Anda di halaman 1dari 15

Perkembangan Politik Hukum Di Indonesia Dan Pengaruhnya Serta Solusinya

Terhadap Berlakunya Hukum Waris Positif


Kamis, 0 !ei "0#$
P%&D'H()('&
'*

)atar Belakang
Hukum adalah seperangkat peraturan tingkah laku yang berisi perintah/ anjuran,
larangan, dan ada sanksi (upaya pemaksa) bagi para pelanggarnya. Untuk dapat
memenuhi kebutuhan hukum bagi masyarakat Indonesia di masa ini dan masa yang
akan datang dalam rangka membangun masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan pancasila dan UUD 1!" yang mempunyai tujuan negara yang
berorientasi pada konsep negara kesejahteraan dengan sendirinya hukumnya akan
mengarah pada pencapaian tujuan hukum tersebut.
#erdasarkan pasal II 'P ((D #+, yang sekarang telah berubah menjadi pasal
I 'P ((D #+, amandemen telah mengisyaratkan kepada pembentuk undang$
undang di Indonesia agar dapat me%ujudkan cita$cita hukum nasional. Untuk dapat
memenuhi cita$cita hukum diperlukan pembangunan hukum dan pembinaan hukum.
&embangunan hukum mengarah kepada pengertian pembentukan hukum baru dengan
antara lain dengan mengadakan pembaharuan kodi'ikasi serta uni'ikasi hukum di
bidang$bidang tertentu, sedangkan pembinaan hukum berorientasi dengan
melakuakan sebuah pembinaan terhadap hukum$hukum yang berlaku dalam
masyarakat dan dilakukan sebagai langkah yang strategis untuk mencapai
pembangunan hukum nasional yang tidak lagi mengenal penggolongan penduduk dan
bersi'at uni'ikasi.
Hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat ditandai dengan adanya
perubahan masyarakat dan perubahannya tersebut sudah terarahkan atau diarahkan
ter-apainya politik hukum dibidang hukum yang ditetapkan oleh pembentuk
undang$undang.
Dalam Hukum Waris politik hukumnya dimulai dengan melakukan perubahan
pada aspek hukum keluarga dan perka%inan melalui (ndang.(ndang &o # Tahun
#/+.
(aka untuk penyusunan hukum nasional diperlukan adanya konsepsi$konsepsi
dan asas$asas hukum yang berasal dari hukum adat. Hukum adat merupakan salah
satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan$bahan bagi pembangunan hukum
nasional yang menuju ke arah (nifikasi Hukum yang terutama akan dilaksanakan
melalui pembuatan peraturan perundang$undangan.
)alah satu inti dari unsur hukum adat guna pembinaan hukum %aris nasional
dalam Hukum Waris 'dat, oleh karenanya bahan$bahan hukum %aris adat perlu
diketengahkan dengan jalan melakukan penelitian kepustakaan yang ada maupun
penelitian di lapangan untuk dapat mengetahui dari berbagai system dan asa hukum
%aris adat yang terdapat di seluruh %a%asan nusantara ini dapat di cari titik temu.dan
kesesuainya dengan kesadaran hukum nasional
(enurut perkiraan kita kesadaran hukum nasional yang menyangkut hukum
%aris adat adalah pada tempatya apabila hak$hak kebendaan atau %arisan tidak lagi
dibedakan antara pria dan %anita untuk sebagian besar bangsa Indonesia dalam hal ini
kita berada pada garis demokrasi antara hukum adat dengan Islam yang mana hukum
Islam itu pada sebagian besar masyarakat yang beragama Islam belum berlaku
sebagaimana mestinya. Di sebagian besar masyarakat kecuali di beberapa daerah atau
pada kelompok terbatas masih berpegang pada hukum %aris adat kemudian mengenai
hukum %aris adat itu sendiri terhadap sistem dan asas$asas hukumnya yang berbeda$
beda.
B*

Permasalahan
#erdasarkan latar belakang tersebut diatas dapat di ambil rumusan masalah *
#*

Bagaimanakah Perkembangan Politik Hukum di Indonesia 0
"*

'pa pengaruh Perkembangan Politik Hukum terhadap Hukum Waris
Positif 0
$*

'pa solusi yang dapat diambil 0
P%!B'H'S'&
'*

Perkembangan Politik Hukum
Dilihat dari perubahan masyarakat karena pengaruh hukum, maka kajian ini
sudah menyentuh sudut pandang &olitik Hukum +asional. (enurut Bellefroid politik
hukum adalah suatu disiplin ilmu hukum yang mengatur tentang cara bagaimana
merubah ius -onstitutum menjadi ius -onstituendum, atau menciptakan hukum baru
untuk mencapai tujuan mereka. )elanjutnya kegiatan politik hukum meliputi
mengganti hukum dan menciptakan hukum baru karena adanya kepentingan yang
mendasar untuk dilakukan perubahan sosial dengan membuat suatu regeling
(peraturan) bukan beschiking (penetapan).
Dalam kajian politik hukum dengan sendirinya akan memperhatikan 'ungsi
hukum, seperti yang disebutkan oleh 1os-ou Pond*
1.

)a2 as a tool of so-ial -ontrol, yaitu hukum sebagai alat pengendali
masyarakat. ,rtinya hukum ber'ungsi sebagai penjaga tata tertib
masyarakat. ,pabila ada yang melanggar akan dikenai sanksi sebagai
%ujud dari 'ungsi kontrol sosialnya. Dalam hal ini hukum berposisi di
belakang masyarakat.
-.

)a2 as a tool of so-ial engineering, yaitu hukum sebagai alat untuk
merubah masyarakat. Dalam hal ini hukum berposisi berada didepan
masyarakat, hukum memba%a dan menggerakkan masyarakat untuk
berubah dan bergerak kearah yang telah ditentukan.
)elain kedua 'ungsi hukum tersebut di atas, oleh !u-hsan ditambah dengan
satu 'ungsi lagi, yaitu sebagai la2 as a tool of so-ial empo2ering, yaitu hukum
ber'ungsi sebagai yang memberdayakan masyarakat, agar masyarakat ikut berperan/
berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam hal ini hukum berposisi di dalam
masyarakat.
Dalam politik hukum ada salah satu 'ungsi hukum yang menonjol, yaitu
sebagai la2 as a tool of so-ial engineering. ,rtinya hukum sebagai produk politik
hukum akan menjadi sangat berpengaruh dalam perubahan masyarakat, sebab melalui
hukum tersebut masyarakat berubah secara menyeluruh pola perilakunya untuk
menyesuaikan dengan ketentuan hukum yang diberlakukan.
Hukum %aris di Indonesia sejak dahulu sampai saat ini masih beraneka$ragam
bentuknya, masing$masing golongan penduduk tunduk kepada aturan$aturan hukum
yang berlaku kepadanya sesuai dengan ketentuan &asal 1./ I) 0o. &asal 1/1 I).
1olongan penduduk tersebut terdiri dari *


1olongan 2ropa


1olongan 3imur ,sing


1olongan #umi &utera.
Dan untuk hukum %aris positi' atau hukum %aris yang sedang berlaku di
Indonesia terbagi menjadi / macam hukum %aris. Hukum %aris tersebut adalah *


Hukum %aris adat.


Hukum %aris Islam.


Hukum %aris #4/ perdata.
Dalam pemakaian hukum %aris di setiap golongan$golongan tersebut
diberlakukan berbeda$beda, hal ini dapat dilihat sebagai berikut *
1.

1olongan 2ropa * menggunakan hukum %aris #4/ perdata.
-.

1olongan 3imur ,sing *
$ 5ina * menggunakan hukum %aris #4/ perdata.
$ #ukan * 5ina menggunakan hukum %aris adat.
/.

1olongan bumi putera * menggunakan hukum %aris adat/ hukum %aris Islam.

Dasar hukumnya dan juga dapat diambil beberapa teaching point yaitu *
1.

)ecara normati' bah%a hukum %aris adalah bagian dari tata hukum Hindia
#elanda yang berlaku di Indonesia.
-.

,danya ketentuan pasal 1./ I) yo pasal 1/1 I), yang dimana pasal$pasal tersebut
mengatur mengenai pergolongan rakyat dan pluralisme hukum. Dan juga dalam
pasal$pasal ini politik hukum ikut diberlakukan.
,tas pertimbangan secara historis sejak pemerintahan Hindia #elanda
sampai dengan sekarang ternyata terdapat pergeseran dan perbedaan arah politik
hukumnya. &ada jaman pemerintahan Hindia #elanda &olitik Hukumnya terlihat
pada adanya &olitik &ergolongan 6akyat, yang dibagi dalam / golongan yaitu*
1olongan 2ropa, 1olongan 3imur ,sing, dan 1olongan #umi &utera. )elanjutnya
keadaan tersebut diteruskan oleh pemerintah 6epublik Indonesia dengan sedikit$
sedikit dan secara bertahap dilakukan perubahan ke arah hanya ada 1 golongan
masyarakat yaitu (asyarakat +asional.
,rah politik hukum dari pemerintah 6epublik Indonesia dalam menghadapi
masih adanya golongan rakyat tersebut dan adanya perkembangan ke%enangan
&engadilan +egeri maupun ke%enangan &engadilan ,gama, khususnya di bidang
Hukum 7e%arisan yang dihadapkan pada adanya &emilihan Hukum, ternyata
menggambarkan adanya cara ber'ikir yang tidak lagi didasarkan pergolongan
rakyat, akan tetapi berorientasi pada hak yang dimiliki &engadilan +egeri maupun
oleh &engadilan ,gama. Dan di sisi lain apabila menyinggung pembicaraan
tentang Hukum ,dat pandangan kita akan tertuju pada gambaran adanya
masyarakat setempat yang di Indonesia terdapat banyak sekali corak dan bentuk
dari masyarakat setempat dan terdapat pula adanya aneka ragam agama yang
dianut oleh masyarakat.
B*

Pengaruh Perkembangan Politik Hukum terhadap berlakunya Hukum Waris Positif
Dengan dihapuskan penggolongan %arga negara Indonesia berdasarkan
keturunan atau class menjadi hanya hanya 1 (satu) golongan %arga negara
yakni golongan %arga negara Indonesia tanpa diembel$embeli, maka sudah pada
tempatnya berlaku pula hukum kodi'ikasi untuk golongan %arga negara tersebut.
,kan tetapi di dalam kenyataannya sampai saat ini cita$cita untuk membentuk Hukum
7e%arisan +asional belum juga ter%ujud.
)uasana pluralistis Hukum Ke2arisan, kenyataannya masih tetap me%arnai
sistem dan penerapan Hukum 7e%arisan di Indonesia. &ada hal sebagai negara yang
telah lama merdeka sudah pada tempatnya apabila Hukum 7e%arisan yang berlaku di
dalam masyarakat berbentuk kodi'ikasi dan uni'ikasi. 7arena dengan hukum
kodi'ikasi dan uni'ikasi dapat menjadi sarana e'ekti' di dalam mempererat rasa
persatuan dan kesatuan bangsa, di samping untuk menciptakan kepastian dan
ketertiban hukum di dalam masyarakat tanpa meninggalkan prinsip$prinsip atau
kaedah$kaedah agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat.
,gar lebih memudah memahami bagaimana pengaruh dari perkembangan poltik hukum, kita
dapat menganalisanya melalui produk hukumnya yaitu (ndang.(ndang &o* # Tahun #/+
Tentang Perka2inan dan (ndang.(ndang &o / Tahun "00.
#*

Pengaruh (ndang.(ndang &o* # Tahun #/+ Tentang Perka2inan
sebagai produk unifikasi hukum terhadap Hukum Waris Positif di
Indonesia
Dengan berlakunya Undang$Undang +omor 1 3ahun 18! tentang
perka%inan, maka dalam hal ini berlaku asas 9:e; &osterior Derogate :e; &riori9,
yaitu bah%a undang$undang baru membatalkan undang$undang terdahulu sejauh
undang$ undang tersebut mengatur hal yang sama.
Dan sejak diberlakukannya Undang$Undang +omor 1 3ahun 18!
tentang perka%inan tersebut maka tidak diberlakukan lagi hukum perka%inan
yang diatur dalam 7UH&erdata. Dan konsekuensinya adalah bagi orang$ orang
yang melakukan perka%inan sebelum diberlakukan UU +omor 1 3ahun 18!
mereka tunduk pada sistem hukum %aris 7UH&erdata (#4), dan bagi orang$
orang yang melakukan perka%inan setelah adanya UU +o 1 3ahun 18! maka
tidak diberlakukan lagi hukum %aris menurut 7UH&erdata.
Indonesia mengenal tiga macam sistem hukum %aris sebagai hukum
positi' yaitu )istem Hukum 4aris 7UH &erdata (#4), )istem Hukum 4aris ,dat
dan )istem Hukum 4aris Islam. Hal ini berdasarkan atas ketentuan &asal II
,turan &eralihan UUD 1!", secara yuridis yang dimaksud dengan peralihan
yaitu berlaku sementara sepanjang belum ditentukan hukum yang baru atas dasar
UUD 1!" sebagai Hukum +asional. )istem hukum %aris positi' saat ini hanya
berlaku sementara atas dasar &asal II ,turan &eralihan UUD 1!", sampai
terbentuk peraturan baru yang bersumber dan berdasarkan atas UUD 1!" dan
&ancasila. )ebagai suatu sistem, hukum %aris mempunyai hubungan yang bersi'at
sistemik dan sebagai akibat dari )istem Hukum 7eluarga dan dan Hukum
&erka%inan. Dengan berlakunya Undang$undang +o. 1 3ahun 18! tentang
&erka%inan yang mengatur Hukum 7eluarga, Hukum &erka%inan, 7edudukan
suami Isteri di dalam perka%inan dan Harta #enda &erka%inan yang berbeda
dengan prinsip 7UH &erdata (#4).
)ejak berlakunya Undang$undang +o. 1 3ahun 18! tentang &erka%inan,
ketiga )istem Hukum 4aris &ositi' posisinya mulai terlihat bersi'at sementara,
terutama )istem Hukum 4aris #4. )ebagai konsekuensinya, Hukum &erka%inan
yang diatur dalam 7UH &erdata (#4) dinyatakan tidak berlaku lagi sejak saat di
undangkannya Undang$undang +o. 1 3ahun 18! tentang &erka%inan. (aka
)istem Hukum 4aris 7UH &erdata (#4) hanya berlaku bagi orang yang semula
tunduk kepada 7UH &erdata (#4) yang melangsungkan perka%inannya sebelum
di berlakukannya Undang$undang +o. 1 3ahun 18!, sedangkan mereka yang
yang melakukan perka%inan seteleh di berlakukannya Undang$undang +o. 1
3ahun 18! tidak lagi diberlakukan ketentuan hukum %aris menurut 7UH &erdata
(#4). Untuk )istem Hukum Islam dan )istem Hukum ,dat masih berlaku
sebagai hukum positi' karna secara historis kedua sistem tersebut telah lama hidup
dan berlaku dalam masyarakat yang sama yaitu masyarakat Indonesia yang
beragama Islam, khususnya dalam bidang Hukum %aris kedua sistem tersebut
memegang peranan penting dalam me%ujudkan cita$cita hukum yaitu sebagai
sumber hukum terbentuknya Hukum +asional. #erbeda dengan posisi )istem
Hukum 4aris 7UH &erdata (#4), )istem Hukum 4aris Islam dan )istem
Hukum 4aris ,dat kedepan akan menjadi sumber hukum potensial dalam
terbentuknya Hukum 4aris +asional.
Undang$undang +o. 1 3ahun 18! 3entang &erka%inan merupakan salah
satu bentuk produk Hukum +asional yang bersumber dan berdasarkan atas UUD
1!" dan &ancasila. #erkaitan dengan bidang hukum %aris, maka dalam hal ini
pembentuk Undang$undang melalui UU +o. 1 3ahun 18! melakukan perubahan
politik hukum terhadap aspek hukum keluarga dan perka%inan.
&erka%inan bertujuan membentuk keluarga, dan keluarga akan menjadi
dasar pembentukan masyarakat nasional (basic sosial structure). Dengan di
tetapkannya politik hukum di bidang hukum keluarga dan perka%inan maka
prinsip$prinsip dasar keluarga yang di berlakukan secara nasional merupakan nilai
baru yang menjadi arah dalam melakukan sosial engeneering. &erubahan yang
dimaksud ialah perubahan masyarakat secara re<olusioner yang berorientasi pada
politik hukum nasional yaitu uni'ikasi hukum dan tidak adanya pergolongan
penduduk dengan prinsip persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
bagi setiap %arga negara Indonesia sehingga tidak lagi berorientasi pada politik
hukum &emerintahan Hindia #elanda yaitu pluralisme hukum dan adanya
pergolongan penduduk di Indonesia.
Undang$undang +o. 1 3ahun 18! merupakan bentuk uni'ikasi hukum
berdasarkan politik hukum nasional dan di berlakukan bagi seluruh %arga negara
Indonesia di seluruh %ilayah hukum 6epublik Indonesia. secara normati' terjadi
perubahan re<olusioner dan mendasar terhadap sistem hukum perka%inan dan
struktur hukum keluarga masyarakat Indonesia karena Undang$undang tersebut di
berlakukan secara serentak bagi seluruh %arga negara Indonesia sejak saat di
berlakukan.
Dengan telah di berlakukannya Undang$undang +o. 1 3ahun 18! bagi
seluruh %arga negara Indonesia termasuk yang beragama Islam, maka para ulama
membentuk 7ompilasi Hukum Islam (7HI) sebagai hasil dari interpretasi hukum
mengenai hukum keluarga dan perka%inan serta hukum %aris dengan
berlandaskan Inpres +o. 1 3ahun 11.
UU +o. 1 tahun 18! ini sangat berarti dalam perkembangan &eradilan
,gama di Indonesia, karena selain menyelamatkan keberadaan &eradilan ,gama
sendiri, sejak disahkan UU +o. 1 tahun 18! tentanng &erka%inan jo. && +o.
tahun 18" tentang peraturan &elaksanaanya, maka terbit pulalah ketentuan
Hukum ,cara di &eradilan ,gama, biarpun baru sebagian kecil saja. Undang$
Undang +omor 1 3ahun 18! tentang &erka%inan menampak menjelaskan
kedudukan &eradilan ,gama dalam sistem peradilan di Indonesia. Hanya saja
putusan dan penetapan &engadilan ,gama tidak dapat dilaksanakan sebelum ada
pengukuhan dari &eradilan Umum.
)ebelum Undang$Undang +o. 8 3ahun 1= 3entang &engadilan ,gama
Hukum 4aris &ositi' masih berorientasi pada politik hukum &emerintah Hindia
#elanda yaitu, adanya pluralisme hukum dan pergolongan penduduk. )atu$
satunya pengadilan yang ber%enang memeriksa dan mengadili perkara %arisan
adalah &engadlan +egeri, opsi hukum atau choice o' la% terjadi karena golongan
penduduk dari masyarakat #umi &utera yang beragama Islam berada pada dua
%ilayah hukum, yaitu Hukum Islam dan Hukum ,dat.
0ika mereka tidak menggunakan haknya untuk melakukan pilihan hukum
maka oleh &engadilan +egeri akan diterapkan Hukum ,dat dan dalam pandangan
&emerintah Hindia #elanda Hukum Islam bukan Undang$undang melainkan
hanya bagian dari Hukum ,dat. dalam hal ini para pihak dapat mengajukan
permohonan pada hakim agar perkara %arisnya di periksa dan di adili dengan
menggunakan Hukum Islam. &ada %aktu itu &engadilan ,gama hanya
mempunyai ke%enangan dalam aspek +36 (+ikah, 3alak, dan 6ujuk).
Dalam kaitannya dengan opsi hukum atau choice o' la% maka
persyaratan yang harus di penuhi pada saat itu untuk adanya hak melakukan
pilihan hukum ialah >
1)

)emua pihak dalam perkara yang di ajukan harus beragama Islam,
Hukum 4aris Islam hanya di terapkan bagi orang$orang yang beragama
Islam saja, jika salah satu pihak tidak beragama Islam maka dalam
perkaranya akan diterapkan Hukum 4aris ,dat.
-)

)emua pihak sepakat perkara %arisnya diperiksa dan diadili dengan
Hukum 4aris Islam. dalam hal ini perkara perdata oleh hukum diberikan
pilihan hukum untuk memilih hukum yang mere'leksikan rasa
keadilannya.
7onsep keluarga parental$bilateral sebagaimana yang dimaksudkan dalam
Undang$Undang +o. 1 tahun 18! telah menggambarkan arah yang jelas dari politik
hukum Indonesia. #ah%a di dalamnya terdapat 'sas !onogami dan 'sas Tu3uan
Perka2inan di mana*
a)

)uami Isteri saling bantu$membantu serta saling lengkap melengkapi.
b)

(asing$masing dapat mengembangkan kepribadiannya, dan untuk
pengembangan kepribadian itu )uami Isteri harus saling bantu$membantu.
c)

3ujuan akhir yang dikejar oleh keluarga bangsa Indonesia ialah keluarga
bahagia yang sejahtera spiritual dan materiil.
,rah politik hukum dari pemerintah 6epublik Indonesia dalam menghadapi
masih adanya golongan rakyat dan adanya perkembangan ke%enangan Pengadilan
&egeri maupun ke%enangan Pengadilan 'gama, khususnya di bidang Hukum
7e%arisan yang dihadapkan pada adanya Pemilihan Hukum, ternyata
menggambarkan adanya cara ber'ikir yang tidak lagi didasarkan pergolongan rakyat,
akan tetapi berorientasi pada hak yang dimiliki &engadilan +egeri maupun oleh
&engadilan ,gama. Dan di sisi lain apabila menyinggung pembicaraan tentang
Hukum 'dat pandangan kita akan tertuju pada gambaran adanya masyarakat
setempat yang di Indonesia terdapat banyak sekali corak dan bentuk dari masyarakat
setempat dan terdapat pula adanya aneka ragam agama yang dianut oleh masyarakat.
Dengan berlakunya Undang$Undang tentang &eradilan ,gama maka hal itu
semakin menegaskan bah%a Politik Hukum di Indonesia tidak lagi mengenal
Penggolongan Penduduk dengan diperluasnya ke%enangan mengadili dari
&engadilan ,gama untuk memeriksa, dan menyelesaikan pembagian 2arisan bagi
4+I yang beragama Islam, dan kepada mereka diperkenalkan ?psi Hukum (pasal !
Undang$Undang +o 8 tahun 1=).
3etapi kemudian dengan lahirnya Undang$Undang +o / tahun -@@. tentang
&erubahan Undang$Undang +o 8 tahun 1= tentang &eradilan ,gama maka semakin
menambah kejelasan Politik Hukum di Indonesia4&asional dengan mempertegas
diterapkannya Pengadilan 'gama dengan menghilangkan ?psi Hukumnya.
"*

Pengaruh (ndang.(ndang &o / Tahun "00 tentang Peradilan
'gama sebagai produk unifikasi hukum terhadap Hukum Waris
Positif di Indonesia
&ada tahun 1=, pemerintah menetapkan UU +o. 8 tahun 1= yakni UU
&eradilan ,gama (UU&,). Undang$Undang ini menetapkan %e%enang &engadilan
,gama untuk menyelesaikan hal$hal yang berhubungan dengan %arisan atau 'araid.
UU&, telah diamandemen menjadi UU +o. / tahun -@@.. 7e%enangan &eradilan
,gama diperluas. 3idak hanya sebatas mengadili masalah perka%inan, %aris, %asiat,
hibah, sedekah, %aka' orang Islam, tetapi juga bidang usaha ekonomi syariAah.
Sebelum berlakunya (( tentang Peradilan 'gama
&engadilan +egeri ber%enang memeriksa perkara %aris menurut Hukum
4aris 7UH &erdata/#4, Hukum 4aris Islam dan Hukum 4aris ,dat. Dan
berlakunya Hukum 4aris Islam di sini terjadi karena adanya permohonan dari para
pihak agar perkara mereka diperiksa dan diputus dengan menggunakan Hukum 4aris
Islam.
Sesudah berlakunya (( tentang Peradilan 'gama
)etelah berlakunya (ndang.(ndang &o / tahun #5 tentang Peradilan
'gama peta Hukum 4aris &ositi' di Indonesia menjadi diinterpretasi menjadi*


Hukum 4aris #4 berlaku bagi 4+I yang beragama non Islam, baik yang
berasal dari keturunan 2ropa maupun yang berasal dari keturunan
3ionghoa. Dan &engadilan yang diberi ke%enangan untuk memeriksa,
memutus dan menyelesaikan perkara di bidang %aris adalah Pengadilan
&egeri.


Hukum 4aris ,dat berlaku bagi 4+I #umi &utera atau Indonesia ,sli yang
beragama non$Islam. Dan &engadilan yang diberi ke%enangan untuk
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di bidang %aris adalah
Pengadilan &egeri.


Hukum 4aris Islam berlaku bagi 4+I keturunan 2ropa, keturunan 3imur
,sing 3ionghoa dan 3imur ,sing lainnya, #umi &utera atau Indonesia ,sli
yang beragama Islam. Dan &engadilan yang diberi ke%enangan untuk
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di bidang %aris adalah
Pengadilan 'gama.
&engadilan +egeri hanya ber%enang memeriksa perkara %aris menurut
Hukum 4aris 7UH &erdata/#4 bagi orang yang semula tunduk pada 7UH
&erdata/#4 dan Hukum 4aris ,dat.
)edangkan &engadilan ,gama menjadi ber%enang untuk memeriksa dan
memutus perkara %aris bagi orang$orang yang beragama Islam. )ehubungan bagi
orang$orang yang beragama Islam selama ini telah terbiasa dengan Hukum 4aris
,dat sebagai kebiasaan mereka selama ini, maka persoalan yang timbul diberi jalan
keluar dalam Kompilasi Hukum Islam.
UU +o 8 3ahun 1= tentang &eradilan ,gama disebutkan dalam pasal !
bah%a* 9&engadilan agama ber%enang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan
perkara %aris bagi orang yang beragama Islam.B
Dari bunyi pasal di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bah%a*
1)

UU ini berorientasi tidak ada penggolongan rakyat.
-)

)iapa yang dimaksud dengan mereka yang beragama Islam.
/)

Dikenalkan opsi hukum / pilihan hukum.


,danya hak memilih, jadi pembentuk undang$ undang menitikberatkan
pada aspek keadilan bukan pada aspek kepastian.


7eadilan dipandang adil oleh yang bersangkutan.


Implementasi opsi hukum, yaitu memilih hukum dari %aris Islam dan %aris
adat. (emilih 1 dari - opsi hukum, karena historisnya orang Indonesia
dahulu ada golongan.
!)

,rgumentasi opsi hukum itu apa.
")

&ermasalahan keadilan.


(asalah yang timbul dari keadilan, antara lain * ahli %aris laki$ laki dan
perempuan, ahli %aris janda dan anak, ahli %aris anak dan anak angkat.
(engenai opsi hukum / pilihan hukum ini oleh (ahkamah ,gung 6I telah
mengeluarkan )urat 2daran (ahkamah ,gung ()2(,) +o - tahun 1@ tentang
&etunjuk &elaksanaan UU +o 8 tahun 1=, khususnya pada point !.- yang berbunyi*
9Perkara-perkara antara orang-orang yang beragama Islam di bidang kewarisan
yang juga berkaitan dengan masalah hukum, hendaknya diketahui bahwa ketentuan
pilihan hukum merupakan masalah yang terletak di luar badan Peradilan, dan
berlaku bagi mereka atau golongan rakyat yang Hukum Warisnya tunduk pada
Hukum Adat dan/atau Hukum Islam, atau tunduk pada Hukum Perdata Barat/BW
dan/atau Hukum Islam di mana mereka boleh memilih Hukum Adat atau Hukum
Perdata Barat/BW yang menjadi wewenang Pengadilan Negeri atau memilih Hukum
Waris Islam yang menjadi wewenang Pengadilan AgamaB
6*

Solusi
Dari produk hukum yang mencerminkan politik hukum nasional dan
berpengaruh terhadap Hukum 4aris ,dat dan terlihat sebagai hukum yang mengubah
masyarakat ( so-ial engineering) antara lain *
Upaya 7odi'ikasi dan uni'ikasi Hukum 7e%arisan secara bilateral harus
diartikan sebagai %ujud pembinaan hukum kekeluargaan nasional, yang pada
tataran selanjutnya ber'ungsi untuk menyempurnakan tatanan hukum nasional
dengan melalui penciptaan perangkat peraturan perundang$undangan yang sesuai
tuntutan Caman. 7arena itu, dalam upaya pembentukan hukum ke%arisan nasional
berdasarkan sistem bilateral, dengan pola di''erensiasi sebagai kerangka pembinaan
Hukum +asional harus mengandung setidak$tidaknya / (tiga) dimensi yaitu*
1 Dimensi Pemeliharaan berarti, tatanan hukum ke%arisan yang bersi'at
prinsipil berdasarkan agama dan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat
disatukan harus tetap dipelihara, dihargai dan dihormati agar tidak timbul
kekosongan hukum, seperti keberadaan harta pusaka, kedudukan anak angkat
pada masyarakat tertentu dan sebagainya.
2 Dimensi Pembaharuan berarti, dalam usaha meningkatkan dan
menyempurnakan sistem hukum ke%arisan yang terasa pluralistis itu, karena
berasal dari ke tiga (/) sistem Hukum 7e%arisan menjadi hukum ke%arisan
nasional harus dilakukan, terutama pada bagian $ bagian
yangkemungkinannya dapat disatukan (diseragamkan), seperti> pengertian
hukum ke%arisan, unsur dan syarat terjadinya pe%arisan, harta %arisan, serta
beberapa asas yang memiliki kesamaan dari ke tiga (/) sistem ke%arisan,
seperti asas indi7idual8 asas pendera3atan8 asas keadilan berimbang> asas
bilateral> asas hubungan darah dan perka2inan> maupun asas yang
kelihatanberbeda namun dapat saling melengkapi seperti asas
plaatvervulling/mawaly (7UH &erdata danhukum ke%arisan Islam) dengan asas
musya%arah dalam hukum ke%arisan adat> asas indi<idual dalam hukum
ke%arisan 7UH &erdata dan hukum ke%arisan Islam dengan asas kollektif
dalamhukum ke%arisan adat, dan sebagainya, sehingga akan membuat kuat
substansi dan sistem hukum ke%arisan nasional secara bilateral nantinya.
3 Dimensi Pen-iptaan, pada dimensi ini diciptakan peraturan perundang$
undangan yang baru di bidang Hukum 7e%arisan +asional yang sebelumnya
belum pernah ada guna menghadapi tuntutan kemajuan Caman dan pengaruh
dari masyarakat dunia yang lebih bersi'at terbuka atas nilai $nilai baru di
dalam masyarakat modern, seperti> tuntutan di dalam kesetaraan pria dan
%anita, dan sebaliknya menolak ketidakadilan gender> penegakan Hak ,sasi
(anusia, dan sebaliknya menolak akan si'at diskriminati'.
1aris &olitik Hukum +asional untuk de%asa ini menghendaki terbentuknya
kodi'ikasi dan uni'ikasi pada tiap$tiap bidang hukum yang sesuai dengan kesadaran
hukum masyarakat. ,dapun uni'ikasi adalah penyatuan atau penyeragaman jenis
hukum tertentu, sehingga jenis hukum tertentu itu berlaku untuk seluruh %arga
negara (Sudarsono, #9,"5). Uni'ikasi hukum terkait dengan upaya pembentukan
hukum pada bidang hukum tertentu menjadi seragam, oleh karena itu uni'ikasi dapat
dilakukan melalui jalan kodi'ikasi dan pembaharuan hukum.
7odi'ikasi hukum dilakukan untuk memenuhi dan mencapai tujuan tertentu,
(Soekanto, dan !ustafa 'bdullah, #509/+), yaitu> pertama, untuk mencapai
kesatuan dan keseseragaman hukum (rechseenheid)> kedua, untuk mencapai
kepastian hukum (rechsCekerheid)> dan yang ketiga, untuk penyederhanaan hukum
(rechs<ereen<oudiging). Di dalam mengadakan kodi'ikasi hukum, maka ketiga dari
tujuan minimal kodi'ikasi seperti dikemukakan di atas tidak berdiri sendiri, karena
tujuan kodi'ikasi tidak akan mungkin tercapai, bila hanya satu atau dua tujuan
yang dalam kenyataan benar$benar ter%ujud (Soekanto, dan !ustafa 'bdullah,
#509 /+).
Dalam konteks kodi'ikasi Hukum 7e%arisan, maka tujuan yang dimaksudkan
(' * &u:ul, Tesis, "00# 9 #$") adalah, pertama, agar tercipta keseragaman pedoman
bagi masyarakat dalam %aris me%aris> kedua, agar lahir nilai$nilai hukum
7e%arisan sesuai yang diinginkan secara bersama dari kesadaran hukum
masyarakat> dan ketiga, agar ada pedoman secara seragam sebagai rujukan bagi aparat
penegak hukum (Hakim &eradilan) di Indonesia.
7einginan untuk kodi'ikasi dan uni'ikasi pada bidang Hukum 7e%arisan
adalah sesuai dengan amanat 1aris$1aris #esar Haluan +egara telah tertuang di
dalam berbagai 7etetapan (&6 ((&6)) misalnya pada T'P !P1S &o*
II4!P1S4#;0, T'P &o* I<4!P14#/$, T'P !P1*&o* I<4!P14#/5, T'P !P1*
&o* II4!P14#5$, dan T'P !P1* &o* I<4!P14#=.
(isalnya di dalam T'P !P1* &o* I<4!P14#/$ disebutkan bah%a*
9&embinaan bidang hukum harus mampu mengarahkan dan menampung kebutuhan$
kebutuhan hukum sesuai dengan kesadaran hukum rakyat yang berkembang ke arah
modernisasi menurut tingkat$tingkat kemajuan pembangunan disegala bidang
sehingga tercipta ketertiban dan kepastian hukum sebagai prasarana yang harus
ditunjukkan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa sekaligus ber'ungsi
sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang
menyeluruh, dilakukan dengan*
1.

&eningkatan dan penyempurnaan &embinaan Hukum +asional antara lain
dengan mengadakan pembaharuan,kodi'ikasi serta uni'ikasi hukum di
bidangDbidang tertentu dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum
dalam masyarakat.
-.

(enertibkan 'ungsi lembaga$lembaga hukum menurut proporsinya masing
$ masing.
/.

&eningkatan kemampuan dan ke%iba%aan penegak hukum.
7emudian pokok$pokok kebijaksanaan dalam bidang pembinaan hukum
selanjutnya dimuat dalam setiap rencana pembangunan nasional di bidang hukum
tertentu beserta proyeknya.
)elanjutnya di dalam T'P !P1S* &o* II4!P1S4#;0 pada lampiran '
angka +0" huruf - " dan + dalam nomor $5 disebutkan bah%a> 9!engenai
penyempurnaan "ndang-"ndang Hukum Perkawinan dan Hukum #ewarisan supaya
diperhatikan adanya $aktor-$aktor agama, adat, dan lain- lainnyaB (Panitia Pembina
D3i2a 1e7olusi9 Tud3uh Bahan.Bahan Pokok Indoktrinasi, Bagian 1ingkasan
T'P !P1S*&o* II4!P1S4#;09 5$).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bah%a dengan keluarnya T'P !P1S*
&o* II4!P1S4#;0 ini merupakan dasar hukum di dalam pembentukan Hukum
7e%arisan +asional, meskipun 3,& (&6) ini sudah dicabut berdasarkan T'P
!P1S &o* >>><III4#;5, akan tetapi secara substansi hukum dalam membentuk
hukum ke%arisan nasional berdasarkan sistem bilateral, semangat T'P !P1S &o*
II4!P1S4#;0 di atas tetap rele<an.
Disadari adanya, bah%a sampai saat ini Hukum 7e%arisan yang berlaku bagi
masyarakat Indonesia masih bersi'at pluralistis, yaitu*
1.

Hukum 7e%arisan yang terdapat dalam Hukum ,dat dan berlaku bagi
golongan Indonesia ,sli (bumiputra).
-.

Hukum 7e%arisan yang terdapat di dalam Hukum Islam dan berlaku bagi
golongan Indonesia ,sli yang bergama Islam dan golonganDgolongan
bangsa lain yang beragama Islam di luar dari golongan Indonesia asli yang
bergama Islam.
/.

Hukum 7e%arisan yang terdapat di dalam 7UH &erdata dan berlaku bagi
golongan 2ropa dan mereka yang dipersamakan dengan orang 2ropa,
orang$orang 3imur ,sing 3ionghoa dan orang$orang 3imur asing lainnya,
serta orang$orang Indonesia asli yang melakukan penundukan diri pada
Hukum 2ropa.
(enyusun Hukum 7e%arisan +asional untuk seluruh %arga negara, memang
terasa berat dan memerlukan %aktu serta kehati$hatian, mengingat akan si'at pekanya
bidang hukum ini karena erat hubungannya dengan 'aktor agama, kepercayaan dan
kebudayaan masyarakat. )elain itu, agar tidak menimbulkan keresahan di dalam
masyarakat di mana nantinya bidang hukum ini berlaku.
:ebih dari itu pula sistem kekeluargaan yang berlaku bagi penduduk Indonesia,
tidak hanya bersi'at bilateral atau parental melainkan terdapat juga sistem
kekeluargaan yang bersi'at patrilineal dan matrilineal. &ada hal sistem kekeluargaan
atau kekerabatan itu sendiri mempengaruhi si'at hukum ke%arisan, sebagaimana
dikemukakan Ha:airin (#5"9 ##) bah%a 9sistem kekeluargaan yang berlaku di
dalam suatu masyarakat akan men%erminkan hukum kewarisan dan hukum
perkawinannyaB
1ambaran Hukum 7e%arisan yang masih bersi'at pluralistis itu, adalah sebagai
akibat dari keberanekaragaman hukum (Hukum 'dat, Hukum %ropa, dan Hukum
Islam) yang berlaku bagi setiap penduduk (masyarakat) di Indonesia, di samping
karena kebijakan politik &emerintah &enjajah sejak lama pernah membagi$bagi
penduduk Indonesia ke dalam berbagai golongan.
&ada Caman Hindia #elanda, penduduk Indonesia (Hindia #elanda) dibagi
kepada / (tiga) golongan sesuai dengan Pasal #;$ IS tahun #", yang mulai
berlaku # ?anuari #"; yaitu @olongan %ropa, @olongan Timur 'sing, dan
@olongan Bumiputra (Soepomo, #/9 ",).
,kan tetapi pada saat ini penduduk Indonesia telah diatur berdasarkan (ndang.
(ndang Ke2arganegaraan 1I &omor ;" Tahun #,5 3*o ((*&o* $ Tahun
#/;8 3*o ((* 1I &o* #" Tahun "00; yang pada intinya mengatur bah%a
penduduk Indonesia hanya dibedakan kepada> pertama, 4arga negara Indonesia
dan kedua, ?rang ,sing (penduduk yang bukan %arga negara Indonesia). Dengan
undang$undang tersebut berarti di Indonesia saat ini sudah tidak ada lagi
penggolongan %arga negara seperti masa sebelum Undang$Undang tersebut
dibentuk. ,palagi dengan adanya penegasan melalui Instruksi Presidium Kabinet
&o* $#4(4I&4#"4#;; menyangkut hal untuk tidak menggunakan penggolongan$
penggolongan %arga negara Indonesia, serta Surat %daran bersama Departemen
Kehakiman 1I dan Departemen Dalam &egeri &o* Pemdes ,#4#4$?*'*"4"4,
tanggal -= 0anuari 1.8 perihal &erlaksanaan 7eputusan Instruksi &residium 7abinet
+o. /1/U/I+/1-/1...
&ersoalan keadilan sebagai akibat diperkenalkannya pilihan hukum untuk
menyelesaikan perkara %aris sehubungan dengan perkembangan politik hukum
nasional yang tidak lagi mengenal pergolongan penduduk, akan tetapi masih adanya
pluralisme hukum %aris dan belum terbentuknya hukum %aris nasional, maka oleh
pembentuk undangDundang diatasi dengan melakukan perubahan pada pasal ! ayat 1
UndangDUndang +omor 8 3ahun 1= tentang &engadilan ,gama dengan
meniadakan opsi hukum atau %hoi%e o$ law pada pasal ! Undang D Undang +omor /
3ahun -@@. tentang &erubahan Undang D Undang +omor 8 3ahun 1= tentang
&engadilan ,gama.
&eta hukum %aris positi' di Indonesia menjadi di interpretasi menjadi *


Hukum %aris #4 berlaku %arganegara Indonesia yang beragama non$Islam
baik keturunan eropa maupun keturunan tionghoa dan menjadi ke%enangan
pengadilan negeri.


Hukum %aris adat berlaku %arganegara Indonesia #umiputera atau Indonesia
asli yang beragama non$Islam dan menjadi ke%enangan pengadilan negeri.


Hukum %aris Islam berlaku bagi %arga negara Indonesia keturunan eropa,
keturunan timur asing tionghoa dan timur asing lainnya, bumiputera atau
Indonesia asli yang beragama Islam dan menjadi ke%enangan pengadilan
agama.
Disisi praktis persoalan keadilan dalam penerapan hukum %aris positi' di
Indonesia telah ada pemecahannya, akan tetapi disisi akademis muncul persoalan baru
juga masih pada aspek keadilan, yaitu dengan telah dipilihnya keputusan politik yang
dijelmakan dalam politik hukum yang menjadi dasar pemikiran pembentuk Undang$
Undang +omor / 3ahun -@@. adalah secara re<olusioner ada pemaksaan berlakunya
kaidah hukum %aris Islam bagi seluruh %arga negara Indonesia yang beragama Islam.
Dilihat dari aspek empiris kesadaran hukum %aris #4 bagi %arga negara Indonesia
keturunan eropa dan keturunan tiong hoa dan kesadaran hukum %aris adat bagi %arga
negara Indonesia #umiputera atau Indonesia asli sudah internal menjadi kesadaran
hukum secara turun temurun yang telah menjelma menjadi perasaan hukum
masyarakat yang telah berjalan ratusan tahun atau ribuan tahun, dengan seketika
(re<olusioner) harus menggunakan hukum %aris Islam untuk menyelesaikan perkara
%aris diantara orang D orang yang beragama Islam. 7emudian berlakunya hukum
%aris #4 bagi %arganegara Indonesia keturunan eropa atau keturunan tionghoa yang
beragama Islam hanya untuk pembagian %arisan tanpa sengketa atau musya%arah
diluar pengadilan, demikian juga hukum %aris adat bagi %arga negara Indonesia
#umiputera atau Indonesia asli yang beragama Islam hanya untuk pembagian %arisan
tanpa sengketa atau secara musya%arah dan terjadi diluar pengadilan. ,tau secara
ekstrim dilihat dari aspek ke%enangan mengadili perkara %aris, pengadilan negeri
melayani proses penyelesaian sengketa %aris bagi %arga negara Indonesia non Islam (
minoritas ) dan pengadilan agama melayani proses penyelesaian sengketa %aris bagi
%arga negara Indonesia yang beragama Islam ( mayoritas ).
K%SI!P()'&
#*

Perkembangan Politik Hukum terhadap hukum 2aris positif di Indonesia
&olitik hukum di Indonesia mengalami perkembangan, dari yang a%alnya
menganut konsep Penggolongan Penduduk dan Pluralisme Hukum berkembang
menjadi hanya ada # @olongan Penduduk dan (nifikasi Hukum.
"*

Pengaruh Perkembangan Politik Hukum terhadap Hukum Waris Positif
Dengan dihapuskan penggolongan %arga negara Indonesia berdasarkan
keturunan atau class menjadi hanya hanya 1 (satu) golongan %arga negara yakni
golongan %arga negara Indonesia tanpa diembel$embeli, maka sudah pada tempatnya
berlaku pula hukum kodi'ikasi untuk golongan %arga negara tersebut. ,kan tetapi di
dalam kenyataannya sampai saat ini cita$cita untuk membentuk Hukum 7e%arisan
+asional belum juga ter%ujud.
$*

Solusi
&ersoalan keadilan sebagai akibat diperkenalkannya pilihan hukum untuk
menyelesaikan perkara %aris sehubungan dengan perkembangan politik hukum
nasional yang tidak lagi mengenal pergolongan penduduk, akan tetapi masih adanya
pluralisme hukum %aris dan belum terbentuknya hukum %aris nasional, maka oleh
pembentuk undangDundang diatasi dengan melakukan perubahan pada pasal ! ayat 1
UndangDUndang +omor 8 3ahun 1= tentang &engadilan ,gama dengan
meniadakan opsi hukum atau %hoi%e o$ law pada pasal ! Undang D Undang +omor /
3ahun -@@. tentang &erubahan Undang D Undang +omor 8 3ahun 1= tentang
&engadilan ,gama.
D'AT'1 P(ST'K'
,'andi, ,li. 18. Hukum Waris, Hukum #eluarga, Hukum Pembuktian. 0akarta * 6ineka 5ipta.
,hlan )jari', )urini. 1=.. Intisari Hukum Waris !enurut Burgerlijk Wetboek &#itab "ndang-
"ndang Hukum Perdata'. 0akarta * 1halia Indonesia.
2.(. (eyers, hal. 1> H.E.,. Follmar, hal -=!> 0ac 7alma, &ri<aatrecht, handeling by the studie
<an het +ederlands &ri<aatrechtB, cetakan ketiga
Hadikusuma, Hilman. 1.. Hukum Waris Indonesia !enurut ( Perundangan Hukum Adat,
Hukum Agama Hindu-Islam. #andung * &3. 5itra ,ditya #akti. 5et. II.
(ohd. Idris 6amulyo. 1.. Beberapa !asalah Pelaksanaan Hukum #ewarisan Perdata Barat
&Burgerlijk Wetboek'. 0akarta * )inar 1ra'ika.
)atrio, 0. 1-. Hukum Waris. #andung * ,lumni.

Beri Nilai