Anda di halaman 1dari 12

A.

Balita
1. Pengertian Balita
Balita adalah bayi dan anak yang berusia tahun kebawah (Hanum
Marimbi, 2010). Balita merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak
yang sangat pesat dalam pencapaian keoptimalan fungsinya (Supartini,
2004).
2. Klasifikasi Perkembangan Balita
a. Usia Bayi (0-1 tahun)
Bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang primitive dengan
kekebalan pasif yang didapat dari ibunya selama dalam kandungan.
Pada saat bayi kontak dengan antigen yang berbeda ia akan
memperoleh antibodinya sendiri. Imunisasi diberikan untuk kekebalan
terhadap penyakit yang dapat membahayakan bayi berhubungan secara
alamiah (Lewer, 1996 dalam Supartini, 2004). Bila dikaitkan dengan
status gizi bayi memerlukan jenis makanan ASI, susu formula, dan
makanan padat. Kebutuhan kalori bayi antara 100-200 kkal/kg BB.
Pada empat bulan pertama, bayi yang lebih baik hanya mendapatkan
ASI saja tanpa diberikan susu formula. Usia lebih dari enam bulan baru
dapat diberikan makanan pendamping ASI (Supartini, 2004).
b. Usia toddler (1-3 tahun)
Secara fungsional biologis masa umur 6 bulan hingga 2-3 tahun adalah
rawan. Masa itu tantangan karena konsumsi zat makanan yang kurang,
disertai minuman buatan yang encer dan terkontaminasi kuman
menyebabkan diare dan marasmus. Selain itu dapat juga terjadi sindrom
kwashiorkor karena penghentian ASI mendadak dan pemberian
makanan padat yang kurang memadai (Jelife, 1989 dalam Supartini,
2004).
Imunisasi pasif yang diperoleh melalui ASI akan menurun dan kontak
dengan lingkungan akan makin bertambah secara cepat dan menetap
tinggi selama tahun kedua dan ketiga kehidupan. Infeksi dan diet
adekuat kan tidak banyak berpengaruh pada status gizi yang cukup baik
(Akre, 1994 dalam Supartini, 2004). Bagi anak dengan gizi kurang,
setiap tahapan infeksi akan berlangsung lama dan akan berpengaruh
yang cukup besar pada kesehatan, petumbuhan dan perkembangan.
Anak 1-3 tahun membutuhkan kalori kurang lebih 100 kkal/kg BB dan
bahan makanan lain yang mengandung berbagai zat gizi (Supartini,
2004).
c. Usia Pra Sekolah (3-5 tahun)
Pertumbuhan anak usia ini semakin lambat. Kebutuhan kalorinya
adalah 85 kkal/kg BB. Karakteristik pemenuhan kebutuhan nutrisi pada
usia pra sekolah yaitu nafsu makan berkurang, anak lebih 9 tertarik
pada aktivitas bermain dengan teman, atau lingkungannya dari pada
makan dan anak mulai sering mencoba jenis makanan yang baru
(Supartini, 2004).
3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Balita
Secara umumada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu
(Supriasa, 2002):
a. Faktor Internal (Genetik)
Faktor genetik merupakan modal dasar mencapai hasil proses
pertumbuhan. Melalui genetik yang berada didalam sel telur yang
telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.
Faktor internal (Genetik) antara lain termasuk berbagai faktor bawaan
yang normal dan patologis, jenis kelamin, obstetrik dan ras atau suku
bangsa (Jellife, 1989 dalam Supriasa, 2002).
b. Faktor Eksternal (Lingkungan)
Faktor lingkungan sangat menentukan tercapainya potensi genetik
yang optimal. Apabila kondisi lingkungan kurang mendukung, maka
potensi genetik yang optimal tidak akan tercapai. Lingkungan ini
meliputi lingkungan bio-fisiko-psikososial yang akan
mempengaruhi setiap individu mulai dari masa konsepsi sampai akhir
hayatnya. Faktor lingkungan pascalnatal adalah faktor lingkungan
yang mempengaruhi pertumbuhan anak setelah lahir, meliputi; 10

1) Lingkungan biologis yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
adalah ras, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan,
kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme
yang saling terkait satu dengan yang lain.
2) Lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan adalah
cuaca, keadaan geografis, sanitasi lingkungan, keadaan rumah dan
radiasi.
3) Faktor psikososial yan berpengaruh pada tumbuh kembang anak
adalah stimulasi (rangsangan), motivasi, ganjaran atau hukuman,
kelompok sebaya, stres, cinta dan kasih sayang serta kualitas
interaksi antara anak dan orang tua.
4) Faktor keluarga dan adat istiadat yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak antara lain: pekerjaan atau pendapatan keluarga,
stabilitas rumah tangga, adat istiadat, norma dan urbanisasi.
4. Tahapan Perkembangan Balita
Berdasarkan psikoanalisa Sigmud Freud (1956-1939) dalam Siswanto,
2010 membagi tahapan perkembangan balita, yaitu:
a. Masa Oral (0-1 tahun)
Di dalam masa ini fokus kepuasan baik fisik maupun emosional berada
pada sekitar mulut (oral). Kebutuhan untuk makan, minum sifatnya
harus dipenuhi.
b. Masa Anal (1-3 tahun)
Pada fase ini kesenangan atau kepuasan berpusat disekitar anus dan
segala aktivitas yang berhubungan dengan anus. Anak pada faseini
diperkenalkan dengan toilet training, yaitu anak mulai diperkenalkan
tentang ingin buang air besar dengan buang air kecil.
c. Fase Phalic (3-6 tahun)
Pada fase ini alat kelamin merupakan bagian paling penting, anak
sangat senang dan hatinya merasa puas memainkan alat kelaminnya.
Pada fase ini anak laki-laki menujukkan sangat dekat dan merasa
mencintai ibunya (Oedipus complex), sebaliknya anak perempuan
sangat mencintai ayahnya (electra complex).
5. Karakter Sifat Balita
Sifat-sifat yang khas tetap perlu di intervensi agar dapat menempati
porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih
baik untuk berkembang sebagai karakter, ada lima karakter sifat pada
balita yaitu (Indriyani, 2008):
a. Ergosentris
Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan atau saat anak sudah
sadar akan dirinya (self awaraness) ini disebabkan oleh
ketidakmampuan balita dalam melihat suatu hal dari sudut pandang
orang lain.
b. Suka perintah atau bossy
Bossy sebenarnya masih berhubungan dengansifat ergonosentris. Sifat
ini merupakan kelanjutan dari usia bayi dimana anak sebelumnya selalu
ingin diperhatikan demi mendapatkan apa yang diinginkan.
c. Agresif
Sifat ini tampak sejak usia bayi namun sering dijumpai pada usia balita
terutama saat keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa.
d. Pemalu
Umumnya, sifat pemalu anak karena pembawaan pribadi diturunkan
dari orang tua yang tidak suka bersosoalisasi akan terbawa sampai
dewasa. Meskipun tidak ada dampak buruk namun akan berakibat
dalam mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan.
e. Penyendiri
Sifat penyendiri pada anak balita selain dikarenakan perkembangan
kognitif dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri.


1. Konsep Balita
Balita merupakan individu yang berumur 0-5 tahun, dengan tingkat plastisitas
otak yang masih sangat tinggi sehingga akan lebih terbuka untuk prosos
pembelajaran dan pengayaan (Departemen Kesehatan RI, 2009). Balita
terbagi menjadi dua golongan yaitu balita dengan usia satu sampai tiga tahun
dan balita dengan usia tiga sampai lima tahun (Soekirman,2006). Sedangkan
menurut (Meadow, 2002), balita merupakan anak yang usianya berumur
antara satu hingga lima tahun. Saat usia balita kebutuhan akan aktivitas
hariannya masih tergantung penuh terhadap orang lain, mulai dari makan,
buang air besar maupun air kecil dan kebersihan diri. Masa balita merupakan
masa yang sangat penting bagi proses kehidupan manusia. Pada masa ini akan
berpengaruh besar terhadap keberhasilan anak dalam proses tumbuh kembang
selanjutnya (Nicki, 2007).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan balita merupakan individu dengan usia
dibawah lima tahun. Pertumbuhan pada masa ini berlangsung dengan cepat
dan melambat pada usia prasekolah. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari balita
masih sangat tergantung dengan orang lain. Perkembangan masa balita akan
berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak
selanjutnya.

2. Perkembangan Balita
Perkembangan merupakan kondisi yang ditandai dengan bertambahnya strktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks (Departemen Kesehatan RI, 2009).
Dalam masa perkembangan balita terdapat periode kritis. Periode kritis
merupakan kondisi dimana lingkungan memiliki dampak paling besar terhadap
perkembangan individu (Papalia dan Olds dalam Potter dan Perry, 2005).
Dalam periode kritis diperlukan stimulasi sensori agar perkembangannya dapat
berjalan secara maksimal. Menurut Nicki (2007) perkembangan balita dibagi
menjadi empat aspek yaitu perkembangan psikologis, perkembangan
psikoseksual, perkembangan sosial dan perkembangan kognitif.

Berbicara tentang perkembangan balita banyak kita temui teori yang
membahas tentang tumbuh kembang balita. berikut merupakan beberapa teori
tentang perkembangan balita menurut berbagai tokoh:
a. Perkembangan psikososial menurut Erikson (1963) dalam Potter dan Perry
(2005).
Dalam teori psikososial Erikson (1963) mengemukakan krisis
perkembangan psikososial pada bayi adalah pada saat masa percaya dan
tidak percaya. Kualitas hubungan antara orang tua dan balita akan sangat
berpengaruh dalam tahap ini. Teori ini berpendapat masa autonomi atau
kebebasan mulai muncul pada usia todler dan pada usia ini anak akan
mulai menjalin hubungan sosial dengan lingkungan.
b. Perkembangan kognitif menurut Piaget (1952) dalam Kinney (2009).
Dalam teorinya, Piaget (1952) mengemukakan perkembangan periode
sensorimotor merupakan perkembangan tahap pertama dari perkembangan
kognitif. Periode sensorimotor akan berlangsung sampai dengan tahun ke
dua kelahiran dan setelah itu akan beralih pada tahap pemikiran
praoperasional. Tahap ini ditandai dengan penggunaan simbol untuk
menunjuk benda, tempat atau orang dan pada tahap ini anak juga belajar
meniru kegiatan yang dilakukan orang lain.
c. Perkembangan bahasa
Wong (2001) menjelaskan perkembangan bahasa akan sangat dipengaruhi
oleh lingkungnnya. Bahasa bukan kemampuan yang diperoleh dalam
sekali waktu namun perkembangan bahasa terjadi secara bertahap. Dalam
perkembangan bahasa dibutuhkan kelengkapan struktur dan fungsi dari
indra pendengaran, pernafasan, dan kognitif yang dibutuhkan untuk
berkomunikasi. Perkembangan bahasa antar individu sangat bervariasi
yang dipengaruhi oleh kemampuan saraf dan perkembangan kognitif
masing-masung individu.
d. Perkembangan sensori motor
Wong (2001) menjelaskan perkembangan sensori motor sangat erat
kaitannya dengan dunia bermain anak. Pada saat bermain anak akan
menggunakan kemampuan otot dan persarafannya. Dengan semakin
berkembangnnya kemampuan sensori motor, individu akan mulai
mengeksplor lingkungan sekitarnya.15
e. Perkembangan motorik kasar
Dalam perkembangan gerak motorik kasar menurut Pillitteri (2003) dapat
dievaluasi dari empat posisi yaitu ventral suspension, prone, sitting, dan
standing. Posisi suspension merupakan posisi balita tengkurap dan
berusaha mengangkat pantat.
f. Perkembangan motorik halus
Gerak yang melibatkan gerakan bagian tubuh yang melibatkan otot-otot
kecil. Gerak motorik halus dimulai dengan kemampuan balita untuk
menghisap ibu jari. Pada usia tiga bulan balita mulai menjangkau benda-
benda yang berada didekatnya. Kemampuan tersebut terus berkembang
sampai pada usia 12 bulan balita dapat menggambar garis simetris
(Pillitteri, 2003).

Menurut Departeman Kesehatan RI (2009) tumbuh kembang balita terbagi
menjadi 10 tahap perkembangan sesuai tahap usia, yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1 Perkembangan Balita Sesuai Tahap Usia
Usia Perkembangan
0-3 bulan Dapat mengangkat kepala setinggi 45, menggerakan
kekanan dan kekiri, menatap wajah, dan mengeluarkan suara
secara spontan.
3-6 bulan Dapat menggenggam pensil, meraih benda yang ada dalam
jangkauannya, mengarahkan matanya pada benda-benda kecil,
dan dapat memegang tangannya sendiri.
6-9 bulan Dapat duduk tanpa bantuan, memindahakan benda dari
satu tangan ke tangan lainnya, dapat memungut manik-manik,
dapat bermain tepuk tangan.
9-12 bulan Dapat berdiri selama 30 detik, dapat berjalan dengan
bantuan, dapat menyebut 2-3 suku kata tanpa arti.
12-18 bulan Dapat berdiri tanpa bantuan, berjalan mundur lima
langkah, dapat membuat menara dari dua kubus,
memasukan kubus ke kotak.
18-24 bulan Dapat berdiri tanpa bantuan selama 30 detik, berjalan
dengan tegak, menara dari empat kubus, memungut
benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk, menyebut
3-6 kata yang mempunyai arti.
24-36 bulan Dapat berjalan naik tangga tanpa bantuan, dapat
mencoret-coret kertas menggunakan pensil,
berbicara menggunakan dua kata, dapat menunjuk satu
atau lebih anggota tubuh, dapat menyebutkan dua
macam gambar atau lebih, melepas pakaiannya sendiri.
36-48 bulan Dapat mengangkat satu kaki selama dua detik, dapat dapat
melompat dengan kedua kaki di angkat, dapat menggambar
garis lurus, dapat membuat menara dari delapan kubus,
mengenal dua warna atau lebih, mengenal tiga perlawanan
kata, dapat mengenakan celana, baju, kemeja tanpa bantuan.
48-60 bulan Dapat berdiri satu kaki selama 6 detik, dapat
menggambar lingkaran menggambar orang dengan
tiga bagian tubuh, dapat membandingkan benda
dari ukuran dan bentuknya, mengeluarkan kata-kata yang
sudah dapat dimengerti, menggosok gigi tanpa
dibantu.
60-72 bulan Dapat berjalan lurus, berdiri dengan satu kaki selama 11
detik, dapat menggambar orang dengan 6 bagian,
menggambar segi empat, mengerti arti lawan kata,
dapat mengenal warna.
Sumber: (Departemen Kesehatan RI, 2009)

Selain melihat perkambangan balita dari tahap usia, menurut DDST-II
perkembangan balita dapat juga dilihat dari empat aspek yaitu, motorik
halus, personal sosial, bahasa, dan motorik kasar.

Tabel 2.2 Perkembangan Balita Berdasarkan Aspek Motorik halus,
Personal Sosial, Bahasa, dan Motorik Kasar

Usia Motorik Halus Personal Sosial Bahasa Motorik Kasar
Lahir-1bulan Muncul reflek
primitif, menghisap,
menggenggam dan
berespon terhadap
suara

1-3 bulan Mulai dapat
menegakan kepala,
muncul gerakan
merangkak
Dapat memberikan
Respon tersenyum

3-4 bulan Dapat mengangkat
kepala dari posisi
tengkurap,
memalingkan kepala
ke sumber suara
Dapat memberikan
Respon tersenyum
Dapat
bersuara
Jika diajak
berbicara
Mulai mengamati
tangan sendiri,
mampu untuk
menggenggam
kerincingan
6-10 bulan Dapat berguling dari
sisi ke sisi,
memalingkan
Dapat mengekspresik
an kegembiraan
dengan berlagak dan
Mengeluarkan
suaraseperti
da ma
Mulai
memindahkan
benda dari satu
kepala pada
sumber suara
tersipu-sipu tangan ke
tangan lainnya
9-10 bulan Dapat duduk dari
posisi berbaring,
Mulai merangkak
Mengenal dan
menolak
kepada orang
asing
Mengeluarkan
Suara seperti
da-da ma-
ma
Dapat memungut
benda dengan
jari dan ibu jari
1 tahun Mulai berlatih
untuk berjalan
dengan bantuan
Menurut perintah
sederhana,
memperlihatkan
berbagai macam
emosi
Mulai
mengucapkan
kata-kata
tunggal
Dapat memegang
gelas untuk
meminum
1 tahun Dapat berjalan
tanpa bantuan,
dapat naik
turun tangga
Mulai bermain
dengan anak
seusianya, meminta
minum, mengenal
gambar-gambar
binatang
Dapat
mengucapkan
lebih dari 20
kata yang
mempunyai
arti
Mulai mencoret
coret, membolak
balik halaman
2 tahun Dapat berlari,
Membuka pintu
Mulai bermain
dengan anakanak
lain
Mulai
menggunakan
dua atau tiga
kata
Dapat
menggunakan
pakaian sendiri
3 tahun Dapat melompat,
dapat menggunakan
sepeda roda tiga
Mengetahui nama dan
jenis kelaminnya
sendiri, dapat diberi
pengertian, bermain
secara konstruktif dan
imitatif
Dapat
berbicara
dengan
kalimat
kalimat
pendek
Dapat
menggambar
lingkaran,
menggambar
benda-benda
yang dikenalnya
4-5 tahun banyak huruf alfabet,
dapat menghitung
sampai sepuluh
Mulai dapat
bernyanyi

Sumber: Moersintowati (2005)
3. Pengukuran Tumbuh Kembang Balita
Pengukuran pertumbuhan dan perkembangan balita melibatkan pengukuran
kemampuan motorik kasar, motorik halus, kemampuan bahasa, dan
kemampuan sosial kemandirian (Departemen Kesehatan R I, 2009). Dalam
melakukan pengukuran tumbuh kembang balita, DI Indonesia terdapat dua
macam gold standar alat ukur tumbuh kembang yaitu, Denver Developmental
Screening Test-II (DDST-II) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP). Berikut ini merupakan dua macam gold standar alat ukur tumbuh
kembang DI Indonesia:


a. Denver Developmental Screening Test-I I (DDST-II)
DDST-II ini merupakan metode yang digunakan untuk menilai
perkembangan anak usia 0-6 tahun yang terdiri dari 125 item tugas
pertumbuhan anak. Hasil dari pengukuran DDST-II ini berupa normal,
tersangka dan tidak dapat diuji (Adriana, 2011). Secara garis besar tugas
tumbuh kembang anak dalam DDST-II terbagi atas empat klasifikasi
(Nugroho, 2008).

Klasifikasi pertama yaitu sektor personal-sosial, dalam sektor ini berisi
ketercapaian anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Klasifikasi
kedua yaitu sektor motorik halus, dalam sektor ini berisi ketercapaian anak
dalam koordinasi anggota tubuh. Klasifikasi selanjutnya yaitu sektor
bahasa, dalam sektor ini lebih berfokus dalam penggunaan bahasa, berbica,
dan mendengar. Klasifikasi yang terahir dalam penilaian ini yaitu sektor
motorik kasar, dalam sektor ini anak dinilai dari kemampuan otot untuk
beraktifitas (Nugroho, 2008).

Hasil penilaian DDST-II terdiri dari penilaian item dan penilaian secara
keseluruhan. Penilaian item terdiri dari advanced, normal, caution, delayed
dan no opportunity. Sedangkan untuk penilaian secara keseluruhan terdiri
dari normal, suspect, dan untestable. Secara lebih lengkap penilaian dalam
DDST-II dapat dilihat pada lampiran. Berbagai penelitian telah dilakukan
mengenai standar pengukuran perkembangan DDST-II. Salah satu
penelitian yang dilakukan oleh Shahshahani (2010) dengan judul Validity
and reliability determination of Denver Developmental Screening Test-II
in 0-6 Year-Olds in Tehran, mengungkapkan pengukuran perkembangan
balita menggunakan DDST-II lebih banyak ditemukan pennyimpangan
dari pada menggunakan alat ukur yang lain. Dalam penelitian ini hasil
pengukuran perkembangan dengan menggunakan DDST-II didapati 34%
responden mengalami gangguan perkembangan. Sedangkan pengukuran
perkembangan menggunakan alat ukur yan lain sejenis DDST-II didapati
hasil 12% balita mengalami gangguan perkembangan.

B. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini disusun dari berbagai sumber yaitu , Potter
(2005), Departemen Kesehatan RI (2009) dan Ngastiyah (2003). Adapun
kerangka teori dalam penelitian ini yaitu:
Gambar 2.1. Kerangka Teori Penelitian

Keterangan:
: diteliti












Balita
1. Pengertian Balita
Balita adalah bayi dan anak yang berusia tahun kebawah (Hanum
Marimbi, 2010). Balita merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak
yang sangat pesat dalam pencapaian keoptimalan fungsinya (Supartini,
2004).
2. Klasifikasi Perkembangan Balita
a. Usia Bayi (0-1 tahun)
Bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang primitive dengan
kekebalan pasif yang didapat dari ibunya selama dalam kandungan.
Pada saat bayi kontak dengan antigen yang berbeda ia akan
Balita Perkem
bangan
Pengukuran
menggunakan
DDST dan KPSP
Perkembangan
1. Motorik kasar
2. Motorik halus
3. Personal sosial
4. Bahasa
memperoleh antibodinya sendiri. Imunisasi diberikan untuk
kekebalan terhadap penyakit yang dapat membahayakan bayi
berhubungan secara alamiah (Lewer, 1996 dalam Supartini, 2004).
Bila dikaitkan dengan status gizi bayi memerlukan jenis makanan
ASI, susu formula, dan makanan padat. Kebutuhan kalori bayi
antara 100-200 kkal/kg BB. Pada empat bulan pertama, bayi yang
lebih baik hanya mendapatkan ASI saja tanpa diberikan susu
formula. Usia lebih dari enam bulan baru dapat diberikan makanan
pendamping ASI (Supartini, 2004).