Anda di halaman 1dari 29

SKENARIO 3

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA


Klinik Dokter Keluarga

KELOMPOK A5
Ketua : Annisa Putri 110.2009.024
Sekretaris : Anggi Novita E 110.2010.022
Anggota : Astri Faluna S 110.2009.044
Ayu Wijatanti 110.2009.049
Anggia Fitri W 110.2010.023
Aulia Thufael Alfarisi 110.2010.042
Ayu Violet Elfareta 110.2010.043
Azisah Soraya Aziz 110.2010.044
Bimantoro Saputro 110.2010.050
Brama Putra S 110.2010.051

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2013/2014


SKENARIO 3
Klinik Dokter Keluarga

Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter keluarga. Klinik ini
dikelola dengan baik sehingga dalam waktu yang relatif singkat mengalami kemajuan
yang cukup pesat dan dikenal luas di masyarakat.
Suatu hari di klinik ini dikunjungi seorang pasien, Ny. A, 38 tahu, dengan
kehamilan trimester 1 pada G5P2A2. Pasien ingin melakukan pemeriksaan kahamilan
secara rutin di klinik dr. Ahmad karena pasien mendapat informasi bahwa pelayanan
di klinik ini baik. Pasien mempunyai keluhan sering mual, muntah, lemas, cepat lelah,
dan sesak. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik bersama bidan. Sebagai
dokter muslim, Dr. Ahmad sangat memperhatikan adab dan tata cara pemeriksaan dan
penanganan pasien sesuai ajaran Islam.
Pada pemeriksaan ditemukan bahwa kandungan dalam kondisi yang baik
namun ibu tampak pucat, takikardi, murmur, takipnea, dan terdapat nyeri tekan
epigastrium.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC yang
teratur dan menjelang partus kelak pasien akan dirujuk ke spesialis Obgyn yang sudah
bekerja sama dengan klinik dokter keluarga tersebut.
Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan pembiayaan persalinan,
mengingat kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih besar. Dr. Ahmad kemudian
menjelaskan tentang pembiayaan kesehatan.













Kata Sulit:
1. Pemeriksaan ANC : Pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui kondisi janin dan
ibunya
2. G5P2A2 : Gestasi (kehamilan) ke 5
Partus (kelahiran) ke 2
Abortus (keguguran) 2 kali

Pertanyaan:
1. Bagaimana sistem pembiayaan di klinik dokter keluarga?
Jawaban: Dengan menggunakan sistem asuransi (out of pocket)

2. Apa perbedaan klinik dokter biasa dengan klinik dokter keluarga?
Jawaban: Pembinaannya berbeda. Pada klinik dokter keluarga terdapat
pembinaan ke keluarga yang dibina

3. Bagaimana kriteria klinik yang baik dalam pelayanannya?
Jawaban: Dapat fokus melayaninya, tidak hanya pada 1 pasien tetapi juga
pada yang dibina. Dan berusaha agar keluarga yang dibina tidak ada yang
sakit atau tetap sehat

4. Bagaimana standar pemeriksaan dokter keluarga?
Jawaban: Anamnesis, P.Fisik, P. Penunjang, Diagnosis, Diagnosis Banding,
Terapi, Tatalaksana, Konsultasi, Rujuk

5. Bagaimana Adab dan Tata cara pemeriksaan pasien dalam islam?
Jawaban: Jika dokternya pria memeriksa pasien wanita harus didampingi
oleh tenaga medis lainnya, keluarga pasien ataupun sebaliknya









Hipotesis:

Klinik Dokter Keluarga



Fokus melayani tidak hanya pada 1 pasien tetapi juga yang dibina



Dengan standar pemeriksaan: Anamnesis, Pfisik, P.penunjang, Diagnosis, Diagnosis
banding, Tatalaksana, Terapi, Konsultasi, Rujuk



Dan memberikan pembinaan pada keluarga



Pembiayaan dengan sistem out of pocket










1. Memahami dan Menjelaskan Pengelolaan Klinik Kedokteran Keluarga

1.1 Fungsi Dasar Manajemen Dokter Keluarga
1) Perencanaan (Planning)
Suatu fungsi manajemen untuk menetapkan tujuan dan mengidentifikasi prasyarat
dengan cara efektif dan efisien. Perencanaan biasanya dilakukan dalam bentuk rapat
diawal tahun.

2) Penyusunan (Organizing)
Suaru fungsi manajemen untuk menyusun dan mengembangkan suatu organisasi
yang meliputi struktur organisasi, job desk, analisis jabatan, staff, hubungan kerja dan
penggajian.

3) Pelaksanaan (Actuating)
Suatu fungsi manajemen untuk menggerakkan organisasi atau melaksanakan kegiatan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4) Pengendalian (Controlling)
Suatu fungsi manajemen yang dilaksanakan secara sistematis dan berlanjut untuk
menilai apakah suatu kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai rencana, serta
mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pelaksanaan.

5) Evaluasi (Evaluation)
Suatu fungsi manajemen yang dilakukan untuk memperbaiki dan menghimpun
langkah kegiatan pada masa yang akan datang agar lebih optimal. Biasanya dilakukan
dalam bentuk rapat evaluasi diakhir tahun.

1.2. Standar pelayanan
1. Standar Pelayanan Paripurna (standard of comprehensive of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama untuk
semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive
and spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan kecacatan
(disability limitation) dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan
kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko legal etika kedokteran.
a. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan kedokteran
keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan diselenggarakan oleh
dokter yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta memiliki surat ijin
pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat praktik.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan
kesehatan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
c. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan
dalam menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan keluarganya.
d. Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan
dalam melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan penatalaksanaan yang
tepat untuk itu.

e. Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan kesehatan
dan pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk
kegawatdaruratan medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan / atau dirujuk ke
pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
f. Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala kesempatan
rehabilitasi pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan
atau kematian baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
g. Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial
pasien dan keluarganya.
h. Etik medikolegal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal dan etik
kedokteran.


2. Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara lege artis.
a. Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh
keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis
b. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
c. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.
d. Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien
berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence
based).
e. Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan
untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap
perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.
f. Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas
kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
g. Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
h. Tindak lanjut
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan
tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.

i. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan
demi kepentingan pasien.
j. Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional,
berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan
pasien.
k. Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila
adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga,
termasuk konseling keluarga.

3. Standar Pelayanan Menyeluruh (standard of holistic of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli bahwa
pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
a. Pasien adalah manusia seutuhnya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai manusia
yang seutuhnya.
b. Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai bagian
dari keluarga pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi
dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien.
1) Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar kehidupan
pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan keluarganya.

4. Standar Pelayanan Terpadu (standard of integration of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan
antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan
kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan
kedokteran, baik dari formal maupun informal.
a. Koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam penatalaksanaan pasien
yang diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasien-keluarga, maupun
bersama antar dokter pasien - dokter spesialis / rumah sakit.
b. Mitra dokter pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis.
c. Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan
dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.
d. Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga mempedulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai
pelayanan kesehatan nonformal di sekitarnya.

5. Standar Pelayanan Bersinambung (standard of continuum care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus menerus
demi kesehatan pasien.
a. Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
b. Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang,
digunakan untuk memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai
untuk pasien yang bersangkutan.
c. Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif dan
efisien bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
d. Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan / atau rujukan, pelayanan dokter keluarga
menawarkan kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi kepentingan
pasien.

1.2. Syarat pembangunan
Fasilitas praktik
Pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan kesehatan strata pertama yang
lengkap serta beberapa fasilitas pelayanan tambahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
sekitarnya.
1. Fasilitas untuk praktik
Fasilitas pelayanan dokter keluarga sesuai untuk kesehatan dan keamanan pasien,
pegawai dan dokter yang berpraktik.
2. Kerahasiaan dan privasi
Konsultasi dilaksanakan dengan memperhitungkan kerahasiaan dan privasi pasien.
3. Bangunan dan interior
Bangunan untuk pelayanan dokter keluarga merupakan bangunan permanen atau semi
permanen serta dirancang sesuai dengan kebutuhan pelayanan medis strata pertama yang
aman dan terjangkau oleh berbagai kondisi pasien.
4. Alat komunikasi
Klinik memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitarnya.
5. Papan nama
Tempat pelayanan dokter keluarga memasang papan nama yang telah diatur oleh
organisasi profesi.

Peralatan klinik
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan klinik yang sesuai dengan fasilitas
pelayanannya, yaitu pelayanan kedokteran di strata pertama (tingkat primer).
1. Peralatan medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan medis yang minimal harus
dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia layanan strata pertama.
2. Peralatan penunjang medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan penunjang medis yang minimal
harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan strata
pertama.
3. Peralatan non medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan non medis yang minimal harus dipenuhi di
ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan strata pertama.


Tenaga pelaksana
Tenaga pelaksana yang dibutuhkan pada praktek dokter keluarga pada dasarnya tidaklah
berbeda dengan tenaga pelaksana pelbagai pelayanan kedokteran lainnya. Tenaga pelaksana
yang dimaksud secara umum dapat dibedakan atas tiga macam :
1. Tenaga medis
Tenaga medis yang dimaksudkan disini ialah para dokter keluarga (family
doctor/physician). Tergantung dari sarana pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan
dokter keluarga serta beban kerja yang dihadapi, jumlah dokter keluarga yang dibutuhkan
dapat berbeda. Secara umum dapat disebutkan, apabila sarana pelayanan tersebut adalah
rumah sakit serta beban kerjanya lebih berat, maka jumlah dokter keluarga yang
dibutuhkan akan lebih banyak. Sedangkan jika pelayanan dokter keluarga tersebut
diselenggarakan oleh suatu klinik dokter keluarga, jumlah dokter yang dibutuhkan
umumnya lebih sedikit. Klinik dokter keluarga memang dapat diselenggarakan hanya
oleh satu orang dokter keluarga (solo practice) ataupun oleh sekelompok dokter keluarga
(group practice). Telah disebutkan, dari kedua bentuk ini, yang dianjurkan adalah bentuk
kedua, yakni yang diselenggarakan oleh satu kelompok dokter keluarga.

2. Tenaga paramedis
Untuk lancaranya pelayanan dokter keluarga, perlu mengikut sertakan tenaga paramedis.
Disarankan tenaga paramedis tersebut seyogoyanya yang telah mendapatkan pendidikan
dan latihan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga, baik aspek medis dan ataupun
aspek non medis. Jumlah tenaga paramedis yang diperlukan tergantung dari jumlah
dokter keluarga yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga secara umum
disebutkan untuk setiap satu orang dokter keluarga, diperlukan 2 sampai 3 tenaga
paramedis terlatih.

3. Tenaga non-medis
Sama halnya dengan tenaga paramedis, untuk lancarnya pelayanan dokter keluarga, perlu
pula mengikutsertakan tenaga non-medis. Pada umumnya ada dua katagori tenaga non-
medis tersebut. Pertama, tenaga administrasi yang diperlukan untuk menangani masalah
masalah administrasi. Kedua, pekerjasosial (social worker) yang diperlukan untuk
menangai program penyuluhan/nasehat kesehatan dan atau kunjungan rumah misalnya.
Jumlah tenaga non medis yang diperlukan tergantung dari jumlah dokter keluarga,
dibutuhkan sekurang-kurangnya satu orang tenaga administrasi serta satu orang pekerja
sosial.

Proses-proses penunjang praktik
Pelayanan dokter keluarga memiliki panduan proses-proses yang menunjang kegiatan
pelayanan dokter keluarga.
1. Pengelolaan rekam medik
Pelayanan dokter keluarga menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi rekam medik
dengan dasar rekam medik berorientasikan pada masalah (problem oriented medical
record).
2. Pengelolaan rantai dingin
Pelayanan dokter keluarga peduli terhadap pengelolaan rantai beku (cold chain
management) yang berpengaruh kepada kualitas vaksin atau obat lainnya.
3. Pengelolaan pencegahan infeksi
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan universal precaution management yang
mengutamakan pencegahan infeksi pada pelayanannya.
4. Pengelolaan limbah
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan sistim pembuangan air kotor dan limbah, baik
limbah medis maupun limbah nonmedis agar ramah lingkungan dan aman bagi
masyarakat sekitar klinik.
5. Pengelolaan air bersih
Pelayanan dokter keluarga mengkonsumsi air bersih atau air yang telah diolah sehingga
aman digunakan.
6. Pengelolaan obat
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan sistim pengelolaan obat sesuai prosedur yang
berlaku termasuk mencegah penggunaan obat yang kadaluwarsa.


1.3. Standar Pengelolaan Praktik (Standard of Practice Management)
a. Standar Sumber Daya Manusia (Standard of Human Resources)
Dalam pelayanan dokter keluarga, selain dokter keluarga, juga terdapat petugas
kesehatan dan pegawai lainnya yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau
pelatihannya.
1) Dokter keluarga
Dokter keluarga yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga adalah dokter yang
bersertifikat dokter keluarga dan patut menjadi panutan masyarakat dalam hal
perilaku kesehatan.
2) Perawat
Perawat yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
3) Bidan
Bidan yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
4) Administrasi klinik
Pegawai administrasi yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga, telah
mengikuti pelatihan untuk menunjang pelayanan pendekatan kedokteran keluarga.

b. Standar Manajemen Keuangan (Standard of Finance Management)
Pelayanan dokter keluarga mengelola keuangan dengan manajemen keuangan
professional.
1) Pencatatan keuangan
Keuangan dalam praktik dokter keluarga tercatat secara saksama dengan cara yang
umum dan bersifat transparansi.
2) Jenis system pembiayaan praktik.
Manajemen keuangan pelayanan dokter keluarga dikelola sedemikian rupa
sehingga dapat mengikuti, baik system pembiayaan praupaya maupun system
pembiayaan fee for service.
c. StandarManajemenKlinik (Standard Management of Clinic for Practice)
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan pada suatu tempat pelayanan yang disebut
klinik dengan manajemen yang professional.
1) Pembagian kerja
Semua personil mengerti dengan jelas pembagian kerjanya masing-masing.
2) Program pelatihan
Untuk personil yang baru mulai bekerja di klinik diadakan pelatihan kerja (job
training) terlebih dahulu.
3) Program KesehatandanKeselamatanKerja (K3)
Seluruh personil yang bekerja di klinik mengikuti prosedur Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) untuk pusat pelayanan kesehatan.
4) Pembahasan administrasi klinik
Pimpinan dan staf klinik secara teratur membahas pelaksanaan administrasi klinik.
1.4. Manajemen Klinik Dokter Keluarga
Struktur Organisasi Manajemen Klinik Dokter Keluarga
Man
1. Medis : Dokter Keluarga, Spesialis, Paramedis
2. Non Medis : Administrasi,Teknisi, Operator komputer, dll
3. Lin-lain
Money
1. Sistem Pra Upaya
2. Sistem Sharing, individu, kolektif, dll
3. Sistem Fee for services
Material
Produk Pelayanan Dokkel : 10 paket pelayanan kesehatan dokter keluarga
Machine
Sentra : - Peralihan pelatihan/pendidikan dokter keluarga
- Pelayanan kesehatan : sub klinik DK, klinik DK type I,II
Methode
1. Organisasi : Struktur, job discription, alur kerja
2. Standarisasi : - Produk Yankes-dokter keluarga
- Fasilitas-klinik DK
- Prosedur-pelayanan+rujukan+report
- Sistem informasi-komunikasi/data
- Biaya
- Evaluasi
- Intervensi
Organisasi : - Intraklinik
- Interklinik
- Ekstra klinik : 1. Dr. Spesialis
2. Rumah sakit/klinik rujukan
3. Apotik/Lab medis
4. Org. Profesi kesehatan lain
Standarisasi : Module, Form : Hidup sehat, panduan, SOP, Software.

Klinik dokter keluarga adalah suatu satuan organisasi pelayanan kesehatan p
rimer
yang menyelenggarakan pelayanan kedokteran keluarga.

Bentuk praktek Dokter Keluarga :
a. Pelayanan dokter keluarga sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit
b. Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan oleh Klinik Dokter Keluarga (
family
clinic
c.
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan melalui praktek dokter keluarga (family
practice)

Jenis Klinik Dokter Keluarga :
a. Klinik keluarga mandiri (free-standing family clinic)
- Dapat dilaksanakan secara solo
- Bersama sama dalam satu kelompok
b. Klinik keluarga merupakan bagian dari rumah sakit (satelite family clinic)



Hal hal essensial yang harus dipenuhi :
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan primer
b. Terletak ditempat strategis (mudah dicapai dengan kendaraan umum)
c. Bangunannya memenuhi syarat untuk pelayanan kesehatan
d. Dilengkapi dengan sarana administratif yang memenuhi syarat
e. Dilengkapi dengan sarana komunikasi
f. Mempunai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK
g. Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedi telah lulus peL
atihan
pembantu DK


1.5 Standar Pemeriksaan Pelayanan Dokter Keluarga
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak macamnya. Secara
umum dapat dibedakan atas tiga macam :
1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga hanya
pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter keluarga tersebut
tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat
inap di rumah sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan diharuskan datang ke
tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat
inap, pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit.
2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien dirumah.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga mencakup
pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah. Pelayanan
bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses dengan
rumah sakit.
3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah,
serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga telah
mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta perawatan
rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya diselenggarakan oleh dokter
keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit terdekat dan rumah
sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk merawat sendiri pasiennya
di rumah sakit.
Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak sama
antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama antara satu daerah
lainnya. Di Amerika Serikat misalnya, pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah
mulai jarang dilakukan. Penyebabnya adalah karena mulai timbul kesadaran pada diri pasien
tentang adanya perbedaan mutu pelayanan antara kunjungan dan perawatan pasien di rumah
dengan di tempat praktek. Pasien akhirnya lebih senang mengunjungi tempat praktek dokter,
karena telah tersedia pelbagai peralatan kedokteran yang dibutuhkan.
Di beberapa negara lainnya, terutama di daerah pedesaan, karena dokter keluarga
tidak mempunyai akses dengan rumah sakit, maka dokter keluarga tersebut hanya
menyelenggarakan pelayanan rawat jalan saja. Pelayanan rawat inap dirujuk sertakan
sepenuhnya kepada dokter yang bekerja dirumah sakit. Tetapi pengaturan rujukan untuk
pelayanan rawat inap tersebut, tetap dilakukan oleh dokter keluarga. Dokter keluarga
memberikan bantuan sepenuhnya, dan bahkan turut mencarikan tempat perawatan dan jika
perlu turut mengantarkannya ke rumah sakit.
Sekalipun pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga tidak sama,
perlulah diingatkan bahwa orientasi pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan tetap
tidak boleh berbeda. Orientasi pelayanan dokter keluarga bukan sekedar menyembuhkan
penyakit, tetapi diarahkan pada upaya pencegahan penyakit. Atau jika tindakan penyembuhan
yang dilakukan, maka pelaksanaannya, kecuali harus mempertimbangkan keadaan pasien
sebagai manusia seutuhnya, juga harus mempertimbangkan pula keadaan sosial ekonomi
keluarga dan lingkungannya. Praktek dokter keluarga tidak menangani keluhan pasien atau
bagian anggota badan yang sakit saja, tetapi individu pasien secara keseluruhan.
Kesamaan lain yang ditemukan adalah pada ruang lingkup masalah kesehatan yang
ditangani. Praktek dokter keluarga melayani seluruh anggota keluarga dan semua masalah
kesehatan yang ditemukan pada keluarga. Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan yang
seperti ini dibutuhkan pelbagai pengetahuan dan keterampilan yang luas. Karena adanyan ciri
yang seperti inilah ditemukan pihak-pihak yang tidak sependapat bahwa dokter spesialis
dapat bertindak sebagai dokter keluarga. Oleh kalangan yang terakhir ini disebutkan bahwa
dokter keluarga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas, yang mencakup
pengetahuan dan keterampilan beberapa dokter spesialis, dan karenanya tidak mungkin jika
diselenggarakan oleh satu dokter spesialis saja.
Dari uraian tentang orientasi serta ruang lingkup masalah kesepakatan yang ditangani
pada praktek dokter keluarga diatas, jelaslah bahwa pelayanan kedokteran yang
diselenggarakan pada praktek dokter keluarga memang agak berbeda dengan pelayanan
kedokteran yang diselenggarakan oleh dokter umum dan atau dokter spesialis. Pelayanan
kedokteran yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga pada umumnya :
1. Lebih aktif dan bertanggung jawab
Karena pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
mengenal pelayanan kunjungan dan atau perawatan pasien di rumah, bertanggung
jawab mengatur pelayanan rujukan dan konsultasi, dan bahkan, apabila
memungkinkan, turut menangani pasien yang memerlukan pelayanan rawat inap di
rumah sakit, maka pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktek dokter
keluarga umunya lebih aktif dan bertanggung jawab dari pada dokter umum.
2. Lebih lengkap dan bervariasi
Karena praktek dokter keluarga menangani semua masalah kesehatan yang
ditemukan pada semua anggota keluarga, maka pelayanan dokter keluarga pada
umumnya lebih lengkap dan bervariasi dari pada dokter umum. Tidak mengherankan
jika dengan pelayanan yang seperti ini, seperti yang ditemukan di Amerika Serikat
misalnya, praktek dokter keluarga dapat menyelesaikan tidak kurang dari 95 %
masalah kesehatan yang ditemukan pada pasien yang datang berobat.
3. Menangani penyakit pada stadium awal
Sekalipun praktek dokter keluarga dapat menangani pasien yang telah membutuhkan
pelayanan rawat inap, bukan selalu berarti praktek dokter keluarga sarna dengan
dokter spesialis. Praktek dokter keluarga hanya sesuai untuk penyakit -penyakit pada
stadium awal saja. Sedangkan untuk kasus yang telah lanjut atau yang telah terlalu
spesialistik, karena memang telah berada diluar wewenang dan tanggung jawab
dokter keluarga, tetap dan harus dikonsultasikan dan atau dirujuk kedokter spesialis.
Seperti yang dikatakan oleh Malerich (1970), praktek dokter keluarga memang sesuai
untuk penyakit-penyakit yang masih dalam stadium dini atau yang bersifat umum
saja. The family doctor cannot be expected to treat all problems as best possible, but
he can be expected to treat all common diseases as best possible.

2. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pembiayaan Dokter Keluarga
Terdapat 3 jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu :
1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban
penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%.
2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau
pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan
menjadi berorientasi pada keuntungan semata.
3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis. Biaya kesehatan pada negara yang mengacu
sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia
mengikuti sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sama-sama
menanggung beban pembiayaan kesehatan.

Macam-macam biaya kesehatan:
Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran,
maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk
mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.
2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

Pembiayaan kesehatan di kedokteran keluarga
Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan
bersifat transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan praupaya
maupun sistem pembiayaan fee for service.


BPJS : Badan Pengelola Jaminan Sosial

Dalam pelayanan di klinik kedokteran keluarga sumber biaya utama adalah dari
pasien sebagai imbalan atas jasa pelayanan kesehatan yang mereka peroleh. Sumber-sumber
lainnya, misalnya donasi dari pemerintah atau hibah (charity) dari yayasan atau LSM atau
dari institusi pendidikan (klinik pendidikan).

Metode pembayaran di klinik dokter keluarga :
1) Fee for service
2) Asuransi, ciri asuransi di klinik kedokteran keluarga :
a. Dokter keluarga melakukan pembinaan kesehatan pada keluarga yang
menjadi kliennya. Targetnya adalah penurunan angka kesakitan.
Bentuknya berapa kunjungan secara berkala ke rumah asien dan
memberikan penyuluhan.
b. Dokter dibayar secara flat setiap bulannya, bukan berdasarkan jumlah kasus yang
ditangani.
c. Bila jumlah kasus sedikit maka dokter untung, namun bila banyak maka dokter tidak
akan memperoleh keuntungan.
d. Premi ditetapkan secara kapitasi, yaitu dihitung berdasarkan faktor resiko dari setiap
individu, frekuensi terjadinya penyakit dalam setahun, dan kemungkinan biaya yang
dibutuhkan bila ia sakit.





Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:
1. Penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya
kesehatan dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan
biaya operasional (operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak
pemerintah atau swasta yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Pemakai jasa kesehatan (health consumer)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa
pelayanan.ini menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.

Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan
Dana
Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait,
dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk
mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus
mencukupi dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Sumber daya
Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi
dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam
upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk
mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan.
Pengelolaan Dana Kesehatan
Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan
kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat
yang mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana
kesehatan
Tujuan Pembiayaan Kesehatan
Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil
dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.

Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
a) Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa tingkat
pusat dan daerah
b) Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan
pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan
rentan melalui pengembangan jaminan
c) Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang
memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
a. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
b. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan
kesehatan masyarakat miskin
c. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi
kesehatan sosial (shi)
d. Penggalian dukungan nasional dan internasional
e. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
f. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta
ilmiah
g. Pemantauan dan evaluasi.

Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia
1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna,
adil dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas.
2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin.
3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang
terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan
kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela,
yang dilaksanakan secara bertahap.
4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui
penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau
memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan)
untuk kepentingan kesehatan.
5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan
pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant)
bagi daerah yang kurang mampu.

Sumber Biaya Kesehatan:
Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
1. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.
2. Sebagian ditanggung oleh masyarakat
Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.

Asuransi Kesehatan
Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko
kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban
ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi
mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.

Unsur-unsur asuransi kesehatan:
ada perjanjian
ada pembelian perlindungan
ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:
a) Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh
prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan
tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga
semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh:
PT.askes, PT.jamsostek
Prinsip kerja:
Keikutsertaannya bersifat wajib
Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5%
dari GDP
Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan
tenaga kerja.
Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada
resikokelompok (collective risk sharing)
Tidak diperlukan pemeriksaan awal
Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh
(universal coverage)
Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi
kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti
asuransi kesehatan
b) Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health
insurance) jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen
masyarakat kelas menengah keatas.
Prinsip kerja:
Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis
tanggunganyang dipilih.
Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis
kelamin, jenis pekerjaan.
Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
Santunan diberikan sesuai kontrak
Peranan pemerintah relatif kecil
c) Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini
merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial
Prinsip-prinsip dasar:
Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat
Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
Tidak diperlukan pemeriksaan awal



3. Memahami dan Menjelaskan Hubungan Dokter Keluarga dan Mitra Kerja

Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)
Pada dasarnya sistem perlayanan dokter keluarga (selanjutnya digunakan SPDK), haruslah
menerapkan ketiga tahapan pelayanan medis sesempurna mungkin. Komponen sistem,
yang sekarang biasa disebut sebagai pemegang saham (stakeholders), paling tidak terdiri
atas:
1. DPU/DK (Sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Primer)
2. DSp (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Sekunder)
3. DSpK (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Tersier)
4. Dokter gigi
5. Pihak pendana (Asuransi Kesehatan, Pemerintah, dsb.)
6. Regulasi (perundangan, Sistem Kesehatan Nasional, dsb.)
7. Pasien (dengan keluarga dan masyarakatnya)
8. Farmasi (profesional dan pengusaha)
9. Staf klinik selain dokter (Bidan, perawat, dsb)
10. Karyawan non-medis
11. Dsb.

Mereka harus bekerjasama secara mutualistis mewujudkan pelayanan kesehatan yang
bermutu. Semua pemegang saham mempunyai andil, hak dan kewajiban yang sama dalam
mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Yang dimaksud dengan pelayanan
kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi pasien, tidak
melanggar aturan atau perundangan maupun etika profesi, dan menjamin kesejahteraan
bagi penyelenggaranya. Jika salah satu komponen sistem merusak tatanan, menyalahi
aturan main agar memperoleh keuntungan bagi dirinya, maka akibat negatifnya akan
dirasakan oleh seluruh komponen sistem termasuk, pada akhirnya, yang menyalahi aturan
itu. Oleh karena itu diperlukan kerjasama profesional yang mutualistis di antara anggota
sistem.

Dengan kata lain, dalam sistem pelayanan dokter keluarga pelayanan diselenggarakan oleh
tim kesehatan yang bahu-membahu mewujudkan pelayanan yang berumutu. Setiap
komponen sistem mempunyai tugas masing-masng dan harus dikerjakan sungguh-sungguh
sesuai dengan tatanan yang berlaku. Bidan dan perawat membantu dokter di klinik
misalnya, memberikan obat kepada pasien d ibawah tanggung-jawab dokter. Jadi bidan
dan perawat tidak memberikan obat tanpa persetujuan dokter. Sebaliknya dokter harus
memberikan perintah tertulis di dalam rekam medis untuk setiap pemberian obat. Bidan
dan perawat dibenarkan mengingatkan dokter jika perintah pemberian obat itu tidak jelas
atau belum dicantumkan. Demikian pula dokter keluiarga yang sebenarnya dokter praktik
umum dibenarkan mengingatkan dan diharuskan bertanya langsung kepada dokter
spesialis yang dikonsuli atau dirujuki jika ada hal yang kurang jelas atau berbeda
pendapat. Demikianpula komponen system yang lain termasuk masyarakat pasien
dibenarkan dan bahkan diharuskan saling kontrol saling mengingatkan agat tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan.
Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di
lakukan dalam berbagai hal seperti :
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin,
ras, usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat
merugikan hubungan profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti
serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan dokter
pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran harus
mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis,
mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang
merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan
terapi yang sesuai dengan peraturan baru.

a. Komunikasi Dokter-Profesi Lain
1. Kolaborasi
Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab
paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif
mereka.

Elemen-elemen Kolaborasi
1. Struktur
2. Proses
3. Hasil Akhir
Model Kolaboratif Tipe I
1. Menekankan Komunikasi Dua Arah
2. Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3. Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien

Model Kolaboratif Tipe II
1. Lebih berpusat pada Pasien
2. Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3. Ada kerja sama dengan Pasien
4. Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus

Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah
cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perspektif yang
berbeda dalam memandang pasien, dalam prakteknya menyebabkan munculnya
hambatan-hambatan teknik dalam melakukan proses kolaborasi. Kendala
psikologis keilmuan dan individual, factor sosial, serta budaya menempatkan
kedua profesi ini memunculkan kebutuhan akan upaya kolaborasi yang dapat
menjadikan keduanya lebih solid dengan semangat kepentingan pasien.

Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat
profesional dan institusional. Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi
sumber utama ketidaksesuaian yang membatasi pendirian profesional dalam
aplikasi kolaborasi. Dokter cenderung pria, dari tingkat ekonomi lebih tinggi dan
biasanya fisik lebih besar dibanding perawat, sehingga iklim dan kondisi sosial
masih medukung dominasi dokter. Inti sesungguhnya dari konflik perawat dan
dokter terletak pada perbedaan sikap profesional mereka terhadap pasien dan
cara berkomunikasi diantara keduanya.

Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik
bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup
praktek profesional keperawatan, dengan pengawasan dan supervisi sebagai
pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan
oleh peraturan suatu negara dimana pelayanan diberikan. Perawat dan dokter
merencanakan dan mempraktekan bersama sebagai kolega, bekerja saling
ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagi nilai-nilai dan
pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap
perawatan individu, keluarga dan masyarakat.

Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan
untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
a) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
menggabungkan keahlian unik profesional.
b) Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
c) Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
d) Meningkatnya kohesifitas antar profesional
e) Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
f) Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami
orang lain

Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh
faktor-faktor
a) Faktor interaksi ( interactional determinants), yaitu hubungan
interpersonal diantara anggota tim yang terdiri dari kemauan untuk
berkolaborasi, percaya, saling menghargai dan berkomunikasi .
b) Faktor Organisasi ( organizational determinants) yaitu kondisi di dalam
organisasi tersebut yang terdiri dari:
1. Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih berhasil
daripada struktur hierarkis);
2. Organizations philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran,
kebebasan berekspresi, saling ketergantungan, integritas dan sikap
saling percaya;
3. administrative support ( kepemimpinan);
4. team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan berinteraksi,
membagi lingkup praktek dengan profesional lain, bekerja dalam
suatu unit yang kecil) ;
5. coordination mechanism ( pertemuan formal untuk diskusi,
standarisasi prosedur dalam bekerja ).
c) Faktor lingkungan organisasi( organizations environment/ systemic
determinants) yaitu elemen diluar organisasi, seperti sistem sosial,
budaya, pendidikan dan profesional.

2. Pendekatan Praktik Hirarkis
Menekankan Komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
Dokter merupakan Tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD

Sebelum ada model Kolaborasi, hubungan yang ada adalah Model PRAKTIK
HIRARKIS.
Praktik Hirarkis merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan sebelum profesi
perawat semakin berkembang.
Selanjutnya dikenal ada 2 (dua) model Kolaborasi yang lain (Model 1 dan
Pendekatan Praktik Hirarkis
menekankan komunikasi satu arah.
kontak dokter dengan pasien terbatas.
dokter merupakan tokoh yang dominan.
cocok untuk ditetapkan di keadaan tertentu , seperti: IGD
pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktek dokter di Indonesia


DOKTER

REGISTERED NURSE

PEMBERI PELAYANAN LAIN

PASIEN

b. Komunikasi Dokter-Apoteker
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dokter perlu mengetahui apa yang menjadi
tanggung jawab profesi apoteker dalam pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dapat
dilakukan di berbagai tempat seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Apotek, dll.
Adanya pemahaman masing-masing pada profesi mitra kerjanya akan memudahkan
terjadinya komunikasi yang baik antar profesi.

Empat unsur Pelayanan Farmasi
a. Pelayanan Farmasi yang baik.
b. Pelayanan profesi apoteker dalam penggunaan obat.
c. Praktik dispensing yang baik.

Pelayanan profesional apoteker yg proaktif dalam berbagai kegiatan yg bertujuan
untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.


4.Memahami dan Menjelaskan Sistem Rujukan dan Konsultasi pada Dokter Keluarga
Definisi
Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional terkait penangan suatu kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter, kepada dokter lain yang lebih
ahli di bidangnya. Namun kewenangan penanganan masih berada pada dokter
keluarga yang bersangkutan.
Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan
kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang
sesuai.
Konsultasi dapat dilakukan mendahului rujukan, namun tidak jarang langsung
melakukan rujukan. Meskipun demikian, ada kalanya keduanya dipergunakan
bersama-sama.
Rujukan dalam pelayanan kedokteran ini umumnya kepada pelayan yang lebih tinggi
ilmu, peralatan dan strata yang lebih tinggi dalam rangka mengatasi kasus atau
problem tersebut.

Karakteristik
1. Ruang lingkup kegiatan : konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ke
tiga. Rujukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang dihadapi kepada pihak ketiga.
2. Kemampuan dokter : konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli atau yang
lebih berpengalaman. Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
3. Wewenang dan tanggung jawab : konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap
pada dokter yang meminta konsultasi. Pada rujukan sebaliknya.

Macam-macam Rujukan :
Rujukan medis:
Rujukan pasien (transfer of patient)
Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
Rujukan bahan (transfer of specimens)
Rujukan kesehatan:
Rujukan tenaga
Rujukan sarana
Rujukan operasional

Manfaat Konsultasi dan Rujukan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan yang
seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)

Masalah Konsultasi dan Rujukan
1. Rasa kurang percaya pasien terhadap dokter (bila rujukan/konsultasi inisiatif dokter)
2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien)
3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi
4. Bila tidak sependapat dengan saran/tindakan dokter konsultan
5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku,biaya, transportasi)
6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan dan ataupun dirujuk.

Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan
Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama,
dan sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku.
Konsultasi (McWhinney, 1981):
a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi
b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus,
catatan di rekam medis, formal/ informal lewat telefon)
c. Keterangan lengkap tentang pasien
d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi

Tata Cara Rujukan
Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan
rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka,
seperti dokter ahli tertentu.
Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan
dokter yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang
memuat informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan
yang dilakukan oleh dokter keluarga.
Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap
mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan
diagnosis, menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat
pengobatan atau yang lainnya.
Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib
memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya,
harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab
1. I nterval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.












5.Memahami dan Menjelaskan Adab dan Tatacara Pemeriksaan dan
Penanganan Pasien sesuai Ajaran Islam
Adab-adab yang bersifat khusus diantaranya:

a. Berusaha menjaga kesehatan pasien sebagai konsekuensi amanah dan tanggung
jawabnya dan berusaha menjaga rahasia pasien kecuali dalam kondisi darurat atau
untuk tindakan preventif bagi yang lainnya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :
"Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup
(aibnya) pada hari kiamat. " (HR. al-Bukhari 2442 dan Muslim 7028).


b. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendo'akannya.
Salah satunya ialah dengan mengucapkan "Tidak mengapa, insyaallah ini adalah
penghapus dosa", atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo'a
:
" Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau
adalah penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu,
kesembuhan yang tidak ditimpa penyakit lagi. " (HR. Muslim 2191 dan yang
lainnya).

c. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya
Allah Ta'ala sehingga hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada dokter.
Nabi sholallohu 'alaihi wasalam berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli) :
" Allah adalah dokter, sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit. "
(HR. Abu Dawud 4209, ash-shahiihah 1537).

d. Seorang dokter tidak boleh membohongi pasiennya.
Misalnya tatkala stok obat habis ia memberikan obat yang tidak sesuai dengan
penyakitnya atau memberikan obat yang di dalamnya terkandung bahan-bahan yang
diharamkan.

e. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia.
Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan
lainnya untuk membakar potongan tubuh pasien, namun hendaknya diberikan
kepada sang pasien atau keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan
memperjualbelikan darah pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk
mengubah wajah, telinga, alis, hidung dan lainnya, karena hal itu termasuk
mengubah ciptaan Allah yang diharamkan dalam Islam. Allah Ta'ala berfirman :
(Setan berkata) : "Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu
benar-benar mereka mengubahnya. " (QS. an-Nisa' (4) : 119).
Di samping itu, tidak diperbolehkan ta'awun dalam kejelekan, seperti menjual obat-
obat penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.

f. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya
hendaknya betul-betul meningkatkan dan menekuni pekerjaanya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam :
"Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli
kedokteran, maka ia menanggung (kerugian pasien)." (HR. Abu Dawud 4586, ash-
shahiihah 635).

g. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga
diharapkan bagi para dokter untuk menggapai ridha Allah dalam setiap aktivitasnya.
Nabi sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia yang lain." (Dikeluarkan oleh ad-Daruqutni, ash-
shahiihah 426).

h. Memberikan keringanan biaya pasien yang kurang mampu.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Barangsiapa yang melapangkan
kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan kesusahannya di
akhirat." (HR. Muslim 2699).

Adapun adab dan akhlak yang bersifat umum yang harus dimiliki seorang dokter adalah :
1. Tidak boleh berduaan dengan pasien wanita dalam satu ruangan tanpa ditemani
mahram sang perempuan. Minimal pintu ruangan harus terbuka sehingga terlihat
oleh keluarganya.
2. Seorang dokter tidak boleh menyalami perempuan yang bukan mahramnya atau
memperbanyak pembicaraan dengannya kecuali untuk kepentingan pengobatan.
3. Hendaknya tetap menjaga shalatnya, kecuali dalam kondisi genting maka tidak
mengapa ia menjama' dua shalat.
4. Hendaknya menjauhi syiar-syiar dan gaya orang kafir, seperti mencukur jenggot,
memanjangkan kumis, isbal, bebas bercakap-cakap dengan dokter atau perawat
wanita.
Di samping adab-adab tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para
petugas kesehatan tentang rumah sakit, klinik, apotek maupun tempat praktiknya, yaitu :
1. Hendaknya mengkhususkan satu ruangan untuk shalat, baik bagi laki-laki maupun
perempaun, mengingat pentingnya masalah sahalat.
2. Menjadi kewajiban dan PR kita bersama untuk menjadikan rumah sakit terhindar dari
ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
3. Tidak diperkenankan menggantung gambar makhluk bernyawa di tembok atau
dinding.
4. Hendaknya tidak menyediakan asbak bagi para pengunjung rumah sakit karena itu
adalah bentuk ta'awun dalam kejelekan.
5. Hendaknya memisahkan antara ruangan pasien yang berpenyakit menular dengan
yang tidak menular, demikian pula agar para pengunjung tidak kontak langsung
dengan si pasien tersebut sehingga penyakitnya tidak menular- dengan izin Allah-
kepada yang lainnya. Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Jangan
sekali-kali mencampur yang sakit dengan yang sehat." (HR. al-Bukhari 5328). Hal
itu dikuatkan juga dengan sabda beliau tentang wabah penyakit menular : "Jika
kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian
memasukinya." (HR. al-Bukhari 5287 dan Muslim 5775).
6. Hendaknya kamar mandi atau WC tidak menghadap ke arah kiblat atau
membelakanginya, sebagaimana sabda Nabi sholallohu 'alaihi wasalam : "Jangan
menghadap kiblat tatkala buang air besar dan kencing dan jangan pula
membelakanginya." (HR. al-Bukhari 144, Muslim 264, at-Tirmidzi 8, Abu Dawud
9).
7. Dianjurkan untuk mengubah kantornya ke arah kiblat dan duduk menghadap kiblat,
berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rowulullah sholallohu 'alaihi wasalam
bersabda : "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki tuan, dan tuannya majelis
adalah arah kiblat." (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath 2354, dan dihasankan
Syaikh al-Haitsami 8/114, as-Sakhawi (102) dan Syaikh al-albani dalam ash-
Shahiihah (2645) dan Shahiih at-Targhib (3085) ).
Adab pemeriksaan terhadap pasien

Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih
mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas
(memandang dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan
memijit, dimana dokter tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan
yang bukan mahramnya atau menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia
menggunakan kaos tangan atau semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak
langsung), dalam hal ini menyentuh dan memandang tidak ada masalah.
Akan tetapi jika dalam masalah ini dokter mampu mengobati hanya dengan
memandang saja dan atau hanya dengan menyentuh pasien yang bukan mahramnya
tersebut maka dokter harus mencukupkan dengan memandang saja atau menyentuh saja
(itupun sebatas darurat) dan lebih daripada itu tidak boleh. Dokter perempuan dalam hal
memandang dan menyentuh pasien laki-laki yang bukan mahramnya juga berlaku hukum
demikian. Begitu para ulama mengatakan.
Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap
dokter, para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang
terbaik bagi pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh
memberikan obat yang haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya
bukan muhrimnya, hendaklah ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua
didalam kamar pengobatan.
Telah di nukil dari Imam Musa ibnu Jafar yang mengatakan: Seorang lelaki
buta dengan lebih dahulu meminta izin telah memasuki rumah Fatimah (sepertinya dia
perlu dengan Rasulullah SAW) Fatimah mengambil kerudungnya dan beliau
bersembunyi di dalam kerudung tersebut (mengambil hijab), Nabi SAW berkata: Putriku
mengapa engkau menutup dirimu sedangkan dia tidak melihatmu? Beliau berkata:
Apabila dia tidak melihat saya, tapi saya melihat dia dan dia (jika tidak melihat dan buta)
tetapi dia mencium bau wanita. Rasulullah SAW sedemikian gembiranya sambil berkata:
Saya bersaksi bahwa engkau adalah belahan jiwaku. (Hayaatu Al-Imam Husain,Khutbah
Hadrat Zaenab)
Lihatlah begitu diagungkannya urusan hijab oleh Rasulullah SAW.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:



"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya".
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan
untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus
mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak.
Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala
seorang muslim/muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yang
berbeda jenis, ia harus didampingi mahramnya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan
sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada
bagian tubuh yang nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan
menyangkut aurat wanita, meskipun sudah ada perawat wanita misalnya, maka
keberadaan suami atau wanita lain (selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik
untuk menjauhkan dari kecurigaan.

Adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan berguna agar kaum Muslim tidak
tersesat di dunia. Adab-adab tersebut antara lain:
1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis
Allah berfirman: Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka
menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan katakalah kepada
wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara
kemaluannya. (QS. An-Nur: 30-31)
2. Tidak berdua-duaan
Rasulullah saw bersabda: Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (khalwat)
dengan wanita kecuali bersama mahromnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Tidak menyentuh lawan jenis
Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, Demi Allah, tangan Rasulullah tidak
pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia
kepada pemimpin). (HR. Bukhari)
Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah
satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah bersabda, Seandainya
kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada
menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thabrani dengan sanad hasan)


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul (1995): Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi Ketiga, PT.
Binarupa Aksara, Jakarta.

Azwar, Azrul (1995): Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan; Yayasan
Penerbitan IDI; Jakarta.

Azwar, Azrul, Justam, Judil dan Bustami, Nilda S (1983) : Bunga rampai, dokter
keluarga; Kelompok Studi Dokter Keluarga, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI (1986): Survai Nasional Kesehatan Rumah Tangga
tahun 1985/1986, DEPKES RI, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI (1989): Sistem Kesehatan Nasional, DEPKES RI,
Jakarta.

Prasetyawati AE. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya.. Diakses melalui:
http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf
pada 29 Desember 2012
Sulastomo (1984), Bunga Rempa Pelayanan Kesehatan, Jakarta.
Sudjoko Kuswadji (1996), Penjaminan Mutu Praktek Dokter Keluarga, Widya
Medika, Jakarta.