Anda di halaman 1dari 11

TUGAS FISIKA STATISTIK

(Bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Statistik,


Rabu, 12 Maret 2014, pukul 08.50 10.30 WIB di Ruang Kuliah 14)









Oleh :

Listiana Cahyantari 110210152003





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

1. DISTRIBUSI MAXWELL BOLTZMAN
Dalam fisika, khususnya mekanika statistik, distribusi Maxwell-Boltzmann yang
menggambarkan kecepatan partikel dalam gas, di mana partikel bergerak bebas
antara tumbukan kecil , tetapi tidak berinteraksi satu sama lain, sebagai fungsi suhu dari
sistem, massa partikel, dan kecepatan partikel. Partikel dalam konteks ini mengacu
pada atom ataumolekul dari gas. Tidak ada perbedaan antara keduanya dalam perkembangan
dan hasilnya
Ini merupakandistribusi probabilitas untuk kecepatan sebuah partikel yang berwujud
gas - Besaran dari vektor kecepatan, yang berarti pada suhu tertentu, partikel akan memiliki
kecepatan yang dipilih secara acak dari distribusi, tapi lebih cenderung berada dalam satu
rentang dari beberapa kecepatan yang lain.
Distribusi Maxwell-Boltzmann berlaku untuk gas ideal di dalamkesetimbangan
termodinamika dengan efek kuantum yang dapat diabaikan dan di kecepatan non-relativistik.
Ini membentuk dasar dari teori kinetik gas, yang memberikan penjelasan sederhana dari
banyak sifat gas fundamental, termasuk tekanan dan difusi. Namun ada perluasan untuk
kecepatan relativistik, lihat distribusi Maxwell-Juttner di bawah ini. Distribusi ini dinamai
dari nama James Clerk Maxwell dan Ludwig Boltzmann.
Dalam statistik ini setiap tingkat energi dianggap dapat ditempati oleh partikel mana
saja dan setiap tingkat energi memiliki probabilitas yang sama untuk ditempati. Mencari
probabilitas penempatan partikel adalah mencari jumlah cara bagaimana partikel tersebut
ditempatkan. Jika N adalah jumlah keseluruhan partikel yang terlibat dalam sistem ini, maka
cara penempatan partikel adalah sebagai berikut:
Untuk menempatkan partikel pertama ada N cara (karena ada N partikel yang terlibat).
Untuk menempatkan partikel yang kedua ada (N 1) cara (karena sesudah penempatan
partikel pertama masih terdapat (N 1) partikel).
Untuk menempatkan partikel yang ketiga ada (N 2) cara, dan seterusnya. Jumlah
cara untuk menempatkan n1 dari N partikel di tingkat E1
adalah N(N 1)(N 2)(N 3)......(N n1)


Mekanika statistik dikembangkan sebagai kebutuhan untuk memberi landasan yang
kokoh bagi fenomena termodinamik. Dua fisikawan mashur disebut sebagai pelopornya,
yaitu Boltzman di Jerman dan Gibbs di Amerika Serikat. Bab ini akan membahas penurunan
persamaan gas ideal PV = NkT dengan menggunakan konsep fisika statistik yaitu statistik
Maxwell-Boltzman. Perhatikan bahwa persamaan gas ideal dituliskan bukan dalam
bentuk PV = nRT sebab melalui pendekatan mekanika statistik kita mulai mempersoalkan
gerak molekul-molekul gas.
Statistika Maxwell-Boltzmann sering digambarkan sebagai statistika bagi zarah klasik
terbedakan. Sistem zarah klasik terbedakan merupakan sistem zarah yang konfigurasinya
berbeda ketika dua atau lebih zarah dipertukarkan. Dengan kata lain, konfigurasi
zarah A di dalam keadaan 1 dan zarah B di dalam keadaan 2 berbeda dengan
konfigurasi ketika zarah B berada dalam keadaan 1 sedangkan zarah A dalam keadaan 2.
Ketika gagasan di atas diimplementasikan akan dihasilkan distribusi (Boltzmann)
biasa bagi zarah dalam berbagai tingkat energi. Fungsi distribusi ini menghasilkan hasil yang
kurang fisis untuk entropi, sebagaimana ditunjukkan dalam paradoks Gibbs [1,2,3,4].
Namun, masalah itu tidak muncul pada peninjauan statistik ketika semua zarah dianggap
tak terbedakan. Secara khusus, statistika Maxwell-Boltzmann berguna untuk mempelajari
berbagai sifat gas mampat.
a. Ruang Fase
Ruang fase sangat berguna dalam membahas distribusi kecepatan molekul. Setiap
titik dalam ruang fase adalah representasi lengkap dari posisi dan kecepatan setiap
molekul. Jika kecepatan setiap molekul dinyatakan sebagai vektor dengan titik tangkap
pada pusat koordinat maka vektor-vektor ini akan menembus permukaan khayal tertentu.
Untuk setiap vektor kecepatan berlaku :

Setiap vektor yang bersesuaian dengan satu molekul dan direpresentasikan oleh
anak panah dapat diwakili oleh ujung vektor berupa titik. Titik-titik ini akan membetuk
sebuah ruang yang kita sebut sebagai ruang kecepatan (velocity space).
Ruang repsentasi kecepatan adalah ruang tiga dimensi Kartesian dengan V
x,
V
y,
dan V
z
Pada ruang kecepatan, ada kemungkinan dua buah vektor berimpit. Keadaan ini
bersesuaian dengan keadaan bahwa dua molekul memilki kecapatan yang persis sama,
kendati posisinya berbeda. Dalam ruang fase, tidak mungkin ada dua titik representasi
berimpit sebab posisi setiap molekul unik.
Suatu elemen volume dV dalam ruang fase diasumsikan mengandung banyak
sekali titik representasi. Elemen-elemen volume selanjutnya dipandang sebagai bilik
kemudian diberi nomor. Kita dapat mendefinisikan densitas pada masing-masing elemen
volume ini

Densitas ini akan merupakan fungsi dari 3 peubah ruang dan 3 peubah kecepatan; dan
perlu dirumuskan bentuk eksplisinya.

b. Keadaan mikro dan makro
Keadaan mikro dapat dipandang sebagai satu hasil pemotretan dimana data
lengkap posisi dan kecepatan setiap molekul diketahui. Jika pada berbagai titik waktu
dilakukan pemotertan, maka setiap hasil pemotretan ini adalah satu keadaan mikro.
Ada kemungkinan dari sekian banyak keadaan mikro sebenarnya
merepresentasikan keadaan makro yang sama. Jumlah keadaan mikro untuk suatu
keadaan makro dapat berbeda-beda. Mislanya seperti yang ditunjukkan dalam gambar
berikut :

Gambar diatas merupakan ilustrasi keadaan makro.
c. Bobot statistic
Andaikan N buah molekul terbagi ke dalam n bilik dimana masing-masing
bilik berisi N
1,
N
2,
.., N
n


dimana biasa juga disebut sebagai bobot statistik (Statistical weight). Faktorial dari
bilangan yang ordernya hingga 10
23
akan sangat besar sehingga perlu trik khusus
untuk menghitungnya. Kita akan menggunakan pendekatan Stirling yaitu

Selanjutnya, kita akan merumuskan entropi yang secara mekanika statistik
didefinsikan sebagai :
S = k ln
d. Temperature ( suhu )




e. Kesetimbangan suhu


f. Aplikasi gas ideal




2. FERMI DIRAC
Sebelum pengenalan statistik Fermi-Dirac pada tahun 1926, pemahaman beberapa
aspek perilaku elektron sulit karena fenomena yang tampaknya bertentangan. Sebagai
contoh, elektronikkapasitas panas dari logam pada suhu kamar tampak datang dari 100 kali
lebih sedikit elektrondaripada berada di arus listrik. Ini juga sulit untuk memahami
mengapa arus emisi , yang dihasilkan dengan menerapkan medan listrik tinggi untuk logam
pada suhu kamar, hampir tidak tergantung pada suhu.
Kesulitan dihadapi oleh teori elektronik logam pada waktu itu adalah karena mengingat
bahwa elektron yang (menurut statistik teori klasik) setara semua. Dengan kata lain, diyakini
bahwa setiap elektron berkontribusi pada panas spesifik sejumlah urutan konstanta
Boltzmann k.Masalah statistik yang tetap tak terpecahkan sampai penemuan statistik Fermi-
Dirac.
Statistik Fermi-Dirac pertama kali diterbitkan pada tahun 1926 oleh Enrico
Fermi dan Paul Dirac . Menurut account, Pascual Jordan dikembangkan pada tahun 1925
statistik yang sama yang disebut Pauli statistik, tapi itu tidak dipublikasikan pada waktu yang
tepat . Bahwa menurut Dirac, itu pertama kali dipelajari oleh Fermi, dan Dirac menyebutnya
statistik Fermi dan partikel yang sesuai fermion.
Statistik Fermi Dirac diterapkan pada tahun 1926 oleh Fowler untuk menggambarkan
runtuhnya sebuah bintang ke kerdil putih .Pada tahun 1927 Sommerfeld diterapkan untuk
elektron dalam logam dan pada tahun 1928 Fowler dan Nordheim diterapkan ke lapangan
emisi elektron dari logam. Fermi-Dirac statistik tetap menjadi bagian penting dari fisika.
Hukum statistic Fermi dirac
Elektron bebas mempunyai spin s=1/2, sehingga bilangan kuantum magnetiknya
m
s
=1/2; dalam keadaan tidak ada medan magnet elektron memiliki 2 keadaan yang
berenergi sama (degenerate). Jadi g
i
=2. Elektron dalam atom memiliki fungsi keadaan yang
ditandai dengan bilangan-bilangan kuantum: n, l, m
l
, s, m
s
Untuk suatu harga ada (2 +1) buah harga m ; sedangkan dengan s = 1/2, ada dua
harga m
s
= 1/2, -1/2. Jadi, tanpa medan magnet, ada 2(2 +1) buah keadaan yang degenerate.
Jadi g
i
= 2(2 +1). Berdasarkan prinsip Pauli, untuk suatu pasangan n, l, m
l
, s, m
s
hanya bisa
ditempati oleh satu elektron. Jadi n
i
g
i
.
Jika tingkat energi, E
i
, akan diisi dengan n
i
buah elektron, maka dengan degenerasi g
i
,
jumlah cara mengisikan partikel adalah: g
i
(g
i
-1) (g
i
-2).. (g
i
-n
i
+1).
Energi eadalah energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron
dari logam. Dalam kasus efek fotolistrik, elektron dilepaskan jika foton he.
Besaran adalah potensial yang disebut fungsi kerja dari logam. Pada suhu tinggi, beberapa
elektron menempati keadaan di atas energi EF (lihat gambar (b)). Pada suhu yang cukup
tinggi beberapa elektron memperoleh energi sebesar E=EF+e sehingga lepas dari logam.
Proses ini disebut emisi termionik, dan merupakan dasar bagi tabung elektron.

















DAFTAR PUSTAKA

G. M. Barrow.1979. Physical Chemistry, 4th ed. Tokyo: McGraw-Hill.
M. Alonso and E. J. Finn. 1979. University Physics Vol. III, Quantum and
Statistical Physics. Tokyo: Addison-Wesley.