Anda di halaman 1dari 19

KINETIKA REAKSI KIMIA

A. Tujuan
Untuk mempelajari kinetika suatu reaksi kimia dan menentukan waktu kadarluwarsa obat.
B. Landasan Teori
Nilai konstanta kecepatan reaksi (k) naik dengan kenaikan suhu reaksi (rata-rata kenaikannya 2 kali
dari nilai awal), hal ini sesuai dengan teori Arrhenius bahwa kenaikan suhu akan menaikan nilai
konstanta kecepatan reaksi, di mana kenaikan 10C suhu reaksi menaikan konstanta kecepatan
reaksi sebanyak 2 kali dari nilai awal (Khairat, 2003).
Laju atau kecepatan suatu reaksi di berikan sebagai . Artinya terjadi penambahan (+) atau
pengurangan (-) konsentrasi C dalam selang waktu dt. Menurut hukum aksi massa, laju suatu reaksi
kimia sebanding dengan hasil kali dari konsentrasi molar reatan yang masing-masing dipangkatkan
dengan angka yang menunjukkan jumlah molekul dari zat-zat yang ikut serta dalam reaksi. Dalam
reaksi k adalah konstanta laju. Laju berkurangnya masing-masing komponen reaksi diberikan dalam
bentuk jumlah mol ekuivalen masing-masing komponen yang ikut serta dalam reaksi. Orde reaksi
dari hukum aksi massa, suatu garis lurus didapat bila laju reaksi diplot sebagai fungsi dari konsentrai
reaktan dipangkatkan dengan bilangan tertentu (Martin et al, 1993).
Dalam kinetika reaksi yang dipelajari adalah laju reaksi kimia dan energi yang berhubungan dengan
proses tersebut, serta mekanisme berlangsungnya proses tersebut. Mekanisme reaksi adalah
serangkaian tahap reaksi yang terjadi secara berturutan selama proses pengubahan reaktan menjadi
produk. Kecepatam reaksi digunakan untuk melukiskan kelajuan perubahan kimia yang terjadi
(Sastrohamidjojo, 2001).
Salah satu contoh yang dipengaruhi oleh laju reaksi adalah perkaratan pada besi.Sesungguhnya karat
hanyalah sebagian dari produk akibat proses korosi. Fontana, mendefinisikan korosi sebagai
fenomena kerusakan material yang diakibatkan oleh adanya reaksi kimia antara material tersebut
dengan lingkungan yang tidak mendukung. Definisi material yang dimaksud disini tidak hanya reaksi
anoda diindikasikan dengan naiknya bilangan valensi dan terjadinya produksi elektron. Reaksi katoda
diindikasikan dengan terjadinya konsumsi elektron sehingga menyebabkan penurunan jumlah
elektron. Hal ini merupakan prinsip utama korosi yang dapat dituliskan Ketika suatu logam terjadi
korosi maka laju oksidasi akan sama dengan laju reduksi (Ashadi dkk, 2002).
Orde reaksi adalah jumlah pangkat konsentrasi dalam bentuk diferensial. Secara teoritis orde reaksi
merupakan bilangan bulat kecil, namun dalam beberapa hal pecahan atau nol. Pada umumnya orde
reaksi terhadap suatu zat tertentu tidak lama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri reaksi.
Reaksi Orde Nol. Suatu reaksi disebut orde ke nol terhadap suatu pereaksi jika laju reaksi tidak
dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi tersebut. Jika [A] adalah konsentrasi dan [A]0 adalah
konsentrasi pada saat t = 0. Reaksi Orde Satu, reaksi Orde dua (Prayitno, 2007).
C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
Gegep 10 buah
Tabung reaksi 10 buah
Gelas kimia 1000 ml
Gelas kimia 50 ml
Pipet ukur
Filler
Timbangan analitik
Waterbath
Pipet tetes
Spektronik 20
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
Asetosal
Alkohol 96%
Akuades
FeCl3 1 %

D. Prosedur Kerja
Asetosal 0,02 gram



- Ditimbang
- Dilarutkan dalam 1,5 ml alkohol
- Diencerkan dalam 100 ml air
- Dimasukkan masing-masing 10 ml larutan dalam 10 tabung reaksi
Larutan yang telah didinginkan

- Dipanaskan pada suhu 40C
- Didinginkan
- Ditambahkan 1 pipet larutan FeCl3 1%
- Dikocok
- Ditentukan panjang gelombangnya
- Diukur absorbansinya dengan panjang gelombang 525
- Dihitung Co dan Co-C
- Ditentukan orde reaksinya
- Diulangi prosedur kerja diatas untuk suhu 50 C

Hasil Pengamatan ?
E. Hasil Pengamatan
1. Tabel hasil pengamatan
NO

WAKTU PADA SUHU

HASIL ABSORBANSI
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 400C
10 menit pada suhu 400C
15 menit pada suhu 400C
20 menit pada suhu 400C
25 menit pada suhu 400C

0,248 A
0,282 A
0,285 A
0,336 A
1,313 A
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 500C
10 menit pada suhu 500C
15 menit pada suhu 500C
20 menit pada suhu 500C
25 menit pada suhu 500C

0,342 A
0,410 A
0,488 A
0,480 A
0,648 A
2. Perhitungan
a. Dimasukkan absorbansinya y pada persamaan y = 0,9x + 0,005 sehingga nilai X dapat
diketahui.
NO.

WAKTU PADA SUHU

ABSORBANSI (Y)

NILAI (X)
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 400C
10 menit pada suhu 400C
15 menit pada suhu 400C
20 menit pada suhu 400C
25 menit pada suhu 400C

0,248 A
0,282 A
0,285 A
0,336 A
0,313 A

0,242
0,276
0,279
0,330
0,307
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 500C
10 menit pada suhu 500C
15 menit pada suhu 500C
20 menit pada suhu 500C
25 menit pada suhu 500C

0,342 A
0,410 A
0,488 A
0,480 A
0,648 A

0,336
0,404
0,482
0,474
0,642
b. Dihitung C0- dan C0 C dengan mengikat molekul ekivalennya.
Mencari nilai C0
Dik : berat molekul Asetosal (C9H8O4) = 280,16 g/mol
Dit : nilai C0 = .....?
Peny : mol C9H8O4 =
=
= 0,00011
M C9H8O4 =
=
Jadi, nilai C0 = 0,0011 mol/L

Mencari nilai C
C = C0 X = konsentrasi mula-mula Jumlah yang terurai
Pada waktu (t).
NO.

WAKTU PADA SUHU

HASIL (Absorbansi)

C0 (mol/L)

Nilai X

C (mol/L)
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 400C
10 menit pada suhu 400C
15 menit pada suhu 400C
20 menit pada suhu 400C
25 menit pada suhu 400C

0,248 A
0,282 A
0,285 A
0,336 A
1,313 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

0,242
0,276
0,279
0,330
0,307

-0,2409
-0,2749
-0,2779
-0,3289
-0,3059
1.
2.
3.
4.
5

5 menit pada suhu 500C
10 menit pada suhu 500C
15 menit pada suhu 500C
20 menit pada suhu 500C
25 menit pada suhu 500C

0,342 A
0,410 A
0,488 A
0,480 A
0,648 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

0,336
0,404
0,482
0,474
0,642

-0,3349
-0,4029
-0,4809
-0,4729
-0,6409

Mencari nilai C0 C
NO.

WAKTU PADA SUHU

HASIL (Absorbansi)

C0 (mol/L)

C (mol/L)

C0 C
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 400C
10 menit pada suhu 400C
15 menit pada suhu 400C
20 menit pada suhu 400C
25 menit pada suhu 400C

0,440 A
0,446 A
0,477 A
0,294 A
1,625 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

-0,2409
-0,2749
-0,2779
-0,3289
-0,3059

0,242
0,276
0,279
0,33
0,307
1.
2.
3.
4.
5

5 menit pada suhu 500C
10 menit pada suhu 500C
15 menit pada suhu 500C
20 menit pada suhu 500C
25 menit pada suhu 500C

0,445 A
0,581 A
0,647 A
0,702 A
0,679 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

-0,3349
-0,4029
-0,4809
-0,4729
-0,6409

0,336
0,404
0,482
0,474
0,642
c. Dimasukkan hasil perhitungan pada persamaan hasil reaksi orde I atau II dan ditentukan
peruraian asetosal mengikuti orde I atau II.
Orde II
K =
NO.

WAKTU PADA SUHU

HASIL (Absorbansi)

C0 (mol/L)

C (mol/L)

K
1.
2.
3.
4.
5.

5 menit pada suhu 400C
10 menit pada suhu 400C
15 menit pada suhu 400C
20 menit pada suhu 400C
25 menit pada suhu 400C

0,440 A
0,446 A
0,477 A
0,294 A
1,625 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

-0,2409
-0,2749
-0,2779
-0,3289
-0,3059

-3,04414
-1,52124
-1,01384
-0,76005
-0,60823
1.
2.
3.
4.
5

5 menit pada suhu 500C
10 menit pada suhu 500C
15 menit pada suhu 500C
20 menit pada suhu 500C
25 menit pada suhu 500C

0,445 A
0,581 A
0,647 A
0,702 A
0,679 A

0,0011
0,0011
0,0011
0,0011
0,0011

-0,3349
-0,4029
-0,4809
-0,4729
-0,6409

-3,04025
-1,51925
-1,
-0,75933
-0,60710


B. Grafik



F. PEMBAHASAN
Dalam kinetika kimia yang dipelajari adalah laju reaksi kimia dan energi yang berhubungan dengan
proses tersebut, serta mekanisme berlangsungnya proses tersebut. Mekanisme reaksi adalah
serangkaian tahap reaksi yang terjadi secara berturutan selama proses pengubahan reaktan menjadi
produk. Perubahan kimia atau reaksi kimia berkaitan erat dengan waktu. Kinetika kimia menjelaskan
hubungan antara perubahan konsentrasi reaktan atau produk sebagai fungsi waktu.
Kinetika reaksi kimia merupakan bidang ilmu yang mempelajari laju reaksi kimia serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Laju reaksi atau kecepatan reaksi tersebut merupakan perubahan
konsentrasi reaktan terhadap waktu. Laju reaksi maupun perubahan konsentrasi tidak dapat hanya
dengan diramalkan atau ditentukan dari persamaan reaksi keseluruhan, akan tetapi harus melalui
eksperimen atau percobaan.
Pada percobaan ini, sampel yang hendak diketahui konstanta laju reaksi serta pengaruh lama
pemanasan terhadap laju reaksinya adalah asetosal. Larutan asetosal masing-masing dipipet 10 ml
dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang kemudian di panaskan dalam air pada suhu 400C dan
suhu 50C.
Setelah lima menit pertama, tabung pertama diangkat dan segera didinginkan. Pendinginan
dilakukan agar reaksinya berhenti dan dapat diukur absorbansi atau nilai serapannya. Hal yang sama
dilakukan pada tabung lainnya masing-masing dengan selang waktu lima menit. Selang waktu
tertentu mengakibatkan perbedaan lama waktu pemanasan pada masing-masing waktu. Perbedaan
lama waktu tersebut dibuat untuk mengetahui pengaruh lama waktu pemanasan terhadap laju
reaksi masing-masing asetosal pada tabung yang berbeda.
Selanjutnya, masing-masing tabung ditambahkan dengan larutan FeCl3 dengan tujuan agar larutan
dapat berwarna. Dalam percobaan larutan asetosal berubah warna menjadi ungu. Perubahan warna
tersebut dipengaruhi oleh terbentuknya senyawa kompleks karena terikatnya atom Fe pada atom O
pada salah satu gugus pada asetosal secara kordinasi, sehingga membentuk senyawa kompleks
dimana atom F sebagai atom pusat yang menerima pasangan elektron bebas dari atom O sebagai
ligannya.
Perubahan warna tersebut diperlukan agar larutan asetosal dapat diukur nilai serapan atau
absorbansinya pada alat spektrofotometer. Secara sederhana, prinsip kerja spektrofotometer ialah
dengan memancarkan sinar tampak yang kemudian melewati suatu larutan dan diserap oleh larutan
yang dilewati sehingga serapannya tersebut yang dikatakan sebagai absorbansi. Namun, sinar
tampak tersebut hanya dapat melewati larutan berwarna, sehingga untuk larutan yang tidak
berwarna perlu diwarnakan terlebih dahulu. Pewarnaan larutan tersebut dilakukan dengan
penambahan beberapa tetes larutan FeCl3 yang dapat memberi warna ungu pada larutan.
Percobaan pada saat sampel dimasukkan dan dibaca dengan alat Spektronik 20 yaitu dimana alat ini
mengukur daya serap dari sampel. Pada saat sampel dimasukkan ke dalam Spektronik 20 daya serap
dari setiap sampel berbeda-beda dengan menggunakan panjang gelombang 525 nm dan beda lama
pemanasan selama 5 menit dimana hasil dari pengukuran pada temperatur 40oC adalah 0,248;
0,282; 0,285; 0,336 dan 0,313. Temperatur 50oC adalah 0,342; 0,410; 0,488; 0,480 dan 0,648. Dari
hasil pengukuran ini dapat dikatakan bahwa semakin lama pemanasan maka daya serap dari sampel
akan semakin meningkat sedangkan pada saat temperatur dinaikkan maka daya serapnya akan
mengalami penurunan.
Pada penentuan nilai dari k dengan membandingkan pemanasan pada suhu 40oC, dan 50oC serta
perbedaan lama pemanasan. Dari data hasil percobaan didapatkan nilai k untuk suhu 40oC adalah -
3,07262; -1,52435; -1,01413; - 0,75929 dan -0,60801. Pada suhu 50oC nilai k adalah -3,03924; -
1,51928; -1,01241; -0,75933 dan -0,60710.
Dari hasil percobaan, maka semakin tinggi suhu maka semakin tinggi pula harga k yang diperoleh,
kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira dua tiap kenaikan 10oC. Pertambahan nilai k pada
suhu yang semakin meningkat ini terjadi karena molekul-molekul harus bertumbukan dengan energi
yang cukup agar bereaksi sehingga semakin tinggi temperatur, akan lebih banyak tumbukan yang
terjadi per satuan waktu karena meningkatkan energi tumbukan: laju energi tumbukan ~
temperatur. Sedangkan semakin lama waktu reaksi maka harga k semakin berkurang hal ini
menunjukkan reaksi dalam kondisi mendekati kesetimbangan.
G. Kesimpulan
Dari percoban yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Semakin lama suatu larutan
dipanaskan, maka semakin rendah nilai absorbansi atau konsentrasinya, dan semakin rendah
konsentrasi suatu larutan, maka laju reaksinya juga semakin rendah. Semakin panas suhu yang
diberikan pada suatu obat maka waktu kadaluarsa obat semakin cepat sehingga untuk menyimpan
obat sebaiknya di tempat sejuk atau terhindar dari kontak langsung dengan matahari.




DAFTAR PUSTAKA
Ashadi, Henky. W,dkk. 2002. Pengaruh Unsur-Unsur Kimia Korosif Terhadap Laju Korosi Tulangan
Beton : II. Di Dalam Lumpur Rawa, Makara Teknologi. Vol 6, No. 2, Hal. 71-72.

Khairat, Syamsu Herman. 2003. Kinetika Reaksi Hidrolisis Minyak Sawit dengan Katalisator Asam
Klorida. Jurnal. Universitas Riau. Pekanbaru.

Martin, Alfred. Swarbick J. dan Camarata, A. 1993. Farmasi Fisik Edisi ke-3.UI-Press. Jakarta.

Prayitno. 2007. Kajian Kinetika Kimia Model Matematik Reduksi Kadmium Melalui Laju Reaksi,
Konstante Dan Orde Reaksi Dalam Proses Elektrokimia. GANENDRA. Vol. X. No. 1.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Kimia Dasar. UGM Press.Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA I
PERCOBAAN I
KINETIKA REAKSI KIMIA

OLEH
NAMA : INTAN NUR CAHYANI
NIM : F1F1 12103
KELAS : C
KELOMPOK : V
ASISTEN : HARJUN SANTRI SYAHPUTRA S., S.Si
LABORATORIUM FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2 0 1 3