Anda di halaman 1dari 13

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Genetika dengan judul Alel Ganda disusun


oleh:
Nama : Julistin Cahyani Salmon
Nim : 1114040020
Kelas : A (Pendidikan Biologi)
Kelompok : IV (Empat)
telah diperiksa oleh Asisten/Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Makassar, Januari 2014
Koordinator Asisten Asisten



Muh Nur Arsyad M. Sahrul T
NIM. 091404153 NIM.101414001


Mengetahui
Dosen Penanggungjawab:


Andi Faridah Arsal, S.Si, M.Si
NIP. 19700718200501 2 002

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa yang banyak dijumpai adalah
munculnya lebih dari dua macam alel pada suatu lokus tertentu, sehingga lokus
tersebut dikatakan memiliki sederetan alel. Peristiwa ini disebut alel ganda. Jadi
apabila di dalam satu lokus terdapat sepasang alel, disebut alel tunggal. Sedangkan
terdapat lebih dari satu pasang alel dalam satu lokus, maka disebut alel ganda.
Kita tentu mengenal adanya empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB
dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut
bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA
dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B,
sedangkan alel i tidak membentuk antigen. Pada manusia dikenal beberapa sifat
keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Alel Ganda.
Diharapkan kita dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita mengenai
pembahasan ini.
B. Tujuan Praktikum
1. Untuk menentukan golongan darah masing-masing praktikan
2. Mengamati reaksi antigen dan anti bodi (serum darah)

C. Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengetahui golongan darah masing-masing praktikan
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara mengamati reaksi antigen dan anti bodi
(serum darah)


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian alel ganda adalah faktor yang memiliki lebih dari dua macam alel,
sekalipun tidak ada satu pun makhluk diploid yang mempunyai lebih dari dua macam
alel untuk tiap faktor. Sebab timbulnya alel ganda adalah peristiwa mutasi gen.
Stanfield (1983) mengatakan Karena suatu gen dapat berubah menjadi bentuk-
bentuk alternatif oleh proses mutasi, secara teoritis di dalam suatu populasi mungkin
dijumpai sejumlah besar alela (Corebima, 1997).
Darah merupakan cairan tubuh yang terdapat dalam jantung dan pembuluh
darah, beberapa cairan tubuh lain adalah (1) cairan jaringan, merupakan cairan tubuh
yang terdapat di ruang antar sel (2) cairan limfa merupakan tubuh yang terdapat
didalam pembuluh limfa dan organ limfatikus, organ limfatikus mengikuti nodus
limfatikus, tonsil, tius, dan limfa, cairan serobasin rospinal, merupakan cairan tubuh
yang terdapat diruang ruang antar persendian (3) Sinovial, merupakan cairan tubuh
yang terdapat diruang persendian (4) agues humor, merupakan cairan tubuh yang
terdapat didalam bola mata (5) endolimf merupakan cairan tubuh yang terdapat di
ditelinga bagian dalam yang mengisi membran labiri (6) perilimf merupakan cairan
tubuh yang terdapat ditelinga bagian dalam (Wulangi, 1993).
Dua fungsi utama dari darah adalah mengangkut bahan bahan panas dan
dari semua jaringan jaringan badan dan mempertahankan badan terhadap penyakit
menular. Air adalah sebagai pelarut yang terbaik didalam plasma menyebabkan darah
sebagai medium transport yang demikian efektif. Glukosa, asam lemak berantai
pendek, vitamin, hormon, limbah nitrogen (seperti urea) dan banyak ion ion
semuanya diangkut terlarut dalam plasma darah (Kimball, 1990).
Melalui tes darah maka setiap orang dapat mengetahui golongan darahnya.
Berdasarkan sifat kimianya, antigen A dan B merupakan mukopolisakharida,
terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi
bagian gulanya merupakan dasar kekhasan antigen-antibodi. Golongan darah
seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya (Suryo, 1986).
Penentuan golongan darah dan tes tentang kecocokannya dilakukan sebelum
pemberian transfusi untuk meyakini keamanannya. Dipandang dari donor darah:
Golongan darah AB dapat memberi darah pada AB, golongan darah A dapat memberi
pada A dan AB, golongan darah B pun demikian boleh untuk B maupun AB, dan
golongan darah O adalah donor umum untuk semua golongan. Dipandang dari
resipien: Golongan darah AB adalah resepien umum, golongan A dapat menerima
dari golongan darah A dan O, golongan darah B dapat menerima golongan darah B
dan O, dan golongan darah O dari golongan darah sesamanya yaitu O. Sebaiknya
transfusi darah dilakukan dengan golongan darah sejenis dan hanya dalam keadaan
terpaksa dapat diberikan darah dari donor universal (Pearce, 2002).










BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/ Tanggal : Kamis/ 28 November 2013
Waktu : Pukul 09.10 s.d 10.50 WITA,
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai II Timur FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
a. Alat :
1. Blood lancet
2. Kaca preparat
b. Bahan :
1. Alakohol 70 % 1 tetes
2. Serum anti-A
3. Serum anti-B
4. Serum anti AB
5. Kapas bersih secukupnya
6. Tusuk gigi
7. Darah manusia

C. Cara Kerja
1. Menyiapkan kaca preparat bersih, serum anti A, serum anti B, blood lancet,
alkohol 70%, dan kapas.
2. Membersihkan ujung jari serta lancet yang akan digunakan dengan alkohol
70%.
3. Menusuk ujung jari dengan lancet sampai mengeluarkan darah.
4. Menghapus tetes darah pertama dengan kapas bersih, kemudian meneteskan
tetes darah berikutnya satu tetes pada serum anti A dan satu tetes pada serum
anti B.
5. Mengaduk darah yang telah diteteskan pada anti serum tersebut.
6. Mengamati terjadinya penggumpalan darah (aglutinasi) yang mungkin terjadi
pada alah satu titik atau di kedua titik atau malah tak terjadi penggumpan.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
No. Nama
Golongan darah
A B AB 0
1. A. Lin Sri Marello
2. Arini Rahmadana
3. Aswal Salewangeng
4. Muh. Nur Akbar
5. Nur Umriani
6. Nurun Nahri
7. Risma Mansyur
8. Rismawati
9. Suarni
10. Anastasya Liku
11. Nurfaida
12. Muh. Najib
13. Rasdah Gustianto
14. Nur Amaliah
15. Wahyu Hasanuddin
16. Zul Fadli
17. Julistin Cahyani Salmon
18. Sumarni Nompo
19. Endah Suci Widyanto
20. Mustaqim
21. Ummul Asma Azis
22. Nurlinah
23. Miftahul Jannah
24. Tri Yuda Wijayanti
25. Janeriatri
26. Ermayanthy Amri
27. Eka Ramdahyani
28. Irwandi Rahmat
29. Rika Rezki M.Luthfi
30. Andi Rahmayani
31. Harnitayasri
32. Irmawati
33. Yesika Coresa
34. Agus Abdullah
35. Hardianti
36. Indar Mulya
37. Hasrianti
38. Muhammad Hidayat
39. Hasrul Baharuddin
40. Husniar
41. Hariyati Ibrahim
42. Fauziah
43. Andi Intan
44. Nurfadilah Fendi
45. Hamsinah
46. Harnisa Maryam Bakri
47. Mangemba Daeng Paropo
48. Nurlil Fannah
49. Rini Puspayani
50. Haidir Anas
51. Muhammad Rasul
52. Risal
53. Rivai Abriansyah Irwan
Jumlah 12 17 2 22

Analisis Data
Diketahui :
1. Jumlah mahasiswa = 53 orang
2. Jumlah mahasiswa yang bergolongan darah A = 12 orang
3. Jumlah mahasiswa yang bergolongan darah B = 17 orang
4. Jumlah mahasiswa yang bergolongan darah AB = 2 orang
5. Jumlah mahasiswa yang bergolongan darah O = 22 orang
Persentase Golongan Darah Kelas A
% golongan darah A =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 22,64%
% golongan darah B =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 32,07%
% golongan darah AB =
golongan darah
mahasisa
1
=

3
1
= 3, 77%
% golongan darah O =
golongan darah
mahasisa
1
=

3
1
= 41,50%
Presentasi Golongan Darah Kelompok 4
% golongan darah A =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 1,6%
% golongan darah B =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 1,6%
% golongan darah AB =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 33,3%
% golongan darah O =
golongan darah
mahasisa
1
=

1
= 33,3%

B. Pembahasan
Berdasarkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan, probandus
dapat digolongkan ke dalam darah A jika probandus tersebut di dalam sel darah
merahnya terdapat aglutinogen A, dan aglutinin B, sebalinya pada probandus
bergolongan darah B, memiliki aglutinigen B namun tidak memiliki aglutinin A
Pada probandus yang bergolongan darah AB dan O didasarkan pada ada tidaknya
aglutinin atau aglutinogen A dan B pada sel darahnya.
Apabila darah menggumpal saat ditetesi anti serum A dan tidak
mengalami penggumpalan saat ditetesi anti serum B, maka sampel tersebut
digolongkan pada golongan darah A. Jika pada saat ditetesi anti serum B dan
mengalami penggumpalan, maka dimasukkan dalam golongan darah B, namun
jika darah menggumpal pada saat ditetesi anti serum A dan B maka disebut
bergolongan darah AB. Sedangkan jika tidak terjadi penggumpalan ketika ditetesi
anti serum A atau B berarti dimasukkan dalam golongan darah O
Dari 53 sampel probandus yang diamati, terdapat 12 orang yang
bergolongan darah A, 17 orang bergolongan darah B, 2 orang yang bergolongan
darah AB, 22 orang yang bergolongan darah O. Berdasarkan dari hasil analisis
data presentase orang yang bergolongan darah A 22,64%, yang bergolongan
darah B 32,07 %, bergolongan darah AB 3, 77 %, dan yang bergolongan darah O
41,50 % .



BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang diperoleh, presentase
orang yang bergolongan darah A yaitu 22,64%, yang bergolongan darah B
yatiu 32,07 %, yang bergolongan darah AB yatiu 3, 77 %, dan yang
bergolongan darah O yaitu 41,50 % .
2. Persentase golongan darah yang paling tinggi adalah tipe golongan darah O
sedangkan persentase golongan darah yang paling rendah adalah tipe golongan
darah AB.
B. Saran
1. Sebaiknya para praktikan lebih berhati-hati dalam mengamati penetesan
antiserum ke darah, agar tidak terjadi kesalahan dalam proses penggolongan
darah.
2. Sebaiknya para asisten lebih memperhatikan praktikan dalam melakukan
praktikum sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan.












DAFTAR PUSTAKA

Corebima, AD. 1997. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press
Kimball, 1990. Biologi. Jilid II. Erlangga: Jakarta.
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Wulangi, Kartolo, 1993. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan: Jakarta.