Anda di halaman 1dari 9

PANGAN FUNGSIONAL

Pangan fungsional adalah suatu bahan pangan atau makanan yang dapat dikonsumsi
dan dapat memberikan manfaat tambahan bagi tubuh pengonsumsinya disamping
fungsi gizi dasar pangan (Aisyah, 2007). Menurut Badan POM (2005) pangan
fungsional adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses,
mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian ilmiah dianggap
mempunyai fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan.
Sedangkan menurut Silalahi (2006) pangan fungsional adalah pangan yang
memiliki tiga fungsi yaitu fungsi primer, artinya makanan tersebut dapat memenuhi
kebutuhan gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral); fungsi sekunder
artinya makanan tersebut dapat diterima oleh konsumen secara sensoris dan fungsi
tersier artinya makanan tersebut memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan,
mengurangi terjadinya suatu penyakit dan menjaga metabolisme tubuh. Jadi pangan
fungsional dikonsumsi bukan berupa obat (serbuk) tetapi dikonsumsi berbentuk
makanan.
Di Jepang, syarat makanan yang dikategorikan sebagai pangan fungsional
yaitu pangan harus dapat meningkatkan fungsi diet dan kesehatan, anjuran konsumsi
dari pangan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari ahli gizi dan kesehatan dan
pangan tersebut tidak boleh dalam bentuk tablet, kapsul, atau serbuk (Wijaya, 2001).
Menurut BPOM RI (2005) syarat pangan fungsional yaitu menggunakan bahan yang
memenuhi standar mutu dan persyaratan keamanan serta standar dan persyaratan
lain yang ditetapkan, mempunyai manfaat bagi kesehatan yang dinilai dari
komponen pangan fungsional berdasarkan kajian ilmiah BPOM RI, disajikan dan
dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, dan memiliki
karakteristik sensori seperti penampakan, warna, tekstur atau konsistensi dan cita
rasa yang dapat diterima konsumen.
Berdasarkan cara pengolahannya dibedakan menjadi makanan alami,
makannan tradisional dan makanan modern. Makanan Alami contohnya buah-buahan
dan sayuran segar.

Makanan tradisional contohnya tempe, dadih, teh, dan lain-lain.

Sedangkan makanan modern contohnya diabetasol, diabetamil, dan lain-lain.


Komponen pangan fungsional terdiri dari vitamin, mineral, gula alkohol,
asam lemak tidak jenuh, peptida dan protein tertentu, asam amino, serat pangan,
prebiotik, probiotik, kolin, karnitin, isoflavon (kedelai), fitosterol, polifenol, dan
komponen fungsional lain yang akan ditetapkan kemudian. Adapun contoh produk
pangan fungsional seperti kedelai, ubi jalar, beras merah dan beras hitam, yoghurt,
dan jagung (BPOM RI, 2005).
Menurut Widyaningsih (2006), probiotik merupakan salah satu unsur-unsur
pokok yang terdapat pada pangan fungsional. Probiotik adalah preparat yang terdiri
dari mikroba hidup yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia atau hewan secara
oral. Fungsi probiotik yaitu dapat mencegah terjadinya kanker yaitu dengan
menghilangkan bahan prokarsinogen (bahan penyebab kanker) dari tubuh dan
mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, dapat menghasilkan bahan aktif anti tumor,
memproduksi berbagai vitamin [thiamin (B1), riboflavin (B2), piridoksin (B6), asam
folat, sianokobalamin (B12)] yang mudah diserap ke dalam tubuh, kemampuannya
memproduksi asam laktat dan asam asetat di usus dapat menekan pertumbuhan
bakteri E coli dan Clostridium perfringens penyebab radang usus dan menekan
bakteri patogen lainnya, serta mengurangi penyerapan amonia dan amina. Probiotik
juga dapat berperan dalam penurunan kadar kolesterol, dimana bifidobakteria
menghasilkan niasin yang memberi kontribusi terhadap penurunan kolesterol
tersebut.
Tanaman kedelai telah diusahakan di Indonesia sejak tahun 1970. Sebagai
bahan makanan kedelai banyak mengandung protein, lemak dan vitamin, sehingga
tidak mengherankan bila kedelai mendapat julukan gold from the soil atau emas yang
muncul dari tanah (Ditjen Gizi Masyarakat, 2000). Kacang kedelai merupakan
sumber protein yang dapat dicerna sangat baik. Protein kedelai memiliki kandungan
lisin (asam amino esensial) dalam jumlah besar sehingga dapat menutupi kekurangan
lisin yang biasanya terdapat pada beras dan jagung (Winarno, 1993). Akan tetapi
kedelai juga mempunyai kekurangan yaitu hanya mengandung sedikit asam amino
metionin, selain itu kedelai juga mempunyai bau langu yang disebabkan oleh adanya
aktivitas enzim lipoksigenase yang secara alami terdapat didalam kacang-
kacangan (Winarno, 1993).
Kacang kedelai merupakan sumber isoflavon yang kaya, juga sumber
phitokimia. Isoflavon membantu mengurangi resiko penyakit jantung koroner,
simptom menopouse, penyakit prostat dan kanker. Keuntungan tersebut berasal dari
kemampuan isoflavon untuk mensubstitusi atau menutupi pengaruh estrogen pada
tubuh. Agar estrogen mempunyai pengaruh, maka senyawa tersebut harus berikatan
dengan reseptor estrogen pada sel manusia (seperti mekanisme kunci dan gembok).
Isoflavon, karena mempunyai struktur kimia yang sangat mirip estrogen (sering
disebut estrogen alami) mempunyai sifat yang cocok dengan beberapa reseptor
(Jusuf, 2008).
Kedelai termasuk salah satu sumber protein yang harganya relatif murah jika
dibandingkan dengan sumber protein hewani. Dari segi gizi kedelai utuh
mengandung protein 35 - 38 % bahkan dalam varietas unggul kandungan protein
dapat mencapai 40 - 44 % (Koswara, 1995). Komposisi zat gizi kedelai kering dan
basah berbeda, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Zat Gizi Kedelai dalam 100 Gram
Kedelai Basah Kedelai Kering
Energi (kkal) 286,0 331,0
Protein (g) 30,2 34,9
Lemak (g) 15,6 18,9
Karbohidrat (g) 30,1 34,8
Kalium (g) 196,0 227,0
Fosfor (g) 506,0 585,0
Besi (mg) 6,9 8,0
Vit. A (SI) 95,0 110,0
Vit. B (mg) 0,93 1,07
Air (g) 20,0 7,5

Sumber : Widya Karya Pangan dan gizi (2000 )
Komoditas ubi jalar ungu mengandung air 59-69%, abu 0,68-1.69%(bk),
protein 3,71- 6,74%(bk), lemak 0,26-1,42%(bk) dan karbohidrat 91,42-93,45%(bk).
Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar juga merupakan sumber vitamin A dan
C dan mineral. Ubi jalar ungu mengandung senyawa antosianin berfungsi sebagai
antioksidan dan penangkap radikal bebas, sehingga berperan dalam mencegah
terjadinya penuaan, kanker, dan penyakit degenerative seperti arteriosklerosis,
mencegah gangguan fungsi hati, antihipertensi, dan menurunkan kadar gula darah
(Ambarsari, 2009).

Beras merah dan beras hitam mengandung pigmen antosianin yang bersifat
antioksidan (mampu menangkap radikal bebas). Metabolit sekunder utamanya
proantosianidin dan antosianin (Oki, 2002). Aleuron beras merah mengandung gen
yang memproduksi proantosianidin sebagai sumber warna merah. Aleuron dan
endospermianya memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga beras
berwarna ungu kehitaman. Kandungan pigmen beras hitam merupakan pigmen
paling baik diantara semua beras (Park, 2008).

Yoghurt yang berasal dari Sumatera Barat dengan nama dadih atau dadiah,
yang dibuat dari susu kerbau. Yoghurt berbahan dasar susu dan kedelai merupakan
pangan tradisional yang berfungsi sebagai pangan fungsional karena mengandung
probiotik. Beberapa mikroorganisme yang berperan sebagai probiotik, pada yoghurt
umumnya meliputi Bifidobacterium (Bifidobacterium longum) dan Lactobacillus
(Lactobacillus casei). Probiotik berasal dari kultur bakteri yang bermanfaat bagi
kesehatan usus, bakteri ini juga dapat mencegah bakteri berbahaya penyebab
penyakit, seperti kanker (Silalahi, 2006)

Jagung merupakan pangan fungsional yang termasuk serat pangan yang
dibutuhkan tubuh yang relatif rendah dibandingkan padi. Jagung mengandung asam
lemak esensial, isoflavon, mineral (Ca, Mg, Na, P, Ca dan Fe), antosianin,
betakaroten (provitamin A), komposisi asam amino esensial dan lainnya. Penderita
diabetes, kelainan jantung dianjurkan mengonsumsi jagung. Jagung mampu
menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah (Joseph, 2002).
Menurut Juvan (2005) jenis-jenis pangan fungsional dibedakan berdasarkan
sumber makanan dan cara pengolahannya. Berdasarkan sumber makanan makanan
fungsional dibedakan menjadi nabati dan hewani. Contoh makanan pangan
fungsional nabati yaitu kedelai, beras merah, brokoli, anggur dan lain-lain.

Sedangkan contoh makanan fungsional hewani yaitu ikan, daging sapi, serta susu.


DAFTAR PUSTAKA
Ambarsari, I., Sarjana dan Choliq A. 2009. Rekomendasi Dalam Penetapan Standar
Mutu Tepung Ubi Jalar. Jurnal Standarisasi Vol 11 (3), 212-219.

Aisyah, Yuliani. 2007. Pangan Fungsional : Makanan untuk Kesehatan. Artikel
pangan fungsional, diakses pada 25 April 2014

BPOM-RI. 2005. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional. Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta.

Direktorat Gizi Masyarakat. 2000. Pedoman pemantauan konsumsi gizi. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Joseph, G. 2002. Manfaat serat makanan bagi eksehatan kita. Makalah Falsafah
Sains, Pascasarjana IPB.Bogor.

Jusuf M, Rahayuningsih A, Ginting E. 2008. Ubi Jalar Ungu . Balai Penelitian
Kacang-Kacangan dan Umbi- Umbian. Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian Indonesia. Vol 30. No. 4 13-14.

Koswara S. 2006. Teknologi Modifikasi Pati. http://ebookpangan.net. (diakses pada
tanggal 28 Mei 2014).
Oki, Tomoyaki et al . 2002. Poly meric Proantochocyanidains as Radical
Scavengong Components in Red-Hulled Rize. J. Agric.food.chem , 50(26):861-
1192.

Park, Young Sam et al . 2008. Isolation Of Anthocyanin From Black Rice
(Heugjinjubyeo) and Screening Of Its Antioxidant Activities. Journal
Microbal Bioteknol , 36(1):55-60.

Silalahi, Jansen. 2006. Makanan Fungsional. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Widyaningsih, Tri Dewanti. 2006. Pangan fungsional makanan untuk kesehatan.
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

Wijaya, C.H and M.Astawan. 2001. Strategi Jepang dalam pengembangan pangan
tradisional sebagai basis pangan fungsional. Dalam L. Nuraida dan R.
Dewanti-Hariyadi (Eds.) Pangan tradisional Basis bagi Industri Pangan
Fungsional & Suplemen. Prosiding.

Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka. Jakarta.
PENGANTAR BIOTEKNOLOGI

PANGAN FUNGSIONAL



OLEH


1. RIZQA ZIDNA C. (1110423006)
2. RAHMA IZZATI R. (1110423035)
3. PUTRI TRI NINGSIH (1210421006)



DOSEN PEMBIMBING : Dr. Phil. Nat. NURMIATI












JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2014