Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM OSEANOGRAFI KIMIA


Penentuan Kadar Oksigen Terlarut









HENDRI LAHAGU
26020113140118
Kel.18




PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014







LEMBAR PENILAIAN

MODUL I : Penentukan Kadar Oksigen Terlarut


NO. KETERANGAN NILAI
1. Pendahuluan
2. Tinjauan Pustaka
3. Materi dan Metode
4. Hasil dan Pembahasan
5. Kesimpulan
6. Daftar Pustaka
TOTAL



Mengetahui,

Koordinatoor Praktikum OSKIM Asisten



Nisa Auliya Nisa Auliya
26020111130023 26020111130023

Nama: Hendri Lahagu

NIM: 26020113140118

Ttd: ...................................
Kelompok : 18
Tgl Praktikum : Sabtu, 26 April 2014
Tgl Pengumpulan : Rabu, 4 Juni 2014

Tgl Pengumpulan :
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat berdaya guna, yang mampu
melarutkan zat-zat lain dalam jumlah yang lebih besar daripada zat cair lainnya.
Sifat ini dapat dilihat dari banyaknya unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air
laut. Diperkirakan hampir sebesar 50 triliun metric ton garam yang larut dalam air
laut. Air laut juga mengandung sejumlah besar gas-gas udara terlarut. Semua gas-
gas yang ada di amosfer dapat dijumpai di dalam air laut, walaupun jumlah mereka
ini terdapat dalam perbandingan yang tidak sama seperti yang ada di udara. Gas
oksigen khususnya sangat penting, karena sangat dibutuhkan bagi kehidupan
organisme air. Umumnya gas ini banyak dijumpai di lapisan permukaan, oleh
karena itu oksigen yang berasal dari udara di dekatnya dapat secara langsung larut
(berdifusi) ke dalam air laut.
Oksigen memegang peranan penting sebagai indicator kualitas perairan,
karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organic
dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan biologic yang dilakukan oleh
organisme aerobic dan anaerobic. Dalam kondisi aerobic, peranan oksigen adalah
untuk mengoksidasi bahan organic dan anorganik dengan hasil akhir adalah nutrient
yang ada pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi
anaerobic oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia
menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrient dan gas.
Sumber oksigen dilautan antara lain dapat diperoleh secara langsung dari
atmosfer melalui proses difusi dan melalui biota berklorofil yang mampu
berfotosintesis. Disamping itu juga terdapat faktor yang menyebabkan
berkurangnya oksigen dalam air laut yaitu karena respirasi biota, dekomposisi
bahan organik dan pelepasan oksigen ke udara. Untuk mengetahui kualitas air
dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia
yang sering digunakan yaitu DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen
Demand), dan COD (Chemical Oxygen Demad) (Supangat, 2000)
DO air laut merupakan gas terlarut yang penting, khususnya dalam proses
metabolisme. Faktor yang menentukan konsentrasi DO di laut adalah proses
fotosintesis dan respirasi, pertukaran udara dengan dipermukaan laut. Hal ini
dilakukan secara difusi. DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut juga dapat
dijadiakn salah satu indikator apakah di perairan tersebut tercemar atau tidak.
Distribusi DO secara vertikal dipengaruhi oleh gerakan air, proses kehidupan di
laut, dan secara kimia oksigen dipakai untuk respirasi, yaitu proses penguraian zat-
zat organik yang membutuhkan oksigen (Supangat, 2000)

1.2 Tujuan
Agar dapat mengenali, mengerti, memahami prosedur penentuan kadar oksigen
terlarut di air laut sehingga diharapkan dapat mengerjakan analisa penetuan
kadar oksigen terlarut disuatu perairan.






















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dissolved oxygen
Keberadaan oksigen di perairan sangat penting untuk diketahui sebab
oksigen sangat penting bagi kehidupan. Banyaknya O
2
terlarut dalam perairan biasa
disebut DO. Dilihat dari jumlahnya, oksigen terlarut adalah satu jenis gas terlarut
dalam air pada urutan kedua setelah nitrogen. Namun jika dilihat kepentingannya
bagi kehidupan, ksigen menempati urutan paling atas. Sumber utama oksigen dalam
perairan adalah hasil difusi dari udara, terbawa melalui presipitasi (air hujan) dan
hasil fotosintesis fitoplanton. Sebaliknya, kandungan DO dalam air dapat berkurang
karena dimanfaatkan oleh aktivitas respirasi dan perombakan bahan organic
(Hutagalung et.al. , 1985).
Kekurangan oksigen dapat dialami karena terhalangnya difusi akibat
strafikasi salinitas yang terjadi. Rendahnya kandungan DO dalam air dapat
berpengaruh buruk terhadap kehidupan ikan dan kehidupan akuatik lainnya, dan
jika tidak ada sama sekali DO mengakibatkan munculnya kondisi anaerobic dengan
bau busuk dan permasalahan estetika (Hutagalung et.al. , 1985).
Air mengalir pada umunya kandungan oksigennya cukup karena gerakannya
menjamin berlangsungnya difusi antara udara dan air. Bila pencemaran organic
pada badan air, DO tersebut digunakan oleh bakteri untuk mengoksidasi bahan
pencemaran organic pada badan air, DO tersebut digunakan oleh bakteri untuk
mengoksidasi bahan pencemaran organic tersebut. Komposisi populasi hewan
dalam air sangat erat hubungannya dengan kandungan oksigen. Kelarutan oksigen
atmosfer dalam air segar atau tawar berkisar dari 14,6 mg/liter pada suhu 0
0
C
hingga 7,1 mg/liter pada suhu 35
0
C pada tekanan satu atmosfer (Canter, 1977).

2.2 Sifat Oksigen di Perairan
Oksigen adalah salah satu unsur kimia yang sangat penting sebagai
penunjang utama kehidupan berbagai organisme. Oksigen dimanfaatkan oleh
organisme perairan untuk proses respirasi dan menguraikan zat organik menjadi zat
an-organik oleh mikro organisme. Ketiadaan oksigen dalam suatu perairan akan
menyebabkan organisme dalam perairan tersebut tidak dapat hidup dalam waktu
yang lama. Oleh karena itu salah satu cara untuk menjaga kelestarian kehidupan
dalam laut adalah dengan cara memantau kadar oksigen dalam perairan tersebut
(Hutagalung et.al. , 1985).
Tinggi rendahnya kadar oksigen di dalam air banyak tergantung pada arus
dan gelombang, suhu, salinitas, kedalaman, serta potensi biotik perairan. Kelarutan
oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu, tekanan parsial gas-gas yang ada di udara
maupun di dalam air. Makin tinggi suhu, salinitas, dan tekanan parsial gas yang
terlarut dalam air maka kelarutan oksigen dalam air makin berkurang.
Berkurangnya oksigen yang larut dalam air adlah karena digunakan oleh organisme
untuk proses perombakan bahan-bahan organic yang larut maupun bahan-bahan
kotoran dasar (Harsono, 2010).
2.3 Analisis kandungan oksigen di perairan
Banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi dan
penguraian zat-zat organik oleh mikro organisme dinyakan dengan Apparent
Oxygen Utilization (AOU). Dalam suatu perairan yang masih alami, nilai AOU
umunya positif. Namun untuk perairan yang banyak mengandung zat-zat organik,
nilai AOU menjadi negative yang berarti jumlah oksigen yang dibutuhkan lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah oksigen yang tersedia. Hasil penelitian variasi
kadar oksigen terlarut alami di lapisan permukaan perairan Indonesia berkisar 4,50-
7,00 mg/L atau 3,15-4,90 ml/L (Soeseno,1970).
Untuk menganalisis kandungan oksigen di perairan dapat dilakukan
dengan berbagai cara dan metode misalnya dengan metode mikro-gasometrik,
spektrometrik massa, kromatografi gas, metode elektrokimia dan metode Winkler.
Namun metode yang paling sering dipakai untuk menentukan kadar oksigen dalam
air laut adalah metode Winkler (Soeseno,1970).

2.4 Metode Modifikasi Winkler
Metoda titrasi dengan cara winkler secara umum banyak digunakan untuk
menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi
iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan
MnCl
2
dan Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan
menambahkan H
2
SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan
juga akan membebaskan molekul iodium (I
2
) yang ekivalen dengan oksigen
terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar
natrium tiosulfat (Na
2
S
2
0
3
)dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).
Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut (Anonim,2011) :


Kelebihan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO)
adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan metoda Winkler lebih analitis, teliti
dan akurat apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu
diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya,
standarisasi larutan tio dan penambahan indikator amilumnya.
Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi tio secara
analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat.
Sedangkan cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang
akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi
penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu,
sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan
akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan,
penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat
penentuannya hanya bersifat kisaran (Anonim, 2011).
Kelemahan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO)
adalah dimana dengan cara Winkler penambahan indikator amilum harus
dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus
iod karena akan menyebabkan amilum sukar bereaksi untuk kembali ke senyawa
semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan
karena I
2
mudah menguap. Dan ada yang harus diperhatikan dari titrasi
iodometri yang biasa dapat menjadi kesalahan pada titrasi iodometri yaitu
penguapan I
2
, oksidasi udara dan adsorpsi I
2
oleh endapan (Anonim, 2011).
2.5 Standarisasi Larutan
Standarisasi dimaksudkan agar dapat menjamin produk ekstraksi memiliki
standar mutu tertentu yang konstan. Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi
tertentu sering dihasilkan konsentrasi yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui
konsentrasi sebenarnya perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi sering dilakukan
dengan titrasi (Harjadi, 2000).











III. MATERI DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat :
Waktu : Sabtu, 26 April 2014
Pukul : 09.00 - Selesai
Tempat : Laboratorium kampus Jepara Marine Station, Teluk Awur Jepara,
Jawa Tengah
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat

No Nama Alat Gambar Alat Fungsi Alat
1 DO Meter

Mengukur
oksigen terlarut
2 PH Meter

Mengukur PH
3 Refraktometer

Mengukur
Salinitas Air
Laut
4 Botol Sampel
5 Lakban Hitam
Untuk mensolasi
semua
permukaan botol
sampel
6 Plastik Hitam
Untuk menutupi
semua
permukaan luar
botol sampel
Tabel 1. Alat
3.2.2 Bahan

No Nama Alat Gambar Alat Fungsi Alat
1 Air Laut

Bahan yang
akan di teliti di
laboratorium
2 MgCO
3





Agar menjaga
supaya kadar
klorofil tetap
ada sewaktu di
bawa ke
laboratorium
Tabel 2. Bahan
3.3 Cara Kerja
a) Pengukuran dan analisis DO, salinitas dan pH pada masing masing titik
sampling seperti gambar berikut :











1. Pengukuran Oksigen Terlarut (DO)
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut
DO Meter
Sebelum digunakan untuk mengukur diperairaan sampling, DO
Meter harus dilakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan fluida cair
(air) yang sudah diketahui kadar oksigen terlarut didalamnya
Kemudian pengukuran dilakukan pada masing masing daerah
sampling
Ketika berpindah dari titik sampling satu ke titik sampling yang
lain, DO Meter harus tetap dikalibrasi agar pengukuran dapat
dilakukan secara akurat.
2. Pengukuran Salinitas
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Refraktometer
Cara yang paling baik pada penggunakan refraktometer dalam
pengambilan sampel yaitu dengan mengambil beberapa tetes air
laut pada titik sampling dengan pipet tetes kemudian diteteskan
tepat pada kaca object pada refraktometer
Pengamatan air laut (fluida cair) dalam refraktometer, dengan
meneropong sisi lain dari sisi object tepat searah sinar datang
sehingga pematulan dan pembiasaan sinar oleh air laut dapat
terlihat dengan jelas, yang hasilnya disebut nilai salinitas.
3. Pengukuran nilai Keasamaan (pH)
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut
pH Meter
Sebelum digunakan untuk mengukur diperairaan sampling, pH
Meter harus dilakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan fluida cair
(air) yang sudah diketahui nilai pH nya.
Kemudian pengukuran dilakukan pada masing masing daerah
sampling
Ketika berpindah dari titik sampling satu ke titik sampling yang
lain, pH Meter harus tetap dikalibrasi agar pengukuran dapat
dilakukan secara akurat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 DO Meter


KETERANGAN
1. Body pH meter
2. Body elektroda
3. Layar
4. Kabel elektroda
5. Kabel sensor suhu
6. Tombol MEAS untuk pengukuran
7. Tombol MODE untuk pemilihan mode pengukuran
8. Tombol Set untuk setting pengukuran
9. Tombol CAL untuk proses kalibrasi
10.Tombol CAL DATA untuk mereview data kalibrasi yang telah
dilaukan
11.Tombol ON/OFF
12.Tombol Data OUT untuk mengeluarkan data yang sudah di input
13.Tombol ENTER
14.Elektroda gelas
15.Elektroda pembanding (reference)
4.2 Cara Kerja DO Meter
DO meter tersusun atas beberapa komponen utama yang disketsakan pada
gambar di bawah ini. Terdapat dua elektrode utama yang masing-masing berfungsi
sebagai katode dan anode. Batang katode terbuat dari logam mulia seperti emas
atau platina. Sedangkan batang anode terbuat dari bahan perak. Kedua elektrode
ini terselimuti cairan elektrolit KCl yang memiliki pH netral. Permukaan elektrode
perak akan membentuk senyawa AgCl yang sifatnya stabil, dan membuat
elektrode ini memiliki beda potensial yang tetap. Oleh karena itu anode pada DO
meter ini berfungsi sebagai elektrode referensi.
Ag + Cl- AgCl + e-

Prinsip Kerja DO meter
Kedua elektrode DO meter yang diselimuti larutan KCl tersebut, dibungkus
oleh sebuah wadah kedap yang pada bagian ujung adalah berupa komponen penting
lainnya yaitu membran teflon. Membran ini hanya bisa dilewati oleh gas terlarut yang
ada di dalam cairan terukur. Ia tidak akan bisa dilewati oleh material lain termasuk ion,
senyawa lain, dan tentu saja padatan pengotor.
Prinsip kerja DO meter adalah berdasarkan fenomena polarografi yang terjadi di
antara dua elektrode katode dan anode. Tegangan listrik negatif diberikan kepada
elektrode katode. Adanya tegangan negatif ini akan mengakibatkan reaksi kimia terjadi
secara cepat antara air dengan oksigen terlarut pada permukaan katode. Berikut adalah
reaksi kimia yang terjadi pada elektrode katode:
O2 + 2H2O + 2e- H2O2 + OH-
H2O2 + 2e- 2OH-
Tegangan listrik akan terus naik sampai mencapai nilai jenuhnya, yang setara
dengan sudah bereaksinya seluruh oksigen terlarut pada permukaan elektrode katode.
Tegangan listrik jenuh ini ditandai dengan hampir naiknya pembacaan arus listrik,
setelah beberapa saat diam di satu nilai meskipun nilai tegangan dinaikkan. Setelah
melewati nilai tegangan jenuh ini, arus listrik terus naik jika tegangan terus ditambah.
Naiknya nilai arus ini terjadi karena reaksi kimia lain telah terjadi, terutama adalah
reaksi pecahnya molekul air H2O menjadi ion H+ dan OH-.
4.3 Hasil dan Pembahasan
4.3.1 Hasil
No Pos (Titik) Kadar Oksigen
Terlarut
Salinitas pH
(Keasaman)
1 1 4,9 mg/liter 31,0 ppt 6,25
2 2 3,73 mg/liter 33 ppt 6,33
3 3 4,28 mg/liter 26 ppt 6,2
- Rata - rata 5,74 mg/liter 30 ppt 6,34
Tabel 3. Data DO, Salinitas dan pH pada Perairan Sampel

Grafik 1. Data DO, Salinitas dan pH pada Perairan Sampel
0
5
10
15
20
25
30
35
pos 1 pos 2 pos 3
DO Meter
PH
SALINITAS
4.3.2 Pembahasan
4.3.2.1 DO Meter

Grafik 2. Nilai DO Meter
Pada grafik 2.0 disamping menjelaskan bahwa nilai tiap pos berbeda-
beda. Perbedaan ini disebabkan karena banyak factor, salah satunya
dimungkinkan karena adanya suspense melayang layang yang tidak larut
dalam air (fluida cair) pada daerah dekat pantai. Suspensi ini akan menghalangi
sinar matahari yang masuk pada daerah kolom air sehingga tumbuhan air dan
fitoplankton yang hidup didalamnya sulit melakukan fotosintesis, dimana
fotosintesis akan menghasilkan oksigen (O
2
) yang mampu larut dalam fluida.
(Handayani et. al,1971) telah menjelaskan bahwa muatan padatan tersuspensi
mempengaruhi kecerahan air, oleh karena itu akan mempengaruhi proses
fotosintesa pada plankton terutama fitoplankton. Pengendapan dan pembusukan
bahan-bahan tersebut akan mengurangi nilai guna perairan dan merusak
lingkungan hidup organisme dasar (benthos) serta wilayah penangkapan ikan.
Dengan adanya pembusukan dan berkurangnya nilai milligram oksigen yang
terlarut menyebabkan menurunya kualitas air laut namun apabila decomposer
pada daerah tersebut mampu mengurai pembusukan yang terjadi pada tumbuhan
atau fitoplankton yang mati akibat kurang terkena sinar matahari maupun hewan
laut herbifora dan organisme bentik serta mikro yang mati secara cepat, maka
0
1
2
3
4
5
6
pos 1 pos 2 pos 3
DO Meter
DO Meter
daerah tersebut akan mengalami pengkayaan nutrient. Akan tetapi dilihat dari
banyaknya biota yang hidup diperairan pada titik sampling tersebut, dapat
dihipotesiskan bahwa decomposer pada daerah ini kurang aktif mengurai bahan
organic yang mati. Dengan kurangnya oksigen terlarut dan nilai nutrient (yang
dilihat dari keberadaan biota) wilayah sampling pada ketiga titik tersebut belum
dapat dikategorikan sebagai perairan yang baik dengan parameter sebagai
berikut :
Kandungan O
2
Terlarut (ppm) Kriteria Kualitas Air
> 6,5 Tidak Tercemar
4,5 6,4 Tercemar Ringan
> 2 4,4 Tercemar Sedang
< 2 Tercemar Berat
Tabel 4. Kriteria Air menurut Kandungan Oksigen Terlarut
Dari hasil rata rata nilai oksigen terlarut yang diperoleh yaitu 5,74
mg/liter (ppm), maka perairan pada daerah termasuk dalam kategori perairan
yang tercemar ringan. Hal ini didukung dari keadaan pada saat pengukuran pada
wilayah sampling yaitu yang memiliki kepadatan biota yang relative renggang
dan tingginya suspensi yang melayang pada kolom air.
4.3.2.2 PH Air Laut

Grafik 3. Nilai PH Air Laut
6.1
6.15
6.2
6.25
6.3
6.35
pos 1 pos 2 pos 3
PH
PH
Berbeda dengan hubungan antar salinitas dan oksigen terlarut pada
wilayah sampling. Pada hubungan antara keasaman dengan oksigeen terlarut
mengalami hubungan yang terbalik yaitu ketika oksigen terlarut pada daerah
pantai hingga ke laut lepas semakin menaik, lain halnya derajat keasaaman yang
mengalami penurunan. Karena pada daerah sekitar pantai mengalami pembusukan
akibat kasus suspense yang melayang sehingga nilai keasaman meningkat,
bukan karena itu saja, daerah sekitar pantai sering bergesekan secara langsung
dengan daratan dan atmosfer sehingga proses buffer terhadap pH sering
mengalami perubahan kesetimbangan dan perubahan nilai pH itu sendiri.
4.3.2.3 Salinitas Air Laut

Jika dikaitkan dengan nilai salinitas terhadap nilai oksigen terlarut yang
diperoleh maka akan diperoleh nilai yang berbanding lurus, karena ketika nilai
oksigen pada titik sampling pertama dan nilai salinitas pada titik sampling
pertama memiliki nilai yang sama sama paling kecil pada wilayah sampling
yang didapat. Keadaan ini diperoleh karena factor suspense yang melayang
yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Suspensi yang melayang
tersebut mampu mempengaruhi salinitas, karena biasanya daerah yang terdapat
kejadiaan tersebut berada pada daerah sekitar pantai, pantai muara, dan daerah
upwelling yaitu mengalami peningkatan nutrien sehingga mempengaruhi
prosentase dan kadar air laut yang mulanya mempunyai kadar sesuai kemudian
mengalami anomaly karena suspense dan nutrisi yang melayang dikolom air.
0
5
10
15
20
25
30
35
pos 1 pos 2 pos 3
SALINITAS
SALINITAS
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Nilai DO (oksigen terlarut) yang diperoleh pada pos 1, pos 2 dan pos 3
wilayah sampling yaitu 4,9 mg/liter; 3,73 mg/liter dan 4,28 mg/liter yang memiliki
rata rata 5,74 mg/liter. Tabel 4. Kriteria Air menurut Kandungan Oksigen Terlarut
Dari hasil rata rata nilai oksigen terlarut yang diperoleh yaitu 5,74
mg/liter (ppm), maka perairan pada daerah termasuk dalam kategori perairan yang
tercemar ringan. Hal ini didukung dari keadaan pada saat pengukuran pada wilayah
sampling yaitu yang memiliki kepadatan biota yang relative renggang dan tingginya
suspensi yang melayang pada kolom air. Maka dari hasil tersebut perlu diadakan
penanggulangan secara berkala pada perairan tersebut.
5.2 Saran
Praktikum harus dilakukan secara tepat dan benar sehingga didapatkan hasil
yang akurat.
Nilai nilai yang mungkin diperlukan dalam analisis eksperimen seperti jarak
antar titik sampling perlu diperhatikan, karena hal tersebut merupakan factor
yang mempengaruhi keakuratan dan validitas hasil eksperimen.











DAFTAR PUSTAKA
Canter, L.W.1977. Beberapa Parameter Kualitas Sumberdaya air. Malang : Uniersitas
Brawijaya
Eko Harsono. 2010. Evaluasi Kemampuan Pulih Diri Oksigen Terlarut Air Sungai
Citarum Hulu. Staf Peneliti Pusat Penelitan Limnologi-LIPI. LIMNOTEK.
Harjadi, W. 2000. Ilmu Kimia analitik Dasar. Gramedia, Jakarta.
Helmi Arifin, Nelvi Anggraini, Diah Handayani dan Roslinda Rasyid. 2006.
Standarisasi Ekstraksi Etanol Daun Eugenia Cumini Merr. Jurusan Farmasi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
Horas P. Hutagalung, Abdul Rozak dan Irman Lutan. 1985. Beberapa Catatan Tentang
Penentuan Kadar Oksigen dalam Air Laut Berdasarkan Metode Winkler. Pusat
Penelitian Ekologi, Lembaga Oceanologi Nasional LIPI, Jakarta.
Soeseno. 1970. Pencemaran Lingkunga. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi
Jawa Tengah.
Supangat,Agus. 2000. Pengantar Oseanografi. Institute Teknologi Bandung: Bandung.









LAMPIRAN