan
bersamaan isoniaEid( terjadi peningkatan risiko hepatotosisitas( dapat diperke#il
dengan #ara menurunkan dosis harian isoniaEid menjadi maksimal
$mg;kgBB;hari. 5i!ampisin juga dapat menyebabkan trombositopenia( dan
dapat berinteraksi dengan beberapa obat( termasuk kuinidin( siklosporin(
digoksin( teo!iin( kloram!enikol( kortokosteroid dan sodium 'ar!arin.
5i!ampisin umumnya tersedia dalam sedian kapsul $5 mg( 0 mg dan .5
mg( sehingga kurang sesuai digunakan untuk anak-anak dengan berbagai kisaran
BB. +uspensi dapat dibuat dengan menggunakan berbagai jenis Eat pemba'a(
tetapi sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan pemberian makanan karena
dapat menimbulkan malabsorpsi. (+upriyatno( *6)
0. PiraEinamid
PiraEinamid adalah deri9at nikotinamid( berpenetrasi baik pada jaringan
dan #airan tubuh termasuk C++( bakterisid hanya pada intrasel suasana asam(
dan diabsorbsi baik pada saluran #erna. Pemberian piraEinamid se#ara oral
sesuai dosis $5-0 mg;kgBB;hari dengan dosis maksimal * gram;hari. )adar
serum pun#ak .5 Jg;ml dalam 'aktu * jam. PiraEinamid diberikan pada !ase
intensi! karena piraEinamid sangat baik diberikan pada saat suasana asam.( yang
timbul akibat jumlah kuman yang masih sangat banyak. Penggunaan
piraEinamid aman pada anak. )ira-kira $1 orang de'asa yang diberikan
piraEinamid mengalami e!ek samping berupa atralgia( artritis( atau gout akibat
hiperurisemia( tetapi pada anak mani!estasi klinis hiperurisemia sangat jarang
terjadi. K!ek samping lainnya adalah hepatotoksisitas( anoreksia( dan iritasi
saluran #erna. 5eaksi hipersensiti9itas jarang timbul pada anak. PiraEinamid
31 | M i n i P r o j e c t
tersedia dalam bentuk tablet 5 mg( tetapi seperti isoniaEid( dapat digerus dan
diberikan bersamaan makanan.

(+upriyatno( *6)
.. Ktambutol
Ktambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada
mata. -bat ini memiliki akti9itas bakteriostatik( tetapi dapat bersi!at bakterisid
jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. +elain itu(
berdasarkan pengalaman( obat ini dapat men#egah timbulnya resistensi terhadap
obat-obat lain. 4osis etambutol adalah $5-* mg;kgBB;hari( maksimal $(*5
gr;hari dengan dosis tunggal. )adar serum pun#ak 5 Jg dalam 'aktu *. jam.
Kksresi utama melalui ginjal dan saluran #erna. Ktambutol tersedia dalam bentuk
tablet *5 mg dan 5 mg. Ktambutol ditoleransi dengan baik oleh de'asa pada
pemberian oral dengan dosis satu tau dua kali sehari ( tetapi tidak berpenetrasi
baik pada ++P( demikian juga pada keadaan meningitis.

(Chintu( **)
)emungkinan toksisitas utam adalah neuritis optok dan buta 'arna
merah-hijau sehingga seringkali penggunaannya dihindari pada anak yang
belum dapat diperiksa tajam penglihatannya. 5ekomendasi ,H- yang terakhir
mengenai penatalaksanaan TB anak( etambutol dianjurkan penggunaanya pada
anak dengan dosis $5-*5 mg;kgBB;hari. Ktambutol dapat diberikan pada anak
dengan TB berat dan ke#urigaan TB resisten-obat jika obat-obat lainnya tidak
tersedia atau tidak dapat digunakan. (+upriyatno( *6)
5. +treptomisin
+treptomisin bersi!at bakterisid dan bakteriostatik terhadap kuman
ekstraseluler pada keadaan basal atau netral( sehingga tidak e!ekti! untuk
membunuh kuman intraseluler. +aat ini streptomisin jarang digunakan dalam
pengobatan TB tetapi penggunaannya penting penting pada pengobatan !ase
intensi! meningitis TB dan M45-TB. +treptomisin diberikan se#ara
intramuskular dengan dosis $5-. mg;kgBB;hari( maksimal $ gr;hari dan kadar
pun#ak .-5 Jg;ml dalam 'aktu $-* jam. (Chintu( **)
+treptomisin sangat baik mele'ati selaput otak yang meradang( tetapi
tidak dapat mele'ati selaput otak yang tidak meradang.streptomisin berdi!usi
baik pada jaringan dan #airan pleura dan dieksresikan melalui ginjal.
Penggunaan utamanya saat ini adalah jika terdapat ke#urigaan resistensi a'al
terhadap isoniaEid atau jika anak menderita TB berat. Toksisitas utama
streptomisin terjadi pada ner9us kranialis :333 yang mengganggu keseimbangan
32 | M i n i P r o j e c t
dan pendengaran dengan gejala berupa telinga berdegung (tinismus) dan pusing.
Toksisitas ginjal jarang terjadi. +treptomisin dapat menembus plasenta( sehingga
perlu berhati-hati dalam menentukan dosis pada 'anita hamil karena dapat
merusak sara! pendengaran janin yaitu 01 bayi akan menderita tuli berat.
(+upriyatno( *6)
Tabel ". 3bat Anti Tuberkulosis yang Biasa Di*akai dan Dosisnya
Nama 3bat Dosis !arian
9mg0kgBB0!ari:
Dosis maksimal
9mg0!ari:
E)ek am*ing
Isonia;id 5-$5M 0 Hepatitis( neuritis peri!er( hipersensiti9itas
#i)am*isin== $-* 2 ?astrointestinal( reaksi kulit( hepatitis(
trombositopenia( peningkatan enEim hati( #airan
tubuh ber'arna oranye kemerahan
Pira;inamid $5-0 * Toksisitas hati( atralgia( gastrointestinal
Etambutol $5-* $*5 >euritis optik( ketajaman penglihatan berkurang(
buta 'arna merah-hijau( penyempitan lapang
pandang( hipersensiti9itas( gastrointestinal
tre*tomisin $5-. $ -totoksis( ne!rotoksik
)eterangan 7
= Bila isoniaEid dikombinasikan dengan ri!ampisin( dosisnya tidak boleh melebihi $
mg;kgBB;hari.
MM 5i!ampisin tidak boleh dira#ik dalam satu puyer dengan -/T lain karena dapat
mengganggu bioa9ailabilitas ri!ampisin. 5i!ampisin diabsorpsi dengan baik melalui
sistemgastrointestinal pada saat perut kosong (satu jam sebelum makan). (+upriyatno(
*6)
".11." Panduan 3bat TB
Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 2 bulan #ukup adekuat.
+etelah pemberian obat 2 bulan( lakukan e9aluasi baik klinis maupun pemeriksaan
penunjang. K9aluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai
keberhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata 'alaupun gambaran
radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti( -/T tetap dihentikan. Prinsip
dasar pengobatan TB pada anak adalah minimal 0 ma#am obat dan diberikan dalam
'aktu 2 bulan (*5HN ; .5H). -/T pada anak diberikan setiap hari( baik pada tahap
intensi! maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
(34/3( *%)
33 | M i n i P r o j e c t
Pengobatan selama 2 bulan bertujuan untuk meminimalisasi residu subpopulasi
persisten M. tuberculosis (kuman tidak mati dengan obat-obatan) bertahan dalam tubuh(
dan mengurangi se#ara bermakna kemungkinan terjadinya kekambuhan. Pengobatan
lebih dari 2 bulan pada TB anak tanpa komplikasi menunjukkan angka kekambuhan yang
tidak berbeda makna dengan pengobatan 2 bulan. (Chintu( **)
Tabel %. Dosis 3AT 'ombi*ak *ada Anak
,enis 3bat BB
> 18 kg
BB
18 7 15 kg
BB
"8 7 %" kg
3soniasid 5 mg $ mg * mg
5i!ampi#in 65 mg $5 mg 0 mg
Pirasinamid $5 mg 0 mg 2 mg
Tabel (. Dosis 3AT 'DT *ada Anak
Berat badan 9kg: " bulan tia* !ari
#H? 9/+0+801+8:
( bulan tia* !ari
#H 9/+0+8:
5-& $ tablet $ tablet
$-$& * tablet * tablet
$5-$& 0 tablet 0 tablet
*-0* . tablet . tablet
)eterangan 7
Q Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
Q /nak dengan BB $5-$& kg dapat diberikan 0 tablet
Q /nak dengan BB P00 kg ( dirujuk ke rumah sakit
Q -bat harus diberikan se#ara utuh( tidak boleh dibagi
Q -/T )4T dapat diberikan dengan #ara 7 ditelan se#ara utuh atau digerus
sesaat sebelum diminum (34/3( *%)
Pada semua anak( terutama balita yang tinggal serumah atau berkontak erat
dengan penderita TB dengan BT/ positi!( perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan
sistem skoring. Bila hasil e9aluasi dengan skoring sistem didapat skor 82( kepada anak
tersebut diberikan 3soniaEid (3>H) dengan dosis 5-$ mg;kg BB;hari selama 2 bulan. Bila
anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BC?( imunisasi BC? dilakukan setelah
pengobatan pen#egahan selesai. (34/3( *%)
34 | M i n i P r o j e c t
".11.% E@aluasi !asil *engobatan
+ebaiknya pasien kontrol tiap bulan. K9aluasi hasil pengobatan dilakukan setelah
* bulan terapi. K9aluasi pengobatan penting karena diagnosis TB pada anak sulit dan
tidak jarang terjadi salah diagnosis. K9aluasi pengobatan dilakukan dengan beberapa #ara(
yaitu e9aluasi klinis( e9aluasi radiologis( dan pemeriksaan "K4. K9aluasi yang terpenting
adalah e9aluasi klinis( yaitu menghilangnya atau membaiknya kelainan klinis yang
sebelumnya ada pada a'al pengobatan( misalnya penambahan berat badan( hilangnya
demam( hilangnya batuk( perbaikan na!su makan dan lain-lain. /pabila respon
pengobatan baik( maka pengobatan dilanjutkan.

(Nar H<( *$)
K9aluasi radiologis dalam *-0 bulan pengobatan tidak perlu dilakukan se#ara
rutin( ke#uali pada TB dengan kelainan radiologis yang nyata atau luas seperti TB milier(
e!usi pleura atau bronkopneumonia TB. Pada pasien TB milier( !oto rontgen toraks perlu
diulang setelah $ bulan untuk e9aluasi hasil pengobatan( sedangkan pada e!usi pleura TB
pengulangan !oto rontgen toraks dilakukan setelah * minggu. "aju endap darah dapat
digunakan sebagai sarana e9aluasi bila pada a'al pengobatan nilainya tinggi.

(Chintu(
**)
/pabila respon setelah * bulan kurang baik( yaitu gejala masih ada dan tidak
terjadi penambahan BB( maka -/T tetap diberikan sambil dilakukan e9aluasi lebih lanjut
mengapa tidak terjadi perbaikan. )emungkinan yang terjadi adalah misdiagnosis(
mistreatment" atau resistensi terhadap -/T. Bila a'alnya pasien ditangani di sarana
kesehatan terbatas( maka pasien dirujuk ke sarana yang lebih tinggi atau ke konsultan
paru anak. K9aluasi yang dilakukan meliputi e9aluasi kembali diagnosis( ketepatan dosis
-/T( keteraturan minum obat( kemungkinan adanya penyakit penyulit atau penyerta(
serta e9aluasi asupan giEi. +etelah pengobatan 2-$* bulan dan terdapat perbaikan klinis(
pengobatan dapat dihentikan. Foto rontgen toraks ulang pada akhir pengobatan tidak
perlu dilakukan se#ara rutin.

(Chintu( **)
".11.( E@aluasi e)ek sam*ing *engobatan
+eperti telah diuraikan sebelumnya( -/T dapat menimbulkan berbagai e!ek
samping. K!ek samping yang #ukup sering terjadi pada pemberian isoniaEid dan
ri!ampisin adalah gangguan gastrointestinal( hepatotoksisitas( ruam( gatal( serta demam.
+alah satu e!ek samping yang perlu diperhatikan adalah hepatotoksisitas. (+upriyatno(
*6)
35 | M i n i P r o j e c t
Hepatotoksisitas jarang terjadi pada pemberian dosis isoniaEid yang tidak
melebihi $mg;kgBB;hari dan dosis ri!ampisin yang tidak melebihi $5mg;kgBB;hari
dalam kombinasi. Hepatotoksisitas ditandai oleh peningkatan serum glutamic o,aloacetic
transaminase (+?-T) dan serum glutamic&pyruvic transaminse (+?PT) hingga P5 kali
tanpa gejala( atau P0 kali batas atas normal (. @;l) disertai dengan gejala( peningkatan
bilirubin total lebih dari $(5mg;dl( serta peningkatan +?-T;+?PT dengan nilai berapapun
yang disertai dengan ikterus( anoreksia( nausea( dan muntah. (+upriyatno( *6)
Masih banyak perbedaan pendapat di antara para ahli mengenai pemantauan dan
penatalaksanaan hepatotoksisitas pada anak. Beberapa pendapat menyebutkan bah'a
pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium diperlukan pada anak dengan penyakit
yang berat seperti TB milier( meningitis TB( keadaan giEi buruk( serta pasien yang
memerlukan dosis isoniaEid dan ri!ampisin lebih besar daripada dosis yang dianjurkan.
Pada keadaan ini( hepatotoksisitas biasanya terjadi pada * bulan pertama pengobatan.
-leh karena itu( diperlukan pemantauan yang #ukup sering (misalnya tiap * minggu)
selama * bulan pertama( selanjutnya dapat lebih jarang. (+upriyatno( *6)
Pada anak dengan penyakit yang tidak berat dan dosis obat yang diberikan tidak
melebihi anjuran( pemeriksaan laboratorium tidak perlu dilakukan se#ara rutin. Pada
keadaan ini( hanya diperlukan screening !ungsi hati sebelum pemberian terapi serta
pemantauan gejala klinis hepatotoksisitas. (+upriyatno( *6)
Tatalaksana hepatotoksisitas bergantung pada beratnya kerusakan hati yang
terjadi. /nak dengan gangguan !ungsi hati ringan mungkin tidak membutuhkan
perubahan terapi. Beberapa ahli berpendapat bah'a peningkatan enEim transaminase
yang tidak terlalu tinggi (moderate) dapat mengalami resolusi spontan tanpa penyesuaian
terapi( sedangkan peningkatan P5 kali tanpa gejala( atau P0 kali batas atas normal disertai
gejala memerlukan penghentian ri!ampisin sementara atau penurunan dosis ri!ampisin.
/kan tetapi( mengingat pentingnya ri!ampisin dalam paduan pengobatan yang e!ekti!(
perlunya penghentian obat ini #ukup menimbulkan keraguan. /khirnya disimpulkan
bah'a paduan pengobatan dengan isoniaEid dan ri!ampisin #ukup aman diberikan dengan
dosis yang dianjurkan dan dilakukan pemantauan hepatotoksisitas dengan tepat. /pabila
peningkatan enEim transaminase P5 kali tanpa gejala( atau P0 kali batas atas normal
disertai gejala( maka semua -/T dihentikan( kemudian kadar enEim transaminase
diperiksa kembali setelah $ minggu penghentian. -/T diberikan kembali apabila nilai
laboratorium telah normal. Terapi berikutnya dengan #ara memberikan isoniaEid dan
ri!ampisin dengan dosis yang dinaikkan se#ara bertahap( dan harus dilakukan pemantauan
36 | M i n i P r o j e c t
klinis dan laboratorium dengan #ermat. Hepatotoksisitas dapat timbul kembali pada
pemberian terapi berikutnya jika dosis diberikan langsung penuh (full dose) dan
piraEinamid digunakan dalam paduan pengobatan. (+upriyatno( *6)
".11.+ Putus obat
Pasien dikatakan putus obat bila berhenti menjalani pengobatan selama P*
minggu. +ikap selanjutnya untuk penanganan bergantung pada hasil e9aluasi klinis saat
pasien datang kembali( sudah berapa lama menjalani pengobatan dan berapa lama obat
telah terputus. Pasien tersebut perlu dirujuk untuk penanganan selanjutnya.

(+upriyatno(
*6)
".11.. Multi Drug Resistance 9$D#: TB
Multidrug resistance TB adalah isolate M. tuberculosis yang resisten terhadap dua
atau lebih -/T lini pertama( minimal terhadap isoniaEid dan ri!ampisin. )e#urigaan
adanya M45-TB adalah apabila se#ara klinis tidak ada perbaikan dengan pengobatan.
Manajemen TB semakin sulit dengan meningkatnya resistensi terhadap -/T yang biasa
dipakai. /da beberapa penyebab terjadinya resistensi terhadap -/T yaitu pemakaian obat
tunggal( penggunaan paduan obat yang tidak memadai termasuk pen#ampuran obat yang
tidak dilakukan se#ara benar dan kurangnya keteraturan meminum obat.

(+upriyatno(
*6)
)ejadian M45-TB sulit ditentukan karena biakan sputum dan uji kepekaan obat
tidak rutin dilaksanakan di tempat-tempat dengan pre9alensi TB yang tinggi. /kan tetapi
diakui bah'a M45-TB merupakan masalah besar yang terus meningkat. 4iperkirakan
M45-TB akan tetap menjadi masalah di banyak 'ilayah di dunia. 4ata mengenai M45-
TB yang resmi di 3ndonesia belum ada. Menurut ,H-( bila pengendalian TB tidak
benar( pre9alensi M45-TB men#apai 5(5 1( sedangkan dengan pengendalian yang benar
yaitu dengan menerapkan strategi directly observed treatment shortcourse (4-T+)( maka
pre9alensi M45-TB hanya $(21 saja. Bila terjadi M45( maka digunakan -/T lini
kedua seperti pada tabel berikut ini 7

Tabel +. Da)tar 3AT Lini 'edua untuk $D#7TB
Nama 3bat Dosis Harian
9mg0kgBB0!ari:
Dosis
$aksimal
E)ek am*ing
37 | M i n i P r o j e c t
9mg *er
!ari:
Ethionamide atau
Prothionamide
Fluoroquinolones
Ofloxacin
Levofloxacin
Mexifloxacin
Gentifloxacin
Ciprofloxacin
Aminoglycosides
anamycin
amiacin
capreomycin
Cycloserine teri!idone
Para"aminosalycylic
Acid
15- 20
15-20
7,5-10
7,5-10
7,5-10
20-30
15-30
15-22,5
15-30
10-20
150
1000
800
1500
1000
1000
1000
1000
12 000
muntah, gangguan
gastrointestinal, sakit
sendi
ototoksisitas,
toksisitas hati
gangguan psikis,
gangguan neurologis
muntah, gangguan
gastrointestinal
".1" Non7medikamentosa
".1".1 Pendekatan D3T (Directly Observed Treatment Shortcourse)
)eteraturan pasien untuk menelan obat dikatakan baik apabila pasien menelan
obat sesuai dengan dosis yang ditentukan dalam panduan pengobatan. )eteraturan dalam
menelan obat ini menjamin keberhasilan pengobatan serta men#egah relaps dan terjadinya
resistensi. +alah satu upaya untuk meningkatkan keteraturan adalah dengan melakukan
penga'asan langsung terhadap pengobatan (directly observed treatment).

Directly
observed treatment shortcours (4-T+) adalah strategi yang telah direkomendasikan oleh
,H- dalam pelaksanaan program penanggulangan TB( dan telah dilaksanakan di
3ndonesia sejak tahun $&55. Penanggulangan TB dengan strategi 4-T+ dapat
memberikan angka kesembuhan yang tinggi.

(+upriyatno( *6)
38 | M i n i P r o j e c t
+esuai rekomendasi ,H-( strategi 4-T+ terdiri atas lima komponen yaitu
sebagai berikut 7
)omitmen politis dari para pengambil keputusan( temasuk dukungan dana.
4iagnosis TB dengan pemeriksaan sputum se#ara mikroskopis.
Pengobatan dengan panduan -/T jangka pendek dengan penga'asan langsung oleh
penga'as minum obat (PM-).
)esinambungan persediaan -/T jangka pendek dengan mutu terjamin.
Pen#atatan dan pelaporan se#ara baku untuk memudahkan pemantauan dan e9aluasi
program penanggulangan TB. (+upriyatno( *6)
".1"." umber *enularan dan case finding
/pabila kita menemukan seorang anak dengan TB( maka harus di#ari sumber
penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular TB. +umber penularan adalah orang
de'asa yang menderita TB akti! dan kontak erat dengan anak tersebut. Pela#akan sumber
in!eksi dilakukan dengan #ara pemeriksaan radiologis dan BT/ sputum (pela#akan
sentripetal). Bila telah ditemukan sumbernya( perlu pula dilakukan pela#akan sentri!ugal(
yaitu men#ari anak lain di sekitasnya yang mungkin juga tertular( dengan #ara uji
tuberkulin.

(+upriyatno( *6)
+ebaliknya( jika ditemukan pasien TB de'asa akti!( maka anak disekitarnya atau
yang kontak erat harus ditelusuri ada atau tidaknya in!eksi TB (pela#akan sentri!ugal).
Pela#akan tersebut dilakukan dengan #ara anamnesis( pemeriksaan !isik( dan pemeriksaan
penunjang yaitu uji tuberkulin.

(Chintu( **)
".1".% As*ek edukasi dan sosial ekonomi
Pengobatan TB tidak lepas dari masalah sosial ekonomi. )arena pengobatan TB
memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka 'aktu yang #ukup lama( maka
biaya yang diperlukan #ukup besar. +elain itu( diperlukan juga penanganan giEi yang
baik( meliputi ke#ukupan asupan makanan( 9itamin( dan mikronutrien. Tanpa penanganan
giEi yang baik( pengobatan dengan medikamentosa saja tidak akan ter#apai hasil yang
optimal. Kdukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui mengenai
TB. Pasien TB anak tidak perlu diisolasi karena sebagian besar TB padak anak tidak
menular kepada orang disekitarnya. /kti9itas !isik pasien TB anak tidak perlu dibatasi(
ke#uali pada TB berat.

(Chintu( **)
39 | M i n i P r o j e c t
".1".( PenAega!an
a. Imunisasi B6G
-acille Calmette&Guerin (BC?) adalah 9aksin hidup yang dibuat dari M. bovis
yang dibiak berulang selama $-0 tahun( sehingga didapatkan kuman yang tidak 9irulen
tetapi masih mempunyai imunogenisitas. 3munisasi BC? diberikan pada usia sebelum *
bulan. 4osis untuk neonates adalah (5 ml dan untuk bayi dan anak adalah ($ ml(
diberikan se#ara intradermal (intrakutan) di daerah insersi otot deltoid kanan
(penyuntikan lebih mudah dan lemak subkutis lebih tebal( ulkus tidak mengganggu
struktur otot dan sebagai tanda baku( dan bila terjadi lim!eadenitis BC? akan lebih muda
terdeteksi). Penyuntikan harus dilakukan perlahan-lahan ke arah permukaan (super!isial)
sehingga terbentuk suatu benjolan ber'arna lebih pu#at daripada kulit sekitarnya dan
tampak gambaran pori-pori. (+upriyatno( *6)
Cara pemberian 9aksin BC? adalah sebagai berikut 7
$. +ebelum disuntikkan( 9aksin BC? harus dilarutkan dengan . ml pelarut >aCl
(&1. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril dengan jarum panjang.
*. 4osis pemberian (5 ml( sebanyak $ kali( untuk bayi.
Gambar 1". Baksin B6G
Petugas 3munisasi 34/3 merekomendasikan pemberian BC? pada bayi L* bulan.
Pemberian BC? setelah usia $ bulan lebih baik. Bayi yang diduga mempunyai kontak
erat dengan pasien TB akti!( atau yang akan diimunisasi pada usia P0 bulan( sebaiknya
dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. BC? tidak perlu diulang sebagai booster"
40 | M i n i P r o j e c t
demikian juga bila tidak terbentuk parut. Tidak ada bukti bah'a 9aksinasi ulangan BC?
memberikan proteksi tambahan. (+upriyatno( *6)
Bila kita melakukan 9aksinasi BC?( akan timbul reaksi bengkak dan merah(
biasanya dalam 'aktu .-2 minggu setelah penyuntikan. /kan tetapi( bila reaksi ini sudah
timbul dalam kurun 'aktu $ minggu( maka disebut reaksi #epat BC?. Hal ini dapat
menjadi penanda ke#urigaan adanya in!eksi TB pada bayi tersebut( sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan uji tuberkulin dan pemeriksaan lain. /kan
tetapi( melakukan 9aksinasi BC? sebagai sarana diagnostik sebagai pengganti tuberkulin
tidak dibenarkan. Pada 9aksinasi BC? rutin( perlu diin!ormasikan pada orang tua pasien
bah'a bila ada reaksi #epat setelah penyuntikan harus segera dilaporkan untuk e9aluasi
lebih lanjut. (+upriyatno( *6)
Man!aat BC? telah dilaporkan oleh beberapa peneliti( yaitu antara -%1.
3munisasi BC? e!ekti! terutama untuk men#egah TB milier( meningitis TB( dan
spondilitis TB pada anak. 3munisasi ini memberikan perlindungan terhadap terjadinya TB
milier( meningits TB( TB sistem skeletal( dan ka9itas. 3munisasi BC? relati! aman( jarang
menimbulkan e!ek samping yang serius. K!ek samping yang serius ditemukan adalah
ulserasi lokal dan lim!eadenitis (adenitis supurati!) dengan insidens ($-$1.
)ontraindikasi imunisasi BC? adalah kondisi imunokompromais( misalnya de!isiensi
imun( in!eksi berat( giEi buruk( dan gagal tumbuh. Pada bayi prematur( BC? ditunda
hingga bayi men#apai berat-badan optimal. (+upriyatno( *6)
Pemberian 9aksin BC? telah dilakukan sejak tahun $&*$( dan selama ini lebih
dari 0 milyar dosis 9aksin BC? telah diberikan di seluruh dunia. Meskipun demikian(
perdebatan mengenai e!ekti9itas BC? dalam memproteksi bayi;anak terhadap TB masih
berlangsung. K!ek proteksi atau e!ekti9itas BC? ber9ariasi -%1( dari berbagai
publikasi dari berbagai negara. K!ek proteksi atau e!ekti9itas BC? adalah kemampuan
BC? untuk menurunkan angka kejadian TB baru dalam populasi( bukan pada seorang
indi9idu. (+upriyatno( *6)
+ekitar $-*1 anak mengalami komplikasi BC?. )omplikasi tersering adalah
abses lokal( in!eksi bakteri sekunder( lim!eadenitis supurati! BC?( dan timbulnya keloid.
+ebagian besar reaksi in akan membaik dalam beberapa bulan. /kan tetapi( anak yang
mengalami penyakit BC? diseminta harus diperiksa lebih lanjut terhadap kemungkinan
di!isensi imun dan diobati dengan -/T lini pertama (ke#uali piraEinamid karena M.bovis
umumnya resisten terhadap obat tersebut). "im!adenitis BC? merupakan e!ek samping
41 | M i n i P r o j e c t
yang sering dijumpai pada 9aksiniasi BC? meskipun jarang menimbulkan masalah yang
serius. )ejadiannya berkisar $-* per $ 9aksinasi. (+upriyatno( *6)
"im!adenitis BC? adalah pembesaran kelenjar lim!e regional setelah 9aksinasi
BC?. Pembesaran kelenjar tersebut dapat hilang se#ara spontan atau tetap membesar(
bahkan dapat timbul pus (supurati!). +etelah dilakukan penyuntikan BC?( akan terjadi
multiplikasi se#ara #epat( dan melalui sistem lim!atik akan menuju ke kelenjar lim!e
regional. 5eaksi pada sisi yang sama dengan 9aksinasi dan kelenjar( bersama-sama
membentuk kompleks primer yang prosesnya sama dengan komples primer akibat in!eksi
TB alamiah. )emudian akan diikuti reaksi patologis pada tempat suntikan( dan
pembesaran pada kelenjar lim!e regional yang tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan
penyakit (TB). Tidak ada patokan baku untuk pembesaran kelenjar itu normal atau
abnormal. Beberapa ahli sepakat menyatakan abnormal apabila ukurannya besar( dalam
arti mudah untuk diraba dan orang tua mengeluh karena pembesaran tersebut. )elenjar
lim!e regional yang terlibat sebagian besar adalah kelenjar aksila ipsilateral (&51)( diikuti
oleh kelenjar suprakla9ikula dan ser9ikal. "im!adenitis BC? terjadi setelah * minggu
atau * bulan( tetapi tidak lebih dari $* bulan. @mumnya kelenjar yang membesar soliter
meskipun ada yang multipel. (+upriyatno( *6)
)ejadian lim!adenits BC? berhubungan dengan tipe 9aksin dan pejamu. Faktor
9aksin men#akup 9irulensi substrain BC? (bebarapa strain BC? memang lebih
reaktogenik)( 9iabilitas (proporsi kuman yang hidup dan yang mati) pada produk akhir(
dan dosis 9aksinasi. Faktor yang berperan pada pejamu pula adalah7 ($) usia 9aksinasi
(pemberian 9aksinasi pada neonatus mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi
lim!eadenitis TB)( (*) respon imunologik terhadap 9aksin (pasien imunokompromais
mempunyai resiko lebih tinggi)( (0) karakteristik resipien (termasuk di dalamnya salah
penyuntikan;keahlian menyuntik). (+upriyatno( *6)
/da dua jenis lim!adenitis BC?( yaitu non-supurati! dan supurati!. Bentuk yang
non-supurati! biasanya mun#ul pada beberapa minggu setelah penyuntikan( dan
menghilang dalam beberapa minggu tanpa ada sekuele yang berarti. +edangkan pada jenis
supurati! timbul dalam beberapa bulan kemudian( pembesaran kelenjar dapat bersi!at
progresi!( terdapat !luktuasi( kemerahan( edema( bahkan dapat membentuk sinus pada
tempat penyuntikan. )adang-kadang diperlukan pera'atan intensi! terhadap luka yang
timbul( dan diperlukan beberapa bulan untuk dapat hilang se#ara spontan. <enis supurati!
ini terjadi pada 0-%1 kasus lim!adenitis BC?. (+upriyatno( *6)
42 | M i n i P r o j e c t
"im!adenitis BC? biasanya tidak disertai demam( tidak nyeri pada tempat edema(
dan tidak didapatkan tanda-tanda yang menyokong ke arah TB seperti penurunan berat
badan( demam lama( dan na!su makan yang berkurang. Pemeriksaan laboratorium( uji
tuberkulin( dan !oto toraks kurang membantu. @ji tuberkulin biasanya akan menunjukkan
hasil yang positi!. Pemeriksaan P/ dari biopsi kelenjar kadang-kadang justru
membingungkan karena gambaran patologisnya sama dengan TB. (+upriyatno( *6)
Tatalaksana lim!adenitis BC? masih kontro9ersial. Pada lim!adenitis tipe non-
supurati! biasanya tidak menjadi masalah( karena dengan penjelasan yang baik orang tua
akan dapat menerima. /kan tetapi( pada lim!adenitis tipe supurati! terdapat beberapa
perbedaan dalam penanganannya. Pemberian antibiotik eritromisin dan -/T (isoniaEid
dan ri!ampisin) pernah dilaporkan penggunaannya( tetapi hasilnya tidak memuaskan.
Beberapa ahli menyatakan bah'a pengobatan dengan -/T tidak diperlukan karena tidak
e!ekti!. -bat-obat lain yang digunakan biasanya berhubungan dengan komplikasi yang
timbul( misalnya pera'atan luka. @nit )erja )oordinasi 5espirologi PP 34/3
merekomendasikan untuk tidak memberikan -/T pada lim!adenitis BC?( melainkan
hanya melakukan pemantauan. (+upriyatno( *6)
)omplikasi lim!adenitis yang tersering adalah penyembuhan luka yang kurang
baik( sehingga yang terpenting adalah pen#egahan terhadap pe#ahnya lim!adenitis
supurati!. +alah satu yang dianjurkan adalah dengan melakukan aspirasi pus( yang
biasanya dilakukan sekali saja. 4engan aspirasi pus( lama penyembuhan dapat
dipersingkat. Tindakan eksisi dilakukan apabila aspirasi tidak menunjukkan hasil yang
baik( sudah terbentuk sinus( atau kelenjarnya multipel. +elain itu( tindakan eksisi lebih
diindikasikan pada kosmetik( yaitu men#egah pe#ahnya kelenjar dengan luka dan parut
yang tidak beraturan. (+upriyatno( *6)
".1% 'emo*ro)ilaksis
Terdapat dua jenis kemopro!ilaksis( yaitu kemopro!ilaksis primer dan kemopro!ilaksis
sekunder. )emopro!ilaksis primer bertujuan untuk men#egah terjadinya in!eksi TB(
sedangkan kemopro!ilaksis sekunder men#egah berkembangnya in!eksi menjadi sakit TB.
Pada kemopro!ilaksis primer diberikan isoniaEid dengan dosis 5-$ mg;kgBB;hari dengan
dosis tunggal. )emopro!ilaksis ini diberikan pada anak yang kontak dengan TB menular(
terutama dengan BT/ sputum positi!( tetapi belum terin!eksi (uji tuberkulin negati!). Pada
akhir bulan ketiga pemberian pro!ilaksis dilakukan uji tuberkulin ulang. <ika tetap negati! dan
sumber penularan telah sembuh dan tidak menular lagi (BT/ sputum negati!)( maka 3>H
43 | M i n i P r o j e c t
pro!ilaksis dihentikan. <ika terjadi kon9ersi tuberkulin positi!( e9aluasi status TB pasien. <ika
didapatkan uji tuberkulin negati! dan 3>H pro!ilaksis telah dihentikan( sebaiknya dilakukan
uji tuberkulin ulang 0 bulan kemudian untuk e9aluasi lebih lanjut. (+upriyatno( *6)
)emopro!ilaksis sekunder diberikan pada anak yang telah terin!eksi( tetapi belum
sakit( ditandai dengan uji tuberkulin positi!( sedangkan klinis dan radiologis normal. Tidak
semua anak diberi kemopro!ilaksis sekunder( tetapi hanya anak yang termasuk dalam
kelompok resiko tinggi untuk berkembang menjadi sakit TB( yaitu anak-anak pada keadaan
immunocompromise. Contoh anak-anak dengan immunocompromise adalah usia balita(
menderita morbili( 9arisela( atau pertusis( mendapat obat imunosupresi! yang lama (sitostatik
dan kortikosteroid)( usia remaja( dan in!eksi TB baru (kon9ensi uji tuberkulin dalam kurun
'aktu kurang dari $* bulan). "ama pemberian untuk kemopro!ilaksis sekunder adalah 2-$*
bulan. Baik pro!ilaksis primer( pro!ilaksis sekunder dan terapi TB( tetap die9aluasi tiap bulan
untuk menilai respon dan e!ek samping obat.

(+upriyatno( *6)
".1( Prognosis dan 'om*likasi
".1(.1 Prognosis
Pada pasien dengan sistem imun yang baik( terapi menggunakan -/T terkini
memberikan hasil yang potensial untuk men#apai kesembuhan. <ika kuman sensiti! dan
pengobatan lengkap( kebanyakan anak sembuh dengan gejala sisa yang minimal. Terapi
ulangan lebih sulit dan kurang memuaskan hasilnya. Perhatian lebih harus diberikan pada
pasien dengan imunode!isiensi( yang resisten terhadap berbagai regimen obat( yang
berespon buruk terhadap terapi atau dengan komplikasi lanjut. Pasien dengan resistensi
multiple terhadap -/T jumlahnya meningkat dari 'aktu ke 'aktu. Hal ini terjadi karena
para dokter meresepkan regimen terapi yang tidak adekuat ataupun ketidak patuhan
pasien dalam menjalanin pengobatan.

(+upriyatno( *6)
)etika terjadi resistensi atau intoleransi terhadap 3soniaEid dan 5i!ampin( angka
kesembuhan menjadi hanya 51( bahkan lebih rendah lagi. 4engan -/T (terutama
isoniaEid) terjadi perbaikan mendekati $1 pada pasien dengan TB milier. Tanpa terapi
-/T pada TB milier maka angka kematian hampir men#apai $1.

()artasasmita( *$)
4ikatakan hasil pengobatan pada pasien TB BT/ positi! 7
44 | M i n i P r o j e c t
+embuh
Pasien telah menyelesaikan pengobatannya se#ara lengkap dan pemeriksaan ulang
dahak (follo#&up) hasilnya negati! pada /P dan pada satu pemeriksaan !ollo'-up
sebelumnya
Pengobatan "engkap
/dalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya se#ara lengkap tetapi tidak
memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.
Meninggal
/dalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.
4e!ault (Putus berobat)
/dalah pasien yang tidak berobat * bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
?agal
Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positi! atau kembali menjadi positi!
pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. (4inkes( *6)
".1(." 'om*likasi
"im!adenitis( meningitis( osteomielitis( arthtritis( enteritis( peritonitis( penyebaran
ke ginjal( mata( telinga tengah dan kulit dapat terjadi. Bayi yang dilahirkan dari orang tua
yang menderita tuberkulosis mempunyai risiko yang besar untuk menderita tuberkulosis.
)emungkinan terjadinya gangguan jalan na!as yang mengan#am ji'a harus dipikirkan
pada pasien dengan pelebaran mediastinum atau adanya lesi pada daerah hilus.
(+upriyatno( *6)
".1+ Pengeta!uan
".1+.1 Pengertian Pengeta!uan
Pengetahuan (kno#ledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pan#a indera manusia( yakni indera penglihatan( pendengaran( pen#iuman( rasa dan raba.
+ebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
atau kogniti! merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya suatu tindakan
atau suatu perubahan tingkah laku. (>otoatmodjo( $&&0)
".1+." Tingkat Pengeta!uan
45 | M i n i P r o j e c t
Menurut >otoatmodjo ($&&0)( pengetahuan yang di#akup dalam domain kogniti!
mempunyai 2 tingkatan( yakni 7
$. Tahu (.no#)
Tahu merupakan pengetahuan hapalan yang meminta responden untuk
mengenal dan mengetahui adanya konsep( !akta( atau istilah-istilah tanpa
harus mengerti atau dapat menilai ataudapat menggunakan( hanya menuntut
untuk menyebutkan kembali atau menghapal saja.
*. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan se#ara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut se#ara benar. -rang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan( menyebutkan #ontoh( menyimpulkan( dan
meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
0. /plikasi (/pplication)
/plikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. /plikasi di sini
dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum( rumus(
metode( prinsip( dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
.. /nalisis (/nalysis)
/nalisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. +intesis (+ynthesis)
+intesis menunjuk kepada suatu komponen untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru( atau kemampuan untuk menyusun !ormulasi baru dari !ormulasi-
!ormulasi yang ada.
2. K9aluasi (0valuation)
K9aluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan 1ustifikasi atau
penilaian-penilaian itu didasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri( atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
46 | M i n i P r o j e c t
BAB III
$ET3DEL3GI PENELITIAN
%.1 Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian 4eskripti! dengan ran#angan
untuk mengetahui atau melihat gambaran tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap
kasus Tuberkulosis Paru yang terjadi pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur
tahun *$.. +erta mengadakan analisa tentang gambaran tersebut dengan pengamatan lisan
dengan alat bantu penelitian berupa kuesioner dan check list( dimana data dan in!ormasi yang
menyangkut 9ariable bebas dan 9ariable terikat dikumpulkan dalam 'aktu yang bersamaan.
Pemilihan ran#angan ini didasarkan karena mudah dilaksanakan( ekonomis dan e!ekti! dari
segi biaya dan 'aktu( sedangkan hasilnya dapat diperoleh dengan #epat dan tepat.
%." Tem*at dan Caktu Penelitian
%.".1 Tem*at Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di 0 kelurahan di 'ilayah kerja Puskesmas /rga
Makmur yang memiliki presentase kejadian kasus Tuberkulosis Paru terbanyak pada
tahun *$0( yaitu kelurahan ?unung /lam( ?unung /gung( dan ?unung +elan.
%."." Caktu Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan pada Februari *$. - Maret *$.
%.% $etode Pengambilan am*el
%.%.1 Po*ulasi
Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang
menjadi objek penelitian( atau populasi merupakan objek atau subjek yang berada
pada suatu 'ilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan
masalah penelitian (5idu'an( *&). Populasi dalam penelitian ini adalah para orang
tua yang tinggal di 'ilayah kelurahan ?unung /lam( ?unung /gung( dan ?unung
+elan dengan rentang usia $5-2 tahun( yaitu sebanyak 5.%2 orang.
47 | M i n i P r o j e c t
%.%." am*el
+ampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti( dan
dianggap dapat me'akili seluruh populasi. (>otoatmojo( **). 4alam hal ini sampel
diambil berdasarkan 5umus Taro Iamane atau +lovin( yaitu 7

)eterangan rumus7
nS <umlah +ampel
>S <umlah Populasi yang diketahui
dS Presisi (ditetapkan $ 1 dengan tingkat keper#ayaan &5 1)
(5idu'an( *&).
<adi( besar sampel yang diperlukan pada penelitian ini adalah sebesar 7
n S > ; (>(d)
*
T $)
S 5.%2 ; (5.%2 (($)
*
T $)
n S &%(0* &% sampel
%.%.% Teknik Pengambilan am*el
Metode pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan #ara +imple
2andom +ampling( yaitu #ara pengambilan sampel dari anggota populasi se#ara a#ak
tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut.
4alam pengumpulan data ini dilakukan langsung oleh peneliti dengan
melakukan kunjungan rumah pada responden sampai besar sampel terpenuhi untuk
mendapatkan data primer.
%.( 'erangka 'onse*
Menurut >otoatmodjo (**) yang dimaksud dengan kerangka konsep penelitian
adalah suatu hubungan atau keterkaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya
dari masalah yang diteliti. Pada penelitian ini( kerangka konseptual dikembangkan dengan
menga#u pada teori ?reen yang dikenal dengan Precede( yaitu suatu perilaku spesi!ik yang
dipengaruhi oleh 0 !aktor 7
$. Faktor Predisposising (pemudah) yang ter'ujud dalam pendidikan( pengetahuan(
jenis kelamin( sosial budaya( ekonomi ; pendapatan( moti9asi( dan sikap.
48 | M i n i P r o j e c t
n D N0 9N9d:
"
E 1:
*. Faktor 0nabling (pemungkin) ter'ujud dalam sarana dan prasarana transportasi(
pedoman kerja( geogra!is ; jarak tempat tinggal.
0. Faktor 2ainforsing (penguat) ter'ujud dalam bentuk dukungan keluarga( masyarakat(
lingkungan( dan penentu kebijakan.
Berpatokan pada kerangka berpikir di atas( maka dapat digambarkan hal-hal yang
dapat mempengaruhi perilaku seseorang yang se#ara sistematis( kerangka konseptual
seperti bagan di ba'ah ini 7
:ariabel Bebas :ariabel Terikat
Gambar 1%. 'erangka 'onse* Penelitian
%.+ Bariabel Penelitian
:ariabel penelitian dalam penelitian ini dengan menggunakan 9ariabel 3ndependen ;
Bebas dan 9ariabel 4ependen ; Terikat. 4imana 9ariabel bebas dalam penelitian ini adalah
tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai penyakit Tuberkulosis Paru pada anak.
+edangkan( 9ariabel terikat dalam penelitian ini adalah pre9alensi penyakit Tuberkulosis Paru
pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas ?unung /lam.
49 | M i n i P r o j e c t
+3)/P M/+I/5/)/T
T3>?)/T PK>?KT/H@/>
M/+I/5/)/T
Pre9alensi
kasus
Tuberkulosis
Paru pada anak
di ke#amatan
/rga Makmur
pada umumnya
dan 'ilayah
kerja
Puskesmas
/rga Makmur
pada khususnya
%.. De)inisi 3*erasional
>o. :ariabel 4e!inisi -perasional
/lat
@kur
Cara
@kur
Hasil @kur
+kala
@kur
Variabel Independen
$. Tingkat
Pengetahuan
Masyarakat
+emua hal yang
diketahui orang tua
mengenai penyakit
Tuberkulosis Paru
pada anak
)uesio
ner
,a'an
#ara
)ategori 7
$. )urang jika ja'aban 86
1 dari total nilai
*. Tinggi jika ja'aban 6
1 dari total nilai
-rdinal
*. +ikap
Masyarakat
+uatu sikap dan
tindakan yang
dilakukan orang tua
agar anak terhindar
dari penularan
penyakit
Tuberkulosis Paru
)uesio
ner
,a'an
#ara
)ategori 7
$. )urang jika ja'aban 85
1 dari total nilai
*. Tinggi jika ja'aban 5
1 dari total nilai
-rdinal
Variabel Dependen
Pre9alensi
Tuberkulosis
Paru pada
anak
/nak dari responden
pernah mengalami
gejala klinis penyakit
Tuberkulosis Paru.
UBatuk berdahak
lebih dari * minggu(
demam selama lebih
dari * minggu tanpa
sebab yang jelas( BB
yang semakin
berkurang( tidak ada
na!su makan( serta
badan terasa lemah
sehingga akti9itas
!isik anak (seperti
bermain) berkurangV
Check
list
,a'an
#ara
$. Ia
Bila anak pernah
mengalami batuk berdahak
lebih dari * minggu( demam
selama lebih dari * minggu
tanpa sebab yang jelas( BB
yang semakin berkurang(
tidak ada na!su makan(
serta badan terasa lemah
sehingga akti9itas !isik
anak (seperti bermain)
berkurang
*. Tidak
Bila anak tidak pernah
mengalami batuk berdahak
lebih dari * minggu( demam
selama lebih dari * minggu
tanpa sebab yang jelas( BB
>ominal
50 | M i n i P r o j e c t
yang semakin berkurang(
tidak ada na!su makan(
serta badan terasa lemah
sehingga akti9itas !isik
anak (seperti bermain)
berkurang
%./ Instrumen Penelitian
%./.1 Instrumen yang digunakan
3nstrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner yang dibagikan kepada
masyarakat di 'ilayah kerja puskesmas /rga Makmur( dengan menggunakan
pertanyaan tertutup dengan 9ariasi Dichotomous Choice dimana pertanyaan yang
disediakan hanya memberikan * ja'aban alternati! dan responden hanya memilih satu
diantaranya. (>otoatmodjo( **)
%./." Teknik Aoring
@ntuk pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui penyebaran
kuesioner dengan #ara tatap muka yang menanyakan tentang isi materi yang ingin
diukur dari objek penelitian atau responden berdasarkan teori yang ada di tinjauan
pustaka. 4engan metode skoring diberikan 7
- Bila salah nilai S
- Bila benar nilai S $
4engan #ara penilaian S
>ilai yang diberi O $1
<umlah item pertanyaan
4engan kategori rendah jika ja'aban 861 dari total nilai( dan kategori tinggi
P61 dari total nilai (5idu'an( *&)
%.2 ,enis dan 6ara Pengum*ulan Data
51 | M i n i P r o j e c t
4alam pengumpulan data ini dilakukan langsung oleh peneliti pada masyarakat yang
tinggal di kelurahan ?unung /lam( ?unung /gung( dan ?unung +elan terutama yang
memiliki anak. Peneliti akan melakukan kunjungan rumah pada responden untuk
mendapatkan data penelitian. 4ata penelitian berupa 7
$. 4ata Primer
4ata primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti( baik pengolahan maupun analisis dan
publikasi yang dilakukan sendiri. (Ma#h!oedE( *2). 4ata primer ini berupa data
identitas responden dan hasil kuesioner (mengenai tingkat pendidikan(
pengetahuan( dan sikap orang tua terhadap kasus Tuberkulosis Paru yang terjadi
pada anak)( serta 'a'an#ara langsung dengan masyarakat yang tinggal di 'ilayah
kerja Puskesmas /rga Makmur.
*. 4ata sekunder
4ata sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil laporan atau penelitian orang
lain atau studi kepustakaan. (Ma#h!oedE( *2). 4ata sekunder ini berupa
diperoleh dari Pro!il Puskesmas( laporan Poliklinik /nak 5+@4 /rga Makmur(
laporan petugas +ur9eilans dan petugas P*M Tuberkulosis Puskesmas /rga
Makmur( serta data lainnya yang berasal dari studi kepustakaan. 4ata sekunder ini
berupa data jumlah penduduk( data ketenagaan dan sarana kesehatan( mata
pen#aharian penduduk( data demogra!i Puskesmas /rga Makmur( data penderita
TB paru anak dan de'asa( serta tinjauan kepustakaan mengenai penyakit
Tuberkulosis Paru pada anak.
%.5 Pengola!an Data
%.5.1 Pengola!an Data
a. Penyuntingan 4ata (0diting Data)
4ilakukan penyuntingan data untuk memastikan bah'a data yang diperoleh
adalah AbersihC yaitu data tersebut semua telah terisi( konsisten( rele9an(
dan dapat diba#a dengan baik. Hal ini dikerjakan dengan meneliti setiap
lembar kuesioner pada 'aktu penerimaan dari pengumpulan data. /pabila
terdapat kejanggalan( !ormulir kuesioner dikembalikan kepada
pe'a'an#ara( agar kembali ke responden untuk melengkapi dan
memperbaiki pengisian.
b. Pengkodean 4ata (Coding 4ata)
52 | M i n i P r o j e c t
Pengkodean data dilakukan dengan #ara memberikan angka pada setiap
ja'aban dengan maksud untuk mempermudah pengolahan data.
Pengkodean data dilakukan oleh peneliti sendiri dengan seteliti mungkin
untuk menghindari kesalahan.
#. Tabulasi 4ata (Tabulating Data)
+etelah dilakukan editing dan coding data( maka selanjutnya dilakukan
pengelompokan data tersebut ke dalam suatu tabel tertentu menurut si!at-
si!at yang dimiliki sesuai dengan tujuan.
%.5." Teknik Analisa Data 9nalysis Data:
+emua hasil data penelitian terlebih dahulu ditampilkan melalui tabel
distribusi !rekuensi( kemudian analisa data dilakukan se#ara bertahap dari analisa
uni9ariat dan bi9ariat. Pada penelitian ini analisa yang dipergunakan adalah analisa
uni9ariat yang dilakukan terhadap tiap 9ariabel dari hasil penelitian. 4imana pada
umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap
9ariabel. (>otoatmodjo( **)
%.18 arana Penelitian
+arana yang digunakan pada penelitian ini antara lain 7
$. "embar kuesioner beserta biodata responden
*. /lat tulis dan perlengkapan kerja
0. )omputer
.. Buku re!erensi ; sumber
5. /lat tulis dan alat hitung
BAB IB.
53 | M i n i P r o j e c t
HAIL $INI P#3,E6T
(.1 Pro)il 'omunitas Umum Cilaya! Penelitian
(.1.1 Letak Geogra)is
Puskesmas /rga Mamur terletak di pusat 3bukota )abupaten Bengkulu @tara(
yaitu merupakan salah satu Puskesmas yang berada di )e#amatan )ota /rga
Makmur. +e#ara geogra!is( Puskesmas /rga Makmur terletak di lokasi yang sangat
strategis dan sangat mudah untuk dijangkau karena letaknya yang berada di Pusat
3bukota )abupaten. "uas 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur D 0% )mW dengan
jumlah desa binaan $ desa( dengan jumlah kepala keluarga ..5& )) serta jumlah
rumah ..5& rumah dengan tingkat hunian rata-rata tiap rumah sebanyak 0 dan .
orang. 4iperkirakan kepadatan penduduk D && ji'a per )mW( keseluruhan desa
tersebut dapat dilalui oleh kendaraan roda * maupun roda ..
Batas 'ilayah ke#amatan /rgamakmur adalah 7
- +ebelah @tara berbatasan dengan 4esa Taba Tembilang
- +ebelah +elatan berbatasan dengan 4esa )ali
- +ebalah Barat berbatasan dengan 4esa ?unung +ari
- +ebelah Timur berbatasan dengan 4esa Tebing )aning
Gambar 1(. Peta Cilaya! 'er&a Puskesmas Arga $akmur
(.1." Data Demogra)ik 0 'e*endudukan
54 | M i n i P r o j e c t
Puskesmas /rga Makmur memiliki jumlah penduduk D *.0&0 ji'a yang
tersebar hampir merata di seluruh 4esa yang berada dalam 'ilayah kerja
Puskesmas( adapun jumlah penduduk ini dapat dilihat dalam tabel 2.
Tabel .. ,umla! Penduduk *er 'elura!an $enurut 'elom*ok Umur dan ,enis
'elamin
No. 'elura!an Laki7laki Perem*uan
1. Gunung Alam (.%%%
- . tahun $6. $&
5 - $. tahun .20 .%*
$5 - .. tahun &&& $.%.
.5 - 2. tahun .5& ...
P25 tahun $% *
". #ama Agung ".528
- . tahun $%0 *$6
5 - $. tahun $65 *0&
$5 - .. tahun .2% 5&5
.5 - 2. tahun 06$ 0%
P25 tahun $55 $&6
%. 'arang uAi %.1++
- . tahun $.. $.6
5 - $. tahun 0$% 0.0
$5 - .. tahun 655 620
.5 - 2. tahun *6% *&0
P25 tahun 5% 52
(. Talang Denau %2"
- . tahun *2 *.
5 - $. tahun . *5
$5 - .. tahun $* $$
.5 - 2. tahun *5 *0
P25 tahun 6 &
+. Gunung elan "..%(
- . tahun $.. $25
5 - $. tahun *06 *.2
$5 - .. tahun 5&% 205
.5 - 2. tahun *0 *%
P25 tahun $$ &6
.. Gunung Agung 1.2+/
- . tahun $ &5
5 - $. tahun $&$ *0
$5 - .. tahun .6$ .%6
.5 - 2. tahun $0% $0.
P25 tahun * $%
/. Tan&ung #aman 1.115
55 | M i n i P r o j e c t
- . tahun 20 2
5 - $. tahun $$. &6
$5 - .. tahun *6% 0$0
.5 - 2. tahun 60 2*
P25 tahun 0 *&
2. Lubuk aung 1.+.(
- . tahun $* $*5
5 - $. tahun $*2 $*$
$5 - .. tahun .$5 ..&
.5 - 2. tahun %& 6.
P25 tahun $6 *%
5. Datar #uyung /."
- . tahun .0 52
5 - $. tahun 2 65
$5 - .. tahun $%5 *.
.5 - 2. tahun 55 50
P25 tahun $2 $5
18. ido Uri* 1..8/
- . tahun 2* 2&
5 - $. tahun &0 $
$5 - .. tahun .. 0%&
.5 - 2. tahun *$ $&6
P25 tahun .$ 5$
,umla! "8.%5%
+umber 7 P)M( *$0
Masyarakat yang terdapat di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur sudah
sangat mengerti pentingnya man!aat pendiddikan. /dapun tingkat pendidikan
masyarakat di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur dapat di lihat dari tabel 6.
Tabel /. Distribusi Penduduk berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan ,umla! Persentase 9 F :
$.
*.
0.
..
5.
2.
6.
Buta /ksara
Tidak; Belum pernah sekolah
Tidak; Belum tamat +4
+4 ; M3
+"TP ; MTs
+"T/ ; M/
Perguruan Tinggi
0$$
$.52
$.$.0
0.60.
0.0$
..6&%
*.$%*
$(&$
2(.$
2(&0
**(5
*(*
*&(*
$0(*$
,umla! $2.50. $
56 | M i n i P r o j e c t
+umber 7 P)M( *$0
Penduduk yang berada di 'ilayah kerja Puskesmas /rga makmur mayoritas
memiliki pekerjaan sebagai Pega'ai >egeri +ipil (P>+) dan Petani (tabel..)( hal
tersebut juga kemungkinan didukung masih luasnya areal yang kosong yang berada
di'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur. /dapun distribusi jumlah penduduk
menurut jenis pekerjaan di gambar dalam tabel %.
Tabel 2. Distribusi Penduduk berdasarkan Peker&aan
No Pendidikan ,umla! Persentase 9F:
$.
*.
0.
..
5.
P>+
Petani
Pedagang
Buruh
"ain-lain
*.5&%
*.*&$
%&%
$.0.
$.26
*&(2
*2(*
$(.
$5(.
$%(.
,umla! %.6&6 $
+umber 7 P)M( *$0
4ari gambaran data-data yang terdapat pada tabel-tabel diatas( dapat dikatakan
bah'a dalam rentang 'aktu yang relati! singkat( pelaksanaan pembangunan
kesehatan di Bengkulu @tara khususnya di ,ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur
telah menunjukan hasil yang #ukup berarti( hal ini tidak terlepas dari kinerja semua
unsur;elemen Pemerintah 4aerah khususnya( yang ada di 'ilayah kerja Puskesmas
/rga Makmur.
@ntuk mengukur derajat kesehatan di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur(
dibutuhkan beberapa indikator( antara lain 7
a. /ngka )ematian Bayi
/ngka kematian bayi )abupaten Bengkulu @tara tahun $&& (+ensus Penduduk)
sebesar 22 per $ kelahiran hidup. /ngka ini masih tinggi dibandingkan dengan
angka kematian bayi nasional 2 per $ kelahiran hidup. /ngka kematian bayi
57 | M i n i P r o j e c t
Propinsi Bengkulu 6 per $ kelahiran hidup. Pada tahun *$0( di Puskesmas
/rga Makmur terdapat kelahiran 0 orang bayi dan $ orang kematian bayi.
b. /ngka )ematian /nak
3ndikator ini dapat menggambarkan kondisi penyakit menular pada anak dan
insiden di dalam atau di luar rumah( kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi kesehatan anak( tingkat kekebalan terhadap penyakit tertentu(
tingkat upaya pelayanan anak( dan kondisi lingkungan sosial ekonomi yang
mempengaruhi kesehatan anak. 4i 'ilayah Puskesmas /rga Makmur pada tahun
*$0( tidak terdapat )ematian /nak.
#. /ngka )ematian 3bu Bersalin
@ntuk melihat gambaran status giEi dan kesehatan ibu( kondisi kesehatan
lingkungan( tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil sangat perlu
diperhatikan. 4i 'ilayah Puskesmas /rga Makmur pada tahun *$0( angka
kematian ibu bersalin tidak ada.
Berikut ini adalah $ penyakit terbanyak yang terdapat di 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur 7
Tabel 5. e*ulu! Penyakit Terbanyak di Puskesmas Arga $akmur
No ,enis Penyakit
'asus
,umla!
Persentase
9F:
$
*
0
.
5
2
6
%
&
$
Penyakit +aluran Perna!asan /tas (3+P/)
Penyakit lainnya
Penyakit Tekanan 4arah Tinggi (Hipertensi)
Penyakit ?angguan Mulut
Penyakit )ulit dan <aringan +ub )utan (4ermatitis)
Penyakit pada +istem -tot dan <ar. Pengikat (5heumatik)
Penyakit Bakteri (Pneumonia( Bronkitis)
Penyakit 3n!eksi pada @sus (4iare( 4isentri)
5iketiasis dan Penyakit karena /ntropoda "ain (Malaria)
Penyakit 3n!eksi karena Parasit dan /kibat )emudian
*..%$
*.2.
$.$0
%%*
2.
.2*
$&2
$%.
$0%
55
$*($2
$($*
5(.
.(0*
*(&2
*(*2
(&2
(&
(26
(*2
+umber 7 P)M( *$0
58 | M i n i P r o j e c t
4ari data tabel ..5( adapun kasus penyakit menular di Puskesmas /rga
Makmur adalah penyakit in!eksi saluran perna!asan atas (3+P/) terdapat *..%$ kasus(
riketiasis dan penyakit karena antropoda lain (malaria) dengan jumlah 55 kasus( dan
penyakit kulit dan jaringan sub kutan (dermatitis) dengan jumlah 2. kasus.
Berikut ini adalah tabel penemuan kasus baru penyakit Tuberkulosis Paru di
'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur pada tahun *$0 7
Tabel 18. ,umla! 'asus Baru Tuberkulosis Paru di Cilaya! 'er&a Puskesmas
Arga $akmur Ta!un "81%
No. 'elura!an Laki7laki Perem*uan
1. Gunung Alam % 1
*. 5ama /gung
0. )arang +u#i $
.. Talang 4enau
+. Gunung elan " 8
.. Gunung Agung " 1
6. Tanjung 5aman $
%. "ubuk +ahung
&. 4atar 5uyung $
$. +ido @rip
,umla! % .
+umber 7 P)M( *$0
4ari data tabel $. diketahui penemuan kasus baru Tuberkulosis Paru di
'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur pada tahun *$0 adalah sebanyak $* kasus
baru( dengan kasus terbanyak yaitu di kelurahan ?unung /lam (sebanyak . kasus
baru)( ?unung /gung (sebanyak 0 kasus baru)( dan ?unung +elan (sebanyak * kasus
baru).
59 | M i n i P r o j e c t
Berikut ini adalah data TB pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga
Makmur pada tahun *$* dan *$0 7
Tabel 11. ,umla! 'asus Tuberkulosis Paru *ada Anak di Cilaya! 'er&a
Puskesmas Arga $akmur Ta!un "81" dan "81%
No. 'elura!an "81" "81%
$. ?unung /lam
*. 5ama /gung
0. )arang +u#i $
.. Talang 4enau
5. ?unung +elan $
2. ?unung /gung $
6. Tanjung 5aman
%. "ubuk +ahung
&. 4atar 5uyung
$. +ido @rip
,umla! $ *
4ari data tabel $$. diketahui kejadian kasus Tuberkulosis Paru pada anak di
'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur pada tahun *$* adalah sebanyak $ kasus(
dan meningkat pada tahun *$0 yaitu sebanyak * kasus.
(.1.% arana dan Prasarana
Puskesmas /rga Makmur memiliki $ pustu yaitu Pustu ?unung +elan yang
posisi tempatnya telah terjangkau ke seluruh desa yang jauh dari Puskesmas 3nduk( 0
Puskesdes ("ubuk +aung( Talang 4enau( +idourip) dan $% Posyandu. Memiliki
kendaraan roda . (Pusling)( serta $ unit motor dinas yang kesemuanya digunakan
untuk menunjang kelan#aran pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang berada
dalam 'ilayah kerja puskesmas /rga Makmur demi ter#apainya misi dan 9isi
Puskesmas.
60 | M i n i P r o j e c t
4i Puskesmas /rga Makmur saat ini telah memiliki laboraturium sederhana
yang dapat dipergunakan untuk pelayanan pemeriksaan sederhana seperti
Pemeriksaan Hb( ?olongan 4arah( 445( Pemeriksaan ?ula 4arah( )olesterol( /sam
@rat dan tes HC?.
(.1.( 'etenagaan
)etersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas /rga Makmur saat ini adalah
sebagai berikut7
4okter @mum 7 $ orang
4okter ?igi 7 $ orang
+$. )epera'atan 7 * orang
+$. )esehatan Masyarakat 7 % orang
40 )epera'atan 7 $0 orang
4. Pera'at 7 $ orang
Pera'at 7 * orang
40 )ebidanan 7 6 orang
4. Bidan 7 $ orang
Bidan 7 $0 orang
Pera'at ?igi 7 $ orang
/ssisten /poteker 7 $ orang
+anitarian 7 * orang
>utrisimis 7 $ orang
Pekarya )esehatan 7 $ orang
Tenaga +ukarela (T)+) 7 * orang
4ari uraian di atas dapat disimpulkan bah'a Puskesmas /rga Makmur masih
membutuhkan seorang tenaga /nalis untuk menunjang program dan kegiatan lainnya.
@ntuk pelayanan "aboratorium dapat berjalan dengan baik dengan koordinasi yang
baik dengan 4inas )esehatan. +ementara di pelayanan kesehatan di desa sudah dapat
dilayani dan ditanggulangi oleh Petugas Pustu dan Bidan 4esa.
61 | M i n i P r o j e c t
(." Analisa Uni@ariat
(.".1 Pembagian #es*onden Berdasarkan 'elom*ok Umur
Berdasarkan kelompok umur responden penelitian dapat dilihat pada tabel $*.
berikut ini 7
Tabel 1". Distribusi -rekuensi #es*onden Berdasarkan 'elom*ok Umur #es*onden di
'eAamatan Arga $akmur Ta!un "81(
No. Umur 9T!: ,umla! Presentase 9F:
$. $5 sampai 0 tahun 6% 6&(5&1
*. 0$ sampai . tahun $2 $2(001
0. .$ sampai 5 tahun . .(%1
.. "ebih dari 5 tahun 1
,umla! 52 188F
4ari tabel dan diagram di atas( diketahui bah'a dari &% orang responden(
sebagian besar responden berumur $5 sampai 0 tahun( yaitu sebanyak 6% orang
(6&(5&1). 5esponden berumur 0$ sampai . tahun sekitar $2 orang ($2(001)( dan
sisanya berumur .$ sampai 5 tahun( yaitu sekitar . orang (.(%1).
62 | M i n i P r o j e c t
79+59,
4+08 , 16+33,
Diagram 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Responden di Kecamatan Arga
Makmur Tahun 20!
Ti#ak Sekola- . Ti#ak
Taat S/
Taat S/
Taat SMP
Taat SMA
Taat Aka#ei .
Per0"r"an Tin00i
(."." Pembagian #es*onden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikan( responden penelitian dapat dilihat pada tabel
$0. berikut ini 7
Tabel 1%. Distribusi -rekuensi #es*onden Berdasarkan Tingkat Pendidikan #es*onden
di 'eAamatan Arga $akmur Ta!un "81(
No. Tingkat Pendidikan ,umla! Presentase 9F:
$. Tidak +ekolah ; Tidak Tamat +4 $ $(*1
*. Tamat +4 . .(%1
0. Tamat +MP $% $%(061
.. Tamat +M/ 2% 2&(0&1
5. Tamat /kademi ; Perguruan Tinggi 6 6($.1
,umla! 52 188F
4ari tabel
dan diagram di
atas( diketahui bah'a dari &% orang
responden( sebagian besar responden merupakan
tamatan +M/ (+ekolah Menengah /tas) yaitu sebanyak 2% orang
responden (2&(0&1).
(.".% Pembagian #es*onden Berdasarkan Tingkat Pengeta!uan
Berdasarkan tingkat pengetahuan responden penelitian
dapat dilihat pada tabel $.. berikut ini 7
Tabel 1(. Distribusi -rekuensi #es*onden Berdasarkan
Tingkat Pengeta!uan #es*onden di 'eAamatan Arga $akmur Ta!un "81(
>o. Tingkat Pengetahuan <umlah Presentase (1)
$. 5endah .0 .0(%%1
*. Tinggi 55 52($*1
,umla! 52 188F
63 | M i n i P r o j e c t
69+39
,
7+14
,
18+37,
4+08
1+02,
43+88
,
Diagram ". Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Tingkat Pengetahuan
Responden di Kecamatan Arga Makmur
Tahun 20!
%en#a-
Tin00i
4ari tabel dan diagram di atas( diketahui bah'a dari &% orang responden(
sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi mengenai penyakit TB
pada anak( yaitu sekitar 55 orang (52($*1)( sedangkan yang memiliki tingkat
pengetahuan rendah mengenai penyakit TB pada anak sebanyak .0 orang (.0(%%1).
(.".( Pembagian #es*onden Berdasarkan ika*
Berdasarkan tingkat pengetahuan responden penelitian dapat dilihat pada tabel
$5. berikut ini 7
Tabel 1+. Distribusi -rekuensi #es*onden Berdasarkan ika* #es*onden di
'eAamatan Arga $akmur Ta!un "81(
>o. Tingkat Pengetahuan <umlah Presentase (1)
$. )urang Baik $2 $2(0*1
*. Baik %* %0(2%1
,umla! 52 188F
64 | M i n i P r o j e c t
56+12
,
16+32
,
Diagram !. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan #ikap Responden di Kecamatan
Arga Makmur Tahun 20!
1"ran0 Baik
Baik
4ari tabel dan diagram di atas( diketahui bah'a dari &% orang responden(
sebagian besar yaitu sekitar %* orang responden (%0(2%1) memiliki sikap yang baik
dalam hal menyikapi permasalahan TB pada anak( sedangkan $2 orang responden
($2(0*1) memiliki sikap yang kurang baik dalam hal menyikapi permasalahan TB
pada anak.
(.".+ Pembagian #es*onden Berdasarkan 'e&adian Tuberkulosis Paru
Berdasarkan kejadian Tuberkulosis Paru( responden penelitian dapat dilihat
pada tabel $2. berikut ini 7
Tabel 1.. Distribusi -rekuensi #es*onden Berdasarkan 'e&adian TB *ada Anak di
'eAamatan Arga $akmur Ta!un "81(
>o.
)ejadian
Tuberkulosis Paru
<umlah Presentase (1)
$. Ia . .(%1
*. Tidak &. &5(&*1
,umla! 52 188F
65 | M i n i P r o j e c t
83+68
,
4+08 ,
Diagram $. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Ke%adian TB pada Anak di
Kecamatan Arga Makmur Tahun 20!
2a
Ti#ak
4ari tabel dan diagram di atas( diketahui bah'a sekitar . orang anak (.(%1)(
pernah mengalami gejala TB seperti batu berdahak lebih dari * minggu( demam
selama lebih dari * minggu tanpa sebab yang jelas( berat badan semakin berkurang
dalam $ bulan( tidak na!su makan( serta badan terasa lemah hingga anak malas
melakukan akti9itas !isik seperti bermain.
BAB B
PE$BAHAAN
+.1 'arakteristik #es*onden Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil responden (sampel) dari masyarakat yang
tinggal di 'ilayah tinggi kasus TB di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur( yaitu di
kelurahan ?unung /lam( ?unung +elan( dan ?unung /gung. +ebanyak &% orang responden
terlibat dalam penelitian ini.
5esponden pada penelitian ini sebagian besar berusia $5 sampai 0 tahun( yaitu
sebanyak 6% orang (6&(5&1)( kemudian usia terbanyak kedua adalah usia 0$ sampai .
tahun( yaitu sekitar $2 orang ($2(001)( dan sisanya berusia .$ sampai 5 tahun( yaitu sekitar
. orang (.(%1).
66 | M i n i P r o j e c t
95+92
,
)arena penelitian ini menggunakan teknik random sampling( maka jenis kelamin dan
tingkat pendidikan dari responden beragam. Pada penelitian ini( sebagian besar responden
merupakan tamatan +M/ (+ekolah Menengah /tas) yaitu sebanyak 2% orang responden
(2&(0&1). "alu( responden yang merupakan tamatan +MP (+ekolah Menengah Pertama)
sebanyak $% orang responden ($%(061)( yang merupakan tamatan akademi atau perguruan
tinggi sebanyak 6 orang responden (6($.1)( yang merupakan tamatan +4 sebanyak . orang
(.(%1)( serta yang tidak sekolah ataupun tidak tamat +4 sebanyak $ orang responden
($(*1).
)arakteristik responden yang dapat mempengaruhi penelitian adalah tingkat
pendidikan( mengingat seharusnya responden yang merupakan tamatan akademi ; perguruan
tinggi ataupun +M/ (+ekolah Menengah /tas) memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik
mengenai penyakit TB pada anak dibandingkan responden lainnya yang merupakan tamatan
+MP (+ekolah Menengah Pertama)( +4 (+ekolah 4asar)( ataupun yang tidak tamat +4 atau
bahkan tidak sekolah sama sekali.
+." Tingkat Pengeta!uan dan ika* $asyarakat mengenai TB *ada Anak
Penelitian ini bersi!at deskripti! untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan
sikap masyarakat terhadap penyakit TB pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga
Makmur. Meskipun saat ini hanya ditemukan $ kasus TB pada anak di 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur( namun bukan berarti penyakit ini tidak berbahaya. /palagi saat ini
ditemukan sekitar $. kasus baru TB pada orang de'asa yang merupakan peluang untuk
terjadinya penularan kepada anak-anak bila tidak ditangani dengan #epat dan tepat.
Berdasarkan data dari Poliklinik /nak 5+@4 /rga Makmur Bengkulu @tara( kasus
TB pada anak yang terjadi di kabupaten Bengkulu @tara pada tahun *$* sekitar 6 orang
anak( dan bertambah pada tahun *$0 yaitu sekitar $$ orang anak. @ntuk 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur sendiri didapatkan pada tahun *$* sekitar $ orang anak terkena
TB( dan bertambah pada tahun *$0 yaitu sekitar 0 orang anak terkena. -leh karena itu(
diperlukan suatu strategi pengendalian yang melibatkan seluruh sektor( baik dari petugas
Puskesmas( pemerintah setempat( maupun seluruh elemen masyarakat agar penanggulangan
TB pada anak dapat segera ditingkatkan sehingga morbiditas dan mortalitas dapat berkurang.
4alam penelitian ini( baik tingkat pengetahuan masyarakat maupun sikap masyarakat
itu sendiri mengenai TB pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur dikategorikan
baik( sehingga masih sedikit anak yang menderita TB.
67 | M i n i P r o j e c t
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui kuesioner( 'a'an#ara dengan
masyarakat yang mempunyai anak berusia di ba'ah $5 tahun di 'ilayah kerja Puskesmas
/rga Makmur( didapatkan gambaran tingkat pengetahuan masyarakat mengenai TB pada
anak yaitu dari &% orang responden( sekitar .0 orang (.0(%%1) memiliki tingkat pengetahuan
rendah mengenai penyakit TB pada anak( dan sisanya sekitar 55 orang (52($*1) memiliki
tingkat pengetahuan tinggi mengenai penyakit TB pada anak. Pada penelitian ini pengetahuan
masyarakat dibahas dalam dua aspek sub 9ariabel yang meliputi perbedaan TB dengan
penyakit paru lainnya pada anak( serta mengenai penatalaksanaan TB pada anak baik dari
segi pen#egahan maupun penatalaksanaan yang sesuai.
)edua sub 9ariabel ini menjadi indikator untuk mengetahui tingkat pengetahuan
seseorang. Pengetahuan mengenai perbedaan antara penyakit TB dengan penyakit paru
lainnya pada anak sangat penting untuk diketahui karena masyarakat perlu tahu gejala-gejala
penting apa saja yang terdapat pada anak yang menderita TB( karena gejalanya tidak mirip
dengan gejala TB pada orang de'asa. +ehingga masyarakat lebih #epat tanggap apabila
terdapat anak yang menderita gejala seperti gejala TB di 'ilayah tempat tinggalnya.
+elain itu( pengetahuan mengenai penatalaksanaan TB pada anak baik dari segi
pen#egahan ataupun pengobatan juga sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat agar
morbiditas dan mortalitas karena TB pada anak dapat berkurang.
+elain tingkat pengetahuan( sikap masyarakat dalam menyikapi permasalahan TB
pada anak ini juga tidak kalah pentingnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
melalui kuesioner( 'a'an#ara dengan masyarakat yang mempunyai anak berusia di ba'ah
$5 tahun di 'ilayah kerja Puskesmas /rga Makmur( didapatkan gambaran sikap masyarakat
mengenai TB pada anak yaitu dari &% orang responden( sebagian besar yaitu sekitar %* orang
responden (%0(2%1) memiliki sikap yang baik dalam hal menyikapi permasalahan TB pada
anak( sedangkan $2 orang responden ($2(0*1) memiliki sikap yang kurang baik dalam hal
menyikapi permasalahan TB pada anak.
+ikap masyarakat dalam menghadapi problema TB pada anak ini sangatlah penting.
Masyarakat harus semakin tanggap dan 'aspada dalam menyikapi permasalahan TB pada
anak( terutama dalam hal pen#egahan dan pemantauan minum obat terhadap anak penderita
TB. Peran serta masyarakat sangatlah penting untuk menyikapi permasalahan TB pada anak
ini( dan diharapkan masyarakat mau membantu menanggulangi permasalahan TB( terutama
pada anak( di lingkungan sekitarnya.
68 | M i n i P r o j e c t
BAB BI.
PENUTUP
..1 'esim*ulan
Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan( maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut 7
a. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai TB pada anak di 'ilayah kerja
Puskesmas /rga Makmur dikategorikan baik( sehingga sedikit sekali anak yang
menderita TB. >amun( pengetahuan masyarakat tetap harus ditingkatkan agar
morbiditas dan mortalitas karena penyakit TB terutama pada anak dapat berkurang
atau bahkan tidak ada sama sekali.
69 | M i n i P r o j e c t
b. +ikap masyarakat mengenai TB pada anak di 'ilayah kerja Puskesmas /rga
Makmur dikategorikan baik. >amun( masyarakat harus semakin tanggap dan 'aspada
dalam menyikapi permasalahan TB pada anak( terutama dalam hal pen#egahan dan
pemantauan minum obat terhadap anak penderita TB. Peran serta masyarakat
sangatlah penting untuk menyikapi permasalahan TB pada anak ini( dan diharapkan
masyarakat mau membantu menanggulangi permasalahan TB( terutama pada anak( di
lingkungan sekitarnya.
.." aran
$. @ntuk Masyarakat
- Masyarakat dalam hal ini terutama bidan desa dan kader di Posyandu diharapkan
untuk lebih berperan akti! dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk
menanggulangi permasalahan TB pada anak.
- Masyarakat diharapkan agar lebih #epat memba'a anaknya ke !asilitas pelayanan
kesehatan terdekat bila anak mengalami gejala-gejala TB pada anak seperti
demam lebih dari * minggu tanpa sebab yang jelas( batuk lebih dari * minggu(
na!su makan berkurang( berat badan berkurang dalam $ bulan( anak menjadi
kurang akti!( dan lainnya. +elain itu( diharapkan kepada masyarakat agar turut
memeriksakan anaknya ke pelayanan kesehatan terdekat bila anak tersebut
berkontak langsung dengan penderita TB( terutama orang de'asa yang menderita
TB paru.
*. @ntuk Puskesmas
- "ebih menggalakkan penyuluhan mengenai TB pada anak( mulai dari apa itu TB(
gejala klinis( hingga penatalaksanaannya( baik mengenai pen#egahan maupun
pengobatannya( serta komplikasi yang dapat ditimbulkan dari TB itu sendiri( agar
pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap TB terutama TB pada anak
meningkat.
- Tetap mengedukasi kepada setiap pasien de'asa penderita TB yang berobat ke
Puskesmas /rga Makmur tentang pen#egahan penyakitnya karena orang de'asa
yang menderita TB merupakan sumber penularan kepada anak-anak di sekitarnya.
0. @ntuk 4inas )esehatan
70 | M i n i P r o j e c t
- 4iharapkan dapat mengambil suatu kebijakan dengan membuat program yang
sesuai untuk menyikapi permasalahan TB pada anak di Bengkulu @tara agar
pre9alensi TB pada anak dapat berkurang.
DA-TA# PUTA'A
$. /lsaga!!( et al. *$. Dasar&dasar Ilmu Penyakit Paru. +urabaya 7 3lmu Penyakit Paru
@ni9ersitas /irlangga
*. Behrman( et al. **. 'elson & Ilmu .esehatan /nak 0disi 34. <akarta 7 K?C
0. Chintu C( Mudenda :( "u#as +. **. 5ung Diseases at 'ecropsy in /frican
Children Dying from 2espiratory Illnesses 6 a Descriptive 'ecropsy +tudy. Berlin 7
"an#et
.. 4epkes 53. *6. Pedoman 'asional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan
pertama edisi ke *. <akarta 7 4epkes 53
71 | M i n i P r o j e c t
5. 4onald P5. *.. Chilhood Tuberculosis. Berlin 7 +pringer
2. Hassan( et al. $&%5. Ilmu .esehatan /nak. <akarta. 3n!omedika.
6. <eena PM( et al. **. 3mpa#t o! H3:-$ Co-in!e#tion on Presentation and Hospital-
related Mortality in Children 'ith Culture Pro9en Pulmonary Tuber#ulosis in 4urban(
+outh /!ri#a. Berlin 7 +pinger
%. )artasasmita CB( et al. *$. Penapisan dan Pengobatan Tuberkulosis pada /nak
+ekolah Dasar di Ma1alaya. Bandung 7 M)B
&. )elompok )erja TB /nak 4epkes-34/3. *%. Diagnosis dan Tatalaksana
Tuberkulosis /nak. <akarta 7 34/3
$. "ienhardt C( et al. *0. 2isk 7actors for Tuberculosis Infection in +ub&+ahara
/frica. Berlin 7 +pringer
$$. Madhi +/( et al. *. Increased Disease -urden and /ntibiotic 2esistance of
-acteria Causing +evere Community&a8uired 5o#er 2espiratory Tract Infections in
Human Immunodeficiency irus type I Infected Children. Berlin 7 +pringer
$*. Maldonado( I. **. Ilmu .esehatan /nak. <akarta 7 K?C
$0. >elson "<( et al. *.. ?lobal Kpidemiology o! Childhood Tuber#ulosis. Berlin 7
+pringer
$.. >otoatmodjo +. $&&0. Pendidikan .esehatan dan Ilmu Perilaku" /rti Pendidikan.
Iogyakarta 7 PT. /ndi -!!set
$5. 5idu'an. *&. Pengantar +tatistika. Bandung 7 /l!abeta
$2. 5ikesdas. *%. 5aporan Hasil 2iset .esehatan Dasar" Departemen .esehatan
2epublik Indonesia. <akarta 7 4epkes 53
$6. +oeparman. $&&. Ilmu Penyakit Dalam - F)@3. <akarta 7 Fakultas )ediokteran
@ni9ersitas 3ndonesia
$%. +upriyatno B( et al. *6. Pedomen 'asional Tuberkulosis /nak 0disi ke&9. <akarta 7
@)) 5espirologi PP 3katan 4okter /nak 3ndonesia
$&. )andun( 3 >yoman. *. Manual Pemberantasan Penyakit T-. <akarta 7 K?C
*. Nar H<( et al. *$. 0tiology and *utcome of Pneumonia in Children Hospitali$ed in
+outh /frica. Berlin 7 +pringer
72 | M i n i P r o j e c t
5/MPI2/' I
-oto 'egiatan
73 | M i n i P r o j e c t
Gambar 1+. Ca4anAara dengan #es*onden
74 | M i n i P r o j e c t
Gambar 1.. -oto Bersama #es*onden dan 'eluarga
75 | M i n i P r o j e c t
5/MPI2/' II
'uesioner
'UEI3NE# PENELITIAN
GA$BA#AN PENGA#UH TING'AT PENDIDI'AN< PENGETAHUAN< DAN
I'AP $AGA#A'AT TE#HADAP PENGA'IT TUBE#'UL3I PA#U PADA
ANA' DI CILAGAH 'E#,A PU'E$A A#GA $A'$U#
'ABUPATEN BENG'ULU UTA#A
TAHUN "81(
)abupaten 7 Bengkulu @tara
>o. @rut 7
)elurahan 7
Tanggal 'a'an#ara 7
>ama responden 7
@sia respoden 7
Pendidikan Terakhir 7 Tidak sekolah ; tidak tamat +4
Tamat +4
Tamat +MP
Tamat +M/
Tamat /kademi ; Perguruan Tinggi
76 | M i n i P r o j e c t
A. PENGETAHUAN
Pili!la! sala! satu &a4aban di ba4a! ini yang audara angga* benar dengan Aara
memberikan tanda 9H: *ada *ili!an tersebut.
$. /pakah Tuberkulosis merupakan penyakit menularB
a. Ia b. Tidak
*. /pakah penyakit Tuberkulosis Paru menyebar melalui udaraB
a. Ia b. Tidak
0. /pakah #ara penularan penyakit Tuberkulosis Paru melalui per#ikan dahak (droplet
nuclei) yang mengandung kuman TuberkulosisB
a. Ia b. Tidak
.. /pakah penyakit Tuberkulosis dapat menyerang bagian tubuh lain selain paruB
a. Ia b. Tidak
5. /pakah kuman Tuberkulosis dapat berkembang biak dengan baik pada suhu 06-.$
o
CB
a. Ia b. Tidak
2. /pakah Tuberkulosis Paru bisa mengenai anak-anakB
a. Ia b. Tidak
6. /pakah kuman Tuberkulosis dapat menular dari ibu kepada bayinya melalui luka
pada plasenta melalui pembuluh darah tali pusat (plasenta)B
a. Ia b. Tidak
%. /pakah demam selama lebih dari * minggu tanpa sebab yang jelas merupakan salah
satu gejala dari Tuberkulosis Paru pada anakB
a. Ia b. Tidak
&. /pakah batuk berdahak lebih dari * minggu adalah salah satu gejala dari Tuberkulosis
Paru pada anakB
a. Ia b. Tidak
$. /pakah BB yang semakin menurun adalah salah satu gejala dari Tuberkulosis Paru
pada anakB
a. Ia b. Tidak
$$. /pakah penyakit Tuberkulosis berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendahB
a. Ia b. Tidak
$*. /pakah penyakit Tuberkulosis berhubungan dengan giEi burukB
b. Ia b. Tidak
77 | M i n i P r o j e c t
$0. /pakah penyakit Tuberkulosis dapat menyebabkan kematianB
a. Ia b. Tidak
$.. /pakah uji tuberkulin merupakan tes untuk membuktikan anak menderita penyakit
Tuberkulosis ParuB
a. Ia b. Tidak
$5. /pakah BC? merupakan imunisasi untuk men#egah penyakit TuberkulosisB
a. Ia b. Tidak
$2. /pakah pengobatan Tuberkulosis Paru pada anak dilakukan selama 2 bulan
pengobatanB
a. Ia b. Tidak
B. I'AP
Pili!la! sala! satu &a4aban di ba4a! ini yang audara angga* benar dengan Aara
memberikan tanda 9H: *ada *ili!an tersebut.
$. /pakah +audara setuju penyakit Tuberkulosis Paru pada orang de'asa dapat menular
kepada anak-anakB
a. +etuju b. Tidak +etuju
*. /pakah +audara setuju imunisasi BC? dapat men#egah timbulnya penyakit
Tuberkulosis Paru pada anakB
a. +etuju b. Tidak +etuju
0. /pakah +audara setuju penyakit Tuberkulosis Paru pada anak dapat di#egah dengan
memberikan anak makanan bergiEi seimbang (. sehat 5 sempurna)B
a. +etuju b. Tidak +etuju
.. /pakah +audara setuju lingkungan yang bersih dan sehat dapat men#egah timbulnya
penyakit Tuberkulosis ParuB
a. +etuju b. Tidak +etuju
5. /pakah +audara setuju sirkulasi udara yang buruk dapat memperbesar penularan
penyakit Tuberkulosis ParuB
a. +etuju b. Tidak +etuju
2. /pakah +audara setuju anak yang menderita penyakit Tuberkulosis Paru harus diobati
selama 2 bulan se#ara teratur dengan pemantauan orang tuaB
a. +etuju b. Tidak +etuju
78 | M i n i P r o j e c t
6. 'E,ADIAN TUBE#'UL3I PA#U PADA ANA'
/pakah anak +audara pernah menderita Tuberkulosis Paru dalam 'aktu $ tahun terakhirB
U4engan gejala utama batuk berdahak lebih dari * minggu( demam selama lebih dari *
minggu tanpa sebab yang jelas( BB yang semakin berkurang( tidak ada na!su makan( serta
badan terasa lemah sehingga akti9itas !isik anak (seperti bermain) berkurangV.
$. <a'aban Ia( jika anak pernah menderita Tuberkulosis Paru dalam 'aktu $ tahun
terakhir.
*. <a'aban Tidak( jika anak tidak pernah menderita Tuberkulosis Paru dalam 'aktu $
tahun terakhir.
79 | M i n i P r o j e c t
5/MPI2/' III
Lea)let
Gambar 1/. Lea)let TB Paru *ada Anak
80 | M i n i P r o j e c t
5ampiran I
Database #es*onden
$ATE# DATA PENELITIAN
TING'AT PENDIDI'AN< PENGETAHUAN< DAN I'AP $AGA#A'AT
$ENGENAI PENGA'IT TUBE#'UL3I PA#U
&o. Responden Pendidikan Pengetahuan #ikap
Ke%adian TB
anak
1 4 68+75, '1) 50, '1) 2
2 5 68+75, '1) 83+33, '2) 2
3 3 75, '2) 100, '2) 2
4 4 68+75, '1) 100, '2) 2
5 4 62+5, '1) 66+67, '2) 2
6 4 68+75, '1) 66+67, '2) 2
7 4 68+75, '1) 100, '2) 2
8 3 87+5, '2) 83+33, '2) 2
9 2 56+25 '1) 0, '1) 1
10 4 81+25, '2) 100, '2) 2
11 5 81+25, '2) 100, '2) 2
12 3 75, '2) 100, '2) 2
13 3 68+75, '1) 100, '2) 2
14 4 75, '2) 100, '2) 2
15 4 87+5, '2) 100, '2) 2
16 4 81+25, '2) 100, '2) 2
17 4 87+5, '2) 100, '2) 2
18 4 43+75, '1) 83+33, '2) 2
19 3 87+5, '2) 100, '2) 2
20 4 87+5, '2) 100, '2) 2
21 3 56+25, '1) 33+33, '1) 2
22 3 37+5, '1) 83+33, '2) 2
81 | M i n i P r o j e c t
23 3 93+75, '2) 100, '2) 1
24 2 68+75, '1) 50, '1) 2
25 5 87+5, '2) 100, '2) 2
26 3 75, '2) 83+33, '2) 2
27 3 68+75, '1) 83+33, '2) 1
28 3 81+25, '2) 83+33, '2) 2
29 2 87+5, '2) 66+67, '2) 2
30 2 75 '2) 83+33, '2) 2
31 3 68+75, '1) 66+67, '2) 2
32 4 63+5, '1) 83+33, '2) 2
33 1 56+25, '1) 50, '1) 1
34 3 75, '2) 100, '2) 2
35 4 68+75, '1) 83+33, '2) 2
36 4 100, '2) 66+67, '2) 2
37 4 37+5, '1) 66+67, '2) 2
38 5 81+25, '2) 100, '2) 2
39 5 81+25, '2) 100, '2) 2
40 3 68+75, '1) 100, '2) 2
41 4 81+25, '2) 100, '2) 2
42 4 87+5, '2) 83+33, '2) 2
43 4 68+75, '1) 100, '2) 2
44 4 62+5, '1) 33+33, '1) 2
45 4 68+75, '1) 66+67, '2) 2
46 4 68+75, '1) 100, '2) 2
47 4 75, '2) 100, '2) 2
48 4 68+75, '1) 100, '2) 2
49 4 75, '2) 100, '2) 2
50 4 68+75, '1) 100, '2) 2
51 3 68+75, '1) 50, '1) 2
52 3 37+5, '1) 16+67, '1) 2
82 | M i n i P r o j e c t
53 4 56+25, '1) 33+33, '1) 2
54 4 87+5, '2) 100, '2) 2
55 4 87+5, '2) 100, '2) 2
56 4 43+75, '1) 83+33, '2) 2
57 4 87+5, '2) 100, '2) 2
58 3 81+25, '2) 100, '2) 2
59 4 87+5, '2) 100, '2) 2
60 4 75, '2) 100, '2) 2
61 5 87+5, '2) 100, '2) 2
62 5 75, '2) 83+33, '2) 2
63 4 81+25, '2) 83+33, '2) 2
64 4 87+5, '2) 66+67, '1) 2
65 4 68+75, '1) 83+33, '2) 2
66 4 68+75, '1) 66+67, '1) 2
67 4 62+5, '1) 83+33, '2) 2
68 4 75, '2) 100, '2) 2
69 4 68+75, '1) 83+33, '2) 2
70 4 100, '2) 66+67, '1) 2
71 4 37+5, '1) 66+67, '1) 2
72 4 81+25, '2) 100, '2) 2
73 4 81+25, '2) 100, '2) 2
74 4 68+75, '1) 100, '2) 2
75 4 68+75, '1) 50, '1) 2
76 4 68+75, '1) 50, '1) 2
77 4 68+75, '1) 50, '1) 2
78 4 87+5, '2) 100, '2) 2
79 3 68+75, '1) 83+33, '2) 2
80 4 100, '2) 100, '2) 2
81 4 87+5, '2) 100, '2) 2
82 4 87+5, '2) 100, '2) 2
83 | M i n i P r o j e c t
83 4 81+25, '2) 100, '2) 2
84 4 62+5, '1) 100, '2) 2
85 4 93+75, '2) 100, '2) 2
86 4 87+5, '2) 100, '2) 2
87 4 93+75, '2) 100, '2) 2
88 4 93+75, '2) 100, '2) 2
89 4 75, '2) 100, '2) 2
90 4 75, '2) 100, '2) 2
91 4 87+5, '2) 100, '2) 2
92 4 81+25, '2) 100, '2) 2
93 4 68+75, '1) 100, '2) 2
94 4 81+25, '2) 100, '2) 2
95 4 75, '2) 100, '2) 2
96 4 62+5, '1) 100, '2) 2
97 4 81+25, '2) 100, '2) 2
98 4 56+25, '1) 100, '2) 2
'eterangan 1
a. Tingkat Pendidikan 7
$ S Tidak +ekolah ; Tidak Tamat +4
* S Tamat +4
0 S Tamat +MP
. S Tamat +M/
5 S Tamat /kademi ; Perguruan Tinggi
b. Tingkat Pengetahuan
$ S 5endah (bila 861)
* S Tinggi (bila P61)
#. +ikap
$ S )urang baik (bila L51)
* S Baik (bila =51)
d. )ejadian TB pada /nak
$ S Ia
84 | M i n i P r o j e c t
* S Tidak menderita
85 | M i n i P r o j e c t

Anda mungkin juga menyukai