Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan
norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di
warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan
bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terkait dengan aturan. Namun,
dalam situasi resmi dan formal, seperti dalam perkuliahan, dalam seminar, dalam
persidangan, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa yang resmi atau
formal, yang selalu memperhatikan norma bahasa. Bahasa Indonesia yang benar yaitu
harus sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Adapun Kaidah
bahasa Indonesia meliputi ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat,
kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran.
Pada kalangan masyarakat bahkan di kalangan pelajar, banyak yang tidak
mengetahui tentang tata cara penulisan atau pengucapan bahasa indonesia yang benar
berdasarkan ejaan yang disempurnakan. Oleh sebab itu, pada makalah ini kami akan
membahas secara rinci tentang ejaan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan ejaan ?
2. Apa sajakah aspek-aspek pada ejaan Bahasa Indonesia?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi ejaan.
2. Untuk mengetahui aspek-aspek pada ejaan Bahasa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Ejaan
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran , dan
bagaimana menghubungkan serta memisahkan lambang lambang. Secara teknis, ejaan
adalah aturan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penulisan
tanda baca.
Sebelum disempurnakan ejaan bahasa Indonesia, ada tiga ejaan yang berkembang, yaitu:
1. Ejaan Van Ophuijsen
Ejaan ini di tetapkan pada tahun 1901 sebagai ejaan melayu dengan huruf latin. Ejaan
tersebut dirancang oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi
Gelar Soetan Mamoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.Ejaan yang di gunakan
pada ejaan Ophuijsen adalah:
Huruf j untuk menuliskan kata kata Jang, pajah, dan sajang.
Huruf oe untuk menuliskan kata kata goeroe, itoe, dan oemoer.
Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-
kata mamoer, akal, ta, pa, dinamai.

2. Ejaan Soewandi
Ejaan ini di resmikan pada tanggal 19 Maret 1947, untuk menggantikan ejaan Van
Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Adapun hal
hal yang harus diketahui tentang ejaan soewandi, yaitu:
Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf k.Seperti, pada kata tak,
pak, maklum, dan rakyat.
Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2.Sperti, pada kata anak2,berjalan2.
Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.

3. Ejaan Melindo
Ejaan ini dibentuk pada akhir 1959 pada sidang perutusan Indonesia dan Melayu yang
merupakan usaha untuk mempersamakan ejaan bahasa kedua negara tersebut.Namun
karena perkembangan politik di tahun tahun berikutnya mengurungkan peresmian
ejaan itu.
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan
yang Disempurnakan(EYD). Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No.
57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang
berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan
pemakaian ejaan itu. Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa
Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No.
156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas.
Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975
memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat
Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September
1987.

2. Fungsi Ejaan
Fungsi ejaan adalah:
a. sebagai landasan pembakuan tata bahasa
b. sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan, serta
c. sebagai alat penyaring masuknya unsur unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

3. Aspek Aspek Ejaan
a. Pengaturan Huruf
Huruf yang dipakai dalam karya tulis ilmiah adalah jenis huruf Latin. Huruf Latin
terdiri atas bermacam macam bentuk.Bentuk huruf Latin yang banyak digunakan
dalam bahasa bahasa di dunia adalah huruf Romawi (tegak) dan huruf Italic ( miring).
Berdasarkan bentuknya, huruf Romawi sangat dikenal dengan bentuknya yang sangat
berdiri tegak.Karakteristik bentuk huruf Romawi sering disebut huruf cetak karena
konsisten digunakan di bidang percetakan. Bentuk Romawi juga dapat dipakai dalam
penulisan yang memerlukan nilai nilai artisktik.
Bentuk huruf Latin yang lain adalah huruf Italic.Huruf Italic dikenal dengan bentuk
yang memiliki karakteristik cetak miring. Bentuk huruf yang bercetak miring sering
disebut huruf kursif.Huruf Italic dapat digunakan untuk menuliskan kata nama ilmiah
atau ungkapan asing,kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.Penggunaan huruf Italic
dalam karya ilmiah mengikuti ketentuan sebagai berikut:
1) Huruf miring dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang
dikutip dalam karangan.
Contoh:
- buku Reformasi Sosial Budaya dalam Era Globalisasi
- malajah Trubus
- surat kabar Media Indonesia
2) Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata,
kata atau kelompok kata.
Contoh:
- Huruf ketiga dalam abjad bahasa Indonesia adalah c.
- Subbab berkutnya tidak menguraikan pemilihan kata(diksi)
- Buatlah kalimat dengan menggunakan kata berperilaku.
3) Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing,
kecuali yang telah disesuaika ejaannya. Pengaturan lebih rinci dapat dipelajari
pedoman penulisan nama ilmiah esuai bidang studi dan unsur ungkapan asing dalam
Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
Contoh:
- Nama ilmiah tumbuhan padi adalah Oryza sativa.
- Weltanschauung antara lain diterjemahkan dengan pandangan hidup.
4) Ungkapan asing yang sudah disesuaikan ejaannya tidak perlu ditulis miring.
Contoh:
- Negara itu telah mengalami beberapa kali kudeta. Kata kali kudeta bukan lagi
coup detat.
- Bahasa adalah alat komunikasi. Kata komunikasi bukan lagi communication.

b. Pengejaan Kata
Bahasa Indonesia dalam sejarah perkembangannya elah menggunakan beberapa ejaan
antara lain ejaan Van Ophuijsen dan ejaan Soewandi. Akan tetapi sejak tahun 1972
tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1972, telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan yang
Disempurnakan (EYD). Sejak saat itu pengejaan bahasa Indonesia mengikuti ketentuan
EYD yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Apabila pedoman itu dipelajari dan ditaati
maka tidak akan terjadi kesalahan dalam pengejaan kata.
Akan tetapi, pada kenyataannya menunjukkan bahwa pada penulisan karya ilmiah
masih ditemukan kesalahan-kesalahan dalam pengejaan kata. Misalnya kata diubah
ditulis dirubah atau dirobah, kata menerapkan ditulis mentrapkan. Sehingga adapun
upaya-upaya mengurangi kesalahan tersebut dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1) Pemakaian huruf q dan x dibatasi hanya untuk keentingan ilmu dan pemakaian
nama, kecuali kata-kata yang sudah disesuaikan dengan kaidah bangsa Indonesia.
Misalnya :
Dalam matematika dapat menggunakan huruf q dan x untuk menandai sesuatu; nama
orang Baihaqi, Iqbal, Maqful; nama barang Xerox, Xerxes, sinar-X
2) Pemakaian huruf f dan v yang dalam bahasa Indonesia dieja dan diucapkan atau
dilafalkan sama, perlu dicermati dengan berpedoman padapenulisan unsur serapan.
Huruf f dan v sering sering juga dipertukarkan dengan huruf p.
Contoh :
- positif bukan positip atau positive
- kreatif bukan kreatip atau kreativ
- kreativitas bukan kreatifitas atau kreatipitas
- provinsi bukan propinsi.
3) Pemakaian huruf z pada unsur asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia ditulis
dan dieja seperti huruf dan bunyi aslinya.
Contohnya:
- Zakat bukan dituis dan dieja jakat ,
- Zebra bukan ditulis dan dieja jebra,
- Zat bukan ditulis dan dieja jat,
- Zuhud bukan ditulis dan dieja juhud,
- Ziarah bukan ditulis dan dieja jiarah.
4) Pemakain huruf h yang berada pada gugus gh, ph, rh, dan th harus dicermati
dengan baik.
Contohnya:
- shorgum menjadi sorgum
- morphologi menjadi morfologi
- rhitme menjadi ritme
- methode menjadi metode
5) Pemakaian huruf sin, shad, dan tsa yang berasal dari bahasa Arab ditulis dan dieja
seperti huruf s, sedangkan huruf syin ditulis dan dieja seperti huruf sy.
Contohnya:
- Huruf s dari huruf sin antara lain selamat, sebab, insan.
- Huruf s dari huruf sin antara lain missal, senin, salju.
- Huruf s dari huruf shad antara lain pasal, hasil, maksud.
- Huruf sy dari huruf syin antara lain syahbandar, syarat, masyarakat.
6) Pemakaian huruf h?,ha? Yang berasal dari bahasa Arab ditulis dan dieja seperti
huruf h, sedangkan huruf kha? Ditulis dan dieja seperti huruf kh.
Contohnya:
- Huruf h dari huruh h? dan ha? antara lain sehat, nasihat, hasl, sahabat.
- Huruf kh dari huruf kha? antara lain makhluk, khusus, khayal, khalik.
7) Pemakaian kata kata yang seringkali tidak diketahui etimologi atau asal usulnya
oleh penulis.
Contohnya:
Tidak ada pengejaan dalam bahasa Indonesia seperti kualitas, kuantitas, jadual,
varitas, projektor menjadi kwalitas, kwantitas, jadual, varietas, proyektor.
8) Pemakaian akhiran yang berasal dari unsur serapan asing mengikuti Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

c. Pemenggalan Kata
Berdasarkan pedoman umum EYD, pemenggalan kata dalam penulisan karya ilmiah
dilakukan sesuai aturan bidang tulis yang dipersyaratkan. Seringkali kata yang
dituliskan tidak dapat ditulis lengkap karena melebihi batas bidang tulis. Kata-kata
yang tidak dapat ditulis lengkap perlu dipenggal menurut suku katanya. Berikut ini
diuraikan cara-cara pemenggalan kata.

1. Kata dasar
Jika di tengah kata ada huruf vokal yang beruntun (V/V), pemenggalannya
dilakukan diantara kedua huruf tersebut. Vokal beruntun tersebut tidak termasuk
huruf diftong.
Contoh : ta-at
ma-af
bu-ah
Jika ditengah kata ada huruf konsonan dan gabungan konsonan di antara dua
vokal (KV/KV) (KV/KKV), pemenggalan dilakukan sebelum konsonan.
Contoh: ta-bu
ka-wan
bu-nyi
Jika di tengah kata ada huruf konsonan yang berurutan (K/KV), pemenggalan
dilakukan di antara kedua huruf konsonan tersebut.
Contoh : Ap-ril
han-dal
per-gi
Pada kata jadian, imbuhan yang berupa awalan dan akhiran, termasuk awalan
yang mengalami perubahan bantuk erta partikel yang biasanya ditulis serangkai,
pemenggalan dilakukan dengan memenggal imbuhan tersebut dari kata dasarnya.
Sebagai tambahan, pada kata jadian disarankan sedapat-dapatnya untuk tidak
memenggal bentuk dasar. Contoh : per-ubah-an, meski-pun, meng-gali.
2. Kata turunan
Kata turunan terdiri atas kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk atau kata
gabungan/kata kompleks.
a. Kata imbuhan
Imbukan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk dan partikel
seperti lah dan kah yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Pada
pemenggalan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan. Contoh : ba-ca-an, pe-me-
cat-an, me-nge-bom.
Sisipan, seperti, -el, -er, dan em dalam pemenggalan kata tidak
diperhitungkan sebagai satu kesatuan, melainkan sebagai bagian dari kata.
Contoh :
salah : g-em-e-tar, g-er-i-gi, t-el-un-juk
benar : ge-me-tar, ge-ri-gi, te-lun-juk.
b. Kata Majemuk atau Kata gabungan/kata Kompleks.
Kata majemuk atau gabungan/kata kompleks adalah kata yang terdiri dari dua
unsuratau lebih dan pemenggalanya berdasarkan pada unsur-unsur bentukan kata.
Contoh :
Fo-to-gra-fi
Ten-si-me-ter
Ki-lo-me-ter
c. Kata Ulang
Semua jenis kata ulang, baik pengulangan kata dasar, pengulangan kata turunan,
juga kata ulang yang mengalami perubahan bunyi, pemenggalannya didasarkan
pada unsur-unsur pengulangannya.
Contoh :
Ja-lan-ja-lan, Me-nu-lis-nu-lis, di-be-sar-be-sar-kan

d. Pemakaian Huruf
Pemakaian huruf berdasarkan pedoman EYD,antara lain :
1. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut.
Nama tiap huruf disertakan di kolom ketiga.











2. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o,
dan u.
3. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf
huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
4. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au,
dan oi.
5. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu
bunyi konsonan.
6. Huruf Kapital
a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal
kalimat.
Contoh : Dia smembaca buku.
b. Huruf kapita dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Huruf Huruf
Besar Kecil Besar Kecil
A A N n
B B O o
C C P p
D D Q q
E E R r
F F S s
G G T t
H H U u
I I V v
J J W w
K K X x
L L Y y
M m Z z
Contoh : Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang
berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk
Tuhan.
Contoh : Tuhan Yang Mahakuasa, Islam, Hindu, Al-Quran, Weda.
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh : Sultan Hasanuddin
e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,
keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Contoh : Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti
nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti
nama orang tertentu.
Contoh : Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.
Contoh : Wage Rudolf Supratman
h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Contoh : bangsa Eskimo, suku Sunda, bahasa Indonesia
i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari
raya.
Contoh : tahun Hijriah, bulan Februari, hari Senin
j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara,
lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi,
kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Contoh : Dewan Perwakilan Mahasiswa
k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna
yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan,
dokumen resmi, dan judul karangan.
Contoh : Perserikatan Bangsa-Bangsa
l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat,
dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Contoh : S.Pd ( guru)
7. Huruf Miring
a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan
surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh : Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan
Prapanca.
b. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan
huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Contoh : Dia bukan menipu, melainkan ditipu.
c. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang
bukan bahasa Indonesia.
Contoh : Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
d. Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya
diperlakukan sebagai kata Indonesia.
Contoh : Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

8. Huruf Tebal
a. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab,
daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
Contoh : Judul : HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
b. Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan
huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf
miring.
Contoh : Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

e. Penulisan Kata
Berdasarkan pedoman umum EYD, pemenggalan kata dalam penulisan karya ilmiah
harus sesuai dengan aturan yang disyaratkan.Berikut cara cara pemenggalan kata.

1. Kata Dasar
Kata dasar,yaitu kata yang belum diberi imbuhan atau belum mengalami proses
morofologi lainnya, ditulis sebagai satu kesatuan, terlepas dari kesatuan lainnya.
Contoh :
Ibu percaya bahwa engaku tahu
Kantor pajak penuh sesak
Dia bertemu dengan kawanya di kantor pos
Pohon kelapa itu tumbang

2. Kata Turunan
a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh :
bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

b. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran maka ditulis
serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh :
Bertepuk tangan, garis bawahi,menganak sungai, sebarluaskan

c. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh :
Menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan

d. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,gabungan
kata itu ditulis serangkai.
Contoh :
Adipati, aerodinamika, antarkota, anumetra, audiogram, awahama, bikarbonat,
biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, paripurna,
nonkolaborasi, multilateral
Catatan :
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf
awalannya adalah huruf kapital, diantara kedua unsur itu dituliskan tanda
hubung (-) .
Contoh : nonIndonesia, Pan-Afrikanisme
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang
bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Contoh : Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata dasar,gabungan itu
ditulis serangkai.
Contoh :
Tuhan Yang Mahaadil, Tuhan Yang Mahabesar

3. Bentuk Ulang
a. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung yang
terjadi karena proses reduplikasi atau pengulangan kata
b. Dwipurwa (kata ulang sebagian): Reduplikasi atas suku kata awal. Vokal dari
suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e
pepet. Contoh: tetangga, leluhur, leluasa.
c. Dwilingga (kata ulang utuh atau penuh): Reduplikasi atas seluruh bentuk dasar
(bisa kata dasar maupun kata berimbuhan). Contoh: rumah-rumah, kejadian-
kejadian.
d. Dwilingga salin suara (berubah bunyi): Reduplikasi atas seluruh bentuk dasar
yang salah satunya mengalami perubahan suara pada suatu fonem atau lebih.
Contoh: gerak-gerik, sayur-mayur.
e. Kata ulang berimbuhan: Reduplikasi dengan mendapat imbuhan, baik pada lingga
pertama maupun pada lingga kedua. Contoh: bermain-main, tarik-menarik.
f. Kata ulang semu: Kata yang sebenarnya merupakan kata dasar dan bukan hasil
pengulangan atau reduplikasi. Contoh: laba-laba, ubur-ubur, undur-undur, kupu-
kupu, empek-empek.
4. Gabungan Kata
a. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur
unsurnya ditulis terpisah.
Contoh :
Duta besar, orang tua, kambing hitam, meja tulis, rumah sakit umum, kereta api
b. Gabungan kata,termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan
pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur
yang bersangkutan.
Contoh :
Anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami
c. Gabungan kata berikut ditulis serangkai
Contoh :
Acapkali, adakalanya, barangkali, daripada, darmabakti, kilometer, manakala,
olahraga, segitiga, sekalipun, padahal, sebagaimana, sukarela, kacamata,
matahari, darmawisata

5. Kata Ganti ku, kau, mu dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya ; ku, mau,
dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh :
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
6. Kata Depan di, ke dan dari
Kata depan di, ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,kecuali
di dalam gabungan kata yang lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan
daripada
Contoh :
Kain itu terletak di dalam lemari.
Dimana Siti sekarang ?
Si amin lebih tua daripada Si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
7. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh :
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
8. Partikel
a. Partikel -lah, -kah , dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Bacalah buku itu baik-baik
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya daapun, andaipun, ataupun,
bagaimanapun, biarpun dan lain-lain.
Contoh:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
c. Paertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian
kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh:
Mereka masuk kedalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 9.000,00 per helai.

9. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti
dengan tanda tititk.
Contoh:
Muh. Yamin
Sukanto S. A.
2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau
organisas, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas tiga huruf atu lebih,
huruf awal kata ditulis dengan capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
RUU = Rncangan Undang- Undang
3. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Contoh:
dll. = dan lain-lain
dst. = dan seterusnya
Yth. = Yang terhormat
4. Lambing kimia,singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang
tidak diikuti tanda titik.
Contoh:
Kg = kilogram
Cm =sentimeter
b. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata,
dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis
seluruhnya dengan huruf capital.
Contoh:
ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN = Lembaga Administrasi Negara
2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dari
deret kata ditulis dengan huruf awal huruf capital.
Contoh:
Akabri = Akademi Angkatan Bersenjata
Iwapi = Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
3. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, dari deret kata
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:
pemilu = pemilihan umum
rapim = rapat pimpinan
raker = rapat kerja

10. Angka dan Lambang Bilangan
a. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Didalam tulisan
lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Contoh:
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI
b. Angka digunakan untuk menytakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii)
satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Contoh:
0,5 sentimeter 1 jam 20 menit
5 kilogram pukul 15.00
c. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar pada alamat.
Contoh:
Jalan Karimata VII Nomor 11
Hotel Indonesia, kamar 189
d. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Contoh:
Bab 10,Pasal 5, halaman 252
Surat Yasin: 9
e. Penulisan lambang bilangan dengan menggunakan huruf dilakukan sebagai
berikut.
Bilangan utuh
Contoh:
dua belas 12
dua puluh dua 22
dua ratus dua puluh dua 222
Bilangan pecahan
Contoh:
setengah
tiga perempat
f. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Contoh:
Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalam kehidupan pada abad ke-20 ini.
g. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran an mengikuti car berikut.
Contoh:
Tahun 50-an atau tahun lima puluhan
Uang 5000-an atau uang lima ribuan
h. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf, kecuali jika beberapa dipakai secara berurutan, seperti dalam
perincian dan pemaparan.
Contoh:
Akbar menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
i. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan
kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau
dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
j. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya
lebih mudah dibaca.
Contoh:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
k. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks,kecuali
didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
l. Jika bilangan dilambangkan dengan angaka dan huruf, penulisannya hrus tepat.
Contoh:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp 999,75 ( Sembilan ratus Sembilan
puluh Sembilan dan tujuh puluh lima per seratus rupiah).

f. Penulisan Unsur Serapan
Unsur serapan atau pinjaman berdasarkan taraf integrasinya dibagi ke dalam
dua golongan. Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa
Indonesia tetap dipakai dalam konteks bahasa indonesia, tetapi pengucapannya
masih masih mengikuti cara ucapan asing, misalnya reshuffle, shuttle cock,
Iexploitation de Ihomme par Ihomme. Kedua unsur asing yang pengucapan dan
penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia diusahakan ejaan
asingnya hanya diubah seperlunya sehingga ejaan atau bentuk Indonesianya sesuai
dengan kaidah EYD dan masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya (lihat
kolom dibawah). Di samping itu, akhiran yang berasal dari bahasa asing diserap
sebagai bagian yang utuh. Misalnya, standardisasi, implementasi, dan objek. Berikut
daftar kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Kata Asing Penyarapan yang Salah Penyerapan yang Benar
Risk resiko risiko
System sistim sistem
Effective efektip, effektif efektif
technique, techniek tehnik, tehnologi teknik, teknologi
Chelon esselon eselon
Method metoda, methoda metode
Kharisma karisma, kharisma karisma
Frequency frekwensi frekuensi
practical, practisch praktikal praktis
Percentage prosentase persentase
Stratosfeer stratosfir stratosfer
description diskripsi deskripsi
Conduite kondite konduite
Trotoir trotoir trotoar
Kwitantie kwitansi kuitansi
qualitet, quality kwalitet, kwalitas kualitas
formeel, formal formil formal
rationeel, rational rasionil rasional
directuer, director directur direktur
ideal, ideaal idial ideal
management managemen manajemen
coordination kordinasi koordinasi
Survey survei survai
Carier karir karier
mass media mass media media massa
ambulance ambulan ambulans
Hypotesis hipotesa hipotesis
Analysis analisa analisis
Patient pasen pasien
activity, activiteit aktip, aktifitas aktif, aktifitas
solidarity, solidariteit solidariteit solidaritas
Complex komplek kompleks
psychology psikology psikologi
Efficient effisien efisien
presidential presidential presidensial
contingent kontingent kontingen
Taxi taxi taksi
Latex latek lateks
Apotheek apotik, apothek apotek
February Pebruari Februari
November Nopember November

g. Pemakaian Tanda Baca
Ada beberapa jenis tanda baca, diantaranya sebagai berikut :
a. Tanda Titik ( . )
Penggunaan tanda titik antara lain :
1. Tanda titik dalam akhir alimat yang bukan seruan atau pertanyaan :
Misalnya : \
Ayahku tinggal di solo.
Kami sedang belajar.
Tanda titik tidak digunakan pada kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda
titik.
Misalnya : Buku itu disusun oleh Drs.Sudjatmiko,M.A.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam satu bagan,ikhtisar
atau daftar.
Misalnya :
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. Sosis
2. Mentega
3. Roti
3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang
menunjukkan waktu.
Misalnya :
Sekarang sudah pukul 08.00 pagi
El'Classico dimulai pukul 23.00
4. Tanda titik digunakan untuk memisah kan angka jam,menit dan detik yang
menunjukkan jangka waktu.
Misalnya :
1.35.20 jam
0.20.30 jam
5. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis,judul
tulisan yang tidak berakhir dengan tanda seru atau tanda tanya, dan tempat
terbit.
Misalnya :
Anton.2012.Suka dan Duka.Jakarta: Balai Pustaka
6. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang menunjukkan jumlah.
Misalnya :
Penduduk kota itu berjumlah 24.000 orang
Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri berjumlah 12.000 orang.
Catatan :
1. Tanda titik tidak digunakkan pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau kepala ilustrasi,table dan sebagainya.
Misalnya :
Dia lahir tahun 1956 di Mataram.
Jawabannya ada di halaman 245 dan seterusnya.
2. Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau kepala ilustrasi, tabel , dan sebagainya.
Misalnya : Laporan Praktikum Kimia
3. Tanda titik tidak dipakai di belakang nama dan alamat penerima surat,
nama dan lamat pengirim surat, dan di belakang tanggal surat.
Misalnya :
Yth. Kepala Kantor Penempatan Tenaga Kerja
Yth. Sdr. Moh. Hasan
Jalan Arif Rahmad 43
Palembang
7. Tanda titik digunakan untuk menuliskan singkatan.
Misalnya :
Rapat dibuka oleh Drs. Susilo Bambang Yudhoyono
b. Tanda Koma ( , )
1. Tanda koma digunakan dalam perincian atau pembilangan.
Misalnya :
Saya membeli pena,tinta dan kertas.
Surat biasa,surat kilat, maupun surat khusus memerlukan perangko.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat
berikutnya yang didahului kata seperti, tetapi, merupakan, sedangkan dan
kecuali.
Misalnya :
Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kamu yang memilihnya.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia senang membaca novel, sedangkan adiknya suka membaca puisi.

3. Tanda koma dipisahkan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya :
Kalau tidak ada ulangan, saya akan dating
Karena tidak pelit, dia disukai banyak orang.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus membaca buku.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar
kalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan,
demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.
Misalnya :
Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa.
Dia sangat kaya. Meskipun begitu, ia tidak pernah sombong kepada
siapapun.
Catatan :
Ungkapan penghubung antar kalimat seperti jadi, dengan demikian,
sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu tidak dipakai di awal paragaraf
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o,ya,wah, dan aduh,
atau kata kata yang digunakan sebagai sapaan seperti Bu, Dik, atau Mas dari
kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya :
O, begitu?
Wah, bukan main!
Mas, kapan pulang ?
Bu, kuenya sungguh enak.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya :
Kata Ibu, Saya gembira sekali.
Aku ingin pulang, kata anto, karena di sini tidak enak.

7. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain yang mengiringnya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir
dengan tanda Tanya atau tanda seru.
Misalnya :
Di mana saudara tinggal? tanya pak guru.
Masuk ke kelas sekarang! perintahnya

8. Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat
dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya :
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu I, Bogor
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Mataram, Lombok
Praya, Lombok Tengah

9. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka.
Misalnya :
Gunawan,Ilham.1984. Kamus Politik Internasional.Jakarta:Gramedia
Halim,Amran.1976.Politik Bahasa Nasional.Jakarta:Erlangga

10. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan
akhir.
Misalnya :
Alishjahbana, S. Takdir,Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia.Jilid 2(Jakarta
: Pustaka Rakyat,1950), hlm.25

11. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga atau
marga.
Misalnya :
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Siti Aminah, S.E, M.M.

12. Tanda koma dipakai di muka angka atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya :
12,5 m
27,3 kg
Rp. 750,00

13. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
Misalnya :
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak laki-laki yang makan sirih.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti latiha paduan
suara.
Catatan :
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit
dengan tanda koma.
Misalnya :
Semua siswa yang lulus ujian akan mendapat ijazah.
14. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca atau salah pengertian
di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di
kawasan nusantara ini.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan :
Kami ucapkan terima kasih atas perhatian Saudara.

c. Tanda Titik Koma ( ; )
1. Tanda titik koma dipakai sebagai kata penghubung untuk memisahkan kalimat
yang setara di dalam kata majemuk setara.
Misalnya :
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu memasak di dapur; Adik bermain di
lapangan.
2. Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam
kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata . Dalam hubungan itu, sebelum
perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.
Misalnya :
Syarat-syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini :
1. Berkewarganegaraan Indonesia ;
2. Berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;
3. Berbadan sehat;
4. Bersedia di tempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia
3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih
apabila unsure-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata
hubung.
Misalnya :
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang apel, dan
jeruk.

d. Tanda Titik Dua ( : )

1. Tanda titik dua dipakai di akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
rangkaian.
Misalnya :
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga seperti : meja, kursi,
lemari es, televise, dll.
Catatan :
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian merupakan pelengkap yang
mengakhiri pernyataan.
Misalnya :
Kita memerlukan meja, kursi dan lemari.
Universitas itu mempunyai Fakultas Hukum dan Ekonomi
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian.
Misalnya :
e. Ketua : Ahmad Dhani
Wakil : Andra
Sekretaris : Mulan

f. Tempat : Aula Gedung A
Pembicara : Rahmad Effendi
Hari,tanggal : Selasa, 28 Oktober 2012

3. Tanda titik dua dipakai pada naskah drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalm percakapan.
Misalnya :
Ibu : Bawa kopor ini, Nak !
Amir : Baik,Bu.

4. Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor halaman, bab dan ayat dalam
kitab suci, judul dan anak judul suatu karangan serta nama kota dan penerbit
buku acuan dalam karangan.
Misalnya :
Horison,XII, No.8/2008: 8
Al-Baqarah : 12

g. Tanda Hubung ( - )

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian
baris.
Misalnya :
Di samping cara lama diterapkan juga ca-
ra baru.
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya
atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.
Misalnya :
Kini ada cara yang baru untuk me-
ngukur panas.
3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsure-unsur kata ulang.
Misalnya :
anak-anak
berulang-ulang
tiba-tiba

4. Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf
dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya :
8-4-2012
p-a-n-i-t-i-a
5. Tanda hubung digunakan untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata
atau ungkapan dan penghilangan bagian frasa atau kelompok kata,
Misalnya :
ber-evolusi
Karyawan boleh mengajak anak-istrinya besok.

6. Kata hubung digunakan untuk merangkai :
a. se- dengan kata beriktnya yang dimulai dengan huruf kapital.
Misalnya : Wilayahnya hampir se-Indonesia
b. ke- dengan angka.
Misalnya : Dia anak ke-2
c. Angka dengan an.
Misalnya : Ayahnya lahir tahung 1950-an
d. Kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital.
Misalnya : mem-PHK-an
e. Kata ganati yang berbentuk imbuhan.
Misalnya : Atas rahmat-Mu
f. Gabungan kata yang merupakan kesatuan.
Misalnya : Bandara Soekarno-Hatta
7. Tanda hubungdigunakan untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan
unsure bahasa asing.
Misalnya :
di-smash
di-mark-up

h. Tanda Pisah ( )
1. Tanda pisah digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yag
memberi penjelasan di luar bagian utama kalimat.
Misalnya :
Kemerdekaan ituhak segala bangsaharus dipertahankan.
Keberhasilan itusaya yakindapat dicapai kalau kita bekerja keras.
2. Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau
keterangan yang lain sehingga kalimat itu menjadi lebih jelas.
Misalnya :
Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian dan kini juga pembelahan
atom mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Gerakan pengutamaan Bangsa Indonesiaamanat Sumpah Pemudaharus
terus ditingkatkan.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tunggal, atau tempat dengan arti
sampai dengan atau sampai ke.
Misalnya :
Tahun 19282008
Tanggal 58April 2012
JakartaBandung

Catatan :
Tanda pisah tunggal dapat digunakan untuk memisahkan keterangan
tambahan pada akhir kalimat.
Misalnya : Kita memerlukan alat tulispena, buku dan penggaris.
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung
tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

i. Tanda Tanya ( ? )

1. Tanda tanya dipakai di akhir kalimat tanya.
Misalnya :
Kapan dia berangkat ?
Saudara tahu,bukan ?

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenerannya.
Misalnya :
Dia lahir tahun 1963 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

j. Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa
seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
ataupun emosi yang kuat.
Misalnya :
Alangkah indahnya taman ini!
Bersihkan kamar ini sekarang juga!
Merdeka!

k. Tanda Elipsis ( )
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya : Kalau begitu,ayo kita laksanakan.
2. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau
naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan akan diselidiki lebih lanjut.
Catatan :
Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai 4 tanda
titik ( 3 tanda titik untuk menandai penghilangan teks dan 1 titik untuk
menandai akhir kalimat.)
Tanda elipsis pada akhir kalimat tidak diikuti dengan spasi.

l. Tanda Petik ( )

1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya :
Ibu berkata Paman berangkat besok pagi.
Pasal 36 UUD menyatakan, Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia

2. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang
dipakai dalam kalimat.
Misalnya :
Sajak :Pahlawanku terdapat di halaman 5.
Buku itu berjudul Laskar Pelangi.

3. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau
kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya :
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara coba dan ralat saja.
Dia bercelana panjang yang terkenal di kalangan para remaja dengan nama
cutbrai.

Catatan :
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya :
Kata dia, Saya juga minta satu.
Dia bertanya, Apakah saya boleh ikut ?
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang
tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus
pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya :
Bang Komar sering disebut Pahlawan; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Karena kulitnya hitam, ia sering dipanggil Si Hitam.

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu
ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Tanda petik () dapat digunakan sebagai pengganti sda. (sama dengan di atas)
atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.
Misalnya :
zaman bukan jaman
asas azas
plaza plasa

m. Tanda Petik Tunggal ( )

1. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam
petikan lain.
Misalnya :
Tanya dia, Kau dengar bunyi kring kring kring tadi ?
Tadi saat kubuka pintu terdengar suara aku pulang dari luar pagar.

2. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.
Misalnya :
terpandai paling pandai
retina dinding mata sebelah dalam

3. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapanbahasa
daerah atau bahasa asing.
Misalnya :
feed-back balikan
Drees rehearsal geladi bersih


n. Tanda Kurung ( ( ) )

1. Tanda kurung dipakai sebagai mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya :
Anak itu tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
Dia tidak membawa SIM (surat izin mengemudi).
Catatan :
Dalam penulisan didahulukan bentuk lengkap setelah itu bentuk singkatnya.
Misalnya :
Saya sedang mengurus kartu tanda penduduk (KTP).

2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian utama kalimat.
Misalnya :
Sajak Tranggono yang berjudul Ubud (nama tempat yang terkenal di Bali)
ditulis pada tahun 1962.

3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya
dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya :
Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
Dia berasal dari (Kota) Surabaya.

4. Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci
urutan keterangan.
Misalnya :
Faktor produksi menyangkut masalah (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan
(c) tenaga kerja.
Catatan :
Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi huruf atau angka yang
menyatakan perincian yang ditulis ke bawah.
Misalnya :
Kemarin kakak membeli :
1. Buku,
2. Pensil,
3. Penggaris, dan
4. Tas sekolah

o. Tanda Kurung Siku ( [ ] )
1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang
ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan
itu memang terdapat pada naskah asli.
Misalnya : -
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Ia memberikan uang [kepada] anaknya.

2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat
penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya :
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II
[lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.



p. Tanda Garis Miring ( / )
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan
penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun
ajaran.
Misalnya :
No.7/PK/2008
Jalan Kramat III/10

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.
Misalnya :
Dikirimkan lewat darat/laut. (dikirimkan lewat darat atau laut)
Harganya Rp.1500,00/lembar (harganya Rp.1500,00 tiap lembar)

Catatan :
Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan-
penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah.
q. Tanda Penyingkat atau Apostrof

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka
tahun.
Misalnya :
Dia kan sudah kusurati. (kan = bukan)
Malam lah tiba. (lah = telah)
7 Januari 94 (94 = 1994)













BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan, maka dapat disimpulkan bahwa :
a. Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran , dan
bagaimana menghubungkan serta memisahkan lambang lambang.
b. Fungsi ejaan adalah:
sebagai landasan pembakuan tata bahasa,2.
sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan, serta
sebagai alat penyaring masuknya unsur unsur bahasa lain ke dalam bahasa
Indonesia.
c. Aspek aspek ejaan meliputi :
Pengaturan huruf
Pengejaan kata
Pemenggalan kata
Pemakaian huruf
Pemenggalan kata
Penulisan unsur serapan
Pemakaian tanda baca

2. Saran




















MAKALAH BAHASA INDONESIA
tentang
EJAAN



Disusun Oleh :
FERDI DWI SEPTIAN (E1M012021)
SOFIAH MAWADDATI (E1M012062)
IDA AYU CINTYA YULIASMINI PUTRI (E1M012025)
BAIQ RANTI ANGGIYASTI (E1M012008)
ASTUTI DEWI (E1M012004)
JANUAR WAHYU PRIYANTO (E1M012029)
TUTIK IRPANI (E1M012065)
KARTINI (E1M012031)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2012