Anda di halaman 1dari 9

Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

1 11 1 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

I. JUDUL : Inversi Gula
II. TANGGAL PERCOBAAN : Rabu, 14 Desember 2011
III. TUJUAN :
Menentukan orde reaksi dari reaksi inversi gula menggunakan polarimeter
IV. TINJAUAN PUSTAKA :
Istilah laju atau kecepatan sering dibicarakan dalam pelajaran fisika.
Pengertian laju dalam reaksi sebenarnya sama dengan laju pada kendaraan yang
bergerak. Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan)
menjadi hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi.
Pereaksi (reaktan) Hasil reaksi (produk)
Persamaan laju reaksi pertama kali dikemukakan oleh Gulberg dan Wooge
dalam hukum Aksi Massa. Mereka menyebutkan laju reaksi pada suatu sistem
pada temperatur tertentu berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang bereaksi
setelah tiap tiap konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien dalam persamaan
yang bersangkutan. Dengan cara fisis penentuan konsentrasi dilakukan secara
langsung, yaitu berdasar sifatsifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh
konsentrasi campuran, misalnya daya hantar listrik, tekanan, adsorbsi cahaya, dan
sebagainya. Penentuan secara kimia dilakukan dengan menghentikan reakis secara
tiba tiba (reaksi dibekukan) setelah selang waktu tertentu, kemudian
konsentrasinya dihitung dengan analisis kimia. Laju reaksi akan menurun dengan
bertambahnya waktu. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasi
zat yang tersisa saat itu dengan laju reaksi sehingga dapat dikatakan umumnya laju
reaksi tergantung pada konsentrasi awal dari zat zat pereaksi, pernyataan ini
dikenal sebagai Hukum Laju Reaksi atau Persamaan Laju Reaksi
m A + n B o C + p D
Dalam persamaan laju reaksi dapat dituliskan
v = k [A]
m
[B]
n

dimana, v = laju reaksi (m/detik)
k = konstanta tetapan laju reaksi (L/mol.detik)
[A] = konsentrasi zat A (mol/L)
[B] = konsentrasi zat B (mol/L)
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

2 22 2 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi.
Tingkat reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh
konsentrasi pereaksi, tetapi hanya bergantung pada harga tetapan laju reaksi (k).
harga k tergantung pada suhu, jika suhunya tetap harga k juga tetap. Untuk
mengetahui hubungan pereaksi dengan reaktan, digunakan orde reaksi yang
diperoleh dari perhitungan konsentrasi sehingga grafik yang diperoleh berbentuk
grafik perpangkatan. Harga k tergantung pada tingkat (orde) reaksi totalnya.
Apabila ditunjukkan dengan grafik antara laju reaksi terhadap konsentrasi, maka
diperoleh grafik sebagai berikut :
Orde reaksi nol,
Reaksi yang memiliki kecepatan reaksi tetap dan tidak dipengaruhi
konsentrasi reaktan. Kecepatan reaksi dipengaruhi / ditentukan oleh intensitas
katalis.
Persamaannya :
v = k [x]
0
= k
Grafik orde reaksi nol :





Orde reaksi satu,
Persamaannya :
v = k [x]
1
= k [x]
Grafik orde reaksi satu

Orde Reaksi dua,
Persamaannya :
v = k [x]
2

Grafik orde reaksi dua :


v
[x]
v
[x]
v
[x]
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

3 33 3 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

Polarimeter

Polarimetri adalah suatu cara analisa yang didasarkan pada pengukuran sudut
putaran (optical rotation) cahaya terpolarisir oleh senyawa yang transparan dan
optis aktif apabila senyawa tersebut dilewati sinar monokromatis yang terpolarisir
tersebut.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Zat yang optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau
atom C kiral dalam senyawa organik, contoh : kuarsa ( SiO
2
), fruktosa.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak
sekali. Bila dikhayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang
datar. Bidang getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan
menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus. Yang dimaksud dengan cahaya
terpolarisasi adalah senyawa yang mempunyai satu arah getar dan arah getar
tersebut tegak lurus terhadap arah rambatnya.
Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat yang
menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Pemutaran bidang
getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam, yaitu :
1. Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran
jarum jam.
2. Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan
putaran jarum jam.

Inversi Gula

Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat
dalam alam. Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa (gula
pasir) dan kapas, keduanya adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara
pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya.
Gula merupakan zat optis aktif. Bila cahaya terpolarisasi linier jatuh pada
bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar bahan akan tetap terpolarisasi linier
dengan arah bidang getar terputar terhadap arah bidang getar semula
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

4 44 4 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

Sifat optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar jenis.Sudut putar
bidang polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan konsentrasi bila sudut
putar jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat diukur, maka
konsentrasi (kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (hal ini merupakan prinsip
yang digunakan untuk menentukan kadar zat optis
Gula inversi adalah campuran D-glukosa dan D- fruktosa yang diperoleh
dengan hidrolisis asam atau enzimatik dari sukrosa. Enzim yang mengkatalis
hidrolisis sukrosa disebut invertase,bersifat spesifik untuk ikatan -D-
fruktofuranosida dan terdapat dalam ragi dan lebah (madu terutama terdiri dari
gula inversi). Berdasarkan teori bahwa mayoritas gula adalah fruktosa dan
fruktosa membelokkan cahaya ke kiri. Gula yang terdiri dari Sukrosa maupun
Glukosa memutar cahaya ke kanan. Sukrosa memiliki rotasi +66,5 (positif)
produk yang dihasilkan glukosa[]= +52,7 dan fruktosa [] = -92,4
o
mempunyai
rotasi netto negatif.Dengan mengetahui pembelokan cahaya yang dihasilkan oleh
larutan gula, dapat di analisa jenis/komposisi gula yang ada dalam larutan tersebut
Sudut putar jenis jenis dapat dihitung :
[ ]
(gram/ml) kadar x (dm) tabung panjang
diamati yang putaran
=

Reaksi inversi gula :
C
12
H
22
O
11
+ H
2
O C
6
H
12
O
6
+ C
6
H
12
O
6

Reaksi ini disebut juga orde reaksi satu pseudo.
Orde reaksi dari inverse gula merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini laju
reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
] sedangkan
H
2
O tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut. Sehingga dapat di rumuskan
sebagai berikut
Laju = k [C
12
H
22
O
11
]
Cara Penggunaan Polarimeter
Cara penggunaan berikut adalah cara pada Zeiss Polarimeter, tetapi secara
umum cara penggunaan polarimeter manapun adalah sama. Untuk memulai
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

5 55 5 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

penggunaan polarimeter pastikan tombol power pada posisi on dan biarkan selama
5-10 menit agar lampu natriumnya siap digunakan. Selalu mulai dengan
menentukan keadaan nol (zero point) dengan mengisi tabung sampel dengan
pelarut saja. Keadaan nol ini perlu untuk mengkoreksi pembacaan atau
pengamatan rotasi optik. Tabung sampel harus dibersihkan sebelum digunakan
agar larutan yang diisikan tidak terkontaminasi zat lain. Pembacaan/pengamatan
bergantung kepada tabung sampel yang berisi larutan/pelarut dengan penuh.
Perhatikan saat menutup tabung sampel, harus dilakukan hati-hati agar di dalam
tabung tidak terdapat gelembung udara.
Bila sebelum tabung diisi larutan didapat keadaan terang, maka setelah tabung
diisi larutan putarlah analisator sampai didapat keadaan terang kembali.
Sebaliknya bila awalnya keadaan gelap harus kembali kekeadaan gelap. Catat
besarnya rotasi optik yang dapat terbaca pada skala. Tetapi jangan hanya besar
rotasi optiknya, arah rotasinya juga harus dicatat searah jarum jam atau
berlawanan arah jarum jam. Lakukan pembacaan berkali-kali sampai diperoleh
nilai yang dapat dirata-ratakan.

V. ALAT dan BAHAN :
ALAT :
Erlenmeyer 1 buah
Pipet tetes 2 buah
Stopwatch 1 buah
Gelas ukur 10ml 1 buah
Gelas kimia 200ml 1 buah
Labu ukur 10ml 1 buah
Polarimeter dan komponennya
BAHAN :
Gula pasir 10 gram
Larutan HCl 2M 10 ml
Aquades
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

6 66 6 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

VI. DATA PENGAMATAN :
No Waktu Sudut Polarisasi
1 5 44.35
2 10 31.85
3 15 25.73
4 20 16.49
5 25 10.29
6 30 6.17
7 35 5.15

VII. ANALISIS dan PEMBAHASAN :
Orde Satu
Waktu ln Sudut Polarisasi
5 3.792
10 3.461
15 3.247
20 2.802
25 2.331
30 1.819
35 1.638


3.792
3.461
3.247
2.802
2.331
1.819
1.638
y = -0.0762x + 4.2503
R = 0.9863
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
0 10 20 30 40
Inversi Gula Orde Satu
t vs ln
ln Sudut Polarisasi
Linear (ln Sudut
Polarisasi)
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

7 77 7 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

Orde Dua
Waktu 1/Sudut Polarisasi
5 0.022
10 0.031
15 0.038
20 0.060
25 0.097
30 0.162
35 0.194



Orde Tiga
Waktu 1/(Sudut Polarisasi)
2

5 0.000484
10 0.000961
15 0.001444
20 0.003600
25 0.009409
30 0.026244
35 0.037636

0.022
0.031
0.038
0.06
0.097
0.162
0.194
y = 0.006x - 0.0333
R = 0.9045
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0 10 20 30 40
Inversi Gula Orde Dua
t vs 1/
1/Sudut Polarisasi
Linear (1/Sudut
Polarisasi)
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

8 88 8 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6


Berdasarkan ketiga grafik di atas, maka dapat dianalisis :
1. Berdasarkan harga R
2
yaitu tingkat kemiringan (slope), maka reaksi orde satu
adalah yang paling sesuai untuk kasus inversi gula karena nilai R
2
= 0.9863
2. Berdasarkan grafik di atas (orde 1) didapatkan nilai k dari persamaan
y = -0.0762x + 4.2503
Dengan y menyatakan ln dan x menyatakan waktu. Sesuai persamaan reaksi orde
1, bahwa :
Ln = -k . t + c

y a x
maka nilai k adalah 0.0762 min
-1
.

VIII. KESIMPULAN :
1. Besarnya sudut putar dan konsentrasi suatu zat optik aktif dapat ditentukan
dengan menggunakan polarimeter.
2. Reaksi inversi gula adalah reaksi yang berorde satu terhadap konsentrasi gula.



y = 0.0012x - 0.0129
R = 0.7934
-0.01
-0.005
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0.04
0 10 20 30 40
Inversi Gula Orde Tiga
t vs 1/ (ln )
1/(Sudut Polarisasi)2
Linear (1/(Sudut
Polarisasi)2)
Laporan Resmi Praktikum Kimia Fisika III Inversi Gula

9 99 9 | | | | D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K D E V I T A A Y U U T O M O P U T R I / K B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6 B 2 0 0 9 / 0 9 3 2 3 4 2 0 6

IX. DAFTAR PUSTAKA :
Atkins..P.W. 1990. Kimia Fisika jilid 2 edisi ke empat. Jakarta. : Erlangga
Fessenden , Fessenden.1982. Kimia Organik edisi ketiga jilid 2.Jakarta Erlangga.
Reski Wahyudi, Udin.2011.Polarimeter.http://www. blogspot.com (Diakses pada
tanggal 18 Desember 2011)
Suyono dan Bertha Yonata.2011.Panduan Praktikum Kimia Fisika
III.Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas
Surabaya:Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai