Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sinyalement, Anamnesa, Restrain Dan Pemeriksaan Fisik
Registrasi dilakukan untuk mencari data pasien maupun data dari klien atau
pencatatan data pemilik dan data dari pasien. Registrasi untuk klien meliputi pencatatan
nama, alamat, dan nomor telepon klien. Registrasi untuk pasien meliputi breed (ras), sex
(jenis kelamin), age (umur), dan specific pattern (tanda yang menciri) (B-S-A-S). Registrasi
ditulis di sebuah kertas yang disebut ambulatoir, dimana masing-masing spesies hewan
berbeda-beda warnanya, sebagai contoh anjing dan kucing berwarna putih, sapi/hewan besar
dan hewan eksotik berwarna pink dan unggas berwarna kuning (Lane and Coper.2003)
Anamnesis merupakan sebuah riwayat yang baik jika dibeikan oleh pengamat yang
baik pula. Seringakali jawaban dari klien bersifat tidak benar, karena untuk menutupi suatu
kelaianan yang diderita pasien ataupun pengobatan yang telah diberikan sebelumnya. Apa
bila keadaan hewan tidak konsisiten dokter harus mencurigakan adanya pertanyaan palsu
yang berikan oleh pemilik atau wakilnya. Dengan alasan apapun, riwayat yang demikian
dipandang kurang untuk menguraikan masalah penyakit yang dihadapi. Dalam melakukan
anamnesa seorang dokter hewan perlu membutuhkan kemampuan untuk memperoleh riwayat
penyakit pasien. Dalam anamnesa gunakan bahasa yng mudah dipahami berdasarkan tingkat
intelegensinya, sehingga pemilik dapat memberikan jawaban yang benar. Pertanyaan juga
hindari pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, dengan demikian buatlah pertanyaan-
pertanyaan singakat yang dan menghasilkan jawabab yang jelas mengenai, gambaran
keadaan hewan mulai sakit, sampai sekarang, Kejadian-kejadian pada waktu lampau yang
ada hubungannya dengan penyakkit yang sekarang diderita, keadaan lingkungan , hewan
serumah/sekndang, tetangga dan lain-lain sebagainya (Aspinal. 2006).
Mengusai (restraint) dan menangani (handling) hewan yang dimaksudkan memiliki
tujuan, misalnya untuk memberikan vaksinasi, merawat luka, memotong kuku, persiapan
operasi, dan lain-lain. Upaya menguasai dan menangani hewan harus mempertimbangkan
hal-hal berikut: 1).Perhitungan tujuan yang dikehendaki, 2).Teknik yang paling efisien, tidak
menyebabkan hewan tersiksa, kesakitan atau membahayakan, 3).Kapan sebaiknya teknik
terpillih itu dilaksanakan, 4).Siapa yang qualified melakukannya (Dharmojono. 2002).
Setelah dilakukan sinyalemen/registrasi dan anamnesa maka selanjutnya dilakukan
pemeriksaan umum yang meliputi; Inspeksi dan adspeksi diantaranya melihat, membau, dan
mendengarkan tanpa alat bantu. Usahakan agar hewan tenang dan tidak menaruh curiga
kepada pemeriksa. Lakukan inspeksi dari jauh dan dekat terhadap pasien secara menyeluruh
dari segala arah serta perhatikan keadaan sekitarnya. Perhatikan ekspresi muka, kondisi
tubuh, pernafasan, keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara
(Boddie. 1962).
Pulsus dan nafas diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur. Nafas
diperiksa dengan menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan melihat
kembang-kempisnya daerah thoraco-abdominal dan menempelkan telapak tangan di depan
cuping bagian hidung (Boddie. 1962).
Pemeriksaan diawali dengan inspeksi terhadap tingkah laku, cara jalan, kondisi tubuh,
suara, lubang tubuh dan aktifitas menyusu. Selanjutnya dilakukan pengukuran frekuensi
nafas, frekuensi pulsus dan pengukuran suhu tubuh (rectal). Pemeriksaan berikutnya adalah
pemeriksaan selaput lender, kulit dan turgor kulit, alat gerak, reflex, berat badan, saluran
pencernaan dan organ-organ yang lain (Kelly. 1974). Hewan sehat didefinisikan sebagai
hewan yang memenuhi criteria vitalitas anak kambing dan domba sebagaimana diterangkan
oleh walser dan Bostedt (1990), konjungtiva mata merah dan tidak menunjukkan tanda-tanda
penyakit sistemik.
Pada hewan kecil, palpasi dapat dilakukan dengan meneteskan ibu hjari di satu sisi
dan ujung jari di sisi sebelanya Lakukan auskultasi dari sebelah kanan maupun sebelah kiri
untuk mengetahui peristaltk. Lanjutkan dengan pemeriksaan rectum, lalukan eksplorasi
dengan jari kelingking pakailah sarung tangan dari karet atau plastic dan beri pelican yang
tidak merangsang. Perhatikan kemungkinan adanya rasa nyeri pada anus dan rektum.
adanannya benda asing atau tinja keras. Lakukan enema denagn memasukan -mil glycerine
atau air sabun hangat 5-10 ml, kemudian ajaklah ajing berjalan dihalaman. Periksalah anus
apakah ada radang proctis, pecetlah anus dari 2 sisi dengan jari tangan yang di latasi dengan
kapas, bila ada adenitis akan keluar cairan kental, berwarna abu-abu coklat dan berbau sangat
busuk. Pemeriksaan laboratorium terhdap terhadap tinja dilakukan untuk mengetahui adanya
peradangan pada usus. Perhatilkan apakah warnanya hitam dan berbau busuk infeksi bagian
bagian depan atau segar infeksi bagian depan atau merah segar infeksi usus bagian belakang
(Boddie,Geo F.1962).
2.2 Vena Puncture
Pengambilan darah (venesectio) merupakan salah satu hal yang terpenting dari
kegiatan peternakan. Tujuan pengambilan darah ternak yaitu untuk mengetahui tingkat kadar
suatu zat yang terkandung dalam darah ternak tersebut. Pada dasarnya tekhnik pengambilan
sampel darah pada berbagai jenis ternak hampir sama. Perbedaan yang mendasar hanya pada
tempat pengambilan sampel darah dan ukuran jarum yang digunakan. Namun pada prosedur
dan tehniknya hampir sama.

Posisi ternak yang akan diambil sampel darahnya harus dalam posisi yang nyaman
dan kondisi ternak tenang. Selain akan mempermudah dalam pengambilan sampel darah, juga
akan lebih meminimalisir rasa sakit pada ternak dan hal tersebut merupakan salah satu kaidah
animal welfare atau yang biasa di sebut kesejahteraan hewan. Untuk sebagian ternak yang
ukuran tubuhnya agak besar sehingga susah untuk diposisikan dalam posisi yang tepat, maka
bisa digunakan penjepit atau kerangka. Namun untuk ternak yang ukuran tubuhnya kecil
maka cukup dipegang oleh praktikan pada bagian tertentu.
Pertama-tama cari titik pada tubuh ternak yang banyak mempunyai pembuluh darah
sehingga akan mempermudah dalam pengambilan darah. Bagian tersebut sebelumnya perlu
dibersihkan dengan alkohol. Pembersihan tersebut berfungsi untuk menghindarkan dari
adanya bakteri (sterilisasi). Selain untuk sterilisasi, pembersihan dengan alkohol dapat
meminimalisir terjadinya infeksi pada ternak setelah dilakukan pengambilan sampel darah.
Jarum yang merupakan alat suntik yang digunakan dalam pengambilan sampel darah
ini memepunyai bermacam-macam ukuran. Ukuran tersebut telah disesuaikan dengan tempat
pengambilan sampel darah supaya jarum tersebut tepat sasaran dan tidak melukai bagian
yang lain. Apabila jarum tersebut tidak sesuai dengan ukuran tempat pengambilan sampel
darah, maka pengambilan sampel darah akan sulit dilakukan.
Alat suntik diposisikan secara tepat ketika pengambilan sampel darah. Bagian jarum
yang runcing berada di bawah (posisi jarum menengadah ke atas) sehingga fungsinya
berjalan dengan baik yaitu untuk menngambil darah supaya terhisap oleh tabung hisap. Selain
itu, ujung jarum usahakan masuk atau tertutupi sehingga darah akan mudah masuk pada
jarum tersebut. Alat suntik tersebut di suntikkan berlawanan arah dengan pembuluh darah
dan di masukkan dengan lurus tidak keluar dari pembuluh darah.
Pada saat jarum suntik telah masuk ke dalam pembuluh darah ternak, di usahakan
jangan menggerakan alat suntik karena bisa merobek pembuluh darah pada ternak dan dapat
mengakibatkan pembengkakan pada bagian tersebut akibat pembuluh darahnya pecah.
Apabila itu terjadi, maka dapat membahayakan ternak dan kesehatan ternak akan terganggu
akibat rasa sakit yang ditimbulkan dari daerah yang membengkak tersebut.
Terdapat dua metode untuk mengambil sampel darah pada ternak yaitu dengan
menggunakan vacuum tube dan dengan menggunakan suntikan.

Berikut adalah beberapa tempat pengambilan darah pada beberapa hewan.
A. Vena Jugularis; Pembuluh darah ini terletak pada bagian ventrolateral leher. Tempat
ini biasanya dilakukan pada hewan sapi, kuda, domba, kambing dan babi.
B. Vena Cephalica Antibrachii Anterior ; Pembuluh darah ini terletak pada bagian
distal anterior kaki depan. Ini bisa dilakukan pada hewan anjing, kucing, ruminansia
kecil (domba dan kambing yang terukuran kecil, jika ternak tersebut direbahkan).
C. Vena Saphena Magna; Pembuluh darah ini terletak pada daerah lateral kaki
belakang dan menyilang dengan arah cranioventral pada sekitar tendo achilles. Ini
bisa dilakukan pada hewan anjing dan kucing.
D. Vena Femoralis; Pembuluh darah ini terletak pada daerah proksimomedial kaki
belakang.
E. Vena Coccigea; Pembuluh darah ini terletak pada daerah ventral tulang ekor ke 2
atau 3, ini biasanya dilakukan pada ternak sapi di mana pada lokasi pengambilan
darah di pembuluh darah Jugularis mengalami kesulitan misalnya terlalu tebalnya
gelambir.
F. Vena Auricularis; Pengambilan darah ini biasanya dilakukan pada hewan yang
memiliki pembuluh darah yang besar di telingga, biasanyay pada hewan kelinci dan
babi.
G. Vena Pectoralis; Pengambilan sampel darah pada ayam di lakukan pada vena
pectoralis. Pembuluh darah ini terletak pada bagian bawah sayap ayam.
2.3 Pemeriksaan Darah
Jumlah eritrosit pada kucing normal menurut Jain (1993) berkisar antara 5.0010.00 106/l.
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah eritrosit tertinggi yaitu 9.22 x106/l, dan terendah adalah 5.10
x106/l. Secara umum jumlah eritrosit pada kucing kampung yang diamati masih berada pada interval
normal menurut Jain (1993).
Menurut Triastuti (2006), yang melakukan penelitian terhadap kucing kampung yang
dipelihara, adalah 6.32 1.91x106/l, dan pada kucing kampung betina yaitu 6.02 2.20 x106/l. Jumlah
eritrosit pada percobaan ini menunjukkan hasil yang hampir sama bila dibandingkan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Triastuti (2006).
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit di dalam sirkulasi darah meliputi faktor
fisiologis dan patologis. Beberapa faktor fisiologis diantaranya jenis kelamin, umur, kondisi
kebuntingan, laktasi, dan tempat ketinggian (Riswan 2003; Jain 1993).
Faktor yang bersifat patologis yang juga mempengaruhi jumlah eritrosit diantaranya
hemoragi, hemolisis, gangguan sumsum tulang, penyakit akibat virus (mis Feline Leukemia virus),
gangguan hormonal, gagal ginjal kronis, infeksi parasit kronis, dan defisiensi nutrisi pembentuk
hemoglobin (Dorland 1998; Stockham dan Scott 2008).
Biasanya ditandai dengan menurunnya salah satu parameter eritrosit di dalam sirkulasi darah
(Meyer dan Harvey 2004).Rendahnya atau menurunnya salah satu dari parameter eritrosit, yang
meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi Hb, dan nilai hematokrit, dalam sirkulasi darah dibawah nilai
interval normal disebut anemia. Anemia merupakan kondisi patologis akibat menurunnya kapasitas
angkut O2. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan gejala klinis. Biasanya muncul sebagai
respons sekunder akibat adanya penyakit atau gangguan fungsi organ. Keadaan anemia merupakan
salah satu gangguan respon eritrosit yang paling sering dijumpai pada hewan anjing dan kucing (Jain
1993).


Referensi
Alfinus; 2012; Laporan Apresiasi Keterampilan Laboratorium Medik dan Paramedic
Veteriner Se Wilayah Kerja Balai besar Veteriner Maros.
http://muzarok.blogspot.com/2012/02/cara-pengambilan-darah-beberapa-hewan.html
http://blogs.unpad.ac.id/riskyadipradana/2011/03/12/teknik-pengambilan-darah-pada-
ternak/
http://sinaranbunda.wordpress.com/2012/06/10/tekhnik-pengambilan-darah-ternak/