Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

CLOSE FRAKTUR FEMUR


PADA ANAK



DISUSUN OLEH :
DIKA ARDIANSAH
NMP 08310076

PEMBIMBING :
Dr. H. RISA INDRAWAN, Sp.OT

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
BAGIAN BEDAH ORTHOPEDI FK UNMAL RSUD 45 KUNINGAN
JAWA BARAT 2013

LAPORAN KASUS
I. Keterangan Umum
Nama : Fadla Muafah Sulaiman
Usia : 12 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : siswa
Alamat : Pakembangan Kuningan
Tgl masuk : 1 September 2013

II. Anamnesis
Keluhan Utama :
Nyeri pada paha atas kanan
Anamnesis Khusus :
Pasien datang RSUD 45 Kuningan dengan keluhan nyeri pada paha sebelah kanan atas
sejak 1 bulan yang lalu. 1 bulan yang lalu pasien pernah dirawat di RSUD Linggar Jati karena
kecelakaan sepeda motor. Os mempunyai riwayat kecelakaan sepeda motor, os mengendarai
motor sendiri dengan kecepatan ringan 10 km/jam disekitar pekarangan rumahnya, pada saat
itu ia tidak memakai helm. os tertabrak pembalap liar dari arah belakang dan terseret 10 meter.
Dengan kecepatan tinggi 90-100 km/jam. Pada waktu kecelakaan ia tidak sadarkan diri, keluar
darah dari telinga (+) cairan bening (-), keluar darah dari hidung (-), mual (+), muntah (+),
keluarga membawa os ke RS linggar Jati cirebon, jarak ke RS 1 jam. Sewaktu di RS os tidak
sadarkan diri selama 10 hari dan dirawat di ruang ICU. Os pernah melakukan pemeriksaan
CTscan, dan ditemukan perdarahan pada kepala bagian luar tempurung. Dari keterangan RS juga
os pernah di foto rontgen dan menderita patah tulang paha kanan. Sewaktu os sadar mengeluh
kepala nya pusing, mata sebelah kiri agak kabur dan nyeri pada paha kanan atas, os mengatakan
kaki nya tidak bisa digerakkan karena nyeri, jari kaki bisa digerakkan. Os menyangkal adanya
nyeri pada panggul. Selama di rawat os diagnosa cidera kepala ringan, adanya hematom diluar
tulang kepala sehingga os dilakukan kraniotomi.

III. Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
T : 100/70 mmHg N : 120x/menit
R : 22x/menit S : 36,8C

Kepala : Normacephali, ditemukan bekas luka craniotomi sepanjang 9 cm.
Konjungtiva tidak anemis
Sklera tidak ikterik
Pupil isokor +/+
Leher : Jejas (-), JVP tdak terlihat
KGB tidak teraba
Thorax : - Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris, jejas (-)
- Palpasi : vokal fremitus +/+
- Perkusi : sonor
- Auskultasi : vesikuler
Abdomen : Inspeksi : jejas (-), Datar, lembut
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU (+)

Pelvis : Jejas (-), nyeri tekan (-).
Inguianl : DBN
Extremitas Atas : DBN
Extremitas bawah : bengkak di paha kanan atasi, lihat status lokalis.

B. Status Lokalis
Regio femur dextra :
Look : Luka (-) pus(-), darah (-), bengkak (+), edema (-), eritem
(-), deformitas shortening (+), angulasi lateral (+).
Feel : Suhu (biasa sama dengan tubuh), nyeri tekan (+),
sensabilitas (+), krepitasi (-), pergerakan abnormal (+), capillary
refil (<2 detik), pulsasi arteri (+).
Move : gerakan terbatas karena nyeri, hanya ujung jari bisa
digerakan.
Motorik : phalang digiti I, II, III, IV, V pedis dextra dapat
digerakkan



IV. USULAN PEMERIKSAAN :
- Lab lengkap ( Hb,Ht, Leuko, Trombosit, Na, Cl, K)
- Rontgen x-ray foto femur dua posisi AP/Lateral sinistra tampak 2
sendi.
- Rontgen x-ray foto capitis, dua posisi AP/Lateral sinistra tampak
2 posisi.


V. RESUME
- Pasien mengeluh nyeri pada paha kanan atas
- Kaki tidak bisa digerakkan
- Jari kaki kanan masih bisa digerakkan
- Kepala pusing (+)
- Mata kiri penglihatan berkuang
- Pada inspeksi terdapat deformitas, angulasi, angulasi laterral.
- Sensabilitas (+), pergerakan abnormal (+), capillary refil (<2 detik), pulsasi arteri (+)
- Gerakan terbatas karena nyeri, hanya ujung jari bisa digerakan




VI. DIAGNOSA BANDING
- Close fraktur femur dextra 10/3 proximal oblik displased
- Fraktur pelvis
- Dislokasi joint
- Neurovaskular injuri



VII. DIAGNOSA KERJA
-Cidera kepala ringan dengan Close fraktur femur dextra 1/3 proximal oblik displaced.
VIII. PENATALAKSANAN
Atasi ku pasien, pemberian cairan IVFD RL,
Imobilisasi dengan bidai 2 sendi.
RL 20 gtt/menit
Pemberian analgetik
- Ketorolac 1 amp dalam RL
Pemberian antibiotika
- Cefotaxime 2 x 1
- Ceftriaxone 2 x 1

Konsul dokter orthopedi
Direncanakan operasi pemasangan pen screw orif femur dextra
IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad fungsional : Ad bonam



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Femur merupakan tulang terpanjang pada tubuh manusia. Hal ini menyebabkan
perkembangan yang sesuai pada bagian proksimal dan distal sehingga memungkinkan
koordinasi aktifitas musculoskeletal pada panggul dan lutut. Perkembangan pada femur
proksimal khususnya pada epifisis dan fisis adalah sangat kompleks di antara region
pertumbuhan skeletal apendikular.
1

Osifikasi sekunder biasanya dimulai pada kaput femur yaitu pada usia 4 5 bulan post
natal (rentang usia 2-10 bulan). Proses ini dimulai pada bagian sentral yang menyebat secara
sentrifugal, bahkan penyesuaian bentuk hemisfer dari permukaan articular pada saat anak
berusia 6 8 tahun dan membentuk sebuah lempeng subkondral yang berlainan yang
mengikuti kontur dari fisis kaput femur. Pusat osifikasi tergantung pada suplai vaskular; dan
penurunan aliran darah secara permanen dan sementara, yang mungkin terjadi pada fraktur
leher femur (femoral neck fracture), yang berakibat pada kemampuan osifikasi kaput femur
untuk meneruskan proses maturasi normal dan transformasi condro osseus.
1

Secara keseluruhan perkembangan kaput femur dan epifisis trokanter memiliki
kartilago yang berkelanjutan sepanjang sisi posterior dan superior pada leher femur.
Walaupun region ini secara umum tipis pada anak anak yang sedang tumbuh, hal ini perlu
untuk pertumbuhan lintang normal pada leher femur. Akibat kerusakan pada leher femur,
misalnya akibat fraktur leher femur, mungkin secara serius akan mengganggu kapasitas
karilago region leher femur untuk berkembang secara normal.
1

Pada anak anak, fraktur leher femur dan intertrokanter merupakan cedera yang
paling sering terjadi. Ratliff mengulas kembali 71 kasus fraktur leher femur pada pasien -
pasien berusia di bawah 17 tahun. Insidensi tertinggi cedera tampak pada rentang usia 11
13 tahun.
1

Engelhardt menyebutkan bahwa fraktur di sekitar sendi panggul merupakan akibat
paksaan seperti trauma akibat enrgi tinggi atau yang paling jarang dikaitkan dengan kondisis
patologis. Fraktur pada leher femur juga dapat sebagai gambaran yang tidak khas pada
kekerasan terhadap anak (child abuse) yang juga sering terjadi akhir akhir ini. insidensi
secara keseluruhan dari fraktur leher femur pada anak anak kurang dari 1%. Umumnya
fraktur leher femur terjadi pada anak anak di semua usia, tetapi insidensi tertinggi terjadi
pada usia 11 12 tahun, dengan persentase 60 -75% terjadi pada anak laki laki, sekitar
pada usia yang sama sebagai slipped upper femoral epiphysis (SUFE) pada insidensi
puncaknya.
2.3

Parsch (2010) menyebutkan bawa fraktur batang femur (femoral shaft fracture)
termasuk diantaranya region subtrokanter dan suprakondilar berkisar 1,6% pada semua
fraktur pada anak. Rasio antara anak laki laki dan perempuan adalah 2 : 1, rasio ini
mungkin akan mengalami perubahan jika semakin banyak anak perempuan yang
berpartisipasi pada olah raga seperti sepak bola. Insidensi ini tampaknya terdistribusi pada
anak anak usia muda dan pada remaja muda. Tingkat terjadinya fraktur batang femur per
tahunnya adalah 19 per 100.000 anak anak.
2







































BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Fraktur Leher Femur
2.1.1 Frekuensi dan Mekanisme Cedera
Fraktur disekitar sendi panggul merupakan akibat paksaan seperti trauma energi
tinggi atau pada keadaan yang yang jarang yang sering dikaitkan dengan kondisi
patologis. Fraktur leher femur pada gambaran yang tidak khas merupakan suatu
kekerasan terhadap anak (child abuse) yang juga sering terjadi akhir akhir ini.
insidensi secara keseluruhan pada fraktur leher femur pada anak anak adalah
kurang dari 1%. Fraktur ini terjadi pada anak anak semua usia, tetapi insidensi
tertinggi pada usia 11 tahun dan 12 tahun, dengan 60 70% terjadi pada anak laki
laki. Pada Negara berkembang penyebab paling sering adalah kecelakaan lalu
lintas sedangkan pada negara maju umunya penyebabnya adalah jatuh dari
ketinggian seperti dari pohon dan atap rumah. 30% pasien pasien ini mengalami
cedera yang berkaitan dengan dada, kepala, dan abdomen. Cedera pada
ekstremitas seperti fraktur femur, tibia fibula, dan pelvik juga sering. Hal lain
yang sering menyebabkan fraktur femur pada anak adalah child abuse. Pada
neonatus, cedera lahir dapat menyebabkan pemisahan transipiphyseal.
2.4


Gambar 1.1 Fraktur leher femur tipe III, pola cedera ditunjuk dengan tanda
panah.Fraktur pada anak yang dilakukan imonilisasi dengan cast.
4


Gambar 1.2 fraktur leher femur dengan varus yang miring.
4

2.1.2 Klasifikasi
Fraktur panggul pada anak anak diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan
morfologi. Cromwell pertama sekali menjelaskan fraktur pada leher femur pada
anak. Delbet mempublikasikan klasifikasi standar dari fraktur femur proksimal
pada tahun 1907. Klasifikasi ini tidak dikenal dengan baik hingga Collona (1929)
melaporkan 12 kasus dengan menggunakan Klasifikasi Delbet. Klasifikasi Delbet
digambarkan dalam tabel 1. Tabel 2 menggambarkan karakterisitik penting pada
fraktur femur pediatric berdasarkan tipe Delbet.
2.4

Tabel 1. Klasifikasi pada fraktur panggul pada anak anak (Delbet)
2

Tipe I Pemisahan transepiphyseal (dengan atau tanpa dislokasi
kepala femur dari asetabulum)
Tipe II Transervikal
Tipe III Servikotrochantrik
Tipe IV Intertrokanter






Tabel 2. Fraktur leher femur pediatric tipe dan karakteristik pentingnya
2

Tipe
Delbet
Insidensi Penyebab Karakteristik penting
Tipe I 8% Trauma energi tinggi
Child abuse
Persalinan letak sungsang
yag sulit
50% kasus terjadi
dengan dislokasi
kaput epifisis
Risiko tinggi AVN
(20 100%) jika
dikaitakan dengan
dislokasi epifisis
Diagnosis banding
septik artritis,
dislokasi panggul,
lepasnya kaput femur
epifisis.
Tipe II 45% Trauma berat Variasi yang
paling banyak
70 80% terjadi
displace
Risiko tinggi AVN
(sampai 50%)
Pada fraktur
displace, hilangnya
reduksi, malunion,
non- union,
deformitas varus,
Tipe III 35% Trauma berat AVN 20 25%
tergantung pada
penempatan saat
waktu cedera.
Tie IV 12% Trauma Nonunion dan
AVN jarang

Pengelompokan cidera fisis yang sering digunakan adalah klasifikasi Shalter Harris
(SH), yang mendriskipsikan dalam 5 (lima) tipe yaitu :
2.4

SH I: Fraktur pada zona hipertropi kartilago fisis, memisahkan epifisis dan
metafisis secara longitudinal; Prognosis baik, biasanya hanya dengan closed
reduction, ORIF dapat dilakukan jika stabilitas tidak tercapai atau tidak
terjamin.
SH 2: Fraktur sebagian mengenai fisis dan fragmen segitiga metafisis; 75%
dari semua fraktur fisis.
SH 3: Fraktur pada fisis dengan diskontinuitas artikular. Mengenai sebagian
fisis, epifisis, dan permukaan sendi. Sering memerlukan ORIF untuk
memastikan realignment anatomis.
SH IV: Fraktur berjalan oblik melewati metafisis, fisis, dan epifisis.
SH V: Lesi kompresi pada fisis; sulit untuk mendiagnosis pada saat cidera.
Tidak tampak garis fraktur pada awal rontgen; jarang terjadi; Risiko besar
terjadi gangguan pertumbuhan.

Gambar 1.3. Fraktur Shelter Haris
2.4

2.1.3 Assesment dan Diagnosis
Selain itu secara klinis diagnosis sering membingungan. Anak anak biasanya
yang mengalami trauma berat sering mengalami nyeri pada region panggul dan
pemendekan, ektremitas terotasi ke arah luar. Anak anak biasanya ketakutan
karena pergerakan ekstremitas yang pasif dan tidak dapat bergerak secara aktif.
Diagnosis ditegakkan dengan bantuan radiografi, yang umunya dilakuakan pada
dua plane foto, jika memang tidak nyeri. Sonografi juga sering digunakan pada
kondisi yang menimbulkan keraguan misalnya nyeri panggul pada anak. Garis
fraktur atau hematom intrakapsular dapat dideteksi dengan menggunakan
ultrasound. Dengan fraktur yang tidak diketahui letak pasti pada femur, maka
radiografi tidak dapat digunakan sebagai penunjang diagnostik. Computed
tomography (CT) dapat digunakan untuk menilai derajat fraktur dan hematoma
intrakapsular lainnya. Scan tulang pada 3 bulan post cedera juga membantu dalam
mendeteksi nekrosis kaput femur, yang merupakan komplikasi yang paling
mungkin. Magnetic resonance imaging (MRI) mendeteksi abaskular
sebelumnya.
2.3.4.5

Pada keadaan fraktur femur pulsasi arteri dorsalis pedis dipalpasi. Pada fraktur
femur juga harus dilakukan pemeriksaan sekunder karena umumnya pasien hanya
mengeluhkan nyeri sehingga hal hal yang mengancam nyawa seperti perdarahan
internal pada rupture spleen sering terlewatkan. Karena itu tekanan darah juga
penting untuk diawasi.
4


2.1.4 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan termasuk di antaranya :
2

Minimalkan komplikasi yang potensial pada avascular necrosis (AVN).
Hindari cedera pada lempeng fisis.
Reduksi fragmen fragmen secara anatomis
Stabilisasi dengan pin atau sekrup mengakibatkan protesi dini menahan berat.
Dekompresi terhadap hemarthrosis dan fiksasi internal stabil merupakan
aspek penting terhadap treatment untuk semua fraktur dengan pergeseran.
Fraktur yang tidak mengalami pergeseran dapat ditangani secara konservatif
dengan cast immobilisasi menggunakan hip spica.
2
Berdasarkan studi yang dilakukan pada 71 kasus dari British Orthopedic
Association yang dilaporkan pada tahun 1962, Ratliff menyebutkan bahwa
insidensi tinggi non union terjadi pada fraktur tipe II atau tipe III yang
diterapi secara konservatif. Canale dan Bourland pada tahun 1974,
melaporkan bahwa dengan operasi fiksasi yang diamati menunjukan hasil
yang lebih baik.
4


Gambar 1.7 Klasifikasi dari fraktur femur proksimal pada anak, berdasarkan
klasifikasi Colonna dan Delbet.
2

Menurut Anil Arora (2006) penanganan fraktur leher femur traumatic
pada anak didasari oleh tipe dan jumlah pergesaran akibat fraktur, dan maturitas
skeletal pada anak. Untuk internal fiksasi pada fraktur leher femur tipe I, tipe II,
dan tipe III, pin halus dapat digunakan pada infant, sekrup kanul 4.0 mm pada
anak anak; sekrup kanul 6.5 mm pada remaja. Untuk fiksasi fraktur tipe IV,
secara teori sekrip panggul pediatric (pediatric hip screw) lebih baik pada anak
anak dan sekrup panggul dewasa untuk anak remaja. Hip spica cast yang
digunakan untuk imobilisasi post operasi banyak terutama pada anak anak < 10
tahun. Untuk anak anak yang lebih tua, imobilisasi dengan pin lebih
dianjurkan.
4

Gambar
1.8A sampai D: Follow up pasien berusia 2.5 tahun dengan fraktur tipe I.(A) X
ray menunjukan fraktur tipe I. (B) pasien berbaring dengan coxa vara setelah
penanganan selama 3 bulan dengan spica. (C) Osteotomi subtrokanter selesai
dilakukan untuk koreksi coxa vara. (D) follow up selama 12 tahun
mengungkapkan adanya fisis terbuka. Pasien tidak mengeluhkan rasa sakit saat
melakukan pergerakan dan ada pemendekan 0.5 cm.
4


2.1.5 Komplikasi
Berikut ini merupakan komplikasi yang dapat berkembang dan ditetapkan sesuai
urutan kejadian :
2

Avascular necrosis (AVN)
AVN, pertama sekali dijelaskan pada tahun 1927 yang merupakan komplikasi
yang paling ditakuti dikarenakan hal ini mengakibatkan dampak yang sangat
buruk. AVN terjadi pada kebanyakan fraktur (47%) sebelum penanganan
sekarang ditetapkan. Hal ini dianggap sebagai akibat dari rupture atau
tamponade dari salah satu atau kedua arteri sirkumfleksa.
2

Sejumlah pergeseran awal merupakan faktor prognostik yang penting
ketika dipertimbangkan efeknya terhadap suplai vaskular pada leher femur
dan kaput femur tetapi hal ini tidak dijelaskan mengapa AVN mengikuti fisura
fraktur pada leher femur.
2

Nekrosis dapat berakibat pada epifisis secara terpisah, seluruh fragmen
proksimal, atau hanya bagian pada leher femur antara fraktur dan lempeng
pertumbuhan (growth plate). Iskemik epifisis menyerupai seperti yang terlihat
pada penyakit Perthes dan oleh karena itu terapinya mengikuti prinsip
prinsip yang ditetapkan untuk penyakit ini. Bagaimanapun, penyembuhan dan
remodeling setelah AVN post trauma pada anak anak biasanya lebih lama
dan tidak pernah lengkap Dekompresi dan fiksasi interna stabil merupakan
dasar terhadap pencegahan AVN.
2


Gambar 1.9 (a) fraktur leher femur transservikal dengan hanya pergeseran
minimal pada anak anak laki laki usia 8 tahun. Follow up jangka panjang
setelah penanganan konservatif. (b) Tampak lateral pada leher femur
mendemontrasikan morfologi fraktur yang lebih baik. (c) 30 bulan kemudian,
AVN tampak jelas dengan kolaps pada kaput femur yang memberikan
gambaran seperti Legg Calve Perthes. (d) 30 tahun setelah fraktur
sekunder awal osteoarthritis grade 2 tampak jelas. (diadaptasi dari arsip
Rumah Sakit Universitas Ortopedik Balgrist di Zurich, Swiss. Dipergunakan
dengan izin).
2
Berhentinya pertumbuhan/ Coxa vara
Coxa vara diakibatkan oleh fusi fisis yang premature atau oleh reduksi yang
tidak adekuat. Hal ini terjadi pada 15% kasus.
2

Nonunion
Keterlambatan penyembuhan dan nonunion jarang dijumpai sekarang yang
mana dilakukan reduksi dan stabilisasi terbuka, fiksasi internal comprehensif
direkomendasikan.
2

Osteoartritis
Osteoarthritis sekunder pada sendi panggul berkembang sebagai akibat
inkongruitas. Komplikasi pada awal masa kanak kanak biasanya
terkompensasi dengan baik dengan remodeling sebelum terjadinya maturitas
skeletal. Pemburukan pada sendi panggul terutama pada bentuk penyakit
sendi degenerative dan gangguan fungsi yang mungkin terjadi lebih dari
beberapa tahun.
2.2 Fraktur Batang Femur (Femoral Shaft Fracture)
2.2.1 Frekuensi dan Mekanime Cedera
Fraktur batang femur termasuk di antaranya subtrokanter dan suprakondilar yang
berkisar 1.6% pada semua fraktur pada anak. Rasio anak laki laki dan
perempuan adalah 2 : 1. Angka kejadian tahunan fraktur batang femur adalah 19
per 100.000 anak.
2.6

Etiologi fraktur batang femur bergantung pada usia. Pada infant, diaman tulang
femur relative lemah dan mungkin patah karena beban karena terguling. Pada usia
anak taman kanak kanak dan usia sekolah, sekitar setengah dari fraktur batang
femur disebabkan oleh kecelakaan berkecepatan rendah seperti terjatuh dari
ketinggian, misalnya dari sepeda, pohon, tangga atau sesudah tersandung dan
terjatuh pada level yang sama dengan atau tanpa tabrakan. Seiring dengan
meningkatnya kekuatan tulang femur, dengan maturitas selanjutnya pada masa
anak anak dan remaja, trauma berkecepatan tinggi sering mengakibatkan fraktur
pada femur.
2.3.6

Fraktur pada batang femur jarang terjadi akibat trauma kelahiran, dengan
pengecualian tersebut, maka fraktur ini dapat juga disebabkan oleh arthrogryposis
multiplex congenital, myelomeningocele, dan osteogenesis imperfect. Kontraktur
yang kaku pada panggul dan lutut pada anak anak dengan arthtogrypotic dapat
menyebabkan fraktur batang femur selama proses persalinan atau selama
penanganan selanjutnya. Kelompok risiko lainnya adalah bayi baru lahir dengan
penyakit neuromuscular seperti myelomeningocele, osteopenia. Dan osteogenesis
imperfect yang menyebabkan fraktur multipel.
2.6

Fraktur batang femur yang terjadi selama 12 bulan pertama kehidupan jarang
terjadi. Kebanyakan 30 50% merupakan non accidental dari child abuse.
Penyebab ini sering terlewatkan dan penilaian awal oleh dokter adalah
perlindunagn terhadap anak merupakan hal yang penting.
2

Gambar 2.1. (a) anak perempuan berusia 6 bulan dengan mid shaft transverse
fracture kiri (b) anak pada posisi spica cast 60/60
o
dengan cyclist pant pada sisi
yang tidak mengalami fraktur.(c) fraktur femur kiri yang dipasang cast. (d) femur
kiri saat pasien berusia 7 bulan dengan formasi callus yang baik. (e) Foto saat
berdiri pada usia 18 bulan. Ada tampak varus minor dan panjang kedua tungkai
sama.
2

2.2.2 Klasifikasi
Fraktur shaft femoralis pada anak anak antara lain spiral, oblik, atau transversal,
fraktur ini umumnya dapat pecah atau tidak pecah, tertutup atau terbuka.
Diagnosis termasuk perbedaan antara fraktur pada epifisis (E), metafisis (M), atau
diafisis (D) menampilkan identifikasi yang khas pada anak. Klasifikasi pediatrik
pada anak yang baru memungkinkan dokumentasi dan pembanding terhadap
metode pengobatan pada praktek klinik yang sama dengan penelitian klinis
prospektif
2

2.2.3 Temuan Klinis
Tanda tanda yang sering pada fraktur batang femur antara lain nyeri, shortening
(pemendekan), angulasi, bengkak, dan krepitasi. Seorang anak dengan fraktur
demur yang masih baru biasanya tidak dapat berdiri atau berjalan. Semua anak
harus diperiksa termasuk tungkai bawah dan lingkar pelvik dan abdomen, jadi
tidak mengabaikan tibia, pelvik, abdomen, atau trauma ginjal. Pemeriksaan
neuromuskular harus diperiksa secara hati hati. Walaupun cedera
neuromuskular jarang terjadi akibat fraktur batang femur. Perdarahan merupakan
masalah utama pada fraktur batang femur,rata rata darah yang hilang dapat lebih
dari 1200 mL dan 40% memerlukan transfusi. Penilaian kondisi hemodinamik
pra operasi mutlak harus dlakukan.
2.6

2.2.4 Temuan Radiologi
Pemeriksaan radiografi seharusnya dilakukan sepanjang femur dalam dua plane
foto dan berdekatan dengan lingkar pelvik dan juga sendi lutut. Jika ada keraguan,
tungkai bawah seharusnya diperiksa juga. Computed tomography (CT) atau
magnetic resonance imaging (MRI) scan biasanya tidak diperlukan. Indikasi
untuk MRI akan digunakan jika dicurigai adanya fraktur yang tersembunyi atau
cedera ligament pada lutut.
2.6.7

2.2.5 Penatalaksanaan
Fratur batang femur diterapi menurut usia dan besar anak, seiring cedera cedera
tersebut seperti cedera kepala atau politrauma, atau tampak adanya lesi terbuka
dengan cedera pada pembuluh darah dan saraf. Penyesuaian dengan pengobatan
dan faktor sosioekonomik harus dipertimbangkan.
2.7.8

Gambar 2.2 (A) fracture spiral pada infan, (B) Proksimal fraktur pada anak `usia 8
tahun, (C) Shaft fracture pada remaja, memerlukan fiksasi intramedular
7

Fraktur Batang Femur pada Tahun pertama Kehidupan

Pada periode postnatal, sebuah bandage sederhana atau harness digunakan
untuk panggul displastik diaplikasikan selama periode dari 2 minggu.
2

Traksi bilateral overhead telah menjadi pilihan pengobatan untuk selama
beberapa tahun. Anak yang dihospitalisasi selama 10 14 tahun. Fraktur
transversal rata rata sembuh dengan pemendekan (shortening) beberapa
millimeter. Pada kasus kecurigaan cedera non accident, hospitalisasi memberikan
kesempatan untuk menginvestigasi situasi social anak.
2

Pengobatan Terpilih
Spica cast setelah reduksi tertutup pada fraktur femur merupakan pilihan
pengobatan pada kebanyakan ahli bedah ortopedik pediatric. Posisi fraktur
tungkai diatur pada fleksi 90
o
pada panggul dan lutut. Dalam hal mencegah
deformitas varus sekunder, fraktur tungkai dijaga agar tetap dalam abduksi yang
nertal, saat sisi kontralateral dapat diabduksi yang memungkinkan untuk menukar
popok. Radiografi rutin dalam dua plane disarankan setelah pemasangan cast .
jika ibu atau keluarga diinformasikan baik tentang perawatan terhadap bayi
dengan spica cast, anak tidak perlu dirawat di rumah sakit. Selama kontrol ulang
di klinik selama 1 minggu, radiografi rutin akan mendeteksi angular deviasi.
Karena konsolidasi pembentukan callus yang cepat dalam 2 3 minggu, setelah
pelepasan cast perbaikan fungsi terjadi cepat.
2.3.8.9

Pavlik harness digunakan selama periode 3 5 minggu merupakan
alternatif pengobatan untuk bayi yang sangat kecil. Pemasangan alat ini tidak
membutuhkan anestesi dan waktu hospitalisasi dapat diminimalkan.
2

Fraktur Batang Femur pada usia 1 sampai 4 tahu
Traksi masih digunakan secara luas untuk fraktur batang femur pada anak
anak pra sekolah dan anak tahun pertama sekolah. Hospitalisasi selama 4 6
minggu dirasakan sudah memadai. Traksi kulit overhead (overhead skin traction)
memiliki risiko berupa efek yang merugikan pada sirkulasi ekstremitas.
2.7.10

Traksi kulit sebaiknya dipilih bahan yang hipoalergenik (ex, Elastoplast) untuk
pasien yang alergi dengan bahan yang biasa atau pada orang tua dimana kulitnya
telah rapuh.

Gambar 2.3 Traksi Kulit
Kontraindikasi traksi kulit yaitu bila terdapat luka atau kerusakan kulit
serta traksi itu, itu, yang memerlukan beban > 5 kg. Akibat traksi kulit yang
kelebihan beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem
distal, serta peroneal nerve palsy pada traksi tungkai.

Selain itu, traksi kulit-Bryan traksi juga menjadi pilihan terapi pada fraktur
batang femur. Anak diposisikan dengan tidur terlentang di tempat tidur, kedua
tungkai dipasang traksi kulit, kemudian kedua tungkainya ditegakkan ke atas,
ditarik dengan tali yang diberi beban 1-2 kg, sampai kedua bokong anak tersebut
terangkat dari tempat tidur.









Gambar 2.4 Bryan traksi

Komplikasi Bryan traksi adalah terjadi iskemik paralisis. Hal ini disebabkan
karena terganggunya aliran darah pada tungkai yang ditinggikan.
Fraktur Batang Femur pada Usia 5 sampai 15 tahun
Dilakukan pemasangan Russel traksi, untuk traksi ini diperlukan :
- Frame
- Katrol
- Tali
- Plester
Anak tidur terlentang, lalu dipasang plester dari batas lutut, dipasang sling di
daerah poplitea, sling dihubungkan dengan tali, dimana tali tersebut dihubungkan dengan
beban penarik.

Gambar.2.4 Russel traksi
Untuk mempersingkat waktu rawat setelah 4 minggu ditraksi, callus sudah
terbentuk, tetapi belum kuat benar. Traksi dilepas kemudian dipasang gip hemispika.
Elastic intramedullary nail atau wayer Kirschner intramendular kadang
digunakan untuk fraktur femur pada kelompok pra sekolah. Indikasi utama adalah
gagalnya penanganan dengan menggunakan spica cast. Titanium nail sberdiameter dua
millimeter dimasukkan dari medial dan lateral metafisis dari femur distal untuk
menstabilisasi intramedular pada fraktur. Waktu konsolidasi relative singkat, rentang
waktu dari 2 5 bulan tergantung pada usia pasien. Implant dicabut pada 3 6 bulan
setelah pemasangan.
2.7.11

Fiksator eksternal merupakan pilihan jika terjadi fraktur terbuka pada pasien poli
trauma atau untuk fraktur segmental, yang juga pada kelompok ini. Jika fiksator
dilepaskan lebih awal dengan pembetukan callus yang masih kurang, maka akan berisiko
terjadi fraktur kembali. Seperti semua penggunaan fiksator lainnya, infeksi jalur
pemasangan pin sering terjadi dan diobati dengan kulit lokal dan antibiotik. Namun
penanganan fraktur batang femur tertutup atau terisolasi tidak dianjurkan dengan
pemasangan fiksator eksternal pada anak anak pra sekolah.
2.11
Gambar 2.5. (a) Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dengan fraktur kominuted pada
femur kiri dan fragment ketiga.(b) setelah reduksi tutup pada fraktur dan fiksasi dengan
fiksator eksternal.(c) Fremur kiri setelah 4 minggu dengan fiksator. Beberapa callus
formation. (d).Pasien 4 minggu setelah berdiri dengan fiksator eksternal orthofix.Delapa
bulan kemudian setelah trauma dan 4 bulan setelah pelepasan fiksator ekternal.(e) dan (f)
Tampak AP dan lateral pada femur kiri 8 bulan setelah cedera.minimal varus dan
pertumbuhan sekitar 7 mm.
2




















BAB III
KESIMPULAN
Femur merupakan tulang terpanjang pada tubuh manusia. Hal ini menyebabkan
perkembangan yang sesuai pada bagian proksimal dan distal sehingga memungkinkan
koordinasi aktifitas musculoskeletal pada panggul dan lutut. Perkembangan pada femur
proksimal khususnya pada epifisis dan fisis adalah sangat kompleks di antara region
pertumbuhan skeletal apendikular.
Akibat kerusakan pada leher femur, misalnya akibat fraktur leher femur, mungkin
secara serius akan mengganggu kapasitas karilago region leher femur untuk berkembang
secara normal.
Pada anak anak, fraktur leher femur dan intertrokanter merupakan cedera yang
paling sering terjadi. Ratliff mengulas kembaki 71 kasus fraktur leher femur pada pasien
pasien berusia di bawah 17 tahun. Insidensi tertinggi cedera tampak pada rentang usia
11 13 tahun.
Fraktur di sekitar sendi panggul merupakan akibat paksaan seperti trauma akibat
enrgi tinggi atau yang paling jarang dikaitkan dengan kondisis patologis. Fraktur pada
leher femur juga dapat sebagai gambaran yang tidak khas pada kekerasan terhadap anak
(child abuse) yang juga sering terjadi akhir akhir ini. insidensi secara keseluruhan dari
fraktur leher femur pada anak anak kurang dari 1%.
Fraktur batang femur (femoral shaft fracture) termasuk diantaranya region
subtrokanter dan suprakondilar berkisar 1,6% pada semua fraktur pada anak. Rasio
antara anak laki laki dan perempuan adalah 2 : 1.
Diagnosis ditegakkan dengan gejala klinis, radiologi, sonografi, CT scan, dan
MRI. Namun dengan gejala klinis dan radiologi biasanya sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis fraktur femur pada anak.
Penatalaksanaan didasari pada usia anak.terapi operasi dengan fiksasi lebih
dianjurkan dan keberhasilan akan lebih besar jika penatalaksanaan hanya secara
konservatif




DAFTAR PUSTAKA

1. Ogden. JA, 2000. Skeletal Injury In The Child Second Edition. New York : W. B
Saunders Company. p.857 872
2. Engelhardt PW. 2010. Femoral Neck Fracture In : Benson M, Fixsen J, Macnicol
M, Parsch Klaus (eds) Childrens Orthopaedics and Fractures Third Edition.
London : Springer. p. 759 764
3. Gottlieb JR. 2006. SOAP for orthopedics. Philadelphia : Williams and Wilkins
Publisher. p. 82 83
4. Arora A. 2006. Pediatrics Femoral Neck Fracture In : Kulkarni GS (eds)
Textbook of Orthopedics and Trauma 2
nd
Edition. New Delhi : Jaypee Brothers
Medical Publisher p. 3314 3333
5. Hbner .U, Schlicht .W, Outzen .S, Barthel .M, Halsband. H. 2000. Ultrasound in
the diagnosis of fractures in children. The Journal of Bone and Joint Surgery 82-
B:1170-3.
6. Benson M, Fixsen J, Macnicol M, Parsch K. 2010. Femoral Shaft Fracture In :
Parsch K (eds) Childrens Orthopaedics and Fractures Third Edition. London :
Springer. p. 765 771
7. Pring M, Newton P, Rang M. 2005. Femoral Shaft In : Wenger D.R, Pring M.E
(eds) Rangs Childrens Fractures. Philadelphia : Lippincot Williams and
Wilkins. p. 181 199
8. Egol KA, Koval KJ, Zuckerman JD.2010. Hand Book of Fracture. Philadelphia :
Lippincot Williams and Wilkins. p. 400 418
9. Cui F. Z , Wen H. B,and Su X. W. 1996. Microstructures of External Periosteal
Callus of Repaired Femoral Fracture in Children. Journal of Structural Biology
117, 204208
10. Flynn JM, Skaggs DL. 2010. Femoral Shaft Fractures In : Beaty JH, Kasser JR
(eds) Rockwood and Wilkins' Fractures in Children. Philadelphia : Lippincot
Williams and Wilkins. p. 798 818
11. Siv. I, Rang. M. 1983. Treatmet of Femoral Fracture in the Child with Head
Injury. The Journal of Bone and Joint Surgery.