Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH IPA TERAPAN

OBSERVASI IPAL (INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH)


SEWON, BANTUL, YOGYAKARTA









Kelompok :
1. Aisyatun Nur Laely (11312241009)
2. Marista Ramadhiyanti (11312241019)
3. Rifqi Ramadani (11312241029)
4. Adista Kurnia Sari (11312241039)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
OBSERVASI IPAL (INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH)

A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia hasil pemantauan kualitas air yang dilaksanakan melalui program
Prokasih masih menunjukkan tingginya kadar polutan di badan air. Air mempunyai
karakteristik fisik dan kimiawi yang sangat mempengaruhi kehidupan organisme di
dalamnya. Apabila terjadi perubahan kualitas perairan, terutama oleh bahan pencemaran
lingkungan, maka keseimbangan hidup organisme yang ada di perairan tersebut bahkan
kehidupan manusia pada khususnya dapat terganggu. Pencemaran lingkungan air
sebaiknya dikendalikan pada tingkat awal dari suatu proses pencemaran yang terjadi.
Apabila tingkat pencemaran air sangat dominan, maka pencegahan dan
penanggulangannya memerlukan biaya yang sangat mahal.
B. GAMBARAN UMUM
Untuk Yogyakarta telah ada sebuah lembaga atau instansi yang khusus mengurus
air limbah. Instansi tersebut dinamakan Balai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).
Balai IPAL ini terletak di Jalan Bantul KM 6, tepatnya di Dusun Cepit, Kalurahan
Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Sistem IPAL ini
menjangkau kurang lebih 1250 hektar daerah pelayanan atau sekitar 110.000 penduduk
dengan 18.420 sambungan yang terdiri atas 17.330 sambungan rumah tangga dan 1.090
sambungan nonrumah tangga. Luas lahan IPAL Sewon ini adalah 6, 7 hektar.
Pengelolaan Balai IPAL ini melibatkan tiga unsur pemerintah daerah yakni Sleman
(5 kecamatan), Kota (seluruh kota), dan Bantul (3 kecamatan) yang lebih dikenal sebagai
Kartamantul. Balai IPAL ini telah berdiri sejak 1996 atas hibah dana dari Jepang, APBN,
dan APBD dengan jumlah total dana adalah 68 milyar. Secara garis besar IPAL ini
memiliki tiga kemanfaatan yakni perlindungan terhadap badan-badan air (sungai dan
sumur) dari pencemaran rumah tangga, peningkatan dan estetika lingkungan,
pemanfaatan hasil IPAL berupa pupuk organik dari lumpur air limbah.
Balai IPAL ini melibatkan beberapa instansi antara lain: Dinas Kimpraswil
Yogyakarta, Bappeda Kabupaten/Kota, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan,
Keindahan dan Pemakaman (DKKP), Dinas Kimpraswilhub, Kantor Pengendalian
Dampak Lingkungan. Pengoperasian Balai IPAL Sewon berada di bawah koordinasi Sub
Dinas Cipta Karya Dinas Kimpraswil DIY dengan 35 personil yang berasal dari staf
pemerintah Kartamantul Propinsi DIY dan pegawai kontrak. Sedangkan biaya
operasional IPAL berasal dari APBD Kartamantul Propinsi DIY.
C. HASIL KUNJUNGAN
1. Proses pengolahan air IPAL Sewon
Pengolahan air limbah yang digunakan untuk mengolah limbah domestik di
IPAL Sewon Bantul adalah dengan proses pengolahan secara fisika biologi dan tidak
menggunakan proses secara kimia. Pengolahan air limbah di IPAL Sewon Bantul
dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Pengolahan pendahuluan (pre treatment)
Pengolahan pendahuluan yang digunakan meliputi saringan jeriji,saringan kasar,
bak equalisasi dan pengandap pasir (grift chamber).
b. Pengolahan pertama (primary treatment)
Pengolahan pertama adalah pengolahan yang bertujuan untuk menghilangkan zat
padat tercampur di dalam air limbah melalui pengendapan atau pengapungan.
c. Pengolahan kedua (secondary treatment)
Pengolahan kedua yang digunakan dalam pengolahan air limbahdomestik di
IPAL Sewon Bantul adalah aerasi dan pertumbuhan bakteri.
d. Pengolahan lanjut (Ultimate disposal)
Pengolahan lanjut yang digunakan dalam pengolahan air limbah domestik di
IPAL Sewon Bantul adalah pengolahan lumpur agar dapat dimanfaatkan kembali.
2. Unit pengolahan air limbah
Unit pengolahan air limbah yang digunakan dalam IPAL Sewon Bantul meliputi:
a. Saluran pembawa
Air limbah yang dialirkan sebelum masuk IPAL akan dilewatkan pada saluran
pembawa. Saluran pembawa berbentuk lingkaran terbuat dari betondengan
diameter 100 - 130 cm.
b. Rumah pompa
Rumah pompa terdiri dari :
1) Bak equalisasi (equalition pond)
Tujuan bak equalisasi dalam IPAL :
a) Untuk menjaga sistem pengolahan biologis dari pembebanan bahan
organik yang berfluktuasi.
b) Untuk mengawasi derajat pH
c) Untuk meredam aliran yang masuk bagi sistem pengolahan fisik.
d) Untuk memberikan aliran yang kontinyu pada sistem pengolahan biologis
saat IPAL sedang tidak dioperasikan.
e) Untuk memberikan kontrol kapasitas aliran air limbah yang lebih merata.
f) Mencegah masuknya konsentrasi zat beracun yang tinggi dalamsistem
pengolahan biologis.
Bak equalisasi di dalam IPAL dirancang secara khusus sebagai bagian dari
rumah pompa, sehingga dari luar fungsinya tidak terlihat begitu jelas.
2) Saringan jeriji
Saringan jeriji terletak sebelum pompa angkat. Berfungsi untuk memisahkan
kotoran-kotoran seperti tas-tas plastik dan bahan terapung lainnya dalam
aliran masuk. Kotoran-kotoran tersebut dipisahkan secara manual dengan
penggaruk aluminium dari ayakan jeriji dan dibuang minimal sehari sekali.
3) Water indicator level
Water indicator level berfungsi menunjukkan ketinggian air limbahyang akan
diolah dan jenis pengoperasian pompa. Ada dua jenispengoperasian pompa
berdasarkan ketinggian air :
a) Operasi pompa otomatis
b) Operasi pompa manual
Jika ada peningkatan air limbah yang terjadi pada saat hujan deras maka air
limbah secara langsung dibuang ke sungai menggunakan by pass, karena
kualitas air limbah telah memenuhi effluen standar yang dapat diterima oleh
badan air penerima.
4) Pompa angkat
Pompa angkat jenis ulir (screw) berjumlah tiga buah dengan kapasitas 10,7
m
3
/menit. Dimana dua unit operasional dan satu unit sebagai cadangan.
Keuntungan menggunakan pompa ulir:
a) Saluran air limbah lanjutan tidak tersumbat oleh kotoran-kotoran tas-tas
plastik dan bahan-bahan terapung lainnya.
b) Mampu menurunkan beban BOD air limbah sampai dengan30%.
c) Menghilangkan buih-buih tidak masuk ke dalam kolam fakultatif.
c. Bak penangkap pasir (Grift Chamber)
Grift Chamber digunakan untuk menyaring pasir, batu atau kerikil dan material
kecil lainnya dari limbah cair. Partikel yang diendapkan pada grift chamber
mempunyai berat jenis yang besar dan terdiri dari partikel-partikel anorganik dan
organik. Pada umumnya partikel yang diendapkan pada grift chamber adalah
pasir. Grift chamber di IPAL Sewon Bantul berjumlah satu buah dua jalur dan
dilengkapi dengan :
1) Pompa pasir
Pompa pasir yang digunakan berjenis pompa celup (submersiblepump)
dengan spesifikasi alat berdiameter alat 100 x 1 m
3
/menit x15 m x 5,5 kw.
2) Siklon pemisah
Siklon pemisah yang digunakan memiliki spesifikasi alat diameter
100x1m
3
/menit dan berjumlah dua buah. Siklon pemisah ini dihubungkan
langsung dengan pipa keluaran dari pompa pasir. Tanah dan pasir yang
dikumpulkan pada dasar grift chamber dihisap bersama kotoran oleh pompa
pasir yang dipisahkan menjadi padatan dan cairan di dalam siklon pemisah,
lalu tanah dan pasir yang sudah dipisah ditimbun pada ruang dasar siklon.
3) Saringan kasar Saringan kasar yang digunakan berjumlah dua buah dengan
spesifikasi alat W 2000 x 40 mm (ukuran mesh). Berfungsi untuk
menghilangkan kotoran-kotoran plastik dan kotoran mengapung lainnya yang
lolos dari saringan jeriji. Kotoran tersebut dihilangkan dari saringan kasar
dengan cara manual dengan penggaruk aluminium satu atau dua kali dalam
sehari.
d. Laguna aerasi fakultatif
Laguna aerasi fakultatif merupakan salah satu jenis pengolahan air limbah secara
biologis dengan memanfaatkan tiga jenis bakteri, yaitu bakteri aerob, anaerob dan
fakultatif (aerob-anaerob) untuk mendegradasi kandungan bahan pencemar yang
terdapat dalam air limbah. Laguna aerasi fakultatif dirangkai dalam dua kolam
pararel dan tiap kolam terdiri dari dua buah kolam atau laguna, dengan demikian
semuanya berjumlah empat kolam atau laguna. Tiap kolam dilengkapi
denganaerator berjenis surface aeration dan waktu tinggal air limbah dilaguna
aerasi fakultatif 5,5 hari.
Laguna aerasi fakultatif juga dilengkapi dengan :
1) Aerator Aerator yang digunakan berjumlah empat buah, type surfaceaeration
dengan spesifikasi alat diameter 2000 x 48 rpm x 30 kw. Aerator dioperasikan
berdasarkan laju alir masukan kotoran. Secara umum pengoperasian aerator
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Laju aliran 3.874 7.750 11.625 15.500
masukan dari
kotoran(m3/hari)
Laju alir
masukan dri
kotoran(%)
25 50 50 100
Jumlah aerator
yang beroperasi
2 2 4 4
Aerator yang
dioperasikan
No 1-1
No 1-2
No 1-1
No 1-1
No 1-1/1-2
No 2-1/2-2
No 1-1/1-2
No 2-1/2-2

Meskipun laju alir masukan dari kotoran lebih kecil dari laju alir rancangan,
kotoran harus tetap diumpan ke saluran laguna. Jikalaju alir masukan dari
kotoran 80% lebih kecil dari harga rancangan, maka dapat dioperasikan
hanya satu kolam saja (No.1-1/1-2 atau No. 2-1/2-2). Pada kasus ini aerator
No. 1-1/1-2 atauNo. 2-1/2-2 harus dioperasikan.
2) Kapal utama unit pembuangan lumpur
Kapal utama unit pembuangan lumpur satu buah dengan spesifikasi alat W
2300 x L 6000 X H 1000 bertenaga mesin. Berdasarkan harga rancangan
3300 m3 (110.000 orang dalam daerah layanan dan menghasilkan lumpur 30
lt/orang.th : (110.000orang x 30 lt/org.th x 1000 = 3300 m3/th) lumpur per
tahun akan terkumpul dalam laguna aerasi fakultatif. Alat pembuang lumpur
yang digunakan terdiri dari atas sebuah unit penghisap dengan kapasitas 20
m3/jam (kandungan 20% padatan dan 80 % cairan) pada sebuah kapal utama.
3) Indikator ikan
Ikan digunakan sebagai bioindikator terhadap tingkat pemulihan kualitas air
melalui proses pengolahan. Jika ikan yang dijadikan indikator mati, maka hal
itu menunjukkan bahwa kualitas air limbah masih jelek.
e. Kolam pematangan
Air limbah yang telah diolah di kolam fakultatif dialirkan ke kolam pematangan
dengan maksud untuk menstabilkan air limbah sebelum dibuang ke badan air.
Kolam pematangan terdiri dari dua sistem yang dirangkai secara pararel dengan
kolam fakultatif. Setelah penghilangan kotoran organik dan bakteri collon bacilli,
limbah olahan selanjutnya di alirkan ke dalam Sungai Bedog melalui pipa beton
dan saluran terbuka.
f. Tempat pengeringan lumpur (sludge drying bed)
Lumpur yang terkumpul dari dalam laguna aerasi fakultatif di buang ke
tempat pengeringan dengan menggunakan unit pembuangan lumpur setahun
sekali. Tempat pengeringan lumpur keseluruhannya terdiri dari 25 kolam, dibagi
menjadi tiga bagian. Bagian No. 1 terdiri dari 9 kolam dan bagian No.2/No.3
masing-masing terdiri dari 8kolam. Kapasitas efektif dari satu kolam sekitar 240
m3. Jika konsentrasi lumpur 20 % maka kapasitas unit pembuangan lumpur
adalah 20 m3/jam. Sehingga satu kolam pengering akan penuh dalam dua hari
jika waktu operasi 6 jam/hari.
Lumpur yang berada pada tempat pengeringan lumpur terbagi menjadi
lapisan atas yang jernih dan lumpur yang kental pada bagian bawah. Batang
penutup dipindahkan untuk mengeluarkan lapisan atas yang jernih dari tempat
pengeringan. Operasi seperti ini diulangi untuk mengentalkan lumpur hingga
cairan tidak dapat dipisahkan lagi. Setelah lumpur dikeringkan dengan panas
matahari sampai bisa dikeluarkan dengan pengeruk/sekop. Setelah dikeringkan di
terik matahari 2-3 bulan, lumpur kering dibawa dengan sebuah lori dan dibuang
di tempat pembuangan lumpur.
3. Proses pengolahan air buangan
Air limbah domestik yang berasal dari kota Yogyakarta dansebagian
Kabupaten Sleman serta Kabupaten Bantul dialirkan melalui jaringan pipa yang telah
ada pada jaman Belanda. Sistem jaringan pipa yang menuju ke IPAL juga dilengkapi
dengan pipa penggelontor.
Fungsi dari pipa penggelontor adalah untuk melarutkan sampah-sampah yang
ada dalam pipa-pipa yang tidak disingkirkanakan menghambat laju aliran air limbah
ke IPAL. Air penggelontor diambil dari empat inlet, yaitu Dam Bendolele, Dam
Pogung, Dam Prawirodirjan dan Selokan Mataram. IPAL sebagai tujuan akhir
merupakan titik terendah dibandingkan dengan jaringan pipa keseluruhan, sehingga
jaringan pipa air limbah ini memanfaatkan sistem pengaliran secara gravitasi dalam
pengaliran air limbahnya.
Limbah kota (kotoran) dipompakan ke dalam grift chamber dengan
menggunakan pompa angkat. Sebelum pompa angkat tersebut dipasangi jeriji untuk
melindungi pompa dari kerusakan akibat benda-benda besar seperti sampah. Pompa
angkat tersebut jenis ulir (screw). Pompa tersebut menghisap limbah secara kontinu
tanpa tersumbat oleh kotoran-kotoran yang terbawa aliran limbah. Pada IPAL ini
dipasang tiga buah pompa, dimana satu buah sebagai cadangan. Pompa jenis screw
dapat dikendalikan secara otomatis berdasarkan kuantitas air limbah yang mengalir.
Dengan pompa angkat limbah kotor dituangkan ke dalam grift chamber
dimana kotoran-kotoran kasar dan berat seperti tanah dan pasir akan mengendap.
Keluaran dari grift chamber dialirkan kesaringan kasar untuk menangkap kotoran-
kotoran seperti kantung plastik, ranting kayu dan kotoran lainnya akan mengendap
dan berkumpul di dasar grift chamber. Kotoran tersebut kemudian dialirkan dengan
menggunakan pompa celup (submersible pump) dan akan dipisahkan dari limbah cair
dan padatan dengan menggunakan siklon pemisah. Kemudian padatan ditampung
dalam hooper yang berada dibawah siklon dan dibuang secara berkala, sedangkan
limbah cair dikembalikan ke dalam grift chamber. Limbah kotor yang telah diolah
secara fisik tersebut diumpankan melalui tangki distribusi ke laguna aerasi fakultatif.
Laguna aerasi fakultatif dibagi dalam dua jalur dan tiap jalur terdiri dari dua
kolam yang dirangkai secara seri. Di dalam laguna aerasi fakultatif, kotoran-kotoran
organik yang terkandung dalam limbah kotor akan diuraikan dan dihilangkan secara
biokimiawi dengan bantuan bakteri aerobik dan anaerobik. Pada permukaan laguna
aerasi fakultatif, aerator mekanis dipasang sebagai pemasok oksigen, kemudian
kotoran organik diuraikan oleh bakteri aerobik secara bersamaan pada bagian dasar
atau bawah laguna yang tidak mengandung oksigen terjadi penguraian kotoran
organik oleh bakteri anaerobik.
Setelah penghilangan kotoran organik dilaguna aerasi, limbah olahan tersebut
dialirkan ke kolam pertumbuhan seperti halnya laguna aerasi fakultatif, kolam
pertumbuhan juga terdiri dari dua sistem yang dirangkai secara pararel. Setelah
penghilangan kotoran selanjutnya dialirkan ke dalam Sungai Bedog melalui pipa
beton dan saluran terbuka. Lumpur yang mengendap di dasar laguna aerasi fakultatif,
diurai oleh bakteri anaerobik dan lumpur tersebut harus dikuras atau dihisap setiap
satu sampai dua tahun sekali secara vakum dengan menggunakan ejector udara.
Lumpur yang terkumpul dihisap dan kemudian ditampung di dalam bak-bak
pengeringan lumpur. Kemudian lumpur dikeringkan secara alamiah, selanjutnya
lumpur kering tersebut dimusnahkan di tempat pengolahan limbah padat yang berada
di luar lahan pengelolaan limbah kota ini.

4. Diagram Alir proses pengolahan
Dari penjelasan kuantitas dan kualitas air limbah domestik yang akan diolah
maka di design alat-alat pengolahan yang dimaksudkan agar air limbah domestik
tersebut memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Pengolahan tesebut pada dasarnya
terdiri dari satuan operasi dan satuan proses yang keduanya saling terkait dan
menentukan daya guna atau efisiensi bangunan-bangunan pengolahan, yang
kemudian menghasilkan effluent yang memenuhi baku mutu yang ditetapkan.
Prosedur lengkap pengolahan air limbah domestik digambarkan dalam diagram alir
proses sebagai berikut :
















D. PEMBAHASAN
Pengolahan yang digunakan di IPAL Sewon adalah pengolahan biologi dengan
mempergunakan bakteri aerob sehingga pada instalasi ini keberadaan aerator menjadi
sangat vital. Hal ini terjadi karena aerator memiliki fungsi untuk memasok oksigen yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan polutan. Apabila terjadi kerusakan
pada aerator tentu proses pengolahan tidak berjalan dengan baik dan limbah tersebut
dapat menimbulkan masalah baru.
Limbah yang masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah yang terlayani sampai
saat ini belum memenuhi batas maksimal sesuai dengan rancangan awal hal ini mungkin
Laguna Aerasi
Fakultatif
Saringan Jeriji Laguna Aerasi
Fakultatif
Saringan Kasar Grift chamber
Aliran masuk

Pengering
lumpur
Kolam
Pertumbuhan
Aliran keluar

juga disebabkan karena IPAL Sewon yang menggunakan gaya gravitasi untuk
mengalirkan air limbahnya sehingga daerah yang terlayani hanya pada daerah yang letak
tanahnya lebih tinggi dari IPAL Sewon.
Rancangan awal dari IPAL Sewon hanya menampung air limbah saja, namun
kenyataannya masih ditemukan berbagai limbah padat yang ikut terbawa oleh aliran
limbah hal ini terjadi mungkin karena kesadaran masyarakat yang masih kurang.
Sampah-sampah itu akhirnya menyumbat aliran limbah pada titik-titik tertentu. Salah
satu dampak dari adanya sampah yang terikut aliran air limbah adalah pihak IPAL secara
rutin harus melakukan pembersihan saluran perpipaan. Selain itu terdapat banyak
sampah yang terikut hingga pada grift chamber sehingga secara rutin pihak IPAL
melakukkan pengambilan sampah secara manual.
Pemeriksaan saluran perpipaan yang dilakukan oleh pihak IPAL mengalami
berbagai kendala karena keterbatasan personil, dan jalur perpipaannya yang panjang,
sehingga terdapat beberapa titik yang dalam jangka waktu bertahun-tahun baru
dibersihkan. Titik-titik itu biasanya terdapat pada jalur perkampungan,
Air limbah yang diperbolehkan masuk ke IPAL sewon adalah seluruh air limbah
domestik dari kegiatan kerumah tanggaan. Seluruh limbah tersebut diperbolehkan
memasuki inlet secara langsung, kecuali tinja dari hasil pembersihan septic tank dan juga
limbah laundry. Untuk penanganan kedua limbah tersebut, pihal IPAL Sewon
menyediakan bak penampung sebelum dimasukkan ke inlet pengolahan. Jadi limbah
tinja dan laundry didiamkan dulu dalam kurun waktu tertentu, hal ini bertujuan agar efek
samping dari kerusakan yang mungkin timbul akibat kedua limbah tersebut. Limbah
loundry memliki kadar pH yang cukup tinggi sehingga bisa merusakkan komponen
pengolah. Namun sampai saat ini tempat yang digunakan untuk menampung limbah tinja
dan laundry hanya terdiri dari sebuah bak yang di atasnya ditutup dengan menggunakan
plastik, bak ini kurang efektif untuk digunakan sebagai penmapung, terutama untuk
menampung tinja karena tinja mengandung bakteri patogen yang dapat menimbulkan
penyakit pada manusia.
IPAL Sewon merupakan instalasi yang khusus untuk mengolah limbah cair, namun
pada musim hujan akan terjadi kenaikan debit limbah akibat tercampurnya air hujan
dengan air limbah. Air hujan ini dapat terikut ke saluran limbah karena pipa saluran
limbah sudah terlalu lama digunakan sehingga terjadi kebocoran di beberapa titik.
Pengolahan dengan sistem lumpur aktif tentu akan menimbulkan bahan sisa sludge.
Lumpur hasil sisa dari pengolahan ini ditampung pada bak pengering lumpur setelah
disedot dari kolam aerasi. Sampai saat ini lumpur-lumpur ini belum mengalami
pengolahan karena lumpur hasil pengolahan limbah cair dikategorikan sebagai B3.
E. KESIMPULAN
1. Balai IPAL Sewon Bantul merupakan temapat pengolahan air yang berasal dari
aktifitas Rumah Tangga yaitu air buangan kamar mandi, kloset, mencuci dan
memasak.
2. Bagian bagian IPAL sewon bantul sudah sangat lengkap.mulai dari tahap awal
hingga tahap pengelolalan akhir.ini menunnjukkan bahwa IPAL Sewon Bantul
dikategorikan IPAL yang baik dan lengkap.
3. Hasil olahan di Balai IPAL di buang ke sungai Bedog standar dengan air golongan B
yang diperuntukkakn untuk irigasi pertanian. Berdasarkan Surat Keputusa Gibernur
DIY baku mutu golongan B, yaitu BOD 30 mg/liter dan lumpur kering dimanfaatkan
untuk pupuk tanaman.
F. REKOMENDASI
1. Lumpur yang sudah kering tersebut sebaiknya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk
yang sudah siap pakai dengan cara pengepakan dan apabila lumpur tersebut tidak
mengandung B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).
2. Bagi pengelola IPAL Sewon Bantul bisa lebih ditingkatkan kembali fasilitas-fasilitas
pendukung yang belum tersedia di IPAL Sewon Bantul.